Singapura: Strategi Sholat

Hampir tidak pernah saya dengar adzan selama di Singapura. Di hotel tidak ada mushola (Park Royal Hotel on Beach Road). Di kantor (daerah Tuas) tidak ada mushola. Jadi 3 bulan di Singapura cara tahu waktu sholatnya gimana? Ya gampang, google saja. Atau saya kan punya aplikasi “Salaam”. Pakai itu saja. Tapi karena settingan lokasinya cuma wilayah Indonesia, jadi saya setting Batam. Kan cuma beda beberapa menit paling.

Kalau di hotel, biasanya saya jadikan handuk mandi saya sebagai sajadah. Sholat di kamar hotel, untuk Subuh, Maghrib, dan Isya. Dzuhur dan Ashar saya sholat di kantor menggunakan kertas flipchart yang biasa ada di ruang meeting sebagai sajadah. Kertasnya dua lembar. Satu untuk kaki, satu untuk kepala dan tangan waktu sujud.

Sholatnya di ruang meeting yang kosong, atau di kubikal yang sepi dan tidak ada pemiliknya, atau di gym yang ada di dalam kantor, atau di ruang menyusui. Yang paling enak di ruang menyusui. Berasa punya mushola pribadi. Ada washtafelnya buat wudhu. Waktu basuh kaki ya diangkat. Tenang saja, ruangan bisa dikunci dari dalam J

Kalau tidak di ruang menyusui, wudhunya di toilet. Tangan sampai kuping di washtafel. Kaki kadang angkat ke washtafel (kalau sepi) kadang di dalam toilet. Kalau di dalam toilet, saya bawa air dalam botol untuk membasuh kaki di dalam toilet. Airnya merk Dasani. Air minum kemasan 600 ml. Kalau beli di luar biasanya $1,5 atau sekitar Rp15.000. Jadi buat basuh kaki harganya Rp15.000.

Nah kalau sholat Jumat, ini yang seru. Teman saya booking ruang meeting buat sholat Jumat sekitar 45 menit. Saya khotbah dan jadi imam. Teman saya itu adzan dan qomat. Ya sudah begitu saja. Yang penting rukun-rukunnya terpenuhi. Rasanya gimana gitu kalau gak Jumatan.

Kenapa tidak ke masjid saja Jumatannya? Karena jauh. Naik taksi sekitar S$20. Perjalanan setengah jam. PP jadi satu jam. Sholatnya setengah jam paling cepat. Jadi bisa hampir 2 jam lah. Itu belum makan. Padahal waktu istirahat hanya 1 jam.

Baru belakangan saya nemu tempat jumatan sekitar 4 km dari kantor di Tuas. Ini tempat jumatan baru, tadinya tidak ada. Kalau tidak dipakai jumatan, tempat ini adalah tempat olahraga. Saya bisa lihat garis-garis lapangan yang ada di bawah alas tempat saya duduk bersila. Ratusan orang, malah mungkin sampai seribu. Mayoritas orang Bangladesh. Imamnya orang melayu, masih muda, ganteng.

Kalau saya lagi iseng jalan-jalan malam, nah ini harus sudah sholat dulu, karena kalau tidak, susah banget cari masjid. Masjid yang ada memang besar-besar, bagus, terawat, tapi jarang banget.

Di hotel tidak ada mushola. Yang ada cuma arah kiblat yang ada di balik laci meja. Tidak ada yang dipasang di langit-langit. Saya sholat biasanya habis mandi habis pulang dari kantor, biasanya pas maghrib. Jadi habis mandi, handuknya dipakai buat sajadah. Bisa sih bawa sajadah dari rumah, tapi makan tempat di tas. Saya usahakan barang tidak masuk bagasi. Backpack saja, jadi cukup di kabin.

Nah kalau handuk buat mandi besok paginya, saya biasanya pakai handuk kecil. Biasanya di kamar mandi hotel disediakan 2 handuk besar buat mandi dan 3 handuk kecil buat lap muka atau buat lap ingus. Atau handuk kecil itu juga bisa buat lap air mata kalau kamu rindu seseorang. Juga bisa buat lap ketiak setelah nge-gym. Ya terserah yang menginap dong.

Balik ke masjid yang besar-besar. Di dekat hotel saya ada masjid Sultan. Mungkin sebesar masjid Sunda Kelapa di Jakarta. Di depan masjid ada spanduknya, dengan tulisan sbb:

Masjid Sultan is now ISO 9001 : 2015 Certified

Wow, ternyata masjid bisa ikut sertifikasi! Ini keren banget! Memang masjidnya megah, bersih banget. Antara toilet dan masjid dipisah dengan genangan air semata kaki, buat menghilangkan najis setelah dari toilet. Di dalam masjid, ada semacam cerita sejarah adanya masjid Sultan.

Kalau pas Ramadhan, ada buka ta’jil yang bikin kenyang. Ini kata teman saya yang pernah buka di sana. Di sekeliling masjid banyak yang berjualan makanan. Setahu saya semua halal. Ini enaknya tinggal di daerah Bugis.

Itu cerita di Bugis. Jadi saya sudah cerita bagaimana saya sholat di tempat-tempat peredaran saya, yaitu hotel, kantor, tempat cari makan. Tapi belum airport.

20170407_190228
Multi-Faith Prayer Room

Di Changi Airport, namanya bukan mushola, tapi “Prayer Room” atau “Multi-Faith Prayer Room”. Walaupun disebut multi-faith, yang itu berarti juga jadi tempat ibadah untuk agama selain islam, tapi yang saya lihat isinya orang sholat saja.

20170407_172112
Sholat di dalam Prayer Room Singapura

Di dekat Prayer Room ada ruangan lain yang disebut Meditation Room. Saya pernah ngintip, tidak ada orang. Dulu waktu saya ngantuk nunggu pesawat di Changi, teman saya kasih saran tidur saja di Meditation Room, tapi saya tidak. Takut dimarahin satpam bandara.

Waktu awal-awal dulu, saya pernah tanya ke petugas bandara, musholanya di mana? Dia bingung. Setelah dijelaskan tempat ibadah untuk muslim, baru diarahkan ke Prayer Room. Jadi kalau nanya, jangan mushola, tapi Prayer Room.

Saya pernah sholat di dua Prayer Room yang ada dalam Changi, kalau tidak salah di terminal 2 dan 3. Tempatnya bagus, bersih. Tempat wudhunya di dalam Prayer Room itu, tidak di ruangan terpisah. Wudhunya sambal duduk, karena ada tempat untuk duduknya. Ruangnya hening sekali. Saya tidak pernah lihat ada sholat berjamaah dikoordinir. Memang ada yang berjamaah, tapi itu dengan rekannya. Kebanyakan saya lihat sholat sendiri-sendiri.

20170407_172256
AlQuran terjemahan India

Di pojokan Prayer Room, ada lemari yang penuh buku. Kebanyakan Bahasa India! Yang menarik buat saya adalah Al-Quran terjemahan Bahasa India. Jadi di setiap baris ayat Quran, ada terjemahannya di bawah. Eh tapi belum tentu deng, wong tulisannya Bahasa India, bisa jadi bukan terjemahannya.

20170407_172148
Koleksi Buku di Prayer Room Changi Airport

Ada beberapa buku lagi yang isinya Bahasa India semua, gak ada arab-arabnya. Saya asumsikan ini kitab agama lain (bukan islam), karena yang saya pahami kalau kitab agama islam itu mesti ada potongan ayat atau hadits dengan tulisan arab.

Semua cerita di atas hanyalah pengalaman subjektif saya di Singapura. Bukan pandangan yang objektif. Bisa jadi banyak muslim yang senang tinggal di Singapura karena mudah beribadah. Ya.. bisa saja.

Iklan

Car Free Day Pandaan

20161211_080747
Car Free Day Pandaan

Dua minggu sekali, pada hari Minggu, Pandaan selalu mengadakan Car Free Day (CFD). Tapi ini CFD beda banget. Tidak ada orang lari di jalur CFD. Yang ada tukang jualan macam-macam, kebanyakan makanan. Banyak juga yang jual pakaian dan mainan anak.
CFD memblok jalan RA Kartini, menutup akses jalan menuju restoran yang cukup eksis di Pandaan: IBC (Ikan Bakar Cianjur). Jalan ditutup pukul 6.00 – 10.00.

Car Free Day Pandaan
Jalur Car Free Day Pandaan

Ada panggungnya loh. Kata teman saya sering dipakai buat ibu-ibu senam. Tapi sekali lagi, tidak ada orang lari! Yang suka lari malah larinya di Taman Dayu.

Bromo via Pasuruan 2017

Perjalanan ini dilakukan pada Sabtu, 12 Agustus 2017 dengan 4 orang teman saya. Start dari Pandaan pukul 00.30 dengan mobil sendiri, Avanza.

Jalur yang kami lalui adalah Jalan Raya Pasuruan – Jalan Raya Wonorejo – Jl Raya Ranggeh – Jl Raya Bromo – Wonokriti. Yang perlu hati-hati di Jalan Raya Bromo – Wonokriti. Jalannya belok-belok, menanjak. Sudah aspal sih, tapi sempit. Kalau ada mobil dari arah berlawanan harus sangat hati-hati. Kanan kiri sering kali ketemu tebing. Jalannya sepi. Jarang rumah. Gelap. Alhamdulillah Avanza masih kuat.

Sampai Wonokriti, langsung dikerubungi penjual masker, kupluk, sarung tangan, dan juga calo Jeep. Kalau mau harga normal, beli masker, kupluk, dan sarung tangan itu di dekat toilet. Yang jaga bapak-bapak agak sulit pendengarannya tapi rajin bicara. Kelak pas pulang ketemu dia lagi. Ternyata selain jaga toilet, jualan aksesoris gunung, juga dia jaga parkir. Bayar parkir Rp10.000.

Saya ke toilet bayar Rp3.000. Beli kupluk Rp10.000. Beli sarung tangan Rp5.000 (mirip punya tukang bangunan, gak apa-apa, yang penting sarung tangan). Kami juga sempat makan dan ngopi dulu di warung dekat situ. Kalau tidak salah ingat, saya ngopi dan makan mi tanpa telur bayarnya Rp10.000.

Dari Wonokriti, mobil pribadi tidak boleh naik. Harus sewa Jeep. Nah di sini tantangannya untuk dapat harga normal. Para supir Jeep punya semacam paguyuban yang menetapkan harga Jeep untuk ke Pananjakan dan Bromo itu Rp350.000. Tapi malam itu saya cari-cari dan penawarannya paling murah Rp450.000. Kebanyakan malah minta Rp500.000. Weekend katanya.

Ya bayar sudah Rp450.000 ke orang yang nawari tadi. Dia telfon supir Jeep, lalu bilang: bentar ya, lagi isi bensin. Jeep datang, kami masuk. Maksimal penumpang 6 orang, tapi kami hanya ber-5. Tapi ya bayarnya tetap per Jeep, bukan per orang.

Baru naik, langsung kecewa. Karena info dari supir, tariff Jeep-nya Rp350.000. Dia hanya dikasih Rp350.000 dari si calo. Duh gemes rasanya. Tapi kalau diulang lagi, saya juga bingung, gimana membedakan mana calo mana supir aslinya?

Jeep kami warna hijau nomor 200. Kami langsung berangkat. Baru sebentar jalan, Jeep berhenti dulu di pos tiket. Satu orang bayar tiket masuk Rp27.500. Kami kumpulkan uang untuk 5 orang, lalu kasih ke supir. Supir malah lapornya 4 orang. Aduh, gak bener nih.

Jalanan sepi mulus sampai Pananjakan. Tapi ya memang nanjaknya agak ekstrim. Betul juga sih kalau ada peraturan mobil biasa tidak diperbolehkan lewat. Gak akan kuat!

Sampai di tempat parkir (sebetulnya di pinggir jalan, bukan parkiran khusus), kami harus jalan sekitar 20 menit. Jalannya sih biasa saja, tapi yang mengganggu adalah lewatnya ojeg, terus menerus, bau asap.

Sholat dulu di mushola Bank Syariah Mandiri. Bersih, rapi, bagus. Mushola ini baru ada sekitar 2014. Mushola di atas awan. Toilet musholanya juga bersih. Digunakan tidak hanya oleh muslim. Bayar ke yang jaga Rp3.000.

Setelah sholat, kami lanjut jalan sedikit lagi sampai view point Pananjakan. Tapi sudah tidak ada tempat! Orang penuh banget. Ini ketiga kalinya saya ke Bromo – Pananjakan, kali ini yang paling ramai. Hanya lihat punggung orang. Tidak dapat sunrise. Saya kok merasa semakin tidak nyaman ya ke sini.

20170812_062258
Bromo sejajar Semeru, dilihat dari Pananjakan. Dok: Iqbal

Setelah matahari naik, orang semakin surut. Kami pun. Turun menuju Bromo. Makan dulu di dekat parkiran. Nasi, sop, telur, tahu tempe, harganya Rp25.000. Setelah perut terisi, baru naik ke Bromo. Saya tidak naik tangga lagi seperti sebelum-sebelumnya, tapi mendaki lewat samping tangga. Kenapa? Selain mau coba track yang beda, track yang lewat tangga juga penuh orang. Naik 1 tangga, berhenti dulu, tunggu yang depan. Naik 1 tangga, berhenti lagi, tunggu lagi. Sudah terlihat dari jauh macetnya tangga, jadi saya tidak mau naik tangga.

Di atas Bromo, sulit mendapat view yang bagus, karena penuh orang. Saya sempat ngintip ke kawah. Beda sekali dengan kawah yang saya lihat 6 tahun lalu. Sekarang kawahnya semakin dalam dan terlihat semakin mengerikan. Asapnya banyak.

Tidak lama, hanya 15 menit di puncak Bromo, saya turun lagi ke parkiran Jeep, lalu pulang ke Wonokriti. Sampai Wonokriti, kami kebingungan cari kunci mobil. Tidak ada di tas siapa-siapa. Tidak ada di kantong siapa-siapa. Pas dibuka, mobilnya bisa. Kuncinya ada di dalam mobil! Jadi selama kami ke Pananjakan Bromo, mobil di Wonokriti tidak terkunci, kuncinya ada di dalam mobil, tapi aman…

 

Penanggungan via Tamiajeng 2017

Perjalanan ini dilakukan pada Sabtu, 26 Agustus 2017 dengan 3 teman saya. Kami start dari Pandaan (Kabupaten Pasuruan) dengan mobil sendiri pukul 00.30. Lewat Trawas, hanya setengah jam sudah sampai Pos 1 Perizinan (search google map: Pos 1 Perizinan Pendakian Gunung Penanggungan).

Pos 1 ini ada yang jaga. Kita diminta bayar iuran masuk Rp10.000 per orang. Kemudian diberi briefing sekitar 5 menit. Kami berempat belum ada yang pernah mendaki Penanggungan, tapi kata penjaganya tidak apa-apa, track bisa ditebak. Kami juga diberi selebaran yang isinya anjuran dan larangan selama naik Penanggungan. Ya standard sih, seperti tidak boleh bawa miras, narkoba, dsb. Baru sekali ini naik gunung ada briefing-nya J

Terlihat banyak motor yang parkir di Pos 1. Puluhan. Mobil yang parkir hanya mobil saya. DI akhir saya baru tahu bahwa parkir mobilnya bayar Rp25.000. Kirain cuma Rp10.000.

Juga ada beberapa warung yang ada tempat santai-santainya, bisa untuk tidur kalau bawa sleeping bag. Harga di warung normal. Misalnya mi rebus pakai telur Rp6.000. Ada nasi juga, lumayan banyak pilihannya. Jadi kalau tidak rencana masak di atas gunung, bisa saja bawa bekal dari Pos 1.

Mulailah kami berjalan, dengan senter dua buah. Satu di paling depan, satu di paling belakang. Kira-kira lama perjalanan kami 2,5 jam dengan detail sbb:

Pos 1 – Pos 2 : 25 menit

Pos 2 – Pos 3 : 15 menit

Pos 3 – Pos 4 : 45 menit

Pos 4 – Puncak Bayangan : 60 menit

IMG-20170826-WA0039
Puncak Bayangan. Dok: Naim Rohatun

Waktu-waktu tersebut tidak termasuk istirahat di tiap pos. Kami duduk santai di tiap pos yang bentuknya seperti gubuk. Pas buat duduk-duduk. Paling lama kami istirahat di Pos 4, sekitar 1 jam. Ini karena pesan ketika briefing: jangan terlalu cepat sampai ke puncak bayangan, terlalu banyak angin. Nanti kedinginan.

Mengenai track yang dilalui, Pos 1 ke Pos 2 santai. Banyak bonus, malah ada jalan menurun. Pos 2 ke Pos 3 agak naik. Banyak tangga, banyak batu. Pos 3 ke Pos 4 makin menanjak. Pos 4 ke Puncak Bayangan banyak pasir, mudah membuat orang terlepeset. Tidak ada sumber air di sepanjang jalur.

Dan benar saja, di Puncak Bayangan itu sangat berangin. Sampai bikin kelilipan karena anginnya membuat pasir beterbangan. Kami cari semak-semak yang kira-kira bisa menghalangi angin. Supaya bisa masak juga.

Kami sholat subuh berjamaah dengan wudhu pakai Aqua. Sajadahnya ya seadanya, ada yang jas hujan, ada yang jaket. Setelah sholat saya kok rasanya malas lihat sunrise, karena tempat lihatnya itu di lokasi terbuka, yang sangat berangin.

Jadi masak saja sudah. Diawali masak air untuk Energen. Lalu masak sarden dan mi rebus. Nasi sudah bawa dari rumah. Apa saja nikmat kalau sudah di gunung.

Pukul 7 pagi kami sudah mulai turun. Pukul 8.30 sudah sampai mobil. Istirahat sebentar. Pulang. Sampai Pandaan 9.30. Jadi orang pada masih banyak yang belum bangun karena weekend, kita sudah naik gunung dan turun lagi J

Sehari di Taman Safari Prigen

Tulisan ini cerita dan pengalaman saya jalan-jalan ke Taman Safari Prigen selama satu hari: Rabu, 12 Juli 2017

Saya juga baru tahu ada Taman Safari di Prigen, Jawa Timur. Jadi tidak hanya di Puncak, Bogor.

Tiket Prigen
Tiket Taman Safari Prigen 2017

Tiket masuk ada 3 jenis tergantung paket, Rusa, Badak, atau Gajah (yang termahal, pastinya yang paling komplit). Harga juga dibedakan antara Weekday, Weekend, dan Turis Asing. Jadi total ada 9 varian harga. Saya pilih paket Badak di Weekday, harganya Rp150.000. Karena bawa rombongan dan ada koneksi orang dalam, jadi bisa dapat memo diskon 15%.

Atraksi pertama adalah Safari Adventure. Kita di dalam mobil, nyetir sendiri, lihat hewan-hewan di kanan kiri. Kalau pas hewan herbivora boleh buka kaca. Ada beberapa yang beli wortel atau sayur di luar, terus dia kasih waktu di dalam. Maksudnya supaya hewan herbivora mau mendekat ke mobil. Untuk apa? Untuk difoto, atau untuk dipegang, atau untuk nakutin anak yang nakal di dalam mobil, atau untuk bangunin supir yang ngantuk. Ya terserah saja. Beberapa hewan besar yang bisa kita lihat dari dalam mobil: Llama, bison, rusa, jerapah, gajah, sapi tanduk panjang.

20170712_155657Banyak juga hewan karnivora, tentu beda kandang dengan yang herbivora. Dipisah dengan tembok-tembok tinggi. Jangan berani-beraninya buka kaca kalau sedang di dalam kandang karnivora. Apalagi coba memberi makan dari dalam mobil. Beberapa hewan yang bisa kita lihat: harimau, singa, dan beruang. Sebetulnya banyak, tapi saya lupa.

Ujung Safari Adventure adalah parkiran luas, dan ramai. Buat apa mereka ramai-ramai di sana? Sebetulnya ini urusan mereka, tapi dari yang saya amati, kira-kira sebagian besar mereka adalah orang-orang yang bersenang hati ingin berekreasi. Sebagian kecil mungkin ada yang bersedih hati karena harus berdagang, harus mengurusi hewan, harus melatih hewan supaya kalian pengunjung bersenang hati. Juga ada sebagian yang tidak jelas bersenang hati atau bersedih hati, karena mereka adalah supir yang matanya ditutup di dalam mobil.

Karena yang terlihat pertama adalah atraksi-atraksi seperti di Dufan, maka ke sanalah saya berjalan. Ada roller coaster, ontang-anting, kereta-keretaan. Kora-kora… di mana Kora-kora? Sayang sekali tidak ada kora-kora. Sebagian besar permainan untuk anak-anak sih, agak kurang cocok buat dewasa.

Merasa permainannya kurang bikin deg-degan, saya jalan ke dalam, lewat Jembatan Buaya. Kalau yang di bawah jembatan isinya ikan paus, mungkin namanya berubah jadi Jembatan Ikan Paus. Jembatannya bergoyang dan ada tulisan maksimal 20 orang di jembatan. Harusnya setelah tulisan itu diberi bintang, lalu diberi keterangan di bawahnya: kalau tidak mau dipeluk buaya. Dan harusnya diperjelas juga, itu 20 orang dengan bobot berapa, karena 30 orang @50kg lebih ringan daripada 20 orang @80kg. Kalau perlu ditanyakan juga dia punya tanggungan KPR, cicilan mobil, atau tidak, agar tahu beban pikirannya seberat apa.

20170712_155720
Sebelum lewat Jembatan Buaya

Lewat Jembatan Buaya, nah sekarang gantian, kalau tadi di Safari Adventure kita yang dikurung dalam mobil, sekarang gantian binatang yang dikurung. Seperti di Ragunan, tapi tidak sebanyak koleksi Ragunan. Ada harimau putih, harimau cokelat, bekantan, orang utan, burung-burungan. Yang keren, dia punya penguin! Kita bisa lihat penguin berenang dari kaca yang ada di pinggiran kolam.

Sekitar jam 1 siang saya ikut atraksi lumba lumba Dolphin and Friends. Keren! Gimana ya bisa melatih lumba-lumba sampai bisa ikuti instruksi instruktur, buat lompat bareng nyentuh bola 5 meter di atas kolam, berenang dengan gaya sesuai instruksi. Ada komentar negatif di Tripadvisor, bahwa lumba-lumba sebetulnya tidak diperlakukan menjadi hewan pertunjukan seperti itu. Lumba-lumba juga tidak suka dengan suara tepuk tangan. Buat saya sih ini menghibur. Tapi buat lumba-lumba gimana ya? Jalan tengahnya gimana ya supaya kita terhibur, lumba-lumba juga tidak merasa terganggu?

Jam 2 siang, atraksi aneka satwa Jungle Boy. Ini yang menurut saya paling bagus. Lucu. Atraksi dimulai dengan tiba-tiba masuk serombongan marmut yang jalan berbaris. Kok bisa ya melatih marmut jalan? Marmutnya sekitar belasan. Bersih-bersih dan lucu-lucu. Terus ada ceritanya, pembalak liar membabat hutan, hewan-hewan melawan dan menang. Tapi itu di Taman Safari. Di kenyataannya beda.

Atraksi Bird Watching dimulai jam 3 sore. Setiap burung dikasih nama. Mereka punya atraksi masing-masing. Ada burung rangkong, burung pemakan bangkai, burung hantu, burung kakaktua. Ini juga bikin saya bingung, gimana ngajarin burung sampai bisa ikuti instruksi kita? Disuruh lewati lingkaran semacam hoola hoop, dia mau. Disuruh say halo dia mau. Disuruh ambil mencit dia mau. Cuma disuruh ambil ikan di kolam saja yang dia bingung. Bolak balik lewat gak dapat-dapat.

Tiger Show jam 3.30 sore menurut saya paling biasa. Dan kasian. Kenapa? Karena harimau diumpani daging disuruh nyebur ke kolam. Jadi basah semua gitu. Harimau disuruh manjat batang tinggi, seperti dalam lomba panjat pinang. Diumpani daging, dan harimaunya langsung naik sampai belasan meter (kira-kira).

Di atraksi-atraksi itu, hampir tidak ada yang antri. Semua dapat kebagian duduk, kecuali Bird Watching. Untuk permainannya juga tidak ada yang antri, termasuk roller coaster tidak antri. Untuk Safari Adventure, tidak ketemu mobil yang ngetem lama-lama sehingga mobil di belakangnya harus nunggu dengan bosan dan banyak complain di Tripadvisor. Saya aman… Hidup weekdays gak di kantor deh pokoknya.

Arjuna Lewat Purwosari

IMG-20170708-WA0014
Pos 5 Mangkutoromo

Ini data dan cerita saya ketika mendaki Arjuna lewat Purwosari pada 8 Juli 2017.

Saya berangkat bertiga, dengan Security kantor (SCK) dan OB kantor (OBK). Saya sebetulnya tinggal di Jakarta, tapi dapat project di Pandaan dan diajak naik oleh SCK yang memang biasa naik. Ya jalan sudah…

Digunakan inisial SCK dan OBK karena ada cerita personal sepanjang perjalanan yang akan saya share di sini, namun kelihatannya lebih baik kalau saya samarkan namanya. Tentang hidup. Tentang pekerjaan. Tentang bagaimana perusahaan memanusiakan karyawannya.

Kami memulai perjalanan pukul 8 pagi dan sudah sampai Purwosari lagi pukul 3 sore. Jadi total naik turun dan sudah hitung istirahat sekitar 7 jam. Perjalanan hanya sampai Pos 5 Mangkutoromo, sesuai rencana awal. Tidak menginap. Hanya pakai ransel biasa saja. Isi air 2L, madu, roti, sosis, jas hujan. OBK  ekstrim sekali, tidak bawa apa-apa! Dan dia berlari! Pakai sandal jepit!!!

Secara ringkas waktu perjalanan kami sbb:

 

Desa Tambak Watu – Pos 1 Onto Boego : 60 menit

Pos 1 Onto Boego – Pos 2 Tampuono : 30 menit

Pos 2 Tampuono – Pos 3 Eyang Sakri : 15 menit

Pos 3 Eyang Sakri – Pos 4 Eyang Semar : 25 menit

Pos 4 Eyang Semar – Pos 5 Mangkutoromo : 35 menit

 

Turunnya sekitar 60 menit jika tidak berhenti. Jalan santai tapi tidak berhenti.

Jumlah menit di atas hanyalah waktu pendakiannya saja, tidak menghitung waktu istirahat di tiap pos. Kami berjalan biasa, tidak cepat, tapi jarang sekali berhenti di jalan. Berhentinya di pos-pos saja. Di Pos 2 Tampuono kami berhenti sampai satu jam ketika naik, karena saya belum sarapan. Dan satu jam ketika turun, karena ramai pendaki, jadi sambil ngobrol. Sepiring nasi putih dengan telur tahu tempe dan dua gelas kopi harganya Rp13.000. Murah meriah J

 

Desa Tambak Watu ke Pos 2 Tampuono

Saya dan SCK sudah dari pabrik tempat kami bekerja di Pandaan pukul 7 pagi. SCK ini habis tugas malam, jadi semalaman tidak tidur, terus langsung naik gunung. “Kuat mas…” kata dia. Saya dan SCK motoran sampai rumah OBK yang letaknya di desa Tambak Watu.

Dari pertigaan besar Purwosari (dilewati jalur bus Surabaya – Malang) sampai desa Tambak Watu perjalanannya menanjak dan berkelak kelok. Tidak ada angkutan umum. “Kalau tidak bawa kendaraan repot mas. Ojeg mahal. Apalagi kalau pakai bahasa Indonesia kayak sampean,” kata SCK.

Rumah OBK tidak jauh setelah masjid NU. Rumahnya sederhana. Lantai sudah keramik. Di depan rumah dijemur kopi. Rata-rata begitulah tipikal rumah penduduk di desa ini. Mereka rata-rata adalah petani. Bukan petani tanaman pangan, tapi tanaman perkebunan. Sekaligus peternak skala kecil.

Kami taruh motor di rumah OBK lalu mulai mendaki. OBK belum datang, mungkin masih di kantor. Tapi nanti dia akan menyusul. Nanti saya akan tahu bahwa dia akan menyusul dengan berlari!

Saya dan SCK berjalan santai. Saya relatif lebih cepat, tapi karena tidak tahu jalan, saya sering berhenti menunggu SCK yang jalannya relatif lebih lambat tapi tidak berhenti. Tap tap tap… terus dia, tidak berhenti.

Kanan kiri adalah perkebunan kopi dan pinus. Sampai Pos 1 Onto Boego saya masih mendapati jalan bebatuan. Kebanyakan track landai.

Pos 1 Onto Boego mempunyai beberapa bangunan. Salah satu yang menarik adalah goa yang mulutnya dibuatkan bangunan kecil dengan pintu. Menurut SCK, penduduk setempat percaya bahwa goa ini adalah “lift” yang bisa membawa ke Pantai Selatan dalam sekejap. Bangunan di mulut goa ini tidak sendiri. Ada beberapa bangunan lagi. Bersih, gelap, kecil, dan tercium bau dupa. Saya tidak berani masuk.

Tidak ada warung yang buka di Pos 1 Onto Boego. Jadi saya baru sarapan di Pos 2 Tampuono. Seorang ibu penjaga warung hanya menyahut “Yaa…” ketika saya panggil. Tapi tidak keluar-keluar. Jadi saya masuk saja ke bangunan gubuk berlantaikan tanah. Masuk ke dalam, saya baru melihat si ibu sedang sibuk menggoreng keripik pisang. Di atas kayu bakar yang membara.

“Ada nasi Bu?”

“Ada, tapi hanya ada telur,” dijawabnya sambil menunggu jawaban balik dari saya.

“Gak apa-apa bu. Saya pesan satu ya bu…”

Lalu tidak lama datang nasi dengan telur dengan tahu dengan tempe, dan ada sambalnya satu piring. Memang ya, apa saja enak kalau di gunung.

Baru setengah makan, datanglah OBK, sambil berlari dari bawah. Tidak terlihat keringat. Tidak ngos-ngosan. Tidak membawa apa-apa, cuma celurit di tangannya (mungkin buat bersihin lading kopinya). Langsung dia bakar rokoknya. Dia berlari sekitar setengah jam saja! Padahal kami perlu hampir 2 jam untuk sampai Pos 2 Tampuono.

OBK sudah bertahun-tahun tinggal di desa Tambak Watu. Dengan gajinya yang pas UMR (hanya selisih beberapa ratus ribu), dia bisa dikatakan beruntung di desanya punya gaji sebesar itu. Nah, di sini saya bersyukur sekali dengan pendapatan saya. Kok dia yang dapat UMR bisa dikatakan beruntung oleh penduduk desanya, tapi saya dapat berkali lipat dari UMR tapi masih mengeluh!

 

Pos 2 Tampuono – Pos 5 Mangkutoromo

Buat saya, cerita SCK dan OBK lebih menarik ketimbang perjalanan fisik yang saya lewati. Tapi tentu pembaca mau tahu track nya seperti apa. Secara umum, track pendakiannya normal. Yang agak berat itu dari Pos 3 Eyang Sakri sampai Pos 5 Mangkutoromo. Kebanyakan jalan nanjak agak curam. Berbatu. Jarang ada bonus.

Tidak sadar saya sudah lewati Pos 3 Eyang Sakri. “Tadi itu sudah lewat,” kata SCK setelah saya tanya di mana Pos 3 Eyang Sakri. Mungkin tidak terlalu jelas posnya sehingga terlewat begitu saja.

Kalau di Pos 4 Eyang Semar, ramai orang. Ada gubuk kecil dan ada yang masak. Ada semacam tempat ibadah yang lokasinya terbuka. Seperti gundukan batu yang di atasnya datar. Banyak lidi-lidi berasap. Ada yang sedang semacam beribadah. Seperti ibadahnya umat Hindu. Tapi mereka bukan Hindu. Menurut SCK, itu adalah Kejawen. “Berat loh jadi Kejawen, mereka tidak makan yang bernyawa dan yang berminyak. Jadi digodok terus.”

Sambil jalan, saya ajak ngobrol OBK tentang pekerjaannya. Dia adalah karyawan outsourcing dari perusahaan yang terkenal menyuplai Office Boy, termasuk di Jakarta. Sudah 6 tahun bekerja tapi gajinya ya mepet UMR terus. Kalau sedang tidak ada proyek, ya nganggur sudah. Dirumahkan, istilah si OBK. Tidak ada pemasukan sama sekali. Sudah 6 tahun tapi tidak diangkat menjadi karyawan tetap. Kontraaak terus.

Bagi yang beruntung, akan diangkat menjadi controller, atau apa istilahnya saya lupa. Si controller akan tetap mendapat gaji walau tidak ada proyek. Tapi dia harus masuk ke kantor. “Gajinya beda-beda tipis sama saya. Cuma beda beberapa ratus ribu,” kata OBK.

Kenapa OBK tidak diangkat-angkat? Ya tanyakan saja sama perusahaan-perusahaan outsource itu. “Ada yang sudah belasan tahun kerja tetap juga tidak diangkat-angkat,” kata OBK.

Yang menurut saya hebat, OBK tidak terlihat mengeluh. Kalem saja dia. Justru saya sering dapat banyak keluhan tentang gaji itu dari teman-teman yang pendapatannya berlipat-lipat dari UMR. Jadi seperti meludah ke wadah air yang airnya akan dia minum sendiri.

Pelajaran seperti ini yang saya senangi buat memperbaiki jiwa saya sendiri. Jangan mengeluh!

SCK juga ikut bercerita. Dia sudah ingin sekali masuk menjadi karyawan tetap di tempat client nya yang sekarang, ya pabrik tempat kami bekerja sekarang. Tapi sudah bertahun-tahun belum berhasil.

Pendakian tidak terlalu berasa kalau diselingi dengan sambil bercerita begini. Apalagi kalau latar belakangnya beda. Tentu akan banyak sudut pandang.

Sampai di Pos 5 Mangkutoromo, kami rehat sekitar satu jam. Makan perbekalan, tapi tidak makan berat. Di sini banyak tenda. Memang tempatnya pas: luas dan datar. Ada juga tenda besar semi permanen yang atapnya sudah ditumbuhi perdu-perduan, ada perdu yang tingginya sampai 2 meter! Jadi ini tenda besar sudah lama sekali. Sepertinya untuk tentara. Di dalamnya bisa buat tidur. Jadi sebetulnya bisa saja hanya bawa matras dan sleeping bag kalau mau tidur di Pos 5 Mangkutoromo. Tidak bawa tenda tidak apa-apa.

Gundukan batu tempat ibadah juga ada di Pos 5 Mangkutoromo, seperti yang ada di Pos 4 Eyang Semar. Saya melihat ada seorang ibu berjilbab lebar di atasnya, seperti sedang membaca doa yang ada di buku kecil di tangannya. Tidak lama kemudian ibu ini pamit turun duluan dan menawarkan makanan, “Silakan itu ada nasi di dalam. Ambil saja yaa.” Bicaranya ramah dan banyak senyum.

 

Turun

Turun memang lebih cepat daripada naik. Hampir selalu begitu. Tapi hati-hati betisnya. Saya baru turun 15 menit saja sudah gemetar. Bahkan si OBK yang sudah biasa naik Arjuna juga gemetar.

Di perjalanan turun saya ketemu dengan ibu yang tadi sedang berdoa di Pos 5 Mangkutoromo. Dia bersama 2 anak muda yang membawa carrier besar. Satu di antaranya malah membawa 2 carrier besar. Saya pikir, mungkin anak muda ini adalah bawaan si ibu untuk bantu bawa barang.

OBK bertanya, “Sudah berapa lama bu?”

“Sebulan,” katanya singkat sambil terus berusaha turun perlahan, masih fokus pada batu yang dia tapaki.

Kelak saya akan tahu bahwa ibu itu bernama Rahayu, dari Jakarta. Dia meminta tolong 6 anak muda yang baru dikenalnya untuk membawakan barangnya turun. Ketika naik, dia juga meminta tolong 6 anak muda untuk membawakan barangnya naik. Masing-masing diberikan ongkos Rp150.000.

Apa yang Ibu Rahayu lakukan di gunung selama 1 bulan? Ini saya juga belum tahu. Yang saya tahu, itu juga tahu dari cerita SCK, banyak orang jauh yang datang ke Arjuna untuk semedi, mencari “ilmu”, atau semacam itu. Apakah itu yang Ibu Rahayu lakukan? Belum bisa dipastikan.

Tulisan ini saya buat dua hari setelah turun. Paha masih nyut-nyutan. Betis masih sakit. Jalan masih susah. Tapi naik gunung itu seperti tobat sambel. Sekarang kepedasan, besok mau lagi.

Singapura: Makanan

Tidak sulit cari makanan di Singapura. Yang sulit itu cari yang murah, halal, dan pedas J

Saya cerita pengalaman saya saja ya tinggal di Singapura selama dua menjelang tiga bulan. Jadi tulisan ini tentu tidak bisa jadi acuan untuk referensi menyeluruh tentang seluruh makanan di Singapura.

Kantor tempat saya bekerja di Indonesia mayoritas karyawannya muslim, jadi kalau milih hotel di Singapura yang dicari adalah yang dekat dengan akses makanan halal. Jadilah di Park Royal (Beach Road), yang depannya langsung Arab Street, dan tidak jauh dari Masjid Sultan. Hanya sekitar 500 meter dari Bugis Station.

Nah di sekitar hotel ini banyak banget pilihan makanan halal. Ya sekitar separuhnya lah halal, terutama masakan Melayu, India, Turki, dan Lebanon. Beberapa masakan China juga halal. Awalnya saya bingung juga mana yang halal, tapi ada beberapa indicator yang bisa jadi acuan restoran itu halal:

  1. Restoran Melayu, India, Turki, dan Lebanon
  2. Ada label Halal
  3. Yang makan ada yang berjilbab
  4. Ada yang ngajak masuk pakai “Assalamu’alaikum”

Kalau tidak ada minimal satu dari indicator di atas, wah jangan deh.

Yang paling nyambung dengan lidah saya adalah masakan India: cane, pratha, nasi biryani, martabak, roti jhon. Yang terakhir disebut ini saya kurang tahu juga, asli masakan India apa bukan ya? Karena di setiap saya masuk restoran India, hampir selalu ada terus.

Dua restoran India favorit saya yang dekat hotel adalah Zam-Zam (depan masjid Sultan) dan Kampong Glam Café (Baghdad Street). Tapi belakangan saya rasai restoran India tipe makanannya sama semua. Sama-sama enak maksudnya.

20170419_194348Sekali saya pernah main ke Little India. Makan di restoran namanya “Madura”. Kita pikir itu makanan Indonesia. Ternyata makanan India. Yang jual semua India. Yang mampir juga India semua. Saya tanya sama waiter, kenapa pakai nama Madura? Dijawab, itu nama daerah di Indonesia. Terus waiternya pergi. Padahal saya mau bilang, nenek-nenek metal juga tahu. Tapi kenapa milih nama Madura???

Selain masakan India, varian makanan lain juga banyak banget, ada steak, ramen, tom yam, ayam penyet (Indonesia banget), nasi lemak, salad. Yah itu saja sih yang saya bisa sebut, sebetulnya masih banyak nama yang aneh-aneh dari restoran Lebanon, Turki, China.

Beberapa tempat makan/retail ini juga ada di sekitar tempat saya tinggal: Popeye, Pizza Hut, 7Eleven, Giant, Starbucks.

Kalau bicara harga, nah ini yang seru. Rata-rata saya sekali makan sudah dengan minum sekitar S$8 atau sekitar Rp80.000. Makan Tom Yam S$5,5. Nasi Briyani Mutton (kambing) S$6,5. Di mal dan di airport harganya tidak jauh beda. Ini yang saya suka. Kalau di Indonesia kan jauh banget bedanya antara di luar bandara dan di bandara.

Di Singapura hampir tidak ada yang kasih minuman gratis. Kalau di Indonesia kan banyak yang kalau kita beli makan ya dapat minum air putih atau teh tawar. Mungkin karena air mahal kali ya. Singapura kan tidak punya pegunungan yang jadi sumber mata air.

Biasanya saya hunting makanan-makanan dekat hotel kalau malam saja. Pagi makan di hotel (include harga kamar). Siang makan di kantin kantor.

Sarapan pagi di hotel juga perlu hati-hati buat muslim, karena banyak makanan yang dicampur dengan daging babi. Lah saya mikir, sangat mungkin kalau mereka masak dalam satu wajan yang sama. Saya cari aman dengan hanya memakan susu sereal, salad, dan buah. Sayang banget sebetulnya varian makanan di hotel banyak banget. Omelet pun saya gak berani sentuh.

Nah kalau makan siang di kantor aman, karena kantin kantor saya, yang di daerah Tuas, bersertifikat halal. Yang jaga juga orang melayu berjilbab. Di kantor saya merdeka soal makanan.

Pernah saya makan di food court Singapore Flyer. Sate 10 tusuk dengan beberapa potongan kecil lontong. Tidak bikin kenyang. Harganya saja yang bikin kenyang: S$10. Di Jakarta paling setara S$3.

Pernah juga saya mampir di mal dekat Singapore Flyer. Sempat tertarik dengan Restoran Masakan Padang. Tapi saya perhatikan semua waiter nya kok Chinese semua. Label halal juga tidak ada. Jadi saya batal makan di situ. Saudara saya yang memang sudah lama di Singapura menguntung-untungkan. Untung saya tidak makan di situ, karena kalau semua yang jaga Chinese, tidak punya label halal, maka jangan masuk.