Taliwang: Ojeg Punya Kartu Anggota

Baru kali ini saya lihat tukang ojeg punya kartu anggota. Saya ketemu tukang ojeg ini di dekat terminal Taliwang, NTB. Namanya Syaifullah (anggap saja dipanggil Bang Ipul). Dia menggunakan rompi oranye kuning, mirip rompi pekerja-pekerja bangunan.

Awalnya saya tidak tahu tentang keanggotaan ojeg itu. Tapi Bang Ipul sedikit sedikit tan tin, sepertinya gaul banget gitu. Waktu saya makan bareng dia, tukang warungnya sempat ngobrol sama Bang Ipul, seperti kenal.

Ketemu tukang odong-odong tin. Ketemu ada yang lagi nongkrong di pinggir jalan tin. Ketemu ojeg lain dari arah berlawanan, tin juga. Tan tin tan tin saja sepanjang jalan. Betul-betul gaul Bang Ipul.

Baru saya ketemu polanya. Beberapa yang dia tan tin itu menggunakan rompi yang sama seperti yang Bang Ipul pakai. Saya tanya, tukang ojeg di Taliwang harus pakai rompi ini?

“Iya. Kami ada keanggotaannya. Anggota ojeg itu sekitar 300 orang. Ada iuran anggota yang kebanyakan digunakan untuk membantu anggota lain yang sedang sakit,” jelas Bang Ipul.

WhatsApp Image 2019-11-14 at 17.02.48
Bang Ipul memegang kartu anggota

Hebat juga ya solidaritas tukang ojeg di sini. Sampai ada kartu anggotanya juga loh. Bang Ipul sempat tunjukkan. Judulnya di atas itu tertulis POKET, kurang jelas singkatan dari apa. Di bawahnya ada tulisan Surat Izin Ojeg (SIO). Ada data nama, TTL, agama, alamat. Ada fotonya. Ada ttd ketuanya di pojok kanan bawah. Dan ada masa berlakunya!

WhatsApp Image 2019-11-14 at 17.03.05
kartu anggota bang Ipul

Terus kalau sudah lewat masa berlakunya tapi tetap ngojeg gimana bang? Rasanya lebih ke sangsi sosial saja ya. Semacam dikucilkan dari komunitas. Saya juga tidak tahu.

Bang Ipul ini termasuk sosok yang banyak tahu, banyak kenal. Dia sempat jelaskan tempat-tempat wisata di Taliwang. Tapi tidak, saya hanya ingin ke Pantai Maluk. Pantai ini terkenal buat surfing karena dia punya ombak di tengah yang bisa mencapai tinggi dua meter, disebut super suck. Ombak ini tidak sampai tepi pantai karena sudah pecah duluan oleh sebuah tanjung.

Saya tidak ada niatan untuk selancar dan tidak ketemu dengan orang-orang yang berselancar. Mungkin memang lokasi peselancar itu bukan di pinggir pantai. Saya kan mainnya di pinggir-pinggir saja. Berenang-berenang begitu saja. Di bibir pantai, ada tulisan “Pantai Maluk” besar dan tinggi, berwarna putih. Tampak gagah.

Banyak wajah-wajah lokal yang juga berenang sore itu. Maklum saja, pantai ini dekat sekali dengan pemukiman warga Desa Maluk. Juga dekat dengan lokasi perusahaan Newmont.

Waktu perjalanan dari Taliwang ke Maluk tadi, ketemu dengan beberapa pekerja Newmont. Itu saya dikasih tahu Bang Ipul. Memang khas seragamnya. Tapi, menurut Bang Ipul, yang sekarang bukan Newmont lagi namanya. Walaupun pekerjanya ya itu-itu juga.

Di sekitar Pantai Maluk, Bang Ipul menunjukkan, “Itu kafe, itu kafe.” Dia seperti paham lokasi kafe itu di mana saja. Kafe di NTB itu punya definisi yang lebih mendekati “tempat prostitusi”, bukan hanya tempat untuk ngopi.

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

Naik Kereta dari Merak ke Jakarta

Sudah beberapa bulan ini saya tinggal di Cilegon dan kerja di Merak. Biasanya setiap Jumat malam pulang ke Jakarta pakai mobil kantor, barengan teman kantor. Tapi rasanya kurang sreg kalau belum coba pakai transportasi umum dari Merak ke Jakarta.

Jadilah saya tanggal 18 Oktober 2019 coba kereta dari Merak. Konon katanya dulu ada kereta langsung Merak – Tanah Abang (tidak ganti kereta). Sekarang, harus ganti kereta di Rangkas Bitung.

Sekitar 16.15 saya keluar kantor di MCCI yang tidak jauh dari pintu tol Merak. Naik angkot merah sekitar 15 menit sampai Stasiun Merak. Ongkosnya Rp5.000.

Supir angkot menurunkan saya di pinggir rel, lalu diarahkan, “Masuk lewat jalan kecil itu.”

IMG20191018162423

Jalannya memang kecil, hanya untuk pejalan kaki. Juga sepi.

IMG20191018162307
Jalan setapak menuju Stasiun Merak

Masuk stasiun, juga sepi. Saya terlalu cepat datang. 16.40 sudah sampai stasiun. Padahal jadwal berangkat 17.20. Ada tempat duduk-duduk untuk penumpang menunggu.

Harga tiket Merak – Rangkas Bitung itu murah banget. Cuma TIGA RIBU PERAK! KAI apa tidak rugi ya?

IMG20191018162638
Tiket Merak – Rangkas Bitung hanya Rp3.000

Kereta datang. Penumpang masuk. Tepat 17.20 kereta berangkat. On time banget. Sebelum kereta bergerak, saya sempat ngintip ke loket tiket. Tidak ada antrian. Jadi lain waktu kalau mau naik kereta ini lagi, mepet mepet juga bisa. Tidak perlu takut tiket habis.

Di dalam kereta, penumpangnya sepi. Berhubung tidak ada nomor kursi, ya saya cari yang kosong. Model kursinya 2-3 berhadap-hadapan, seperti kereta ekonomi ke seantero Jawa. Saya duduk di kursi 2. Maksudnya, kursi yang muat 2 orang. Selonjorkan kaki ke kursi hadapannya. Sejak berangkat sampai ke Rangkas Bitung kursi di depan saya kosong.

Kereta tiga ribuan ini ber-AC loh! Dan ada colokan di setiap pinggiran kursi.

IMG20191018163653
Beberapa AC dalam satu gerbong kereta Merak

Hati-hati ya dengan jadwalnya. Kereta dari Merak ke Rangkas Bitung sehari ada enam kali keberangkatan: 5.00; 6.30; 10.20; 11.45; 15.35; 17.20. Sedangkan dari Rangkas Bitung ke Merak juga ada enam kali keberangkatan: 3.50; 7.45; 09.05; 12.45; 20.00.

IMG20191007050633
Jadwal kereta Merak – Rangka Bitung dan sebaliknya

Sampai Rangkas Bitung, saya harus keluar stasiun dulu untuk tap e-money. Lalu masuk lagi untuk naik Commuter Line sampai Tanah Abang. Ada hampir tiap jam. Dari Tanah Abang lanjut ke Manggarai, terus ke Buaran. Pengurangan e-money nya dari Rangkas Bitung ke Buaran itu Rp10.000.

Pengalaman ini memunculkan simpulan di kepala saya: kereta sekarang sangat nyaman. Tepat waktu. Adem. Murah. Walaupun masih ada kurangnya: lambat.

Punya Bayi Lagi, Ini Rasanya…. (Dan Biayanya)

Anak saya yang pertama, lahir tahun 2014. Anak kedua (perempuan lagi), baru di tahun ini, 2019. Tepatnya 1 Mei 2019. Iya, pas hari buruh. Beruntung sekali dia karena setiap tahunnya nanti pas dia ulang tahun, akan libur. Kalau nanti masih, banyak serikat buruh yang akan turun ke jalan, memperingatinya.

Punya anak yang baru lulus balita, terus ditambah satu lagi yang baru lahir, itu harus siapkan shift dua setiap harinya. Setidaknya sampai enam bulan awal. Tidur batita masih tidak stabil, maksudnya, bisa jadi pas jam tidur kita, dia bangun, dan sebaliknya. Waktu dia bangun, ya kita tidak bisa tidur. Tangis bayi bisa membuat orang tuanya terjaga semalaman.

Tapi sebelum sampai rumah, bayi harus “ditebus” dulu dari rumah sakit. Kedua anak saya lahir di RS Bhakti Asih (Ciledug). Total pengeluaran saya untuk lahiran itu Rp6 juta lebih dikit. Dapat kamar kelas dua. Karena yang VIP dan kelas satu habis. Awalnya saya sudah siapkan sekitar Rp12 juta untuk lahiran di VIP. Cash, tidak mau pakai BPJS.

Bukannya belagu, tapi pas waktu itu memang lagi ada uang. Toh Rp12 juta itu sebetulnya tidak besar, dibanding banyak RS yang VIP nya bisa lebih dari Rp20 juta. Kalau mau murah, opsinya juga banyak sih, bisa lewat Puskesmas, yang saya dengar bisa gratis. Masih ada sisa uang lumayan untuk aqiqah dan persiapan lain.

Ditambah tebusan-tebusan lainnya yang menunggu, seperti popok, alat pumping, kulkas ASI, baju celana, dst. Dibahas satu satu nih ya. Popok itu, kalau pakai pampers, bisa habis sekitar 3 pak ukuran NB (New Born) dalam satu bulan. Kira-kira Rp250 ribu per bulan. Semakin besar bayinya, biaya popok makin besar, karena makin besar ukuran, harga per piece nya makin tinggi.

Alat pumping. Istri saya mau yang elektrik merek Malish. Ini termasuk yang mahal, yaitu Rp2 jutaan. Kalau mau yang manual bisa dapat sekitar Rp300 ribu.

Kulkas. Kami beli kulkas freezer merk Aqua yang harganya sekitar Rp2,3 juta. Perlu satu kulkas freezer khusus untuk tabungan ASI selama 3 bulan istri saya cuti melahirkan. Supaya nanti pas masuk kerja, tabungan ASI nya cukup. Nyatanya berlebih banget, sampai satu kulkas tidak muat. Mungkin karena alat pumping-nya yang bagus.

WhatsApp Image 2019-09-07 at 09.07.57
ASI satu kulkas, hampir basi gegara mati lampu

Sedikit cerita tentang tabungan ASI. Waktu mati lampu di hari minggu yang heboh itu, ASI sudah penuh satu kulkas. Apa ASI itu akan mencair sehingga harus dibuang? Karena kalau sudah tidak ada bentuk esnya lagi, ASI itu harus dibuang. Kami sampai mohon-mohon ke Indomaret dekat rumah yang saat itu pakai genset. Kami sudah dapat tempat di bagian bawah kulkas es krim. Alhamdulillah baik banget petugasnya. Tapi pas mau diangkut ke Indomaret, listrik nyala!

Baju celana bayi sebetulnya tidak terlalu makan biaya. Pertama, karena akan banyak yang kasih kado baju celana. Kedua, bisa pakai baju celana bekas anak pertama.

Itu baru tantangan berbiaya punya bayi baru. Belum lagi tantangan tak berbiaya. Misal, pikiran kalau badan bayi panas, semalaman tidak tidur-tidur padahal besok harus ngantor, pipis tembus popok sehingga harus cuci seprai (bahkan cuci kasur!), kakaknya ngambek karena merasa “kasih sayang” buatnya berkurang, dll.

Waktu terkuras banget buat bayi baru. Boro-boro mau menyalurkan hobi, mau istirahat cukup saja susah. Mangatur waktu ketika ada bayi, itu tidak ada sekolahnya. Ya jalani saja.

Kalau baca tulisan ini, rasanya berat ya punya anak. Emang! Hehe. Tapi saya ingat bahwa kalau kita sudah meninggal, anak yang solih/ah bisa jadi jariah yang kirim pahala terus-menerus. Juga jadi pelipur lara ketika kita tua nanti. Amin.

Siti Kewe, Cerita Murni dari Takengon

WhatsApp Image 2019-08-02 at 15.09.14Ini cerita tentang Kabupaten Aceh Tengah, yang sekarang diibukotai oleh Takengon. Tepatnya, ini cerita tentang kopi. Ini cerita sejarah kopi. Lebih spesifik, kopi gayo. Tapi tidak seperti buku sejarah biasa, yang ceritanya lurus-lurus saja.

Raihan Lubis, penulisnya, menceritakan sejarah kopi dengan balutan drama kehidupan sehari-hari. Eh tapi bukan drama deng. Kalau drama kan biasanya terkesan berlebihan. Ini tidak. Ini pas. Seperti apa adanya. Apa yang ada, itu yang tertulis. Makanya saya sisipkan kata “murni” dalam judul tulisan.

Ada cerita yang seperti drama. Seolah-olah drama. Tetapi saya sedikit banyak tahu tentang Aceh, sehingga cukup yakin bahwa itu bukan cerita drama. Orang tua saya lahir dan besar di Aceh. Perut saya banyak dimasuki makanan-makanan Aceh. Waktu kuliah, saya tinggal di asrama Aceh di Bogor. Banyak teman saya orang Aceh. Teman dekat. Sehingga saya bisa tahu ini bukanlah cerita drama.

Bahwa ada masanya, orang Takengon takut untuk ke kebun-kebun kopi mereka. Yaitu saat Aceh berstatus darurat militer. Kopi memang jadi penghidupan mereka. Tapi kalau berangkat ke kebun hidup, pulangnya mati, maka itu adalah penghidupan yang mematikan. Lelaki usia kerja, sering kali “diculik” Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk ikut memperjuangkan Aceh merdeka. Sementara, tidak sedikit cerita, TNI “menyiksa” orang-orang yang dianggap pendukung GAM, padahal belum tentu.

Masyarakat yang ada di tengah pertikaian antara GAM dan TNI menjadi korban. Sampai mereka takut untuk keluar ke kebun kopi. Banyak yang akhirnya keluar Aceh untuk mencari ketenangan. Termasuk salah satu tokoh dalam buku ini, meninggalkan rumah dan kebunnya di Takengon demi kehidupan yang lebih tenang.

Tsunami 2004 menjadi musibah besar sekaligus berkah besar untuk Aceh. TNI dan GAM berdamai. Padahal Takengon tidak kena tsunami, karena posisinya yang di tengah, bukan pesisir. Justru Takengon meraup berkah besar keamanan yang sudah lama mereka idamkan. Kebun kopi kembali diurus. Petani kopi tidak takut ke kebun lagi.

Produksi kopi meningkat. Kebun-kebun kembali dirawat. Tahu tidak bagaimana orang Takengon menjaga kopinya?

Kalau urusan pupuk, air, mungkin sama dengan yang lain ya. Lebih dari itu, orang Takengon ngajak ngobrol pohon kopinya! Mereka percaya kalau pohon kopi punya perasaan. Perasaan yang baik, menghasilkan kopi yang baik.

Win, tokoh utama dalam buku ini, adalah orang Takengon yang kemudian pindah dan bekerja di Bali. Seorang eksportir barang tekstil kalau saya tidak salah ingat. Dia belum menikah. Ibunya meminta Win pulang untuk kemudian dikenalkan dengan seorang gadis. Seorang dokter.

Pertemuan keluarga dilaksanakan. Win memaksa dirinya untuk mengikuti kemauan ibunya. Mereka bertemu dengan kondisi formal. Ada senyum dari gadis itu untuk Win, tapi sebentar, lalu senyumnya ditarik lagi, seperti senyum basa-basi.

Besoknya, Win diminta untuk mengenali gadis dokter tersebut dengan lebih dekat. Win menurut. Mereka jalan-jalan berdua. Win menemui sang gadis “terlalu belagu”. Merasa dirinya seorang dokter, dan merasa dokter selayaknya mempunyai strata sosial yang tinggi, membuat si gadis besar kepala. Win tidak mau melanjutkan proses pendekatan.

Malahan, Win mengajak calon istrinya yang dia kenal di Bali, ke Takengon. Seorang bule Eropa. Perjalanan mereka dari Bali ke Takengon, lewat Medan, Biereun, melewati jalan berkelok-kelok, bisa saya resapi karena memang pernah melewati jalur itu.

Sampai di rumah, Win mengenalkan sang bule bukan sebagai calon istrinya. Pertanyaan pertama ibunya Win: apa dia muslim?

Sisi humanis seperti itu banyak muncul dalam buku ini, sehingga tidak terasa belajar sejarahnya, padahal lagi belajar sejarah. Juga dengan percakapan sehari-harinya, menggunakan Bahasa Gayo, yang ternyata jauh berbeda dengan Bahasa Aceh (saya bisa paham Bahasa Aceh, tapi tidak bisa jawab). Di akhir buku, semua percakapan Bahasa Gayo diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Kalau mau belajar sejarah kopi di Takengon, buku ini tepat.

Ohya, dalam proses menulis review buku ini, saya bertanya ke seorang teman yang orang asli Takengon. Saya kirimkan gambar sampul bukunya, pernah lihat buku ini? Dijawab tidak. Dia hanya berkomentar, “(Siti Kewe) itu bahasa gayonya kopi.”

Jatiluhur dari Gunung Lembu

IMG20190630060734
Waduk Jatiluhur dilihat dari Gunung Lembu

Ini trip pertama saya dengan Backpacker Jakarta (BPJ). Padahal saya sudah jadi warga BPJ sejak dua tahun lalu, tepatnya di RT 5, tapi baru kali ini ikut tripnya BPJ. Padahal hampir tiap minggu BPJ bikin trip.

BPJ adalah komunitas yang sebetulnya bukan hanya beranggotakan anak Jakarta. Namanya saja yang ada Jakarta-nya. Wong founder nya saja bukan orang asli Jakarta, hehe. Aslinya sih ini komunitas buat yang suka jalan-jalan. Gitu saja.

Setiap trip yang dibuat BPJ, selalu ada contact person (CP), biasanya dua orang. Juga selalu ada keterangan berapa share cost nya (SC). Share cost itu, ya bagi-bagi beban biaya, atau gampangnya patungan. Misal biaya sewa aula atau sewa mobil, kan itu patungan.

Nah, SC ini akan selisih Rp20.000 antara member dengan bukan member. Saya, yang masuk warga RT 5, termasuk member. Kalau yang tidak masuk RT mana-mana, ya bukan member. Untuk trip ke Gunung Lembu ini, SC nya Rp98.297. Murah banget!

Itu sudah termasuk tiket kereta PP Jakarta – Purwakarta, kendaraan dari stasiun ke basecamp, izin simaksi, dan sewa aula. Yang belum, ya tinggal makan saja. Sama transport dari dan ke Stasiun Tanjung Priok.

Enak banget, karena selain murah, kita tidak repot. Tiket sudah diantrikan, dibelikan. Izin simaksi sudah diurusi. Base camp sudah disiapkan. Transportasi di Purwakarta juga disiapkan. Enak banget deh.

Meeting Point-nya di Stasiun Tanjung Priok, Sabtu 29 Juni 2019 jam 2.30 siang. Dibatasi maksimal 3.30. Walaupun saya tahu, akan naik kereta yang jam 4.15 sore.

#

Dari arah Ciledug, saya naik busway ke Tanjung Priok. Langsung ketemu sama CP trip ini, yang sudah megang tiket buat kita ambil. Namanya Sandy. Selain Sandy ada juga Retno yang jadi CP. Saya daftarnya lewat Retno. Sandy tunggu di semacam ruang tunggu di dalam stasiun. Siapa saja yang sudah sampai Tanjung Priok, langsung ambil tiket ke Sandy.

IMG20190629154151
Tiket Tj Priok – Purwakarta cuma enam ribu perak!

Di kereta, kita duduknya saling mencar, beda gerbong. Bisa jadi satu gerbong ada teman yang ikut trip ini juga, tapi kan belum saling kenal. Total peserta sekitar 40 orang. Tidak ada yang saya kenal satupun. Terus kan saya kenalan sama sebelah saya, eh ternyata dia ikut trip ini juga.

Sampai Stasiun Purwakarta, kumpul di depan stasiun. Sandy absen satu per satu peserta yang ada dalam list. Baru deh mulai kenal wajah-wajahnya yang ikut. Kayaknya saya termasuk yang sudah berumur. Rata-rata yang ikut itu sekitar umur 20-25. Di luar itu, ada, tapi tidak banyak.

Setelah absen, kita dikasih waktu bebas sekitar dua jam. “Nanti kumpul lagi setengah sepuluh (malam) di depan Alfa Midi,” kata Sandy. Peserta bebas, bisa makan, bisa lihat air mancur Sri Baduga, bisa sholat. Atur masing-masing. Yang penting waktunya kumpul, ya kumpul.

Saya sholat dulu. Tapi agak aneh mushola kecil dekat stasiun. Pintu pagar ditutup, terus orang yang lagi di teras mushola bilang, “Gak bisa, penuh!” Baru sekali saya mau sholat di mushola dilarang. Tapi memang sih terlihat puluhan tas bertumpuk di teras mushola, dan juga terlihat banyak orang sholat di dalamnya. Bisa jadi memang penuh. Jadinya saya sholat di dalam stasiun. Masuk lagi, permisi sama security-nya, kasih tunjuk tiket, numpang sholat. Boleh.

Seputaran Stasiun Purwakarta setiap malam minggu memang selalu penuh. Penuh orang dan tukang jualan, terutama jualan makanan minuman. Acara apa ini? Kenapa ramai sekali sampai susah jalan? Saya googling dapat sebuah artikel dari liputan 6, berjudul: Malam Minggu? Coba Wisata Kuliner di Tjeplak Purwakarta.

Dari artikel itu, saya bersimpulan, wah kayaknya yang disebut Tjeplak dalam artikel itu ya jalan yang saya lewati di seputaran Stasiun Purwakarta. Tidak jauh dari stasiun, ada Air Mancur Sri Baduga. Baru sadar, ternyata yang saya pernah lihat di TV air mancur bagus banget itu ya ini. Ya Sri baduga ini.

Walau pintu masuknya kecil, tapi orang tetap loh berebut masuk mau nonton. Di sekeliling air mancur, disediakan kursi dua saf. Kalau ke sini lagi, saya akan duduk di bagian depan, bukan bagian samping seperti sekarang. Dari depan, atraksi akan tampak lebih menyeluruh.

Air mancur mulai sekitar 20.15 dan selesai sekitar setengah jam kemudian. Memang bagus banget sih. Heran, kok atraksi keren gini bisa-bisanya gratis ya. Hebat deh pemerintah setempat. Air mancur menari-nari dibalur dengan pencahayaan yang berwarna-warni. Keren!

IMG20190629204743
Air mancur Sri Baduga, hiburan gratis di Purwakarta setiap malam minggu

Teman saya penasaran dengan sate maranggi. Saya ikuti saja. Dan ikut coba. Enak! Jadi kami makan berdua habis 10 tusuk sate Rp25.000 dan 3 nasi Rp15.000. Jadi total Rp40.000. Saya dibayarin sama peserta yang namanya Tony.

Sekitar jam 10 malam, setelah semua kumpul dan terabsen, kami mulai jalan ke arah jalan raya. Kurang tahu deh nama jalannya apa. Di situ sudah ada tiga buah pick-up buat antar kita ke base camp. Naik saja di bak belakang. Jarang-jarang kan naik di baknya pick-up. Yang berdiri ya berdiri, yang duduk ya duduk. Bebas saja.

IMG20190630113917
Mobil pick-up yang mengantar peserta dari Stasiun Purwakarta ke base camp, dan sebaliknya

Sampai base camp sudah jam 12 malam. Kami ditempatkan di aula yang lumayan luas, sebagian ditutupi karpet. Ya tidur di atas situ. Saya gelar sleeping bag, yang ternyata tidak dingin-dingin amat kok. Sebetulnya sarung saja cukup.

Base camp di sini enak, terutama karena ada warung yang buka 24 jam. Atau mungkin dia buka pas ada pendaki saja? Juga ada kamar mandi. Tapi harus sabar antri kalau pas pada kebelet.

#

Jam 3.30 pagi kami sudah mulai jalan, setelah sebelumnya kami saling berkenalan dan berdoa bersama. Track-nya sudah jelas. Jadi buat pendaki pemula, pas banget nih ke Gunung Lembu.

Kenapa disebut Gunung Lembu? Apa karena banyak lembunya? Bukan. Apa karena gunungnya mirip lembu? Bisa jadi. Saya juga belum tahu pasti kenapa.

Ada tiga pos yang akan dilewati. Kalau mendaki santai, bisa sampai dalam dua jam. Kalau agak cepat, satu jam juga sampai. Sandy sang CP naik hanya dengan sandal jepit. Saya tidak dengar dia ngos-ngosan. Dia baru resign gegara cuti 2 minggunya buat jalan-jalan ditolak. Memang betul-betul anak gunung!

IMG20190630074606
Warung di Pos 1

Sepanjang perjalanan ini, saya kenalan dengan beberapa orang. Ada yang baru pertama kali naik gunung. Ada yang sudah kesekian kalinya. Ada yang saya kira sudah lulus kuliah, taunya masih SMA. Ada yang baru jadi CPNS. Ada yang kerjanya di IT juga. Ada yang di grup WA ramai tapi pas ketemu diam saja. Ada yang ngojeg. Ada yang suka lari, sampai ikut marathon. Ada yang ternyata rumahnya dekat banget. Yah macam-macam lah ya karakter orang. Makin banyak kenal beda karakter, makin bagus sih ya.

Di beberapa tempat, saya temukan batu-batu besar. Seperti batu kali gitu, tapi sebesar kulkas. Ada yang sebesar traktor. Di tempat kita nunggu matahari terbit malah batunya lebih besar dari rumah. Jalannya relatif gampang. Ada beberapa track yang memang agak curam, tapi sudah ada talinya buat membantu turun naik.

Sebelum sampai, akan ditemukan beberapa kali turunan. Naik, turun lagi, naik lagi, turun lagi, naik lagi. Jadi seperti puncak tipuan gitu. Pada akhirnya sampai di tempat nongkrong di atas batu super besar. Apakah itu puncaknya? Entahlah.

IMG20190630055402
Pendaki Gunung Lembu memandangi Waduk Jatiluhur, menunggu matahari muncul

Yang jelas, dari situ pemandangannya bagus banget! Di bawah sana terlihat kemegahan Waduk Jatiluhur yang dikelilingi bukit-bukit. Ada bukit yang menjulang, ada yang landai. Di “pesisir” danau, banyak semacam keramba apung. Usaha warga lokal dalam memanfaatkan waduk.

Sayang, matahari baru terlihat sekitar setengah jam dari waktu terbitnya. Awan dan bukit-bukit di seputaran waduk menghalangi penampakan matahari. Tapi tetap dengan kesyahduan yang selalu dibawa matahari pagi.

Kembali ke base camp untuk bersiap pulang, rebutan kamar mandi lagi, naik pick-up lagi, naik kereta lagi, kembali ke Jakarta lagi.

 

Panasnya Rote

IMG20190423115500
Gerbang Selamat Datang Pelabuhan Baa, Rote

Mungkin karena panasnya yang kelewatan makanya orang rote buat topi ti’i langga kali ya? Itu loh, topi yang sering dijadikan andalan kekhasan NTT. Yang ada sayapnya di keliling topi seperti topi koboi, tapi lebih lebar. Ternyata topi itu dari Rote. Topi itu, di Pelabuhan Rote, dijadikan semacam ikon selamat datang.

Siapa yang tidak kenal Rote? Itu kan Pulau Ter-Selatan Indonesia. Kan ada lagunya: dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Sebetulnya bukan betul-betul yang paling Selatan. Ada lagi pulau yang lebih selatan dari Pulau Rote. Namanya Pulau Ndana. Tapi karena pulau itu isinya hanya tantara, tidak ada sipil, jadi mungkin tidak masuk hitungan.

Atau bisa jadi panasnya bukan betul-betul panas, tapi lebih karena saya naik kapal cepat yang di dalamnya itu pakai AC. Terus turun-turun di pelabuhan langsung gersang. Jadi berasa banget panasnya.

Kapal cepat ini hanya ada sehari sekali. Kalau Sabtu dan Minggu ada dua kali sehari. Sebetulnya dari Kupang ada dua opsi kapal, yaitu kapal cepat dan kapal lambat. Perhatikan betul-betul dari dan ke nya! Penting banget!

IMG20190423115030
Express Bahari, operator kapal cepat yang menghubungkan Kupang dengan Rote

Kalau kapal lambat itu dari Pelabuhan Bolok (Kupang) ke Dermaga Pantai Baru (Rote). Sedangkan kapal cepat itu dari Pelabuhan Tenau (Kupang) ke Dermaga Baa (Rote). Kalau salah pilih, bisa bahaya! Karena dari Dermaga Pantai Baru ke Dermaga Baa itu 31 km! Setara dengan 50 menit motoran. Setara dengan 6 jam jalan kaki.

Hampir saya terjebak karena kejar murahnya. Tadinya saya mau pakai kapal lambat. Untung dikabari teman yang di Baa, bahwa kalau mau ke Baa ya pakai kapal cepat. Kalau naik kapal lambat, niatnya mau dapat murah malah mahal karena nambah ongkos ojeg. Lambat pula.

Nama kapal cepatnya Express Bahari. Rasanya operator kapal ini pemain lumayan besar deh. Bukan lokalan yang hanya pegang trayek Kupang Rote. Beberapa kali saya lihat atau malah naik. Misalnya di Banda Aceh waktu mau nyeberang ke Sabang. Terus di Jepara waktu mau nyeberang ke Karimun Jawa.

Memang terlihat professional sih. Waktu beli tiket, keluar boarding pass yang ada barcode-nya. Waktu mau masuk kapal, ada petugas yang scan barcode itu. Jadi bisa kelihatan penumpang mana yang belum masuk. Ada nomor bangku juga. Jadi harusnya tidak rebutan. Waktu balik dari Rote ke Kupang, bangku saya diduduki orang. Tinggal tunjukkan tiket saja, dia nyerah dan minggir.

Di kapal, perjalanan hampir dua jam. Ada TV besar yang memutar film Aquaman. Suaranya tidak ada. Ada sih, kecil. Nontonnya gambar sama baca subtitle saja. Lumayanlah buat hiburan di jalan.

Sampai Dermaga Baa, waktu turun kapal, langsung deh panasnya menusuk. Gerbang selamat datangnya, selain ada topi ti’I langga di puncak gerbang, juga ada alat musik sasando. Itu alat music khas NTT juga, yang juga asalnya dari Rote.

Siang itu juga, habis makan di dermaga, langsung tancap gas naik motor ke arah Pantai Nembrala. Ini pantai yang sering direkomendasikan orang di banyak blog dan artikel. Juga rekomendasi dari buku Lonely Planet. Katanya di situ pantainya bagus buat surfing. Ke sana sama teman saya namanya Maruf. Pakai motor Maruf. Motornya sempat bocor bannya di Nembrala. Untung dapat bengkel. Tapi di bengkel tidak bisa tambal, jadi beli ban dalam baru.

Mampir di salah satu pantai, entah apa namanya, tapi kalau di Maps sih titik itu dekat dengan “Oenggaut Beach”. Di situ luar biasa biotanya!

IMG20190423170044
Bntang laut di pantai selatan Pulau Rote

Ada bintang laut. Saya ketemu sekitar sepuluh bintang laut. Warnanya ada yang biru, ada yang merah totol-totol.

Ada umang-umang. Ketemu beberapa yang ukurannya kecil. Lebih kecil dari kelereng.

IMG20190423170724
Bintang ular banyak bersembunyi di rerumputan laut

Ada bintang ular. Bentuknya mirip bintang laut, tapi dengan tentakel yang bergerak bebas. Dan dia suka jalan-jalan. Kalau bintang laut kan diam saja.

Ada teripang. Sebetulnya saya kurang yakin itu teripang. Ada yang memang saya yakin itu teripang, karena gambarnya sama dengan hasil googling. Tapi ada yang warnanya seperti karang berpasir, tapi ternyata jalan. Jalannya lambat. Dia punya antena. Saya kurang yakin itu teripang. Kalau bukan teripang, apaan dong?

Saya kirim video hewan yang saya tidak tahu namanya itu ke teman yang lulusan kelautan. Dia bilang, itu siput laut yang tanpa cangkang, atau nama lainnya nudibranchia. Langsung saya cari di Youtube “nudibranchia”.  Ketemu dengan video dari National Geographics.

IMG20190423165755
Nudibranchia atau siput laut tanpa cangkang. Bernapas dengan insang.

Videonya singkat tapi padat informasi. Bahwa walaupun tanpa cangkang, nudibrancha bisa hdup di banyak lautan. Dia mempertahankan diri dengan mengeluarkan semacam racun. Juga dari warnanya yang atraktif, hewan lain bisa jadi takut.

Agak beda dengan nudibranchia yang saya temukan di Rote ini. Warnanya tidak atraktif. Bukan yang warna warni mencolok begitu. Malah mirip warna karang. Saya pikir itu cara hewan ini berkamuflase.

Lalu saya lari ke Wikipedia untuk tahu lebih banyak tentang Nudibranchia. Nama lainnya adalah kelinci laut. Penasaran betul sama hewan ini, karena baru sekarang ketemu langsung hewan begini di pantai. Kata Wikipedia, Nudibranchia berasal dari dua kata: nudus (Bahasa Latin) artinya telanjang dan brankhia (Bahasa Yunani) artinya insang. Nudus, karena dia tidak punya cangkang alias telanjang. Brankhia karena bernapas pakai insang. Memang betul saya bisa lihat di bagian atas hewan ini seperti ada lubang yang terbuka dan tertutup, seperti terbuka tertutupnya insang ikan.

Begitu banyaknya biota, saya jadi harus betul-betul hati-hati berjalan di pinggir pantai. Takut menginjak teripang sampai mejret. Takut membunuh umang-umang kecil.

Sampai tiga jam saya di pantai mutar-mutar melihat banyak biota. Jarang-jarang saya ketemu pantai dengan biota sebanyak ini.

Tapi harus pulang, karena sudah maghrib!

Pulangnya harus lebih hati-hati, karena sudah mulai gelap. Di sepanjang jalan antara Baa dan Nembrala, itu juga jalannya hewan. Babi-babi itu tidak peduli kalau ada motor yang melaju cepat. Juga dengan anjing-anjing itu. Juga dengan para sapi dan kambing. Dan kerbau. Ditambah beberapa kuda. Saya dengar, kalau kita tabrak ternak mereka, urusannya bisa panjang. Yang dihitung untuk kita ganti bukan hanya seharga seekor yang mati itu, tapi juga dengan calon-calon anak cucunya.

IMG20190423141931
Babi nyeberang tidak lihat kiri kanan, itu biasa di Rote

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

As Shidiq Aqiqah, Recommended!

IMG20190525094140
Kandang kambng di As Shidiq Aqiqah di Petukangan, Jaksel

Sebetulnya urusan aqiqah ini ada ustadz saya yang membantu mengurusi. Dia sering kali diminta tolong untuk mengurusi aqiqah dan sudah tahu di mana tempat yang dirasa paling baik. Belum tentu paling murah ya, baik belum tentu murah. Baik itu amanah, tepat waktu.

Jadilah kami ke As Shidiq Aqiqah. Saya sudah lihat beberapa iklannya di jalan. Bintang iklannya seperti Oky Setiana Dewi. Saya tidak tahu apa Oky (kalau itu memang Oky) ini pemiliknya juga atau bukan.

Iklannya sih gini: Hanya 1 juta sudah bisa aqiqah.

Itu bisa jadi benar. Yang jelas saya sih kena Rp2 juta. Untuk kambingnya sendiri Rp1,9 juta, ditambah ongkos potongnya Rp100 ribu. Tapi maaf saya kurang paham itu kambing atau domba. Yang domba juga saya bilangnya kambing. Kami total pesan 4 kambing. Ada dua teman lain yang mau aqiqah juga, jadi bareng.

Urusan harga, sebetulnya banyak banget paket yang ditawarkan. Kalau mau langsung disiapkan nasi dan lauk-lauk lain juga bisa. Kalau saya, kebetulan di masjid ada yang masak. Jadi hanya sampai daging kambing saja, sisanya urusan ibu-ibu di masjid.

Sejak awal saya bilang, saya mau potong sendiri. Maka saya dibawa langsung ke tempat penyembelihannya di daerah Petukangan, Jakarta Selatan. Lokasinya persis di jalan raya. Bukan jalan raya banget, tapi jalanan sibuk lah.

Tidak disangka, di tengah kota begini ada tempat kambing berkumpul. Jumlahnya puluhan, mungkin malah sampai ratusan. Jantan dan betina dipisah kandangnya. Ini bukan kandang tradisional yang pakai kayu, tapi sudah pakai baja. Sepertinya baja ringan. Untuk pemisahan kendang juga pakai baja ringan. Dalam satu kandang isinya bisa puluhan kambing. Total kandangnya mungkin ada 6, saya lupa.

IMG_20190622_145722
Semacam lembar registrasi yang diberikan ke penjaga kandang

Saya diminta pilih, mau kambing yang mana. Lalu kambing itu ditangkap oleh petugas untuk dibawa ke tempat pemotongan di bawah. Jadi lantai atas isinya kandang kambing, lantai bawah isinya tempat pemotongan, pengulitan, dan pencacahan menjadi daging-daging kecil.

Untuk mengirim kambing terpilih dari atas ke bawah pakai perosotan kambing. Yang di bawah sudah siap menangkap, tapi kaki kambng sudah diikat dulu dari atas.

IMG20190525094443
Tempat pemotongan kambing.

Kambing dibawa ke tempat pemotongan yang memang khusus. Badan kambing dijepit dengan alat khusus, sehingga muncul kepalanya saja. Memotongnya gampang saja. Pisau sudah disediakan.

IMG20190525094454
Perosotan kambing untuk mengirim kambng dari kandang di atas ke tempat penyembelihan di bawah

Setelah memotong, kami menunggu di ruang tunggu ber AC. Dari ruang tunggu itu, kita bisa melihat aktivitas pemotongan kambing. Jadi bisa terlihat sudah sampai mana prosesnya.

IMG20190525094821
Tempat pemotongan sudah bisa membatasi gerak kambing, sehingga memudahkan proses pemotongan

Sekitar satu jam kemudian, prosesnya sudah selesai. Daging sudah tercacah rapi dalam beberapa plastik. Tempat aqiqah ini recommended!