ODT Gunung Munara

Salah satu opsi buat yang di Jabodetabek, orang kantoran, dan punya waktu libur Sabtu Minggu saja: Gunung Munara. Lokasinya di Rumpin, Bogor. Kalau lihat review di Youtube, banyak kok yang naik kendaraan pribadi dari rumahnya di Jabodetabek ke sini. Parkiran motor dan mobil luas.

Kalau saya, ke sana ikutan trip-nya Backpacker Jakarta (BPJ), yaitu pada Sabtu 29 Agustus 2020. Awalnya trip ini mau bulan April 2020. Karena lagi hangat-hangatnya Corona, semua trip dibatalkan. Baru dibuka lagi waktu PSBB transisi.

Sabtu pagi saya sudah di Stasiun Bogor. Kita kumpul dekat KFC. Satu per satu berdatangan. Total rombongan sepenuh 2 angkot. Walaupun “jaga jarak” sulit dilakukan di dalam angkot, tapi semua diinstruksikan tetap pakai masker dan bawa hand sanitizer sendiri.

Sudah saya tahu, bahwa banyak yang meragukan sebutan “gunung” untuk Munara, karena ketinggiannya yang mungkin dianggap belum cukup. Kalau saya sih karena rindu naik gunung dan mau sekadar manasin kaki saja.

Parkir angkot di pemukiman warga, dekat pos pendaftaran. Lokasinya betul-betul di tengah pemukiman warga. Banyak warung yang jual penganan. Ada mushola. Bahkan dekat dengan jalur angkot, tapi bukan yang ke Stasiun Bogor.

Kami mulai mendaki itu jam 10. Di awal jalur, kita melewati jembatan bambu. Ada semacam petugas yang meminta robekan karcis masuk, lalu meminta sumbangan seikhlasnya. Lalu ketemu warung. Sedikit-sedikit warung. Total nih ya, dari perjalanan sekitar 2 jam sampai puncak, itu ada lebih dari 10 warung!

Warungnya ada yang berbentuk gubuk selayaknya warung yang ada di gunung-gunung. Ada juga yang hanya sekadar lapak. Kebanyakan berjualan makanan dan minuman. Makanannya tidak jauh-jauh dari mie instan dengan telur, gorengan, dan makanan kecil lainnya. Ada juga yang berjualan buah hasil bumi setempat seperti pisang dan nangka.

Kekhasan gunung ini, ada beberapa. Pertama itu tadi, jumlah warung yang banyak.

Kedua, banyak “sumbangan seikhlasnya” yang sempat kami obrolkan di bawah ke pemilik warung, yang katanya itu tidak dipaksakan.

Ketiga, banyak nyamuk.

Keempat, terlihat banyak batu-batu besar. Sebesar rumah, atau lebih. Ada satu puncak yang namanya Batu Belah. Ya memang terlihat dari jauh seperti batu terbelah. Dan setelah didekati, memang tampak batu setinggi lebih dari 10 meter yang terbelah menghasilkan celah. Orang bisa berjalan di celah tersebut.

Kelima, terdapat tempat yang katanya adalah petilasan Soekarno. Hanya cerita yang saya dapat. Lokasi tepatnya kurang paham.

Sebelum puncak, terdapat warung yang fasilitasnya lebih lengkap: ada toilet dan ada mushola.

Sampai puncak, ada warung yang di depannya terdapat kursi santai, panjang, terbuat dari bambu. Kursi tersebut menghadap ke pemandangan alam. Sambil makan mie rebus telur seharga Rp10 ribu, saya duduk di situ memandang ke kejauhan di bawah.

Pas adzan maghrib, kami sampai di Stasiun Bogor lagi. Bogor masuk dalam kategori zona merah. Tetokoan diharuskan tutup pukul 6 sore. Tadinya mau beli Kue Talas Sangkuriang yang ada di stasiun, batal sudah.

New Normal, Setelah 3 Bulan WFH

Setelah 23 Maret 2020 diumumkan Work From Home (WFH), saya baru ke kantor lagi Jumat 12 Juni 2020. Jadi ya hampir 3 bulan saya di kerja di rumah.

Pertama kali masuk kantor setelah 3 bulan WFH

Naik motor, saya tidak merasakan macet di jalan. Biasanya 1 jam, ini 40 menit sudah sampai. Tidak sepi, tapi juga tidak macet seperti old normal.

Kantor saya di Multivision Tower, Kuningan Madya, Jakarta. Masuk kantor, langsung ada dua washtafel lengkap dengan sabunnya, kalau ada yang mau cuci tangan. Kalau karyawan mau masuk, tapi tidak cuci tangan, maka security nya akan mengarahkan untuk pakai hand sanitizer yang juga sudah disiapkan.

Masuk gedung WAJIB cuci tangan atau pakai hand sanitizer. Belakangan hand sanitizer nya dipasang sensor, jadi tidak perlu pencet
Di depan gedung disediakan washtafel bagi yang mau cuci tangan
Security pakai thermo gun untuk cek suhu. Belakangan diganti pakai sensor yang lain dan bisa dilihat hasil cek suhunya di layar
Toilet dibatasi hanya untuk 3 orang

#

Sekarang awal September. Covid19 masih jadi topik bahasan di mana-mana, tapi rasanya orang sudah mulai cuek. Jalan mulai ramai. Saya sudah sekitar 2 bulan ke belakang masuk terus. Kantor memberlakukan kebijakan, yang di atas level sekian, maka Work From Office (WFO). Yang di bawah level sekian maka separuh WFH.

Herpes Zoster dilawan Aciclovir?

Sebetulnya tidak bisa. Obat untuk penyakit dari virus ya kembali lagi ke imun tubuh. Itu hasil googling saya.

Ini dimulai sejak 11 Agustus 2020. Kepala semakin berdenyut, sesekali tetapi cukup nyeri. Bisul-bisul kecil berair di lengan kiri atas (terutama dari bahu ke sikut) semakin terlihat “hidup”. Dan memang terasa badan semakin tidak enak. Tidak demam sih, tapi badan semakin sulit diajak bekerja. Maunya tiduran saja. Gejala ini sudah berlangsung sekitar 4 hari, tetapi semakin menjadi. Maka saya izin pulang cepat untuk ke dokter.

Sekali lihat saja, dokternya sudah bisa langsung yakin itu Herpes Zoster. Terutama terlihat dari bisul-bisulnya yang menggerombol. “Itu khas sekali Herpes Zoster,” kata dokternya. Apalagi waktu melihat ada bisul (yang paling awal muncul) yang sudah mongering dan terlihat seperti bekas melepuh. Itu Herpes Zoster banget.

Langsung saya Googling dan Youtubing soal Herpes Zoster. Beberapa kesimpulan yang saya dapat:

  1. Ini penyakit dari virus. Virus yang sama menyebabkan cacar air. Jika orang yang terkena virus ini belum pernah kena cacar air, ya bakal kena cacar air. Tapi kalau sudah pernah cacar air (seperti saya) maka kenanya Herpes Zoster.
  2. Belum ada obat yang bisa membunuh virusnya. Yang ada adalah menghambat virus berkembang biak dan mengurangi gejala-gejalanya. Obat yang sering disebut dan memang saya dapat di resep adalah Aciclovir.
  3. Bisul-bisul yang muncul tidak gatal, melainkan nyeri.
  4. Obatnya ya kembali ke peningkatan daya tahan tubuh: makan dan tidur dijaga, hindari stress.

Dokter kasih saya 5 obat: Aciclovir tablet (antivirus), Aciclovir salep, vitamin saraf, paracetamol, dan anti radang. Dua yang terakhir tidak saya minum. Kelima obat itu saya googling dulu satu per satu. Kelimanya terbilang obat murah, karena total untuk biaya obat sekitar Rp80 ribu.

Sehari-hari ya saya baca, tidur, main HP, segala yang membuat saya nyaman supaya tidak stress. Makan dan minum saya perbanyak. Seminggu setelah ke dokter, saya kembali ke dokter yang sama, lalu dinyatakan sudah sembuh. Tidak perlu melanjutkan obatnya tidak apa, tapi kalau mau dilanjut juga tidak apa.

Memang yang saya rasakan, tidak ada lagi denyutan di kepala. Bisul sudah seluruhnya kering, terlihat dari bekasnya yang seperti bekas melepuh. Tidak ada lagi nyeri di bekas-bekas bisul itu.

Yang saya perhatikan, awal bisul muncul terlihat seperti berisi air bening, lalu air di dalamnya semakin terlihat keruh. Semakin lama bisul terlihat mengempis, lalu kering. Dari bisul muncul sampai kering sekitar 1 minggu.

Buat yang kena Herpes Zoster, santai saja, jangan dibawa stress. Malah bahaya kalau dibawa stress, menghambat imun tubuh bekerja melawan virus. Makan minum yang banyak. Tidak ada pantangan makanan, mainkan Go-Food-nya.

Ohya tambahan informasi, untuk yang serumah dengan orang yang kena Herpes Zoster, biasa saja. Asal jangan sentuhan kulit. Kalaupun sentuhan, belum tentu penyakit itu berpindah. Bahkan istri saya sempat olesi minyak di lengan saya tepat di tempat bisul, pakai tangannya sendiri. Waktu itu belum tahu bahwa saya kena virus, dikira hanya bentol biasa. Toh istri saya baik-baik saja, tidak kena Herpes Zoster.

Sewaktu bisul sudah muncul dan saya belum ketahui itu Herpes Zoster, saya bermain, berpelukan, dan menciumi anak-anak saya yang umur 1 dan 6 tahun. Tidak muncul gejala Herpes Zoster di tubuh mereka.

Saya gunakan piring yang sama dengan orang tua saya yang sudah lansia, juga sering berlama-lama seruangan. Tidak pakai masker. Itupun tidak membuat orang tua saya kena Herpes Zoster.

Untung saya dikelilingi orang-orang tersayang yang tidak membuat kesan menjauhi saya karena sedang kena virus, jadi saya tidak stress karena merasa sendiri. Hati-hati perlu, tapi jangan sampai menjauhi apalagi meninggalkan orang yang sebetulnya perlu dirawat.

#

Ketika tulisan ini dipublikasikan, 3 September 2020, masih terlihat bekas bisul, padahal ini sudah 1 bulan sejak bisul muncul. Juga sudah sekitar dua minggu setelah bisul kering. Seakan sang virus mau menimbulkan jejak yang lama.

Resensi: Layla Majnun

IMG20200815121305Sebenarnya ini cerita Layla dan Qays. Karena pendaman cinta terhadap Layla, Qays dianggap orang gila sehingga dipanggil Majnun. Majnun itu artinya orang gila. Panggilan “Qays” kian hilang, tergantikan dengan “Majnun”.

Sepasang kekasih ini sama-sama ganteng-cantik dalam kadar yang sangat tinggi, dari keturunan baik-baik, bisa dibilang berharta banyak (apalagi Qays), dan sama-sama saling suka. Tapi orang tua Layla punya pendapat lain, bahwa mereka tidak seharusnya bersatu. Kenapa? Karena Qays sudah majnun, sudah gila. Padahal kegilaan Qays semata karena cintanya terhadap Layla.

Qays lari dari rumah orang tuanya yang merupakan super crazy rich tiada tanding saat itu: Syed Omri. Dikabarkan –memang agak hiperbola- hartanya serupa hartanya Nabi Sulaiman. Tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Rumahnya dihiasi zamrud dan intan.

Harta dunia tidak menarik lagi untuk Qays. Ia hanya ingin bersanding dengan Layla. Qays lari ke padang belantara dan hidup di sana. Ia bersenandung cinta, yang dengan senandungnya itu, orang bisa “terkenal”. Qays tidak ingin terkenal. Tidak butuh. Ia hanya butuh Layla.

Hewan-hewan liar seakan bisa merasakan ketulusan hati Qays, keteguhan cintanya terhadap Layla. Mereka patuh terhadap Qays. Jangankan menerkam atau mencelakakan, bahkan mereka melindungi Qays. Mereka patuh dan menganggap Qays adalah tuannya.

Di tempat yang lain, Layla merasakan pendaman cinta yang tidak kalah besarnya dengan Qays. Layla bisa tersenyum di tengah-tengah keluarganya, padahal hatinya tertusuk dalam, menderita cinta. Layla tahu kondisi Qays di tengah hutan, dia sering menangisinya. Mereka sama-sama menderita dengan cintanya yang terhalang restu orang tua Layla.

Pun begitu, Layla merasa Qays lebih beruntung karena bebas menentukan sikap di tengah padang belantara. Tidak perlu menutupi kesedihannya. Sementara Layla harus pura-pura tersenyum di tengah keluarganya, padahal hatinya sama sekali tidak tersenyum, bahkan merintih.

Ayah Qays yang super crazy rich itu, sedih melihat kondisi anak tunggalnya. Ia hendak melamar Layla, agar kesakitan Qays hilang. Sakit yang tidak terlihat dengan mata di kepala. Sang ayah membawa tetua-tetua di kabilahnya dan pemuda-pemuda perkasa, yang semuanya duduk di atas kuda pilihan. Setiap kuda membawa karung emas dan mutiara. Harapannya satu: lamaran Qays diterima.

Rombongan keluarga Qays memang diterima dan dijamu dengan baik oleh ayah Layla. Namun, tidak dengan lamarannya! Ayah Qays merasa terhina. Ia kemudian menenangkan putranya dan bernasihat agar melupakan Layla. Begitu juga sahabat-sahabat Qays. Namun, Qays tidak bisa. Dia pun lari ke padang belantara, tempat hewan-hewan liar, teman-temannya.

Dekat hutan tempat Qays tinggal dan bersedih hati, terdapat sebuah kabilah Arab yang pemimpinnya suka berburu, bernama Naufal. Ketika berburu, dia melihat kejanggalan fenomena Qays. Bagaimana bisa ada orang hidup di tengah padang belantara sambil bersenandung dengan syair cinta yang juga sangat berbau kematian.

Iba dengan Qays, sekaligus kagum dengan syair-syair gubahannya, Naufal membawa Qays untuk tinggal di istana Naufal. Istana besar mewah, dengan makanan-makanan lezat. Awalnya Qays tidak tertarik dengan itu semua. Ia hanya tertarik dengan janji Naufal yang ingin melamarkannya kepada ayah Layla. Namun Qays disyaratkan untuk mengubah perangainya terlebih dahulu. Perlahan Qays berubah dan sudah bisa menikmati makanan lezat.

Di hari yang sangat dinantikan Qays, sahabatnya Naufal melamarkan Qays ke ayah Layla. Naufal membawa seluruh kaumnya dan seluruh harta pusakanya. Sampai di daerah tempat tinggal Layla, ayah Layla menyampaikan penolakan tegas atas lamaran tersebut. Penolakan yang sekaligus berbalut penghinaan.

Naufal tidak terima dan mengancam perang. Ayah Layla tetap pada pendiriannya. Perang terjadi. Banyak sekali yang mati. Semua mati dalam rangka menyatukan atau tidak menyatukan cinta Qays dan Layla. Sampai di suatu waktu, Naufal memenangkan peperangan.

Ayah Qays juga mengaku kalah. Dalam budaya saat itu, yang kalah akan menjadi budak. Ayah Qays akan menjadi budak, juga dengan Layla anaknya. Namun masih dengan ketegasan yang sama, Ayah Qays tidak merestui kalau Layla disandingkan dengan Qays.

Muncul kegamangan dalam diri Naufal. Apakah dia tetap akan menyandingkan Qays dan Layla setelah ucapan keteguhan ayah Layla? Ternyata tidak.

Naufal berkata pada Qays, “Perang ini dipicu cinta dan ketika kemenangan sudah aku raih, aku temukan cinta yang lain. Satu cinta pemuda pada kekasihnya. Sedang lainnya adalah cinta orang tua pada anak gadisnya. Biarlah takdir yang menentukan.”

Merasa ada kegamangan yang muncul di hati Naufal, Qays marah lalu segera kembali ke padang belantara. Hatinya remuk sudah seperti debu, tak bersisa.

#

Layla dinikahkan dengan seorang pemuda baik yang juga berkedudukan dan berharta banyak. Namun Layla tidak menghendaki pernikahan tersebut. Layla melarang suaminya menyentuhnya. Sang suami menuruti keinginan Layla, sambil berharap agar Layla berubah di suatu hari nanti.

Perubahan itu tidak terjadi, sedikitpun. Sang suami menurun kondisi kesehatannya, akibat memikul perasaan campur aduk dalam hatinya. Punya istri yang diharap-harapkannya, tetapi tidak mempunyai hubungan layaknya suami istri. Sang suami meninggal dengan hatinya yang penuh kesedihan.

Layla antara senang dan berduka. Senang karena ia kembali bebas, artinya juga bebas untuk mendekati Qays. Berduka karena suaminya yang baik dan penyabar meninggal.

Kesehatan Layla menurun. Tiada yang boleh masuk ke kamarnya, kecuali ibunya. Kepada ibunya, Layla mencurahkan segala isi hatinya, terlebih soal Qays.

Merasa sudah di dekat ajal, Layla berpesan pada ibunya, “Ketika nanti aku mati, kenakan di jasadku pakaian bagus, layaknya pengantin. Jadikanlah aku secantik mungkin. Aku ingin kau kenakan baju merah darah, sebab aku adalah penyaksi darah, layaknya orang yang mati membela keyakinannya. Merah adalah warna pesta. Bukankah kematian adalah pestaku?”

Layla pun memperdiksi. Prediksi yang kelak menjadi kenyataan. “Ia akan datang, Ibu, pengembaraku yang tak kenal lelah itu. Aku tahu itu. Ia akan duduk di kuburanku untuk mencari rembulannya, tetapi tak ia jumpai, kecuali hanya gundukan tanah, ia akan menangis sejadi-jadinya.”

Layla meninggal. Ketika Qays mendengar kabar tersebut, ia langsung melesat ke kubur Layla, lalu tersungkur di atasnya. Bagaimana perasaannya? Empati kita mungkin tidak akan pernah menggapainya.

Hewan-hewan liar dengan setia menjaga tuannya yang bersedih di atas kuburan Layla. Tidak ada yang berani ke kuburan Layla karena takut dengan hewan liar.

Kepala Qays ditaruh di atas nisan yang juga dipeluknya. “Kau, cintaku,” kata Qays sambal meregang nyawa.

Hewan-hewan liar tidak menyadari tuannya telah meninggal, sampai hanya tulang-belulang Qays yang tersisa. Qays dikubur tepat di sebelah kuburan Layla. Mereka dipersatukan, hanya setelah mereka tiada.

#

Bahkan saat menulis resensi ini, saya masih terbawa emosi. Buku “Layla Majnun” ini ditulis oleh Syekh Nizami pada abad ke-12. Kalau tidak sangat mengesankan, mana mungkin karyanya masih bertebaran di abad ke-21?

Penulisnya berasal dari Azerbaijan, nama negara yang baru saya dengar. Lalu saya googling, oh iya ada. Dekat Laut Kaspia.

 

Solor dan Ikan

IMG_20200714_214712
Ile Boleng terlihat dari Pulau Solor

Solor, saya terjebak di pulau ini sampai empat hari. Sebabnya, jadwal kapal banyak yang tidak sesuai, terutama yang dari Solor ke Kupang. Jadwal kapal banyak tidak sesuai di NTT efek dari perayaan Semana Santa di Larantuka. Mayoritas penduduk NTT beragama katolik. Semana Santa adalah perayaan besar bagi umat katolik. Yah seperti kalau pas lebaran, kan jadwal transportasi juga berubah banyak ya.

Tetap dinikmati saja. Toh Solor adalah pulau yang bagus, ya pantainya, ya orang-orangnya. Makanan juga murah-murah banget. Jadi bisa bikin lumayan betah.

Jujur saja, saya mengenal Solor juga baru-baru ini. Waktu mau buat itinerary secara umum perjalanan saya keliling Nusa Tenggara. Di sebelah timurnya Flores itu ada beberapa pulau yang penduduknya lumayan banyak, yaitu Solor, Adonara, Lembata, Pantar, dan Alor.

Sebelumnya yang saya tahu hanya dua, Lembata dan Alor. Kalau Alor, seingat saya ada di salah satu iklan rokok. Tahu sendiri kan iklan rokok, tayangnya itu sering banget. Jadi ingat. Sementara Lembata, saya mengenalnya cukup dalam dari video dokumenter dari channel Watchdoc Documentary di Youtube.

Cerita sedikit tentang channel Youtube ini. Jadi ceritanya, ada dua orang jurnalis yang kelling Indonesia dengan modal sendiri selama setahun (ekspedisi Indonesia Biru), namanya Dandhy Laksono dan Suparta Arz. Siapa sih mereka? Saya tertarik sekali dengan latar belakangnya Dandhy. Dia sempat “ribut” dengan kantor media tempat dia bekerja, kelihatannya karena mempertahankan idealismenya. Mudah-mudahan ada kesempatan ngobrol langsung dengan Dandhy.

Sepulang ekspedisi, mereka mengekspos hasilnya dalam video-video pendek yang tematik. Banyak videonya, misalnya tentang pergolakan industri semen yang ribut dengan warga, reklamasi teluk benoa, yang belakangan booming adalah video Sexy Killer. Salah satu isinya tentang jahatnya industri batu bara. Dandhy dan timnya menguliti industri batu bara yang melibatkan banyak nama besar. Video itu tayang beberapa saat sebelum pemilu. Pas banget momennya!

Nah, salah satu videonya juga mengangkat tentang perburuan paus di Lembata. Bahwa itu sudah tradisi sejak lama. Bahwa tidak banyak paus yang diburu, jauh lebih sedikit daripada “industri” paus. Bahwa itu adalah mekanisme jaring pengaman social karena orang lemah dapat jatah protein, satu kampung dapat jatah. Dari situ saya kenal Lembata. Sayang sekali saya belum ke sana. Lain kali mudah-mudahan ada kesempatan melihat langsung orang-orang beran pemburu paus.

Loh kok jadi ke mana-mana ya ceritanya. Kembali ke Solor, pulau ini punya potens wisata yang luar biasa loh. Saya empat hari di sana itu belum ada apa-apanya. Masih banyak banget yang saya belum tahu.

Misalnya nih ya, tentang perburuan paus yang ada di Lembata (Lamalera), itu ternyata ada juga di Solor (Lamakera). Beda loh ya, Lamalera dan Lamakera. Beda satu huruf saja, tapi itu beda tempat, beda pulau. Saya dengar, orang-orang di Lamakera masih suka berburu paus. Jadi bukan hanya Lembata saja yang punya perburuan paus, tapi Solor juga.

Ini saya bingung deh tentang perburuan paus, harusnya kita bangga atau tidak sih dengan adanya perburuan paus itu? Di satu sisi, paus hewan dilindungi yang populasinya terus menurun. Tapi di sisi lain, ya itu sudah mereka lakukan dari dulu, dan ya kelihatannya keren banget berani berburu paus dengan kapal seadanya.

Ikan gelang adalah istilah ikan yang sudah dikeringkan, yang dijual di Lamakera. Saya curiga itu sebetulnya potongan-potongan ikan pari manta atau potongan daging paus. Saya belum lihat langsung bentuknya seperti apa, tapi ikan gelang itu saya dengar ceritanya di Solor sebagai produk hasil pelaut Lamakera.

Orang Lamakera mayoritas muslim. Mereka jago bikin bom. Malah saya dengar, waktu nonton bareng mereka pasang bom. Yang biasanya kita pakai petasan, dia pasang bom. Sampai tanah bergetar. Bom itu mereka manfaatkan untuk mengebom ikan. Tapi mungkin pengeboman semacam itu sudah tidak ada ya, atau menurun.

Sayangnya saya tidak sampai Lamakera. Hanya seputaran Lohayong saja. Lain kali ingin deh rasanya bermalam di Lamakera, ngobrol dengan penduduk setempat.

#

Solor tidak bisa lepas dari ikan. Kalau ikan tidak banyak, atau menurun, bisa sangat mengganggu perekonomian masyarakatnya.

Menurut saya, harga ikan di Solor murah banget. Dua ekor seberat lebih dari satu kilogram dijual Rp20.000. Itu lagi musim sepi ikan. Kalau lagi musim banyak ikan, ikan tidak ada harganya. Bisa jadi Rp10.000 dapat satu bak. Malah saya dengar ikan dibuang-buang. Atau bisa juga ditaruh di dalam jaring di laut, tapi tidak ditangkap, karena kapal tidak muat. Besok lusa baru diambil.

Awalnya saya tidak enak sama Agung, karena dia buatkan ikan bakar buat makan hari itu. Ikannya lumayan besar, saya disuruh habiskan semua. Ikannya enak! Segar! Tapi tidak enak hati, karena kuatir memberatkan beli-beli ikan segala, besar lagi. Tapi setelah tahu harga ikannya murah, saya segera minta dibuatkan lagi kalau Agung sempat. Kapan lagi kan, pesta ikan murah!

IMG_20200714_214816
Anak-anak kecil di Solor terbiasa dengan hobi mancing

Sejak masih kecil, masyarakatnya sudah dekat sekali dengan laut. Seperti yang saya lihat pagi itu di Pelabuhan Menanga. Sekelompok anak kecil, mungkin anak SD, menuju ke pelabuhan membawa kaleng kecil bekas cat. Saya intip, isinya apa sih? Isinya adalah umpan ikan.

Tahu tidak apa umpannya? Tepung dikasih air! Ya sudah begitu saja. Saya tidak tahu ya, apa bisa tepung jadi umpan? Setahu saya umpan itu ya cacing atau udang. Ini malah tepung. Sekitar satu jam kemudian, saya melihat rombongan anak yang sama keluar pelabuhan. Saya panggil, terus saya lihat isi dalam kaleng kecilnya itu. Ada isinya loh, empat ekor ikan! Memang tidak besar, hanya sebesar telapak tangan anak.

IMG_20200714_214748
Walau hanya dengan umpan tepung basah, tetap dapat ikan

Ada lagi saya lihat anak kecil yang mancing dari atas kapal penumpang. Jadi sambil ABK memuat barang-barang penumpang, beberapa anak main di moncong kapal. Mereka memancing pakai benang saja, bukan pakai alat pancing. Tidak terlihat umpannya. Tapi terlihat seru banget dan pada semangat mancingnya.

Cerita lain lagi, keponakannya Reska, belum sekolah, setiap hari mainnya di pantai. Ibunya sudah biasa saja kalau melihat anaknya main di pantai. Tidak takut tenggelam, karena sudah tahu anaknya bisa jaga diri. Itu anak belum usia sekolah loh!

Poin saya, kehidupan di Solor itu sangat dekat dengan laut. Bahkan sejak anak-anak mereka sudah dekat sekali dengan laut.

#

Sore hari, saya diajak Agung jalan-jalan ke arah Lamakera, tapi tidak sampai Lamakera. Di beberapa tempat yang terlihat dekat dengan pantai, atau yang bagus, kami turun untuk berfoto. Salah satunya adalah padang rumput luas yang diselipi pohon besar. Dari titik itu, kita juga bisa lihat Gunung Ile Boleng yang ada di Adonara, pulau sebelah. Jadi dalam satu frame, bisa dapat empat obyek bagus sekaligus: padang rumput, pohon besar, pantai, dan gunung.

Mampir yang kedua adalah ke tebing pantai yang dari situ kita bisa lihat pelabuhan yang ada di Lamakera. Ada banyak saung untuk duduk-duduk. Tebing pantai itu isinya batu. Beberapa batu karang yang tajam, jadi harus hati-hati sekali. Dari tempat itu, kita juga bisa lihat Gunung Ile Boleng di Adonara.

Bagus banget tempat kami mampir ini. Buat lihat sunset pas banget. Sayang sekali (atau bagus ya?) panta ini sepi pengunjung. Ada beberapa saja, itupun orang lokal. Mungkin orang-orang Lamakera.

IMG_20200714_214903
Pemandangan lazim di Solor: angkat galon pakai kepala

Jalanannya bagus dari Lohayong sampai Lamakera. Jalan aspal. Rusak sedikit-sedikit sih ada, tapi tidak banyak. Jauh lebih banyak yang mulus.

Di sepanjang jalan, saya ketemu beberapa kali ibu-ibu membawa kayu, mungkin untuk bahan bakar, di atas kepalanya! Bisa stabil gitu. Yang lebih keren lagi tahu apa? Angkut galon penuh air di atas kepala! Itu betul saya lihat sendiri.

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

Resensi: YOUNG SAMURAI The Way of The Dragon – Chris Bradford

Tidak tahu ya, Chris Bradford ini orang mana, rasanya sih Inggris. Begitu juga dengan tokoh utama “Jack” di buku Young Samurai ini. Dikisahkan Jack adalah remaja Inggris yang nyasar dalam pelayaran dengan ayahnya yang kemudian mati dibunuh si Mata Naga (seorang ninja ganas). Sudah ayahnya dibunuh, rutter-nya juga dicuri. Satu kapal mati, tinggal Jack yang berhasil kabur.

Kurang jelas maksud “rutter” di sini apa, tampaknya sih semacam peta dunia. Dengan rutter itu, berlayar jadi ada panduannya. Ini kan ceritanya zaman dulu, apa-apa pakai peta, belum ada GPS. Lanjutkan membaca “Resensi: YOUNG SAMURAI The Way of The Dragon – Chris Bradford”

Resensi This is Africa, Catatan Perjalanan Insinyur Minyak Nekat

WhatsApp Image 2020-06-04 at 20.00.35Judul bukunya diambil dari ujaran yang suka keluar kalau ketemu yang unik di Afrika. Ya kayak kalau kita suka dengar “Ini Medan, Bung!” karena nemu sesuatu yang unik di Medan. Kurang lebih gitu lah. Sesama traveler di Afrika juga suka berujar “This is Africa” kalau ketemu yang unik di Afrika.

Bukunya sih terbitan 2015, tapi saya kurang yakin kalau John Erickson Ginting, penulisnya, menulis catatan perjalanan ini berdasar pengalamannya di tahun dekat-dekat itu. Tebakan saya, ini perjalanannya di tahun 2008 (10 tahun setelah lulus dari Teknik Perminyakan ITB). Herannya, tulisan ini cukup detail menceritakan aktivitasnya waktu travelling di Afrika. Menginap di mana, perjalanannya dari mana ke mana, naik apa, ongkosnya berapa, ketemu siapa, bule dari negara mana, itu detail. Mungkin waktu tavelling John punya catatan sendiri ya. Lanjutkan membaca “Resensi This is Africa, Catatan Perjalanan Insinyur Minyak Nekat”

Nikmat Baru: Bergerak Bebas

Pengalaman ini, buat sekarang biasa, karena semua orang mengalami. Tapi waktu anak saya punya anak, mungkin dia mau tahu cerita versi kakeknya, hehe.

wfh
Dok: hitekno.com

Hari terakhir masuk kantor itu 23 Maret 2020. Sejak seminggu sebelumnya, sudah banyak tuh karyawan kantor saya yang mulai nyindir-nyindir manajemen kenapa tidak mulai Work From Home (WFH)? Padahalnya banyak: padahal beberapa perusahaan sudah mengeluarkan kebijakan WFH, padahal perusahaan saya itu di bidang IT (kerja di depan laptop dan bisa banget di rumah), padahal banyak yang nganggur juga di kantor karena lagi sepi proyek, padahal berita Covid-19 ada di setiap grup WA, di semua media, dan di perbincangan semua kantor.

Lanjutkan membaca “Nikmat Baru: Bergerak Bebas”

Main Sama Anak

Main sama anak jadi sesuatu yang makin intens sejak WFH, terkait COVID-19.

Dua anak saya, tiap malam saya godain dan saya ajak main. Tidak jarang, sampai jam 2 pagi, atau bahkan sampai sahur. Kalau pagi ke sore, mereka banyak tidur, dan saya kerja.

Yang besar umur 6 tahun, usia TK. Sekolahnya libur, tapi banyak tugas yang suka dibawa ke rumah. Koordinasi via WA group gitu, sekarang kan begitu ya di mana-mana. Banyak stok activity book yang kita mainkan tiap malam, termasuk bikin topeng-topengan., tempel stiker, gambar, dll.

IMG_20200325_131214

Lanjutkan membaca “Main Sama Anak”

Rasa Buku Jadul

WhatsApp Image 2020-02-13 at 14.07.58
La Hami, karya Marah Rusli

Sekarang, saya sedang baca La Hami, salah satu buku lawas karya Marah Rusli. Belakangan, saya makin suka dengan buku-buku lawas semacam ini. Padahal tidak berbeda lebih seabad, tapi rasanya buku-buku jadul itu lebih bernyawa, rasa juangnya lebih kental, pendeskripsian rasa hati tokoh-tokohnya lebih detail. Lanjutkan membaca “Rasa Buku Jadul”