01
Sep
16

Seni Ketangkasan Domba Garut Makin Digandrungi

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Segerombolan orang sedang berkumpul di suatu lapangan luas. Mereka terlihat asik sekali menonton sesuatu. Sesekali terlihat ketegangan di raut muka mereka. Alunan gamelan, tepukan kendang, dan tiupan terompet yang dimainkan langsung di lapangan membuat suasana semakin marak. Ada beberapa bule yang ikut berjoget di pinggir lapangan. Seperti tidak ada kesulitan sama sekali dalam hidup mereka ketika hobi dapat tersalurkan. Semua menikmati acara hari ini, seni ketangkasan domba garut.

Seperti seorang tokoh yang gagah berani, seekor domba garut bisa menghantam semua benda di sekitarnya yang dianggap bisa mengganggu. Insting bertarung domba garut sangat tinggi. Bahkan, ketika dimasukkan ke dalam kadang pun seringkali kandang ikut diseruduknya. Maka perlu kayu khusus untuk membuat kandang si pemberani yang satu ini agar tidak jebol. ”Memang domba garut ini memiliki keinginan yang berkelahi yang tinggi. Sifat itulah yang membuat komoditi ini berharga mahal,” kata Robi Agustiar, Sekretaris Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI).

Anak-anak penggembala yang konon gemar mengadu domba-domba mereka di pinggir hutan. Lalu para priyayi melihat kemudian ikut mengadu domba-domba mereka. Dari situlah awalnya seni ketangkasan ini berkembang.

Seperti karapan sapi di Jawa Timur, seni ketangkasan domba garut ini berkembang pesat di Jawa Barat. Terlihat dari jumlah domba garut yang ada di Jawa Barat mncapai 49% dari total populasi domba garut nasional. Secara tidak langsung kebudayaan ini ikut melestarikan plasma nutfah domba garut.

Awalnya pertandingan seperti ini dinamakan adu domba, tapi sejak tahun 1970 sudah diganti menjadi seni ketangkasan. ”Image adu domba dirasa terlalu negatif, berbenturan dengan agam, padahal ini seni, bukan adu domba,” kata Robi. Dulu, adu domba sering dilakukan sampai salah satu domba mati, tapi sekarang HPDKI sudah mengubah beberapa peraturan yang dianggap tidak sesuai. Kematian domba karena seni ketangkasan bisa dikatakan tidak ada.

Domba jenis ini bisa dibilang merupakan domba paling langka di dunia. Varietas domba garut terbentuk dari persilangan tiga jenis domba, yaitu domba Merino, domba Kaapstad, dan domba lokal. Domba Merino didapat dari pemberian Ratu Belanda ketika itu. Sedangkan domba Kaapstad didapat dari pedagng-pedagang Arab.

Tidak semua hasil turunan domba garut bisa dilagakan dalam seni ketangkasan. ”Perbandingan cetakan domba garut sayur dengan domba garut untuk seni ketangkasan adalah 5:1. Jadi, memang tidak mudah mendapatkan domba garut pemberani,” jelas Robi. Domba sayur di sini maksudnya domba garut yang tidak memiliki insting bertanding sehingga tidak bisa dilagakan. Biasanya domba sayur dijadikan domba pedaging.

Ciri fisik domba garut untuk seni ketangkasan yaitu bertanduk melengkung dengan ujung runcing yang biasanya mengarah ke depan. Lehernya besar dan kuat. Telinganya kecil dan tersembunyi, tidak seperti telinga kambing yang besar dan menjuntai ke bawah. Ekor domba garut juga berbeda, kecil dan pendek.

Pertandingan Rutin

Pehobi domba garut memiliki jadwal latihan dan jadwal kontes rutin untuk menyalurkan hobi mereka. Latihan dilakukan seminggu sekali sedangkan kontes dilakukan sebulan sekali. Hampir di tiap kota kabupaten di Jawa Barat terdapat pamidangan, yaitu tempat laga seni ketangkasan.

Emis Rukanda, salah satu pehobi seni ketangkasan domba garut mengaku rutin mengikuti latihan dan kontes yang ada. ”Pertandingan terdiri dari beberapa kelas tergantung bobot badan domba. Kelas A untuk domba dengan bobot lebih dari 75 kg, kelas B untuk bobot 65-75 kg, sedangkan kelas C untuk domba berbobot kurang dari 65 kg,” jelas Rukanda.

Satu pertandingan maksimal dilakukan sampai dua puluh kali tumbukan dengan pemberian waktu istirahat pada tumbukan ke-15. Jarang sekali ditemukan domba yang mati pada tumbukan ke-20, bisa dibilang tidak ada yang mati pada seni ketangkasan ini.

Ada beberapa kriteria yang dijadikan penilaian oleh juri dalam seni ketangkasan ini, yaitu adeg-adeg, teknik pemidangan, teknik bertanding, kesehatan, dan keberanian. Adeg-adeg adalah postur tubuh, termasuk di dalamnya penampakan wajahnya.

Domba yang menang dalam kontes akan mendapatkan hadiah, tetapi bukan berupa uang tunai, melainkan barang seperti TV, sapi, dan sebagainya. Hadiah-hadiah ini tidak terlalu berharga dibanding sertifikat yang diberikan. Sertifikat ini dapat membuat harga domba pemenang berlipat-lipat.

Mencapai Ratusan Juta Rupiah

Harga dari domba garut petarung tergantung dari genetisnya dan prestasi dari si domba. ”Domba garut yang merupakan peranakan dari pemenang hebat akan memiliki harga tinggi. Domba yang pernah menang liga seni ketangkasan juga memiliki harga yang lebih mahal karena ada sertifikat yang menyatakan domba itu pernah menang,” kata Robi.

Ada domba garut yang dijual dengan harga menembus seratus juta rupiah. ”Rata-rata domba garut biasa dijual dengan harga sekitar 3-5 juta. Untuk domba garut yang merupakan bibit bagus, artinya peranakan dari domba garut petarung hebat, bisa dihargai 10-15 juta. Sedangkan untuk domba bersertifikat dari kelas A bisa dihargai 20 sampai 30 juta,” tambahnya. Penjualan domba juga diikuti dengan sertifikat prestasi si domba.

Domba Sayur Juga Dicari

Bukan berarti hanya domba garut dalam seni ketangkasan saja yang potensinya besar. Domba garut sayur juga cukup menjanjikan. Kualitas daging domba garut baik. Gizinya cukup baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tidak hanya dagingnya yang dapat dimanfaatkan, domba garut juga memiliki bulu yang ikal dan keriting sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bulu wool. Kulit domba garut dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan jaket berkualitas. Industri jaket berbahan baku kulit domba garut bisa menyerap ribuan tenaga kerja dengan nilai ekspor mencapai puluhan miliar rupiah.

Populasi domba dan kambing di Indonesia tumbuh lambat, tidak secepat pertumbuhan permintaannya. potensi kebutuhan daging domba dan kambing untuk kurban saja mencapai 5,6 juta ekor tiap tahunnya, belum lagi untuk kebutuhan aqiqah dan tempat makan. Potensi ini belum menghitung kebutuhan pasar Asia Tenggara yang tiap tahunnya membutuhkan 9,3 juta ekor. Namun, sayangnya peternak domba dan kambing di Indonesia sebagian besar hanya pemain kecil yang beternak dengan cara-cara tradisional sehingga perkembangannya tidak maksimal.

15
Agu
16

Bukti Mentjos, Jual Jamu dalam Kafe

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2009

Jamu Bukti Mentjos. Dok: www.wisataseru.com

Jamu Bukti Mentjos. Dok: http://www.wisataseru.com

Biasanya jamu diidentikkan dengan sesuatu yang inferior dan tidak modern. Sejak adanya produk-produk jamu dalam kemasan, buah karya dari pabrik jamu besar, pandangan itu sedikit demi sedikit tereduksi. Kemunculan kafe-kafe jamu membuat nama jamu semakin terangkat. Bukti Mentjos adalah salah satu kafe jamu di Jakarta yang mengemas jamu dengan lebih eksklusif.

Letaknya yang strategis membuat Bukti Mentjos mudah diakses. Posisinya sekitar 500 meter dari kampus UI Salemba. Sejak tahun 50-an, warung jamu itu sudah berdiri di tempat yang sama seperti sekarang. Bedanya, dulu perawakan tempatnya tidak semenarik sekarang. “Dulu hanya warung kecil dengan tanahnya yang becek,” ingat Romuli yang akrab dipanggil Ako, pemilik Bukti Mentjos. Tempatnya sekarang memang tidak terlalu besar tapi Ako mampu menyulapnya menjadi tempat yang selalu ramai, tidak pernah sepi, apalagi setelah matahari kembali ke peraduannya, Bukti Mentjos semakin dikerubuti pelanggannya.

Kebanyakan pelangannya adalah orang yang loyal, sudah tahunan berlangganan Jamu racikan Ako ini. Mereka sepakat kalau dikatakan ramuan Ako ini handal mendepak berbagai penyakit harian seperti batuk, pilek, pegal, masuk angin, dan perut kembung. Bukan berarti hanya penyakit ringan saja yang bisa ditanggulangi jamu Ako. Kanker dan tumor juga punya ramuan tersendiri.

Beberapa pengunjung bertutur tentang kisahnya. Seorang Bapak mengaku sudah sejak umur 5 tahun ia rajin minum jamu di Bukti Mentjos. “Kalau ada keluhan-keluhan kecil saya selalu ke sini, menyampaikan keluhan, lalu minum jamu. Dengan segera tubuh saya membaik. Sekarang umur saya sudah empat puluh lewat. Berarti sudah puluhan tahun saya sudah jadi langganannya Ako,” katanya sambil tertawa.

Seorang ibu mengaku sudah menjadi pelanggan sejak dirinya belum dilahirkan. Orang tuanya sudah getol mampir ke Bukti Mentjos. Berarti pelanggan Ako sudah sampai lintas generasi.

Satu orang bapak gempal bercerita dengan serius, “Saya kalau sudah flu ya pasti ke sini. Setelah dari sini biasanya dalam dua hari flu saya sudah minggat. Saya yakin betul dengan kualitas jamu di sini. Dua kejadian yang membuat saya makin yakin. Pertama, vonis operasi karena ambeien saudara saya bisa dipatahkan hanya dengan dua kali berkunjung ke sini. Jadi dalam dua malam saja keluhan hilang. Yang kedua, sakit pinggang saya diobati di dokter saraf RS Cipto, sembuh memang, tapi ketika kambuh lagi, saya coba ke sini, ternyata bisa sembuh dengan jamu. Kalau begitu, buat apa saya ke Cipto lagi?” ulasnya.

Menanggapi pernyataan positif itu, Ako yang mendengarkan percakapan pengunjung dengan AO hanya tersenyum. “Yang penting orang minum jamu, sembuh, sehat, kita sudah senang lah,” kata Ako yang terlihat awet muda itu walaupun umurnya sudah setengah abad.

Jamu-jamu racikan Ako kebanyakan berbahan dasar rempah-rempah yang didapat dari Solo, tempat asal mula didirikannya Bukti Mentjos pada tahun 40-an oleh kakek dan neneknya Ako. Ia membawa bahan-bahan mentah tersebut ke Jakarta baru kemudian diolah lebih lanjut sampai berbentuk serbuk halus siap seduh.

Tiap Botol Punya Kode. Pengunjung bisa membawa pulang ramuan atau bisa minum langsung di tempat. Kalau kita memilih minum di tempat, ada bonus khusus, yaitu atraksi mencampurkan jamu. Ada sekitar 20 botol berkode yang berjejer rapi. Setiap kode mencirikan jamu jenis apa yang ada di dalamnya. “Ramuan ini kan pengenalannya tidak bisa dari warna, bisanya dari bau dan rasa. Makanya ada nomor kode untuk memudahkan,” kata Ako.

Setidaknya ada 57 ramuan hasil karya Ako, baik dari hasil risetnya sendiri maupun dari ilmu yang diwariskan turun-temurun. Hanya saja yang dijejer di etalase hanya sekitar 20 ramuan karena itulah yang sering dipesan. Selebihnya ada namun tidak dipajang. Sebut saja jamu nomor 55 yang dinamakan “Si Jantung”. Jamu ini berfungsi mengobati jantung sakit/lemah, dada sesak, berdebar-debar, dan cepat lelah. Atau jamu nomor 33, bernama “Bersih Darah”, yang dapat membersihkan darah sehingga bisa melenyapkan bisul, gatal-gatal, jerawat, eksim, giduh (biduran), dan bau keringat.

Ako dengan fasih mencampurkan sedikit serbuk jamu bernomor sekian dengan nomor sekian dan sekian setelah mendengar rentetan keluhan pengunjungnya. Pengalaman puluhan tahun bergelut di dunia perjamuan membuatnya hebat memberikan resep. Ia selalu melakukan up date ilmu tentang dunia jamu dengan mengikuti seminar, penyuluhan, dan symposium. Semua untuk menyerap ilmu baru supaya dapat membuat ramuan yang lebih mujarab. Ako punya komentar tersendiri untuk seminar-seminar ilmiah, “Biasanya penelitian yang sekarang ini tidak jauh dari zaman kakek nenek kita. Temulawak buat lever dari dulu sudah dipakai, kunyit untuk usus dari dulu sudah dipakai. Ajaib kan!”

Bisa dibilang, ilmunya ini termasuk aliran Jawa asli. “Kalau di India kan ada sekolahnya, lulus jadi tabib. Di Cina ada sekolahnya, lulus jadi Sinsei. Kalau di Indonesia kan tidak ada, jadi turun-temurun dari kakek nenek. Dan seterusnya juga akan turun temurun, bisa ke anak saya bisa juga ke keponakan.”

Akrab

Satu kelebihan besar yang dimiliki Bukti Mentjos adalah keakrabannya dengan pengunjung. Ako yang merupakan pemilik usaha ini turun langsung melayani pengunjung. Dengan seksama ia mendengarkan keluhan dari pengunjung. Tidak ragu-ragu, pengunjung pun berkeluh kesah, tidak jarang terlihat pengunjung yang membawa secarik kertas bertuliskan sejumlah keluhan dari kerabatnya di rumah. Supaya lebih tepat, Ako terkadang melempar pertanyaan kembali, seperti “Masuk angin, gatal hidung, agak flu. Gak ada batuk ya?” atau “Kata dokter apa?” Setelah yakin dengan resepnya, Ako memberikan gelas yang sudah berisi serbuk jamu kepada pegawainya lalu bertanya kepada pelanggan, “Manis atau pahit?” Kalau manis, pegawainya akan menambahkan air jahe manis untuk melarutkan serbuk jamunya. Setelah selesai minum jamu, pengunjung dikenakan 13 ribu rupiah per gelas jamu yang diminumnya.

Di sela wawancara, Ako tetap memperhatikan konsumennya. Kalau ada yang memperlihatkan mimic kepahitan, Ako langsung menyuruh pegawainya menambahkan madu supaya lebih manis. Lalu bertanya lagi sekedar memastikan, “Gimana Bu? Sudah cukup manis?”

Tidak jarang, Ako memberikan sedikit nasihat, “Ibu tetap jaga ya, kontrol makanan. Ibu jangan kapok ya (minum jamu), yang penting sehat Bu,” atau “Saya pernah ngomong ya, di mana kamu duduk, apakah di rumah, di kantor, jaga kantong blakang supaya peredaran darah lancar.”

Memang, Ako tidak selalu ada di setiap jam aktif Bukti Mentjos, yaitu pukul 11 siang sampai 10 malam. Biasanya Ako hanya terlihat pada malam hari. Selebihnya, sepuluh karyawannya lah yang melayani langsung pengunjung. Namun, jangan anggap remeh karena menurut Ako, seluruh karyawannya sudah dibekali ilmu juga. Mereka siap melayani pengunjung.

15
Jul
16

Jermal

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2009

Film Jermal adalah film yang keseluruhan proses shooting-nya dilakukan di atas Jermal, yaitu sebuah bangunan yang terbuat dari kayu yang ditinggali oleh nelayan dengan keseharian aktivitas menangkap ikan.

Walaupun demikian, film ini bukan film documenter yang menonjolkan aktivitas jermal melainkan film fiksi yang lebih mengangkat hubungan psikologis antara ayah dan anak. Hanya sedikit-sedikit saja aktivitas Jermal yang Nampak. Setiap harinya, awak Jermal menjaring ikan dari lubang yang cukup besar di tengah Jermal dengan menggunakan wadah besar yang tampak terbuat dari rotan. Ikan tersebut dicuci. Kemudian, menurut Suryani, salah satu penggiat film Jermal, ikan tersebut dijual ke kapal-kapal yang lewat Jermal itu. Air bersih dan bahan makanan dibeli dari kapal-kapal yang lewat Jermal juga. Praktis, awak Jermal tidak pernah keluar dari Jermalnya.

Digambarkan dalam film tersebut, kehidupan di Jermal sangat keras. Jaya dan Johar (Didi Petet) adalah pemeran utama yang berperan sebagai anak dan ayah. Johar yang berperan juga sebagai komandan Jermal tidak mau mengakui Jaya sebagai anaknya ketika anak itu dibawa ke Jermal karena ibunya sudah meninggal. Perlakuan Johar sangat keras kepada Jaya, sungguh tidak mencerminkan hubungan ayah dan anak. Awak Jermal yang kesemuanya masih terhitung anak di bawah umur juga awalnya memperlakukan Jaya yang dikisahkan berumur 12 tahun dengan tidak manusiawi. Barang bawaan Jaya diambil dengan paksa. Jaya yang terbiasa hidup di daratan tidak berkutik dengan kerasnya kehidupan laut.

Awalnya Jaya tidak kuat dengan semua itu. Ia tidak melawan perlakuan kasar itu. Sempat sekali Jaya mencoba kabur dari Jermal dengan menggunakan ember besar. Kru Jermal yang lain justru malah menjadikan itu sebagai ajang taruhan, berapa lama Jaya kuat di laut.

Sedikit demi sedikit, Jaya mulai belajar tentang kehidupan laut. Jaya yang tadinya tidak keluar sepatah katapun dari mulutnya mulai berbncang dengan awak lain. Ia mulai melawan Johar yang masih tidak mau mengakuinya sebagai anak. Bahkan, Jaya berani mengacungkan golok ke leher Johar karena menganggap Johar adalah pembunuh.

Konflik terbesar adalah ketika jangkrik peliharaan Jaya ditusuk oleh pemimpin awak Jermal. Jaya tidak terima dengan perlakuan itu. Ia melawan dengan memukul menggunakan kayu sampai tidak ada perlawanan. Johar yang melihat kejadian itu lalu menghentikan Jaya kemudian membawanya ke ruangan Johar. Setelah Jaya tenang, Johar menceritakan bahwa ia memutuskan untuk hidup di Jermal karena tidak ingin dikejar-kejar polisi akibat perbuatan pembunuhan yang dilakukannya terhadap orang yang dianggap selingkuhan istrinya. Johar teringat kembali kekhilafannya waktu itu ketika melihat Jaya memukul dengan membabi buta. Perlahan, Jaya mulai mengakui Johar sebagai Ayahnya, terutama ketika Jaya membaca surat-surat dan foto-foto dari Ibunya yang dikirimkan kepada Johar setiap tahun.

Semakin kuat hubungan antara Johar dan Jaya sampai suatu ketika mereka memutuskan untuk tidak tinggal lagi di Jermal. Akhir dari film ini adalah ketika adegan Jaya dan Johar berlalu meninggalkan Jermal dengan dilepas rasa haru dari awak lain. Awak yang ditinggalkannya merasa kehilangan Jaya karena dialah satu-satunya awak yang pandai menulis sehingga sering dimintai tolong untuk menulis surat yang kemudian dimasukkan ke dalam botol dan dilemparkan ke laut.

Beberapa kali diperlihatkan adegan ketika polisi patroli menggeledah Jermal milik Johar. Dengan sigap, seluruh awak menyembunyikan dirinya. Maksud dari polisi patrol itu adalah menanggulangi perdagangan anak di bawah umur. Menurut Suryani, dulu memang masih banyak perdagangan anak yang kemudian dijadikan buruh di Jermal. Adegan yang menggelitik ketika seorang anak tertangkap oleh polisi patroli di sebuah keranjang besar. Ketika ditanya sedang apa. Awak Jermal itu mengaku sedang tidur, ia mengaku umurnya 18 tahun padahal postur tubuhnya menggambarkan anak umur 12 tahun. Polisi tersebut memintanya membuka baju lalu mengangkat tangannya. Lalu polisi bertanya, kok tidak ada bulu ketiaknya? Anak kecil tersebut beragumen bahwa pertumbuhannya lambat dibanding orang dewasa yang lain. Karena nada bicaranya tegas dan keras, si polisi tidak jadi menangkapnya.

Untuk merampungkan film ini, dibutuhkan waktu shooting sampai 26 hari. Selama shooting, kru tidak menginap di Jermal tetapi di pantai yang jaraknya satu jam perjalanan dari Jermal tempat shooting. Suryani menceritakan jarak itu belum yang paling jauh. Ada Jermal yang dicapai dengan dua jam perjalanan.

Sayangnya sudah terlambat bagi yang ingin menonton di bioskop karena film ini ditayangkan sejak 12 Maret 2009 sampai akhir Mei. Dengan jangka waktu sekitar dua minggu, film ini mampu menarik sekitar 15 ribu penonton. Untuk produksi total, dibutuhkan biaya sampai 4 miliar.

05
Jul
16

Sembako Selalu Bergejolak di Hari Besar

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2009

Sembako. Dok: www.rri.co.id

Sembako. Dok: http://www.rri.co.id

Setiap tahun, ketika mendekati hari-hari besar keagamaan, para pedagang seakan telah membuat suatu kesepakatan tak tertulis untuk menaikkan harga bahan makanan, baik hulu maupun hilir. Masyarakat juga seakan terbius dengan kebiasaan tersebut sehingga menganggap itu merupakan suatu kewajaran yang setiap tahun terjadi. Sebetulnya, bagaimana ini bisa terjadi?

Seperti yang terjadi lima tahun terakhir ini, setiap menjelang bulan puasa, harga sembako pada umumnya menunjukkan peningkatan, sedikit tapi pasti. Kemudian setelah beberapa hari memasuki bulan puasa harga akan kembali normal sampai menjelang lebaran. Harga akan naik lagi seminggu menjelang lebaran. “Telur, daging ayam, bawang, sembako semua naik menjelang lebaran. Setelah lebaran, harga akan flat beberapa hari. Seminggu setelah lebaran, harga daging ayam naik lagi. Pola-pola seperti itu selalu terulang,” kata Gardjita Budi, Direktur Pemasaran Domestik, Departemen Pertanian. Namun, ini tidak berlaku untuk beras. “Karena stok kita cukup maka harga beras tidak akan mengalami gejolak sebesar sembako lainnya,” kata Ahmad Suryana, Kepala Badan Ketahanan Pangan.

Hari-hari besar lain seperti Idul Adha, Natal, dan tahun baru juga memperlihatkan perilaku serupa. “Meskipun tidak seheboh lebaran, tapi hari-hari besar lain seperti natal, tahun baru, dan Idul Adha juga memperlihatkan gejolak,” kata Gardjita.

Bukan Demand Tinggi, Tapi Ekspektasi Pasar

Kalau mengikuti hukum pasar, yang terjadi ketika demand dan supply seimbang adalah harga yang tetap. Namun, tidak demikian yang terjadi di Indonesia. Walaupun permintaan yang tinggi sudah diantisipasi dengan supply yang tinggi juga, harga tetap naik. Ada mekanisme lain di luar hukum pasar. Menurut Ahmad, hal ini dikarenakan ekspektasi pasar yang mengatakan bahwa harga harus naik ketika hari besar keagamaan. Gardjita juga mengamini hal tersebut. “Di Indonesia memang polanya seperti itu. Menjelang hari besar, harga naik 5-10% itu sudah biasa. Yang kita antisipasi adalah jangan sampai terjadi lonjakan naik atau turun yang ekstrim,” katanya.

Peningkatan harga itu mempunyai regulasi tersendiri. “Pedagang bisa memanfaatkan ekspektasi bahwa harga harus naik, tetapi sulit untuk menaikkan harga terlalu tinggi karena sektor ritel itu ketat. Banyak sekali pesaing yang lain jika harga dinaikkan lebih tinggi lagi. Para pedagang menyadari hal tersebut,” kata Gunaryo, Direktur Bina Pasar dan Distribusi, Departemen Perdagangan.

Lalu, ke mana saja larinya margin profit 5-10% tersebut? Kalau kita ambil contoh untuk harga komoditas daging sapi, harga di tingkat produsen atau peternak sapinya langsung dari minggu pertama Juli 2008 sampai minggu kedua September 2008 memang memperlihatkan peningkatan harga dengan trend 0,83% per minggu (Sumber: Dit Pasdom Deptan). Tetapi peningkatan harga ini tidak sebesar peningkatan harga di tingkat konsumen, yaitu 1,21% per minggu. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan margin profit kebanyakan diambil oleh pedagang.

Walaupun mendapat tambahan keuntungan yang lebih sedikit daripada pedagang, tapi menurut Ahmad, keadaan ini cukup memberikan angin segar bagi petani. “Ini bagus karena petani akan mendapat imbasnya dengan mendapat harga yang lebih bagus,” katanya. Dengan mempertimbangkan konsumen yang sudah siap dengan kenaikan harga dan produsen yang akan mendapatkan keuntungan lebih tinggi dari biasanya, maka pola ini bisa dikatakan baik. “Fenomena kenaikan harga ini tidak ada masalah, harus dihargai. Keadaan itu sebetulnya baik bagi ekonomi karena permintaan meningkat. Kita tidak perlu menciptakan hari-hari besar seperti valentine dan father’s day untuk menggerakkan perekonomian. Kita sudah memilikinya secara alami lewat hari-hari besar keagamaan,” kata Ahmad.

Distribusi Masih Mahal

Salah satu penyebab gejolak harga yang terjadi adalah biaya distribusi di Indonesia yang masih belum kompetitif. Menurut Gunaryo, distribusi itu paling tidak 60-70%nya terkendala dari kelancaran transportasi, yaitu infrastrukturnya. “Kita juga terkendala mengangkut produk pertanian ke daerah timur Indonesia. Waktu diantar ke sana muatannya penuh tapi ketika kembali belum tentu ada muatan. Ini yang menyebabkan disparitas harga semakin jauh,” ungkap Gunaryo. Selain itu, kita tidak bisa produksi secara masal, kita masih butuh pedagang pengumpul, pedagang wilayah, dan sebagainya. Ini yang menyebabkan harga ke konsumen menjadi tinggi.

Menurut Gardjita, biaya transportasi produk pertanian di Indonesia belum efisien. Pertama karena distribusi dari produsen ke pasar belum terintegrasi. Kedua karena masih maraknya pungutan resmi maupun tidak resmi. Pungutan resmi itu seperti retribusi yang ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten atau Propinsi. “Memang itu hak dari pemerintah daerah untuk mendapatkan pendapatan daerahnya. Tapi hal itu berefek meningkatkan harga ketika sampai ke konsumen. Konon, biaya distribusi produk pangan di Indonesia bisa mencapai tiga belas sampai tiga puluh sekian persen dr harga di pasarnya nanti,” ungkap Gardjita. Situasi ini kemudian akan dibebankan ke konsumen. “Kalau konsumen teriak maka efeknya ke produsen juga. Ini yang selalu kita jaga. Karena bagaimanapun yang sering dirugikan adalah petani, profit marginnya petani itu semakin terdesak,” katanya.

Berarti dibutuhkan komunikasi yang baik dengan berbagai sektor seperti kementerian ekonomi dan Departemen Perhubungan untuk mengemukakan masalah tersebut. Gardjita mengaku bahwa komunikasi antar lintas sektoral maupun dengan pelaku pasar sudah lebih baik. “Hasilnya positif untuk stabilitas harga,” tutur Gardjita.

Bisa Diantisipasi

“Yang perlu diantisipasi bukanlah kenaikan harga menjelang hari besar, tapi lonjakan naik atau turun yang ekstrim,” kata Gardjita. Untuk mengatasinya, pemerintah berkoordinasi dgn pengusaha, memberikan informasi tentang pasar, dan juga memfasilitasi kebijakan-kebijakan tertentu. Di sinilah letak fungsi kontrol sosial dari masyarakat, mengawasi kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah itu.

“Informasi sudah banyak kami berikan ke masyarakat, termasuk petani. Lewat internet berbagai informasi termasuk harga sudah kami berikan. Bahkan menjelang lebaran setiap hari harga kami berikan update. Tapi memang sedikit sekali petani yang mengakses internet. Informasi lewat radio juga sudah ada, hanya saja terbatas jangkauannya. Kalau lewat televisi biayanya terlalu tinggi. Jadi, kita sering berkolaborasi lewat asosiasi-asosiasi pertanian,” kata Gardjita. Tapi terkadang petani lebih pintar, mereka lebih tau apa yang akan terjadi di pasar sehingga informasi dari luar lingkungannya seringkali hanya dijadikan tambahan saja.

“Kami memberikan informasi ke para pengusaha bahwa harga telur akan naik sekian persen sehingga akan ada antisipasi. Selain itu kami juga memfasilitasi impor daging sapi, baik bakalan maupun daging beku. Banyak juga hal lain yang kami lakukan untuk menjaga ketahanan pangan. Sektor swasta juga akan berpikir logis menanggapi pola pasar yang sudah dapat dideteksi,” tutur Ahmad.

15
Jun
16

Pariwisata Indonesia, Perlu Lebih Banyak Intervensi Pemerintah

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Pariwisata Indonesia. Dok: www.cendikianews.com

Pariwisata Indonesia. Dok: http://www.cendikianews.com

Walaupun hanya menempati 1,7% lahan di bumi, Indonesia mempunyai 17.000 hamparan pulau yang menjadi rumah bagi 17% spesies-spesies tumbuhan dan hewan di bumi, banyak di antaranya hanya ditemukan di Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu Negara yang mempunyai keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Inilah modal besar sektor pariwisata Indonesia.

Pariwisata adalah salah satu sektor yang dapat memanfaatkan begitu kayanya alam Indonesia. Namun, ternyata di tingkat dunia, setelah dinilai dari sejumlah aspek, Indonesia hanya menempati peringkat ke-80. Potensi pariwisata Indonesia adalah yang terbesar dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara lain. Namun, kenyataannya mengatakan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia masih jauh lebih rendah daripada Singapura, Malaysia, dan Thailand. Hal ini terjadi karena Indonesia tidak memiliki daya saing, baik dari segi produk, promosi, sistem keuangan, transportasi, dan sebagainya.

Sebanyak 137 anggota WTO (World Tourism Organization) yakin bahwa di masa yang akan datang, sektor pariwisata akan menjadi industri terbesar di dunia. Selama ini, negara-negara tersebut sudah merasakan sumbangan yang berarti terhadap Produk Domestik Bruto mereka. Selain itu, pariwisata juga mempunyai fungsi non-ekonomi penting, yaitu ikut melestarikan keanekaragaman hayati.

WTTC (World Travel and Tourism Council) juga mempunyai prediksi tentang potensi pariwisata, yaitu bahwa pada tahun 2010 sektor pariwisata akan memberikan kontribusi sebesar US$ 283 miliar dalam sektor ekonomi di kawasan Asia Tenggara dan juga menyediakan 26,6 juta lapangan pekerjaan, atau 1 dari 10,5 angkatan kerja bekerja di sektor pariwisata. Lalu, akan berada di mana Indonesia pada tahun 2010 mendatang?

Multiplyer Effect

Menurut Yohanes Sulistiadi, Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Sahid, pemerintah kalau menangani masalah wisata alam hanya mengeksploitasi secara ekonomi. Belum berorientasi pada perawatan agar tetap asri. Jadi, belum menuju ke keberlanjutan yang terus-menerus. Padahal, jika keberlanjutan tercapai, secara otomatis masyarakat sekitar obyek wisata juga ikut sejahtera. Setiap wisatawan butuh makan dan terkadang akomodasi. Tidak sedikit yang ingin membeli suvenir dari daerah wisata itu. Jadi, jelas industri wisata ini akan menimbulkan efek yang berlipat-lipat (multiplyer effect). Bukan tidak mungkin kalau masyarakat dapat menggantungkan hidupnya dari wisatawan. Amalia Yunita, praktisi industri wisata petualang mencontohkan dengan pegunungan Himalaya yang masyarakatnya sudah hidup dari pendaki-pendaki yang lewat. Sangat disayangkan ketika kita melihat potensi puncak Jayawijaya yang sudah dijadikan target pendaki-pendaki kelas dunia belum dikelola sepeti Himalaya. ”Orang Indonesia sendiri yang masih belum mengerti tentang pariwisata sehingga malah jalan ke puncak Himalaya ditutup dengan perusahaan tambang,” jelas Yuni.

Pariwisata mempunyai ruang sebesar 7% dari perdagangan internasional dan 25-30% dari total industri jasa dunia dengan pertumbuhan rata-rata 9,7%/tahun. Cukup besar memang peran pariwisata.

Belakangan ini, Indonesia mulai berbenah untuk membuat pariwisata tidak hanya sekedar potensi. Data BPS menunjukkan bahwa ada peningkatan jumlah wisman sebesar 12,71% pada bulan Januari-April 2008 dibandingkan Januari-April 2007. Untuk ke depannya, kemungkinan wisman akan lebih meningkat lagi karena travel warning dari Amerika Serikat telah dicabut sejak sebulan yang lalu.  ”Dengan begitu, Indonesia menjadi lebih kondusif karena Amerika itu menjadi patokan negara-negara lain, terutama negara-negara barat, Eropa, dan Australia,” tutur Adnan Karamoy, Wakil Ketua Komite Tetap Kadin Pariwisata.

Kalau dilihat dari Sumber Daya Alam di dalamnya, Indonesia memang memiliki potensi yang berlimpah. ”Negara kita ini tropis, keanekaragaman hayatinya pun sangat beragam. Kalau dilihat dari kacamata pariwisata itu sangat besar potensinya. Dari ujung Aceh sampai Papua potensinya bagus,” kata Jacob Ganef Pah, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Ada satu bagian wisata yang belum digarap dengan serius padahal potensinya luar biasa, yaitu hutan. Wilistra Danny, Kepala Sub Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan mengatakan bahwa dengan digarapnya hutan menjadi tempat wisata maka akan didapat dua keuntungan sekaligus, pemeliharaan hutan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. ”Potensinya wisata hutan sangat besar, bahkan seorang peneliti dari IPB mengatakan bahwa 95% potensi hutan itu ada di jasa lingkungan hutan, termasuk wisata hutan. Sedangkan potensi kayu yang selama ini kita garap hanya 5% saja,” kata Wilistra.

Tentang harga, Indonesia termasuk target wisata yang tergolong murah. Bahkan, data menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang mempunyai harga paling bersaing untuk berwisata. Sapta Nirwandar, Dirjen Pemasaran Depbudpar, menambahkan bahwa tarif hotel-hotel di Indonesia pun sangat murah, ”Misalnya, 100 dolar di Indonesia itu sama seperti hotel Rusia dengan tarif 500 dolar. Di Indonesia, dengan 200 dolar sudah mendapatkan suit room, sedangkan di sana masih hotel biasa.”

Butuh Komando

Austair G Spairs, Chairman of PATA (Pacific Asian Travel Association), mengatakan bahwa Indonesia mempunyai potensi pariwisata yang sangat besar, tapi potensi itu berkurang dengan cepat akibat rendahnya koordinasi dari pemerintah dengan pihak-pihak yang terkait.

Sebetulnya presiden sudah menginstruksikan lewat Inpres no.16 tahun 2005 yang melibatkan belasan menteri untuk membangun sektor pariwisata dari semua lini, tetapi sepertinya inpres itu tidak bergigi. ”Untuk dapat mengembangkan pariwisata diperlukan sekian lembaga yang harus terlibat. Tapi siapa yang akan menjadi leader untuk mengontrol hubungan antar lembaga tadi? Dan bagaimana hubungannya? Itu semua belum diatur, memang kita selalu bermasalah dalam implementasi kebijakan,” tambah Soehartini Sekartjakrarini, penggiat IdeA (Innovative development for eco Awareness). Sekar menyayangkan hilangnya Komisi Kerja Sama Pengembangan Obyek-Obyek Wisata Agro yang merupakan kerjasama Depbudpar dan Deptan dan Komisi Kerja Sama Pengembangan Obyek-Obyek Wisata Alam (Depbudpar-Dephut). Padahal kedua komisi itu ketika itu berjalan dengan baik dan berhasil.

”Kita tidak tahu siapa yang menjadi sekjen dari implementasi inpres ini. Sebetulnya dengan rapat 6 bulan sekali saja sudah bisa terkoordinir, tp koordinasi ini belum ada sama sekali,” kata Adnan.

Namun, Sapta membantah hal tersebut. ”Kami sudah bekerja sama dengan pihak-pihak industri, dengan Garuda, dan airline internasional,” kata Sapta. Tetapi, itu saja masih belum cukup. Masih banyak lembaga yang terkait dengan bidang pariwisata tapi belum diajak duduk bersama.

Selain kerjasama yang baik dari lembaga-lembaga yang terlibat dalam pariwisata, menurut Yohanes, yang perlu banyak dibenahi lagi adalah SDM dan infrastruktur. SDM dibangun dari akademi-akademi pariwisata, atau dari pelatihan-pelatihan tentang pariwisata. ”Sampai saat ini, kami sudah meluluskan 6000 orang yang tersebar di dalam dan luar negri. Tapi, walaupun sudah digabungkan dengan lulusan-lulusan STP lain, tetap saja SDM kita masih kurang. Kalaupun memang jumlahnya cukup, belum komprehensif,” kata Yohanes.

”Kalau berbicara tentang infrastruktur memang secara umum kita belum bagus. Sejak pemerintahan SBY belum ada pembangunan tol besar-besaran,” kata Adnan.

”Seharusnya, pemerintah menjamin keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, dan transportasi untuk menunjang pariwisata. Masyarakat dan pihak swasta tidak bisa membantu banyak untuk hal ini,” tutur Sekar.

”Untuk pariwisata,” Sekar menambahkan lagi, ”Belum ada pemetaan prioritas wisata, misalnya tahun ini fokus membangun obyek wisata di Musi, berarti dari pintu masuk Indonesia sampai Musi aksesnya harus dibenahi, kemudian tahun depan membangun Sumatera Barat, yang fokus seperti inilah yang belum ada.”

VIY 08 Kurang Bergaung

”Pada tahun 2007 kita mendapatkan 5,5 juta wisman, dengan rata-rata lama tinggal 9 hari dan yang juga cukup menggembirakan adalah pendapatan rata-rata dari setiap wisman sebesar 937 dolar/kunjungan. Ini angka yg baru pertama kali kita capai, jadi, cukup menggembirakan. Tahun 2008 ini kami menargetkan  7 juta wisman. Kita mati-matian menggenjot itu,” jelas Sapta. Ia juga mengatakan bahwa sektor pemasaran Depbudpar mendapatkan biaya tambahan 20% dari anggaran sebelumnya, uang inilah yang digunakan untuk menggenjot target tersebut lewat program Visit Indonesia Year (VIY) 2008.

”Kita mempunyai kantor pemasaran khusus di luar negeri, kami menyebutnya branded office. Kami memilih orang di sana untuk membantu memasarkan produk-produk wisata Indonesia secara rutin. Branded office kita ada di Eropa, Cina, Korea, Jepang, Malaysia, dan Australia. Itu di bawah koordinasi Depbudpar. Dia khusus memasarkan pariwisata, berbeda dengan KBRI,” tutur Sapta. Namun, pemasaran seperti itu saja belum cukup. Austair mngatakan bahwa VIY 08 tidak berpromosi dengan baik di pasar internasional.

Menanggapi tentang VIY 2008, Ganef mengatakan bahwa program itu bagus selama dijalankan dengan benar. ”Tapi untuk promosi memang kita masih tertinggal. Malaysia menyiapkan visit Malaysia sejak setahun sebelumnya, kalau VIY 08 baru terpublish di akhir tahun, bahkan malah baru bergaung di awal tahun, memang kita kekurangan biaya promosi,” tutur Ganef.

Adnan juga sepakat dengan hal tersebut, ”Harusnya VIY 2008 mulai bergaung sejak 2006-2007. Kita terbalik, VIY 08 baru digembor-gemborkankan di 2008. Tapi it’s OK karena anggarannya memang saat itu belum ada. Semoga VIY ini berlaku untuk tahun-tahun brikutnya, semoga ini menjadi titik tolak.”

Menurut Adnan, sebetulnya industri pariwisata, perhotelan, travel agent yang ada di Indonesia sudah cukup baik. Tapi di luar lembaga-lembaga itu kita masih kalah. ”Pengetahuan dasar tentang pariwisata belum banyak dimiliki oleh pengatur imigrasi, supir taksi, dan sebagainya. Program VIY itu belum sampai ke situ. Jadi, sosialisasi ke orang-orang di luar pariwisata itu perlu dirambah oleh VIY 08, sehingga keramahtamahan bangsa Indonesia bisa terlihat oleh asing,” tambahnya.

Untuk kelanjutan dari VIY 2008, Sapta berkomentar, ”Ada juga usul untuk dilanjutkan dengan berkonsentrasi pada MICE karena inilah yang menjadi unggulan kita. Pada umumnya peserta MICE juga menjadi wisatawan yang pengeluarannya cukup lumayan.” Tapi itu baru sekedar usulan, belum ada pertemuan-pertemuan khusus yang membahas keberlanjutan VIY 2008.

14
Jun
16

Akses ke Hasil Perikanan dan Peternakan Masih Sulit

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2008

Hasila Peternakan dan Perikanan. Dok: www.argakencana.blogspot.co.id/

Hasila Peternakan dan Perikanan. Dok: http://www.argakencana.blogspot.co.id/

Manusia tentunya butuh protein dalam hidup dan kehidupannya. Banyak makanan yang secara alami mempunyai nilai protein yang tinggi. Protein hewanilah yang paling tepat untuk memenuhi asupan protein manusia. Berbicara tentang protein hewani maka terkait erat dengan sektor perikanan dan peternakan.Sudahkah kita mampu memenuhi kebutuhan protein bangsa ini?

Human Development Index (HDI) tahun 2007 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-107 dari 177 negara, kalah dari Vietnam (105), Thailand (78), Malaysia (63), Brunei (30), dan Singapura (25). ”Jika ternyata bangsa kita kualitas fisiknya kurang baik maka ini mungkin disebabkan oleh rendahnya asupan pangan bermutu, terutama yang bersumber dari pangan hewani. Gizi masyarakat Indonesia sangat jauh dari cukup,” jelas Ali Khomsan, ahli Gizi dari IPB. Saat ini, rata-rata warga Indonesia dalam satu minggu hanya minum susu setengah gelas, satu butir telur, dan dua potong daging. Keadaan ini cukup memprihatinkan.

Kesadaran akan pentingnya protein hewani masih belum memadai baik pada aras masyarakat maupun pemerintah. Namun tak bisa semuanya disalahkan pada masyarakat. Akar dari rendahnya diversifikasi menu penduduk Indonesia adalah rendahnya daya beli. Menurut Ali Khomsan, masyarakat akan dengan sendirinya membuat makanannya beraneka ragam ketika daya belinya meningkat. Kalau penghasilannya kecil, pasti ia akan memilih mengisi perutnya dengan karbohidrat terlebih dahulu, masalah gizi urusan belakangan. Saat ini tidak ada protein hewani yang murah. ”Tingkatkan daya beli masyarakat, dengan begitu, diversifikasi menu akan terjadi secara otomatis,” tambah Ali Khomsam.

Selain HDI, ada juga pengukuran yang secara langsung mencerminkan asupan pangan masyarakat, yaitu skor Pola Pangan Harapan. Nilai maksimalnya adalah 100. Indonesia mempunyai nilai 70. Nilai ini didominasi dari karbohidrat. Jadi, masyarakat Indonesia lebih banyak memakan karbohidrat. Sudah jelas, masyarakat bermasalah pada asupan gizinya

Serba Impor

Susahnya lagi, sumber protein hewani dari ternak masih sangat bergantung dari impor. Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negerinya sendiri untuk hasil peternakan. Impor susu masih besar, yaitu 90% dari kebutuhan. Daging sapi juga masih impor sebesar 25%. Bahkan Gapmmi memperkirakan pada tahun 2035 Indonesia akan mengimpor 4 juta ton daging, 3,6 juta liter susu dan 23,4 milyar butir telur.

Untuk perunggasan Indonesia sudah jauh lebih baik. Menurut Arif Daryanto, pengamat perunggasan, Indonesia sudah berdaulat di bidang perunggasan, bahkan potensi untuk ekspor sudah besar. Tapi sayangnya, perunggasan Indonesia dilanda Avian Influenza (AI) sehingga saat ini pasar ekspor unggas tertutup untuk Indonesia. Perkembangan perunggasan yang menggembirakan ini juga tidak didukung dengan industri pakan ternak yang berbasis bahan baku lokal. Bahan pakan utama unggas, yaitu kedelai, jagung masih impor dan juga tepung ikan hampir sebagian besar masih impor.

Masih tingginya komponen impor di sektor peternakan mengakibatkan harga-harga daging, telur dan susu menjadi tinggi. Kenaikan harga ini membuat masyarakat semakin sulit menjangkau makanan dengan gizi baik. Konsumen semakin mengurangi konsumsi protein hewani. ”Dengan daya beli yang rendah masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan karbohidrat, sedangkan menu bergizi menjadi prioritas kedua,” kata Ali Khomsam.

Menurut data dari FAO (2006), rata-rata konsumsi daging penduduk Indonesia sebanyak 4,5 kg/kapita/tahun, tertinggal dari Malaysia (38,5), Thailand (14), Filipina (8,5), atau Singapura (28). Konsumsi telur juga tidak jauh berbeda. Indonesia mengonsumsi 67 butir/kapita/tahun, masih lebih rendah dari Thailand (93) dan Cina (304). Demikian pula dengan konsumsi susu, masyarakat Indonesia meminum susu sebanyak 7 kg/kapita/tahun, sementara Malaysia mengonsumsi 20 kg/kapita/tahun. Kita masih jauh tertinggal dari Amerika yang meminum 100 kg susu/kapita/tahun.

Ketidakmampuan Indonesia memproduksi sendiri sumber protein hewani merupakan konsekuensi logis dari kebijakan pangan yang kita anut lebih bertumpu pada beras. Pengembangan sumber protein hewani seringkali masih ditempatkan pada prioritas berikutnya. Padahal tak dapat dipungkiri bahwa ketersediaan protein hewani sangat diperlukan bagi pertumbuhan fisik dan kecerdasan generasi mendatang.

Arif Daryanto mengatakan bahwa kedaulatan pangan kita di bidang peternakan dapat dilakukan mengingat Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas dan subur yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan peternakan. Di samping itu, masyarakat Indonesia sudah familiar dengan dunia peternakan. Namun demikian, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mampu mensinergikan potensi tersebut dengan kondisi peternakan saat ini yang masih menghadapi permasalahan seperti modal, transfer teknologi, dan lain-lain.

Perikanan Kurang Terakses

Sumber protein hewani lainnya yang tak kalah prospektif adalah perikanan. Hasil sub sektor perikanan Indonesia relatif lebih tersedia daripada peternakan. Hasilnya cukup melimpah. Artinya produksi dalam negeri cukup memadai untuk kebutuhan dalam negeri. Bahkan, setiap tahunnya kita sudah rutin melakukan ekspor, nilainya mencapai 2,3 Miliar $US.

Tapi sayangnya kesadaran makan ikan masyarakat masih rendah. Lagi-lagi ini dikarenakan daya beli masyarakat yang masih rendah, disamping budaya yang tidak biasa mengkonsumsi ikan. Tridoyo Kusumastanto, Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB, mengatakan bahwa konsumsi ikan rata-rata masyarakat Indonesia sangat beragam. Semakin jauh daerah itu dari laut maka akan semakin sulit mengakses ikan. ”Konsumsi masyarakat pegunungan sekitar 7 kg/kapita/tahun, berbeda jauh dengan masyarakat pesisir yang rata-rata mengkonsumsi 50 kg/kapita/tahun,” tutur Tridoyo. Konsumsi ikan rata-rata masyarakat Indonesia pada tahun 2003 adalah 22,36 kg/kapita/tahun sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 26,00 kg/kapita/tahun, meningkat rata-rata 3,86%/tahun. Jauh lebih rendah daripada peningkatan produksi budidaya perikanan sebesar 26,60%/tahun dari tahun 2003-2007.

Di satu sisi kita mempunyai kemampuan yang hebat untuk memproduksi ikan tapi di sisi lain konsumsi ikan masyarakat kita masih sedikit. Padahal, kecerdasan anak bangsa berkorelasi positif dengan banyaknya ikan yang ia makan. Ironis memang.

Ada beberapa hal menurut Arif Satria, Direktur Riset dan Kajian Strategis IPB, yang menjadi penyebab kurangnya konsumsi ikan masyarakat Indonesia. Pertama, daya beli masyarakat rendah sehingga harga ikan masih dianggap mahal. Kedua, pendistribusian ikan ke daerah yang jauh dari laut dan tidak memiliki budidaya perikanan masih sulit, efeknya lagi-lagi ke harga yang tinggi. Ketiga, walaupun peningkatan budidaya perikanan cukup tinggi, tapi jumlahnya masih kurang untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit mendapatkan ikan. Sebagian besar peningkatan budidaya dilakukan di pesisir sehingga hasilnya sulit didistribusikan ke daerah pegunungan.

Selain itu, menurut Tridoyo, DKP atau lembaga penelitian yang terkait tidak berorientasi pada konsumsi komoditas umum. Jadi, banyak ikan konsumsi yang harganya terjangkau, seperti kembung dan bandeng, belum diperhatikan dengan baik. Pemerintah lebih berorientasi kepada ekspor dibanding memaksimalkan komoditas yang mampu dibeli masyarakat.

Mau tidak mau memang Indonesia harus menuju ke perikanan budidaya, terutama darat, apalagi melihat keadaan laut yang saat ini sudah banyak terjadi overfishing. Dengan budidaya, akses masyarakat yang bertempat jauh dari laut untuk membeli ikan akan lebih baik.

Secara langsung nelayan akan diuntungkan karena hampir semua usaha budidaya menguntungkan. Dengan begitu, pendapatan nelayan akan meningkat yang juga berarti peningkatan daya beli. Made Nurdjana, Dirjen Perikanan Budidaya, yakin bahwa budidaya perikanan mampu meningkat produksinya 40% per tahun. ”Empat puluh persen itu kecil selama ada pembiayaan yang cukup. Pembiayaan di sini bisa dari pemerintah maupun perbankan,” kata Made. Terbukti memang dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan produksi. Namun, peningkatan ini belum mencapai angka 40%.

15
Mei
16

Pasar Burung Pramuka, Kicaunya Terdengar se-Asia

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Pasar Burung Pramuka. Dok: www.omkicau.com

Pasar Burung Pramuka. Dok: http://www.omkicau.com

”Kata orang-orang sih begitu, pasar burung ini yang terbesar se-Asia, sayangnya saya tidak mempunyai data untuk mendukungnya. Tapi saya sering melihat bule datang ke pasar ini, mungkin itu bisa dijadikan bukti kalau pasar ini besar,” kata Sabandri Tanjung, Supervisor Pasar Burung Pramuka, sambil tersenyum.

Dari kejauhan sudah terdengar suara berbagai jenis burung saling bersahutan dari dalam pasar. Sudah tidak jelas lagi burung jenis apa yang sedang berkicau. Bagaimana tidak, puluhan ribu burung saling berebut untuk didengar suaranya.

Sudah lama sekali Pasar Burung Pramuka ini berkicau di jalan Pramuka Raya, Jakarta, tepatnya sejak tahun 1974. Unik sekali memang barang dagangan yang dijajakan di pasar ini, hanya fokus pada burung-burung hias saja. Memang, ada sedikit pedagang yang menjual ayam, tapi bukan ayam pedaging atau petelur, melainkan ayam jago, ayam kate, dan ayam hias.

Pasar ini buka setiap hari dengan puncak keramaian pada hari Sabtu dan Minggu. Pedagang datang pagi-pagi betul untuk memberikan makan burung-burung dagangannya, selain itu pedagang juga menyemprot beberapa burung. Begitu juga pada siang dan sore harinya. Setelah selesai merawat burungnya, barulah kios siap untuk dijadikan tempat transaksi. Biasanya dimulai pukul 8 pagi dan berakhir pukul 4 sore.

Pasar burung ini sempat mati suri ketika flu burung merebak di mana-mana. Orang-orang takut memegang burung, apalagi datang ke pasar burung. Tapi sekarang keadaannya sudah membaik.

Murai jadi Primadona

”Semua jenis burung ada di sini kecuali burung yang dilindungi,” kata Tanjung. Namun, dari semua jenis burung, saat ini, murai yang paling dicari. Rifai, seorang pedagang di Pasar Burung Pramuka, mengaku bahwa stok burung murainya cepat sekali habis. Rifai menjual murai yang berasal dari hasil tangkapan di hutan Kalimantan. ”Sekali datang, supplyer saya mengirim 100-150 ekor murai. Semua ludes terjual dalam waktu kurang dari satu minggu,” aku Rifai. Ia menjual murai dengan harga Rp125.000,- per ekor untuk sesama pedagang. Dari penjualan murai saja, Rifai dapat meraup omzet sampai 50 juta setiap bulannya. Wajar saja kalau ia betah berjualan di Pasar Burung Pramuka sampai dua puluh tahun.

”Namun, menjual burung tidak semudah yang dibayangkan. Kalau masih belum tahu cara merawat burung dengan baik, akan semakin banyak burung yang mati sebelum terjual. Saya saja bisa mendapatkan 10% burung mati, apalagi penjual-penjual baru yang masih belum mengerti betul. Bisa-bisa, bukannya untung malah buntung,” ungkap Rifai. Burung-burung yang mati tersebut kebanyakan karena beberapa burung ditempatkan dalam satu kandang sehingga sering terjadi perkelahian antarburung. ”Tidak muat kalau setiap burung saya taruh dalam satu kandang,” kata Rifai.

Selain murai, Rifai juga menjual burung kecer, kenari, branjangan, dan pentet. Burung kecer Rifai jual dengan harga Rp200.000,-. Itu dengan kondisi burung yang sudah dapat berkicau dengan baik. Kalau yang baru ditangkap dari hutan dijual dengan harga Rp50.000,-. Untuk burung Kenari dan Branjangan dijual dengan kondisi yang sudah bagus kicauannya, masing-masing dengan harga Rp150.000,- dan Rp40.000,-. Sedangkan untuk burung Pentet dijual dengan harga Rp20.000,- untuk yang baru ditangkap dan naik menjadi Rp75.000,- untuk yang sudah bagus kicauannya.

289 Kios

Ada dua gedung di Pasar Burung Pramuka, gedung baru dan lama. Tidak ada yang berbeda dari keduanya kecuali umur bangunannya. Total kios dari kedua gedung ini adalah 289 buah kios. Namun, pedagang di pasar ini hanya berjumlah 154 orang. Ini karena sebagian pedagang tidak hanya menggunakan satu kios. ”Banyak juga pedagang yang menggunakan 4-5 kios karena barang yang dijajakan tidak akan muat kalau dipaksakan masuk ke satu kios saja,” tutur Tanjung. Uniknya, pedagang di Pasar Burung Pramuka didominasi oleh orang-orang asal Jepara, Jawa Tengah. Mungkin memang orang-orang Jepara sudah dididik untuk cinta akan burung hias. Mereka sudah bertempat tinggal tetap di daerah pramuka. ”Satu orang pedagang tidak akan mampu mengurus ratusan burung, maka mereka biasanya mengajak saudara-saudara mereka dari kampung untuk ikut membantu berjualan,” kata Tanjung. Mungkin dari situ awalnya sehingga banyak orang Jepara yang mengadu nasib di pasar burung ini.

Pembelinyapun sangat beragam, tidak peduli dari strata sosial mana. Yang jelas mereka sama-sama penggemar burung. Sebagian besar didominasi oleh laki-laki. Ada saja tingkah dari pecinta-pecinta burung ini. ”Mereka bisa tahan sampai berjam-jam hanya untuk mengamati aktivitas satu burung. Setelah cocok, baru dibelinya burung itu,” ungkap Tanjung sambil terkekeh. Tidak hanya diminati oleh orang-orang Indonesia saja,  bule juga sering berseliweran di pasar ini, biasanya mereka hanya sekedar mengamati jenis burung apa saja yang ada di pasar ini.

Dikelola Pemda DKI

Pasar Burung Pramuka berada di bawah naungan Pemda DKI Jakarta. Pasar ini dijadikan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Setiap kios berukuran 6m2 dikenakan Biaya Pemeliharaan Pasar (BPP) sebesar Rp6.000,- per hari. Pengelola bertugas membersihkan pasar setiap harinya. Setiap malam, ada petugas yang menjaga keamanan pasar. ”Semua burung dimasukkan ke dalam kios, kios dikunci oleh pedagang, selanjutnya kami jamin pasar aman dari maling,” kata Tanjung.

Untuk ke depannya, ada kemungkinan pasar ini akan dijadikan obyek wisata. Pengelola yakin pasar ini menarik karena keunikannya yang hanya menjual burung hias. ”Mungkin nanti pasar akan kami renovasi atau bahkan kami pindahkan ke tempat lain. Di tempat yang baru itu akan dimasukkan konsep wisata dalam tata letaknya,” kata Tanjung.




September 2016
S S R K J S M
« Agu    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930