Lari ke Lompat

Pandemi membuat kita terbatas bergerak. Coba saja lihat event lari, mana ada lagi? Ada sih satu dua, itupun virtual. Yah, virtual mana seru. Orang yang dicari ramainya, dan water station-nya.

Di beberapa bulan awal saya tinggalkan olah raga sama sekali. Tidak lari sama sekali. Sebelum pandemi lumayan rajin, setidaknya seminggu sekali adalah lari sekitar 1 jam. Setelah pandemi, hilang kebiasaan itu.

Dipikir-pikir, pengganti yang cocok apa ya? Pikiran saya terarah ke skipping alias lompat tali. Kan tidak perlu ke mana-mana tuh. Dan bisa dilakukan di bawah matahari. Jadi bisa sambil berjemur pagi.

Soal tali skipping, saya sudah gonta-ganti empat kali. Pertama saya beli yang termurah, harganya cuma Rp8 ribu. Di market place itu banyak banget dan mudah dijumpai. Gambar-gambarnya menarik hati, karena berwarna-warni dan ada counter-nya juga, jadi sudah berapa kali lompat itu bisa terhitung…. katanya.

Warna-warni, murah hanya Rp8 ribu, tali terlalu ringan

Dibeli deh tuh yang skipping warna-warni. Betul bisa buat lompat tali, tapi talinya terlalu ringan, kurang cocok buat saya. Dan counter-nya tidak berjalan. Masih saya gunakan sambil cari skipping yang lain.

Dapat skipping kedua, warnanya hitam full dari ujung ke ujung. Harganya Rp15 ribu. Talinya tidak terlalu enteng seperti yang pertama. Cocok saya sama yang kedua ini. Tapi dipakai sekitar sebulan sudah putus talinya karena tergesek ujung gagangnya. Karena tali masih panjang, saya masih pertahankan. Satu tangan pegang gagang, satu tangan pegang ujung tali. Agak melintir-melintir sih, tapi ayunannya masih enak. Dua minggu setelahnya, tali ujung satunya lagi putus.

Harga Rp15 ribu, talinya pas (tidak terlalu ringan), tapi mudah putus

Ganti yang ketiga, coba beli yang sederhana saja, yang gagang kayu dan tali putih, harga Rp8 ribu. Eh ternyata kependekan talinya.

Murah hanya Rp8 ribu, tapi tali terlalu pendek

Akhirnya yang keempat nih, paling bagus, masih awet sampai sekarang. Harganya Rp38 ribu. Warnanya hitam, ada tulisan “Sowell” nya di gagang. Ini paling nyaman. Sampai sekarang talinya masih awet. Sudah saya pakai berbulan-bulan. Seminggu sekitar 4-5 kali, sekalinya itu sekitar 10-15 menit untuk seribu lompatan.

Skipping paling awet, harga Rp38 ribu

Nah, untuk sampai ke seribu lompatan ini ada proses. Awalnya 200 lompatan saja sudah ngos-ngosan. Di awal saya target 500 lompatan. Ini susahnya bukan main, karena belum biasa. Hitungannya saya manual tanpa alat, ya dihitung saja dengan mulut berbisik.

Mungkin sekitar 1-2 bulan baru saya terbiasa dengan 500 lompatan. Lalu ditarget jadi seribu lompatan tiap pagi, sambil berjemur. Sama, awalnya berat. Tapi sebulan kemudian sudah biasa. Saat tulisan ini dibuat, saya sudah terbiasa dengan seribu lompatan per hari, dan sudah berjalan sekitar setengah tahun. Biasanya seribu lompatan itu dilalui dalam 10 menit.

Lompatnya itu tidak non-stop. Rata-rata berhenti di 50-100 hitungan. Biasanya terhenti karena tali tersangkut kaki. Tapi kalaupun tidak tersangkut, paling tinggi saya pernah 400 lompatan tanpa henti. Itu betis panas dan agak bergetar.

Suatu kali saya iseng, dari biasanya seribu lompatan, ditingkatkan ke 1.500 lompatan. Ya bisa-bisa saja. Tidak ada keluhan kaki keram di hari itu atau esoknya. Biasa saja. Tapi saya sudah nyaman dengan yang seribu, jadi balik ke seribu lagi.

Apa efeknya? Yang pertama bikin ngantuk hilang, jadi kerja lebih melek. Kedua, entah bagaimana mekanismenya, aura positif muncul. Terlihat dari kesemangatan hari itu, badan terasa lebih ringan. Ketiga, ya tentu saja buat jaga badan tetap sehat kan.

Mataram, Kota Termodern di NTB

Memang apa indikator modern? Buat saya, kalau ada Gojeg atau Grab, itu modern.

Terbang dari Jakarta ke Lombok, turunnya bukan di Mataram. Tapi di daerah Praya, Lombok International Airport (LIA). Sekitar satu jam ke Mataram.

Ini bandara yang menurunkan nama “international” di mata saya. Karena bandaranya kecil. Pesawat yang saya lihat parkir juga sedikit, hanya 4-5 pesawat.

Lombok International Airport

Sempat mampir ke semacam “meja informasi” Tourist Information Center (TIC) NTB yang ada tempat-tempat ambil brosur. Seperti kalau kita ke bank kan suka ada tuh di meja, isinya brosur produk-produk bank. Nah, di meja informasi TIC ini saya berharap bisa ada informasi wisata yang saya dapat. Minimal peta wisata NTB lah. Tapi saya lihat-lihat kok tidak ada. Yang ada brosur iklan wedding package, birthday package, sama iklan hotel.

Kebetulan TIC punya kantor juga di dalam bandara. Saya masuk. Ada yang jaga, anak muda umur sekitar 25. Alhamdulillah baru saya dapat peta wisata NTB. Peta wisata semacam ini lazim ada di TIC dan bisa kita ambil gratis. Walaupun menurut saya, isinya kebanyakan tempat wisata “normal” alias yang memang sudah ramai dan biasa dikunjungi.

Nah terus si anak muda yang jaga saya tanya macam-macam tapi tidak tahu. Ditanya angkutan umum ke Senggigi dari Mataram? Tidak tahu. Ditanya ke Selong Belanak akses angkutan umumnya bagaimana? Tidak tahu. Sarannya selalu mengarahkan ke rental mobil saja. Ditanya tentang Sumbawa dia blas tidak tahu. Bagaimana ini kantor pusat informasi tapi tidak banyak informasi. Tapi lumayan lah dapat peta.

Dari LIA, saya naik transportasi umum yang paling murah: Damri. Yaitu hanya Rp30.000. Dari pool Damri naik Gojeg ke arah Universitas Mataram. Dekat situ, tinggal teman saya namanya Amri.

Agak bimbang awalnya, apa dari bandara LIA langsung ke Senggigi saja ya? Karena ada Damri LIA – Senggigi, tarifnya Rp40.000. Tapi saya mau di kota Mataram dulu untuk gali-gali informasi seputaran Lombok.

Ketemulah saya dengan Amri. Dia besar di Kalimalang juga, Jakarta Timur. Amri kuliah di Universitas Mataram, terus nikah, punya anak. Sekarang jadi orang Mataram dia.

Dulu, Amri sempat jadi semacam guide untuk tamu-tamu yang kebanyakan dari Jakarta. Dia sudah matang untuk tempat wisata di NTB. Pas banget kan. Saya banyak nanya sama Amri. Dia kasih beberapa gambaran tempat wisata di NTB dan transportasinya ke sana. Pesannya, kalau mau ke mana-mana di NTB, sebaiknya pagi. Angkutan umum, apalagi yang antarkota, itu kebanyakan hanya ada pagi.

Alhasil besok paginya saya langsung ngacir. Jangan sampai kehilangan momen. Kan Amri bilang harus berangkat pagi. Rencananya sederhana, hari itu mau main ke pasar, terus ke Pantai Senggigi.

Jogging-lah saya dari arah Universitas Mataram sampai Pasar Kebon Roek. Di situ saya terkaget-kaget dengan banyaknya kuda di pasar!

Kuda itu buat alat transportasi. Di belakang kuda dipasang gerobak untuk mengangkut orang atau barang. Kuda dan gerobaknya ini disebut Cidomo. Ini adalah alat transportasi yang sangat lazim di NTB.

Warna kudanya bermacam, juga dengan warna gerobaknya. Jadi makin memeriahkan warna di pasar. Dia wara-wiri keluar masuk pasar. Ada sekitar seratus Cidomo. Itu yang nongkrong di Pasar Roek saja. Kalau sekujur tubuh Mataram mungkin bisa sampai seribu?

Ibu-ibu di pasar lebih senang naik Cidomo. Lebih praktis dan sesuai kebutuhan. Kalau naik bemo (sebutan “angkot” di Mataram) lama, nunggu penuh dulu baru jalan. Ibu-ibu kan juga mau cepat. Kalau naik Gojeg/Grab juga agak susah kalau ibu-ibu bawaannya banyak. Habis belanja ke pasar kan bawaannya banyak tuh ya. Tidak muat kalau pakai ojeg. Jadi Cidomo memang paling pas.

Tarifnya juga bersahabat. Misalnya dari Pasar Kebon Roek ke Kota Tua Ampenan yang jaraknya sekitar 2km, itu tarifnya hanya Rp5.000 per orang. Kalau bawa barang, tambah Rp5.000 lagi.

Cidomo ngetem di Pasar Kebon Roek

Sempat saya ngobrol dengan salah seorang pengendara Cidomo. Apa sih namanya? Sebut saja Pak Kusir. Saya tanya pendapatannya sehari berapa rata-rata? Pak Kusir jawab sekitar Rp80.000. Dengan uang segitu sudah cukup untuk kehidupan Pak Kusir.

Cidomo ini berkesan rakyat banget. Yang punya ya rakyat biasa, bukan punya korporasi besar. Dia juga tidak ada setoran ke pemilik pasar atau ke “pemilik negara”. Murni uang yang lecek-lecek dari ibu-ibu itu buat kebutuhan hariannya Pak Kusir.

Setelah baca-baca Wikipedia, ternyata cidomo itu singkatan dari cikar, dokar, dan mobil. Cikar itu alat transportasi barang yang ditarik oleh kuda. Dokar adalah alat transportasi orang yang juga ditarik oleh kuda. Nah terus ada mobil, karena cidomo pakai ban mobil bekas (yang bekas itu bannya, bukan mobilnya). Beda dengan delman atau andong di Jawa yang menggunakan roda kayu.

DI kepulauan Gili, cidomo ini jadi alat transportasi utama. Gili tidak memperbolehkan kendaraan mesin yang bersuara, seperti motor, apalagi mobil. Kalau motor listrik masih boleh, karena tidak bersuara. Cidomo lebih boleh lagi, dan memang jadi yang utama.

Yang jadi masalah, cidomo ini jalannya lambat. Dia juga menjadi penyebab kotoran kuda di mana-mana. Tapi yang saya perhatikan di Pasar Kebon Roek mayoritas cidomo sudah ditadahi “kloset” di bagian bokong kudanya. Jadi kapanpun kuda mau BAB, ya langsung ke kloset. Kalau masalah lambat, ya memang cidomo bukan buat perjalanan jauh sih.

Ngomong-ngomong soal bemo tadi, rupanya di Pasar Kebon Roek ada bemo menuju Senggigi! Tanpa banyak pikir, langsung saja saya naik. Tapi sebelumnya sarapan dulu. Nasi bungkus isi telur dan sayuran hanya Rp5.000! Nasinya sedikit sih, tapi buat saya cukup untuk sarapan.

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

Gunung Andong, 2021

Puncak Gunung Andong, sebelum malam

Masih musim Covid sih, pergerakan masih dibatasi memang, tapi rupanya yang lebih kuat adalah niat untuk naik gunung. Saya mengalah dengan niat tersebut.

Bersama komunitas Backpacker Jakarta, kami kumpul di Cawang pada Jumat 12 Februari 2021. Hari itu tanggal merah, jadi tidak perlu buru-buru pulang kantor untuk persiapan. Packing dan logistic sudah siap. Ini kali pertama saya bawa tenda sendiri. Tidak hanya tenda, juga kompor dan alat masak sederhana. Sudah ditambah sleeping bag dan jaket tebal, semua masuk dalam carrier 60L.

Itu carrier sejarahnya lumayan panjang. Saya beli sekitar 2010 waktu mendaki gunung pertama: Ceremai. Sampai sekarang masih awet, merk nya Avtech. Seingat saya itu produk Indonesia yang dulu berani kasih garansi jahit gratis kalau ada yang sobek.

Peta jalur pendakian Gunung Andong

Kumpul jam 10 malam, jalan jam 11 malam. Sabtu menjelang siang sampai di Rest Area, basecamp Sawit Andong, Magelang. Di sini rame banget. Rumah-rumah warga dijadikan basecamp untuk persiapan naik atau tempat istirahat. Tentu tidak ada kasur. Hanya ruangan beratap, itu sudah sangat berharga. Banyak WC umum dan banyak tempat makan. Parkir juga mudah.

Syarat dan Ketentuan Pendakian New Normal

Suasana di Sawit ini seperti memang sudah siap untuk menerima ratusan pendaki. Penduduknya ramah. Tentu bagus juga untuk ekonomi mereka. Banyak pendaki, artinya banyak uang yang akan dibelanjakan.

Bagusnya lagi, penduduk lokal tidak meninggikan harga. Misalnya nih ya, saya makan nasi rames ayam hanya Rp12.000. Ayamnya betulan ayam 1 potong, bukan hanya ayam suir. Rasanya nikmat. Setelah turun gunung esoknya malah saya makan di tempat yang sama dengan menu yang sama.

Menu di salah satu tempat makan
Nasi Rames Ayam Rp12.000

Setelah dzuhur, baru kami mulai naik. Kami ber-tiga puluh. Satu bus, semua dari Jakarta. Teman saya bilang, Gunung Andong kecil-kecil cabe rawit. Karena memang jaraknya sampai puncak tidak terlalu jauh, tapi naik terus. Hampir tidak ada bonus alias jalan datar.

Mulai perjalanan dari Sawit
Pos 1 Watu Pocong

Dari rombongan itu, saya termasuk sekelompok orang yang jalan paling depan. Dari basecamp sampai puncak butuh waktu 1 jam 40 menit. Turunnya 55 menit.

Sampai puncak, hanya ada sekitar 3 tenda. Kebetulan pas hujan turun. Kebetulan juga, ada relasi komunitas yang sudah pasang tenda besar di malam sebelumnya, dan belum dibongkar. Kita langsung masuk itu tenda besar, menunggu hujan reda. Beberapa pendaki yang lain, langsung buka tenda sambil hujan-hujanan. Beberapa lagi langsung ke warung, cari makan sekaligus berteduh.

Warung? Betul. Ada dua. Itu ciri khas Andong banget.

Ciri khas yang lain? Jumlah tendanya, wow. Mungkin kalau dihitung, 50 tenda lebih. Tendanya itu mepet-mepet. Tali tenda malang melintang. Kalau tidak hati-hati bisa kesandung.

Gunung Andong terkenal dengan keramaiannya

Air relatif gampang diakses dari puncak. Yang paling gampang, ya beli ke warung. Kalau mau gratisan, bisa turun ke mata air yang sudah dibuatkan keran, mungkin 15 menit perjalanan dari puncak.

Rasanya agak janggal buat saya, kalau di puncak gunung itu ketemu banyak orang. Biasanya kita ke gunung justru menghindari kerumunan. Itu sulit didapat di Andong.

Puncak Andong

Paginya, kami disuguhkan panorama tembok. Awan di mana-mana. Matahari muncul tahu-tahu sudah tinggi. Sesekali awan hilang. Itu momen nikmat karena beberapa gunung bisa terlihat dari puncak Andong. Juga kerumunan rumah penduduk di kaki gunung.

Ingin rasanya bisa kembali ke puncak Andong, tapi hanya ada tenda saya di sana, sampai pagi. Mungkin gak ya?

Zoom Project

Dari Kick Off sampai Go Live, malah sampai support Go Live, semua pakai Zoom. Kenal dengan puluhan rekan kerja baru, lebih tepatnya kenal suara dan sedikit karakter, tanpa tahu wajahnya. Kalau di truk antarkota kan suka ada tuh: ingat rasa, lupa nama. Ya mirip-mirip gitu lah.

Sebelum lebih jauh, tulisan ini mungkin agak sulit dipahami untuk yang tidak mengenal SAP. Tapi kalau mau baca, ya masak dilarang. Kira-kira begini, SAP itu system informasi yang digunakan perusahaan, di segala lini: procure to pay, financial report, dst… Nah, kerjaan saya adalah sebagai implementor SAP ini, tepatnya di modul Material Management (MM).

Projectnya terpecah dua. Sebut saja lah ya, semoga gak masalah: Protelindo dan iForte (satu grup). Protelindo mau migrasi SAP dari ECC ke S/4HANA. Gampangnya, mau pindah ke versi SAP yang lebih baru. Dilanjutkan Roll Out iForte, migrasi dari system lama (non-SAP) ke SAP, gabung server sama S/4HANA nya Protelindo yang direncanakan Go Live duluan. Go Live itu adalah waktu ketika system sudah mulai digunakan, sudah live.

Tentu saya tidak akan bahas bisnis proses di dalamnya. Tidak etis lah ya. Yang akan dibahas soal keunikan project yang saya hadapi. Pertama karena ini project pertama saya migrasi dengan mengharuskan bawa history data (biasanya migrasi putus). Kedua karena ini project pertama saya yang sama sekali tidak ketemu user. Ketemu sih, hanya sekali dan hanya ke beberapa user di Sentul.

Soal pertama, bawa data history, jadi kita menggunakan tools SAP untuk proses migrasi ini. Komandonya di Basis, kita functional bisa dibilang hanya support Basis. Functional menyelesaikan error yang ditemukan Basis. Kalau di modul MM, tantangan paling besar ada di Business Partner (BP). Semua vendor/customer harus dibuat BP nya dulu, supaya migrasi bisa jalan. Agak jadi lebih panjang urusannya, karena segala custom yang sudah ditanam di vendor data, itu hilang, harus bikin baru. Juga custom yang menggunakan tcode atau table obsolete, nah itu harus betul-betul dicek. LSMW yang recording ke tcode obsolete, sudah pasti bubar. Aduh, ini bahasanya teknis banget ya. Maaf.

Soal kedua, semua koordinasi dilakukan lewat Zoom. Awalnya canggung karena tidak tahu siapa user yang dihadapi. Kami terbiasa tidak buka video waktu meeting. Jadi betul-betul hanya bisa dengar suara saja. Itu dimulai sejak April 2020, ketika awal-awal musimnya WFH.

Zoom Meeting

Ketika project berakhir di Februari 2021, saya bisa kenal puluhan user dari suaranya saja. Warna dan alunan suaranya, itu saya bisa kenali. Jadi kalau suatu waktu saya main ke GI – Grand Indonesia (sebelahan sama kantornya iForte), terus duduk ngopi, bisa jadi ada pertemuan dadakan yang langsung akrab. Yang tadi saya bilang di depan: ingat rasa, lupa nama.

Kondisinya mungkin akan begini: sayup-sayup saya dengar suaranya familiar, perasaan pernah kenal suara ini deh. Terus saya lihat orangnya, dia juga mulai curi-curi pandang, mulai coba konsentrasi dengan suaranya lagi, iya nih kayaknya si anu deh. Dia juga mulai merasa. Salah satunya akan menyapa, terus langsung akrab, duduk semeja, ngobrol 2 jam.

Sepanjang project berjalan, saya sering presentasi, baik dengan Power Point atau cerita soal SAP dan tanya jawab. Memalukan, kalau lagi asik presentasi eh jaringan putus. Saya bisa kelabakan dan buru-buru supaya bisa masuk jaringan lagi. Peserta yang hadir juga bingung mau ngapain, karena memang harusnya saya presentasi dulu, atau kasih guide line dulu, baru diskusi dimulai.

Lah ini baru presentasi saja sudah putus. Itu pernah terjadi. Untungnya bukan di awal-awal project. Kejadiannya di tengah project saat saya sudah mengenal banyak user. Jadi gak sungkan-sungkan amat. Tidak terbayang kalau itu kejadian waktu overview modul saat mau mulai Blueprint, bisa bubar.

Pernah juga, ini kondisinya lagi santai, ada issue system tapi minor, dan pesertanya juga sudah mayoritas saya kenal dan bisa diajak bercanda. Nah itu paket data saya habis. Langsung putus. Gelagapanlah isi pulsa dulu. Habis isi pulsa, beli paket dulu, baru masuk lagi.

Kondisi serupa sering juga terjadi di semua pihak. Lagi asik-asik diskusi, yang saya ajak diskusi suaranya hilang. Ya tungguin dulu sampai dia balik lagi. Atau ada back sound-nya: tukang bakso, tukang roti, tukang sampah, sampai tak tok tak tok bunyi paku dipalu. Yang saya paling senang itu suara burung. Kan burung peliharaan tidak bisa dibius waktu meeting. Tapi itu bagus.

Ada juga cerita begini…. Waktu proses Blueprint kan itu intens banget diskusinya. Sekitar 3 minggu kita meeting hampir selalu dari pagi sampai sore, kadang sampai malam. Di sini sering ada partisipan bayangan. Disebut “bayangan” bukan karena dia menysup, namun karena dia kelihatan ada di room meeting, tapi waktu dipanggil tidak menyahut. Dipanggil lagi, masih diam. Ada tapi tiada. Sampai akhir meeting kita sudah pada leave, dia masih di room. Mungkin sampai besoknya…

Kalau peserta kelupaan matikan suara dan video, itu lumayan sering. Ada yang kedengeran waktu lagi nego. Ada yang lagi marahin istrinya, “Ini lagi meeting,” pakai nada tinggi. Ada yang gak pakai baju tapi video nyala. Mau ketawa gak enak.

Enaknya pakai Zoom itu ada breakout room, tapi ini kelihatannya versi berbayarnya deh. Jadi dalam satu link meeting, di dalamnya ada banyak room lagi, lebih dari 20 room. Kita bisa janjian di room mana. Kalau modul MM biasanya di Room 3. Host atau Co-Host bisa narik peserta dari satu room ke room lain. Jadi bisa tiba-tiba ada yang ngomong, “Lah kok gw ada di sini.” Karena kita butuh bapak tertentu, kita bisa culik lewat Host.

Breakout Rooms

Project yang dijadwalkan Go Live 4 Januari dan support sampai mid Februari, itu tercapai loh. Awalnya kita WFH agak ragu, bisa gak ya project tetap jalan kondisi Covid gini. Nyatanya bisa dan Go Live tepat waktu.

Kalau saya ditanya untuk berikutnya, akan lebih efektif off site apa on site? Ya off site. Bahkan kalaupun on site, rasanya akan lebih nyaman pakai Zoom saja meetingnya. Kalau temu muka kan harus berantem dulu buat dapat ruangan. Kalau ada yang posisinya lagi gak di kantor, satu kerepotan lagi nambah, masak meetingnya batal?

Mungkin kelemahannya, bonding dengan user jadi tidak serekat kalau sering temu muka. Ini juga plus minus sih. Kalau bonding terlalu kuat, biasanya kita akan support tanpa batas waktu hehe.

Pengalaman menarik. Walau WFH, project bisa jalan lancar. Bisa buat cerita ke anak cucu.

Resensi: Merantau ke Deli

Yang saya tahu, Deli terkenal dengan tembakaunya. Tapi Buya Hamka meluaskan pengetahuan soal Deli, tidak hanya soal perkebunan tetapi juga soal konflik-konflik sosial di dalamnya. Rasa-rasanya, Deli adalah sesuatu yang besar pada zamannya. Kota ini menjadi magnet bagi banyak pemuda untuk mencari kerja.

Entah disengaja atau tidak, belakangan saya juga membaca buku “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar. Di sana juga diceritakan, tokoh Aminuddin meninggalkan Mariamin dengan mengejar mimpinya ke Deli. Seakan-akan Deli dulu mirp Jakarta sekarang dengan ekonominya yang bertumbuh pesat dan menggoda.

Kembali ke novel dari Hamka ini. Sepertinya Hamka ingin mendobrak beberapa budaya Minang yang tidak sejalan dengan perenungannya. Terlihat Hamka menentang status Bapak yang dalam budaya minang mempunyai posisi tidak lebih berhak terhadap anaknya, ketimbang “mamak” nya. Hamka tentu menentang bagaimana budaya Minang tidak menganggap suku lain mempunyai silsilah yang jelas. Hamka menentang budaya orang Minang harus punya istri orang Minang. Boleh punya istri di luar Minang, tetapi harus ada minimal 1 istri Minang. Itu ditentangnya.

Konflik yang muncul dari budaya-budaya tersebut dimunculkan dalam buku “Merantau ke Deli” dan diposisikan Hamka sebagai budaya yang buruk dan menjerumuskan penganutnya. Yang terjerumus adalah Leman, seorang perantau dari Minang yang berdagang di Deli.

Perdagangannya berjalan lancar, tetapi dengan skala yang biasa juga. Leman lantas jatuh hati pada Poniem, semacam gundik dari salah satu mandor di Deli. Leman mengajak Poniem kawin lari. Poniem adalah perantau dari Jawa dan tidak memiliki saudara di Deli. Poniem setuju untuk kawin lari.

Dengan perhiasan emasnya, Poniem ikut memajukan usaha perdagangan Leman. Mereka mendapatkan anak buah yang patuh dan amanah bernama Suyono, yang kelak menjadi suami kedua Poniem.

Leman yang perdagangannya semakin maju, mulai dilirik oleh orang-orang sesukunya. Banyak yang meminta tolong Leman, lalu ditolongnya. Namun dalam hati mereka berucap, “Sayang ya Leman belum punya istri yang sesuku.” Lantas mereka berupa daya agar Leman tertarik dengan gadis sesukunya.

Terjadilah apa yang terjadi: Leman menikah dengan gadis sesukunya bernama Mariatun, lebih muda dan lebih cantik dari Poniem. Istri muda merasa lebih berhak terhadap suami dibanding istri tua, maka ia mulai seenaknya. Konflik mulai membesar. Mariatun menghardik Poniem dan menganggapnya babu. Poniem yang sudah mengalah, muncullah amarahnya. Konflik tidak bisa dihindari lagi. Leman terpaksa memilih salah satu, tentu saja Mariatun yang dipilih.

Dengan kasar, Leman mengusir Poniem. Suyono yang juga dari suku Jawa merasa iba dan memutuskan ikut menemani Poniem. Mereka berdua berdagang di Medan lalu memutuskan menikah. Usahanya berjalan dengan sangat baik dan menghasilkan banyak harta.

Sebaliknya, Leman semakin terpuruk karena tidak ada lagi Suyono yang selama ini menjadi tangan kanannya. Usahanya meredup. Orang yang dulunya bekerja untuknya, sekarang Leman malah bekerja untuk orang itu. Dunia berbalik.

Namun Poniem dan Suyono tidak menaruh dendam, bahkan belas kasih. Mereka ingin membantu Leman. Tapi Leman terlanjur malu dengan sikapnya dulu mengusir Poniem. Leman kembali ke kampung lalu bertani, meninggalkan perdagangannya yang semakin layu.

Resensi: Filosofi Teras

Tidak bisa dan tidak perlu terlalu memikirikan apa yang orang lain pikirkan, sederhana di kalimat, tapi agak sulit di prakteknya ya, setidaknya buat saya. Agak mirip sama pernyataan rekan kerja saya dulu, dia sering bilang gini: manage your expectation. Hampir tiap minggu, dalam meeting-meeting formal, dia sering mengingatkan manage your expectation dan lebih mengarahkan ke munculkan kaca besar dan lihat apa yang ada dalam kendali kita dan bisa kita perbaiki. Tujuannya sederhana, biar gak kesel-kesel amat sama kondisi tidak menyenangkan yang muncul.

Kelihatannya itu deh satu paragraf yang buat saya paling nempel dari baca buku ini, buku filsafat popular pertama buat saya, yang kebetulan langsung masuk dan nyambung. Walau terkadang ada beberapa bagian yang saya kurang setuju. Saya tulis resensi ini langsung setelah bukunya habis terbaca.

Kembali ke paragraph pertama tadi. Itu adalah salah satu prinsip dalam filosofi teras: dikotomi kendali. Semua hal bisa dibagi dua, yang satu bisa kita kendalikan, yang satu lagi tidak. Fokus saja ke yang bisa kita kendalikan. Kalau yang tidak bisa kita kendalikan atau disebut indifferent, ya netral saja. Tidak perlu diambil pusing. Indifferent itu artinya gak ada bedanya. Harus dibikin begitu, justru di situ titik tekannya. Jangan malah yang indifferent itu jadi indicator bahagianya kita.

Misal, kita bahagia kalau karya kita diapresiasi. Loh harusnya apresiasi orang itu gak ngaruh buat kita, indifferent, gak ada bedanya. Mau diapresiasi kek, mau enggak, berkarya ya berkarya saja. Harusnya yang indifferent begini jangan jadi acuan kebahagiaan kita.

Ada cerita menarik tentang seorang tawanan perang Vietnam, namanya James Stockdale. Dia pilot yang sudah 150 kali melakukan misi terbang di wilayah musuh di Vietnam. Suatu waktu, pesawatnya kena tembak dan jatuh. Stockdale selamat tetapi tertangkap menjadi tawanan perang di Hanoi. Selama tujuh tahun dia disiksa, dipukuli. Empat tahun di antaranya, dia masuk dalam sel isolasi, jadi bisa dibilang dibuat tidak bisa bersosialisasi. Baru setelah itu ada misi penyelamatan tawanan perang, Stockdale kembali ke Amerika dengan selamat.

Apa yang membuat Stockdale bisa bertahan? Katanya dia bersyukur sebelumnya mempelajari stoisisme, salah satu aliran filsafat, ya si filosofi teras ini. Henry Menampiring, penulis buku ini, merasa judul “Filosofi Teras” lebih membumi dibanding “Stoisisme”, tapi ya maksudnya sama. Jadi si Stockdale ini menerapkan Stoisisme ketika menjadi tawanan. Dia fokus pada apa yang bisa dia lakukan selama jadi tawanan dibanding menyesali nasib. Bahkan Stockdale ikut menguatkan teman-temannya sesama tawanan perang.

Memisahkan antara mana yang Indifferent mana yang bukan, ini memang perlu belajar, perlu dibiasakan. Perlu memasukkan nalar dalam bertindak. Misalnya, perlu marah gak sih karena ada rekan kerja yang menyebalkan? Atau itu memang natural, setiap orang ada yang bawaannya menyenangkan ada yang tidak, begitu? Kalau itu natural, bukannya lebih baik kita yang kendalikan ekspektasi kita yang tadinya berharap semua rekan kerja baik menjadi ada yang baik dan ada yang buruk?

Malahan, dalam stoisisme ada prinsip yang namanya Premeditatio Malorum. Ini sebetulnya mirip juga dengan prinsip “manage your expectation” nya teman saya itu. Contohnya, kalau kita sering kesal karena pesawat delay, ya sudah sejak awal kita masukkan itu dalam ekspektasi kita, jadi ketika pesawat betul-betul telat, kita jadi tidak terlalu kesal. Nyerempet ke negative thinking, tapi bukan, ini lebih mirip ke prediksi hal terburuk, supaya tidak terlalu kecewa.

Itu hanya beberapa prinsip, masih banyak prinsip dan contoh-contoh kasus dipaparkan di buku Filosofi Teras. Ohya, kenapa disebut Filosofi Teras? Karena dulu Zeno, yang mengajarkan aliran ini, sering “berceramah” di teras berpilar (bahasa Yunaninya Stoa, makanya disebut aliran Stoa atau Stoisisme) alun-alun Athena.

Resensi: Cinta itu Luka

Apa karena Eka Kurniawan itu lulusan FIlsafat UGM yah? Sehingga tulisannya terasa penuh dan dalam. Tentu, semakin banyak isi kepala, semakin banyak yang bisa dituangkan.

Eka menulis ini pada 2004, ketika usianya 29 tahun. Kalau saya kulik, awalnya penjualan buku Cinta Itu Luka itu biasa saja. Biasa banget. Setelah diterjemahkan ke beberapa bahasa, baru penjualannya drastis naik, sampai mendapatkan beragam penghargaan. Menurut saya, itu layak sekali.

Sebetulnya ini cerita sebuah keluarga dengan konfliknya masing-masing, dengan ironinya yang juga berjalan di jalurnya sendiri-sendiri, terkadang bertabrakan. Tokoh sentralnya berpindah-pindah. Awalnya Dewi Ayu, seorang gadis Indo (Belanda – Sunda) yang terpaksa menjadi pelacur karena posisinya sebagai tawanan perang Jepang.

Dari hasilnya melacur, Dewi Ayu punya 4 anak. Yang pertama sampai ketiga, semua cantik dan menjadi primadona di daerahnya. Dewi Ayu merasa, mempunyai wajah cantik adalah suatu kesengsaraan, lantas berdoa anak berikutnya jelek sejelek-jeleknya. Betul, anak keempat lahir sangat jelek, bahkan orang tidak menyangka bahwa anak itu adalah anak manusia.

Setiap anak punya kisahnya sendiri, punya cintanya sendiri. Hubungan cinta anak-anak Dewi Ayu, diacak-acak oleh Eka Kurniawan sehingga menjadi begitu aneh dan tidak bisa ditebak. Sebetulnya bukan hanya kisah cinta anak-anaknya, tapi semua tokoh diacak-acak kisah cintanya oleh Eka. Termasuk orang tuanya yang mempunyai bapak yang sama, cinta kakeknya, bahkan penggali kubur juga diacak-acak cintanya.

Emosi daiduk-aduk

Kadang ketemu dengan keanehan ekstrim seperti orang yang berperilaku seperti anjing, sampai minum air got seperti anjing dan kencing mengangkat satu kakinya. Kadang ketemu dengan sadisme ekstrim seperti orang yang membunuh pencintanya lalu dibuang ke tengah laut, membongkar kuburan orang yang dicintainya lalu mengikat batu di kaki si mayat lantas menenggelamkannya ke tengah laut.

Kadang ketemu dengan kisah mistis, roh yang mati tak tenang mengganggu sebuah keluarga dengan memisah-misahkan mereka semua dengan orang yang dicintanya.

Kadang ketemu kesedihan mendalam seperti seorang yang sendiri puluhan tahun, menemui jodohnya di tengah kuburan, lalu menikah, hamil. Sudah hampir lahir, sang istri terjatuh, mati. Sang suami yang penggali kubur, mengubur istri dan calon anaknya sendirian sambil mengalirkan tangis yang begitu haru.

Kesedihan-kesedihan disuguhkan berulang di banyak kisah, tanpa membuatnya menjadi hambar. Karena kesedihan berikutnya adalah kesedihan jenis yang berbeda dari sebelumnya.

Banyak sekali topik yang disentuh

Yang terasa paling dalam adalah soal komunis. Kliwon adalah tokoh komunis, yang di kemudian hari menyematkan “Kamerad” di depan namanya: Kamerad Kliwon. Kamerad itu lazim digunakan sebagai penggilan sesama komunis.

Dia anak seorang komunis, yang kemudian juga menjadi komunis. Dia yang paling tampan dan cerdas di daerahnya. Banyaknya simpatisan komunis yang masuk dalam partai adalah karena pesona Kliwon.

Pemberontakan komunis pada tahun 1965 terjadi. Ribuan anggota komunis anggota Kliwon mati terbunuh dan menghantui daerah itu. Penggali kubur tidak bisa istirahat karena terlalu banyak mayat yang harus dikubur, lalu digalilah kuburan masal. Lalu orang mulai malas memindahkan mayat ke pekuburan karena terlalu banyak dan selalu bertambah. Lalu mayat membusuk dan membaui yang hidup. Lalu mereka inisiatif mengubur sekenanya saja asalkan bau mayat hilang. Lalu mereka bangkit dan menghantui semua orang.

Kamerad Kliwon tidak mati bersama teman-temannya yang dibantai. Ia dipenjara. Sekembalinya dari penjara, ia senang ketika almarhum teman-temannya mengajak ngobrol. Orang merasa dihantui, Kliwon merasa ditemani. Itu semua teman-temannya.

Setelah komunis, topik pelacuran adalah yang juga kuat. Jepang membuat rumah prostitusi khusus untuk para pejabat perang. Saat itu Indonesia ada dalam jajahan Jepang. Terkisah Mama Kalong yang begitu memanjakan para pelacurnya dengan kehidupan nyaman dan makanan enak. Para pelacur jadi senang bekerja dengan Mama Kalong.

Penokohannya dalam dengan pembedahan satu per satu.

Awalnya terlihat tokoh utama adalah Dewi Ayu. Lalu sedikit demi sedikit berpindah ke tokoh lain, orang tuanya, kakek neneknya. Lantas masuk ke cerita anak-anaknya. Setiap anak punya kisah cinta yang beragam. Setiap ragam adalah ekstrim.

Dua dari tiga menantu Dewi Ayu pernah bersenggama dengan Dewi Ayu, karena memang Dewi Ayu adalah pelacur paling terkenal. Orang mencarinya, memburunya, dan ingin tidur dengan Dewi Ayu.

Penokohan tidak hanya sampai anak-anak Dewi Ayu, tetapi sampai cucu-cucunya. Bagaimana Ai, Krisan, dan Rengganis, para cucu Dewi Ayu, menjalankan cinta segitiga maut. Rengganis suka pada Krisan, tetapi Krisan suka pada Ai.

Krisan, yang tahu Rengganis suka padanya, memanfaatkan tubuh Rengganis yang cantik. Rengganis diperkosa Krisan sampai hamil. Tidak ada yang tahu itu. Setelah lahir, Rengganis membawa anaknya ke hutan yang kemudian dimakan anjing hutan. Rengganis kembali ke Krisan, tetapi Krisan membunuhnya dengan sopan. Rengganis mati, Ai turut sedih atas kematian Rengganis, lantas sakit lalu ikut mati. Krisan sedih, lalu berkehendak menjalin hubungan dengan wanita paling jelek, tantenya sendiri, anak Dewi Ayu yang keempat.

Konflik di banyak sudut dan di banyak hubungan antar tokoh.

Salah satu yang mengharukan adalah ketika Kamerad Kliwon mendengar kabar kekasihnya Alamanda hendak menikah dengan Shodanco. Janji setianya yang dulu hendak bersama selamanya seakan dihempas begitu saja. Dengan marah, Kliwon menebang pohon tempat dia dulu berjanji bertemu kembali dengan Alamanda, lalu membawa potongan-potongan kayu itu ke depan Alamanda untuk kayu bakar pada pesta pernikahannya.

Kliwon malah menikah dengan adiknya Alamanda, bernama Adinda. Tetapi cintanya tetap pada Alamanda. Sampai suatu ketika Kliwon nyeleweng dengan Alamanda, lalu Adinda mengetahuinya. Kliwon gantung diri karena malu dengan sikapnya berkhianat pada Adinda.

Resensi: Sengsara Membawa Nikmat

Terbilang buku jadul karena pertama kali dicetak pada 1929. Terlihat jelas lah perbedaan bahasa yang digunakan penulis dulu dan sekarang yang tersekat hampir 1 abad. Buku-buku jadul bisa membuka wawasan tentang apa yang terjadi saat buku itu dibuat, ya budaya, ya sosial kemasyarakatan, sampai perlawanan yang muncul di dalam cerita sangat mungkin memang terjadi juga dulu.

Kalau kata Seno Gumira, ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara. Mungkin selaras dengan para penulis buku satu abad lalu, cara melawan budaya atau aturan yang timpang atau apapun yang hendak dilawan, ya dengan sastra. Itu yang dilakukan Tulis Sutan Sati.

Buku karyanya, Sengsara Membawa Nikmat, bahkan sampai masuk serial TVRI yang popular pada zamannya. Masih ada loh filmnya di Youtube.

Prediksi nih ya, kenapa dari sekian banyak buku jadul yang bagus-bagus dan masih beredar sampai sekarang, Sengsara Memba Nikmat yang dipilih untuk difilmkan? Menurut saya, karena endingnya yang sangat nikmat. Orang Indonesia kan suka dengan happy ending.

Eh tapi tidak juga yah.. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk itu endingnya sedih, tapi ada filmnya, lebih modern lagi.

Jadi begini ringkasannya (Sengsara Membaw Nikmat, bukan Tenggelamnya Kapal Van der Wijk):

Midun yang jadi tokoh utama, punya perangai yang baik, jago silat, menjadi tokoh protagonis. Lawannya Kacak, perangainya sangat berkebalikan, sombong, belagu, tapi punya harta dan kuasa di kampungnya. Beberapa kejadian membuat Kacak tersinggung dan iri kepada Midun. Misal, waktu Midun minta tolong orang kampung bantu panen sawahnya, ramai yang datang. Tapi waktu Kacak yang minta, sedikit yang datang. Dendam kesumat itu bertumpuk-tumpuk, menunggu kesempatan untuk dilampiaskan.

Suatu ketika, salah satu saudara Kacak yang gila, lepas dari pengawasan keluarganya lantas mengamuk di pasar membawa pisau. Jika dibiarkan, pisau tersebut bisa meneteskan banyak darah. Midun turun mengamankan orang gila tersebut. Namun bukan terima kasih yang didapat, malah terkena stigma Midun “mengganggu” keluarga Kacak. Lantas dihukum beberapa hari membersihkan lingkungan rumah Kacak, dengan Kacak yang menjadi mandor.

Orang kampung yang tahu kejadian orang gila kabur itu, tentu sakit hati, bagaimana bisa orang baik yang hendak menyelamatkan orang-orang pasar dari kegilaan saudara Kacak, malah dihukum. Mereka hendak menggantikan Midun sebagai terhukum, tapi tidak dibolehkan.

Beberapa kejadian lagi menyudutkan posisi Midun di kampung. Tiadanya kuasa, membuat posisinya lemah. Sampai Midun dipenjara. Salahnya apa? Ada-ada sajalah fitnahan Kacak.

Lepas dari penjara, Midun merasa tidak akan aman kalau kembali ke kampungnya, karena dendam kesumat Kacak belumlah padam. Midun berangkat ke Jakarta. Berdagang, jatuh ditipu oleh pemberi modal.

Sampai akhirnya Midun dihadapkan dengan kejadian yang memposisikannya harus menyelamatkan seorang bocah. Ayah dari bocah tersebut ternyata punya kuasa yang super besar, lalu menghadiahkan pekerjaan pada Midun. Kondisi mulai berbalik.

Bagusnya kinerja Midun membuatnya cepat naik. Dia menikah dan punya anak, hidup berkecukupan, kalau tidak boleh dibilang berlebih.

Kampung tetaplah tempat yang dirindukan untuk ditinggali. Midun minta dimutasi ke kampungnya. Permintaan tersebut disetujui. Midun menjadi salah satu pembesar di kampungnya. Begitu besarnya jabatan tersebut, sampai-sampai Kacak menjadi bawahannya. Kacak tentu sangat malu. Belakangan Kacak terbukti menggelapkan uang negara, lalu dipenjara. Midun keluar dari kampungnya dengan hina dan kembali dengan kuasa yang sangat besar. Perangainya, kejagosilatannya, sikap baiknya, tentu membuat orang kampung senang dipimpin olehnya. Endingnya sangat bagus, sangat nikmat.

Resensi: Ronggeng Dukuh Paruk

Banyak ironi terjadi di Indonesia. Terkadang ironi itu begitu jelas mencuat dan lazim orang berkata sama-sama tahu untuk soal itu. Ada juga ironi yang terselubung, atau diselubung, atau menyelubungkan diri. Ironi dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk termasuk dalam kategori yang diselubung, atau setidaknya terselubung.

Sering saya dengar atau baca frase “di-PKI-kan”. Ini terutama soal konflik PKI tahun 1965. Dalam novel karya Ahmad Tohari ini, definisi di-PKI-kan menjadi begitu telanjang.

Srintil adalah tokoh utama yang merupakah peronggeng dari Dukuh Paruk. Label peronggeng punya makna positif sekaligus negatif. Positifnya ya bisa sebagai penghibur masyarakat dengan tarian-tariannya. Negatifnya, terkadang tarian tersebut begitu binal, bahkan dekat sekali dengan makna sundal.

Bahwa kesundalan Srintil menjadi sebuah kebanggaan bagi Dukuh Paruk, itu merupakan ironi tersendiri. Namun ironi yang terkuat adalah keterlibatan Srintil dalam menari di acara-acara yang mengundangnya, yang ternyata terafiliasi kuat dengan gerakan PKI.

Karena tidak bisa membaca, dan wawasan yang begitu rendah, Srintil jauh sekali dari kesadaran gerakan seperti itu. Ia hanya meronggeng. Walaupun setelah acara selesai terasa cukup aneh ketika massa bergerak ramai memanen padi yang bukan miliknya. Tapi Srintil hanya tahu meronggeng.

Terjadilah peristiwa Lubang Buaya. Nama Srintil masuk daftar hitam, lalu dipenjara selama dua tahun. Ia baru sadar gerakan apa yang ada dalam acara-acara yang ia ronggengkan selama ini.

Lepas dari penjara, cap bekas PKI masih ada, dan akan terus ada. Orang yang biasa mendatangi Dukuh Paruk untuk mendapatkan “jasa” Srintil, tidak berani lagi, takut dicap berafiliasi dengan PKI. Toh Srintil juga tidak mau lagi ada dalam dunia kesundalannya yang lalu.

Selain mengungkapkan ironi soal PKI tsb, Ahmad Tohari membumbui novel ini dengan cerita romansa yang sangat kuat, bahkan membuat gila. Cinta Srintil yang selalu terpaut ke Rasus sempat bisa dialihkannya ke bos proyek dari Jakarta bernama Bajus. Namun bunga dalam hati Srintil layu sekejap dengan apa yang ada dalam hati Bajus.

Novel ini menambah panjang list novel yang berakhir dengan tragedi, menyesakkan dada pembaca, tetapi tetap menjadi karya abadi.

ODT Gunung Munara

Salah satu opsi buat yang di Jabodetabek, orang kantoran, dan punya waktu libur Sabtu Minggu saja: Gunung Munara. Lokasinya di Rumpin, Bogor. Kalau lihat review di Youtube, banyak kok yang naik kendaraan pribadi dari rumahnya di Jabodetabek ke sini. Parkiran motor dan mobil luas.

Kalau saya, ke sana ikutan trip-nya Backpacker Jakarta (BPJ), yaitu pada Sabtu 29 Agustus 2020. Awalnya trip ini mau bulan April 2020. Karena lagi hangat-hangatnya Corona, semua trip dibatalkan. Baru dibuka lagi waktu PSBB transisi.

Sabtu pagi saya sudah di Stasiun Bogor. Kita kumpul dekat KFC. Satu per satu berdatangan. Total rombongan sepenuh 2 angkot. Walaupun “jaga jarak” sulit dilakukan di dalam angkot, tapi semua diinstruksikan tetap pakai masker dan bawa hand sanitizer sendiri.

Sudah saya tahu, bahwa banyak yang meragukan sebutan “gunung” untuk Munara, karena ketinggiannya yang mungkin dianggap belum cukup. Kalau saya sih karena rindu naik gunung dan mau sekadar manasin kaki saja.

Parkir angkot di pemukiman warga, dekat pos pendaftaran. Lokasinya betul-betul di tengah pemukiman warga. Banyak warung yang jual penganan. Ada mushola. Bahkan dekat dengan jalur angkot, tapi bukan yang ke Stasiun Bogor.

Kami mulai mendaki itu jam 10. Di awal jalur, kita melewati jembatan bambu. Ada semacam petugas yang meminta robekan karcis masuk, lalu meminta sumbangan seikhlasnya. Lalu ketemu warung. Sedikit-sedikit warung. Total nih ya, dari perjalanan sekitar 2 jam sampai puncak, itu ada lebih dari 10 warung!

Warungnya ada yang berbentuk gubuk selayaknya warung yang ada di gunung-gunung. Ada juga yang hanya sekadar lapak. Kebanyakan berjualan makanan dan minuman. Makanannya tidak jauh-jauh dari mie instan dengan telur, gorengan, dan makanan kecil lainnya. Ada juga yang berjualan buah hasil bumi setempat seperti pisang dan nangka.

Kekhasan gunung ini, ada beberapa. Pertama itu tadi, jumlah warung yang banyak.

Kedua, banyak “sumbangan seikhlasnya” yang sempat kami obrolkan di bawah ke pemilik warung, yang katanya itu tidak dipaksakan.

Ketiga, banyak nyamuk.

Keempat, terlihat banyak batu-batu besar. Sebesar rumah, atau lebih. Ada satu puncak yang namanya Batu Belah. Ya memang terlihat dari jauh seperti batu terbelah. Dan setelah didekati, memang tampak batu setinggi lebih dari 10 meter yang terbelah menghasilkan celah. Orang bisa berjalan di celah tersebut.

Kelima, terdapat tempat yang katanya adalah petilasan Soekarno. Hanya cerita yang saya dapat. Lokasi tepatnya kurang paham.

Sebelum puncak, terdapat warung yang fasilitasnya lebih lengkap: ada toilet dan ada mushola.

Sampai puncak, ada warung yang di depannya terdapat kursi santai, panjang, terbuat dari bambu. Kursi tersebut menghadap ke pemandangan alam. Sambil makan mie rebus telur seharga Rp10 ribu, saya duduk di situ memandang ke kejauhan di bawah.

Pas adzan maghrib, kami sampai di Stasiun Bogor lagi. Bogor masuk dalam kategori zona merah. Tetokoan diharuskan tutup pukul 6 sore. Tadinya mau beli Kue Talas Sangkuriang yang ada di stasiun, batal sudah.