Atambua: Batal Cap Passport

Motaain, Indonesia. Motaain adalah nama desa yang berbatasan dengan Timor Leste

Passport yang ada di tas saya, yang sejak awal diniatkan mau dapat cap dari Atambua, gagal dapat cap. Jadi selama hampir sebulan dia saya bawa tanpa kerja sekalipun.

Itu karena untuk nyeberang ke Timor Leste, WNI harus bayar visa USD30 alias lebih dari Rp400 ribu. Ogah banget. Saya pikir kok agak kurang adil ya. Kalau orang Timor Leste ke Indonesia tidak perlu bayar. Tapi kalau kita ke sana bayar. Baik banget kita.

Padahal, kalau saya lihat, yang lebih butuh itu Timor Leste. Dia lebih butuh Indonesia ketimbang Indonesia perlu Timor Leste. Banyak logistik yang masih disuplai dari Indonesia. Makan siang saja lebih milih ke Indonesia.

Ini menurut cerita dari petugas yang jaga di perbatasan. Bahwa kalau sudah waktunya makan siang, banyak aktivitas pergerakan manusia dari Timor Leste ke Indonesia, lewat PLBN Motaain. PLBN itu singkatan dari Pos Lintas Batas Negara.

Ohya, PLBN Motaain sebetulnya bukan pas di Atambua. Masih agak jauh. Kalau kata Google Maps itu 22 km atau setengah jam motoran. Saya ke sana motoran sama Eko, kenalan baru di Atambua.

Nah, warga dari Timor Leste banyak yang ke Atambua untuk makan siang. Jadi mereka memang khusus nyeberang PLBN, terus masih lanjut nyetir setengah jam lagi, hanya untuk makan siang. Mungkin di Atambua lebih banyak pilihan kali ya, dibanding sama di tempat mereka, yang kalau saya tebak ya tidak jauh dari PLBN.

Mobil dari Timor Leste ini kemungkinan nyeberang ke Indonesia untuk cari makan siang yang leih beragam

Petugas di PLBN ketat. Saya ngobrol dengan seorang petugas imigrasi dan seorang petugas bea cukai. Yang petugas imigrasi lebih banyak diamnya. Banyak ngobrol sama petugas bea cukai, namanya Hanif Gustav. Rambutnya disisir belah pinggir. Kumisan. Terlihat dewasa dan tegas. Dia pakai seragam bea cukai yang terkesan “seragam galak” buat saya. Jadi saya sudah putus asa saja untuk bisa bujuk dia melepas saya bisa nyeberang (bukan hanya sampai garis kuning).

Rupanya, Hanif ini baru 25 tahun. Dan dia ngekos di PJMI waktu kuliah di STAN. Wah, saya sering banget lewat PJMI. Wong saya tinggal di Cipadu. Kedekatan geografis itu bisa langsung membuat orang akrab loh. Percaya deh.

Begitu juga dengan Hanif. Kesan galaknya luntur. Obrolan kita jadi lebih santai, seperti ngobrol dengan teman. Posisi saya yang sejak tadi berdiri, ditawarinya untuk duduk bersamanya. Tapi saya lebih suka berdiri.

Hanif cerita banyak. Tentang kesehariannya menjaga perbatasan. Dia sengaja “menggalak-galakkan” wajahnya, memanjangkan kumis, ya supaya lebih “dianggap” oleh orang yang lewat. Coba kalau dia cengengesan dan dandanannya seperti anak muda, ya bisa tidak dianggap.

Pos pemeriksaan dokumen. Hanif yang sedang pegang HP

Rumahnya di Bengkulu. Itu kesialannya yang paling disesalkan. Walaupun belum punya istri, tapi kan dia mau juga kumpul bareng keluarga. Sementara untuk pulang dari Atambua ke Bengkulu, itu PR banget! Katakanlah banyak uang, mau naik pesawat. Harus naik tiga kali: Atambua – Kupang, Kupang – Jakarta, Jakarta – Bengkulu. Ditjen Bea Cukai tidak memberikan tunjangan untuk itu. Walaupun mungkin gaji si Hanif lumayan dan sanggup-sanggup saja untuk beli tiket. Kementerian Keuangan gitu loh.

Namun waktunya juga susah untuk pulang. Saya tidak percaya waktu Hanif bilang, dia kerja terus, termasuk di Sabtu Minggu dan tanggal merah. Tapi katanya kenyataannya ya gitu. Tapi kalau lebaran, katanya dia akan nekat pulang walaupun tidak diizinkan.

Walaupun tidak jadi ngecap passport, saya sempat berfoto di garis kuning perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Garis itu ada di atas jembatan yang mengangkangi sungai. Sungainya mungkin mau mati, airnya sedikit sekali.

Jembatan perbatasan itu ada di dua negara. Batasnya selain terlihat dari garis kuning, juga terlihat dari cat yang digunakan di pagar pinggiran jembatan. Kalau bagian Indonesia diwarnai merah putih. Sementara bagian Timor Leste diwarnai merah, kuning, dan hitam.

Garis kuning, batas Indonesia dan Timor Leste

Beberapa orang terlihat wara-wiri. Ada yang jalan kaki, ada yang naik mobil. Tidak terlihat yang naik motor. Yang jalan kaki, ada yang tidak bawa tas, ada yang bawa tas selempang saja, ada yang bawa koper.

Hanif juga cerita, ada bisnis porter di PLBN. Ada porter-porter Timor Leste, ada porter-porter Indonesia. Dulunya, mereka saling berebut customer. Sekarang mereka sepakat dengan batasan masing-masing, bahwa kalau customer masuk wilayah Indonesia ya dilayani porter Indonesia. Kalau masuk Timor Leste ya porter Timor Leste.

Porter bisa dilihat di dekat perbatasan. Saya lihat porter Indonesia di parkiran PLBN. Kalau porter Timor Leste nongkrongnya di bawah pohon. Tadinya saya belum tahu, kok ada gerombolan anak muda di bawah pohon. Mereka siapa? Hanif jawab, itu porter. Terus dia cerita deh kesepakatan antar porter tadi. Semacam perjanjian bilateral. Sesama porter dilarang saling mendahului!

Selain PLBN, buat saya, tidak ada yang menarik di Atambua. Saya segera mencari bus menuju Soe. Dapat bus Sinar Gemilang lagi. Tapi di pool-nya langsung. Sepertinya Atambua tidak punya terminal bus deh.

Jangan bayangkan pool bus Sinar Gemilang itu berbentuk hamparan parkiran luas yang dipenuhi bus. Bukan. Sangat jauh. Pool hanya di depan semacam toko sebesar Alfa Mart. Tapi tidak ada Alfa Mart di NTT. Saya dengar, gubernurnya tidak mau Alfa Mart masuk NTT.

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

Resensi: Keluarga Gerilya

Dok: goodreads.com

Selalu menarik membaca karya Pramoedya Ananta Toer. Penuh dengan pergolakan dan gemuruh perasaan. Kadang-kadang sampai kesal sendiri, atau bahagia sendiri. Padahal kisah yang diceritakan, entah benar entah tidak.

Namun untuk buku Keluarga Gerilya, saya cukup yakin adalah gambaran perang gerilya yang umum terjadi saat itu. Tepanya adalah pada tahun 1949 ketika Belanda ingin menduduki Indonesia kembali.

Cerita diawali dengan seorang tokoh Amilah yang kehilangan anak tertuanya: Saaman atau biasa dipanggil Aman. Sudah tiga bulan sejak Aman “diambil” di suatu malam oleh pihak berwenang. Entah apa sebabnya, karena sekilas terlihat Aman hanyalah seorang tukang becak biasa yang menjadi tulang punggung keluarga Amilah.

Amilah sendiri sudah kehilangan suaminya akibat pembunuhan yang tidak jelas. Sebetulnya jelas, dan tragis, karena dilakukan oleh anak-anaknya sendiri. Tapi tidak jelas bagi Amilah, karena tidak diketahuinya soal itu.

Siapa anak-anak yang membunuhnya itu? Mereka adalah 3 anak yang paling tua: Aman, Mimin, dan Maman. Aman sudah dijelaskan di atas, berprofesi sebagai tukang becak. Sementara Maman dan Mimin ikut perang gerilya. Masuk keluar hutan, menyerang rombongan Belanda yang lewat, hal-hal semacam itulah. Sudah beberapa tahun Maman dan Mimin tidak pulang.

Sudah sama-sama paham, keluarga yang ditinggal salah satu anggota keluarganya karena ikut gerilya, ya sudah ikhlaskan saja. Jangan harap akan kembali. Kalau masih berharap, ya siap-siap sakit hati.

Kenapa mereka membunuh ayahnya sendiri? Karena ayahnya dengan sangat bangga dan bahagia menyambut kedatangan Belanda setelah Indonesia merdeka. Sang ayah menjadi semacam kaki tangan Belanda saat pra-kemerdekaan, lalu pekerjaannya hilang karena Belanda angkat kaki dari Indonesia. Mendengar Belanda datang kembali, dia senang sekali.

Kesenangan sang ayah, rupanya menjadi kebencian anak-anaknya. Beda ideologi. Anak-anaknya, dan rata-rata masyarakat saat itu, benci sekali dengan kedatangan Belanda kembali. Indonesia sudah merdeka tahun 1945, tapi Belanda belum mengakui, bahkan mau menjajah lagi.

Bentuk kebencian itu besar sekali, bahkan lebih besar daripada hubungan ayah dan anak. Sang ayah diajak ke pinggir sungai, ditembak, lalu dihanyutkan. Sejak itu, Maman dan Mimin ikut gerilya. Aman memilih tetap menjaga keluarganya sekaligus menafkahinya. Kalau bukan dia, siapa lagi?

Namun sejak Aman ditangkap, keluarganya terlantar. Makanan yang tadinya terbatas menjadi sangat terbatas, kalau tidak boleh dibilang tidak ada. Aman punya adik-adik yang semua butuh makan, selain Maman dan Mimin yang sudah ikut gerilya. Ada Amah, Imah, Mimi, dan Hasan. Keempatnya menjadi putus sekolah karena tak ada lagi yang membiayai.

Kondisi itu rata terjadi di masyarakat pada masa gerilya: susah makan, putus sekolah.

Kondisi berlanjut dengan cerita ketika Aman dipenjara dengan akhir cerita mengharukan. Ada yang meninggal, ada rasa kasih sayang ibu yang begitu besar, ada kesetiakawanan antar warga, ada pengkhianatan. Buku ini seperti membuka cakrawala pengetahuan tentang apa yang terjadi ketika gerilya.

Resensi: Jamin dan Johan

Ini buku pertama yang setelah saya baca, lalu saya ceritakan ke anak saya yang baru mau masuk 1 SD. Masuk dalam kategori novel, atau sastra? Kadang agak sulit mengkotak-kotakkan. Ceritanya sederhana, saya tidak tahu ini kisah nyata atau bukan, tapi rasa-rasanya sangat dekat dengan keseharian masyarakat kita.

Dok: bukabuku.com

Jamin dan Johan adalah kakak beradik. Yang pertama disebut, umurnya 7 tahun. Sementara Johan baru 5 tahun. Pada awalnya, kedua anak ini punya orang tua penyayang. Namun itu hanya berlangsung sampai Johan berumur sekitar 3 tahun. Ayahnya mulai menjadi pemabuk. Sang ibu pada awalnya tidak begitu kena dampak. Namun belakangan, sang ibu kena KDRT, bahkan sampai meninggal karena disiksa suaminya.

Sang Ayah menikah lagi dengan ibu tiri Jamin dan Johan, yang ternyata ibu tiri itu seorang pemadat. Kurang apa penderitaan Jamin dan Johan? Bapak pemabuk, ibu pemadat.

Setiap hari, Jamin disuruh menjadi pengemis. Hasilnya disetor ke ibu tirinya untuk kemudian dibelikan narkoba. Jika Jamin tidak membawa pulang uang sesuai yang ditargetkan, sang ibu tiri tidak sungkan untuk  melayangkan pukulan dan tendangan.

Tentu saja Jamin dan Johan sedih dengan kondisinya itu. Keduanya merindukan saat-saat ketika ibunda kandungnya masih ada. Dahulu, mereka bisa makan dengan rutin. Bajunya bersih. Rumah dan lingkungan terawat. Namun sekarang, ibu tirinya tidak pernah atau jarang sekali menyiapkan makan. Bajunya itu-itu saja dan sudah bolong-bolong, layaknya bocah pengemis.

Hampir selalu, Jamin menyisipkan roti ke dalam pakaiannya, untuk makan sang adik. Jamin sangat sayang dengan adiknya. Dia rela dipukuli ibu tirinya karena uang setorannya kurang, demi membelikan adiknya roti atau makanan lain. Habis, kalau bukan Jamin, siapa lagi yang memberikan Johan makanan?

Pilu sekali hidup Jamin dan Johan. Kalau kabur, mau kabur ke mana? Mereka hanyalahh anak kecil yang sangat perlu tuntunan. Yang ada hanyalah tangis ratap merindukan ibu kandungnya sebelum tidur, sampai tertidur. Ayahnya tak peduli dengan pertumbuhan kedua anaknya. Sang Ayah terbiasa pulang tengah malam dalam keadaan mabuk.

Sampai lebih dari separuh buku, sedih sekali bacanya. Saya tidak hendak menceritakan akhir cerita. Tapi sebagai bocoran, ada kabar baik dan kabar buruk. Ada kecelakaan. Ada perubahan watak. Ada pencerahan masa depan. Ada orang baik sebagai penolong.

Buku ini menarik selain karena kisahnya seperti dekat di lingkungan sekari-hari, juga karena banyak nilai terkandung yang bisa jadi cerminan buat anak-anak, juga orang dewasa: kasih sayang adik kakak, hati yang lurus, sifat penolong, kepedulian lingkungan, dll.

Waktu diceritakan ke anak saya, tertarik sekali dia. Selalu minta diceritakan terus sampai selesai. Tapi saya cicil ceritanya sehari 10-20 menit sampai sekitar 2 minggu. Barter dengan pijatannya. Dia pijat saya 10 menit, maka saya ceritakan 10 menit. Begitu terus sampai selesai.

Penulis buku ini adalah Merari Siregar, angkatan Balai Pustaka. Nama “Merari Siregar” sudah diperkenalkan guru Bahasa Indonesia waktu saya SMP. Nama guru saya itu Nababan. Dulu kami berkelakar, satu kalimat kalau dibalik bacaannya akan tetap sama. Apa itu?

Kasur Nababan rusak.

Taman Suropati di Masa Covid

Apa Taman Suropati buka? Ini yang saya ragu. Agak sulit mendapat informasinya di masa Covid begini. Misalnya nih, waktu itu saya malam-malam ke Monas, sekitar jam 8 malam. Ya sekadar mau jalan-jalan saja bareng keluarga. Sampai sana, ternyata tutup. Anak saya nangis sesenggukan karena sudah ingin sekali masuk Monas. Jadi saya putarin saja dua kali dengan lambat. Ya mutar-mutar Jalan Merdeka saja. Sambil melambat di tempat yang terlihat jelas Monas-nya.

Kedua kali, saya ajak keluarga ke Kota Tua, sekitar jam 8 malam juga. Eh tutup. Anak saya merengut. Kasihan juga sih. Jadi kita hibur dengan telor gulung yang banyak ada di sekitar kota tua.

Nah ini nih yang ke Taman Suropati, semoga tidak tutup. Kami berangkat setelah Ashar 5 Juni 2021. Sampai Taman Suropati sekitar jam 4.30 sore. Tidak terlalu ramai. Petugas parkirnya ramah dan resmi, saya bayar Rp5.000 untuk sekali parker. Tidak dihitung per jam. Agak beda dengan review di Google Maps yang katanya harga parkir digetok.

Masuk ke taman, saya diminta isi semacam daftar pengunjung di meja yang “seharusnya” dijaga Satpol PP. Di meja itu tidak ada Satpol PP yang duduk. Adanya di seberang, sedang ngobrol mungkin dengan petugas lain. Dalam isiannya itu, kita juga harus tulis nomor KTP.

Anak-anak bahagia, karena kan ada air mancur, juga ada beberapa kandang burung dara. Semua terawat rapi. Beberapa anak bermain balon dari sabun. Beberapa anak berlarian di dalam taman.

Sekeliling taman banyak pedagang dengan gerobaknya masing-masing, ada yang jual minuman, burger, bakwan malang, ketoprak, dan lain-lain. Harga tidak terlalu mahal, misalnya bakwan malang itu kalau tidak salah Rp12 ribu.

Air mancur di dalam taman ada dua. Keduanya nyala dan terawat. Banyak jenis pohon ada di dalam taman. Yang terlihat ada namanya adalah Mahoni. Pohon-pohon besar menaungi taman, jadi sebagian besar lokasi taman ya tertutup rindangnya pohon. Adem.

Ada tanaman yang juga saya lihat banyak sekali ada di taman. Buahnya berbentuk lonjong dan padat, berwarna merah mencolok. Terus terang saya tidak tahu yang merah itu buah atau bunga atau daun. Belakangan saya ketahui namanya Pacing Pentul, bahasa Inggrisnya Indian head ginger, bahasa latinnya Costus spicatus.

Taman Suropati ini bukan baru kali ini saya ke sana. Bahkan dulu saya pernah berkantor di Menteng tahun 2012-2013, itu hampir selalu lewat Taman Suropati. Memang selalu ramai, walaupun malam. Tapi di masa pandemi ini hanya buka dari jam 6 pagi sampai 6 sore.

Camping di Gunung Bunder (Bogor) – Curug Seribu

Sengaja kami berangkat Jumat 21 Mei 2021, ya supaya sepi. Kalau Sabtu jelas ramai, di mana-mana ramai. Saya ambil cuti di Jumat itu. Kami ber-9, dua mobil: Karimun dan Rush. Karimun ternyata kuat juga bisa sampai Gunung Bunder.

Jam 8 pagi kita kumpul, di daerah Bekasi. Briefing sebentar. Jam 9 sudah jalan. Sampai di pintu gerbang Gunung Bunder itu sekitar jam 11.30. Saat itu kami dimintai Rp200 ribu untuk 2 mobil beserta penumpang-penumpangnya. Atau Rp250 ribu gitu, lupa saya. Nah di sini salah satu teman yang punya “pangkat” turun negosiasi. Harga bisa jadi Rp100 ribu. Tanpa tiket, tanpa bukti apa-apa.

Dari pintu gerbang itu, ke dalam masih jauh lagi. Jalannya lebih belak belok dan banyak ditemukan yang bukan aspal. Ini kalau mobil ceper jangan berani-berani deh ke sini. Atau motor yang kurang kuat nge-gasnya, jangan. Apalagi kalau hujan. Waduh, cari masalah itu.

Sempat yang Karimun ketemu tanjakan curam berbatu dan licin karena masih ada bekas hujan. Itu mobil turun sampai 3 kali. Setelah semua penumpang turun, baru deh kuat nanjaknya. Itu deg-degan banget, karena kalau pas turun karena gak kuat, bisa bablas turunnya ke jurang. Besoknya baru kami dapat informasi ada jalan yang lebih landai tanpa harus lewati tanjakan curam itu. Informasi yang menggemaskan.

Targetnya sejak awal tidak berubah: Curug Seribu. Walaupun tempat camp dengan curug seribu itu lumayan jauh (harus jalan 30-60 menit), sementara banyak curug-curug lain yang letaknya tidak jauh dari tempat camp, tetap saja tujuan tak goyah ke Curug Seribu, yang katanya paling tinggi se Asia Tenggara.

Sebagai gambaran, Gunung Bunder ini punya banyak curug dan banyak tempat camp. Rasanya masing-masing punya pengelola yang berbeda, baik pengelola yang formal maupun yang informal.

Sampai di parkiran yang dekat camp Curug Seribu, kami melipir ke salah satu warung yang paling besar untuk bertanya tiket masuk. Dibilang Rp20 ribu per orang. Itu tidak bisa ditawar, walaupun teman saya yang punya “pangkat” tadi sudah turun tangan, tetap tak tertawar. Tapi harga segitu memang tidak mahal sih untuk bisa sampai camping.

Warung ini punya hampir segala yang dibutuhkan. Makan ringan, bermacam minuman. Makanan beratnya mungkin yang terbatas yah, biasalah seputaran mie saja. Di dekat warung itu tertulis arah panah menuju tangga dengan tujuan: Bumi Perkemahan Bukit Natrabu, lalu ada kontak WA 081213881869 / 0881024228623.

Di warung ini juga, asiknya itu ada tempat lumayan luas buat tidur. Ya cuma papan dilapis karpet saja sih. Tapi itu sudah sangat cukup buat yang suka ke gunung tapi tidak mau nge-camp. Tidur saja di warung. Kalau dihitung-hitung, mungkin muat untuk 20 orang tidur. Plus ada kamar mandi dan mushola. Kalau sudah bayar yang Rp20 ribu per orang itu, tidak perlu bayar kamar mandi lagi. Tapi kalau mau charge, bayar Rp5 ribu per nge-charge.

Tunggu hujan agak reda, baru kami buka tenda. Harus cepat, kalau tidak mau basah kuyup. Sebagian tim membuat terpal menjadi “atap” untuk tempat berlindung kalau hujan membesar, sekaligus untuk tempat masak. Biar yang masak bisa lanjut tanpa harus menunggu tenda selesai dibangun.

Siang itu, menunya adalah ayam goreng dan tahu tempe. Ayamnya sudah diungkep dari rumah, jadi tinggal goreng. Yang lama itu masak nasi. Kami bawa 2 kompor portable, jadi yang satu masak nasi, yang satu goreng-goreng.

Tenda jadi, makanan siap. Langsung sikat. Apa saja itu jadi enak kalau lagi camping.

Setelah makan, beres-beres sejenak, langsung tracking menuju Curug Seribu. Jalannya itu sudah terbentuk jalan, maksudnya, kemungkinan tersesatnya kecil. Juga banyak penunjuk arah. Jalan kebanyakan bebatuan, sebagian sudah berbentuk tangga batu. Kalau hujan, ini akan jadi lebih licin. Dan Bogor itu lebih banyak hujannya daripada tidaknya.

Sekitar 30 menit jalan santai, kami ketemu dengan Curug Sawer. Ini curug yang kecil, tapi lumayan lah buat main-main air. Dilanjut 5 menit jalan lagi, ketemu Curug Seribu. Wow ini curug betulan tinggi.

Waktu saya datang, terlihat dari atas, sedang ada rombongan yang lagi sholat di atas bebatuan di lembah curug. Senang lihatnya, saya sempat foto.

Air sungai waktu itu cukup deras, mungkin karena habis hujan, atau mungkin memang selalu begitu? Saya tidak main di area tempat Curug Seribu turun, rasanya riskan dengan arus sederas itu. Jadi hanya main di “anak-anak curug”, itu juga sudah lumayan deras. Segar sekali air gunung, saya minum sampai puas. Sekeliling sungai adalah hijauan yang sedap dipandang. Suara air terjun membuat suasana semakin nyaman. Saya berendam di salah satu arus kecil, sambil bersandar di batu besar dengan mata terpejam.

Satu orang teman saya seperti kebingungan mencari tempat untuk buang air kecil. Saya bilang, pipis mah langsung saja sambil berendam. Jawabannya membuat saya diam sekaligus agak tergelitik: nanti air kencingnya ke bawah kena yang lagi mandi di bawah. Dia ngomong itu dengan mimik serius. Akhirnya dia buang air kecil di bagian air yang tenang. Saya senyumin saja.

Matahari makin turun, kami tidak mau pulang gelap, jadi jam 5 sore sudah jalan kembali ke tenda. Bergantian ada yang mandi dulu, ada yang sholat dulu, ada yang sambil masak. Malam itu menunya nugget dan mie. Ditambah sosis dan beberapa gorengan.

Dulu di mana ya, saya pernah punya pengalaman taruh rendang di luar tenda, eh malamnya digaruk-garuk anjing liar. Masih sisa sih rendangnya, tapi sudah tidak ada yang mau makan. Kok tahu digaruk anjing liar? Karena ada yang lihat.

Nah yang sekarang di Gunung Bunder, perasaan ada anjing liarnya juga deh, dan memangs empat saya lihat ada. Jadi makanan sebisa mungkin taruh di dalam tenda. Dibawa tidur bareng.

Saya berlima di tenda 1, sisanya 4 orang di tenda 2. Kami di tenda 1 memang sibuk masing-masing dengan HP, tidak ada suara. Jadi kalau dari luar seakan-akan tenda 1 sudah tidur semua. Beda sekali dengan tenda 2 yang masih ngobrol macam-macam.

Teman saya di tenda 1 ada yang iseng. Pelan-pelan buka retsleting tenda, terus nimpukin tenda 2 pakai ranting. Beberapa kali baru tenda 2 sadar ada sesuatu di luar. Mereka diam sejenak, mudah-mudahan mulai takut, karena itu memang kita target.

Beberapa ranting ditimpuk kembali. Tenda 2 diam. Kami di tenda 1 berusaha dengan sangat agar tertawanya tidak terdengar. Muka tegang nahan ketawa.

Terus teman saya yang satu lagi inisiatif putar lagu alat musik sunda. Tenda 2 mulai ada yang komentar, “Eh ada yang dengar musik sunda gak?” Mulai pada bingung. Tidak lama diamnya mereka betul-betul diam, tidak bersuara lagi. Kami juga berusaha tahan ketawa, sampai kami juga tidur.

Tengah malam, terdengar banyak yang pasang tenda di sekeliling kami. Memang banyak yang berangkat dari daerah Jakarta Jumat malam setelah kerja, jadi sampainya ya tengah malam.

Besok paginya, sekitar jam 7 kami berkemas. Tutup tenda. Pulang.

Ende Seperti Sebuah Akhir

Lihat saja bentuknya, seperti benjolan di Pulau Flores. Seperti akhir dari sebuah perjalanan. Tapi bukan. Akhirnya Flores itu di Larantuka, kota paling timur Pulau Flores, yang nantinya juga saya singgahi.

Tapi sebelum ke Ende, saya mau cerita perjalanan dari Bajawa ke Ende. Sejak awal sampai Bajawa, saya sudah diajak kenalan sama supir driver di Bajawa, namanya Cekos. Saya simpan nomornya, lalu janjian dijemput di hostel tempat saya menginap esok harinya. Naik travel bayarnya Rp100 ribu. Kalau mau naik kendaraan umum seperti mini bus, akan lebih murah, tapi lebih lambat, dan lebih tidak nyaman.

Cekos ini supir antik. Saya dibawa tertawa sepanjang jalan. Dia masih muda, saya taksir umurnya belum 40 tahun. “Yang naik mobil ini harus senyum, harus ketawa,” kata dia. Makanya ada saja yang dia tertawakan.

Ada satu lagu yang diulang-ulang terus oleh Cekos di mobilnya. Sampai Ende, saya jadi hampir hapal dan malah sempat cari-cari lagunya di Youtube. Judulnya: Kakak, Ade Masih Sekolah. Beberapa petikan liriknya:

Aduh kakak e… Rasa itu kamu simpan dulu e… Lima atau sepuluh tahun lagi e… Siapa tahu kita mungkin jodoh e…

Aduh kakak e… Sekarang ini sa masih mau sekolah… Karena sa pu cita cita jadi orang… Biar sa pu bapa mama ikut senang…

Itu liriknya sampai hapal saya, wong sepanjang jalan Cekos setel itu terus. Dalam perjalanan berikutnya, saya dengar lagu itu di beberapa tempat. Lalu dua bulan kemudian saya lihat video itu sudah ditonton 10 juta kali di Youtube!

“Mana sanggup dia tunggu sepuluh tahun,” komentar Cekos.

Cekos cerita, kalau di Flores ini, jalan lurus tidak akan sampai tujuan. “Kalau di Jawa bisa sampai. Kalau di Flores tidak sampai.” Karena memang kontur Flores itu ya perbukitan. Jalan memang tidak ada yang lurus barang satu kilometer saja. Mungkn karena sudah tahunan nyetir, jadi Cekos canggih banget nyetirnya.

Di satu ruas jalan, dia tiba-tiba menjepit hidungnya menggunakan jempol dan telunjuk. Beberapa detik kemudian saya kebauan. Kenapa kok bau banget di tempat tadi?

“Makanya, ikuti supir. Kalau supir tutup hidung, ikut tutup hidung,” kata Cekos. Lah mana bisa begitu. Kalau supir ngupil, penumpang juga ngupil??? Rupanya tempat tadi adalah tempat pembuangan limbah ikan oleh nelayan. Makanya bau busuk.

Lalu saya perhatikan ada angkutan umum yang bagian atasnya penuh dengan barang. Dan memang sejak dari Bajo saya sering melihat yang seperti itu. Saya tanya Cekos, “Kenapa sih Flores suka pakai kepala buat taruh barang?” Sambil menunjuk ke angkutan umum di depan.

“Ya begitu memang. Orang Flores kepalanya kuat-kuat. Jangankan angkutan umum. Mobil biasa saja, bisa ada orang di atasnya,” jelas Cekos. Saya menganggapnya bercanda saja. Sampai betul ada mobil -mungkin Avanza- lewat yang di atas ada empat penumpang!

“Tuh, percaya kan!” kata Cekos.

Serba di kepala

Sulit memang percaya orang begini. Dia tuh bercanda sama tidak wajahnya sama-sama cengengesan. Seperti waktu mau sampai Enda, Cekos beri aba-aba, “Nanti akan ada Pantai Kupu-Kupu. Ada kupu-kupunya di sana. Supir-supir senang di sana.”

Saya pikir kan seperti tempat prostitusi gitu. Karena omongan Cekos arahnya seperti ke sana. Lalu sampai Pantai Kupu-Kupu, dia tunjukkan semacam patung besar kupu-kupu. “Tuh kan ada kupu-kupunya,” katanya tertawa.

Hampir masuk Ende, Cekos berhenti sebentar di tempat penjual ikan. “Buat lauk di rumah. Apa saja yang penting bisa makan,” kata dia pasrah.

Saya dapat kenalannya kenalan, namanya Surya. Dia orang Malang (Jawa Timur) yang lagi kerja di sebuah perusahaan provider besar, lalu ditempatkan di Ende. Karena pegang sales, Surya sering keliling-keliling NTT. Kalau Pulau Flores bisa dibilang sudah khatam. Timor juga sudah berkali-kali. Sumba sudah pernah juga. Jadi saya banyak dapat “view”.

Malam itu, saya minta Surya mengajak ke pantai buat ngopi sambil ngobrol-ngobrol. Diajaklah saya ke Pantai Ria. Di sana banyak warung-warung di pinggir pantai, yang kita bisa mendengar deburan ombak dari tempat kita ngopi. Ini memang yang saya cari!

Walaupun buat banyak penduduk Ende ini (Pantai Ria) adalah sesuatu yang biasa saja. Bahkan cenderung dibilang kotor dan tidak terurus. Tapi buat saya, tinggal di tempat yang dekat dengan pantai itu kemewahan. Bisa setiap malam nongkrong, ngobrol-ngobrol di pinggir pantai, itu asik!

Surya cerita, di NTT ini tidak ada Alfa Mart atau Indomaret. Betul! Saya baru sadar. “Yang ada warung-warung begitu. Ada saja yang buka 24 jam,” kata Surya sambil menunjuk ke toko-toko kelontong.

Penasaran, saya googling, kenapa tidak ada kedua peritel itu di NTT? Saya belum dapat jawabannya, karena memang malas cari-cari lebih dalam. Tapi saya dapat artikel Pos Kupang yang berjudul: Indomaret dan Alfamart Menyasar Kupang, Pengamat Ekonomi: Menguntungkan Pertumbuhan Ekonomi.

Artikel itu bertanggal 20 Maret 2019. Saya berasumsi, kalau di Kupang saja, yang merupakan ibukota provinsi, baru mau ada. Ya kota-kota lain di NTT belum ada, termasuk Ende. Seorang anggota DPRD Kota Kupang mewanti-wanti, kalau izin diberikan, jangan sampai mematikan retail kecil dan UKM.

#

Esoknya, pagi-pagi betul, saya ditinggal Surya yang mau pulang ke Malang. Kunci kamar saya pegang. Surya cerita, bandara di Ende ini dekat banget. Ada di tengah kota. Saya sendiri waktu itu jogging lewat bandara. Paling hanya dua puluh menit sampai.

Dulu pernah, Surya cerita, mendekat jam terbang, operator bandara akan telepon penumpang yang belum check in. Surya pernah ditelepon, “Di mana Pak?” kata operator.

“Lampu merah pak. Tungguin yaa…” kata Surya santai.

Mungkin karena penerbangannya masih sedikit ya. Waktu itu saya sempat ngintip lapangan terbangnya, hanya ada 2-3 pesawat yang sedang parkir.

Lanjut lagi saya jogging sampai pelabuhan kecil yang membawa penumpang dari Ende ke Pulau Ende. Yaitu di Pasar Mbongawani.

Pasar itu ramai sekali. Mungkin pasar paling besar di Kota Ende. Seperti layaknya pasar tradisional yang lain, di sana banyak hasil bumi yang diperdagangkan, seperti kelapa, pisang, dan sayur-sayuran. Ada juga pedagang kecil, bahkan kecil sekali. Yang kecil sekali misalnya seorang lelaki penjual buah durian yang barang dagangannya hanya sekitar 10 buah durian. Lapaknya juga nyempil-nyempil dengan lapak pedagang lain.

Lanjut saya jalan terus ke pinggir pantai yang ada tulisan di batu: Welcome to Ende Beach Bridge. Tu adalah jembatan yang menghubungkan penumpang dengan kapal-kapal yang ma uke Pulau Ende. Banyak orang lalu Lalang di jembatan itu pagi itu. Saya melihat ada tiga kapal yang semuanya akan ke Pulau Ende.

Ende ke Pulau Ende

Selain tiga kapal itu, masih banyak kapal kayu lain di pinggir-pinggir pantai yang sepertinya merupakan kapal nelayan. Pantainya cukup panjang dan terlihat beberapa orang bermain di pantai.

Tadinya saya pikir begini, pagi itu saya akan menyeberang ke Pulau Ende lalu sorenya kembali lagi ke Ende, karena hasil pencarian saya di Google ada kapal siang. Tapi rencana itu gagal setelah bertemu dengan Saiful, seorang Babinsa yang ditugaskan mengawal pemilu di Pulau Ende.

“Tiga kapal itu, semua ke Pulau Ende hari ini. Tidak ada kapal yang akan kembali ke Ende. Besok juga tidak ada kapal, karena pemilu. Baru ada dua hari lagi,” jelas Saiful.

Jadi, kalau saya ikut kapal yang ada saat itu, baru bisa balik ke Ende dua hari lagi! Kalau begini mah, jelas batal perjalanan saya ke Pulau Ende. Kecewa jelas, tapi mau bagaimana lagi?

Waktu saya habiskan mengobrol dengan Saiful. Saat itu, Saiful pakai peci warna merah. Dia cerita tentang penduduk Pulau Ende yang mayoritas beragama islam. “Semua kebutuhan di Pulau Ende dikirim dari Ende,” katanya.

Maka wajar saja kalau setiap hari ada kapal dari Pulau Ende ke Ende. Itu adalah kapal-kapal yang dimiliki warga Pulau Ende. Tapi kapal-kapal itu terbatas. Tidak bisa mengangkut barang-barang yang bisa menunjang pembangunan lebih cepat.

Saiful cerita, pernah diusulkan untuk diadakan jalur ferry rutin dari Ende ke Pulau Ende. Ditolak dengan alasan nanti kru kapal tradisonal kehilangan mata pencarian. Saiful pun berkilah, kan bisa kru tersebut dipekerjakan di ferry. Yang dirugikan hanya pemilik kapal. Tapi toh pemilik kapal itu kan orang kaya. Ekonominya tidak akan terlalu goyang kalau ada ferry. Namun pada akhirnya tetap ditolak.

Dia juga cerita tentang tanaman yang sudah berumur 100 tahun, tapi masih saja terlihat berukuran pendek. Ini bukan bonsai, tapi memang tanaman yang lambat tumbuh.

Kapal sebentar lagi berangkat. Penumpang yang sudah menunggu di “ruang tunggu” bergegas masuk kapal, juga dengan Saiful. Saya sempat naik ke atas kapal, tapi kemudian turun lagi. Untuk naik ke atas kapal, penumpang harus melewati jembatan dari potongan kayu. Jembatan one way, kalau ada yang berjalan dari sana, maka yang di sini stop dulu. Dan sebaliknya.

Tahu kapal akan berangkat, banyak ibu-ibu yang berlarian agar bisa sampai ke kapal. Mereka tidak ingin tertinggal. Juga dengan para pendorong gerobak kayu, hendak segera memuat barang dari gerobak ke atas kapal.

Kapal berangkat, aktivitas langsung sepi. Tidak ada lagi orang lalu lalang di jembatan itu. Saya lapar dan ingin mencari makan!

Tapi ini tetap Pulau Flores, yang penduduk non-muslimnya banyak. Jadi harus hati-hati dalam memilih tempat makan. Saya pilih warung makan yang di dalamnya ada yang berjilbab atau berpeci, atau ada tulisan-tulisan bernuansa islam.

Ketemu dengan tempat makan yang di depannya bertulis: Warung Tegal II. Warteg sampai juga loh ke Ende! Walaupun judulnya warteg, tapi masakan-masakannya lebih mirip warung padang.

Makanannya enak banget. Saya makan pakai ikan goreng hanya Rp14.000. Itu sudah dengan kuah gurih. Gurih banget dan menggugah selera. Kuah itu ada dalam mangkuk khusus. Tidak saya pesan, tapi itu seperti menu tambahan yang wajib. Seperti kalau kita beli di warung padang kan selalu dikasih kuah Nangka walaupun tidak minta.

Tempat makan ini terlihat ramai terus. Yang satu pergi, datang yang lain. Ada juga yang pesan untuk 50 bungkus. Mungkin karena sedang persiapan pemilu. Atau memang warung ini selalu ramai? Belakangan saya tahu bahwa pemilik warung ini adalah seorang muslim, tetapi banyak karyawannya yang non-muslim. Itu hal biasa di Flores. Makanannya ya tetap halal, insya Allah.

Selesai makan, saya lanjut jalan ke Taman Renungan Bung Karno punya banyak pohon besar dan banyak tempat duduk. Ada beberapa anak sekolah yang duduk-duduk di sini. Bung Karno pun duduk di sini (patungnya). Dulu, saat diasingkan ke Ende, Bung Karno suka duduk di sini memandang laut. Begitu besar ya pesona laut, sehingga menarik Bung Karno untuk sering memandanginya.

Dekat tempat duduk itu, ada pohon sukun yang menjadi sumber inspirasi mendapatkan jumlah sila dalam Pancasila. Katanya sih begitu. Ada tulisan di semacam batu nisan di bawah pohon sukun itu: Di kota ini kutemukan lima butir Mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Di sebelah taman itu, ada Museum Tenun Ikat. Tadinya saya mau masuk, tapi pagarnya ditutup, dan di sela-sela pagar banyak tumbuhan merambat. Seperti pintu yang sudah lama tidak dibuka. Tapi saya masih bisa melihat dengan jelas di dalamnya ada bangunan dengan atap tinggi. Semacam rumah adat.

Jalan kaki saya lanjutkan ke Rumah Pengasingan Bung Karno. Lokasinya mudah dicari, apalagi banyak pengarah jalan. Sampai rumah itu, tidak ada penjaga. Saya masuk saja. Di dalam juga tidak ketemu dengan penjaga.

Halaman depan dan belakang rumah cukup luas. Saya malah berpikir, baik juga ya Belanda kasih rumah begini. Memang tidak mewah, tapi bukan juga rumah yang jelek. Ada patung Bung Karno dan bendera merah putih d halaman depan. Sementara halaman belakang ada sumur. Sumur yang masih ada airnya, lengkap dengan talinya. Mungkin sumur itu masih digunakan?

Seingat saya ada dua kamar dalam rumah itu. Pertama kamar tidur Bung Karno. Kedua kamar tidur mertua (Ibu Amsi) dan anak angkatnya (Ratna Djuami).

Banyak koleksi barang dan foto yang juga menjadi koleksi rumah pengasingan itu. Misalnya koleksi tongkat bung karno, baik yang bermotif monyet maupun yang polos. Juga ada koleksi lampu minyak, setrika, ceret air, piring-piringan, dan biola Bung Karno. Di bagian belakang terdapat display kaca yang penuh dengan buku-buku yang menulis tentang Bung Karno.

Sore harinya, saya kembali lagi ke Pantai Ria. Pantai ini memang menarik terutama sore dan malam. Buat saya, nongkrong di pinggir pantai dengan mendengar deburan ombak saja sudah menarik. Apalagi ditambah sunset di Pantai Ria!

Di pantai ini, ada kawasan khusus yang masuknya bayar, tetapi terkelola dengan baik. Ada banyak tempat makan di dalamnya. Kursi dan meja juga tersusun rapi, pas buat orang yang mau kejar sunset. Terdapat deretan bantal tiup besar yang bisa dijadikan tempat nongkrong pengunjung. Saya hanya pesan kopi sambil menunggu matahari terbenam, juga sambil melihat anak-anak kecil bermain bola di pinggir pantai.

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

Resensi: Menemukan Indonesia

Justru ketemunya di luar Indonesia. Ya memang seringnya begitu kan. Kita bisa tahu bagus jeleknya Indonesia setelah mendapat perbandingan di luar itu bagaimana. Jadi ya tidak heran kalau buku karya Pandji Pragiwaksono ini isinya kurang lebih catatan perjalanannya selama tur keliling dunia. Catatan tentang temuan-temuannya, sering kali dibandingkan dengan di Indonesia.

Pandji belakangan dikenal sebagai stand up comedian, salah satu yang terpopuler di Indonesia. Saya sempat mengenal Pandji juga sebagai jubir Anies-Sandiaga waktu maju jadi DKI 1, yang diakhiri kemenangan.

Tur keliling dunianya Pandji itu dari April 2014 sampai April 2015. Sementar abuku ini terbit pada Maret 2016. Jadi ya terbilang dekat ya. Rasanya Pandji sambil tur sambil juga menulis buat buku ini.

Sebanyak 20 kota dari 8 negara di 4 benua, dijelajahi. Audiensnya ya memang kebanyakan atau hampir seluruhnya orang Indonesia yang tinggal di sana.

Negara pertama Singapura, yang paling dekat. Impresinya sudah lazim lah ya, bahwa negara ini teratur, rakyatnya tidak macam-macam alias nurut dengan pemerintah, urusan birokrasi yang gampang. Sama ini yang penting: pemerintah bikin biro jodoh buat para jomblo.

Buat petunjuk kan biasa ya di Singapura itu lebih dari satu bahasa, biasanya ada Bahasa Inggris dan Melayu. Nah di bis ada tulisan begini: Gunakan tukul untuk memecahkan tingkap kaca. Kalau di KBBI tukul itu artinya pemukul kecil. Ya betul juga kan. Kita saja yang selama ini taunya tukul itu pelawak. Walau cuma tulisan di bis, tapi jadi lawakan juga yah haha.

Hongkong. Ini impresinya sebagai tempat belanja murah. Ya memang tidak jarang ketemu orang Indonesia yang ke Hongkong khusus buat belanja. Taksinya beragam ditandai dengan warnanya. Beda warna, beda cakupan teritori si taksi. Tidak bisa sembarangan milih warna taksi. Beda banget kan sama di Indonesia yang satu taksi bisa buat ke mana saja, asal kuat bayar.

Sydney. Di awal mungkin terkesan kota besar dan modern. Padahal mah banyak gembelnya juga, jorok juga, macet juga, yah agak mirip Jakarta lah. Sisi baiknya ya banyak, tapi kota besar juga punya sisi buruk.

London. Kalau Jakarta adalah kumpulannya orang se-Indonesia, nah London ini kumpulannya orang se-dunia. Walau sudah bercampur sedemikian rupa, tetap saja isu rasisme ada. Jadi ya peradaban kita belum betul-betul beradap. Masih banyak sisi humanis yang masih kea rah sana, belum sempurna.

Guangzhou. Ya kota besar juga, ya punya gedung-gedung tinggi juga. Bedanya, jangan heran kalau tiba-tiba ada mobil naik trotoar buat lawan arah. Juga jangan heran kalau ada kotoran manusia di atas trotoar itu. Tidak ada kucing dan anjing karena sudah disikat semuanya di atas kuali. Kota ini juga banyak dijadikan destinasi belanja buat orang Indonesia. Belanja banyak, jual di Indonesia.

Itu beberapa kota saja. Masih banyak kota-kota lain dalam buku ini. Pandji cerita langsung apa yang dia rasakan, jadi kita dapat data primer. Sambil baca, jadinya sering sambil berkaca dan bergumam, “Kalau di Indonesia…..” dengan segala positif dan negatifnya.

Lari ke Lompat

Pandemi membuat kita terbatas bergerak. Coba saja lihat event lari, mana ada lagi? Ada sih satu dua, itupun virtual. Yah, virtual mana seru. Orang yang dicari ramainya, dan water station-nya.

Di beberapa bulan awal saya tinggalkan olah raga sama sekali. Tidak lari sama sekali. Sebelum pandemi lumayan rajin, setidaknya seminggu sekali adalah lari sekitar 1 jam. Setelah pandemi, hilang kebiasaan itu.

Dipikir-pikir, pengganti yang cocok apa ya? Pikiran saya terarah ke skipping alias lompat tali. Kan tidak perlu ke mana-mana tuh. Dan bisa dilakukan di bawah matahari. Jadi bisa sambil berjemur pagi.

Soal tali skipping, saya sudah gonta-ganti empat kali. Pertama saya beli yang termurah, harganya cuma Rp8 ribu. Di market place itu banyak banget dan mudah dijumpai. Gambar-gambarnya menarik hati, karena berwarna-warni dan ada counter-nya juga, jadi sudah berapa kali lompat itu bisa terhitung…. katanya.

Warna-warni, murah hanya Rp8 ribu, tali terlalu ringan

Dibeli deh tuh yang skipping warna-warni. Betul bisa buat lompat tali, tapi talinya terlalu ringan, kurang cocok buat saya. Dan counter-nya tidak berjalan. Masih saya gunakan sambil cari skipping yang lain.

Dapat skipping kedua, warnanya hitam full dari ujung ke ujung. Harganya Rp15 ribu. Talinya tidak terlalu enteng seperti yang pertama. Cocok saya sama yang kedua ini. Tapi dipakai sekitar sebulan sudah putus talinya karena tergesek ujung gagangnya. Karena tali masih panjang, saya masih pertahankan. Satu tangan pegang gagang, satu tangan pegang ujung tali. Agak melintir-melintir sih, tapi ayunannya masih enak. Dua minggu setelahnya, tali ujung satunya lagi putus.

Harga Rp15 ribu, talinya pas (tidak terlalu ringan), tapi mudah putus

Ganti yang ketiga, coba beli yang sederhana saja, yang gagang kayu dan tali putih, harga Rp8 ribu. Eh ternyata kependekan talinya.

Murah hanya Rp8 ribu, tapi tali terlalu pendek

Akhirnya yang keempat nih, paling bagus, masih awet sampai sekarang. Harganya Rp38 ribu. Warnanya hitam, ada tulisan “Sowell” nya di gagang. Ini paling nyaman. Sampai sekarang talinya masih awet. Sudah saya pakai berbulan-bulan. Seminggu sekitar 4-5 kali, sekalinya itu sekitar 10-15 menit untuk seribu lompatan.

Skipping paling awet, harga Rp38 ribu

Nah, untuk sampai ke seribu lompatan ini ada proses. Awalnya 200 lompatan saja sudah ngos-ngosan. Di awal saya target 500 lompatan. Ini susahnya bukan main, karena belum biasa. Hitungannya saya manual tanpa alat, ya dihitung saja dengan mulut berbisik.

Mungkin sekitar 1-2 bulan baru saya terbiasa dengan 500 lompatan. Lalu ditarget jadi seribu lompatan tiap pagi, sambil berjemur. Sama, awalnya berat. Tapi sebulan kemudian sudah biasa. Saat tulisan ini dibuat, saya sudah terbiasa dengan seribu lompatan per hari, dan sudah berjalan sekitar setengah tahun. Biasanya seribu lompatan itu dilalui dalam 10 menit.

Lompatnya itu tidak non-stop. Rata-rata berhenti di 50-100 hitungan. Biasanya terhenti karena tali tersangkut kaki. Tapi kalaupun tidak tersangkut, paling tinggi saya pernah 400 lompatan tanpa henti. Itu betis panas dan agak bergetar.

Suatu kali saya iseng, dari biasanya seribu lompatan, ditingkatkan ke 1.500 lompatan. Ya bisa-bisa saja. Tidak ada keluhan kaki keram di hari itu atau esoknya. Biasa saja. Tapi saya sudah nyaman dengan yang seribu, jadi balik ke seribu lagi.

Apa efeknya? Yang pertama bikin ngantuk hilang, jadi kerja lebih melek. Kedua, entah bagaimana mekanismenya, aura positif muncul. Terlihat dari kesemangatan hari itu, badan terasa lebih ringan. Ketiga, ya tentu saja buat jaga badan tetap sehat kan.

Mataram, Kota Termodern di NTB

Memang apa indikator modern? Buat saya, kalau ada Gojeg atau Grab, itu modern.

Terbang dari Jakarta ke Lombok, turunnya bukan di Mataram. Tapi di daerah Praya, Lombok International Airport (LIA). Sekitar satu jam ke Mataram.

Ini bandara yang menurunkan nama “international” di mata saya. Karena bandaranya kecil. Pesawat yang saya lihat parkir juga sedikit, hanya 4-5 pesawat.

Lombok International Airport

Sempat mampir ke semacam “meja informasi” Tourist Information Center (TIC) NTB yang ada tempat-tempat ambil brosur. Seperti kalau kita ke bank kan suka ada tuh di meja, isinya brosur produk-produk bank. Nah, di meja informasi TIC ini saya berharap bisa ada informasi wisata yang saya dapat. Minimal peta wisata NTB lah. Tapi saya lihat-lihat kok tidak ada. Yang ada brosur iklan wedding package, birthday package, sama iklan hotel.

Kebetulan TIC punya kantor juga di dalam bandara. Saya masuk. Ada yang jaga, anak muda umur sekitar 25. Alhamdulillah baru saya dapat peta wisata NTB. Peta wisata semacam ini lazim ada di TIC dan bisa kita ambil gratis. Walaupun menurut saya, isinya kebanyakan tempat wisata “normal” alias yang memang sudah ramai dan biasa dikunjungi.

Nah terus si anak muda yang jaga saya tanya macam-macam tapi tidak tahu. Ditanya angkutan umum ke Senggigi dari Mataram? Tidak tahu. Ditanya ke Selong Belanak akses angkutan umumnya bagaimana? Tidak tahu. Sarannya selalu mengarahkan ke rental mobil saja. Ditanya tentang Sumbawa dia blas tidak tahu. Bagaimana ini kantor pusat informasi tapi tidak banyak informasi. Tapi lumayan lah dapat peta.

Dari LIA, saya naik transportasi umum yang paling murah: Damri. Yaitu hanya Rp30.000. Dari pool Damri naik Gojeg ke arah Universitas Mataram. Dekat situ, tinggal teman saya namanya Amri.

Agak bimbang awalnya, apa dari bandara LIA langsung ke Senggigi saja ya? Karena ada Damri LIA – Senggigi, tarifnya Rp40.000. Tapi saya mau di kota Mataram dulu untuk gali-gali informasi seputaran Lombok.

Ketemulah saya dengan Amri. Dia besar di Kalimalang juga, Jakarta Timur. Amri kuliah di Universitas Mataram, terus nikah, punya anak. Sekarang jadi orang Mataram dia.

Dulu, Amri sempat jadi semacam guide untuk tamu-tamu yang kebanyakan dari Jakarta. Dia sudah matang untuk tempat wisata di NTB. Pas banget kan. Saya banyak nanya sama Amri. Dia kasih beberapa gambaran tempat wisata di NTB dan transportasinya ke sana. Pesannya, kalau mau ke mana-mana di NTB, sebaiknya pagi. Angkutan umum, apalagi yang antarkota, itu kebanyakan hanya ada pagi.

Alhasil besok paginya saya langsung ngacir. Jangan sampai kehilangan momen. Kan Amri bilang harus berangkat pagi. Rencananya sederhana, hari itu mau main ke pasar, terus ke Pantai Senggigi.

Jogging-lah saya dari arah Universitas Mataram sampai Pasar Kebon Roek. Di situ saya terkaget-kaget dengan banyaknya kuda di pasar!

Kuda itu buat alat transportasi. Di belakang kuda dipasang gerobak untuk mengangkut orang atau barang. Kuda dan gerobaknya ini disebut Cidomo. Ini adalah alat transportasi yang sangat lazim di NTB.

Warna kudanya bermacam, juga dengan warna gerobaknya. Jadi makin memeriahkan warna di pasar. Dia wara-wiri keluar masuk pasar. Ada sekitar seratus Cidomo. Itu yang nongkrong di Pasar Roek saja. Kalau sekujur tubuh Mataram mungkin bisa sampai seribu?

Ibu-ibu di pasar lebih senang naik Cidomo. Lebih praktis dan sesuai kebutuhan. Kalau naik bemo (sebutan “angkot” di Mataram) lama, nunggu penuh dulu baru jalan. Ibu-ibu kan juga mau cepat. Kalau naik Gojeg/Grab juga agak susah kalau ibu-ibu bawaannya banyak. Habis belanja ke pasar kan bawaannya banyak tuh ya. Tidak muat kalau pakai ojeg. Jadi Cidomo memang paling pas.

Tarifnya juga bersahabat. Misalnya dari Pasar Kebon Roek ke Kota Tua Ampenan yang jaraknya sekitar 2km, itu tarifnya hanya Rp5.000 per orang. Kalau bawa barang, tambah Rp5.000 lagi.

Cidomo ngetem di Pasar Kebon Roek

Sempat saya ngobrol dengan salah seorang pengendara Cidomo. Apa sih namanya? Sebut saja Pak Kusir. Saya tanya pendapatannya sehari berapa rata-rata? Pak Kusir jawab sekitar Rp80.000. Dengan uang segitu sudah cukup untuk kehidupan Pak Kusir.

Cidomo ini berkesan rakyat banget. Yang punya ya rakyat biasa, bukan punya korporasi besar. Dia juga tidak ada setoran ke pemilik pasar atau ke “pemilik negara”. Murni uang yang lecek-lecek dari ibu-ibu itu buat kebutuhan hariannya Pak Kusir.

Setelah baca-baca Wikipedia, ternyata cidomo itu singkatan dari cikar, dokar, dan mobil. Cikar itu alat transportasi barang yang ditarik oleh kuda. Dokar adalah alat transportasi orang yang juga ditarik oleh kuda. Nah terus ada mobil, karena cidomo pakai ban mobil bekas (yang bekas itu bannya, bukan mobilnya). Beda dengan delman atau andong di Jawa yang menggunakan roda kayu.

DI kepulauan Gili, cidomo ini jadi alat transportasi utama. Gili tidak memperbolehkan kendaraan mesin yang bersuara, seperti motor, apalagi mobil. Kalau motor listrik masih boleh, karena tidak bersuara. Cidomo lebih boleh lagi, dan memang jadi yang utama.

Yang jadi masalah, cidomo ini jalannya lambat. Dia juga menjadi penyebab kotoran kuda di mana-mana. Tapi yang saya perhatikan di Pasar Kebon Roek mayoritas cidomo sudah ditadahi “kloset” di bagian bokong kudanya. Jadi kapanpun kuda mau BAB, ya langsung ke kloset. Kalau masalah lambat, ya memang cidomo bukan buat perjalanan jauh sih.

Ngomong-ngomong soal bemo tadi, rupanya di Pasar Kebon Roek ada bemo menuju Senggigi! Tanpa banyak pikir, langsung saja saya naik. Tapi sebelumnya sarapan dulu. Nasi bungkus isi telur dan sayuran hanya Rp5.000! Nasinya sedikit sih, tapi buat saya cukup untuk sarapan.

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

Gunung Andong, 2021

Puncak Gunung Andong, sebelum malam

Masih musim Covid sih, pergerakan masih dibatasi memang, tapi rupanya yang lebih kuat adalah niat untuk naik gunung. Saya mengalah dengan niat tersebut.

Bersama komunitas Backpacker Jakarta, kami kumpul di Cawang pada Jumat 12 Februari 2021. Hari itu tanggal merah, jadi tidak perlu buru-buru pulang kantor untuk persiapan. Packing dan logistic sudah siap. Ini kali pertama saya bawa tenda sendiri. Tidak hanya tenda, juga kompor dan alat masak sederhana. Sudah ditambah sleeping bag dan jaket tebal, semua masuk dalam carrier 60L.

Itu carrier sejarahnya lumayan panjang. Saya beli sekitar 2010 waktu mendaki gunung pertama: Ceremai. Sampai sekarang masih awet, merk nya Avtech. Seingat saya itu produk Indonesia yang dulu berani kasih garansi jahit gratis kalau ada yang sobek.

Peta jalur pendakian Gunung Andong

Kumpul jam 10 malam, jalan jam 11 malam. Sabtu menjelang siang sampai di Rest Area, basecamp Sawit Andong, Magelang. Di sini rame banget. Rumah-rumah warga dijadikan basecamp untuk persiapan naik atau tempat istirahat. Tentu tidak ada kasur. Hanya ruangan beratap, itu sudah sangat berharga. Banyak WC umum dan banyak tempat makan. Parkir juga mudah.

Syarat dan Ketentuan Pendakian New Normal

Suasana di Sawit ini seperti memang sudah siap untuk menerima ratusan pendaki. Penduduknya ramah. Tentu bagus juga untuk ekonomi mereka. Banyak pendaki, artinya banyak uang yang akan dibelanjakan.

Bagusnya lagi, penduduk lokal tidak meninggikan harga. Misalnya nih ya, saya makan nasi rames ayam hanya Rp12.000. Ayamnya betulan ayam 1 potong, bukan hanya ayam suir. Rasanya nikmat. Setelah turun gunung esoknya malah saya makan di tempat yang sama dengan menu yang sama.

Menu di salah satu tempat makan
Nasi Rames Ayam Rp12.000

Setelah dzuhur, baru kami mulai naik. Kami ber-tiga puluh. Satu bus, semua dari Jakarta. Teman saya bilang, Gunung Andong kecil-kecil cabe rawit. Karena memang jaraknya sampai puncak tidak terlalu jauh, tapi naik terus. Hampir tidak ada bonus alias jalan datar.

Mulai perjalanan dari Sawit
Pos 1 Watu Pocong

Dari rombongan itu, saya termasuk sekelompok orang yang jalan paling depan. Dari basecamp sampai puncak butuh waktu 1 jam 40 menit. Turunnya 55 menit.

Sampai puncak, hanya ada sekitar 3 tenda. Kebetulan pas hujan turun. Kebetulan juga, ada relasi komunitas yang sudah pasang tenda besar di malam sebelumnya, dan belum dibongkar. Kita langsung masuk itu tenda besar, menunggu hujan reda. Beberapa pendaki yang lain, langsung buka tenda sambil hujan-hujanan. Beberapa lagi langsung ke warung, cari makan sekaligus berteduh.

Warung? Betul. Ada dua. Itu ciri khas Andong banget.

Ciri khas yang lain? Jumlah tendanya, wow. Mungkin kalau dihitung, 50 tenda lebih. Tendanya itu mepet-mepet. Tali tenda malang melintang. Kalau tidak hati-hati bisa kesandung.

Gunung Andong terkenal dengan keramaiannya

Air relatif gampang diakses dari puncak. Yang paling gampang, ya beli ke warung. Kalau mau gratisan, bisa turun ke mata air yang sudah dibuatkan keran, mungkin 15 menit perjalanan dari puncak.

Rasanya agak janggal buat saya, kalau di puncak gunung itu ketemu banyak orang. Biasanya kita ke gunung justru menghindari kerumunan. Itu sulit didapat di Andong.

Puncak Andong

Paginya, kami disuguhkan panorama tembok. Awan di mana-mana. Matahari muncul tahu-tahu sudah tinggi. Sesekali awan hilang. Itu momen nikmat karena beberapa gunung bisa terlihat dari puncak Andong. Juga kerumunan rumah penduduk di kaki gunung.

Ingin rasanya bisa kembali ke puncak Andong, tapi hanya ada tenda saya di sana, sampai pagi. Mungkin gak ya?