Hati hati dengan Crowde

Saya ingin berinvestasi dengan banyak ragam. Jadi saya taruh dana saya di beberapa tempat. Biasanya di awal investasi saya taruh dana kecil dulu, kalau memang lancar baru ditambah. Nah di Maret 2018, saya coba aplikasi yang namanya Crowde. Di situ bisa terlihat mana saja proyek yang akan berjalan dan berapa dana investasi yang diperlukan.

Screenshot_2018-11-07-16-30-58-61Maka pada 28 Maret 2018 saya investasikan dana saya sebesar Rp479.400. Itu adalah kekurangan yang diperlukan agar proyek bisa berjalan. Judulnya #703 Usaha Perdagangan Kentang.

Pada awalnya, direncanakan proyek akan berjalan pada 29 Maret 2018 – 7 Juni 2018. Ekspektasi profit adalah 3,50%, yaitu sebesar Rp16.779. Namanya juga coba-coba, kecil tidak apa-apa.

Crowde tidak memberikan kabar sampai batas proyek berakhir (7 Juni 2018). Maka saya WA ke nomor Crowde pada 22 Juni 2018. Dibalas Crowde pada 25 Juni 2018, katanya proyek tsb mengalami keterlambatan, dan akan di-follow up dalam 1-5 hari kerja.

Screenshot_2018-11-07-16-30-51-30

Tanggal 29 Juni 2018, Crowde menginfokan lagi bahwa usaha perdagangan kentang oleh petani Probolinggo harus mundur selesainya sampai 7 Juli 2018. Saya menerima info tersebut, lalu berterima kasih kepada admin.

Lagi-lagi, Crowde tidak memberikan kabar sampai batas proyek yang sudah dimundurkan itu (7 Juli 2018), maka tanggal 10 Juli 2018 saya menanyakan kembali tentang proyek ini. Crowde membalas pada 11 Juli 2018, katanya belum ada respon dari petani terkait, katanya akan segera di-follow up jika sudah ada info terupdate.

Sampai lebih dari dua minggu tidak ada update, maka saya menanyakan lagi pada 28 Juli 2018, apa sudah ada info? Crowde membalas tanggal 30 Juli 2018, dengan kata-kata yang sopan dan meminta maaf. Katanya, uang dipastikan tidak hilang oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab.

Lalu saya balas, apa tidak ada batas waktu pengembalian? Crowde menjawab, masih didiskusikan dengan pihak peternak. Dalam hati saya, kok jadi peternak? Bukannya ini urusan kentang? Tapi ya sudah, mungkin admin salah ketik. Saya jawab, ditunggu hasil diskusinya.

Tanggal 3 September 2018, saya tanyakan kembali, apa uangnya bsa dikembalikan?

Crowde menjawab, proyek perdagangan kentang sedang mengalami masalah hama, mereka minta waktu sampai Oktober. “Ketika sudah, tentu uang investasi akan kembali.”

Saya tegaskan: betul nih sampai oktober ya

Dijawab Crowde: iya bapak

Sampai akhir Oktober tidak ada pemberitahuan apa-apa. Lalu saya email (karena sebelumnya dapat info bahwa WA tidak digunakan lagi, semua komunikasi lewat email tanyakami@crowde.co) pada 5 November 2018. Saya menanyakan tentang pengembalian permodalan.

Crowde menjawab tapi tidak menjawab poin yang saya tanyakan, kapan dana dikembalikan?

Nah, karena sudah bosan dengan pemunduran-pemunduran dari Crowde, jadi saya share saja cerita ini agar jadi pembelajaran bagi yang lain. Saran saya sih, hati-hati investasi di Crowde.

Rasa Langsa

Langsa yang sekarang, dikenal sebagai sebuah kota kecil di Aceh. Letaknya sekitar 4 jam perjalanan dari Medan. Kalau dulu, konon katanya Langsa adalah hutan besar yang dihuni oleh elang besar, makanya disebut Langsa = eLANG beSAr. “Ilmu konon” ini agak didukung dengan adanya patung tugu elang ketika kita masuk kota Langsa dari utara, yaitu di Simpang Comodore.

Nah, sudah sekitar dua bulan saya tinggal di Langsa dalam rangka ngerjain sebuah project IT, mungkin masih sampai beberapa bulan lagi. Dua minggu sekali pulang ke Jakarta, pulang ke keluarga. Pulangnya ini rada sakit, karena saya harus lewati jalan darat dulu sampai Bandara Kuala Namu di Medan, sekitar 4 jam. Biasanya dari Langsa jam 10 malam, sampai Kuala Namu jam 2 pagi.

Pesawatnya baru terbang jam 5 pagi, itupun kalau tidak telat. Jadi luntang lantung di bandara sekitar 3 jam. Biasanya ngemper tidur di lantai 1, ada hamparan karpet, yang isinya orang-orang kayak saya: sampai bandara tengah malam, pesawat pagi. Terbang jam 5, sampai Cengkareng 7.30. Naik Damri dan ojeg, sampai rumah hampir dzuhur. Biasanya sampai rumah langsung rada meriang, harus tiduran.

Nanti balik ke Langsa kurang lebih begitu lagi. Sakit, kan? Yah… dijalani saja.

Di Langsa, saya tinggal di Hotel Kartika, bisa dibilang, hotel yang paling bagus di Langsa. Tapi jangan berekspektasi terlalu tinggi, yang dibilang paling bagus ini ya begitulah… Kamarnya tidak standard. Maksudnya, bukan tidak ada kamar tipe “standard”, tapi di kelas yang sama, kamarnya beda-beda. Misalnya, sama-sama kelas Superior, tapi yang satu dikasih teh kopi, yang satu tidak. Yang satu shower-nya air panas, yang satu tidak. Yang satu ada kulkasnya, yang satu tidak. Saya tidak punya pilihan, yang begini sudah yang terbaik.

Ke kantor, dari hotel, saya pernah pesan Grab dan Go. Keduanya hanya mimpi. Jadi saya stop becak, bayar Rp15.000 sampai kantor. Jaraknya sekitar 3km. Becak di sini adalah yang biasanya di Medan disebut bentor (becak motor). Kalau “becak” yang kita kenal di Jakarta (yang semuanya sudah dibuang ke laut) kan digoes dari belakang, nah kalau becak di Aceh ini pakai motor yang ditempel di samping kursi penumpang.

Sebetulnya ada satu pilihan lagi selain becak, yaitu RBT. Sampai sekarang saya belum tahu apa singkatannya, ada yang bilang: Rakyat Banting Tulang. Jadi ini sejatinya adalah yang kita kenal sebagai “ojeg”. Orang Aceh nyebutnya RBT. Sayangnya cari RBT ini rada susah, karena tidak bisa dibedakan mana yang RBT, mana yang bapak2 lagi naik motor (bukan RBT). Kan ndak enak kalau tiba2 kita stop-in ternyata bukan RBT.

Pernah saya ngobrol sama tukang becak di Aceh, dia mengeluhkan kerjaan semakin sulit di Aceh. Penumpang juga semakin sepi. Yah, memang saya rasakan sih. Perusahaan yang ada di Langsa hanya satu dua. PNS itu strata sosialnya sudah cukup tinggi. Kebanyakan lowongan pekerjaan yang ada dari sektor informal. Yang namanya informal ya begitu, gaji kurang dari UMR, sewaktu-waktu bisa dipecat.

Kopi

Tapi yang rada bikin heran, warung kopi banyak dan hampir selalu ramai. Jadi di satu sisi kerjaan susah, tapi warung kopi ramai terus. Yang saya lihat, fenomena ini (kerjaan susah, warung kopi ramai) ada di sekujur Aceh, tidak hanya Langsa. Sebegitunya orang Aceh suka sama kopi?

Iya.

Tapi memang ya, ngopi sambil nongkrong di Aceh itu tidak mahal. Sekali duduk ngobrol itu katakanlah dua jam, sangat lazim kalau dia hanya pesan kopi segelas seharga Rp7.000. Tidak ada sindiran dari pemilik kedai kopi dalam berbagai bentuk: ditanya mau pesan apa lagi, diambil gelas kosongnya, dilap-lap mejanya, tidak ada itu semua. Orang bebas nongkrong sampai jam berapapun. Beberapa warung kopi tidak pernah tutup.

Nah tapi jangan anggap semua warung kopi itu enak. Walaupun disaring-saring dengan atraksi yang keren, kopinya belum tentu enak. Jadi gini ceritanya, sejak dua tahun lalu, saya minum kopi tanpa gula. Dari situ memang kerasa mana kopi enak. Kalau pakai gula, rasa kopinya ketutup gula.

Jadi walaupun banyak warung kopi di Langsa, tapi tidak semua ramai. Biasanya yang ramai adalah yang kopinya enak, tempatnya enak, ada wifi, ada TV Flat.

IMG20181023175614
Menu kopi di Amma Spot Coffee, Langsa

Rata-rata harganya Rp7.000 segelas. Sempat cobain di beberapa tempat harganya Rp3.000, tapi yang harganya segitu rasanya gosong semua. Mungkin itu yang disebut kopi kampung. Ada beberapa tempat yang harganya beberapa puluh ribu. Seperti Amma Coffee, yang varasi kopinya banyak, malah ada yang namanya kopi lemon. Belum pernah dengar kan…

Mie

Di Aceh tidak ada mie Aceh. Cuma disebut “mie” begitu saja. Penjualnya di mana-mana, mudah sekali ditemukan. Yang susah adalah mencari mie yang enak. Beda juru masak hasilnya ya beda kan. Yang enak biasanya ramai. Seperti di ujung jalan Panglima Polem, itu dari pesan sampai jadi pesanannya hampir sejam saya nunggu. Tapi rasanya memang mantap.

mie aceh
Mie Aceh polosan

Harga mie rata di mana-mana di Langsa sama. Kalau yang polosan Rp8.000. Kalau mau tambah udang atau kepiting atau daging, ya nambah lagi. Kalau pakai daging Rp18.000. Kalau pakai kepiting, teman saya pernah bilang Rp25.000.

Betul, murah banget memang. Sea food di Aceh murah, karena memang kan dekat laut. Dan segar-segar! Kenapa bisa begitu? Yah mungkin karena Aceh diberikan laut dengan ikan yang banyak dan tidak jauh-jauh dari pantai. Jadi nelayan Aceh itu berangkat malam, pulang pagi, langsung dijual ke pasar. Dibeli sama ibu-ibu buat makan siang. Jadi tidak sampai 24 jam, ikan dari ditangkap, sudah sampai ke meja makan kita.

Ini beda dengan karakter nelayan di Jakarta, yang kalau nyari ikan, pulangnya berhari-hari kemudian. Ikan kena formalin, itu sudah lazim di Jakarta.

Pernah sekali saya makan nasi pakai gulai ikan. Kayaknya itu ikan laut yang ukurannya sepaha. Yang saya ambil adalah potongannya saja, sebesar dua genggaman, daging semua. Itu enak banget. Mungkin termasuk ikan yang paling enak yang pernah saya makan. Sudah puas makan ikan cukup besar, pas bayar, kirain sekitar Rp25.000. Eh ternyata hanya Rp15.000. Murah banget!

IMG20181104195130
Tipikal warung makan di Langsa

Di beberapa warung mie, saya lihat ada mie instan (semacam Indomie) dipajang-pajang. Dalam hati, ngapain orang pesan mie instant wong ada mie Aceh yang lebih enak, mana laku mie instant. Ternyata beda cara pikirnya sama orang lokal. Teman saya yang kecil dan besar di Aceh bilang, ya wajar saja, kami kan bosan makan mie kuning terus (mie Aceh), begitu katanya.

Hal yang sama dengan warung kopi. Kenapa banyak kopi sachet digantung-gantung di sebelah perabot kopi saring? Wong Aceh sudah punya kopi bagus, ngapain malah pilih kopi sachet yang kualitasnya rendah? Eh ternyata alasannya karena bosan juga. Bosan dengan kopi saring, jadi pesan kopi sachet.

Ohya, tidak semua murah di Langsa. Ada beberapa yang lebih mahal. Pertama sandang. Rata-rata baju celana lebih mahal. Kedua cukur rambut. Kalau cukur pinggir jalan di Jakarta biasanya saya Rp15.000. Di Langsa dengan kualitas yang sama (sama-sama pinggir jalan) harganya Rp25.000.

Review Hotel Evo Pekanbaru

Sejak terakhir proyek dari Semarang, saya pindah proyek ke Pekanbaru. Sekitar lima bulan tinggal di Pekanbaru. Pulang ke Jakarta hanya dua minggu sekali. Nah, di Pekanbaru saya tinggal di Hotel Evo, yang posisinya persis di Jalan Sudirman, pas di ujung Jalan Nangka. Seberang hotel ada Gramedia. Antara hotel dan Gramedia ada fly over. Jalan di fly over itu termasuk jalan yang bebas dari mobil ketika car free day di hari Minggu. Jadi kita yang nge-gym di hotel kalau minggu pagi pemandangannya ya orang-orang yang lagi jogging di fly over.

IMG20180926071225
Gym di Hotel Evo lantai 5

Review ini saya buat setelah tidak tinggal di Evo lagi. Terakhir di sana tanggal 26 September 2018, lalu saya dipindah ke Aceh.

Pertama saya mau review kamarnya. Beberapa kamar saya tinggali sampai satu bulan, sebagian lagi hanya satu dua minggu. Kamar selalu bersih dan nyaman. Saya pulang kantor paling cepat jam 6 sore, itu selalu sudah bersih. Kan ada tuh hotel yang house keeper nya lupa bersihin. Setelah ditegur baru dibersihin. Nah, Evo tidak begitu. Evo selalu bersih.

IMG20180926071128
Kamar terakhir yang saya tinggali di Hotel Evo: 508

Semua TV di kamar berlayar flat, tidak ada TV tabung. Pilihan channel-nya juga cukup beragam. Ada satu meja dan satu kursi kecil, hanya cukup untuk satu orang. Jadi biasanya teman saya kerja di meja, saya di kasur pangku laptop atau turun ke lobi.

Lampu di kamar cukup. Ada lampu khusus di meja, ada lampu khusus baca di Kasur, ada juga lampu besar. Nah, saklar yang dekat kasur ada untuk lampu baca di kasur dan lampu besar. Saklar untuk lampu di meja tidak ada, jadi terkadang kalau sudah rebahan agak malas turun kasur buat matikan lampu di meja. Kalau ada juga saklarnya di dekat kasur, akan lebih bagus karena tidak perlu turun kasur. Dasar saya malas memang.

Tidak ada lemari untuk baju. Yang ada hanya gantungan baju dan semacam kotak kecil pendek yang bisa ditaruh baju atau sepatu.

AC bagus. Saya tidak menemukan ada kamar yang AC nya kurang bagus.

Shower ada di kamar mandi. Airnya lancar, tidak pernah mogok. Air panas dan dinginnya juga berjalan baik. Sabun cair nempel dekat shower. Untuk sampo ya pakai cairan itu juga. Tapi yang mungkin perlu perbaikan adalah aliran air dari shower ke pembuangan, itu lambat turunnya, jadi di beberapa kamar air mudah menggenang. Saya sering angkat sumpal pembuangannya supaya air bisa lebih lancar mengalir.

Setiap hari, disediakan sikat gigi, kopi-kopian, dan air mineral. Sikat gigi hotel tidak pernah bagus, termasuk yang di Evo. Jadi saya beli sikat ggi sendiri. Kopinya Nescafe, Teh-nya Prendjak, dan juga ada gula serta creamer.

Heater ada di tiap kamar, jadi gampang kalau mau bikin kekopian, juga gampang kalau mau bikin mie instan, hehe. Teman saya ada yang masak mie di heater, sekaligus makannya di situ juga, karena agak repot kalau minjam piring ke hotel.

kamar evo
Kamar di Hotel Evo

Tentang sarapan, alhamdulillah jenis makanannya cukup. Makanan utama selalu ada nasi ayam dan sayur. Tambahannya berganti, kadang bihun, kadang mie, kadang telur, kadang ikan. Masih makanan utama, selalu ada bubur ayam. Di samping bubur ayam ada juga sayur apa gitu (jarang ambil). Juga ada sup-supan yang bergant tiap hari, favorit saya sup cream jagung dan soto daging. Juga ada semangkuk raksasa dengan isi berganti: bubur kacang hijau, kolak, bubur kacang hitam, bubur sum-sum.

Rerotian ada kalau tidak salah 3 jenis selai, tapi jarang saya sentuh rerotian karena tidak ada meses/cokelat. Ada pojok buah, selalu 3 jenis buah, biasanya: pepaya, semangka, dan nanas. Ada pojok puding dan kue-kue kecil, favorit saya kalau ada roti jala gulung dengan selai durian, ohya, sama pisang cokelat.

Ada gerobak khusus yang isinya rebusan: pisang, jagung, ubi. Masih di gerobak yang sama, ada makanan utama yang sering berganti: nasi kuning, nasi uduk, dll.

Minuman ada di pojokan sendiri, ada air mineral, ada infused water, ada jus, dan ada susu, tapi susunya terasa dicampur air. Kopi dan teh juga punya tempat sendiri.

Wah pokoknya urusan sarapan memuaskan lah. Tapi karena saya terlalu lama di hotel jadi sesekali ada perasaan bosan.

Transportasi ke kantor dan ke bandara sudah difasilitasi hotel, antar jemput. Tapi kalau sudah malam (misalnya pas lembur) ya tidak dijemput. Driver-nya namanya Bang Ridho. Ini orang service oriented banget, pas lah kalau kerj adi hotel. Bang Ridho selalu membantu kami, selain urusan jemputan, juga urusan lain. Kami kalau tanya tentang Pekanbaru ya ke dia.

Selain transportasi, fasilitas lain yang saya dapat adalah laundry. Satu kamar maksimal lima potong per hari. Taruh saja di dalam kamar, nanti diambil. Besoknya sudah rapi terbungkus sudah diseterika. Kadang-kadang malah sorenya, di hari yang sama, sudah selesai. Tapi sayangnya, kadang-kadang baju tertukar masuk ke kamar lain.

Password wifi diganti hampir setiap hari. Beberapa kal kurang lancar, tapi pada umumnya lancar dan cepat. Sangat mendukunglah buat kerja. Malah saya lebih senang kerja di hotel karena jaringan lebih stabil dibanding di kantor.

Sekian review saya. Secara umum saya puas tinggal di Evo, dan saya rekomendasikan untuk menginap di Evo kalau ke Pekanbaru.

Nyicip Kereta Api Aceh

Minggu 7 Oktober 2018 saya iseng-iseng cobain naik kereta di Aceh. Kebetulan lagi main ke rumah kakek di Krueng Mane (masih sekitar 30 menit naik mobil ke Utara Lhokseumawe, Aceh). Stasiun Krueng Mane itu berjarak sekitar 20 menit jalan kaki dari rumah kakek.

IMG20181007090536
Stasiun Krueng Mane

Sudah jam 9 pagi tapi suasana Stasiun Krueng Mane masih sepi, padahal kereta berangkat jam 9.15. Hanya ada saya dan seorang ibu-ibu (menjelang nenek-nenek). Harga tiketnya Rp1.000. Ini yang benar saja, harga tiketnya serius hanya seribu perak? Si petugas wanita muda mengulang lagi, “Tiketnya seribu.” Saya beli satu tiket Krueng Mane – Krueng Geukuh.

IMG20181007085416
Tiket kereta Krueng Mane – Krueng Geukuh Rp1.000

Sekitar sepuluh menit sebelum jam keberangkatan, kereta tiba. Kok pendek banget, pikir saya. Hanya dua gerbong. Tapi keretanya bersih terawat. Kursinya depan-depanan saling menghadap, seperti Commuter Line di Jakarta.

Kami berdua naik (saya dan ibu-ibu tadi). Kereta berjalan on time 9.15.

Ohya, sebelum naik kereta, saya sempat ke Pantai Krueng Mane, melewati rel kereta. Di situ ada gerombolan kambing yang main-main di rel kereta. Terus waktu di kereta saya teringat kambing itu lalu tanya ke petugas, apa jalur ke Krueng Geukuh (tujuan saya) aman dari hewan? Ooh tentu tidak, jawab si petugas tegas.

IMG20181007082709
Kambing bermain di rel kereta

Baru saja kemarin, ada warga yang mengikat sapinya di rel kereta. Waktu kereta lewat, ya si sapi panik dan lelompatan ke sana ke mari, melompati rel. Kalau dia diam saja, tenang di pinggir rel, tidak akan kena tabrak. Tapi ini masalahnya si sapi sudah terlanjur panik. Jadi, keretanya ngalah. Berhenti dulu, amankan sapi, baru kereta jalan lagi. Harga seekor sapi belum tentu ketutup dari hasil penjualan tiket kereta sebulan hehe.

Cerita serupa terjadi untuk kambing. Walau tidak diikat, tapi itu kambing diklaksonin kereta tetap tidak mau minggir. Mungkin karena lubang telinganya tertutup daun telinga, coba kelinci, mesti langsung lompat, karena daun telinganya tegak. Jadi kereta ngalah lagi, amankan kambing, baru kereta jalan lagi.

Saya tidak mengalami kasus sapi dan kambing, hanya cerita petugas. Yang saya alami justru orang nyeberang rel naik motor. Itu kejadian pas saya naik kereta hari ini. Jadi kereta terpaksa berhenti dulu karena ada ibu-ibu naik motor yang mau nyeberang rel tapi kesulitan, karena jalannya memang agak menanjak.

Kereta berhenti sambal klaksonin si ibu-ibu itu, maksudnya biar cepat nyeberangnya. Eh dia malah ragu-ragu. Nyeberang, enggak, nyeberang, enggak, ada kali 5 menit nungguin keputusan dia mau nyeberang apa enggak. Akhirnya gak nyeberang. Si ibu-ibu mundur. Lalu kereta bisa jalan lagi.

IMG20181007090356
Jalur kereta api Aceh

Saya tanya masinisnya, abang berarti enak dong kerjanya santai, wong sehari hanya tiga kali jalan, sekali jalan hanya sejam paling. Jadi sehari hanya kerja tiga jam? Iya, katanya. Tapi jadi masinis di Aceh ya bingung mau ke mana, tidak ada hiburan apa-apa. Beda dengan di Medan yang banyak pilihan hiburan, karena di kota. Jadi ternyata masinis di Aceh itu ditugaskan bergilir setiap bulan ganti. Mereka aslinya adalah masinis kereta di Medan.

IMG20181007090234
Kereta sepi penumpang

Setelah sampa Krueng Geukuh, saya langsung ditawari naik kereta yang sama, kembali ke arah Krueng Mane, tapi tidak sampai Krueng Mane, hanya sampai Bungkaih alias hanya setengah perjalanan. Tiketnya juga sama, Rp1.000. Nah di perjalanan pulang ini saya ketemu sama ibu-ibu yang mau nyeberang tapi ragu-ragu tadi.

IMG20181007094402
Petugas melakukan scan tiket sebelum penumpang masuk kereta

Turun di Bungkah, masinis yang nyetir kereta, yang tadi saya ajak ngobrol, mengarahkan saya, “Lewat jalan ini nanti ketemu jalan raya.” Saya jalan sesuai arahan. Tiba-tiba saya dengar klakson kereta. Tahu kan klakson kereta kan gede banget suaranya. Saya nengok ke tempat masinis, si masinis melambaikan tangan pamit mau parkir kereta. Ternyata itu klakson buat dadah sama saya. Seperti kita naik motor atau mobil, lalu pamit ke teman yang sudah kita antar, kan ngelaksonin. Tapi ini kereta, suaranya gede banget.

Lanjut dari Bungkaih saya lari dan sesekali jalan, sampai Krung Mane, sekitar 6 km. Sebetulnya banyak angkutan umum lewat, seperti labi-labi (semacam angkot), mini bus BE (Biereun Express), becak motor, dan L300. Banyaklah alternatifnya, karena itu adalah jalur lintas provinsi. Semua angkutan dari Medan ke Banda Aceh lewat situ. Tapi saya lebih memilih lari.

IMG20181007105012
Mini bus Biereun Express, alternatif transportasi umum Lhokseumawe – Biereun
IMG20181007110903
Labi-labi, alternatif transportasi umum. Semacam angkot, tapi pintunya di belakang

Enaknya lari/jalan itu, selain sehat, saya juga dapat mengamati aktivitas warga. Seperti adanya klinik bersalin gratis. Seperti anak-anak usia SMP yang berkumpul di warung kopi sambil pegang HP android masing-masing, mungkin main game. Seperti meunasah (semacam mushola/masjid) yang besar-besar dan bentuknya semua panggung. Seperti teguran-teguran untuk “piyoh” (silakan mampir) dari orang-orang ke saya, dll. Itu bonus dari lari, seru.

Video dokumentasi waktu naik kereta bisa dilihat di sini.

Camping di Pulau Pari Bersama Keluarga

Ini adalah catatan perjalanan saya bersama anak (4 tahun) dan istri ke Pulau Pari pada 15-16 Agustus 2018.

IMG20180915113132
Pulau Pari

Sejak sebelum subuh kami sudah berangkat naik motor ke Dermaga Pelabuhan Kali Adem Muara Angke. Parkirannya nempel langsung dengan pelabuhan yang isinya kapal-kapal ke Pulau Seribu. Ongkos parkir 24 jam pertama Rp25.000 plus tambahan Rp1.000/jam kalau lewat dari 24 jam.

Sengaja kejar jam 6 pagi sampai Muara Angke kuatir kehabisan tiket. Beli tiketnya gak ngantri, langsung dapat 3 tiket dengan harga Rp115.000 (dewasa Rp45.000, anak Rp25.000).

IMG20180915064547
Loket pembelian tiket di Pelabuhan Kali Adem

Makan dulu di warung dekat pelabuhan. Harga makanan aman, gak digetok. Makan dua piring, pakai sayur dan telur, totalnya Rp26.000. Banyak juga tukang bubur ayam.

IMG20180915064428
Kursi tunggu Pelabuhan Kali Adem

Jam 7 pagi kami masuk ke pelabuhan bayar peron Rp2.000/orang. Langsung naik kapal. Cari kursi yang dekat kaca biar bisa lihat-lihat laut. Bagusnya, tiket dijual sejumlah bangku yang ada, jadi tidak ada penumpang yang tdak dapat bangku. Anak saya baru sekali ini nyeberang laut naik kapal, jadi kelihatan senang sekali. Tapi tidak lama kemudian dia tertidur karena keenakan dihempas angin laut.

Kapal berngkat 7.30 dan sudah sampai Pulau Pari sekitar 9.30 alias dua jam perjalanan. Ini termasuk pulau yang dekat. Kalau pulau lain seperti Tidung dan Pramuka, jaraknya lebih jauh lagi.

Langsung mencari penginapan, tapi harganya di atas Rp300.000 semua. Harga itu langsung disebut oleh ibu-ibu yang banyak menawarkan penginapan di sepanjang jalan sejak turun kapal.

Jadi kami jalan terus sampai Pantai Pasir Perawan. Di sana ditawari sewa tenda Rp80.000 oleh Irwan (081584220504). Langsung saya iyakan. Plus tambahan biaya kebersihan Rp15.000/orang (anak kecil tidak dihitung). Saya pikir awalnya, wah pungutan liar nih, tidak ada karcisnya pula. Tapi setelah menginap semalam dan tahu bahwa pengelola sering nyapu sampah-sampah di pantai, uang segitu terasa kecil.

Terkait pengelolaan Pulau Pari, saya merasakan ada gejolak sosial di Pulau Pari, antara penduduk lokal yang lahir dan besar di pulau ini, dengan pihak lain yang merasa memiliki hak mengelola sebagan besar Pulau Pari.

IMG20180916055155
Konflik di Pulau Pari antara warga dengan swasta

Konflik ini dengan telanjang bisa kita lihat dari kalimat-kalimat di tembok:

“PULAI INI TIDAK DIJUAL. JIKA INGIN MEMBEL HUBUNGI TUHAN”

“TANAH KELAHIRAN TIDAK UNTUK DIJUAL”

“STOP KRIMINALISASI DAN INTIMIDASI”

Saya sempat ngobrol dengan penduduk lokal. Apa sih yang dituntut dari pihak lain yang merasa punya hak kelola tsb?

Dijawab, warga yang berbisnis di Pulau Pari akan dimintakan semacam iuran yang harus disetor ke pihak lain tersebut.

Saya tidak tahu persis masalah di dalamnya. Tapi yang jelas, warga tidak mengemis minta ditolong. Mereka justru mempersiapkan Pulau Pari menjadi objek wisata yang menyenangkan, dengan cara membersihkan pantai dengan rutin, membuat zona parkir dan zona tenda agar rapi, memberi harga makanan normal, memberi semacam standard harga yang digunakan bersama, menyiapkan fasilitas toilet yang cukup, serta membuat pulau jadi aman.

Aman dari apa? Salah satunya dari maling. Saya beberapa kali jalan-jalan keluar tenda, tidak ada yang mengganggu tenda itu.

Standard harga misalnya gimana? Misalnya sewa sepeda Rp15.000 tanpa boncengan dan Rp25.000 dengan boncengan. Air mineral Rp5.000 yang 600ml dan Rp10.000 yang 1,5 liter. Sewa tenda Rp80.000. Air kelapa muda Rp15.000. Telur gulung Rp5.000. Sewa kano Rp60.000/jam. Keliling bakau Rp15.000/orang.

IMG20180916085805
Sepeda menjadi alat transportasi utama di Pulau Pari

Buat anak saya, tidak mudah untuk bisa tidur di tenda. Biasanya dia tidur di kamar ber-AC. Lepas Isya, dia minta pulang. Merengek sampai menangis. Setelah dibujuk akhirnya mau juga tidur di tenda. Awalnya di dalam tenda, lalu keringetan, lalu saya bawa tidur di luar tenda. Walaupun dangdutan warga sampai tengah malam, tapi anak saya tetap bisa tidur.

Dia bisa tidur pulas mungkin karena sepanjang sorenya berenang terus di Pantai Pasir Perawan, yang jaraknya hanya tiga meter dari tenda. Atau mungkin karena seseruan main ayunan di atas pantai. Atau mungkin karena terlalu banyak tertawa setelah keliling hutan bakau dengan kano yang saya sewa. Atau karena Lelah main lempar-lemparan pasir.

Esok paginya, dengan mudah anak itu bisa bangun setelah dibisiki, “Mau lihat bintang laut gak?”

Masih agak gelap, kami berjalan ke Pantai Bintang, di bagian ujung pulau satunya. Jadi kalau Pantai Pasir Perawan terletak di ujung jalan paling timur, Pantai Bintang ada di ujung jalan paling barat. Tadinya mau sewa sepeda, tapi sayang juga hanya dipakai 3 jam diminta Rp30.000. Jadi kami jalan kaki saja. Sekitar setengah jam.

Betul sekali dinamakan Pantai Bintang karena memang terlihat bintang laut di mana-mana. Harus agak teliti melihatnya karena warna bintang lautnya abu-abu menyerupai warna pasir. Apa definisi bintang laut di mana-mana? Kurang lebih, dalam jarak 2 meter akan ada bintang laut yang lain lagi. Terkadang mereka bertumpuk. Mungkin sedang kawin?

IMG20180916062324
Mudahnya menemukan bintang laut di Pantai Bintang

Saya mengingatkan sekelompok wisatawan yang sedang berlompa mencari bintang laut lalu ditumpuk di darat (pinggir pantai), bahwa bintang laut bisa mati kalau ditaruh di darat. Sukurnya mereka terima peringatan tsb dan langsung memindahkannya kembali ke air.

Pantai Bintang punya banyak ayunan dan tempat nongkrong. Pantainya juga bersih terawat, jadi sangat wajar kalau warga menarik uang kebershan Rp2.500/orang.

Sayangnya tidak bisa berlama-lama di Pantai Bintang, karena kapal menuju Muara Angke berangkat dari Pulau Pari jam 10. Bisa jadi ada kapal tambahan di atas jam 10 kalau memang sedang banyak kunjungan, tapi itu tidak jelas berangkat atau tidak.

Sebelum ke pelabuhan, kami makan nasi uduk dulu seharga Rp12.000/porsi. Nasi uduknya enak banget, mungkin karena pas lapar juga ya. Sempat ngopi juga sambil nunggu kapal, secangkir Coffeemix Rp5.000.

IMG20180916092455
Kapal dari Pulau Pari menuju Dermaga Kali Adem

Harga tiket ke Muara Angke Rp45.000. Semakin mendekati jam 10, semakin banyak wisatawan lokal datang untuk masuk kapal. Beberapa terdeteksi sebagai wisatawan asing. Kapal saya baru berangkat 10.30 dan sampai Muara Angke 12.30.

Panasnya begitu menyengat. Tapi tidak seberapa dibanding pengalaman yang anak saya dapatkan: menginap di tenda pinggir pantai. Mudah-mudahan anak ini menjadi pecinta alam.

Ramahnya Marapi

Perjalanan kali ini berbahaya, bukan karena alamnya, tetapi karena saya menjadi sadar bahwa saya bisa pergi sendirian ke gunung. Bisa menyebabkan ketagihan.

Kamis siang, 16 Agustus 2018, saya tersadar, teman-teman saya pada ngambil jatah hometrip ke rumahnya masing-masing. Kami adalah tim proyek yang ditugaskan di Pekanbaru. Sore itu sebagian besar berangkat ke bandara untuk pulang. Mereka sudah sadar sejak lama bahwa ini long weekend. Saya sadarnya telat, jadi kehabisan tiket pesawat (yang masuk budget).

Konsultasi sana sini, diputuskan malam ini berangkat menuju Gunung Marapi (2891 mdpl) di Sumatera Barat. Dijemput travel jam 8 malam. Saya pesan travel TST (Tri Sakti Travel: 085365370003/085278303900) rute Pekanbaru – Padang, turun di Koto Baru, bayarnya Rp160.000. Mobilnya Innova. Ini termasuk kelas eksekutif karena penumpang hanya lima. Kalau yang ekonomi penumpang tujuh, bayarnya Rp130.000.

Di tas, hanya bawa jaket, baju, celana, dan handuk hotel Lanjutkan membaca “Ramahnya Marapi”

Kuntum Farm Field untuk Anak Senang

Tidak banyak pilhan buat saya yang tinggal di Jakarta, yang kalau dapat libur itu hanya Sabtu Minggu, untuk bisa liburan jauh dan lama. Tidak bisa jauh karena terbatas dana. Tidak bisa lama ya karena itu tadi, hanya Sabtu Minggu. Bandung masih memungkinkan, tapi bakal capek di jalan. Yang paling mungkin itu ya Bogor. Tapi Bogor yang kota, bukan yang puncak. Kalau yang puncak, males juga macetnya.

Jadilah kemarin, Sabtu 11.08.2018, saya ke Kuntum Farm Field, sama anak istri. Ini kayaknya yang punya anak IPB deh, mungkin kakak kelas saya. Bogor, agrowisata, peternakan, perkebunan, siapa lagi?

Awalnya saya pikir luangan waktu kami 3 jam di Kuntum itu kurang, eh ternyata malah kelebihan, karena anak saya sudah minta pulang padahal baru 2 jam.

IMG20180812105802
Tiket masuk Kuntum Farm Field Rp50.000 di hari libur/weekend

Tiket masuk Rp50.000 karena weekend Lanjutkan membaca “Kuntum Farm Field untuk Anak Senang”