Keluar Harian

Kalau sudah mudah dapat tulisan, makan enak setiap hari, keluar masuk hotel, status sosial spesial, seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, lantas kenapa saya keluar dari media harian?

pengunduran-diri
Dok: mommiesdaily.com

Setahun cukup sudah buat saya jadi reporter. Pertama, jujur saja, gajinya kecil! Saya ingat betul pernah ikutan demo buruh di Monas, mereka menuntut UMR naik di angka sekian. Yang diminta buruh itu, masih lebih tinggi dari gaji saya. Sedih rasanya. Saya liputan kan kasarnya buat bantu memperjuangkan para buruh supaya isu kenaikan UMR naik dan memerahkan telinga pengusaha sekaligus pemerintah. Tapi saya sendiri siapa yang perjuangkan?

Kedua, seperti tidak punya waktu yang bebas dipakai. Suatu pagi di hari minggu, saya baru bangun tidur di tenda yang saya pasang di atap rumah (rumah mertua, bukan rumah saya). Jadi ceritanya malam minggu di tenda, tapi di Jakarta. HP bunyi dan saya disuruh terbang ke Bali sore itu juga. Kalau tidak salah, buat liputan pesawat barunya Chairul Tanjung. Penting banget kan! Nah, tugas liputan dadakan begini ini sering dan tidak bisa ditolak. Di awal-awal memang seru, terbang sana terbang sini. Tapi percayalah, itu kenikmatan sesaat.

Ketiga, setiap hari, pulangnya jam 8 malam paling cepat. Bukan karena menghindari macet Jakarta, tapi karena setiap sore rapat redaksi buat laporan hasil liputan dan buat menentukan headline besok. Rapat redaksi selesai maghrib. Setelah maghrib, hampir pasti ada tugas tambahan wawancara untuk bahan headline. Hasil wawancara harus diketik rapi dan disetor ke redaktur. Kalau dia sudah bilang ok, baru boleh pulang.

Keempat, bosan! Isu ekonomi makro itu-itu saja. Bahkan yang saya tonton sekarang nih, 2018, itu masih banyak yang sama dengan isu-isu yang saya tulis di 2012. Pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca perdagangan, Gini ratio, politisasi jumlah penduduk miskin, pantura (bahasan tiap tahun menjelang lebaran). Saya bahkan sudah bisa “mengarahkan” tulisan. Saya ingin tulisan pro ke mana, tinggal pilih nara sumber yang akan cuap cuap pro. Jadi saking seringnya saya ngobrol dengan stakeholders ekonomi makro, sudah tahu pendapat masing-masing nara sumber tentang suatu isu (yang tu-itu saja) akan seperti apa.

Kelima, semakin saya tahu masalah, semakin ingin tidak tahu. Beberapa kali saya dapat undangan liputan di DPR. Kalau Gus Dur bilang DPR seperti Taman Kanak-Kanak, itu saya rasakan betul. Gak jelas! Saya melihatnya mereka bicara hanya untuk aktualisasi diri, isinya kebanyakan sampah. Maka saya tidak heran, kalau reporter masuk ke ruang rapat/sidang, dicekin satu satu tasnya reporter. Kalau ada aqua botol, mesti disita. Kuatir kenapa tahu? Kuatir reporter nimpuk aqua botol dari atas, saking gemesnya sama jalannya rapat-rapat di DPR. Nah yang begini-begini sebetulnya lebih tenang buat jiwa saya kalau saya tidak tahu. Ini baru satu contoh, yang lain banyak!

Keenam, independensi. Saya buka saja, beberapa kali tulisan saya diperkosa oleh atasan. Ada dua motif, pertama tulisan itu diredam, tidak diterbitkan. Kedua, tulisan dipotong bagian pedasnya. Belakangan saya mencium, kelihatannya ada afiliasi politik tertentu dari atasan.

Sekarang saya malah bekerja di bidang IT, tapi tetap menulis, kadang-kadang untuk majalah orang. Lebih enjoy begini hehe.

Iklan

Masuk Harian

Pernah setahun dalam hidup saya, berkarir menjadi seorang reporter di sebuah Harian Ekonomi Jurnal (bukan nama sebenarnya), sebuah surat kabar nasional yang usianya sudah puluhan tahun. Kantornya di Menteng, Jakarta. Waktu tepatnya itu Oktober 2012 – Oktober 2013. Ini cerita saya selama jadi reporter, siapa tahu ada yang berminat untuk tahu….

Sudah sejak 2005 (masih di kampus) sampai 2012 saya sudah biasa menulis, terutama menulis untuk buku dan majalah. Tulisan mendalam dengan wawancara panjang dari banyak sudut pandang, itu sudah jadi makanan sehari-hari. Intinya, saya tidak kesulitan menulis.

Namun beda ceritanya di media harian. Kalau di majalah saya rata-rata membuat 1 tulisan dalam 3 hari, nah di Harian Ekonomi Jurnal saya dipatok harus setor 3 tulisan dalam 1 hari! Itu belum lagi ditambah kalau ada penugasan wawancara khusus untuk bahan headline. Teman saya di media online lebih edan lagi. Mereka ditarget 10 tulisan per hari, dan rata-rata media online sekitar itu. Memang sih, target tulisannya tidak dalam. Tapi tetap saja membuat pusing.

Pusing…. Itu awalnya….

Sekitar 3 bulan kemudian, mudah sekali membuat tulisan. Tahu kenapa? Karena tulisan itu datang sendiri ke email saya.

Dari mana datangnya tulisan itu? Saya membaginya menjadi dua sumber utama. Pertama dari kawan-kawan sesama reporter yang suka membagi hasil transkrip wawancaranya, yang kemudian saya vermak sana sini jadi tulisan. Saya juga kalau buat transkrip, bagi-bagi ke mereka, jadi semacam simbiosis mutualisme.

Sumber kedua adalah dari badan atau lembaga yang kirim press release. Saya lihat banyak reporter yang plek-plekan apa yang ada di press release itu yang jadi berita. Tapi ya banyak juga yang diolah serius dan dicari lawannya, dibuat cover both side. Kalau saya, tergantung lagi sok sibuk atau tidak. Kalau lagi sok sibuk, minimal ubah judul dan paragraf pertama.

Jadi begitulah hari-hari saya setelah tiga bulan. Sudah tidak kesulitan lagi mencari berita. Malahan, yang saya perhatikan, di press room rata-rata orang ngobrol. Kebanyakan ngobrolnya bukan dalam rangka buat tulisan. Maksud saya, itu bisa jadi indikasi bahwa kejar target tulisan itu tidak seberat yang dibayangkan.

Door stop

Doorstop Interview Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro
Wawancara door stop. Dok: kemenkeufoto.blogspot.com

Kalau berita yang kita dapat hanya dari press release, ya bisa saja. Sering kok teman-teman wartawan tidak ikut liputan dan tidak ke kantor, tapi setoran tulisannya masuk.

Namun, media sering kali diundang untuk liputan atau press conference sana sini. Ya Namanya juga media. Sehari bisa ada puluhan undangan. Rata-rata saya dapat dua undangan sehari. Kalau undangan liputan, ini wadah buat saya gali ilmu, karena biasanya membahas suatu masalah secara mendalam dari sudut pandang beberapa ahli. Kalau undangan press conference, biasanya hanya sekitar 1 jam. Urutannya: pemateri berucap, tanya jawab, tutup, baru terakhir door stop. Eh, habis itu makan-makan deng.

Door stop itu begini, setelah penutupan press conference, kan pemateri bubar keluar ruangan. Nah, kita cegat si pemateri sebelum dia masuk lift atau keluar gedung. Kita tanya apa yang kita mau tanya. Dalam door stop, kita lebih fleksibel bertanya, sampai pertanyaan yang nyelekitpun muncul. Beda dengan di sesi tanya jawab waktu press conference, yang relatif lebih formal.

Bisa juga, door stop dilakukan di kantor tempat nara sumber yang mau kita kejar. Misalnya kami reporter yang ngepos di Kemenkeu, mencegat Menteri atau Dirjen di waktu antara turun dari mobil sampai masuk lift, atau mencegat sebelum ybs keluar makan siang, atau sebelum pulang kantor. Kita biasanya dekati ajudan atau supir ybs, buat kirim info ke kita tentang mobilitas bosnya. Kasih rokok.

Kalau biasa kita lihat di TV berita, banyak wartawan yang menyorongkan perekamnya ke dekat mulut nara sumber, nah itulah suasana door stop. Dari hasil rekaman door stop ini, diketik atau biasa kita sebut ditranskrip, lalu dibagikan ke reporter lain.

Terkait undangan liputan juga, yang sehari rata-rata dua kali itu, biasanya dilakukan di ruang-ruang meeting hotel atau di restoran. Jadi makanan yang disajikan ke kami ya makanan hotel dan restoran mewah. Tidak pernah sekalipun saya diundang terus tidak disediakan makan. Kalau liputan pagi, biasanya saya baru sarapan di tempat liputan. Kue kue dan kopi cukuplah. Makan siang jelas di tempat liputan.

Status sosial reporter juga saya rasakan cukup tinggi. Hal yang biasa buat kami untuk bertemu pejabat bahkan ngobrol ketawa bareng. Hampir tiap hari saya door stop Menteri, minimal Dirjen atau pengamat-pengamat ekonomi yang sering muncul di TV.

Sejak jadi reporter harian, ketika ada pemeriksaan polisi di jalan, saya selalu lolos. “Lain kali lampunya dinyalakan ya,” atau “Lain kali jangan masuk jalur busway ya,” begitu kata polisinya. Tidak pernah dapat surat tilang. Terima kasih pak ya.

Pos

Setiap reporter di tempat saya kerja, ditempatkan di pos-pos tertentu. Saya pegang desk ekonomi makro dan saya ditugaskan ngepos di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian PU. Sesekali disuruh juga ke Badan Pusat Statistik (BPS). Jadi sehari-hari hampir pasti saya nangkring di pos-pos itu.

Kenapa harus tetap nangkring di pos itu walaupun sebetulnya target tiga tulisan sudah tercapai? Karena kita harus tetap update dengan isu yang muncul tiba-tiba, dan isu yang tiba-tiba itu biasanya muncul di pos-pos itu. Kalau redaktur atau pemred di kantor nemu isu menarik (baca di media online atau tetiba ngobrol sama temannya di media lain) tapi kita ditanya hah hoh jawabnya, habislah sudah. Bakal di-bully habis-habisan. “Lo ngepos apa tidur?”

Tapi toh pada akhirnya saya memutuskan keluar dari Harian Ekonomi Jurnal. Kenapanya bisa dibaca di tulisan berikutnya yaa…

Hikikomori: Ditakuti Jepang, Diikuti Remaja Indonesia

wsj
Dok: Wall Street Journal

Tiga orang teman yang saya tanya, tahu tidak Hikikomori itu apa? Mereka semua tidak. Yang mereka tahu, Hikikomori itu adalah istilah dalam Bahasa Jepang. Jadi, memang ini fenomena yang belum lazim ada di Indonesia, tapi cukup popular di Jepang. Saya juga baru tahu setelah menonton sebuah film dokumenter di Youtube.

Kalau didefinisikan secara istilah, menurut Wikipedia, Hikikomori artinya menarik diri atau mengurung diri. Jadi ada anak-anak remaja umur sekitar 20-an, yang sehari-hari ada di kamar saja, tidak mau keluar rumah, tidak mau sekolah lagi. Mereka kerjakan apa saja yang bisa dilakukan di kamarnya, ya tidak jauh-jauh lah dari main game, browsing internet, dengar musik. Sampai 2-3 tahun seperti itu, malahan ada yang sampai 8 tahun. Nah, remaja seperti ini disebut Hikikomori.

Ini adalah sebuah penyakit yang sudah menjangkiti lebih dari 1 juta remaja Jepang, atau lebih dari 1% penduduk Jepang. Angkanya simpang siur sih, ada yang bilang sekitar 700 ribu remaja. Tapi jelas ini berbahaya untuk perkembangan negara Jepang, terutama ekonominya, karena mereka pengidap Hikikomori, yang diharapkan bisa produktif, ternyata malah menjadi beban keluarganya. Mending kalua orang tuanya masih bisa support kehidupan dia, lah kalau orang tuanya sudah pensiun?

Sampai ada loh ahli Hikikomori, yaitu orang-orang yang kerjaannya menyembuhkan pengidap Hikikomori. Salah satunya adalah Dr. Takahiro Kato. “Penderita penyakit aneh ini mayoritas adalah pemuda cerdas dan berkemampuan tinggi,” kata Takahiro. Ini tentu adalah aset Jepang yang bagus. Ketika mereka mandul produktivitas, tentu pemerintah Jepang kebakaran jenggot juga. Apalagi ini sampai jutaan remaja.

Saya menonton sebuah film dokumenter menarik di Youtube, judulnya: Hikikomori Loveless, dibuat oleh RT Documentary dengan durasi 26 menit. Mereka melakukan wawancara dengan beberapa anak Hikikomori, salah satunya bernama Ito. Ada penekanan “loveless” di judulnya, menunjukkan bahwa salah satu penyebab Hikikomori adalah kurangnya kasih sayang.

Teruo Miyanishi, seorang professor dari Wakayama University, melakukan wawancara dengan Ito si pengidap Hikikomori. Ito mengatakan ingin membunuh ibunya karena menekan hidupnya dengan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan seorang ibu.

Ito hidup ngalong, bangun tidur baru sekitar jam 4 sore dan tidur lagi sekitar 12 jam kemudian. Kerjaannya hanya main game di PC yang ada di kamarnya, dengar musik, atau main HP. Headphone selalu menempel di kepalanya. Dia sama sekali tidak mencoba untuk keluar rumah. Di rumah pun, dia hanya keluar kamar untuk makan. Minim sekali komunikasi dengan orang tuanya.

Ada juga anak lain yang diwawancarai, namanya Ryoji Tani. Umurnya sudah 32 tahun, ketika diwawancara. Ryoji sudah menjalani hidup dengan penyakit Hikikomori-nya selama 8 tahun. Apa yang membuat Ryoji menjadi Hikikomori sungguh bisa menjadi pelajaran bagi para orang tua. Ketika masih sekolah/kuliah, dia di-bully teman-temannya. Tidak sanggup menghadapi pem-bully-an itu, dia memutuskan tidak melanjutkan kuliahnya.

Anak-anak seperti Ito dan Ryoji ini, harus segera disembuhkan. Mereka harus kembali bersosialisasi dengan teman-temannya, dan segera menjadi remaja produktif. Tapi itu tidak mudah dilakukan remaja yang sudah terlanjur nyaman dengan kamarnya selama bertahun-tahun. Mereka butuh bantuan untuk in touch lagi dengan lingkungannya.

Proses pengenalan ulang dengan lingkungannya ini juga harus dilakukan dengan hati-hati. Menurut Prof Teruo, sekali mereka mencoba bergaul dengan lingkungannya kembali, kalau gagal, maka kemungkinan selamanya dia tidak akan mencoba bergaul lagi.

Nah, lucunya, di Indonesia, penyakit ini cenderung menjadi sebuah trend dan dianggap keren. Berdasarkan sebuah artikel di www.terapipsikologi.com yang kutipannya sbb:

“Sedangkan di Indonesia, apa sebenarnya penyebab remaja menjadi Hikikomori? Mungkin akan terlihat aneh dan lucu di mata Anda, karena kebanyakan penyebab remaja Indonesia menjadi Hikikomori adalah karena mereka terlalu fanatic terhadap kebudayaan Jepang yang mereka gemari. Digambarkan bahwa Hikikomori adalah hal yang menarik dan keren.”

Lucu ya remaja kita…

 

Taman Piknik – Tempat Rekreasi Gratis di Jakarta

IMG20180614164038
Tulisan ketka masuk Taman Piknik

Siapapun yang mengaggas adanya taman ini, saya ingin berterima kasih. Keren banget!

Sebetulnya ada beberapa taman gratis di Jakarta yang juga keren, seperti Taman Ayodya dan Taman Suropati. Tapi si Taman Piknik ini paling dekat dengan lokasi saya tinggal, yaitu di daerah Kalimalang rada masuk sedikit di Kodam. Hanya sekitar 5 menit naik kendaraan atau 15 menit jalan kaki.

Kenapa keren? Pertama, taman ini gratis. Kedua, ada mainan anaknya seperti kuda-kudaan, perosotan, dan panjat-panjatan. Ketiga, ada semacam kolam yang ada teratainya. Keempat, asik buat jogging. Kelima, banyak spot bagus untuk foto-foto, termasuk sebuah patung tulisan besar “PIKNIK”.

IMG20180614162208

IMG20180614161742
Tulisan “PIKNIK” untuk foto
IMG20180614161610
Kolam berisi teratai di Taman Piknik

Sekali saya ajak anak saya yang umur 4 tahun untuk main ke Taman Piknik, dia langsung ketagihan. “Besok ke Taman Piknik lagi ya,” kata dia.

Dari taman, kita bisa lihat jalan tol Becakayu.

Dari taman, kita bisa lihat pesawat yang mau mendarat di Halim Perdanakusuma.

IMG20180614163401
Terlihat pesawat yang mau mendarat di Halim

Sekali lagi, terima kasih ya buat penggagas Taman Piknik.

Resensi Buku ONDEL ONDEL NEKAT KELILING DUNIA Luigi Pralangga

IMG20180527171141Yang saya tangkap, ini adalah blog yang dibukukan. Bahasanya sangat sehari-hari dan sangat Jakarta, jadi saya yang besar di Jakarta bisa begitu menikmati buku ini.

Ini adalah cerita asli dari hidupnya Luigi, seorang peacekeeper. Yang saya tahu, Luigi bekerja di UN. Disebutnya banyak bagian di UN, tapi saya belum bisa membedakannya. Pokoknya UN lah. Atau Bahasa Indonesia-nya PBB – Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lanjutkan membaca “Resensi Buku ONDEL ONDEL NEKAT KELILING DUNIA Luigi Pralangga”

Resensi Buku PINCALANG Idris Pasaribu

IMG20180507052341Saya langsung terbius membaca buku ini. Tidak tebal, sehingga cepat sekali habis. Idris Pasaribu menuliskan kisah hidup seorang Pincalang bernama Amat. Pincalang adalah manusia perahu, yang seumur hdupnya tinggal di perahu. Walaupun tidak betul-betul seumur hidup, karena sering juga berlabuh ke pulau beristirahat.

Kejahatan tidak hanya ada di kehidupan darat, juga ada di kehidupan laut. Lanjutkan membaca “Resensi Buku PINCALANG Idris Pasaribu”

Resensi Buku LITTLE PRINCES Connor Grennan

IMG20180507052324
Little Princess by Connor Grennan

Ini adalah cerita perjalanan seorang backpacker asal Amerika, Connor, yang niat awalnya keliling dunia tapi kemudian di tengah perjalanannya terpanggil untuk membantu anak-anak korban perdagangan manusia di Nepal. Anak-anak itu sejatinya adalah anak baik-baik dari keturunan baik-baik. Mereka adalah anak-anak desa yang oleh orang tuanya dititipi ke seseorang untuk dipindahkan dari desanya, ke tempat manapun yang aman.

Kalau anak-anak itu tetap di desanya, mereka sangat mungkin akan diminta paksa ikut dalam semacam gerakan separatis, yang ingin menggulingkan pemerintahan Nepal. Lanjutkan membaca “Resensi Buku LITTLE PRINCES Connor Grennan”