Karjaw

Sudah lama banget mau ke Karimun Jawa, benturannya uang atau waktu. Kadang ada uang gak ada waktu, atau sebaliknya. Nah, sekarang ada keduanya.

Uang memang bisa dicari. Trip ini dari Jakarta ke Jakarta lagi dari Explorer.id itu 1,6 juta, mungkin tanpa sale 1,7 juta kali yah. Memang uang bisa dicari. Waktu yang rada susah. Minimal cuti sehari.

Kamis sore kumpul di Day Trans Tebet. Jam 17:45 berangkat ke Semarang (Karang Ayu). Sampai terlalu cepat, 23:30. Padahl itu sudah istirahat 30 menit.

Nunggu sampai jam 5 pagi baru Day Trans Karang Ayu jalan ke Jepara, langsung ke Pelabuhan.

Selama nunggu ini yang paling malas. Cuma duduk di kursi atau rebahan di deretan kursi yg kosong. Lima jam lebih!

Sempat saya jalan2 ke pasar Karang Ayu jam 1 pagi. Beli nasi kucing sama semangka potong. Daripada bosen kan.

Jam 5 pas berangkat, sampai Jepara pas jam 7 pagi. Menuju warung Bu Bambang buat ketemu mas Bagdad, ambil tiket kapal cepat Express Bahari. Harga 213 ribu, ini sudah include package.

Rawon di Bu Bambang ini enak. Mantap. Harga 20ribu. Ada soto dan sop juga, ayam atau daging.

Jam 9 kapal berangkat, setengah jam sebelumnya sudah pada naik. Proses check in antri panjang. Baiknya sih dibikin banyak line check in yah, bukan cuma 2 dan lambat.

Kapalnya memang cepat, nah tapi goncangannya muantap. Kita penumpang di kanan bisa lihat air laut di sebelah kiri pas kapal miring ke kiri. Banyak yang muntah. Pas kapal baliknya malah penumpang bisa lihat percikan air sampai penuhi kaca. Cepat memang cuma 2,5 jam. Separuh waktu dsri kapal lambat, juga separuh harganya. Tapi siap2 buat yang gak tahan muntah.

Sampai pelabuhan dijemput mobil ke homestay Dream Java, sekitar 200 meter dari alun2. Wah enak banget tempatnya. Ada tempat nongkrong2 di belakang, lengkap sama ayunannya. Bersih, rapi. Kopi teh bebas.

Kamar di sini kalau gak upgrade, dapatnya di atas, tanpa AC tanpa kamar mandi dalam. Kalau kamar di bawah yg AC KM dalam 250rb per hari. Kalau kipas dan KM luar 150rb.

Jam 12 sampai penginapan. Jam 2 mulai land trip, ke Pantai Bobbi dan Pantai Sunset. Keduanya bagus, pasir putih, cantik sunset nya. Yang agak kurang itu, kenapa sih rata2 itenerary travel agent gitu semua. Jadi pas ke Pantai Bobbi, rame banget. Pas ke Sunset juga rame banget.

Yg di Sunset, ada satu kawasan yg isinya bule semua. Agak heran kok bisa. Padahal ke sana sedikit isinya lokal semua.

Sunset nya cantik banget. Sudah lama gak lihat sunset yang matahari terlihat seperti betul2 ketemu laut, bukan ketutup awan.

#

Hari kedua full main air. Dari awal ke Menjangan Kecil. Langsung basahin fin. Ohya, fin gak termasuk dalam package trip kecuali dipesan di awal. Kalau kata ABK saya, biar karangnya terjaga. Karena kalau fin dipakai yang gak biasa pakai fin, sering merusak karang ketendang2.

Makan siang di Menjangan Besar. Di sini ada penangkaran hiu. Saya gak mau ikut foto bareng hiu, kasihan hiu nya kayak dieksploitasi, dipancing pakai daging ikan segar tapi gak dikasih, cuma biar mendekat untuk foto bersama. Kasihan..

Juga bintang lautnya, kasihan diangkat2 ke darat. Nanti ada pengunjung lain lagi, diangkat ke darat lagi, berkali2..

Barbeque ikan bakar tapi gak ikut ngebakar. Hasil bakaran sudah langsung ada, tinggal ambil. Biasa aja sih, karena lapar aja jadi lahap.

Lanjut ke Cemara Kecil untuk sunset, tapi gak sampai sunset sudah menuju kapal. Pantai ke kapal agak jauh, karena pantainya landai banget, gak bisa betul2 sampai pinggir pantai. Jadi jalan dulu 5 menitan.

Sempat sewa kano. Harga asli 100ribu, saya tawar karena sudah sore jadi 50ribu. Asik juga kano-an.

Malamnya ke alun2 makan seafood. Beli udang setengah porsi, cumi setengah porsi. Lauknya itu 55ribu. Tambah nasi 7ribu kalau gak salah. Udang dan cuminya enak, segar, masaknya juga enak.

#

Hari ketiga otw balik Jakarta. Dijemput jam 8an pagi. Kapal Express Bahari jam 9 berangkat, sampai 11:30. Jam 12 dijemput Day Trans di depan Pelabuhan, menuju Karang Ayu.

Lain kali kalau ada kesempatan kayaknya enak kalau ke Karjaw naik kapal lambat, terus sewa motor saja sendiri. Info mas Alpan sewa motor 75rb per hari. Bisa main ke utara arah bandara, kan masih byk pantai lain yg gak main stream.

Juga ada opsi dive trip. Freedive sekapal sehatian bisa 5 orang kenanya 1,7juta, sudah sama makan siang.

Btw kalau mau murah dan diurusin ya Explorer ini udah murah banget sih. Heran kok bisa cuma 1,6 juta. Padahal Day Trans Jkt-Jepara aja sekitar 340rb. Kapal cepat 213rb. PP transport sudah 1,1 jt.

Sisanya 500rb buat penginapan 2 hari, makan 6x, masuk bbrp tempat wisata, kapal wisata, dokumentasi, motor 2 hari, wah murah bgt sih. Kayaknya gak ada margin sisa dah….

138

Pertengahan 2026 dikasih kesempatan nyetir Jakarta – Surabaya pakai Karimun Wagon R. Nganterin istri dinas. Budget pesawatnya bisa buat bensin dan tol.

Kalau gak salah ingat nih yah… Bensin700ribu, tol hampir sejuta. Itu searah saja, bukan bolak balik.

Perjalanan hari Minggu, mulai gas sekitar jam 6. Berhenti ishoma itu tiga kali. Sampai Surabaya sebelum jam 6 sore. Jadi 12 jam yah sama istirahat. Kalau gas terus tanpa istirahat sekitar 9 jam, tapi mana kuat.

Itu juga sudah dibantu istri nyetir satu atau dua kali, masing2 30 menit lah. Istri nyetir, saya tidur bentar. Abis bangun, gantian lagi.

Pas saya nyetir, sempat ketemu ruas jalan yang bisa ngebut panjang. Maksimal kecepatan 138km/jam. Alhamdulillah gak getar kok mobilnya, cuma saya saja belum biasa secepat itu, jadi tidak lama-lama. Yang sering stabil itu 90-100km/jam.

Mungkin karena postur Karimun kecil kali yah, jadi rasanya kuatir aja kalau kelebihan kecepatannya.

Kuliner Rakyat Palembang

Bulan lalu dikasih kesempatan jalan2 ke Palembang. Dari Jakarta bawa mobil, kebanyakan lewat tol, beberapa ruas saja yang non-tol. Yang rada kaget adalah dengan tarif tol di Lampung ke Palembang.

Gambaran saja nih ya… Dari Bakauheni ke Kayuagung itu 329km tapi tarif tolnya 509 ribu. Pulangnya leeat ruas itu karena tahu tuas tol yang dari Palembangampun dah rusaknya. Tol, sudah bayar, malah macet, aneh kan!

Meski begitu, makanan di Sumsel ini khas banget dan nyaman buat lidah saya. Orang tahunya kan pempek yah, tapi sebetulnya banyak yang lain, ada tekwan, model, laksan, sama ada yang namanya agak lucu buat saya: celimpungan.

Itu standard ada di warung-warung sarapan tradisional di Sumsel. Harganya ya harga pasar saja, murah.

Beberapa kali saya mampir ke daerah Pasar Kuto, tepatnya Warkop Cek Wardah. Masuk-masuk langsung duduk di pinggiran meja panjang yang di mejanya itu ada bermacam kue. Juga bisa pesan beberapa menu yang perlu dibikn dulu seperti tekwan. Dibikin dulu biar segar kuahnya hangat.

Hello

Judulnya abstrak banget yah. Ini salah satu judul buku Tere Liye. Kirain buku tentang alien, ternyata ini kisah cinta.

Kisah antara anak majikan dan anak pembantunya yang kebetulan lahir di tanggal yang sama. Sejak bayi mereka sudah main bersama, nakal bersama, sekolah di tempat yang sama, sebangku pula duduknya.

Tentu saja konfliknya di strata sosial yang beda banget. Sang majikan tidak terima anak perempuannya, yang cantik yang pintar yang darah biru yang baik, nikah dengan anak pembantunya. Gitu aja yah spoiler nya.

Lagi2, Tere Liye bikin plot twist di ujung 🙂

Ambil Duit Tanpa Pin

Itulah kesempatan yang saya berikan ke seseorang berhelm putih.

Ceritanya, 3 Mei lalu saya lagi di Pasuruan. Itu lagi perjalanan nyetir dari Banyuwangi mau ke Ungaran. Semacam ng- rest sebentar lah di Alfa Mart, sekalian ambil cash.

Setelah dari toilet, saya langsung ke ATM BCA. Masukin kartu, pin, terus pilih ambil 2,5 juta. Kartu keluar, saya langsung ke mobil.

Berjalan sekitar 10 menit, lah, duit yang diambil tadi mana? Di kantong gak ada, dompet gak ada, dashboard mobil gak ada. Lah, ke mana? Jangan2 belum diambil?

Cek aplikasi myBCA, sudah terpotong kok.

Langsung balik ke Alfa. Tentu saja uangnya tidak ada lagi di mesin ATM. Karyawan Alfa juga gak ngeh ada uang di ATM yg belum diambil.

Cek CCTV. Ketahuan bahwa setelah saya masuk mobil, datang lelaki berhelm putih. Dia masuk Alfa, ke mesin ATM. Diam sekitar 1 menit, lalu keluar ke parkiran dan pergi…

Sy di mobil beserta dia yg berhelm putih

Dalam diamnya yang 1 menit itu, mungkin dia berpikir, amalan apa yg saya perbuat, kok mendapat rezeki yang tidak disangka2 begini. Niat mau cek saldo doang eh malah dapat 2,5 juta…

Kalau saya mau terusin misal minta CCTV dari BCA, tahu wajahnya, terus mau apa? Kalaupun CCTV cukup tajam untuk dapat plat nomor motornya, terus mau apa?

Maka mari kita senyum saja. Yang buat kita akan jadi buat kita, yang bukan ya bukan… Giu aja deh…

Pantai Krueng Mane

Kadang-kadang, pagi sore saya ke sana pas lagi di Aceh. Pagi sebelum kerja, jalan kaki sekitar 15 menit dari rumah. Angin di oantai pagi hari jauh lebih santai dibanding sore hari. Kalau sambil teleponan, bisa. Kalau sore gak bisa. Suara anginnya terlalu mengganggu obrolan.

Pantai yang sekarang ini berbeda dengan yang dulu. Dulu kita bisa berjalan sampai 100 meter dari bibir pantai. Itu air lau masih sedada. Kalau sekarang boro-boro. Lima puluh meter saja sudah bahaya. Arus dan ombaknya terlalu deras.

Malah saya nih ya, baru main paling 10 meter, sudah kena ombak yang bikin kacamata saya jatuh. Dimakan laut. Ya sudah ikhlaskan saja, mau dicari juga gimana, susah. Saya sudah coba raba-raba pakai telapak kaki tapi tidak ketemu.

Pagi sepi, tidak ada aktivitas. Kalau sore ramai. Yang mancing, yang main bola, yang menyiapkan kapalnya untuk melaut, dll.

Pantai ini sudah membius saya sejak kecil, sejak SD. Rasanya tidak akan bosan main ke Pantai Krueng Mane.

Pulang Kampung

Bukan kampung sih sebetulnya, tapi darah aja. Darah saya Aceh. Murni, karena kedua orang tua Aceh. Banyak saudara di Aceh, terutama Piddie dan Aceh Utara. Banyak teman Aceh karena dulu gaulnya sama mahasiswa Aceh. Tapi dari lahir di Jakarta.

Mungkin tiap 2-3 tahun sekali saya pulang ke Aceh. “Pulang” itu kan gak melulu merujuk ke rumah utama, ya gak sih.

Berhubung project saya lagi WFA, aman aja mau kerja dari Aceh juga, asal internet lancar aja. Jam kerja ya kerja. Malamnya sama weekend nya baru ke mana2. Masak nyari duit mulu, keluarinnya kapan, ya kan.

Ohya, motifnya juga ngajak mama pulang. Umurnya sudah hampir 70. Saya gak yakin di tahun2 berikutnya sy bs pulang bareng mama lagi. Maka, ini kesempatan berharga.

Terbanglah kami di Sabtu 31 Januari, ke Medan. Dapat tiket Rp1,6 juta per orang, pakai Lion, the cheapest one. Lanjut ALS ke Medan (Kuala Namu ke Medan lumayan jauh) 30 apa 40 ribu gitu. Baru deh naik travel Bahtera ke Krueng Mane, tiket Rp200 ribu.

Sebelum banjir masih Rp180 ribu. Abis banjir naik. Ohya, kampung saya di Krueng Mane termasuk yg kena banjir parah di akhir 2025.

Heran, kenapa tiket travel naik abis banjir? Orang bensinnya gak naik. Jalanan juga udah mulus kok.

Selama di Aceh, yang bikin happy itu banyak. Kita sebutin yah satu2.

Pertama keluarga dan teman. Bisa ketemu keluarga dan teman, ngobrol panjang berjam-jam, itu membahagiakan. Bisa dapat update kehidupan sejak kita jumpa terakhir. Bisa saling menertawakan masa-masa lampau.

Kedua makanan. Wah, di Krueng Mane tempat saya stay, enak2 dan murah2. Mulai dari kopi dulu deh yang terkenal di Aceh. Kopi espresso sanger yg lagi nge hits, itu cuma Rp10 ribu. Sanger itu intinya kopi susu deh. Susu kental manis, bukan UHT. “Sanger” ini terminologi kopi susu yg Aceh banget.

Espresso sanger dan timphan

Terus ada Sate Matang. “Matang” ini nama tempat, bukan semacam “well done”. Se Aceh yang terkenal ya sate dsri wilayah Matang ini. Uniknya, selain satenya, juga by default ada sup gurihnya. Di mana2 begitu. Menurut saya, satenya sih biasa aja yah. Sup nya ini justru yg mantap banget. Seporsi itu Rp45 ribu. Kalau yang ada di gambar ini setengah porsi Rp26 ribu, sudah termasuk nasi.

Sate matang setengaj porsi

Martabak duren. Kayaknya gak lazim yah kalau di Jakarta, maksudnya, mungkin ada, tapi jarang banget. Di sini juga gak selalu tukang martabak ada martabak durennya sih, tapi lebih mudah dicari lah. Seporsi alias sebongkah (apa sih satuannya martabak? masak sebuah?) martabak itu Rp10 ribu. Durennya penuh. Puas banget makannya, terutama buat yang suka duren.

Martabak duren

Durennya sendiri kebetulan lagi musim. Duren dari Sawang. Murah2 dan manis2. Empat biji cuma Rp100 ribu.

Duren Sawang

Timphan. Kue tradisional Aceh yang mengakar rumput ada di mana2. Hampir semua kedai kopi ada. Satunya cuma seribu perak! Timphan tuh tepung ketan isi serikaya, gitu deh sederhananya.

Air tebu. Ini mah gak spesial2 amat yah. Banyak juga di Jawa. Di sini dua gelas Rp5 ribu. Kalau segelas doang kayaknya Rp3 ribu.

Air tebu

Nah sekarang bahas yang ketiga yang bikin happy, selain saudara dan makanan, yaitu alam. Tempat tinggal saya di Krueng Mane itu dekat laut. Jalan kaki 15 menit aja sampai. Kalau sore, banyak yang main bola di pinggir pantai. Wah ini aja udah menyenangkan.

Anak2 main bola di pinggir pantai Krueng Mane

Melihat perahu-perahu di pantai itu menyenangkan buat saya. Perahu nelayan di sini agak beda bentuknya. Bukan ujung depan belakang keduanya lancip, tapi lancipnya di depan doang, belakangnya datar.

Perahu dengan bagian belakang datar

Belum lagi kalau ada waktu jalan-jalan yang serius, bisa ke Takengon atau Sabang.

Ohya, info menarik yang saya baru sadar pas lagi nyari tiket balik ke Jkt. Pesawat dari Banda Aceh ke Jakarta itu 2 jutaan lah rata2. Sementara Banda Aceh – Kuala Lumpur 700rb, terus KL-Jkt 700rb. Lebih murah mampir KL dulu malah bisa sekalian jalan2. Tapi gak bawa paspor, argh!

Simple MDG

Lagi seru belajar Simple MDG. Awalnya saya kira ini semacam embedded MDG SAP dengan versi yang lebih tingginya. Tapi ternyata fundamentalnya sudah beda. Simple MDG berdiri di BTP. Jadi gak barengan sama si SAP nya itu sendiri.

Ah terlalu teknis yah. Gini gini, balik ke konsep awalnya dulu. Btw, tulisan ini memang bukan buat orang yang gak paham SAP atau ERP. Mending stop bacanya daripada makin pusing.

Untuk bikin master data, sebut saja material master, kalau di SAP biasa kan pakai MM01. Input segala rupa, kalau gak kena error, save, langsung deh jadi materialnya. Langsung ada di table MARA dan langsung bisa dipakai untuk transaksi.

Padahal kan kadang-kadang, perlu ada yang ngecek dulu nih, si pembuat material sudah betul belum ngisi segala inputannya? Jangan2 salah Profit Center, salah Material Type, salah Valuation Class, wah repot. Ke belakang2nya jadi ngaco.

Maka muncul produk MDG – Master Data Governance. Jadi ada pengaturan di sistem. Misal, kalau yang bikin material master sudah input, dia post, itu gak langsung jadi material, tapi masuk ke inbox nya approver dulu untuk memvalidasi inputan si requestor. Sederhananya gitu, lebih kompleks sebetulnya ada validasi deribasi dll.

Approver ini bisa dibikin panjang, bisa dibikin pendek, dan bisa dibelok2in. Kompleks lah kalau mau dibahas dalam. Intinya approver akan validasi, kalau ok dia approve. Lanjut ke approver berikutnya. Sampai fully approved, baru deh material terbentuk. Baru deh ada di table MARA. Baru deh bisa buat transaksi.

Waktu requestor post, terbentuk yang namanya CR – Change Request. Ada nomornya, running number. Ini walaupun approver belum approve, CR terbentuk, tapi material belum. CR ini ada table nya sendiri, kalau gak salah USMD120C. Tapi dia sudah di box nya SAP.

Beda dengan Simple MDG. CR nya terbentuk di database nya Simple MDG, belum masuk table nya SAP. Nanti kalau sudah fully approved, baru deh masuk ke SAP, tapi langsung ke table material seperti MARA. Gak ada table CR di SAP nya.

Prinsipnya, Simple MDG itu bukan di box nya SAP. Makanya semua validasi yang ada di SAP, gak kebawa ke Simple MDG. Perlu bikin lagi sendiri. Kalau mau baca validasi atau config nya SAP, perlu sampai Submit dulu. Klik submit berarti kirim API ke SAP untuk validasi datanya ada yang kena error gak, nanti ada balikan dari SAP, apa saja errornya kelihatan.

Buat login ke Simple MDG, perlu user ID sendiri, beda sama uid SAP. URL buat masuknya juga beda sama Fiori.

Tapi penjelasan saya di atas itu semua menurut keyakinan saya. Namanya juga masih belajar.

Finish Strong 70k: Tidak Terkenal itu Privilege!

Daftar aja dulu, nanti juga terpicu latihan sendiri. Gitu terus saya mah. Dari dulu mulai 5k ke 10k, HM, FM, 60, 70. Belum pernah DNF alhamdulillah. Pernah dengar siapa yang ngomong ya lupa, kalau bisa x km, berarti bisa dipaksa sampai 2x.

Nah terakhir event terjauh kan 60k (Binloop 2025), masak 70k gak bisa sih. Malah maksimal bisa 120k kalau menurut teori di atas. Tapi melangkah ke 3 digit, aduh rasanya… nanti dulu deh.

UI Ultra 2024 saya ikut FM, kali ini UI Ultra 2025 ikut yang 70k, kategori jarak terjauh individu di event ini.

Malam minggu 6 Desember 2025 mulai berlari jam 19:45. Mulainya sudah hujan, apa kabar 70k?

Satu loop di UI itu 7km, jadi saya perlu selesaikan 10 loop. Sejak loop kedua itu para blister sudah tumbuh subur, akibat pengairan yang tak kenal lelah dari langit.

Ketemu dengan dr. Tirta sejak di loop pertama. Saya bisa ikuti sampai awal loop ketiga, setelah itu saya gak kuat ikuti pace nya. Sebetulnya bisa, tapi saya kelamaan di Water Station, jadi ketinggalan. Makin banyak ketemu WS, makin ketinggalan.

Saya amat-amati, dr.Tirta ini sering banget lihat jam tangannya. Kadang-kadang malah dalam 10 detik dua kali dia lihat jam. Dia sering dipanggil sana-sini, termasuk marshal. Dari awalnya disahutin satu satu, sampai lama-lama dia pilih-pilih hanya sebagian saja yang disahutin. Emang males juga saya pikir2, lagi fokus lari dipanggil2 terus. Kadang2 ada yang malah mepet di sampingnya, terus tiba2 live dong… Itu beberapa kali.

Tidak terkenal itu previlege!

Loop ketiga, tidak ada keluhan di paha dan betis, yang ada blister yang mulai terisi penuh. Juga rasa bosan lari sendiri. Kalau sudah begini, biasanya saya targetkan pelari yang di depan sedikit atau belakang sedikit, amati beberapa menit apakah pace nya sama? Kalau iya, tempel, ajak ngobrol.

Itu yang saya lakukan. Ketemu anak lari yang pernah 90k kalau gak salah event ITB. Masih pakai sepatu tuh.

Nah, dia saat itu lari pakai sandal. Dari ngobrol itu saya kenal dengan istilah barefoot runner. Saat itu kalau gak salah dia virgin HM barefoot.

Apa sih yang paling perlu penyesuaian dari lari pakai sepatu berubah ke sandal? Saya tanya.

Dia bilang, bagian pangkal jari2 yang menyentuh aspal duluan waktu memijak, apa sih tuh namanya. Ya itulah yang paling perlu penyesuaian. “Tapi sekarang sih sudah terbiasa,” kata dia.

Habis loop ketiga, saya kehilangan teman ngobrol, karena dia kan HM, sudah selesai 3 loop.

Ketemu teman lari baru. Dia relay 5, artinya 1 pelari berlari 2 loop. Dia pelari kedua, sedang berlari loop keempat. Dia bilang pace saya agak terlalu cepat. Padahal perasaan saya biasa-biasa saja. Pas tanjakan juga kan saya masih lari walau pelan, dia berdecak kagum dengan itu. Wah, dalam hati, berarti pace saya sudah lumayan juga nih. Gak berasa ada perubahan tapi ternyata sudah.

Dia mulai lari karena bos di kantornya suka lari. Wah kita mulai cerita ke sana ke mari. Saya juga lari dulu karena Dirut saya suka lari dan mendorong karyawannya untuk lari. Dia pernah S2 di IPB tapi gak beres. Ya karena gak nyambung juga, kerjaan HRD malah ngambil Peternakan…

Loop ke-5 saya beri motivasi ke diri sendiri, nanti setelah loop 6, jalan kaki terus saja gak apa2. Masih di bawah COT. Selepas loop 6, mulai hipnotis diri sendiri untuk delay gratification. Jalannya nanti saja, sekarang 1:1 saja dulu.

Loop 7, 8, 9, saya pakai strategi 1km lari, 1km jalan. Cukup berhasil.

Sebelum mulai loop 10, sholat Subuh dulu, karena sudah jam 5. Nah di sini segala rasa mulai datang. Ya ngantuk, ya sakit, ya malas. Sempat terbersit, ah, ngakunya udah 10 juga kayaknya bakal tetap dikasih kaos sama medali, gak bakal dicek.

Begitu ngantuknya sampai saya putuskan tiduran dulu 15 menit setelah sholat subuh. Pas bangun, aduh makin berat ini badan.

Kalau saya berhenti sekarang, padahal COT masih 2,5 jam lagi, apa gak nyesel besok?

Maka saya berjalan. Lepuhan itu makin berisi, sampai saya bisa merasakan cairan itu bergerak seiring kaki memijak.

Rasa yang lain lagi muncul: rasa lapar.

Perut keruyukan dan rasa mau muntah beberapa kali muncul. Sedikit lagi, 5km lagi… Kok seperti orang kebelet buang air yah, makin dekat ke WC makin ingin keluar. Ini juga, makin dekat finish, segala rasa itu bermunculan, makin intens.

Tapi yah, akhirnya sampai. Finish strong and happy. Strong karena bisa sprint di 10 meter terakhir. Happy karena berhasil melawan diri sendiri. COT 12 jam, waktu saya 11:18.

Pulang nyetir ngantuk2, sempat micro sleeping beberapa kali. Bahaya banget.

Sampai rumah hampir jam 10 pagi. Langsung tidur. Bangun cuma buat sholat dan makan. Sholatnya masih duduk. Itu hari minggu.

Hari senin sudah bisa sholat berdiri. Naik turun tangga masih berkeluh kesah. Tapi ini termasuk recovery yang cepat loh.

Sepa, Kasta Bertembok

Camp dan dive, tawaran yang menarik. Berkemah di pinggir pantai, sambil keliling pulau sekitar mencari tempat snorkeling atau diving.

Sabtu pagi dari Kali Adem, kami ber-sekitar-20, naik kapal Dishub. Kebetulan bisa dapat kapal ini, ada yang bantu mendapatkan tiketnya.

Setelah kapal kayu pada berangkat, bari kapal Dishub jalan. Tapi walauapun jalan belakangan, wuzz, semua kapal kayu terbalap. Dari kapal Dishub yang melaju, kapal kayu terlihat begitu ringkih dan mudah sekali dikalahkan.

Sampai ke Pulau Kelapa hanya 1,5 jam, kurang malah. Berangkat jam 8 lewat, sampai 9.30. Kami naik kapal Batara yang tujuan akhirnya Sabira. Kelapa hanya transit.

Sabira? Ini katanya pulau paling ujung di Pulau Seribu, yang justru lebih dekat ke Lampung. Menarik. Katanya ada homestay juga, tapi kurang begitu populer karena kejauhan. Jaraknya bisa 2x lipat dari ke Pramuka, bahkan lbh jauh.

Menunggu potongan rombongan lainnya di kapal Paus, kami makan dulu. Ada beberapa penjual nasi. Saya makan nasi pakai ayam pakai sayur terong 25ribu.

Sholat, ada masjid. Kan saya nyari tempat wudhu. Ada satu ruangan yang saya kira lagi banjir atau gimana, yernyata bisa buat tempat wudhu juga, tapi ya harus jongkok menangkup air ke bawah seperti kalau wudhu di sungai.

Setelah rombongan lengkap, baru berangkat pakai kapal kayu carteran kami. Saya bawa satu carrier isi peralatan camp, ada tenda, kompor, matras tiup, flysheet, dll. Satu tas lagi buat fin panjang dan aksesoris lainnya.

Menuju site snorkeling yang ternyata gak ada bagus2nya. Pindah spot kedua arusnya gede. Baru spot ketiga rada mending. Menyelam ke sana ke mari. Banyak yang bisa freedive, jadi bisa main bareng.

Satu korban kena bulu babi. Satu korban lainnya gendang telinganya bocor sedikit, dia paksakan turun lebih dalam walau equalize belum sempurna.

Yg kena bulu babi merendam kakinya yg kena bulu babi dengan air kencingnya. Yg telinganya bocor awalnya banyak yang kasihan, lama2 diceng2in karena emang lucu kejadiannya.

Sekitar jam 4 sampai di Pulau Sepa. Ada dua dermaga yang bertetangga, tapi beda kasta.

Dermaga pertama, untuk yang menginap di resort. Bayarnya saya dengar 2 juta per orang.

Dermaga kedua, bagus, tapi jadi terlihat kumuh kalau disandingkan dengan dermaga pertama. Yang ini cukup 60 ribu saja per orang.

Tentu saja kami tim open trip masuk ke kasta dermaga kedua, walaupun malamnya banyak yang “nyeberang” ke resort.

Pada jago masak. Bisa loh bakar ikan hasilnya enak. Dagingnya matang sampai dalam tapi luarnya gak gosong. Bakarnya pakai kayu bakar, yang tiba2 saya lihat sudah menyala rapi dengan ikan berjejer di atasnya.

Kompak banget ini tim. Baru nyampe langsung sat set. Ada yang bikin tenda, ada yang buka kompor masak mie. Ada yang filletin ikan, bikin bumbu, dll. Keren, gak pake mental dilayani. Semua support.

Ada beberapa kamar mandi. Setidaknya 5 buah. Ada yang di bangunan permanen, ada yang konsepnya alam, kelilingnya tertutup bambu, ada pintunya, tapi atapnya ya langit. Kalau malam, banyak yang tidak berani lihat ke atas. Pipis, cebok, keluar secepatnya.

Bangun pagi saya sempat dive sebentar dari dermaga. Ada teman yang coba melipir langsung dari pantai di depan camp area, banyak bulu babinya. Maka saya lewat dermaga saja, karena nyebur sudah berjarak 3 meter, kalaupun ada bulu babi, kan jauh.

Dan memang buanyak bulu babi. Seperti peternakan. Habis semua karang dimakannya.

Arus ringan, jadi enak menyelam. Beberapa kali ketemu rombongan ikan kecil. Karena sendir, saya tidak berani jauh2. Paling hanya 8 meter dalamnya. Lumayan latihan dive biar ilmunya gak luntur. Yang lain diajakin pada gak mau, atau pada masih tidur. Jadi saya sendirian.

Dari bawah air, saya melihat beberapa orang dari strata resort berjalan di dermaga dan mungkin berpikir, “Itu dia dari strata camp lagi berenang. Kasian yah.”