Belajar Bahasa Inggris di SWIFT – SEA Internal Project

Sudah setahun lebih saya bekerja di salah satu perusahaan consulting yang cukup besar di daerah Thamrin. Sejak masuk, hanya selisih dua minggu, langsung ada assignment ke project internal yang melibatkan 70 lebih Company Codes di Asia Tenggara.

Ini project terbesar dan terlama yang pernah saya dapat. Dua tahun assignment-nya. Saat ini sudah berjalan separuh jalan. Masih ada separuh lagi.

Yang jadi tantangan buat saya bukan ke scope-nya yang besar atau durasi project yang panjang, tapi lebih ke Bahasa. Di awal-awal project, wah berat banget buat saya untuk bisa paham apa yang orang lain bicarakan. Seratus persen pakai Bahasa Inggris. Padahal Bahasa Inggris saya kan masih blekak blekok.

Belum lagi kalau ketemu sama orang yang Bahasa Inggris-nya blekak blekok juga, pake aksen pula. Iya, bahkan di Asia Tenggara-pun ada beberapa negara yang aksennya kental, terutama Filipina dan Thailand. Indonesia juga termasuk yang saya kenal aksennya. Malaysia dan Singapore cukup baik Bahasa Inggris-nya, tapi juga ada pembeda di aksennya. Jadi dari dengar suaranya saja, saya lumayan bisa tebak dia dari mana.

Apalagi India, wah ini mah gampang banget ketebak. Baik India yang memang ada di India maupun yang migrasi ke Malaysia atau Singapore atau US, aksennya khas banget. Agak heran juga saya kenapa banyak banget orang IT yang dari India yah…

Waktu berlalu… Kesulitan itu mereda walaupun belum sepenuhnya. Ya gimana enggak, wong tiap hari dipaksa komunikasi pakai Bahasa Inggris, baik email maupun meeting. Lama-lama jadi terbiasa dan bahkan sekarang saya bisa pimpin meeting dengan peserta puluhan orang dari negara lain.

Jadi saya kan tugasnya semacam Key User, penyambung lidah end-user ke developer. Semacam tuntutan karir untuk harus bisa gali requirement dari end-user dan menyampaikan ke developer yang kebanyakan orang India. Atau sebaliknya, bilang ke end-user apa saja yang bisa dan tidak bisa dilakukan di sistem yang baru nanti.

Secara teknikal sih gak berkembang-berkembang amat. Memang saya dapat ilmu baru di SAP-Ariba, tapi hanya sebatas pemakai, bukan developer. Ya lumayan sih. Tapi yang terasa banget ya ilmu non-teknikal itu, Bahasa Inggris-nya jadi lancar. Lumayanlah, jadi nanti-nanti bisa apply untuk kerjain project-project luar.

Enaknya di project global gini, saya jadi dapat semua jenis liburan. Lebaran ya jelas memang liburannya saya. Natal dan tahun baru itu tutup kantor seminggu, jadi bisa jalan-jalan agak jauh. Pas tahun baru China, juga ikutan libur karena banyak tim project yang keturunan China. Itu seminggu juga. Pas orang-orang India liburan Diwali, ya juga bagus kena imbasnya jadi gak banyak meeting.

Argopuro Lintas Baderan Bremi

Sebetulnya ini pendakian yang agak tertunda. Tiga bulan sebelumnya, saya sudah berencana, bahkan sudah daftar untuk mendaki Argopuro. Tapi waktu itu peserta yang daftar hanya empat orang, yang bikin biaya jadi membengkak hampir dua kali lipat. Jadi waktu itu saya ubah rencana jadi mendaki Rinjani dengan tetap berharap bisa mendaki Argopuro… suatu saat.

Rupanya, suatu saatnya datang tidak lama kemudian. Kantor tutup seminggu di penghujung tahun. Langsung lah saya daftar lagi. Kali ini peserta terkumpul 12 orang, jadi tidak perlu ada penambahan biaya.

Sekitar dua minggu sebelum keberangkatan, saya sudah pesan tiket kereta dan hotel, ya supaya dapat kursi dengan harga normal, ya naik dikit tak apalah. Kalau pesan dekat hari-H, wah bisa mahal, malah bisa tidak kebagian kursi.

Jadi saya berangkat ke Surabaya pakai kereta Kertajaya “tambahan” pada Sabtu subuh, 24 Desember 2022. Embel-embel “tambahan” mungkin setara dengan “apa adanya”. Biasanya Kertajaya itu, walaupun ekonomi, kursinya satu satu, dan bisa agak dimundurkan ke belakang. Agak beda memang dengan kereta ekonomi pada umumnya yang kursinya 2-3, tegak, dan tidak bisa dimundurkan. Eh ternyata Kertajaya “tambahan” ya begitu juga, kursinya 2-3 tegak seperti umumnya ekonomi. Yah.. terima sajalah. Namanya juga lagi peak season.

Sebelah saya bapak-bapak pensiunan perusahaan farmasi. Kebetulan saya pernah proyek di salah satu perusahaan farmasi global juga, langsung banyak deh kita ngobrol. Salah satunya soal aturan pemerintah yang mengharuskan perusahaan PMA bikin pabrik di Indonesia. Jangan cuma jualan dong. Bagus juga aturan ini. Implikasi negatifnya ya mereka, perusahaan-perusahaan global itu, harus berhitung ulang, efisien tidak nih kalau produksi di Indonesia dengan kejar pasar senilai sekian.

Bapak tersebut juga tanya soal pendakian, berapa biayanya, berapa lama, dll. Dia bilang mau juga tapi istrinya takut suaminya kenapa-kenapa, jadi banyak pertanyaan. Padahal kan kalau banyak pertanyaan, tinggal banyakin jawaban saja ya.

Sampai Surabaya masih sore, langsung saya ke hotel, istirahat. Sengaja saya kasih jeda 1 hari biar bisa istirahat dulu di Surabaya satu malam, sebelum mendaki.

#

Besok malamnya, kita kumpul di Stasiun Pasar Turi. Kenalan deh, dengan teman baru, karakter baru, sudut pandang baru. Hanya satu yang sudah saya kenal sebelumnya, namanya Novandi. Memang kami sudah sering mendaki bareng, dan kebetulan kecepatan mendaki kami sama, jadi suka bareng… di depan.

Selalu saya senang ngobrol dengan kenalan baru. Lumayan kan nambah wawasan dari bidangnya dia. Salah satu yang menarik ada Dimas, dia juru ukur tanahnya BPN. Wilayahnya Kabupaten Bogor, bukan kota loh ya, kabupaten. Yang itu kan luas banget. Tapi ini anak malah tidak bisa Bahasa Sunda. Kumaha iyeu…

Dia cerita, pernah mau ukur tanah, tapi tidak jadi, karena pemilik tanah masih ribut soal bagian tanah warisannya. Yah kasarnya berebut tanah. Si Dimas disuguhi bakso ya makan bakso, disuguhi minuman ya minum. Sampai selesai itu semua, mereka masih ribut. Ya pulang si Dimas. Tidak jadi ngukur.

Memang ya soal warisan tanah ini bisa bikin rusak hubungan keluarga. Rasanya harus sama-sama paham aturan pembagian waris, biar semua ahli waris se-frekuensi. Walaupun kalau sudah se-frekuensi belum tentu tidak muncul konflik, setidaknya mereduksi risiko konflik.

Kami makan nasi bebek dulu dekat stasiun, harganya Rp20.000. Ya memang enak sih nasi bebek di Surabaya. Kata salah seorang tukang kopi dekat hotel, hampir semua tukang nasi bebek di Surabaya itu orang Madura. Dari logatnya sih kayaknya iya.

Mobil datang, apa ya namanya, semacam Elf gitu, kapasitas 18 kursi penumpang. Deretan paling belakang khusus buat tas carrier, karena bagasi belakang tentu saja tidak muat. Itupun juga masih ada beberapa tas yang ditaruh di kursi depan. Ya wajarlah 12 peserta berarti 12 tas carrier. Rata-rata pakai yang 60L.

Menuju basecamp Baderan, lewat kota Probolinggo. Sampai Baderan sekitar jam 3 pagi. Ada 2 rumah di basecamp Baderan, yang keduanya sudah penuh dengan pendaki. Kami datang ya nyempil-nyempil saja cari tempat sisa. Ada 1 kamar yang tentu selalu diprioritaskan untuk wanita. Saya siapkan ulang tas carrier, bersih-bersih badan, lalu ke mushola. Lepas sholat subuh, tidur sebentar di mushola. Lumayan lah bikin badan agak segar.

#

Sekitar jam 8 pagi di Senin 26 Desember, pendakian dimulai. Ini pendakian hari pertama, dari total 4 hari 3 malam. Malam ini ditarget camp di Cikasur.

Dari Basecamp Baderan ke Pos Mata Air 1, kami disiapkan ojeg. Awal berangkat masih terasa normal sampai sekitar 15 menit perjalanan. Motor berhenti. Saya pikir, ah sudah sampai Mata Air 1 nih, tapi mana yang lain? Kok saya mulai curiga…

Rupanya itu separuh jalanpun belum. Tukang ojeg-nya buka jok lantas mengambil rantai untuk diikatkan di sekujur ban belakang! Bisa dipahami rantai ini buat bikin ban menapak dengan kuat ke tanah lumpur.

Setengah jam berikutnya bikin badan pegal. Memang jalurnya itu seperti tanah lumpur. Tidak begitu lembek sih, tapi tentu bukan seperti tanah yang solid. Tukang ojeg-nya bilang tidak akan sampai kalau ban tidak dililit rantai. Ini antik sih. Baru kali ini saya lihat ban dililit rantai.

Rantainya dari mana? Kata tukang ojeg saya, masing-masing tukang ojeg bikin sendiri. Sebagian kecil beli ke temannya yang bisa bikin.

Mata Air 1 berjalan ke Mata Air 2, lalu ke Sabana kecil, lanjut ke Sabana besar, baru deh sampai ke Cikasur. Saya menikmati jalur sepanjang sabana. Nikmat karena sebagian besar jalannya landai, atau hanya mendaki sedikit. Masih oke-lah. Nikmat karena beberapa tanaman berbungaan dengan menampilkan warna yang menarik.

Sebelum sampai Cikasur, saya mampir dulu di Sungai Qolbu. Airnya jernih dan segar banget. Semua botol air saya penuhi. Terus saya pikir, wah mumpung air melimpah, mandi saja lah sekalian. Ya sudah saya mandi di situ. Airnya dingin, tapi masih bisa diterima. Beberapa pendaki lain memanen selada air untuk dimasak. Itu berlimpah di sungai ini, tinggal ambil.

Cikasur itu seperti hamparan sabana luas. Ada beberapa pohon besar yang cenderung didekati pendaki untuk membangun tenda. Kalau bertenda di bawah pohon itu lebih aman dari badai atau angin, makanya lebih dipilih.

Alam cukup bersahabat. Mendung sedikit, tapi tidak hujan, jadi walau jalan di hamparan sabana, tapi tidak kepanasan. Tidak ada hujan juga. Pas banget cuaca begini buat mendaki.

Sebelah tenda kami, ada dua keluarga saling kenal yang membawa anaknya yang rata-rata umur SMP. Hanya bapak dan anak-anak, tanpa ibunya. Salah satunya saya kenal bernama Pak Yongki. Dia mantan petinju yang tinggal di Bremi. Kalimat darinya yang masih saya simpan sampai sekarang: yang penting itu mental berani, daripada kuat. Kalau kuat tapi tidak berani, ya masih kalah sama yang berani tapi tidak terlalu kuat. Jadi di alam itu ya harus berani. Dia berkaca dari pengalamannya bertinju. Walau kuat, kalau mentalnya sudah jatuh, ya kalah.

Sebetulnya itu dia nasihat ke anaknya, tapi saya dengar dan malah juga jadi nasihat buat saya. Kalau yang biasa bertenda ria, pahamlah kondisi ini. Tenda tidak meredam suara. Kita masih bisa dengan jelas dengar perbincangan 3 tenda di sebelah kita. Jangankan omongan, ngorok sama kentut saja bisa terdengar kok.

Porter kami membuat api unggun. Lumayan ini buat penghangat badan. Juga buat keringkan sepatu yang agak basah. Walaupun sebetulnya Cikasur tidak dingin-dingin amat. Saya bisa tidur tanpa pakai jaket. Sleeping bag juga hanya ditutup separuh. Malah tidak pakai sarung tangan dan kaos kaki. Biasanya kan komplit, jaket ditutup penuh sampai kepala, pakai sarung tangan dan kaos kaki, bungkus sleeping bag ditutup sampai leher. Itupun masih kedinginan.

Konon katanya, dulu ojeg itu tidak hanya sampai Mata Air 1, tapi sampai Cikasur. Cukup masuk akal karena memang sepanjang jalur terlihat jejak ban motor. Jejak ban motor itu jadi lelucon karena jadinya pendaki juga harus berjalan ikuti jejak ban itu. Tahu sendiri kan jejak ban itu kecil, hanya selebar sepatu. Jadi kita harus berjalan seperti peragawati yang langkahnya harus lurus, selurus jejak ban.

#

Bangun pagi di hari kedua, saya kurang berminat mencari Burung Merak yang katanya suka muncul di Cikasur. Sudah terlanjur nyaman rebahan di balik sleeping bag, walaupun tidak ngantuk. Tapi sempat terdengar sih suara burung yang kata beberapa orang itu suara Merak.

“Kata beberapa orang” di sini maksudnya ada yang lagi ngobrol di luar tenda bahas suara apa itu. Saya sih tetap di dalam tenda, tapi obrolannya terdengar jelas. Orangnya siapa juga saya tidak tahu.

Cuaca masih bagus. Pendakian dilanjutkan. Kali ini kami menuju Cisentor, Rawa Embik, sampai akhirnya ke tempat camp di Sabana Lonceng.

Cisentor punya sumber air seperti sungai kecil. Saya malah sempat mandi di sana, dan istirahat agak lama. Sebetulnya saya punya misi isi perut di Cisentor. Gelas, garpu, dan mie gelas sudah siap. Tinggal minta air panas. Tapi saya perhatikan kok tidak ada pendaki yang buka kompor. Yah batal deh makan mi gelas. Ada satu pendaki yang tahu maksud saya itu terus menawarkan bongkar tasnya untuk ambil kompor dan gas. Ah jangan, saya tidak enak. Akhirnya makan sosis dan biskuit saja.

Baru di Rawa Embik saya ketemu porter yang lagi asik makan mi. Kompor, gas, dan nesting-nya sudah terpasang. Langsung saya tawari, mau mi gelas? Dijawab tidak, terima kasih. Kalau begitu, saya boleh minta dimasakkan air panas? Tentu boleh, katanya. Jadi deh saya makan mi gelas, walaupun tidak lama kemudian lapar lagi.

Hujan turun. Kecil sih, tapi terus. Jadi harus pakai jas hujan. Perjalanan ke Sabana Lonceng dilanjutkan. Rupanya saya berjalan terlalu cepat. Porter dan guide belum ada yang sampai. Mana hujan tidak berhenti. Karena badan diam tidak bergerak, makin terasa dingin sampai gemetar. Saya merenungkan kenapa berjalan terlalu cepat? Malah jadi salah kan. Jadi kedinginan di Sabana Lonceng. Untung ketemu lagi sama Pak Yongki dan rombongan. Mereka langsung mempersilakan rehat di tendanya dulu sambil nunggu porter dan guide kami.

Baik banget mereka. Malah ditawari minuman hangat juga. Wah betul ini salah satu alasan kenapa sering kali orang yang pernah se-gunung bareng itu jadi dekat. Pertolongan-pertolongan mendasar seperti tempat berteduh dan makan minum itu bisa menyelesaikan masalah yang terasa berat. Dan secara tidak sadar, mungkin karena insting kemanusiaan, kita akan dengan sendirinya berusaha menolong orang lain. Kan jarang banget kalau di kota kita berpapasan saling tegur sapa. Boro-boro tegur sapa, senyum saja tidak. Kalau di gunung, itu menjadi sangat lazim. Malah justru yang tidak lazim itu kalau berpapasan tidak tegur sapa.

Ucapan Pak Yongki di malam sebelumnya dia buktikan sendiri, soal mental berani. Jadi saat itu menjelang Maghrib terlihat babi hutan melintas. Setelah kita dengan jelas melihat ada babi hutan, Pak Yongki langsung membawa pisaunya mengejar si babi. Maksudnya mau membunuh lalu dibuat jadi bahan makanan. Tapi dari sudut lain, ada pendaki yang lari ke arah babi hutan dengan maksud mengusirnya.

Balik-balik Pak Yongki agak kesal karena buruannya sudah keburu diusir sama pendaki lain. Dalam hati saya, ini orang betul-betul berani yah. Anak-anaknya bakal keren nih, suka alam dan berani.

Setelah porter dan guide kami datang, tenda jadi, kami pindah tenda. Terima kasih banyak-banyak untuk Pak Yongki dan rombongannya. Langsung saya bongkar carrier, ganti baju kering, tiup matras, pasang sleeping bag, lalu masuk ke dalamnya. Sabana Lonceng ada di ketinggian 2.975 mdpl, jadi wajar kalau bikin menggigil.

#

Hari ketiga. Ini hari yang paling mencekam dan melelahkan. Tujuan kita adalah menuju 3 puncak, lalu camp di Taman Hidup. Tiga puncak yang dimaksud adalah Rengganis, Argopuro, dan Hyang.

Puncak Rengganis kami tuju tanpa bawa carrier. Jalan kira-kira hanya setengah jam, lalu turun lagi ke Sabana Lonceng. Berkemas, baru deh bawa carrier ke Puncak Argopuro dan Puncak Hyang.

Sejak di Puncak Argopuro, kabut menebal dan hujan kabut mulai terasa. Hujan kabut itu maksudnya hujan yang berasal dari kabut. Seperti gerimis tapi butiran airnya besar. Lepas dari Puncak Hyang, hujan tidak berhenti sampai tengah malam!

Kami kewalahan dengan hujan itu. Serba salah. Lelah mau berhenti, tapi kalau berhenti, mau berhenti di mana? Tidak ada shelter dengan atap. Yang ada hanya pohon-pohon besar dan beberapa tempat datar. Akan tetap kena hujan. Jadi kami tetap pilih jalan terus, sambil berharap hujan reda. Tapi hujan tidak kunjung reda…

Masuk ke hutan lumut, suasana makin mencekam. Kabut semakin pekat, matahari sudah hampir tenggelam, dan memang dasarnya hutan lumut itu agak tertutup, jadi tambah redup. Agak beda suasana yang saya rasakan di hutan lumut. Tidak ada yang bicara, semua fokus berjalan.

Saat itu saya masih pakai kacamata hitam. Ingin rasanya ganti ke kacamata biasa, biar pandangan lebih jelas. Tapi kacamata biasa posisinya ada di tengah tas. Agak butuh waktu untuk ambil kacamata. Kalau saya berhenti, jadi ketinggalan rombongan. Dan saya sungkan untuk minta yang lain berhenti dulu, karena saya tahu semua ingin segera sampai.

Namun tidak sampai-sampai. Matahari sudah betul-betul tenggelam. Head lamp dan senter dinyalakan. Hujan tetap turun membuat jalur becek bahkan menenggelamkan sepatu. Malah ada di satu titik kita merasa buntu. Jalurnya mentok di jalur sungai. Awalnya kami kira itu danau karena agak lebar dan tidak begitu terlihat. Sempat menjelang putus asa, jangan-jangan salah jalan.

Berhenti sejenak. Teman saya mengamati ternyata di ujung sungai ada jalur. Berarti kita harus melintasi sungai itu. Ternyata ada kayu yang bisa jadi pijakan untuk melintasi sungai kecil itu. Saya melintas dulu untuk cek bahwa di seberang sana betul-betul jalur. Ternyata betul, lalu saya kode untuk yang lain melintasi sungai. Perjalanan dilanjutkan. Ini kok tidak sampai-sampai? Tidak ada yang berbicara, semua fokus ke jalan.

Senang sekali ketemu dua buah tenda. Langsung saya tanya, ini betul jalur ke Taman Hidup? Dijawab betul, belok saja ke kiri. Kalau ke kanan menuju Bremi. Lima menit kemudian kami sampai ke Taman Hidup yang tergenang!

Porter kami sudah sampai duluan. Dia hanya bisa membuat sebuah tenda. Sisanya 3 tenda lagi belum dibangun. Bukan karena tidak sempat, tapi memang tidak ada tempat lagi. Sebagian besar camp area tergenang. Kalau pasang tenda, pasti rembes ke dalam.

Akhirnya dibuat jalur air supaya tersisa tempat untuk buat tenda. Mohon maaf porter dan guide, saya tidak bantu, sudah terlalu kedinginan. Saya menggigil di dalam sleeping bag yang agak basah.

Baru jam setengah satu malam kami dibangunkan untuk makan malam. Waktu itu, porter dan guide sempat-sempatnya masak rawon. Terima kasih banyak.

#

Hari keempat, yang ditunggu-tunggu, karena ini harinya turun ke basecamp Bremi. Aneh ya, kita menghabiskan uang, tenaga, waktu, untuk naik gunung. Sudah sampai gunung, eh malah mau segera pulang. Terus setelah sampai rumah, mau naik gunung lagi…

Semua logistik dihabiskan pagi itu. Jadi wajar kalau di piring kami agak penuh dengan lauk. Pagi terakhir, kami makan pakai sop ayam kalau tidak salah. Ada caranya memang supaya ayam bisa awet sampai empat hari.

Sebelum turun, saya sempatkan melihat Danau Taman Hidup. Terasa syahdu sekali. Walaupun airnya diam tidak mengalir, tapi banyak pendaki yang minum air dari Taman Hidup. Termasuk saya. Alhamdulillah masih aman dan sehat sampai sekarang.

Seperti hari-hari sebelumnya, banyak terpelesetnya. Celana jelas kotor penuh lumpur. Sepatu apalagi.

Sampai Hutan Damar, karena ada ojeg, ya langsung ngojeg. Sampai basecamp Bremi langsung cari kamar mandi dan cuci segala yang perlu: sepatu, carrier, baju, celana, kursi lipat, tracking pole. Agak kaget waktu menuju kamar mandi, karena sebelahan sama kandang sapi! Penduduk Bremi terkenal sebagai peternak sapi, penghasil susu dan daging.

­

Parang via Ferrata

Parang via Ferrata

Pertengahan Agustus tahun ini saya sudah mendaki Gunung Parang (Purwakarta) via Buhun alias seperti pendakian pada umumnya. Kali ini saya naik gunung yang sama tapi via Ferrata alias “naik tangga”. Ferrata itu katanya sih Bahasa Italia, artinya jalur besi.

Sempat saya ngobrol dengan guide dan pemilik warung di basecamp, katanya dulu Gunung Parang ini “dijual” untuk wisata rock climbing, ya manjat gunung yang  memang pakai tangan dan alat seadanya (tali, karabiner, dll). Sepi peminat, akhirnya pemerintah setempat berubah strategi dengan pasang Ferrata ini, jadi lebih luas jangkauan pasarnya. Kalau rock climbing kan jarang banget yang bisa. Kalau pakai Ferrata, masyarakat umum bisa.

Pas memang kalau Gunung Prang dibuat Ferrata karena sejatinya ini adalah gunung batu. Batunya bukan batu kecil-kecil yang terkumpul jadi banyak, tapi memang batunya ya segede gunung itu.

Ada dua pilihan ketinggian untuk mendaki via Ferrata, yaitu 300 m dan 900 m. Gampangnya yang 900 m ya lebih jauh, gitu saja. Jadi perlu kesiapan fisik yang lebih dibanding yang cuma 300 m.

Hari itu Minggu 27 November 2022, pagi-pagi kami sudah bersiap pasang alat safety yang melilit tubuh dan diujungi dengan karabiner untuk bisa dikaitkan ke jalur. Guide memasangkannya satu per satu ke peserta. Ohya, disediakan helm juga untuk wajib dipakai.

Persiapan pasang alat safety

Ada yang unik, asuransi tidak mau menanggung kalau ada kecelakaan pendakian via Ferrata ini. Jadi agak ngeri yah. Soal safety, menurut guide, belum pernah ada kecelakaan. Kalau sampai ada, wah bubar langsung, mana ada yang mau.

Pendakian dimulai. Kita harus berjalan dulu mungkin sekitar 20 menit untuk sampai ke jalur Ferrata. Langsung deh mulai manjat jalur besi. Masing-masing punya dua karabiner yang menjuntai dari alat safety yang terikat di badan. Setidaknya satu karabiner harus terpasang ke jalur. Tidak boleh keduanya terlepas dari jalur. Kelihatannya semua peserta nurut, kecuali guide-nya itu sendiri 🙂

Di tengah jalan menuju tangga besi pertama

Saya melihat guide manjat jarang mengaitkan karabinernya. Mungkin kalau jam terbangnya sudah tinggi, tidak perlu lagi kali ya.

Di beberapa titik, kita harus antri karena jalurnya cukup ekstrem dan harus berjalan satu per satu. Jadi agak lama nunggunya. Yang juga lama, kadang-kadang peserta minta difotokan dulu di beberapa titik, jadi perlu antri.

Danau Jatiluhur terlihat jelas

Kalau lelah, ya diam saja dulu berpegangan ke besi, sambil balik badang, nah nanti terlihat Danau Jatiluhur. Enak dipandang.

Kebetulan waktu saya naik itu tidak hujan dan lumayan berawan. Itu komposisi yang paling pas. Kalau dapatnya pas hujan, ya basah. Kalau pas terang banget, ya panas.

Memang jalur Ferrata itu ya harus pakai ferrata, sangat tidak mungkin mendaki hanya pakai kaki. Kecuali rock climber professional, itu mungkin masih bisa. Saya tidak terbayang kalau tali kita putus, aduh gimana rasanya itu ya. Nyawa kita di tali.

Turun saya tidak lelah, tidak ngos-ngosan seperti kalau mendaki gunung pada umumnya. Yah lumayanlah pengalaman baru. Kami pesan nasi prasmanan ke ibu pemilik warung. Pakai ayam goreng, tahu tempe, teri, kerupuk, sayur asem, lalapan, ditambah sambal yang enak banget, wah lahap banget makannya.

Resensi: Pahlawan Minahasa

Ini buku yang saya prediksi buku lama, apalagi terbitan Balai Pustaka, tapi rupanya tidak selama yang saya bayangkan. Kirain cetakan pertamanya sekitar tahun 1950-60an, tapi ternyata pertama cetak 1998. Prediksi demikian karena dari bahasanya saya nilai bukan Bahasa kekinian. Juga topik yang diangkat soal perang fisik, yang itu menurut saya bukan topik kekinian.

Ceritanya ada seorang pahlawan dari Minahasa namanya Lengkong-wuaya. Agak antik ya namanya, jarang saya dengar nama tersebut. Juga jarang banget ada nama dua suku kata yang disambung dengan tanda baca “-“. Penulis saya perhatikan konsisten tuh menulis “Lengkong-wuaya”. Biasanya kan penokohan diberi dengan nama ber-dua-suku-kata saja.

Balik ke cerita, Lengkong-wuaya ini pahlawan yang punya niat menyatukan penduduk yang terpecah dan sering bertikai. Pertikaiannya ya perang sampai bunuh-bunuhan. Memang rasanya persatuan sulit terjadi tanpa adanya perang itu sendiri. Jadi terdengar antitesis dengan niat awal.

Itu yang dilakukan Lengkong-wuaya dan beberapa pahlawan rekannya. Dia membunuh salah satu pemimpin daerah lain (Wantian) justru dengan niat menyatukan keduanya. Setelah memenggal pemimpin Wantian, bukannya balik ke daerah asalnya, Lengkong-wuaya malah bawa kepala pemimpin tsb ke rakyat Wantian.

Terkesan seperti cari mati, tapi justru dia berani karena niatnya mau menyatukan penduduk tersebut. Rakyat Wantian tidak berani mendekati Lengong-wuaya saya lupa kenapa, mungkin karena dia terlalu kuat, atau memang sudah dapat kepercayaan penduduk karena niatnya mulia. Dan rakyat Wantian (seingat saya), senang Wantian mati karena apa gitu, mungkin karena dia jahat.

Memang saya baca buku ini agak bingung sih, terutama setengah tulisan awal. Tapi mulai semakin menarik terutama seperempat tulisan terakhir.

Lengkong-wuaya tidak hanya tidak dibunuh rakyat Wantian, tapi justru malah lamarannya ke anak Wantian diterima! Dia menikah dengan anak dari orang yang dia bunuh. Anak Wantian juga lekas sekali mengiyakan lamaran Lengkong-wuaya, karena memang dia tampan dan gagah. Laki-laki banget deh.

Tidak lama, anak Wantian hamil. Belum lahir, Lengkong-wuaya meninggalkan anak Wantian dengan alasan mau fokus kembali ke tujuan awalnya: menyatukan penduduk. Lengkong-wuaya memberi gelang dengan pesan untuk dipasang ke anaknya kelak. Kalau anak laki-laki, maka pasangkan di tangan kanan. Kalau perempuan di tangan kiri.

Lahirlah sang anak (cucu Wantian). Kuat sekali dia. Juga welas asih dengan rakyat Wantian. Maka tidak heran di usia baru belasan tahun, dia diangkat jadi pemimpin rakyat Wantian. Meski begitu, belum pernah dia bertemu ayahnya yang sudah pergi belasan tahun.

Suatu hari, sang cucu Wantian alias anaknya Lengkong-wuaya pergi berburu hewan buas. Eh malah ketemu bapaknya. Tapi mereka tidak saling kenal. Berhubung Lengkong-wuaya sedang pakai baju perang, maka cucu Wantian menganggap itu musuh. Mereka bertempur hebat, tapi pada akhirnya cucu Wantian kalah dan terluka parah.

Di beberapa waktu akhir hidup cucu Wantian, sudah terluka parah, Lengkong-wuaya menyadari gelang yang dipakai cucu Wantian itu adalah gelang yang dipesankan dulu ke istrinya. Tapi kok ini dipasang di kiri, harusnya kan kalau laki-laki di kanan. Tapi nasi sudah menjadi bubur, cucu Wantian sudah mati. Lengkong-wuaya menyesal sejadi-jadinya. Dia bawa jasad anaknya ke anak Wantian (istrinya) dan bingung mau berkata apa. Sudah lama tidak pulang, datang-datang bawa berita dia sudah membunuh anaknya karena ketidaktahuan. Wah di situ sedihnya.

Buku ini biasa saja sih buat saya. Agak sulit mencerna Bahasa dan alurnya.

Dari 27

Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan consulting yang kantornya di The Plaza lantai 27. Sebelahnya Plaza Indonesia. Kalau masuk kantor ya seringnya lewat Plaza Indonesia, terus lanjut lewat “connecting door” ke The Plaza.

Sudah setahun di sini, walaupun ke kantor jarang, yah paling sekali seminggu. Selebihnya WFO. Yang menyenangkan kalau kerja ke kantor adalah view Patung Selamat Datang di Bunderan HI. Di situ ada beberapa cerita.

Yang paling sering bikin saya ketawa adalah motor yang masuk ke Jalan Thamrin dari arah Kebon Kacang. Itu kalau polisi lagi razia, pasti pada kena itu motor. Dan kalau kena, bisa tiap menit ada korban. Dari atas sih lihatnya lucu. Saya sampai senyum-senyum sendiri. Tapi yang kena pasti kesal. Biasanya ada sekitar 3 polisi yang bekerja sangat cepat: stop-in motor, minta surat, kasih surat tilang. Begitu terus Sebetulnya saya sendiri baru tahu tidak boleh masuk Jalan Thamrin dari Kebon Kacang. Ya tahu karena lihat Razia dari atas sini.

Cerita lain soal tim yang merawat Bunderan HI. Tiap ke kantor, kalau pas sedang perhatikan Patung Selamat Datang dan kolam di bawahnya, ada saja yang sedang berenang. Ya itu bukan orang iseng, tapi memang mungkin sedang merawat sesuatu. Nyikatin bagian dasarnya kali biar tidak lumutan. Dia mengitari kolam, perlahan. Jadi kayaknya betul deh dia lagi nyikatin.

Juga cerita soal demo. Sering ada rombongan demo lewat Bunderan HI, biasanya pakai motor. Dengan bendera dan menggunakan seragam atau baju yang warnanya serupa. Iring-iringan sejak dari jauh sudah terlihat dari atas. Karena memang kantor saya itu daerah demo, sering saya terima email dari kantor mengingatkan bahwa tanggal sekian akan ada demo terkait xxx, mohon untuk menghindari jalur xyz kalau tidak diperlukan. Biasanya email datang sehari sebelumnya.

Di sini cukup tinggi, sampai saya bisa melihat banyak Gedung tinggi di sekitar. Cukup menyenangkan di mata. Kalau sedang ingin alihkan perhatian dari pekerjaan sejenak, ya biasanya saya nengok ke samping bawah. Kubikal di kantor saya bebas, siapa cepat dia dapat. Dan kita diwajibkan membawa pulang semua yang kita bawa, jadi meja harus kembali bersih. Tidak ada tuh cerita ngetekin tempat. Berhubung saya sering datang pagi, jadi selalu bisa dapat kubikal pinggir kaca. Ya biar pandangan enak kalau lihat ke samping.

Pemandangan pantry kantor saya menghadap ke barat, jadi enak kalau lihat sun set. Ditambah pemandangan segregasi yang tegas antara gedung-gedung tinggi dan perumahan warga. Seringkali sekitar 10 menit sebelum maghrib, saya sudah nongkrong di pantry. Kalau pulang sebelum Maghrib, nanti susah sholatnya di jalan. Sambil ngeteh dan makan cemilan, bisa lihat view sun set. Keren nih yang bikin layout ruangan pantry.

Sebetulnya ini bukan kali pertama kantor saya di lantai tinggi. Pernah saya paling tinggi di lantai 37 waktu proyek SKK Migas di Kuningan. Sekitar setengah tahun di sana. Pemandangannya helikopter landing di depan gedung. Jadi ada grup perusahaan besar di depan gedung tempat saya kerja, gedungnya paling 20-an lantai, paling atas heli pad. Nah itu bosnya setiap hari kayaknya naik heli ke kantor.

Atau waktu projek INN (Sari Roti), itu tidak terlalu tinggi, tapi mereka punya work space khusus yang semua kursinya menghadap kaca kantor. Kacanya kinclong. Jadi kalau melihat ke depan ya gedung-gedung tinggi. Keren tuh.

Yang kurang keren, lantainya tinggi, tapi semua kacanya ditutup gorden kantor. Bukan seperti gorden rumahan yang berlekuk-lekuk, itu loh gorden kantor yang polos lurus saja, biasanya warna cream muda. Mana gordennya permanen lagi, tidak bisa dibuka tutup. Nah males tuh yang begitu, tidak ada pemandangannya. Yang ada cuma tembok, gorden, sama muka teman lagi cemberut. Heran ya kenapa ada kantor yang dibuat setertutup itu.

Gede via Putri

Yang dekat, malah belakangan. Kalau dari Jakarta, sampai ke basecamp Gunung Gede itu paling 2 jam. Tapi baru sekarang ke sana. Memang sebetulnya saya menghindari ke Gunung Gede, sejak lama, karena macetnya itu loh. Pangrango dan Salak termasuk yang juga dekat dari Jakarta, tapi sepi, tidak macet. Saya kira terutama karena keduanya punya jalur pendakian yang tidak seramah Gede. Malah kalau di Salak via Ajisaka itu harus pakai webbing belasan kali.

Gede jalurnya agak santai. Pesona Surya Kencana (Surken) juga cukup menarik hati untuk didatangi. Hamparan padang rumput yang luas, dengan Edelweis yang tersebar anggun.

Jumat malam kami kumpul di CFC UKI, ikutan trip Tiga Dewa yang harganya Rp550 ribu. Kalau tidak salah, kami berangkat 00.30 sudah masuk hari Sabtu 8 Oktober 2022. Naik 2 Elf dengan total peserta 20-an orang. Profesinya beragam, ada dokter, ada ustadz, kebanyakan pekerja kantoran biasa. Itu yang selalu menarik kalau ikut open trip – nambah kenalan, nambah wawasan. Tapi yang nambah-nambah itu terjadi kalau kita ngobrol. Kalau diam-diam saja ya tidak nambah. Dan banyak yang begitu, hanya ngobrol dengan yang dia kenal-kenal saja.

Sempat tidur sekitar 2 jam di basecamp Putri. Di sana banyak basecamp, puluhan. Bentuknya seperti rumah warga yang dikosongkan, dengan alas tikar. Jadi ada yang tidur di ruang tengah, ada yang di ruang dekat dapur, ada yang dekat tangga, ada yang di lantai 2, ada yang dekat tempat sholat, ya selama ada ruang kosong, bisa tidur. Saya buka matras tiup dan sleeping bag. Lumayan tidur 2 jam tapi nyenyak.

Sarapan di warung depan, sudah termasuk biaya open trip. Pilih lauk bebas, dan juga kopi kalau mau (konsekuensinya: perut kontraksi). Sekitar jam 7 kita mulai jalan. Ramainya bikin lesu semangat. Kita jalan di jalur itu sampai antri. Dan pas sampai pos, pos berapapun, selalu penuh dengan orang. Mungkin ada 100 orang yang istirahat di tiap pos.

Belum lagi di warung-warung sepanjang jalur. Sampai puncak juga ada warung. Jadi kalau ke Gede tidak bawa logistik juga aman. Asal sanggup bayar air mineral 1,5 L seharga Rp30 ribu. Di beberapa warung, ada yang menjual nasi uduk. Harganya Rp10 ribu tapi sedikit isinya. Banyak yang jual buah. Kalau minuman hangat mah ada di mana-mana. Kalau tidak salah ingat saya beli jahe hangat itu Rp8 ribu.

Jalur pendakian lumayan bagus. Bukan jalur tanah lempung yang licin. Kebanyakan jalur akar. Pohonnya besar-besar layaknya taman nasional. Di beberapa tempat ada webbing pendek tapi tanpa webbing juga masih tetap bisa sih. Sempat saya lihat ada mayat cacing sonari alias cacing raksasa yang lazim ditemui di hutan.

Para pendaki cukup ramah. Kita biasa saling sapa. Kebanyakan tentu saja dari Jakarta. Sebagian besar saya tanya mereka pakai motor berangkat Jumat malam. Sekitar 3 jam perjalanan. Kalau saya kayaknya sudah tidak kuat naik motor sejauh itu.

Mereka akan pilih salah satu basecamp, bayar sekitar Rp80 ribu untuk biaya bertempat di basecamp dan juga untuk urus Simaksi. Ada yang hanya berdua, ada yang serombongan beberapa motor. Macam-macam lah. Kebanyakan mereka sudah bawa logistic untuk masak di camp area – Surken. Walaupun makanan berlimpah di warung-warung, tapi ya memang beda sensasinya makan hasil masakan sendiri. Apalagi masaknya dengan teman saling bercanda suka cita.

Saya termasuk yang berjalan paling depan. Sampai Surken jadi bingung sendiri, mana tendanya Tiga Dewa? Mana tidak ada bendera lagi. Jadi saya main tebak-tebakan saja, kalau ada kerumunan sekitar 7 tenda, nah mungkin itu. Betul saya ketemu di tebakan pertama. Tenda sudah rapi. Segera saya tidur.

Sempat ngobrol dengan porter kami, saya tanya, waktu pandemic kan pendakian ditutup, penghasilannya turun dong? Sebagian besar iya, tapi si porter sendiri tidak. Malah naik. Loh kok bisa? Karena banyak yang tetap illegal mendaki gunung di Bogor dan mereka perlu guide/porter. Ya begitu fenomenanya.

Makanan sudah siap dengan menu sate ayam. Wah langsung sikat. Satenya sudah dibawa dari bawah, sampai Surken tinggal panasin saja. Nasi panas, sate panas, di gunung, itu nikmat.

Tidak lama, hujan datang. Tidak besar, tapi tidak berhenti. Saya masuk tenda dan tidur. Terdengar beberapa orang tetap lanjut ngobrol sambil masak macam-macam. Saya mau juga sih ikut nimbrung, tapi kedinginan dan ngantuk.

Besok paginya, kami summit tidak mengejar sunrise. Sudah terang, baru summit. Macetnya itu males banget. Seringkali malah saya pakai jalur lain yang dekat dengan jalur utama. Ya supaya lebih cepat. Hanya setengah jam sampai puncak. Eh ada yang jualan.

Di puncak juga penuh, ramai, saya tidak lama, langsung turun. Sempat nongkrong beli minuman hangat dan gorengan, terus segera ke tenda lagi. Tiga Dewa itu sudah terkenal dengan sop buahnya setelah kita summit. Jadi saya datang langsung nagih, sop buahnya mana?

Sudah saya prediksi, semakin lama turun, akan semakin macet. Jadi sesegera mungkin setelah makan, langsung turun. Nanti istirahatnya di basecamp saja. Turunnya saya agak ngebut karena memang juga kebelet. Hanya dua jam sudah sampai.

Sampai basecamp, langsung ke kamar mandi, dan ajaibnya langsung keluar. Sudah ditahan sejak tadi pagi. Selama ini saya selalu menghindari buang air besar di gunung. Selalu berhasil. Termasuk yang kali ini.

Cuti untuk Bali Lombok

GWK

Iseng-iseng saya ajukan cuti tiga minggu di September 2022. Eh ternyata di-approve. Memang alasannya cukup kuat sih, karena Oktober jadwal proyek mengetat sampai tahun depan, jadi susah cari cuti. September jadwal proyek agak santai.

Setelah di-approve, malah saya bingung mau ke mana ya tiga minggu. Sempat terpikir untuk jelajah utara Borneo, jadi terbang ke Pontianak, nyeberang ke Malaysia, Brunei, terus lanjut mendaki Kinabalu. Tapi pas mau registrasi Kinabalu (untuk mendaki Kinabalu harus registrasi dulu, karena ada kuota harian) eh sudah habis. Padahal saya coba daftarnya itu satu bulan sebelumnya.

Putar haluan ke Bali untuk mendaki Gunung Agung dan Batur. Langsung saya daftar trip di Tiga Dewa. Setelah dari Bali, rencananya ke Arguporo yang katanya jalur pendakian terpanjang. Mumpung dapat cuti panjang kan.

Senin 5 September saya naik kereta Kertajaya dari Stasiun Senen ke Surabaya Pasar Turi. Padahal ini kereta ekonomi loh, tapi tempat duduknya satuan seperti eksekutif, walaupun empuknya ya beda lah sama eksekutif. Terus kursinya bisa dimundurin sedikit. Beda banget sama kursi kereta ekonomi pada umumnya, yang kursinya panjang untuk 2-3 orang, tegak bangetdan tidak bisa dimundurin.

Beli tiketnya gampang banget ya ternyata pakai aplikasi KAI Access. Terakhir saya naik kereta lintas Jawa mungkin 10 tahun lalu. Itu kalau mau beli tiket, aduh males banget harus antri. Harus ke Stasiun. Juga belum tentu dapat tiket.

Sampai Surabaya Pasar Turi tengah malah, sekitar jam 1 pagi. Sementara kereta ke Banyuwangi baru jalan jam 5-an pagi dari Gubeng. Langsung saya ngojeg ke Gubeng, sebelum masuk stasiun makan rawon dulu di depan stasiun. Kirain lebih dari Rp20 ribu, ternyata Cuma Rp14 ribu. Padahal dagingnya banyak. Nunggu kereta, saya tidur dulu di mushola. Tas carrier jadi bantal.

Tepat di jam yang seharusnya, kereta ke Banyuwangi berangkat. Sampainya juga tepat waktu. Keren memang KAI sekarang. Mana keretanya bersih, ada colokan, AC, wah keren deh.

Probowangi dari Surabaya ke Banyuwangi

Makan dulu di Banyuwangi, langsung nyeberang ke Gilimanuk (Bali). Kapalnya ada terus kok, 24 jam. Di kapal saya cari teman yang tasnya sama-sama besar. Ketemu beberapa bule yang seingat saya mau ke Ubud. Juga saya ngobrol dengan orang Jakarta yang memang mau pindah ke Bali. Dia masih muda, mungkin baru 22 tahun, tapi sudah punya usaha kertas apa tuh istilahnya lupa. Pernah ngalamin mau claim karcis tol tapi kok tulisannya hilang semua karena kelamaan disimpan? Nah kertas semacam itu, yang kalau dipanasin dia bisa ditulis tanpa tinta, kalau tidak salah istilahnya thermal paper.

Si pemuda itu sudah punya client brand besar yang kalau disebut semua kenal lah sama brand ini. Nah dia waktu itu sama perempuan yang saya tebak pacarnya. Berapa lama di Bali nanti? Dia jawab tidak jelas, mungkin seterusnya dia mau tinggal di Bali. Menarik obrolan kami karena bicara nama-nama besar seperti Mardigu dan Helmi Yahya. Katanya sih si pemuda ini beberapa kali diskusi soal bisnis, maksudnya belajar bisnis, sama kedua nama itu. Masih muda tapi sudah dewasa sekali.. dan terlihat mapan.

Sampai Bali segera cari bus ke Ubung. Ongkosnya Rp50 ribu. Banyak banget calonya di Pelabuhan. Mereka cari penumpang bus, yang tentu saja berharap imbalan dari supir bus. Tidak lama saya duduk, bus segera berangkat. Empat jam sampai Ubung. Sepanjang jalan pemandangannya lumayan. Salah satu yang saya suka kalau naik bus atau kereta ya lihat-lihat ini, makanya selalu pilih duduk dekat kaca. Di beberapa tempat, bisa terlihat pantai.

Bus Gilimanuk – Ubung

Di depan terminal Ubung saya mampir RM Padang. Kalau padang saya percaya halalnya. Langsung kalap saya makan. RM Padang di mana-mana jarang sekali gagal enak. Termasuk yang di depan Ubung.

#

Beberapa hari di Bali saya sewa motor Rp50 ribu per hari. Ketemu dan ngobrol banyak sama teman lama saya, Wasis. Sepuluh tahun lebih kami berteman. Dia pernah tinggal dan kerja di Jakarta tapi kurang betah. Pada akhirnya di Bali dia merasa nyaman.

Sama juga, saya rasakan nyaman ya di Bali. Pantai dekat, gratis lagi. Tahu tidak berapa bayar parkir motor? Seribu perak. Di beberapa tempat wisata dua ribu. Dan uang parkir itu setahu saya masuk ke kas desa, bukan ke si tukang parkir. Ya mungkin ada juga sebagian ke tukang parkir. Kalau di Jakarta kan ya buat si tukang parkir.

Juga kalau di Bali, tidak semua tempat ada tukang parkirnya. Banyak tempat makan yang saya kunjungi, atau mini market, tidak ada tempat parkirnya. Beda banget kan sama Jakarta: kalau parkir sepi, pas mau keluar ada suara peluit.h

Wasis kenalkan saya dengan warung makan H. Roni di Jl Tangkuban Perahu, daerah Padang Sambian. Sekali makan langsung suka dan kalau makan selalu ke situ. Sampai yang biasa bikin minuman sudah hapal setiap siang saya minumnya pesan kopi. Pas tidak pesan kopi dia tanya, “Tidak pesan kopi?”

Warung H Roni

Ini warung makan memang direkomendasikan banget. Varian makannya banyak, enak, halal, dan murah! Yang terakhir yang paling penting. Nasi pakai ayam goreng dan sayur itu Rp13 ribu. Kopi hitam Cuma Rp3 ribu. Padahal tempatnya bersih, bagus, luas. Heran saya kenapa bisa semurah itu ya. Wajar banget kalau ramai.

Makan di H Roni

Selama di Bali saya tinggal di daerah Padang Sambian. Sekali saja sewa kapsul di daerah Seminyak. Beberapa pantai saya sambangi, semuanya bagus-bagus! Ada kuta, legian, jerman, sanur, sindhu, dan satu pantai di selatan yaitu dreamland.

Kuta
Dreamland
Sindhu

Di suatu pagi saya diajak Wasis untuk sepedaan di daerah kuta tembus sampai pantai Jerman. Menyenangkan sekali sepedaan di pinggir pantai. View nya ya pantai. Kalau beruntung, bisa lihat pesawat landing. Bandara memang terlihat dari pinggir pantai, terutama Pantai Jerman.

Saya tanya kan sama Wasis, kenapa sih namanya Pantai Jerman? Emang banyak orang Jerman? Dia juga tidak tahu. Ah gimana sih Wasis. Percuma lama di Bali. Tepatnya Wasis tinggal di daerah Jimbaran. Saya sempat mampir ke rumahnya. Dimasakin soto.

Tujuan utama saya di Bali buat naik gunung. Ada dua target gunung: Batur dan Agung. Keduanya saya cerita di tulisan terpisah. Setelah itu saya nyeberang ke Lombok untuk mendaki Rinjani. Turun dari Rinjani sempat mampir ke Pantai Kuta Mandalika buat minum air kelapa.

Pulangnya lewat Pelabuhan Lembar langsung ke Surabaya – Tanjung Perak. Bermalam dulu di hotel kapsul, besoknya baru naik kereta Kertajaya lagi ke Jakarta. Selesai sudah liburan 3 minggunya.

Makanan di kapal menuju Surabaya

Rinjani Lintas Sembalun Torean

Puncak Rinjani

Rencana awalnya saya ke Argopura di Jawa Timur, tapi trip batal karena peserta hanya 4 orang. Sebetulnya bisa saja trip dilanjutkan, konsekuensinya ya nambahnya banyak. Nambah duit maksudnya. Malah jadi lebih dari dua kali lipat harga normal. Rasanya mending cari gunung lain yang sama-sama jauh dari Jakarta, tapi harga normal.

Segera saya cari trip pengganti, alhamdulillah dapat Open Trip pendakian Rinjani. Nama open trip-nya Shelter Garut. Ini open trip namanya ada “Garut” nya, tapi tidak ada satupun gunung Garut yang dia buka trip-nya. Nama Garut tersemat karena sesederhana si pemilik akun dari Garut.

Bicara soal Garut, saya jadi ingat teman saya kuliah dulu, asalnya Garut. Memang dasar teman-teman biadap, mereka panggil anak Garut ini bukan dengan namanya, tetapi dengan panggilan “dodol”. Itu sampai lulus dipanggil Dodol.

Kembali ke cerita Rinjani. Ada dua opsi meeting point, Surabaya atau Lombok. Karena posisi saya sudah di Bali, ya saya pilih yang Lombok saja. Biayanya juga jadi lebih murah, yaitu Rp1,15 juta. Kebetulan ada barengan dari Bali juga, namanya Tora tanpa Sudiro. Dia memang lagi liburan, aslinya dia kerja di Maluku, di perusahaan tambang. Tapi asli benarannya dia dari Medan. Pekerja tambang kan wajar ada istilah on off. Pas on ya kerja terus di wilayah penambangan (on-site). Pas off ya bisa beberapa minggu bebas. Dikasih tiket pesawat lagi. Bebas lagi mau ke mana, selama masih dalam budget. Si Tora milih liburan di Bali, yang kemudian akan ke Lombok bersama saya.

Dari Ubung kami pakai Grab car sampai Pelabuhan Padang Bai. Langsung nyeberang ke Pelabuhan Lembar (Lombok). Kapalnya cukup oke lah. Saya tidur di lantai pakai matras tiup dan sleeping bag. Nyaman, lelap saya tidur.

Sampai Lembar masih terlalu dini, sekitar jam 1 pagi. Sementara kami akan dijemput sekitar jam 8 pagi. Nunggu deh tuh di Pelabuhan digigitin nyamuk.

Driver datang dengan mobil semacam Elf, mobil yang akan mengantar kami ke Sembalun. Tapi tidak langsung, kami harus jemput peserta lain dulu di bandara. Macam-macam profesinya, ada yang pramugara, ada orang Gudang, ada pengangguran sukses, ada orang bank. Selalu seru kenal dengan beragam profesi.

Menuju Sembalun, jalanan aspal mulus. Kami langsung ke basecamp yang memang khusus untuk rombongan kami 26 orang. Tidak ada rombongan lain. Sore itu kami berkenalan sekaligus aklimatisasi dengan dinginnya Sembalun. Adul si pemimpin rombongan sekaligus admin Shelter Garut, memberikan briefing yang sangat baik. Baru kali ini saya dapat briefing trip yang sedetail ini. Saya tanya, Dul, Shelter Garut kok tidak ada trip ke Garutnya? Dia ketawa tidak menjawab.

Biasanya kan cuma sekedarnya briefing paling 5 menit sebelum mendaki, terus doa bersama. Nah kalau si Adul, dia jelaskan apa yang jadi tanggung jawab peserta, apa yang jadi tanggung jawab panitia. Clear. Salah satu yang menyenangkan adalah kita bisa bebas refill air di tempat camp. Jadi biar porternya yang bolak balik ambil air. Adul juga jelasin susunan kegiatan dari berangkat sampai pulang. Sekitar sejam itu kita briefing, sampai sedikit lewat Maghrib. Ini briefing trip paling bagus yang pernah saya dapat. Jelas banget.

#

Sarapan nasi goreng jam 7 pagi di hari Jumat 16 September 2022. Tidak lama, kami persiapan naik pick up ke titik mula pendakian yang disebut Kandang Sapi. Memang dekat situ banyak kandang sapi. Dari kendang sapi, ada dua pilihan, mau naik ojeg atau jalan sampai pos 2. Katanya dengan ojeg bisa memangkas perjalanan 2 jam.

Sarapan di basecamp
Pick up dari basecamp ke Kandang Sapi
Kandang Sapi

Jalan kaki jadi opsi yang saya pilih. Sampai pos 2 saya butuh 1 jam. Jalannya sih santai, tapi tidak berhenti. Saya ikuti seorang porter, sambil ngobrol. Pelan dia jalan, tapi terus. Ya saya jadi ikut begitu.

Pos 2

Si porter barengan saya banyak lah ceritanya. Saya taksir umurnya 30-an, eh ternyata baru 26. Dia memikul barang dengan pikulan, bukan dengan tas gunung. Alasnya pakai sandal jepit. Pikulan dan sandal jepit itu sudah khas porter Rinjani banget. Dia cerita soal tarif porter yang terbatas dan sangat berharap tip dari tamu. Dia juga cerita soal bule kalau jalan cepat sekali dan kalau makan suka banyak sisa, ya jadi rezeki tambahan sih buat porter.

Sebelum pos 3, saya sudah mulai menyusul rombongan yang naik ojeg. Di pos 3 kami agak lama beristirahat. Ada warung. Porter kami orangnya jenaka, namanya Pak Ahmad. Dia suka tausiyah. Macam-macam bahasannya. Cukup menghibur. Suasana makin cair, kami makin dekat.

Jalur Pos 3 ke 4
Porter

Sedikit cerita soal salah satu peserta dari Jombang. Dia suka mancing, makanya kami panggil Kang Pancing. Umurnya paling baru 22 tahun. Dia belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Pertama mendaki langsung Rinjani. Keren kan! Selama sebulan sebelum pendakian, dia rutin lari 5 km setiap hari. Makanya fisiknya kuat.

Karena dia suka mancing, dia bawa alat pancing. Rencana memang mau mancing di Segara Anak. Sebelum berangkat dari Jombang dia sempat bertanya soal umpan. Bawa cacing dari Jombang mati gak ya?

Untung dia tidak bawa cacing betulan dari Jombang. Akhirnya pakai umpan nasi. Nanti di Segara Anak dia betul-batul mancing dan dapat ikan. Satu ekor.

Perjalanan dilanjut sampai Pelawangan Sembalun. Tadinya saya kira dengan menyebut pos “Pelawangan” saja sudah cukup, rupanya harus lengkap “Pelawangan Sembalun”. Karena ada pelawangan-pelawangan lain di jalur-jalur lain. Jadi sebutan pelawangan itu, kalau saya menafsirkan, semacam gerbang menuju puncak dari suatu jalur. Pelawangan Sembalun berarti gerbang menuju puncak dari jalur Sembalun. Kalau di jalur Senaru, ada yang namanya Pelawangan Senaru, berarti gerbang menuju puncak dari jalur Senaru.

Gubuk merah, semacam tempat emergency bagi pendaki yang kedinginan

Pelawangan Sembalun itu area terbuka. Ini ada enaknya ada tidaknya. Enaknya, lebih leluasa dalam memandang. Pandangan luas dan bisa jauh, terutama kalau tidak ada kabut. Termasuk pemandangan sampai puncak Rinjani. Tidak enaknya, dingin banget. Angin bebas datang tanpa tertahan pohon. Kalau badai, wah kena banget ini. Mungkin bisa ambruk tenda kena badai.

Tenda Shelter Garut di Pelawangan Sembalun
Nongkrong sore

Puncak Rinjani bisa terlihat dari Pelawangan Sembalun. Juga letter L nya, juga letter E nya. Kedua letter itu adalah jalur yang akan kami lewati besok. Disebut Letter L karena bentuk jalurnya seperti huruf L. Definisi serupa untuk letter E. Wah kalau lihat dari bawah sini, masak sih besok bakal lewat jalur seberat itu jalurnya? Sanggup tidak ya?

Sempat saya ngobrol dengan beberapa bule dari beberapa negara. Memang Rinjani banyak diminati bule. Gampang lah ketemu bule di sini. Yang sering saya tanya adalah rencana mereka setelah dari Rinjani. Kebanyakan tujuan mereka tidak jauh-jauh dari Bajo, Bali, dan Jogja. Ya memang bule pada umumnya tahu itu-itu saja.

Agak panjang saya ngobrol dengan bule dari Malaysia. Ini saya jadi bingung definisi bule. Kalau kaukasoid (putih, tinggi, mancung) iya kita sepakat sebut mereka disebut bule. Lah kalau sama-sama melayu, apa masih tergolong bule?

Dia dan dua temannya dari Kuala Lumpur. Biasalah, tipikal karyawan yang ambil cuti buat jalan-jalan. Tujuannya memang khusus ke Rinjani, habis itu ya balik lagi ke KL. Saya tanya, sudah ke Kinabalu? Belum katanya. Kenapa tidak ke sana saja? Mahal katanya.

Kalau ke Rinjani, ongkos tripnya dia bayar Rp2,5 juta itu 3 hari 2 malam, lintas Sembalun – Senaru. Kalau ke Kinabalu wah bisa Rp4 juta lebih. Jadi pandangan Kinabalu itu mahal bukan dari orang Indonesia saja, orang Malaysia-nya sendiri juga anggap itu mahal.

#

Sekitar jam 1 pagi kami bergerak untuk summit. Saya setenda sama Kang Pancing. Dia hebat juga loh, tidak ada keluhan kaki. Padahal ini pertama kali dia naik gunung. Orangnya polos banget, jadi suka kita bercandain.

Dini hari itu dingin banget, ditambah angin kencang. Beberapa mendaki dengan pakai jaket tebal dilapis jas hujan, padahal tidak hujan. Itu supaya bisa bantu tahan angin kena ke badan. Rasanya lumayan efektif.

Begitu dinginnya, sampai rombongan berhenti dulu di satu titik, di balik batu besar, buat api penghangat. Duduk di situ sejam. Sampai dirasa cukup kuat, baru jalan lagi. Selain dingin, ngantuknya juga minta ampun. Gimana tidak, jam 1 pagi sudah jalan. Sempat saya ketiduran beberapa menit. Bangun-bangun segar.

Pemandangan menuju puncak
Puncak Rinjani yang sempit

Awalnya saya mau coba kejar sun rise, tapi tidak terkejar. Sampai puncak, matahari sudah naik. Tapi tetap dingin. Tidak lama saya di puncak. Segera turun ke Pelawangan Sembalun, untuk tidur. Tapi susah, matahari sudah lumayan tinggi, jadi tidur di tenda itu panas. Terpaksa tahan kantuk.

Hari ini sebetulnya adalah yang tersulit. Sudah harus summit mulai jam 1 pagi, juga harus lanjut ke Sagara Anak. Sulit tapi menyenangkan.

Perjalanan ke Segara Anak
Porter selalu bisa menyalip pendaki

Sampai Segara Anak, langsung saya nyebur. Wah segarnya. Memang sih di pinggir-pinggir danau itu banyak sampah, termasuk tulang-tulang ikan. Dan berbau seikit amis. Tapi ya tetap segar. Sekitar setengah jam saya berenang. Sekaligus cuci baju yang saya pakai, untuk dipakai lagi besok.

Sore di Segara Anak

Kang Pancing langsung mancing. Sudah lama mancing, dapatnya cuma seekor. Kecil pula. Habis dia kena bully sampai besok-besoknya. Sementara si Adul dapat puluhan ekor! Kalau saya taksir, tiga puluh lebih. Dia pakai pancing jala. Jadi ujung pancingnya itu bukan kail, tapi jala kecil. Sekali dapat bisa lebih dari seekor. Makin habislah si Kang Pancing kena banding sama Adul.

Apa yang ada di danau, itulah yang kami makan malam itu. Ikan gorengnya segar sekali. Sampai nambah-nambah belum juga habis itu ikan. Besok paginya beberapa porter mancing lagi dan dapat puluhan ekor lagi! Mereka akan bawa ke basecamp untuk dijual. Bukan ide bagus, karena kata yang bisa lihat, ikan itu “mengundang”. Ada yang bisa melihat beberapa terundang hadir mendekati ikan.

Malam di Segara Anak rasanya tidak akan terlupa. Api unggun bisa cukup jadi obat dingin.

#

Hari ketiga, kami akan lewat Torean untuk sampai ke basecamp.

Betul kata banyak orang, Torean ini ampun-ampunan pesonanya. Jalur ini baru, tapi pesonanya luar biasa. Baru maksudnya baru jadi resmi. Jalur ini sudah ada sejak lama, tapi belum resmi. Baru resmi sekitar setahun.

Sebelum mulai jalan, saya mandi air panas dulu di dekat Segara Anak. Keren banget ya Segara Anak, ada danau, ada anak Rinjani, juga ada air panas. Hanya 10 menit jalan dari danau. Air panasnya panas banget. Untuk langsung nyebur, saya tidak kuat. Bahkan celupin kaki saja awalnya tidak kuat lama-lama. Jadi perlu penyesuaian dulu. Dari awalnya kaki pelan-pelan direndam, naik sedengkul, seperut, seleher, sampai akhirnya bisa nyemplung semua. Segar banget. Jadi rileks. Efek negatifnya, jadi rada ngantuk dan lemas. Tapi hilang kok setelah berjalan setengah jam.

Air panas dekat Segara Anak

Jalur Torean begitu indah. Yang membuat indah itu terutama bukit-bukit hijaunya. Juga air terjunnya, walau hanya bisa dilihat dari jauh. Juga sungai belerangnya yang meletup-letup. Juga mata airnya yang segar.

Ketemu air panas di jalur menuju Torean

Jalur Torean itu naik turun. Tidak seperti “turun gunung” pada umumnya yang ya memang turun saja. Ini sudah turun, naik, turun lagi, naik lagi. Masuk hutan, keluar hutan, masuk hutan lagi, keluar hutan lagi. Selama kaki tidak ada masalah sih, asik asik saja.

Beberapa track Torean menggunakan tali
Melipir bukit, agak ekstrem
Dibantu tambang

Makan siang di hutan pertama. Porter sudah siapkan teh panas dan gelaran flysheet besar untuk kami rebahan. Sempat saya tidur sebentar di situ, sambil nunggu porter masak. Siang itu, kami makan pakai sarden kalengan.

Naik lagi

Kalau tidak salah ingat, kami mulai jalan dari Segara Anak itu jam 8 pagi, sampai ke desa Torean sekitar jam 3 sore. Saya termasuk yang paling awal sampai. Maksudnya, yang sampai Torean malam juga banyak. Sekitar 3 km sebelum desa Torean, ada ojeg kalau mau naik ojeg. Di situ juga ada warung. Banyak yang istirahat di warung itu. Ya memang bisa dibilang pendakian sudah selesai, tinggal naik ojeg.

Pangkalan ojeg

Bersama porter, saya ikuti mereka jalan cepat. Bukan jalan biasa, ini jalan cepat. Mungkin karena datar ya, jadi bisa jalan cepat. Setengah jam sudah sampai basecamp Topan (nama basecamp-nya). Banyak basecamp lainnya di desa Torean.

Agak heran saya, tidak ada keluhan sama sekali di kaki. Heran tapi senang maksudnya. Padahal ini perjalanan 3 hari. Biasanya yang 2 hari saja masih suka sakit kaki. Kalau saya tebak, memang di hari ketiga kalau kaki dibuat jalan terus, malah hilang sakitnya. Kalau diam, ya malah muncul sakitnya. Entahlah.

Langsung saya pesan kopi, setelah 3 hari tidak ngopi karena malas BAB, dan memang berhasil saya tidak BAB. Selalu ada rasa puas, senang, setelah turun dari gunung. Apalagi dari gunung yang sejak lama saya ingin daki, sejak 2019.

Agung via Edelweis

Puncak Gunung Agung

Agak sulit mencari open trip untuk mendaki Gunung Agung. Sebetulnya saya sudah daftar Tiga Dewa beberapa minggu sebelumnya, tapi karena tidak banyak pendaftar, trip dibatalkan. Segera saya cari penggantinya di Instagram. Alhamdulillah ketemu salah salah satu guide yang rutin buka open trip Gunung Agung setiap weekend. Langsung saja daftar, biayanya Rp600 ribu. Meeting point langsung di basecamp Edelweis.

Basecamp Edelweis

Sabtu pagi 10 September 2022 saya berangkat dari Denpasar, motoran sendirian. Karena open trip sudah termasuk tenda dan makan, jadi saya cukup bawa day pack, tidak perlu carrier. Day pack saya ukuran 22 L. Kalau dimuat-muatin ya muat.

Kami hanya tujuh orang, hanya satu yang dari Tegal, sisanya dari Jabodetabek. Ditambah dua orang porter sekaligus guide, yang keduanya berasal dari padang. Jadi kami pendaki 7 orang ditambah guide 2 orang, itu semua tidak ada yang asli dari Bali.

Jam 12 mulai mendaki. Tidak ada yang begitu istimewa di jalur pendakian sampai ke tenda tempat kami menginap. Besok pagi waktu summit attack, baru deh… Ohya, satu hal, jarang sekali ada penunjuk arah di jalur. Perlu hati-hati buat pemula yang belum pernah ke Gunung Agung.

Jalur pendakian, minim petunjuk jalan

Karena kami rombongan kecil, jadi guide-nya berjalan bersama kami yang mereka sebut tamu. Konsekuensinya, sampai camp area, ya tenda belum jadi. Jadi tidak bisa langsung rebahan. Biasanya sampai camp area saya langsung rebahan dan tak jarang tertidur. Tapi di Agung belum bisa.

Pos 2 Gunung Agung via Edelweis

Konsekuensi lainnya, kami perlu menunggu agak lama untuk makanan sampai jadi. Banyak ngeluh ya saya. Padahal si guide sudah pontang-panting jalan bareng kami sambal bawa carrier besar isi tenda dan logistic. Sampai camp area juga mereka langsung gedebag gedebuk siapin tenda dan langsung masak, belum istirahat sama sekali. Tapi kan… Tapi kan mereka mendaki dapat uang, kami mendaki keluar uang. Hehe.

Salah satu senangnya ikut open trip adalah dapat teman baru. Dapat teman di gunung itu jauh lebih berkualitas daripada teman yang kenalan sekolah atau semacamnya. Kalau teman kenal di gunung, walaupun hanya jalan bareng dua hari, itu ingatnya bisa tahunan. Tidak jarang yang jadi teman dekat, bahkan menikah!

Begitu juga di camp malam itu, saya dapat beberapa teman baru. Banyak yang kami bincangkan, sampai ngantuk. Lalu tidur untuk kemudian dibangunkan sekitar jam 3 pagi.

Bangun cukup segar karena tidurnya agak lama, dari jam 8 malam sampai 3 pagi berapa jam tuh. Tidak lama, segera berangkat. Nah jalur summit nya ini yang seru, terutama di jalur yang banyak disebut “sirotol mustaqim”. Jalurnya kecil ber-batu-pasir dengan kanan kiri jurang. Ya bukan jurang-jurang amat, tapi kalau jeblos ya repot bantuinnya, bisa merosot jauh ke bawah.

Perjalanan summit attack, ditemani bulan penuh

Justru jalur menuju puncak itu yang ikonik dari Gunung Agung. Dan jalur seperti itu agak panjang, mungkin sekitar 30 menit jalan.

Gunung Agung punya beberapa puncak, kalau tidak salah begini urutannya: Puncak bayangan, puncak 1, puncak 2, dan puncak sejati. Yang paling tinggi itu puncak sejati.

Di puncak bayangan, karena sadar tidak akan berhasil dapat matahari terbit di puncak sejati, ya sudah saya istirahat lumayan lama. Tidak dapat matahari terbit, tapi dapatlah semburat-semburatnya sedikit. Momen oranye ini selalu enak dipandang. Bulan juga lagi terang-terangnya. Purnamanya purnama banget. Tapi kelamaan kalah dengan matahari yang semakin naik. Bayangan Gunung Agung makin jelas tampak, berbentuk kerucut.

Puncak bayangan, terlihat bayangan Gunung Agung

Selama pendakian, saya ketemu dengan rombongan pendaki dari Surabaya yang mobilan sejak malam sebelum pendakian. Salah satu dari rombongan itu ada bapak muda mungkin umurnya 40, saya lupa namanya. Dia bawa boneka ultra man dan banyak berfoto dengannya. Saya tanya buat apa bawa-bawa ultra man. Dia jawab, sudah tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya, siapa coba, pemerintah? Mana ada. Mending percaya sama ultra man. Gitu katanya.

Pendaki Ultraman

Juga saya ketemu dengan seorang guide (bukan guide rombongan kami) yang membawa anjingnya mendaki. Kami sapa beliau dengan “Pak de”. Anjingnya bernama Sempol (baca e nya seperti membaca bebek). Sempol sudah sering naik turun Agung. Bahkan di beberapa jalur, dia ambil jalan memotong yang tidak bisa dilewati manusia, saking sudah hapalnya dengan jalur.

Jalur tipis menuju puncak sejati

Di puncak sejati, tempatnya sempit. Tidak lama saya di situ lalu turun ke puncak bayangan Kembali. Rasanya lebih enak duduk di puncak bayangan daripada sejati, terutama karena lebih lapang.

Puncak Sejati, tempatnya kecil

Saya turun duluan, guide masih di belakang. Ada bule di depan, saya ikuti. Ternyata nyasar. Wah kacau nih bule. Mereka berdua, tanpa guide. Kami berjalan terlalu ke kanan, mendekati jurang.

Rombongan Surabaya teriak di belakang saya sambal isyarat agar saya ke kiri. Wah benar kacau ini bule. Saya tunggu rombongan Surabaya saja lah. Lebih aman. Parah dah si bule.

Batur Tek Tok

Puncak Gunung Batur

Kami terlalu pagi sampai di kaki Gunung Batur. Bisa dibilang, memang baru kami satu-satunya yang sampai di semacam pos lapor pendaki. Kami itu saya dan Fauzi yang baru saya kenal beberapa hari. Dari Denpasar, kami bermotor mulai jam 12 malam dan sampai kaki gunung jam 2 pagi.

Jalur motor yang kami lewati ya naik turun. Di beberapa titik, motor kami agak lemah tarikannya tapi masih bisa lanjut. Sepi sekali di jalan, tapi aman. Hujan sempat menderas, kami melipir pakai jas hujan, langsung lanjut jalan lagi.

Lewat Kintamani, saya teringat lagu “Anjing Kintamani”-nya SID. Ya memang banyak anjing yang saya temui di jalan. Bukan seperti anjing terawat yang sering saya temui di Jakarta, yang di Kintamani tidak begitu terawat. Mungkin agak mirip dengan “kucing jalanan” di Jakarta.

Sepakat, kami tunggu satu jam di parkiran, sampai jam 3 pagi baru mulai mendaki. Belum ada satupun mobil yang datang. Baru kemudian saya ketahui bahwa baru jam 3.30 mulai ramai mobil berdatangan. Kebanyakan mereka yang datang adalah para bule yang ambil paket tur. Modelnya bule itu, kalau saya amati, dari negaranya mereka datang sendiri atau berpasangan. Di penginapan, mereka cari paket tur semacam open trip, gabung dengan bule-bule lain.

Parkiran kaki gunung

Jam 3 kami mulai mendaki. Ransel hanya terisi jas hujan, minuman, dan makanan. Jaket tebal saya pakai. Model jalan saya agak di atas rata-rata orang pada umumnya, alias rada ngebut. Dua minggu sebelumnya saya baru mendaki Merbabu, jadi kaki masih hangat. Dan juga jogging tidak tinggal. Tapi Fauzi terlihat agak ngos-ngosan, mungkin dia terlalu banyak….

Di satu titik, tersadar kami terlalu cepat berjalan. Enaknya kejar matahari terbit itu pas menjelang terbitnya, mungkin setengah jam sebelum terbit. Kalau terlalu cepat sampai puncak, maka waktu tunggu akan semakin lama, konsekuensinya ya bisa kedinginan. Jadi sebelum sampai puncak, di jalur datar, kami tiduran dulu. Karena ngantuk, ya jadi tidur betulan. Ada sekitar 20 menit saya tidur. Kata Fauzi, saya ngorok, padahal kan tidak. Saya tidak dengar kok.

Bangun-bangun segar. Lanjut mendaki. Bule semakin banyak. Senter mereka berjejer mengantri di jalur pendakian. Ratusan jumlah mereka. Padahal waktu saya mulai mendaki, tidak ada satupun bule terlihat. Yang heran, banyak dari mereka yang jaketpun tidak pakai. Malah ada yang bajunya tipis dan tanpa lengan. Itu mereka pada kebal dingin atau gimana. Padahal saya ngomong saja sudah kurang jelas, mulut dan lidah tremor. Pipis berasap.

Sampai di puncak, sudah ramai yang datang. Bagusnya, warga lokal mengurusi gunung ini dengan baik. Salah satunya dengan menjaga tidak ada sampah. Salah duanya dengan membuat kursi-kursi bambu panjang yang jumlahnya puluhan. Satu kursi panjang bisa diisi sekitar 10 orang.

Matahari terbit dari puncak Gunung Batur
Pendaki yang kebanyakan bule menunggu matahari terbit, duduk di kursi bambu panjang
Beberapa warung terlihat dengan posisi agak menyebar

Seorang bule di samping saya ditawari warga lokal untuk minum hot chocolate. Tidak lama, minuman datang dan si pengantar memesani si bule untuk bayar Rp40 ribu setelah minum. Ternyata bayar, si bule kira awalnya gratis sudah termasuk paket tur.

Warung- warung gubuk ada beberapa di puncak. Banyak jenis minuman panas yang bisa dipesan, tapi ya gitu harganya.

Matahari terbit anggun dengan sedikit awan. Ini yang dicari para pendaki. Gunung Agung terlihat mengintip malu di belakang Gunung Abang. Hari itu Kamis 8 September 2022. Beberapa hari setelahnya, saya mendaki Gunung Agung dan sampai ke puncaknya.

Salah satu tempat ibadah di puncak Batur
Jalur pendakian melewati pura

Puas di puncak Batur, kami turun dengan jalur yang agak beda, yaitu mengitari kawah Batur. Terlihat agak ekstrim sih jalurnya. Tapi kalau dijalani saja, tidak begitu.