Pengalaman Hadapi Kejang Demam Anak

Pertengahan Desember 2019, sekitar jam 10 malam, tiba-tiba anak saya yang umur 7 bulan, kejang. Badannya lemas. Bagian hitam matanya melihat ke atas. Tangisnya langsung berhenti. Jari-jari tangannya kaku. Tentu saya dan istri langsung panik.

Sebetulnya sejak sehari sebelumnya, anak saya sudah demam. Panasnya lumayan tinggi. “Lumayan” di sini abstrak. Kami tidak punya thermometer, itu kesalahan fatal! Kami tidak tahu kapan harus ke dokter, karena tidak ada indikator yang tepat (bukan hanya “lumayan”).

Panas tersebut, didiamkan. Anak terus menangis. Kepalanya panas, setelah didekap (skin to skin) panasnya turun, tapi beberapa menit kemudian panas kembali seperti semula. Memang tangisnya agak aneh dari biasanya, sampai meraung-raung. Mungkin memang dia kesakitan sekali. Saya pikir itu karena giginya mau tumbuh. Tapi yang saya anggap biasa-biasa itu, setelah terjadi kejang, langsung kami bawa ke dokter.

Motor saya nyalakan. Istri gendong anak di belakang, sambil menangis. Yang membuat saya sangat sedih, anak saya sudah tidak terdengar suaranya lagi. Juga tidak bergerak. Baru saya merasakan bahwa ada nilai anugerah dalam tangisan bayi. Di saat itu, saya malah ingin sekali bayi saya menangis.

Kami ke RSIA Mutiara Bunda di daerah Ciledug. Kira-kira 20 menit berkendara dari tempat kami tinggal. Langsung masuk ruang IGD. Anak saya masih tidak bersuara, tapi sudah bergerak walaupun sangat lemas.

Waktu itu, dokter yang menangani namanya Dr. Dwi. Untung ketemu dokter yang tenang. Dicek suhunya 29,2 derajat. Dokter dengan tenang bertanya ceritanya sampai kejang. Kami cerita dengan masih menunjukkan kepanikan. Dokter mendengar ada kesulitan bernapas anak saya, langsung diberikan Breathy Drops, semacam cairan garam untuk meleburkan lendir yang ada di dalam hidung anak, diteteskan lewat hidung.

Dokter juga memberikan obat anti demam lewat dubur (Pyrexin). Satu jam kemudian panasnya menjadi 28,4 dan anak saya sudah menangis sedikit. Juga sudah bergerak.

Dokter menyarankan anak saya dirawat, nanti akan diberikan antibiotik yang cukup tinggi dosisnya. Saya tolak, lalu tanda tangan surat penolakan. Saya minta resepnya saja. Tetap diberikan antibiotik Cefila Syrup. Saya juga minta diresepkan obat anti kejang (Stesolid), anti demam darurat yang lewat dubur (Pyrexin), dan obat penurun panas sirup (Moretic Drops), sekaligus minta diresepkan thermometer.

WhatsApp Image 2020-01-03 at 16.01.13
Tagihan obat karena kejang demam di RSIA Mutiara Bunda

Antibiotik Cefila saya tebus, tapi tidak saya berikan ke anak, karena masih yakin anak saya bisa bertahan tanpa bantuan antibiotik. Sayang kan, masih 7 bulan sudah “dibantu”.

Besoknya, suhu kembali naik, bahkan sampai 39 derajat. Tapi penurun panas yang diresepkan dokter, Moretic Drops, cukup ampuh menurunkan panas.

Tiga hari setelah kejadian kejang itu, karena panasnya sudah stabil, maka tidak kami berikan penurun panas lagi. Baru kemudian kami sadari sepertinya anak saya kena campak, karena muncul bercak-bercak merah. Anak saya sudah beraktivitas cukup normal, sehingga kami tidak kuatir.

Gejala itu bukan penyakit. Demam itu mekanisme tubuh semacam warning bahwa ada sesuatu yang menyerang. Batuk itu mekanisme alami membuang sesuatu dalam tubuh. Kalau batuknya diredam dengan antitusif, lah jadi tidak keluar penyakitnya. Penyakit yang menyerang pun tidak melulu harus dilawan dengan bantuan. Antibodi kita butuh medan perang untuk berlatih. Kalau selalu diberi bantuan “antibiotik”, kapan latihannya?

2020-01-08_8-53-34
Kembali sehat, tanpa antibiotik

Anak saya kembali sehat tanpa antibiotik. Dia bisa senyum dan nangis dengan normal seperti sedia kala. Betul kan, anak saya kuat! Pasukan antibodinya pasti bangga berhasil melawan campak, dan tentu pasukan itu akan semakin kuat dan semakin PD kalau lain kali ada lagi yang menyerang.

#

Apa yang perlu disiapkan atau diperhatikan orang tua?

  1. Punya thermometer! Ini penting untuk menentukan, apa kita perlu ke dokter atau tidak. Kalau sudah di atas 38,5 derajat, bisa cek ke dokter.
  2. Kompres! Ini bisa jadi cara efektif menurunkan panas. Bisa dengan kain yang sudah dibilas air biasa (bukan air hangat).
  3. Obat anti kejang. Bisa jadi cadangan di rumah, terutama untuk anak yang ada riwayat kejang. Siapkan yang bisa dimasukkan lewat dubur, karena ketika kejang, bayi tidak bisa konsumsi obat lewat mulut (takut tersedak).
  4. Jangan panik! Kejang demam itu tidak bahaya. Memang terlihat menakutkan, tetapi insya Allah akan pulih kembali dengan sendirinya.
  5. Pikir ulang untuk memberikan antibiotik. Mungkin dokter meresepkan antibiotik, tetapi perlu diingat bahwa semakin sering konsumsi antibiotic, semakin resisten tubuh anak kita terhadap antibiotic (perlu antibiotic yang lebih “kuat” lagi). Antibiotik juga bisa membunuh biota baik dalam tubuh.
  6. Kalau sudah terlanjur kejang, berikan ruang napas yang cukup. Jangan malah didekap kencang sampai sulit bernapas.

SIM A Nembak Rp850.000

WhatsApp Image 2019-12-17 at 17.09.33
Saya merasa anjuran ini semu dan sangat sulit digapai

Kebutuhan SIM adalah keniscayaan buat saya (dan buat banyak orang!). Tidak bisa tidak. Namun, kalau menjalankan prosedur pembuatan SIM tanpa calo, sudah tahu sama tahu, bahwa itu sangat susah. Dulu pengalaman saya buat SIM C sampai bolak-balik tiga kali. Habis waktu saya tiga hari. Itu dulu, waktu masih lajang, yang waktunya masih agak senggang. Datang yang ketiga, langsung diumumkan, “Bagi yang mau ‘dibantu’ silakan ke depan.” Saya ingat sekali dulu bayar Rp200.000, sepuluh tahun lalu.

Sekarang, saya sudah punya dua anak. Sangat butuh waktu untuk keluarga. Bisa saja mengorbankan cuti sampai beberapa hari (hampir pasti tidak cukup sehari selesai), tapi saya lebih butuh waktu beberapa hari itu ketimbang uang Rp850.000 (Segini terbilang mahal, saya tanya yang bareng saya rata-rata Rp700ribu).

Coba deh tanya ke orang-orang sekitar, berapa banyak yang buat SIM tanpa nembak? Saya sudah tanya belasan teman, semua nembak. Semua juga beralasan “waktu lebih mahal dibanding uang tembak”. Ironis yah…

Buat apa saya menulis ini? Agar “pemantau” polisi paham praktek yang berjalan selama ini. Sama sekali tidak ada niat menyulitkan pembuat SIM tembak karena cara yang akan saya sampaikan di bawah ini mungkin menjadi tidak bisa dilakukan lagi. Saya justru sangat berharap pembuatan SIM dipermudah, sehingga orang tidak merasa perlu menghubungi calo. Tapi selama prakteknya masih sama, maka tulisan ini untuk memberi wawasan pembuat SIM yang butuh info seperti saya sebelumnya.

Jadilah saya googling bagaimana membuat SIM tembak, berapa harganya. Saya masuk ke salah satu thread yang sangat popular, yang menjual jasa buat SIM. Populer banget, tidak sampai 5 menit saya sudah WA ybs. Responnya pun cepat. Dalam waktu singkat, uang langsung saya transfer lalu booking hari di akhir 2019.

Sehari sebelum pembuatan SIM, saya di-WA oleh si calo:

Gan/sis, untuk kloternya dijadwalkan Hari xxx xx ****ber 2019 (besok). Jika ada perubahan lagi, akan kami infokan segera. Namun, jika tidak ada info lagi, berarti tidak ada perubahan hari dan kemudian prosedur lengkapnya (info teknisnya) akan kami infokan malam ini pukul 21:00. Silahkan siapkan KTP Asli, KK Asli (bagi yang menggunakan resi e-KTP dari kelurahan), FC KTP 4 lbr, Pas Foto 4×6 2 lbr (warna background bebas), pulpen dan pensil 2B. Tks.

Untuk Lokasi dan Waktu:

Satpas Daan Mogot Pukul 07:00 WIB

Pas foto dan pensil 2B ternyata tidak saya pakai.

Lalu malamnya saya di-WA lagi:

Gan/Sis, besok pukul 07:00 pagi datang ke Satpas Daan Mogot (JANGAN TELAT!!! TELAT = TIDAK DILAYANI = ANGUS). Bawa KTP asli, KK asli (Khusus yang menggunakan Resi e-KTP), Fotocopy ktp 4 lembar, Pas Foto 4×6 2 lembar (warna background bebas), pulpen, & pensil 2B.

Titik kumpulnya adalah di Indomaret Daan Mogot yang sejajar dengan Pom Bensin Shell. Kl sudah sampai, langsung telepon Pak Mantul (08138310xxxx). Lalu ikuti prosedur yang diberikan hingga selesai.

Lokasi Indomaret Daan Mogot:

https://goo.gl/maps/5fmTnXaaD562

Harap sabar menunggu panggilan ya Gan/Sis. Saat ini Satpas sedang ramai. Disarankan menyiapkan waktu sehari. Estimasi waktu selesai maksimal pukul 4 sore (Jika ada kendala sistem). Namun jika lancar2 saja, setengah hari sudah selesai. 

Note:

  1. Jangan menggunakan Kaos, Celana Pendek, dan Sandal.
  2. Jika besok nomor HP diatas belum bisa dihubungi/diangkat, mohon dicoba terus. Pasti diangkat, karena yang menelepon banyak, jadi harus bersabar. 
  3. Biasanya di dalam Satpas akan ada orang yang menawarkan untuk skip tes praktek dengan biaya berkisar antara 50rb s.d. 100rb. Layanan tersebut bukan merupakan layanan kami. Agan/Sista silahkan mau diambil atau tidak. Namun kami informasikan, walaupun Agan/Sista mengikuti tes praktek, tetap akan lulus juga. 
  4. Jika besok satpas daan mogot steril, pembuatan SIM akan dialihkan ke satpas tangerang. Untuk transportasi telah disediakan.

Tks.

Jam 7 pagi tepat saya sudah di Indomaret lalu menelepon Pak Mantul. Diarahkan untuk jalan masuk gang sebelah Indomaret, sampai ketemu plang dokter praktek sebelah kiri. Saya masuk, langsung ditanya, “Cari Pak Mantul ya?”

WhatsApp Image 2019-12-17 at 17.09.34
Tempat tunggu pembuat sim tembak

Satu per satu didaftarkan namanya, lalu dipanggil, diberikan uang Rp150.000 untuk pembuat SIM A. Itu untuk pembuatan Sim A baru (Rp120.000) dan biaya cek kesehatan (Rp30.000). Lalu dipesani, “Tidak usah beli asuransi.”

WhatsApp Image 2019-12-17 at 17.09.36
Tarif sebenarnya

Kemudian dapat kabar bahwa Satpas Daan Mogot sedang steril, maka kami yang berjumlah puluhan orang diantar ke Satpas Tangerang. Dilepas untuk ngantri sendiri. Dipesani, “Nanti kalau sudah foto, langsung kembali ke mobil. Jangan ikut tes teori dan praktek.”

WhatsApp Image 2019-12-17 at 17.09.33 (1)
Mobil yang membawa kami dari Daan Mogot ke Satpas Tangerang

Sebagian ngedumel karena merasa sudah bayar mahal kok tetap ngantri? Mungkin harapannya tinggal foto saja. Memang sih, antrinya itu menyebalkan. Ada beberapa kali antri:

  1. Antri daftar dan bayar tes kesehatan
  2. Antri tes kesehatan
  3. Antri bayar SIM A baru
  4. Antri ambil form pendaftaran
  5. Antri foto
WhatsApp Image 2019-12-17 at 17.09.34 (1)
Antri, semua antri

Rata-rata tiap jenis antri itu menghabiskan waktu satu jam! Yang paling lama adalah antri foto, sekitar 3 jam. Gimana enggak, wong nomor antrian saya 648, sementara waktu itu baru sampai 200-an. Tapi memang sekali masuk ruang foto sekitar 40 orang.

antrian
Nomor antrian 648, masih jauh!

Total waktu di Satpas Tangerang itu 6 jam. Dari jam 8 pagi, sampai jam 2 siang. Pulang kembali ke tempat awal kumpul yang plang dokter praktek tadi, dengan mobil yang sama.

Diinfo bahwa, SIM baru jadi malam hari. Silakan bagi yang mau tunggu, tapi bisa sampai tengah malam. Bisa juga nanti dikirim pakai Go Send, bayar masing-masing. Atau datang besok paginya.

Begitulah realita pembuatan SIM di Jakarta!

Taliwang: Ojeg Punya Kartu Anggota

Baru kali ini saya lihat tukang ojeg punya kartu anggota. Saya ketemu tukang ojeg ini di dekat terminal Taliwang, NTB. Namanya Syaifullah (anggap saja dipanggil Bang Ipul). Dia menggunakan rompi oranye kuning, mirip rompi pekerja-pekerja bangunan.

Awalnya saya tidak tahu tentang keanggotaan ojeg itu. Tapi Bang Ipul sedikit sedikit tan tin, sepertinya gaul banget gitu. Waktu saya makan bareng dia, tukang warungnya sempat ngobrol sama Bang Ipul, seperti kenal.

Ketemu tukang odong-odong tin. Ketemu ada yang lagi nongkrong di pinggir jalan tin. Ketemu ojeg lain dari arah berlawanan, tin juga. Tan tin tan tin saja sepanjang jalan. Betul-betul gaul Bang Ipul.

Baru saya ketemu polanya. Beberapa yang dia tan tin itu menggunakan rompi yang sama seperti yang Bang Ipul pakai. Saya tanya, tukang ojeg di Taliwang harus pakai rompi ini?

“Iya. Kami ada keanggotaannya. Anggota ojeg itu sekitar 300 orang. Ada iuran anggota yang kebanyakan digunakan untuk membantu anggota lain yang sedang sakit,” jelas Bang Ipul.

WhatsApp Image 2019-11-14 at 17.02.48
Bang Ipul memegang kartu anggota

Hebat juga ya solidaritas tukang ojeg di sini. Sampai ada kartu anggotanya juga loh. Bang Ipul sempat tunjukkan. Judulnya di atas itu tertulis POKET, kurang jelas singkatan dari apa. Di bawahnya ada tulisan Surat Izin Ojeg (SIO). Ada data nama, TTL, agama, alamat. Ada fotonya. Ada ttd ketuanya di pojok kanan bawah. Dan ada masa berlakunya!

WhatsApp Image 2019-11-14 at 17.03.05
kartu anggota bang Ipul

Terus kalau sudah lewat masa berlakunya tapi tetap ngojeg gimana bang? Rasanya lebih ke sangsi sosial saja ya. Semacam dikucilkan dari komunitas. Saya juga tidak tahu.

Bang Ipul ini termasuk sosok yang banyak tahu, banyak kenal. Dia sempat jelaskan tempat-tempat wisata di Taliwang. Tapi tidak, saya hanya ingin ke Pantai Maluk. Pantai ini terkenal buat surfing karena dia punya ombak di tengah yang bisa mencapai tinggi dua meter, disebut super suck. Ombak ini tidak sampai tepi pantai karena sudah pecah duluan oleh sebuah tanjung.

Saya tidak ada niatan untuk selancar dan tidak ketemu dengan orang-orang yang berselancar. Mungkin memang lokasi peselancar itu bukan di pinggir pantai. Saya kan mainnya di pinggir-pinggir saja. Berenang-berenang begitu saja. Di bibir pantai, ada tulisan “Pantai Maluk” besar dan tinggi, berwarna putih. Tampak gagah.

Banyak wajah-wajah lokal yang juga berenang sore itu. Maklum saja, pantai ini dekat sekali dengan pemukiman warga Desa Maluk. Juga dekat dengan lokasi perusahaan Newmont.

Waktu perjalanan dari Taliwang ke Maluk tadi, ketemu dengan beberapa pekerja Newmont. Itu saya dikasih tahu Bang Ipul. Memang khas seragamnya. Tapi, menurut Bang Ipul, yang sekarang bukan Newmont lagi namanya. Walaupun pekerjanya ya itu-itu juga.

Di sekitar Pantai Maluk, Bang Ipul menunjukkan, “Itu kafe, itu kafe.” Dia seperti paham lokasi kafe itu di mana saja. Kafe di NTB itu punya definisi yang lebih mendekati “tempat prostitusi”, bukan hanya tempat untuk ngopi.

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

Naik Kereta dari Merak ke Jakarta

Sudah beberapa bulan ini saya tinggal di Cilegon dan kerja di Merak. Biasanya setiap Jumat malam pulang ke Jakarta pakai mobil kantor, barengan teman kantor. Tapi rasanya kurang sreg kalau belum coba pakai transportasi umum dari Merak ke Jakarta.

Jadilah saya tanggal 18 Oktober 2019 coba kereta dari Merak. Konon katanya dulu ada kereta langsung Merak – Tanah Abang (tidak ganti kereta). Sekarang, harus ganti kereta di Rangkas Bitung.

Sekitar 16.15 saya keluar kantor di MCCI yang tidak jauh dari pintu tol Merak. Naik angkot merah sekitar 15 menit sampai Stasiun Merak. Ongkosnya Rp5.000.

Supir angkot menurunkan saya di pinggir rel, lalu diarahkan, “Masuk lewat jalan kecil itu.”

IMG20191018162423

Jalannya memang kecil, hanya untuk pejalan kaki. Juga sepi.

IMG20191018162307
Jalan setapak menuju Stasiun Merak

Masuk stasiun, juga sepi. Saya terlalu cepat datang. 16.40 sudah sampai stasiun. Padahal jadwal berangkat 17.20. Ada tempat duduk-duduk untuk penumpang menunggu.

Harga tiket Merak – Rangkas Bitung itu murah banget. Cuma TIGA RIBU PERAK! KAI apa tidak rugi ya?

IMG20191018162638
Tiket Merak – Rangkas Bitung hanya Rp3.000

Kereta datang. Penumpang masuk. Tepat 17.20 kereta berangkat. On time banget. Sebelum kereta bergerak, saya sempat ngintip ke loket tiket. Tidak ada antrian. Jadi lain waktu kalau mau naik kereta ini lagi, mepet mepet juga bisa. Tidak perlu takut tiket habis.

Di dalam kereta, penumpangnya sepi. Berhubung tidak ada nomor kursi, ya saya cari yang kosong. Model kursinya 2-3 berhadap-hadapan, seperti kereta ekonomi ke seantero Jawa. Saya duduk di kursi 2. Maksudnya, kursi yang muat 2 orang. Selonjorkan kaki ke kursi hadapannya. Sejak berangkat sampai ke Rangkas Bitung kursi di depan saya kosong.

Kereta tiga ribuan ini ber-AC loh! Dan ada colokan di setiap pinggiran kursi.

IMG20191018163653
Beberapa AC dalam satu gerbong kereta Merak

Hati-hati ya dengan jadwalnya. Kereta dari Merak ke Rangkas Bitung sehari ada enam kali keberangkatan: 5.00; 6.30; 10.20; 11.45; 15.35; 17.20. Sedangkan dari Rangkas Bitung ke Merak juga ada enam kali keberangkatan: 3.50; 7.45; 09.05; 12.45; 20.00.

IMG20191007050633
Jadwal kereta Merak – Rangka Bitung dan sebaliknya

Sampai Rangkas Bitung, saya harus keluar stasiun dulu untuk tap e-money. Lalu masuk lagi untuk naik Commuter Line sampai Tanah Abang. Ada hampir tiap jam. Dari Tanah Abang lanjut ke Manggarai, terus ke Buaran. Pengurangan e-money nya dari Rangkas Bitung ke Buaran itu Rp10.000.

Pengalaman ini memunculkan simpulan di kepala saya: kereta sekarang sangat nyaman. Tepat waktu. Adem. Murah. Walaupun masih ada kurangnya: lambat.

Punya Bayi Lagi, Ini Rasanya…. (Dan Biayanya)

Anak saya yang pertama, lahir tahun 2014. Anak kedua (perempuan lagi), baru di tahun ini, 2019. Tepatnya 1 Mei 2019. Iya, pas hari buruh. Beruntung sekali dia karena setiap tahunnya nanti pas dia ulang tahun, akan libur. Kalau nanti masih, banyak serikat buruh yang akan turun ke jalan, memperingatinya.

Punya anak yang baru lulus balita, terus ditambah satu lagi yang baru lahir, itu harus siapkan shift dua setiap harinya. Setidaknya sampai enam bulan awal. Tidur batita masih tidak stabil, maksudnya, bisa jadi pas jam tidur kita, dia bangun, dan sebaliknya. Waktu dia bangun, ya kita tidak bisa tidur. Tangis bayi bisa membuat orang tuanya terjaga semalaman.

Tapi sebelum sampai rumah, bayi harus “ditebus” dulu dari rumah sakit. Kedua anak saya lahir di RS Bhakti Asih (Ciledug). Total pengeluaran saya untuk lahiran itu Rp6 juta lebih dikit. Dapat kamar kelas dua. Karena yang VIP dan kelas satu habis. Awalnya saya sudah siapkan sekitar Rp12 juta untuk lahiran di VIP. Cash, tidak mau pakai BPJS.

Bukannya belagu, tapi pas waktu itu memang lagi ada uang. Toh Rp12 juta itu sebetulnya tidak besar, dibanding banyak RS yang VIP nya bisa lebih dari Rp20 juta. Kalau mau murah, opsinya juga banyak sih, bisa lewat Puskesmas, yang saya dengar bisa gratis. Masih ada sisa uang lumayan untuk aqiqah dan persiapan lain.

Ditambah tebusan-tebusan lainnya yang menunggu, seperti popok, alat pumping, kulkas ASI, baju celana, dst. Dibahas satu satu nih ya. Popok itu, kalau pakai pampers, bisa habis sekitar 3 pak ukuran NB (New Born) dalam satu bulan. Kira-kira Rp250 ribu per bulan. Semakin besar bayinya, biaya popok makin besar, karena makin besar ukuran, harga per piece nya makin tinggi.

Alat pumping. Istri saya mau yang elektrik merek Malish. Ini termasuk yang mahal, yaitu Rp2 jutaan. Kalau mau yang manual bisa dapat sekitar Rp300 ribu.

Kulkas. Kami beli kulkas freezer merk Aqua yang harganya sekitar Rp2,3 juta. Perlu satu kulkas freezer khusus untuk tabungan ASI selama 3 bulan istri saya cuti melahirkan. Supaya nanti pas masuk kerja, tabungan ASI nya cukup. Nyatanya berlebih banget, sampai satu kulkas tidak muat. Mungkin karena alat pumping-nya yang bagus.

WhatsApp Image 2019-09-07 at 09.07.57
ASI satu kulkas, hampir basi gegara mati lampu

Sedikit cerita tentang tabungan ASI. Waktu mati lampu di hari minggu yang heboh itu, ASI sudah penuh satu kulkas. Apa ASI itu akan mencair sehingga harus dibuang? Karena kalau sudah tidak ada bentuk esnya lagi, ASI itu harus dibuang. Kami sampai mohon-mohon ke Indomaret dekat rumah yang saat itu pakai genset. Kami sudah dapat tempat di bagian bawah kulkas es krim. Alhamdulillah baik banget petugasnya. Tapi pas mau diangkut ke Indomaret, listrik nyala!

Baju celana bayi sebetulnya tidak terlalu makan biaya. Pertama, karena akan banyak yang kasih kado baju celana. Kedua, bisa pakai baju celana bekas anak pertama.

Itu baru tantangan berbiaya punya bayi baru. Belum lagi tantangan tak berbiaya. Misal, pikiran kalau badan bayi panas, semalaman tidak tidur-tidur padahal besok harus ngantor, pipis tembus popok sehingga harus cuci seprai (bahkan cuci kasur!), kakaknya ngambek karena merasa “kasih sayang” buatnya berkurang, dll.

Waktu terkuras banget buat bayi baru. Boro-boro mau menyalurkan hobi, mau istirahat cukup saja susah. Mangatur waktu ketika ada bayi, itu tidak ada sekolahnya. Ya jalani saja.

Kalau baca tulisan ini, rasanya berat ya punya anak. Emang! Hehe. Tapi saya ingat bahwa kalau kita sudah meninggal, anak yang solih/ah bisa jadi jariah yang kirim pahala terus-menerus. Juga jadi pelipur lara ketika kita tua nanti. Amin.

Siti Kewe, Cerita Murni dari Takengon

WhatsApp Image 2019-08-02 at 15.09.14Ini cerita tentang Kabupaten Aceh Tengah, yang sekarang diibukotai oleh Takengon. Tepatnya, ini cerita tentang kopi. Ini cerita sejarah kopi. Lebih spesifik, kopi gayo. Tapi tidak seperti buku sejarah biasa, yang ceritanya lurus-lurus saja.

Raihan Lubis, penulisnya, menceritakan sejarah kopi dengan balutan drama kehidupan sehari-hari. Eh tapi bukan drama deng. Kalau drama kan biasanya terkesan berlebihan. Ini tidak. Ini pas. Seperti apa adanya. Apa yang ada, itu yang tertulis. Makanya saya sisipkan kata “murni” dalam judul tulisan.

Ada cerita yang seperti drama. Seolah-olah drama. Tetapi saya sedikit banyak tahu tentang Aceh, sehingga cukup yakin bahwa itu bukan cerita drama. Orang tua saya lahir dan besar di Aceh. Perut saya banyak dimasuki makanan-makanan Aceh. Waktu kuliah, saya tinggal di asrama Aceh di Bogor. Banyak teman saya orang Aceh. Teman dekat. Sehingga saya bisa tahu ini bukanlah cerita drama.

Bahwa ada masanya, orang Takengon takut untuk ke kebun-kebun kopi mereka. Yaitu saat Aceh berstatus darurat militer. Kopi memang jadi penghidupan mereka. Tapi kalau berangkat ke kebun hidup, pulangnya mati, maka itu adalah penghidupan yang mematikan. Lelaki usia kerja, sering kali “diculik” Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk ikut memperjuangkan Aceh merdeka. Sementara, tidak sedikit cerita, TNI “menyiksa” orang-orang yang dianggap pendukung GAM, padahal belum tentu.

Masyarakat yang ada di tengah pertikaian antara GAM dan TNI menjadi korban. Sampai mereka takut untuk keluar ke kebun kopi. Banyak yang akhirnya keluar Aceh untuk mencari ketenangan. Termasuk salah satu tokoh dalam buku ini, meninggalkan rumah dan kebunnya di Takengon demi kehidupan yang lebih tenang.

Tsunami 2004 menjadi musibah besar sekaligus berkah besar untuk Aceh. TNI dan GAM berdamai. Padahal Takengon tidak kena tsunami, karena posisinya yang di tengah, bukan pesisir. Justru Takengon meraup berkah besar keamanan yang sudah lama mereka idamkan. Kebun kopi kembali diurus. Petani kopi tidak takut ke kebun lagi.

Produksi kopi meningkat. Kebun-kebun kembali dirawat. Tahu tidak bagaimana orang Takengon menjaga kopinya?

Kalau urusan pupuk, air, mungkin sama dengan yang lain ya. Lebih dari itu, orang Takengon ngajak ngobrol pohon kopinya! Mereka percaya kalau pohon kopi punya perasaan. Perasaan yang baik, menghasilkan kopi yang baik.

Win, tokoh utama dalam buku ini, adalah orang Takengon yang kemudian pindah dan bekerja di Bali. Seorang eksportir barang tekstil kalau saya tidak salah ingat. Dia belum menikah. Ibunya meminta Win pulang untuk kemudian dikenalkan dengan seorang gadis. Seorang dokter.

Pertemuan keluarga dilaksanakan. Win memaksa dirinya untuk mengikuti kemauan ibunya. Mereka bertemu dengan kondisi formal. Ada senyum dari gadis itu untuk Win, tapi sebentar, lalu senyumnya ditarik lagi, seperti senyum basa-basi.

Besoknya, Win diminta untuk mengenali gadis dokter tersebut dengan lebih dekat. Win menurut. Mereka jalan-jalan berdua. Win menemui sang gadis “terlalu belagu”. Merasa dirinya seorang dokter, dan merasa dokter selayaknya mempunyai strata sosial yang tinggi, membuat si gadis besar kepala. Win tidak mau melanjutkan proses pendekatan.

Malahan, Win mengajak calon istrinya yang dia kenal di Bali, ke Takengon. Seorang bule Eropa. Perjalanan mereka dari Bali ke Takengon, lewat Medan, Biereun, melewati jalan berkelok-kelok, bisa saya resapi karena memang pernah melewati jalur itu.

Sampai di rumah, Win mengenalkan sang bule bukan sebagai calon istrinya. Pertanyaan pertama ibunya Win: apa dia muslim?

Sisi humanis seperti itu banyak muncul dalam buku ini, sehingga tidak terasa belajar sejarahnya, padahal lagi belajar sejarah. Juga dengan percakapan sehari-harinya, menggunakan Bahasa Gayo, yang ternyata jauh berbeda dengan Bahasa Aceh (saya bisa paham Bahasa Aceh, tapi tidak bisa jawab). Di akhir buku, semua percakapan Bahasa Gayo diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Kalau mau belajar sejarah kopi di Takengon, buku ini tepat.

Ohya, dalam proses menulis review buku ini, saya bertanya ke seorang teman yang orang asli Takengon. Saya kirimkan gambar sampul bukunya, pernah lihat buku ini? Dijawab tidak. Dia hanya berkomentar, “(Siti Kewe) itu bahasa gayonya kopi.”

Jatiluhur dari Gunung Lembu

IMG20190630060734
Waduk Jatiluhur dilihat dari Gunung Lembu

Ini trip pertama saya dengan Backpacker Jakarta (BPJ). Padahal saya sudah jadi warga BPJ sejak dua tahun lalu, tepatnya di RT 5, tapi baru kali ini ikut tripnya BPJ. Padahal hampir tiap minggu BPJ bikin trip.

BPJ adalah komunitas yang sebetulnya bukan hanya beranggotakan anak Jakarta. Namanya saja yang ada Jakarta-nya. Wong founder nya saja bukan orang asli Jakarta, hehe. Aslinya sih ini komunitas buat yang suka jalan-jalan. Gitu saja.

Setiap trip yang dibuat BPJ, selalu ada contact person (CP), biasanya dua orang. Juga selalu ada keterangan berapa share cost nya (SC). Share cost itu, ya bagi-bagi beban biaya, atau gampangnya patungan. Misal biaya sewa aula atau sewa mobil, kan itu patungan.

Nah, SC ini akan selisih Rp20.000 antara member dengan bukan member. Saya, yang masuk warga RT 5, termasuk member. Kalau yang tidak masuk RT mana-mana, ya bukan member. Untuk trip ke Gunung Lembu ini, SC nya Rp98.297. Murah banget!

Itu sudah termasuk tiket kereta PP Jakarta – Purwakarta, kendaraan dari stasiun ke basecamp, izin simaksi, dan sewa aula. Yang belum, ya tinggal makan saja. Sama transport dari dan ke Stasiun Tanjung Priok.

Enak banget, karena selain murah, kita tidak repot. Tiket sudah diantrikan, dibelikan. Izin simaksi sudah diurusi. Base camp sudah disiapkan. Transportasi di Purwakarta juga disiapkan. Enak banget deh.

Meeting Point-nya di Stasiun Tanjung Priok, Sabtu 29 Juni 2019 jam 2.30 siang. Dibatasi maksimal 3.30. Walaupun saya tahu, akan naik kereta yang jam 4.15 sore.

#

Dari arah Ciledug, saya naik busway ke Tanjung Priok. Langsung ketemu sama CP trip ini, yang sudah megang tiket buat kita ambil. Namanya Sandy. Selain Sandy ada juga Retno yang jadi CP. Saya daftarnya lewat Retno. Sandy tunggu di semacam ruang tunggu di dalam stasiun. Siapa saja yang sudah sampai Tanjung Priok, langsung ambil tiket ke Sandy.

IMG20190629154151
Tiket Tj Priok – Purwakarta cuma enam ribu perak!

Di kereta, kita duduknya saling mencar, beda gerbong. Bisa jadi satu gerbong ada teman yang ikut trip ini juga, tapi kan belum saling kenal. Total peserta sekitar 40 orang. Tidak ada yang saya kenal satupun. Terus kan saya kenalan sama sebelah saya, eh ternyata dia ikut trip ini juga.

Sampai Stasiun Purwakarta, kumpul di depan stasiun. Sandy absen satu per satu peserta yang ada dalam list. Baru deh mulai kenal wajah-wajahnya yang ikut. Kayaknya saya termasuk yang sudah berumur. Rata-rata yang ikut itu sekitar umur 20-25. Di luar itu, ada, tapi tidak banyak.

Setelah absen, kita dikasih waktu bebas sekitar dua jam. “Nanti kumpul lagi setengah sepuluh (malam) di depan Alfa Midi,” kata Sandy. Peserta bebas, bisa makan, bisa lihat air mancur Sri Baduga, bisa sholat. Atur masing-masing. Yang penting waktunya kumpul, ya kumpul.

Saya sholat dulu. Tapi agak aneh mushola kecil dekat stasiun. Pintu pagar ditutup, terus orang yang lagi di teras mushola bilang, “Gak bisa, penuh!” Baru sekali saya mau sholat di mushola dilarang. Tapi memang sih terlihat puluhan tas bertumpuk di teras mushola, dan juga terlihat banyak orang sholat di dalamnya. Bisa jadi memang penuh. Jadinya saya sholat di dalam stasiun. Masuk lagi, permisi sama security-nya, kasih tunjuk tiket, numpang sholat. Boleh.

Seputaran Stasiun Purwakarta setiap malam minggu memang selalu penuh. Penuh orang dan tukang jualan, terutama jualan makanan minuman. Acara apa ini? Kenapa ramai sekali sampai susah jalan? Saya googling dapat sebuah artikel dari liputan 6, berjudul: Malam Minggu? Coba Wisata Kuliner di Tjeplak Purwakarta.

Dari artikel itu, saya bersimpulan, wah kayaknya yang disebut Tjeplak dalam artikel itu ya jalan yang saya lewati di seputaran Stasiun Purwakarta. Tidak jauh dari stasiun, ada Air Mancur Sri Baduga. Baru sadar, ternyata yang saya pernah lihat di TV air mancur bagus banget itu ya ini. Ya Sri baduga ini.

Walau pintu masuknya kecil, tapi orang tetap loh berebut masuk mau nonton. Di sekeliling air mancur, disediakan kursi dua saf. Kalau ke sini lagi, saya akan duduk di bagian depan, bukan bagian samping seperti sekarang. Dari depan, atraksi akan tampak lebih menyeluruh.

Air mancur mulai sekitar 20.15 dan selesai sekitar setengah jam kemudian. Memang bagus banget sih. Heran, kok atraksi keren gini bisa-bisanya gratis ya. Hebat deh pemerintah setempat. Air mancur menari-nari dibalur dengan pencahayaan yang berwarna-warni. Keren!

IMG20190629204743
Air mancur Sri Baduga, hiburan gratis di Purwakarta setiap malam minggu

Teman saya penasaran dengan sate maranggi. Saya ikuti saja. Dan ikut coba. Enak! Jadi kami makan berdua habis 10 tusuk sate Rp25.000 dan 3 nasi Rp15.000. Jadi total Rp40.000. Saya dibayarin sama peserta yang namanya Tony.

Sekitar jam 10 malam, setelah semua kumpul dan terabsen, kami mulai jalan ke arah jalan raya. Kurang tahu deh nama jalannya apa. Di situ sudah ada tiga buah pick-up buat antar kita ke base camp. Naik saja di bak belakang. Jarang-jarang kan naik di baknya pick-up. Yang berdiri ya berdiri, yang duduk ya duduk. Bebas saja.

IMG20190630113917
Mobil pick-up yang mengantar peserta dari Stasiun Purwakarta ke base camp, dan sebaliknya

Sampai base camp sudah jam 12 malam. Kami ditempatkan di aula yang lumayan luas, sebagian ditutupi karpet. Ya tidur di atas situ. Saya gelar sleeping bag, yang ternyata tidak dingin-dingin amat kok. Sebetulnya sarung saja cukup.

Base camp di sini enak, terutama karena ada warung yang buka 24 jam. Atau mungkin dia buka pas ada pendaki saja? Juga ada kamar mandi. Tapi harus sabar antri kalau pas pada kebelet.

#

Jam 3.30 pagi kami sudah mulai jalan, setelah sebelumnya kami saling berkenalan dan berdoa bersama. Track-nya sudah jelas. Jadi buat pendaki pemula, pas banget nih ke Gunung Lembu.

Kenapa disebut Gunung Lembu? Apa karena banyak lembunya? Bukan. Apa karena gunungnya mirip lembu? Bisa jadi. Saya juga belum tahu pasti kenapa.

Ada tiga pos yang akan dilewati. Kalau mendaki santai, bisa sampai dalam dua jam. Kalau agak cepat, satu jam juga sampai. Sandy sang CP naik hanya dengan sandal jepit. Saya tidak dengar dia ngos-ngosan. Dia baru resign gegara cuti 2 minggunya buat jalan-jalan ditolak. Memang betul-betul anak gunung!

IMG20190630074606
Warung di Pos 1

Sepanjang perjalanan ini, saya kenalan dengan beberapa orang. Ada yang baru pertama kali naik gunung. Ada yang sudah kesekian kalinya. Ada yang saya kira sudah lulus kuliah, taunya masih SMA. Ada yang baru jadi CPNS. Ada yang kerjanya di IT juga. Ada yang di grup WA ramai tapi pas ketemu diam saja. Ada yang ngojeg. Ada yang suka lari, sampai ikut marathon. Ada yang ternyata rumahnya dekat banget. Yah macam-macam lah ya karakter orang. Makin banyak kenal beda karakter, makin bagus sih ya.

Di beberapa tempat, saya temukan batu-batu besar. Seperti batu kali gitu, tapi sebesar kulkas. Ada yang sebesar traktor. Di tempat kita nunggu matahari terbit malah batunya lebih besar dari rumah. Jalannya relatif gampang. Ada beberapa track yang memang agak curam, tapi sudah ada talinya buat membantu turun naik.

Sebelum sampai, akan ditemukan beberapa kali turunan. Naik, turun lagi, naik lagi, turun lagi, naik lagi. Jadi seperti puncak tipuan gitu. Pada akhirnya sampai di tempat nongkrong di atas batu super besar. Apakah itu puncaknya? Entahlah.

IMG20190630055402
Pendaki Gunung Lembu memandangi Waduk Jatiluhur, menunggu matahari muncul

Yang jelas, dari situ pemandangannya bagus banget! Di bawah sana terlihat kemegahan Waduk Jatiluhur yang dikelilingi bukit-bukit. Ada bukit yang menjulang, ada yang landai. Di “pesisir” danau, banyak semacam keramba apung. Usaha warga lokal dalam memanfaatkan waduk.

Sayang, matahari baru terlihat sekitar setengah jam dari waktu terbitnya. Awan dan bukit-bukit di seputaran waduk menghalangi penampakan matahari. Tapi tetap dengan kesyahduan yang selalu dibawa matahari pagi.

Kembali ke base camp untuk bersiap pulang, rebutan kamar mandi lagi, naik pick-up lagi, naik kereta lagi, kembali ke Jakarta lagi.