Archive for the 'Uncategorized' Category

25
Mar
17

Pesan Rana

Kenapa sekarang, di dunia, kalian tidak memperlihatkan kesungguhan ucapan kalian kelak? Kalian bilang kalian iri padaku karena hisabku sebentar saja. Atau relatif sebentar dibanding kalian. Dan kalian berandai-andai ingin seperti aku, di saat andai-andai tidak berlaku sama sekali.

Aku dan teman-temanku sering, sering sekali, melihat kalian wara-wiri di jalan. Tertawa bebas, senang-senang, menikmati dunia, sampai lupa maksud pencipta kalian menciptakan kalian. Dikasih kitab pegangan hidup, tidak dibaca. Malah banyak di antara kalian yang tidak bisa baca dan tidak berusaha bisa.

rana

Dok: Wikipedia

Dari sini, dari atas batu koral besar yang menyembul di kolam kecil, aku perhatikan kalian dan apa yang kalian lakukan. Kenapa sih banyak di antara kalian yang pacaran di pinggir kolam? Mengganggu pemandanganku saja. Kenapa juga harus pacaran? Apa kalian tidak tahu kalau berkhalwat itu aktivitas penimbun dosa? Apa kalian tidak tahu kalau kepala kalian ditusuk itu lebih baik daripada bersentuhan dengan yang bukan mahrommu?

Itu lagi… ada yang lagi pipis sembarangan di kolam. Tidak tahu apa… ratusan anak-anakku lagi asik berenang di kolam. Coba kalau anak-anak kalian lagi berenang terus ada yang mampir ke kolam renang untuk pipis. Senang tidak dibegitukan?

Sudah pipis sembarangan tidak cebok pula. Duh… apa kalian tidak ngaji dan pelajari bagaimana cara bersuci? Kalian ini… bisa menghitung dalamnya laut tanpa perlu menyelam, tapi tidak bisa pipis dengan benar. Kalian bisa membedakan membran sel dan membrane mitokondria, tapi tidak bisa membedakan suci dan najis.

Pipis itu ya… ya disucikan dengan air yang suci. Atau batu kering/semisalnya sebanyak tiga kali. Kalau cebok saja tidak benar, lalu najis masih menempel di pakaianmu, apa kalian pikir sholatmu diterima? Itupun kalau kalian sholat.

Sudah lama ngobrol tapi aku lupa memperkenalkan diri. Maaf. Namaku Rana Chalconota, bisa dipanggil Rana. Seperti nama India ya? Bukan. Aku banyak kok di Sunda juga. Orang Sunda sering memanggilku Bangkong Kole, sejenis kodok yang banyak ada di kolam atau saluran air.

Akulah yang kalian irikan, karena kelak setelah aku dimakan oleh nyamuk-nyamuk yang saat ini aku makan, lantas aku menjadi tanah kembali. Dan aku juga memakan ular yang ketika di dunia memakanku. Selesai sudah penghisabanku. Beda dengan kalian yang setiap detik waktu yang kalian punya akan ditanya digunakan untuk apa? Ibadah atau bukan. Kalau bukan, kenapa? Setiap rupiah harta yang kalian punya dipakai untuk apa? Ibadah atau bukan. Kalau bukan, kenapa? Setiap ilmu yang kalian punya dipakai untuk apa? Ibadah atau bukan. Kalau bukan, kenapa?

Begitu banyaknya yang harus kalian pertanggungjawabkan, sampai-sampai kalian mengeluh “… yaa laitanii kuntu turoba” seperti tercatat pada kalimat terakhir surat An-Naba. Kalian berandai-andai bisa menjadi tanah seperti aku. Maaf, buatku itu omong kosong. Kalian menyesal di saat penyesalan tidak memiliki arti.

19
Feb
17

27-in-a-strange-room

Cover buku In a Strange Room

Cerita perjalanan fisiknya tidak lebih besar dari cerita perjalanan hati. Penulisnya Damon Galgut. Damon sekaligus menjadi tokoh utama. Cara penuturannya agak beda. Biasanya penulis yang menjadi tokoh langsung dalam bukunya menggunakan “saya”, sudut pandang orang pertama. Tapi dalam buku ini, Damon gunakan sudut pandang orang ketiga. Seakan yang menulis adalah orang lain yang menceritakan tentang Damon dan perjalanannya.

 

Damon membagi ceritanya dalam tiga bagian yang tidak terkait secara langsung. Pertama, perjalanannya di Lesotho dengan seorang laki-laki yang digambarkan punya paras tampan. Lesotho adalah Negara kecil enclave Afrika Selatan. Luasnya hampir sama dengan Jawa Barat, tapi jumlah penduduknya hanya setara jumlah penduduk Kota Bandung.

Perjalanan pertama ini agak ekstrem, banyak sekali menggunakan fisik. Jalan berhari-hari, naik gunung, dsb. Yang membuat Damon tidak betah adalah bahwa teman perjalanannya ini maunya mengatur akan ke mana, berapa lama, suka suka dia saja. Begitu kesalnya, sempat Damon punya pikiran mau membunuh temannya ini. Karena tidak kuat, akhirnya Damon memisahkan diri dan jadinya berjalan sendiri.

Perjalanan kedua adalah ke Zimbabwe dilanjut ke Tanzania bersama sekumpulan backpacker asal Eropa. Lalu Damon diundang ke Negara asal backpacker ini: Swiss. Sempat menginap beberapa hari sampai Damon tidak enak sendiri. Damon kenal dengan seluruh keluarga temannya ini. Swiss memberlakukan wajib militer runtuk penduduknya selama beberapa bulan, jadi Damon juga tidak bisa bebas jalan-jalan dengan temannya yang sedang ikut wajib wiliter. Akhirnya dia bosan dan kembali lagi ke kota asalnya: Cape Town.

Cerita ketiga adalah yang menurut saya paling menarik. Selain banyak menceritakan tentang kondisi India, juga cerita perjuangan Damon dalam menjaga temannya yang sudah sakit dan sejak awal merencanakan untuk bunuh diri. Berhari-hari menginap di rumah sakit dan bisa dibilang tidak boleh tidur. Kenapa? Karena sewaktu-waktu perawat bisa keluar kamar meneriakkan nama pasien, agar si penjaga pasien segera datang dan membeli peralatan kesehatan yang diperlukan. Biaya berobat gratis, tapi peralatannya harus modal sendiri. Perempuan yang dijaga Damon nakalnya luar biasa. Disuruh minum obat malah dibuang. Suatu waktu malah minum obat sekaligus 200 tablet. Rada sinting memang. Tapi Damon tetap sabar.

Memang ya, perjalanan itu membuat kita bertemu banyak orang, banyak pengalaman menarik.

 

02
Jan
17

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Ini adalah perjalanan hari kedua, 16 Agustus 2015.

Umar berprofesi sebagai penjual sayur mayur. Jadi sejak subuh dia sudah keliling dengan motor tuanya dengan gendongan besar di sebelah kanan kiri motornya. Umar keliling ke kampung-kampung sekitar. Sosoknya sederhana sekali, uang hanya dicari seperlunya saja, asal bisa makan dan bisa shodaqoh untuk masjid di dekat rumahnya.

TIba-tiba dia datang dengan membawa banyak durian. “Durian di sini dagingnya empuk, tebal, dan manis. Mas Iqbal harus coba!” Langsung saya sikat. Padahal semalam saya hanya ngobrol biasa saja, menyampaikan bahwa saya senang sekali makan durian. Paginya langsung dibawakan.

Tidak lama kami berkemas untuk menuju Serian. Pertama menggunakan angkot menuju Entikong. Angkotnya seperti kebanyakan yang ada di Jakarta. Ongkosnya seingat saya Rp12 ribu untuk perjalanan sekitar 30 kilometer. Jalanan sepi dan berkelok-kelok.

Saya periksa kembali passport saya, kuatir lupa dibawa. Alhamdulillah ada. Passport masih kosong, belum ada satupun cap. Sebentar lagi saya mendapat cap pertama.

Entikong bukanlah kota, tetapi lebih mirip desa yang ramai. Banyak penginapan. Banyak penjual makanan. Saya dan Umar langsung menuju loket imigrasi untuk minta cap.

img-20150816-00570

Pos Imigrasi Entikong

Pertama, loket Indonesia, lalu loket Malaysia. Keduanya mudah. Petugas beberapa kali melihat wajah saya, memastikan sama dengan foto yang ada di passport. Suasana loket Malaysia terlihat lebih sepi lebih teratur. Di loket Indonesia banyak orang, banyak pedagang, termasuk pedagang nomor Malaysia dan pedagang RInggit. Saya beli satu nomor Malaysia seharga RM10 atau setara Rp35 ribu. Sekaligus saya tukar rupiah dengan ringgit.

Tidak jauh dari loket Malaysia terlihat beberapa mobil angkutan umum. Bentuknya agak besar seperti mobil L300. Umar menyebutnya “Len”. Ini sebutan untuk angkutan umum yang lazim saya dengar juga di daerah Jawa Timur. Entah orang Malaysia menyebutnya apa.

img-20150815-00544

Len dari Tebeddu (perbatasan Entikong) ke Serian

Kami naik len itu menuju Serian. Tapi len baru berangkat setelah penumpang ramai. Jadi budaya “ngetem” ya ada juga di Malaysia. Bedanya, di Malaysia, kalau sudah jalan, ya jalan terus sampai tujuan.

Sampai Serian, kami masuk pasar yang lokasinya dekat dengan terminal. Ada penjual minuman segar, harganya flat RM1 atau sekitar Rp3.500. Ada air tebu, ada laici, dan air Bandung. Kok bisa ada bandung di sini? Lagipula, apa itu air Bandung?

Pasarnya mirip pasar tradisional di Indonesia, tapi lebih bersih. Yang dijual kurang lebih sama. Kebanyakan penjual di sini yang saya perhatikan adalah dari etnis Melayu, Dayak Iban, dan China. Dayak Iban adalah Dayak yang agak Chinese. Kulitnya putih atau kuning langsat.

img-20150815-00546

Roti Cane

Agak keluar dari pasar, saya mampir ke tempat makan roti cane. Penjualnya orang India yang kesulitan bahasa melayu. Buat saya, di sini lebih enak pakai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Lebih jelas maksudnya sama. Kalau bahasa Indonesia, memang mirip dengan bahasa Melayu, tapi banyak tidak nyambungnya.

Roti cane di sini enak sekali. Murah juga. Saya dan Umar makan sampai puas dengan cane, kari kambing, teh tarik. Sudah nambah-nambah segala, habisnya RM18 atau sekitar Rp60 ribu.

Saya dan Umar dijemput temannya Umar, namanya Pak Sukino. Dia orang Jawa juga, merantau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih banyak hasilnya. “Tapi tidak lama lagi saya kembali ke Jawa, sekitar 6 bulan lagi,” kata Pak Sukino.

Pak Sukino, saking lamanya di Malaysia, sudah berlogat melayu. Logat Jawanya sudah hilang blas. Dia bekerja di pabrik kecil yang mengolah kayu besar menjadi potongan-potongan kayu kecil. Dia membuat rumah sederhana di dekat pabrik tersebut. Anak buahnya kebanyakan orang Malaysia, yang juga membuat rumah-rumah sederhana di dekat pabrik.

Pak Sukino bercerita tentang bosnya yang orang China yang tinggal di Malaysia Barat, mungkin Kuala Lumpur. “Dia kalau ke sini pakai passport,” kata Pak Sukino.

Loh kok sama-sama Malaysia tapi pakai passport?

Setelah saya Googling, memang tidak semua warga Malaysia bebas masuk ke semua wilayah Malaysia. Serawak punya peraturan khusus. Orang Malaysia di luar Serawak yang ingin masuk Serawak harus mengurus Pass Khusus atau Passport Biru atau Dokumen Perjalanan Terhad (DPT). Urusannya di Kantor Imigrasi juga.

Itu adalah syarat yang diberikan Serawak ketika diminta masuk dalam satu Negara Malaysia. Kalau Malaysia menolak syarat itu, mungkin Serawak akan masuk Indonesia kali ya… atau bikin Negara sendiri.

Kembali ke Pak Sukino. Dia juga bercerita tentang WNI yang bekerja tanpa surat. WNI itu memang punya passport, tapi hitungannya bukan bekerja. Jadi jatah tinggal di Malaysia-nya hanya 30 hari. Setiap bulan, WNI itu harus menuju perbatasan untuk mendapat perpanjangan lagi. “Itu disebut cop pusing,” kata Pak Sukino.

Masih banyak yang kami obrolkan, termasuk cerita-cerita sensitif yang tidak pantas saya ceritakan di sini. Kami ngobrol sampai tengah malam.

 

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)

02
Jan
17

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 1/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Saya dapat project di Tayan (Kalimantan Barat) selama 4 bulan. Untuk sampai ke Tayan, perlu perjalanan 2 jam lagi dari tempat pesawat mendarat di Supadio, Pontianak. Sepanjang perjalanan Pontianak – Tayan ini, saya beberapa kali melihat bus besar jurusan Pontianak – Brunei. Saya pikir, wah, sudah dekat Brunei nih. Kalau ada waktu saya mau main ke sana ah…

Tapi waktu tak kunjung datang. Libur saya cuma Sabtu-Minggu. Itu tidak cukup untuk jalan-jalan ke Brunei. Dengan libur 3 hari pun tidak cukup. Perjalanan ke Brunei saja bisa 24 jam penuh sendiri, dengan bus international. Jadi saya ubah haluan, menuju Kuching.

Hari pertama, 15 Agustus 2015. Saya nebeng teman ke simpang tiga Tayan (yang satu menuju Pontianak, yang satu Tayan, satu lagi Entikong). Info yang saya dapat, travel ke Entikong baru ada sore, padahal waktu itu masih sekitar jam 11. Sambil makan di suatu rumah makan, saya ngobrol dengan sesama pengunjung. Rupanya dia agak sejalan dengan saya. Dia ke Sanggau, jadi saya bisa ikut sampai Sosok. Dia ajak bareng, wah pas banget.

Jalan Tayan-Sosok ini wih… hancur lebur! Berdebu dan banyak batu. Kepala goyang-goyang terus. Heran… jalan antar Negara bisa rusak parah begini, berkilo-kilo lagi. Di Sosok inilah saya pisah. Tiba-tiba dia minta uang. Dua ratus ribu. Padahal di depan diam-diam saja. Padahal kalau pakai kendaraan umum biasanya seratus ribu saja. Penganiayaan ini namanya.

Ya sudah, saya turun di Sosok. Di sini banyak orang jualan masakan ber-babi. Jadi sebelum memilih tempat makan, saya tanya dulu, halal kah?

Sekitar satu sampai dua jam saya tunggu bus yang lewat menuju Entikong. Saya nunggu di halte sederhana, ditemani anjing yang melihat saya terus. Jalan sedikit, lihat saya lagi. Julurkan lidah, lihat saya lagi. Jalan lagi, lihat saya lagi. Kurang kerjaan itu anjing.

Lama nunggunya memang, tapi akhirnya dapat bus. Tarifnya murah, cuma sekitar Rp20.000. Busnya seperti Metro Mini di Jakarta. Agak lebih besar sedikit. Masalah ugal-ugalannya sama, tapi bedanya di sini jalanan sepi, jadi tidak terlalu ketara kalau bus berjalan dengan brutal.

img-20150814-00536

Mini Bus dari Sosok ke Balai Karangan

Di bagian kiri depan bus ada tulisan CV Yudha Pratama. Mungkin itu nama perusahaan bisnya. Tapi saya googling kok alamat perusahaannya di Surabaya??

Pintu bus ada dua. Satu di kiri depan dengan bagian atas tertulis “In” dan satu di bagian kiri belakang dengan tulisan “Out”. Tapi jelas itu meaningless. Kalau mau turun naik ya bisa dari depan bisa dari belakang. Bagian atas bus penuh dengan barang yang diselubungi terpal. Termasuk ada motor dan ada ban bus. Mungkin ban cadangan. Di dalam bus, penumpang dijejali bersama karung dengan isi penuh. Entah isinya apaan.

Di tengah jalan, bus mogok tidak kuat nanjak. Semua penumpang turun tanpa diperintah. Semua menunggu di  tengah-tengah hutan yang tidak lebat. Untung tidak hujan. Kru bus langsung memasukkan kepalanya lewat roda kiri depan. Entah dia mencari apa. Tapi 10 menit kemudian mesin bus bisa nyala kembali. Kami penumpang yang kerjaannya cuma bisa nonton kru bus wara wiri, kembali naik ke atas bus. Tancap!

Tapi di tancap juga kok jalannyasegitu-segitu saja. Cuma sekitar 20 km/jam. Kadang-kadang kalau jalan lurus bisa sampai 40 km/jam.

Karena suasana sudah agak gelap, dan saya tahu bahwa untuk lewat batas Negara cuma bisa sampai sore saja, saya putuskan untuk turun dan menginap di Balai Karangan dulu. Balai Karangan adalah nama Kecamatan yang letaknya cukup dekat dengan Kecamatan Entikong. Sekitar 30 kilometer sebelum perbatasan di Entikong.

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 2/4)

14
Nov
16

Terinspirasi Kelas Inspirasi

Sebuah email masuk, menyatakan bahwa saya lulus menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Tegal 2. Ada angka dua, karena sebelumnya pernah ada yang pertama. Ini adalah episode berikutnya. Tidak diketahui akan berakhir sampai episode berapa. Tegal terbilang muda karena baru dua. Kota lain sudah ada yang sampai lima. Kenapa setiap di akhir kalimat ada vokal “a” semua ya?

Yang saya pahami, sebagai relawan saya bertugas menjelaskan apa profesi saya kepada siswa SD. Kelak saya tahu ternyata tidak sesederhana itu. Grup WA dibentuk. Diskusi langsung bergulir, membahas tentang struktur pengurus kecil, konsep opening dan closing, siapa berangkat kapan naik apa, pendanaannya bagaimana, siapa yang desain… dan sebagainya.

Sebagai katalisator, ada yang namanya Fasilitator atau disingkat “Fasil”. Fasil inilah yang bertugas mendorong agar tiap kelompok yang dipegangnya bisa berjalan sukses. Fasil saya namanya Nurhadi. Dia seorang ustad yang kalau pagi mulutnya selalu basah berdzikir. Saya kalau jadi dia rasanya bakal stres karena sulit sekali menggerakkan grup agar bisa aktif dalam diskusi. Dia setiap pagi menyemangati kami, yang belum dikenalnya, untuk semangat bekerja.

Semakin mendekati Hari Inspirasi, 12 November 2016, semakin banyak topik diskusi yang dibahas. Semakin mendetail. Tentang desain mana yang akan digunakan, berapa banyak siswa yang akan diajar, homestay yang akan digunakan relawan, detail jadwal pengajaran, sampai gerakan apa yang akan digunakan untuk ice breaking.

Kelompok saya adalah Kelompok 19, yang akan mengajar SDN Tunon 2, tidak jauh dari Stasiun Tegal. Total ada 20 kelompok yang tersebar ke seluruh Tegal. Ada yang dekat pantai, ada yang di gunung. Masing-masing menyusun strateginya sendiri-sendiri untuk menjalankan Hari Inspirasi.

Tim saya mengadakan kopdar di Jakarta dan di Tegal. Dilakukan di dua tempat karena memang sebagian tim ada yang dari Jakarta dan sekitarnya, ada yang dari Tegal dan sekitarnya. Saya tidak ikut keduanya karena sedang di Mojokerto, cari sesuap berlian..

Profesi dari anggota tim saya cukup beragam: akuntan, human resource, sekretaris, arsitek, banker, humas, pelatih tenis, apoteker, sampai tentara. Mereka dari “habitat” yang berbeda sehingga bisa memberikan cara pandang yang lain. Kok rasanya semakin ingin cepat-cepat menuju Hari Inspirasi ya…

Saya berangkat dari Mojokerto dengan kereta Bangunkarta. Ini kereta mahal banget, sama dengan harga tiket pesawat. Bukannya belagu maunya naik Bangunkarta, tapi coba deh buka tiket.com dan cari rute Mojokerto – Tegal. Apa ada selain Bangunkarta??

Berangkat langsung dari kantor, di Stasiun Tegal saya dijemput relawan satu tim. Kami langsung menuju homestay, jam 1 dini hari. Ternyata semua masih sibuk mempersiapkan pernak-pernik untuk hari inspirasi. Jam 2 baru tidur.

Hari Inspirasi

Malam sebelumnya, saya habiskan 3 jam menonton Kelas Inspirasi di Youtube. Bagaimana ice breaking, bagaimana mengajar anak SD, bagaimana menjadi guru yang baik. Itu yang saya coba aplikasikan ketika mengajar.

Saya dijatah mengajar 3 kelas: Kelas 2, 4, dan 6. Masing-masing 35 menit. Yang pertama adalah kelas 6. Setelah saya cairkan suasana dengan berbagai macam tepuk, situasi tenang kembali, malah tenang sekali kalau diminta tunjuk tangan. Mereka bisa menjawab kalau bersama-sama, tetapi tidak ada satupun yang bersuara ketika diminta tunjuk tangan sebelum menjawab.

Saya memilih berprofesi sebagai Penulis, jadi saya ajarkan bagaimana menggali informasi dari nara sumber lalu menuliskannya di MS Word yang ditembak melalui proyektor sehingga mereka bisa melihat saya menulis kata per kata.

Lalu saya minta masing-masing mereka melakukan hal yang sama: menggali informasi dari nara sumber (teman di sebelahnya) lalu menuliskannya di selembar kertas. Hasilnya jauh dari ekspektasi. Mereka malu-malu melakukan wawancara dan kesulitan dalam menulis walaupun hanya 3 kalimat. Wah.. kelihatannya strategi saya keliru di kelas pertama.

Di kelas kedua, yaitu Kelas 2, berkebalikan jauh sekali dari yang pertama. Tidak diminta tunjuk jari malah tunjuk jari semua. Baru sepuluh menit sudah ada yang naik meja, ada yang menarik-narik jam tangan saya, ada yang tidak berhenti memanggil “Pak, bapak, bapaaaak…”, ada yang tiba-tiba mengadukan temannya yang nakal, ada yang tetap di tempat dengan tangan sedakep, ada yang sepatunya hilang, ada yang malah ngeloyor keluar kelas bawa tasnya hendak pulang. Suara saya seperti hampir habis teriak-teriak meminta tenang. Saya tidak terbayang gimana bisa wali kelasnya betah.

_mg_0641

Mengajar di Kelas 2 SDN Tunon 2 Tegal. Foto: Agus

Dengan iming-iming akan diajari tepuk-tepukan, mereka akhirnya bisa tenang. Tapi tidak lama berantakan lagi. Ada yang naik meja lagi. Ada yang laporan temannya nakal lagi. Ada yang sepatunya hilang lagi. Ada yang menarik-narik jam tangan saya lagi.

Sudahlah, saya keluarkan jurus pamungkas: kotak impian. Kotak yang terbuat dari kardus ini memang digunakan untuk closing. Masing-masing siswa menuliskan nama dan cita-citanya di atas kertas cita-cita, lalu memasukkannya ke dalam kotak impian. Demi mendapatkan kertas cita-cita, mereka mau duduk ke tempatnya masing-masing.

Saya agak menyesal menawarkan “siapa yang mau membacakan kertas cita-cita?” karena pada akhirnya semua minta diperbolehkan membacanya di depan kelas. Mereka tunjuk tangan di tempat duduknya masing- masing, “Saya Pak… saya Paaak.” Kalau saya diamkan mereka akan maju sambil tetap mengacungkan jarinya, sampai saya mempersilakannya membaca. Ini kelas super sekali. Setelah 35 menit akhirnya saya bisa lepas dari kelas dua.

Kelas terakhir yang saya ajar adalah Kelas 4. Di sini saya merdeka karena siswanya aktif dan mudah diarahkan. Saya contohkan bagaimana seorang penulis mewawancarai nara sumber lalu menyilakan mereka untuk melakukan hal yang sama di depan kelas. Begitu aktifnya, sampai hampir semua sempat untuk berdiri di depan mempraktekkan wawancara dengan spidol yang berpura-pura menjadi mic.

Total jam mengajar saya tidak lebih dari dua jam, tapi kenangannya begitu hebat. Ini mah bukan saya yang menginspirasi, tapi malah saya yang terinspirasi. Bagaimana seorang anak bisa begitu riang dalam menghadapi hari-harinya. Bagaimana sulitnya menjadi guru SD.

Setelah selesai mengajar, kami relawan berkumpul kembali dan bertukar cerita. Rasanya semua jadi ketagihan ikut Kelas Inspirasi. Yang juga hebat adalah, sesama relawan jadi muncul ikatan kebersamaan yang kuat, padahal baru kenal satu hari. Kami malah sempat ke pantai bareng, minum teh poci, makan sate blengong, dan foto-foto di hutan mangrove. Sadar tidak sadar, ini jadi jalan rezeki untuk kita semua. Sudah dijanjikan bahwa silaturahim membuka pintu rezeki.

Malam hari kami menginap di PMI dekat Alun-Alun Slawi bersama relawan dari kelompok lain. Tidurnya ya geletak di atas karpet begitu saja. Tapi tidak ada masalah tuh. Semua happy…

Refleksi

Esok harinya, dua puluh kelompok yang ikut dalam Kelas Inspirasi Tegal 2 berkumpul di Pendopo dekat Alun-Alun Slawi. Ini adalah refleksi dari apa yang telah kita lakukan kemarin. Masing-masing menceritakan pengalamannya mengajar dan apa tindak lanjut berikutnya.

Salah satu kelompok mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Seorang relawan dalam kelompok tersebut bahkan sampai menangis di depan kelas ketika mengajar murid-murid SLB, karena terharu dengan apa yang dia saksikan. Betapa beruntungnya kita yang mempunyai fisik lengkap, sekaligus betapa meruginya kita yang berfisik lengkap tapi tidak banyak manfaatnya untuk orang lain.

Seorang siswi SLB tersebut ditampilkan ke depan untuk bernyanyi. Dia adalah murid yang cantik. Bola matanya berputar-putar. Kepalanya yang besar menggeleng tiada henti. Dia bernyanyi sebuah lagu bertemakan syukur kepada orang tua. Dia bernyanyi di atas kursi rodanya sambil menggoyangkan kakinya ke depan dan ke belakang. Tidak sedikit yang menangis mendengarkan nyanyiannya.

“Mereka jauh lebih cerdas daripada murid pada umumnya. Mereka punya kelemahan, tapi jauh lebih banyak kelebihannya,” kata relawan yang mengajar di SLB tersebut.

Banyak sekali yang bisa saya bawa pulang dari Kelas Inspirasi. Tag line Sehari Mengajar Seumur Hidup Menginspirasi rasanya tepat sekali.

29
Sep
15

Buka Cabang di Organik

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Go Organic. Dok: www.bekas.com

Go Organic. Dok: http://www.bekas.com

Munculnya cita-cita Deptan untuk Go Organik 2010, memberi efek positif bagi segala yang berembel-embel organik, termasuk pupuk organik. Kuantitas subsidi untuk pupuk organik ditingkatkan menjadi 474 Miliar pada tahun 2008. Jumlah subsidi per kg ditingkatkan, bahkan digratiskan pada program BLP (Bantuan Langsung Pupuk). Permintaan pupuk organik yang semakin besar ini menjadi peluang emas bagi produsen pupuk organik. Bahkan beberapa produsen yang tadinya belum bergerak di pupuk organik membuka cabangnya di bisnis pupuk organik.

Beberapa tahun terakhir, petani diminta oleh pemerintah untuk menggalakkan pemakaian pupuk organik. Dorongan dari pemerintah semakin kuat untuk menunjang ke arah itu. Subsidi pupuk organik ditingkatkan dari HET Rp1.000/kg di tingkat petani, diturunkan menjadi Rp500/kg, bahkan digratiskan pada program Bantuan Langsung Pupuk (BLP).

Dengan begitu, harapannya, petani akan terbiasa dengan pupuk organik sehingga ke depan petani secara sadar akan meningkatkan permintaan pupuk organik secara agregat. Kesempatan ini ditangkap oleh beberapa produsen organik sebagai peluang bisnis.

Tadinya hanya Petrokimia Gresik yang bergerak di pupuk organik, sekarang sudah ada Pusri, Kaltim, Kujang, dan Pertani yang ikut terjun ke organik. Kapasitas produksinya akan terus ditingkatkan dalam beberapa waktu ke depan.

Ambil saja contoh Kujang. Pada awal 2009, kapasitas produksinya sebesar 20 ribu ton per tahun. Muhammad Husein, Direktur Teknik dan Pembangunan PT. Pupuk Kujang, mengatakan akan meningkatkan kapasitas produksinya sampai 80 ribu ton di tahun ini. Target dalam tiga tahun ke depan, kapasitasnya menjadi 300 ribu ton/tahun, naik lima belas kali lipat dari sekarang.

Produksinya tidak difokuskan pada pabrik, tapi mengandalkan UKM dengan sistem kemitraan. Masalah terbesar dalam produksi pupuk organik adalah bahan baku. Kujang lebih memilih mengandalkan beberapa UKM yang letaknya dekat dengan sumber bahan baku daripada memproduksinya di satu pabrik.

Sejauh ini, sudah ada lima UKM yang menjadi mitra Kujang yang terletak di Sumedang, Sukabumi, Bandung, Tangerang, dan Ngawi. Baru 2008 kemarin dilakukan inisiasi pembentukan UKM-UKM itu. Saat ini sudah sampai tahapan pembicaraan yang lebih lanjut. Bahkan di Sukabumi sudah mencoba untuk memproduksi. Ditargetkan, tahun 2009 ini kelima mitra itu sudah aktif berproduksi. Inisiasi ke tempat-tempat lain akan terus dijajaki. Yang menjadi syarat utama dari Kujang adalah daerah itu punya potensi sumber bahan baku yang bagus.

Husein mengaku, program subsidi pupuk organik yang diamanahkan pemerintah kepada Kujang untuk program pupuk bersubsidi sebanyak 20 ribu ton, tapi dengan dikembangkannya UKM-UKM di berbagai daerah, Kujang sanggup kalau tahun ini jumlahnya ditingkatkan sampai 80 ribu ton.

Peningkatan produksi yang dilakukan Kujang setali tiga uang dengan yang dilakukan PT. Pertani. Perusahaan ini sudah lama memulai ke organik tapi dengan kapasitas yang kecil. “Pupuk organik mulai kami produksi sejak 1989. Produk pertama bernama Bokaplus. Berkembang pertama di Jawa barat, kedua di Sulawesi Selatan. Kemudian kami kerja sama dengan universitas dan Litbang Deptan, di Malang kami mengembangkan pupuk organik granule. Waktu itu kami hanya memproduksi 40 ton per bulan dalam satu tempat. Kami kemudian men-develop produk menjadi pupuk organik granule di Malang, hanya 15 ton per hari, masih kecil,” tutur Wahyu, Direktur Marketing PT. Pertani.

Sekarang, dari proyek BLP saja Pertani sudah harus menyiapkan 100 ribu ton per tahun. Untuk mencapainya, Pertani bermitra dengan 20 UKM yang tersebar se-Indonesia. Tugas UKM adalah mengumpulkan dan mencampurkan beberapa bahan organik yang tidak jauh dari kotoran hewan dan tumbuh-tumbuhan berdasarkan SOP yang diberikan Pertani. Kemudian Pertani menambahkan biofertilizer, mengemas, lalu menjual, termasuk untuk kebutuhan BLP. Pertani membayar UKM-UKM tersebut sebanyak harga pokok yang layak ditambah sekitar 10-15% dari harga pokok itu.

Karena sudah lama berkecimpung di organik, Pertani telah memiliki pasar di luar proyek BLP. “Kalau untuk pasar selain dari program BLP, kami menghitung sekitar 12 ribu ton untuk padat, kecil memang. Dibandingkan dengan yang NPK, baik yang subsidi maupun non-subsidi itu hampir 500 ribu ton/tahun,” kata Wahyu. Untuk pupuk organic cair, Pertani sudah mempunyai pasar sebesar 250 ribu liter, masih jauh di bawah kapasitas produksi maksimal, sebesar 1 juta liter.

Dengan jumlah produksi pupuk organik yang masih jauh lebih kecil dibandingkan kimia, maka pengembangan pupuk organik ini punya potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Wahyu mengatakan, potensi kebutuhan pupuk organik di Indonesia sebesar 1,5 juta ton per tahun, masih jauh dari produksi agregat saat ini. “Selanjutnya kalau kita bicara prospek bisnisnya adalah setelah adanya kesadaran petani untuk menggunakan pupuk organik. Dengan demikian tercipta demand. Kami menyadari itu tidak bisa tercipta dengan satu dua kali saja, minimal tiga tahun BLP organik ini plus sosialisasi,” jelasnya.

Ongkos Produksi

Setiap pabrik pupuk punya jenis produk organik yang berbeda-beda. Kujang sendiri saat ini punya tiga jenis produk; serbuk, granular, dan cair. Produk serbuk digunakan untuk tanaman pangan dan tanaman semusim lainnya. Granular untuk tanaman tahunan dan tanaman keras. Sedangkan produk cair untuk tanaman hortikultura. Ketiga jenis itu adalah produk pupuk organik yang murni. Saking semangatnya mengembangkan organik, Kujang juga menelurkan produk NPK Kujang plus organik, yaitu pupuk NPK yang sudah ditambahkan unsur organik.

Untuk pupuk organik serbuk dan granular, Kujang mengandalkan kotoran sapi sebagai bahan baku utama. Kemudian dicampurkan dengan kompos dari tumbuhan, limbah-limbah industri Kujang, dan beberapa bahan plus untuk pengkayaan pupuk. Butuh kotoran sapi dalam jumlah besar sehingga untuk efisiensi harus dilakukan melalui sistem kemitraan seperti di atas.

Mengenai biaya produksi, Husein mengatakan, per kilogram pupuk organik butuh ongkos produksi sebesar Rp1.200. Harus sampai ke konsumen dengan HET Rp500. Selisih harga dan ongkos distribusi ditanggung oleh pemerintah. Pertani pun tidak jauh berbeda. “Harga pokok  kami sebagai produsen ditetapknnya oleh kementrian BUMN itu Rp 1500-1600/kg (organik granule) itu blm termasuk biaya distribusi,” kata Wahyu. Ia menambahkan, pupuk organik memang dapat diproduksi dengan harga pokok Rp500-Rp600 tapi kualitasnya akan turun. Pemerintah menetapkan harga pokok sekaligus kualitas yang harus terkandung di dalamnya.

Menanggapi ongkos produksi tersebut, Dwi Andreas Santoso, dosen Ilmu Tanah dari IPB, mengatakan jumlah itu terlalu tinggi. “Apapun, kalau kita masuk ke company memang prinsipnya maximizing profit. Kalau begitu serahkan saja ke petani. Jangankan Rp1.200, kami sanggup hanya dengan Rp.600. Dengan kualitas yang sama persis dengan mereka. Bahkan kalau perlu kami tambahkan mikroorganisme yg memicu tumbuh tanaman. Kalau harga Rp1.200 itu dijadikan patokan, kami sangat tidak setuju. Kalau perlu, serahkan saja ke kelompok-kelompok tani, kami dengan SPI (Serikat Petani Indonesia) dan Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu yang organisir kelompok-kelompok tani itu,” jelasnya.

Henry Saragih, ketua umum SPI, kurang lebih sepakat dengan Andreas. “Seharusnya pemerintah tidak perlu mendistribusikan pupuk organik. Diajarkan saja petani memproduksi pupuk organik itu. Jadi yang penting materialnya disiapkan, misalnya sapi, kambing, itu yang harusnya disiapin. Itu (kebijakan. red) akan hanya menguntungkan perusahaan, itu dagang baru dari mereka, padahal itu semua sudah bisa diproduksi petani,” katanya.

20
Sep
15

Singapura – Kuala Lumpur 6 Hari Bersama Bayi; Day 3/6

Perjalanan saya, istri, dan anak umur 1,5 Tahun selama travelling di Singapura dan Kuala Lumpur pada September 2015

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Hari Kedua – Singapore Botanical Garden, Orchard Road, Bugis Street, Harbour Front

Hari Keempat – Kuala Lumpur Sentral, Batu Caves, Muzium Negara, Dataran Merdeka, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Kelima – KLCC, Little India, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Keenam – KLIA, Soekarno Hatta Airport

Hari Ketiga – Sentosa Island, Johor Baru Sentral

Istri saya mengajak kembali ke Sentosa Island. Tapi hari ketiga ini sebetulnya jadwal langsung ke Johor Baru untuk lanjut ke Kuala Lumpur. Jadilah kami bawa semua bawaan sekalian ke Sentosa Island, supaya tidak perlu bolak-balik ambil tas ke Tanah Merah. Saya bawa tas carrier digemblok belakang dan backpack di gemblok depan. Istri saya bawa tas oleh-oleh sambil dorong stroller. Kalau dibawa enjoy, jadinya enjoy-enjoy saja jadinya J

USS, Sentosa Island

USS, Sentosa Island

Makan siang di KFC Harbour Front lagi, ambil satu rice bucket lagi plus soft drink, $5 alias Rp50.000. Setelah puas makan, kami naik ke atas untuk naik monorail Sentosa Express. Monorail ini punya beberapa pemberhentian di Sentosa Island. Tiketnya $4/orang. Bayi gratis. Uang segitu sudah termasuk untuk naik Sentosa Express dan tiket masuk Sentosa Island.

Ini baru masuk Sentosa Island-nya saja loh ya, belum masuk ke wahana-wahana yang ada di dalamnya, seperti USS, Adventure Cove Waterpark, dan SEA Aquarium. Apa-apa bayar di sini mah, dan muahal. Tiket USS saja itu $70-an, atau sekitar Rp700 ribu. USS ini seperti Dufan kalau di Jakarta. Nah, Sentosa Island-nya ini mirip Ancol. Masuk Ancol kan bayar dan masuk wahananya bayar lagi, sama seperti masuk Sentosa bayar dan masuk wahananya bayar lagi.

Istri cuma beli oleh-oleh permen di Candylicious, toko permen di Sentosa. Habis itu balik lagi deh ke Harbour Front, untuk kemudian ke Stasiun Woodsland naik MRT.

Di Woodsland, kita urus imigrasi. Beda dengan masuk Singapura yang saya sempat ditanya macam-macam, pas keluar Singapura itu ya langsung saja dicap.

Candylicious, Sentosa Island

Candylicious, Sentosa Island

Nah, sekarang masuk Malaysia nih. Ngecapnya bukan di Woodsland, tapi naik bas (sebutan bis/bus di Malaysia) dulu ke Johor Baru Sentral. Cepat juga sih prosesnya. Tidak ditanya macam-macam, langsung dicap. Sepertinya saya barengan dengan pulang kerjanya orang Malaysia yang kerja di Singapura, jadi antriannya lumayan. Mereka cuma bawa tas kerja saja, atau tidak bawa tas sama sekali. Berarti kan sudah biasa keluar masuk Singapura.

Kami sholat dulu di Johor Baru Sentral. Di sini mushola dipisah antara laki-laki dan perempuan. Dipisah di sini bukan hanya diberi hijab pemisah, tetapi benar-benar pisah ruangan. Pisah ruangannya juga bukan sebelah-sebelahan, agak jauh. Kalau mau tanya di mana letak mushola, tanyanya di mana langgar? Langgar berarti mushola.

Sedikit tips lagi, katakan “kereta” dengan “kereta api”. Karena “kereta” di Malaysia berarti mobil. Maka pantas saja petugas bea cukai nya bingung-bingung waktu saya tanya, di mana kereta ke Kuala Lumpur? Baru bisa jawab setelah saya bilang “train”.

“Ooh kereta api…” katanya.

Sejak itu saya lebih milih pakai Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia.

Waktu itu sudah pukul 21.30 waktu setempat. Saya minta istri saya untuk istirahat di tempat tunggu penumpang kereta (di tulisan ini, saya sebut kereta maksudnya kereta api). Biar saya yang cari tiket ke Kuala Lumpur. Sejak awal rencananya saya naik sleeping train, yaitu gerbong kereta yang ada tempat tidurnya, jadi bisa tidur di jalan. Daripada duduk tapi tidak bisa lihat apa-apa, karena sudah malam.

Tadinya si petugas bilang tiket sleeping train untuk keberangkatan 22.30 sudah habis. Lalu istri saya datang sambil dorong stroller yang diisi anak saya.

“Ooh ada bayi,” kata si petugas.

Lalu dia ngutak ngatik komputernya, tiba-tiba jadi ada lagi tiket sleeping train. Wah, alhamdulillah. Rezeki anak ini namanya. Harga tiket RM45 untuk tempat tidur bawah dan RM39 untuk tempat tidur bawah. Kami hanya menunggu setengah jam. Pukul 22.00 sudah dipanggil masuk kereta. Nama keretanya romantis deh: Senandung Sutera.

Saya sempat beli makanan di KFC. Dua paket burger-kentang-soft drink dan semacam roti isi semua harganya RM20 alias Rp70.000. Wah ini mah murah banget dibanding Singapura. Kami makan di kereta. Istri dan anak saya tidur di bawah, saya di atas. Saya langsung tidur dan bangun-bangun sudah subuh pukul 6 pagi. Kereta sampai KL Sentral pukul 7 pagi. Jadi perjalanan sleeping train Johor Baru ke KL adalah 8,5 jam.




Juli 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31