Taliwang: Ojeg Punya Kartu Anggota

Baru kali ini saya lihat tukang ojeg punya kartu anggota. Saya ketemu tukang ojeg ini di dekat terminal Taliwang, NTB. Namanya Syaifullah (anggap saja dipanggil Bang Ipul). Dia menggunakan rompi oranye kuning, mirip rompi pekerja-pekerja bangunan.

Awalnya saya tidak tahu tentang keanggotaan ojeg itu. Tapi Bang Ipul sedikit sedikit tan tin, sepertinya gaul banget gitu. Waktu saya makan bareng dia, tukang warungnya sempat ngobrol sama Bang Ipul, seperti kenal.

Ketemu tukang odong-odong tin. Ketemu ada yang lagi nongkrong di pinggir jalan tin. Ketemu ojeg lain dari arah berlawanan, tin juga. Tan tin tan tin saja sepanjang jalan. Betul-betul gaul Bang Ipul.

Baru saya ketemu polanya. Beberapa yang dia tan tin itu menggunakan rompi yang sama seperti yang Bang Ipul pakai. Saya tanya, tukang ojeg di Taliwang harus pakai rompi ini?

“Iya. Kami ada keanggotaannya. Anggota ojeg itu sekitar 300 orang. Ada iuran anggota yang kebanyakan digunakan untuk membantu anggota lain yang sedang sakit,” jelas Bang Ipul.

WhatsApp Image 2019-11-14 at 17.02.48
Bang Ipul memegang kartu anggota

Hebat juga ya solidaritas tukang ojeg di sini. Sampai ada kartu anggotanya juga loh. Bang Ipul sempat tunjukkan. Judulnya di atas itu tertulis POKET, kurang jelas singkatan dari apa. Di bawahnya ada tulisan Surat Izin Ojeg (SIO). Ada data nama, TTL, agama, alamat. Ada fotonya. Ada ttd ketuanya di pojok kanan bawah. Dan ada masa berlakunya!

WhatsApp Image 2019-11-14 at 17.03.05
kartu anggota bang Ipul

Terus kalau sudah lewat masa berlakunya tapi tetap ngojeg gimana bang? Rasanya lebih ke sangsi sosial saja ya. Semacam dikucilkan dari komunitas. Saya juga tidak tahu.

Bang Ipul ini termasuk sosok yang banyak tahu, banyak kenal. Dia sempat jelaskan tempat-tempat wisata di Taliwang. Tapi tidak, saya hanya ingin ke Pantai Maluk. Pantai ini terkenal buat surfing karena dia punya ombak di tengah yang bisa mencapai tinggi dua meter, disebut super suck. Ombak ini tidak sampai tepi pantai karena sudah pecah duluan oleh sebuah tanjung.

Saya tidak ada niatan untuk selancar dan tidak ketemu dengan orang-orang yang berselancar. Mungkin memang lokasi peselancar itu bukan di pinggir pantai. Saya kan mainnya di pinggir-pinggir saja. Berenang-berenang begitu saja. Di bibir pantai, ada tulisan “Pantai Maluk” besar dan tinggi, berwarna putih. Tampak gagah.

Banyak wajah-wajah lokal yang juga berenang sore itu. Maklum saja, pantai ini dekat sekali dengan pemukiman warga Desa Maluk. Juga dekat dengan lokasi perusahaan Newmont.

Waktu perjalanan dari Taliwang ke Maluk tadi, ketemu dengan beberapa pekerja Newmont. Itu saya dikasih tahu Bang Ipul. Memang khas seragamnya. Tapi, menurut Bang Ipul, yang sekarang bukan Newmont lagi namanya. Walaupun pekerjanya ya itu-itu juga.

Di sekitar Pantai Maluk, Bang Ipul menunjukkan, “Itu kafe, itu kafe.” Dia seperti paham lokasi kafe itu di mana saja. Kafe di NTB itu punya definisi yang lebih mendekati “tempat prostitusi”, bukan hanya tempat untuk ngopi.

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

Singapura: Strategi Sholat

Hampir tidak pernah saya dengar adzan selama di Singapura. Di hotel tidak ada mushola (Park Royal Hotel on Beach Road). Di kantor (daerah Tuas) tidak ada mushola. Jadi 3 bulan di Singapura cara tahu waktu sholatnya gimana? Ya gampang, google saja. Atau saya kan punya aplikasi “Salaam”. Pakai itu saja. Tapi karena settingan lokasinya cuma wilayah Indonesia, jadi saya setting Batam. Kan cuma beda beberapa menit paling.

Kalau di hotel, biasanya saya jadikan handuk mandi saya sebagai sajadah. Lanjutkan membaca “Singapura: Strategi Sholat”

In A Strange Room

27-in-a-strange-room
Cover buku In a Strange Room

Cerita perjalanan fisiknya tidak lebih besar dari cerita perjalanan hati. Penulisnya Damon Galgut. Damon sekaligus menjadi tokoh utama. Cara penuturannya agak beda. Biasanya penulis yang menjadi tokoh langsung dalam bukunya menggunakan “saya”, sudut pandang orang pertama. Tapi dalam buku ini, Damon gunakan sudut pandang orang ketiga. Seakan yang menulis adalah orang lain yang menceritakan tentang Damon dan perjalanannya.

Lanjutkan membaca “In A Strange Room”

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Ini adalah perjalanan hari kedua, 16 Agustus 2015.

Umar berprofesi sebagai penjual sayur mayur. Jadi sejak subuh dia sudah keliling dengan motor tuanya dengan gendongan besar di sebelah kanan kiri motornya. Umar keliling ke kampung-kampung sekitar. Sosoknya sederhana sekali, uang hanya dicari seperlunya saja, asal bisa makan dan bisa shodaqoh untuk masjid di dekat rumahnya.

Tiba-tiba dia datang dengan membawa banyak durian Lanjutkan membaca “Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)”

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 1/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Saya dapat project di Tayan (Kalimantan Barat) selama 4 bulan. Untuk sampai ke Tayan, perlu perjalanan 2 jam lagi dari tempat pesawat mendarat di Supadio, Pontianak. Sepanjang perjalanan Pontianak – Tayan ini, saya beberapa kali melihat bus besar jurusan Pontianak – Brunei. Saya pikir, wah, sudah dekat Brunei nih. Kalau ada waktu saya mau main ke sana ah…

Lanjutkan membaca “Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 1/4)”

Terinspirasi Kelas Inspirasi

Sebuah email masuk, menyatakan bahwa saya lulus menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Tegal 2. Ada angka dua, karena sebelumnya pernah ada yang pertama. Ini adalah episode berikutnya. Tidak diketahui akan berakhir sampai episode berapa. Tegal terbilang muda karena baru dua. Kota lain sudah ada yang sampai lima. Kenapa setiap di akhir kalimat ada vokal “a” semua ya?

Lanjutkan membaca “Terinspirasi Kelas Inspirasi”