Mahasiswa Tersenyum Lebar Akibat Penurunan Tarif

Ketika ditanya tentang total pengeluaran untuk komunikasi selulernya jika dibandingkan dengan sebelum terjadinya penurunan tarif, 43% mahasiswa menjawab tetap, 32% berkurang, dan 25% justru bertambah.

polling11

Survey dilakukan melalui polling yang disebarkan ke 100 orang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), kampus yang terkenal dengan keberagaman mahasiswanya, baik asal daerah maupun tingkat sosial ekonominya. Mahasiswa adalah satu golongan kecil masyarakat yang bisa dikatakan melek terhadap dunia informasi dan komunikasi. Jadi, bisa dikatakan mahasiswa cukup mewakili golongan yang responsif terhadap pergolakan dunia komunikasi.

Sebagian besar (75%) mahasiswa merasakan adanya efek penurunan tarif. Walaupun sudah sedemikian besarnya promosi penurunan tarif berbagai operator seluler, termasuk provider kakap, tetap saja seperempat mahasiswa tidak merasakan efek penurunan tarif tersebut.

polling21

Walaupun penurunan tarif cukup dirasakan mahasiswa, tapi hanya 32% mahasiswa yang total pengeluarannya berkurang untuk pos komunikasi. Sisanya menganggarkan biaya yang tetap atau bahkan bertambah. Kenyataan ini mengindikasikan semakin banyaknya penggunaan telepon seluler karena tarif turun sedangkan pengeluaran tetap atau bertambah.

Mahasiswa yang mengaku pengeluarannya berkurang pun menyatakan bahwa hubungan sosial mereka tidak dikurangi. Tarif yang turunlah yang menyebabkan pengeluaran mereka berkurang namun dengan intensitas pemakaian tetap atau lebih banyak. Hanya 6% mahasiswa yang mengatakan hubungan sosial lewat telepon selulernya berkurang.

Bisa dikatakan, hubungan sosial mahasiswa semakin tinggi akibat turunnya tarif telepon seluler. Hubungan sosial tersebut bisa ke sesama temannya bisa juga ke keluarga, mengingat sebagian besar mahasiswa IPB merupakan mahasiswa rantau. Tentunya mahasiswa tersenyum semakin lebar dengan adanya penurunan tarif tersebut.

polling3

Pos pengeluaran komunikasi mereka sebelum kenaikan tarif terkonsentrasi pada kisaran Rp25.000 – Rp50.000 per bulan. Keadaannya masih sama ketika tarif sudah diturunkan. Jadi, kalau dilihat dari sisi ekonomi mahasiswa, turunnya tarif tidak berpengaruh terhadap kantong mereka.

Namun, bisa jadi, dengan semakin meningkatnya hubungan sosial lewat telepon seluler, mahasiswa bisa menghemat pos-pos lain. Kerinduan akan kampung halaman bisa digantikan dengan saling menelepon dibarengi dengan mencoret anggaran transportasi untuk pulang.

polling4polling5

Yang termurah belum tentu menjadi pemenangnya. Mungkin karena perbedaan tarif murah tersebut tidak terlalu lebar, maka sebagian mahasiswa enggan untuk mengganti providernya. Walaupun lingkungannya sudah sepakat untuk mengunakan satu jenis provider, tapi 68% mahasiswa memilih untuk tidak bergeming, tetap dengan nomor yang lama.

polling6

Iklan

Backpacking Jogja-Bandung

jalan malioboro, pusat perbelanjaan tradisional tertua di Jogja
jalan malioboro, pusat perbelanjaan tradisional tertua di Jogja

Backpacking kali ini punya misi khusus, memburu berita. Tapi tentu saja bisa diselingi dengan jalan-jalan ke berbagai tempat yang memungkinkan.

Ada beberapa alternative cara untuk menuju Jogja dari Bogor atau Jakarta, bisa dengan bis atau kereta api. Tapi saya memilih travel karena dirasa lebih praktis. Harga juga bervariasi. Jika betul-betul miskin, kita bisa mengunakan kereta ekonomi dari Jakarta. Setahun yang lalu, kawan saya hanya membayar 37 ribu, mungkin sekarang sudah naik, tapi tidak akan lewat dari 50 ribu. Yang jelas ini jauh lebih murah daripada travel yang bisa lebih mahal tiga kali lipatnya. Perlu waktu 10 jam untuk mencapai Jogja dengan travel. Ada snack dan minuman yang disediakan dari travel, tapi bukan makan malam.

Enaknya, di Jogja ada trans Jogja yang mempunyai rute di dalam kota Jogja. Keberadaannya sangat membantu bagi orang yang belum paham Jogja. Pegawai yang menjaganya pun ramah. Kita bisa bertanya sampai puas tanpa takut dibohongi. Cukup dengan 3 ribu, kita bisa mengelilingi Jogja, asalkan tidak turun dari halte.

Mind set kiri kanan harus diubah ketika sampai di Jogja. Navigasi otak kita harus jalan karena kebiasaan orang Jogja memberitahu arah dengan arah mata angin. Misalnya, ketika ditanya rumah Pak Soleh yang rajin mengaji itu di mana? Masyarakat menjawab, dari sini ke Utara sampai ketemu restoran padang Salero Bundo yang menghadap ke Barat. Masuk terus ke timur sekitar 200 meter maka Bapak akan ketemu rumah Pak Soleh yang menghadap ke Utara dengan pintu utama di Barat. Nah loh, puyeng gak tuh??

Makanan di Jogja bisa dibilang jauh lebih murah daripada di Jakarta. Asal tidak menampakkan kewisatawanan kita, apalagi di Malioboro, maka kita akan aman dari mark up yang tidak berprikemanusiaan itu. Lebih aman kalau kita bertanya dulu harga makanan sebelum dengan sukses menghabiskan sepiring gudeg.

Kasongan bisa dijadikan tempat cuci mata yang unik. Di sepanjang jalan Kasongan ini, dipenuhi penjual kerajinan dari tanah liat. Bisa dikatakan, Kasongan adalah sentra kerajinan tanah liat di Indonesia.

Siapa yang tidak kenal gudeg? Tapi pasti jarang yang mengenal gudeg paling tua di Jogja, bukan? Adalah Gudeg Yu Djum, yang sudah menginjak ke generasi ketiga dalam bisnis gudeg ini. Tempatnya di sekitar UGM. Tukang ojeg pasti kenal daerah gudeg, tinggal cari saja Gudeg Yu Djum, tidak sulit menemukannya. Tentang harga, memang Yu Djum memberikan harga yang lebih tinggi dibanding gudeg yang lain. Tapi, semahal-mahalnya harga makanan di Jogja masih terjangkau lah. Seporsi gudeg dengan telur pindang lengkap dengan nasinya hanya dibandrol 6 ribu.

Wisata candi? Ah, sudah biasa. Tapi bagaimana dengan wisata candi yang menjual view sunset dari atas candi? Unik bukan? Kalau tertarik, silakan berkunjung ke Candi Boko, tidak jauh dari Prambanan. Dengan merogoh 35 ribu, kita bisa menikmati indahnya kemegahan ciptaan Tuhan. Uang sejumlah itu tidak hanya sebagai biaya untuk melihat sunset. Tapi sudah termasuk makan malam dengan masakan tradisional Indonesia, seperti bakmi goreng, bakmi godog, nasi goreng, atau soto. Sambil menunggu sunset, pengunjung juga disuguhi teh atau kopi lengkap dengan makanan kecilnya.

Namun, agak sulit mencapai Candi Boko karena tidak ada angkutan umum yang mencapainya. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, maka ojeg adalah satu-satunya pilihan. Tidak mengapa, karena tariff yang ditawarkan tukang ojeg di Jogja adalah tariff yang sudah berkonsolidasi dengan isi dompet. Orang Jogja terkenal dengan kejujuran dan keramahannya.

Menuju bandung dari Jogja, juga ada banyak alternative. Tapi sepertinya yang paling nyaman adalah dengan kereta. Untuk kelas eksekutif dihargai 150 ribu. Di dalam kereta, kita disuguhi snack yang cukup untuk menyumpal perut di malam hari. Bantal dan selimut tebal disediakan untuk tiap orang. Sesuai dengan yang dijanjikan, kereta berangkat pukul 21.30 dan sampai di Bandung pukul 5.30. Betul-betul tepat, tidak ada selisih yang lebih dari tiga menit.

Beruntung, saya punya kawan di Bandung yang baik hatinya, Baskara Aditama. Dia bersedia menjemput di Stasiun Bandung. Karena letih berputar-putar di Jogja, sedikit tenaga yang tersisa di Bandung. Hanya mampir wawancara di Pajajaran.

RM Ma’Uneh bisa dijadikan tujuan kuliner yang jempolan. Letaknya di dekat GOR Pajajaran. Ratusan jenis masakan Sunda siap dipesan. Harganya memang agak premium. Sepiring udang yang berisi tiga buah udang windu besar dihargai 60 ribu. Tapi masalah rasa, jangan ragukan. Bermacam menteri dan artis sering makan di tempat ini. menandakan tempat ini memang premium.

Berikut ini lampiran tempat-tempat yang saya kunjungi lengkap dengan biayanya. Biaya tersebut tidak termasuk akomodasi. Semoga bermanfaat.

Destination:

  1. Rumah Nenek di belakang FT-UII, Kaliurang
  2. Sasanti Galeri (Next door Hyatt Jogja)
  3. Sentra kerjinan Kasongan
  4. PT. Out of Asia (Tembi)
  5. Malioboro
  6. Ambarrukmo Plaza
  7. Gudeg Yu Djum, Kaliurang
  8. Sunset Boko
  9. RM. Ma’Uneh, Pajajaran, Bandung
  10. Blitz PVJ
  11. 1001Crafts, Pajajaran, Bandung

Cost:

Day 1

Diana Travel Bogor-Yogya 180.000

Makan malam di jalan 17.000

Toilet 2x 2.000

Day 2 (Jogja)

Tambahan travel ke Kaliurang 20.000

Trans Jogja 3.000

Ke kasongan 2.500

Ojeg keliling Kasongan + bantul 25.000

Aqua 1 botol 1.500

Ke Pojok Bateng 3.000

Ke Malioboro 3.000

Batik 20.000

Makan malam (3orang) 29.000

Day 3 (Jogja)

Angkot UII-UGM 6.000

UGM-Tugu 2.500

Ojeg Tugu-UGM-Boko-Malioboro 60.000

Tip buat Satpam Boko 10.000

Trans Jogja 3.000

Mandi di Stasiun 3.000

Makan malam 14.000

Kereta Eksekutif Jogja-Bandung 150.000

Day 4 (Bandung)

Makan Pagi 11.000

Angkot Darul Hikam-Simpang Dago 1.500

Simpang Dago-Pajajaran 3.000

Nonton di Blitz PVJ 25.000

Pajajaran-Simpang Dago 3.000

Simpang Dago-Darul Hikam 1.500

Sebotol Mizone 3.500

Makan malam (2 orang) 25.000

Day 5 (Bandung)

Makan pagi 7.500

Hikam-Simpang 1.500

Makan siang 11.500

Ke lw. Panjang 2.500

Bis eksekutif ke UKI 40.000

TOTAL 691.000

Muhammad Kasim Arifin; Sosok Ideal Mahasiswa

Kembali bangga menyematkan logo ini ketika ingat Kasim
Kembali bangga menyematkan logo ini ketika ingat Kasim

Gemetar rasanya kalau nama itu disebut-sebut kembali. Kasim Arifin. Seorang kakak angkatan yang sangat saya banggakan. Bukan dua tahun beda usia kami. Bukan pula lima tahun atau sepuluh tahun. Tapi empat puluh delapan tahun. Bahkan orangtua saya belum bertemu ketika Kasim dinyatakan lulus dari almamaternya, Institut Pertanian Bogor.

Adalah Taufik Ismail yang ketika itu, 22 Oktober 2008, datang untuk membacakan puisi penyemangat untuk kami para wisudawan. Beliau bercerita tentang kisah teman satu atapnya dulu, Kasim.

Kuliah Kerja Nyata sudah menjadi suatu kewajiban bagi mahasiswa fakultas tertentu sejak dulu, tapi saat itu namanya agak lain, Pengerahan Tenaga Mahasiswa. Serupa maknanya. Kasim ditempatkan ke sebuah desa bernama Waimital di Pulau Seram, Maluku. Tugasnya waktu itu adalah mensosialisasikan Panca Usaha Tani kepada petani daerah itu. Beberapa bulan saja kewajibannya.

Setengah tahun kemudian, teman-temannya mulai bertanya-tanya tentang keberadaan Kasim. Ke mana Kasim? Seharusnya dia sudah kembali ke Bogor untuk menyelesaikan skripsinya.

Setahun berlalu, Kasim tak kunjung muncul. Orangtuanya di Langsa, Aceh sana semakin cemas dengan hal tersebut. Dua tahun berikutnya Kasim juga tak nampak batang hidungnya. Padahal teman-temannya sudah lulus bahkan sudah bekerja menyebar ke seluruh penjuru negeri. Tapi Kasim tetap tak nampak. Sang Ibu semakin cemas.

Orangtua Kasim sudah berkali-kali memintanya pulang. Begitu pula dengan pihak kampus. Panggilan pertama dari sang Rektor yang bercokol kala itu dihiraukannya. Pun dengan panggilan kedua. Untuk panggilan ketiga, Rektor, waktu itu Andi Hakim Nasution, menyematkan Saleh Widodo, sahabat Karim, untuk ikut serta menyerukan panggilan pulang dari rektor tersebut langsung ke Waimital.

Untungnya Kasim mau kembali, tapi itu setelah lima belas tahun. Ya, lima belas tahun. Cukup waktu untuk membuat kulit tangan dan kaki Kasim pecah-pecah. Sebab, setiap harinya, tak kurang 20 kilometer jarak perjalanan Kasim menuju sawah. Ia betul-betul mengajarkan petani daerah itu agar hasil tanamnya meningkat. Setiap hari dua puluh kilometer selama lima belas tahun. Sanggupkah engkau bayangkan, kawan? Sebelas dua belas dengan Lintang dalam cerita Laskar Pelangi yang bersepeda menempuh 40 kilometer setiap harinya itu.

Tak bosan-bosannya ia ajarkan berbagai metode yang didapatkannya di bangku kuliah untuk bisa diterapkan petani. Supaya petani lebih sejahtera hidupnya. Tentang kesejahteraan dirinya sendiri tak menjadi soal baginya.

Kasim menolong masyarakat agar mandiri. Tidak ada imbalan secuil pun atas jasanya ini. Atas jasanya membangun sawah-sawah baru. Atas jasanya memperkenalkan sekaligus membuat irigasi. Juga atas jasanya membuka jalan-jalan desa. Semua tanpa imbalan. Lima belas tahun, kawan.

Hiruk pikuk gemuruh suara manusia menyambut kembalinya Kasim. Teman-temannya yang sudah bergelimang harta memberikannya sepatu baru yang mengkilap seperti lampu taman, pakaian yang harum, tak lupa makanan yang lezat. Semua terharu akan kejadian tersebut. Semua bangga akan Kasim, teman lamanya yang duduk sama-sama mendengarkan dosen dua puluh tahun yang lalu.

Prosedur tetaplah prosedur bagi IPB. Sedemikian besar jasa Kasim, tetap dia harus menyelesaikan skripsinya untuk mendapatkan gelar. Hal tersebut tentu sulit sekali baginya. Lima belas tahun sudah Kasim tidak ditugasi pekerjaan kampus kali ini disuruh membuat skripsi yang merupakan tugas kampus paling berat bagi mahasiswa.

Teman-temannya tak hilang akal. Maka direkamlah semua cerita Kasim selama lima belas tahun membangun Waimital. Semua ia ceritakan. Butuh 28 jam untuk merekam apa yang Kasim ceritakan. Kemudian ada orang yang mengolahnya menjadi sebuah tulisan cerdas bernama skripsi itu. Prosedur-prosedur berikutnya tetap dilaluinya. Tentu saja dengan kemudahan di sana sini karena Kasim spesial. Pada akhirnya, skripsi selesai kemudian Kasim dinyatakan lulus sebagai Insinyur Pertanian.

Hotel Salak menjadi tempat yang cocok untuk sosok hebat seperti Kasim. Ia dipersilakan beristirahat dengan tenang di tempat yang nyaman itu untuk kemudian bersiap-siap melakukan wisuda istimewa baginya keesokan harinya.

Bukan nyaman yang didapat, tapi justru Kasim tidak bisa tidur. Suara kendaraan yang mondar-mandir di depan hotel menggangu telinganya. Kasim tidak terbiasa dengan hal tersebut. Maka ia mencari meja yang ada di kamarnya. Kemudian dia tidur di atasnya. Lelap. Tertawalah teman-teman Kasim mendengar insiden meja itu.

Wisuda spesial untuk orang spesial. Tidak seperti biasanya, dandanan Kasim pagi itu rapi sekali, setelan jas yang harum lengkap dengan sepatu mengkilap seperti lampu taman yang diberikan temannya membuat Kasim tampak beda. Sangat berbeda. Rambutnya disisir rapi dengan potongan yang cerdas.

Setelah proses wisuda selesai, banyak badan yang menawarinya pekerjaan. Teman-temannya yang sudah menjadi petinggi di sini dan di sana pun ikut menawarinya pekerjaan. Namun, semua ditolaknya dengan tegas. Kasim ingin kembali ke Waimital. Membangun Waimital kembali. Lima belas tahun masih belum cukup baginya. Maka berangkatlah Kasim kembali ke Waimital. Kali ini dengan title Insinyur di depan namanya. Tapi Kasim tak terlalu ambil pusing perihal title.

Beberapa waktu kemudian, Kasim berubah pikiran. Mungkin ia berpikir bahwa lebih baik ia menggodok seribu Kasim lainnya agar perjuangannya dapat ditularkan. Akhirnya ia beralih menjadi dosen di Universitas Syah Kuala, universitas negeri termashur di Aceh.

Walaupun rupa ini tidak pernah bertatap, bahkan tidak pula dalam bentuk kata-kata. Tapi pola pikirnya sanggup membuat semangat ini bangkit lagi untuk berguna bagi orang lain. Terima kasih Muhammad Kasim Arifin.

Meugang dan Masyarakat Aceh

meugang menjadi ajang silaturahim masyarakat Aceh
meugang menjadi ajang silaturahim masyarakat Aceh

Ada satu kebiasaan unik yang selalu dipegang masyarakat Aceh walaupun shock culture akibat Tsunami kemarin berefek cukup parah. Namanya meugang, yaitu kebiasaan berkumpul pada waktu satu hari menjelang lebaran haji atau satu hari menjelang puasa Ramadhan.

Semiskin-miskinnya orang Aceh, pasti akan mengusahakan tradisi meugang terlaksana. Agak berat bagi mereka yang miskin memang, karena dalam tradisi tersebut, masakan berbahan daging sapi lazimnya ada di atas meja. Tapi pasti mereka akan mengusahakannya dengan sangat.

Karena permintaan yang drastic pada beberapa hari tersebut, maka harga daging local naik bisa sampai dua kali lipatnya. Pada hari-hari biasa, harga daging berkisar di angka 55.000, saat meugang, 100.000 pun dibeli.

Dalam keadaan tersebut, produsen daging sapi dari luar Aceh pastinya tergiur dengan harga tersebut. Tapi sayangnya, hanya daging sapi Aceh yang diminati. Sapi Aceh memiliki kadar lemak yang rendah. Jelas karena asupan pakan yang diberikan berbeda dengan fedloter yang sangat komersil. Sapi-sapi di Aceh dilepas begitu saja. Tidak ada asupan konsentrat ini itu dengan komposisi sekian persen seperti yang fedloter lakukan. Hasilnya, kadar lemak sapi rendah sehingga rasanya lebih nikmat.

Terutama di kampung-kampung, sapi dibebaskan berkeliaran begitu saja tanpa ada yang menjaga. Saat umur saya 7 tahun, kami sekeluarga pulang kampung ke Pante Raja, sebuah kampung di bilangan Aceh Piddie. Saya ingat betul keadaan waktu itu. Pemandangan yang wajar kalau kita sedang bersantai-santai di teras depan rumah kemudian ada sapi yang lewat. Sapi yang lewat berikutnya meninggalkan bekas di jalan yang pastinya akan membuat seorang lelaki yang hendak bertamu ke rumah kekasihnya turun derajat kepercayaan dirinya kalau tidak hati-hati melangkah. Tabiat sapi tersebut sudah biasa.

Kembali ke meugang. Kebiasaan ini betul-betul sudah mendarah daging bagi orang yang besar di Aceh. Ketika mereka bepergian ke luar Aceh di hari meugang, sebisa mungkin mereka akan berkumpul dengan sesama orang Aceh kemudian merayakan meugang bersama sambil menghabiskan rendang yang dipegangnya.

Tradisi ini sangat bagus untuk memperkuat ukhuwah. Seperti tradisi-tradisi Aceh lainnya, meugang juga dibuat oleh tetua-tetua kami dulu berdasarkan nilai-nilai islam. Tradisi seperti ini baik selama tidak disalahartikan menjadi suatu kewajiban yang ketika ditinggalkan maka dosa akan melekat.

Bohemian, Are You?

cara pakaian Bohemia
cara pakaian Bohemia

Satu lagi budaya unik yang bisa jadi cerita. Kaum Bohemian. Kalau dideskripsikan dalam satu kalimat, mungkin begini: life is easy, so make it easy!

Mereka memandang sesuatu dengan sudut pandang yang menyenangkan aja. Sepertinya gak ada masalah dengan itu. Tapi ketika lesbian, homo, dan transgender jadi barang halal buat mereka, maka mulailah konflik dengan society di sekeliling mereka. Lebih-lebih ketika hubungan seksual di luar nikah sering menjadi pelampiasan cara pikir di sudut otak yang gak bener itu. Semakin parahlah konflik yang ada.

Awal kata Bohemia itu dari satu kerajaan di Republik Ceko. Civitas kerajaan, dari tukang sapu sampai rajanya sendiri itu yang disebut Bohemian. Seiring berjalannya waktu, orang Eropa mulai ngerti bahasa Ceko. Dari Eropa ini nyebar ke mana-mana. Akhirnya, kata Bohemia ini berubah fungsi, menjadi lebih mendeskripsikan suatu gaya hidup, ya yang seperti tadi itu.

Penganutnya kebanyakan kalangan artis, penulis, musisi, dan segala macam profesi yang mempunyai kesan bebas. Bebas boleh, tapi yang terkontrol donk…

Attila: Di Mana Saya Melintas, Rumput Tidak Tumbuh Lagi

attila the hun
attila the hun

Ada sebuah game yang cukup digandrungi anak muda, yaitu Age of Empire. Di dalamnya kita disuruh memilih menggunakan suku apa untuk berperang. Sebuah suku yang cukup unik ada di dalamnya: The Huns! Kelebihan menggunakan suku ini adalah tidak perlu membangun rumah untuk penduduknya. Dia punya satu pasukan elit, yaitu tarkan, pasukan berkuda yang handal dalam menghancurkan bangunan.

Saya penasaran. Saya gali lebih dalam lagi. Berdasarkan sejarah, Huns memang suku nomaden alias suka pindah-pindah. Mungkin karena sifatnya ini maka dia tidak butuh rumah. Asalnya dari Asia Tengah. Di dalamnya ada beberapa etnis, dua di antaranya yang terkenal adalah etnis turki dan mongol. Mereka menjadi semakin kuat pada abad ke-4 M.

Yang namanya manusia zaman dulu (mungkin juga masih sampai sekarang), selalu rakus kekuasaan, tidak pernah puas dalam menguasai wilayah. Di abad ke-5, The Huns membuat sebuah kerajaan namanya Hunnic Empire. Waktu itu Attila yang memimpin.

Attila ini orang gila. Kata-kata yang terkenal darinya, “Di mana saya melintas, rumput tidak tumbuh lagi.” Ia dinobatkan sebagai raja paling sadis di dunia. Beberapa wilayah yang pernah jadi koleksi dia: Balkan, Serbia, Bulgaria, Yunani.

Semakin menggila. Semakin banyak sekutu yang dilibatkan. Serangan yang paling besar melibatkan 700.000 pasukan. Waktu itu Eropa Barat yang jadi sasaran. Perang di Eropa Barat cukup panjang kala itu. Kemenangan besar!

Entah ini dibuat-buat sama sejarawan atau memang betulan. Setelah serangan besar-besaran itu, Attila pulang ke istananya. Dia dapat istri baru, namanya Illdico. Malam itu mereka langsung memadu kasih. Pagi harinya, Attila ditemukan tanpa nyawa dengan darah mengucur dari hidungnya. Akhir yang tragis.

Drag Queen Semakin Berkembang

 Drag Queen from Key West
Drag Queen from Key West

Drag adalah salah satu sinonim dari “dress”. Kalau diartikan secara bahasa, Drag Queen adalah berbusana layaknya seorang ratu. Penuh warna warni, kerlap kerlip di seluruh bagian tubuh. Ribet ya? Okedeh, gini gampangnya, Drag Queen itu sebutan bagusnya untuk bencis, atau laki laki yang suka bergaya layaknya seorang wanita. Cukup jelas kan?

Saya tidak mengatakan apa pun tentang hasrat kelelakian mereka. Apakah ikut larut beserta gayanya atau tidak, saya tidak tahu. Mereka tidak suka dibilang gay, tidak suka dibilang wanita, mereka Drag Queen. Drag Queen ya Drag Queen! Ru Paul, salah satu Drag Queen yang cukup gandrung di negeri Paman Sam bilang, “I don’t dress like a woman; I dress like a drag queen!”

Hampir di seluruh penjuru bumi (inc. Indo) punya Drag Queen (u know lah). Dalam agama yang saya anut, itu salah besar. Wanita tidak boleh bergaya seperti lelaki dan sebaliknya. Tapi saya Cuma ingin bercerita, bukan berdebat tentang ini boleh atau tidak dalam strata sosial.

Menurut Wikipedia, Drag Queen juga punya strata dan budaya yang berbeda beda. Mungkin berdasarkan kemahiran mereka menyulap dirinya menjadi wanita? Saya juga kurang paham. Yang jelas mereka punya satu kesamaan yang tidak berubah dari dulu, suka dilihat banyak orang alias banci tampil dalam arti yang sesungguhnya. Lucunya, masyarakat senang akan tontonan itu. Makin menggilalah sang banci tampil.

Percaya atau tidak, saya pernah baca di satu majalah, Drag Queen punya semacam kontes tahunan. Banyak sekali Drag Queen yang datang di kontes ini. Tempatnya selalu di Thailand! Yap, Thailand, gudangnya Drag Queen dunia. Tempat di mana Anda dan saya tidak bisa membedakan mana perempuan tulen dan mana yang abal abal. Ini sungguhan! Paling tidak, itu yang dikatakan banyak artikel. Saya pun belum pernah melihatnya langsung.

Setiap tahun, kontes itu semakin besar, semakin berkembang. Ada juga website http://www.drag-queen.com/ yang menjual barang-barang khusus untuk para drag queener. Agak-agak geli ngeliat isi tu website. Ini bukti bahwa Drag Queen semakin meraja lela, semakin dikagumi masyarakat.

Kiamat sudah dekat !!!