Buka Cabang di Organik

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Go Organic. Dok: www.bekas.com
Go Organic. Dok: http://www.bekas.com

Munculnya cita-cita Deptan untuk Go Organik 2010, memberi efek positif bagi segala yang berembel-embel organik, termasuk pupuk organik. Kuantitas subsidi untuk pupuk organik ditingkatkan menjadi 474 Miliar pada tahun 2008. Jumlah subsidi per kg ditingkatkan, bahkan digratiskan pada program BLP (Bantuan Langsung Pupuk). Permintaan pupuk organik yang semakin besar ini menjadi peluang emas bagi produsen pupuk organik. Bahkan beberapa produsen yang tadinya belum bergerak di pupuk organik membuka cabangnya di bisnis pupuk organik.

Beberapa tahun terakhir, petani diminta oleh pemerintah untuk menggalakkan pemakaian pupuk organik. Dorongan dari pemerintah semakin kuat untuk menunjang ke arah itu. Subsidi pupuk organik ditingkatkan dari HET Rp1.000/kg di tingkat petani, diturunkan menjadi Rp500/kg, bahkan digratiskan pada program Bantuan Langsung Pupuk (BLP).

Dengan begitu, harapannya, petani akan terbiasa dengan pupuk organik sehingga ke depan petani secara sadar akan meningkatkan permintaan pupuk organik secara agregat. Kesempatan ini ditangkap oleh beberapa produsen organik sebagai peluang bisnis.

Tadinya hanya Petrokimia Gresik yang bergerak di pupuk organik, sekarang sudah ada Pusri, Kaltim, Kujang, dan Pertani yang ikut terjun ke organik. Kapasitas produksinya akan terus ditingkatkan dalam beberapa waktu ke depan.

Ambil saja contoh Kujang. Pada awal 2009, kapasitas produksinya sebesar 20 ribu ton per tahun. Muhammad Husein, Direktur Teknik dan Pembangunan PT. Pupuk Kujang, mengatakan akan meningkatkan kapasitas produksinya sampai 80 ribu ton di tahun ini. Target dalam tiga tahun ke depan, kapasitasnya menjadi 300 ribu ton/tahun, naik lima belas kali lipat dari sekarang.

Produksinya tidak difokuskan pada pabrik, tapi mengandalkan UKM dengan sistem kemitraan. Masalah terbesar dalam produksi pupuk organik adalah bahan baku. Kujang lebih memilih mengandalkan beberapa UKM yang letaknya dekat dengan sumber bahan baku daripada memproduksinya di satu pabrik.

Sejauh ini, sudah ada lima UKM yang menjadi mitra Kujang yang terletak di Sumedang, Sukabumi, Bandung, Tangerang, dan Ngawi. Baru 2008 kemarin dilakukan inisiasi pembentukan UKM-UKM itu. Saat ini sudah sampai tahapan pembicaraan yang lebih lanjut. Bahkan di Sukabumi sudah mencoba untuk memproduksi. Ditargetkan, tahun 2009 ini kelima mitra itu sudah aktif berproduksi. Inisiasi ke tempat-tempat lain akan terus dijajaki. Yang menjadi syarat utama dari Kujang adalah daerah itu punya potensi sumber bahan baku yang bagus.

Husein mengaku, program subsidi pupuk organik yang diamanahkan pemerintah kepada Kujang untuk program pupuk bersubsidi sebanyak 20 ribu ton, tapi dengan dikembangkannya UKM-UKM di berbagai daerah, Kujang sanggup kalau tahun ini jumlahnya ditingkatkan sampai 80 ribu ton.

Peningkatan produksi yang dilakukan Kujang setali tiga uang dengan yang dilakukan PT. Pertani. Perusahaan ini sudah lama memulai ke organik tapi dengan kapasitas yang kecil. “Pupuk organik mulai kami produksi sejak 1989. Produk pertama bernama Bokaplus. Berkembang pertama di Jawa barat, kedua di Sulawesi Selatan. Kemudian kami kerja sama dengan universitas dan Litbang Deptan, di Malang kami mengembangkan pupuk organik granule. Waktu itu kami hanya memproduksi 40 ton per bulan dalam satu tempat. Kami kemudian men-develop produk menjadi pupuk organik granule di Malang, hanya 15 ton per hari, masih kecil,” tutur Wahyu, Direktur Marketing PT. Pertani.

Sekarang, dari proyek BLP saja Pertani sudah harus menyiapkan 100 ribu ton per tahun. Untuk mencapainya, Pertani bermitra dengan 20 UKM yang tersebar se-Indonesia. Tugas UKM adalah mengumpulkan dan mencampurkan beberapa bahan organik yang tidak jauh dari kotoran hewan dan tumbuh-tumbuhan berdasarkan SOP yang diberikan Pertani. Kemudian Pertani menambahkan biofertilizer, mengemas, lalu menjual, termasuk untuk kebutuhan BLP. Pertani membayar UKM-UKM tersebut sebanyak harga pokok yang layak ditambah sekitar 10-15% dari harga pokok itu.

Karena sudah lama berkecimpung di organik, Pertani telah memiliki pasar di luar proyek BLP. “Kalau untuk pasar selain dari program BLP, kami menghitung sekitar 12 ribu ton untuk padat, kecil memang. Dibandingkan dengan yang NPK, baik yang subsidi maupun non-subsidi itu hampir 500 ribu ton/tahun,” kata Wahyu. Untuk pupuk organic cair, Pertani sudah mempunyai pasar sebesar 250 ribu liter, masih jauh di bawah kapasitas produksi maksimal, sebesar 1 juta liter.

Dengan jumlah produksi pupuk organik yang masih jauh lebih kecil dibandingkan kimia, maka pengembangan pupuk organik ini punya potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Wahyu mengatakan, potensi kebutuhan pupuk organik di Indonesia sebesar 1,5 juta ton per tahun, masih jauh dari produksi agregat saat ini. “Selanjutnya kalau kita bicara prospek bisnisnya adalah setelah adanya kesadaran petani untuk menggunakan pupuk organik. Dengan demikian tercipta demand. Kami menyadari itu tidak bisa tercipta dengan satu dua kali saja, minimal tiga tahun BLP organik ini plus sosialisasi,” jelasnya.

Ongkos Produksi

Setiap pabrik pupuk punya jenis produk organik yang berbeda-beda. Kujang sendiri saat ini punya tiga jenis produk; serbuk, granular, dan cair. Produk serbuk digunakan untuk tanaman pangan dan tanaman semusim lainnya. Granular untuk tanaman tahunan dan tanaman keras. Sedangkan produk cair untuk tanaman hortikultura. Ketiga jenis itu adalah produk pupuk organik yang murni. Saking semangatnya mengembangkan organik, Kujang juga menelurkan produk NPK Kujang plus organik, yaitu pupuk NPK yang sudah ditambahkan unsur organik.

Untuk pupuk organik serbuk dan granular, Kujang mengandalkan kotoran sapi sebagai bahan baku utama. Kemudian dicampurkan dengan kompos dari tumbuhan, limbah-limbah industri Kujang, dan beberapa bahan plus untuk pengkayaan pupuk. Butuh kotoran sapi dalam jumlah besar sehingga untuk efisiensi harus dilakukan melalui sistem kemitraan seperti di atas.

Mengenai biaya produksi, Husein mengatakan, per kilogram pupuk organik butuh ongkos produksi sebesar Rp1.200. Harus sampai ke konsumen dengan HET Rp500. Selisih harga dan ongkos distribusi ditanggung oleh pemerintah. Pertani pun tidak jauh berbeda. “Harga pokok  kami sebagai produsen ditetapknnya oleh kementrian BUMN itu Rp 1500-1600/kg (organik granule) itu blm termasuk biaya distribusi,” kata Wahyu. Ia menambahkan, pupuk organik memang dapat diproduksi dengan harga pokok Rp500-Rp600 tapi kualitasnya akan turun. Pemerintah menetapkan harga pokok sekaligus kualitas yang harus terkandung di dalamnya.

Menanggapi ongkos produksi tersebut, Dwi Andreas Santoso, dosen Ilmu Tanah dari IPB, mengatakan jumlah itu terlalu tinggi. “Apapun, kalau kita masuk ke company memang prinsipnya maximizing profit. Kalau begitu serahkan saja ke petani. Jangankan Rp1.200, kami sanggup hanya dengan Rp.600. Dengan kualitas yang sama persis dengan mereka. Bahkan kalau perlu kami tambahkan mikroorganisme yg memicu tumbuh tanaman. Kalau harga Rp1.200 itu dijadikan patokan, kami sangat tidak setuju. Kalau perlu, serahkan saja ke kelompok-kelompok tani, kami dengan SPI (Serikat Petani Indonesia) dan Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu yang organisir kelompok-kelompok tani itu,” jelasnya.

Henry Saragih, ketua umum SPI, kurang lebih sepakat dengan Andreas. “Seharusnya pemerintah tidak perlu mendistribusikan pupuk organik. Diajarkan saja petani memproduksi pupuk organik itu. Jadi yang penting materialnya disiapkan, misalnya sapi, kambing, itu yang harusnya disiapin. Itu (kebijakan. red) akan hanya menguntungkan perusahaan, itu dagang baru dari mereka, padahal itu semua sudah bisa diproduksi petani,” katanya.

Iklan

Telur Ayam, Masih yang Termurah

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Telur Ayam. Dok: www.jogja.tribunnews.com
Telur Ayam. Dok: http://www.jogja.tribunnews.com

Kebutuhan telur ayam di Indonesia sudah bisa dipenuhi dengan produksi sendiri alias swasembada. Namun, kita tidak bisa begitu saja berlega hati karena banyak hal yang dapat menggerus industri telur ayam ras sedikit demi sedikit. Tepung telur ayam dari luar negeri yang masuk ke pasar nasional bisa menjadi sebab. Telur dumping dari Malaysia pun tidak terasa sudah ikut andil. Keadaan tersebut berpotensi merusak pasar telur yang masih dinobatkan sebagai sumber protein hewani termurah.

Ada dua perubahan besar yang terjadi di industri peternakan ayam petelur Indonesia. Pertama, sekitar tahun 1950, ayam ras masuk menggantikan ayam kampong yang biasa dipelihara masyarakat di belakang rumah. Sebelum tahun 1950, masyarakat belum mengenal peternakan ayam petelur. Belum ada hitung-hitungan ekonomis. Asal bisa memberikan penghasilan tambahan saja. Kemudian perubahan yang kedua, produksi masal mulai digalakkan setelah masyarakat sudah terbiasa dengan telur ayam ras, yaitu sekitar tahun 1955.

Dari titik ini, kemajuan industri telur ayam terus meningkat, terutama produktivitasnya. “Pada saat awalnya ayam ras masuk ke Indonesia, produktivitasnya hanya sekitar 75%, artinya kalau peternak memiliki 1000 ayam petelur, maka dalam satu hari akan didapatkan 750 telur. Sekarang kita bisa katakan produktiviasnya sudah 85%. Itu angka rata-rata. Pada titik tertentu angkanya bisa mencapai 97%,” ulas Hartono, ketua Pinsar Unggas Nasional (Asosiasi Peternak Unggas se-Indonesia). Perlu diketahui bahwa BEP untuk industri telur ayam ini dicapai pada produktivitas 63%, tapi angka itu berfluktuasi tergantung harga pakan yang merupakan komponen biaya produksi terbesar, 70-80%, begitu yang disampaikan Ketut, salah satu peternak ayam petelur yang mengelola 200 ribu ekor ayam.

Ayam kampung tidak ditinggalkan sepenuhnya. Masih ada konsumen yang lebih memilih telur ayam kampung. Keadaannya sekarang, menurut Hartono, sekitar 90% peternak menggunakan ayam ras. Ini dikarenakan ayam kampung belum memiliki hitung-hitungan ekonomis yang bagus. Produktivitasnya masih rendah. “Bisa saja kita mencari galur petelur yang produktif dari ayam kampung, tapi ini membutuhkan waktu yang panjang dan biaya yang tidak sedikit. Kita Indonesia belum pernah melakukan itu.”

Semakin produktif tentu saja membuat harganya semakin kompetitif. Hartono bercerita bahwa dulu, tahun 50-70an harga telur setara dengan setengah harga daging. Sekarang keadaannya lebih baik lagi. Harga telur setara dengan seperempat harga daging. Inilah protein hewani yang termurah. Itu sebabnya masyarakat Indonesia semakin gandrung dengan telur. Telur ayam tidak sulit ditemukan di lemari es masyarakat Indonesia. Itu merupakan indikator penting.

Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia tidak kalah baiknya dari sisi teknologi. Kita sudah bisa membuat close farm dengan bagus. Peternakan yang dikelola Ketut bisa menggambarkan baiknya teknologi yang kita miliki. Modikfikasi sudah dilakukan untuk mendapatkan iklim yang sesuai dengan Indonesia. Ada flow angin yang dibuat khusus untuk mengurangi suhu di dalam kandang. Kandangnya pun sudah tertata dengan rapi. Ayam petelur yang umurnya masih muda mempunyai kandang yang berbeda dengan ayam yang sudah tua. Karyawan tidak boleh sembarangan keluar masuk kandang. Kalau baru masuk dari kandang ayam tua tidak boleh langsung masuk ke kandang ayam muda. Truk yang masuk ke daerah peternakan harus disemprot desinfektan untuk mengurangi risiko penyakit pada ayam. Semua sudah dilakukan Ketut. Teknologi baru yang ia dapatkan dari internet juga tidak segan-segan diaplikasikannya. “Tidak banyak yang berubah ilmu itu dari dulu sampai sekarang,” tuturnya.

Menanggapi masalah harga telur ayam di pasaran. Ketut merasa adanya Pinsar sangat membantunya. “Ada pedoman yang bisa dipegang, baik oleh produsen seperti saya maupun agen,” katanya. Perubahan harga biasanya tidak lebih dari Rp200/kg dari harga yang ditetapkan Pinsar.

Bisa Meningkat 16 Kali

Sekitar sembilan puluh persen produksi telur nasional disalurkan untuk konsumsi rumah tangga, sisanya masuk ke industri bakeri. Namun, angka konsumsi telur masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah, yaitu 80 butir per kapita per tahun. Artinya, rata-rata masyarakat hanya makan satu butir telur dalam empat hari. Ini menyedihkan, kata Hartono, mengingat seharusnya kecukupan gizi masyarakat baru dapat dipenuhi dari 2-4 butir telur sehari. Jadi, gizi baru tercukupi jika masyarakat memakan telur 16 kali lebih banyak dari biasanya.

Jika peningkatan konsumsi itu terjadi, tentu saja, produksi yang saat ini sebesar 900 ribu ton per tahun akan dirangsang naik. Apabila kenaikan sampai 16 kali lipatnya, maka menurut Hartono, akan ada peningkatan investasi di sektor ini sampai 200 triliun rupiah dan terciptanya 9 juta lapangan pekerjaan, baik yang langsung masuk ke peternakan maupun yang menjadi ikutannya, seperti jagung.

Tentunya angka ini masih butuh waktu yang lama sekali untuk dicapai. Memang bagus sekali meningkatkan kecerdasan masyarakat dengan memberikan gizi yang cukup. Jika masyarakat cerdas maka ia dapat memperbaiki perekonomian keluarganya sehingga bisa mendongkrak daya beli. Sayangnya, masyarakat belum cukup mampu untuk mencapai kecukupan gizi tersebut. Daya beli kita masih rendah. “Perlu waktu lama untuk menggapainya, kami harapkan dalam 40 tahun,” harap Hartono. Yang perlu dimunculkan terlebih dahulu adalah, hey, ini ada produk bagus, mari kita konsumsi lebih banyak.

Kuatir Dumping Malaysia

Perjalanan industri telur tidak semulus yang diharapkan. Hartono mencium beberapa sebab yang dapat menimbulkan gejolak. Sebut saja impor tepung telur dan telur segar yang masuk dengan harga dumping ke Indonesia.

Malaysia tidak segan-segan melemparkan kelebihan produksinya ke pasar Indonesia dengan harga dumping. Tujuan mereka hanyalah ingin mengamankan pasar mereka sendiri. Karena kelebihan produksi sedikit saja dapat mengganggu keseimbangan pasar. Kalau harga di Indonesia 13 ribu maka Malaysia berani jual 12 ribu. Walaupun mungkin dari ongkos produksi tidak menutupi, tapi Malaysia tetap jual murah. Tujuannya ingin mengamankan pasar dalam negerinya.

Siapa yang tidak mau telur murah? Importir Indonesia dengan senang hati menerima telur dumping dari Malaysia tersebut. Efeknya ada pada produsen dalam negeri. Produknya tidak bisa bersaing. Sedikit demi sedikit ini akan menggerus industri telur dalam negeri. “Ini sudah banyak terjadi. Secara legalitas memang mereka dapatkan dari daerah khusus Batam. Makanya kami berusaha mati-matian menghapus keistimewaan Batam untuk produk-produk tertentu,” tegas Hartono.

Jangan sampai kejadian seperti Haiti dan Ghana terjadi pada Indonesia. Haiti menjadi net importir sedangkan Ghana sekarang harus impor ayam dari Brazil dan Amerika. Menurut Hartono itu karena mereka awalnya membuka keran impor sehingga industri ayam mereka mati. Mungkin awalnya negara diuntungkan karena bisa mendapatkan barang murah. Tapi kalau sudah bergantung maka harga bisa dimainkan. “Nah, ketahanan nasional ini yang harus kita jaga. Kami selalu bersuara kalau ada yang mengatakan bahwa impor itu adalah jalan keluar,“ semangatnya.

Singapura – Kuala Lumpur 6 Hari Bersama Bayi; Day 6/6

Perjalanan saya, istri, dan anak umur 1,5 Tahun selama travelling di Singapura dan Kuala Lumpur pada September 2015

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Hari Kedua – Singapore Botanical Garden, Orchard Road, Bugis Street, Harbour Front

Hari Ketiga – Sentosa Island, Johor Baru Sentral

Hari Keempat – Kuala Lumpur Sentral, Batu Caves, Muzium Negara, Dataran Merdeka, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Kelima – KLCC, Little India, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Keenam – KLIA, Soekarno Hatta Airport

Pukul 3 pagi sudah siap-siap. Tepat pukul 4 kami sudah berangkat ke KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Sampai Airport pukul 5.15. Cukup banyak saya ngobrol dengan sang supir. Taksi di Kuala Lumpur semuanya harus menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG) yang bisa diisi di banyak pom Petronas. Harga BBG ini murah banget. Biasanya sehari narik, supir taksi hanya perlu RM20 untuk mengisi gas. Padahal dari argo antar saya ke bandara saja sudah hampir RM100.

Supir taksi ada dua jenis. Pertama, supir yang ada di bawah perusahaan taksi. Mereka mendapat pinjaman taksi dan harus menyetor sejumlah tertentu setiap harinya. Kedua adalah supir yang sudah memiliki mobilnya sendiri. Nah, ini yang untungnya besar banget. Karena setorannya hanya berupa pajak saja yang jumlahnya tidak banyak.

Taksi yang saya naiki adalah taksi pribadi. Jadi, kalau modal gas sampai bandara RM10, sementara argonya RM100, pagi itu dia bisa bawa RM90 masuk kantongnya, atau sekitar Rp315 ribu.

Kata supirnya, Lion Air di KLIA 2, terminal baru. Saya sudah sampai KLIA 2, tanya baik-baik dengan petugas di Information Center. Katanya Lion Air di KLIA, bukan KLIA 2. “Silakan naik train nanti baru mulai jam 6,” kata petugas.

“Pesawat saya 7.40, kalau baru jam 6 nanti bisa telat check in. Apa bisa naik taksi atau pilihan yang lain?” tanya saya.

“Salah sendiri kenapa ke KLIA 2,” jawabnya ketus.

Wah, jawabannya sudah tidak enak. Saya ambil opsi lain saja lah. Saya telepon supir taksi yang tadi dan minta dia jemput kembali di KLIA 2 dan antar ke KLIA. Alhamdulillah tidak lama kemudian dijemput lagi. Argo tidak dinyalakan dan saya tidak diminta bayaran tambahan.

Proses imigrasi tidak lama. Pesawat boarding sekitar pukul 7.00. Saya sempat beli burger 2 buah di Dunkin Donuts, seharga RM12. Kembali ke Jakarta…

Singapura – Kuala Lumpur 6 Hari Bersama Bayi; Day 5/6

Perjalanan saya, istri, dan anak umur 1,5 Tahun selama travelling di Singapura dan Kuala Lumpur pada September 2015

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Hari Kedua – Singapore Botanical Garden, Orchard Road, Bugis Street, Harbour Front

Hari Ketiga – Sentosa Island, Johor Baru Sentral

Hari Keempat – Kuala Lumpur Sentral, Batu Caves, Muzium Negara, Dataran Merdeka, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Keenam – KLIA, Soekarno Hatta Airport

Hari Kelima – KLCC, Little India, Pasar Seni, Petaling Street

Petronas Tower
Petronas Tower

Baru menjelang siang saya sampai di stasiun KLCC. Di sini target utamanya hanya foto-foto dengan Background Petronas Tower atau Twin Tower. Petronas Tower sejatinya adalah gedung perkantoran biasa, hanya saja, karena tinggi banget dan punya kembaran, jadinya terkenal deh.

Kami jalan kaki ke KL Tower dari Petronas Tower. KL Tower adalah menara telekomunikasi yang menjulang tinggi 421 meter. Badningkan dengan Monas yang tingginya 132 meter saja. Kita bisa naik sampai puncak KL Tower, tapi ada tiketnya.

Bas Go KL lewat dekat KL Tower. Kami naik sampai Little India atau orang lokal lebih familiar dengan “Masjid India”. Memang betul, wajah-wajahnya India banget. Di sini kebanyakan jual kain dan kurang banyak pilihan untuk oleh-oleh. Masjidnya seperti masjid biasa saja.

Dari Little India, kami lanjut jalan kaki ke Pasar Seni lagi. Sebetulnya semalam sudah dari Pasar Seni, tapi rasanya masih kurang untuk beli oleh-oleh. Makannya di Restoran Yusoof & Zakir. Memang recommended ini tempat makan India.

Roti Pratha Onion
Roti Pratha Onion

Kemarin juga kami makan di sini. Isinya makanan India yang banyak sekali variannya. Harganya terbilang murah. Roti canai butter hanya RM2,5. Curry Chicken RM4. Teh tarik panas RM1,5. Kalau mau pesan air hangat, pesannya “air suam” yang harganya RM0,2. Jangan seperti saya, yang sok tahu pesan “Ais Kosong” eh keluarnya air dingin pakai es yang harganya RM0,3. Kami makan dan minum sampai puas habisnya RM13.

Setelah Pasar Seni, Petaling Street, pulang ke Wangsa Maju lagi. Tadinya mau coba naik bas dari Wangsa Maju ke Taman Melawati. Nomor bas-nya itu U20. Di papan tertulis 20 menit lagi. Tapi sudah ditunggu 30 menit, tulisannya di papan masih 16 menit lagi. Wah, sudah tidak betul ini. Jadi saya naik taksi lagi, RM8.

List menu di Restoran Yusoof dan Zakir
List menu di Restoran Yusoof dan Zakir
MRT penuh dengan pekerja pada jam pulang
MRT penuh dengan pekerja pada jam pulang

Siap-siap packing supaya besok tinggal angkut barang. Saya sudah pesan taksi untuk dijemput pukul 4 pagi (sama dengan pukul 3 pagi di Jakarta). Ohya, taksi di sini ditulis “Teksi”. Sebagian taksi bertuliskan nama supir di pintu depan, jadi kita bisa tahu siapa nama supirnya hanya dengan melihat dari luar.

Singapura – Kuala Lumpur 6 Hari Bersama Bayi; Day 4/6

Perjalanan saya, istri, dan anak umur 1,5 Tahun selama travelling di Singapura dan Kuala Lumpur pada September 2015

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Hari Kedua – Singapore Botanical Garden, Orchard Road, Bugis Street, Harbour Front

Hari Ketiga – Sentosa Island, Johor Baru Sentral

Hari Kelima – KLCC, Little India, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Keenam – KLIA, Soekarno Hatta Airport

Hari Keempat – Kuala Lumpur Sentral, Batu Caves, Muzium Negara, Dataran Merdeka, Pasar Seni, Petaling Street

Kereta Senandung Sutera yang saya naiki dari Johor Baru tadi malam, sudah sampai ke Kuala Lumpur tepat pukul 7 pagi, sesuai schedule. Saya dan isteri merasa segar karena bisa tidur nyenyak di kereta. Kami langsung ke KFC untuk sarapan. Dua paket sarapan dengan kopi harganya RM15.

Anak istri ganti baju dan popok di nursery room (Bahasa Malaysianya: Bilik Persalinan Bayi). Kalau saya mah, tidak perlu mandi J. Saya jaga di luar sambil cari-cari info. Rupanya ada City Tour dengan bas bertuliskan Hop In Hop Off seharga RM45 atau sekitar Rp160.000/orang. Dengan City Tour itu sudah berhenti ke 23 tempat dan hampir semua tempat wisata terkunjungi. Tapi jadinya kurang bebas untuk jalan-jalan. Saya memilih jalan sendiri saja.

Transportasi kereta di KL hampir sama baiknya dengan di Singapura, tetapi dengan harga yang jauh lebih murah. Sebagai pembanding, perjalanan dari KL Sentral ke Batu Caves sekitar 30 menit tarifnya RM2 atau Rp7.000. Kalau di Singapore bisa Rp25.000. Meski begitu, KRL Indonesia tetap paling murah, cuma Rp5.000 sudah perjalanan satu jam sampai Bogor J

Loker sewaan di Kuala Lumpur Sentral
Loker sewaan di Kuala Lumpur Sentral

Kami sewa loker di KL Sentral untuk taruh tas carrier dan tas oleh-oleh. Bagus juga ada penyewaan loker begini, jadi kita bisa taruh barang-barang, terus lanjut jalan-jalan lagi. Tidak perlu ke penginapan dulu. Tarif sewa loker bervariasi tergantung besarnya loker, variannya adalah RM10, RM15, dan RM20. Saya sewa yang RM15. Tarif ini adalah tarif per hari atau per buka kunci.

Ohya, di KL Sentral juga ada tempat mandi yang beroperasi dari pukul 6 pagi sampai 9 malam. Tarifnya RM5 untuk dewasa dan RM2 untuk anak-anak. Keren banget deh ini KL Sentral.

Destinasi pertama kami adalah Batu Caves. Kami naik satu kali kereta sekitar setengah jam. Dari stasiun Batu Caves ke tempat wisatanya hanya berjalan kaki 5 menit.

Batu Caves itu sesuai namanya, goa yang terbuat dari batu. Di sana juga menjadi tempat ibadahnya umat Hindu. Jadi banyak sekali orang India di sini. Tempat makannya juga hampir semua masakan India. Tempat wisata ini gratisan. Biasanya wisatawan banyak bermain dengan burung dara jinak yang mengerubungi makanan di halaman Batu Caves, atau menggoda kera-kera liar yang wara wiri. Anak saya sempat menggoda kera liar dan balik digoda (dicolek sedikit) lalu dia langsung nangis.

Halaman Batu Caves
Halaman Batu Caves

Untuk mencapai puncak Batu Caves, kita harus menaiki ratusan anak tangga. Sepanjang anak tangga itu banyak kera liar di kanan kiri. Hati-hati saja kalau bawa makanan. Saya gendong backpack dan menenteng stroller yang sudah dilipat. Istri saya gendong anak. Atau sebaliknya. Sebentar-sebentar kami istirahat.

Batu Caves penuh dengan kerumunan burung dara
Batu Caves penuh dengan kerumunan burung dara

Sampai di puncak, ada lagi sekawanan burung dara jinak. Di atas juga ada tempat ibadah umat Hindu. Kami istirahat agak lama, karena lumayan pegal juga naik tangga segitu banyak sambil gendong anak.

Sudah naik, ya harus turun. Tangga yang dilewati ya ratusan lagi. Di bawah, kami makan di tempat makan vegetarian India. Macam-macam kami makan, tidak hanya roti cane, tapi juga planta dan thosai. Semua disajikan dengan piring penjara yang sudah ada lekuk-lekuk untuk karinya. Wah, kami makan dan minum sampai puas. Habisnya RM16 atau sekitar Rp56.000.

Dari Batu Caves, kembali lagi ke KL Sentral, lalu naik bas gratisan Go KL ke Muzium Negara. Sebetulnya jalan kaki juga tidak jauh. Tiket masuk Muzium Negara untuk wisatawan lokal RM2/orang, sedangkan untuk turis luar RM5/orang. Saya terhitung turis luar, hehe.

Koleksi Keris di Muzium Negara
Koleksi Keris di Muzium Negara

Muzium Negara isinya semua tentang sejarah dunia dan sejarah Malaysia. Di situ bisa dipajang beberapa jenis keris, tapi tidak di-claim keris Malaysia tuh. Beberapa keris saya lihat namanya Keris Sulawesi dan Keris Palembang. Menurut saya ini bukti bahwa sebetulnya Malaysia tidak sembarang claim budaya Indonesia menjadi budayanya. Tetap kok masih dicantumkan asalnya.

Berikutnya, kami ke Masjid Negara, cuma mampir sebentar melihat tempat wudhu dan tempat sholatnya. Lanjut berjalan kaki ke Dataran Merdeka atau Merdeka Square. Sayangnya semua sudah tutup, termasuk Tourist Information Centre. Di Dataran Merdeka, ada tulisan besar I Love KL yang biasa dijadikan background untuk foto-foto.

Dataran Merdeka punya nilai histori yang tinggi untuk Malaysia. Bendera Malaysia pertama kali dikibarkan di tempat ini pada 31 Agustus 1957, sekaligus meruntuhkan kekuasaan Inggris di Malaysia. Di sini ada tiang bendera setinggi 95 meter yang konon menjadi tiang bendera tertinggi di dunia.

4-Central Market bagian dalamDestinasi penutup hari ini adalah Pasar Seni/ Central Market dan Petaling Street. Keduanya adalah tempat belanja oleh-oleh yang lokasinya berdekatan. Harus jago tawar kalau di sini. Jika tidak sesuai, tinggalkan saja. Masih banyak penjual lain dengan barang serupa.

Pernak-pernik yang dijual di Petaling Street
Pernak-pernik yang dijual di Petaling Street

Naik train dari Pasar Seni kembali ke KL Sentral, ambil tas di loker, lalu pulang ke tempat saudara saya di Taman Melawati, turun di stasiun Wangsa Maju. Dari stasiun naik taksi bayar RM10.

Singapura – Kuala Lumpur 6 Hari Bersama Bayi; Day 3/6

Perjalanan saya, istri, dan anak umur 1,5 Tahun selama travelling di Singapura dan Kuala Lumpur pada September 2015

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Hari Kedua – Singapore Botanical Garden, Orchard Road, Bugis Street, Harbour Front

Hari Keempat – Kuala Lumpur Sentral, Batu Caves, Muzium Negara, Dataran Merdeka, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Kelima – KLCC, Little India, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Keenam – KLIA, Soekarno Hatta Airport

Hari Ketiga – Sentosa Island, Johor Baru Sentral

Istri saya mengajak kembali ke Sentosa Island. Tapi hari ketiga ini sebetulnya jadwal langsung ke Johor Baru untuk lanjut ke Kuala Lumpur. Jadilah kami bawa semua bawaan sekalian ke Sentosa Island, supaya tidak perlu bolak-balik ambil tas ke Tanah Merah. Saya bawa tas carrier digemblok belakang dan backpack di gemblok depan. Istri saya bawa tas oleh-oleh sambil dorong stroller. Kalau dibawa enjoy, jadinya enjoy-enjoy saja jadinya J

USS, Sentosa Island
USS, Sentosa Island

Makan siang di KFC Harbour Front lagi, ambil satu rice bucket lagi plus soft drink, $5 alias Rp50.000. Setelah puas makan, kami naik ke atas untuk naik monorail Sentosa Express. Monorail ini punya beberapa pemberhentian di Sentosa Island. Tiketnya $4/orang. Bayi gratis. Uang segitu sudah termasuk untuk naik Sentosa Express dan tiket masuk Sentosa Island.

Ini baru masuk Sentosa Island-nya saja loh ya, belum masuk ke wahana-wahana yang ada di dalamnya, seperti USS, Adventure Cove Waterpark, dan SEA Aquarium. Apa-apa bayar di sini mah, dan muahal. Tiket USS saja itu $70-an, atau sekitar Rp700 ribu. USS ini seperti Dufan kalau di Jakarta. Nah, Sentosa Island-nya ini mirip Ancol. Masuk Ancol kan bayar dan masuk wahananya bayar lagi, sama seperti masuk Sentosa bayar dan masuk wahananya bayar lagi.

Istri cuma beli oleh-oleh permen di Candylicious, toko permen di Sentosa. Habis itu balik lagi deh ke Harbour Front, untuk kemudian ke Stasiun Woodsland naik MRT.

Di Woodsland, kita urus imigrasi. Beda dengan masuk Singapura yang saya sempat ditanya macam-macam, pas keluar Singapura itu ya langsung saja dicap.

Candylicious, Sentosa Island
Candylicious, Sentosa Island

Nah, sekarang masuk Malaysia nih. Ngecapnya bukan di Woodsland, tapi naik bas (sebutan bis/bus di Malaysia) dulu ke Johor Baru Sentral. Cepat juga sih prosesnya. Tidak ditanya macam-macam, langsung dicap. Sepertinya saya barengan dengan pulang kerjanya orang Malaysia yang kerja di Singapura, jadi antriannya lumayan. Mereka cuma bawa tas kerja saja, atau tidak bawa tas sama sekali. Berarti kan sudah biasa keluar masuk Singapura.

Kami sholat dulu di Johor Baru Sentral. Di sini mushola dipisah antara laki-laki dan perempuan. Dipisah di sini bukan hanya diberi hijab pemisah, tetapi benar-benar pisah ruangan. Pisah ruangannya juga bukan sebelah-sebelahan, agak jauh. Kalau mau tanya di mana letak mushola, tanyanya di mana langgar? Langgar berarti mushola.

Sedikit tips lagi, katakan “kereta” dengan “kereta api”. Karena “kereta” di Malaysia berarti mobil. Maka pantas saja petugas bea cukai nya bingung-bingung waktu saya tanya, di mana kereta ke Kuala Lumpur? Baru bisa jawab setelah saya bilang “train”.

“Ooh kereta api…” katanya.

Sejak itu saya lebih milih pakai Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia.

Waktu itu sudah pukul 21.30 waktu setempat. Saya minta istri saya untuk istirahat di tempat tunggu penumpang kereta (di tulisan ini, saya sebut kereta maksudnya kereta api). Biar saya yang cari tiket ke Kuala Lumpur. Sejak awal rencananya saya naik sleeping train, yaitu gerbong kereta yang ada tempat tidurnya, jadi bisa tidur di jalan. Daripada duduk tapi tidak bisa lihat apa-apa, karena sudah malam.

Tadinya si petugas bilang tiket sleeping train untuk keberangkatan 22.30 sudah habis. Lalu istri saya datang sambil dorong stroller yang diisi anak saya.

“Ooh ada bayi,” kata si petugas.

Lalu dia ngutak ngatik komputernya, tiba-tiba jadi ada lagi tiket sleeping train. Wah, alhamdulillah. Rezeki anak ini namanya. Harga tiket RM45 untuk tempat tidur bawah dan RM39 untuk tempat tidur bawah. Kami hanya menunggu setengah jam. Pukul 22.00 sudah dipanggil masuk kereta. Nama keretanya romantis deh: Senandung Sutera.

Saya sempat beli makanan di KFC. Dua paket burger-kentang-soft drink dan semacam roti isi semua harganya RM20 alias Rp70.000. Wah ini mah murah banget dibanding Singapura. Kami makan di kereta. Istri dan anak saya tidur di bawah, saya di atas. Saya langsung tidur dan bangun-bangun sudah subuh pukul 6 pagi. Kereta sampai KL Sentral pukul 7 pagi. Jadi perjalanan sleeping train Johor Baru ke KL adalah 8,5 jam.

Singapura – Kuala Lumpur 6 Hari Bersama Bayi; Day 2/6

Perjalanan saya, istri, dan anak umur 1,5 Tahun selama travelling di Singapura dan Kuala Lumpur pada September 2015

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Hari Ketiga – Sentosa Island, Johor Baru Sentral

Hari Keempat – Kuala Lumpur Sentral, Batu Caves, Muzium Negara, Dataran Merdeka, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Kelima – KLCC, Little India, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Keenam – KLIA, Soekarno Hatta Airport

Hari Kedua – Singapore Botanical Garden, Orchard Road, Bugis Street, Harbour Front

Pagi-pagi saya langsung dorong stroller ke Singapore Botanical Garden. Naik MRT turun di Botanical, tiketnya $2,7/orang. Ini taman gratisan yang terawat bagus. Satu-satunya taman tropis di dunia yang diberi penghargaan oleh UNESCO World Heritage Site. Dari taman ini, Singapura melakukan diplomasi bunga dengan Indonesia. Salah satu koleksi anggreknya dinamai Iriana Jokowi. Nama Ani Yudhoyono juga pernah masuk dalam list diplomasi bunganya Singapura.

Pertama kali masuk, saya langsung lihat papan peta lokasi. Besar dan banyak. Ada taman-taman tematik seperti Fragrant Garden, Healing Garden, Herbs & Spices, Fruit Trees, Nut Trees, dll… Buat yang suka tumbuhan, bagus banget nih. Buat pengetahuan anak-anak bagus. Buat yang mau jogging di taman juga bagus J Dan memang banyak yang jogging di sini.

Kotak brosur di Singapore Botanical Garden
Kotak brosur di Singapore Botanical Garden

Terdapat boks berisi brosur di bawah papan peta besar. Di atas boks itu, kita dipesani: Drop your used brochures here for others to reuse. Yaah, betul juga sih. Biasanya brosur itu cuma terpakai sekali, lalu menumpuk di rumah dan dibuang. Lebih baik kita kembalikan saja setelah dipakai.

Anak saya hanya main-main sebentar di Eco Lake, bersama burung-burung dara yang jinak, angsa, dan kura-kura, lalu lanjut ke luar lewat Nassim Gate, karena itu adalah pintu terdekat menuju Orchard Road.

Sepanjang perjalanan, anak saya sering minta berhenti untuk disusui. Kalau sudah begitu ya disusui saja di sembarang tempat, dengan menggunakan apron. Biasanya setelah disusui sudah tidak rewel, jadi bisa jalan lagi. Kalau anak saya ketiduran, bisa ditaruh di stroller. Jadi dia tetap tidur, tapi perjalanan bisa lanjut. Saya dan isteri sering bergantian, yang satu gemblok tas, yang satu dorong stroller.

Eco Lake di Singapore Botanical Garden
Eco Lake di Singapore Botanical Garden

Dari Singapore Botanical Garden, kami jalan kaki menuju Orchard Road, lewat Nassim Road. Tinggal lurus saja, tapi agak jauh. Mau naik kendaraan umum juga mau naik apa? Gojeg belum sampai ke Singapura.

Sampai Orchard Road, kami langsung cari makan di food court salah satu pusat perbelanjaan. Saya cari yang restoran India muslim supaya jelas halalnya. Saya dan istri pesan dua porsi nasi dengan ayam, harganya $11. Tempatnya sempit dan orangnya ramai. Untung ada larangan merokok.

Orchard Road adalah salah satu jalan paling terkenal di Singapura. Kenapa terkenal? Karena di sini adalah pusat perbelanjaan dan entertainment. Banyak yang bilang, belum ke Singapura kalau belum ke Orchard Road. Padahal menurut saya mah biasa saja. Ya seperti pusat perbelanjaan biasa.

Oleh-oleh gantungan kunci di Bugis Street
Oleh-oleh gantungan kunci di Bugis Street

Istri saya mulai cari oleh-oleh di sini. Tempelan kulkas, gantungan kunci, cokelat, banyak pilihannya di Orchard Road. Tapi saya lebih merekomendasikan Bugis Street untuk cari oleh-oleh. Semua yang isteri saya beli di Orchard Road ada di Bugis Street dengan harga yang sama atau lebih murah.

Minuman yang dijual di Bugis Street
Minuman yang dijual di Bugis Street

Kami mampir ke masjid Al-Falah, dekat Paragon Shopping Centre, untuk sholat. Masjidnya masih dalam pembangunan, mungkin perluasan. Kami istirahat sebentar dan minum sampai puas J

Lepas sholat, langsung menuju Bugis Street. Saya coba menggunakan bus biasa dari Orchard Road. Nah, kalau naik bus biasa, stroller harus dilipat dan ditenteng ke dalam. Saya tanya supirnya berapa ongkos ke Bugis? Dia bilang $1,4/orang. Lalu saya masukkan uang ongkos ke semacam celengan yang langsung bisa menghitung sendiri. Tiket langsung keluar otomatis. Jadi tidak perlu kenek J

Di Bugis, apalagi aktivitasnya selain beli oleh-oleh? Istri saya langsung kalap dan beli macam-macam, ya cokelat, gelas, tempelan kulkas. Cokelat di sini memang murah. Toblerone ukuran sedang sebanyak 6 buah itu dihargai $10, atau sekitar Rp17.000 per buah. Gantungan kunci 24 buah harganya $10 atau sekitar Rp4.000/ buah. Murah sih, tapi tidak murah murah amat juga. Istri saya beli banyak, sampai beli 1 tas lagi khusus untuk oleh-oleh J

Sudah menjelang maghrib, tapi kami tetap jalan lagi ke Horbour Front, untuk menuju ke Sentosa Island. Rupanya monorail Sentosa Express sudah tutup pukul 19.00. Jadi ya sudah, kami hanya lihat-lihat Sentosa dari pinggir Harbour Front saja. Sebetulnya ada jembatan untuk pejalan kaki menuju Sentosa Island, tapi sudah malam dan kelihatannya lumayan jauh juga. Lebih baik pulang saja.

Seven Eleven seperti warung kecil
Seven Eleven seperti warung kecil

Sebelum pulang, kami makan malam di KFC Harbour Front. Ambil 2 rice bucket dan 2 kue kecil untuk anak, totalnya $11. Harga segitu terbilang murah banget di pusat perbelanjaan Singapura. Rice bucketnya banyak sampai kami sulit menghabiskannya.

Ohya, di stasiun Tanah Merah, saya menemukan Seven Eleven (Sevel) yang ukuran tokonya seperti toko kelontong, kecil dan penuh sesak dengan barang dagangan. Beberapa Sevel yang saya jumpai di Singapore, selain di Tanah Merah, juga modelnya sama. Jauh berbeda dengan di Jakarta yang biasanya besar-besar dan ada tempat nongkrongnya.