Arsip untuk Januari, 2017

02
Jan
17

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

img-20150815-00548

Bus menuju Kuching

Hari Ketiga, 17 Agustus 2015. Saya dan Umar menuju Kuching dari Serian dengan bus besar. Tarifnya RM5 atau sekitar Rp17 ribu untuk sekali jalan. Jalanan lengang, tidak ada macet. Jalannya seperti jalan tol, tapi motor boleh masuk. Tidak ada bayar tol juga. Jalannya lebar dan mulus.

Mobil-mobil pribadi yang banyak saya lihat adalah Proton. Ini adalah produk asli Malaysia. Modelnya macam-macam, tidak monoton. Kalau di Indonesia bagaimana? Apa kabar mobil nasional? Apa konsumen Indonesia senang pakai mobil nasional?

Sampai Kuching, saya masuk sebuah mal yang kalau di Jakarta mirip-mirip ITC. Pakaian mahal-mahal. Elektronik kurang lebih sama. Kalau urusan motor, nah mereka ketinggalan. Masak motor yang dipajang di mal itu modelnya seperti Astrea Grand yang di Indonesia dipasarkan sekitar tahun 90-an. Jadul banget.

img-20150816-00558

Jajanan di Kuching

Di luar mal banyak penjual makanan. Harganya kurang lebih sama seperti di Indonesia. Chicken Rice RM4, Fried Chicken Rice RM5, Hot dog + egg RM2,4, Hot dog + egg + cheese RM3,5.Makanan-makanan itu dijual di tempat seperti kaki lima di Indonesia.

Jalan sedikit dari mal itu, saya menuju Waterfront Kuching, melewati patung kucing yang besar. Waterfront adalah istilah untuk tepi laut atau tepi sungai. Kondisinya terawat bersih. Air sungainya juga bersih sekali. Malah ada yang jual jasa wisata naik kapal menyeberang sungai untuk menikmati sungai yang bersih itu.

Kebetulan waktu itu sedang ada pameran gratisan di Waterfront. Seperti pameran budaya di Indonesia. Jadi Negara-negara bagian di Malaysia buat stand dan menampilkan budayanya masing-masing. Kurang lebih sama seperti pameran di Indonesia, saya kurang tertarik.

Hanya 1 jam saya di Kuching, lalu cari bus balik menuju Serian lalu ke Tebeddu. Tebeddu adalah perbatasan Malaysia yang langsung nempel dengan Entikong. Saya cap passport lagi, lalu kembali ke Tayan untuk bekerja kembali seperti biasa.

Tiga hari perjalanan saya ini ditukar dengan pengalaman yang luar biasa. Ketemu teman baru, mendengar cerita-cerita baru, melihat hal-hal baru, menikmati makanan baru, mencoba angkutan umum baru, merasai budaya baru. Luar biasa…

 

#HABIS

02
Jan
17

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Ini adalah perjalanan hari kedua, 16 Agustus 2015.

Umar berprofesi sebagai penjual sayur mayur. Jadi sejak subuh dia sudah keliling dengan motor tuanya dengan gendongan besar di sebelah kanan kiri motornya. Umar keliling ke kampung-kampung sekitar. Sosoknya sederhana sekali, uang hanya dicari seperlunya saja, asal bisa makan dan bisa shodaqoh untuk masjid di dekat rumahnya.

TIba-tiba dia datang dengan membawa banyak durian. “Durian di sini dagingnya empuk, tebal, dan manis. Mas Iqbal harus coba!” Langsung saya sikat. Padahal semalam saya hanya ngobrol biasa saja, menyampaikan bahwa saya senang sekali makan durian. Paginya langsung dibawakan.

Tidak lama kami berkemas untuk menuju Serian. Pertama menggunakan angkot menuju Entikong. Angkotnya seperti kebanyakan yang ada di Jakarta. Ongkosnya seingat saya Rp12 ribu untuk perjalanan sekitar 30 kilometer. Jalanan sepi dan berkelok-kelok.

Saya periksa kembali passport saya, kuatir lupa dibawa. Alhamdulillah ada. Passport masih kosong, belum ada satupun cap. Sebentar lagi saya mendapat cap pertama.

Entikong bukanlah kota, tetapi lebih mirip desa yang ramai. Banyak penginapan. Banyak penjual makanan. Saya dan Umar langsung menuju loket imigrasi untuk minta cap.

img-20150816-00570

Pos Imigrasi Entikong

Pertama, loket Indonesia, lalu loket Malaysia. Keduanya mudah. Petugas beberapa kali melihat wajah saya, memastikan sama dengan foto yang ada di passport. Suasana loket Malaysia terlihat lebih sepi lebih teratur. Di loket Indonesia banyak orang, banyak pedagang, termasuk pedagang nomor Malaysia dan pedagang RInggit. Saya beli satu nomor Malaysia seharga RM10 atau setara Rp35 ribu. Sekaligus saya tukar rupiah dengan ringgit.

Tidak jauh dari loket Malaysia terlihat beberapa mobil angkutan umum. Bentuknya agak besar seperti mobil L300. Umar menyebutnya “Len”. Ini sebutan untuk angkutan umum yang lazim saya dengar juga di daerah Jawa Timur. Entah orang Malaysia menyebutnya apa.

img-20150815-00544

Len dari Tebeddu (perbatasan Entikong) ke Serian

Kami naik len itu menuju Serian. Tapi len baru berangkat setelah penumpang ramai. Jadi budaya “ngetem” ya ada juga di Malaysia. Bedanya, di Malaysia, kalau sudah jalan, ya jalan terus sampai tujuan.

Sampai Serian, kami masuk pasar yang lokasinya dekat dengan terminal. Ada penjual minuman segar, harganya flat RM1 atau sekitar Rp3.500. Ada air tebu, ada laici, dan air Bandung. Kok bisa ada bandung di sini? Lagipula, apa itu air Bandung?

Pasarnya mirip pasar tradisional di Indonesia, tapi lebih bersih. Yang dijual kurang lebih sama. Kebanyakan penjual di sini yang saya perhatikan adalah dari etnis Melayu, Dayak Iban, dan China. Dayak Iban adalah Dayak yang agak Chinese. Kulitnya putih atau kuning langsat.

img-20150815-00546

Roti Cane

Agak keluar dari pasar, saya mampir ke tempat makan roti cane. Penjualnya orang India yang kesulitan bahasa melayu. Buat saya, di sini lebih enak pakai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Lebih jelas maksudnya sama. Kalau bahasa Indonesia, memang mirip dengan bahasa Melayu, tapi banyak tidak nyambungnya.

Roti cane di sini enak sekali. Murah juga. Saya dan Umar makan sampai puas dengan cane, kari kambing, teh tarik. Sudah nambah-nambah segala, habisnya RM18 atau sekitar Rp60 ribu.

Saya dan Umar dijemput temannya Umar, namanya Pak Sukino. Dia orang Jawa juga, merantau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih banyak hasilnya. “Tapi tidak lama lagi saya kembali ke Jawa, sekitar 6 bulan lagi,” kata Pak Sukino.

Pak Sukino, saking lamanya di Malaysia, sudah berlogat melayu. Logat Jawanya sudah hilang blas. Dia bekerja di pabrik kecil yang mengolah kayu besar menjadi potongan-potongan kayu kecil. Dia membuat rumah sederhana di dekat pabrik tersebut. Anak buahnya kebanyakan orang Malaysia, yang juga membuat rumah-rumah sederhana di dekat pabrik.

Pak Sukino bercerita tentang bosnya yang orang China yang tinggal di Malaysia Barat, mungkin Kuala Lumpur. “Dia kalau ke sini pakai passport,” kata Pak Sukino.

Loh kok sama-sama Malaysia tapi pakai passport?

Setelah saya Googling, memang tidak semua warga Malaysia bebas masuk ke semua wilayah Malaysia. Serawak punya peraturan khusus. Orang Malaysia di luar Serawak yang ingin masuk Serawak harus mengurus Pass Khusus atau Passport Biru atau Dokumen Perjalanan Terhad (DPT). Urusannya di Kantor Imigrasi juga.

Itu adalah syarat yang diberikan Serawak ketika diminta masuk dalam satu Negara Malaysia. Kalau Malaysia menolak syarat itu, mungkin Serawak akan masuk Indonesia kali ya… atau bikin Negara sendiri.

Kembali ke Pak Sukino. Dia juga bercerita tentang WNI yang bekerja tanpa surat. WNI itu memang punya passport, tapi hitungannya bukan bekerja. Jadi jatah tinggal di Malaysia-nya hanya 30 hari. Setiap bulan, WNI itu harus menuju perbatasan untuk mendapat perpanjangan lagi. “Itu disebut cop pusing,” kata Pak Sukino.

Masih banyak yang kami obrolkan, termasuk cerita-cerita sensitif yang tidak pantas saya ceritakan di sini. Kami ngobrol sampai tengah malam.

 

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)

02
Jan
17

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 2/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Setelah dikerjai  pengendara mobil dari simpang Tayan ke Sosok, dan naik bus yang sempat mogok dari Sosok, saya bisa istirahat dulu di Balai Karangan. Saya mampir di tempat makan sederhana, sekadar beli minum. Makanan yang ada di sini tidak jauh beda dengan yang biasa saya lihat. Sate, pecel, nasi padang, dkk.

Saya mampir ke salah satu masjid. Setelah sampai ke tempat baru, saya biasanya mampir ke masjid. Ngobrol dengan warga lokal. Minta izin tidur di masjid itu. Kadang diizinkan, kadang malah disuruh menginap di rumahnya. Kebanyakan disuruh menginap di rumahnya. Termasuk kali ini di Balai Karangan.

Saya bertemu dengan Umar Hamdan. Dia seorang guru mengaji. Aslinya adalah orang Jawa. Umurnya masih sekitar 34 tahun. Kisah hidupnya begitu penuh intrik. Satu cerita yang menurut saya paling mengesankan saya ceritakan sbb:

Umar dan ibunya ditinggalkan sang Ayah karena program transmigrasi yang diikuti oleh sang Ayah. Waktu itu Umar masih bayi. Maka sejak itu, Umar tidak lagi melihat sang Ayah yang akhirnya pergi ke Kalimantan Barat bersama istri baru sang Ayah.

Kalimantan Barat termasuk salah satu provinsi terluas di Indonesia. Apa bekal Umar untuk mencari sang Ayah? Hanya nama sang Ayah? Mana mungkin? Tapi Umar tidak memikirkannya. Umar semakin terpicu karena seorang kenalannya dari Kalimantan Barat mengaku mengetahui nama yang disebut-sebut Umar sebagai ayahnya. Lokasinya di Sanggau.

Saat menjejak ke Kalimantan pada 2003, umur Umar sekitar 21 tahun. Satu bulan sejak kedatangannya ke Kalimantan, Umar baru betul-betul yakin bahwa Ayahnya adalah seorang pemilik warung makan sederhana di Sanggau. Tidak ada rasa rindu, sedih, bahagia, atau rasa apapun, ketika Umar pertama kali bertemu Ayahnya. Di warung makan itu, Umar memesan makanan. Sang Ayah menghidangkan makanan pesanan kepada pengunjung warung makannya, tanpa tahu bahwa pengunjung itu adalah anak kandungnya yang telah ditinggalkannya 20 tahun lalu.

Selepas makan, Umar mengajak pemilik warung berbincang. Umar bertanya, “Apa Bapak mempunyai anak?”

“Iya, umurnya sekitar 21 tahun sekarang,” jawab pemilik warung.

“Bapak tahu namanya?” tanya Umar.

“Tentu saja. Karena saya yang memberi nama. Namanya Umar Hamdan,” kenang pemilik warung.

“Sayalah anak Bapak itu,” kata Umar sambil menatap Ayahnya.

Tapi aneh, tidak ada rasa apapun yang muncul dalam hati Umar. Tidak ada mata yang berkaca-kaca. Tidak ada suara yang tiba-tiba serak. Mungkin karena terlalu lama, sehingga rasa itu sudah pudar, menjelang hilang.

Begitu juga sang Ayah. Dia tidak percaya yang sedang berhadapan dengannya itu adalah anaknya. Tidak ada rasa yang muncul.

Rasa itu baru muncul beberapa waktu kemudian, setelah sang Ayah mengonfirmasi ke beberapa sanaknya di Jawa. Sang Ayah luluh dalam rasanya, entah itu sedih, bahagia, sesal, kurang jelas. Yang jelas, Umar tetap belum memiliki “rasa” itu.

Buat saya, kisah Umar ini menarik sekali. Lebih menarik dari seluruh cerita dan pengalaman yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini.

Saya diminta Umar untuk tidur di rumahnya. Dia dan teman-temannya tertarik dengan laptop yang saya bawa. Nah, ini memang menjadi salah satu senjata rahasia saya untuk membuat orang tertarik, apalagi anak-anak. Saya buka Google Map dan melakukan zoom-in sampai lokasi tempat kami berada. Itu saja sudah membuat banyak yang tertarik.

Keinginan saya untuk sampai ke Kuching saya sampaikan ke Umar. Kebetulan sekali besok Umar berencana pergi ke Serian tempat saudaranya. Serian adalah daerah di Malaysia yang sejalur dengan perjalanan menuju Kuching. Langsung saya iyakan sesaat setelah Umar mengajak pergi bersama.

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)

02
Jan
17

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 1/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Saya dapat project di Tayan (Kalimantan Barat) selama 4 bulan. Untuk sampai ke Tayan, perlu perjalanan 2 jam lagi dari tempat pesawat mendarat di Supadio, Pontianak. Sepanjang perjalanan Pontianak – Tayan ini, saya beberapa kali melihat bus besar jurusan Pontianak – Brunei. Saya pikir, wah, sudah dekat Brunei nih. Kalau ada waktu saya mau main ke sana ah…

Tapi waktu tak kunjung datang. Libur saya cuma Sabtu-Minggu. Itu tidak cukup untuk jalan-jalan ke Brunei. Dengan libur 3 hari pun tidak cukup. Perjalanan ke Brunei saja bisa 24 jam penuh sendiri, dengan bus international. Jadi saya ubah haluan, menuju Kuching.

Hari pertama, 15 Agustus 2015. Saya nebeng teman ke simpang tiga Tayan (yang satu menuju Pontianak, yang satu Tayan, satu lagi Entikong). Info yang saya dapat, travel ke Entikong baru ada sore, padahal waktu itu masih sekitar jam 11. Sambil makan di suatu rumah makan, saya ngobrol dengan sesama pengunjung. Rupanya dia agak sejalan dengan saya. Dia ke Sanggau, jadi saya bisa ikut sampai Sosok. Dia ajak bareng, wah pas banget.

Jalan Tayan-Sosok ini wih… hancur lebur! Berdebu dan banyak batu. Kepala goyang-goyang terus. Heran… jalan antar Negara bisa rusak parah begini, berkilo-kilo lagi. Di Sosok inilah saya pisah. Tiba-tiba dia minta uang. Dua ratus ribu. Padahal di depan diam-diam saja. Padahal kalau pakai kendaraan umum biasanya seratus ribu saja. Penganiayaan ini namanya.

Ya sudah, saya turun di Sosok. Di sini banyak orang jualan masakan ber-babi. Jadi sebelum memilih tempat makan, saya tanya dulu, halal kah?

Sekitar satu sampai dua jam saya tunggu bus yang lewat menuju Entikong. Saya nunggu di halte sederhana, ditemani anjing yang melihat saya terus. Jalan sedikit, lihat saya lagi. Julurkan lidah, lihat saya lagi. Jalan lagi, lihat saya lagi. Kurang kerjaan itu anjing.

Lama nunggunya memang, tapi akhirnya dapat bus. Tarifnya murah, cuma sekitar Rp20.000. Busnya seperti Metro Mini di Jakarta. Agak lebih besar sedikit. Masalah ugal-ugalannya sama, tapi bedanya di sini jalanan sepi, jadi tidak terlalu ketara kalau bus berjalan dengan brutal.

img-20150814-00536

Mini Bus dari Sosok ke Balai Karangan

Di bagian kiri depan bus ada tulisan CV Yudha Pratama. Mungkin itu nama perusahaan bisnya. Tapi saya googling kok alamat perusahaannya di Surabaya??

Pintu bus ada dua. Satu di kiri depan dengan bagian atas tertulis “In” dan satu di bagian kiri belakang dengan tulisan “Out”. Tapi jelas itu meaningless. Kalau mau turun naik ya bisa dari depan bisa dari belakang. Bagian atas bus penuh dengan barang yang diselubungi terpal. Termasuk ada motor dan ada ban bus. Mungkin ban cadangan. Di dalam bus, penumpang dijejali bersama karung dengan isi penuh. Entah isinya apaan.

Di tengah jalan, bus mogok tidak kuat nanjak. Semua penumpang turun tanpa diperintah. Semua menunggu di  tengah-tengah hutan yang tidak lebat. Untung tidak hujan. Kru bus langsung memasukkan kepalanya lewat roda kiri depan. Entah dia mencari apa. Tapi 10 menit kemudian mesin bus bisa nyala kembali. Kami penumpang yang kerjaannya cuma bisa nonton kru bus wara wiri, kembali naik ke atas bus. Tancap!

Tapi di tancap juga kok jalannyasegitu-segitu saja. Cuma sekitar 20 km/jam. Kadang-kadang kalau jalan lurus bisa sampai 40 km/jam.

Karena suasana sudah agak gelap, dan saya tahu bahwa untuk lewat batas Negara cuma bisa sampai sore saja, saya putuskan untuk turun dan menginap di Balai Karangan dulu. Balai Karangan adalah nama Kecamatan yang letaknya cukup dekat dengan Kecamatan Entikong. Sekitar 30 kilometer sebelum perbatasan di Entikong.

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 2/4)




Januari 2017
S S R K J S M
« Nov   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031