Resensi Buku ONDEL ONDEL NEKAT KELILING DUNIA Luigi Pralangga

IMG20180527171141Yang saya tangkap, ini adalah blog yang dibukukan. Bahasanya sangat sehari-hari dan sangat Jakarta, jadi saya yang besar di Jakarta bisa begitu menikmati buku ini.

Ini adalah cerita asli dari hidupnya Luigi, seorang peacekeeper. Yang saya tahu, Luigi bekerja di UN. Disebutnya banyak bagian di UN, tapi saya belum bisa membedakannya. Pokoknya UN lah. Atau Bahasa Indonesia-nya PBB – Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lanjutkan membaca “Resensi Buku ONDEL ONDEL NEKAT KELILING DUNIA Luigi Pralangga”

Iklan

Resensi Buku PINCALANG Idris Pasaribu

IMG20180507052341Saya langsung terbius membaca buku ini. Tidak tebal, sehingga cepat sekali habis. Idris Pasaribu menuliskan kisah hidup seorang Pincalang bernama Amat. Pincalang adalah manusia perahu, yang seumur hdupnya tinggal di perahu. Walaupun tidak betul-betul seumur hidup, karena sering juga berlabuh ke pulau beristirahat.

Kejahatan tidak hanya ada di kehidupan darat, juga ada di kehidupan laut. Lanjutkan membaca “Resensi Buku PINCALANG Idris Pasaribu”

Resensi Buku LITTLE PRINCES Connor Grennan

IMG20180507052324
Little Princess by Connor Grennan

Ini adalah cerita perjalanan seorang backpacker asal Amerika, Connor, yang niat awalnya keliling dunia tapi kemudian di tengah perjalanannya terpanggil untuk membantu anak-anak korban perdagangan manusia di Nepal. Anak-anak itu sejatinya adalah anak baik-baik dari keturunan baik-baik. Mereka adalah anak-anak desa yang oleh orang tuanya dititipi ke seseorang untuk dipindahkan dari desanya, ke tempat manapun yang aman.

Kalau anak-anak itu tetap di desanya, mereka sangat mungkin akan diminta paksa ikut dalam semacam gerakan separatis, yang ingin menggulingkan pemerintahan Nepal. Lanjutkan membaca “Resensi Buku LITTLE PRINCES Connor Grennan”

Krisis Keuangan Pasti Datang

korjak
http://www.ebooks.gramedia.com

Koran Jakarta kemarin (11 Maret 2018) headline-nya: Krisis Keuangan Pasti Datang, Hanya Soal Waktu. Judul ini membuat saya agak bergidik. Yang namanya krisis ekonomi itu tidak enak. Bank bisa tutup, orang dibatasi pengambilan uangnya di ATM hanya maksimal 60 Euro per hari, ini terjadi di Yunani. PHK dilakukan, padahal utang masih banyak. Uang tidak punya harganya lagi seperti di Zimbabwe, jadi pada pakai emas untuk alat tukar, karena nilainya lebih stabil.

Kengerian itu yang muncul waktu baca Koran Jakarta. Lalu saya cek video-video di Youtube tentang krisis ekonomi di US. Banyak pengamat yang berpendapat sama dengan headline Korjak. Kalau krisis 2008 masih bisa ditolong dengan quantitive easing-nya US, jadi dana murah gampang didapat. Untuk krisis berikutnya tidak bisa begitu (kata Korjak). Lanjutkan membaca “Krisis Keuangan Pasti Datang”

Prototipe Pemetik Daun Teh

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Pemetik Teh. Dok: www.pleisbilongtumi.wordpress.com
Pemetik Teh. Dok: http://www.pleisbilongtumi.wordpress.com

Memang sulit sekali keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Pada umumnya, kesejahteraan didapat dari ilmu pengetahuan, tapi untuk mendapatkan ilmu tersebut dibutuhkan batas kesejahteraan tertentu. Dilema seperti inilah yang membawa Iyam, salah satu pemetik daun teh di Gunung Mas, Bogor, tetap menjadi pemetik teh di usianya yang hampir mencapai setengah abad. Kemiskinan tidak bisa ia lepaskan dari kehidupannya dan anak-anaknya.

Setiap hari, kecuali Minggu, Iyam melakukan aktivitas yang sama. Ia bangun pukul empat pagi untuk mempersiapkan hidangan untuk keluarga dan membersihkan rumah layaknya ibu rumah tangga yang lain. Pukul enam Iyam sudah mulai berkemas karena pukul tujuh dirinya dan ratusan pemetik teh yang lain harus sudah mulai memetik teh. Biasanya, Iyam berada di kebun selama sembilan jam per hari. Istirahat hanya dilakukan seadanya saja sambil makan siang dengan makanan yang ia bawa dari rumah, tentunya sudah dalam keadaan dingin. Makanan hangat di siang hari terasa sangat mahal baginya. Setelah selesai di kebun, Iyam bergegas pulang ke rumah untuk mempersiapkan makan malam keluarganya. Acara nonton TV bersama keluarga hanya dapat dinikmatinya sejenak saja karena keesokan harinya Iyam harus bangun pukul empat pagi lagi. Perjuangan seperti ini sudah dilakukan Iyam sejak tiga puluh tahun yang lalu. Tetapi senyuman bahagia tidak pernah lekang dari wajahnya.

Suami Iyam mempunyai pekerjaan utama yang sama, memetik teh. Tapi namanya tidak tercantum seebagai pemetik teh, ia hanya membantu Iyam saja. Kadang-kadang, ia juga berjualan mainan anak-anak di sebuah lapangan yang ramai ketika hari Minggu. Iyam mempunyai lima orang anak. Hanya satu yang masih belum menikah karena masih duduk di bangku Sekolah Dasar. ”Kalau sudah lulus SMP juga langsung saya nikahkan seperti keempat kakaknya,” ungkap Iyam sambil tersenyum. Bangku SMA hanya menjadi angan-angan saja bagi keluarga kecil ini. Bangku kuliah tidak mampu ia bayangkan sama sekali.

Sumber penghidupan Iyam dan keluarganya didapat dari hasil memetik daun teh. Iyam dan suaminya rata-rata bisa memetik daun sebanyak 25 kg per hari yang dapat ia tukarkan dengan uang sebesar Rp13500 (1 kg daun teh = Rp540). Jika beruntung, sang suami bisa memberikan tambahan Rp80000 per bulan dari hasil berjualan mainan anak-anak. Berarti pendapatan per bulan keluarga ini tidak lebih dari Rp500000. Sejumlah uang ini harus terdistribusi dengan sangat baik ke pos-pos pembelanjaan rumah tangga untuk membuatnya tetap hidup.

Iyam sangat ingin untuk terlepas dari lingkaran kemiskinan. Ia berharap paling tidak anak-anaknya sukses, tidak seperti dirinya. ”Tapi apa mungkin lulusan SMP seperti anak-anak saya bisa kaya? Kalaupun ada, kemungkinannya sangat kecil,” sela Iyam dengan tidak melepas senyumannya.

Kisah seperti ini tidak hanya terjadi pada Iyam saja, masih ada ratusan Iyam lain di perkebunan teh ini dengan kehidupan dan penghidupan yang tidak jauh berbeda.

Homesick

Saya bikin tulisan ini di hari ke-34 perjalanan saya keliling Sumatera. Entah kapan saya bisa upload ke blog. Mudah-mudahan secepatnya saya temukan warnet dan hati saya digerakkan untuk masuk ke warnet itu.

Akhirnya saya bisa pahami kenapa kawan-kawan kuliah saya dulu, di bulan-bulan awal, beberapa yang rumahnya di luar Jawa tiba-tiba jadi pendiam dan malas bergaul dengan kami, teman-teman satu lorongnya. Dia lebih senang sendirian di kamar asrama atau keluar gak tahu ke mana, pokoknya sendirian.

Dok: temah8.blogspot.com

Itu juga yang saya rasakan sekarang. Saya sedang tidak mau keluar, sedang tidak berkeinginan buat ngobrol sama sekali. Walau hari ini adalah natal dan saya sedang berada di Sumut, yang itu berarti bakal banyak cerita di luar sana, tapi saya lebih ingin sendirian.

Saat ini, makanan seenak apapun tidak bisa mengalahkan makanan rumah. Penginapan sebaik apapun tidak bisa mengalahkan kamar di rumah. Rupanya begini rasanya homesick.

Sekarang ini saya benar-benar merasa sendirian. Walau banyak orang-orang baru kenal yang memberikan saya tempat tinggal, dan segudang informasi, tapi tetap itu tidak bisa menggantikan suasana ketika saya di rumah. Walau ada puluhan orang di sekeliling saya, tapi saya merasa sendirian.

Maka saya juga jadi paham, ketika dulu abang kelas saya teriak-teriak kesetanan di Bogor waktu dikabari rumah dan seluruh keluarganya terbawa tsunami di Aceh. Walaupun memang kelewatan juga dia, karena dalam islam tidak boleh sampai teriak-teriak begitu. Tapi saya bisa sedikit pahami apa yang dia rasakan waktu itu.

Pembelajaran 34 hari ini betul-betul mendalam dan terlalu banyak sepertinya. Saya merasakan bagaimana perut bisa menjadi musuh yang sangat nyata, bisa membuat orang melakukan hal-hal salah dan dia sendiri tahu itu salah. Tapi bagaimana lagi? Perut sudah berkehendak.

Saya merasakan betapa saya hidup sangat berkelebihan di Jakarta, bisa makan, tidur, dan mencari penghidupan dengan tenang. Karena saya tinggal dengan orang-orang yang sama-sama berkelebihan, maka nilai “berkelebihan” itu menjadi tidak terasa. Padahal di pedalaman Mentawai, orang punya TV saja itu hitungannya sudah kaya.

Saya baru bisa merasakan nikmat makanan berlimpah di Jakarta setelah tahu bahwa masih banyak orang yang kulkas saja tidak punya, dan tidak punya stok bahan makanan untuk besok. Besok, kalaupun punya uang, pilihan bahan makanan yang orang jual dalam radius 30 km itu tidak banyak.

Kelihatannya, orang itu baru benar-benar bisa bersyukur setelah dia tahu apa yang dia dapatkan itu tidak bisa didapatkan orang lain.

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin.

Mendekatkan Panggang dengan Api Anak Jalanan

Walaupun berjarak empat puluh kilometer dari Ibukota, Bogor masih banyak mengadopsi budaya Jakarta. Saya kerja di daerah Baranang Siang yang menjadi pusat kota Bogor. Tidak ada perbedaan besar dengan Jakarta. Baranang Siang juga dikelilingi restoran-restoran besar, mal-mal megah, factory outlet bagus, dan sebagainya. Juga selalu ada unsur anak jalanan, pengemis, dan kaum pinggiran lainnya.

Kampung Cieheuleut hanyalah salah satu perkampungan yang dihuni oleh kaum termarjinalkan tersebut. Kami yang tergabung dalam relawan SABOR (Saung Belajar Anak Bogor) mencoba meminimalkan ketimpangan tersebut dengan jalan pendidikan.

Selasa dan Minggu menjadi agenda rutinan kami untuk mengajar. Karena pemahaman yang belum banyak, belum ada metode terarah untuk isi pembelajaran di dalamnya. Kami hanya mengikuti kurikulum dari sekolah, sedikit ditambah dengan Bahasa Inggris.

Suatu waktu, saya coba perkenalkan laptop dan Microsoft Word pada salah seorang anak seumuran SMP. Anak asuh saya ini tertarik sekali mempelajarinya. Saya bukakan MS Word lalu saya tugaskan dia mengetik. Maka satu setengah jam matanya tidak lepas dari layar dan keyboard berusaha mencari huruf-huruf untuk menyusun kata. Terkadang butuh puluhan detik beranjak dari satu huruf ke huruf lain, pertanda jarang sekali menggunakan keyboard.

Dia bilang bahwa pernah sekali belajar di salah satu rental kampus dekat tempat tinggalnya. Dengan pembelajaran dari saya waktu itu, berarti dia baru dua kali memencet tuts keyboard, setelah belasan tahun hidup. Dua kali!

Besar sekali keinginan saya memperkenalkan internet lebih lanjut kepada mereka. Apa daya, kami tidak punya dana besar, hanya bergantung pada dana relawan saja. Namun, mimpi itu masih tetap saya tanam. Suatu saat nanti, saya ingin satu per satu anak asuh saya tersebut memegang laptop berakses internet. Saya ajarkan membuat blog dan mengutarakan pandangan dan keluh kesah mereka. Saya ajarkan membuat akun facebook lalu memberikan link ke pejabat dan orang-orang pengambil keputusan sehingga mereka bisa protes langsung dan memberikan ide langsung kepada pejabat terkait.

Semangat belajar mereka besar. Terlihat dari pupil matanya ketika relawan memberikan penjelasan tentang bilangan desimal, tentang kalimat majemuk, dsb. Sayangnya akses mereka terbatas. Andai akses internet masuk pada mereka, tentunya api semangat mereka akan lebih dekat dengan segala hal berbau ilmu pengetahuan.