Prototipe Pemetik Daun Teh

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Pemetik Teh. Dok: www.pleisbilongtumi.wordpress.com
Pemetik Teh. Dok: http://www.pleisbilongtumi.wordpress.com

Memang sulit sekali keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Pada umumnya, kesejahteraan didapat dari ilmu pengetahuan, tapi untuk mendapatkan ilmu tersebut dibutuhkan batas kesejahteraan tertentu. Dilema seperti inilah yang membawa Iyam, salah satu pemetik daun teh di Gunung Mas, Bogor, tetap menjadi pemetik teh di usianya yang hampir mencapai setengah abad. Kemiskinan tidak bisa ia lepaskan dari kehidupannya dan anak-anaknya.

Setiap hari, kecuali Minggu, Iyam melakukan aktivitas yang sama. Ia bangun pukul empat pagi untuk mempersiapkan hidangan untuk keluarga dan membersihkan rumah layaknya ibu rumah tangga yang lain. Pukul enam Iyam sudah mulai berkemas karena pukul tujuh dirinya dan ratusan pemetik teh yang lain harus sudah mulai memetik teh. Biasanya, Iyam berada di kebun selama sembilan jam per hari. Istirahat hanya dilakukan seadanya saja sambil makan siang dengan makanan yang ia bawa dari rumah, tentunya sudah dalam keadaan dingin. Makanan hangat di siang hari terasa sangat mahal baginya. Setelah selesai di kebun, Iyam bergegas pulang ke rumah untuk mempersiapkan makan malam keluarganya. Acara nonton TV bersama keluarga hanya dapat dinikmatinya sejenak saja karena keesokan harinya Iyam harus bangun pukul empat pagi lagi. Perjuangan seperti ini sudah dilakukan Iyam sejak tiga puluh tahun yang lalu. Tetapi senyuman bahagia tidak pernah lekang dari wajahnya.

Suami Iyam mempunyai pekerjaan utama yang sama, memetik teh. Tapi namanya tidak tercantum seebagai pemetik teh, ia hanya membantu Iyam saja. Kadang-kadang, ia juga berjualan mainan anak-anak di sebuah lapangan yang ramai ketika hari Minggu. Iyam mempunyai lima orang anak. Hanya satu yang masih belum menikah karena masih duduk di bangku Sekolah Dasar. ”Kalau sudah lulus SMP juga langsung saya nikahkan seperti keempat kakaknya,” ungkap Iyam sambil tersenyum. Bangku SMA hanya menjadi angan-angan saja bagi keluarga kecil ini. Bangku kuliah tidak mampu ia bayangkan sama sekali.

Sumber penghidupan Iyam dan keluarganya didapat dari hasil memetik daun teh. Iyam dan suaminya rata-rata bisa memetik daun sebanyak 25 kg per hari yang dapat ia tukarkan dengan uang sebesar Rp13500 (1 kg daun teh = Rp540). Jika beruntung, sang suami bisa memberikan tambahan Rp80000 per bulan dari hasil berjualan mainan anak-anak. Berarti pendapatan per bulan keluarga ini tidak lebih dari Rp500000. Sejumlah uang ini harus terdistribusi dengan sangat baik ke pos-pos pembelanjaan rumah tangga untuk membuatnya tetap hidup.

Iyam sangat ingin untuk terlepas dari lingkaran kemiskinan. Ia berharap paling tidak anak-anaknya sukses, tidak seperti dirinya. ”Tapi apa mungkin lulusan SMP seperti anak-anak saya bisa kaya? Kalaupun ada, kemungkinannya sangat kecil,” sela Iyam dengan tidak melepas senyumannya.

Kisah seperti ini tidak hanya terjadi pada Iyam saja, masih ada ratusan Iyam lain di perkebunan teh ini dengan kehidupan dan penghidupan yang tidak jauh berbeda.

Iklan

Homesick

Saya bikin tulisan ini di hari ke-34 perjalanan saya keliling Sumatera. Entah kapan saya bisa upload ke blog. Mudah-mudahan secepatnya saya temukan warnet dan hati saya digerakkan untuk masuk ke warnet itu.

Akhirnya saya bisa pahami kenapa kawan-kawan kuliah saya dulu, di bulan-bulan awal, beberapa yang rumahnya di luar Jawa tiba-tiba jadi pendiam dan malas bergaul dengan kami, teman-teman satu lorongnya. Dia lebih senang sendirian di kamar asrama atau keluar gak tahu ke mana, pokoknya sendirian.

Dok: temah8.blogspot.com

Itu juga yang saya rasakan sekarang. Saya sedang tidak mau keluar, sedang tidak berkeinginan buat ngobrol sama sekali. Walau hari ini adalah natal dan saya sedang berada di Sumut, yang itu berarti bakal banyak cerita di luar sana, tapi saya lebih ingin sendirian.

Saat ini, makanan seenak apapun tidak bisa mengalahkan makanan rumah. Penginapan sebaik apapun tidak bisa mengalahkan kamar di rumah. Rupanya begini rasanya homesick.

Sekarang ini saya benar-benar merasa sendirian. Walau banyak orang-orang baru kenal yang memberikan saya tempat tinggal, dan segudang informasi, tapi tetap itu tidak bisa menggantikan suasana ketika saya di rumah. Walau ada puluhan orang di sekeliling saya, tapi saya merasa sendirian.

Maka saya juga jadi paham, ketika dulu abang kelas saya teriak-teriak kesetanan di Bogor waktu dikabari rumah dan seluruh keluarganya terbawa tsunami di Aceh. Walaupun memang kelewatan juga dia, karena dalam islam tidak boleh sampai teriak-teriak begitu. Tapi saya bisa sedikit pahami apa yang dia rasakan waktu itu.

Pembelajaran 34 hari ini betul-betul mendalam dan terlalu banyak sepertinya. Saya merasakan bagaimana perut bisa menjadi musuh yang sangat nyata, bisa membuat orang melakukan hal-hal salah dan dia sendiri tahu itu salah. Tapi bagaimana lagi? Perut sudah berkehendak.

Saya merasakan betapa saya hidup sangat berkelebihan di Jakarta, bisa makan, tidur, dan mencari penghidupan dengan tenang. Karena saya tinggal dengan orang-orang yang sama-sama berkelebihan, maka nilai “berkelebihan” itu menjadi tidak terasa. Padahal di pedalaman Mentawai, orang punya TV saja itu hitungannya sudah kaya.

Saya baru bisa merasakan nikmat makanan berlimpah di Jakarta setelah tahu bahwa masih banyak orang yang kulkas saja tidak punya, dan tidak punya stok bahan makanan untuk besok. Besok, kalaupun punya uang, pilihan bahan makanan yang orang jual dalam radius 30 km itu tidak banyak.

Kelihatannya, orang itu baru benar-benar bisa bersyukur setelah dia tahu apa yang dia dapatkan itu tidak bisa didapatkan orang lain.

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin.

Mendekatkan Panggang dengan Api Anak Jalanan

Walaupun berjarak empat puluh kilometer dari Ibukota, Bogor masih banyak mengadopsi budaya Jakarta. Saya kerja di daerah Baranang Siang yang menjadi pusat kota Bogor. Tidak ada perbedaan besar dengan Jakarta. Baranang Siang juga dikelilingi restoran-restoran besar, mal-mal megah, factory outlet bagus, dan sebagainya. Juga selalu ada unsur anak jalanan, pengemis, dan kaum pinggiran lainnya.

Kampung Cieheuleut hanyalah salah satu perkampungan yang dihuni oleh kaum termarjinalkan tersebut. Kami yang tergabung dalam relawan SABOR (Saung Belajar Anak Bogor) mencoba meminimalkan ketimpangan tersebut dengan jalan pendidikan.

Selasa dan Minggu menjadi agenda rutinan kami untuk mengajar. Karena pemahaman yang belum banyak, belum ada metode terarah untuk isi pembelajaran di dalamnya. Kami hanya mengikuti kurikulum dari sekolah, sedikit ditambah dengan Bahasa Inggris.

Suatu waktu, saya coba perkenalkan laptop dan Microsoft Word pada salah seorang anak seumuran SMP. Anak asuh saya ini tertarik sekali mempelajarinya. Saya bukakan MS Word lalu saya tugaskan dia mengetik. Maka satu setengah jam matanya tidak lepas dari layar dan keyboard berusaha mencari huruf-huruf untuk menyusun kata. Terkadang butuh puluhan detik beranjak dari satu huruf ke huruf lain, pertanda jarang sekali menggunakan keyboard.

Dia bilang bahwa pernah sekali belajar di salah satu rental kampus dekat tempat tinggalnya. Dengan pembelajaran dari saya waktu itu, berarti dia baru dua kali memencet tuts keyboard, setelah belasan tahun hidup. Dua kali!

Besar sekali keinginan saya memperkenalkan internet lebih lanjut kepada mereka. Apa daya, kami tidak punya dana besar, hanya bergantung pada dana relawan saja. Namun, mimpi itu masih tetap saya tanam. Suatu saat nanti, saya ingin satu per satu anak asuh saya tersebut memegang laptop berakses internet. Saya ajarkan membuat blog dan mengutarakan pandangan dan keluh kesah mereka. Saya ajarkan membuat akun facebook lalu memberikan link ke pejabat dan orang-orang pengambil keputusan sehingga mereka bisa protes langsung dan memberikan ide langsung kepada pejabat terkait.

Semangat belajar mereka besar. Terlihat dari pupil matanya ketika relawan memberikan penjelasan tentang bilangan desimal, tentang kalimat majemuk, dsb. Sayangnya akses mereka terbatas. Andai akses internet masuk pada mereka, tentunya api semangat mereka akan lebih dekat dengan segala hal berbau ilmu pengetahuan.

Indon Under Attack!

Tidak terasa, Indonesia sedang diserang!
Tidak terasa, Indonesia sedang diserang!

Di suatu forum seminar, Handito, presiden dari sebuah perusahaan konsultan mengatakan bahwa Carrefour meminta izin kepada pemerintah kita untuk memberikan izin impor kepada mereka. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Carrefour merupakan salah satu peritel besar yang ada di Indonesia, dan dia milik asing!

Kalau pemerintah betul-betul memberikan izin impor, pastinya akan lebih banyak lagi barang luar yang dipajang di Carrefour. Dilihat dari kacamata konsumen, it’s ok, bahkan bagus, konsumen diberikan lebih banyak pilihan. Tapi kalau kita melihat di bawah sana, produsen-produsen Indonesia, mereka belum sanggup untuk bersaing dengan produk luar.

Memang, pasar tradisional masih menjadi pasar utama di Indonesia saat ini, tapi nampaknya peritel-peritel besar semakin lama semakin menggusur keberadaan pasar tradisional. Artinya, akan semakin banyak orang yang berangkat ke Carrefour daripada ke pasar becek. Efeknya, produk local akan semakin tidak dilirik.

Nah, jelas terlihat bahwa kita diserang oleh produk-produk luar. Mungkin awalnya produk-produk impor tersebut hanya bercokol di etalase. Tapi karena selalu ada di etalase, jadi terciptalah pembeli. “Supply create demand,” begitu kata Gardjita Budi, Direktur Pemasaran Domestik Deptan.

Itu tidak hanya dilakukan peritel. Sepanjang pengetahuan saya, produk-produk MLM banyak sekali yang memasarkan produk-produk dengan brand luar (mohon dikoreksi jika salah). Mungkin bahan dasarnya dari Indonesia, tapi prosesnya bukan dikerjakan di Indonesia. Yang dapat untung besar siapa? Ya jelas manufaktur dan si penjualnya yang langsung berjabatan dengan konsumen. Starbucks beli kopi mentah dari Lampung kemudian dia jual dengan harga 10 kali lipatnya. Indonesia (petani kopi, pengumpul, pengumpul besar) dapat 1, Starbucks dapat 10. Kelemahan Indonesia selalu di hilir. Padahal emasnya ada di hilir.

Semakin banyak konsumen yang membeli produk impor maka akan semakin banyak pasar local yang sudah terbentuk sekian lama pindah ke pasar luar. Kalau dibiarkan, pasar local akan mati, pasar luar akan mendominasi yang kemudian akan memonopoli harga. Jadi, apa Anda akan terus menggunakan produk asing?

WARWICK PURSER: Pahlawan dari Tembi

“Edisi depan, kita angkat Indonesian Craft!” kata bos saya sambil memberikan sebuah buku tebal seberat hampir 1kg dengan judul Made in INDONESIA: A Tribute to the Country’s Craftspeople. Pengarangnya bernama WARWICK PURSER. Di situlah perkenalan pertama saya dengan nama Warwick Purser. Sebetulnya saya masih agak bingung juga, kok buku tentang Indonesia dibuat oleh orang asing? Kalau tentang sejarah pulau Jawa dan Sumatera tercetak di buku-buku Belanda masih wajar karena kita pernah dijajah mereka. Tapi ini tentang kerajinan tangan Indonesia. Oke, mungkin ini akan dibahas di lain waktu.

Singkat cerita, saya berangkat ke Jogja untuk mencari bahan tulisan. Di sore itu, saya meliput PT Out of Asia yang kepunyaan Purser. Namun sayangnya, beliau tidak bisa diwawancarai karena sedang tidak di tempat.

Perusahaan itu bisa dibilang sebuah distributor dan produsen terbesar untuk kerajinan tangan. Panjang ceritanya sampai menjadi sebesar ini. Singkatnya begini. Suatu waktu, Warwick pindah ke Tembi, sebuah daerah dekat Parangtritis. Sulit sekali mencari pekerjaan di daerah ini sehingga kebanyakan penduduknya pindah dan bekerja di kota. Tapi Purser tetap yakin tentang apa yang dilakukannya: membangun Tembi. Tidak berapa lama kemudian, dia berhasil mendirikan PT Out of Asia dengan mempekerjakan penduduk sekitar. Pada tahun 1993, ada 800 penduduk sekitar yang dilibatkan. Purser memiliki tujuan yaitu menciptakan lapangan pekerjaan paling tidak satu dari seluruh anggota keluarga di daerah Tembi. Perusahaan ini terus berkembang. Sampai tahun 2008, puluhan ribu pengrajin sudah terlibat di dalamnya. Ya, puluhan ribu! Dari sini saja kita sudah bisa berdecak kagum, bukan?

Tapi tidak hanya itu saja kehebatan Purser. Hal unik lain dari Purser, ia ingin rumahnya dikelilingi oleh hamparan sawah yang luas. Jadi, dia membeli tanah yang cukup luas, kemudian dia bangun rumah di tengahnya. Sisa lahan yang masih sangat luas diberikan kepada petani untuk mengolahnya, tanpa dibebani uang sewa. Ia hanya ingin rumahnya dikelilingi sawah. Hasil panen silakan dimanfaatkan sepenuhnya oleh petani. Apa ada orang kaya di Indonesia yang mempunyai keinginan seperti itu? Mempunyai rumah di tengah sawah? Rumah di tengah sawah banyak, tapi itu dibangun dengan terpaksa oleh petani miskin.

Bentuk bangunan perusahaannya juga unik karena bukan berupa bangunan layaknya kantor. Purser menyewa rumah-rumah warga di Tembi untuk dijadikan kantor. Jadi, letak kantor bagian promosi di rumah ini, kantor bagian personalia di rumah yang itu, kantor bagian pengembangan produk di dekat belokan sana. Ini dilakukan Purser agar perusahaannya tidak mempunyai kesan eksklusif, dia ingin berbaur dengan masyarakat.

Yah, begitulah Purser, tokoh visioner yang layak untuk dikagumi karena idealismenya.

Pengemis Memang Salah

Pengemis salah kalau dilihat dari segi tatanan masyarakat

Kalau kita melihat dari sisi egoisitas diri kita sendiri, memang pengemis meningkat berimplikasi pada semakin besarnya ladang untuk beramal. Kalau dalam ilmu ekonomi, mungkin ini yang disebut ekonomi mikro, tapi bagaimana dengan bagian besarnya? Ekonomi makronya? Atau efek kepada tatanan masyarakatnya?

Meningkatnya kaum urban tidak dapat dipungkiri lagi akan meningkatkan tingkat kriminalitas. Pengemis temasuk kaum urban yang saya maksud. Jadi, meningkatnya pengemis meningkatkan pula tingkat kriminalitas.

Masih ingat tentang Perda Jakarta yang melarang mengemis dan melarang memberikan uang atau barang kepada pengemis? Kalau melanggar, 20 juta bisa melayang. Kalau tidak salah, itu perda yang dikeluarkan akhir 2007 lalu. Tujuannya untuk mengurangi kriminalitas.

Bahkan, pedagang asonganpun yang menurut saya tidak lebih berbahaya daripada pengemis dianggap pemerintah dapat meningkatkan angka kriminalitas. Baru sore tadi, ada larangan pedagang asongan untuk masuk ke stasiun Jatinegara. “Tujuannya untuk menekan angka kriminalitas,” tegas Kepala Stasiun Jatinegara Ahmad Fauzi, Rabu (24/9/2008).

Beramal tidak harus lewat pengemis, bukan? Banyak lembaga amal yang siap menampung. Uangnya tentu lari ke tempat yang semestinya.