Akses ke Hasil Perikanan dan Peternakan Masih Sulit

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2008

Hasila Peternakan dan Perikanan. Dok: www.argakencana.blogspot.co.id/
Hasila Peternakan dan Perikanan. Dok: http://www.argakencana.blogspot.co.id/

Manusia tentunya butuh protein dalam hidup dan kehidupannya. Banyak makanan yang secara alami mempunyai nilai protein yang tinggi. Protein hewanilah yang paling tepat untuk memenuhi asupan protein manusia. Berbicara tentang protein hewani maka terkait erat dengan sektor perikanan dan peternakan.Sudahkah kita mampu memenuhi kebutuhan protein bangsa ini?

Human Development Index (HDI) tahun 2007 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-107 dari 177 negara, kalah dari Vietnam (105), Thailand (78), Malaysia (63), Brunei (30), dan Singapura (25). ”Jika ternyata bangsa kita kualitas fisiknya kurang baik maka ini mungkin disebabkan oleh rendahnya asupan pangan bermutu, terutama yang bersumber dari pangan hewani. Gizi masyarakat Indonesia sangat jauh dari cukup,” jelas Ali Khomsan, ahli Gizi dari IPB. Saat ini, rata-rata warga Indonesia dalam satu minggu hanya minum susu setengah gelas, satu butir telur, dan dua potong daging. Keadaan ini cukup memprihatinkan.

Kesadaran akan pentingnya protein hewani masih belum memadai baik pada aras masyarakat maupun pemerintah. Namun tak bisa semuanya disalahkan pada masyarakat. Akar dari rendahnya diversifikasi menu penduduk Indonesia adalah rendahnya daya beli. Menurut Ali Khomsan, masyarakat akan dengan sendirinya membuat makanannya beraneka ragam ketika daya belinya meningkat. Kalau penghasilannya kecil, pasti ia akan memilih mengisi perutnya dengan karbohidrat terlebih dahulu, masalah gizi urusan belakangan. Saat ini tidak ada protein hewani yang murah. ”Tingkatkan daya beli masyarakat, dengan begitu, diversifikasi menu akan terjadi secara otomatis,” tambah Ali Khomsam.

Selain HDI, ada juga pengukuran yang secara langsung mencerminkan asupan pangan masyarakat, yaitu skor Pola Pangan Harapan. Nilai maksimalnya adalah 100. Indonesia mempunyai nilai 70. Nilai ini didominasi dari karbohidrat. Jadi, masyarakat Indonesia lebih banyak memakan karbohidrat. Sudah jelas, masyarakat bermasalah pada asupan gizinya

Serba Impor

Susahnya lagi, sumber protein hewani dari ternak masih sangat bergantung dari impor. Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negerinya sendiri untuk hasil peternakan. Impor susu masih besar, yaitu 90% dari kebutuhan. Daging sapi juga masih impor sebesar 25%. Bahkan Gapmmi memperkirakan pada tahun 2035 Indonesia akan mengimpor 4 juta ton daging, 3,6 juta liter susu dan 23,4 milyar butir telur.

Untuk perunggasan Indonesia sudah jauh lebih baik. Menurut Arif Daryanto, pengamat perunggasan, Indonesia sudah berdaulat di bidang perunggasan, bahkan potensi untuk ekspor sudah besar. Tapi sayangnya, perunggasan Indonesia dilanda Avian Influenza (AI) sehingga saat ini pasar ekspor unggas tertutup untuk Indonesia. Perkembangan perunggasan yang menggembirakan ini juga tidak didukung dengan industri pakan ternak yang berbasis bahan baku lokal. Bahan pakan utama unggas, yaitu kedelai, jagung masih impor dan juga tepung ikan hampir sebagian besar masih impor.

Masih tingginya komponen impor di sektor peternakan mengakibatkan harga-harga daging, telur dan susu menjadi tinggi. Kenaikan harga ini membuat masyarakat semakin sulit menjangkau makanan dengan gizi baik. Konsumen semakin mengurangi konsumsi protein hewani. ”Dengan daya beli yang rendah masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan karbohidrat, sedangkan menu bergizi menjadi prioritas kedua,” kata Ali Khomsam.

Menurut data dari FAO (2006), rata-rata konsumsi daging penduduk Indonesia sebanyak 4,5 kg/kapita/tahun, tertinggal dari Malaysia (38,5), Thailand (14), Filipina (8,5), atau Singapura (28). Konsumsi telur juga tidak jauh berbeda. Indonesia mengonsumsi 67 butir/kapita/tahun, masih lebih rendah dari Thailand (93) dan Cina (304). Demikian pula dengan konsumsi susu, masyarakat Indonesia meminum susu sebanyak 7 kg/kapita/tahun, sementara Malaysia mengonsumsi 20 kg/kapita/tahun. Kita masih jauh tertinggal dari Amerika yang meminum 100 kg susu/kapita/tahun.

Ketidakmampuan Indonesia memproduksi sendiri sumber protein hewani merupakan konsekuensi logis dari kebijakan pangan yang kita anut lebih bertumpu pada beras. Pengembangan sumber protein hewani seringkali masih ditempatkan pada prioritas berikutnya. Padahal tak dapat dipungkiri bahwa ketersediaan protein hewani sangat diperlukan bagi pertumbuhan fisik dan kecerdasan generasi mendatang.

Arif Daryanto mengatakan bahwa kedaulatan pangan kita di bidang peternakan dapat dilakukan mengingat Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas dan subur yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan peternakan. Di samping itu, masyarakat Indonesia sudah familiar dengan dunia peternakan. Namun demikian, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mampu mensinergikan potensi tersebut dengan kondisi peternakan saat ini yang masih menghadapi permasalahan seperti modal, transfer teknologi, dan lain-lain.

Perikanan Kurang Terakses

Sumber protein hewani lainnya yang tak kalah prospektif adalah perikanan. Hasil sub sektor perikanan Indonesia relatif lebih tersedia daripada peternakan. Hasilnya cukup melimpah. Artinya produksi dalam negeri cukup memadai untuk kebutuhan dalam negeri. Bahkan, setiap tahunnya kita sudah rutin melakukan ekspor, nilainya mencapai 2,3 Miliar $US.

Tapi sayangnya kesadaran makan ikan masyarakat masih rendah. Lagi-lagi ini dikarenakan daya beli masyarakat yang masih rendah, disamping budaya yang tidak biasa mengkonsumsi ikan. Tridoyo Kusumastanto, Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB, mengatakan bahwa konsumsi ikan rata-rata masyarakat Indonesia sangat beragam. Semakin jauh daerah itu dari laut maka akan semakin sulit mengakses ikan. ”Konsumsi masyarakat pegunungan sekitar 7 kg/kapita/tahun, berbeda jauh dengan masyarakat pesisir yang rata-rata mengkonsumsi 50 kg/kapita/tahun,” tutur Tridoyo. Konsumsi ikan rata-rata masyarakat Indonesia pada tahun 2003 adalah 22,36 kg/kapita/tahun sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 26,00 kg/kapita/tahun, meningkat rata-rata 3,86%/tahun. Jauh lebih rendah daripada peningkatan produksi budidaya perikanan sebesar 26,60%/tahun dari tahun 2003-2007.

Di satu sisi kita mempunyai kemampuan yang hebat untuk memproduksi ikan tapi di sisi lain konsumsi ikan masyarakat kita masih sedikit. Padahal, kecerdasan anak bangsa berkorelasi positif dengan banyaknya ikan yang ia makan. Ironis memang.

Ada beberapa hal menurut Arif Satria, Direktur Riset dan Kajian Strategis IPB, yang menjadi penyebab kurangnya konsumsi ikan masyarakat Indonesia. Pertama, daya beli masyarakat rendah sehingga harga ikan masih dianggap mahal. Kedua, pendistribusian ikan ke daerah yang jauh dari laut dan tidak memiliki budidaya perikanan masih sulit, efeknya lagi-lagi ke harga yang tinggi. Ketiga, walaupun peningkatan budidaya perikanan cukup tinggi, tapi jumlahnya masih kurang untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit mendapatkan ikan. Sebagian besar peningkatan budidaya dilakukan di pesisir sehingga hasilnya sulit didistribusikan ke daerah pegunungan.

Selain itu, menurut Tridoyo, DKP atau lembaga penelitian yang terkait tidak berorientasi pada konsumsi komoditas umum. Jadi, banyak ikan konsumsi yang harganya terjangkau, seperti kembung dan bandeng, belum diperhatikan dengan baik. Pemerintah lebih berorientasi kepada ekspor dibanding memaksimalkan komoditas yang mampu dibeli masyarakat.

Mau tidak mau memang Indonesia harus menuju ke perikanan budidaya, terutama darat, apalagi melihat keadaan laut yang saat ini sudah banyak terjadi overfishing. Dengan budidaya, akses masyarakat yang bertempat jauh dari laut untuk membeli ikan akan lebih baik.

Secara langsung nelayan akan diuntungkan karena hampir semua usaha budidaya menguntungkan. Dengan begitu, pendapatan nelayan akan meningkat yang juga berarti peningkatan daya beli. Made Nurdjana, Dirjen Perikanan Budidaya, yakin bahwa budidaya perikanan mampu meningkat produksinya 40% per tahun. ”Empat puluh persen itu kecil selama ada pembiayaan yang cukup. Pembiayaan di sini bisa dari pemerintah maupun perbankan,” kata Made. Terbukti memang dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan produksi. Namun, peningkatan ini belum mencapai angka 40%.

Iklan

Susu Sapi Belum Kuasai Pasar Dalam Negeri

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Susu sapi. Dok: www.sehatraga.com
Susu sapi. Dok: http://www.sehatraga.com

Konsep empat sehat lima sempurna sudah diajarkan oleh orang tua kita sejak kecil dulu. Susu mempunyai nilai unik tersendiri sehingga dapat menyempurnakan konsumsi harian kita. Pantas jika dalam konsep di atas susu ditempatkan dalam poin khusus.

Namun, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, yaitu hanya 5,5 kg/kapita/tahun. Padahal, menurut FAO, kebutuhan susu minimum manusia adalah 6,4 kg/kapita/tahun. Angka 5,5 kg itupun tidak tersebar secara merata. Konsumsi susu masyarakat di Jakarta jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 24 kg/kapita/tahun, tapi konsumsi di daerah-daerah tertentu hanya 0,01-0,05 kg/kapita/tahun, bahkan ada daerah yang tidak mengonsumsi susu sama sekali.

70% impor

Catatan pada januari 2007 mengatakan bahwa kebutuhan susu nasional Indonesia sebesar 1,306 juta ton per tahun, padahal pasokan dalam negeri hanya sebesar 342 ribu ton saja. Artinya, lebih dari 70% kebutuhan susu nasional masih ditutup dari impor.

Australia dan New Zealand adalah langganan sumber susu Indonesia. Sampai saat ini, Indonesia masih tercatat sebagai net-consumer.

Besarnya nilai impor Indonesia menunjukkan bahwa potensi untuk beternak sapi perah sangat besar. Apalagi ditambah dengan harga susu internasional yang semakin hari semakin tinggi. Harga di Industri Pengolahan Susu (IPS) saja saat ini sudah menembus angka Rp 3.000,-. Kesadaran minum susu masyarakat yang semakin meningkat juga akan meningkatkan permintaan susu, membuat potensi berbisnis sapi perah semakin menggiurkan.

Produktivitas Rendah

Rata-rata setiap sapi di Indonesia hanya menghasilkan 9 liter susu dalam satu hari. Nilai ini terhitung masih kecil. ”Ini merupakan akibat dari rendahnya kemampuan budidaya peternak dan juga mutu bibit sapi Indonesia yang sebagian besar adalah PFH (Peranakan Friesian Holstein). PFH menghasilkan susu lebih sedikit dari FH,” kata Rarah Maheswari, ahli susu dari IPB. ”Tapi,” Rarah menambahkan, ”Saat ini sudah banyak peternak yang mengawinkan sapi PFH dengan FH sehingga secara genetis akan menghasilkan keturunan yang lebih mirip FH, sehingga susu yang dihasilkan juga akan lebih banyak.”

Kemampuan budidaya juga mencakupi masalah pakan. Rarah mengatakan bahwa untuk mendapatkan hijauan yang berkualitas semakin sulit karena lahan relatif semakin sempit. Akibatnya, pakan yang seharusnya berisi 70% hijauan berkualitas tidak terpenuhi. Hanya pemain-pemain besar yang dapat melakukannya. ”Mereka punya modal besar, manajemennya bagus, pakan bagus, sehingga produksi susunya pun juga tinggi, yaitu sekitar 20 liter per hari,” tutur Rarah.

Sebagian besar peternak sapi perah di Indonesia (91%) adalah pemain kecil yang hanya memiliki 1-3 sapi perah, padahal jika setiap peternak punya 10 ekor sapi maka kesejahteraannya akan lebih baik. ”Jika dalam satu keluarga mempunyai 10 ekor sapi perah, maka akan terlihat keuntungan yang nyata,” tambah Rarah. Inilah yang juga menjadi kendala peternak sapi perah Indonesia, keterbatasan modal. ”Mereka hanya membeli sapi sejumlah uang tabungan yang mereka punya saja,” katanya.

Pondok Ranggon Tidak Bergantung IPS

Berbeda dengan daerah lain yang menjual sebagian besar atau bahkan seluruh susu sapinya ke IPS, peternak sapi perah di Pondok Ranggon, Jakarta, mempunyai pasar tersendiri. Rahmani, Ketua Kelompok Sapi Perah Pondok Ranggon, mengatakan bahwa 70% susu Pondok Ranggon dijual kepada loper-loper susu yang kemudian langsung mengantarnya ke konsumen. Susu juga diolah langsung oleh peternak dengan kebutuhan sebanyak 20% dari total produksi susu di Pondok Ranggon. Sisanya baru dikirim ke koperasi yang kemudian akan dijual ke IPS. Ini bisa terjadi karena memang kesadaran minum susu masyarakat Jakarta jauh lebih tinggi daripada daerah lain. Dengan keadaan ini, tentunya harga jual susu ke loper akan lebih tinggi dari harga di IPS. Hasil olahan susupun akan menghasilkan nilai tambah yang cukup besar. Sehingga, kesejahteraan 25 orang peternak sapi perah di Pondok Ranggon relatif lebih baik daripada daerah lain.

Parsum, salah satu penggiat di Pondok Ranggon mengatakan bahwa peternakannya dapat mengolah susu sapi menjadi es susu, yoghurt, dan juga susu pasteurisasi. Ia memiliki susu pasteurisasi dengan brand KFA. ”Produksi kami memang masih kecil, paling banyak 200 liter per hari. Tapi nilai tambah dari proses pasteurisasi ini cukup kami rasakan. Inilah keuntungannya beternak di daerah yang kesadaran minum susunya sudah tinggi,” kata Parsum.

Sapi Potong Layak Digenjot

 Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Indonesia sampai saat ini masih terus mengimpor daging sapi beserta jeroannya dengan jumlah yang semakin bertambah setiap tahun. Bertambahnya jumlah penduduk dan pendapatan akan semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengonsumsi pangan bernilai gizi tinggi, termasuk daging sapi. Status sapi Indonesia yang bebas PMK sebetulnya dapat dijadikan pijakan kuat untuk menggenjot komoditas sapi potong.

Sebelum era 80an, peternakan sapi potong di Indonesia bisa dikatakan hanya bergerak secara tradisional. Ternak sapi hanya dijadikan tabungan berjalan yang siap diuangkan sewaktu-waktu.

Menginjak era 80an, industri peternakan sapi potong mulai berkembang, azaz efisiensi sudah mulai muncul. Usaha feedlot (penggemukan) sudah mulai dikembangkan. Namun, usaha feedlot tidak semulus yang diharapkan karena sulitnya pasokan sapi bakalan dari dalam negeri. Mulai dari titik ini para produsen lokal mengimpor sapi bakalan dari Australia. Pada akhir era 80an, usaha penggemukan sapi berkembang dengan pesat.

Usaha feedlot mengalami guncangan ketika krisis moneter mendera Indonesia pada akhir 1997. Paling tidak 50 investor dalam industri penggemukan sapi menelan pil pahit pada masa ini.

Memasuki tahun 2001, usaha penggemukan sapi bergeliat kembali. ”Sekarang, keadaannya menjadi sama seperti sebelum krisis moneter mendera, terlihat dari jumlah sapi bakalan yang diimpor,” kata Teguh Boediyana, Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI).

Komoditas 2005 2006 2007*
Populasi (ekor) 10.569.312 10.875.125 11.365.873
Pemotongan (ekor) 1.653.770 1.799.781 1.920.167
Impor Bakalan (ekor) 323.916 363.443 496.368
Produksi Daging (ribu ton) 358,7 395,8 418,2
Impor Bibit (ekor) 636 2.108 6.079
Ekspor (ekor) 0 0 4.000*

Patut Bangga

Sampai saat ini, Indonesia merupakan satu diantara 57 negara bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Sejak tahun 1990, Indonesia dinyatakan bebas PMK. PMK bisa dikatakan menjadi penyakit paling ditakuti dan berbahaya karena daya penularannya yang cepat dan juga sangat merugikan secara ekonomis. Oleh karena itu kita sepatutnya bangga akan status tersebut. ”Hal ini merupakan kebanggaan nasional yang harus dipertahankan oleh generasi penerus,” kata Soehadji, mantan Dirjen Peternakan periode 1988-1996.

Tingginya harga daging sapi di Indonesia menjadi konsekuensi akibat bebasnya sapi Indonesia dari PMK. Ini harga yang jauh lebih murah dibanding konsekuensi ketika negara terkena PMK. Nilai kerugian selama terjadi wabah PMK di Indonesia mencapai 11,6 triliun.

Bertahan Karena Status Sosial Tinggi

Peternak sapi potong di Indonesia saat ini sebagian besar adalah pemain kecil yang hanya mempunyai 2-3 sapi saja. Jika dihitung-hitung, jelas usaha seperti ini merugikan. Tapi ada satu hal yang masih meggiurkan bagi masyarakat, yaitu anggapan bahwa orang yang memiliki sapi berarti status sosialnya tinggi. ”Peternak sapi sebagian besar hanya untuk status sosial, istilahnya rojo koyo. Sebetulnya ini yang menjadi sendi-sendi peternakan sapi potong di Indonesia,” kata Rochadi Tawaf, Dewan P

Sapi Potong. Dok: www.bisnisukm.com
Sapi Potong. Dok: http://www.bisnisukm.com

akar Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo).

Usaha sapi potong termasuk usaha jangka panjang sehingga dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Usaha pemerintah yang akan menyediakan dana untuk menyubsidi bunga dalam usaha breeding sapi adalah langkah yang patut diacungi jempol. Namun, keputusan tersebut perlu dipantau agar betul-betul terealisasi. ”Perlu pula dipertimbangkan bahwa keringanan bukan hanya dari bunga bank, tetapi jangka waktu kredit dan grace period harus dipertimbangkan secara cermat,” jelas Teguh.

Sapi Lokal Digemari

Walaupun tidak berbeda jauh, harga daging sapi lokal saat ini masih lebih tinggi dibandingkan harga daging sapi impor. Menurut Teguh, hal ini mengindikasikan bahwa konsumen Indonesia lebih menyukai daging lokal daripada daging impor. ”Masyarakat merasa tastenya lebih cocok dengan daging lokal,” katanya.

Memang, Indonesia saat ini mengimpor sapi, dalam bentuk sapi bakalan maupun daging dan jeroannya, tapi ini dikarenakan kebutuhan dalam negeri yang masih belum tercukupi oleh produksi. Jadi, bisa dikatakan bahwa Indonesia terpaksa impor.

Sayangnya, terjadi ketidakseimbangan yang semakin melebar antara kemampuan produksi dengan percepatan permintaan dari masyarakat. Kejadian ini akan membuka peluang impor (sapi dan daging sapi) yang semakin lebar.

Manurut Teguh, impor sapi ke Indonesia sekarang dalam bentuk sapi bakalan dan daging beku. Kebijakan pemerintah untuk impor daging beku hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen kelas menengah ke atas. ”Di tempat-tempat tertentu ada steak yang harganya mencapai jutaan. Tapi tetap ada konsumen yang menyukainya. Bahan daging sapi beku berkualitas baik itu kita dapat dari impor,” tutur Teguh.

Beberapa negara pemasok daging sapi dan jeroannya ke Indonesia yaitu Australia, New Zealand, Amerika Serikat, dan Kanada. Beberapa negara lain telah berusaha keras menembus pasar Indonesia, di antaranya India, Brazil, Uruguay, dan Argentina. Pemerintah memang ketat sekali dalam melakukan impor sapi potong, hanya negara bebas PMK yang boleh mengekspor sapinya ke Indonesia.

Swasembada 2010 Sulit Dicapai

Program swasembada daging sapi bisa dikatakan hanya terdengar di Deptan dan sekitarnya. ”Sejak tiga tahun lalu hingga kini masih sekedar diskusi dan wacana saja,” kata Rochadi. Seharusnya ini menjadi program kita bersama untuk dapat memenuhi kebutuhan minimal protein hewani asal daging dengan target 10,1 kg/kapita/tahun yang saat ini baru dicapai sebesar 7 kg/kapita/tahun. Sedangkan kontribusi daging sapi baru mencapai 1,72 kg/kapita/tahun. Program ini mengharapkan kontribusi daging sapi akan dicapai sebesar 2 kg/kapita/tahun pada 2010.

Peningkatan populasi sapi yang dijadikan target pada program ini sebesar 1,55 juta ekor sapi dari populasi saat ini, yaitu sebesar 11,23 juta ekor sapi. Ada tujuh langkah operasional yang difokuskan di 18 provinsi yang akan dilaksanakan pada 2008-2010.

Namun, Tim Indonesian Veterinary Watch dalam laporannya mengatakan bahwa data dan pengamatan lapangan mengindikasikan bahwa Rencana Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi 2010 masih belum dapat dicapai sebagaimana yang ditargetkan. Maka dari itu, Indonesia diprediksi masih akan terus mengimpor daging sapi paling tidak sampai tahun 2015.

Menurut Soehadji, untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, kita perlu tetap menggerakkan prisnsip bahwa peternakan rakyat harus tetap menjadi tulang punggung, penggemukan sapi dengan sapi bakalan impor hanya dijadikan pendukung dan impor daging hanya untuk memenuhi kekurangan permintaan. Selain itu, program swasembada daging perlu dilanjutkan secara konsisten serta digaungkan dalam kaitannya dengan Program Kebutuhan Pangan Hewani Nasional yang didukung oleh pemerintah dan masyarakat.

Bandeng, Bangkit Di Saat Udang Terpuruk

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Ikan Bandeng. Dok: www.djpb.kkp.go.id
Ikan Bandeng. Dok: http://www.djpb.kkp.go.id

Insting, satu-satunya andalan nelayan Indonesia saat ini. Tidak ada pegangan yang kuat tentang budidaya apa yang baik yang bisa dijadikan mata pencaharian seterusnya. Semua bergantung pada pasar dan insting si nelayan. Dulu, pantai utara pulau Jawa dipenuhi oleh tambak bandeng. Ketika harga udang bagus, nelayan beralih ke udang. Pantura penuh tambak udang. Sekarang, potensi udang menurun sehingga Bandeng mulai dilirik lagi.

Dulu, memang Indonesia terkendala dalam pembibitan bandeng. Masyarakat pada era sebelum 90an hanya mengandalkan bibit bandeng alam, artinya hanya mendapatkan bibit bandeng dari hasil tangkapan nener yang terbawa aus ke pinggir pantai, sangat tradisional. Tapi sekarang teknologi pembibitan buatan sudah diketahui dan sudah banyak dilakukan. ”Sekitar tahun 90an kita sudah mengenal usaha pembenihan buatan. Nelayan memelihara bandeng di tambak, kemudian dibesarkan. Ketika mencapai panjang tertentu, bandeng dipindahkan ke jaring di laut sampai bertelur. Setelah teknologi ini banyak dilakukan, baru benih bisa melimpah seperti sekarang,” kata Enang Haris, dari Budidaya Perikanan, IPB.

Benih yang mudah didapatkan menambah daftar panjang penyebab nelayan banyak memelihara ikan bandeng, yaitu rasanya yang cukup digemari masyarakat, nilai jualnya yang tinggi, dan tahan terhadap penyakit.

Diferensiasi Produk

Tadinya masyarakat hanya mengembangbiakkan bandeng untuk dikonsumsi saja. Sekarang, bandeng bisa dijual dalam beberapa varian umur. Setelah bibit bandeng, atau biasa disebut nener, yang hanya sebesar jarum dipelihara sampai panjangnya sekitar 2 cm, ikan bisa langsung dijual. Bandeng seukuran ini biasa disebut sisiran. Ketika dipelihara lebih lama lagi, ikan membesar menjadi fingerlink. ”Sisiran dan Fingerlink ini lumayan laku untuk dijual di pasaran,” kata Enang. Bandeng umpan akan terbentuk ketika pemeliharaan diteruskan. Panjangnya sekitar 12 cm. Setelah dibudidayakan lagi, baru menjadi bandeng konsumsi.

Dinamakan bandeng umpan karena memang digunakan untuk umpan pemancingan ikan tuna. ”Tahun 2004 bisa dibilang menjadi tahun emas bagi nelayan bandeng karena permintaan bandeng umpan melejit. Nelayan menjualnya ke muara baru. Kemudian dari tempat itu, kapal-kapal penangkap ikan membelinya untuk umpan,” tutur Enang. Namun, beberapa tahun terakhir ini, permintaan bandeng umpan menurun. Menurut Enang, ada dua penyebab. Pertama penangkapan ikan yang menggunakan bandeng umpan menurun. Kedua, perputaran uang dalam penjualan bandeng umpan ini kurang lancar, sehingga nelayan bandeng merasa dirugikan.

Untuk bandeng konsumsi, terkenal sekali produk bandeng presto. Bandeng yang banyak mengandung duri kecil di dalam dagingnya sering kali membuat konsumen kesal. Berbagai proses dilakukan untuk menghilangkan duri kecil tersebut, lahirlah produk bandeng presto ini. Ada juga bandeng asap yang menjamur di daerah Surabaya dan pindang bandeng yang banyak ditemui di daerah Bandung.

Konsumsi bandeng meningkat cukup tajam ketika perayaan Imlek. Bandeng dijadikan makanan istimewa oleh etnis Cina ketika hari besar itu. Tapi, berbeda dengan bandeng konsumsi biasa yang biasanya berbobot 200-300 gram. Bandeng konsumsi pada waktu imlek berbobot lebih dari 1 kg. Harga bandeng tersebut mencapai 25 ribu/kg, sedangkan bandeng konsumsi biasa harganya sekitar 12 ribu/kg.

Teknologi Kurang Visible

Bandeng digemari karena rasanya gurih dan tidak asin seperti ikan laut. Kendala pengolahan Bandeng ada dua, yaitu berbau lumpur dan duri yang banyak. Penghilangan duri dapat dihilangkan dengan panci bertekanan tinggi (presto atau autoklaf). Setelah proses ini, duri akan menjadi lunak sehingga dapat sekaligus dikonsumsi bersama dengan dagingnya. Sedangkan untuk mengatasi bau lumpur, masyarakat banyak yang merendamnya dengan air cuka. ”Sebetulnya, bau lumpur dapat dihilangkan hanya dengan memberikan arus ke dalam kolam sekaligus dengan memuasakan ikan, artinya tidak usah diberikan makan. Dengan begitu, geosmin, bahan yang membuat bau lumpur akan ikut hilang bersamaan dengan terbakarnya lemak,” jelas Enang.

Teknologi ini sudah digunakan dan dipatenkan oleh Malaysia. Alat ini digunakan di restoran-restoran tertentu. Ikan hidup dimasukkan ke alat berarus tersebut, dalam beberapa jam bau lumpur akan hilang.

Penelitian untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas sudah banyak, tapi sayangnya tidak semua dapat diaplikasikan. ”Kita banyak mempunyai hasil-hasil penelitian yang dapat mendukung peningkatan kualitas. Di balai-balai penelitian juga banyak. Cuma sayangnya, kebanyakan hasil penelitian tersebut hanya sebatas lab, artinya, kurang memikirkan aspek ekonomi skala sesungguhnya. Selain itu, penyampaian informasi kepada nelayan juga kurang,” tutur Enang.

Butuh Paksaan

Konsumsi bandeng rata-rata penduduk Indonesia sebesar 1,35 kg/kapita/tahun. Ekspor dan impor bandeng belum dilakukan. Ini berarti produksi dan konsumsi bandeng berputar hanya di negeri sendiri. Angka ini sebetulnya masih bisa didongkrak lagi. Sebuah penelitian mengatakan bahwa konsumsi ikan, termasuk bandeng, tidak meningkat ketika pendapatan meningkat. Konsumsi ikan baru meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah orang yang makan di luar rumah. Peningkatan jumlah karyawan kantor, mahasiswa, dan rumah sakit akan memicu peningkatan konsumsi ikan yang berarti dibutuhkan juga peningkatan produksi.

Tidak ada salahnya jika menu ikan dimasukkan dengan paksa ke konsumen. Ini dilakukan demi memperbesar konsumsi dan produksi ikan dalam negeri. ”Secara umum, masyarakat mengonsumsi ikan karena terpaksa. Tapi setelah mencoba beberapa kali malah mencari ikan. Jadi, untuk mendongkrak konsumsi ikan memang sulit di awalnya, harus ada paksaan,” jelas Enang. Menurutnya, hal ini bisa diawali dengan memasukkan menu ikan lewat jasa boga yang biasanya menyediakan makanan bagi karyawan-karyawan pabrik. ”Salah satu pabrik besar yang pernah saya wawancarai hanya memberikan menu ikan sekali dalam tiga minggu. Dengan bobot ikan 80 gram per saji. Dari sini saja bisa kita dongkrak. Dengan paksaan makan ikan tersebut, maka konsumsi ikan nasional akan meningkat,” katanya lagi.