Parangtritis Trip

Senin (17 Jan 2011) sengaja dipilih supaya tidak menjumpai ramai-ramai. Aku dan rombongan motor berangkat dari Ring Road Utara Jogja sekitar pukul 9 pagi. Dengan jalan santai, sampai di Parangtritis sejam kemudian dengan melewati jalan lurus mulus. Katanya masuk Rp 6 ribu per orang, tapi si petugas minta Rp 5 ribu per orang, tanpa ada robekan karcis. Yah, begitulah. Tempat wisata kecil atau tenar sederajat Parangtritis pun, preman berseragam masih banyak. Jelas duitnya masuk kantong.

Dari pintu masuk itu, masih lumayan jauh masuk ke dalam. Di kanan kirinya banyak penginapan dan warung. Tapi kok sepi betul ya. Bisa jadi memang Senin itu sepi, bisa jadi memang Parangtritis selalu sepi, bisa jadi bukan keduanya.

Di belokan terakhir menuju pantai, beberapa orang sudah siaga di tengah jalan. Aku kira mau nawarin vila, tapi masing-masing mereka membentangkan tangannya, menghalang-halangi kami agar parkir di tempatnya. Menurutku, kelakuan mereka sudah kelewatan karena tangan mereka betul-betul sampai seperti merangkul agar kami berhenti. Lepas dari bentangan tangan yang satu ada lagi yang lain di depan, begitu terus sampai sekitar 6 kali. Ini aneh dan sangat mengganggu.

Jelas kami pilih parkiran yang paling dekat ke pantai, ada di paling ujung. Terakhir saya baru tahu biaya parkir untuk motor Rp 3 ribu, mobil Rp 10 ribu, yang ini tidak diberitahukan sebelumnya, tapi ditembak waktu mau pulang. Mahal betul. Pantas mereka rebutan sampai maksa begitu. Tapi gak pantas juga deng, itu kelewatan.

Sepinya menghapus nama besar Parangtritis. Kalau dikumpulkan semua pengunjungnya saat itu (termasuk yang lagi pacaran di balik-balik batu), mungkin cuma 20 orang. Sampah juga gak sebanyak pantai-pantai ramai yang komersil. Bagus sih, tapi justru terlihat janggal. Termasuk karena jumlah pedagang yang bisa dihitung dengan jari.

Ada beberapa hal menarik di Parangtritis, selain yang seharusnya ada di pantai. Pertama, banyak kuda yang disewakan, ada pula andong. Kalau kuda, satu putaran (sekitar 15 menit) tarifnya Rp 20 ribu. Kalau andong Rp 25 ribu. Kedua, kita bisa ikut Paralayang di sana. Untuk biaya tandem itu Rp 300 ribu sekali terjun, sudah termasuk kursus singkat. Tapi petugas yang satu lagi bilang Rp 250 ribu. Gak kompak.

 

Andong yang bisa disewa di Parangtritis. Dok: Iqbal

Air terjun kecil bisa ditemukan kalau kita berjalan sekitar 500 meter ke Timur. Airnya segar, lumayan kalau mau mandi-mandi, karena di pantai katanya bahaya untuk mandi-mandi, dan memang nyatanya tidak ada yang berani, paling cuma di pinggir-pinggirnya sampai air selutut. Setelah air terjun itu, kalau lanjut ke Timur lagi, kita bisa ketemu batu-batu besar. Di balik batu-batu besar itulah gampang didapat orang yang pacaran. Setelah batu-batu besar itu, pasir putih jauh lebih bagus dari di tempat awal masuk tadi. Tapi, harus jalan dulu sekitar 500 meter lagi.

Aku di sana hanya sekitar 2 jam, tidak kuat sama panasnya, kembalilah ke kota Jogja. Setelah sebelumnya dipalak ibu-ibu karena sudah duduk di tempatnya. Padahal kami duduk di bangku bambu biasa yang ada di pinggir pantai pada umumnya yang itu memang fasilitas pantai, itupun paling cuma duduk 15 menit. Dia minta lima ribu. Daripada ribut, berikan sajalah. Kalau Aku ke sini lagi, motifnya bukan karena mengejar keindahan Parangtritis.

Iklan

Sepagi di Kota Reog

Sebetulnya Aku sudah sampai Ponorogo sejak sore 23 Jan 2011. Setelah sebelumnya naik bis dari Pacitan (Rp 15 ribu, 3 jam, non AC). Dan Aku sudah berhasrat ingin jalan-jalan keliling Alun-Alun setelah melihat panggung besar di salah satu sisinya. Tapi hujan turun terus. Apa boleh buat, semalaman ini di dalam saja.

Mudah sekali mencari penginapan. Ada beberapa pilihan di seputaran alun-alun. Salah satunya di Hotel Pantes (kalau dari arah Pacitan, terus melewati Alun-Alun sekitar 100 meter sebelah kanan jalan, ada papan namanya lumayan besar). Semalamnya berkisar Rp 40.000 – Rp 60.000. Rata-rata tiap kamar ada 3 kasur ukuran single terpisah dan 1 kamar mandi di dalam. Di dekat meja resepsionis ada pajangan peta Ponorogo lengkap sama tempat-tempat wisatanya, seperti Padepokan Reog dan Telaga Ngebel. Tempat wisatanya tidak terlalu banyak. Mungkin karena itu Ponorogo tidak masuk hitungan Lonely Planet.

Besoknya, mulai setengah enam, Aku jalan kaki ke Alun-Alun. Banyak hal menarik di sini. Tiap sudut Alun-Alun itu ada patung singa, ada yang lagi tarung, ada yang lagi main sama anaknya, dll. Di beberapa gedung juga sering ada patung singa di halamannya. Mestinya ada alasan kenapa begitu banyak patung singa di Ponorogo.

Banyak juga patung-patung penari reog, di depan jalan RW, di tengah jalan besar, di depan sekolah, di mana-mana banyak patung reog. Biasanya patung-patung itu terdiri dari patung banyak penari dengan penokohannya masing-masing, terus di tengahnya adalah patung kepala reog yang punya banyak serabut-serabut panjang setengah lingkaran. Patung-patung itu biasanya menonjol di dinding-dinding, jadi tidak sempurna 3 dimensi. Mereka terlihat serius melakukan branding Kota Reog.

Setiap tahun, Ponorogo punya perhelatan akbar, Festifal Reog. Pesertanya banyak dari luar Ponorogo. Tapi Aku tidak yakin itu bener-benar dari luar, mungkin iya sebagian krunya dari luar, tapi sebagian besar tetap orang Ponorogo. Walaupun begitu, tetap tidak mengurangi ramainya acara ini. Beberapa jalan di seputaran Alun-Alun disterilkan dari kendaraan. Semua penginapan laris manis. Itu kata orang-orang loh.

Panggung besar yang sudah permanen di salah satu sisi Alun-Alun menjadi pusat perhatian waktu Festifal Reog. Jarang sekali ada Alun-Alun yang punya panggung sebesar ini. Latar panggung adalah bangunan tinggi yang dicelah dengan beberapa pintu menuju back stage. Di tiap sisi pintu ada patung macam-macam, ada yang berupa orang ada yang bukan orang.

Layaknya Alun-Alun pada umumnya, di sekelilingnya ada kantor polisi, pasar (walau kecil), masjid raya, dan bangunan pemerintahan. Tapi bangunan pemerintahan di sini megah sekali. Bangunan berjudul Pemerintah Kabupaten Ponorogo itu menjulang tinggi mengalahkan seluruh bangunan di sekitarnya. Di bagian depannya ada taman kecil yang mengelilingi patung seorang wanita anggun. Lebih ke depan lagi, ada patung seorang pria gagah yang sedang berada di atas semacam dokar yang ditarik beberapa singa (lagi-lagi patung dan lagi-lagi singa).

Patung singa di salah satu sudut alun-alun dilatari Gedung Pemkab Ponorogo. Dok: Iqbal

Satu hal lagi yang unik. Di sisi seberang panggung alun-alun, ada semacam bangunan tak berpintu yang ada TV nya. Memang itu menghibur, tapi Aku bertanya, Apa gak takut dicolong ya? Karena itu ruang terbuka yang semua orang bisa ke situ. Mungkin tingkat kriminalitas di sini begitu rendah, mungkin TV itu dikeramatkan, mungkin ada kejadian mengerikan bagi si pencuri TV, mungkin juga tidak.

Di pinggir jalan yang membatasi kantor Pemkab dan Alun-Alun, Aku melihat seorang ibu tua menjual makanan yang dikerubuti banyak orang. Sepanjang pengamatanku berpuluh menit, pembeli tidak pernah putus berdatangan. Awalnya kupikir ini bubur sumsum karena ada kuah cokelat dan gumpalan putih, tapi ada beberapa cairan lagi yang dicampur ke dalamnya. Cairan cokelatnya pun berbeda, bukan cair, tapi padatan lengket yang disisipi dengan butiran-butiran halus.

“Iki Jenang, Mas,” kata Ibu itu setelah kutanya. Aku yang norak apa memang ini makanan yang cuma ada di Ponorogo? Harganya murah sekali, dua ribu perak! Itu sudah dapat semangkuk penuh. Kalau pembeli mau dibungkus, maka kuah-kuahan dimasukkan ke plastik bening dan gumpalan bubur putihnya dipisahkan dengan bungkus daun pisang.

Mudah juga mencari angkringan (mungkin di sini punya nama lain, tapi konsepnya tidak jauh beda). Aku beli nasi pecal (Rp 3 ribu) dan segelas kopi (Rp 2 ribu). Isi nasi pecalnya ya sama saja, tapi kuahnya lebih kental dibanding kuah pecal di Kediri. Kopi yang dijual itu kopi hasil tumbukan si Ibu sendiri, rasanya memang terasa beda.

Lanjut, Aku jalan menuju pasar, sekitar 2 km. Kupikir pasar tradisional, tapi ternyata beton. Aku tidak tertarik untuk masuk, isinya sudah ketebak.

Tadinya Aku mau mampir ke Telaga Ngebel. Padepokan Reog juga cukup menggoda. Tapi waktunya terlalu mepet, pagi ini juga Aku harus berangkat lagi. Pukul 9 Aku lanjutkan ke Timur via Terminal Bis Ponorogo, sekitar 4 km dari Alun-Alun.

Pangeran Anggadipati

Kisah dari Saini KM yang sudah lama terkenal sebagai penulis novel sejarah. Dalam buku ini digambarkan seorang Pangeran bernama Anggadipati yang digodok dalam sebuah padepokan silat paling hebat di wilayah kerajaan Pakuan.

Sejak umur 14 tahun ia dididik untuk menjadi Puragabaya, seorang pemuka agama yang diberi kemampuan bertarung luar biasa. Menjadi Puragabaya adalah sebuah kehormatan bagi keluarga.

Anggadipati adalah salah satu murid terhebat dari puluhan murid lainnya. Kawan sekamarnya, Jante, juga termasuk yang terhebat. Suatu saat ketika mereka sudah dianggap layak menjadi Puragabaya, mereka dikirim tugas ke beberapa daerah. Sebelumnya, Anggadipati diajak oleh Jante ke daerah tempat Jante tinggal.

Di situ, Anggadipati jatuh cinta dengan Yuta Inten, adik Jante. Mereka sudah mengikat janji, setelah penugasan ke daerah tersebut, Anggadipati akan menikahinya.

Namun, semasa tugas, Jante membunuh seorang bangsawan yang terkenal biadap. Tapi, membunuh adalah sesuatu yang dianggap buruk bagi seorang Puragabaya. Jante harus tetap diadili. Ia kabur ke hutan kemudian dikejar oleh teman-teman Puragabaya nya, termasuk Anggadipati.

Dengan baik-baik, Anggadipati mengajak Jante kembali, tapi ia tidak mau. Tidak sengaja, Jante terdorong ke lereng oleh Anggadipati, lalu Jante tewas. Yuta Inten mengutuk kejadian tersebut, Anggadipati dianggap musuh.

Di sisi lain, Anggadipati dianggap pahlawan bagi seluruh rakyat. Ia dianggap mampu membunuh pembunuh dan menjadi Puragabaya yang paling tersohor.