Arsip untuk Mei, 2009

25
Mei
09

Dokter Alam di Simpang Mentjos

Apa yang terbersit pertama kali ketika mendengar jamu? Pahit? Ya, mungkin. Tapi tentang efek obatnya bisa jadi lebih dahsyat dari rasa pahitnya. Kalau di dunia plesir, indicator suatu kehebohan tempat plesir salah satunya adalah berdasarkan kepuasan dibanding biaya, di dunia pengobatan mungkin juga demikian. Nah, Kafe Jamu Bukti Mentjos ini bisa jadi dapat mengambil hati pelanggannya dengan nilai yang tinggi di indicator kepuasan dibanding biaya. Bagaimana tidak, hanya dengan 13 ribu rupiah, kita bisa mendapatkan racikan spesifik untuk penyakit kita yang bukan main-main khasiatnya.

Ako, si empunya usaha kurang suka tempatnya disebut kafe, tapi lebih senang disebut warung. Padahal, tempatnya sangat cozy (kurang lebgkap kalau sekedar memakai diksi nyaman), bisa dibilang jauh lebih eksklusif dari citra jamunya sendiri. Ia adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarganya yang sudah ada sejak tahun 50-an itu. Letaknya lumayan strategis, tepat di persimpangan Mentjos, sekitar 500 meter dari UI Salemba.

Ketika ditanya ramuannya dari mana, Ako belum sempat menjawab, pelanggannya yang rebutan menjawab. Ada yang menjelaskan bahwa dia sejak umur 5 tahun sudah langganan jamu Mentjos, sampai sekarang umurnya hamper setengah abad. Ada yang sedikit curhat tentang sakit batuknya yang tak kunjung sembuh setelah keluar masuk rumah sakit, lalu bisa disembuhkan dengan racikan jamu dari Ako. Mayoritas pelanggannya bukan pertama kali dating ke kafe ini. Mereka sudah yakin karena merasakan sendiri khasiat hebat dari ramuan Ako.

Suasana semakin meriah dengan pembawaan Ako yang ceria dan care dengan customernya. Sedikit saja kita menampakkan mimik “jamunya terlalu pahit”, Ako langsung menyuruh satu dari sepuluh pegawainya untuk menambahkan madu atau air jahe. Ako betul-betul melayani tamunya satu demi satu. Setiap tamu ditanya apa keluhannya. Dengan sabar Ako mendengarkan, lalu sedikit bertanya lebih spesifik tentang keluhannya itu, persis seperti dokter. Bedanya, dokter menulis resep tapi Ako mencampurkan ramuan jamunya dari puluhan botol berkode di hadapannya. Satu menit kemudian, segelas jamu dan segelas jahe panas sudah tersaji di hadapan kita.

Baru pertama kali itu saya minum jamu yang dalam bentuk jamu tradisional dalam gelas (bukan cairan atau tablet yang banyak di kios-kios). Ako menanyakan mau yang manis atau pahit, saya bilang yang manis saja. Saya pikir manisnya itu memang manis, ternyata pahit betul! Apalagi yang pahit betulan ya… Tapi jangan takut, karena ada segelas air jahe manis sebagai penetralisir. Rasa pahitnya jauh lebih kecil dibandingkan manfaatnya. Murah pula, Cuma 13 ribu per racikan.

Paling tidak, ada lima puluh tujuh jenis jamu yang dibuat Ako. Kebanyakan memang untuk penyakit-penyakit ringan seperti pusing, batuk, pegal, pilek, dsb. Tapi ada juga ramuan khusus untuk penyakit sedang seperti batu ginjal, liver, lemah jantung, dan kencing manis. Iseng-iseng saya Tanya, apa bisa untuk kanker? Ako menjawab, “Ooo…itu ada ramuannya juga….” Wah, hebat juga nih.

Bagi yang berminat, silakan mampir setiap hari kecuali minggu dan tanggal merah. Bukti Mentjos buka dari pukul 11 siang sampai 10 malam. Saran saya, datang sekitar jam 7 malam karena suasananya lebih enak dan kemungkinan besar bisa dilayani oleh Ako nya langsung.

20
Mei
09

Earth from Above

earth from above

Ada sebuah program cantik di Metro TV, judulnya Earth Above Us. Kalau tidak salah ditayangkan setiap hari Sabtu pukul 8 malam. Kemudian ditayangkan ulang beberapa kali dalam jangka waktu seminggu. Di dalamnya diceritakan betapa jahatnya manusia yang selama ini mengeksploitasi alam dengan membabi buta, tanpa peduli apa yang dirasakan alam yang sebetulnya secara tidak langsung akan mengancam manusia juga.

Di salah satu tayangannya, program ini bercerita tentang ketergantungan petani India terhadap produk-produk kimia (pupuk, pestisida, dsb) dari perusahaan-perusahaan raksasa. Karena semakin tingginya harga produk-produk tersebut, banyak petani yang dikejar-kejar hutang. Para pemilik toko menagihnya setiap saat. Tidak kuat dengan keadaan itu, banyak petani yang bunuh diri. Tercatat ada sekitar 25 ribu petani India yang bunuh diri karena malu dikejar pemilik toko.

Melihat kenyataan tersebut, ada seorang revolusioner (saya lupa namanya) yang berkeliling ke petani-petani India untuk mengajak kembali ke pertanian natural, atau di Indonesia disebut-sebut sebagai pertanian organic. Tokoh ini memasukkan doktrin bahwa menggunakan bahan-bahan kimia itu memang meningkatkan produktivitas tapi sekaligus membeli racun untuk dirinya sendiri.

Bisa dikatakan, doktrinasinya berhasil, banyak petani yang kembali ke pertanian organic. Tiba-tiba si tokoh ini mendapat tuntutan dari perusahaan-perusahaan besar yang menjual produk-produk kimia tadi. Sang perusahaan besar mengatakan bahwa si tokoh India ini tidak mendukung ketahanan pangan dunia bla bla bla. Padahal, semua orang tahu bahwa itu hanya kedok karena penjualan produknya berkurang di India. Entah bagaimana akhir dari cerita si tokoh ini, saya lupa.

Di akhir program, dikatakan bahwa mereka (tim pembuat program itu) telah melepaskan 64 ton karbondioksida dalam membuat programnya (penggunaan helicopter, pesawat, dsb). Jumlah itu sama dengan jumlah pelepasan karbondioksida oleh 7 orang Perancis dalam setahun. Karena itu, mereka merasa telah merusak alam. Maka mereka menyumbangkan sejumlah uang kepada sebuah LSM yang bergerak dalam program konversi bahan bakar dari kayu menjadi biogas dari kotoran hewan.

Saya perjelas sedikit. Jadi ada di satu sudut di bumi ini yang masyarakatnya menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasaknya. Kemudian ada LSM yang mencoba mengubah kebiasaan itu karena akan mereduksi jumlah tanaman yang ada di bumi yang itu berarti mengurangi penyerapan karbondioksida. LSM ini memberikan alat masak yang berbahan bakar panas matahari. Entah bagaimana mekanismenya, yang jelas kayu yang ditebang akan berkurang, itu tujuannya. Nah, si program Earth Above Us ini menjadi salah satu penyumbang dana dalam menggerakkan LSM ini. Hebat, kan!

06
Mei
09

Backpacker Indonesia Copot Semua Identitas

Sekitar dua tahun yang lalu, saya membaca satu buku yang sangat inspiratif, judulnya 5 cm. Setelah menutup halaman terakhir buku itu, adrenalin saya seakan meningkat. Tiba-tiba ada energy yang besar, siap untuk melakukan dua hal. Pertama, mencintai bangsa ini sebesar-besarnya. Kedua, menjelajahi Indonesia seluas-luasnya.

Untuk hal menjelajahi Indonesia, terkadang banyak kendala yang menghadang. Ketika ada keinginan dan teman jalan, uangnya tidak ada. Ketika ada uang dan teman jalan, waktunya tidak ada. Atau yang paling sering, ketika ada keinginan, waktu, dan uang, sayangnya tidak ada teman jalannya. Sehingga mau tidak mau perjalanan ditunda karena kalaupun dipaksa jalan sendirian, bisa jadi akan berisiko tinggi (mis: naik gunung), kurang seru, atau akan banyak menghabiskan uang akibat trip tidak efisien.

Kabar baiknya, keluh kesah itu sudah dapat dinetralisir dengan adanya komunitas Backpacker Indonesia (BI). Saya masuk komunitas ini sejak Februari 2009 kemarin. Saya ikuti aktivitasnya di facebook. Ramai diperbincangkan cerita-cerita trip, bagaimana membuat sebuah trip yang hebat sekaligus murah, dan tips dan trik dalam melakukan trip.

Padat sekali aktivitas yang ada di grup ini. Topic di Discussion Board(DB)-nya pun sangat aktif. Ternyata ada semacam semi-kepengurusan yang sudah dibentuk dalam komunitas ini. Awal komunitas ini terbentuk adalah dari seorang mahasiswi Bandung bernama Ilma Dityanngrum. Ia membuat satu trip perdana awal 2009 kemarin ke Pulau Sempu, Bromo, Pananjakan, dsk. Semua persiapan tetek bengek dibahas di DB. Komplit! Mulai dari jadwal trip, rincian prediksi biaya yang akan dikeluarkan, sampai barang-barang apa yang harus dibawa.

Sebagian besar yang aktif di DB ini belum pernah kenal sebelumnya. Sama sekali belum pernah bertatap muka. Semua komunikasi bermula dari DB dan tidak ada komunikasi langsung. Ketika pendaftaran trip ditutup, mereka yang ikut mulai berkomunikasi via HP masing-masing. Mereka berkumpul di tempat yang sudah disepakati (trip pertama kumpul di Malang). Anggota yang dari Jakarta, Bandung, Jogja, dan Surabaya berkumpul di Malang. Mereka berkenalan lalu menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari. Setelah selesai, mereka membuat semacam kepengurusan kecil. Ilma sebagai inisiator awal diberi jabatan Bu Lurah. Kemudian setiap cabang daerah punya ketua RW nya masing-masing (ada RW Jakarta, RW Bandung, dsb). Dari situlah, grup ini mulai melakukan pergerakan yang lebih besar.

Beberapa trip lagi dibuka kemudian. Ada trip yang dibuka untuk menjelajahi 5 negara hanya dengan 5 juta rupiah. Yang membuat saya tertarik adalah trip ke Kepulauan Seribu. Adhit yang membuka trip ini. Ia dengan lugas memberitahukan tujuan-tujuannya, kemudian rincian costnya (mulai dari ongkos perahu sampai sewa penginapan), dan juga detail waktunya per jam. Untuk yang berminat, bisa kirim uang Rp 50 ribu untuk DP sewa penginapan, sewa kapal, dsb.

Pagi itu, pukul 7 pagi di pom bensin Muara Angke, sekitar 30 orang sudah berkumpul dan siap berangkat. Sesuai jadwal yang diberikan Adhit, kapal berangkat pukul 7 pagi. Kapalnya sangat sederhana, lebih mirip kapal ikan (ya iyalah, kalo kapal pesiar bukan backpacker namanya), tapi tidak ada yang mempermasalahkannya, perjalanan tetap seru.

Singkat cerita, kami diajak snorkeling di beberapa tempat, jalan-jalan ke beberapa pulau, melihat taman nasional, dsb. Untuk itu semua, saya cuma keluar tidak lebih dari 200 ribu, tidak jauh dari prediksi yang Adhit paparkan. Sangat lain ceritanya kalau trip dilakukan sendiri, karena untuk penginapan dan sewa kapal akan jauh lebih murah kalau beramai-ramai.

Sebagian besar (sekitar 70%) yang ikut adalah mahasiswa, ada yang dari UI, IPB, UGM, ITB, Unpad, UNJ, dsb. Sebagian lagi sudah kerja, sebagai konsultan, PNS, jurnalis, banker, perpajakan, dsb. Di balik itu pasti masih banyak keragaman lain, perbedaan suku, agama, cara pandang, ideology, pergaulan, dsb. Tapi kami melepas semua itu, demi satu hobi yang sama, hobi menjelajahi sudut-sudut indah di bumi ini.

Sepulangnya dari trip itu, saya membawa oleh-oleh pengalaman, foto-foto hebat, dan sekian banyak kenalan baru. Komunikasi tetap dilanjutkan lewat facebook.

BI punya satu acara besar demi langkah yang lebih besar, yaitu Gathering pertama BI (tentunya ada jalan-jalannya donk), akan dilaksanakan di Bandung, 30-31 Mei ini. Bagi yang berminat silakan join grup BACKPACKER INDONESIA, lalu baca DB-nya untuk gimana-gimananya.

Salam ransel !




Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031