Uhuiiyy…=p

Di kantor tempat saya bekerja, karyawannya terbiasa untuk jadi anak jalanan, pergi ke sana ke mari mencari sesuap berita. Tentunya banyak intrik yang terjadi di setiap tulisan yang ditelurkan. Walaupun banyak juga yang biasa-biasa saja, alias kurang menantang, hehe. Setiap karakter orang, karakter tempat, karakter perusahaan punya keunikan yang sering dibicarakan di meja redaksi. Satu cerita berikut adalah salah satu yang cukup membuat suasana kantor panen polusi suara.

Begini ceritanya. Kami ingin mengangkat jatuh bangunnya industri hulu dan hilir komoditas karet di Indonesia. Di akhir pertemuan, kami bagi-bagi tugas. Teman saya ini, sebutlah Gepe, ditugaskan meliput ke salah satu perusahaan kondom dengan brand Artika di Bandung.

Dengan sigapnya beberapa hari kemudian dia tunggangi motornya, berangkat ke Bandung. Di sepanjang jalan, karena belum paham benar jalanan di Bandung, Gepe bertanya ke dua orang yang berbeda. Pertama, dia bertanya ke tukang bengkel di pinggir jalan. Posisi bengkel itu tepat di depan kios kecil. “Mas, tau pabrik kondom gak?” Dengan cepat si tukang bengkel teriak ke kios di seberangnya, “Woooy, ada yang mau beli kondom nih…” Gepe pun panic, runtuh sudah harga dirinya. Mukanya seperti dicoreng arang hitam yang legam. Sadar masih bisa memungut sisa-sisa harga dirinya, Gepe langsung mengklarifikasi, “Bukan…bukan…saya mau wawancara!” Gepe langsung melanjutkan perjalanannya tanpa melihat ke belakang lagi, malu euy…hihiii.

Kedua kalinya, dia bertanya ke seorang Satpam, “Pak, tau pabrik kondom gak?” Sang satpam tanpa malu-malu langsung cekikikan. Satpam satu itu langsung menanyakan ke satpam kawannya. Satpam kedua menunjukkan arah, tentunya dengan sumringahnya yang tak lekang. Mungkin dalam hatinya, “Dasar anak muda, nyari kondom sampai ke pabriknya, emang yang di warung gak cukup apa?”

Huhhh…letih berkendara, Gepe akhirnya menemukan pabrik kondom yang dimaksud. Sebelum masuk, dia makan dulu di tempat makan dekat pabrik. Sambil makan, sayup-sayup namun pasti, Gepe menyimak pembicaraan orang di dekatnya. Orang itu menggunakan bahasa Jawa. Karena mengalir darah Jawa Tulen di kapilernya, Gepe langsung sok akrab, “Dari Jawa ya mas?” Sang mas-mas menjawab, “Oh, bukan, saya dari Cirebon,” sambil senyum-senyum gak jelas, trus mas-mas itu ikutan sok akrab, “Mau ke mana mas?” Gepe menjawab, “Ke pabrik kondom di depan situ,” sambil menunjuk kea rah pabrik Dengan polosnya si mas-mas bertanya, “Mau apa? Ambil barang ya?” Ahahaha…Dengan kekinya, Gepe langsung angkat kaki melanjutkan tugas sucinya.

Singkat cerita, sesampainya di kantor, kami menagih oleh-oleh dari Bandung. Dengan sigap Gepe langsung mengeluarkan ber pak-pak kondom. Ahahaaa. Berhubung kami semua masih single, sampai hari ini kondom itu masih tergeletak di meja kantor. Ada yang mau??? =p

Iklan

Gapui; Prototipe Pedalaman Aceh

Lutung, hewan yang masih sering terdengar teriakannya di Gapui
Lutung, hewan yang masih sering terdengar teriakannya di Gapui

Sigli, sebuah kota yang bisa dikatakan besar di NAD. Kehidupan Sigli sudah cukup modern. Akses informasi hampir sama dengan di Jakarta. Hampir semua rumah sudah memiliki TV walaupun tidak bisa mengakses semua stasiun TV seperti di Jakarta. Radio dan Koran hampir sama nasibnya. Warung internet sudah banyak, walaupun tidak sebanyak Jakarta dan penggunanya juga masih belum banyak. Garis besarnya, dari segi aliran informasi, Sigli sudah layak dikatakan kawasan perkotaan. Lansekap Sigli juga mendukung pernyataan tersebut. Banyak rumah, banyak pedagang, dan sedikit sawah.

Tapi, itu ya Sigli, berbeda jauh keadaannya dengan Gapui, tetangga Sigli. Padahal jarak Gapui-Sigli hanya 3 km. Namun dengan cepat kita bisa menghakimi bahwa Sigli adalah kota dan Gapui adalah kampung.

Tidak ada angkutan umum yang bisa mengakses Gapui kecuali RBT, atau dalam bahasa Jakarta-nya ojeg. Entah siapa yang menamakan ojeg itu RBT. Setiap saya tanya ke teman yang berdarah Aceh, tidak ada yang tahu apa kepanjangannya. Mereka hanya menyebut RBT. Aneh. Ada yang memelesetkan menjadi Rakyat Banting Tulang. Haha. Tentu saja bukan itu kepanjangannya.

Sepanjang jalan, tidak ada pemandangan lain kecuali sawah dan hutan. Jalan akses Sigli-Gapui hanya selebar 3 meter. Masalah besar ketika dua mobil dari arah berlawanan berpapasan. Namun itu jarang terjadi karena tidak banyak penduduk Gapui yang memiliki mobil, bahkan mungkin tidak ada sama sekali.

Mulai memasuki Gapui, terlihat rumah-rumah tinggi, rumah panggung. Dulu, rumah panggung dimaksudkan untuk menghindari keganasan hewan-hewan buas, tapi sekarang rumah itu hanya sebagai adat atau budaya yang terus-menerus diturunkan dengan jumlah yang semakin berkurang karena ada anggapan bahwa rumah panggung adalah kampungan. Terselip beberapa rumah yang bukan panggung, sudah beton dan sudah memiliki pagar dari besi.

Ada yang unik dari rumah panggung di Gapui ini. Bahan dasarnya diambil dari batang kayu nangka. Penduduk meyakini bahwa kayu nangka adalah kayu yang paling kuat. Mereka menyambung batang demi batang sehingga terbentuklah sebuah rumah. Yang paling mencengangkan adalah, mereka menyambung dengan tanpa menggunakan paku sama sekali. Namun demikian, tidak pernah ada cerita rumah panggung Aceh rubuh. Sekalipun tidak pernah! Semuanya dibuat oleh arsitek alami tanpa gelar sarjana.

Tinggi rumah panggung bermacam-macam, kalau diambil rata-rata, mungkin 1,5-3 meter. Di bawah rumah panggung itu, masyarakat memanfaatkannya sebagai rumah bagi ternaknya, atau ada juga yang menggunakan sebagai ruang tamu, bahkan untuk keduanya sekaligus. Artinya betul-betul tamu yang datang dipersilakan duduk di kursi yang dekat dengan hewan ternak (biasanya kambing) yang diikat.

Memang, mata pencarian sebagian besar penduduk adalah beternak dan bertani. Maka merupakan hal biasa kalau di sepanjang jalan dan di setiap rumah akan terlihat ternak. Nah, ini juga unik. Paman saya yang dulu sempat menghabiskan masa kecilnya di Gapui bercerita, karena kebanyakan penduduk adalah petani, maka kesibukan warga hanyalah ketika masa tanam dan masa penen. Di waktu sela antara itu, warga menghabiskan waktu dengan bermain adu kerbau dan adu orang. Adu orang dalam arti yang sebenarnya! Kalau di olahraga, mungkin gambaran yang paling mendekati adalah gulat. Dua lawan satu. Yang dua tidak boleh menggunakan tangan (tidak boleh menonjok, memukul, menggampar, menampar, mencubit, dsb) sedangkan yang satu bebas memakai apa saja. Inilah hiburan yang paling menghibur bagi masyarakat. Entah masih ada atau tidak kebiasaan tersebut.

Waktu itu, saya berjalan-jalan ke Gapui dalam rangka silaturahim dengan keluarga. Definisi keluarga bagi orang kampung sangat luas dan sangat jauh. Mereka bisa mengatakan satu kampung (setara Kelurahan) itu adalah saudara semua. Kenyataannya bisa jadi demikian, karena banyak pernikahan dilakukan antara sesama warga kampung kemudian menetap di kampung itu juga, dan seterusnya. Nenek saya yang besar di Gapui selalu mengatakan, dia adalah saudara, orang yang di rumah tinggi itu saudara semua, bapak-bapak yang sedang berjalan itu saudara juga, dan seterusnya.

Kami singgah di rumah saudara yang saya juga tidak tahu bagaimana hubungannya sampai bisa dikatakan saudara. Di rumah itu saya bertemu seorang nenek, anak dan menantunya, serta cucunya yang baru berumur 1,5 tahun. Semuanya terpesona melihat si balita karena betul-betul menggemaskan. Ketika ditanya siapa namanya, kedua orang tuanya menyahut dengan santai, belum ada. Belum ada! Satu setengah tahun, kawan!

Mampir di rumah kedua, lagi-lagi nenek mengatakan ini rumah saudara dan lagi-lagi saya tidak peduli hubungan saudara macam apa antara saya dan dia, sudah terlalu banyak yang dijejalkan sebagai saudara ke tempurung ini hari itu. Kebetulan, ada anak kecil lagi, kali ini lebih kecil, umurnya belum genap satu tahun. Seperti di awal, sang Ibu belum membubuhkan nama untuk si anak. Malah sang ibu minta tolong untuk dicarikan nama. Seorang kerabat dari sang Ibu nyeletuk, “Ah, nama itu nanti saja, kalau memang sudah diperlukan, misalnya mau masuk sekolah, baru dipikirkan.” Wah, bisa stress ini orang dinas kependudukan. Di aturan yang ada, maksimal melaporkan kelahiran (dengan sudah ada nama) selambat-lambatnya 6 bulan setelah kelahiran, kalau tidak maka akan ada sanksi kurungan atau denda. Mungkin ini jawaban kenapa DPT (Daftar Pemilih Tetap) untuk Pemilu tidak pernah beres di negeri ini.

Lelah berkeliling, kami mampir ke rumah saudara yang kekerabatannya paling dekat (menurut Nenek). Di rumah panggung itu, kami disuguhi makanan yang pastinya sudah disiapkan sejak tadi pagi. Mendengar akan datang saudara jauh, maka si kerabat ini mempersiapkan makanan semaksimal yang bisa dibuatnya. Ya begitulah budaya orang kampung ketika menerima tamu. Di sela-sela makan, Nenek nyeletuk, “Eeeh Ibal mau air kelapa ya…” Dengan sigap, si empunya rumah langsung turun, memetik kelapa, lalu memecahkannya. Lima menit kemudian, kelapa yang sangat segar itu sudah tersaji di hadapan. Alami! Sangat alami!

Budaya kapitalis dan imperialis, baik yang lama, neo, atau apalah itu, sama sekali tidak terasa di Gapui. Yang ada adalah budaya hormat-menghormati, budaya gotong-royong, dan budaya memuliakan tamu. Sepertinya terbalik kalau orang kota mengatakan, “Ah, dasar kampungan!” Mungkin lebih tepat kalau orang kampung yang mencaci, “Dasar orang kota!”