Malang Melintang; Coban Rondo-Sempu-Bromo

Tersandar punggungku oleh kepala seorang bocah di kereta Matarmaja. Lima menit tak terasa sampai Aku terbangun. Kasihan anak itu, tergencet kursi kulit palsu Matarmaja dan punggungku. Duduknya ke arah depan tapi kepalanya berbelok ke kanan, condong. Maaf dik.

Tak lekang sepi. Matarmaja (Pasar Senen Jakarta-Malang, 51 ribu) di penghujung 2009 ini selalu penuh aktivitas. Teriakan “Kopi pop mie, kopi pop mie” terdengar hampir tiap menit. Semakin malam semakin menggelitik. Pedagang memplesetkan dagangannya, “Tora Sudiro” maksudnya Tora Bika atau “Susu janda liar” maksudnya bermacam susu instan. Banci pun tak mau kehilangan bagian, berdendang dari kursi ke kursi. Riuh.

Sampai di stasiun Malang. Tak ada dari rombongan kami yang tahan berlama-lama menyimpan keringat kering hasil metabolit sembilan belas jam di Matarmaja. Semua mandi di stasiun. Ada tiga kamar mandi cukup luas. Memang dibuat untuk mandi. Ada tempat menaruh barang, menaruh sabun. Bak mandi relatif luas. Dua ribu rupiah. Segar.

Selangkah lagi keluar stasiun, ada tawaran menarik dari seorang supir berplat hitam. Kami terima. Panther sewaan kami dari stasiun Malang pas memuat sembilan orang. Supir kami seorang Bapak Madura berkumis tebal beristri tiga. Aku agak takut bercanda dengannya. Bisa-bisa nanti keluar ancaman, “Tak sate sampeyan!” Perawakan wajahnya cukup mumpuni untuk melakukan itu. Hiiii.

Tak mengapa, kinerjanya apik. Dia menunjukkan kami penginapan paling murah yang pernah kusambangi, Wisma Ijen di Batu. Batu adalah satu daerah (mungkin Kabupaten) di utara Malang, kalau dilanjutkan bisa tembus ke Jombang atau Kediri. Udaranya sejuk sekali, banyak pohon di kanan kiri jalan.

Satu kamar di Wisma Ijen berisi empat kasur, kamar mandi dalam, dan sedikit tempat duduk-duduk hanya dibandrol 70 ribu. Bisa kutawar pula, 60 ribu. Kami pesan dua kamar. Masih banyak varian kamar lain sebetulnya. Ada kamar mini dengan dua kasur seharga 35 ribu, dsb.

Beberapa jenak melemaskan kaki. Setelah makan, sholat, dan bertemu Oci, host Malang yang baik sekali, kami beranjak menuju air terjun Coban Rondo. Karcisnya delapan ribu per orang. Tiga ribu per mobil. Sambil makan sosis Solo yang Oci bawa, kami telusuri jalan menuju air terjun. Sebentar saja.

Air terjun sepertinya punya tinggi seratus meter. Butuh empat detik untuk tiap butiran air terjun bebas. Tak ada yang sanggup berada tepat di bawah air terjun. Dua meter dari air terjun saja sudah seperti hujan deras. Kuyup. Belum lagi pukulan air dari atas.

Aku sempat baca sejarah Coban Rondo ini sekilas. Coban artinya air terjun. Rondo artinya janda. Dulu ada janda yang sering menangis di sini setelah ditinggal suaminya. Itu saja yang Aku ingat, belum tentu akurat pun.

Cuban Rondo. Dok: Muhammad Rahmannul Alianta

Kera di sekeliling Coban Rondo luar biasa banyaknya. Sama persis dengan Grojogan Sewu di Karanganyar, tetangganya Solo. Tampak di satu sudut, seorang anak umur SD memberikan kacang satu per satu pada kera. Belasan kera di sekelilingnya berebut. Kenapa ya gerombolan kera itu tidak berpikir untuk berkoalisi merebut seplastik kacang sekaligus seperti koalisi para hyena memburu kijang? Kera bodoh! Mirip era jaya islam yang kedua; banyak, tak berkutik.

Beberapa kios kecil menjual bermacam penganan di dekat parkiran Coban Rondo. Dua bungkus buah black berry dihargai lima ribu rupiah. Cukup untuk membuat semua bibir dan lidah menjadi ungu. Setelah berfoto dengan bibir dan lidah ungu, kami tancap menuju payung.

Payung adalah nama tempat seperti puncak di Bogor. Kawasan sejuk. Banyak orang berjualan jagung bakar dan mie instan. Karena masuk kawasan Malang, tentu susu segar dan bakwan Malang juga menjadi menu andalan di Payung.

Untuk sewa Panther seharian ini dari stasiun Malang menuju penginapan, tempat makan, Coban Rondo, Payung, kembali lagi ke penginapan, kami bayar 250 ribu rupiah. Tidak sampai tiga puluh ribu rupiah per kepala.

Malam hari waktu yang tepat untuk bersiap menjunjung Sempu besok. Sebagian dari kami menuju kota membeli pop mie, roti, cokelat, air mineral, dsb. Setiap orang membawa bekal dua botol air mineral 1,5 liter. Malam berlangsung agak panjang karena semua belanjaan digabung pembayarannya, jadi harus dipilah-pilah lagi malam ini.

Sepertinya Aku yang paling pagi bangun. Tidak bisa kembali tidur karena sudah terbiasa menjadi manusia pagi. Kubunuh waktu dengan berjalan-jalan di sekitar penginapan. Ternyata kawasan ini dekat sekali dengan perkampungan warga Batu.

Decitan burung layang-layang dan sedikit gonggongan anjing terharmonisasi rapi dengan gesekan kaki serangga, kokok ayam, dan nyanyian burung berbalut aliran sungai yang konsisten. Kala mata terpejam, seakan kelopak tak tega membuka kembali. Gendang telinga semakin rajin menangkap dan menganalisis suara-suara alam yang lebih mikro. Damai.

Terlihat gubuk kecil berisi tumpukan batu-batu kecil dan sebuah batu besar. Tempat warga memecah batu. Sepertinya daerah ini adalah pegunungan batu. Warga menambang batu sebagai salah satu pencahariannya. Jangan-jangan karena ini maka daerah ini disebut Batu? Tidak mungkin cuma ada satu gubuk, pasti di daerah ini banyak gubuk pemecah batu lain. Seperti kecoa, kalau ditemukan satu kecoa, maka yakinlah di sekitarnya masih banyak lagi.

Petani mengangkut pestisida di punggungnya. Penduduk tanpa sandal menggotong sekarung besar mayur. Aktivitas perkampungan berdenyut lemah. Interaksi hangat. Sangat jauh berbeda dari Jakarta sibuk.

Lekas bersiap. Pukul 9 pagi kami sudah kumpul di depan masjid UMM (Universitas Muhammadiah Malang), sesuai perjanjian dengan Dian, travel agent kami yang akan memperlihatkan kami “The Beach”nya Indonesia, Sempu.

Beres melunasi biaya sebesar 165 ribu, kami menjemput peserta lain di stasiun Malang. Total peserta tujuh belas. Travel agent yang turut menapaki Sempu tiga orang. Kami menggunakan dua Panther dan satu Trooper. Butuh tiga jam menuju Sendang Biru, yaitu pantai terdekat dengan Pulau Sempu tujuan kami.

Perjalanan menuju Sendang Biru betul-betul mengingatkanku pada Gunung Kidul. Jalan berliku, melintasi gunung, lalu tiba-tiba ketemu pantai. Jalan yang berliku juga sudah teraspal mulus. Namun tetap sepi. Betul-betul persis Gunung Kidul.

Sendang biru panas betul, untungnya angin cukup kencang. Tak nyaman dengan keringat, Aku mandi. Dua ribu rupiah. Ketika itu, sedang dibangun pelabuhan kecil. Pasirnya putih, banyak orang berenang di pantai. Jelas terlihat gradasi warna laut dari biru wangat muda menjadi biru sangat tua. Sepertinya ada palung antara Sendang Biru dan Sempu. Dari Sendang Biru sudah terlihat Sempu dengan sangat jelas. Persis di depan. Agak kecewa dengan kenyataan. Kupikir menyebrang ke Sempu akan melewati cukup tantangan.

Tempat makan yang murah dan variatif di Sendang Biru digapai dengan berjalan sekitar 200 meter. Soto ayam bernilai 7 ribu. Nasi+ayam+sayur+teh manis dibandrol 10.500. Menuju ke tempat makan itu, pohon kersen memanggil-manggil membentuk brikade di pinggir jalan. Ranum.

Kami menyebrang dengan kapal nelayan yang bisa memuat sekitar 15 orang. Biayanya seratus ribu bolak-balik, dijemput keesokannya. Namun biaya ini sudah termasuk fasilitas dari Dian. Hanya lima belas menit sampai Sempu, tepatnya di Teluk Semut. Kapal tidak bisa merapat ke pinggir pantai, jadi harus turun 50 meter sebelum bibir pantai. Seperti pengungsi perang Vietnam saja.

Banyak lubang-lubang berdiameter bola tenis di Teluk Semut. Dalamnya tak bisa diprediksi. Sarang semut memang bertebaran. Sempat berjinjit-jinjit karena takut semut merahnya mencium kaki. tapi sedetil mata memandang tak pula semut-semut itu muncul. Apa mereka pemalu? Entahlah, yang jelas dinamakan teluk semut.

Kalau tanpa rehat, tracking dari teluk semut menuju Segoro Anakan hanya satu jam. Jalur yang dilalui cukup mudah, tidak ada tanjakan atau turunan ekstrim. Lajur sudah terlihat jelas, kemungkinan tersasar pun mengecil. Untungnya waktu itu tidak sedang hujan dan tidak habis hujan, jadi jalan kering, mudah dilalui.

Sempu termasuk kawasan Cagar Alam. Artinya tidak ada komersialisasi daerah ini. Pohon yang tumbang, walaupun punya harga tinggi, tidak boleh diangkut ke luar. Maka wajar saja kalau banyak pohon melintang di tengah jalur yang kami lalui. Ranting pun tidak kalah banyaknya. Jarang sekali terlihat permukaan tanah yang mulus, ada saja daun yang menyelimutinya.

Layaknya hutan virgin, Sempu kaya akan jenis tanaman. Batang-batang yang menjulur menghubungkan pohon satu dengan pohon lain mudah didapat. Beberapa menjulur ke bawah, menggantung. Kuat untuk ber-tarzan ria.

Aku kaget bukan main melihat pantai tenang di sebelah kanan. Pasirnya sangat putih. Sepertinya itu pantai paling putih yang pernah kupijak. Segoro Anakan. Indah luar biasa. Tidak salah kalau seorang kawanku memirip-miripkannya dengan film “The Beach”. Hanya bedanya tidak ada hamparan ganja di sini.

Barang bawaan kutaruh, langsung menuju pantai. Bersih sekali pasirnya. Mengapung kurasakan lebih mudah di sini daripada pantai-pantai yang pernah kurenangi. Dengan menolkan tenaga yang kukeluarkan saja sudah cukup membuatku terapung. Kadar salinitasnya kurasa lebih tinggi.

Segoro Anakan seperti pantai yang terjebak di daratan. Airnya asin. Pantai dikelilingi tebing karang setinggi puluhan meter. Hanya satu celah yang menghubungkannya dengan samudra. Di celah itulah sirkulasi air berjalan. Ombak besar dari samudra menghempas celah tersebut memberi suplai air laut sekaligus menarik air Segoro Anakan.

Segoro Anakan. Dok: Muhammad Rahmannul Alianta

Aku sempat snorkeling. Semakin mendekat ke celah samudra, semakin dalam rasanya, semakin tidak terpijak dasarnya. Mungkin mencapai empat meter, tidak jelas karena saat itu air cukup berkabut. Aku merasakan hawa yang tidak enak ketika mendekati celah. Apalagi setelah melihat sekelebat ikan sepanjang satu meter. Rasanya ingin buru-buru menyingkir dari tempat itu. Padahal di situlah dapat dengan mudah ditemukan gerombolan ikan sebesar telapak tangan, berwarna-warni.

Puas berenang, Aku bilas tubuhku dengan air mineral supaya tidak lengket. Satu liter kuhabiskan, sudah termasuk untuk keramas. Aku tega berboros air karena tahu di samping bekal 3 liter per orang, ada satu gallon lagi yang dibawa. Jangan harap ada toilet umum atau suplai air tawar di sekitar sini. Kalau tidak bawa air sebelum menyentuh Sempu, habis sudah.

Matahari kembali ke peraduannya. Sayang sekali tidak ada tempat yang pas dari Segoro Anakan untuk menikmati sunset. Tebing karang yang tinggi menghalangi semuanya.

Enam buah tenda berdiri tegak sudah. Untuk makan malam, kami memasak air panas untuk menyiram pop mie yang kami bawa. Penggorengan kecil digunakan untuk menggoreng sosis sebagai asupan protein. Menikmati pop mie dengan canda tawa tak habis-habis. Ada saja celetukan yang membuat kami membuang tawa.

Bintang bersahabat sekali malam ini. Tidak ada yang titip absen. Maka sebagian dari kami memutuskan tidur di pinggir Segoro Anakan, beralaskan matras menikmati bintang. Dua meter dari bibir pantai. Cukup lama kami ngobrol sebelum tidur. Kami baru sadar, air pantai pasang, semakin lama semakin mendekat. Mundurlah lagi sekitar dua meter, untuk menghindari jilatan air pantai.

Akhirnya semua terlelap. Sampai semua terbangun karena air betul-betul menyentuh kaki salah satu dari kami. Pindahlah ke balik pandan berduri. Terlelap kembali dengan cepat. Sampai Aku sadar serangga kecil-kecil menggigit. Gigitannya sakit dan membuat gatal. Sekali kutangkap basah seekor serangga. Karena tidak ada akses cahaya, Aku hanya meraba saja. Bentuknya bulat keras, kecil seperti pasir. Serangga inilah yang sukses membuat belasan bentol merah di kakiku.

Suhu Segoro Anakan awalnya tidak dingin sama sekali, tapi menjelang subuh semakin dingin namun tetap dalam hitungan tidak dingin. Tidak mengapa jaket tanggal.

Matahari pagi tak terlihat karena tertutup tebing-tebing karang. Menuju tebing lewat pijakan karang-karang tajam. Pilih karang yang berbekas merah muda untuk dipijak karena itu menandakan sudah aman dipijak oleh pemijak sebelumnya.

Di pinggir tebing terlihat arus laut/samudra yang ganas. Karang menang, tak goyah. Sesekali, deburan ombak menyentuhku setelah bertarung melawan karang belasan meter di bawahku. Pertarungan hebat.

Memandang samudra dari tebing karang. Dok: Galih Permadi.

Menyadari matahari semakin panas, kami beranjak. Sebelumnya, Aku perhatikan kembali Segoro Anakan. Pantainya kembali mulus. Aku sudah tahu rahasianya, pasang sampai luber sepuluh meter membuat pasir pantai kembali suci. Ini terjadi setiap malam maka setiap pagi pantai kembali suci.

Berbenah. Tas semakin ringan karena banyak perbekalan yang sudah dienyahkan. Pengenyahan isinya saja, bungkus tetap kami bawa pulang ke Sendang Biru untuk dibuang. Dua puluh delapan botol kosong bekas air mineral, tujuh bungkus sampah, dan satu plastik sampah untuk memungut sampah di sepanjang jalan pulang. Tak tega rasanya mengotori pantai sebagus ini. Seperti pesan salah satu penjaga cagar, “Jangan tinggalkan sedikitpun sampah.” Namun kami, tepatnya beberapa oknum rombongan kami, tak kuasa untuk tidak membuat api unggun dari kayu yang sudah tidur di tanah. Maafkan Pak.

Sampai di Sendang Biru, ada satu acara yang belum tuntas, makan ikan bersama di kampung Irian. Menuju pasar ikan Sendang Biru kami gunakan mobil lalu dilanjutkan dengan berjalan sekitar 10 menit melalui jalan setapak dengan pemandangan pantai di sebelah kiri.

Dikatakan kampung Irian, konon katanya mereka yang tinggal di sini dulunya berasal dari Irian. Memang sih, Aku lihat perawakannya cukup meyakinkan sebagai orang Irian. Sesampainya di sana, hidangan sudah siap disantap. Aku suka sekali ikan bakarnya, entah ikan apa.

Rumah mereka ada di atas air. Terbuat dari kayu. Di halaman rumahnya yang berwujud air, ada beberapa kapal nelayan yang parkir. Ada juga kapal-kapal kecil dari fiber dicat biru. Di belakang rumahnya ada pula kapal kecil yang karam, beberapa.

Kembali ke tempat asal. Setelah semua mandi, kami kembali menuju Malang. Sampai alun-alun sekitar jam enam sore. Aku puas dengan travel agent kami. Semua yang dijanjikannya terpenuhi.

Provokasi tadi siang sukses menjaring empat belas orang untuk melanjutkan perjalanan ke Pananjakan-Bromo malam ini. Ditambah Oci menjadi lima belas. Oci yang mengatur Colt yang akan kami pesan. Empat ratus lima puluh ribu untuk satu Colt penumpang delapan. Per orang kami kena 60 ribu. Biaya itu untuk penjemputan di Malang (kami memilih alun-alun), menuju Pananjakan lanjut Bromo, lalu kembali ke Malang.

Colt akan menjemput kami pukul 12 malam. Sekarang baru pukul 7. Berarti ada 5 jam yang harus dibunuh. Pertama dengan makan malam. Agak sulit mencari tempat makan yang bisa menampung seluruh rombongan. Soto dan sate yang tepat berada di hook alun-alun pun demikian. Warung ramai yang sepertinya nikmat juga begitu. Maka kami masuk ke tempat yang agak sepi. Ada yang bilang kalau sepi berarti ada apa-apanya, bisa tidak enak, bisa mahal, dsb. Aku pesan soto Madura biasa seharga 7 ribu. Jus mangga seharga 5500.

Pukul Sembilan malam. Tidak tahu lagi yang akan kami perbuat. Kami putuskan nongkrong di alun-alun. Tadi alun-alun ramai. Banyak pengunjung, banyak pedagang. Warna-warni di langit sesak dengan barang dagangan untuk menggaet pelanggan cilik. Tapi sekarang sudah sepi. Hanya ada kami dan beberapa orang misterius.

Aku dan beberapa lainnya langsung merebahkan punggung di rerumputan. Tak sadarkan diri dalam lima menit. Kalau tidak ada gerimis mungkin esok pagi baru Aku bangun. Kami pindah ke trotoar alun-alun yang beratap untuk melindungi dari gerimis. Beberapa langsung terlelap tanpa aba-aba. Memang, perjalanan kami dua hari ini sungguh melelahkan sekaligus mengasyikkan. Tak perlu kupikirkan apa kata orangtuaku kalau melihatku tidur di trotoar alun-alun kota yang berjarak ratusan kilometer dari rumah. Tak peduli, yang penting Aku bisa rehat.

Tepat pukul dua belas, dua colt sudah berjejer rapi. Berkemas dan jalan. Dua jam kemudian kami tiba di Pananjakan. Selama dua jam itu kami dipusingkan dengan jalan berkelok. Sayang sekali tidak bisa kulihat indahnya kanan kiri jalan karena gulita.

Jam tiga pagi kami sudah sampai. Terlalu cepat. Lebih baik dari terlalu lambat. Menurut supir kami, baru pukul empat nanti ramai. Dari parkiran menuju view area Pananjakan tidak jauh, hanya berjalan sepuluh menit. Jarak tidak masalah, suhu yang masalah. Dinginnya sampai mengigit-gigit tulang. Wajar saja bertaburan orang yang menyewakan jaket tebal. Sepuluh ribu rupiah.

Sampai hampir pukul enam, matahari masih disadap awan. Ini kali kedua Aku ke sini dan kali kedua pula awan menyadap pemandanganku. Katanya, kalau mau mendapat pemandangan yang bersih, datanglah sekitar bulan Agustus.

Bromo, Batok, dan Semeru dari Pananjakan. Dok: Muhammad Rahmannul Alianta

Gunung Bromo hanya jelas memperlihatkan asap belerangnya. Gunung Batok samar-samar. Semeru seperti tak tampak. Padahal, kalau tidak ada awan, ketiganya akan indah sekali dijepret. Seperti foto yang kulihat dibawa oleh penjual jasa foto keliling di Pananjakan.

Lanjut menuju Bromo. Sebelumnya kami sempat mampir untuk foto-foto di balik gunung Batok. Batok yang kokoh pantas sekali untuk dijadikan teman berfoto. Bentuk gunungnya gunung sekali. Tidak ada kelok-kelok di punggung gunungya. Lurus sampai puncak.

Patok-patok besar menghalangi Colt kami untuk lebih mendekat ke Bromo. Dulunya patok ini tidak ada. Penjaja jasa kuda tidak senang karena merasa sesuap nasinya dirampok para pemilik Colt & Jeep. Akhirnya jadilah patok tersebut.

Walau sudah menyiapkan tenaga dan tekad untuk sekali jalan menuju puncak Bromo, lagi-lagi gagal. Tangga terlalu tinggi dan oksigen terlalu tipis. Namun semua terbayar setelah sampai di puncak. Asap sedang banyak hari ini. Apa karena itu banyak penduduk setempat yang membawa sesajen? Di tebing-tebing kawah, banyak terlihat makanan yang dilemparkan dari atas. Sepertinya tadi pagi ada pesta kecil.

Nikmat memandang ke sekeliling dari atas Bromo. Kawah berasap yang masih misterius. Pura bersih terawat yang sengaja dibangun di kaki Bromo. Hamparan lautan pasir. Gunung Batok. Semua dapat dilihat dari puncak Bromo.

Puas dengan semuanya, kami beranjak menuju peraduan masing-masing. Ada yang memakai jasa Gajayana, Bangunkarta, Matarmaja, bahkan ada yang terbang dari Surabaya. Semua membawa bercak senyum dari Malang. Beberapa butuh bercak konkret berupa keripik nangka dan keripik apel.

Setengah juta rupiah dan lima hari yang kusisihkan lunas sudah terbayar dengan Coban Rondo, Sempu, Bromo, dan kehangatan komunitas Backpacker Indonesia.

*Tulisan ini diedit oleh Sri Anindiaty Nursastri.

Iklan

Mendekatkan Panggang dengan Api Anak Jalanan

Walaupun berjarak empat puluh kilometer dari Ibukota, Bogor masih banyak mengadopsi budaya Jakarta. Saya kerja di daerah Baranang Siang yang menjadi pusat kota Bogor. Tidak ada perbedaan besar dengan Jakarta. Baranang Siang juga dikelilingi restoran-restoran besar, mal-mal megah, factory outlet bagus, dan sebagainya. Juga selalu ada unsur anak jalanan, pengemis, dan kaum pinggiran lainnya.

Kampung Cieheuleut hanyalah salah satu perkampungan yang dihuni oleh kaum termarjinalkan tersebut. Kami yang tergabung dalam relawan SABOR (Saung Belajar Anak Bogor) mencoba meminimalkan ketimpangan tersebut dengan jalan pendidikan.

Selasa dan Minggu menjadi agenda rutinan kami untuk mengajar. Karena pemahaman yang belum banyak, belum ada metode terarah untuk isi pembelajaran di dalamnya. Kami hanya mengikuti kurikulum dari sekolah, sedikit ditambah dengan Bahasa Inggris.

Suatu waktu, saya coba perkenalkan laptop dan Microsoft Word pada salah seorang anak seumuran SMP. Anak asuh saya ini tertarik sekali mempelajarinya. Saya bukakan MS Word lalu saya tugaskan dia mengetik. Maka satu setengah jam matanya tidak lepas dari layar dan keyboard berusaha mencari huruf-huruf untuk menyusun kata. Terkadang butuh puluhan detik beranjak dari satu huruf ke huruf lain, pertanda jarang sekali menggunakan keyboard.

Dia bilang bahwa pernah sekali belajar di salah satu rental kampus dekat tempat tinggalnya. Dengan pembelajaran dari saya waktu itu, berarti dia baru dua kali memencet tuts keyboard, setelah belasan tahun hidup. Dua kali!

Besar sekali keinginan saya memperkenalkan internet lebih lanjut kepada mereka. Apa daya, kami tidak punya dana besar, hanya bergantung pada dana relawan saja. Namun, mimpi itu masih tetap saya tanam. Suatu saat nanti, saya ingin satu per satu anak asuh saya tersebut memegang laptop berakses internet. Saya ajarkan membuat blog dan mengutarakan pandangan dan keluh kesah mereka. Saya ajarkan membuat akun facebook lalu memberikan link ke pejabat dan orang-orang pengambil keputusan sehingga mereka bisa protes langsung dan memberikan ide langsung kepada pejabat terkait.

Semangat belajar mereka besar. Terlihat dari pupil matanya ketika relawan memberikan penjelasan tentang bilangan desimal, tentang kalimat majemuk, dsb. Sayangnya akses mereka terbatas. Andai akses internet masuk pada mereka, tentunya api semangat mereka akan lebih dekat dengan segala hal berbau ilmu pengetahuan.

Reverse Library; Pay It Forward

Bukan rahasia lagi bahwa perpustakaan pada umumnya selalu sepi, di manapun itu (selama masih di Indonesia; diwakili Jakarta dan Bogor) dan sebagus apapun itu. Sepengamatan saya pribadi, penggemar perpustakaan cuma mahasiswa yang mau menyusun karya tulisnya atau para peneliti yang hunting sumber pustaka. Bahkan waktu saya buat kartu keanggotaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), hal pertama yang ditanyakan petugas, “KTM nya mana?”, saking seringnya mahasiswa yang berkunjung. Padahal ada juga kartu anggota PNRI untuk umum dengan modal KTP. Atau itu karena tampang saya masih imut-imut ya? =p

Padahal, tidak sedikit juga yang hobi sekali membaca. Saya kebetulan hidup di kelilingi orang-orang yang suka membaca. Mereka malas datang ke perpus, walaupun mereka bisa mendapat akses baca buku gratis dengan hanya bermodalkan ongkos jalan ke perpusnya. Beberapa yang suka membaca tapi kurang bisa membeli buku secara rutin, tetap tidak memilih untuk pergi ke perpus. Dia lebih memilih mencari temannya untuk meminjam buku yang dia inginkan.

Ganti berganti membaca buku ini baik sekali menurut saya. Satu buku bisa memberikan manfaat tidak hanya ke satu orang. Sebetulnya cita-cita itu juga yang ingin dicapai penggiat perpustakaan. Tapi sepertinya pendekatannya kurang tepat untuk menggaet salah satu golongan pecinta buku sehingga perpus tetap sepi.

Dari fakta-fakta itu, saya punya pemikiran untuk memberikan pendekatan yang menurut saya lebih efektif. Tujuannya tetap untuk membuat satu buku bisa dibaca oleh sebanyak-banyaknya orang. Kalau perpustakaan memberi kesan pembaca yang mencari buku, gerakan ini membalik hal tersebut, buku yang akan mencari pembacanya.

Saya tidak tahu data penelitian tentang kebiasaan orang memperlakukan buku setelah dibaca habis. Tapi dari pengamatan saya, orang hanya membaca sekali atau dua kali lalu buku akan disimpan atau dipinjamkan ke temannya. Kalau dia pinjamkan ke temannya, tentu saja lebih bagus, tapi karena kecilnya lingkungan, maka tidak akan banyak orang yang akan meminjamnya, kecuali buku itu sangat popular.

Nah, bagaimana kalau buku itu bukan dipinjamkan, tapi diberikan? Dengan syarat, orang yang diberikan ini berniat membaca buku itu dan mau memberikannya ke orang lain lagi dengan syarat yang sama. Begitu seterusnya. Semakin kredibel orang yang mendapat buku itu semakin panjang daftar orang yang akan membaca buku itu.

Pemberiannya bisa kepada teman kuliah, teman kantor, keluarga, atau lingkungan tempat dia bersosialisasi, asalkan dia bisa yakinkan bahwa orang yang akan diberikan buku ini punya maksud baik dan mau memberikannya kepada orang lain yang punya maksud baik juga.

Bahkan, kalau dia tidak mendapatkan orang di sekitarnya yang kredibel untuk melanjutkan program ini, dia bisa memberikan pada orang yang lokasinya jauh (tetap orang yang dia kenal). Buku bisa dikirimkan via pos. Biayanya ya dari kantong yang mau memberikan buku itu. Ini memang bagian pahitnya. Tapi kalau dia punya niat sosial yang tinggi, sepertinya tidak akan terlalu berat kalau mengeluarkan tidak lebih dari Rp10 ribu untuk melanjutkan keterbacaan buku itu.

What do you think?

Grafiti Pancoran

Sayang malam itu aku tidak bawa kamera. Pancoran sekarang sudah dipenuhi Grafiti yang gak norak dan lumayan berbobot. Di tiang-tiang jalan tol dalam kota, tepatnya di titik pancoran dan kuningan, tampak gambar polisi dan pengguna jalan, sang polisi berucap, “Tertib berlalu lintas, aman di jalan.” Atau gambar seperti seorang pengendara motor yang menggunakan helm standar sambil tersenyum, lalu di bawah gambar itu tertulis “Gaya aman berkendara”, maksudnya mengajari bahwa helm standar itu bikin aman. Ada juga yang menggambarkan bagaimana safety riding. Hamper semua tiang sudah dipenuhi graffiti yang masing-masing punya pesan tersendiri.

Tentunya, bomber, istilah orang yang melakukan aksi graffiti, tidak akan berani beraksi di Pancoran yang tidak pernah mati dan jarang lekang dari pengawasan polisi. Sepertinya ada kerja sama antara polisi lalu lintas dan para bomber ini. Simbiosis mutualisme. Bomber bisa tertampung hobinya, polisi bisa mensosialisasikan pesan-pesannya pada masyarakat. Sangat sepakat dengan idenya.