Gapui; Prototipe Pedalaman Aceh

Lutung, hewan yang masih sering terdengar teriakannya di Gapui
Lutung, hewan yang masih sering terdengar teriakannya di Gapui

Sigli, sebuah kota yang bisa dikatakan besar di NAD. Kehidupan Sigli sudah cukup modern. Akses informasi hampir sama dengan di Jakarta. Hampir semua rumah sudah memiliki TV walaupun tidak bisa mengakses semua stasiun TV seperti di Jakarta. Radio dan Koran hampir sama nasibnya. Warung internet sudah banyak, walaupun tidak sebanyak Jakarta dan penggunanya juga masih belum banyak. Garis besarnya, dari segi aliran informasi, Sigli sudah layak dikatakan kawasan perkotaan. Lansekap Sigli juga mendukung pernyataan tersebut. Banyak rumah, banyak pedagang, dan sedikit sawah.

Tapi, itu ya Sigli, berbeda jauh keadaannya dengan Gapui, tetangga Sigli. Padahal jarak Gapui-Sigli hanya 3 km. Namun dengan cepat kita bisa menghakimi bahwa Sigli adalah kota dan Gapui adalah kampung.

Tidak ada angkutan umum yang bisa mengakses Gapui kecuali RBT, atau dalam bahasa Jakarta-nya ojeg. Entah siapa yang menamakan ojeg itu RBT. Setiap saya tanya ke teman yang berdarah Aceh, tidak ada yang tahu apa kepanjangannya. Mereka hanya menyebut RBT. Aneh. Ada yang memelesetkan menjadi Rakyat Banting Tulang. Haha. Tentu saja bukan itu kepanjangannya.

Sepanjang jalan, tidak ada pemandangan lain kecuali sawah dan hutan. Jalan akses Sigli-Gapui hanya selebar 3 meter. Masalah besar ketika dua mobil dari arah berlawanan berpapasan. Namun itu jarang terjadi karena tidak banyak penduduk Gapui yang memiliki mobil, bahkan mungkin tidak ada sama sekali.

Mulai memasuki Gapui, terlihat rumah-rumah tinggi, rumah panggung. Dulu, rumah panggung dimaksudkan untuk menghindari keganasan hewan-hewan buas, tapi sekarang rumah itu hanya sebagai adat atau budaya yang terus-menerus diturunkan dengan jumlah yang semakin berkurang karena ada anggapan bahwa rumah panggung adalah kampungan. Terselip beberapa rumah yang bukan panggung, sudah beton dan sudah memiliki pagar dari besi.

Ada yang unik dari rumah panggung di Gapui ini. Bahan dasarnya diambil dari batang kayu nangka. Penduduk meyakini bahwa kayu nangka adalah kayu yang paling kuat. Mereka menyambung batang demi batang sehingga terbentuklah sebuah rumah. Yang paling mencengangkan adalah, mereka menyambung dengan tanpa menggunakan paku sama sekali. Namun demikian, tidak pernah ada cerita rumah panggung Aceh rubuh. Sekalipun tidak pernah! Semuanya dibuat oleh arsitek alami tanpa gelar sarjana.

Tinggi rumah panggung bermacam-macam, kalau diambil rata-rata, mungkin 1,5-3 meter. Di bawah rumah panggung itu, masyarakat memanfaatkannya sebagai rumah bagi ternaknya, atau ada juga yang menggunakan sebagai ruang tamu, bahkan untuk keduanya sekaligus. Artinya betul-betul tamu yang datang dipersilakan duduk di kursi yang dekat dengan hewan ternak (biasanya kambing) yang diikat.

Memang, mata pencarian sebagian besar penduduk adalah beternak dan bertani. Maka merupakan hal biasa kalau di sepanjang jalan dan di setiap rumah akan terlihat ternak. Nah, ini juga unik. Paman saya yang dulu sempat menghabiskan masa kecilnya di Gapui bercerita, karena kebanyakan penduduk adalah petani, maka kesibukan warga hanyalah ketika masa tanam dan masa penen. Di waktu sela antara itu, warga menghabiskan waktu dengan bermain adu kerbau dan adu orang. Adu orang dalam arti yang sebenarnya! Kalau di olahraga, mungkin gambaran yang paling mendekati adalah gulat. Dua lawan satu. Yang dua tidak boleh menggunakan tangan (tidak boleh menonjok, memukul, menggampar, menampar, mencubit, dsb) sedangkan yang satu bebas memakai apa saja. Inilah hiburan yang paling menghibur bagi masyarakat. Entah masih ada atau tidak kebiasaan tersebut.

Waktu itu, saya berjalan-jalan ke Gapui dalam rangka silaturahim dengan keluarga. Definisi keluarga bagi orang kampung sangat luas dan sangat jauh. Mereka bisa mengatakan satu kampung (setara Kelurahan) itu adalah saudara semua. Kenyataannya bisa jadi demikian, karena banyak pernikahan dilakukan antara sesama warga kampung kemudian menetap di kampung itu juga, dan seterusnya. Nenek saya yang besar di Gapui selalu mengatakan, dia adalah saudara, orang yang di rumah tinggi itu saudara semua, bapak-bapak yang sedang berjalan itu saudara juga, dan seterusnya.

Kami singgah di rumah saudara yang saya juga tidak tahu bagaimana hubungannya sampai bisa dikatakan saudara. Di rumah itu saya bertemu seorang nenek, anak dan menantunya, serta cucunya yang baru berumur 1,5 tahun. Semuanya terpesona melihat si balita karena betul-betul menggemaskan. Ketika ditanya siapa namanya, kedua orang tuanya menyahut dengan santai, belum ada. Belum ada! Satu setengah tahun, kawan!

Mampir di rumah kedua, lagi-lagi nenek mengatakan ini rumah saudara dan lagi-lagi saya tidak peduli hubungan saudara macam apa antara saya dan dia, sudah terlalu banyak yang dijejalkan sebagai saudara ke tempurung ini hari itu. Kebetulan, ada anak kecil lagi, kali ini lebih kecil, umurnya belum genap satu tahun. Seperti di awal, sang Ibu belum membubuhkan nama untuk si anak. Malah sang ibu minta tolong untuk dicarikan nama. Seorang kerabat dari sang Ibu nyeletuk, “Ah, nama itu nanti saja, kalau memang sudah diperlukan, misalnya mau masuk sekolah, baru dipikirkan.” Wah, bisa stress ini orang dinas kependudukan. Di aturan yang ada, maksimal melaporkan kelahiran (dengan sudah ada nama) selambat-lambatnya 6 bulan setelah kelahiran, kalau tidak maka akan ada sanksi kurungan atau denda. Mungkin ini jawaban kenapa DPT (Daftar Pemilih Tetap) untuk Pemilu tidak pernah beres di negeri ini.

Lelah berkeliling, kami mampir ke rumah saudara yang kekerabatannya paling dekat (menurut Nenek). Di rumah panggung itu, kami disuguhi makanan yang pastinya sudah disiapkan sejak tadi pagi. Mendengar akan datang saudara jauh, maka si kerabat ini mempersiapkan makanan semaksimal yang bisa dibuatnya. Ya begitulah budaya orang kampung ketika menerima tamu. Di sela-sela makan, Nenek nyeletuk, “Eeeh Ibal mau air kelapa ya…” Dengan sigap, si empunya rumah langsung turun, memetik kelapa, lalu memecahkannya. Lima menit kemudian, kelapa yang sangat segar itu sudah tersaji di hadapan. Alami! Sangat alami!

Budaya kapitalis dan imperialis, baik yang lama, neo, atau apalah itu, sama sekali tidak terasa di Gapui. Yang ada adalah budaya hormat-menghormati, budaya gotong-royong, dan budaya memuliakan tamu. Sepertinya terbalik kalau orang kota mengatakan, “Ah, dasar kampungan!” Mungkin lebih tepat kalau orang kampung yang mencaci, “Dasar orang kota!”

Iklan

Bohemian, Are You?

cara pakaian Bohemia
cara pakaian Bohemia

Satu lagi budaya unik yang bisa jadi cerita. Kaum Bohemian. Kalau dideskripsikan dalam satu kalimat, mungkin begini: life is easy, so make it easy!

Mereka memandang sesuatu dengan sudut pandang yang menyenangkan aja. Sepertinya gak ada masalah dengan itu. Tapi ketika lesbian, homo, dan transgender jadi barang halal buat mereka, maka mulailah konflik dengan society di sekeliling mereka. Lebih-lebih ketika hubungan seksual di luar nikah sering menjadi pelampiasan cara pikir di sudut otak yang gak bener itu. Semakin parahlah konflik yang ada.

Awal kata Bohemia itu dari satu kerajaan di Republik Ceko. Civitas kerajaan, dari tukang sapu sampai rajanya sendiri itu yang disebut Bohemian. Seiring berjalannya waktu, orang Eropa mulai ngerti bahasa Ceko. Dari Eropa ini nyebar ke mana-mana. Akhirnya, kata Bohemia ini berubah fungsi, menjadi lebih mendeskripsikan suatu gaya hidup, ya yang seperti tadi itu.

Penganutnya kebanyakan kalangan artis, penulis, musisi, dan segala macam profesi yang mempunyai kesan bebas. Bebas boleh, tapi yang terkontrol donk…

Drag Queen Semakin Berkembang

 Drag Queen from Key West
Drag Queen from Key West

Drag adalah salah satu sinonim dari “dress”. Kalau diartikan secara bahasa, Drag Queen adalah berbusana layaknya seorang ratu. Penuh warna warni, kerlap kerlip di seluruh bagian tubuh. Ribet ya? Okedeh, gini gampangnya, Drag Queen itu sebutan bagusnya untuk bencis, atau laki laki yang suka bergaya layaknya seorang wanita. Cukup jelas kan?

Saya tidak mengatakan apa pun tentang hasrat kelelakian mereka. Apakah ikut larut beserta gayanya atau tidak, saya tidak tahu. Mereka tidak suka dibilang gay, tidak suka dibilang wanita, mereka Drag Queen. Drag Queen ya Drag Queen! Ru Paul, salah satu Drag Queen yang cukup gandrung di negeri Paman Sam bilang, “I don’t dress like a woman; I dress like a drag queen!”

Hampir di seluruh penjuru bumi (inc. Indo) punya Drag Queen (u know lah). Dalam agama yang saya anut, itu salah besar. Wanita tidak boleh bergaya seperti lelaki dan sebaliknya. Tapi saya Cuma ingin bercerita, bukan berdebat tentang ini boleh atau tidak dalam strata sosial.

Menurut Wikipedia, Drag Queen juga punya strata dan budaya yang berbeda beda. Mungkin berdasarkan kemahiran mereka menyulap dirinya menjadi wanita? Saya juga kurang paham. Yang jelas mereka punya satu kesamaan yang tidak berubah dari dulu, suka dilihat banyak orang alias banci tampil dalam arti yang sesungguhnya. Lucunya, masyarakat senang akan tontonan itu. Makin menggilalah sang banci tampil.

Percaya atau tidak, saya pernah baca di satu majalah, Drag Queen punya semacam kontes tahunan. Banyak sekali Drag Queen yang datang di kontes ini. Tempatnya selalu di Thailand! Yap, Thailand, gudangnya Drag Queen dunia. Tempat di mana Anda dan saya tidak bisa membedakan mana perempuan tulen dan mana yang abal abal. Ini sungguhan! Paling tidak, itu yang dikatakan banyak artikel. Saya pun belum pernah melihatnya langsung.

Setiap tahun, kontes itu semakin besar, semakin berkembang. Ada juga website http://www.drag-queen.com/ yang menjual barang-barang khusus untuk para drag queener. Agak-agak geli ngeliat isi tu website. Ini bukti bahwa Drag Queen semakin meraja lela, semakin dikagumi masyarakat.

Kiamat sudah dekat !!!

Squatting, Kenapa Tidak?

squatting, salah satu gaya hidup kaum urban
squatting, salah satu gaya hidup kaum urban

Kurang lebih begini gambaran Squatting. Ada gedung/rumah kosong di salah satu tempat. Selama setahun, rumah itu tetap kosong. Lalu masuklah sekelompok orang dengan mendobrak atau mencungkil lubang kunci pintu. Kemudian mereka tinggal di rumah itu. Peduli setan siapa yang punya rumah itu. Tingkah seperti ini disebut squatting.

Beberapa waktu kemudian, mereka berkenalan dengan tetangga di sekitarnya. Mereka menjalin komunikasi layaknya tetangga. Mereka tidak merampok, mereka hanya ingin tinggal di rumah kosong. Ada yang dirugikan?

Hampir semua Negara menganggap kerjaan squatting ini illegal, masuk ke tindakan criminal. Tapi tidak untuk Belanda.

Pemerintah Belanda punya hukum yang mengatakan bahwa orang bisa tinggal di sebuah rumah dengan syarat dia punya kasur, meja, sama kursi. So, squatter gak salah di poin ini. Hukum ini juga yang menjadikan Squatting tumbuh subur di Belanda. Ini legal di Belanda, asalkan dia udah pastiin gak ada yang menghuni rumah itu selama 12 bulan.

Cuma, mereka biasanya merupakan golongan anak2 muda yang suka jedag jedug, jadi mereka bikin party sendiri di rumah yang bukan rumah mereka itu. Berontaklah si tetangga. Tapi ini kasus. Banyak juga yang aman2 aja jadi squatter bertahun-tahun.

Lucunya, sekelompok bocah2 ini punya buku “The Squatters Handbook” yang dikeluarin sama Advisory Service for Squatters (ASS). Weleh weleh. Ada pula begini2annya. Adanya ASS menjadi indicator bahwa squatter tu bejibun. Ada yang berminat?

Udah banyak loh squatters asal Indo. Sebetulnya definisi squatting gak Cuma terbatas pada penguasaan gedung kosong aja, tapi juga tanah kosong, lebih tepatnya tanah yang dianggap kosong. Wiiih, orang Indo cepet banget nih ngisi yang kosong2 begini. Modal kardus juga jadi. Emang insting invasi orang Indo dahsyat deh!

Yes, They’re Fruitarian!

makan malamnya fruitarian, sanggup?
makan malamnya fruitarian, sanggup?

Kalau Vegetarian mungkin sudah akrab di telinga kita. Tapi tentang Fruitarian? Yang ini lebih ekstrim lagi dari kaum vegetarian.

Welcome to the Fruitarian site, the international meeting point for people who love to eat fruit. We eat raw fruit only…and we feel GREAT !!!!

Itulah dua kalimat awal yang dipajang di Fruitarian.com

Mereka bikin ”The Fruitarian Foundation” yang punya tujuan utama menyadarkan masyarakat bahwa makan buah mentah itu penting. Di situs itu juga mereka nerima donatur2 yang mau bantu misi mereka itu.

Saya juga kurang paham tentang jenis orang yang diberi label vegetarian atau fruitarian seperti apa karena di lingkungan saya tidak ada contoh konkret berbentuk orang, yang ada Cuma info dari majalah2. Ada sih teman yang memberlakukan diet buah dan sayur, tapi itu Cuma dalam jangka waktu tertentu, setelah beratnya mencapai angka normal, makanannya kembali seperti zaman jahiliah dulu.

Di majalah yang saya baca, kaum Fruitarian ini Cuma mau makan buah yang sudah jatuh dari pohonnya. Kalau memetik, mereka bilang itu kejam, tidak berpri ketumbuhanan (?), begitulah kira2 keekstriman mereka. Saya jadi ingat salah satu instruktur di taman buah Apel Malang, dia mengajarkan cara yang bagus untuk memetik buah adalah dengan memutar buah sampai copot sendiri dari batangnya. Tapi ini juga masuk dalam kategori memetik, bukan menunggu jatuh seperti yang Fruitarian lakukan.

Dari segi kesehatan, tidak diragukan lagi, itu menyehatkan, selama asupan protein, lemak, dan korbohidratnya tercukupi. Tapi, gimana coba dapetin buah yang udah jatuh dari pohonnya? Mau dijagain di bawah pohon?

Yah, apapun yang mereka lakukan, maksud mereka baik, mau sehat dan mau menyehatkan orang lain. Go Veg!

Hati-Hati Bom !

hati-hati bom !
hati-hati bom !

“Gw gak suka banget sama keadaan kereta api kita, semerawut! Jadi gw bom aja pintu keretanya,” Eit, jangan berpikir ini aksi terorisme. Itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut kaum salah satu penggiat urban art.

Urban art, kalau dijabarkan dalam bahasa Indo, artinya adalah seni dari kaum perkotaan. Salah satunya itu Grafiti. Seni corat-coret tembok yang biasanya dilakukan di malam hari. Malam hari di sini artinya betul-betul malam hari, mungkin sama seperti jam kerja manusia malam.

Mereka memakai istilah ngebom untuk melakukan aksi mereka mencoret2 tembok yang kebanyakan adalah fasilitas umum. Jangan disamakan antara istilah ngebom di sini dengan mahasiswa yang kebelet ngebom waktu kuliah, atau alm.Imam Samudra yang ngebom dalam arti sesungguhnya.

Saat ini saya hanya mencoba menjadi komentator saja. Hanya ingin membandingkan hasil bom kaum urban di Indonesia dengan orang-orang bule itu lewat kacamata yang sangat subyektif.

Tulisan2 Wake Up! Atau nukilan Think! Terlihat manis menghiasi tembok-tembok dalam video clip John Mayer-Waiting on The World to Change. Tulisan tersebut dikemas dengan desain apik sehingga bisa membuat kita terbius sejenak dan Think!

Ada juga beberapa iklan dari luar, waktu itu saya melihatnya di salah satu pameran iklan TV, yang menggunakan bomber2 bule itu secara komersil. Artinya, mereka betul-betul membuat iklan di tembok. Mungkin mereka membayar semacam pajak tembok kepada pemerintah agar bisa beriklan di tembok. Saya juga kurang tahu.

Sekarang kita bandingkan dengan bomber dari Indonesia. Kalau hasil bomber2 Indo, hanya dijadikan bukti kalau itu merupakan daerah kekuasaan si bomber dan gengnya. Mirip kencing kucing di tiang listrik. Itu yang saya dengar dari salah satu stasiun TV swasta yang sedang mengangkat topic tentang Grafiti. “Gambar-gambar itu merupakan symbol dari daerah kekuasaan kami,” Pas liat gambarnya, boro-boro bikin mikir, ngerti juga engga. Abstrak dalam arti yang sesungguhnya. Itu sih yang saya liat di sepanjang jalan dari Cawang sampai Rawamangun. Kalau yang di pelosok2 kampung tempat saya tinggal lebih parah lagi, modal pilox (bener gak ya tulisannya?) satu warna aja, urban artis tak bermodal. Haha. Tapi mungkin sayanya aja yang kurang bergaul, jadi kurang tahu tempat Grafiti yang bagus di Indo.

Straight Edge: Hardcore Punker yang Sadar

no drugs for straight edge !
no drugs for straight edge !

Punk, metal, dan jenis-jenis musik yang dianggap gelap lainnya sebetulnya tidak sepenuhnya gelap. Ada segolongan pecinta hardcore punk yang tidak suka dengan kehidupan. Mereka terkenal dengan pernyataannya “We do not smoke, do drugs or consume alcohol”. Yap, mereka tidak merokok, tidak mabuk, dan tidak menggunakan obat terlarang. Mereka Straight Edge! Segolongan pecinta Hardcore Punk yang hidup seperti pecinta Pop.

Gerakan Straight Edge dimulai sekitar tahun 70an. Mereka mengejek pecinta Hardcore lain di luar Straight Edge yang masih hidup luntang lantung. Perseteruan itu sebetulnya sudah agak mereda pada tahun 90an. Tapi yang namanya beda prinsip dasar, perang tidak akan pernah berhenti. Dalam situs straightedge.com, mereka masih melancarkan perseteruan itu. Berikut cuplikan tulisan dalam situs tersebut:

“I’m a person just like you
But I’ve got better things to do
Than sit around and fuck my head
Hang out with the living dead
Snort white shit up my nose
Pass out at the shows
I don’t even think about speed
That’s something I just don’t need

I’ve got the straight edge”

Pedas !! Yah begitulah Straight Edge. Mereka keras, sekeras Hardcore. Bahkan dulu mereka protes keras kalau panitia sebuah pertunjukkan menyediakan alkohol untuk band hardcore yang tampil.

Dari segi dandanan, straight edge dan pecinta hardcore lainnya tidak terlihat berbeda. Hanya saja orang-orang Straight Edge sering membuat lambang X besar di tangannya. Angka 24 juga dijadikan lambang mereka. Itu adalah urutan angka untuk huruf x.