Cerita Pabrik Cot Girek (Aceh Utara)

Yang dulu jaya, sekarang merana. Ini cerita tentang gula Indonesia. Yang dulunya kita menjadi eksportir gula terbesar, sekarang berbalik menjadi importir terbesar. Banyak orang bilang, ini karena pabrik gula yang ada di Indonesia sudah zaman old, sehingga produktifitasnya makin rendah.

img20181222182241
Pabrik Gula Cot Girek

Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman pribadi saya terkait kunjungan ke mantan Pabrik Gula Cot Girek dan singgungan subjektif saya terkait gula.

Beruntung saya mendapatkan proyek di PT Perkebunan Negara (PTPN) I yang berkantor di Langsa (Aceh). Suatu waktu, saya ditugaskan untuk keliling ke kebun-kebun dan pabrik-pabrik di PTPN I, salah satunya Cot Girek.

Namun, Cot Girek dulu berbeda dengan Cot Girek sekarang. Dulu ini adalah pabrik gula. Sekarang pabrik kelapa sawit, penghasil CPO. Tanpa diberitahu bahwa ini dulu adalah pabrik gula, sudah bisa saya lihat di semacam monumen peresmian Pabrik Gula Cot Girek yang ditandatangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang saat itu didapuk menjadi Menteri Negara Ekonomi, Pembangunan, dan Industri, tertanggal 19 September 1970.

img20181222182355
Monumen Peresmian Pabrik Cot Girek

Monumen itu masih tampak gagah di tengah-tengah bangunan pabrik tua yang bukan berfungsi sebagai pabrik lagi. Bangunan itu sekarang menjadi Gudang, baik lahir maupun batin. Gudang lahir maksud saya adalah yang memang Gudang pada umumnya, diisi barang-barang yang perlu disimpan.

Sedangkan Gudang batin, nah ini yang seru. Saya mendengar banyak cerita mistis terjadi di sini. Belum lama ini, ada seorang rekanan yang membeli besi besi bekas yang ada dalam pabrik. Harga sudah deal. Ketika si rekanan sudah datang membawa crane untuk mengangkuti besi besi tua itu, tali crane putus. Menurut yang bercerita ke saya, tidak mungkin tali crane setebal itu tidak mampu mengangkat besi tua yang sedang akan diangkutnya itu. Sehingga muncul pandangan-pandangan mistis karena kejadian tali crane putus.

Kemudian, cerita lain lagi, entah terkait rekanan yang sama atau beda lagi. Jadi ketika sudah deal dengan rekanan untuk mengangkut besi besi tua, pihak PTPN I bercanda (yang rada serius) ke rekanan, “Silakan angkut besi besi tuanya, sekaligus angkut kuntilanak yang ada di pohon itu.”

Itu pengalaman-pengalaman orang lain yang saya ceritakan ulang. Kalau pengalaman saya sendiri, tidak ketemu hal hal mistis waktu kunjungan ke sini. Namun memang saya merasa merinding waktu jalan di salah satu lorong di kantor kebun.

img20181222182559
Kantor Kebun Cot Girek

Dari mantan pabrik itu, dulunya banyak harapan yang digantungkan. Soeharto sendiri pernah berkunjung. Anak-anak SD sudah dilatih baris-berbaris dan bernyanyi sejak seminggu sebelum Soeharto datang. Jalan sepanjang 15 km dari Lhok Sukon ke Cot Girek sudah disirami supaya tidak berdebu waktu Soeharto lewat. Rumah-rumah yang dilewati dicat merah putih. Rupanya Soeharto tidak melewati jalur itu, melainkan naik helikopter dari Bandara Malikussaleh.

Belum jelas apa yang membuat pabrik ini berhenti beroperasi 15 tahun setelah diresmikan, yaitu tahun 1985. Ada yang bilang, karena ongkos produksinya terlalu tinggi.

Zaman kolonial Belanda dulu, Indonesia (Hindia Belanda) sempat menjadi eksportir gula terbesar, sekarang malah jadi importir terbesar. Puncak kejayaan pada 1930-an, ada 179 pabrik pengolahan dengan hasil 3 juta ton gula per tahun.

Tahun 2016, Indonesia mengimpor gula senilai Rp28,4 Triliun. Jumlah tsb lebih besar dari import yang dilakukan Cina, Amerika, dan India. Padahal ketiga negara tersebut penduduknya lebih besar dari Indonesia. Sedih yaa…

Liburan ke Puncak Naik Angkot

Weekend lalu, saya sekeluarga naik kendaraan umum ke puncak untuk menghabiskan liburan. Tadinya agak ragu, kuat gak ya. Karena anak saya masih 4,5 tahun. Kuatir rewel di jalan gangguin orang. Ah coba jalani saja…

Sabtu 29 Desember 2018, istri dan anak saya jalan duluan ke Stasiun Pondok Ranji naik motor. Titip motor di sana, semalam tarifnya Rp15.000. Dari situ jam 8.30, naik kereta ke Tanah Abang. Lanjut naik yang ke Bogor. Ketemu saya di Stasiun Cawang.

Kalau bawa anak kecil, hampir selalu dapat kursi prioritas, jadi anak gak rewel. Malah asik ketiduran. Sampai Stasiun Bogor, kami ngetap kartu, kenanya Rp5.000 (Cawang-Bogor) dan Rp7.000 (Pondok Ranji-Bogor).

Lanjut naik angkot hijau 02 jurusan Sukasari. Ongkosnya Rp4.000/orang. Saya sempat kecele gak nanya dulu sama supirnya, ternyata dia hanya sampai Pasar Bogor. Nyambung lagi deh ke Sukasari.

Ada angkot biru jurusan Cisarua di Sukasari. Ongkosnya Rp8.000/orang. Nah udah deh tuh, tinggal pantau saja kita mau ke Cisarua-nya di mana. Kalau saya di Hotel Pesona Anggraini. Belum pernah ke sana. Baru tahu namanya juga pas pesan hotel di Traveloka. Saya sudah pesan empat hari sebelumnya, untuk kamar tanpa sarapan seharga Rp332.000/malam. Yang dicari sebetulnya yang murah dan ada kolam renangnya.

Sampai hotel jam 13.20. Siang siang kan tuh, tapi di hotel gak ada AC nya. Untung anginnya kencang, jadi tinggal buka jendela. Karena dari rumah jam 8.20 pagi, maka total waktu dari rumah ke hotal adalah 5 jam. Ini terhitung cepat karena dari Ciawi sampai Ciasurua bisa dibilang gak macet. Cuma tersendat sedikit.

IMG20181230123318
Pemandangan sawah dari kamar hotel Pesona Anggraini

Check In, taruh tas, langsung makan. Dekat hotel ada tempat makan Sunda. Terus anak langsung minta berenang, ya berenang.

Agak sore, turun ke Cimory yang Riverside, naik angkot juga, mungkin hanya 10 menit sudah sampai. Saya baru tahu di Cimory ternyata gak hanya ada tempat makan, tapi juga tempat jalan-jalan. Dulu pernah ke Cimory yang Mountain View, itu hanya tempat makan. Kalau yang di Riverside ada tempat tracking nya. Bayarnya Rp15.000/orang kalau mau tracking saja (Cimory Forest Walk). Atau Rp25.000 kalau mau juga ke tempat ikan (Monster Aquarium).

IMG20181229162524
Loket Tiket Forest Walk Cimory

Tracking di Cimory itu sedap di mata, apalagi buat orang Jakarta yang jarang lihat pohon dan sungai. Jembatan untuk menyeberangi sungai-nya bagus dan banyak dijadikan tempat foto-foto. Sungainya juga bersih.

IMG20181229161546
Tiket masuk Cimory Forest Walk dan Monster Aquarium Rp25.000

Nah kalau yang di tempat ikan, ada beberapa koleksi. Yang menarik adalah ada beberapa kolam yang kita boleh masukkan tangan ke dalamnya. Misalnya kolam bintang laut, kolam belut (boleh nangkap belut, tapi dilepas lagi), dan yang paling seru kolam ikan kecil-kecil yang suka gigitin kulit mati. Saya lupa ikan apa itu, yang biasanya buat terapi di kaki.

Habis jalan-jalan, makan dulu di Cimory. Pilihan makanannya ada banyak, termasuk makanan-makanan barat. Yang susah itu kalau mau dapat tempat duduk di pojok biar bisa lihat pemandangan sungai lebih jelas. Saya reserved dulu, sambil makan es krim, terus 5 menit kemudian dipanggil dan dapat kursi di pinggir.

Saya pesan Mixed Yong Tofu. Kirain porsinya kecil kayak beli bakso, ternyata banyak dan ngenyangin. Sambil makan sambil lihat sungai, wah adem. Total makan kami bertiga habis hampir dua ratus ribu.

IMG20181229173837 (1)
Mixed Yong Tofu Cimory Riverside

Pulang ke hotel naik angkot lagi. Dari kamar hotel, ada teras ke luar yang pemandangannya sawah. Terdengar suara jangkrik dan kodok. Udaranya adem. Enak banget buat menenangkan pikiran.

Besoknya, kami pulang dengan jalur yang sama: Cisarua – Sukasari – St Bogor – St Tanah Abang – St Pondok Ranji. Sempat beli roti maryam di St Bogor buat nyemil.

 

 

Pengeluaran:

Kereta Pondok Ranji-Bogor (3 org PP) Rp42.000

Angkot St Bogor-Sukasari (3 org PP) Rp24.000

Angkot Sukasari-Ciasurua (3 org PP) Rp48.000

Hotel Pesona Anggraini (1 malam) Rp332.000

Makan siang dekat hotel Rp70.000

Angkot Cisarua-Cimory (3 org PP) Rp20.000

Makan di Cimory Rp190.000

Es krim 3 cup Rp60.000

Jalan-Jalan Cimory (3 org) Rp75.000

Sarapan dekat hotel Rp70.000

Roti Maryam Rp25.000

TOTAL 956.000

 

Tips:

  1. Sebelum naik angkot, pastikan tujuannya dengan supir, misal: Sukasari ya Pak?
  2. Bawa kipas atau sesuatu buat ngipas, karena kalau macet, angkot itu panas
  3. Bawa air buat hilangkan haus di jalan
  4. Beri bintang di titik-titik yang akan dilewati di Google Maps, lalu pantau selama perjalanan
  5. Cari info buka tutup jalur puncak

Recommended: Investasi di iGrow

Saya kenal iGrow hampir dua tahun lalu, sekitar pertengahan 2018. Kenalnya dari geraidinar.com yang diasuh oleh Muhaimin Iqbal. Saya langsung berani investasi sebesar Rp3.913.000 untuk proyek tebu. Berani investasi di situ karena pernah ketemu langsung dengan Muhaimin Iqbal di salah satu forum yang dia buat. Ternyata beliau dari IPB, satu almamater dengan saya.

Saat bertemu, dan membaca tulisan-tulisannya, saya menyimpulkan bahwa pengetahuan beliau tentang pertanian cukup dalam. Pengalaman kerjanya di perbankan juga cukup lama, sehingga bisa dibilang beliau paham sekali dengan keuangan dan investasi. Satu lagi, beliau adalah ustadz, sehingga paham mana yang riba dan mana yang bukan riba.

Kenapa latar belakang pengasuh media investasi menjadi penting? Karena menurut saya, teknologi saja tidak cukup, tetapi pengasuh juga perlu knowledge yang dalam.

Muhaimin Iqbal, setahu saya, selalu menggaet anak-anak muda yang cerdas dan alim untuk bergabung dengan bisnis-bisnisnya. Termasuk iGrow ini. Saya pernah lihat video anak muda yang mengelola iGrow ini. Ohya, iGrow ini di bawah pengawasan OJK, jadi lebih tambah yakin lagi untuk investasi lewat iGrow.

Jadi idenya begini, iGrow ingin menggabungkan tiga elemen penting dalam bisnis pertanian, yaitu pemilik tanah, pengelola tanaman, dan pemodal. Pemilik tanah fungsinya ya jelas, memberikan hak kelola tanahnya, jadi jelas harus punya tanah. Pengelola tanaman bertugas mengolah tanah, menanam, memanen, jadi harus punya pengalaman dalam pertanian. Sedangkan pemodal, ya harus punya modal untuk menggerakkan pengelolaan tanah tadi, dia tidak harus mengerti pengelolaan tanaman. Nah, saya termasuk elemen ketiga: pemodal.

Screenshot_2018-12-28-09-10-32-38
Investasi di tebu

Saya akan dapat 40% dari profit bersih. Pemilik tanah dapat 40% juga. Sementara iGrow dapat 20%.

Proyek apa yang mau kita modali, itu banyak pilihannya di iGrow. Investasi pertama saya adalah di proyek tebu. Jadi dalam proyek tersebut, cita-citanya adalah ingin membuat Indonesia swasembada tebu, tidak perlu impor-impor lagi.

Dulu Indonesia sempat menjadi eksportir gula terbesar (era colonial Belanda), sekarang malah jadi importir terbesar. Tahun 2016, Indonesia mengimpor gula senilai Rp28,4 Triliun. Jumlah tsb lebih besar dari import yang dilakukan Cina, Amerika, dan India. Padahal ketiga negara tersebut penduduknya lebih besar dari Indonesia.

Kalau saya mau, maka saya bisa berkunjung ke kebun tempat saya berinvestasi. Pernah saya jadwalkan ke Blitar, bahkan sudah kontak dengan yang akan menerima saya di sana. Tapi sayanya yang batalkan karena ada acara lain.

Lewat iGrow juga, pengelola memberikan progress pekerjaan dengan gambar-gambar pertumbuhan kebun. Ini keren banget, saya bisa lihat tanaman yang saya investasikan.

Hanya saja, saya sempat kecewa dengan fitur chat dengan pengelola yang tidak dibalas-balas. Maksudnya mau diskusi dengan pengelolanya langsung dan sekadar ngobrol saja, tapi ini belum bisa.

Namun begitu, saya senang, karena iGrow merespon email saya dan jawabannya pun menyenangkan. Jadi, setelah setahun, saya tanyakan bagaimana tentang proyek yang pernah saya modali? Dijawab bahwa akan dikalkulasi di akhir bulan. Dan betul di akhir bulan saya di-email dengan keterangan berapa banyak profit yang didapat dari proyek tersebut, dan ditanya, apa mau melanjutkan permodalan di proyek ini atau tidak? Saya jawab tidak, dan minta dikirimkan ke rekening yang saya berikan.

Sebetulnya itu hanya ngetes. Kalau dia betul on time kirim hasil panen dan modal awal saya, berarti iGrow trusted. Dan saya sudah niat mau bikin tulisan tentang iGrow apapun hasilnya. Kalau jelek gak amanah ya saya tulis jelek. Kalau bagus ya saya tulis bagus. Saya pernah menulis juga tentang pengalaman investasi di Crowde yang tidak memuaskan, not recommended.

Ternyata iGrow betul mengirimkan uang saya sejumlah yang dilaporkan, bahkan sebelum tanggal yang dijanjikan. Janjinya antara 26-30 Desember 2018, ditransfernya 14 Desember 2018.

Screenshot_2019-01-01-16-35-38-18
Email awalnya dijanjikan bagi hasil pada akhir Desember 2018
Screenshot_2019-01-01-16-36-02-73
Email akhirnya, tanggal 14 Desember 2018 sudah bagi hasil

Pengelaman ini yang membuat saya merekomendasikan untuk investasi lewat iGrow. Semoga bermanfaat….