Arsip untuk Juni, 2015

11
Jun
15

Rostle

Kumbang Badak. Dok: www.kaskus.co.id

Kumbang Badak. Dok: http://www.kaskus.co.id

Aku masak mi malam ini, dengan telurnya dua buah, supaya proteinnya banyak. Di sana, di dapur mess yang jauhnya seribu kilometer dari keluargaku, kita berkenalan. Namaku Iqbal, meskipun kamu diam saja, aku tahu namamu, Kumbang Badak. Sahabat Kumbang Badak.

Kamu diam saja di sudut tempat cuci piring. Jalanmu lambat sekali. Seperti kukang. Seperti kura-kura. Kalau frekuensi bahasa kita sama, mudah sekali untuk kita saling membantu. Tunjuk saja pohon yang ingin kamu daki, akan aku antarkan. Tidak perlu berjalan dua hari dua malam.

Kalau besar badan kita sama, kamu akan kalah adu lari denganku, kecuali Tuhan menginginkan kamu yang menang. Yaaa, kalau sudah tercatat jauh sebelum bumi ini ada, siapa yang bisa mengubahnya? Sebutir biji yang jatuh di malam hari saja tertulis, dan pasti kejadian. Semua tercatat di Lauhul Mahfuzh.

Tapi jangan ajak aku adu gulat. Aku langsung kibarkan bendera putih. Mendengar reputasimu saja aku sudah merinding. Bagaimana caranya aku bisa menang dari lawan yang bisa mengangkat beban 850 kali bobot tubuhnya? Banyak yang bilang kamu adalah yang terkuat di dunia.

Kenapa yang kuat biasanya hitam? Badanmu juga hitam, bahkan legam sekali. Tidak ada warna lain di tubuhmu selain hitam. Tapi tak apa. Badan legam juga bisa jadi Presiden Amerika. Badan legam juga bisa keren, seperti Muhammad Ali. Seperti Martin Luther King Jr. Seperti Malcolm X. Seperti Bilal bin Rabah. Hitam legam itu indah. Kalau sekumpulan spesies gemuk bisa mewacanakan Big is Beautiful, tentu sekumpulan spesies hitam bisa juga dong mewacanakan Black is Beautiful.

Tentang sportifitas di dalam diammu, kami semua harus berikan standing applause. Ribut-ribut memperebutkan betina itu biasa. Tapi kebanyakan berakhir dengan dendam, pengejaran, bahkan pembunuhan. Itu tidak kamu lakukan. Ketika lawanmu sudah kalah, kamu tidak mengejarnya. Tidak ada saling bunuh dan tidak ada saling melukai. Kalau kata bosku, menang tanpa ngasorake. Standing applause untuk Kumbang Badak….

Wahai Kumbang Badak, aku rindu sekali dengan anakku. Kamu pasti senang melihatnya, karena dia lucu sekali. Kalau anakku sudah bisa bicara, insya Allah akan aku kenalkan kepadamu, supaya kalian juga bisa bersahabat. Kita semua harus bersahabat, supaya rantai makanan berjalan seimbang. Supaya tidak ada satu spesies yang mendominasi di atas spesies lain yang akhirnya menjadi punah, atau tidak punah tapi seperti punah. Supaya bisa seperti hutan tropis, bukan perkebunan sawit. Supaya Earthlings dapat kita jalankan bersama. Apa jadinya dunia ini tanpa pendaur ulang sepertimu?

Sayangnya, semakin ke sini kita sudah semakin homogen. Pola hidup sudah begitu-begitu saja. Kalau kata Bondan Prakoso, kita terjebak dalam sistem industri: lahir, sekolah, bekerja, mati. Judul lagunya saja SOS: Save Our Soul.

Tidak tampak lagi pola hidup seperti Bukhori, yang seumur hidup mengabdikan dirinya pada ilmu. Mencari ilmu dan memberi ilmu. Sampai sekarang kita masih bisa memanfaatkan ilmunya. Sejak belia dia merantau mencari guru-guru terbaik di dunia. Ilmunya terlalu banyak, sampai sudah tidak nyambung lagi bicara dengan orang-orang di kampungnya. Sampai dia diusir.

Hah, mi-ku sudah habis. Kamu tetap saja masih di sana, di sudut tempat cuci piring. Mungkin kalau ada Prof. Rhenald Kasali, kamu bisa dicap sebagai Passenger. Karena tidak ada Driver yang lambat. Dan kamu mesti tidak lulus mata kuliah Pemasaran Internasional di FE UI kalau jalanmu lambat begitu. Kalau jalannya lambat tidak akan bisa ke luar negeri yang berbahasa bukan Melayu, berarti tidak akan lulus Pemasaran Internasional.

Hai kumbang badak, karena kita sahabat, aku perlu memberikanmu nama panggilan supaya kita makin akrab. Dan supaya tidak kalah dengan istriku yang lulusan Biologi dan senang dengan Binomial Nomenclatur, maka kamu aku juluki Rostle: Rhinoceros Beetle. Keren kan!

04
Jun
15

Laba-Laba

Wahai laba-laba,

Enak sekali hidupmu. Tidak perlu ada pertanggungjawaban panjang pasca tiada, hanya balas membunuh atau dibunuh. Tidak perlu menjawab Man Robbuka. Tidak perlu lulus UN. Tidak perlu dipaksa lingkungan untuk memvaksin anakmu. Tidak perlu mengikuti apa yang TV ajarkan kepadamu. Tidak perlu ikut BPJS. Tidak perlu selipkan amplop ke penghulu kalau mau kawin. Tidak perlu membebani pikiranmu dengan “makan apa besok”. Tidak perlu terpaksa punya rumah dan mobil dengan berutang. Tidak disiksa di neraka kalau membunuh, meskipun sengaja. Tidak perlu belajar kalkulus. Tidak perlu pusing kasih nama anak. Tidak perlu dikerjain polisi waktu bikin SIM (bahkan tidak perlu bikin SIM!). Tidak perlu menggunakan uang kartal. Tidak perlu bikin paspor. Tidak perlu…. Semua itu tidak perlu kamu lakukan.

Karena… ya karena kamu seekor laba-laba, yang tinggal kawin ketika kamu mau kawin. Tinggal makan kalau mau makan, bahkan tidak ada yang melarangmu untuk membunuh. Kamu bisa buat jaring-jaring indah berpola tanpa masuk Harvard terlebih dahulu, it’s in your genes! Jaring itu begitu hebat, sampai-sampai jika jaring itu diperbesar, maka Boeing 747 pun bisa tersangkut.

Oh ya, inti pembicaraanku kali ini adalah aku ingin dengar pandanganmu mengenai harta. Ya… darimu, karena dari namamu, harusnya kamu punya uang yang sangat banyak ya. Sekali laba saja sudah bagus. Kamu mendapatkannya berulang-ulang. Sampai bukan lagi menjadi middle name, it’s your full name, dude!

Bagaimana bisa sebuah (mana yang lebih tepat ya, sebuah? Seekor?) spesies yang sangat kaya sepertimu diam-diam saja dan tidak terlihat sikap sombong sama sekali?

Hmm… Okay, aku coba konfirmasi ulang jawabanmu. Jadi kamu diam-diam saja karena kamu malu ketahuan tidak bisa berenang? Karena sejatinya permukaan tubuh luarmu adalah hidrofobik?

Haha, baik, pertanyaan kedua. Kenapa kamu, yang super kaya dan tidak perlu memikirkan makan apa besok, masih mau menelan lagi jaring yang kamu buat untuk menjadi bahan pembuatan jaring berikutnya?

Apa? Muzhid? Wow… Untuk mengefisienkan segala hal ya? Hebat sekali kamu. Beda dengan kaumku yang perokok, lebih memilih beli rokok daripada makanan. Kurang mubazir apa coba? Andai nanti ada aturan Pemerintah yang mewajibkan nyalakan rokok di kedua ujungnya… Biar kapok mereka.

Pertanyaan ketiga, ketika dulu kamu menjadi pahlawan Nabi Muhammad dan Abu Bakar karena jaring-jaringmu yang membuat para pengejar terkecoh, kenapa tidak buat jumpa pers dan mempublikasikan kisahmu yang heroik? Karena dari situ kamu bisa diundang ke mana-mana dan dapat “laba” lebih banyak?

Yeah, betul sekali nasihatmu, karena kaya itu bukan di jumlah harta, tapi di bisa atau tidaknya dia bersyukur.

Pertanyaan terakhir, jika tahun lalu Budi membeli tiga pensil dan dua buka seharga Rp3.500 dan tadi pagi Budi membeli empat pensil dan lima buku seharga Rp7.700, dengan inflasi sebesar 10%, berapa harga buku tahun lalu?

Hey, jangan pergi….

03
Jun
15

Bincang-Bincang Imajiner dengan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie*

Muhammad Iqbal (MI): Selamat malam, Sultan. Senang sekali bisa berbincang dengan Sultan…

Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie (SSAA): Ya, selamat malam Iqbal. Senang juga bisa berkenalan J

MI: Sebelumnya, saya ingin update kondisi Pontianak sekarang. Sudah dua abad lebih Sultan tidak update, bukan?

SSAA: Ohya, betul. Tapi tidak juga, Iqbal. Dua abad di sana kurang lebih sama dengan tujuh jam di sini. Di sini bisa jadi sangat indah seperti malamnya pengantin baru. Tapi bisa jadi begitu menyakitkan dengan pukulan-pukulan gada besar jika tidak bisa menjawab dengan benar pertanyaan sederhana ini: Man Robbuka?

MI: Terima kasih nasihatnya Sultan. Semoga Sultan baik-baik saja di sana. Kembali ke update Pontianak. Sultan masih mau dengar update dari saya?

SSAA: Iya, masih Iqbal

MI: Sungai Kapuas masih tetap indah, walaupun mungkin tidak seindah dan tidak sejernih zaman Sultan dulu. Di Taman Alun Kapuas, setiap malam banyak kumpulan manusia. Ada yang berjualan, ada yang nongkrong di atas kapal, ada yang pikirannya ngeres, ada yang minum es lidah buaya, dan yang ngopi lebih banyak lagi.

SSAA: Dengar-dengar ada air mancur bagus ya sekarang?

MI: Oh ya, betul Sultan. Ya di Taman Alun Kapuas itu. Air mancur menari-nari dengan pencahayaan khusus. Tapi hanya di waktu-waktu tertentu saja. Walau tidak semeriah air mancur di Purwakarta, tapi ya cukup oke lah untuk hiburan gratis masyarakat. Sambil ngopi di atas kapal yang bergoyang-goyang mengikuti ombak, sambil lihat air mancur, wah seru sekali…

Keraton Kadariah atau Istana Kadariah. Dok: Iqbal

Keraton Kadariah atau Istana Kadariah. Dok: Iqbal

SSAA: Iqbal ada main ke rumah yang saya buat dulu?

MI: Tentu dong Sultan. Sekarang orang-orang menyebutnya dengan “Keraton Kadariah”. Pasti bukan orang sembarangan yang membuat bangunan yang masih dikenang dua abad lebih itu. Sultan pasti bukan orang sembarangan.

SSAA: Ah tidak juga. Kebetulan saya mempunyai garisan nasib seperti itu. Tuhan yang merancang, saya hanya menjalani catatan yang sudah ada saja. Iqbal ketemu siapa di sana?

MI: Salah satu keturunan Sultan, namanya Febri. Kalau tidak salah, Febri adalah putra mahkota dari Kesultanan Kadariah Pontianak. Orangnya ramah sekali. Saya diceritakan banyak hal, tentang silsilah keluarganya. Dia bangga sekali menjadi keturunan sultan.

SSAA: Apa Febri bisa menjelaskan garis keturunan dari saya sampai ke dia?

MI: Wah, fasih sekali Sultan. Bukan hanya dari Febri ke Sultan, tapi bahkan dari Sultan sampai ke Nabi Muhammad SAW. Saya dijelaskan, tapi karena terlalu banyak nama yang disebutnya, tidak ada yang saya ingat satupun. Yang saya ingat, saya diundang dalam pesta pernikahannya 14 Juni 2015. Makan-makan memang selalu diingat ya Sultan, hehe.

SSAA: Alhamdulillah. Bagus sekali berita itu. Dengan siapa Febri menikah?

MI: Keponakannya, tapi keponakan jauh sepertinya. Syarif ketemu syarifah, Sultan. Kenapa ya harus menikah dalam lingkaran keluarga sendiri?

SSAA: Menikah itu hak setiap orang. Dengan siapanya, juga hak setiap orang, termasuk kalau dia memilih menikahi saudaranya. Asalkan bukan mahromnya itu tidak ada masalah, ya kan?

MI: Ya iya sih. Cuma yaa… siap-siap saja dengan cap “eksklusif” dari masyarakat.

SSAA: Tidak usah dipedulikan. Komentator akan selalu ada. Habis waktu kita kalau memikirkan semua pandangan orang lain.

MI: Noted, Sultan.

Masjid Jami Pontianak. DOk: Adhika Pratomo

Masjid Jami Pontianak. DOk: Adhika Pratomo

SSAA: Dekat rumah yang saya buat dulu, saya juga membuat sebuah balai. Dulu perlu delapan hari untuk menebas pohon di daratan itu, supaya saya bisa mulai bangun rumah dan balai. Saya bangun pakai kayu ulin dan merangkainya dengan pasak. Tentu tidak pakai paku. Mana ada paku di abad 18.

MI: Ohya, saya juga mampir ke balai itu, sekarang orang-orang menyebutnya “Masjid Jami”. Baik Keraton, maupun Masjid, sama indahnya, dengan langit-langit yang tinggi dan kayu ulin yang fenomenal sebagai tiangnya. Kayu ini seperti besi, kuat sekali, dan anti rayap. Pasti mahal ya Sultan?

SSAA: Tidak Iqbal, dulu tinggal tebang saja. Banyak sekali pohon ulin di Pontianak dulu.

MI: Sekarang sudah jarang sekali Sultan. Dibawa lari pembalak liar ke luar negeri.

SSAA: Sayang sekali ya…. Tapi ya, Alhamdulillah masih ada sisa-sisanya, bagus kalau masjidnya masih awet.

MI: Fisik bangunan memang awet dan masih kokoh, tapi mental bangunan agak sakit…

SSAA: Sakit gimana maksudnya Iqbal?

MI: Saya ketemu dengan penjaga masjid yang sudah belasan tahun menjaga Masjid Jami. Dia mengeluhkan kealpaan sultan yang memimpin sekarang di dalam masjid. “Seminggu hanya sekali ke masjid,” kata dia.

SSAA: Ohya? Kenapa begitu?

MI: Saya kurang paham masalahnya. Tapi ya tentu kita tidak bisa menerima informasi itu mentah-mentah tanpa komentar dari sultan yang memimpin sekarang, ya orang tuanya Febri yang saya ceritakan tadi.

SSAA: Kalau memang jarang pergi ke masjid, tentu hal itu perlu diperbaiki, apalagi bagi sultan yang sedang memimpin. Orang tua saya adalah seorang ulama keturunan Arab Hadramaut. Yang namanya ulama ya kerjaannya berdakwah. Itu juga sedikit banyak tertular kepada saya. Kalau tidak dekat dengan masjid, bagaimana bisa berdakwah?

MI: Informasi tambahan yang saya dapat, bahwa si penjaga masjid mempertanyakan keberadaan uang shodaqoh dari masjid yang selalu diberikan kepada sultan yang memimpin sekarang. “Ke mana uang satu miliar lebih itu?” kata si penjaga. “Kalau uang itu digunakan untuk merawat masjid, tentu Masjid Jami akan jauh lebih nyaman daripada sekarang, dengan karpet-karpet bagus. Bukan karpet lapuk seperti yang sekarang ada,” lanjut dia.

SSAA: Ya Iqbal, terima kasih informasinya. Tapi semua informasi itu tidak berimbang kalau kita tidak mendengar keterangan dari sultan yang memimpin sekarang.

MI: Sultan betul sekali. Kalau bahasa sekarang: cover both side. Mudah-mudahan sultan yang memimpin sekarang mendengar perbincangan kita ini.

SSAA: Ya, semoga. Jadi kita bisa mendengar keterangan darinya.

MI: Baik Sultan, sudah malam. Terima kasih banyak ngobrol-ngobrolnya. Mudah-mudahan kita bisa bertemu di Firdaus J

SSAA: Sama-sama Iqbal. Amin.

*Pendiri Kesultanan Kadriyah Pontianak, sebuah kesultanan Melayu pada abad 18

02
Jun
15

Balada Kapuas

Pak Udin sudah siap di tepi Sungai Kapuas. Dia sedang duduk-duduk di sebuah tempat merapatnya perahu/boat/klotok (karena diksi “pelabuhan” sepertinya terlalu besar). Boatnya ditempeli mesin Yamaha dan berkapasitas 7 penumpang. Pak Udin segera bangkit setelah melihat kedatangan kami. Dia siap untuk mengantar saya dan tim untuk menyeberangi Kapuas.

Boat Pak Udin. Dok: Okta Viana Panca Adi

Boat Pak Udin. Dok: Okta Viana Panca Adi

Kami ada di sini untuk membenahi sistem informasi di sebuah perusahaan tambang. “Di sini” yang saya sebut tadi berarti di sebuah kecamatan bernama Tayan Hilir, tepatnya Desa Pedalaman (ini betul-betul nama desanya, bukan deskripsi dari saya tentang desa itu).

Kembali ke Pak Udin. Pak Udin adalah seorang warga lokal yang jasanya dibeli oleh perusahaan tambang tempat saya bekerja untuk mengemudikan boat. Hidupnya dekat sekali dengan Kapuas. Buat Pak Udin, pemandangan orang mandi di Sungai Kapuas bukanlah suatu hal baru. Pagi, siang, sore, malam, ada saja yang mandi di bantaran Sungai Kapuas.

Dulu, air Kapuas bukan hanya untuk mandi, tetapi sampai menjadi sumber air minum warga. Setelah dimasak tentunya (mudah-mudahan). Fungsi lain Sungai Kapuas adalah mengantarkan kayu-kayu dari pedalaman Kalimantan Barat ke Laut Cina Selatan, lalu menuju ke negara-negara di luar Indonesia. Belakangan, masyarakat mengetahui aktivitas tersebut sebagai illegal logging.

Ooo, tentu banyak sekali ikan di dalam perut Kapuas. Menurut Wikipedia, terdapat 700 jenis ikan di dalamnya. Sebanyak 40 jenis di antaranya terancam punah. Mungkin 40 jenis ikan itu pusing karena aktivitas tambang emas dan perak di bagian tengah sungai.

Sungai Kapuas menjadi sumber kehidupan sepanjang alirannya, 1.143 KM (sama panjangnya dengan Pulau Jawa). “Sumber kehidupan” punya makna yang cukup dalam buat saya. Setiap harinya, saya bertemu dengan orang-orang yang bekerja seperti robot, mengejar target, produktivitas, hasil yang banyak dengan effort sekecil mungkin, dan “utamakan kendaraan produksi”. Sungai Kapuas menjadi oase dari pemandangan keseharian di lingkungan kerja seperti itu, dan sukses membuat suasana hati lebih baik.

Menunggui sunset di bantaran Sungai Kapuas sambil mengudap sesuatu dan melihat kapal wara-wiri adalah satu aktivitas yang sangat menentramkan. Sepertinya ini deskripsi terbaik yang bisa saya tulis tentang langit Kapuas ketika matahari ingin tenggelam: sorotan cahaya berpencar menabrak awan yang kemudian memendarkan cahaya tersebut menjadi beberapa warna, kuning, merah, jingga, emas, biru muda, biru tua, dan entah warna apa itu. Tabrakan sorotan cahaya tadi juga membentuk siluet yang memenuhi setiap lekukan awan. Jelas sekali, bahwa aktivitas menunggui sunset ini akan saya rindukan di Jakarta.

IMG-20150517-WA002

Semburat Sunset Kapuas. Dok: Adhika Pratomo

***

Setelah semua penumpangnya masuk ke dalam boat, Pak Udin memajukan tuas di dekat setir boat, lalu kapal melaju dengan kecepatan konstan. Hanya ada tiga posisi tuas di dalam boat Pak Udin: depan, tengah, dan belakang. Tuas ke depan berarti maju. Tuas di tengah berarti netral. Tuas ke belakang berarti mundur (untuk mengerem). Perjalanan ke seberang hanya 10 menit. Sesekali boat menabrak potongan kayu di sungai. Itu biasa.

Jika Pak Udin sedang berhalangan, maka yang menggantikan tugasnya adalah Bu Udin. Bu Udin ini tangguh sekali. Dia pengemudi boat yang andal. Bu Udin selalu terlihat menggunakan sarung batik ketika mengemudi, sambil menggunakan topi pet.

Setelah beberapa kali menaiki boat Pak Udin, saya minta untuk mengemudikan boat itu sendiri. Pak Udin setuju. Sepuluh menit kemudian saya menabrak sebuah boat warga lokal yang sedang bersandar. Tiga kali. Yang pertama karena memang terlambat mengerem. Yang kedua dan ketiga karena Pak Udin panik dan memposisikan tuas ke depan, padahal maksudnya mau menarik ke belakang. Lampu boat Pak Udin langsung copot.

Orang yang ada di atas boat tadi lelompatan sampai tiga kali. Saya mau ketawa, tapi kuatir disantet. Kalau tidak ketawa, sayang banget, karena ekspresi lelompatannya itu lucu banget. Saya memilih diam saja. Mudah-mudahan dia bisa mencerna informasi dari bahasa tubuh saya, bahwa saya hanya menabraknya sekali. Yang dua lagi itu Pak Udin…




Juni 2015
S S R K J S M
« Apr   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930