Rasa Langsa

Langsa yang sekarang, dikenal sebagai sebuah kota kecil di Aceh. Letaknya sekitar 4 jam perjalanan dari Medan. Kalau dulu, konon katanya Langsa adalah hutan besar yang dihuni oleh elang besar, makanya disebut Langsa = eLANG beSAr. “Ilmu konon” ini agak didukung dengan adanya patung tugu elang ketika kita masuk kota Langsa dari utara, yaitu di Simpang Comodore.

Nah, sudah sekitar dua bulan saya tinggal di Langsa dalam rangka ngerjain sebuah project IT, mungkin masih sampai beberapa bulan lagi. Dua minggu sekali pulang ke Jakarta, pulang ke keluarga. Pulangnya ini rada sakit, karena saya harus lewati jalan darat dulu sampai Bandara Kuala Namu di Medan, sekitar 4 jam. Biasanya dari Langsa jam 10 malam, sampai Kuala Namu jam 2 pagi.

Pesawatnya baru terbang jam 5 pagi, itupun kalau tidak telat. Jadi luntang lantung di bandara sekitar 3 jam. Biasanya ngemper tidur di lantai 1, ada hamparan karpet, yang isinya orang-orang kayak saya: sampai bandara tengah malam, pesawat pagi. Terbang jam 5, sampai Cengkareng 7.30. Naik Damri dan ojeg, sampai rumah hampir dzuhur. Biasanya sampai rumah langsung rada meriang, harus tiduran.

Nanti balik ke Langsa kurang lebih begitu lagi. Sakit, kan? Yah… dijalani saja.

Di Langsa, saya tinggal di Hotel Kartika, bisa dibilang, hotel yang paling bagus di Langsa. Tapi jangan berekspektasi terlalu tinggi, yang dibilang paling bagus ini ya begitulah… Kamarnya tidak standard. Maksudnya, bukan tidak ada kamar tipe “standard”, tapi di kelas yang sama, kamarnya beda-beda. Misalnya, sama-sama kelas Superior, tapi yang satu dikasih teh kopi, yang satu tidak. Yang satu shower-nya air panas, yang satu tidak. Yang satu ada kulkasnya, yang satu tidak. Saya tidak punya pilihan, yang begini sudah yang terbaik.

Ke kantor, dari hotel, saya pernah pesan Grab dan Go. Keduanya hanya mimpi. Jadi saya stop becak, bayar Rp15.000 sampai kantor. Jaraknya sekitar 3km. Becak di sini adalah yang biasanya di Medan disebut bentor (becak motor). Kalau “becak” yang kita kenal di Jakarta (yang semuanya sudah dibuang ke laut) kan digoes dari belakang, nah kalau becak di Aceh ini pakai motor yang ditempel di samping kursi penumpang.

Sebetulnya ada satu pilihan lagi selain becak, yaitu RBT. Sampai sekarang saya belum tahu apa singkatannya, ada yang bilang: Rakyat Banting Tulang. Jadi ini sejatinya adalah yang kita kenal sebagai “ojeg”. Orang Aceh nyebutnya RBT. Sayangnya cari RBT ini rada susah, karena tidak bisa dibedakan mana yang RBT, mana yang bapak2 lagi naik motor (bukan RBT). Kan ndak enak kalau tiba2 kita stop-in ternyata bukan RBT.

Pernah saya ngobrol sama tukang becak di Aceh, dia mengeluhkan kerjaan semakin sulit di Aceh. Penumpang juga semakin sepi. Yah, memang saya rasakan sih. Perusahaan yang ada di Langsa hanya satu dua. PNS itu strata sosialnya sudah cukup tinggi. Kebanyakan lowongan pekerjaan yang ada dari sektor informal. Yang namanya informal ya begitu, gaji kurang dari UMR, sewaktu-waktu bisa dipecat.

Kopi

Tapi yang rada bikin heran, warung kopi banyak dan hampir selalu ramai. Jadi di satu sisi kerjaan susah, tapi warung kopi ramai terus. Yang saya lihat, fenomena ini (kerjaan susah, warung kopi ramai) ada di sekujur Aceh, tidak hanya Langsa. Sebegitunya orang Aceh suka sama kopi?

Iya.

Tapi memang ya, ngopi sambil nongkrong di Aceh itu tidak mahal. Sekali duduk ngobrol itu katakanlah dua jam, sangat lazim kalau dia hanya pesan kopi segelas seharga Rp7.000. Tidak ada sindiran dari pemilik kedai kopi dalam berbagai bentuk: ditanya mau pesan apa lagi, diambil gelas kosongnya, dilap-lap mejanya, tidak ada itu semua. Orang bebas nongkrong sampai jam berapapun. Beberapa warung kopi tidak pernah tutup.

Nah tapi jangan anggap semua warung kopi itu enak. Walaupun disaring-saring dengan atraksi yang keren, kopinya belum tentu enak. Jadi gini ceritanya, sejak dua tahun lalu, saya minum kopi tanpa gula. Dari situ memang kerasa mana kopi enak. Kalau pakai gula, rasa kopinya ketutup gula.

Jadi walaupun banyak warung kopi di Langsa, tapi tidak semua ramai. Biasanya yang ramai adalah yang kopinya enak, tempatnya enak, ada wifi, ada TV Flat.

IMG20181023175614
Menu kopi di Amma Spot Coffee, Langsa

Rata-rata harganya Rp7.000 segelas. Sempat cobain di beberapa tempat harganya Rp3.000, tapi yang harganya segitu rasanya gosong semua. Mungkin itu yang disebut kopi kampung. Ada beberapa tempat yang harganya beberapa puluh ribu. Seperti Amma Coffee, yang varasi kopinya banyak, malah ada yang namanya kopi lemon. Belum pernah dengar kan…

Mie

Di Aceh tidak ada mie Aceh. Cuma disebut “mie” begitu saja. Penjualnya di mana-mana, mudah sekali ditemukan. Yang susah adalah mencari mie yang enak. Beda juru masak hasilnya ya beda kan. Yang enak biasanya ramai. Seperti di ujung jalan Panglima Polem, itu dari pesan sampai jadi pesanannya hampir sejam saya nunggu. Tapi rasanya memang mantap.

mie aceh
Mie Aceh polosan

Harga mie rata di mana-mana di Langsa sama. Kalau yang polosan Rp8.000. Kalau mau tambah udang atau kepiting atau daging, ya nambah lagi. Kalau pakai daging Rp18.000. Kalau pakai kepiting, teman saya pernah bilang Rp25.000.

Betul, murah banget memang. Sea food di Aceh murah, karena memang kan dekat laut. Dan segar-segar! Kenapa bisa begitu? Yah mungkin karena Aceh diberikan laut dengan ikan yang banyak dan tidak jauh-jauh dari pantai. Jadi nelayan Aceh itu berangkat malam, pulang pagi, langsung dijual ke pasar. Dibeli sama ibu-ibu buat makan siang. Jadi tidak sampai 24 jam, ikan dari ditangkap, sudah sampai ke meja makan kita.

Ini beda dengan karakter nelayan di Jakarta, yang kalau nyari ikan, pulangnya berhari-hari kemudian. Ikan kena formalin, itu sudah lazim di Jakarta.

Pernah sekali saya makan nasi pakai gulai ikan. Kayaknya itu ikan laut yang ukurannya sepaha. Yang saya ambil adalah potongannya saja, sebesar dua genggaman, daging semua. Itu enak banget. Mungkin termasuk ikan yang paling enak yang pernah saya makan. Sudah puas makan ikan cukup besar, pas bayar, kirain sekitar Rp25.000. Eh ternyata hanya Rp15.000. Murah banget!

IMG20181104195130
Tipikal warung makan di Langsa

Di beberapa warung mie, saya lihat ada mie instan (semacam Indomie) dipajang-pajang. Dalam hati, ngapain orang pesan mie instant wong ada mie Aceh yang lebih enak, mana laku mie instant. Ternyata beda cara pikirnya sama orang lokal. Teman saya yang kecil dan besar di Aceh bilang, ya wajar saja, kami kan bosan makan mie kuning terus (mie Aceh), begitu katanya.

Hal yang sama dengan warung kopi. Kenapa banyak kopi sachet digantung-gantung di sebelah perabot kopi saring? Wong Aceh sudah punya kopi bagus, ngapain malah pilih kopi sachet yang kualitasnya rendah? Eh ternyata alasannya karena bosan juga. Bosan dengan kopi saring, jadi pesan kopi sachet.

Ohya, tidak semua murah di Langsa. Ada beberapa yang lebih mahal. Pertama sandang. Rata-rata baju celana lebih mahal. Kedua cukur rambut. Kalau cukur pinggir jalan di Jakarta biasanya saya Rp15.000. Di Langsa dengan kualitas yang sama (sama-sama pinggir jalan) harganya Rp25.000.

Review 6 Bulan di Hotel Pandanaran

IMG20180407131008
Gedung depan Hotel Pandanaran

Sabtu 7 April 2018 adalah hari terakhir saya tinggal di Hotel Pandanaran, Semarang. Enam bulan sudah saya tinggal di sini untuk mengerjakan project IT di sebuah BUMN. Minggu depan saya dipindah lagi ke Pekanbaru untuk memulai project lain lagi.

Cepat atau lambat, yang saya yakini, pengelola Hotel Pandanaran akan melihat tulisan ini. Kalau melihat ada review buruk dari tulisan ini yang bisa menjadi bahan perbaikan, silakan diambil. Kalau melihat ada review bagus, itu bukan karena saya dibayar. Ini murni review subjektif saya.

Jadi kenapa kantor tempat saya bekerja memilih menempatkan di Hotel Pandanaran? Lanjutkan membaca “Review 6 Bulan di Hotel Pandanaran”

Kambing Mbak Tun Pasar Babadan

IMG20180126074353
Warung Makan Sate Kambing Mbak Tun

Akhir Januari 2018, saya diajak site visit ke Kebun Ngobo, salah satu kebun milik perusahaan tempat saya mrojek. Yang mau saya ceritakan adalah tempat sarapan yang kami dimampiri sebelum masuk kebun. Namanya Warung Makan Sate Kambing Mbak Tun. Posisinya di belakang Pasar Babadan, Ungaran, Jawa Tengah. Namanya saja yang sate, padahal menu lain banyak, seperti gulai, gongso Lanjutkan membaca “Kambing Mbak Tun Pasar Babadan”

Singapura: Makanan

Tidak sulit cari makanan di Singapura. Yang sulit itu cari yang murah, halal, dan pedas J

Saya cerita pengalaman saya saja ya tinggal di Singapura selama dua menjelang tiga bulan. Jadi tulisan ini tentu tidak bisa jadi acuan untuk referensi menyeluruh tentang seluruh makanan di Singapura.

Lanjutkan membaca “Singapura: Makanan”

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

img-20150815-00548
Bus menuju Kuching

Hari Ketiga, 17 Agustus 2015. Saya dan Umar menuju Kuching dari Serian dengan bus besar. Tarifnya RM5 atau sekitar Rp17 ribu untuk sekali jalan. Jalanan lengang, tidak ada macet. Jalannya seperti jalan tol, tapi motor boleh masuk. Tidak ada bayar tol juga. Jalannya lebar dan mulus.

Lanjutkan membaca “Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)”

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Ini adalah perjalanan hari kedua, 16 Agustus 2015.

Umar berprofesi sebagai penjual sayur mayur. Jadi sejak subuh dia sudah keliling dengan motor tuanya dengan gendongan besar di sebelah kanan kiri motornya. Umar keliling ke kampung-kampung sekitar. Sosoknya sederhana sekali, uang hanya dicari seperlunya saja, asal bisa makan dan bisa shodaqoh untuk masjid di dekat rumahnya.

Tiba-tiba dia datang dengan membawa banyak durian Lanjutkan membaca “Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)”

Bukti Mentjos, Jual Jamu dalam Kafe

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2009

Jamu Bukti Mentjos. Dok: www.wisataseru.com
Jamu Bukti Mentjos. Dok: http://www.wisataseru.com

Biasanya jamu diidentikkan dengan sesuatu yang inferior dan tidak modern. Sejak adanya produk-produk jamu dalam kemasan, buah karya dari pabrik jamu besar, pandangan itu sedikit demi sedikit tereduksi. Kemunculan kafe-kafe jamu membuat nama jamu semakin terangkat. Bukti Mentjos adalah salah satu kafe jamu di Jakarta yang mengemas jamu dengan lebih eksklusif.

Letaknya yang strategis membuat Bukti Mentjos mudah diakses. Posisinya sekitar 500 meter dari kampus UI Salemba. Sejak tahun 50-an, warung jamu itu sudah berdiri di tempat yang sama seperti sekarang. Bedanya, dulu perawakan tempatnya tidak semenarik sekarang. “Dulu hanya warung kecil dengan tanahnya yang becek,” ingat Romuli yang akrab dipanggil Ako, pemilik Bukti Mentjos. Tempatnya sekarang memang tidak terlalu besar tapi Ako mampu menyulapnya menjadi tempat yang selalu ramai, tidak pernah sepi, apalagi setelah matahari kembali ke peraduannya, Bukti Mentjos semakin dikerubuti pelanggannya.

Kebanyakan pelangannya adalah orang yang loyal, sudah tahunan berlangganan Jamu racikan Ako ini. Mereka sepakat kalau dikatakan ramuan Ako ini handal mendepak berbagai penyakit harian seperti batuk, pilek, pegal, masuk angin, dan perut kembung. Bukan berarti hanya penyakit ringan saja yang bisa ditanggulangi jamu Ako. Kanker dan tumor juga punya ramuan tersendiri.

Beberapa pengunjung bertutur tentang kisahnya. Seorang Bapak mengaku sudah sejak umur 5 tahun ia rajin minum jamu di Bukti Mentjos. “Kalau ada keluhan-keluhan kecil saya selalu ke sini, menyampaikan keluhan, lalu minum jamu. Dengan segera tubuh saya membaik. Sekarang umur saya sudah empat puluh lewat. Berarti sudah puluhan tahun saya sudah jadi langganannya Ako,” katanya sambil tertawa.

Seorang ibu mengaku sudah menjadi pelanggan sejak dirinya belum dilahirkan. Orang tuanya sudah getol mampir ke Bukti Mentjos. Berarti pelanggan Ako sudah sampai lintas generasi.

Satu orang bapak gempal bercerita dengan serius, “Saya kalau sudah flu ya pasti ke sini. Setelah dari sini biasanya dalam dua hari flu saya sudah minggat. Saya yakin betul dengan kualitas jamu di sini. Dua kejadian yang membuat saya makin yakin. Pertama, vonis operasi karena ambeien saudara saya bisa dipatahkan hanya dengan dua kali berkunjung ke sini. Jadi dalam dua malam saja keluhan hilang. Yang kedua, sakit pinggang saya diobati di dokter saraf RS Cipto, sembuh memang, tapi ketika kambuh lagi, saya coba ke sini, ternyata bisa sembuh dengan jamu. Kalau begitu, buat apa saya ke Cipto lagi?” ulasnya.

Menanggapi pernyataan positif itu, Ako yang mendengarkan percakapan pengunjung dengan AO hanya tersenyum. “Yang penting orang minum jamu, sembuh, sehat, kita sudah senang lah,” kata Ako yang terlihat awet muda itu walaupun umurnya sudah setengah abad.

Jamu-jamu racikan Ako kebanyakan berbahan dasar rempah-rempah yang didapat dari Solo, tempat asal mula didirikannya Bukti Mentjos pada tahun 40-an oleh kakek dan neneknya Ako. Ia membawa bahan-bahan mentah tersebut ke Jakarta baru kemudian diolah lebih lanjut sampai berbentuk serbuk halus siap seduh.

Tiap Botol Punya Kode. Pengunjung bisa membawa pulang ramuan atau bisa minum langsung di tempat. Kalau kita memilih minum di tempat, ada bonus khusus, yaitu atraksi mencampurkan jamu. Ada sekitar 20 botol berkode yang berjejer rapi. Setiap kode mencirikan jamu jenis apa yang ada di dalamnya. “Ramuan ini kan pengenalannya tidak bisa dari warna, bisanya dari bau dan rasa. Makanya ada nomor kode untuk memudahkan,” kata Ako.

Setidaknya ada 57 ramuan hasil karya Ako, baik dari hasil risetnya sendiri maupun dari ilmu yang diwariskan turun-temurun. Hanya saja yang dijejer di etalase hanya sekitar 20 ramuan karena itulah yang sering dipesan. Selebihnya ada namun tidak dipajang. Sebut saja jamu nomor 55 yang dinamakan “Si Jantung”. Jamu ini berfungsi mengobati jantung sakit/lemah, dada sesak, berdebar-debar, dan cepat lelah. Atau jamu nomor 33, bernama “Bersih Darah”, yang dapat membersihkan darah sehingga bisa melenyapkan bisul, gatal-gatal, jerawat, eksim, giduh (biduran), dan bau keringat.

Ako dengan fasih mencampurkan sedikit serbuk jamu bernomor sekian dengan nomor sekian dan sekian setelah mendengar rentetan keluhan pengunjungnya. Pengalaman puluhan tahun bergelut di dunia perjamuan membuatnya hebat memberikan resep. Ia selalu melakukan up date ilmu tentang dunia jamu dengan mengikuti seminar, penyuluhan, dan symposium. Semua untuk menyerap ilmu baru supaya dapat membuat ramuan yang lebih mujarab. Ako punya komentar tersendiri untuk seminar-seminar ilmiah, “Biasanya penelitian yang sekarang ini tidak jauh dari zaman kakek nenek kita. Temulawak buat lever dari dulu sudah dipakai, kunyit untuk usus dari dulu sudah dipakai. Ajaib kan!”

Bisa dibilang, ilmunya ini termasuk aliran Jawa asli. “Kalau di India kan ada sekolahnya, lulus jadi tabib. Di Cina ada sekolahnya, lulus jadi Sinsei. Kalau di Indonesia kan tidak ada, jadi turun-temurun dari kakek nenek. Dan seterusnya juga akan turun temurun, bisa ke anak saya bisa juga ke keponakan.”

Akrab

Satu kelebihan besar yang dimiliki Bukti Mentjos adalah keakrabannya dengan pengunjung. Ako yang merupakan pemilik usaha ini turun langsung melayani pengunjung. Dengan seksama ia mendengarkan keluhan dari pengunjung. Tidak ragu-ragu, pengunjung pun berkeluh kesah, tidak jarang terlihat pengunjung yang membawa secarik kertas bertuliskan sejumlah keluhan dari kerabatnya di rumah. Supaya lebih tepat, Ako terkadang melempar pertanyaan kembali, seperti “Masuk angin, gatal hidung, agak flu. Gak ada batuk ya?” atau “Kata dokter apa?” Setelah yakin dengan resepnya, Ako memberikan gelas yang sudah berisi serbuk jamu kepada pegawainya lalu bertanya kepada pelanggan, “Manis atau pahit?” Kalau manis, pegawainya akan menambahkan air jahe manis untuk melarutkan serbuk jamunya. Setelah selesai minum jamu, pengunjung dikenakan 13 ribu rupiah per gelas jamu yang diminumnya.

Di sela wawancara, Ako tetap memperhatikan konsumennya. Kalau ada yang memperlihatkan mimic kepahitan, Ako langsung menyuruh pegawainya menambahkan madu supaya lebih manis. Lalu bertanya lagi sekedar memastikan, “Gimana Bu? Sudah cukup manis?”

Tidak jarang, Ako memberikan sedikit nasihat, “Ibu tetap jaga ya, kontrol makanan. Ibu jangan kapok ya (minum jamu), yang penting sehat Bu,” atau “Saya pernah ngomong ya, di mana kamu duduk, apakah di rumah, di kantor, jaga kantong blakang supaya peredaran darah lancar.”

Memang, Ako tidak selalu ada di setiap jam aktif Bukti Mentjos, yaitu pukul 11 siang sampai 10 malam. Biasanya Ako hanya terlihat pada malam hari. Selebihnya, sepuluh karyawannya lah yang melayani langsung pengunjung. Namun, jangan anggap remeh karena menurut Ako, seluruh karyawannya sudah dibekali ilmu juga. Mereka siap melayani pengunjung.