Singapura: Makanan

Tidak sulit cari makanan di Singapura. Yang sulit itu cari yang murah, halal, dan pedas J

Saya cerita pengalaman saya saja ya tinggal di Singapura selama dua menjelang tiga bulan. Jadi tulisan ini tentu tidak bisa jadi acuan untuk referensi menyeluruh tentang seluruh makanan di Singapura.

Kantor tempat saya bekerja di Indonesia mayoritas karyawannya muslim, jadi kalau milih hotel di Singapura yang dicari adalah yang dekat dengan akses makanan halal. Jadilah di Park Royal (Beach Road), yang depannya langsung Arab Street, dan tidak jauh dari Masjid Sultan. Hanya sekitar 500 meter dari Bugis Station.

Nah di sekitar hotel ini banyak banget pilihan makanan halal. Ya sekitar separuhnya lah halal, terutama masakan Melayu, India, Turki, dan Lebanon. Beberapa masakan China juga halal. Awalnya saya bingung juga mana yang halal, tapi ada beberapa indicator yang bisa jadi acuan restoran itu halal:

  1. Restoran Melayu, India, Turki, dan Lebanon
  2. Ada label Halal
  3. Yang makan ada yang berjilbab
  4. Ada yang ngajak masuk pakai “Assalamu’alaikum”

Kalau tidak ada minimal satu dari indicator di atas, wah jangan deh.

Yang paling nyambung dengan lidah saya adalah masakan India: cane, pratha, nasi biryani, martabak, roti jhon. Yang terakhir disebut ini saya kurang tahu juga, asli masakan India apa bukan ya? Karena di setiap saya masuk restoran India, hampir selalu ada terus.

Dua restoran India favorit saya yang dekat hotel adalah Zam-Zam (depan masjid Sultan) dan Kampong Glam Café (Baghdad Street). Tapi belakangan saya rasai restoran India tipe makanannya sama semua. Sama-sama enak maksudnya.

20170419_194348Sekali saya pernah main ke Little India. Makan di restoran namanya “Madura”. Kita pikir itu makanan Indonesia. Ternyata makanan India. Yang jual semua India. Yang mampir juga India semua. Saya tanya sama waiter, kenapa pakai nama Madura? Dijawab, itu nama daerah di Indonesia. Terus waiternya pergi. Padahal saya mau bilang, nenek-nenek metal juga tahu. Tapi kenapa milih nama Madura???

Selain masakan India, varian makanan lain juga banyak banget, ada steak, ramen, tom yam, ayam penyet (Indonesia banget), nasi lemak, salad. Yah itu saja sih yang saya bisa sebut, sebetulnya masih banyak nama yang aneh-aneh dari restoran Lebanon, Turki, China.

Beberapa tempat makan/retail ini juga ada di sekitar tempat saya tinggal: Popeye, Pizza Hut, 7Eleven, Giant, Starbucks.

Kalau bicara harga, nah ini yang seru. Rata-rata saya sekali makan sudah dengan minum sekitar S$8 atau sekitar Rp80.000. Makan Tom Yam S$5,5. Nasi Briyani Mutton (kambing) S$6,5. Di mal dan di airport harganya tidak jauh beda. Ini yang saya suka. Kalau di Indonesia kan jauh banget bedanya antara di luar bandara dan di bandara.

Di Singapura hampir tidak ada yang kasih minuman gratis. Kalau di Indonesia kan banyak yang kalau kita beli makan ya dapat minum air putih atau teh tawar. Mungkin karena air mahal kali ya. Singapura kan tidak punya pegunungan yang jadi sumber mata air.

Biasanya saya hunting makanan-makanan dekat hotel kalau malam saja. Pagi makan di hotel (include harga kamar). Siang makan di kantin kantor.

Sarapan pagi di hotel juga perlu hati-hati buat muslim, karena banyak makanan yang dicampur dengan daging babi. Lah saya mikir, sangat mungkin kalau mereka masak dalam satu wajan yang sama. Saya cari aman dengan hanya memakan susu sereal, salad, dan buah. Sayang banget sebetulnya varian makanan di hotel banyak banget. Omelet pun saya gak berani sentuh.

Nah kalau makan siang di kantor aman, karena kantin kantor saya, yang di daerah Tuas, bersertifikat halal. Yang jaga juga orang melayu berjilbab. Di kantor saya merdeka soal makanan.

Pernah saya makan di food court Singapore Flyer. Sate 10 tusuk dengan beberapa potongan kecil lontong. Tidak bikin kenyang. Harganya saja yang bikin kenyang: S$10. Di Jakarta paling setara S$3.

Pernah juga saya mampir di mal dekat Singapore Flyer. Sempat tertarik dengan Restoran Masakan Padang. Tapi saya perhatikan semua waiter nya kok Chinese semua. Label halal juga tidak ada. Jadi saya batal makan di situ. Saudara saya yang memang sudah lama di Singapura menguntung-untungkan. Untung saya tidak makan di situ, karena kalau semua yang jaga Chinese, tidak punya label halal, maka jangan masuk.

Iklan

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

img-20150815-00548
Bus menuju Kuching

Hari Ketiga, 17 Agustus 2015. Saya dan Umar menuju Kuching dari Serian dengan bus besar. Tarifnya RM5 atau sekitar Rp17 ribu untuk sekali jalan. Jalanan lengang, tidak ada macet. Jalannya seperti jalan tol, tapi motor boleh masuk. Tidak ada bayar tol juga. Jalannya lebar dan mulus.

Mobil-mobil pribadi yang banyak saya lihat adalah Proton. Ini adalah produk asli Malaysia. Modelnya macam-macam, tidak monoton. Kalau di Indonesia bagaimana? Apa kabar mobil nasional? Apa konsumen Indonesia senang pakai mobil nasional?

Sampai Kuching, saya masuk sebuah mal yang kalau di Jakarta mirip-mirip ITC. Pakaian mahal-mahal. Elektronik kurang lebih sama. Kalau urusan motor, nah mereka ketinggalan. Masak motor yang dipajang di mal itu modelnya seperti Astrea Grand yang di Indonesia dipasarkan sekitar tahun 90-an. Jadul banget.

img-20150816-00558
Jajanan di Kuching

Di luar mal banyak penjual makanan. Harganya kurang lebih sama seperti di Indonesia. Chicken Rice RM4, Fried Chicken Rice RM5, Hot dog + egg RM2,4, Hot dog + egg + cheese RM3,5.Makanan-makanan itu dijual di tempat seperti kaki lima di Indonesia.

Jalan sedikit dari mal itu, saya menuju Waterfront Kuching, melewati patung kucing yang besar. Waterfront adalah istilah untuk tepi laut atau tepi sungai. Kondisinya terawat bersih. Air sungainya juga bersih sekali. Malah ada yang jual jasa wisata naik kapal menyeberang sungai untuk menikmati sungai yang bersih itu.

Kebetulan waktu itu sedang ada pameran gratisan di Waterfront. Seperti pameran budaya di Indonesia. Jadi Negara-negara bagian di Malaysia buat stand dan menampilkan budayanya masing-masing. Kurang lebih sama seperti pameran di Indonesia, saya kurang tertarik.

Hanya 1 jam saya di Kuching, lalu cari bus balik menuju Serian lalu ke Tebeddu. Tebeddu adalah perbatasan Malaysia yang langsung nempel dengan Entikong. Saya cap passport lagi, lalu kembali ke Tayan untuk bekerja kembali seperti biasa.

Tiga hari perjalanan saya ini ditukar dengan pengalaman yang luar biasa. Ketemu teman baru, mendengar cerita-cerita baru, melihat hal-hal baru, menikmati makanan baru, mencoba angkutan umum baru, merasai budaya baru. Luar biasa…

 

#HABIS

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Ini adalah perjalanan hari kedua, 16 Agustus 2015.

Umar berprofesi sebagai penjual sayur mayur. Jadi sejak subuh dia sudah keliling dengan motor tuanya dengan gendongan besar di sebelah kanan kiri motornya. Umar keliling ke kampung-kampung sekitar. Sosoknya sederhana sekali, uang hanya dicari seperlunya saja, asal bisa makan dan bisa shodaqoh untuk masjid di dekat rumahnya.

TIba-tiba dia datang dengan membawa banyak durian. “Durian di sini dagingnya empuk, tebal, dan manis. Mas Iqbal harus coba!” Langsung saya sikat. Padahal semalam saya hanya ngobrol biasa saja, menyampaikan bahwa saya senang sekali makan durian. Paginya langsung dibawakan.

Tidak lama kami berkemas untuk menuju Serian. Pertama menggunakan angkot menuju Entikong. Angkotnya seperti kebanyakan yang ada di Jakarta. Ongkosnya seingat saya Rp12 ribu untuk perjalanan sekitar 30 kilometer. Jalanan sepi dan berkelok-kelok.

Saya periksa kembali passport saya, kuatir lupa dibawa. Alhamdulillah ada. Passport masih kosong, belum ada satupun cap. Sebentar lagi saya mendapat cap pertama.

Entikong bukanlah kota, tetapi lebih mirip desa yang ramai. Banyak penginapan. Banyak penjual makanan. Saya dan Umar langsung menuju loket imigrasi untuk minta cap.

img-20150816-00570
Pos Imigrasi Entikong

Pertama, loket Indonesia, lalu loket Malaysia. Keduanya mudah. Petugas beberapa kali melihat wajah saya, memastikan sama dengan foto yang ada di passport. Suasana loket Malaysia terlihat lebih sepi lebih teratur. Di loket Indonesia banyak orang, banyak pedagang, termasuk pedagang nomor Malaysia dan pedagang RInggit. Saya beli satu nomor Malaysia seharga RM10 atau setara Rp35 ribu. Sekaligus saya tukar rupiah dengan ringgit.

Tidak jauh dari loket Malaysia terlihat beberapa mobil angkutan umum. Bentuknya agak besar seperti mobil L300. Umar menyebutnya “Len”. Ini sebutan untuk angkutan umum yang lazim saya dengar juga di daerah Jawa Timur. Entah orang Malaysia menyebutnya apa.

img-20150815-00544
Len dari Tebeddu (perbatasan Entikong) ke Serian

Kami naik len itu menuju Serian. Tapi len baru berangkat setelah penumpang ramai. Jadi budaya “ngetem” ya ada juga di Malaysia. Bedanya, di Malaysia, kalau sudah jalan, ya jalan terus sampai tujuan.

Sampai Serian, kami masuk pasar yang lokasinya dekat dengan terminal. Ada penjual minuman segar, harganya flat RM1 atau sekitar Rp3.500. Ada air tebu, ada laici, dan air Bandung. Kok bisa ada bandung di sini? Lagipula, apa itu air Bandung?

Pasarnya mirip pasar tradisional di Indonesia, tapi lebih bersih. Yang dijual kurang lebih sama. Kebanyakan penjual di sini yang saya perhatikan adalah dari etnis Melayu, Dayak Iban, dan China. Dayak Iban adalah Dayak yang agak Chinese. Kulitnya putih atau kuning langsat.

img-20150815-00546
Roti Cane

Agak keluar dari pasar, saya mampir ke tempat makan roti cane. Penjualnya orang India yang kesulitan bahasa melayu. Buat saya, di sini lebih enak pakai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Lebih jelas maksudnya sama. Kalau bahasa Indonesia, memang mirip dengan bahasa Melayu, tapi banyak tidak nyambungnya.

Roti cane di sini enak sekali. Murah juga. Saya dan Umar makan sampai puas dengan cane, kari kambing, teh tarik. Sudah nambah-nambah segala, habisnya RM18 atau sekitar Rp60 ribu.

Saya dan Umar dijemput temannya Umar, namanya Pak Sukino. Dia orang Jawa juga, merantau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih banyak hasilnya. “Tapi tidak lama lagi saya kembali ke Jawa, sekitar 6 bulan lagi,” kata Pak Sukino.

Pak Sukino, saking lamanya di Malaysia, sudah berlogat melayu. Logat Jawanya sudah hilang blas. Dia bekerja di pabrik kecil yang mengolah kayu besar menjadi potongan-potongan kayu kecil. Dia membuat rumah sederhana di dekat pabrik tersebut. Anak buahnya kebanyakan orang Malaysia, yang juga membuat rumah-rumah sederhana di dekat pabrik.

Pak Sukino bercerita tentang bosnya yang orang China yang tinggal di Malaysia Barat, mungkin Kuala Lumpur. “Dia kalau ke sini pakai passport,” kata Pak Sukino.

Loh kok sama-sama Malaysia tapi pakai passport?

Setelah saya Googling, memang tidak semua warga Malaysia bebas masuk ke semua wilayah Malaysia. Serawak punya peraturan khusus. Orang Malaysia di luar Serawak yang ingin masuk Serawak harus mengurus Pass Khusus atau Passport Biru atau Dokumen Perjalanan Terhad (DPT). Urusannya di Kantor Imigrasi juga.

Itu adalah syarat yang diberikan Serawak ketika diminta masuk dalam satu Negara Malaysia. Kalau Malaysia menolak syarat itu, mungkin Serawak akan masuk Indonesia kali ya… atau bikin Negara sendiri.

Kembali ke Pak Sukino. Dia juga bercerita tentang WNI yang bekerja tanpa surat. WNI itu memang punya passport, tapi hitungannya bukan bekerja. Jadi jatah tinggal di Malaysia-nya hanya 30 hari. Setiap bulan, WNI itu harus menuju perbatasan untuk mendapat perpanjangan lagi. “Itu disebut cop pusing,” kata Pak Sukino.

Masih banyak yang kami obrolkan, termasuk cerita-cerita sensitif yang tidak pantas saya ceritakan di sini. Kami ngobrol sampai tengah malam.

 

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)

Bukti Mentjos, Jual Jamu dalam Kafe

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2009

Jamu Bukti Mentjos. Dok: www.wisataseru.com
Jamu Bukti Mentjos. Dok: http://www.wisataseru.com

Biasanya jamu diidentikkan dengan sesuatu yang inferior dan tidak modern. Sejak adanya produk-produk jamu dalam kemasan, buah karya dari pabrik jamu besar, pandangan itu sedikit demi sedikit tereduksi. Kemunculan kafe-kafe jamu membuat nama jamu semakin terangkat. Bukti Mentjos adalah salah satu kafe jamu di Jakarta yang mengemas jamu dengan lebih eksklusif.

Letaknya yang strategis membuat Bukti Mentjos mudah diakses. Posisinya sekitar 500 meter dari kampus UI Salemba. Sejak tahun 50-an, warung jamu itu sudah berdiri di tempat yang sama seperti sekarang. Bedanya, dulu perawakan tempatnya tidak semenarik sekarang. “Dulu hanya warung kecil dengan tanahnya yang becek,” ingat Romuli yang akrab dipanggil Ako, pemilik Bukti Mentjos. Tempatnya sekarang memang tidak terlalu besar tapi Ako mampu menyulapnya menjadi tempat yang selalu ramai, tidak pernah sepi, apalagi setelah matahari kembali ke peraduannya, Bukti Mentjos semakin dikerubuti pelanggannya.

Kebanyakan pelangannya adalah orang yang loyal, sudah tahunan berlangganan Jamu racikan Ako ini. Mereka sepakat kalau dikatakan ramuan Ako ini handal mendepak berbagai penyakit harian seperti batuk, pilek, pegal, masuk angin, dan perut kembung. Bukan berarti hanya penyakit ringan saja yang bisa ditanggulangi jamu Ako. Kanker dan tumor juga punya ramuan tersendiri.

Beberapa pengunjung bertutur tentang kisahnya. Seorang Bapak mengaku sudah sejak umur 5 tahun ia rajin minum jamu di Bukti Mentjos. “Kalau ada keluhan-keluhan kecil saya selalu ke sini, menyampaikan keluhan, lalu minum jamu. Dengan segera tubuh saya membaik. Sekarang umur saya sudah empat puluh lewat. Berarti sudah puluhan tahun saya sudah jadi langganannya Ako,” katanya sambil tertawa.

Seorang ibu mengaku sudah menjadi pelanggan sejak dirinya belum dilahirkan. Orang tuanya sudah getol mampir ke Bukti Mentjos. Berarti pelanggan Ako sudah sampai lintas generasi.

Satu orang bapak gempal bercerita dengan serius, “Saya kalau sudah flu ya pasti ke sini. Setelah dari sini biasanya dalam dua hari flu saya sudah minggat. Saya yakin betul dengan kualitas jamu di sini. Dua kejadian yang membuat saya makin yakin. Pertama, vonis operasi karena ambeien saudara saya bisa dipatahkan hanya dengan dua kali berkunjung ke sini. Jadi dalam dua malam saja keluhan hilang. Yang kedua, sakit pinggang saya diobati di dokter saraf RS Cipto, sembuh memang, tapi ketika kambuh lagi, saya coba ke sini, ternyata bisa sembuh dengan jamu. Kalau begitu, buat apa saya ke Cipto lagi?” ulasnya.

Menanggapi pernyataan positif itu, Ako yang mendengarkan percakapan pengunjung dengan AO hanya tersenyum. “Yang penting orang minum jamu, sembuh, sehat, kita sudah senang lah,” kata Ako yang terlihat awet muda itu walaupun umurnya sudah setengah abad.

Jamu-jamu racikan Ako kebanyakan berbahan dasar rempah-rempah yang didapat dari Solo, tempat asal mula didirikannya Bukti Mentjos pada tahun 40-an oleh kakek dan neneknya Ako. Ia membawa bahan-bahan mentah tersebut ke Jakarta baru kemudian diolah lebih lanjut sampai berbentuk serbuk halus siap seduh.

Tiap Botol Punya Kode. Pengunjung bisa membawa pulang ramuan atau bisa minum langsung di tempat. Kalau kita memilih minum di tempat, ada bonus khusus, yaitu atraksi mencampurkan jamu. Ada sekitar 20 botol berkode yang berjejer rapi. Setiap kode mencirikan jamu jenis apa yang ada di dalamnya. “Ramuan ini kan pengenalannya tidak bisa dari warna, bisanya dari bau dan rasa. Makanya ada nomor kode untuk memudahkan,” kata Ako.

Setidaknya ada 57 ramuan hasil karya Ako, baik dari hasil risetnya sendiri maupun dari ilmu yang diwariskan turun-temurun. Hanya saja yang dijejer di etalase hanya sekitar 20 ramuan karena itulah yang sering dipesan. Selebihnya ada namun tidak dipajang. Sebut saja jamu nomor 55 yang dinamakan “Si Jantung”. Jamu ini berfungsi mengobati jantung sakit/lemah, dada sesak, berdebar-debar, dan cepat lelah. Atau jamu nomor 33, bernama “Bersih Darah”, yang dapat membersihkan darah sehingga bisa melenyapkan bisul, gatal-gatal, jerawat, eksim, giduh (biduran), dan bau keringat.

Ako dengan fasih mencampurkan sedikit serbuk jamu bernomor sekian dengan nomor sekian dan sekian setelah mendengar rentetan keluhan pengunjungnya. Pengalaman puluhan tahun bergelut di dunia perjamuan membuatnya hebat memberikan resep. Ia selalu melakukan up date ilmu tentang dunia jamu dengan mengikuti seminar, penyuluhan, dan symposium. Semua untuk menyerap ilmu baru supaya dapat membuat ramuan yang lebih mujarab. Ako punya komentar tersendiri untuk seminar-seminar ilmiah, “Biasanya penelitian yang sekarang ini tidak jauh dari zaman kakek nenek kita. Temulawak buat lever dari dulu sudah dipakai, kunyit untuk usus dari dulu sudah dipakai. Ajaib kan!”

Bisa dibilang, ilmunya ini termasuk aliran Jawa asli. “Kalau di India kan ada sekolahnya, lulus jadi tabib. Di Cina ada sekolahnya, lulus jadi Sinsei. Kalau di Indonesia kan tidak ada, jadi turun-temurun dari kakek nenek. Dan seterusnya juga akan turun temurun, bisa ke anak saya bisa juga ke keponakan.”

Akrab

Satu kelebihan besar yang dimiliki Bukti Mentjos adalah keakrabannya dengan pengunjung. Ako yang merupakan pemilik usaha ini turun langsung melayani pengunjung. Dengan seksama ia mendengarkan keluhan dari pengunjung. Tidak ragu-ragu, pengunjung pun berkeluh kesah, tidak jarang terlihat pengunjung yang membawa secarik kertas bertuliskan sejumlah keluhan dari kerabatnya di rumah. Supaya lebih tepat, Ako terkadang melempar pertanyaan kembali, seperti “Masuk angin, gatal hidung, agak flu. Gak ada batuk ya?” atau “Kata dokter apa?” Setelah yakin dengan resepnya, Ako memberikan gelas yang sudah berisi serbuk jamu kepada pegawainya lalu bertanya kepada pelanggan, “Manis atau pahit?” Kalau manis, pegawainya akan menambahkan air jahe manis untuk melarutkan serbuk jamunya. Setelah selesai minum jamu, pengunjung dikenakan 13 ribu rupiah per gelas jamu yang diminumnya.

Di sela wawancara, Ako tetap memperhatikan konsumennya. Kalau ada yang memperlihatkan mimic kepahitan, Ako langsung menyuruh pegawainya menambahkan madu supaya lebih manis. Lalu bertanya lagi sekedar memastikan, “Gimana Bu? Sudah cukup manis?”

Tidak jarang, Ako memberikan sedikit nasihat, “Ibu tetap jaga ya, kontrol makanan. Ibu jangan kapok ya (minum jamu), yang penting sehat Bu,” atau “Saya pernah ngomong ya, di mana kamu duduk, apakah di rumah, di kantor, jaga kantong blakang supaya peredaran darah lancar.”

Memang, Ako tidak selalu ada di setiap jam aktif Bukti Mentjos, yaitu pukul 11 siang sampai 10 malam. Biasanya Ako hanya terlihat pada malam hari. Selebihnya, sepuluh karyawannya lah yang melayani langsung pengunjung. Namun, jangan anggap remeh karena menurut Ako, seluruh karyawannya sudah dibekali ilmu juga. Mereka siap melayani pengunjung.

Pusat Jajanan Sabang, Hidup Setelah Mentari Padam

Tulisan ini dibuat untuk Majalah Agro Observer tahun 2009

Sabang Food Center
Sabang Food Center

Jika hendak bercengkerama dengan kawan lama sambil menggoyang lidah, maka Jalan Sabang bisa jadi jawabannya. Berjenis-jenis nama makanan tampak di spanduk yang terpampang di sepanjang jalan. Nasi goreng, soto, sate, bakmi, bakso, nasi uduk, bubur ayam, martabak, dan masih banyak lagi penganan yang bisa didapat di jalan ini. hidup sampai lewat tengah malam menjadikannya salah satu tempat makan favorit warga Ibukota.

Matahari semakin meluruhkan cengkeramannya. Manusia Ibu Kota sudah semakin terpenam dengan riuh pikirannya. Namun, beberapa yang lain dengan semangat yang masih berlimpah-limpah sedikit demi sedikit membangun kedai-kedai tidak permanen di kanan kiri Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Memasuki kawasan ini, pengunjung akan melewati semacam gapura besar bertuliskan Welcome Pusat Jajanan Sabang di sebelah kiri dan Sabang Food Center di sebelah kanan. Pemerintah Kota DKI sudah menetapkan kawasan ini sebagai pusat jajanan.

Letaknya yang mudah diakses dan keberagaman makanan yang ditawarkan membuat Pusat Jajanan Sabang cukup digandrungi. Sejak jam pulang kantor, Jalan Sabang mulai dikerumuni oleh orang-orang kerja berpakaian necis, sampai sekitar jam delapan malam. Setelah itu, lebih banyak keluarga yang datang. Pusat Jajanan Sabang sendiri hidup dengan tenaga penuh sampai lewat tengah malam kemudian semakin meredup sampai mentari muncul kembali.

Puluhan warung dan restoran di jalan ini menjajakan berbagai rupa makanan. Sebut saja warung Sate Pak Heri, Nasi Goreng Gila tanpa nama, Bakmi Roxy, Seafood 99, Bubur Ayam Sabang Bang Robby, Ratu Bebek dan Ayam Bakar, Warung Soto Pak Gendut, Pempek Jalan Sabang, dan Pondok Kerang. Restoran-restoran besar tak mau kalah, ada American Grill, Hoka-Hoka Bento, Dunkin Donuts, Sakura Anpan Bakery, Holland Bakery, Soto Ayam Ambengan Pak Sadi, dan Kapitiam Oey.

AO sempat membuat survey kecil mengenai warung favorit di Jalan Sabang. Muncul tiga kandidat besar, yaitu Sate Pak Heri, Nasi Goreng Gila tanpa nama, dan Bakmi Roxy. Ketiganya tidak pernah berhenti berkeluget, pengunjung sambung menyambung datang ke ketiga tempat ini.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan Nasi Goreng Gila tanpa nama. Ketika ditanya apa nama warung ini, Ai si pemilik warung mengaku tidak pernah memberikan nama untuk warungnya itu. “Kami cuma tulis Nasi Goreng Gila di spanduk karena itu yang paling laris di tempat ini,” tuturnya. Berbagai jenis nasi goreng lainnya juga hadir di daftar menu, seperti nasi goreng kambing, nasi goreng pete, dan nasi goreng ikan teri medan. Di luar nasi goring, masih ada Gohyong, Puyunghai, Ayam Kuluyuk, Ayam Malaya, berbagai jenis kwetiau, bihun, dan mie.

Ai juga tidak mafhum mengapa banyak yang datang ke warungnya yang sudah berdiri sejak tahun 2002, “Bumbu yang dipakai tidak ada yang special. Bahan yang ditambahkan juga sama, ada ayam, baso, sosis, kornet, telur, dan sayuran. Sama saja.” Tempat kecilnya itu mampu membius seratus orang lebih untuk mampir setiap malamnya. Pengunjung tidak keberatan dengan harga nasi goreng gila sebesar Rp17 ribu. Mereka puas karena gurihnya nasi goreng racikan Ibu Ai bisa dikatakan seimbang dengan harganya.

Sebagian besar warung yang ada di Jalan Sabang hanya buka di malam hari. Begitu juga dengan warung Ibu Ai. “Kami buka dari jam 4 sore sampai jam 4 pagi.” Bersama suami dan empat orang anak buahnya, Ai ikut meramaikan pikuk Jalan Sabang.

Tempat kedua yang juga cukup direkomendasikan adalah Sate Pak Heri. Banyak warung yang menjajakan sate di sepanjang Jalan Sabang, tapi sebagian besar menyarankan Sate Pak Heri sebagai tempat makan sate paling nikmat.

Tempatnya memang relatif lebih besar daripada yang lain. Aktivitasnya padat menandakan tempat ini cukup laris. Pak Heri, pendiri tempat ini sudah tidak lagi aktif berjualan, diteruskan oleh anaknya. Menurutnya, Ribuan tusuk sate laku setiap harinya. Harga yang dibandrol untuk sepuluh tusuk sate ayam lengkap dengan lontingnya adalah Rp14 ribu. Sedangkan untuk sate kambing Rp17 ribu. Selain sate, dijajakan juga soto ayam yang dibandrol dengan harga Rp12 ribu.

Penjual Sate di Jalan Sabang
Penjual Sate di Jalan Sabang

Sate Pak Heri termasuk warung yang cukup sepuh berdiri di kawasan ini, 29 tahun sudah. Saat itu, Jalan Sabang keadaannya belum sebaik seperti sekarang, belum seramai sekarang.

Selanjutnya ada Bakmi Roxy, letaknya tepat di seberang Sate Pak Heri. Bakmi Roxy adalah cabang dari Bakmi yang dijual di Roxy. Pemiliknya tidak mau ambil pusing dengan pemilihan nama yang berkesan, cukup dengan “Bakmi Roxy” saja. Satu porsi bakmi dengan ayam dijual dengan harga Rp8 ribu, sedangkan kalau ingin ada tambahan pangsit atau bakso, satu porsinya dihargai Rp11 ribu.

Tidak kurang dari tiga ratus porsi ludes dipesan setiap malamnya. Pengalaman berjualan selama 9 tahun di Jalan Sabang membuat pengelola Bakmi Roxy semakin lihai menggaet pelanggan dengan tetap menjaga mutu bakmi.

Jam tayangnya tidak berbeda jauh dengan warung lain. “Kami buka dari jam 5 sore sampai setengah satu malam,” kata si penjual sambil tetap fokus menuangkan kuah ke beberapa mangkuk.

Rumah Makan Ma’Uneh: Bermula dari Lotek

Menu di Rumah makan Ma'Uneh
Menu di Rumah makan Ma’Uneh

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer pada 2010

Mampir ke Bandung tak lengkap rasanya kalau belum mencicipi masakan sunda. Sayur mayur identik dengan kuliner sunda. Lalapan selalu tersedia di meja. Mungkin kebiasaan ini yang menyebabkan masyarakat sunda mempunyai kulit yang bersinar dan terlihat terawat. Restoran sunda bertebaran di Bandung, salah satu yang cukup dikenal adalah Rumah Makan Ma’Uneh. Pada awal berdirinya, yaitu tahun 1953, Ma’Uneh mendirikan warung kecil di Jalan Terasana, Bandung. Hanya lotek yang dijualnya ketika itu. Setengah abad lebih sudah berlalu. Menu yang ditawarkan hampir mencapai 100 jenis. Tapi tetap dengan ciri khas dapur sunda.

Agak sulit mencapainya kalau baru pertama kali ke tempat ini. Pertama, kita harus mencari jalan Terasana di sepanjang jalan Pajajaran. Tempatnya melewati gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki dan pengendara motor. Bagi yang membawa mobil, silakan parkir di jalan Pajajaran karena tidak ada ruang parkir mobil di RM ini. Lagipula, tidak ada jalan yang bisa dilalui mobil.

Hal pertama yang AO tanyakan kepada Empat F Ilyas, pengelola RM Ma’Uneh yang merupakan cucu dari Ma’Uneh, adalah tentang tempat yang sulit diakses. Empat menjawab dengan tegas bahwa itu tidak masalah baginya, terbukti dengan jumlah pengunjung yang semakin hari semakin banyak. “Banyak menteri dan artis yang suka makan di sini. Mungkin mereka kaget di awalnya saja. Harus masuk ke gang-gang kecil. Tapi setelah itu, mereka kembali dan kembali lagi,” semangat Empat.

Kesan elegan yang pertama kali terlintas ketika memasuki RM ini. Foto Ma’Uneh dipajang sebagai bukti kebanggaan cucu-cucunya terhadapnya. Ada beberapa ruangan untuk makan. Ada pula ruangan ber-AC. Tidak ada syarat khusus harus membeli berapa banyak untuk makan di ruang ber-AC ini, semua bisa masuk.

Menu di Rumah Makan Ma'Uneh
Menu di Rumah Makan Ma’Uneh

Jika dijumlahkan, RM ini bisa menampung 150 orang. Pengunjung setiap harinya sekitar 75 orang. Kalau hari libur bisa berlipa dua kali. Banyak pengunjung yang setelah makan membungkus lagi untuk keluarga atau kerabatnya. Untuk melayani itu semua, Empat memiliki 20 orang karyawan untuk di Terasana saja.

Tempat itu sengaja dipertahankan karena di situlah awal mula Ma’Uneh membuka usahanya. Kemudian diteruskan oleh anak laki-lakinya yang bungsu. Empat adalah satu dari delapan anak dari laki-laki tersebut alias cucu dari Ma’Uneh.

“Tiga hal yang selalu dijaga dari tempat makan ini adalah kekonsistenan rasa, kebersihan, dan pelayanan,” tutur Empat. Dengan begitu, pelan tapi pasti, usaha pasti berkembang. Terbukti sampai saat ini, RM Ma’Uneh sudah membuka dua cabang, di Jalan Pajajaran dan Jalan Setiabudi. Akses untuk menuju ke kedua cabang ini relative lebih mudah daripada pusatnya di Terasana.

Jadi, sudah ada tiga tempat yang berlogo RM Ma’Uneh. Semuanya dikelola oleh saudara-saudara dari Empat. Tidak menutup kemungkinan cabang tersebut akan bertambah lagi, tidak hanya di Bandung, mungkin ke kota lain.

Melihat kemajuan dari RM Ma’Uneh ini, beberapa tempat makan, mulai dari lokal sampai makanan asing mencoba untuk mengajaknya bergabung. Tapi semuanya ditolak Empat. “Bukannya kami tidak mau, tapi takutnya ketika kita sudah bergabung, citra khas Sunda kita hilang.

Semua Turun Dapur

Walaupun statusnya adalah pemilik RM, tapi Empat beserta saudara-saudaranya sudah terbiasa untuk menjadi pekerja. Bukan karena kurang mampu untuk membayar karyawan, tapi untuk menjaga kualitas pelayanan.

Di sela-sela wawancara, Empat sempat beberapa kali menegur karyawannya yang melakukan kesalahan seperti tidak hati-hati dalam mebawa piring, atau hal-hal kecil yang lain. Ini bukti dari kekonsistenan dalam menjaga pelayanan.

Setengah Matang

Stok makanan yang ada di dapur Ma’Uneh berupa makanan setengah matang. Ketika pengunjung memesan, makanan langsung dihangatkan. Beberapa menit kemudian, makanan siap disantap. Ini merupakan salah satu kelebihan RM Ma’Uneh. Pengunjung tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan makanan hangat.

Ada hampir 100 jenis makanan yang bisa dicicipi di sini. Bermacam jenis tumis, pepes, cobek, dan leunca ada di sini. Ada juga ikan gurame goreng, ikan kerapu balado, acar ikan tenggiri, udang windu goreng. Makanan khas dari restoran khas sunda ini adalah Haremis, yaitu semacam kerang air tawar kecil yang dimasak bumbu kuning. Yang paling dicari di tempat ini, menurut Empat, adalah jeroan, babat, dan harmis.

Soto Bandung pasti ada di sini. Begitu juga dengan karedok dan buntil. Sambal untuk setiap makanan berbeda-beda. Ada sambal mangga muda yang khusus untuk menemani ikan dan udang goreng.

Harga yang ditawarkan relatif terjangkau. Untuk seporsi udang windu yang berisi tiga buah udang besar dihargai Rp62.500. Gurame gorang yang cocok untuk dimakan oleh tiga orang dihargai Rp52.500. Daging Guramenya sangat tebal, soal rasa tidak perlu diragukan lagi. Soto Bandung dibandrol Rp20.000 sedangkan Karedok Rp8.750. Satu mangkuk kecil harmis berharga Rp10.500. Bermacam-macam jus ditaksir Rp12.500.

Setiap harinya, RM Ma’Uneh buka pukul 7 pagi sampai pukul 4 sore. Tempat makan ini buka setiap hari kecuali hari Jumat. Ini jam buka untuk cabang di Terasana. Untuk cabang di Setiabudi, buka pukul 11 siang sampai pukul 7 malam. Sedangkan cabang Pajajaran hanya buka di malam hari. Walaupun dikelola oleh saudara-saudara sendiri, manajemen untuk tiap cabang berbeda-beda, selain dari jam buka yang beragam, menu yang ditawarkan juga sedikit berbeda. Harmis, udang windu, dan bawal putih tidak ada di RM Ma’Uneh Pajajaran, hanya ada di Terasana. Dapur mereka berbeda. Tapi mereka tetap bersaudara.

Membumi di Krueng Mane

(Tulisan ini adalah bagian yang kena edit dari penerbit buku Keliling Sumatera Luar Dalam)

Di Krueng Mane, saya tinggal di tempat kakek nenek dari jalur mama. Halamannya luas, ada pohon kelapa sepuluh lebih. Nenek tahu saya suka kelapa, jadi tidak lama setelah saya datang, langsung dipanggil tukang panjat kelapa. Puluhan kelapa dipetik. Airnya begitu manis dan segar. Dagingnya lembut dan nikmat.

Nenek punya beberapa ekor ayam yang rata-rata bertelur satu butir per hari. Telur ayam kampung. Ayamnya masih bisa lari ke mana-mana, susah ditangkap, masih bisa cari cacing sendiri. Telurnya kecil, tapi manisnya luar biasa. Ini telur ayam kampung terenak buat saya. Kalau tidak dibikin ceplok dengan kuning yang masih meleleh-leleh, nenek bikin telur setengah matang.

Tape beras, buat sarapan di Krueng Mane. Dok: Iqbal
Tape beras, buat sarapan di Krueng Mane. Dok: Iqbal

Kalau pagi, makanan pembukanya adalah pulut pakai tape. Tape nya bukan berbahan singkong, tapi beras. Kayaknya cuma orang Aceh yang bikin tape dari beras. Bentuknya bulat-bulat, agak lebih besar dari bola golf. Kalau di warung biasanya dijual lima ratus sebiji. Sedangkan pulut adalah ketan yang dibungkus daun, lalu dipanggang. Bentuknya memanjang seperti lemper. Juga lima ratusan.

Pulut dan tape berarti ketan dan beras. Walau jadinya double karbohidrat (malah nenek saya nawarin, mau pakai gula gak?) dan tidak ada protein -yang menurut ahli gizi itu gak bagus-, tapi rasanya begitu menggoda. Pulut featuring tape itu duet maut deh!

Gempuran protein baru datang siang dan malam. Di meja makan selalu ada ikan. Ikan jadi lauk utama orang Aceh. Seakan-akan orang Aceh bisa sakit kalau tidak makan ikan.

Kerjaan utama saya di Krueng Mane kalau sedang pulang kampung adalah mandi laut. Saya mandi laut seperti minum obat: pagi dan sore. Mandi laut maksudnya bukan di tengah laut, tapi di pantai. Dari rumah nenek, saya tinggal jalan 10 menit sudah sampai pantai.

Pantai Krueng Mane adalah pantai yang landai dengan pasir putih. Landai sampai-sampai sudah nyebur 50 meter, tinggi air masih 1 meter. Tidak ada batu. Tidak ada karang. Semuanya pasir. Ombaknya sulit diprediksi, kadang besar, kadang kecil, tapi tidak pernah tidak ada. Arus bawah lebih sulit lagi diprediksi, kadang tidak ada arus sama sekali, kadang arusnya gila-gilaan. Sore biasanya lebih berarus dari pagi.

Pernah, saking besarnya arus ke kanan (selatan), sekuat apapun saya coba berjalan, selalu terhempas ke kanan. Baru mencoba sedikit, ombak satu meter datang, pijakan saya lepas. Coba lagi, kena ombak lagi. Lima belas menit sudah kehabisan tenaga.

Tapi ada saat-saat ketika arusnya nol dan ombak minim. Biasanya pagi. Saya bisa mengapung sesuka saya. Berenang segala gaya. Seperti di kolam renang raksasa. Dan rasanya seperti milik sendiri, karena saya belum pernah ketemu sama orang yang berenang pagi.

Musuh pantai Krueng Mane cuma satu: ubur-ubur. Kalau lagi musim, tiap 10 meter pesisir pantai ada bangkai ubur-ubur. Jangan coba-coba masuk berenang. Beberapa tahun lalu saya pernah berenang lagi musim ubur-ubur. Belum sampai 3 menit, kaki saya sudah beberapa kali bersentuhan dengan ubur-ubur. Saya langsung mendarat. Bentol-bentol merah di sekujur kaki. Gatal, tapi saya tahu tidak boleh digaruk. Baru sembuh beberapa minggu kemudian. Sepupu saya malah pernah sampai korengan berbulan-bulan.

Mumpung lagi ngumpul (kebetulan keluarga om saya yang di Jakarta juga lagi ada di Krueng Mane), nenek berencana bikin kenduri, semacam pesta kecil, di rumah, dengan mengundang tetangga-tetangga sekitar.

Kalau di Krueng Mane, tidak sulit mencari tenaga yang mau bantu masak untuk kenduri. Tetangga-tetangga selalu ikut bantu. Kursi bisa dipinjam lewat pengurus desa. Piring bisa pinjam tetangga. Kewajiban utama yang bikin kenduri hanyalah siapin duit dan bilang maunya gimana.

Selebihnya berjalan autopilot. Yang biasa masak nasi ya masak nasi. Yang biasa nyapu ya nyapu. Yang biasa kupas bawang ya kupas bawang. Yang biasa angkat bangku ya angkat bangku. Tidak perlu bikin meeting bagi-bagi dapukan.

Keluarga yang bikin kenduri tidak diberatkan dengan hal seremeh kupas bawang. Untuk persiapan kenduri, saya cuma ikut nemani om saya yang juga nemani seorang penghubung untuk beli kambing di Pasar Geurugok. Dua ekor. Setiap Selasa, di Geurugok (kecamatan sebelah) ada pasar hewan, terutama kambing dan sapi. Ada juga domba dan kerbau.

Mereka memang menyebutnya pasar hewan, tapi tidak ada tempat khusus untuk menampung hewan-hewan itu. Kebanyakan pedagang kambing hanya mengikatkan tali, satu ujung di leher kambing, dan ujung satunya lagi di ranting-ranting pohon. Jadi terlihat banyak tali-tali menjuntai ke atas ranting pohon.

Yang unik, setelah penjual dan pembeli sepakat mau beli kambing yang mana dengan harga berapa, akad jual beli diucapkan. Waktu om sudah sepakat membeli dua kambing seharga sekian pada seorang pembeli, si pembeli –dengan rokok yang masih menempel di mulutnya- segera menyalami om dengan menyelipkan tali kekang kambing di antara dua telapak tangan mereka, lalu disebutkan harga kesepakatan. Deal!

Kenduri berlangsung begitu kilat. Setelah shalat Jumat, dua ratus orang datang, makan, terus pulang, selesai. Tidak ada prosesi sambutan atau ngomong-ngomong dari pembuat kenduri. Saya rasa tetamu undangan itu juga tidak tahu dalam rangka apa ada kenduri itu.