Enam Bulan di Langsa

IMG20190314085853
Kantor Pusat PTPN I Langsa

Akhir September 2018, saya dan tim ditugaskan untuk mengawal pergantian sistem di PTPN I (N1) yang berkantor pusat di Langsa, Aceh. Kami ada belasan orang. Dua di antaranya tim lokal, atau kami sebut “local support”. Satu namanya Desi, satu lagi Tria. Keduanya lulusan Unsiah, universitas terbaik di Aceh.

Dalam keseharian orang Aceh, memanggil sesama teman memang biasa dengan sebutan “Ke” dengan “e” seperti melafalkan hotel. “Ke mau ke mana?” kalau Bahasa Jakarta-nya, “Lu mau ke mana?”

Karena sudah setiap hari si Tria dipanggil “Ke” oleh Desi, maka oleh anggota tim yang lain, Tria dipanggil “Bang Ke” yang lama-lama spasinya hilang menjadi “Bangke”. Tapi Tria tidak marah. Dia baik hati dan hanya tersenyum.

Kami ditempatkan di Hotel Kartika, yang sebetulnya lebih tepat disebut wisma. Setiap pagi sarapan di sini. Yang biasanya makan timphan hanya ketika lebaran, sekarang jadi hampir setiap hari, karena Hotel Kartika sediakan dalam menu sarapannya. Saya menulis review khusus tentang hotel ini di tulisan khusus.

Dari hotel ke kantor naik becak. Agak beda dengan becak di Jakarta, becak di Aceh bukan dikayuh, tapi digas, karena becak ditempel dengan kereta. Agak beda dengan kereta di Jakarta, kereta di Aceh rodanya tidak banyak, hanya dua.

Kantor Pusat N1 punya bentuk bangunan yang unik, ada topinya. Khas topi Aceh: meukutob. Topi ini biasanya dipakai oleh pengantin pria waktu menikah. Atau lelaki ketika berperang. Untuk yang terakhir ini, tepatnya saya hanya melihat Teuku Umar yang dipersepsikan selalu memakai topi meukutob.

Ada enam kebun dan tiga pabrik yang dimiliki N1. Sudah dua kali saya keliling ke kebun pabrik itu. Yang paling menarik adalah Cot Girek, karena punya jejak historis yang dalam. Ada tulisan khusus tentang Cot Girek dan pengalaman saya ketika ke sana.

Pada jam kerja, saya bertualang mencari cara agar N1 mampu melewati masa-masa sulitnya ketika mengganti sistem. Ini bukan hanya mengganti sistem, lebih jauh, ini perubahan cara pandang untuk bisa berkaca: apakah bisnis proses yang selama ini kita jalankan sudah betul?

Lompat dari meeting satu ke meeting yang lain, training satu ke training lain, perdebatan satu ke yang lain. Sampai akhirnya bisa Go Live sistem pada 1 Januari 2019. N1 berani langsung single system. Sistem lama langsung ditinggalkan. Tiba-tiba saya teringat kisah Thariq bin Ziyad yang membakar kapalnya ketika sampai Spanyol: tidak ada kata mundur. Jalan untuk mundur sudah dibakar. Spanyol-pun takluk.

N1 tidak seheroik itu sih, hehe. Tapi bahwa berani memilih single system, itu hebat.

Di luar jam kerja, saya bertualang menambah wawasan otak, mayoritas lewat Youtube, hehe. Tidak jarang, saya keluar ngopi dan ngobrol berjam-jam. Salah satunya adalah ketika ngopi dengan personil polisi syariat atau WH. Mereka punya tantangan internal sendiri, terkait pendanaan operasional, SDM, lemahnya taring si macan, yang kemudian saya tuangkan dalam tulisan khusus WH si Macan Ompong.

Ngopi di Langsa tidak pernah mengecewakan. Mayoritas kopinya enak. Ada sebagian saja yang rasanya tidak karuan. Saya peminum kopi tanpa gula. Kalau ketemu kopi tidak karuan, baru saya tambahkan gula, supaya rasa tidak karuan itu tertutup dengan manis. Sejauh ini, yang paling enak menurut saya adalah kopinya Pos Kopi. Ngopi tidaklah mahal seperti di Jakarta yang sekali ngopi setidaknya habis Rp30.000 (bukan kopi sachet). Di Langsa rata-rata hanya Rp6.000.

Begitu juga mie aceh. Saya sempat kaget waktu awal-awal makan mie aceh di Langsa. Berapa bang? Delapan ribu perak? Saya ulangi sekali lagi, “Delapan ribu perak, Bang??”

Itu harga untuk mie aceh yang polos. Kalau pakai telur Rp10.000. Kalau pakai daging sekitar Rp18.000. Harga itu tidak jauh berbeda dari satu warung ke warung lain.

Yang saya amati, ekonomi Langsa masih dikuasai warga Langsa sendiri. Ini bagus dan keren. Becak-becak masih dimliki oleh yang mengayuh. Warung-warung kopi masih dimiliki orang Aceh, bahkan kerap kali pemliknya ikut melayani pengunjung. Hotel dan losmen masih dimiliki orang Aceh. Tempat-tempat makan, termasuk yang bagus-bagus seperti di Bonsai, juga masih punya orang Aceh. Kapal-kapal yang lewat di sungai besar, punya orang Aceh. Hebat….

Ada jatah pulang yang diberikan kantor untuk saya, yaitu dua minggu sekali. Jadi tiap dua minggu saya ke Kuala Namu untuk kemudian terbang ke Jakarta. Biasanya pesawat Jumat malam ke Jakarta, lalu pesawat kembali ke Medan pada Senin subuh.

Di Jakarta, tentu saja waktu dihabiskan untuk keluarga. Sesekali saya ajak keluarga ke luar kota, seperti menginap di puncak, berenang di pulau seribu, atau sekadar makan es krim di mal.

Kalau weekend di Langsa, hampir selalu saya kelayapan ke luar Langsa. Paling sering main ke Lhokseumawe, karena ada saudara di sana. Dua kali kami satu tim jalan-jalan bareng. Pertama ke Sabang. Kedua ke Takengon.

Pernah juga saya sekali diajak mancing di Kuala Parek. Ini pantai pasir putih yang tidak jauh dari Langsa, tapi memang aksesnya agak sulit. Tidak tercapai dengan jalan darat, harus sewa kapal menyusuri sungai. Saya menulis pengalaman ini dalam tulisan khusus.

Seperti proyek-proyek pada umumnya, selalu ada batasan waktu. Pun juga dengan proyek saya di N1. Batasan waktu ini yang paling menyebalkan dari satu siklus proyek. Selain karena secara emosional sudah melekat dengan tim proyek yang terlibat, juga karena harus membuka lembaran baru untuk siap diisi dengan cerita baru. Ini berat sekaligus menantang. Sulit, tapi harus dilakukan. Itulah yang terjadi pada Maret ini.

Liburan ke Puncak Naik Angkot

Weekend lalu, saya sekeluarga naik kendaraan umum ke puncak untuk menghabiskan liburan. Tadinya agak ragu, kuat gak ya. Karena anak saya masih 4,5 tahun. Kuatir rewel di jalan gangguin orang. Ah coba jalani saja…

Sabtu 29 Desember 2018, istri dan anak saya jalan duluan ke Stasiun Pondok Ranji naik motor. Titip motor di sana, semalam tarifnya Rp15.000. Dari situ jam 8.30, naik kereta ke Tanah Abang. Lanjut naik yang ke Bogor. Ketemu saya di Stasiun Cawang.

Kalau bawa anak kecil, hampir selalu dapat kursi prioritas, jadi anak gak rewel. Malah asik ketiduran. Sampai Stasiun Bogor, kami ngetap kartu, kenanya Rp5.000 (Cawang-Bogor) dan Rp7.000 (Pondok Ranji-Bogor).

Lanjut naik angkot hijau 02 jurusan Sukasari. Ongkosnya Rp4.000/orang. Saya sempat kecele gak nanya dulu sama supirnya, ternyata dia hanya sampai Pasar Bogor. Nyambung lagi deh ke Sukasari.

Ada angkot biru jurusan Cisarua di Sukasari. Ongkosnya Rp8.000/orang. Nah udah deh tuh, tinggal pantau saja kita mau ke Cisarua-nya di mana. Kalau saya di Hotel Pesona Anggraini. Belum pernah ke sana. Baru tahu namanya juga pas pesan hotel di Traveloka. Saya sudah pesan empat hari sebelumnya, untuk kamar tanpa sarapan seharga Rp332.000/malam. Yang dicari sebetulnya yang murah dan ada kolam renangnya.

Sampai hotel jam 13.20. Siang siang kan tuh, tapi di hotel gak ada AC nya. Untung anginnya kencang, jadi tinggal buka jendela. Karena dari rumah jam 8.20 pagi, maka total waktu dari rumah ke hotal adalah 5 jam. Ini terhitung cepat karena dari Ciawi sampai Ciasurua bisa dibilang gak macet. Cuma tersendat sedikit.

IMG20181230123318
Pemandangan sawah dari kamar hotel Pesona Anggraini

Check In, taruh tas, langsung makan. Dekat hotel ada tempat makan Sunda. Terus anak langsung minta berenang, ya berenang.

Agak sore, turun ke Cimory yang Riverside, naik angkot juga, mungkin hanya 10 menit sudah sampai. Saya baru tahu di Cimory ternyata gak hanya ada tempat makan, tapi juga tempat jalan-jalan. Dulu pernah ke Cimory yang Mountain View, itu hanya tempat makan. Kalau yang di Riverside ada tempat tracking nya. Bayarnya Rp15.000/orang kalau mau tracking saja (Cimory Forest Walk). Atau Rp25.000 kalau mau juga ke tempat ikan (Monster Aquarium).

IMG20181229162524
Loket Tiket Forest Walk Cimory

Tracking di Cimory itu sedap di mata, apalagi buat orang Jakarta yang jarang lihat pohon dan sungai. Jembatan untuk menyeberangi sungai-nya bagus dan banyak dijadikan tempat foto-foto. Sungainya juga bersih.

IMG20181229161546
Tiket masuk Cimory Forest Walk dan Monster Aquarium Rp25.000

Nah kalau yang di tempat ikan, ada beberapa koleksi. Yang menarik adalah ada beberapa kolam yang kita boleh masukkan tangan ke dalamnya. Misalnya kolam bintang laut, kolam belut (boleh nangkap belut, tapi dilepas lagi), dan yang paling seru kolam ikan kecil-kecil yang suka gigitin kulit mati. Saya lupa ikan apa itu, yang biasanya buat terapi di kaki.

Habis jalan-jalan, makan dulu di Cimory. Pilihan makanannya ada banyak, termasuk makanan-makanan barat. Yang susah itu kalau mau dapat tempat duduk di pojok biar bisa lihat pemandangan sungai lebih jelas. Saya reserved dulu, sambil makan es krim, terus 5 menit kemudian dipanggil dan dapat kursi di pinggir.

Saya pesan Mixed Yong Tofu. Kirain porsinya kecil kayak beli bakso, ternyata banyak dan ngenyangin. Sambil makan sambil lihat sungai, wah adem. Total makan kami bertiga habis hampir dua ratus ribu.

IMG20181229173837 (1)
Mixed Yong Tofu Cimory Riverside

Pulang ke hotel naik angkot lagi. Dari kamar hotel, ada teras ke luar yang pemandangannya sawah. Terdengar suara jangkrik dan kodok. Udaranya adem. Enak banget buat menenangkan pikiran.

Besoknya, kami pulang dengan jalur yang sama: Cisarua – Sukasari – St Bogor – St Tanah Abang – St Pondok Ranji. Sempat beli roti maryam di St Bogor buat nyemil.

 

 

Pengeluaran:

Kereta Pondok Ranji-Bogor (3 org PP) Rp42.000

Angkot St Bogor-Sukasari (3 org PP) Rp24.000

Angkot Sukasari-Ciasurua (3 org PP) Rp48.000

Hotel Pesona Anggraini (1 malam) Rp332.000

Makan siang dekat hotel Rp70.000

Angkot Cisarua-Cimory (3 org PP) Rp20.000

Makan di Cimory Rp190.000

Es krim 3 cup Rp60.000

Jalan-Jalan Cimory (3 org) Rp75.000

Sarapan dekat hotel Rp70.000

Roti Maryam Rp25.000

TOTAL 956.000

 

Tips:

  1. Sebelum naik angkot, pastikan tujuannya dengan supir, misal: Sukasari ya Pak?
  2. Bawa kipas atau sesuatu buat ngipas, karena kalau macet, angkot itu panas
  3. Bawa air buat hilangkan haus di jalan
  4. Beri bintang di titik-titik yang akan dilewati di Google Maps, lalu pantau selama perjalanan
  5. Cari info buka tutup jalur puncak

Kopi ya Solong

IMG20181124064422Rasanya saya perlu tulis tentang Warung Kopi Solong yang terkenal di Banda Aceh. Bisa dibilang, ini adalah warung kopi yang paling terkenal di Aceh. Kopinya menurut saya murah, yaitu hanya Rp7.000 per gelas kopi hitam saring. Tapi menurut saudara saya yang tinggal di Aceh, segitu mahal, karena rerata harga kopi di Banda Aceh itu Rp5.000, malah ada yang Rp4.000.

IMG20181124064647
Segelas Kopi Aceh di Solong Coffee, Rp7.000

Itu adalah harga ketika kunjungan saya terakhir ke Solong 25 November 2018. Setiap mampir Banda Aceh, saya selalu mampir Solong. Mungkin sudah sejak belasan tahun lalu. Rasanya gak banyak yang berubah dari Solong.

IMG20181124070742
Jenis-jenis sajian kopi di Solong Coffee beserta harganya

Letaknya di Simpang Tujuh, Ulee Kareng. Gampang lah ke sana, banyak orang yang tahu. Yang tidak tahu malah perlu dipertanyakan ke-Aceh-annya. Saya ke Banda Aceh naik travel dan minta turun di Solong.

IMG20181124064635
Nasi Gurih di Solong, dengan telur, Rp10.000

Pesan sepiring nasi gurih dengan telur dadar, harganya Rp10.000. Pesan kopi saring harganya Rp7.000. Juga makan sepotong kue talam khas Aceh seharga Rp2.000. Jadi total makan saya pagi itu Rp19.000.

IMG20181124064657
Kue talam di Solong Coffee
IMG20181124071036
Bubuk Kopi Solong

Ohya, saya juga beli kopi Robusta ukuran 250g seharga Rp30.000. Sebetulnya ada banyak pilihan kopi bubuk yang dijual. Arabika rata-rata Rp75.000 per 250g. Ada yang specialty Rp100.000 per 250g, tapi aromanya harum banget dari luar sudah tercium.

 

Rasa Langsa

Langsa yang sekarang, dikenal sebagai sebuah kota kecil di Aceh. Letaknya sekitar 4 jam perjalanan dari Medan. Kalau dulu, konon katanya Langsa adalah hutan besar yang dihuni oleh elang besar, makanya disebut Langsa = eLANG beSAr. “Ilmu konon” ini agak didukung dengan adanya patung tugu elang ketika kita masuk kota Langsa dari utara, yaitu di Simpang Comodore.

Nah, sudah sekitar dua bulan saya tinggal di Langsa dalam rangka ngerjain sebuah project IT, mungkin masih sampai beberapa bulan lagi. Dua minggu sekali pulang ke Jakarta, pulang ke keluarga. Pulangnya ini rada sakit, karena Lanjutkan membaca “Rasa Langsa”

Review 6 Bulan di Hotel Pandanaran

IMG20180407131008
Gedung depan Hotel Pandanaran

Sabtu 7 April 2018 adalah hari terakhir saya tinggal di Hotel Pandanaran, Semarang. Enam bulan sudah saya tinggal di sini untuk mengerjakan project IT di sebuah BUMN. Minggu depan saya dipindah lagi ke Pekanbaru untuk memulai project lain lagi.

Cepat atau lambat, yang saya yakini, pengelola Hotel Pandanaran akan melihat tulisan ini. Kalau melihat ada review buruk dari tulisan ini yang bisa menjadi bahan perbaikan, silakan diambil. Kalau melihat ada review bagus, itu bukan karena saya dibayar. Ini murni review subjektif saya.

Jadi kenapa kantor tempat saya bekerja memilih menempatkan di Hotel Pandanaran? Lanjutkan membaca “Review 6 Bulan di Hotel Pandanaran”

Kambing Mbak Tun Pasar Babadan

IMG20180126074353
Warung Makan Sate Kambing Mbak Tun

Akhir Januari 2018, saya diajak site visit ke Kebun Ngobo, salah satu kebun milik perusahaan tempat saya mrojek. Yang mau saya ceritakan adalah tempat sarapan yang kami dimampiri sebelum masuk kebun. Namanya Warung Makan Sate Kambing Mbak Tun. Posisinya di belakang Pasar Babadan, Ungaran, Jawa Tengah. Namanya saja yang sate, padahal menu lain banyak, seperti gulai, gongso Lanjutkan membaca “Kambing Mbak Tun Pasar Babadan”

Singapura: Makanan

Tidak sulit cari makanan di Singapura. Yang sulit itu cari yang murah, halal, dan pedas J

Saya cerita pengalaman saya saja ya tinggal di Singapura selama dua menjelang tiga bulan. Jadi tulisan ini tentu tidak bisa jadi acuan untuk referensi menyeluruh tentang seluruh makanan di Singapura.

Lanjutkan membaca “Singapura: Makanan”