As Shidiq Aqiqah, Recommended!

IMG20190525094140
Kandang kambng di As Shidiq Aqiqah di Petukangan, Jaksel

Sebetulnya urusan aqiqah ini ada ustadz saya yang membantu mengurusi. Dia sering kali diminta tolong untuk mengurusi aqiqah dan sudah tahu di mana tempat yang dirasa paling baik. Belum tentu paling murah ya, baik belum tentu murah. Baik itu amanah, tepat waktu.

Jadilah kami ke As Shidiq Aqiqah. Saya sudah lihat beberapa iklannya di jalan. Bintang iklannya seperti Oky Setiana Dewi. Saya tidak tahu apa Oky (kalau itu memang Oky) ini pemiliknya juga atau bukan.

Iklannya sih gini: Hanya 1 juta sudah bisa aqiqah. Lanjutkan membaca “As Shidiq Aqiqah, Recommended!”

Said

Kebetulan purnama. Said senang sekali dengan indahnya purnama. Apalagi dengan keadaan hatinya yang sedang sendu, atau kata anak sekarang, galau. Dia tidak habis pikir, mengapa justru hujatan masuk kepada pihak yang menyerukan kebenaran dan mengingatkan apa yang keliru. Padahal yang dihujat hanya bermaksud mengingatkan. Jelas bukan mencari sensasi.

Ini terkait dengan pemberitaan yang sedang marak mengenai pengharaman BPJS oleh MUI (atau mungkin bisa diperhalus dengan “tidak sesuai syariat”). Said termenung sambil menatap purnama, seakan solusinya ada di bulan yang pernah terbelah dua itu. Seolah bulan itu akan memberi tahu lembaga mana lagi yang bisa lebih kuat dari MUI untuk menyampaikan syariat yang harusnya dijalankan. Said pun berandai, mungkin bulan akan membelah lagi, lalu keluar ukiran di langit “Tinggalkanlah riba”. Kemudian bulan menyatu kembali.

Said teringat, sebelas tahun lalu hal serupa pernah terjadi. MUI mengeluarkan fatwa nomor 1 tahun 2004 tentang pengharaman bank konvensional (ini juga bisa diperhalus dengan “tidak sesuai syariat”). Ramai di saat itu, lalu semua lupa. Semua merasa tidak ada salahnya dengan bank konvensional. Lebih menguntungkan kok. Lebih praktis, ATM-nya di mana-mana.

Sepuluh emiten terkuat di pasar saham didominasi sektor perbankan atau sektor riba lainnya. Perusahaan-perusahaan mewajibkan karyawannya mempunyai rekening di bank konvensional (kalau masih mau digaji). Mayoritas karyawan bank tidak berkeinginan hijrah ke sektor non riba. Bekerja di bank hampir sama elitnya dengan bekerja di perusahaan minyak. Bank konvensional tumbuh dengan sangat subur. Semua lupa dengan fatwa sebelas tahun lalu.

Betapa Said menyadari kondisinya dan semua orang di sekelilingnya. Banyak, tetapi tidak berkekuatan, seperti buih. Seperti yang sudah diprediksi empat belas abad lalu.

Hati Said iri sekali dengan keteguhan pemuda Kahfi puluhan abad lalu. Bagaimana mungkin mereka berani hijrah ke sebuah goa yang gelap demi meninggalkan keburukan. Betapa iman mereka begitu tinggi, sehingga langit pun luluh menidurkan mereka, lalu membangunkannya ketika kondisi sudah baik. Tiga ratus tahun mereka tidur. Anjing yang mereka bawa hanya tinggal tulang. Tapi tubuh mereka masih tetap utuh. Said menggelengkan kepalanya, “Seperti dongeng,” dia berkata lirih.

Hanya satu yang membuat hatinya agak terangkat. Sedikit. Sedikit sekali. Yaitu kabar bahwa penentangan dari hati masih tergolong dalam kumpulan iman, meskipun yang paling lemah. Masih ada rasa syukur, bahwa hatinya diberikan penentangan. Meski sedikit. Meski dia menyesali betapa lemah dirinya? Betapa sistem yang ada begitu kuat mencengkram?

Said masih beruntung mempunyai hati yang menentang dan tahu bahwa keterpaksaannya adalah sesuatu yang salah. Wajahnya sedikit tersenyum sinis melihat lingkungannya yang malah setuju dengan adanya BPJS. Sebagai pembelaan, oou.. mudah saja bagi mereka. Cari berita tentang seorang ulama atau tokoh agama terkenal yang menyuarakan bahwa BPJS itu boleh. Lalu jadikan itu tameng. Kicaukan. Sebarkan di media sosial.

Tidak perlu takut dengan tudingan riba. Tidak perlu menentang BPJS. Dan tidak perlu merasa bersalah jika nantinya ada BPJS Syariah tetapi dirinya masih di BPJS konvensional. Tinggal cari berita lagi, tentang tokoh agama yang menyatakan BPJS Syariah itu sama saja dengan yang konvensional. Lalu jadikan itu tameng. Kicaukan. Sebarkan di media sosial.

Senyuman masih muncul di wajah Said. Namun senyuman itu segera hilang. Said kaget melihat sebuah berita di tangannya. Said kaget sekaget-kagetnya. Matanya terbelalak ketika membaca bahwa salah satu penghujat MUI punya nama yang sama dengannya: Said. “Kenapa namanya disama-samakan dengan saya?!” sambil melipat dahinya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Muzhid

Aira anakku, ada sebuah cerita menarik dari Kutub Utara. Kamu mau dengar, nak? Yaitu tentang cara berburu serigala yang dilakukan oleh suku Eskimo. Mereka membaluri sebilah pisau tajam dengan darah hewan lain, lalu darah itu dibiarkan mengering tanpa dibersihkan. Pisau itu kemudian ditanam dengan posisi bagian tajam menonjol ke atas. Para pemburu sengaja menanam pisau tersebut di tempat serigala biasa berkumpul.

Sang serigala polos akan membaui darah dan secara naluriah mendekati pisau berlumur darah kering tersebut. Tentu saja lidah sang serigala akan berdarah ketika menjilati darah kering di permukaan pisau tersebut. Tetapi karena udara yang dingin, sang serigala tidak menyadari lidahnya telah terluka. Dia tidak merasa kesakitan. Yang dia tahu adalah semakin banyak darah yang bisa dia nikmati, padahal itu darahnya sendiri. Kamu bisa menebak, nak, bagaimana nasib serigala itu selanjutnya. Di suatu titik, sang serigala mati lemas dan sang Pemburu tinggal melenggang mengambil buruannya yang sudah tidak berdaya lagi.

Mungkin nak, ini bisa menjadi analogi untuk manusia yang secara naluriah senang mengumpulkan materi, membelanjakan keinginannya. Lalu keinginannya bertambah, dikejar lagi. Keinginannya bertambah lagi, dikejar terus. Tidak ada batasan sampai kapan kepuasan manusia terpenuhi.

Sejak lama kita dinasihati dengan dalil, bahwa manusia tidak akan puas dengan apa yang dia miliki. Ketika dia punya emas sebanyak satu gunung, maka dia akan mencari emas di gunung ketiga. Brickman dan Campbell menyebut fenomena ini dengan istilah “Hedonic Treadmill”.

Pesan ayah nak, kita sudah dibekali pengetahuan tentang sifat dasar manusia ini sejak lama, dan sekaligus sudah diberikan obatnya: Zuhud. Zuhud adalah sifat hidup dengan sederhana, tidak berlebihan. Orang yang menjalankan sifat Zuhud disebut Muzhid (masuk dalam jenis kata Isim Fa’il).

Dengan terbiasa hidup sederhana, keinginan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, lebih besar, lebih banyak, itu dapat lebih dikendalikan. Kamu tidak bisa menghilangkannya nak, tapi kamu bisa mengendalikannya.

Ingatlah beberapa pesan Nabi dalam Shahih Muslim. Muslim sengaja membuat kitab khusus berjudul “Zuhud dan Kelembutan Hati”. Hadits pertama yang dipaparkan Muslim berbunyi: Dunia adalah penjara bagi orang Iman dan surga bagi orang kafir (Muslim: 5256). Karena untuk menjadi orang Iman, banyak hal yang menjadi larangan dan banyak perintah yang harus dilaksanakan.

Perhatikan apa yang Nabi Muhammad doakan untuk keluarganya,nak: Allahummaj’al rizqo aali muhammadin quutan. Artinya: Ya Allah, berilah rezeki untuk keluarga Muhammad sekadarnya saja (Muslim: 5272). Ini beda sekali dengan doa kebanyakan orang di sekitar kita pada zaman kita sekarang. Dalam riwayat yang lain, diceritakan bahwa orang-orang fakir akan masuk surga lebih dahulu, baru empat puluh tahun kemudian menyusul orang-orang kaya masuk ke dalam surga. Empat puluh tahun! (Muslim 5291).

Tentu Aira juga sering mendengar hadits yang menceritakan ketika di pagi hari Nabi Muhammad menanyakan kepada isterinya, apakah ada makanan? Lantas isterinya menjawab tidak. Lalu Nabi Muhammad berpuasa di hari itu. Kelaparan adalah suatu hal yang biasa dialami Nabi Muhammad. Sampai-sampai Nabi Muhammad mengikat batu di perutnya untuk mengurangi rasa lapar. Kamu tahu nak, sejak Nabi Muhammad tinggal di Madinah sampai beliau wafat, Nabi Muhammad tidak pernah kenyang memakan roti gandum selama tiga hari berturut-turut (Muslim: 5274). Kala itu, roti gandum adalah makanan yang istimewa, yang seharusnya menjadi makanan sehari-hari bagi pemimpin sebuah kaum.

Nabi Muhammad pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang Aku takutkan pada kalian, tapi Aku takut dunia dibentangkan untuk kalian seperti halnya dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mencari harta dunia sebagaimana dilakukan orang-orang sebelum kalian, lalu ia membinasakan kalian seperti halnya mereka.”

Dengan menyimak apa yang Nabi Muhammad ucapkan, doakan, dan lakukan, Aira akan sangat kaget ketika menjalani hidup di zaman sekarang. Aira akan merasa hidup di dalam novel fiksi, bahkan lebih fiksi dari novel fiksi. Bagaimana saat ini manusia berlomba-lomba mencari harta dunia. Bagaimana teman-teman kantor Aira nantinya begitu update dengan gadget-gadget terbaru dan bagi yang memilikinya akan mendapat perhatian dari sekelilingnya. Bagaimana kita menjadi begitu konsumtif. Bagaimana barang-barang sekunder sepuluh tahun lalu menjadi barang primer saat ini. Dan barang sekunder saat ini akan menjadi barang primer 10 tahun lagi. Bagaimana bidang media menjadi bisnis yang begitu menggiurkan dan menjadi top 5, lalu ratusan iklan terpapar ke setiap pribadi setiap harinya.

Jadilah se-muzhid mungkin nak, sebanyak apapun rezeki yang Allah berikan padamu kelak. Jangan sampai menjadi serigala yang tertipu dan mati karena kebodohannya sendiri.

Redefinisi

Fakultas Pertanian lantai 7.

Saya bisa melihat lebih jelas dari atas sini. Tebaran bintang di atas dan di bawah. Yang di bawah berasal dari lampu kendaraan dan rumah, lebih semarak dan lebih dinamis daripada yang di atas. Bahkan saya bisa melihat perselingkuhan tanpa dia tahu saya sedang mengamatinya. Perselingkuhan di atas perselingkuhan. Karena dengan melakukan pacaran saja sebetulnya dia sudah berselingkuh dengan sebuah aturan (QS 17: 32).

Sepertinya desibel dari suara orang dan suara kendaraan tidak bisa sampai ke atas, ke lantai 7, sudah terhalang angin yang diberi kemampuan menyerap energi suara tersebut. Oh angin, saya tahu itu hanya sebagian saja dari kekuatan yang Allah berikan kepadamu. Itu tidak seberapa dibanding ketika engkau mengangkat kaum ‘Ad melayang-layang sampai kering dan mati, kaum tergagah dengan tinggi badan puluhan meter yang harus binasa karena tidak percaya bahwa akan ada hari pembalasan. Sebagai pembelajaran untuk kami, umat setelahnya.

Mereka tidak percaya akan ada hari pembalasan. Hari ketika pemakan riba akan diganjar hebat. Dia akan ditaruh di tengah sungai dan terus dilempari lalu terjerembab kembali ke tengah sungai, sampai tidak bisa keluar dari sungai itu. Teruuus, tanpa ada batas waktu (Bukhori 1943). Andai lamanya pendekaman dia dalam siksaan tersebut selama tahun yang banyaknya seperti buih di lautan, maka dia akan senang. Tapi jumlah tahunnya merupakan bilangan tak terhingga, seperti satu dibagi nol, tak terhingga dengan lambang seperti bendera yang seringkali membuat mata kuliah kalkulus begitu menyebalkan.

Bicara riba, tentu akan banyak sekali yang marah dikatakan makan riba. Maka saya sepakat dengan apa yang senior saya katakan, bahwa kalau hatinya belum taslim pada dalil naqliy, maka susah. Dia akan terus mencari pembenaran tentang apa yang dilakukannya. Mencari orang yang bisa membahasnya dengan ilmiah dan relijius. Pokoknya jadi boleh.

Di bawah sana, di kantin Stevia, banyak orang yang asyik dengan aktivitasnya sendiri. Lalu tiba-tiba ada seorang pemuda yang menyuruh para mahasiswi untuk segera pulang ke kosannya masing-masing. Itu adalah aturan lama dari badan kemahasiswaan, berbekal dasar bahwa wanita akan dihiasi oleh makhluk jahat dengan bermacam hiasan, sehingga menjadi tampak jauh lebih menarik di malam hari. Lalu implikasi ikutannya akan menjadi panjang dan menyeramkan.

Namun si mahasiswi seperti merasa diganggu, lalu berteriak, “Ihhh!!! Fundamentalis!” Dia belum tahu cerita tentang kegiatan makhluk jahat tersebut di malam hari. Ibarat Moluska yang belum tahu bahwa pasir menyakitkan yang disisipkan ke dalam tubuhnya suatu saat akan bermetamorfosis menjadi mutiara cantik yang mahal harganya. Atau seperti pohon karet yang merasa risih dikelilingi Trichoderma yang ditabur petani, padahal itu akan membantu akarnya bertahan dari Jamur Akar Putih, sehingga tidak roboh sebelum banyak memberi manfaat pada manusia.

Kasihan si mahasiswi. Sepertinya ia harus lebih sering mematikan TV-nya. Kotak kecil itu telah memutarbalikkan pendefinisian yang ada di kepalanya. Sang mahasiswi telah meredefinisi beberapa makna esensial. Dia akan menunjukkan jarinya kepada orang-orang berjenggot yang bertakbir menggelegar sambil mencap radikal, fundamentalis. Tapi di sisi yang lain dia akan mengikuti komedi dalam TV yang menampilkan peran pencinta hubungan sesama jenis, lalu ikut tertawa. Dalam hatinya, ini kan hanya hiburan. Lalu sedikit demi sedikit akan memaklumkan peran-peran tersebut dalam dunia nyata.

Ooo indahnya sudut pandang dari atas sini. Topeng dan bukan topeng akan lebih jelas. Tipuan berbungkus kata dan rupa seperti menampakkan sisi aslinya. Tapi tidak mudah untuk sampai ke Faperta lantai tujuh jam 10 malam. Harus ada ilmunya. Anda harus kenal dekat dengan Satpam Faperta, atau Anda harus datang lebih awal dan berdiam lama di atas (dengan risiko tidak bisa turun karena pintu tangga sudah dikunci). Semua harus punya ilmunya. Dan kalau mau aplikasi ilmu tersebut, selalu akan ada risikonya.

 

Relatif

Satu adegan nyentil di film Ice Age (lupa Ice Age berapa). Salah satu tokoh hewan menggali tanah nyari air, dia gali lumayan dalam. Akhirnya dia nemu sesuatu: intan, emas, perhiasan. Dia buang sekopnya, perhiasan ditinggalin begitu aja. Kecewa berat karena gak dapat yang dia cari. Waktu itu, air jauh lebih mahal dari setumpuk perhiasan.

Satu lagi. Ada game namanya Age of Empire. Di situ, kita jadi raja salah satu kaum yang butuh ekspansi kekuasaan (mirip sifat dasar manusia). Di awal-awal, saya gampang banget ngumpulin kayu dan bikin pertanian. Kayu dan pangan jadi barang yang gak ada artinya banget dibanding emas. Kebutuhan primer jelas tercukupi.

Tapi waktu semua lahan sudah terkuasai, sudah dieksplorasi habis, pasar menghendaki harga emas sebagai komoditi tersier jauh lebih rendah dari kayu dan pangan yang jadi barang super langka. Saya dituntut untuk ngurangin populasi penduduk supaya makanan cukup. Harga pangan relatif naik.

Secara logis kedua cerita di atas bisa dijabarkan. Suatu hari nanti emas gak ada artinya. Gak ada orang miskin yang mau dikasih harta, semua sudah kaya (kutub as sittah). Harga emas relatif turun.

Dok: en.fotolia.com

Tapi memang sudah dasar sifatnya orang itu rakus. Sesuai HR Tirmidzi: Kalau manusia sudah punya emas sebanyak 2 jurang, maka dia akan mencari yang ketiga. Hanya tanah yang bisa memenuhi mulutnya.

Alhakumuttakatsur. Semua kita, semua kalian, sibuk pake mulut, jalanin bisnis, kerja dari pagi sampai sore, melipatgandakannya, beli rumah, beli mobil. Dan Allah kasih semua itu, insya Allah. Tapi ketika diajarkan tentang Allah, tentang agama, kalian bilang, “Maaf gak ada waktu. Entar aja deh kalo udah tua. Kok hukumnya menentang HAM sih? Sekarang kan zamannya kesetaraan gender. Gak pacaran gimana pendekatannya? Ih, fundamentalis…” Bla…bla…bla…

See, how arrogant the people can be… how arrogant I can be… A’udzu billah min dzalik.

Belajar Nahwu Sharaf di Lengkong

Aku pikir si petugas dapur lupa memberikan lauk, rupanya di sini memang biasa makan dengan menu: nasi, sayur nangka, dan dua buah kerupuk.

Itulah konflik terbesar dalam diriku selama belajar nahwu shorof di Lengkong. Maklum, ini kali pertama aku tinggal di pondok yang konsekuensinya juga makan-makanan pondok. Ini juga jadi jawaban kenapa biaya per bulannya hanya Rp 200 ribu (up date pertengahan 2011 Rp 250 ribu/bulan).

Tapi itu tidak seberapa dibanding ilmu yang kudapat. Di sini, tiap dua bulan sekali, dimuai kelas baru lagi, dari awal lagi. Dan tidak ada level berikutnya setelah belajar 2 bulan di sini.

Satu hari ada 4 kelas: subuh, pagi, siang, dan malam. Setiap hari otakku rasanya dijejali rumus-rumus (wazan), bermacam istilah, yang itu semua harus dihapal. Siswa lain kebanyakan basic nya memang mubaligh, jadi tidak kaget dengan memgang kitab pembelajaran yang dari awal sampai akhir huruf Arab semua.

Lah aku… dengan hanya menghapal sedikit kosakata, aku megap-megap. Tapi bisa kok, Alhamdulillah. Asal tidak malu tanya, insya Allah lancer.

Dok: aisi-balikpapan.blogspot.com

Nahwu Sharaf itu adalah ilmu rangkuman para ulama zaman dulu tentang tata bahasa Arab berdasarkan Quran Hadits. Ketika zaman Nabi, tidak ada itu ilmu Nahwu Sharaf, bahkan tidak ada harokat dan titik dalam huruf-huruf yang digunakan. Islam berkembang. Orang dari mana-mana belajar Quran Hadits yang itu berbahasa Arab. Asal mereka yang beragam menimbulkan ketakutan adanya salah tafsir kalau tidak ada ilmu tata bahasa baku dalam Bahasa Arab. Juga, untuk mempermudah orang-orang non Arab buat mempelajari Bahasa Arab. Maka dibuatlah ilmu Nahwu Sharaf.

Aku bisa bilang, Bahasa Arab itu lebih rumit dari Bahasa Inggris. Bahasa Arab mengenal kata benda laki-laki, perempuan, tunggal, dual, dan jamak. Kata kerjanya juga terbagi ke kata dasar (mashdar), bentuk lampau, bentuk kini/masa datang, pasif, dan aktif. Semua itu ada rumusnya dan harus dihapal!

Rumus itu bakal beda kalau kada dasarnya mengandung huruf alif, ya, dan waw. Bakal beda lagi kalau ketiga huruf itu ada di depan, ada di tengah, ada di belakang, dan kompilasinya. Bisa beda lagi kalau hurufnya berjumlah dua, tiga, atau lebih. Itu semua punya rumusnya sendiri. Dan kabar buruknya, kalaupun semua itu sudah dihapal, belum tentu dia bisa baca Arab gundul karena juga harus memperbanyak kosakata. Hehe, seru ya… =)

Jadi setiap hari kerjaan kami ya menghapal wazan-wazan itu (rumus). Tapi di Lengkong, ini tidak wajib. Dulu pernah diwajibkan, tapi banyak siswa yang mental, jadi pengurus memutuskan dihapus sajalah. Targetnya dikurangi menjadi: paling tidak pernah ketemu wazan model begitu.

Kedudukan kata juga kami pelajari. Di situ aku mengenal istilah marfu’, nashob, majrur, fa’il, naibu fa’il, isim inna, khobar kana, maf’ul bih, mubtada’, dsb…

Tenang… tidak sesulit yang dibayangkan kok. Ada waktu 2 bulan buat menguasainya. Asal rutin ikut kelas dan focus, insya Allah tidak perlu ngulang lagi juga sudah masuk. Kawan-kawanku juga tenang-tenang saja. Malah mereka hamper tiap sore masih sempat main bola.

Yang perlu disiapkan adalah pikiran yang kosong dan tenang. Belajar nahwu shorof harus focus. Kebetulan, di Pondok Lengkong ini ada aturan bahwa siswa dilarang bawa HP. Menurutku itu bakal lebih membuat bisa focus. Jadi tidak ada yang mengganggu.

Kelas ada tiap hari. Libur hanya di hari Jumat. Dua bulan ini, menurutku, memang paketnya segitu. Kalau dia cuma ikut satu bulan bakal cacat ilmunya, tanggung.

Untuk ke Lengkong, gampang. Capai stasiun Kertosono, terus jalan ke pasar Kertosono (sekitar 100 meter dari stasiun), terus naik angkot jurusan Lengkong (Rp 5.000; 30 menit; Cuma ada dari sekitar jam 6 pagi sampai 4 sore). Angkot baka berhenti di pasar Lengkong. Dari situ tinggal jalan sekitar 500 meter lagi. Tanya aja orang pasar, pondok Lengkong di mana, insya Allah mereka tahu.

Atau bisa juga dari stasiun Kertosono naik ojeg. Ongkosnya Rp 15.000. Bilang ke pondok Lengkong. Kalau ojeg ini ada 24 jam.

Selama di Lengkong, hiburanku Cuma dua. Pertama jalan-jalan ke pasar Lengkong buat ngopi. Secangkir kecil seribu, gelas standar dua ribu. Dua, jogging ke sekitar pondok. Di daerah sini banyak sekali pohon kersen atau orang local menyebutnya keres. Sekali jogging aku bisa nyambi makan kersen. Sebutir demi sebutir. Kalau dikumpulkan sekali jogging ya setengah piring kersen lah, hehe.

Ohya, di pertengahan pembelajaran, aku pulang ke Jakarta, bawa laptop. Itu membantu juga kalau jenuh. Di pondok Lengkong memang tidak boleh bawa HP tapi boleh bawa laptop.

Iklim daerah Nganjuk sedang. Jadi kalau tidur di masjid tidak pakai selimut masih bisa lah. Aku bawa sleeping bag. Itu lebih aman.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Mubaligh Kamboja

Sejak kecil, Yunus tinggal di Pnom Penh, ibukota Kamboja. Ia adalah seorang muslim yang dikelilingi dengan budaya Budha. Mayoritas penduduk Kamboja beragama Buddha. Di sekolah-sekolah, pelajaran agama Buddha adalah wajib, termasuk bagi murid muslim. Jadi wajar saja kalau Yunus mengerti seluk-beluk budaya Buddha.

Dok: edukasi.kompasiana.com

Untungnya, pergerakan muslim tidak dibatasi di sana. Pemerintahnya tidak menyulitkan muslim untuk berkembang. Dengan bebas, Yunus bisa mendalami islam. Sekolah jalan seperti biasa, mengaji juga jalan. Yunus bisa membaca Quran, menulis Arab, dan melakukan ibadah-ibadah islam seperti yang dikerjakan orang islam pada umumnya.

Sekolahnya lancar sampai menginjak, kalau di Indonesia, kelas 2 SMA. Suatu hari, guru mengajinya memanggil Yunus dan teman-teman sepengajiannya. Mereka diberi kesempatan untuk mendalami islam lebih dalam lagi di Indonesia. Tapi untuk itu ada tes terlebih dahulu. Tidak semua siswa sepengajiannya bisa ikut ke Indonesia.

Yunus termasuk dalam 15 orang yang lulus ujian. Ia diberi beasiswa lima tahun di Indonesia dengan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Keluarga Yunus mayoritas beragama islam. mereka mendukung Yunus.

Tahun 2009, Yunus terbang ke Jakarta, lalu mendapat pembekalan di sana selama 5 bulan. Ia mendalami Quran dan hadits di kelas khusus. Tapi kemudian ia dibawa ke Jawa Timur untuk lebih mendalami lagi Quran Hadits dengan murid-murid lain dari Indonesia.

Tidak ada lagi kelas khusus. Yunus dan teman-temannya harus belajar ekstra karena gurunya menyampaikan ilmu agama dalam bahasa Indonesia. Ia harus belajar huruf latin sekaligus menulis huruf Arab dengan lebih cepat.

Layaknya pondokan di Jawa Timur, Yunus tidak diperkenankan tidur di kamar. Ia harus tidur di masjid. Ia harus ikut dalam kegiatan bersih-bersih rutin: menyapu halaman masjid, mengepel, menyikat kamar mandi, dsb. Ia juga harus belajar makan seadanya.

Hanya dalam setahun, Yunus berhasil lulus dan mendapat sertifikasi mubaligh (penyampai imu agama). Setahun adalah waktu yang relatif cepat, termasuk untuk siswa pondok asal Indonesia. Rata-rata siswa sepondoknya berhasil mendapat sertifikat dalam waktu satu setengah tahun. Ini menjadi bukti bahwa pengujian di Kamboja cukup ketat sehingga hanya meloloskan murid-murid cerdas.

Kelima belas siswa pondok asal Kamboja dikirim ke masjid-masjid yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka ditugaskan mentransfer ilmu yang telah didapatnya kepada orang-orang yang haus ilmu agama. Walau masih tergagap-gagap dalam berbahasa Indonesia, tapi para jamaah di tempat tugasan Yunus sudah bisa memahami apa yang disampaikan Yunus. Transfer ilmu berjalan lancar.

Beruntung sekali hari itu aku diberi kesempatan kenal dengan Yunus. Waktu aku bertemu dengannya, Yunus sedang membuat segelas kopi. Setelah tahu aku datang sebagai tamu, ia membagi kopinya ke dalam dua gelas, lalu menambahkan air panas dan gula sehingga menjadi dua gelas kopi. Satu gelas diberikan kepadaku. (Aku pecinta coffeemix, jadi tahu takaran satu bungkus asli atau setengah bungkus yang ditambah gula). Begitu perhatiannya kepada tamu.

Sudah sekitar dua tahun Yunus belajar (dan mengajar) di Indonesia. Selanjutnya ia ingin mempelajari kutub as sitta sebelum pulang dan menyebarkan islam di Kamboja.

Belajar Faroidh di Klaten

“Di tengah sawah?”

“Iya, pondok pesantrennya di tengah sawah!” kata temanku waktu menunjukkan tempat belajar faroidh (ilmu pembagian waris) yang bagus.

Aku naik beberapa kali angkutan umum sampai tiba di Terminal Klaten (Jawa Tengah), lalu lanjut naik mikrobis jurusan Boyolali, turun di Pandeyan, sebuah desa setelah pasar Jatinom. Sekitar setengah jam dari terminal Klaten.

Masuk ke dalam dengan jalan kaki melewati sawah-sawah yang terbentang. Sekitar 500 meter baru ketemu Pondok Sribit. Di pondok ini, selain kelas regular, ada kelas khusus untuk belajar faroidh.

Kelas faroidh dibuka hanya kalau ada permintaan, jadi tidak ada jadwal khusus. Lama belajarnya pun bebas, bisa 2 hari, bisa seminggu, tapi kebanyakan santri minta 3 hari saja. Waktu itu (Maret 2011) aku dan kawan-kawan pilih 3 hari juga. Jumlah pesertanya juga bebas. Tiga orang pun dilayani. Waktu itu kami ada 12 orang.

Biayanya cuma bayar uang makan Rp 8.000 per hari dan uang buku Rp 25.000. itu sudah termasuk bagan rumus yang sudah dilaminating. Tapi biasanya santri mengumpulkan sumbangan sukarela untuk pengajar.

Waktu belajar juga santri yang atur, mau terus-terusan dari subuh sampai malam bisa, mau cuma pagi dan malam bisa. Bebas, tapi kemudian dibicarakan dengan pengurus pondoknya, supaya bisa diatur.

Mbah Yatmo adalah pengajar utama untuk kelas faroidh. Umurnya sudah 82 tahun, fisiknya sudah terbatas, sholatnya sudah dengan duduk di kursi, tapi masih semangat mengajar. Pikirannya masih tajam dalam menanggapi persoalan seputar ilmu waris.

Seringkali, mbah Yatmo menyelipkan cerita-cerita perjuangan islam zaman dulu, ketika ia masih muda. Sayangnya, aku kurang paham bahasa Jawa, sedangkan kebanyakan cerita mbah Yatmo berbahasa Jawa, jadi aku tidak bisa menangkap ceritanya dengan penuh.

Di awal materi, kami diberikan dalil-dalil yang ada dalam Quran Hadits. Kata demi kata dari dalil itu dibahas sehingga pemaknaannya tajam. Kami diperkenalkan dengan beberapa istilah seperti ‘asobah, mahjub, dan rod. Siapa saja yang mendapat waris dan siapa yang tidak, itu diklasifikasikan. Aku baru tahu bahwa cucu perempuan dari anak perempuan itu tidak dapat warisan. Aku juga baru tahu bahwa saudara perempuan itu bagiannya tidak melulu setengah dari bagian saudara laki-laki.

Selanjutnya kami digempur dengan soal-soal yang disarikan dari bermacam buku. Kalau masih seputaran keluarga inti sih masih gampang, tapi kalau sudah ada saudara sebapak, nenek dari ibu, paman sekandung, wah itu sudah repot. Si anu bagiannya segini kalau ada si anu, kalau tidak ada maka bagiannya segini, bisa juga tidak mendapat bagian kalau ada si anu, dan bisa juga mendapat bagian sisa kalau tidak ada si anu. Wah, rumit deh, perlu banyak latihan.

Tepat tiga hari kami belajar. Alhamdulillah semua materi sudah tersampaikan dan latihan sudah cukup banyak. Tapi sepertinya praktek di lapangan tidak semudah di atas kertas. Bisa jadi ada sebagian keluarga yang kurang setuju dengan hasil taksirnya ahli taksir. Bisa jadi pembagian waris baru dilakukan bertahun-tahun setelah kematian mayyit. Bisa jadi orang yang tidak masuk dalam ahli waris minta bagian. Semua itu tinggal jam terbang.

Batas

Stop. Dok: Flickr

Metabolisme dalam seonggok tubuh manusia masih sama misteriusnya dengan galaksi Bimasakti. Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah senyawa pengatur di dalamnyanya karena selalu ditemukan yang baru dan ditemukan lagi yang baru. Tidak ada hormon yang mempunyai kebaikan mutlak dan tidak ada hormon yang mempunyai kejelekan mutlak. Hormon pertumbuhan akan menyebabkan gigantisme kalau kelebihan dan kretinisme kala kekurangan. Ia bermain cantik sehingga ada dalam batas yang diberikan lewat hormon lain. Hormon lain itu dibatasi oleh hormon yang lain lagi. Semuanya terkait berbentuk seperti jaring-jaring makanan. Seperti hutan tropis. Tidak ada tumbuhan yang mendominasi. Semua berjalan dengan seimbang karena saling membatasi.

Terkadang tidak mudah untuk mempertahankan suatu batas. Butuh usaha yang kuat. Sayangnya, justru permasalahannya bukan di seberapa kuat mempertahankan batas, tapi di seberapa paham manusia akan batas yang diberikan padanya. Maka wajar jika terjadi pertentangan mengenai batas yang seharusnya membatasi.

Tantangan semakin berat ketika manusia yang belum paham akan batas membuat batas-batas baru yang terkadang lebih kecil, terkadang lebih besar, dan terkadang sangat besar sehingga mengaburkan batas yang sebenarnya. Namun, masih ada manusia-manusia yang terus menggoreskan kapurnya di batas yang sebenarnya, sehingga, walau samar, masih terlihat bahwa itulah batas yang sebenarnya. Ia mengorbankan kapurnya untuk orang banyak, padahal dia bisa memanfaatkannya untuk keuntungan pribadinya, karena memang itulah perintah dari yang memberi batas.

Mereka membuka kacamatanya ketika sekelilingnya sudah kelewat batas, sekedar untuk memburamkan batas semu itu dan meyakinkan hatinya, “Ini tipu daya.” Mereka mematikan televisinya untuk membunuh siaran-siaran yang menyiarkan batas-batas baru yang tidak sejajar dengan batas yang sebenarnya. Mereka masih konsisten menyiarkan batas mana yang seharusnya menjadi pedoman bagi orang banyak. Mereka menjadi hormon pembatas bagi metabolisme di sekitarnya. Mereka juga menyiapkan kayu bakar-kayu bakar baru untuk tetap menggelorakan api perjuangan.

Sayang, jumlah mereka berbanding terbalik dengan hitungan waktu. Sampai suatu saat nanti, batas sudah mutlak ditinggalkan. Tidak ada manusia yang mengenal Tuhannya. Tidak ada pengemis yang mau diberikan harta. Tidak ada kepercayaan dalam diri siapapun untuk mengejar apapun pascatiada. Baru setelah itu, semua akan menyadari betapa pentingnya batas dan betapa perlunya tetap tidak melewati batas.