Car Free Day Pandaan

20161211_080747
Car Free Day Pandaan

Dua minggu sekali, pada hari Minggu, Pandaan selalu mengadakan Car Free Day (CFD). Tapi ini CFD beda banget. Tidak ada orang lari di jalur CFD. Yang ada tukang jualan macam-macam, kebanyakan makanan. Banyak juga yang jual pakaian dan mainan anak.
CFD memblok jalan RA Kartini, menutup akses jalan menuju restoran yang cukup eksis di Pandaan: IBC (Ikan Bakar Cianjur). Jalan ditutup pukul 6.00 – 10.00.

Car Free Day Pandaan
Jalur Car Free Day Pandaan

Ada panggungnya loh. Kata teman saya sering dipakai buat ibu-ibu senam. Tapi sekali lagi, tidak ada orang lari! Yang suka lari malah larinya di Taman Dayu.

Iklan

Sehari di Taman Safari Prigen

Tulisan ini cerita dan pengalaman saya jalan-jalan ke Taman Safari Prigen selama satu hari: Rabu, 12 Juli 2017

Saya juga baru tahu ada Taman Safari di Prigen, Jawa Timur. Jadi tidak hanya di Puncak, Bogor.

Tiket Prigen
Tiket Taman Safari Prigen 2017

Tiket masuk ada 3 jenis tergantung paket, Rusa, Badak, atau Gajah (yang termahal, pastinya yang paling komplit). Harga juga dibedakan antara Weekday, Weekend, dan Turis Asing. Jadi total ada 9 varian harga. Saya pilih paket Badak di Weekday, harganya Rp150.000. Karena bawa rombongan dan ada koneksi orang dalam, jadi bisa dapat memo diskon 15%.

Atraksi pertama adalah Safari Adventure. Kita di dalam mobil, nyetir sendiri, lihat hewan-hewan di kanan kiri. Kalau pas hewan herbivora boleh buka kaca. Ada beberapa yang beli wortel atau sayur di luar, terus dia kasih waktu di dalam. Maksudnya supaya hewan herbivora mau mendekat ke mobil. Untuk apa? Untuk difoto, atau untuk dipegang, atau untuk nakutin anak yang nakal di dalam mobil, atau untuk bangunin supir yang ngantuk. Ya terserah saja. Beberapa hewan besar yang bisa kita lihat dari dalam mobil: Llama, bison, rusa, jerapah, gajah, sapi tanduk panjang.

20170712_155657Banyak juga hewan karnivora, tentu beda kandang dengan yang herbivora. Dipisah dengan tembok-tembok tinggi. Jangan berani-beraninya buka kaca kalau sedang di dalam kandang karnivora. Apalagi coba memberi makan dari dalam mobil. Beberapa hewan yang bisa kita lihat: harimau, singa, dan beruang. Sebetulnya banyak, tapi saya lupa.

Ujung Safari Adventure adalah parkiran luas, dan ramai. Buat apa mereka ramai-ramai di sana? Sebetulnya ini urusan mereka, tapi dari yang saya amati, kira-kira sebagian besar mereka adalah orang-orang yang bersenang hati ingin berekreasi. Sebagian kecil mungkin ada yang bersedih hati karena harus berdagang, harus mengurusi hewan, harus melatih hewan supaya kalian pengunjung bersenang hati. Juga ada sebagian yang tidak jelas bersenang hati atau bersedih hati, karena mereka adalah supir yang matanya ditutup di dalam mobil.

Karena yang terlihat pertama adalah atraksi-atraksi seperti di Dufan, maka ke sanalah saya berjalan. Ada roller coaster, ontang-anting, kereta-keretaan. Kora-kora… di mana Kora-kora? Sayang sekali tidak ada kora-kora. Sebagian besar permainan untuk anak-anak sih, agak kurang cocok buat dewasa.

Merasa permainannya kurang bikin deg-degan, saya jalan ke dalam, lewat Jembatan Buaya. Kalau yang di bawah jembatan isinya ikan paus, mungkin namanya berubah jadi Jembatan Ikan Paus. Jembatannya bergoyang dan ada tulisan maksimal 20 orang di jembatan. Harusnya setelah tulisan itu diberi bintang, lalu diberi keterangan di bawahnya: kalau tidak mau dipeluk buaya. Dan harusnya diperjelas juga, itu 20 orang dengan bobot berapa, karena 30 orang @50kg lebih ringan daripada 20 orang @80kg. Kalau perlu ditanyakan juga dia punya tanggungan KPR, cicilan mobil, atau tidak, agar tahu beban pikirannya seberat apa.

20170712_155720
Sebelum lewat Jembatan Buaya

Lewat Jembatan Buaya, nah sekarang gantian, kalau tadi di Safari Adventure kita yang dikurung dalam mobil, sekarang gantian binatang yang dikurung. Seperti di Ragunan, tapi tidak sebanyak koleksi Ragunan. Ada harimau putih, harimau cokelat, bekantan, orang utan, burung-burungan. Yang keren, dia punya penguin! Kita bisa lihat penguin berenang dari kaca yang ada di pinggiran kolam.

Sekitar jam 1 siang saya ikut atraksi lumba lumba Dolphin and Friends. Keren! Gimana ya bisa melatih lumba-lumba sampai bisa ikuti instruksi instruktur, buat lompat bareng nyentuh bola 5 meter di atas kolam, berenang dengan gaya sesuai instruksi. Ada komentar negatif di Tripadvisor, bahwa lumba-lumba sebetulnya tidak diperlakukan menjadi hewan pertunjukan seperti itu. Lumba-lumba juga tidak suka dengan suara tepuk tangan. Buat saya sih ini menghibur. Tapi buat lumba-lumba gimana ya? Jalan tengahnya gimana ya supaya kita terhibur, lumba-lumba juga tidak merasa terganggu?

Jam 2 siang, atraksi aneka satwa Jungle Boy. Ini yang menurut saya paling bagus. Lucu. Atraksi dimulai dengan tiba-tiba masuk serombongan marmut yang jalan berbaris. Kok bisa ya melatih marmut jalan? Marmutnya sekitar belasan. Bersih-bersih dan lucu-lucu. Terus ada ceritanya, pembalak liar membabat hutan, hewan-hewan melawan dan menang. Tapi itu di Taman Safari. Di kenyataannya beda.

Atraksi Bird Watching dimulai jam 3 sore. Setiap burung dikasih nama. Mereka punya atraksi masing-masing. Ada burung rangkong, burung pemakan bangkai, burung hantu, burung kakaktua. Ini juga bikin saya bingung, gimana ngajarin burung sampai bisa ikuti instruksi kita? Disuruh lewati lingkaran semacam hoola hoop, dia mau. Disuruh say halo dia mau. Disuruh ambil mencit dia mau. Cuma disuruh ambil ikan di kolam saja yang dia bingung. Bolak balik lewat gak dapat-dapat.

Tiger Show jam 3.30 sore menurut saya paling biasa. Dan kasian. Kenapa? Karena harimau diumpani daging disuruh nyebur ke kolam. Jadi basah semua gitu. Harimau disuruh manjat batang tinggi, seperti dalam lomba panjat pinang. Diumpani daging, dan harimaunya langsung naik sampai belasan meter (kira-kira).

Di atraksi-atraksi itu, hampir tidak ada yang antri. Semua dapat kebagian duduk, kecuali Bird Watching. Untuk permainannya juga tidak ada yang antri, termasuk roller coaster tidak antri. Untuk Safari Adventure, tidak ketemu mobil yang ngetem lama-lama sehingga mobil di belakangnya harus nunggu dengan bosan dan banyak complain di Tripadvisor. Saya aman… Hidup weekdays gak di kantor deh pokoknya.

Arjuna Lewat Purwosari

IMG-20170708-WA0014
Pos 5 Mangkutoromo

Ini data dan cerita saya ketika mendaki Arjuna lewat Purwosari pada 8 Juli 2017.

Saya berangkat bertiga, dengan Security kantor (SCK) dan OB kantor (OBK). Saya sebetulnya tinggal di Jakarta, tapi dapat project di Pandaan dan diajak naik oleh SCK yang memang biasa naik. Ya jalan sudah…

Digunakan inisial SCK dan OBK karena ada cerita personal sepanjang perjalanan yang akan saya share di sini, namun kelihatannya lebih baik kalau saya samarkan namanya. Tentang hidup. Tentang pekerjaan. Tentang bagaimana perusahaan memanusiakan karyawannya.

Kami memulai perjalanan pukul 8 pagi dan sudah sampai Purwosari lagi pukul 3 sore. Jadi total naik turun dan sudah hitung istirahat sekitar 7 jam. Perjalanan hanya sampai Pos 5 Mangkutoromo, sesuai rencana awal. Tidak menginap. Hanya pakai ransel biasa saja. Isi air 2L, madu, roti, sosis, jas hujan. OBK  ekstrim sekali, tidak bawa apa-apa! Dan dia berlari! Pakai sandal jepit!!!

Secara ringkas waktu perjalanan kami sbb:

 

Desa Tambak Watu – Pos 1 Onto Boego : 60 menit

Pos 1 Onto Boego – Pos 2 Tampuono : 30 menit

Pos 2 Tampuono – Pos 3 Eyang Sakri : 15 menit

Pos 3 Eyang Sakri – Pos 4 Eyang Semar : 25 menit

Pos 4 Eyang Semar – Pos 5 Mangkutoromo : 35 menit

 

Turunnya sekitar 60 menit jika tidak berhenti. Jalan santai tapi tidak berhenti.

Jumlah menit di atas hanyalah waktu pendakiannya saja, tidak menghitung waktu istirahat di tiap pos. Kami berjalan biasa, tidak cepat, tapi jarang sekali berhenti di jalan. Berhentinya di pos-pos saja. Di Pos 2 Tampuono kami berhenti sampai satu jam ketika naik, karena saya belum sarapan. Dan satu jam ketika turun, karena ramai pendaki, jadi sambil ngobrol. Sepiring nasi putih dengan telur tahu tempe dan dua gelas kopi harganya Rp13.000. Murah meriah J

 

Desa Tambak Watu ke Pos 2 Tampuono

Saya dan SCK sudah dari pabrik tempat kami bekerja di Pandaan pukul 7 pagi. SCK ini habis tugas malam, jadi semalaman tidak tidur, terus langsung naik gunung. “Kuat mas…” kata dia. Saya dan SCK motoran sampai rumah OBK yang letaknya di desa Tambak Watu.

Dari pertigaan besar Purwosari (dilewati jalur bus Surabaya – Malang) sampai desa Tambak Watu perjalanannya menanjak dan berkelak kelok. Tidak ada angkutan umum. “Kalau tidak bawa kendaraan repot mas. Ojeg mahal. Apalagi kalau pakai bahasa Indonesia kayak sampean,” kata SCK.

Rumah OBK tidak jauh setelah masjid NU. Rumahnya sederhana. Lantai sudah keramik. Di depan rumah dijemur kopi. Rata-rata begitulah tipikal rumah penduduk di desa ini. Mereka rata-rata adalah petani. Bukan petani tanaman pangan, tapi tanaman perkebunan. Sekaligus peternak skala kecil.

Kami taruh motor di rumah OBK lalu mulai mendaki. OBK belum datang, mungkin masih di kantor. Tapi nanti dia akan menyusul. Nanti saya akan tahu bahwa dia akan menyusul dengan berlari!

Saya dan SCK berjalan santai. Saya relatif lebih cepat, tapi karena tidak tahu jalan, saya sering berhenti menunggu SCK yang jalannya relatif lebih lambat tapi tidak berhenti. Tap tap tap… terus dia, tidak berhenti.

Kanan kiri adalah perkebunan kopi dan pinus. Sampai Pos 1 Onto Boego saya masih mendapati jalan bebatuan. Kebanyakan track landai.

Pos 1 Onto Boego mempunyai beberapa bangunan. Salah satu yang menarik adalah goa yang mulutnya dibuatkan bangunan kecil dengan pintu. Menurut SCK, penduduk setempat percaya bahwa goa ini adalah “lift” yang bisa membawa ke Pantai Selatan dalam sekejap. Bangunan di mulut goa ini tidak sendiri. Ada beberapa bangunan lagi. Bersih, gelap, kecil, dan tercium bau dupa. Saya tidak berani masuk.

Tidak ada warung yang buka di Pos 1 Onto Boego. Jadi saya baru sarapan di Pos 2 Tampuono. Seorang ibu penjaga warung hanya menyahut “Yaa…” ketika saya panggil. Tapi tidak keluar-keluar. Jadi saya masuk saja ke bangunan gubuk berlantaikan tanah. Masuk ke dalam, saya baru melihat si ibu sedang sibuk menggoreng keripik pisang. Di atas kayu bakar yang membara.

“Ada nasi Bu?”

“Ada, tapi hanya ada telur,” dijawabnya sambil menunggu jawaban balik dari saya.

“Gak apa-apa bu. Saya pesan satu ya bu…”

Lalu tidak lama datang nasi dengan telur dengan tahu dengan tempe, dan ada sambalnya satu piring. Memang ya, apa saja enak kalau di gunung.

Baru setengah makan, datanglah OBK, sambil berlari dari bawah. Tidak terlihat keringat. Tidak ngos-ngosan. Tidak membawa apa-apa, cuma celurit di tangannya (mungkin buat bersihin lading kopinya). Langsung dia bakar rokoknya. Dia berlari sekitar setengah jam saja! Padahal kami perlu hampir 2 jam untuk sampai Pos 2 Tampuono.

OBK sudah bertahun-tahun tinggal di desa Tambak Watu. Dengan gajinya yang pas UMR (hanya selisih beberapa ratus ribu), dia bisa dikatakan beruntung di desanya punya gaji sebesar itu. Nah, di sini saya bersyukur sekali dengan pendapatan saya. Kok dia yang dapat UMR bisa dikatakan beruntung oleh penduduk desanya, tapi saya dapat berkali lipat dari UMR tapi masih mengeluh!

 

Pos 2 Tampuono – Pos 5 Mangkutoromo

Buat saya, cerita SCK dan OBK lebih menarik ketimbang perjalanan fisik yang saya lewati. Tapi tentu pembaca mau tahu track nya seperti apa. Secara umum, track pendakiannya normal. Yang agak berat itu dari Pos 3 Eyang Sakri sampai Pos 5 Mangkutoromo. Kebanyakan jalan nanjak agak curam. Berbatu. Jarang ada bonus.

Tidak sadar saya sudah lewati Pos 3 Eyang Sakri. “Tadi itu sudah lewat,” kata SCK setelah saya tanya di mana Pos 3 Eyang Sakri. Mungkin tidak terlalu jelas posnya sehingga terlewat begitu saja.

Kalau di Pos 4 Eyang Semar, ramai orang. Ada gubuk kecil dan ada yang masak. Ada semacam tempat ibadah yang lokasinya terbuka. Seperti gundukan batu yang di atasnya datar. Banyak lidi-lidi berasap. Ada yang sedang semacam beribadah. Seperti ibadahnya umat Hindu. Tapi mereka bukan Hindu. Menurut SCK, itu adalah Kejawen. “Berat loh jadi Kejawen, mereka tidak makan yang bernyawa dan yang berminyak. Jadi digodok terus.”

Sambil jalan, saya ajak ngobrol OBK tentang pekerjaannya. Dia adalah karyawan outsourcing dari perusahaan yang terkenal menyuplai Office Boy, termasuk di Jakarta. Sudah 6 tahun bekerja tapi gajinya ya mepet UMR terus. Kalau sedang tidak ada proyek, ya nganggur sudah. Dirumahkan, istilah si OBK. Tidak ada pemasukan sama sekali. Sudah 6 tahun tapi tidak diangkat menjadi karyawan tetap. Kontraaak terus.

Bagi yang beruntung, akan diangkat menjadi controller, atau apa istilahnya saya lupa. Si controller akan tetap mendapat gaji walau tidak ada proyek. Tapi dia harus masuk ke kantor. “Gajinya beda-beda tipis sama saya. Cuma beda beberapa ratus ribu,” kata OBK.

Kenapa OBK tidak diangkat-angkat? Ya tanyakan saja sama perusahaan-perusahaan outsource itu. “Ada yang sudah belasan tahun kerja tetap juga tidak diangkat-angkat,” kata OBK.

Yang menurut saya hebat, OBK tidak terlihat mengeluh. Kalem saja dia. Justru saya sering dapat banyak keluhan tentang gaji itu dari teman-teman yang pendapatannya berlipat-lipat dari UMR. Jadi seperti meludah ke wadah air yang airnya akan dia minum sendiri.

Pelajaran seperti ini yang saya senangi buat memperbaiki jiwa saya sendiri. Jangan mengeluh!

SCK juga ikut bercerita. Dia sudah ingin sekali masuk menjadi karyawan tetap di tempat client nya yang sekarang, ya pabrik tempat kami bekerja sekarang. Tapi sudah bertahun-tahun belum berhasil.

Pendakian tidak terlalu berasa kalau diselingi dengan sambil bercerita begini. Apalagi kalau latar belakangnya beda. Tentu akan banyak sudut pandang.

Sampai di Pos 5 Mangkutoromo, kami rehat sekitar satu jam. Makan perbekalan, tapi tidak makan berat. Di sini banyak tenda. Memang tempatnya pas: luas dan datar. Ada juga tenda besar semi permanen yang atapnya sudah ditumbuhi perdu-perduan, ada perdu yang tingginya sampai 2 meter! Jadi ini tenda besar sudah lama sekali. Sepertinya untuk tentara. Di dalamnya bisa buat tidur. Jadi sebetulnya bisa saja hanya bawa matras dan sleeping bag kalau mau tidur di Pos 5 Mangkutoromo. Tidak bawa tenda tidak apa-apa.

Gundukan batu tempat ibadah juga ada di Pos 5 Mangkutoromo, seperti yang ada di Pos 4 Eyang Semar. Saya melihat ada seorang ibu berjilbab lebar di atasnya, seperti sedang membaca doa yang ada di buku kecil di tangannya. Tidak lama kemudian ibu ini pamit turun duluan dan menawarkan makanan, “Silakan itu ada nasi di dalam. Ambil saja yaa.” Bicaranya ramah dan banyak senyum.

 

Turun

Turun memang lebih cepat daripada naik. Hampir selalu begitu. Tapi hati-hati betisnya. Saya baru turun 15 menit saja sudah gemetar. Bahkan si OBK yang sudah biasa naik Arjuna juga gemetar.

Di perjalanan turun saya ketemu dengan ibu yang tadi sedang berdoa di Pos 5 Mangkutoromo. Dia bersama 2 anak muda yang membawa carrier besar. Satu di antaranya malah membawa 2 carrier besar. Saya pikir, mungkin anak muda ini adalah bawaan si ibu untuk bantu bawa barang.

OBK bertanya, “Sudah berapa lama bu?”

“Sebulan,” katanya singkat sambil terus berusaha turun perlahan, masih fokus pada batu yang dia tapaki.

Kelak saya akan tahu bahwa ibu itu bernama Rahayu, dari Jakarta. Dia meminta tolong 6 anak muda yang baru dikenalnya untuk membawakan barangnya turun. Ketika naik, dia juga meminta tolong 6 anak muda untuk membawakan barangnya naik. Masing-masing diberikan ongkos Rp150.000.

Apa yang Ibu Rahayu lakukan di gunung selama 1 bulan? Ini saya juga belum tahu. Yang saya tahu, itu juga tahu dari cerita SCK, banyak orang jauh yang datang ke Arjuna untuk semedi, mencari “ilmu”, atau semacam itu. Apakah itu yang Ibu Rahayu lakukan? Belum bisa dipastikan.

Tulisan ini saya buat dua hari setelah turun. Paha masih nyut-nyutan. Betis masih sakit. Jalan masih susah. Tapi naik gunung itu seperti tobat sambel. Sekarang kepedasan, besok mau lagi.

Singapura: Makanan

Tidak sulit cari makanan di Singapura. Yang sulit itu cari yang murah, halal, dan pedas J

Saya cerita pengalaman saya saja ya tinggal di Singapura selama dua menjelang tiga bulan. Jadi tulisan ini tentu tidak bisa jadi acuan untuk referensi menyeluruh tentang seluruh makanan di Singapura.

Kantor tempat saya bekerja di Indonesia mayoritas karyawannya muslim, jadi kalau milih hotel di Singapura yang dicari adalah yang dekat dengan akses makanan halal. Jadilah di Park Royal (Beach Road), yang depannya langsung Arab Street, dan tidak jauh dari Masjid Sultan. Hanya sekitar 500 meter dari Bugis Station.

Nah di sekitar hotel ini banyak banget pilihan makanan halal. Ya sekitar separuhnya lah halal, terutama masakan Melayu, India, Turki, dan Lebanon. Beberapa masakan China juga halal. Awalnya saya bingung juga mana yang halal, tapi ada beberapa indicator yang bisa jadi acuan restoran itu halal:

  1. Restoran Melayu, India, Turki, dan Lebanon
  2. Ada label Halal
  3. Yang makan ada yang berjilbab
  4. Ada yang ngajak masuk pakai “Assalamu’alaikum”

Kalau tidak ada minimal satu dari indicator di atas, wah jangan deh.

Yang paling nyambung dengan lidah saya adalah masakan India: cane, pratha, nasi biryani, martabak, roti jhon. Yang terakhir disebut ini saya kurang tahu juga, asli masakan India apa bukan ya? Karena di setiap saya masuk restoran India, hampir selalu ada terus.

Dua restoran India favorit saya yang dekat hotel adalah Zam-Zam (depan masjid Sultan) dan Kampong Glam Café (Baghdad Street). Tapi belakangan saya rasai restoran India tipe makanannya sama semua. Sama-sama enak maksudnya.

20170419_194348Sekali saya pernah main ke Little India. Makan di restoran namanya “Madura”. Kita pikir itu makanan Indonesia. Ternyata makanan India. Yang jual semua India. Yang mampir juga India semua. Saya tanya sama waiter, kenapa pakai nama Madura? Dijawab, itu nama daerah di Indonesia. Terus waiternya pergi. Padahal saya mau bilang, nenek-nenek metal juga tahu. Tapi kenapa milih nama Madura???

Selain masakan India, varian makanan lain juga banyak banget, ada steak, ramen, tom yam, ayam penyet (Indonesia banget), nasi lemak, salad. Yah itu saja sih yang saya bisa sebut, sebetulnya masih banyak nama yang aneh-aneh dari restoran Lebanon, Turki, China.

Beberapa tempat makan/retail ini juga ada di sekitar tempat saya tinggal: Popeye, Pizza Hut, 7Eleven, Giant, Starbucks.

Kalau bicara harga, nah ini yang seru. Rata-rata saya sekali makan sudah dengan minum sekitar S$8 atau sekitar Rp80.000. Makan Tom Yam S$5,5. Nasi Briyani Mutton (kambing) S$6,5. Di mal dan di airport harganya tidak jauh beda. Ini yang saya suka. Kalau di Indonesia kan jauh banget bedanya antara di luar bandara dan di bandara.

Di Singapura hampir tidak ada yang kasih minuman gratis. Kalau di Indonesia kan banyak yang kalau kita beli makan ya dapat minum air putih atau teh tawar. Mungkin karena air mahal kali ya. Singapura kan tidak punya pegunungan yang jadi sumber mata air.

Biasanya saya hunting makanan-makanan dekat hotel kalau malam saja. Pagi makan di hotel (include harga kamar). Siang makan di kantin kantor.

Sarapan pagi di hotel juga perlu hati-hati buat muslim, karena banyak makanan yang dicampur dengan daging babi. Lah saya mikir, sangat mungkin kalau mereka masak dalam satu wajan yang sama. Saya cari aman dengan hanya memakan susu sereal, salad, dan buah. Sayang banget sebetulnya varian makanan di hotel banyak banget. Omelet pun saya gak berani sentuh.

Nah kalau makan siang di kantor aman, karena kantin kantor saya, yang di daerah Tuas, bersertifikat halal. Yang jaga juga orang melayu berjilbab. Di kantor saya merdeka soal makanan.

Pernah saya makan di food court Singapore Flyer. Sate 10 tusuk dengan beberapa potongan kecil lontong. Tidak bikin kenyang. Harganya saja yang bikin kenyang: S$10. Di Jakarta paling setara S$3.

Pernah juga saya mampir di mal dekat Singapore Flyer. Sempat tertarik dengan Restoran Masakan Padang. Tapi saya perhatikan semua waiter nya kok Chinese semua. Label halal juga tidak ada. Jadi saya batal makan di situ. Saudara saya yang memang sudah lama di Singapura menguntung-untungkan. Untung saya tidak makan di situ, karena kalau semua yang jaga Chinese, tidak punya label halal, maka jangan masuk.

Singapura: Tahanan Imigrasi

Buat banyak orang, urusan imigrasi di Singapura jauh lebih mudah dan lebih cepat dari yang saya hadapi. Hanya karena nama saya Muhammad Iqbal, repot banget urusannya.

Pertama kali saya ke Singapura adalah bersama anak dan istri saya pada akhir 2015, lewat Changi Airport. Anak dan istri saya sudah lewat imigrasi. Saya ditahan dulu. Disuruh masuk dalam suatu ruangan. Tidak ada informasi apa-apa. Hanya disuruh masuk saja. Lah kita kan bingung dan coba menebak-nebak kenapa ditahan?

Tadinya saya pikir karena penampakan saya yang dicirikan sebagai “teroris” oleh media kebanyakan: jenggot lebat dan jidat hitam. Tapi tidak juga, saya lihat para tahanan imigrasi itu juga ada beberapa wanita yang malah pakai rok mini.

Ada sekitar 15 orang “tahanan” dalam ruangan itu. Sebagian besar saya lihat passport nya dari negara di Asia Tenggara. Sekitar 2-3 orang dari Indonesia. Saya sempat tanya dengan orang Indonesia yang ada di situ, kenapa sih kita ditahan? Mereka juga bingung.

20170414_183639Satu demi satu dari kami dipanggil. Setelah dipanggil tidak kembali lagi, jadi tidak bisa ditanya tadi diapain? Satu demi satu “tahanan” baru juga masuk, dengan muka kebingungan.

Setelah hampir satu jam menunggu, nama saya dipanggil, dihadapkan dengan seorang yang dari nada bicaranya sih ramah. Saya ditanya mau ke mana? Dengan siapa? Menginap di mana? Urusan apa? Kuliah di mana? Kerja di mana? Emailnya apa? Berapa hari di Singapura? Keluar Singapura kapan? Lewat mana? Dst…

Untuk penahanan pertama ini, saya jawab dengan nada ramah. Petugasnya bilang, ini protokol yang harus dilakukan. Oh ya sudah…

Kedua kalinya saya ke Singapura, bersama dengan teman-teman kantor, saya kembali ditahan. Disuruh menunggu di dekat kantor imigrasi. Setengah jam kemudian datang petugas menanyakan hal-hal yang sama seperti kedatangan saya yang pertama. “Cuma pengecekan random,” kata petugas.

Ketiga kalinya, begitu lagi. Ditahan lagi. Ditanya-tanya lagi. Saya kesal juga, kenapa tiap masuk Singapura ditahan dulu sih? Dijawab sama petugas, “Your name is like a crime.”

Lah terus apa akan begini terus tiap ke Singapura? Apa nama saya tidak bisa dihapus dari list mereka? Toh sudah beberapa kali ke Singapura tidak kenapa-kenapa kan? Kata petugasnya, tetap loh tidak bisa. Jadi prosesnya akan begitu terus setiap masuk Singapura.

Jadilah saya setiap ke Singapura pesan ke barengan, kalau mau jalan duluan silakan, kalau mau nunggu ya bisa jadi satu jam. Tunggu di pintu keluar setelah pengambilan bagasi.

Keempat dan kelima kalinya saya ke Singapura, begitu lagi. Ditahan lagi. Keenam, ketujuh…. sampai kesebelas kalinya masih sama. Berat memang nih nama Muhammad Iqbal.

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

img-20150815-00548
Bus menuju Kuching

Hari Ketiga, 17 Agustus 2015. Saya dan Umar menuju Kuching dari Serian dengan bus besar. Tarifnya RM5 atau sekitar Rp17 ribu untuk sekali jalan. Jalanan lengang, tidak ada macet. Jalannya seperti jalan tol, tapi motor boleh masuk. Tidak ada bayar tol juga. Jalannya lebar dan mulus.

Mobil-mobil pribadi yang banyak saya lihat adalah Proton. Ini adalah produk asli Malaysia. Modelnya macam-macam, tidak monoton. Kalau di Indonesia bagaimana? Apa kabar mobil nasional? Apa konsumen Indonesia senang pakai mobil nasional?

Sampai Kuching, saya masuk sebuah mal yang kalau di Jakarta mirip-mirip ITC. Pakaian mahal-mahal. Elektronik kurang lebih sama. Kalau urusan motor, nah mereka ketinggalan. Masak motor yang dipajang di mal itu modelnya seperti Astrea Grand yang di Indonesia dipasarkan sekitar tahun 90-an. Jadul banget.

img-20150816-00558
Jajanan di Kuching

Di luar mal banyak penjual makanan. Harganya kurang lebih sama seperti di Indonesia. Chicken Rice RM4, Fried Chicken Rice RM5, Hot dog + egg RM2,4, Hot dog + egg + cheese RM3,5.Makanan-makanan itu dijual di tempat seperti kaki lima di Indonesia.

Jalan sedikit dari mal itu, saya menuju Waterfront Kuching, melewati patung kucing yang besar. Waterfront adalah istilah untuk tepi laut atau tepi sungai. Kondisinya terawat bersih. Air sungainya juga bersih sekali. Malah ada yang jual jasa wisata naik kapal menyeberang sungai untuk menikmati sungai yang bersih itu.

Kebetulan waktu itu sedang ada pameran gratisan di Waterfront. Seperti pameran budaya di Indonesia. Jadi Negara-negara bagian di Malaysia buat stand dan menampilkan budayanya masing-masing. Kurang lebih sama seperti pameran di Indonesia, saya kurang tertarik.

Hanya 1 jam saya di Kuching, lalu cari bus balik menuju Serian lalu ke Tebeddu. Tebeddu adalah perbatasan Malaysia yang langsung nempel dengan Entikong. Saya cap passport lagi, lalu kembali ke Tayan untuk bekerja kembali seperti biasa.

Tiga hari perjalanan saya ini ditukar dengan pengalaman yang luar biasa. Ketemu teman baru, mendengar cerita-cerita baru, melihat hal-hal baru, menikmati makanan baru, mencoba angkutan umum baru, merasai budaya baru. Luar biasa…

 

#HABIS

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Ini adalah perjalanan hari kedua, 16 Agustus 2015.

Umar berprofesi sebagai penjual sayur mayur. Jadi sejak subuh dia sudah keliling dengan motor tuanya dengan gendongan besar di sebelah kanan kiri motornya. Umar keliling ke kampung-kampung sekitar. Sosoknya sederhana sekali, uang hanya dicari seperlunya saja, asal bisa makan dan bisa shodaqoh untuk masjid di dekat rumahnya.

TIba-tiba dia datang dengan membawa banyak durian. “Durian di sini dagingnya empuk, tebal, dan manis. Mas Iqbal harus coba!” Langsung saya sikat. Padahal semalam saya hanya ngobrol biasa saja, menyampaikan bahwa saya senang sekali makan durian. Paginya langsung dibawakan.

Tidak lama kami berkemas untuk menuju Serian. Pertama menggunakan angkot menuju Entikong. Angkotnya seperti kebanyakan yang ada di Jakarta. Ongkosnya seingat saya Rp12 ribu untuk perjalanan sekitar 30 kilometer. Jalanan sepi dan berkelok-kelok.

Saya periksa kembali passport saya, kuatir lupa dibawa. Alhamdulillah ada. Passport masih kosong, belum ada satupun cap. Sebentar lagi saya mendapat cap pertama.

Entikong bukanlah kota, tetapi lebih mirip desa yang ramai. Banyak penginapan. Banyak penjual makanan. Saya dan Umar langsung menuju loket imigrasi untuk minta cap.

img-20150816-00570
Pos Imigrasi Entikong

Pertama, loket Indonesia, lalu loket Malaysia. Keduanya mudah. Petugas beberapa kali melihat wajah saya, memastikan sama dengan foto yang ada di passport. Suasana loket Malaysia terlihat lebih sepi lebih teratur. Di loket Indonesia banyak orang, banyak pedagang, termasuk pedagang nomor Malaysia dan pedagang RInggit. Saya beli satu nomor Malaysia seharga RM10 atau setara Rp35 ribu. Sekaligus saya tukar rupiah dengan ringgit.

Tidak jauh dari loket Malaysia terlihat beberapa mobil angkutan umum. Bentuknya agak besar seperti mobil L300. Umar menyebutnya “Len”. Ini sebutan untuk angkutan umum yang lazim saya dengar juga di daerah Jawa Timur. Entah orang Malaysia menyebutnya apa.

img-20150815-00544
Len dari Tebeddu (perbatasan Entikong) ke Serian

Kami naik len itu menuju Serian. Tapi len baru berangkat setelah penumpang ramai. Jadi budaya “ngetem” ya ada juga di Malaysia. Bedanya, di Malaysia, kalau sudah jalan, ya jalan terus sampai tujuan.

Sampai Serian, kami masuk pasar yang lokasinya dekat dengan terminal. Ada penjual minuman segar, harganya flat RM1 atau sekitar Rp3.500. Ada air tebu, ada laici, dan air Bandung. Kok bisa ada bandung di sini? Lagipula, apa itu air Bandung?

Pasarnya mirip pasar tradisional di Indonesia, tapi lebih bersih. Yang dijual kurang lebih sama. Kebanyakan penjual di sini yang saya perhatikan adalah dari etnis Melayu, Dayak Iban, dan China. Dayak Iban adalah Dayak yang agak Chinese. Kulitnya putih atau kuning langsat.

img-20150815-00546
Roti Cane

Agak keluar dari pasar, saya mampir ke tempat makan roti cane. Penjualnya orang India yang kesulitan bahasa melayu. Buat saya, di sini lebih enak pakai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Lebih jelas maksudnya sama. Kalau bahasa Indonesia, memang mirip dengan bahasa Melayu, tapi banyak tidak nyambungnya.

Roti cane di sini enak sekali. Murah juga. Saya dan Umar makan sampai puas dengan cane, kari kambing, teh tarik. Sudah nambah-nambah segala, habisnya RM18 atau sekitar Rp60 ribu.

Saya dan Umar dijemput temannya Umar, namanya Pak Sukino. Dia orang Jawa juga, merantau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih banyak hasilnya. “Tapi tidak lama lagi saya kembali ke Jawa, sekitar 6 bulan lagi,” kata Pak Sukino.

Pak Sukino, saking lamanya di Malaysia, sudah berlogat melayu. Logat Jawanya sudah hilang blas. Dia bekerja di pabrik kecil yang mengolah kayu besar menjadi potongan-potongan kayu kecil. Dia membuat rumah sederhana di dekat pabrik tersebut. Anak buahnya kebanyakan orang Malaysia, yang juga membuat rumah-rumah sederhana di dekat pabrik.

Pak Sukino bercerita tentang bosnya yang orang China yang tinggal di Malaysia Barat, mungkin Kuala Lumpur. “Dia kalau ke sini pakai passport,” kata Pak Sukino.

Loh kok sama-sama Malaysia tapi pakai passport?

Setelah saya Googling, memang tidak semua warga Malaysia bebas masuk ke semua wilayah Malaysia. Serawak punya peraturan khusus. Orang Malaysia di luar Serawak yang ingin masuk Serawak harus mengurus Pass Khusus atau Passport Biru atau Dokumen Perjalanan Terhad (DPT). Urusannya di Kantor Imigrasi juga.

Itu adalah syarat yang diberikan Serawak ketika diminta masuk dalam satu Negara Malaysia. Kalau Malaysia menolak syarat itu, mungkin Serawak akan masuk Indonesia kali ya… atau bikin Negara sendiri.

Kembali ke Pak Sukino. Dia juga bercerita tentang WNI yang bekerja tanpa surat. WNI itu memang punya passport, tapi hitungannya bukan bekerja. Jadi jatah tinggal di Malaysia-nya hanya 30 hari. Setiap bulan, WNI itu harus menuju perbatasan untuk mendapat perpanjangan lagi. “Itu disebut cop pusing,” kata Pak Sukino.

Masih banyak yang kami obrolkan, termasuk cerita-cerita sensitif yang tidak pantas saya ceritakan di sini. Kami ngobrol sampai tengah malam.

 

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)