Pengalaman Melahirkan Normal RSU Bhakti Asih

Biaya Kelas II Normal Rp6.215.000

IMG20190502090136
Antri di loket kasir RSU Bhakti Asih

HPL istri saya sebenarnya 27 April 2019, tapi belum kunjung mules, sehingga baru lahir pada 1 Mei 2019 pukul 2:27 dini hari. Saya mau bagikan cerita tentang pengalaman dan biaya yang saya keluarkan selama proses persalinan istri. Saya dan istri punya BPJS, tetapi memilih untuk tidak menggunakannya. Mau cash saja.

Ini adalah kelahiran anak kedua kami. Sengaja kami pilih RS yang sama dan dokter yang sama, karena pengalaman anak pertama cukup sukses. Indikasinya, anak dan ibunya sehat, ibunya cepat sembuh, anaknya tidak ada masalah apa-apa, tidak sesar, tidak dipaksa pakai sufor, bayi didorong untuk selalu dekat dengan ibunya. Itu indikator positif yang saya buat sendiri.

RSU Bhakti Asih (Tangerang) adalah RS yang lumayan dekat dengan tempat kami tinggal di Cipadu. Sekitar 4 km saja. Aksesnya mudah. Biayanya murah. Ada masjidnya, besar di dalam RS.

Dokter Sanny Grace adalah salah satu dokter persalinan yang senior di RSU Bhakti Asih. Pertama dia perempuan. Kedua dia saya lihat sangat pro normal. Ini juga dokter persalinan anak pertama kami. Dia siap ditelepon tengah malam. Waktu anak pertama, lahirnya menjelang subuh. Ditelepon sama suster, sepuluh menit kemudian sudah sampai RS. Keren!

#

Tanggal 28 April 2019, kami kontrol seperti biasa. Diberikan pilihan oleh Dr Sanny, mau langsung seakarang atau masih mau nunggu? Kalau nunggu, paling telat 1 Mei. Agak bahaya kalau lewat itu, karena sudah mulai proses pengapuran. Saya kurang paham pengapuran itu seperti apa, dan tidak bertanya lebih jauh. Kami pilih tunggu 1 Mei.

Tanggal 30 April jam 9 pagi kami datang lagi. Sesuai arahan Dr Sanny lewat WA istri saya, langsung masuk ruang persalinan. Di ruang persalinan, susternya bingung karena kami tidak punya surat dokter, tidak punya surat pengantar apa-apa. Tapi kami tunjukkan WA dari Dr Sanny, ya akhirnya disuruh langsung tiduran.

Suster menyuruh saya ngurusi administrasi. Suster di ruang persalinan memberikan kertas yang saya lupa isinya apa. Semacam pengantar untuk ke pendaftaran.

Di pendaftaran, petugasnya terlihat sangat sibuk. Seorang lelaki. Mungkin ada sekitar 5 menit saya sudah berdiri di depannya tapi dicuekin. Saya tanya, “Bisa daftar mas?”

“Iya sebentar.”

Sekitar 5 menit lagi saya tunggu. Agak pegal berdiri, saya tanya lagi, “Saya nungguin apa ya mas?”

“Saya lagi input data sebentar mas.”

Agak kesal dengan petugas yang ini. Kurang senyum, kurang komunikatif. Sabar… Sabar….

Selesai input data, saya diurusi. Dia tanya, mau kelas berapa? Sudah tahu biayanya?

“Sudah, saya mau VIP apa ada?” Saya jawab PD karena memang sebelumnya sudah tanya-tanya harga. VIP itu kalau normal habisnya sekitar Rp11 juta belum sama bayi dan obat.

Dijawab petugas, “Sebentar saya cek.”

Sebentarnya dia lama juga yah. Lalu dia jawab, “VIP kalau induksi biayanya sepuluh juta.”

Saya pertegas, “Itu biaya induksinya saja sepuluh juta. Belum biaya kamar?”

“Iya induksi saja.”

“Kemarin saya tanya ke ruang administrasi perawatan VIP sekitar sebelas juta sudah tindakan dan kamar, belum termasuk bayi dan obat. Bisa dikonfirmasi ulang?”

Lalu dia tat tit tut entah nelepon siapa. Kemudian menjawab, “Sepuluh juta sudah termasuk tindakan dan kamar mas.”

Tuh kan! Saya konfirmasi ulang dalam satu kalimat. “Jadi sepuluh juta sudah tindakan dan kamar ya mas, tadi di awal mas bilang hanya biaya induksi?”

“Iya barusan sudah saya konfirmasi, sudah termasuk tindakan dan kamar,” kata petugas.

“Oke saya ambil VIP. Tapi kemarin saya cek ke kamar, VIP penuh. Apa sudah ada yang kosong?”

“Sebentar saya cek.”

Sebentarnya dia lama. Saya makin pegal berdiri di depan meja pendaftaran. Lalu dia jawab, “VIP sudah penuh. Kelas I juga penuh. Adanya kelas II.”

“Ya sudah, yang ada saja mas. Saya bayar cash, tidak pakai asuransi.”

Petugas menekankan kembali, kalau sudah cash di awal, harus cash sampai akhir. Misalnya induksi gagal sehingga harus sesar, ya tetap harus cash. Saya siap dengan konsekuensi ini. Sebelumnya sudah tanya, kalau VIP sesar itu sekitar Rp16 juta. Kalau kelas II sesar sekitar Rp9 juta.

Petugas pendaftaran memberikan semacam pengantar, lalu diberikan ke saya untuk kemudian saya bawa ke kasir. Di kasir saya diminta deposit Rp3 juta. Saya bayar pakai autodebet mandiri. Petugas kasir ini lumayan sigap. Kerjanya cepat.

Kasir memberikan saya bukti bayar untuk saya berikan ke suster di ruang bersalin. Lalu saya kembali ke ruang bersalin, memberikan bukti bayar tersebut, lalu kembali ke tempat istri saya.

#

Sekitar jam 12 siang, Dr Sanny datang. Istri saya diinduksi dengan obat yang dimasukkan lewat vagina. Tidak terasa apa-apa. Maksudnya, tidak terasa ada efek obat. Tidak bikin mules.

Makan siang datang. Ya biasalah makanan rumah sakit. Saya yang makan, daripada mubazir. Istri saya maunya ayam geprek. Di depan RS banyak tukang jualan macam-macam. Ada Alfa juga.

Saya tidur di kasur yang sama dengan istri saya. Kasur rumah sakit. Terus ketahuan sama suster, dimarahin. Jadi duduk lagi di sebelah kasur. Ada kursi, tapi tetap saja pegal berjam-jam duduk.

Sekitar jam 5 sore, Dr Sanny datang lagi. Mendengar tidak ada reaksi apa-apa dari istri saya, induksi kedua dilakukan. Obat dimasukkan lagi lewat vagina.

Awalnya tidak terasa ada efek apa-apa. Tiga empat jam berikutnya baru ada efek obat. Istri saya tidak bisa tidur. Balik kanan, balik kiri, balik kanan lagi. Posisinya sudah tidak ada yang nyaman. Saya mau tidur takut digampar, jadi saya ngopi dulu di luar biar bisa melek.

#

Jam satu pagi, makin terasa. Suster saya panggil. Dicek, dimasukkan tangannya ke vagina istri. Belum katanya. “Justru rasa mules ini yang diharapkan. Sabar saja ya bu,” kata si suster menenangkan. Susternya saya perhatikan memang cocok jadi suster. Tenang, mengarahkan untuk tenang. Tidak panikan.

Jam dua pagi, air bening luber dan membasahi lantai. Mungkin itu air ketuban. Istri saya bilang sudah tidak kuat. Saya ke suster dibilang tenang-tenang saja. Katanya nanti jam empat.

Wah kayaknya gak mungkin nih istri nahan sampai jam empat. Saya ngotot minta dia telepon Dr Sanny. Istri saya sudah makin mengeluh mau keluar, agak berteriak menahan sakit.

Jam 1.05 pagi, suster menelepon Dr Sanny. Padahal istri sudah seperti mau melahirkan detik itu juga. Suster mengarahkan tenang, menjaga napas, menjaga tenaga, jangan ngeden dulu, sambil menyiapkan alat-alat persalinan. Tiba-tiba ada banyak suster yang datang. Sekitar lima orang. Pada sibuk menyiapkan persalinan.

Dalam hati, wah kayaknya lahirannya sama suster nih, tanpa dokter. Tapi ternyata Dr Sanny datang jam 1.20! Ini dokter hebat banget. Bisa sampai RS 15 menit setelah ditelepon. Sangat recommended!

Hanya perlu lima menit untuk mengeluarkan bayi utuh, dari kepala sampai kaki. Sepuluh menit kemudian proses memotong tali pusar dan menjahit. Saya lega. Istri lega. Bayi langsung ditaruh di perut ibu untuk diarahkan mencari puting ibunya. Saya adzan di telinga bayi. Kemudian bayi dibawa ke ruang bayi untuk dibersihkan.

#

Istri sudah tenang, saya ke ruang bayi. Alhamdulillah bayi tampak sehat. Suster di ruang bayi dengan ramah menjelaskan. “Ini jari kaki kanan ada satu dua tiga empat lima, jari kaki kiri satu dua tiga empat lima. Jari tangan kanan satu dua….” Dst. Kuping juga diperlihatkan, lengkap. DIjelaskan juga tingginya 50cm, bobot 3,4kg.

Suster menanyakan, mau langsung vaksin Hb0? Mau ambil senam nifas dan pijat ASI? Saya iyakan. Ini terkait biaya yang akan saya bayarkan.

Lalu si suster memberikan semacam pengantar, untuk diurusi ke pendaftaran dan kasir. Saya diminta isi data-data lagi di pendaftaran. Tapi tidak perlu menunggu apa-apa, karena memang hanya ada saya waktu itu. Pendaftaran jam dua pagi buka loh. Kasirnya juga!

Dari pendaftaran, ke kasir, diminta deposit lagi untuk bayi, sebesar Rp1 juta. Saya gesek lagi pakai debit card mandiri. Bukti bayar saya serahkan ke suster anak.

Istri saya tidur. Bayinya juga tidur. Administrasi sudah selesai. Saya bisa tidur. Aman.

Tiba-tiba dipanggil suster persalinan. DIsuruh ngurusi pembayaran obat. Oke saya langsung ke tempat obat. Ini obat buat ibu, bukan bayi. Ada tiga obat: antibiotik, pelancar asi, sama apa satu lagi lupa. Tapi tidak hanya itu yang saya beli di tempat obat. Ada jarum suntik, tagging nama, dan masih banyak lagi. Itu adalah perlengkapan yang dipakai waktu melahirkan tadi. Jadi seperti kita meminjam dulu alat-alat dari ruang persalinan untuk kemudian kita kembalikan. Total obat dan perlengkapan melahirkan habis Rp400.000.

Obat dan perlengkapan saya berikan ke suster persalinan.

Kebetuan sudah subuh. Habis sholat subuh, langsung tidur

#

Dua jam tidur, terbangun getaran HP. Sengaja HP saya aktifkan dan dikantongi, biar kalau istri telepon bisa langsung bangun. Katanya, sudah pindah ke Dahlia 5. Tidak di ruang persalinan lagi.

IMG20190502075946
Fasilitas kamar kelas II di Dahlia 5

Oke, saya angkut barang-barang dari ruang persalinan ke Dahlia 5. Ini adalah kamar kelas II. Saya kira kelas II itu ngenes banget. Ternyata enggak juga. Nyaman-nyaman saja. Ada meja dengan beberapa laci untuk menaruh barang. Ada meja untuk makan. Ada tempat sedikit untuk pendamping. Cukup lah. Makin cukup, karena kasur sebelah istri saya kosong. Jadi bisa saya manfaatkan haha.

Jam besuk di Bhakti Asih adalah pukul 11.00 – 13.00 dan 17.00 – 19.00. Ada baby show pukul 11.00 – 12.00 dan 17.00 – 18.00.

Keluarga ramai datang jam besuk siang. Bisa masuk sampai tujuh orang. Bisa, karena kasur sebelah kosong. Kalau isi mah ya tidak muat.

Malamnya, Dr Sanny datang mengecek istri saya. Aman katanya, bagus. Besok pagi sudah bisa pulang. Yes!

#

Sekitar jam 9 pagi saya megurusi administrasi. Total biaya persalinan dan kamar adalah Rp5.135.550. Sedangkan total biaya bayi adalah Rp679.455. Ditambah obat Rp400.000. Jadi total biaya RS yang saya keluarkan adalah Rp6.215.005.

IMG20190502090853
Detail biaya persalinan istri
IMG20190502090827
Detail biaya bayi

Kalau dilihat-lihat komponen biayanya, yang paling besar adalah biaya dokter (termasuk induksi) Rp3.675.000. Kedua terbesar, biaya kamar ibu Rp550.000 (2 hari). Tapi toh semua biaya-biaya itu saya rasa tetap lebih murah dibanding rumah sakit pada umumnya. Saya banyak dengar teman-teman saya lahiran menghabiskan biaya belasan sampai puluhan juta. Alhamdulillah saya tidak sampai tujuh juta.

Beres administrasi, ada suster yang masuk ke tempat istri saya, mengajarkan senam nifas dan pijat ASI. Saya disuruh keluar. Mungkin itu ilmu yang hanya boleh diajarkan ke sesama wanita.

Beres semua urusan, kami pulang. Suster menyiapkan kursi roda untuk istri saya, dan didorong sampai parkiran. Terima kasih Bhakti Asih.

Nyicip Kereta Api Aceh

Minggu 7 Oktober 2018 saya iseng-iseng cobain naik kereta di Aceh. Kebetulan lagi main ke rumah kakek di Krueng Mane (masih sekitar 30 menit naik mobil ke Utara Lhokseumawe, Aceh). Stasiun Krueng Mane itu berjarak sekitar 20 menit jalan kaki dari rumah kakek.

IMG20181007090536
Stasiun Krueng Mane

Sudah jam 9 pagi tapi suasana Stasiun Krueng Mane masih sepi, padahal kereta berangkat jam 9.15. Hanya ada saya dan seorang ibu-ibu (menjelang nenek-nenek). Harga tiketnya Rp1.000. Ini yang benar saja, harga tiketnya serius hanya seribu perak? Si petugas wanita muda mengulang lagi, “Tiketnya seribu.” Lanjutkan membaca “Nyicip Kereta Api Aceh”

Taman Piknik – Tempat Rekreasi Gratis di Jakarta

IMG20180614164038
Tulisan ketka masuk Taman Piknik

Siapapun yang mengaggas adanya taman ini, saya ingin berterima kasih. Keren banget!

Sebetulnya ada beberapa taman gratis di Jakarta yang juga keren, seperti Taman Ayodya dan Taman Suropati. Tapi si Taman Piknik ini paling dekat dengan lokasi saya tinggal, yaitu di daerah Kalimalang rada masuk sedikit di Kodam. Hanya sekitar 5 menit naik kendaraan atau 15 menit jalan kaki. Lanjutkan membaca “Taman Piknik – Tempat Rekreasi Gratis di Jakarta”

Naik Kereta Api Padang

Kalau di Jawa, akses kereta api sudah begitu mudah dan banyak pilihannya. Jawa dari ujung ke ujung sudah terakses kereta. Juga sudah ada pembagian kelas: eksekutif, bisnis, dan ekonomi. Tinggal duitnya sanggup berapa. Ini berbeda sekali dengan kereta api di Sumatera.

Ada tiga titik lokasi jalur kereta api di Sumatera: Medan, Padang, dan Lampung-Sumsel. Tahun 2011 saya sudah pernah naik yang di Medan dan yang di Lampung-Sumsel. Yang saya ingat, kereta yang di Lampung tidak terasa seperti kereta Sumatera karena penumpangnya berbicara bahasa Jawa. Jadi keriuhannya ya keriuhan Bahasa Jawa. Sementara kereta di Medan, yang saya ingat, tiketnya murah dan penumpangnya sepi. Itu saja.

stasiun Padang
Jalur Kereta Padang – Pariaman

Lanjutkan membaca “Naik Kereta Api Padang”

Solo – Sukoharjo Jalan Kaki

Screenshot_2018-02-25-09-46-55-55Niat awalnya sih, saya mau lari dari Solo sampai Sukoharjo. Betulan lari. Atau minimal, banyakan larinya daripada jalannya. Tapi tidak kuat ternyata. Jarak dari tempat saya menginap di Solo sampai rumah teman saya di Sukoharjo itu sekitar 16 km, kata Google Maps. Dulu saya pernah ikut lari Half Marathon (21 km), itu bisa separuh lebih lari. Masak yang ini jaraknya lebih pendek gak bisa. Gitu awal mikirnya. Tapi apa daya, ternyata kuat larinya cuma 5 km pertama saja, sisanya jalan.

Sukoharjo itu, menurut saya, semacam kota satelitnya Solo. Mirip dengan Bogor-nya Jakarta atau Sidoarjo-nya Surabaya. Banyak yang berrumah di Sukoharjo, tetapi sehari-hari kerjanya di Solo. Lanjutkan membaca “Solo – Sukoharjo Jalan Kaki”

Subuh di Halim Perdanakusuma

halim
Subuh di Halim Perdanakusuma

Beberapa bulan terakhir, kalau lagi tugas di Semarang, saya ambil jadwal Citilink 5:15 dari Halim Perdanakusuma, atau yang kalau di Traveloka disingkat HLP. Sejak HLP menjadi bandara komersil, saya lihat kemajuannya cepat sekali. Kemajuan dari sisi tenant yang buka semakin banyak, dan juga dari pengunjung yang semakin ramai. Sekarang, banyak yang lebih memilih HLP daripada CGK. Termasuk saya. Cuma setengah jam naik ojeg dari rumah Lanjutkan membaca “Subuh di Halim Perdanakusuma”

Lari di Semarang

Sekarang saya jadi senang lari.

Jadi waktu ditugaskan ke Semarang, ada waktu senggang, ya lari. Dari tempat saya menginap di daerah Pandanaran, menuju Lawang Sewu. Lanjut ke Jalan Pemuda, sampai Kota Lama Semarang. Baliknya lewat Jalan Gajah Mada, sampai Simpang Lima.

Yang menarik adalah, saya ketemu beberapa mading koran. Semacam mading atau papan pengumuman di pinggir jalan, yang isinya koran yang ditempel-tempel. Ahh.. sayangnya saya lupa lihat, itu koran basi atau koran hari itu. Kelihatannya beginian sih bagus ya, karena saya lihat ada saja tuh yang baca.

IMG20171118064004
Mading koran di Semarang

Lanjutkan membaca “Lari di Semarang”