Car Free Day Pandaan

20161211_080747
Car Free Day Pandaan

Dua minggu sekali, pada hari Minggu, Pandaan selalu mengadakan Car Free Day (CFD). Tapi ini CFD beda banget. Tidak ada orang lari di jalur CFD. Yang ada tukang jualan macam-macam, kebanyakan makanan. Banyak juga yang jual pakaian dan mainan anak.
CFD memblok jalan RA Kartini, menutup akses jalan menuju restoran yang cukup eksis di Pandaan: IBC (Ikan Bakar Cianjur). Jalan ditutup pukul 6.00 – 10.00.

Car Free Day Pandaan
Jalur Car Free Day Pandaan

Ada panggungnya loh. Kata teman saya sering dipakai buat ibu-ibu senam. Tapi sekali lagi, tidak ada orang lari! Yang suka lari malah larinya di Taman Dayu.

Iklan

Singapura: Tahanan Imigrasi

Buat banyak orang, urusan imigrasi di Singapura jauh lebih mudah dan lebih cepat dari yang saya hadapi. Hanya karena nama saya Muhammad Iqbal, repot banget urusannya.

Pertama kali saya ke Singapura adalah bersama anak dan istri saya pada akhir 2015, lewat Changi Airport. Anak dan istri saya sudah lewat imigrasi. Saya ditahan dulu. Disuruh masuk dalam suatu ruangan. Tidak ada informasi apa-apa. Hanya disuruh masuk saja. Lah kita kan bingung dan coba menebak-nebak kenapa ditahan?

Tadinya saya pikir karena penampakan saya yang dicirikan sebagai “teroris” oleh media kebanyakan: jenggot lebat dan jidat hitam. Tapi tidak juga, saya lihat para tahanan imigrasi itu juga ada beberapa wanita yang malah pakai rok mini.

Ada sekitar 15 orang “tahanan” dalam ruangan itu. Sebagian besar saya lihat passport nya dari negara di Asia Tenggara. Sekitar 2-3 orang dari Indonesia. Saya sempat tanya dengan orang Indonesia yang ada di situ, kenapa sih kita ditahan? Mereka juga bingung.

20170414_183639Satu demi satu dari kami dipanggil. Setelah dipanggil tidak kembali lagi, jadi tidak bisa ditanya tadi diapain? Satu demi satu “tahanan” baru juga masuk, dengan muka kebingungan.

Setelah hampir satu jam menunggu, nama saya dipanggil, dihadapkan dengan seorang yang dari nada bicaranya sih ramah. Saya ditanya mau ke mana? Dengan siapa? Menginap di mana? Urusan apa? Kuliah di mana? Kerja di mana? Emailnya apa? Berapa hari di Singapura? Keluar Singapura kapan? Lewat mana? Dst…

Untuk penahanan pertama ini, saya jawab dengan nada ramah. Petugasnya bilang, ini protokol yang harus dilakukan. Oh ya sudah…

Kedua kalinya saya ke Singapura, bersama dengan teman-teman kantor, saya kembali ditahan. Disuruh menunggu di dekat kantor imigrasi. Setengah jam kemudian datang petugas menanyakan hal-hal yang sama seperti kedatangan saya yang pertama. “Cuma pengecekan random,” kata petugas.

Ketiga kalinya, begitu lagi. Ditahan lagi. Ditanya-tanya lagi. Saya kesal juga, kenapa tiap masuk Singapura ditahan dulu sih? Dijawab sama petugas, “Your name is like a crime.”

Lah terus apa akan begini terus tiap ke Singapura? Apa nama saya tidak bisa dihapus dari list mereka? Toh sudah beberapa kali ke Singapura tidak kenapa-kenapa kan? Kata petugasnya, tetap loh tidak bisa. Jadi prosesnya akan begitu terus setiap masuk Singapura.

Jadilah saya setiap ke Singapura pesan ke barengan, kalau mau jalan duluan silakan, kalau mau nunggu ya bisa jadi satu jam. Tunggu di pintu keluar setelah pengambilan bagasi.

Keempat dan kelima kalinya saya ke Singapura, begitu lagi. Ditahan lagi. Keenam, ketujuh…. sampai kesebelas kalinya masih sama. Berat memang nih nama Muhammad Iqbal.

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

img-20150815-00548
Bus menuju Kuching

Hari Ketiga, 17 Agustus 2015. Saya dan Umar menuju Kuching dari Serian dengan bus besar. Tarifnya RM5 atau sekitar Rp17 ribu untuk sekali jalan. Jalanan lengang, tidak ada macet. Jalannya seperti jalan tol, tapi motor boleh masuk. Tidak ada bayar tol juga. Jalannya lebar dan mulus.

Mobil-mobil pribadi yang banyak saya lihat adalah Proton. Ini adalah produk asli Malaysia. Modelnya macam-macam, tidak monoton. Kalau di Indonesia bagaimana? Apa kabar mobil nasional? Apa konsumen Indonesia senang pakai mobil nasional?

Sampai Kuching, saya masuk sebuah mal yang kalau di Jakarta mirip-mirip ITC. Pakaian mahal-mahal. Elektronik kurang lebih sama. Kalau urusan motor, nah mereka ketinggalan. Masak motor yang dipajang di mal itu modelnya seperti Astrea Grand yang di Indonesia dipasarkan sekitar tahun 90-an. Jadul banget.

img-20150816-00558
Jajanan di Kuching

Di luar mal banyak penjual makanan. Harganya kurang lebih sama seperti di Indonesia. Chicken Rice RM4, Fried Chicken Rice RM5, Hot dog + egg RM2,4, Hot dog + egg + cheese RM3,5.Makanan-makanan itu dijual di tempat seperti kaki lima di Indonesia.

Jalan sedikit dari mal itu, saya menuju Waterfront Kuching, melewati patung kucing yang besar. Waterfront adalah istilah untuk tepi laut atau tepi sungai. Kondisinya terawat bersih. Air sungainya juga bersih sekali. Malah ada yang jual jasa wisata naik kapal menyeberang sungai untuk menikmati sungai yang bersih itu.

Kebetulan waktu itu sedang ada pameran gratisan di Waterfront. Seperti pameran budaya di Indonesia. Jadi Negara-negara bagian di Malaysia buat stand dan menampilkan budayanya masing-masing. Kurang lebih sama seperti pameran di Indonesia, saya kurang tertarik.

Hanya 1 jam saya di Kuching, lalu cari bus balik menuju Serian lalu ke Tebeddu. Tebeddu adalah perbatasan Malaysia yang langsung nempel dengan Entikong. Saya cap passport lagi, lalu kembali ke Tayan untuk bekerja kembali seperti biasa.

Tiga hari perjalanan saya ini ditukar dengan pengalaman yang luar biasa. Ketemu teman baru, mendengar cerita-cerita baru, melihat hal-hal baru, menikmati makanan baru, mencoba angkutan umum baru, merasai budaya baru. Luar biasa…

 

#HABIS

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Ini adalah perjalanan hari kedua, 16 Agustus 2015.

Umar berprofesi sebagai penjual sayur mayur. Jadi sejak subuh dia sudah keliling dengan motor tuanya dengan gendongan besar di sebelah kanan kiri motornya. Umar keliling ke kampung-kampung sekitar. Sosoknya sederhana sekali, uang hanya dicari seperlunya saja, asal bisa makan dan bisa shodaqoh untuk masjid di dekat rumahnya.

TIba-tiba dia datang dengan membawa banyak durian. “Durian di sini dagingnya empuk, tebal, dan manis. Mas Iqbal harus coba!” Langsung saya sikat. Padahal semalam saya hanya ngobrol biasa saja, menyampaikan bahwa saya senang sekali makan durian. Paginya langsung dibawakan.

Tidak lama kami berkemas untuk menuju Serian. Pertama menggunakan angkot menuju Entikong. Angkotnya seperti kebanyakan yang ada di Jakarta. Ongkosnya seingat saya Rp12 ribu untuk perjalanan sekitar 30 kilometer. Jalanan sepi dan berkelok-kelok.

Saya periksa kembali passport saya, kuatir lupa dibawa. Alhamdulillah ada. Passport masih kosong, belum ada satupun cap. Sebentar lagi saya mendapat cap pertama.

Entikong bukanlah kota, tetapi lebih mirip desa yang ramai. Banyak penginapan. Banyak penjual makanan. Saya dan Umar langsung menuju loket imigrasi untuk minta cap.

img-20150816-00570
Pos Imigrasi Entikong

Pertama, loket Indonesia, lalu loket Malaysia. Keduanya mudah. Petugas beberapa kali melihat wajah saya, memastikan sama dengan foto yang ada di passport. Suasana loket Malaysia terlihat lebih sepi lebih teratur. Di loket Indonesia banyak orang, banyak pedagang, termasuk pedagang nomor Malaysia dan pedagang RInggit. Saya beli satu nomor Malaysia seharga RM10 atau setara Rp35 ribu. Sekaligus saya tukar rupiah dengan ringgit.

Tidak jauh dari loket Malaysia terlihat beberapa mobil angkutan umum. Bentuknya agak besar seperti mobil L300. Umar menyebutnya “Len”. Ini sebutan untuk angkutan umum yang lazim saya dengar juga di daerah Jawa Timur. Entah orang Malaysia menyebutnya apa.

img-20150815-00544
Len dari Tebeddu (perbatasan Entikong) ke Serian

Kami naik len itu menuju Serian. Tapi len baru berangkat setelah penumpang ramai. Jadi budaya “ngetem” ya ada juga di Malaysia. Bedanya, di Malaysia, kalau sudah jalan, ya jalan terus sampai tujuan.

Sampai Serian, kami masuk pasar yang lokasinya dekat dengan terminal. Ada penjual minuman segar, harganya flat RM1 atau sekitar Rp3.500. Ada air tebu, ada laici, dan air Bandung. Kok bisa ada bandung di sini? Lagipula, apa itu air Bandung?

Pasarnya mirip pasar tradisional di Indonesia, tapi lebih bersih. Yang dijual kurang lebih sama. Kebanyakan penjual di sini yang saya perhatikan adalah dari etnis Melayu, Dayak Iban, dan China. Dayak Iban adalah Dayak yang agak Chinese. Kulitnya putih atau kuning langsat.

img-20150815-00546
Roti Cane

Agak keluar dari pasar, saya mampir ke tempat makan roti cane. Penjualnya orang India yang kesulitan bahasa melayu. Buat saya, di sini lebih enak pakai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Lebih jelas maksudnya sama. Kalau bahasa Indonesia, memang mirip dengan bahasa Melayu, tapi banyak tidak nyambungnya.

Roti cane di sini enak sekali. Murah juga. Saya dan Umar makan sampai puas dengan cane, kari kambing, teh tarik. Sudah nambah-nambah segala, habisnya RM18 atau sekitar Rp60 ribu.

Saya dan Umar dijemput temannya Umar, namanya Pak Sukino. Dia orang Jawa juga, merantau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih banyak hasilnya. “Tapi tidak lama lagi saya kembali ke Jawa, sekitar 6 bulan lagi,” kata Pak Sukino.

Pak Sukino, saking lamanya di Malaysia, sudah berlogat melayu. Logat Jawanya sudah hilang blas. Dia bekerja di pabrik kecil yang mengolah kayu besar menjadi potongan-potongan kayu kecil. Dia membuat rumah sederhana di dekat pabrik tersebut. Anak buahnya kebanyakan orang Malaysia, yang juga membuat rumah-rumah sederhana di dekat pabrik.

Pak Sukino bercerita tentang bosnya yang orang China yang tinggal di Malaysia Barat, mungkin Kuala Lumpur. “Dia kalau ke sini pakai passport,” kata Pak Sukino.

Loh kok sama-sama Malaysia tapi pakai passport?

Setelah saya Googling, memang tidak semua warga Malaysia bebas masuk ke semua wilayah Malaysia. Serawak punya peraturan khusus. Orang Malaysia di luar Serawak yang ingin masuk Serawak harus mengurus Pass Khusus atau Passport Biru atau Dokumen Perjalanan Terhad (DPT). Urusannya di Kantor Imigrasi juga.

Itu adalah syarat yang diberikan Serawak ketika diminta masuk dalam satu Negara Malaysia. Kalau Malaysia menolak syarat itu, mungkin Serawak akan masuk Indonesia kali ya… atau bikin Negara sendiri.

Kembali ke Pak Sukino. Dia juga bercerita tentang WNI yang bekerja tanpa surat. WNI itu memang punya passport, tapi hitungannya bukan bekerja. Jadi jatah tinggal di Malaysia-nya hanya 30 hari. Setiap bulan, WNI itu harus menuju perbatasan untuk mendapat perpanjangan lagi. “Itu disebut cop pusing,” kata Pak Sukino.

Masih banyak yang kami obrolkan, termasuk cerita-cerita sensitif yang tidak pantas saya ceritakan di sini. Kami ngobrol sampai tengah malam.

 

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)

Sudut Pandang Baru dari Kereta Ekonomi

Belakangan ini, saya jadi sering pakai kereta ekonomi kalau muter-muter Jawa. Awalnya dulu dicemplungin sama anak-anak Backpacker Indonesia. Banyak dari mereka yang ke mana-mana pakai kereta ekonomi, biar irit katanya. Buat saya, kereta ekonomi ini bukan irit, tapi irit banget! Harga tiketnya bisa cuma 20% harga tiket kereta bisnis/eksekutif. Dan dia gak ikutan naik di waktu harga kereta bisnis/eksekutif naik, misal pas liburan atau lebaran.

Memang sih, kalau punya duit, saya mending naik bisnis/eksekutif karena jelas dapat kursi dan gak ada orang jualan. Tapi di kereta ekonomi ada nilai lebihnya juga yang susah saya dapat di kereta bisnis/eksekutif: sudut pandang baru.

Kebanyakan yang naik kereta ekonomi ini, setahu saya, orang-orang menengah ke bawah, ya kuli bangunan, pedagang kaki lima, satpam, dsb, atau orang-orang yang sedang pakai topeng menengah ke bawah, macam mahasiswa itu lah.

Mereka ini baik baik loh, suka nawarin makan, suka ngajak ngobrol, suka kasih info rute, mau dititipin barang kalau mau ke WC. Bagian yang paling saya suka adalah, mereka suka ngobrol dan pengalamannya banyak yang menarik dan suka beda sama berita yang saya dengar di TV.

Kereta ekonomi Matarmaja. Dok: http://www.ucuagustin.blogspot.com

Saya pernah ketemu sepasang suami istri. Mereka sering ke senayan buat jualan, aslinya orang Jawa Timur. Sang istri dulu pernah jadi TKW di Arab. Dia bilang, berita di TV itu salah. Kalau ada TKW yang digebukin atau diperkosa, itu salah TKW nya, bukan salah bironya. Kalau TKW nya nurut apa yang diminta majikan, dia gak jahat kok. “Saya kan bertahun-tahun di sana, saya tahu karakter orang Arab, saya tahu karakter TKW kita, saya paham situasi, jadi saya tahu mana yang salah.”

“Yang biasanya gak bener kerjanya itu orang Sunda sama NTB. Kalau orang Jawa Tengah nurut-nurut jadi gak ada masalah sama majikan.”

Dia lanjut cerita, kalau masalah digebukin, disetrika, diperkosa, itu mah gak usah ke Arab, di Jakarta juga banyak. Tapi kok gak pernah atau jarang masuk TV? Ya itu karena majikannya terkadang orang berada dan punya pengaruh, nanti kalau diangkat, medianya yang ikutan kena gebuk.

Nah, cerita yang begini-begini yang bikin saya punya sudut pandang baru. Selama ini kan kesan yang dikasih TV ke otak kita, majikan luar yang brengsek, tapi di kereta ekonomi saya dapat pandangan bahwa TKW juga ada salahnya kok.

Si suami nambah cerita pengalamannya jualan di JCC Senayan. “Pokoknya kalau ada pameran computer, itu panen deh,” langsung to the point. Iya sih, saya 2 kali ke Indocomtech, kayaknya butuh dibangun fly over dari dalam ruangan pameran ke parkiran, saking ramainya orang.

Pesan yang saya pegang betul, “Jangan beli teh yang biasa dijual pakai gelas plastik besar. Itu pakai air keran!” Kelihatanya memang segar, tapi gak sehat. Saya gak langsung percaya, mungkin aja ini Cuma suudzon. Tapi logikanya, memang itu lebih riskan sih dibanding minuman kemasan. “Tau berapa modal mereka terus bisa dilipat jadi berapa?”

“Berapa Pak?”

“Lima belas ribu jadi empat ratus ribu. Ya iyalah wong pakai air keran.”

Atau pengalaman lain di kereta ekonomi, dulu saya pernah ketemu anak muda, sekitar umur 20 tahun. Dia dari Madura tapi pindah ke Jakarta. Di Madura kerjaan dia sehari-hari bikin garam, bantu orang tuanya. Dengan kerja Cuma setengah hari, dia bisa dapat 2 juta sebulan. Tapi dia milih hijrah ke Jakarta buat jadi buruh yang gajinya gak nyampe 1 juta sebulan, itu pun mesti dihadapkan dengan biaya hidup yang tinggi.

Saya tanya kenapa pindah. Kan di Madura udah enak? Dia jawab, pengen cari pengalaman. Mungkin dia mau tahu ibukota tuh gimana sih.

Di sini saya juga dapat sudut pandang baru, bahwa walau desentralisasi ekonomi jalan, tapi harus dipikirin juga factor “pengen cari pengalaman”. Pengamat urbanisasi Jakarta yang sering nongol di TV bilang, urbanisasi itu karena di daerahnya gak ada lapangan pekerjaan. Tapi si penghuni kereta ekonomi yang itu pelaku urbanisasinya langsung bilang pengen cari pengalaman, bukan karena di daerahnya gak ada lapangan kerjaan. Bertolak belakang banget kan.

Yah, yang begitu-begitu lah nilai positif kereta ekonomi, bikin saya punya sudut pandang baru, langsung dari yang ngalamin.

Hidden Nusakambangan

Tidak salah kalau orang ditanya apa yang kamu tahu tentang Nusakambangan (pulau di Selatan Cilacap, Jawa Tengah) lalu dijawab penjara yang menakutkan. Karena memang ada empat Lembaga Pemasyarakatan (dulu ada sembilan) yang spesial dibuat untuk penjahat-penjahat besar. Sebutlah Johny Indo, Tommy Soeharto, Bob Hasan.

Pagi tadi, pukul 6.30, Mei 2011, aku, tanpa bekal informasi yang cukup, coba langsung trabas ke Dermaga Wijayapura, satu-satunya dermaga besar formal yang menghubungkan Kota Cilacap dengan Nusakambangan (Dermaga Sodong).

“Pak, saya mau ke Nusakambangan. Bayarnya berapa ya?”

“Kamu dari mana?” kata si petugas di kantor yang pakai pakaian dinas seperti polisi air.

“Dari Jakarta.”

“Maksudnya dari institusi apa?”

“Ya bukan dari mana-mana, saya mau main ke pantainya.”

“Ya tidak bisa. Harus jelas kalau ke sana. Wisatawan tidak boleh.”

“Gak boleh? Saya dari Jakarta loh Pak, ke sini cuma mau ke Nusakambangan.”

“Nusakambangan bukan daerah wisata, mas!”

Arggh! Ini gara-gara terlalu percaya Loney Planet. Di situ ditulis, kapal very berangkat pukul 7 pagi dengan tarif Rp 30.000. Padahal, kapal very itu sama sekali tidak boleh buat wisatawan. Lonely Planet yang kupegang keluaran 2008, sedangkan larangan wisatawan tidak boleh nebeng itu, menurut petugas, sejak sebelum tahun 2000. Kesalahan fatal!

Aku balik ke penginapan di dekat alun-alun. Karena hujan tidak berhenti, siang ini juga tidak bisa keluar. Sorenya aku main-main ke Pantai Teluk Penyu atau kadang disebut orang lokal THR (Tempat Hiburan Rakyat). Ini adalah pantai yang paling favorit buat orang Cilacap.

Garis pantainya cukup panjang dan banyak berjejer kios-kios makanan, ada yang dibuat serius seperti restoran mewah, ada yang cuma bilik bambu. Mirip dengan pantai Ujong Blang di Lhokseumawe, Aceh. Sama-sama punya garis pantai yang panjang, sama-sama punya banyak kios, dan sama-sama dekat dengan tanki minyak (Pertamina di Teluk Penyu, Arun di Ujong Blang).

Teluk Penyu. Dok: pariwisata.cilacapkab.go.id

Padahal ini hari Rabu dan bukan tanggal merah, tapi kios-kios itu tetap buka loh. Menurut orang lokal, memang di sini setiap hari ramai, apalagi tanggal merah. Pantainya biasa saja, tidak ada ombak tinggi bergulung-gulung, tidak ada pasir putih, tidak ada sunset, tidak boleh berenang pula, dan yang gawatnya, ada pemberitahuan bahwa di pantai terkadang ada binatang laut berbisa. Aku pun masih bingung kenapa bisa seramai ini. Mungkin karena tidak ada pilihan wisata lain ya.

Kapal-kapal nelayan yang berjejer-jejer, yang awalnya aku sangka buat cari ikan, rupanya bisa juga untuk alat transportasi ke Nusakambangan. Sial aku baru tahu sekarang! Kalau sudah sore begini sama saja bohong kalau maksain nyeberang ke Nusakambangan.

Aku cuma tanya-tanya saja sama pemilik kapalnya, tentang Nusakambangan dan tarif-tarif kapalnya, mungkin lain kali bisa main ke sini lagi. Pada umumnya, wisatawan naik kapal ini buat ke Nusakambangan. Kapalnya  mirip kapal-kapal carteran buat snorkeling di kepulauan seribu. Rata-rata muat sekitar 15 orang. Alhamdulillah, sudah pakai mesin =)

Mungkin karena ketahuan tidak tahu harga, si pemilik kapal nembak Rp 25.000 per orang untuk ke Nusakambangan (Pantai Karang Pandan). Tapi orang lokal bilang biasanya cuma Rp 10.000. Nyeberang paling cuma 15 menit, pulaunya kelihatan kok. Mirip dari Pantai Sendang Biru ke Pulau Sempu (Malang) atau dari Pantai Iboih (Sabang) ke Pulau Rubiah

Itu terserah kita mau pulang jam berapa, paling telat pukul 17.30 karena jam segitu Teluk Penyu tutup. Selain Pantai Karang Pandan, di sana juga ada Benteng Karang Bolong. Biasanya turis yang datang ya ke dua tempat itu.

Gimana kalau mau camping di Nusakambangan? Ya bisa saja, sudah banyak kok yang camping di Karang Pandan. Nanti izinnya bisa diurus si pemilik kapal, nambah Rp 5.000. Besoknya dijemput sesuai jam kesepakatan. Biasanya si turis dibekali nomor si pemilik kapal, jadi kalau mau pulang tiggal SMS juga bisa (salah satu pemilik kapal: Pak Budi 085726105114). Di Nusakambangan sinyal kuat.

Obrolanku dengan si pemilik kapal terus berlanjut sampai ke sebuah pulau bernama Kampung Laut. Katanya, “Di pulau ini boleh-boleh saja bawa kamera atau HP berkamera, tapi itu tidak akan berguna.” Aku heran, “Loh, kenapa Pak?” Dijawab, “Kita bisa melihat hasil jepretannya selama masih di dalam pulau, kalau sudah keluar, data foto itu hilang dengan misterius.” Hehe, mau coba?

Masih di Kampung Laut, ada sekumpulan batu yang terkadang kalau dipukul tidak keluar bunyi apa-apa seperti batu biasa, tapi terkadang bisa bunyi seperti kendang, walau cuma dipukul pakai tangan. Ini mirip dengan kejadian stalaktit-stalaknit yang ada di Goa Tabuhan di Pacitan.

Pak Budi pasang tarif Rp 450.000 (belum ditawar) per kapal untuk ke Kampung Laut, ditemani camping (atau tidak camping), sampai pulang besoknya. Perjalanan dari Teluk Penyu sekitar satu jam.

“Tapi kalau camping, hati-hati ya mas. Hewan liarnya keluar kalau malam.” Nah loh. Tapi selama di pinggir pantai atau dekat rumah penduduk Insya Allah aman. Silakan dicoba… =)

Buku Bekas di Solo

kios-kios buku yag mayoritas bekas di solo. Dok: Iqbal

Setelah main ke alun-alun Solo, aku mampir ke Tourist Information Center, dekat Sri Wedari. Lumayan, dapat peta wisata Solo gratis. Petugasnya juga kasih info tentang penginapan-penginapan murah, yang Rp 50 ribuan.

Sebetulnya targetku bukan itu, tapi toko-toko buku bekas di belakang Sri Wedari. Kata temanku, kalau nyari buku bekas yang murah ya di situ. Aku tidak punya target mau cari buku apa, tapi kalau ada yang menarik yang beli.

Ada puluhan kios yang berjejer di sepanjang jalan itu. Tidak ada kios yang besar sendiri mendominasi. Kira-kiri mirip Kuitang di Jakarta atau samping Taman Pintar di Jogja. Bedanya, took-toko di Solo ini berjejer lurus, kalau di Jakarta dan Jogja toko-tokonya bergerumul membentuk kotak.

Aku beli buku Lonely Planet SouthEast Asia (tapi terbitan 1998) cuma Rp 25.000, aku juga borong majalah Intisari & Reader’s Digest 10 buah total Rp 25.000, sama beli buku Kabut di Kampus Biru karangan AA Navis Rp 20.000.

Majalah-majalahnya tergolong baru loh. Aku ke sana Februari 2011, tapi majalah terbitan akhir 2010 sudah ada di situ.