Fort de Kock dan Sekitarnya

Yang berdiri kokoh melindungi musuh, bisa jadi di masa datang malah berdiri kokoh menjadi teman. Salah satunya adalah Benteng Fort de Kock di Sumatera Barat. Benteng ini menjadi saksi bisu ketika dirinya melindungi tentara-tentara Belanda yang berlindung dari serangan masyarakat Minangkabau. Terutama ketika terjadi Perang Paderi pada tahun 1821-1837.

Kini, Fort de Kock menjadi daya tarik wisata yang terus dijual pemerintah setempat untuk mendapatkan pendapatan daerah. Ia ada di brosur-brosur wisata dan di review banyak blog yang mudah kita dapatkan di google. Bangunannya tidak sebesar julukan “benteng” yang disandangnya. Ini karena Fort de Kock yang sekarang kita saksikan bukanlah Fort de Kock yang asli yang sudah hancur sejak lama. Namun, beberapa meriam masih terlihat di sekeliling benteng, meriam-meriam yang dulu menembaki warga minang.

IMG20180323180701
Benteng Fort de Kock, Bukittinggi

Berdekatan dengan benteng Fort de Kock, pada tahun 1900-an, Pemerintah Belanda membuatkan Kebun Bunga yang sedikit demi sedikit dimasukkan koleksi hewan. Banyak nama yang pernah disandang Kebun Bunga tersebut, sampai pada akhirnya menjadi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan atau lebih dikenal dengan nama Kebun Binatang Bukittinggi. Ini adalah salah satu kebun binatang tertua di Indonesia dan satu-satunya di Sumatera Barat.

Fort de Kock dan Kebun Binatang Bukittinggi dihubungkan dengan jembatan cantik bernama Jembatan Limpapeh. Tiga tempat wisata tersebut—Benteng Fort de Kock, Kebun Binatang Bukittinggi, dan Jembatan Limpapeh—tidaklah berjauhan dengan icon Sumatera Barat: Jam Gadang.

Jadi kalau mau wisata ke Bukittinggi, mudah saja, karena tempat wisatanya ada di lokasi yang berdekatan.

Cuma yang saya masih agak heran, kelihatannya bangunan yang selalu ditunjuk orang sebagai Benteng Fort de Kock, bukanlah benteng Fort de Kock yang sebenarnya. Itu terlalu kecil untuk disebut sebagai sebuah benteng. Memang di bagian atasnya dan di sekelilingnya terdapat beberapa meriam yang tidak mungkin diangkat oleh seorang dewasa, tapi itu buat saya hanya sekadar pemanis. Benteng seharusnya tidak sesederhana itu.

IMG20180323180159
Jembatan Limpapeh

Maka saya berasumsi, benteng yang sesungguhnya sudahlah runtuh akibat perang. Yang ada sekarang hanyalah sebagian kecil bangunan yang tersisa.

Agak beda ketika saya berkunjung ke benteng ini tujuh tahun lalu, saat ini, 2018, sudah ada tulisan besar Fort de Kock. Tulisannya lebih manis dari bangunan yang disebut benteng. Malah lebih bagus ber-swafoto di tulisannya daripada di bangunannya.

Juga ada semacam kursi ayunan, yang suka ada di pesta-pesta pernikahan. Kursi bamboo rajutan berbentuk seperti sarang burung, yang diikat bagian atasnya ke tiang penyangga yang bertumpu ke dasar. Mudah-mudahan kebayang ya…

Mungkin hanya satu jam saya di dalam Fort de Kock, lantas kembali pulang.

Hati hati dengan Crowde

Saya ingin berinvestasi dengan banyak ragam. Jadi saya taruh dana saya di beberapa tempat. Biasanya di awal investasi saya taruh dana kecil dulu, kalau memang lancar baru ditambah. Nah di Maret 2018, saya coba aplikasi yang namanya Crowde. Di situ bisa terlihat mana saja proyek yang akan berjalan dan berapa dana investasi yang diperlukan.

Screenshot_2018-11-07-16-30-58-61Maka pada 28 Maret 2018 saya investasikan dana saya sebesar Lanjutkan membaca “Hati hati dengan Crowde”

Rasa Langsa

Langsa yang sekarang, dikenal sebagai sebuah kota kecil di Aceh. Letaknya sekitar 4 jam perjalanan dari Medan. Kalau dulu, konon katanya Langsa adalah hutan besar yang dihuni oleh elang besar, makanya disebut Langsa = eLANG beSAr. “Ilmu konon” ini agak didukung dengan adanya patung tugu elang ketika kita masuk kota Langsa dari utara, yaitu di Simpang Comodore.

Nah, sudah sekitar dua bulan saya tinggal di Langsa dalam rangka ngerjain sebuah project IT, mungkin masih sampai beberapa bulan lagi. Dua minggu sekali pulang ke Jakarta, pulang ke keluarga. Pulangnya ini rada sakit, karena Lanjutkan membaca “Rasa Langsa”