Siti Kewe, Cerita Murni dari Takengon

WhatsApp Image 2019-08-02 at 15.09.14Ini cerita tentang Kabupaten Aceh Tengah, yang sekarang diibukotai oleh Takengon. Tepatnya, ini cerita tentang kopi. Ini cerita sejarah kopi. Lebih spesifik, kopi gayo. Tapi tidak seperti buku sejarah biasa, yang ceritanya lurus-lurus saja.

Raihan Lubis, penulisnya, menceritakan sejarah kopi dengan balutan drama kehidupan sehari-hari. Eh tapi bukan drama deng. Kalau drama kan biasanya terkesan berlebihan. Ini tidak. Ini pas. Seperti apa adanya. Apa yang ada, itu yang tertulis. Makanya saya sisipkan kata “murni” dalam judul tulisan.

Ada cerita yang seperti drama. Seolah-olah drama. Tetapi saya sedikit banyak tahu tentang Aceh, sehingga cukup yakin bahwa itu bukan cerita drama. Orang tua saya lahir dan besar di Aceh. Perut saya banyak dimasuki makanan-makanan Aceh. Waktu kuliah, saya tinggal di asrama Aceh di Bogor. Banyak teman saya orang Aceh. Teman dekat. Sehingga saya bisa tahu ini bukanlah cerita drama.

Bahwa ada masanya, orang Takengon takut untuk ke kebun-kebun kopi mereka. Yaitu saat Aceh berstatus darurat militer. Kopi memang jadi penghidupan mereka. Tapi kalau berangkat ke kebun hidup, pulangnya mati, maka itu adalah penghidupan yang mematikan. Lelaki usia kerja, sering kali “diculik” Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk ikut memperjuangkan Aceh merdeka. Sementara, tidak sedikit cerita, TNI “menyiksa” orang-orang yang dianggap pendukung GAM, padahal belum tentu.

Masyarakat yang ada di tengah pertikaian antara GAM dan TNI menjadi korban. Sampai mereka takut untuk keluar ke kebun kopi. Banyak yang akhirnya keluar Aceh untuk mencari ketenangan. Termasuk salah satu tokoh dalam buku ini, meninggalkan rumah dan kebunnya di Takengon demi kehidupan yang lebih tenang.

Tsunami 2004 menjadi musibah besar sekaligus berkah besar untuk Aceh. TNI dan GAM berdamai. Padahal Takengon tidak kena tsunami, karena posisinya yang di tengah, bukan pesisir. Justru Takengon meraup berkah besar keamanan yang sudah lama mereka idamkan. Kebun kopi kembali diurus. Petani kopi tidak takut ke kebun lagi.

Produksi kopi meningkat. Kebun-kebun kembali dirawat. Tahu tidak bagaimana orang Takengon menjaga kopinya?

Kalau urusan pupuk, air, mungkin sama dengan yang lain ya. Lebih dari itu, orang Takengon ngajak ngobrol pohon kopinya! Mereka percaya kalau pohon kopi punya perasaan. Perasaan yang baik, menghasilkan kopi yang baik.

Win, tokoh utama dalam buku ini, adalah orang Takengon yang kemudian pindah dan bekerja di Bali. Seorang eksportir barang tekstil kalau saya tidak salah ingat. Dia belum menikah. Ibunya meminta Win pulang untuk kemudian dikenalkan dengan seorang gadis. Seorang dokter.

Pertemuan keluarga dilaksanakan. Win memaksa dirinya untuk mengikuti kemauan ibunya. Mereka bertemu dengan kondisi formal. Ada senyum dari gadis itu untuk Win, tapi sebentar, lalu senyumnya ditarik lagi, seperti senyum basa-basi.

Besoknya, Win diminta untuk mengenali gadis dokter tersebut dengan lebih dekat. Win menurut. Mereka jalan-jalan berdua. Win menemui sang gadis “terlalu belagu”. Merasa dirinya seorang dokter, dan merasa dokter selayaknya mempunyai strata sosial yang tinggi, membuat si gadis besar kepala. Win tidak mau melanjutkan proses pendekatan.

Malahan, Win mengajak calon istrinya yang dia kenal di Bali, ke Takengon. Seorang bule Eropa. Perjalanan mereka dari Bali ke Takengon, lewat Medan, Biereun, melewati jalan berkelok-kelok, bisa saya resapi karena memang pernah melewati jalur itu.

Sampai di rumah, Win mengenalkan sang bule bukan sebagai calon istrinya. Pertanyaan pertama ibunya Win: apa dia muslim?

Sisi humanis seperti itu banyak muncul dalam buku ini, sehingga tidak terasa belajar sejarahnya, padahal lagi belajar sejarah. Juga dengan percakapan sehari-harinya, menggunakan Bahasa Gayo, yang ternyata jauh berbeda dengan Bahasa Aceh (saya bisa paham Bahasa Aceh, tapi tidak bisa jawab). Di akhir buku, semua percakapan Bahasa Gayo diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Kalau mau belajar sejarah kopi di Takengon, buku ini tepat.

Ohya, dalam proses menulis review buku ini, saya bertanya ke seorang teman yang orang asli Takengon. Saya kirimkan gambar sampul bukunya, pernah lihat buku ini? Dijawab tidak. Dia hanya berkomentar, “(Siti Kewe) itu bahasa gayonya kopi.”

Enam Bulan di Langsa

IMG20190314085853
Kantor Pusat PTPN I Langsa

Akhir September 2018, saya dan tim ditugaskan untuk mengawal pergantian sistem di PTPN I (N1) yang berkantor pusat di Langsa, Aceh. Kami ada belasan orang. Dua di antaranya tim lokal, atau kami sebut “local support”. Satu namanya Desi, satu lagi Tria. Keduanya lulusan Unsiah, universitas terbaik di Aceh. Lanjutkan membaca “Enam Bulan di Langsa”

Cerita dari Kuala Parek, Langsa, Aceh

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.32
Pantai Kuala Parek, Langsa

Kali ini cara berwisata saya agak tidak bisa, dan cenderung tidak bisa diikuti. Berawal dari teman kantor saya di Langsa (Aceh), yang hobi mancing. Namanya Bang Agus. Dia mengajak saya mancing di Kuala Parek. Lanjutkan membaca “Cerita dari Kuala Parek, Langsa, Aceh”

Sabang Dulu dan Sekarang

IMG20190203111010
Sabang, dipandang dari Goa Sarang

Yang saya maksud Sabang dulu adalah tahun 2010 dan 2011. Di kedua tahun tersebut, saya jalan-jalan ke Sabang untuk pertama dan kedua kalinya. Yang saya maksud Sabang sekarang adalah tahun 2019, ketika saya untuk ketiga kalinya ke Sabang, tepatnya 3-4 Februari 2019. Lanjutkan membaca “Sabang Dulu dan Sekarang”

Cerita Pabrik Cot Girek (Aceh Utara)

Yang dulu jaya, sekarang merana. Ini cerita tentang gula Indonesia. Yang dulunya kita menjadi eksportir gula terbesar, sekarang berbalik menjadi importir terbesar. Banyak orang bilang, ini karena pabrik gula yang ada di Indonesia sudah zaman old, sehingga produktifitasnya makin rendah.

img20181222182241
Pabrik Gula Cot Girek

Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman pribadi saya terkait kunjungan ke mantan Pabrik Gula Cot Girek dan singgungan subjektif saya terkait gula. Lanjutkan membaca “Cerita Pabrik Cot Girek (Aceh Utara)”

Ingin Keliling Lagi

Sekarang usia saya 32 tahun. Sudah punya anak satu. Istri juga satu. Tapi gejolak jalan-jalan masih seperti anak umur dua puluhan, yang belum punya anak istri. Tiba-tiba terbayang kembali perjalanan saya waktu umur 25 tahun, setahun sebelum nikah.

Waktu itu, yah biasalah, anak muda baru kerja, punya uang sedikit maunya jalan-jalan. Saya ikutan komunitas Backpacker Indonesia. Tapi kadarnya rada kronis. Sampai keluar kerjaan untuk jalan-jalan keliling Sumatera selama tiga bulan. Sendirian. Lanjutkan membaca “Ingin Keliling Lagi”

Kopi ya Solong

IMG20181124064422Rasanya saya perlu tulis tentang Warung Kopi Solong yang terkenal di Banda Aceh. Bisa dibilang, ini adalah warung kopi yang paling terkenal di Aceh. Kopinya menurut saya murah, yaitu hanya Rp7.000 per gelas kopi hitam saring. Tapi menurut saudara saya yang tinggal di Aceh, segitu mahal, karena rerata harga kopi di Banda Aceh itu Rp5.000, malah ada yang Rp4.000.

IMG20181124064647
Segelas Kopi Aceh di Solong Coffee, Rp7.000

Itu adalah harga ketika kunjungan saya terakhir ke Solong 25 November 2018. Setiap mampir Banda Aceh, saya selalu mampir Solong. Mungkin sudah sejak belasan tahun lalu. Rasanya gak banyak yang berubah dari Solong. Lanjutkan membaca “Kopi ya Solong”