Enam Bulan di Langsa

IMG20190314085853
Kantor Pusat PTPN I Langsa

Akhir September 2018, saya dan tim ditugaskan untuk mengawal pergantian sistem di PTPN I (N1) yang berkantor pusat di Langsa, Aceh. Kami ada belasan orang. Dua di antaranya tim lokal, atau kami sebut “local support”. Satu namanya Desi, satu lagi Tria. Keduanya lulusan Unsiah, universitas terbaik di Aceh.

Dalam keseharian orang Aceh, memanggil sesama teman memang biasa dengan sebutan “Ke” dengan “e” seperti melafalkan hotel. “Ke mau ke mana?” kalau Bahasa Jakarta-nya, “Lu mau ke mana?”

Karena sudah setiap hari si Tria dipanggil “Ke” oleh Desi, maka oleh anggota tim yang lain, Tria dipanggil “Bang Ke” yang lama-lama spasinya hilang menjadi “Bangke”. Tapi Tria tidak marah. Dia baik hati dan hanya tersenyum.

Kami ditempatkan di Hotel Kartika, yang sebetulnya lebih tepat disebut wisma. Setiap pagi sarapan di sini. Yang biasanya makan timphan hanya ketika lebaran, sekarang jadi hampir setiap hari, karena Hotel Kartika sediakan dalam menu sarapannya. Saya menulis review khusus tentang hotel ini di tulisan khusus.

Dari hotel ke kantor naik becak. Agak beda dengan becak di Jakarta, becak di Aceh bukan dikayuh, tapi digas, karena becak ditempel dengan kereta. Agak beda dengan kereta di Jakarta, kereta di Aceh rodanya tidak banyak, hanya dua.

Kantor Pusat N1 punya bentuk bangunan yang unik, ada topinya. Khas topi Aceh: meukutob. Topi ini biasanya dipakai oleh pengantin pria waktu menikah. Atau lelaki ketika berperang. Untuk yang terakhir ini, tepatnya saya hanya melihat Teuku Umar yang dipersepsikan selalu memakai topi meukutob.

Ada enam kebun dan tiga pabrik yang dimiliki N1. Sudah dua kali saya keliling ke kebun pabrik itu. Yang paling menarik adalah Cot Girek, karena punya jejak historis yang dalam. Ada tulisan khusus tentang Cot Girek dan pengalaman saya ketika ke sana.

Pada jam kerja, saya bertualang mencari cara agar N1 mampu melewati masa-masa sulitnya ketika mengganti sistem. Ini bukan hanya mengganti sistem, lebih jauh, ini perubahan cara pandang untuk bisa berkaca: apakah bisnis proses yang selama ini kita jalankan sudah betul?

Lompat dari meeting satu ke meeting yang lain, training satu ke training lain, perdebatan satu ke yang lain. Sampai akhirnya bisa Go Live sistem pada 1 Januari 2019. N1 berani langsung single system. Sistem lama langsung ditinggalkan. Tiba-tiba saya teringat kisah Thariq bin Ziyad yang membakar kapalnya ketika sampai Spanyol: tidak ada kata mundur. Jalan untuk mundur sudah dibakar. Spanyol-pun takluk.

N1 tidak seheroik itu sih, hehe. Tapi bahwa berani memilih single system, itu hebat.

Di luar jam kerja, saya bertualang menambah wawasan otak, mayoritas lewat Youtube, hehe. Tidak jarang, saya keluar ngopi dan ngobrol berjam-jam. Salah satunya adalah ketika ngopi dengan personil polisi syariat atau WH. Mereka punya tantangan internal sendiri, terkait pendanaan operasional, SDM, lemahnya taring si macan, yang kemudian saya tuangkan dalam tulisan khusus WH si Macan Ompong.

Ngopi di Langsa tidak pernah mengecewakan. Mayoritas kopinya enak. Ada sebagian saja yang rasanya tidak karuan. Saya peminum kopi tanpa gula. Kalau ketemu kopi tidak karuan, baru saya tambahkan gula, supaya rasa tidak karuan itu tertutup dengan manis. Sejauh ini, yang paling enak menurut saya adalah kopinya Pos Kopi. Ngopi tidaklah mahal seperti di Jakarta yang sekali ngopi setidaknya habis Rp30.000 (bukan kopi sachet). Di Langsa rata-rata hanya Rp6.000.

Begitu juga mie aceh. Saya sempat kaget waktu awal-awal makan mie aceh di Langsa. Berapa bang? Delapan ribu perak? Saya ulangi sekali lagi, “Delapan ribu perak, Bang??”

Itu harga untuk mie aceh yang polos. Kalau pakai telur Rp10.000. Kalau pakai daging sekitar Rp18.000. Harga itu tidak jauh berbeda dari satu warung ke warung lain.

Yang saya amati, ekonomi Langsa masih dikuasai warga Langsa sendiri. Ini bagus dan keren. Becak-becak masih dimliki oleh yang mengayuh. Warung-warung kopi masih dimiliki orang Aceh, bahkan kerap kali pemliknya ikut melayani pengunjung. Hotel dan losmen masih dimiliki orang Aceh. Tempat-tempat makan, termasuk yang bagus-bagus seperti di Bonsai, juga masih punya orang Aceh. Kapal-kapal yang lewat di sungai besar, punya orang Aceh. Hebat….

Ada jatah pulang yang diberikan kantor untuk saya, yaitu dua minggu sekali. Jadi tiap dua minggu saya ke Kuala Namu untuk kemudian terbang ke Jakarta. Biasanya pesawat Jumat malam ke Jakarta, lalu pesawat kembali ke Medan pada Senin subuh.

Di Jakarta, tentu saja waktu dihabiskan untuk keluarga. Sesekali saya ajak keluarga ke luar kota, seperti menginap di puncak, berenang di pulau seribu, atau sekadar makan es krim di mal.

Kalau weekend di Langsa, hampir selalu saya kelayapan ke luar Langsa. Paling sering main ke Lhokseumawe, karena ada saudara di sana. Dua kali kami satu tim jalan-jalan bareng. Pertama ke Sabang. Kedua ke Takengon.

Pernah juga saya sekali diajak mancing di Kuala Parek. Ini pantai pasir putih yang tidak jauh dari Langsa, tapi memang aksesnya agak sulit. Tidak tercapai dengan jalan darat, harus sewa kapal menyusuri sungai. Saya menulis pengalaman ini dalam tulisan khusus.

Seperti proyek-proyek pada umumnya, selalu ada batasan waktu. Pun juga dengan proyek saya di N1. Batasan waktu ini yang paling menyebalkan dari satu siklus proyek. Selain karena secara emosional sudah melekat dengan tim proyek yang terlibat, juga karena harus membuka lembaran baru untuk siap diisi dengan cerita baru. Ini berat sekaligus menantang. Sulit, tapi harus dilakukan. Itulah yang terjadi pada Maret ini.

Cerita dari Kuala Parek, Langsa, Aceh

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.32
Pantai Kuala Parek, Langsa

Kali ini cara berwisata saya agak tidak bisa, dan cenderung tidak bisa diikuti. Berawal dari teman kantor saya di Langsa (Aceh), yang hobi mancing. Namanya Bang Agus. Dia mengajak saya mancing di Kuala Parek.

Jam 6.30 pagi, Kamis 7 Maret 2019, kami berangkat dari Langsa ke arah Peurelak, sekitar hampir satu jam naik motor dengan jalan santai. Sampai di sebuah jembatan besar yang mengangkangi sebuah sungai besar. Nama daerahnya Rantau Panjang.

Ohya, sebelumnya beli sarapan dulu di pinggir jalan. Nasi gurih pakai telur 3 bungkus plus gorengan 6 buah, dibungkus. Totalnya hanya Rp26.000 dong. Murah banget. Berarti nasinya sebungkus enam ribu perak, sudah pakai telor….

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.56
Nasi Gurih pakai telur Rp6.000

Setelah jembatan, kami belok kiri turun ke perkampungan pinggir sungai, mungkin perkampungan nelayan. Di situlah Bang Agus langsung ke rumah yang punya kapal untuk kami sewa. Seharian hanya Rp100.000. Bensin sekitar Rp50.000. Udang segar buat umpan satu bubu Rp60.000 (ada puluhan udang sepanjang jari tengah). Sama es dan air minum. Semua tidak sampai Rp300.000.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.55
Puluhan udang hidup di dalam bubu untuk umpan

Langsung kami jalan naik kapal. Kami bertiga. Kapalnya bisa muat 4-5 orang. Langsung tancap gas susuri sungai besar itu. Kanan kiri adalah hutan bakau yang sedap dipandang.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.31
Persiapan kapal sebelum berangkat

Bakau sepanjang jalan. Kalau saya dilepas di tengah-tengah hutan bakau ini, ya jelas tersesat. Wong kanan kiri depan belakang bakau semua. Sempat saya buka Google Maps, terbaca memang titik posisi saya, tapi ya sudah di tengah-tengah begitu saja. Sungai yang kami lewati tidak terdeteksi sebagai sungai di Google Maps.

Sudah jalan sekitar satu jam, saya melihat ada perkampungan di pinggir sungai, namanya kampung Matang Nibong. Bang Agus cerita bahwa di kampung itu, orang membuat arang dari kayu bakau. Membuat arang itu dengan mengasapi kayu bakau, bukan dibakar. Kalau dibakar ya kebakar dong, bukan jadi arang, malah jadi abu.

Sempat berhenti di tengah sungai untuk mancing sekaligus mendinginkan mesin kapal. Ini pertama kalinya saya mancing. Bang Agus dengan santai masukkan tangannya ke bubu untuk ambil udang sebagai umpan. Padahal udang kan bisa kibaskan ekornya lumayan pedas. Tapi katanya gak sakit tuh. Bagian badan belakang (mendekati ekor) dari udang hidup itu dikaitkan ke mata kail.

Sekitar setengah jam menunggu, tidak ada satupun ikan yang menyentuh kail. Sambil kami sarapan. Selesai sarapan, mesin sudah agak dingin, berangkat terus ke Kuala Parek.

Di muara sungai, yang sudah berbatasan dengan laut, saya melihat banyak alat penangkap ikan yang disebut dengan “ambe”. Saya juga kurang paham cara kerjanya. Yang jelas, menggunakan jaring. Ini adalah cara tradisonal untuk menangkap ikan, cumi, dan udang.

Lanjut ke Pantai Kuala Parek. Nah di sini kami berlabuh. Airnya tenang, pasirnya halus. Sarang kepiting ada ribuan. Kepiting pemalu, dia akan langsung masuk sarang kalau kita mendekat.

IMG20190307100134
Pantai Kuala Parek, pasirnya putih dan halus

Dari kejauhan, melihat ada yang berlabuh, beberapa kucing langsung berlarian. Agak heran juga kok banyak kucing di sini? Mungkin ada sepuluh ekor. Mereka mengeong dan menggesek-gesekkan kepalanya di kaki saya. Mungkin dikira saya nelayan yang bawa ikan kali ya.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.58
Kucing mendekati yang berlabuh

Kuala Parek punya banyak pohon cemara. Unik juga ya, pohon cemara di pinggir pantai. Biasanya kan bakau atau pohon kelapa. Di pinggir-pinggir pantai, ada yang menanam pohon bakau juga, masih kecil-kecil.

Di bawah pohon, banyak berteduh umang-umang. Jumlahnya puluhan, dengan bentuk rumah yang beragam. Ada yang memanjang, ada yang bulat, ada yang tajam-tajam. Warnanya juga beragam.

IMG20190307095635
Umang umang di Kuala Parek

Saya menuju ke sebuah rumah kayu dengan atap dari daun nipah. Tidak ada orang di dalamnya. Ada semacam balai-balai di depan rumah. Langsung tidur di situ. Ah nikmat sekali bisa meluruskan badan. Setengah jam kemudian saya terbangun dengan badan segar.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.51.01
Tidur di sebuah rumah kayu, bersama kekucing

Langsung berenang. Airnya menyejukkan, di tengah udara yang sangat panas. Berjalan di atas pasir saja saya tidak kuat, saking panasnya. Jadi pas banget lah berendam air laut.

Bang Agus mancing terus. Dapat satu ikan kecil. Akhirnya dikasih ke kucing.

Kami pulang sambil berhenti di beberapa titik untuk mancing. Saya berenang. Agak dalam, mungkin sekitar 10 meter. Tidak kelihatan dasarnya. Arusnya deras, jadi jangan jauh-jauh dari kapal, kuatir terbawa arus. Saya hanya berenang di sekeliling kapal saja.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.31 (1)
Perjalanan dengan kapal motor sederhana

Tepatnya di Kuala Bayeun, ada kapal yang lewat, dibilang, awas dimakan ikan. Waduh, apa ada ikan besar di sini? Terus ada kapal lewat lagi, bilang hal yang sama. Saya langsung naik ke kapal. Ada apa di bawah sana?

Kami mampir ke perkampungan yang tadi kami lewati ketika berangkat. Perkampungan di tengah hutan bakau. Mampir di sebuah warung untuk makan mi. Bang Agus kenal dengan banyak penduduk sini karena memang pernah tinggal di sini.

Harga mi murah banget. Jadi kami tadi kasih udang yang rencananya mau jadi umpan (separuh lebih umpan tidak terpakai) untuk dimasak terus dimasukkan ke mi. Total bayar hanya Rp24.000. Itu sudah termasuk mi 3 piring dan air mineral 3 gelas. Juga termasuk jasa olah udang.

Bang Agus beli ikan kakap ke nelayan lokal seharga Rp90.000 untuk sekitar 3kg. Mungkin dia tidak enak sama keluarganya, pulang mancing kok tidak bawa ikan?

Kami sampai di tempat penyewaan kapal jam 4 sore, dan baru sampai Langsa lagi jam 5 sore. Langsung tidur. Tersisa belang di kaki saya karena waktu di kapal, sebagian kaki tidak tertutup pakaian. Cokelat dimakan matahari.

Video dokumentasi singkat tentang Pantai Kuala Parek ada di sini.

Sabang Dulu dan Sekarang

IMG20190203111010
Sabang, dipandang dari Goa Sarang

Yang saya maksud Sabang dulu adalah tahun 2010 dan 2011. Di kedua tahun tersebut, saya jalan-jalan ke Sabang untuk pertama dan kedua kalinya. Yang saya maksud Sabang sekarang adalah tahun 2019, ketika saya untuk ketiga kalinya ke Sabang, tepatnya 3-4 Februari 2019.

Saya ingin bicara pada persamaannya dulu, antara Sabang dulu dan sekarang. Sama-sama ada opsi kapal cepat dan kapal lambat untuk menyeberang dari Ulhee Leueu (Banda Aceh) ke Balohan (Sabang).

Sama-sama aman. Dulu, saya ingat betul teman bercerita, biarkan saja kunci motor menggantung di motor. Tidak akan hilang. Kalau ada yang mengambil, tunggui saja di pelabuhan besoknya. Pada akhirnya akan ketemu. Sabang sekarang juga begitu. Bahkan mobil yang kami sewa juga dipesani sama yang punya, “Kalau mau pulang ke Banda, taruh saja mobil di parkiran Balohan (Pelabuhan di Sabang).” Lah terus kuncinya gimana? Taruh saja di dalam mobil. Tinggalkan mobil dalam keadaan tidak terkunci. Dan itu yang kami lakukan, sesuai instruksi.

Nah, sekarang perbedaannya, antara Sabang yang dulu dengan yang sekarang. Saya kaget betul dengan Pantai Iboih yang sekarang. Dulu, Iboih sepi, hanya ada satu dua turis asing yang berjemur di pinggir pantai, atau diving. Sekarang, wih, ramai sekali dengan wisatawan lokal. Kami malah sampai putar 3 kali saking sulitnya cari parkiran mobil.

IMG20190203184831
Pantai Iboih: tidak ada yang snorkelling

Dulu, saya cukup snorkelling di Pantai Iboihnya saja, tidak perlu sampai Pulau Rubiah. Itu ikan sudah banyak, karangnya bagus. Sekarang, tidak saya lihat ada yang snorkelling di Pantai Iboih. Semua pada ke Pulau Rubiah. Naik kapal motor nelayan berkapasitas sekitar 10 orang, dengan tarif Rp200.000.

Kirain tarif segitu sudah untuk snorkelling di beberapa spot. Rupanya hanya untuk nyeberang ke Rubiah, terus nanti dijemput lagi pulang ke Pulau Iboih. Nyeberangnya paling hanya 10 menit.

IMG20190203171417
Snorkelling di Rubiah

Udah gitu di Rubiah juga karang sudah banyak yang mati. Pengelola memberikan semacam border apung. Mungkin maksudnya batas boleh snorkelling hanya sampai situ. Namun memang ikan-ikannya masih banyak. Saya malah ketemu bintang laut berwarna biru dan ular laut berwarna abu-abu.

###

Saya cerita ringkas perjalanan saya yaa…

IMG20190204092249
Ulee Lheueu

Minggu 3 Februari 2019 jam 7 pagi sudah ada di Pelabuhan Ulhee Leueu, naik mobil yang kami rental dari Langsa. Masuk Ulhee Leueu yang parkiran kapal cepat. Parkirannya ada di semacam bangunan besar, seperti GOR. Karcis yang dikasih ke kami hanya secarik kertas bertuliskan tanggal masuk, plat nomor, dan keterangan “Lunas 1 malam”.

IMG20190204091722
Tiket parkir mobil di Ulhee Leueu

Masuk pelabuhan, menunggu kapal cepat yang direncanakan berangkat jam 8 pagi, tapi baru berangkat 8.15. Harga tiketnya Rp80.000 dan beinya harus pakai KTP.

Satu jam saja, sudah sampai. Langsung cari Bang Jal, orang lokal yang sebelumnya sudah saya hubungi untuk disewa mobil dan homestay nya.

Langsung menuju homestay punya Bang Jal, di daerah Cot Ba’u, hampir ke Kota Sabang. Dari pelabuhan ke homestay paling hanya 15 menit.

Istirahat sebentar, langsung lanjut ke Pantai Sumur Tiga. Tadinya mau snorkelling di Sumur Tiga, tapi gak jadi, karena memang gak terlihat orang snorkelling. Mungkin karena panas ya, karena saat itu jam 11 siang.

IMG20190203101846
Pantai Sumur Tiga

Kami langsung tancap ke Goa Sarang. Kelihatannya ini destinasi baru yang dikembangkan penduduk lokal. Kita akan menuruni tangga yang lumayan bikin pegal. Mungkin sekitar 100 anak tangga. Ada sewa kapal kalau mau kelilingnya pakai kapal. Kalau kami, jalan kaki, melompati bebatuan. Saya melihat banyak ikan sebesar batang korek api, yang bisa lompat dari batu ke batu. Ikan bisa lompat di daratan, hebat.

IMG20190203111549
Goa Sarang

Sampai sekarang saya masih bingung, mana sih yang disebut Goa Sarang? Yang ada adalah karang besar yang tengahnya bolong. Mungkin itu kali ya….

Lanjut ke Pantai Iboih, tapi penuh. Cari parkiran tidak dapat. Akhirnya ke Tugu Kilometer 0 dulu. Kirain sepi, ternyata ramai juga. Foto-foto tidak terlalu lama, turun lagi ke Iboih.

IMG20190203171444
Harga makanan di Sabang

Sewa enam set snorkeller untuk kami serombongan. Satu setnya Rp40.000. Tidak terlihat ada yang snorkelling di Iboih. Semua menyeberang ke Rubiah. Kami pun sewa kapal untuk menyeberang Rp200.000. Akan dikasih karcis yang di dalamnya ada nomor kapal beserta nomor HP pengendara kapalnya. Jadi nanti pas mau nyeberang pulang tinggal telepon.

Saya agak kecewa dengan karang di Rubiah yang sudah banyak mati. Walaupun masih banyak ikan yang terlihat. Sebegini rusak tapi Iboih tetap ramai dkunjungi.

Sekitar 2-3 jam setelah snorkelling, kami kembali ke Iboih. Memang, kapal-kapal itu harus sudah stop semua jam 6 sore, untuk warga lokal siap-siap sholat Maghrib. Kami agak ngaret sampai 6.30. Mandi, sholat, terus kembali ke Kota Sabang.

Besok paginya kami pulang ke Banda dengan kapal cepat pukul 8.00. Beli nasi guri dibungkus seharga Rp10.000 dan martabak telur seharga Rp5.000.

IMG20190204082015
Kapal Cepat Sabang – Banda Aceh Rp80.000
IMG20190203073104
Tket Kapal Cepat

Mungkin Sabang akan terlihat keren kalau kita berwisatanya ke spot snorkelling yang jarang orang datangi. Ya harus rada modal, karena sewa kapal itu sekitar setengah juta untuk setengah hari. Kita bebas mau ke beberapa spot snorkelling.

 

Beberapa gambaran tarif di Sabang:

Kapal cepat 1 Banda-Sabang Rp80.000

Sewa mobil Rp300.000/24 jam

Homestay Rp200.000/kamar

Sewa snorkeller + jaket apung + kaki katak Rp40.000

Tiket masuk Goa Sarang Rp5.000

 

Nomor penting: Bang Jal 085260555300 (rental mobil, homestay)

Cerita Pabrik Cot Girek (Aceh Utara)

Yang dulu jaya, sekarang merana. Ini cerita tentang gula Indonesia. Yang dulunya kita menjadi eksportir gula terbesar, sekarang berbalik menjadi importir terbesar. Banyak orang bilang, ini karena pabrik gula yang ada di Indonesia sudah zaman old, sehingga produktifitasnya makin rendah.

img20181222182241
Pabrik Gula Cot Girek

Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman pribadi saya terkait kunjungan ke mantan Pabrik Gula Cot Girek dan singgungan subjektif saya terkait gula.

Beruntung saya mendapatkan proyek di PT Perkebunan Negara (PTPN) I yang berkantor di Langsa (Aceh). Suatu waktu, saya ditugaskan untuk keliling ke kebun-kebun dan pabrik-pabrik di PTPN I, salah satunya Cot Girek.

Namun, Cot Girek dulu berbeda dengan Cot Girek sekarang. Dulu ini adalah pabrik gula. Sekarang pabrik kelapa sawit, penghasil CPO. Tanpa diberitahu bahwa ini dulu adalah pabrik gula, sudah bisa saya lihat di semacam monumen peresmian Pabrik Gula Cot Girek yang ditandatangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang saat itu didapuk menjadi Menteri Negara Ekonomi, Pembangunan, dan Industri, tertanggal 19 September 1970.

img20181222182355
Monumen Peresmian Pabrik Cot Girek

Monumen itu masih tampak gagah di tengah-tengah bangunan pabrik tua yang bukan berfungsi sebagai pabrik lagi. Bangunan itu sekarang menjadi Gudang, baik lahir maupun batin. Gudang lahir maksud saya adalah yang memang Gudang pada umumnya, diisi barang-barang yang perlu disimpan.

Sedangkan Gudang batin, nah ini yang seru. Saya mendengar banyak cerita mistis terjadi di sini. Belum lama ini, ada seorang rekanan yang membeli besi besi bekas yang ada dalam pabrik. Harga sudah deal. Ketika si rekanan sudah datang membawa crane untuk mengangkuti besi besi tua itu, tali crane putus. Menurut yang bercerita ke saya, tidak mungkin tali crane setebal itu tidak mampu mengangkat besi tua yang sedang akan diangkutnya itu. Sehingga muncul pandangan-pandangan mistis karena kejadian tali crane putus.

Kemudian, cerita lain lagi, entah terkait rekanan yang sama atau beda lagi. Jadi ketika sudah deal dengan rekanan untuk mengangkut besi besi tua, pihak PTPN I bercanda (yang rada serius) ke rekanan, “Silakan angkut besi besi tuanya, sekaligus angkut kuntilanak yang ada di pohon itu.”

Itu pengalaman-pengalaman orang lain yang saya ceritakan ulang. Kalau pengalaman saya sendiri, tidak ketemu hal hal mistis waktu kunjungan ke sini. Namun memang saya merasa merinding waktu jalan di salah satu lorong di kantor kebun.

img20181222182559
Kantor Kebun Cot Girek

Dari mantan pabrik itu, dulunya banyak harapan yang digantungkan. Soeharto sendiri pernah berkunjung. Anak-anak SD sudah dilatih baris-berbaris dan bernyanyi sejak seminggu sebelum Soeharto datang. Jalan sepanjang 15 km dari Lhok Sukon ke Cot Girek sudah disirami supaya tidak berdebu waktu Soeharto lewat. Rumah-rumah yang dilewati dicat merah putih. Rupanya Soeharto tidak melewati jalur itu, melainkan naik helikopter dari Bandara Malikussaleh.

Belum jelas apa yang membuat pabrik ini berhenti beroperasi 15 tahun setelah diresmikan, yaitu tahun 1985. Ada yang bilang, karena ongkos produksinya terlalu tinggi.

Zaman kolonial Belanda dulu, Indonesia (Hindia Belanda) sempat menjadi eksportir gula terbesar, sekarang malah jadi importir terbesar. Puncak kejayaan pada 1930-an, ada 179 pabrik pengolahan dengan hasil 3 juta ton gula per tahun.

Tahun 2016, Indonesia mengimpor gula senilai Rp28,4 Triliun. Jumlah tsb lebih besar dari import yang dilakukan Cina, Amerika, dan India. Padahal ketiga negara tersebut penduduknya lebih besar dari Indonesia. Sedih yaa…

Ingin Keliling Lagi

Sekarang usia saya 32 tahun. Sudah punya anak satu. Istri juga satu. Tapi gejolak jalan-jalan masih seperti anak umur dua puluhan, yang belum punya anak istri. Tiba-tiba terbayang kembali perjalanan saya waktu umur 25 tahun, setahun sebelum nikah.

Waktu itu, yah biasalah, anak muda baru kerja, punya uang sedikit maunya jalan-jalan. Saya ikutan komunitas Backpacker Indonesia. Tapi kadarnya rada kronis. Sampai keluar kerjaan untuk jalan-jalan keliling Sumatera selama tiga bulan. Sendirian.

Runut dari Lampung lewat jalur tengah dan barat, sampai Aceh. Pulangnya lewat jalur timur: Kepri, Babel. Sepuluh Provinsi, sekitar lima puluh kota atau wilayah. Itu Desember 2011 sampai Maret 2012. Pakai carrier kalau gak salah yang ukuran 60 L. Salah satu isinya adalah laptop dan buku kecil, karena sambil menulis catatan-catatan selama perjalanan.

Perjalanan saya waktu itu, menurut saya yang hari ini, sangat koboi. Tidak berpikir panjang tentang risiko yang mungkin muncul. Walaupun memang ada waktunya kita lebih baik tidak berpikir panjang. Kalau dipikir panjang-panjang mungkin malah gak jadi berangkat waktu itu.

Karena punya banyak keterbatasan, maka saya menerapkan beberapa aturan dalam perjalanan. Tidak ada budget untuk tidur di penginapan, harus di tempat yang gratis. Kalau jaraknya masih di bawah 5 km, harus jalan kaki, tidak boleh naik angkutan berbayar. Tidak boleh beli minum, harus minta.

Dengan aturan-aturan itu, saya jadi terbiasa untuk: tidur di masjid, tidur di pinggir pantai, rajin silaturahim ke teman level 3 (Si C: ketika saya punya teman A, A punya teman B, B punya teman C) yang bertempat di Sumatera, memulai dengan berbasa-basi, berkawan dengan semua orang yang ditemui, jalan kaki tanpa google maps, hitchhike AKA nebeng, kipas-kipas kepanasan, tidak malu minta air ke warung-warung, dan minum air keran di masjid.

Perjalanan itu sangat tidak saya sesali, bahkan saya merekomendasikan anak-anak muda yang belum menikah untuk melakukannya juga. Karena apa? Cuek aja, hehe. Karena bagus sekali untuk menempa kemandirian, softskills. Bagus sekali untuk menambah wawasan, menambah perspektif. Saya setuju dengan pendapat: pikiran kita akan semakin terbuka kalau bertemu dengan orang yang semakin berbeda. Semakin berbeda, semakin bagus. Berbeda bisa dari banyak hal: Pendidikan, kebudayaan, agama, gaya hidup, pekerjaan, umur, dsb….

Setiap sampai di suatu tempat baru, saya selalu membaur sebaur-baurnya. Langsung ngobrol dengan warga lokal. Utamanya untuk membuat zona aman. Semakin orang tahu siapa kita, tahu bahwa kita tidak punya niat jahat, maka dia akan semakin melindungi kita. Itu salah satu kesimpulan saya dari perjalanan.

Saya berenang di tiga danau besar di Sumatera: Toba, Maninjau, Singkarak; mendaki gunung Tujuh, sebelahnya Kerinci, karena waktu itu Kerinci porternya mahal banget: Rp300 ribu per hari; merasakan diseruduk anak gajah di Way Kambas dan mendengar langsung konflik antara gajah dan warga; merasakan konflik tanah di pulau-pulau kecil; naik kereta api di Lampung, Sumsel, dan Sumut; menghadiri pesta pernikahan orang tak dikenal; mencoba makanan-makanan yang sampai sekarangpun tidak tahu itu apa; mendengar suara aneh di hutan; mencoba kopi aceh, mandailing, lampung, belitong; makan nasi padang di padang; makan mie aceh di aceh; makan martabak bangka di bangka; pesta durian; dst…

gajah penyeruduk
Anak Gajah di Way Kambas, si penyeruduk

Ada satu waktu ketika di Siberut (Kepulauan Mentawai), yang untuk ke sana perlu naik kapal kayu dari Padang selama 10 jam, yang kapalnya goyang-goyang diterjang badai dan kayunya berdecit bunyi kretek kretek seperti mau terbelah dua, saya kenalan dengan seorang anak muda bernama Niko Sagaileppa. Diajak ikut ke tempatnya di Saibi, saya ikut. Itu adalah daerah tanpa sinyal, tanpa listrik, dan masih banyak warga bertato garis-garis melingkar, mungkin suku asli Siberut. Seorang di antaranya datang mengajak saya ngobrol dengan Bahasa yang saya kurang pahami. Lewat penterjemah, akhirnya saya paham bahwa dia bilang: dulu orang baru seperti saya, kalau tidak kenal orang lokal, dimakan sama suku asli, karena dulu mereka kanibal. Saya langsung pingin pulang.

Nias
Sulitnya sinyal di pedalaman Mentawai

Ada satu waktu saya betul-betul merasa kesepian dan menjadi begitu dekat dengan Allah, dan pasrah kalau memang saya harus mati ya matilah. Yaitu ketika bermalam di sebuah keramba jaring apung di Pulau Balai (Kepulauan Banyak). Tidur di atas keramba itu berarti tidur mengikuti gelombang laut. Jam 1 malam tiba-tiba badai datang. Keramba naik turun tak karuan. Air laut masuk ke keramba membasahi pakaian. Saya pikir tsunami, tapi ternyata itu hanya badai yang memang hampir setiap malam datang.

Ada satu waktu di Pulau Hinako (baratnya Pulau Nias), saya disambut baik oleh warga lokal, lalu disuruh makan ikan tuna sepuasnya. Ikan tuna yang dibeli dengan harga Rp20 ribu per kilogram. Tidur dikelambui. Warga di sini masuk dalam kategori miskin versi Badan Pusat Statistik (BPS) karena pengeluarannya tidak lebih dari Rp200.000/bulan/orang, tapi saya tidak melihatnya demikian. Mereka punya lautan penuh ikan, tidak akan kelaparan. Mereka punya tetangga-tetangga yang saling peduli, saling mengamankan, tidak perlu iuran satpam.

Bukannya sombong (tapi belagu, hehe), kalau ada yang posting foto tempat wisata di Sumatera, hampir semua saya pernah singgahi. Yang singgah di kepala saya paling lama justru bukan tempat wisatanya, tapi orang-orang yang saya temui, pikiran-pikiran mereka, kesederhanaan mereka, konflik-konflik yang mereka hadapi.

Catatan-catatan saya selama perjalanan, saya rapikan dan kirim ke penerbit. Gramedia menerimanya, lalu terbit di akhir 2012 dengan judul Keliling Sumatera Luar Dalam. Beberapa email pembaca masuk, itu yang paling seru: ada pembaca yang mau berdiskusi tentang buku yang kita tulis.

Buku gramed
Buku Keliling Sumatera Luar Dalam

Lalu ada telepon masuk, dari seorang pembaca, yang belakangan saya tahu bahwa dia adalah bos travel kondang. Dia pernah menjalani petualangan seperti yang saya lakukan, ketika dulu masih kuliah di ITB, puluhan tahun lalu, dengan beberapa nama yang saya kenal sebagai gubernur dan politikus. Bos ini mengajak ketemuan di rumahnya di komplek perumahan menteri di daerah Komdak.

Ngobrol sana sini, akhirnya saya tangkap keinginannya: ikut bersamanya bertualang menyusuri jalur sutera, berawal di Istambul. Lalu menuliskan perjalanan tsb. Kalau saya OK, dia akan sponsori semuanya, termasuk perizinan di negara-negara yang akan dilewati. Sayangnya saya tolak, karena ke-cemen-an saya menghadapi ancaman kantor: sepulangnya dari jalur sutera, belum tentu ada pekerjaan lagi buat saya. Itu salah satu penyesalan terbesar.

Saya ingin merasakan pengalaman sumatera itu lagi. Masih kuat gak ya? Kelihatannya Nusa Tenggara bagus….

Kopi ya Solong

IMG20181124064422Rasanya saya perlu tulis tentang Warung Kopi Solong yang terkenal di Banda Aceh. Bisa dibilang, ini adalah warung kopi yang paling terkenal di Aceh. Kopinya menurut saya murah, yaitu hanya Rp7.000 per gelas kopi hitam saring. Tapi menurut saudara saya yang tinggal di Aceh, segitu mahal, karena rerata harga kopi di Banda Aceh itu Rp5.000, malah ada yang Rp4.000.

IMG20181124064647
Segelas Kopi Aceh di Solong Coffee, Rp7.000

Itu adalah harga ketika kunjungan saya terakhir ke Solong 25 November 2018. Setiap mampir Banda Aceh, saya selalu mampir Solong. Mungkin sudah sejak belasan tahun lalu. Rasanya gak banyak yang berubah dari Solong.

IMG20181124070742
Jenis-jenis sajian kopi di Solong Coffee beserta harganya

Letaknya di Simpang Tujuh, Ulee Kareng. Gampang lah ke sana, banyak orang yang tahu. Yang tidak tahu malah perlu dipertanyakan ke-Aceh-annya. Saya ke Banda Aceh naik travel dan minta turun di Solong.

IMG20181124064635
Nasi Gurih di Solong, dengan telur, Rp10.000

Pesan sepiring nasi gurih dengan telur dadar, harganya Rp10.000. Pesan kopi saring harganya Rp7.000. Juga makan sepotong kue talam khas Aceh seharga Rp2.000. Jadi total makan saya pagi itu Rp19.000.

IMG20181124064657
Kue talam di Solong Coffee
IMG20181124071036
Bubuk Kopi Solong

Ohya, saya juga beli kopi Robusta ukuran 250g seharga Rp30.000. Sebetulnya ada banyak pilihan kopi bubuk yang dijual. Arabika rata-rata Rp75.000 per 250g. Ada yang specialty Rp100.000 per 250g, tapi aromanya harum banget dari luar sudah tercium.

 

Fort de Kock dan Sekitarnya

Yang berdiri kokoh melindungi musuh, bisa jadi di masa datang malah berdiri kokoh menjadi teman. Salah satunya adalah Benteng Fort de Kock di Sumatera Barat. Benteng ini menjadi saksi bisu ketika dirinya melindungi tentara-tentara Belanda yang berlindung dari serangan masyarakat Minangkabau. Terutama ketika terjadi Perang Paderi pada tahun 1821-1837.

Kini, Fort de Kock menjadi daya tarik wisata yang terus dijual pemerintah setempat untuk mendapatkan pendapatan daerah. Ia ada di brosur-brosur wisata dan di review banyak blog yang mudah kita dapatkan di google. Bangunannya tidak sebesar julukan “benteng” yang disandangnya. Ini karena Fort de Kock yang sekarang kita saksikan bukanlah Fort de Kock yang asli yang sudah hancur sejak lama. Namun, beberapa meriam masih terlihat di sekeliling benteng, meriam-meriam yang dulu menembaki warga minang.

IMG20180323180701
Benteng Fort de Kock, Bukittinggi

Berdekatan dengan benteng Fort de Kock, pada tahun 1900-an, Pemerintah Belanda membuatkan Kebun Bunga yang sedikit demi sedikit dimasukkan koleksi hewan. Banyak nama yang pernah disandang Kebun Bunga tersebut, sampai pada akhirnya menjadi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan atau lebih dikenal dengan nama Kebun Binatang Bukittinggi. Ini adalah salah satu kebun binatang tertua di Indonesia dan satu-satunya di Sumatera Barat.

Fort de Kock dan Kebun Binatang Bukittinggi dihubungkan dengan jembatan cantik bernama Jembatan Limpapeh. Tiga tempat wisata tersebut—Benteng Fort de Kock, Kebun Binatang Bukittinggi, dan Jembatan Limpapeh—tidaklah berjauhan dengan icon Sumatera Barat: Jam Gadang.

Jadi kalau mau wisata ke Bukittinggi, mudah saja, karena tempat wisatanya ada di lokasi yang berdekatan.

Cuma yang saya masih agak heran, kelihatannya bangunan yang selalu ditunjuk orang sebagai Benteng Fort de Kock, bukanlah benteng Fort de Kock yang sebenarnya. Itu terlalu kecil untuk disebut sebagai sebuah benteng. Memang di bagian atasnya dan di sekelilingnya terdapat beberapa meriam yang tidak mungkin diangkat oleh seorang dewasa, tapi itu buat saya hanya sekadar pemanis. Benteng seharusnya tidak sesederhana itu.

IMG20180323180159
Jembatan Limpapeh

Maka saya berasumsi, benteng yang sesungguhnya sudahlah runtuh akibat perang. Yang ada sekarang hanyalah sebagian kecil bangunan yang tersisa.

Agak beda ketika saya berkunjung ke benteng ini tujuh tahun lalu, saat ini, 2018, sudah ada tulisan besar Fort de Kock. Tulisannya lebih manis dari bangunan yang disebut benteng. Malah lebih bagus ber-swafoto di tulisannya daripada di bangunannya.

Juga ada semacam kursi ayunan, yang suka ada di pesta-pesta pernikahan. Kursi bamboo rajutan berbentuk seperti sarang burung, yang diikat bagian atasnya ke tiang penyangga yang bertumpu ke dasar. Mudah-mudahan kebayang ya…

Mungkin hanya satu jam saya di dalam Fort de Kock, lantas kembali pulang.