Pesan Rana

Kenapa sekarang, di dunia, kalian tidak memperlihatkan kesungguhan ucapan kalian kelak? Kalian bilang kalian iri padaku karena hisabku sebentar saja. Atau relatif sebentar dibanding kalian. Dan kalian berandai-andai ingin seperti aku, di saat andai-andai tidak berlaku sama sekali.

Aku dan teman-temanku sering, sering sekali, melihat kalian wara-wiri di jalan. Tertawa bebas, senang-senang, menikmati dunia, sampai lupa maksud pencipta kalian menciptakan kalian. Dikasih kitab pegangan hidup, tidak dibaca. Malah banyak di antara kalian yang tidak bisa baca dan tidak berusaha bisa.

rana
Dok: Wikipedia

Dari sini, dari atas batu koral besar yang menyembul di kolam kecil, aku perhatikan kalian dan apa yang kalian lakukan. Kenapa sih banyak di antara kalian yang pacaran di pinggir kolam? Mengganggu pemandanganku saja. Kenapa juga harus pacaran? Apa kalian tidak tahu kalau berkhalwat itu aktivitas penimbun dosa? Apa kalian tidak tahu kalau kepala kalian ditusuk itu lebih baik daripada bersentuhan dengan yang bukan mahrommu?

Itu lagi… ada yang lagi pipis sembarangan di kolam. Tidak tahu apa… ratusan anak-anakku lagi asik berenang di kolam. Coba kalau anak-anak kalian lagi berenang terus ada yang mampir ke kolam renang untuk pipis. Senang tidak dibegitukan?

Sudah pipis sembarangan tidak cebok pula. Duh… apa kalian tidak ngaji dan pelajari bagaimana cara bersuci? Kalian ini… bisa menghitung dalamnya laut tanpa perlu menyelam, tapi tidak bisa pipis dengan benar. Kalian bisa membedakan membran sel dan membrane mitokondria, tapi tidak bisa membedakan suci dan najis.

Pipis itu ya… ya disucikan dengan air yang suci. Atau batu kering/semisalnya sebanyak tiga kali. Kalau cebok saja tidak benar, lalu najis masih menempel di pakaianmu, apa kalian pikir sholatmu diterima? Itupun kalau kalian sholat.

Sudah lama ngobrol tapi aku lupa memperkenalkan diri. Maaf. Namaku Rana Chalconota, bisa dipanggil Rana. Seperti nama India ya? Bukan. Aku banyak kok di Sunda juga. Orang Sunda sering memanggilku Bangkong Kole, sejenis kodok yang banyak ada di kolam atau saluran air.

Akulah yang kalian irikan, karena kelak setelah aku dimakan oleh nyamuk-nyamuk yang saat ini aku makan, lantas aku menjadi tanah kembali. Dan aku juga memakan ular yang ketika di dunia memakanku. Selesai sudah penghisabanku. Beda dengan kalian yang setiap detik waktu yang kalian punya akan ditanya digunakan untuk apa? Ibadah atau bukan. Kalau bukan, kenapa? Setiap rupiah harta yang kalian punya dipakai untuk apa? Ibadah atau bukan. Kalau bukan, kenapa? Setiap ilmu yang kalian punya dipakai untuk apa? Ibadah atau bukan. Kalau bukan, kenapa?

Begitu banyaknya yang harus kalian pertanggungjawabkan, sampai-sampai kalian mengeluh “… yaa laitanii kuntu turoba” seperti tercatat pada kalimat terakhir surat An-Naba. Kalian berandai-andai bisa menjadi tanah seperti aku. Maaf, buatku itu omong kosong. Kalian menyesal di saat penyesalan tidak memiliki arti.

Iklan

Rostle

Kumbang Badak. Dok: www.kaskus.co.id
Kumbang Badak. Dok: http://www.kaskus.co.id

Aku masak mi malam ini, dengan telurnya dua buah, supaya proteinnya banyak. Di sana, di dapur mess yang jauhnya seribu kilometer dari keluargaku, kita berkenalan. Namaku Iqbal, meskipun kamu diam saja, aku tahu namamu, Kumbang Badak. Sahabat Kumbang Badak.

Kamu diam saja di sudut tempat cuci piring. Jalanmu lambat sekali. Seperti kukang. Seperti kura-kura. Kalau frekuensi bahasa kita sama, mudah sekali untuk kita saling membantu. Tunjuk saja pohon yang ingin kamu daki, akan aku antarkan. Tidak perlu berjalan dua hari dua malam.

Kalau besar badan kita sama, kamu akan kalah adu lari denganku, kecuali Tuhan menginginkan kamu yang menang. Yaaa, kalau sudah tercatat jauh sebelum bumi ini ada, siapa yang bisa mengubahnya? Sebutir biji yang jatuh di malam hari saja tertulis, dan pasti kejadian. Semua tercatat di Lauhul Mahfuzh.

Tapi jangan ajak aku adu gulat. Aku langsung kibarkan bendera putih. Mendengar reputasimu saja aku sudah merinding. Bagaimana caranya aku bisa menang dari lawan yang bisa mengangkat beban 850 kali bobot tubuhnya? Banyak yang bilang kamu adalah yang terkuat di dunia.

Kenapa yang kuat biasanya hitam? Badanmu juga hitam, bahkan legam sekali. Tidak ada warna lain di tubuhmu selain hitam. Tapi tak apa. Badan legam juga bisa jadi Presiden Amerika. Badan legam juga bisa keren, seperti Muhammad Ali. Seperti Martin Luther King Jr. Seperti Malcolm X. Seperti Bilal bin Rabah. Hitam legam itu indah. Kalau sekumpulan spesies gemuk bisa mewacanakan Big is Beautiful, tentu sekumpulan spesies hitam bisa juga dong mewacanakan Black is Beautiful.

Tentang sportifitas di dalam diammu, kami semua harus berikan standing applause. Ribut-ribut memperebutkan betina itu biasa. Tapi kebanyakan berakhir dengan dendam, pengejaran, bahkan pembunuhan. Itu tidak kamu lakukan. Ketika lawanmu sudah kalah, kamu tidak mengejarnya. Tidak ada saling bunuh dan tidak ada saling melukai. Kalau kata bosku, menang tanpa ngasorake. Standing applause untuk Kumbang Badak….

Wahai Kumbang Badak, aku rindu sekali dengan anakku. Kamu pasti senang melihatnya, karena dia lucu sekali. Kalau anakku sudah bisa bicara, insya Allah akan aku kenalkan kepadamu, supaya kalian juga bisa bersahabat. Kita semua harus bersahabat, supaya rantai makanan berjalan seimbang. Supaya tidak ada satu spesies yang mendominasi di atas spesies lain yang akhirnya menjadi punah, atau tidak punah tapi seperti punah. Supaya bisa seperti hutan tropis, bukan perkebunan sawit. Supaya Earthlings dapat kita jalankan bersama. Apa jadinya dunia ini tanpa pendaur ulang sepertimu?

Sayangnya, semakin ke sini kita sudah semakin homogen. Pola hidup sudah begitu-begitu saja. Kalau kata Bondan Prakoso, kita terjebak dalam sistem industri: lahir, sekolah, bekerja, mati. Judul lagunya saja SOS: Save Our Soul.

Tidak tampak lagi pola hidup seperti Bukhori, yang seumur hidup mengabdikan dirinya pada ilmu. Mencari ilmu dan memberi ilmu. Sampai sekarang kita masih bisa memanfaatkan ilmunya. Sejak belia dia merantau mencari guru-guru terbaik di dunia. Ilmunya terlalu banyak, sampai sudah tidak nyambung lagi bicara dengan orang-orang di kampungnya. Sampai dia diusir.

Hah, mi-ku sudah habis. Kamu tetap saja masih di sana, di sudut tempat cuci piring. Mungkin kalau ada Prof. Rhenald Kasali, kamu bisa dicap sebagai Passenger. Karena tidak ada Driver yang lambat. Dan kamu mesti tidak lulus mata kuliah Pemasaran Internasional di FE UI kalau jalanmu lambat begitu. Kalau jalannya lambat tidak akan bisa ke luar negeri yang berbahasa bukan Melayu, berarti tidak akan lulus Pemasaran Internasional.

Hai kumbang badak, karena kita sahabat, aku perlu memberikanmu nama panggilan supaya kita makin akrab. Dan supaya tidak kalah dengan istriku yang lulusan Biologi dan senang dengan Binomial Nomenclatur, maka kamu aku juluki Rostle: Rhinoceros Beetle. Keren kan!

Laba-Laba

laba laba
Laba laba. Dok: http://www.atjehcyber.net/

Wahai laba-laba,

Enak sekali hidupmu. Tidak perlu ada pertanggungjawaban panjang pasca tiada, hanya balas membunuh atau dibunuh. Tidak perlu menjawab Man Robbuka. Tidak perlu lulus UN. Tidak perlu dipaksa lingkungan untuk memvaksin anakmu. Tidak perlu mengikuti apa yang TV ajarkan kepadamu. Tidak perlu ikut BPJS. Tidak perlu selipkan amplop ke penghulu kalau mau kawin. Tidak perlu membebani pikiranmu dengan “makan apa besok”. Tidak perlu terpaksa punya rumah dan mobil dengan berutang. Tidak disiksa di neraka kalau membunuh, meskipun sengaja. Tidak perlu belajar kalkulus. Tidak perlu pusing kasih nama anak. Tidak perlu dikerjain polisi waktu bikin SIM (bahkan tidak perlu bikin SIM!). Tidak perlu menggunakan uang kartal. Tidak perlu bikin paspor. Tidak perlu…. Semua itu tidak perlu kamu lakukan.

Karena… ya karena kamu seekor laba-laba, yang tinggal kawin ketika kamu mau kawin. Tinggal makan kalau mau makan, bahkan tidak ada yang melarangmu untuk membunuh. Kamu bisa buat jaring-jaring indah berpola tanpa masuk Harvard terlebih dahulu, it’s in your genes! Jaring itu begitu hebat, sampai-sampai jika jaring itu diperbesar, maka Boeing 747 pun bisa tersangkut.

Oh ya, inti pembicaraanku kali ini adalah aku ingin dengar pandanganmu mengenai harta. Ya… darimu, karena dari namamu, harusnya kamu punya uang yang sangat banyak ya. Sekali laba saja sudah bagus. Kamu mendapatkannya berulang-ulang. Sampai bukan lagi menjadi middle name, it’s your full name, dude!

Bagaimana bisa sebuah (mana yang lebih tepat ya, sebuah? Seekor?) spesies yang sangat kaya sepertimu diam-diam saja dan tidak terlihat sikap sombong sama sekali?

Hmm… Okay, aku coba konfirmasi ulang jawabanmu. Jadi kamu diam-diam saja karena kamu malu ketahuan tidak bisa berenang? Karena sejatinya permukaan tubuh luarmu adalah hidrofobik?

Haha, baik, pertanyaan kedua. Kenapa kamu, yang super kaya dan tidak perlu memikirkan makan apa besok, masih mau menelan lagi jaring yang kamu buat untuk menjadi bahan pembuatan jaring berikutnya?

Apa? Muzhid? Wow… Untuk mengefisienkan segala hal ya? Hebat sekali kamu. Beda dengan kaumku yang perokok, lebih memilih beli rokok daripada makanan. Kurang mubazir apa coba? Andai nanti ada aturan Pemerintah yang mewajibkan nyalakan rokok di kedua ujungnya… Biar kapok mereka.

Pertanyaan ketiga, ketika dulu kamu menjadi pahlawan Nabi Muhammad dan Abu Bakar karena jaring-jaringmu yang membuat para pengejar terkecoh, kenapa tidak buat jumpa pers dan mempublikasikan kisahmu yang heroik? Karena dari situ kamu bisa diundang ke mana-mana dan dapat “laba” lebih banyak?

Yeah, betul sekali nasihatmu, karena kaya itu bukan di jumlah harta, tapi di bisa atau tidaknya dia bersyukur.

Pertanyaan terakhir, jika tahun lalu Budi membeli tiga pensil dan dua buka seharga Rp3.500 dan tadi pagi Budi membeli empat pensil dan lima buku seharga Rp7.700, dengan inflasi sebesar 10%, berapa harga buku tahun lalu?

Hey, jangan pergi….

Kata Hevea*

Perkenalkan, saya Hevea brasiliensis. Nama yang keren, bukan? Nama belakang brasiliensis menegaskan bahwa saya dari Brazil, kecuali ada unsur politis di balik penemuan nenek moyang saya dulu. Kalau saya wanita, dengan nama begitu, maka saya digambarkan sebagai wanita yang anggun, yang berjilbab lebar, menggunakan manset sampai ujung lengan supaya tidak ada celah terlihat aurat, tidak banyak tertawa, tidak bicara yang tidak manfaat, selalu merendahkan suara, dan kalau ada yang lucu, dia cuma tersenyum manis. Pokoknya anggun deh.

Tapi rupanya tidak seindah itu. Karena saya tinggal di Sunda, jadinya saya dipanggil Pea! Dengan e bebek, bukan e perut. Dan penekanan di huruf p. Hey pea! Hepea gimana kabarnya? Haduh, gak enak didengar… Lebih gak enak lagi, karena saya tinggal di samping kuburan.

Katanya, ini kuburan sakti. Banyak yang datang malam-malam minta macam-macam sama kuburan. Loh saya bingung, minta kok sama kuburan. Minta ya sama Allah. Bangun sepertiga malam yang akhir, doa deh. Mana mereka kadang suka semalaman lagi. Kalau mau buang air, nyarinya pohon. Haduh! Kena deh gue.

Perasaan saya sebal sendiri melihat orang-orang bodoh begini. Kuburan dimintain. Laut dikasih makan. Gunung juga. Katanya dalam rangka wujud kesyukuran. Ngapain coba? Itu kan malah jadi mubazir makanannya. Kalau mau bersyukur ya sama Allah. Sedekah ya sama orang miskin, bukan sama gunung. Laut dan gunung itu makanannya bukan nasi dan sayuran. Mereka punya cara makan dan cara bertasbih yang berbeda. Saya juga, cuma kamu saja yang gak tahu cara saya bertasbih.

Saya ini perasa loh, bukan sekedar seonggok kayu. Kamu kenal saudara saya si pohon kurma? Duluuuu sekali, empat belas abad yang lalu, nenek moyang saudara saya itu menangis karena Nabi sudah mendapat mimbar baru. Dia sedih karena tidak lagi dijadikan tempat Nabi khotbah. Nabi kemudian datang mengusapnya sampai ia berhenti menangis (Ibnu Majah 1414).

Kami ini hidup dan bisa bicara, tapi ada waktunya. Ketika perang besar muslim vs yahudi nanti, semua golongan kami akan menjadi spy-nya muslim. Kami dan bebatuan akan memberitahu pasukan muslim kalau-kalau ada yahudi yang ngumpet di balik tubuh kami, kecuali pohon Ghorqod. Dia akan diam, tidak membantu muslim, karena dia tergolong pohon yahudi (Muslim 2922). Makanya Israel seneng banget nanam Ghorqod.

Nih yah, manusia, saya mau cerita kehidupan saya sehari-hari, supaya kalian juga ikhlas menjalani hidup. Saya ini ya, dilukai terus, minimal dua kali seminggu. Kalau majikan lagi butuh duit, malah saya dilukai tiap hari. Digores-gores pakai pisau sadap. Jangan salah, pisau sadap itu lebih tajam dari pisau ibu-ibu di dapur. Mereka ambil air mata saya, katanya sih, bisa jadi duit. Saya ikhlas saja menjalani sunnatullah, memang dasarnya tumbuhan dan hewan ditundukkan buat manusia.

Malahan, terkadang saya diolesi dengan cairan atau gas perangsang yang namanya etilen. Itu memaksa saya untuk menangis sampai delapan kali lebih lama. Makin lama saya nangis, makin banyak air mata saya, makin senang manusia.

Selama pertumbuhan, tangan saya sering dipotong, sebagai pembenaran iklan salah satu produk susu: tumbuh tuh ke atas, bukan ke samping. Rambut saya dikepang paksa. Semua itu dilakukan supaya saya bisa menangis lebih lama, supaya manusia senang. Yah, saya ikhlas, memang itu tugas saya di bumi. Saya punya tugas seperti kamu manusia juga punya tugas. “Tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku,” firman Allah. Kita harus sama-sama ikhlas.

*imajinasi Iqbal yang berusaha menjadi Hevea braziliensis (nama latinnya pohon karet).

 

Tutut Sitompel Kembali Berulah

Jakarta, 2159

terkadang, lebih baik melihat ke bawah...

Paripurna ricuh, para anggota dewan berkelakar ini itu. Mereka ingin wajahnya dipublikasikan media elektronik. Belajar dari seorang anggota dewan satu setengah abad yang lalu, mereka merasa harus berulah untuk mendapatkan perhatian media massa. Kelakarnya sama-sama hanya mencari perhatian, rambut dipotong botak, di-mohawk, atau spike ala anak punk. Rapat pleno dipenuhi para anggota bertindik dengan jaket berbahan jeans yang dipenuhi paku. Mereka menginterupsi sidang dengan teriakan, “Oi oiii….”

Semua itu untuk mendapat perhatian media. Bahkan, di pemilu terakhir, setiap calon dalam spanduk-spanduk dan pamfletnya mengatakan, jangan coblos nomor 4, saya tukang mabuk-mabukan. Saya bodoh, terbukti sebelumnya saya meningkatkan pengangguran 30%. “Jangan pilih yang berkumis,” padahal kumisnya selebat Pak Raden. Masyarakat menikmati kampanye macam itu. Semakin jelek iklannya semakin mendapat perhatian. Pemilik Joger menuntut para anggota dewan karena idenya yang sudah berabad-abad dikenal masyarakat dicuri. Namun tuntutan itu jauh panggang dari api karena anggota dewan sudah terbiasa menggunakan makelar kasus yang banyak beriklan lewat pamflet yang banyak ditempel di tiang-tiang listrik.

Masyarakat sudah yakin perubahan hanya bisa dilakukan lewat tangan masyarakat sendiri. Daripada menyesali nasib negaranya –“kok bisa begini”- mayoritas memilih untuk menikmatinya. Hollywood KC sepi karena tontonan TV lebih seru. Terkadang mereka mampir ke bioskop hanya untuk membeli popcorn lalu menuju DPR, membeli tiket untuk masuk balkon (karena membludaknya pengunjung akhirnya BPH DPR mengambil keputusan menjual tiket masuk balkon, “Lumayan buat nambah modal main saham bumi,” kata mereka), melepas tawa melihat kelakuan anggota dewan.

Lama kelamaan, media massa tidak tertarik lagi dengan ulah urakan anggota dewan.  Media tidak pernah puas dengan hal-hal yang biasa. Harus ada hal unik yang bisa menarik perhatian penonton. Saat ini, TV swasta mempunyai proporsi berita gosip dan sinetron 95%. Lima persennya lagi adalah siaran komedi Tawa Sutra, satu-satunya komedi yang bertahan ratusan tahun. Seperti biasa, TV swasta menonjolkan rating. Ternyata cerita-cerita glamor artis dan canda tawa komedian bisa membius penonton sehingga lupa akan kehidupan nyatanya. Memang itu yang dibutuhkan masyarakat saat ini, melupakan kehidupan aslinya.

Merasa sudah tidak diperhatikan lagi oleh masyarakat, Tutut Sitompel, seorang anggota dewan, mencari cara untuk menjadi pusat perhatian. Ia berangkat menuju ruangan sidang dengan menggunakan baju koko komplit dengan sorbannya. Setiap ada kawannya yang nyeleneh, dia berujar, “Jangan begitu ya akhi. Kita harus tahu makna kita hidup di bumi. Intinya pengendalian diri.” Tutut menghapalnya sejak sebulan yang lalu sampai bisa betul-betul fasih melafalkannya. Ia mengulang-ulang ucapan kiai yang tenar satu setengah abad lalu dalam bentuk MP3 dari CD bajakan yang dibelinya di stasiun pasar minggu.

Namun, itu hanya sekedar topeng. Intinya ia ingin menarik perhatian massa. Di saat reporter berita TV swasta berpura-pura mengejar anggota DPR yang baru turun dari eskalator supaya mendapat kesan DPR sibuk, Tutut hadir dengan gayanya sendiri. Ia mau diwawancara hanya oleh reporter berpakaian muslim, belajar dari seorang teroris yang mau dihukum mati satu setengah abad lalu. Semua yang dilakukan Tutut serba terbalik dengan anggota dewan.

Sidang paripurna biasanya memakan waktu minimal satu hari untuk mengambil satu keputusan. Namun di suatu sidang, Tutut berkomentar dan berinterupsi banyak hal benar yang sangat masuk logika orang-orang yang masih di jalan yang benar sehingga hanya dalam waktu 30 menit saja sudah didapat satu keputusan. Tagline-nya yang walaupun sudah lapuk kembali bersinar, “kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit”.

Indonesia kembali menuju kebenaran, paling tidak terlihat seperti itu. Reporter-reporter TV makin sering berkunjung ke DPR. Tidak ada gerak-gerik Tutut yang tidak disorot kamera. Sesuai cita-citanya, ia mendapat ketenaran karena hal-hal benar yang ditegakkannya, walaupun sebetulnya bukan kebenaran yang dia cari tapi ketenaran. Seperti bangkai, muslihat Tutut akhirnya tercium oleh masyarakat. Tidak ada lagi yang percaya pada Tutut dan tidak ada lagi yang percaya pada siapa pun yang menjabat apa pun selama dia berplat merah.

Kembali seperti satu setengah abad silam, masyarakat diajak masuk dalam dunia yang serba membingungkan karena akrobat politik para politisi. Benar dan salah menjadi tentatif. Masyarakat pasif dalam politik, tidak partisipatif, malas mencuri berita politik yang informatif. Naif.