Arsip untuk Februari, 2009

28
Feb
09

Backpacking Sabang

img_0052

Bagaimana kalau kita bisa melihat bintang laut tepat di pinggir pantai? Lengkap dengan ribuan cacing laut yang melambai-lambai seakan memberi salam sambil tersenyum dan dengan mesra mengatakan, “Selamat dating di Sabang”?

Atau snorkeling di pantai yang jernih airnya? Beberapa meter dari ombak pantai, ikut menyapa bermacam jenis ikan berwarna-warni dan juga tersenyum ratusan bulu babi. Senyum yang agak tegas tentunya.

Kalau tertarik, bisa jadi Sabang adalah pilihan yang paling tepat. Pulau ini sudah lama dijadikan icon persatuan bangsa ini. Dengan gagah, pulau ini berdiri di ujung nusa, siap menjaga pertahanan dan keamanan RI.

Untuk mencapainya, butuh sedikit perjuangan. Beberapa penerbangan di kota besar sudah ada yang langsung mencapai Banda Aceh. Kalau tidak dapat, bisa juga menggunakan pesawat sampai Medan, lalu dilanjutkan dengan bus selama 12 jam sampai di Banda. Dari Banda, untuk mencapai Sabang, hanya ada satu cara, yaitu dengan kapal very.

Kapal very yang tersedia ada dua jenis, kapal cepat dan kapal lambat. Sesuai namanya, kapal lambat bergerak lambat sehingga butuh waktu sampai 2 jam untuk sampai Sabang. Tarifnya untuk yang ekonomi 17 ribu, eksekutif 35 ribu. Saya tidak menyarankan untuk ke kelas bisnis karena penuh asap rokok dengan keadaan yang di dalam ruangan tertutup, jadi udara sesak. Lebih baik ke ekonomi sekalian karena udara laut bebas masuk, atau ke eksekutif yang memang dilarang merokok. Kapal lambat ini hanya punya satu kali keberangkatan per hari, dari Banda (Pelabuhan Ulhee-lee) menuju Sabang pukul 2 siang atau dari Sabang menuju Banda pukul 8 pagi. Berita buruknya, terkadang kapal, baik cepat maupun lambat, tidak beroprasi ketika ombak sedang tinggi.

101_7152

Kapal cepat punya waktu tempuh 45 menit saja. Kapalnya lebih kecil dari kapal lambat karena yang diangkutnya juga lebih sedikit. Kapal cepat tidak menerima kapalnya disusupi mobil atau motor. Itulah perbedaan yang juga mendasar diantara dua kapal ini. Harga kapal cepat jauh lebih mahal, bahkan hamper 3 kali lipat. Untuk kelas ekonomi seharga 55 ribu, sedangkan eksekutif 80 ribu. Ada dua perjalanan setiap harinya. Dari Sabang pukul 8.30 dan 15.00, sedangkan dari Banda pukul 9.00 dan 16.00.

Berhubung sulit sekali mendapatkan kendaraan umum di Sabang, maka dianjurkan untuk menyewa motor sejak di Banda. Akan lebih puas berkeliling kalau ada kendaraan sendiri. Satu tips yang harus dipegang dalam berkeliling Sabang, kalau hendak bertanya jalan, matikanlah mesin motor lalu turun dari motor, baru kemudian bertanya. Adabnya seperti itu. Kalau tidak, bisa dicemooh masyarakat.

Sesampainya di pelabuhan Sabang (Balohan), kita bisa beristirahat sejenak dekat pelabuhan. Berderet tempat makan siap melayani kita. Saya sarankan kalau berkunjung ke Aceh, termasuk Sabang, untuk menyicipi “Mie Aceh”. Di tempat ini tidak ada embel-embel Aceh, jadi hanya “Mie” saja. Makanan ini menjadi digandrungi karena bumbu rempah yang terkandung di dalamnya sangat beragam, pastinya menggugah selera. Satu porsi Mie dengan cumi dihargai 13 ribu. Ada juga kepiting dan udang.

Tempat penginapan ada daerah kota Sabang. Atau kalau mau di cottage dekat pantai juga ada, baik di pantai Gapang ataupun pantai Iboih. Harganya bervariasi, tapi dengan uang 100 ribu, sudah bisa didapat tempat yang cukup nyaman. Ada juga persewaan satu cottage sekaligus di pantai Gapang, terdiri dari 3 kamar, harganya 300 ribu.

Sore harinya, kita bisa menikmati Sabang Fair, pantai paling indah di Sabang. Ini pantai yang paling dekat dengan kota sehingga paling ramai dikunjungi, terutama wisatawan lokal dan penduduk Sabang. Di pinggir pantai sudah dibangun semacam tembok pendek untuk menghalangi air ketika pasang. Tembok ini sering dijadikan tempat duduk-duduk yang nyaman. Pemandangan laut terhampar luas di depan. Tidak terlihat pulau apapun lagi karena itu sudah laut lepas.

Bisa dikatakan, pantai ini masih natural, belum banyak sampah. Bermacam jenis hewan terlihat di pantai, bahkan di genangan-genangan air yang tertahan karang mati sebelum pantai. Cacing laut yang paling dominan, putih seperti potongan-potongan kain yang melambai-lambai mengikuti arah air bergerak. Ada juga teripang berwarna hitam yang kalau digoda sedikit maka dia akan meludah. Ludahnya berwarna biru, menarik di mata, tapi hati-hati dengan efeknya. Bintang laut seakan tak mau kalah. Ia ikut meramaikan pantai di Sabang Fair. Beberapa ikan warna-warni diam-diam ikut mengintip di balik batu karang.

101_7166

Matahari hamper menuju ke peraduannya. Inilah saat-saat terindah Sabang Fair. Sunset jelas terlihat. Kalau tidak ada awan yang mengganggu, sunset akan semakin indah dipandang mata.

Snorkeling bagus dilakukan di pantai Gapang atau Iboih. Di dekat pantai, ada tempat persewaan alat-alat snorkel, diving, dan sebagainya. Untuk alat snorkel lengkap dengan life jacket dan kaki katak, dihargai 45 ribu per hari. Pilihlah kaki katak yang betul-betul pas agar tidak lepas ketika dipakai.

Snorkeling di Iboih harus dilakukan dengan ekstra hati-hati, karena bulu babi banyak sekali tumbuh dan berkembang. Dalam waktu singkat, selain rasa perih, kulit juga akan membengkak. Kalau memang terkena bulu babi, cara paling mudah adalah siramlah bagian yang terkena bulu babi dengan air seni.

Namun, bulu babi bukanlah halangan untuk berhenti snorkeling. Bermacam jenis ikan ada di Iboih. Kalau beruntung, kita bisa mendapatkan gerombolan ikan yang sedang bermain sampai ke pinggir pantai. Karang-karang yang beru tumbuh berwarna-warni menghiasi dataran pantai Iboih. Ada kuda laut yang dengan tanpa daya mengikuti ombak, terombang-ambing tanpa arah yang jelas.

Kalau kita agak ke tengah, variasi biota laut akan semakin beragam. Jenis ikan besar mulai tampak. Tapi hati-hati, arus semakin ke tengah semakin deras. Bisa-bisa dalam dua hari kita tersesat sampai Madagaskar (pernah ada kejadian ini).

Di seberang sana, ada pulau Rubiah, tanpa penghuni. Pulau ini sering dijadikan target kunjungan wisatawan karena snorkeling di salah satu bagian pulau ini cukup menyenangkan.

Untuk mencapainya, bisa menggunakan jasa kapal seberang dengan harga 200 ribu per kapal yang bisa diisi sampai 5 orang. Di dalam kapal seberang itu, ada kaca yang di bagian bawah yang memberikan kesempatan pengunjung melihat biota bawah laut dari atas kapal. Indah.

Sebetulnya jarak ke Rubiah tidak jauh, mungkin sekitar 100 meter saja. Berenang pun jadi. Hanya saja, untuk menuju ke sana, harus melewati palung yang cukup dalam. menurut penduduk sekitar, terkadang dari palung itu keluar anak hiu. Walau demikian, tidak pernah ada cerita pengunjung Iboih diserang hiu.

Cara alternative lain mencapai Rubiah adalah dengan Kano kecil yang bisa disewa seharga 50 ribu per hari. Dibutuhkan keseimbangan dan sedikit latihan terlebih dahulu sebelum menyebrang menggunakan kano.

101_7278

Kenikmatan snorkeling di Sabang sulit diungkapkan dengan kata. Yang jelas, membuat pengunjungnya ketagihan untuk snorkeling lagi di lain waktu.

Karena sudah jauh sampai ke Iboih, ada baiknya berkunjung juga ke tugu kilometer nol, sekitar 10 km dari Iboih. Perlu kesabaran karena jalannya banyak yang rusak dan berbatu sehingga rawan terpeleset. Melewati belantara hutan yang masih dipenuhi kera dan babi.

img_0164

Tidak ada yang special di tugu ini. Hanya bangunan biasa saja. Tapi dari tempat itu, bisa jelas terlihat sunset tepat di ujung laut.

Secara umum, bisa dikatakan bahwa dunia pariwisata di Sabang sangat potensial. Namun, butuh keseriusan untuk membangun infrastruktur seperti jalan dan tempat penginapan. Terutama jalan menuju Gapang, Iboih, dan tugu kilometer nol.

Semoga bermanfaat…=)

Cost:

Sewa motor 2 hari 200.000

Kapal lambat Banda Aceh-Sabang PP 34.000

Seberangkan motor PP 34.000

Makan 6 x 100.000

Penginapan 2 malam 200.000

Sewa alat snorkel 45.000

Bensin 30.000

TOTAL 643.000




Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728