Archive Page 2

02
Jan
17

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Ini adalah perjalanan hari kedua, 16 Agustus 2015.

Umar berprofesi sebagai penjual sayur mayur. Jadi sejak subuh dia sudah keliling dengan motor tuanya dengan gendongan besar di sebelah kanan kiri motornya. Umar keliling ke kampung-kampung sekitar. Sosoknya sederhana sekali, uang hanya dicari seperlunya saja, asal bisa makan dan bisa shodaqoh untuk masjid di dekat rumahnya.

TIba-tiba dia datang dengan membawa banyak durian. “Durian di sini dagingnya empuk, tebal, dan manis. Mas Iqbal harus coba!” Langsung saya sikat. Padahal semalam saya hanya ngobrol biasa saja, menyampaikan bahwa saya senang sekali makan durian. Paginya langsung dibawakan.

Tidak lama kami berkemas untuk menuju Serian. Pertama menggunakan angkot menuju Entikong. Angkotnya seperti kebanyakan yang ada di Jakarta. Ongkosnya seingat saya Rp12 ribu untuk perjalanan sekitar 30 kilometer. Jalanan sepi dan berkelok-kelok.

Saya periksa kembali passport saya, kuatir lupa dibawa. Alhamdulillah ada. Passport masih kosong, belum ada satupun cap. Sebentar lagi saya mendapat cap pertama.

Entikong bukanlah kota, tetapi lebih mirip desa yang ramai. Banyak penginapan. Banyak penjual makanan. Saya dan Umar langsung menuju loket imigrasi untuk minta cap.

img-20150816-00570

Pos Imigrasi Entikong

Pertama, loket Indonesia, lalu loket Malaysia. Keduanya mudah. Petugas beberapa kali melihat wajah saya, memastikan sama dengan foto yang ada di passport. Suasana loket Malaysia terlihat lebih sepi lebih teratur. Di loket Indonesia banyak orang, banyak pedagang, termasuk pedagang nomor Malaysia dan pedagang RInggit. Saya beli satu nomor Malaysia seharga RM10 atau setara Rp35 ribu. Sekaligus saya tukar rupiah dengan ringgit.

Tidak jauh dari loket Malaysia terlihat beberapa mobil angkutan umum. Bentuknya agak besar seperti mobil L300. Umar menyebutnya “Len”. Ini sebutan untuk angkutan umum yang lazim saya dengar juga di daerah Jawa Timur. Entah orang Malaysia menyebutnya apa.

img-20150815-00544

Len dari Tebeddu (perbatasan Entikong) ke Serian

Kami naik len itu menuju Serian. Tapi len baru berangkat setelah penumpang ramai. Jadi budaya “ngetem” ya ada juga di Malaysia. Bedanya, di Malaysia, kalau sudah jalan, ya jalan terus sampai tujuan.

Sampai Serian, kami masuk pasar yang lokasinya dekat dengan terminal. Ada penjual minuman segar, harganya flat RM1 atau sekitar Rp3.500. Ada air tebu, ada laici, dan air Bandung. Kok bisa ada bandung di sini? Lagipula, apa itu air Bandung?

Pasarnya mirip pasar tradisional di Indonesia, tapi lebih bersih. Yang dijual kurang lebih sama. Kebanyakan penjual di sini yang saya perhatikan adalah dari etnis Melayu, Dayak Iban, dan China. Dayak Iban adalah Dayak yang agak Chinese. Kulitnya putih atau kuning langsat.

img-20150815-00546

Roti Cane

Agak keluar dari pasar, saya mampir ke tempat makan roti cane. Penjualnya orang India yang kesulitan bahasa melayu. Buat saya, di sini lebih enak pakai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Lebih jelas maksudnya sama. Kalau bahasa Indonesia, memang mirip dengan bahasa Melayu, tapi banyak tidak nyambungnya.

Roti cane di sini enak sekali. Murah juga. Saya dan Umar makan sampai puas dengan cane, kari kambing, teh tarik. Sudah nambah-nambah segala, habisnya RM18 atau sekitar Rp60 ribu.

Saya dan Umar dijemput temannya Umar, namanya Pak Sukino. Dia orang Jawa juga, merantau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih banyak hasilnya. “Tapi tidak lama lagi saya kembali ke Jawa, sekitar 6 bulan lagi,” kata Pak Sukino.

Pak Sukino, saking lamanya di Malaysia, sudah berlogat melayu. Logat Jawanya sudah hilang blas. Dia bekerja di pabrik kecil yang mengolah kayu besar menjadi potongan-potongan kayu kecil. Dia membuat rumah sederhana di dekat pabrik tersebut. Anak buahnya kebanyakan orang Malaysia, yang juga membuat rumah-rumah sederhana di dekat pabrik.

Pak Sukino bercerita tentang bosnya yang orang China yang tinggal di Malaysia Barat, mungkin Kuala Lumpur. “Dia kalau ke sini pakai passport,” kata Pak Sukino.

Loh kok sama-sama Malaysia tapi pakai passport?

Setelah saya Googling, memang tidak semua warga Malaysia bebas masuk ke semua wilayah Malaysia. Serawak punya peraturan khusus. Orang Malaysia di luar Serawak yang ingin masuk Serawak harus mengurus Pass Khusus atau Passport Biru atau Dokumen Perjalanan Terhad (DPT). Urusannya di Kantor Imigrasi juga.

Itu adalah syarat yang diberikan Serawak ketika diminta masuk dalam satu Negara Malaysia. Kalau Malaysia menolak syarat itu, mungkin Serawak akan masuk Indonesia kali ya… atau bikin Negara sendiri.

Kembali ke Pak Sukino. Dia juga bercerita tentang WNI yang bekerja tanpa surat. WNI itu memang punya passport, tapi hitungannya bukan bekerja. Jadi jatah tinggal di Malaysia-nya hanya 30 hari. Setiap bulan, WNI itu harus menuju perbatasan untuk mendapat perpanjangan lagi. “Itu disebut cop pusing,” kata Pak Sukino.

Masih banyak yang kami obrolkan, termasuk cerita-cerita sensitif yang tidak pantas saya ceritakan di sini. Kami ngobrol sampai tengah malam.

 

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 4/4)

02
Jan
17

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 2/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Setelah dikerjai  pengendara mobil dari simpang Tayan ke Sosok, dan naik bus yang sempat mogok dari Sosok, saya bisa istirahat dulu di Balai Karangan. Saya mampir di tempat makan sederhana, sekadar beli minum. Makanan yang ada di sini tidak jauh beda dengan yang biasa saya lihat. Sate, pecel, nasi padang, dkk.

Saya mampir ke salah satu masjid. Setelah sampai ke tempat baru, saya biasanya mampir ke masjid. Ngobrol dengan warga lokal. Minta izin tidur di masjid itu. Kadang diizinkan, kadang malah disuruh menginap di rumahnya. Kebanyakan disuruh menginap di rumahnya. Termasuk kali ini di Balai Karangan.

Saya bertemu dengan Umar Hamdan. Dia seorang guru mengaji. Aslinya adalah orang Jawa. Umurnya masih sekitar 34 tahun. Kisah hidupnya begitu penuh intrik. Satu cerita yang menurut saya paling mengesankan saya ceritakan sbb:

Umar dan ibunya ditinggalkan sang Ayah karena program transmigrasi yang diikuti oleh sang Ayah. Waktu itu Umar masih bayi. Maka sejak itu, Umar tidak lagi melihat sang Ayah yang akhirnya pergi ke Kalimantan Barat bersama istri baru sang Ayah.

Kalimantan Barat termasuk salah satu provinsi terluas di Indonesia. Apa bekal Umar untuk mencari sang Ayah? Hanya nama sang Ayah? Mana mungkin? Tapi Umar tidak memikirkannya. Umar semakin terpicu karena seorang kenalannya dari Kalimantan Barat mengaku mengetahui nama yang disebut-sebut Umar sebagai ayahnya. Lokasinya di Sanggau.

Saat menjejak ke Kalimantan pada 2003, umur Umar sekitar 21 tahun. Satu bulan sejak kedatangannya ke Kalimantan, Umar baru betul-betul yakin bahwa Ayahnya adalah seorang pemilik warung makan sederhana di Sanggau. Tidak ada rasa rindu, sedih, bahagia, atau rasa apapun, ketika Umar pertama kali bertemu Ayahnya. Di warung makan itu, Umar memesan makanan. Sang Ayah menghidangkan makanan pesanan kepada pengunjung warung makannya, tanpa tahu bahwa pengunjung itu adalah anak kandungnya yang telah ditinggalkannya 20 tahun lalu.

Selepas makan, Umar mengajak pemilik warung berbincang. Umar bertanya, “Apa Bapak mempunyai anak?”

“Iya, umurnya sekitar 21 tahun sekarang,” jawab pemilik warung.

“Bapak tahu namanya?” tanya Umar.

“Tentu saja. Karena saya yang memberi nama. Namanya Umar Hamdan,” kenang pemilik warung.

“Sayalah anak Bapak itu,” kata Umar sambil menatap Ayahnya.

Tapi aneh, tidak ada rasa apapun yang muncul dalam hati Umar. Tidak ada mata yang berkaca-kaca. Tidak ada suara yang tiba-tiba serak. Mungkin karena terlalu lama, sehingga rasa itu sudah pudar, menjelang hilang.

Begitu juga sang Ayah. Dia tidak percaya yang sedang berhadapan dengannya itu adalah anaknya. Tidak ada rasa yang muncul.

Rasa itu baru muncul beberapa waktu kemudian, setelah sang Ayah mengonfirmasi ke beberapa sanaknya di Jawa. Sang Ayah luluh dalam rasanya, entah itu sedih, bahagia, sesal, kurang jelas. Yang jelas, Umar tetap belum memiliki “rasa” itu.

Buat saya, kisah Umar ini menarik sekali. Lebih menarik dari seluruh cerita dan pengalaman yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini.

Saya diminta Umar untuk tidur di rumahnya. Dia dan teman-temannya tertarik dengan laptop yang saya bawa. Nah, ini memang menjadi salah satu senjata rahasia saya untuk membuat orang tertarik, apalagi anak-anak. Saya buka Google Map dan melakukan zoom-in sampai lokasi tempat kami berada. Itu saja sudah membuat banyak yang tertarik.

Keinginan saya untuk sampai ke Kuching saya sampaikan ke Umar. Kebetulan sekali besok Umar berencana pergi ke Serian tempat saudaranya. Serian adalah daerah di Malaysia yang sejalur dengan perjalanan menuju Kuching. Langsung saya iyakan sesaat setelah Umar mengajak pergi bersama.

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 3/4)

02
Jan
17

Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 1/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Saya dapat project di Tayan (Kalimantan Barat) selama 4 bulan. Untuk sampai ke Tayan, perlu perjalanan 2 jam lagi dari tempat pesawat mendarat di Supadio, Pontianak. Sepanjang perjalanan Pontianak – Tayan ini, saya beberapa kali melihat bus besar jurusan Pontianak – Brunei. Saya pikir, wah, sudah dekat Brunei nih. Kalau ada waktu saya mau main ke sana ah…

Tapi waktu tak kunjung datang. Libur saya cuma Sabtu-Minggu. Itu tidak cukup untuk jalan-jalan ke Brunei. Dengan libur 3 hari pun tidak cukup. Perjalanan ke Brunei saja bisa 24 jam penuh sendiri, dengan bus international. Jadi saya ubah haluan, menuju Kuching.

Hari pertama, 15 Agustus 2015. Saya nebeng teman ke simpang tiga Tayan (yang satu menuju Pontianak, yang satu Tayan, satu lagi Entikong). Info yang saya dapat, travel ke Entikong baru ada sore, padahal waktu itu masih sekitar jam 11. Sambil makan di suatu rumah makan, saya ngobrol dengan sesama pengunjung. Rupanya dia agak sejalan dengan saya. Dia ke Sanggau, jadi saya bisa ikut sampai Sosok. Dia ajak bareng, wah pas banget.

Jalan Tayan-Sosok ini wih… hancur lebur! Berdebu dan banyak batu. Kepala goyang-goyang terus. Heran… jalan antar Negara bisa rusak parah begini, berkilo-kilo lagi. Di Sosok inilah saya pisah. Tiba-tiba dia minta uang. Dua ratus ribu. Padahal di depan diam-diam saja. Padahal kalau pakai kendaraan umum biasanya seratus ribu saja. Penganiayaan ini namanya.

Ya sudah, saya turun di Sosok. Di sini banyak orang jualan masakan ber-babi. Jadi sebelum memilih tempat makan, saya tanya dulu, halal kah?

Sekitar satu sampai dua jam saya tunggu bus yang lewat menuju Entikong. Saya nunggu di halte sederhana, ditemani anjing yang melihat saya terus. Jalan sedikit, lihat saya lagi. Julurkan lidah, lihat saya lagi. Jalan lagi, lihat saya lagi. Kurang kerjaan itu anjing.

Lama nunggunya memang, tapi akhirnya dapat bus. Tarifnya murah, cuma sekitar Rp20.000. Busnya seperti Metro Mini di Jakarta. Agak lebih besar sedikit. Masalah ugal-ugalannya sama, tapi bedanya di sini jalanan sepi, jadi tidak terlalu ketara kalau bus berjalan dengan brutal.

img-20150814-00536

Mini Bus dari Sosok ke Balai Karangan

Di bagian kiri depan bus ada tulisan CV Yudha Pratama. Mungkin itu nama perusahaan bisnya. Tapi saya googling kok alamat perusahaannya di Surabaya??

Pintu bus ada dua. Satu di kiri depan dengan bagian atas tertulis “In” dan satu di bagian kiri belakang dengan tulisan “Out”. Tapi jelas itu meaningless. Kalau mau turun naik ya bisa dari depan bisa dari belakang. Bagian atas bus penuh dengan barang yang diselubungi terpal. Termasuk ada motor dan ada ban bus. Mungkin ban cadangan. Di dalam bus, penumpang dijejali bersama karung dengan isi penuh. Entah isinya apaan.

Di tengah jalan, bus mogok tidak kuat nanjak. Semua penumpang turun tanpa diperintah. Semua menunggu di  tengah-tengah hutan yang tidak lebat. Untung tidak hujan. Kru bus langsung memasukkan kepalanya lewat roda kiri depan. Entah dia mencari apa. Tapi 10 menit kemudian mesin bus bisa nyala kembali. Kami penumpang yang kerjaannya cuma bisa nonton kru bus wara wiri, kembali naik ke atas bus. Tancap!

Tapi di tancap juga kok jalannyasegitu-segitu saja. Cuma sekitar 20 km/jam. Kadang-kadang kalau jalan lurus bisa sampai 40 km/jam.

Karena suasana sudah agak gelap, dan saya tahu bahwa untuk lewat batas Negara cuma bisa sampai sore saja, saya putuskan untuk turun dan menginap di Balai Karangan dulu. Balai Karangan adalah nama Kecamatan yang letaknya cukup dekat dengan Kecamatan Entikong. Sekitar 30 kilometer sebelum perbatasan di Entikong.

#Bersambung ke Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 2/4)

14
Nov
16

Terinspirasi Kelas Inspirasi

Sebuah email masuk, menyatakan bahwa saya lulus menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Tegal 2. Ada angka dua, karena sebelumnya pernah ada yang pertama. Ini adalah episode berikutnya. Tidak diketahui akan berakhir sampai episode berapa. Tegal terbilang muda karena baru dua. Kota lain sudah ada yang sampai lima. Kenapa setiap di akhir kalimat ada vokal “a” semua ya?

Yang saya pahami, sebagai relawan saya bertugas menjelaskan apa profesi saya kepada siswa SD. Kelak saya tahu ternyata tidak sesederhana itu. Grup WA dibentuk. Diskusi langsung bergulir, membahas tentang struktur pengurus kecil, konsep opening dan closing, siapa berangkat kapan naik apa, pendanaannya bagaimana, siapa yang desain… dan sebagainya.

Sebagai katalisator, ada yang namanya Fasilitator atau disingkat “Fasil”. Fasil inilah yang bertugas mendorong agar tiap kelompok yang dipegangnya bisa berjalan sukses. Fasil saya namanya Nurhadi. Dia seorang ustad yang kalau pagi mulutnya selalu basah berdzikir. Saya kalau jadi dia rasanya bakal stres karena sulit sekali menggerakkan grup agar bisa aktif dalam diskusi. Dia setiap pagi menyemangati kami, yang belum dikenalnya, untuk semangat bekerja.

Semakin mendekati Hari Inspirasi, 12 November 2016, semakin banyak topik diskusi yang dibahas. Semakin mendetail. Tentang desain mana yang akan digunakan, berapa banyak siswa yang akan diajar, homestay yang akan digunakan relawan, detail jadwal pengajaran, sampai gerakan apa yang akan digunakan untuk ice breaking.

Kelompok saya adalah Kelompok 19, yang akan mengajar SDN Tunon 2, tidak jauh dari Stasiun Tegal. Total ada 20 kelompok yang tersebar ke seluruh Tegal. Ada yang dekat pantai, ada yang di gunung. Masing-masing menyusun strateginya sendiri-sendiri untuk menjalankan Hari Inspirasi.

Tim saya mengadakan kopdar di Jakarta dan di Tegal. Dilakukan di dua tempat karena memang sebagian tim ada yang dari Jakarta dan sekitarnya, ada yang dari Tegal dan sekitarnya. Saya tidak ikut keduanya karena sedang di Mojokerto, cari sesuap berlian..

Profesi dari anggota tim saya cukup beragam: akuntan, human resource, sekretaris, arsitek, banker, humas, pelatih tenis, apoteker, sampai tentara. Mereka dari “habitat” yang berbeda sehingga bisa memberikan cara pandang yang lain. Kok rasanya semakin ingin cepat-cepat menuju Hari Inspirasi ya…

Saya berangkat dari Mojokerto dengan kereta Bangunkarta. Ini kereta mahal banget, sama dengan harga tiket pesawat. Bukannya belagu maunya naik Bangunkarta, tapi coba deh buka tiket.com dan cari rute Mojokerto – Tegal. Apa ada selain Bangunkarta??

Berangkat langsung dari kantor, di Stasiun Tegal saya dijemput relawan satu tim. Kami langsung menuju homestay, jam 1 dini hari. Ternyata semua masih sibuk mempersiapkan pernak-pernik untuk hari inspirasi. Jam 2 baru tidur.

Hari Inspirasi

Malam sebelumnya, saya habiskan 3 jam menonton Kelas Inspirasi di Youtube. Bagaimana ice breaking, bagaimana mengajar anak SD, bagaimana menjadi guru yang baik. Itu yang saya coba aplikasikan ketika mengajar.

Saya dijatah mengajar 3 kelas: Kelas 2, 4, dan 6. Masing-masing 35 menit. Yang pertama adalah kelas 6. Setelah saya cairkan suasana dengan berbagai macam tepuk, situasi tenang kembali, malah tenang sekali kalau diminta tunjuk tangan. Mereka bisa menjawab kalau bersama-sama, tetapi tidak ada satupun yang bersuara ketika diminta tunjuk tangan sebelum menjawab.

Saya memilih berprofesi sebagai Penulis, jadi saya ajarkan bagaimana menggali informasi dari nara sumber lalu menuliskannya di MS Word yang ditembak melalui proyektor sehingga mereka bisa melihat saya menulis kata per kata.

Lalu saya minta masing-masing mereka melakukan hal yang sama: menggali informasi dari nara sumber (teman di sebelahnya) lalu menuliskannya di selembar kertas. Hasilnya jauh dari ekspektasi. Mereka malu-malu melakukan wawancara dan kesulitan dalam menulis walaupun hanya 3 kalimat. Wah.. kelihatannya strategi saya keliru di kelas pertama.

Di kelas kedua, yaitu Kelas 2, berkebalikan jauh sekali dari yang pertama. Tidak diminta tunjuk jari malah tunjuk jari semua. Baru sepuluh menit sudah ada yang naik meja, ada yang menarik-narik jam tangan saya, ada yang tidak berhenti memanggil “Pak, bapak, bapaaaak…”, ada yang tiba-tiba mengadukan temannya yang nakal, ada yang tetap di tempat dengan tangan sedakep, ada yang sepatunya hilang, ada yang malah ngeloyor keluar kelas bawa tasnya hendak pulang. Suara saya seperti hampir habis teriak-teriak meminta tenang. Saya tidak terbayang gimana bisa wali kelasnya betah.

_mg_0641

Mengajar di Kelas 2 SDN Tunon 2 Tegal. Foto: Agus

Dengan iming-iming akan diajari tepuk-tepukan, mereka akhirnya bisa tenang. Tapi tidak lama berantakan lagi. Ada yang naik meja lagi. Ada yang laporan temannya nakal lagi. Ada yang sepatunya hilang lagi. Ada yang menarik-narik jam tangan saya lagi.

Sudahlah, saya keluarkan jurus pamungkas: kotak impian. Kotak yang terbuat dari kardus ini memang digunakan untuk closing. Masing-masing siswa menuliskan nama dan cita-citanya di atas kertas cita-cita, lalu memasukkannya ke dalam kotak impian. Demi mendapatkan kertas cita-cita, mereka mau duduk ke tempatnya masing-masing.

Saya agak menyesal menawarkan “siapa yang mau membacakan kertas cita-cita?” karena pada akhirnya semua minta diperbolehkan membacanya di depan kelas. Mereka tunjuk tangan di tempat duduknya masing- masing, “Saya Pak… saya Paaak.” Kalau saya diamkan mereka akan maju sambil tetap mengacungkan jarinya, sampai saya mempersilakannya membaca. Ini kelas super sekali. Setelah 35 menit akhirnya saya bisa lepas dari kelas dua.

Kelas terakhir yang saya ajar adalah Kelas 4. Di sini saya merdeka karena siswanya aktif dan mudah diarahkan. Saya contohkan bagaimana seorang penulis mewawancarai nara sumber lalu menyilakan mereka untuk melakukan hal yang sama di depan kelas. Begitu aktifnya, sampai hampir semua sempat untuk berdiri di depan mempraktekkan wawancara dengan spidol yang berpura-pura menjadi mic.

Total jam mengajar saya tidak lebih dari dua jam, tapi kenangannya begitu hebat. Ini mah bukan saya yang menginspirasi, tapi malah saya yang terinspirasi. Bagaimana seorang anak bisa begitu riang dalam menghadapi hari-harinya. Bagaimana sulitnya menjadi guru SD.

Setelah selesai mengajar, kami relawan berkumpul kembali dan bertukar cerita. Rasanya semua jadi ketagihan ikut Kelas Inspirasi. Yang juga hebat adalah, sesama relawan jadi muncul ikatan kebersamaan yang kuat, padahal baru kenal satu hari. Kami malah sempat ke pantai bareng, minum teh poci, makan sate blengong, dan foto-foto di hutan mangrove. Sadar tidak sadar, ini jadi jalan rezeki untuk kita semua. Sudah dijanjikan bahwa silaturahim membuka pintu rezeki.

Malam hari kami menginap di PMI dekat Alun-Alun Slawi bersama relawan dari kelompok lain. Tidurnya ya geletak di atas karpet begitu saja. Tapi tidak ada masalah tuh. Semua happy…

Refleksi

Esok harinya, dua puluh kelompok yang ikut dalam Kelas Inspirasi Tegal 2 berkumpul di Pendopo dekat Alun-Alun Slawi. Ini adalah refleksi dari apa yang telah kita lakukan kemarin. Masing-masing menceritakan pengalamannya mengajar dan apa tindak lanjut berikutnya.

Salah satu kelompok mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Seorang relawan dalam kelompok tersebut bahkan sampai menangis di depan kelas ketika mengajar murid-murid SLB, karena terharu dengan apa yang dia saksikan. Betapa beruntungnya kita yang mempunyai fisik lengkap, sekaligus betapa meruginya kita yang berfisik lengkap tapi tidak banyak manfaatnya untuk orang lain.

Seorang siswi SLB tersebut ditampilkan ke depan untuk bernyanyi. Dia adalah murid yang cantik. Bola matanya berputar-putar. Kepalanya yang besar menggeleng tiada henti. Dia bernyanyi sebuah lagu bertemakan syukur kepada orang tua. Dia bernyanyi di atas kursi rodanya sambil menggoyangkan kakinya ke depan dan ke belakang. Tidak sedikit yang menangis mendengarkan nyanyiannya.

“Mereka jauh lebih cerdas daripada murid pada umumnya. Mereka punya kelemahan, tapi jauh lebih banyak kelebihannya,” kata relawan yang mengajar di SLB tersebut.

Banyak sekali yang bisa saya bawa pulang dari Kelas Inspirasi. Tag line Sehari Mengajar Seumur Hidup Menginspirasi rasanya tepat sekali.

01
Sep
16

Seni Ketangkasan Domba Garut Makin Digandrungi

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Segerombolan orang sedang berkumpul di suatu lapangan luas. Mereka terlihat asik sekali menonton sesuatu. Sesekali terlihat ketegangan di raut muka mereka. Alunan gamelan, tepukan kendang, dan tiupan terompet yang dimainkan langsung di lapangan membuat suasana semakin marak. Ada beberapa bule yang ikut berjoget di pinggir lapangan. Seperti tidak ada kesulitan sama sekali dalam hidup mereka ketika hobi dapat tersalurkan. Semua menikmati acara hari ini, seni ketangkasan domba garut.

Seperti seorang tokoh yang gagah berani, seekor domba garut bisa menghantam semua benda di sekitarnya yang dianggap bisa mengganggu. Insting bertarung domba garut sangat tinggi. Bahkan, ketika dimasukkan ke dalam kadang pun seringkali kandang ikut diseruduknya. Maka perlu kayu khusus untuk membuat kandang si pemberani yang satu ini agar tidak jebol. ”Memang domba garut ini memiliki keinginan yang berkelahi yang tinggi. Sifat itulah yang membuat komoditi ini berharga mahal,” kata Robi Agustiar, Sekretaris Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI).

Anak-anak penggembala yang konon gemar mengadu domba-domba mereka di pinggir hutan. Lalu para priyayi melihat kemudian ikut mengadu domba-domba mereka. Dari situlah awalnya seni ketangkasan ini berkembang.

Seperti karapan sapi di Jawa Timur, seni ketangkasan domba garut ini berkembang pesat di Jawa Barat. Terlihat dari jumlah domba garut yang ada di Jawa Barat mncapai 49% dari total populasi domba garut nasional. Secara tidak langsung kebudayaan ini ikut melestarikan plasma nutfah domba garut.

Awalnya pertandingan seperti ini dinamakan adu domba, tapi sejak tahun 1970 sudah diganti menjadi seni ketangkasan. ”Image adu domba dirasa terlalu negatif, berbenturan dengan agam, padahal ini seni, bukan adu domba,” kata Robi. Dulu, adu domba sering dilakukan sampai salah satu domba mati, tapi sekarang HPDKI sudah mengubah beberapa peraturan yang dianggap tidak sesuai. Kematian domba karena seni ketangkasan bisa dikatakan tidak ada.

Domba jenis ini bisa dibilang merupakan domba paling langka di dunia. Varietas domba garut terbentuk dari persilangan tiga jenis domba, yaitu domba Merino, domba Kaapstad, dan domba lokal. Domba Merino didapat dari pemberian Ratu Belanda ketika itu. Sedangkan domba Kaapstad didapat dari pedagng-pedagang Arab.

Tidak semua hasil turunan domba garut bisa dilagakan dalam seni ketangkasan. ”Perbandingan cetakan domba garut sayur dengan domba garut untuk seni ketangkasan adalah 5:1. Jadi, memang tidak mudah mendapatkan domba garut pemberani,” jelas Robi. Domba sayur di sini maksudnya domba garut yang tidak memiliki insting bertanding sehingga tidak bisa dilagakan. Biasanya domba sayur dijadikan domba pedaging.

Ciri fisik domba garut untuk seni ketangkasan yaitu bertanduk melengkung dengan ujung runcing yang biasanya mengarah ke depan. Lehernya besar dan kuat. Telinganya kecil dan tersembunyi, tidak seperti telinga kambing yang besar dan menjuntai ke bawah. Ekor domba garut juga berbeda, kecil dan pendek.

Pertandingan Rutin

Pehobi domba garut memiliki jadwal latihan dan jadwal kontes rutin untuk menyalurkan hobi mereka. Latihan dilakukan seminggu sekali sedangkan kontes dilakukan sebulan sekali. Hampir di tiap kota kabupaten di Jawa Barat terdapat pamidangan, yaitu tempat laga seni ketangkasan.

Emis Rukanda, salah satu pehobi seni ketangkasan domba garut mengaku rutin mengikuti latihan dan kontes yang ada. ”Pertandingan terdiri dari beberapa kelas tergantung bobot badan domba. Kelas A untuk domba dengan bobot lebih dari 75 kg, kelas B untuk bobot 65-75 kg, sedangkan kelas C untuk domba berbobot kurang dari 65 kg,” jelas Rukanda.

Satu pertandingan maksimal dilakukan sampai dua puluh kali tumbukan dengan pemberian waktu istirahat pada tumbukan ke-15. Jarang sekali ditemukan domba yang mati pada tumbukan ke-20, bisa dibilang tidak ada yang mati pada seni ketangkasan ini.

Ada beberapa kriteria yang dijadikan penilaian oleh juri dalam seni ketangkasan ini, yaitu adeg-adeg, teknik pemidangan, teknik bertanding, kesehatan, dan keberanian. Adeg-adeg adalah postur tubuh, termasuk di dalamnya penampakan wajahnya.

Domba yang menang dalam kontes akan mendapatkan hadiah, tetapi bukan berupa uang tunai, melainkan barang seperti TV, sapi, dan sebagainya. Hadiah-hadiah ini tidak terlalu berharga dibanding sertifikat yang diberikan. Sertifikat ini dapat membuat harga domba pemenang berlipat-lipat.

Mencapai Ratusan Juta Rupiah

Harga dari domba garut petarung tergantung dari genetisnya dan prestasi dari si domba. ”Domba garut yang merupakan peranakan dari pemenang hebat akan memiliki harga tinggi. Domba yang pernah menang liga seni ketangkasan juga memiliki harga yang lebih mahal karena ada sertifikat yang menyatakan domba itu pernah menang,” kata Robi.

Ada domba garut yang dijual dengan harga menembus seratus juta rupiah. ”Rata-rata domba garut biasa dijual dengan harga sekitar 3-5 juta. Untuk domba garut yang merupakan bibit bagus, artinya peranakan dari domba garut petarung hebat, bisa dihargai 10-15 juta. Sedangkan untuk domba bersertifikat dari kelas A bisa dihargai 20 sampai 30 juta,” tambahnya. Penjualan domba juga diikuti dengan sertifikat prestasi si domba.

Domba Sayur Juga Dicari

Bukan berarti hanya domba garut dalam seni ketangkasan saja yang potensinya besar. Domba garut sayur juga cukup menjanjikan. Kualitas daging domba garut baik. Gizinya cukup baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tidak hanya dagingnya yang dapat dimanfaatkan, domba garut juga memiliki bulu yang ikal dan keriting sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bulu wool. Kulit domba garut dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan jaket berkualitas. Industri jaket berbahan baku kulit domba garut bisa menyerap ribuan tenaga kerja dengan nilai ekspor mencapai puluhan miliar rupiah.

Populasi domba dan kambing di Indonesia tumbuh lambat, tidak secepat pertumbuhan permintaannya. potensi kebutuhan daging domba dan kambing untuk kurban saja mencapai 5,6 juta ekor tiap tahunnya, belum lagi untuk kebutuhan aqiqah dan tempat makan. Potensi ini belum menghitung kebutuhan pasar Asia Tenggara yang tiap tahunnya membutuhkan 9,3 juta ekor. Namun, sayangnya peternak domba dan kambing di Indonesia sebagian besar hanya pemain kecil yang beternak dengan cara-cara tradisional sehingga perkembangannya tidak maksimal.

15
Agu
16

Bukti Mentjos, Jual Jamu dalam Kafe

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2009

Jamu Bukti Mentjos. Dok: www.wisataseru.com

Jamu Bukti Mentjos. Dok: http://www.wisataseru.com

Biasanya jamu diidentikkan dengan sesuatu yang inferior dan tidak modern. Sejak adanya produk-produk jamu dalam kemasan, buah karya dari pabrik jamu besar, pandangan itu sedikit demi sedikit tereduksi. Kemunculan kafe-kafe jamu membuat nama jamu semakin terangkat. Bukti Mentjos adalah salah satu kafe jamu di Jakarta yang mengemas jamu dengan lebih eksklusif.

Letaknya yang strategis membuat Bukti Mentjos mudah diakses. Posisinya sekitar 500 meter dari kampus UI Salemba. Sejak tahun 50-an, warung jamu itu sudah berdiri di tempat yang sama seperti sekarang. Bedanya, dulu perawakan tempatnya tidak semenarik sekarang. “Dulu hanya warung kecil dengan tanahnya yang becek,” ingat Romuli yang akrab dipanggil Ako, pemilik Bukti Mentjos. Tempatnya sekarang memang tidak terlalu besar tapi Ako mampu menyulapnya menjadi tempat yang selalu ramai, tidak pernah sepi, apalagi setelah matahari kembali ke peraduannya, Bukti Mentjos semakin dikerubuti pelanggannya.

Kebanyakan pelangannya adalah orang yang loyal, sudah tahunan berlangganan Jamu racikan Ako ini. Mereka sepakat kalau dikatakan ramuan Ako ini handal mendepak berbagai penyakit harian seperti batuk, pilek, pegal, masuk angin, dan perut kembung. Bukan berarti hanya penyakit ringan saja yang bisa ditanggulangi jamu Ako. Kanker dan tumor juga punya ramuan tersendiri.

Beberapa pengunjung bertutur tentang kisahnya. Seorang Bapak mengaku sudah sejak umur 5 tahun ia rajin minum jamu di Bukti Mentjos. “Kalau ada keluhan-keluhan kecil saya selalu ke sini, menyampaikan keluhan, lalu minum jamu. Dengan segera tubuh saya membaik. Sekarang umur saya sudah empat puluh lewat. Berarti sudah puluhan tahun saya sudah jadi langganannya Ako,” katanya sambil tertawa.

Seorang ibu mengaku sudah menjadi pelanggan sejak dirinya belum dilahirkan. Orang tuanya sudah getol mampir ke Bukti Mentjos. Berarti pelanggan Ako sudah sampai lintas generasi.

Satu orang bapak gempal bercerita dengan serius, “Saya kalau sudah flu ya pasti ke sini. Setelah dari sini biasanya dalam dua hari flu saya sudah minggat. Saya yakin betul dengan kualitas jamu di sini. Dua kejadian yang membuat saya makin yakin. Pertama, vonis operasi karena ambeien saudara saya bisa dipatahkan hanya dengan dua kali berkunjung ke sini. Jadi dalam dua malam saja keluhan hilang. Yang kedua, sakit pinggang saya diobati di dokter saraf RS Cipto, sembuh memang, tapi ketika kambuh lagi, saya coba ke sini, ternyata bisa sembuh dengan jamu. Kalau begitu, buat apa saya ke Cipto lagi?” ulasnya.

Menanggapi pernyataan positif itu, Ako yang mendengarkan percakapan pengunjung dengan AO hanya tersenyum. “Yang penting orang minum jamu, sembuh, sehat, kita sudah senang lah,” kata Ako yang terlihat awet muda itu walaupun umurnya sudah setengah abad.

Jamu-jamu racikan Ako kebanyakan berbahan dasar rempah-rempah yang didapat dari Solo, tempat asal mula didirikannya Bukti Mentjos pada tahun 40-an oleh kakek dan neneknya Ako. Ia membawa bahan-bahan mentah tersebut ke Jakarta baru kemudian diolah lebih lanjut sampai berbentuk serbuk halus siap seduh.

Tiap Botol Punya Kode. Pengunjung bisa membawa pulang ramuan atau bisa minum langsung di tempat. Kalau kita memilih minum di tempat, ada bonus khusus, yaitu atraksi mencampurkan jamu. Ada sekitar 20 botol berkode yang berjejer rapi. Setiap kode mencirikan jamu jenis apa yang ada di dalamnya. “Ramuan ini kan pengenalannya tidak bisa dari warna, bisanya dari bau dan rasa. Makanya ada nomor kode untuk memudahkan,” kata Ako.

Setidaknya ada 57 ramuan hasil karya Ako, baik dari hasil risetnya sendiri maupun dari ilmu yang diwariskan turun-temurun. Hanya saja yang dijejer di etalase hanya sekitar 20 ramuan karena itulah yang sering dipesan. Selebihnya ada namun tidak dipajang. Sebut saja jamu nomor 55 yang dinamakan “Si Jantung”. Jamu ini berfungsi mengobati jantung sakit/lemah, dada sesak, berdebar-debar, dan cepat lelah. Atau jamu nomor 33, bernama “Bersih Darah”, yang dapat membersihkan darah sehingga bisa melenyapkan bisul, gatal-gatal, jerawat, eksim, giduh (biduran), dan bau keringat.

Ako dengan fasih mencampurkan sedikit serbuk jamu bernomor sekian dengan nomor sekian dan sekian setelah mendengar rentetan keluhan pengunjungnya. Pengalaman puluhan tahun bergelut di dunia perjamuan membuatnya hebat memberikan resep. Ia selalu melakukan up date ilmu tentang dunia jamu dengan mengikuti seminar, penyuluhan, dan symposium. Semua untuk menyerap ilmu baru supaya dapat membuat ramuan yang lebih mujarab. Ako punya komentar tersendiri untuk seminar-seminar ilmiah, “Biasanya penelitian yang sekarang ini tidak jauh dari zaman kakek nenek kita. Temulawak buat lever dari dulu sudah dipakai, kunyit untuk usus dari dulu sudah dipakai. Ajaib kan!”

Bisa dibilang, ilmunya ini termasuk aliran Jawa asli. “Kalau di India kan ada sekolahnya, lulus jadi tabib. Di Cina ada sekolahnya, lulus jadi Sinsei. Kalau di Indonesia kan tidak ada, jadi turun-temurun dari kakek nenek. Dan seterusnya juga akan turun temurun, bisa ke anak saya bisa juga ke keponakan.”

Akrab

Satu kelebihan besar yang dimiliki Bukti Mentjos adalah keakrabannya dengan pengunjung. Ako yang merupakan pemilik usaha ini turun langsung melayani pengunjung. Dengan seksama ia mendengarkan keluhan dari pengunjung. Tidak ragu-ragu, pengunjung pun berkeluh kesah, tidak jarang terlihat pengunjung yang membawa secarik kertas bertuliskan sejumlah keluhan dari kerabatnya di rumah. Supaya lebih tepat, Ako terkadang melempar pertanyaan kembali, seperti “Masuk angin, gatal hidung, agak flu. Gak ada batuk ya?” atau “Kata dokter apa?” Setelah yakin dengan resepnya, Ako memberikan gelas yang sudah berisi serbuk jamu kepada pegawainya lalu bertanya kepada pelanggan, “Manis atau pahit?” Kalau manis, pegawainya akan menambahkan air jahe manis untuk melarutkan serbuk jamunya. Setelah selesai minum jamu, pengunjung dikenakan 13 ribu rupiah per gelas jamu yang diminumnya.

Di sela wawancara, Ako tetap memperhatikan konsumennya. Kalau ada yang memperlihatkan mimic kepahitan, Ako langsung menyuruh pegawainya menambahkan madu supaya lebih manis. Lalu bertanya lagi sekedar memastikan, “Gimana Bu? Sudah cukup manis?”

Tidak jarang, Ako memberikan sedikit nasihat, “Ibu tetap jaga ya, kontrol makanan. Ibu jangan kapok ya (minum jamu), yang penting sehat Bu,” atau “Saya pernah ngomong ya, di mana kamu duduk, apakah di rumah, di kantor, jaga kantong blakang supaya peredaran darah lancar.”

Memang, Ako tidak selalu ada di setiap jam aktif Bukti Mentjos, yaitu pukul 11 siang sampai 10 malam. Biasanya Ako hanya terlihat pada malam hari. Selebihnya, sepuluh karyawannya lah yang melayani langsung pengunjung. Namun, jangan anggap remeh karena menurut Ako, seluruh karyawannya sudah dibekali ilmu juga. Mereka siap melayani pengunjung.

15
Jul
16

Jermal

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2009

Film Jermal adalah film yang keseluruhan proses shooting-nya dilakukan di atas Jermal, yaitu sebuah bangunan yang terbuat dari kayu yang ditinggali oleh nelayan dengan keseharian aktivitas menangkap ikan.

Walaupun demikian, film ini bukan film documenter yang menonjolkan aktivitas jermal melainkan film fiksi yang lebih mengangkat hubungan psikologis antara ayah dan anak. Hanya sedikit-sedikit saja aktivitas Jermal yang Nampak. Setiap harinya, awak Jermal menjaring ikan dari lubang yang cukup besar di tengah Jermal dengan menggunakan wadah besar yang tampak terbuat dari rotan. Ikan tersebut dicuci. Kemudian, menurut Suryani, salah satu penggiat film Jermal, ikan tersebut dijual ke kapal-kapal yang lewat Jermal itu. Air bersih dan bahan makanan dibeli dari kapal-kapal yang lewat Jermal juga. Praktis, awak Jermal tidak pernah keluar dari Jermalnya.

Digambarkan dalam film tersebut, kehidupan di Jermal sangat keras. Jaya dan Johar (Didi Petet) adalah pemeran utama yang berperan sebagai anak dan ayah. Johar yang berperan juga sebagai komandan Jermal tidak mau mengakui Jaya sebagai anaknya ketika anak itu dibawa ke Jermal karena ibunya sudah meninggal. Perlakuan Johar sangat keras kepada Jaya, sungguh tidak mencerminkan hubungan ayah dan anak. Awak Jermal yang kesemuanya masih terhitung anak di bawah umur juga awalnya memperlakukan Jaya yang dikisahkan berumur 12 tahun dengan tidak manusiawi. Barang bawaan Jaya diambil dengan paksa. Jaya yang terbiasa hidup di daratan tidak berkutik dengan kerasnya kehidupan laut.

Awalnya Jaya tidak kuat dengan semua itu. Ia tidak melawan perlakuan kasar itu. Sempat sekali Jaya mencoba kabur dari Jermal dengan menggunakan ember besar. Kru Jermal yang lain justru malah menjadikan itu sebagai ajang taruhan, berapa lama Jaya kuat di laut.

Sedikit demi sedikit, Jaya mulai belajar tentang kehidupan laut. Jaya yang tadinya tidak keluar sepatah katapun dari mulutnya mulai berbncang dengan awak lain. Ia mulai melawan Johar yang masih tidak mau mengakuinya sebagai anak. Bahkan, Jaya berani mengacungkan golok ke leher Johar karena menganggap Johar adalah pembunuh.

Konflik terbesar adalah ketika jangkrik peliharaan Jaya ditusuk oleh pemimpin awak Jermal. Jaya tidak terima dengan perlakuan itu. Ia melawan dengan memukul menggunakan kayu sampai tidak ada perlawanan. Johar yang melihat kejadian itu lalu menghentikan Jaya kemudian membawanya ke ruangan Johar. Setelah Jaya tenang, Johar menceritakan bahwa ia memutuskan untuk hidup di Jermal karena tidak ingin dikejar-kejar polisi akibat perbuatan pembunuhan yang dilakukannya terhadap orang yang dianggap selingkuhan istrinya. Johar teringat kembali kekhilafannya waktu itu ketika melihat Jaya memukul dengan membabi buta. Perlahan, Jaya mulai mengakui Johar sebagai Ayahnya, terutama ketika Jaya membaca surat-surat dan foto-foto dari Ibunya yang dikirimkan kepada Johar setiap tahun.

Semakin kuat hubungan antara Johar dan Jaya sampai suatu ketika mereka memutuskan untuk tidak tinggal lagi di Jermal. Akhir dari film ini adalah ketika adegan Jaya dan Johar berlalu meninggalkan Jermal dengan dilepas rasa haru dari awak lain. Awak yang ditinggalkannya merasa kehilangan Jaya karena dialah satu-satunya awak yang pandai menulis sehingga sering dimintai tolong untuk menulis surat yang kemudian dimasukkan ke dalam botol dan dilemparkan ke laut.

Beberapa kali diperlihatkan adegan ketika polisi patroli menggeledah Jermal milik Johar. Dengan sigap, seluruh awak menyembunyikan dirinya. Maksud dari polisi patrol itu adalah menanggulangi perdagangan anak di bawah umur. Menurut Suryani, dulu memang masih banyak perdagangan anak yang kemudian dijadikan buruh di Jermal. Adegan yang menggelitik ketika seorang anak tertangkap oleh polisi patroli di sebuah keranjang besar. Ketika ditanya sedang apa. Awak Jermal itu mengaku sedang tidur, ia mengaku umurnya 18 tahun padahal postur tubuhnya menggambarkan anak umur 12 tahun. Polisi tersebut memintanya membuka baju lalu mengangkat tangannya. Lalu polisi bertanya, kok tidak ada bulu ketiaknya? Anak kecil tersebut beragumen bahwa pertumbuhannya lambat dibanding orang dewasa yang lain. Karena nada bicaranya tegas dan keras, si polisi tidak jadi menangkapnya.

Untuk merampungkan film ini, dibutuhkan waktu shooting sampai 26 hari. Selama shooting, kru tidak menginap di Jermal tetapi di pantai yang jaraknya satu jam perjalanan dari Jermal tempat shooting. Suryani menceritakan jarak itu belum yang paling jauh. Ada Jermal yang dicapai dengan dua jam perjalanan.

Sayangnya sudah terlambat bagi yang ingin menonton di bioskop karena film ini ditayangkan sejak 12 Maret 2009 sampai akhir Mei. Dengan jangka waktu sekitar dua minggu, film ini mampu menarik sekitar 15 ribu penonton. Untuk produksi total, dibutuhkan biaya sampai 4 miliar.




Juli 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31