Subuh di Halim Perdanakusuma

halim
Subuh di Halim Perdanakusuma

Beberapa bulan terakhir, kalau lagi tugas di Semarang, saya ambil jadwal Citilink 5:15 dari Halim Perdanakusuma, atau yang kalau di Traveloka disingkat HLP. Sejak HLP menjadi bandara komersil, saya lihat kemajuannya cepat sekali. Kemajuan dari sisi tenant yang buka semakin banyak, dan juga dari pengunjung yang semakin ramai. Sekarang, banyak yang lebih memilih HLP daripada CGK. Termasuk saya. Cuma setengah jam naik ojeg dari rumah, gimana gak bikin tertarik.

Nah, terkait kebiasaan saya Senin pagi terbang ke Semarang 5:15, saya punya cerita menarik. Jadi, mushola HLP itu kan kecil, mungkin karena di awal pembangunannya tidak disiapkan untuk jumlah pengunjung yang sebanyak sekarang. Kata sebuah media online sih, peningkatan pengunjungnya 20% setahun.

Penerbangan paling awal di HLP setahu saya adalah ke Kuala Namu (Medan), baru kemudian ke Semarang yang pukul 5:15. Ini yang Citilink ya, karena yang Batik Air tempat nunggunya beda, agak eksklusif dia.

Kalau terbang ke Medan kan 2 jam. Ke Semarang sekitar 50 menit. Intinya, waktu Subuhnya akan habis kalau kita pending sholat setelah landing di kota tujuan. Jadilah orang terburu-buru ingin sholat sebelum take off.

Mushola yang sempit membuat pengunjung membuat shof sholat tambahan di salah satu sudut ruang tunggu. Shof sholat tambahan ini malah lebih banyak menampung jamaah yang mau sholat, ketimbang kapasitas mushola.

Yang saya senang, cleaning service yang berjaga, sangat mendukung jamaah untuk sholat. Kalau di mushola sudah penuh, diarahkan ke shof tambahan itu. Dikasih tahu, sandalnya di situ, wudhunya di situ. Saya perhatikan ibu-ibu cleaning service ini baik sekali dalam melayani.

Yang saya juga senang adalah antusiasme pengunjung dalam mengejar sholat. Sampai putaran sholat ketiga biasanya kita masih harus mengantri di mushola. Setelah itu, baru agak reda. Terima kasih pada ibu-ibu cleaning service dan pengelola HLP atas layanannya dalam hal sholat subuh ini yaa.

Iklan

Kambing Mbak Tun Pasar Babadan

IMG20180126074353
Warung Makan Sate Kambing Mbak Tun

Akhir Januari 2018, saya diajak site visit ke Kebun Ngobo, salah satu kebun milik perusahaan tempat saya mrojek. Yang mau saya ceritakan adalah tempat sarapan yang kami dimampiri sebelum masuk kebun. Namanya Warung Makan Sate Kambing Mbak Tun. Posisinya di belakang Pasar Babadan, Ungaran, Jawa Tengah. Namanya saja yang sate, padahal menu lain banyak, seperti gulai, gongso, dan tongseng.

IMG20180126074248
Tanggal buka di balik kartu nama

Yang unik, warung ini hanya buka dua hari dalam 5 hari penanggalan Jawa, yaitu hanya pada Wage dan Legi. Tiga hari lainnya tutup. Ketika puasa dan lebaran juga tutup. Di brosurnya (iya, warung ini punya brosur), dipasang jadwal buka setahun penuh, dari Januari sampai Desember 2018. Di balik kartu namanya (iya, warung ini juga punya kartu nama) juga dicantumkan tanggal buka warung setahun penuh.

IMG20180126075547
Iga Gongso

Sekitar 5 menit setelah pesan, pesanan datang. Saya pesan tongseng yang isinya daging semua. Dagingnya itu lembut banget dan tidak bau sama sekali. Sambil saya juga cicip iga gongso dan sate kambing pesanan teman saya. Kami satu mobil yang makan di situ semuanya sangat puas dengan masakan di sini. Semua masakannya enak. Tempat ini sangat recommended.

IMG20180126074314
Harga menu

Harganya… Untuk seporsi sate/gongso/gulai/tongseng adalah Rp35.000. Plus nasi Rp5.000. Coba deh iga gongsonya. Ini yang menurut saya paling enak di antara yang enak-enak.

Tahu tidak, berapa kambing yang disembelih untuk warung ini dalam sehari buka? Tujuh belas kambing! Tidak mengeherankan sih sebetulnya, karena dari saya masuk sampai keluar, warung ini penuh terus. Pesanan tidak berhenti datang.

IMG20180126081842
Pemain Keroncong di dekat pintu masuk

Pengunjung yang datang, akan dihibur dengan lagu keroncong yang dimainkan tiga orang di pojokan warung dekat pintu masuk. Dua di antaranya memegang ukulele.

Dua Jam di Jepara

Sebetulnya saya sudah punya rencana rapi dari Semarang ke Pantai Kartini Jepara, nyeberang ke Pulau Panjang, sewa tenda dan bermalam di sana. Lalu besoknya balik lagi ke Semarang. Tapi ternyata kapal tidak ada yang berangkat.

Berangkat dari Pandanaran, Semarang, saya pakai Trans Semarang yang tiketnya sama dengan Trans Jakarta: Rp3.500, sampai Terminal Terboyo. Di sini mudah ditemui mini bus menuju Jepara. Semacam metro mini kalau di Jakarta. Nah saya naik itu. Penumpang sebelah wanita muda, saya tanya ongkosnya berapa sampai Jepara? Dia bilang biasanya Rp15.000. Jadi waktu kernet nagih ongkos, saya kasih uang pas. Pengalaman dulu-dulu, suka kena ongkos lebih mahal karena kelihatan bukan orang setempat.

IMG20180127143909
Terminal Jepara. Bus pink baru datang dari Semarang

Dua setengah jam sampai terminal Jepara. Saya jalan kaki sampai Pantai Kartini, sekitar setengah jam; walaupun banyak tukang ojeg yang menawarkan jasanya seharga Rp10.000. Jalan lebih enak, lebih sehat, lebih murah.

IMG20180127150951
Tiket Masuk Pantai Kartini

Di Pantai Kartini, dikenakan tiket masuk Rp7.000 untuk dewasa pada weekend. Saya langsung ke pantainya. Tidak ada yang berenang. Ombak memang lumayan kencang. Tembok tembok di bibir pantai dijilati terus oleh ombak. Ada tulisan besar “PANTAI KARTINI” di pinggir pantai, yang sedang dikuasai seorang wanita muda untuk berfoto. Paling tidak sudah tiga kali dia minta lelakinya memfoto. Terasa kurang bagus, dia minta ulang lagi, ulang lagi. Yang tadinya saya mau foto tulisan Pantai Kartini (tanpa orang), jadi tidak jadi nungguin dia lama.

Saya hirupi angin pantai yang aromanya khas. Sudah lama tidak.

IMG20180127152939
Museum Kura Kura

Jalan terus, sampai ke bangunan besar berbentuk kura-kura. Saya tidak masuk, tapi kelihatannya ini adalah museum yang isinya hewan-hewan air.

Tadinya mau lebih jauh lagi, sampai Pulau Panjang, bahkan camping dan snorkeling sekalian. Tapi kapal tidak melaut, terlalu bahaya dengan cuaca yang kurang bersahabat.

IMG20180127151254
Harga Makanan di Pantai Kartini

Sempat makan bakso yang harganya hanya Rp7.000. Lalu berjalan pulang kembali ke terminal Jepara, yang ternyata sudah tidak punya angkutan ke Semarang lagi. Bus terakhir ke Semarang adalah jam 4 sore. Saya telat setengah jam. Petugas Dishub yang iba mengantar saya ngebut ke salah satu simpang di Jepara tempat bus ngetem. Alhamdulillah masih ketemu bus ke Semarang.

Tapi dioper di simpang mana gitu, pindah bus. Lalu untuk kedua kalinya pindah lagi di Demak. Baru deh sampai di Terboyo Semarang kembali.

Bermalam di Changi

Di tahun ini juga, saya pernah punya pengalaman seru tentang terbang dan bandara. Kalau lagi ada workshop di Singapore, saya biasa dikasih fligh berangkat minggu malam JKT-SIN, pulang lagi Jumat malam SIN-CGK. Weekend di Jakarta. Nah, kebetulan ada jadwal sertifikasi di Jakarta di hari Kamisnya. Tapi Jumatnya tetap harus masuk ke kantor Singapore.

Jadi Senin sampai Rabu kerja di Singapore. Rabu malam saya terbang SIN-JKT. Kamis siang ikut sertifikasi di Jakarta. Kamis malam terbang JKT-SIN. Jumat pagi kerja di Singapore. Jumat malam terbang lagi SIN-JKT. Jadi saya ke Changi 3 kali dalam 3 hari berturut-turut.

Sayangnya, Lanjutkan membaca “Bermalam di Changi”

Terbang

Buat saya, 2017 adalah tahun dengan intensitas terbang paling tinggi. Sekitar 50 kali. Kalau dirata-ratakan, yaa sekitar 1 minggu sekali terbang, sepanjang tahun. Ini karena saya dapat proyek di luar Jakarta, padahal base kantornya di Jakarta, jadi dapat benefit hometrip tiap dua minggu.

Trayek paling sering adalah Jakarta – Surabaya. Selain itu juga Jakarta – Singapore, Jakarta – Batam, Jakarta – Semarang, dan Jakarta – Solo. Pesawat yang paling sering saya pakai adalah Citilink. Beberapa kali saja pakai Batik, Lion, Sriwijaya, Garuda, Jetstar, Tiger, Air Asia, pernah 2 kali pakai Singapore Airlines (SQ).

Baru tahun ini Lanjutkan membaca “Terbang”

Lari di Semarang

Sekarang saya jadi senang lari.

Jadi waktu ditugaskan ke Semarang, ada waktu senggang, ya lari. Dari tempat saya menginap di daerah Pandanaran, menuju Lawang Sewu. Lanjut ke Jalan Pemuda, sampai Kota Lama Semarang. Baliknya lewat Jalan Gajah Mada, sampai Simpang Lima.

Yang menarik adalah, saya ketemu beberapa mading koran. Semacam mading atau papan pengumuman di pinggir jalan, yang isinya koran yang ditempel-tempel. Ahh.. sayangnya saya lupa lihat, itu koran basi atau koran hari itu. Kelihatannya beginian sih bagus ya, karena saya lihat ada saja tuh yang baca.

IMG20171118064004
Mading koran di Semarang

Lanjutkan membaca “Lari di Semarang”

Tinggal di Batumas Pandaan

Di daerah Pandaan, Jawa Timur, komplek perumahan yang terkenal paling elit adalah Taman Dayu. Dulu rencananya saya dan 3 teman saya mau menyewa rumah di Taman Dayu, tapi terlalu mahal. Untuk rumah dengan 3-4 kamar disewakan Rp40 juta per tahun. Ini cerita tahun 2017.

Lanjutkan membaca “Tinggal di Batumas Pandaan”