Solor dan Ikan

IMG_20200714_214712
Ile Boleng terlihat dari Pulau Solor

Solor, saya terjebak di pulau ini sampai empat hari. Sebabnya, jadwal kapal banyak yang tidak sesuai, terutama yang dari Solor ke Kupang. Jadwal kapal banyak tidak sesuai di NTT efek dari perayaan Semana Santa di Larantuka. Mayoritas penduduk NTT beragama katolik. Semana Santa adalah perayaan besar bagi umat katolik. Yah seperti kalau pas lebaran, kan jadwal transportasi juga berubah banyak ya.

Tetap dinikmati saja. Toh Solor adalah pulau yang bagus, ya pantainya, ya orang-orangnya. Makanan juga murah-murah banget. Jadi bisa bikin lumayan betah.

Jujur saja, saya mengenal Solor juga baru-baru ini. Waktu mau buat itinerary secara umum perjalanan saya keliling Nusa Tenggara. Di sebelah timurnya Flores itu ada beberapa pulau yang penduduknya lumayan banyak, yaitu Solor, Adonara, Lembata, Pantar, dan Alor.

Sebelumnya yang saya tahu hanya dua, Lembata dan Alor. Kalau Alor, seingat saya ada di salah satu iklan rokok. Tahu sendiri kan iklan rokok, tayangnya itu sering banget. Jadi ingat. Sementara Lembata, saya mengenalnya cukup dalam dari video dokumenter dari channel Watchdoc Documentary di Youtube.

Cerita sedikit tentang channel Youtube ini. Jadi ceritanya, ada dua orang jurnalis yang kelling Indonesia dengan modal sendiri selama setahun (ekspedisi Indonesia Biru), namanya Dandhy Laksono dan Suparta Arz. Siapa sih mereka? Saya tertarik sekali dengan latar belakangnya Dandhy. Dia sempat “ribut” dengan kantor media tempat dia bekerja, kelihatannya karena mempertahankan idealismenya. Mudah-mudahan ada kesempatan ngobrol langsung dengan Dandhy.

Sepulang ekspedisi, mereka mengekspos hasilnya dalam video-video pendek yang tematik. Banyak videonya, misalnya tentang pergolakan industri semen yang ribut dengan warga, reklamasi teluk benoa, yang belakangan booming adalah video Sexy Killer. Salah satu isinya tentang jahatnya industri batu bara. Dandhy dan timnya menguliti industri batu bara yang melibatkan banyak nama besar. Video itu tayang beberapa saat sebelum pemilu. Pas banget momennya!

Nah, salah satu videonya juga mengangkat tentang perburuan paus di Lembata. Bahwa itu sudah tradisi sejak lama. Bahwa tidak banyak paus yang diburu, jauh lebih sedikit daripada “industri” paus. Bahwa itu adalah mekanisme jaring pengaman social karena orang lemah dapat jatah protein, satu kampung dapat jatah. Dari situ saya kenal Lembata. Sayang sekali saya belum ke sana. Lain kali mudah-mudahan ada kesempatan melihat langsung orang-orang beran pemburu paus.

Loh kok jadi ke mana-mana ya ceritanya. Kembali ke Solor, pulau ini punya potens wisata yang luar biasa loh. Saya empat hari di sana itu belum ada apa-apanya. Masih banyak banget yang saya belum tahu.

Misalnya nih ya, tentang perburuan paus yang ada di Lembata (Lamalera), itu ternyata ada juga di Solor (Lamakera). Beda loh ya, Lamalera dan Lamakera. Beda satu huruf saja, tapi itu beda tempat, beda pulau. Saya dengar, orang-orang di Lamakera masih suka berburu paus. Jadi bukan hanya Lembata saja yang punya perburuan paus, tapi Solor juga.

Ini saya bingung deh tentang perburuan paus, harusnya kita bangga atau tidak sih dengan adanya perburuan paus itu? Di satu sisi, paus hewan dilindungi yang populasinya terus menurun. Tapi di sisi lain, ya itu sudah mereka lakukan dari dulu, dan ya kelihatannya keren banget berani berburu paus dengan kapal seadanya.

Ikan gelang adalah istilah ikan yang sudah dikeringkan, yang dijual di Lamakera. Saya curiga itu sebetulnya potongan-potongan ikan pari manta atau potongan daging paus. Saya belum lihat langsung bentuknya seperti apa, tapi ikan gelang itu saya dengar ceritanya di Solor sebagai produk hasil pelaut Lamakera.

Orang Lamakera mayoritas muslim. Mereka jago bikin bom. Malah saya dengar, waktu nonton bareng mereka pasang bom. Yang biasanya kita pakai petasan, dia pasang bom. Sampai tanah bergetar. Bom itu mereka manfaatkan untuk mengebom ikan. Tapi mungkin pengeboman semacam itu sudah tidak ada ya, atau menurun.

Sayangnya saya tidak sampai Lamakera. Hanya seputaran Lohayong saja. Lain kali ingin deh rasanya bermalam di Lamakera, ngobrol dengan penduduk setempat.

#

Solor tidak bisa lepas dari ikan. Kalau ikan tidak banyak, atau menurun, bisa sangat mengganggu perekonomian masyarakatnya.

Menurut saya, harga ikan di Solor murah banget. Dua ekor seberat lebih dari satu kilogram dijual Rp20.000. Itu lagi musim sepi ikan. Kalau lagi musim banyak ikan, ikan tidak ada harganya. Bisa jadi Rp10.000 dapat satu bak. Malah saya dengar ikan dibuang-buang. Atau bisa juga ditaruh di dalam jaring di laut, tapi tidak ditangkap, karena kapal tidak muat. Besok lusa baru diambil.

Awalnya saya tidak enak sama Agung, karena dia buatkan ikan bakar buat makan hari itu. Ikannya lumayan besar, saya disuruh habiskan semua. Ikannya enak! Segar! Tapi tidak enak hati, karena kuatir memberatkan beli-beli ikan segala, besar lagi. Tapi setelah tahu harga ikannya murah, saya segera minta dibuatkan lagi kalau Agung sempat. Kapan lagi kan, pesta ikan murah!

IMG_20200714_214816
Anak-anak kecil di Solor terbiasa dengan hobi mancing

Sejak masih kecil, masyarakatnya sudah dekat sekali dengan laut. Seperti yang saya lihat pagi itu di Pelabuhan Menanga. Sekelompok anak kecil, mungkin anak SD, menuju ke pelabuhan membawa kaleng kecil bekas cat. Saya intip, isinya apa sih? Isinya adalah umpan ikan.

Tahu tidak apa umpannya? Tepung dikasih air! Ya sudah begitu saja. Saya tidak tahu ya, apa bisa tepung jadi umpan? Setahu saya umpan itu ya cacing atau udang. Ini malah tepung. Sekitar satu jam kemudian, saya melihat rombongan anak yang sama keluar pelabuhan. Saya panggil, terus saya lihat isi dalam kaleng kecilnya itu. Ada isinya loh, empat ekor ikan! Memang tidak besar, hanya sebesar telapak tangan anak.

IMG_20200714_214748
Walau hanya dengan umpan tepung basah, tetap dapat ikan

Ada lagi saya lihat anak kecil yang mancing dari atas kapal penumpang. Jadi sambil ABK memuat barang-barang penumpang, beberapa anak main di moncong kapal. Mereka memancing pakai benang saja, bukan pakai alat pancing. Tidak terlihat umpannya. Tapi terlihat seru banget dan pada semangat mancingnya.

Cerita lain lagi, keponakannya Reska, belum sekolah, setiap hari mainnya di pantai. Ibunya sudah biasa saja kalau melihat anaknya main di pantai. Tidak takut tenggelam, karena sudah tahu anaknya bisa jaga diri. Itu anak belum usia sekolah loh!

Poin saya, kehidupan di Solor itu sangat dekat dengan laut. Bahkan sejak anak-anak mereka sudah dekat sekali dengan laut.

#

Sore hari, saya diajak Agung jalan-jalan ke arah Lamakera, tapi tidak sampai Lamakera. Di beberapa tempat yang terlihat dekat dengan pantai, atau yang bagus, kami turun untuk berfoto. Salah satunya adalah padang rumput luas yang diselipi pohon besar. Dari titik itu, kita juga bisa lihat Gunung Ile Boleng yang ada di Adonara, pulau sebelah. Jadi dalam satu frame, bisa dapat empat obyek bagus sekaligus: padang rumput, pohon besar, pantai, dan gunung.

Mampir yang kedua adalah ke tebing pantai yang dari situ kita bisa lihat pelabuhan yang ada di Lamakera. Ada banyak saung untuk duduk-duduk. Tebing pantai itu isinya batu. Beberapa batu karang yang tajam, jadi harus hati-hati sekali. Dari tempat itu, kita juga bisa lihat Gunung Ile Boleng di Adonara.

Bagus banget tempat kami mampir ini. Buat lihat sunset pas banget. Sayang sekali (atau bagus ya?) panta ini sepi pengunjung. Ada beberapa saja, itupun orang lokal. Mungkin orang-orang Lamakera.

IMG_20200714_214903
Pemandangan lazim di Solor: angkat galon pakai kepala

Jalanannya bagus dari Lohayong sampai Lamakera. Jalan aspal. Rusak sedikit-sedikit sih ada, tapi tidak banyak. Jauh lebih banyak yang mulus.

Di sepanjang jalan, saya ketemu beberapa kali ibu-ibu membawa kayu, mungkin untuk bahan bakar, di atas kepalanya! Bisa stabil gitu. Yang lebih keren lagi tahu apa? Angkut galon penuh air di atas kepala! Itu betul saya lihat sendiri.

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

Resensi: YOUNG SAMURAI The Way of The Dragon – Chris Bradford

Tidak tahu ya, Chris Bradford ini orang mana, rasanya sih Inggris. Begitu juga dengan tokoh utama “Jack” di buku Young Samurai ini. Dikisahkan Jack adalah remaja Inggris yang nyasar dalam pelayaran dengan ayahnya yang kemudian mati dibunuh si Mata Naga (seorang ninja ganas). Sudah ayahnya dibunuh, rutter-nya juga dicuri. Satu kapal mati, tinggal Jack yang berhasil kabur.

Kurang jelas maksud “rutter” di sini apa, tampaknya sih semacam peta dunia. Dengan rutter itu, berlayar jadi ada panduannya. Ini kan ceritanya zaman dulu, apa-apa pakai peta, belum ada GPS. Lanjutkan membaca “Resensi: YOUNG SAMURAI The Way of The Dragon – Chris Bradford”

Resensi This is Africa, Catatan Perjalanan Insinyur Minyak Nekat

WhatsApp Image 2020-06-04 at 20.00.35Judul bukunya diambil dari ujaran yang suka keluar kalau ketemu yang unik di Afrika. Ya kayak kalau kita suka dengar “Ini Medan, Bung!” karena nemu sesuatu yang unik di Medan. Kurang lebih gitu lah. Sesama traveler di Afrika juga suka berujar “This is Africa” kalau ketemu yang unik di Afrika.

Bukunya sih terbitan 2015, tapi saya kurang yakin kalau John Erickson Ginting, penulisnya, menulis catatan perjalanan ini berdasar pengalamannya di tahun dekat-dekat itu. Tebakan saya, ini perjalanannya di tahun 2008 (10 tahun setelah lulus dari Teknik Perminyakan ITB). Herannya, tulisan ini cukup detail menceritakan aktivitasnya waktu travelling di Afrika. Menginap di mana, perjalanannya dari mana ke mana, naik apa, ongkosnya berapa, ketemu siapa, bule dari negara mana, itu detail. Mungkin waktu tavelling John punya catatan sendiri ya. Lanjutkan membaca “Resensi This is Africa, Catatan Perjalanan Insinyur Minyak Nekat”

Nikmat Baru: Bergerak Bebas

Pengalaman ini, buat sekarang biasa, karena semua orang mengalami. Tapi waktu anak saya punya anak, mungkin dia mau tahu cerita versi kakeknya, hehe.

wfh
Dok: hitekno.com

Hari terakhir masuk kantor itu 23 Maret 2020. Sejak seminggu sebelumnya, sudah banyak tuh karyawan kantor saya yang mulai nyindir-nyindir manajemen kenapa tidak mulai Work From Home (WFH)? Padahalnya banyak: padahal beberapa perusahaan sudah mengeluarkan kebijakan WFH, padahal perusahaan saya itu di bidang IT (kerja di depan laptop dan bisa banget di rumah), padahal banyak yang nganggur juga di kantor karena lagi sepi proyek, padahal berita Covid-19 ada di setiap grup WA, di semua media, dan di perbincangan semua kantor.

Lanjutkan membaca “Nikmat Baru: Bergerak Bebas”

Main Sama Anak

Main sama anak jadi sesuatu yang makin intens sejak WFH, terkait COVID-19.

Dua anak saya, tiap malam saya godain dan saya ajak main. Tidak jarang, sampai jam 2 pagi, atau bahkan sampai sahur. Kalau pagi ke sore, mereka banyak tidur, dan saya kerja.

Yang besar umur 6 tahun, usia TK. Sekolahnya libur, tapi banyak tugas yang suka dibawa ke rumah. Koordinasi via WA group gitu, sekarang kan begitu ya di mana-mana. Banyak stok activity book yang kita mainkan tiap malam, termasuk bikin topeng-topengan., tempel stiker, gambar, dll.

IMG_20200325_131214

Lanjutkan membaca “Main Sama Anak”

Rasa Buku Jadul

WhatsApp Image 2020-02-13 at 14.07.58
La Hami, karya Marah Rusli

Sekarang, saya sedang baca La Hami, salah satu buku lawas karya Marah Rusli. Belakangan, saya makin suka dengan buku-buku lawas semacam ini. Padahal tidak berbeda lebih seabad, tapi rasanya buku-buku jadul itu lebih bernyawa, rasa juangnya lebih kental, pendeskripsian rasa hati tokoh-tokohnya lebih detail. Lanjutkan membaca “Rasa Buku Jadul”

Perpanjang Paspor: Mudah, Tidak Perlu Calo

Ini pengalaman saya sendiri, bukan bagus-bagusin Imigrasi. Betul deh.

WhatsApp Image 2020-02-04 at 15.13.35

Karena prosesnya mudah, urus sendiri saja. Tidak perlu minta cuti, cukup izin saja sama kantor.

Awalnya, saya install aplikasi yang namanya “Layanan Paspor Online”. Register dulu, terus bisa buat antrian paspor. Pesan teman saya, kalau mau buat antrian di Jakarta, mulai hari Jumat jam 2 siang. Kalau sesudah itu, kemungkinan kuota pendaftarnya habis. Dan setahu saya, daftarnya harus lewat apps, tidak bisa dengan daftar manual di Kantor Imigrasi. Saya coba gagal terus, baru menjelang maghrib bisa. Mungkin rebutan kali ya, jadi sistemnya macet. Pilih Kantor Imigrasi mana (apps baca GPS, otomatis apps akan berikan opsi yang terdekat) dan mau tanggal berapa. Lanjutkan membaca “Perpanjang Paspor: Mudah, Tidak Perlu Calo”

Semalam di RS Kartini Gegara Salmonella

Akhir 2019, badan lemas, malamnya meriang tiba-tiba. Besok sorenya saya ke RS Kartini di Cipulir (Jakarta Selatan). Langsung ke IGD. Dicek tensi, suhu, semua normal. Dokter bilang tidak ada apa-apa, bapak boleh pulang. Tapi saya yakin ada apa-apa. Maka saya minta dirawat.

WhatsApp Image 2020-01-30 at 16.12.50
Minta dirawat, langsung diinfus.

Lanjutkan membaca “Semalam di RS Kartini Gegara Salmonella”

Pengalaman Hadapi Kejang Demam Anak

Pertengahan Desember 2019, sekitar jam 10 malam, tiba-tiba anak saya yang umur 7 bulan, kejang. Badannya lemas. Bagian hitam matanya melihat ke atas. Tangisnya langsung berhenti. Jari-jari tangannya kaku. Tentu saya dan istri langsung panik.

Sebetulnya sejak sehari sebelumnya, anak saya sudah demam. Panasnya lumayan tinggi. “Lumayan” di sini abstrak. Kami tidak punya thermometer, itu kesalahan fatal! Kami tidak tahu kapan harus ke dokter, karena tidak ada indikator yang tepat (bukan hanya “lumayan”). Lanjutkan membaca “Pengalaman Hadapi Kejang Demam Anak”

SIM A Nembak Rp850.000

WhatsApp Image 2019-12-17 at 17.09.33
Saya merasa anjuran ini semu dan sangat sulit digapai

Kebutuhan SIM adalah keniscayaan buat saya (dan buat banyak orang!). Tidak bisa tidak. Namun, kalau menjalankan prosedur pembuatan SIM tanpa calo, sudah tahu sama tahu, bahwa itu sangat susah. Dulu pengalaman saya buat SIM C sampai bolak-balik tiga kali. Habis waktu saya tiga hari. Itu dulu, waktu masih lajang, yang waktunya masih agak senggang. Datang yang ketiga, langsung diumumkan, “Bagi yang mau ‘dibantu’ silakan ke depan.” Saya ingat sekali dulu bayar Rp200.000, sepuluh tahun lalu.

Sekarang, saya sudah punya dua anak. Sangat butuh waktu untuk keluarga. Bisa saja mengorbankan cuti sampai beberapa hari (hampir pasti tidak cukup sehari selesai), tapi saya lebih butuh waktu beberapa hari itu ketimbang uang Rp850.000 (Segini terbilang mahal, saya tanya yang bareng saya rata-rata Rp700ribu). Lanjutkan membaca “SIM A Nembak Rp850.000”