Rasa Buku Jadul

WhatsApp Image 2020-02-13 at 14.07.58
La Hami, karya Marah Rusli

Sekarang, saya sedang baca La Hami, salah satu buku lawas karya Marah Rusli. Belakangan, saya makin suka dengan buku-buku lawas semacam ini. Padahal tidak berbeda lebih seabad, tapi rasanya buku-buku jadul itu lebih bernyawa, rasa juangnya lebih kental, pendeskripsian rasa hati tokoh-tokohnya lebih detail.

Awalnya, sekitar 2010, saya baca Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Ini buku yang hampir selalu saya temui di pasar buku loak. Waktu itu saya beli di belakang Sri Wedari (Solo). Juga banyak ada di terminal Senen (Jakarta) dan Pasar Blok M (Jakarta). Artinya, ini buku banyak yang cari.

Membacanya membuat masalah yang saya hadapi begitu kecil dibanding konflik yang ada dalam buku itu. Rakyat dicucuk hidungnya, diperas keringatnya, tanpa bisa melawan. Kalau melawan, ya habis sudah, beserta keluarganya. Itu juga terjadi dengan Minke, tokoh utama di Tetralogi ini. Medianya dihancurkan, juga kehidupannya.

Lantas saya membaca buku-buku Pramoedya yang lain: Gadis Pantai, Arus Balik, Arok Dedes, Midah, dan rasanya masih banyak lagi.

Sekarang ke penulis yang lain: Buya Hamka. Ada buku Hamka yang saya punya kesan kuat sekali setelah membacanya: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Waktu itu, saya sedang ada di atas kapal dari Ketapang menuju Gilimanuk. Sudah beberapa hari sebelumnya saya baca buku itu. Bukunya tidak begitu tebal, tapi bacaan semacam ini harus dibaca kata per kata, karena di situ kenikmatannya. Sayang rasanya kalau ada kenikmatan yang tercecer.

Beda dengan kalau baca buku Tere Liye. Satu buku Tere Liye, bisa saya habiskan dalam satu malam. Bacanya lompat-lompat, hanya agar tahu alurnya ke mana. Tidak begitu saya nikmati kata per kata. Saya tidak bilang buku Tere Liye jelek. Tidak. Toh saya baca banyak dan tidak bosan. Hanya saja kenikmatannya beda. Seingat saya, ending buku Tere Liye ini selalu manis, alurnya menarik.

Nah, beda banget dengan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang saya baca endingnya di atas kapal. Tahu bahwa Zainudin akhirnya mengejar Hayati karena tahu kapalnya tenggelam, membuat saya senang. Tapi kemudian Hamka membanting rasa itu: Hayati mati setelah tahu Zainudin masih cinta kepadanya. Lalu kesehatan Zainudin memburuk, dan ikut mati.

Buku yang saya baca itu, sudah mau saya buang ke laut. Betul-betul mau saya lempar. Lalu berpikir, nanti jadi sampah laut, lalu berpikir lagi: buang ke tempat sampah saja. Lupa, akhirnya saya buang tidak ya?

Namun begitu, rasa senang dengan buku Buya Hamka, dan dengan buku-buku jadul lainnya tidak surut, malah semakin kuat. Bahkan saya malah merunuti biografi penulis-penulis itu, semakin membuat tertarik.

Pramoedya adalah tokoh politik. Mungkin bukan politik praktis, tapi tulisan-tulisannya sangat bermuatan politik. Banyak yang mengenalnya sebagai tokoh komunis. Sampai-sampai bisa menggiring keadaan sehingga Buya Hamka dipenjara di Sukabumi. Pram PKI, Hamka Masyumi. Keduanya terkenal berseberangan. Ini pendapat saya, hasil dari baca buku berjudul “Ayah”, yang merupakan cerita salah satu anak Buya Hamka tentang ayahnya.

WhatsApp Image 2020-02-14 at 09.23.58
Ayah, karya Irfan Hamka bin Buya Hamka

Saat Hamka dipenjara, istrinya dalam keadaan ekonomi yang berat. Suatu waktu, istri Hamka mendatangi sebuah penerbit yang menerbitkan buku Hamka untuk menanyakan apakah masih ada royalti dari buku suaminya? Uang itu untuk bekal mengunjungi suaminya di penjara Sukabumi. Namun respon penerbit kurang mengenakkan, lalu memberi sekadar sedekah untuk istri Hamka. Dengan tegas, istri Hamka menolak sedekah. Kalau sudah tidak ada royalty, ya sudah, tidak perlu sedekah-sedekah.

Sepulang dari penerbit itu, rezeki datang bertubi-tubi dari penerbit lain, di hari yang sama! Itulah hebatnya istri Hamka.

Hamka begitu sayang dengan istrinya. Istri Hamka meninggal terlebih dahulu. Hamka sangat sedih. Ia selalu membaca Quran berjam-jam sampai mengantuk, kala teringat istrinya. Kenapa begitu? Tanya anaknya.

“Karena saya takut cintaku pada istri melebihi cintaku pada Allah,” kaya Hamka.

Begitulah penulis zaman dulu. Tidak hanya kuat dengan tulisan-tulisannya. Tetapi lebih jauh dengan isi-isi tulisannya yang bernilai juang. Lebih jauh lagi, sikap sifat pribadinya banyak juga yang bernilai.

Juga penulis yang satu ini: Marah Rusli.

Rusli adalah seorang bangsawan Minang, tetapi tidak suka dengan adat Minang: lelaki beristri banyak, anak bukan menjadi tanggungan ayahnya, dsb. Perlawanannya dalam tulisan sangat terasa dalam buku Sitti Nurbaya, Kasih Tak Sampai. Banyak wejangan penyadaran yang tersisip di dalam buku itu.

WhatsApp Image 2020-02-13 at 14.07.58 (1)
Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, karya Marah Rusli

Buku itu juga, sama seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, punya ending yang bikin sakit hati pembaca. Nurbaya dinikahi (terpaksa) dengan Datuk Maringgih, ganti utang ayahnya yang tak terbayar. Padahal sudah lekat sekali dengan kekasihnya yang juga tetangganya: Samsulbahri. Maringgih meracun Nurbaya sampai mati. Samsul stres lalu bunuh diri menembak kepalanya, walaupun gagal. Sedih banget!

Kembali tentang Rusli. Begitu kuatnya penolakannya terhadap adat Minang, sampai-sampai Rusli menolak dijodohkan. “Boleh saya menikah dengan perempuan itu, tetapi akan langsung saya talak tiga setelah menikah,” kata Rusli. Pernikahan itupun tidak pernah terjadi.

Rusli akhirnya menikah dengan gadis Sunda, lalu menulis kisahnya tersebut dalam buku tersendiri: Memang Jodoh. Dalam buku itu kental sekali perlawanan Rusli terhadap adat Minang.

Tapi ya, untuk mendapatkan buku-buku ini, agak sulit, apalagi yang asli dan baru. Kebanyakan di tukang loak itu setahu saya buku baru tapi palsu. Di market place juga banyak. Ada juga buku bekas tapi asli. Yang baru dan asli, belum ketemu.

Kalau ada buku-buku semacam yang saya ceritakan di atas, minta tolong diinfo yah J

 

Perpanjang Paspor: Mudah, Tidak Perlu Calo

Ini pengalaman saya sendiri, bukan bagus-bagusin Imigrasi. Betul deh.

WhatsApp Image 2020-02-04 at 15.13.35

Karena prosesnya mudah, urus sendiri saja. Tidak perlu minta cuti, cukup izin saja sama kantor.

Awalnya, saya install aplikasi yang namanya “Layanan Paspor Online”. Register dulu, terus bisa buat antrian paspor. Pesan teman saya, kalau mau buat antrian di Jakarta, mulai hari Jumat jam 2 siang. Kalau sesudah itu, kemungkinan kuota pendaftarnya habis. Dan setahu saya, daftarnya harus lewat apps, tidak bisa dengan daftar manual di Kantor Imigrasi. Saya coba gagal terus, baru menjelang maghrib bisa. Mungkin rebutan kali ya, jadi sistemnya macet. Pilih Kantor Imigrasi mana (apps baca GPS, otomatis apps akan berikan opsi yang terdekat) dan mau tanggal berapa.

Kebetulan saya dapatnya hari Selasa pukul 11.01 – 12.00. Jadi memang sistemnya sudah baca jumlah pendaftar dan sudah membaginya otomatis ke jam berapanya. Keren ya! Jadi, tidak perlu datang pagi-pagi untuk rebutan antrian.

WhatsApp Image 2020-02-04 at 15.10.57

Selasa 10.30 saya datang ke Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Parkiran terbatas karena ruang parkir kecil. Motor akan disuruh antri untuk dapat parkir. Jadi kita nungguin yang mau keluar, baru bisa masuk. Kalau saya, parkir di gedung sebelahnya.

Walau belum jam 11, tapi saya sudah dilayani, diberi nomor antrian, diberi semacam tanda pengenal, diarahkan ke lantai 2. Alur pendaftaran sudah tertata rapi, barisnya rapi, tidak rebutan. Petugas yang ditanya, menjawab dengan baik.

Ruang tunggu di lantai 2 juga baik. Pengantri tidak ada yang berdiri, jumlah kursi cukup. Ada beberapa layar yang menunjukkan sudah antrian nomor berapa. Waktu itu saya dapat antrian B-244. Yang berjalan baru B-127. Jadi harus nunggu 117 nomor. Untuk itu, saya menunggu 2,5 jam. Bisa dirata-ratakan 1 nomor tunggu setara dengan 1,5 menit. Loketnya banyak, jadi lumayan cepat.

WhatsApp Image 2020-02-04 at 14.52.19
Ruang tunggu Kantor Imigrasi Jakarta Selatan

WhatsApp Image 2020-02-04 at 14.52.20

Kondisi saya itu, terbilang kurang beruntung. Teman saya cerita, seminggu sebelumnya, di Kanim yang sama, dia hanya antri beberapa menit saja. Jadi soal menunggu ini, ya soal keberuntungan juga.

Dipanggil, saya langsung bawa syarat-syaratnya:

  1. Paspor lama
  2. Fotocopy KTP dan KTP aslinya

Ditanya-tanya sedikit: kerja di mana? Bagian apa? Mau e-paspor apa yang biasa?

Disuruh pose foto. Disuruh cetak sidik jari (semua jari). Sudah. Mungkin hanya 5 menit prosesnya.

WhatsApp Image 2020-02-04 at 14.52.19 (3)
Bukti Pengantar Pembayaran

Petugas memberikan selembar kertas “Bukti Pengantar Pembayaran”. Isinya data saya dan jumlah yang harus dibayar. Bisa langsung bayar di bank di lantai 1 (gedung yang sama). Pembayaran bisa dilakukan lewat transfer juga, dari berbagai bank. Biayanya Rp350 ribu untuk paspor biasa, dan Rp650 ribu untuk e-paspor.

WhatsApp Image 2020-02-04 at 14.52.19 (1)
Cara pembayaran paspor lewat ATM

Kabarnya, paspor jadi 3 hari setelah pembayaran. Pembayaran harus dilakukan paling lambat 7 hari kerja setelah pengajuan. Realitanya, teman saya langsung bayar di hari pengajuan, tetapi baru bisa diambil 7 hari kerja kemudian (bukan 3 hari). Karena santai, saya baru ambil 8 hari kemudian.

WhatsApp Image 2020-02-04 at 14.52.19 (2)
WAGS sebagai media komunikasi, bisa juga untuk cek proses perpanjang paspor sudah sampai mana
WhatsApp Image 2020-02-04 at 14.52.19 (4)
Syarat pengambilan paspor

Proses pengambilan gampang banget. Sebetulnya tinggal bawa dua hal:

  1. Bukti Pengantar Pembayaran, yang diberikan ketika pengajuan
  2. Bukti pembayaran

Lima menit kemudian, saya dipanggil, langsung dikasih paspor baru dan paspor lama yang sudah dibolongi. Sudah. Hanya lima menit.

Sayangnya, di “Bukti Pengantar Pembayaran” saya, tidak tercantum nomor permohonan paspor. Yang ada hanya barcode nya saja. Jadi harus naik ke lantai 2 dulu untuk dituliskan nomor permohonan paspor. Kalau ada yang perlu diperbaiki Kanim Jaksel, ya inilah. Kenapa tidak sejak awal dicetak Bukti Pengantar Pembayaran yang sudah ada nomor permohonan paspor nya?

Tapi di luar kekurangan itu, saya merasa puas dengan proses perpanjang paspor. Tidak perlu calo dan tidak ada biaya tambahan macam-macam. Terima kasih Kantor Imigrasi Jakarta Selatan.

Semalam di RS Kartini Gegara Salmonella

Akhir 2019, badan lemas, malamnya meriang tiba-tiba. Besok sorenya saya ke RS Kartini di Cipulir (Jakarta Selatan). Langsung ke IGD. Dicek tensi, suhu, semua normal. Dokter bilang tidak ada apa-apa, bapak boleh pulang. Tapi saya yakin ada apa-apa. Maka saya minta dirawat.

WhatsApp Image 2020-01-30 at 16.12.50
Minta dirawat, langsung diinfus.

Pengecekan darah sore itu memberikan hasil normal. Tapi lagi-lagi saya yakin ada apa-apa. Saya tetap minta dirawat. Dokter langsung menginfus saya, padahal saya tidak mau. Saya hanya mau dirawat, supaya kalau malam meriang lagi, ya sudah aman. Karena mubadzir infusnya tetap saya pasang, tapi saya kecilkan.

Pesan kamar kelas 1 yang per malamnya Rp600 ribu. Kalau yang kelas 2 sekitar Rp350 ribu. Malamnya dicek suhu lagi, normal. Makan malam pakai bubur, sop, ayam, telur, ditambah pisang. Habis makan dikasih Imboost, semacam kapsul peningkat kekebalan.

WhatsApp Image 2020-01-30 at 16.12.50 (1)
Makanan RS Kartini

Keluar kamar untuk sholat. Infus dilepas dulu dengan jarum yang masih menancap di tangan. Sekalian saya kelayapan ke Alfa buat beli cemilan.

Malam itu memang aman, saya tidak meriang. Istri saya datang menamani, tidur di kasur sebelah. Saya tidur lumayan nyenyak.

Besok paginya dicek darah lagi. Kali ini ditambah cek NS-1 (tes demam berdarah). H2TL (Hb Ht Trombosit Leuko), dan widal (Salmonella enterica untuk tes tipus). Hasil NS-1 dan H2TL saya negative. Dalam bagian widal saya positif di Salmonella Paratyphi (rasanya ini bukan yang penyebab tipus).

WhatsApp Image 2020-01-30 at 16.12.50 (2)
Hasil tes darah: Positif Salmonella Paratyphi

Sebetulnya saya ragu kena Salmonella, karena kata Wikipedia, gejalanya itu diare, kram perut, dan demam. Tapi saya tidak diare dan tidak kram perut. Hanya demam, itupun sudah tidak.

Dokter spesialis penyakit dalam, melihat hasil lab, memperbolehkan saya langsung pulang. Terus saya dikasih antibiotik yang harganya setengah juta. Saya tebus, tapi tidak saya minum. Rasanya saya yakin antibodi saya masih kuat dan memang badan terasa sudah enak.

Menginap semalam di RS Kartini habisnya Rp3.126.746. Itu sudah termasuk obat macam-macam yang salah satu di antaranya antibiotik setengah juta (semua obat tidak saya minum). Itu sudah termasuk tes darah. Juga sudah termasuk biaya dokter, kamar, dan administrasi. Buat saya segitu mahal. Prediksi awal tidak lebih dari Rp2 juta.

WhatsApp Image 2020-02-04 at 14.52.19 (5)
Rincian biaya berobat di RS Kartini

Alhamdulillah setelah keluar RS betul-betul sehat, walaupun obat tidak saya sentuh.

Review sedikit tentang RS Kartini. Perawatnya baik-baik. Kamarnya lumayan. Kamar mandi bersih. Makanan ya standard rumah sakit lah. Dokternya baik.

Tapi yang saya kurang sreg itu tiba-tiba dimasukkan antibiotik setengah juta tanpa konfirmasi setuju atau tidak. Mungkin persetujuan saya sudah dalam lembar-lembar yang tertandatangani sebelumnya waktu masuk. Tidak dibaca semua karena banyak tulisannya dan ingin segera rebahan.

Pengalaman Hadapi Kejang Demam Anak

Pertengahan Desember 2019, sekitar jam 10 malam, tiba-tiba anak saya yang umur 7 bulan, kejang. Badannya lemas. Bagian hitam matanya melihat ke atas. Tangisnya langsung berhenti. Jari-jari tangannya kaku. Tentu saya dan istri langsung panik.

Sebetulnya sejak sehari sebelumnya, anak saya sudah demam. Panasnya lumayan tinggi. “Lumayan” di sini abstrak. Kami tidak punya thermometer, itu kesalahan fatal! Kami tidak tahu kapan harus ke dokter, karena tidak ada indikator yang tepat (bukan hanya “lumayan”).

Panas tersebut, didiamkan. Anak terus menangis. Kepalanya panas, setelah didekap (skin to skin) panasnya turun, tapi beberapa menit kemudian panas kembali seperti semula. Memang tangisnya agak aneh dari biasanya, sampai meraung-raung. Mungkin memang dia kesakitan sekali. Saya pikir itu karena giginya mau tumbuh. Tapi yang saya anggap biasa-biasa itu, setelah terjadi kejang, langsung kami bawa ke dokter.

Motor saya nyalakan. Istri gendong anak di belakang, sambil menangis. Yang membuat saya sangat sedih, anak saya sudah tidak terdengar suaranya lagi. Juga tidak bergerak. Baru saya merasakan bahwa ada nilai anugerah dalam tangisan bayi. Di saat itu, saya malah ingin sekali bayi saya menangis.

Kami ke RSIA Mutiara Bunda di daerah Ciledug. Kira-kira 20 menit berkendara dari tempat kami tinggal. Langsung masuk ruang IGD. Anak saya masih tidak bersuara, tapi sudah bergerak walaupun sangat lemas.

Waktu itu, dokter yang menangani namanya Dr. Dwi. Untung ketemu dokter yang tenang. Dicek suhunya 29,2 derajat. Dokter dengan tenang bertanya ceritanya sampai kejang. Kami cerita dengan masih menunjukkan kepanikan. Dokter mendengar ada kesulitan bernapas anak saya, langsung diberikan Breathy Drops, semacam cairan garam untuk meleburkan lendir yang ada di dalam hidung anak, diteteskan lewat hidung.

Dokter juga memberikan obat anti demam lewat dubur (Pyrexin). Satu jam kemudian panasnya menjadi 28,4 dan anak saya sudah menangis sedikit. Juga sudah bergerak.

Dokter menyarankan anak saya dirawat, nanti akan diberikan antibiotik yang cukup tinggi dosisnya. Saya tolak, lalu tanda tangan surat penolakan. Saya minta resepnya saja. Tetap diberikan antibiotik Cefila Syrup. Saya juga minta diresepkan obat anti kejang (Stesolid), anti demam darurat yang lewat dubur (Pyrexin), dan obat penurun panas sirup (Moretic Drops), sekaligus minta diresepkan thermometer.

WhatsApp Image 2020-01-03 at 16.01.13
Tagihan obat karena kejang demam di RSIA Mutiara Bunda

Antibiotik Cefila saya tebus, tapi tidak saya berikan ke anak, karena masih yakin anak saya bisa bertahan tanpa bantuan antibiotik. Sayang kan, masih 7 bulan sudah “dibantu”.

Besoknya, suhu kembali naik, bahkan sampai 39 derajat. Tapi penurun panas yang diresepkan dokter, Moretic Drops, cukup ampuh menurunkan panas.

Tiga hari setelah kejadian kejang itu, karena panasnya sudah stabil, maka tidak kami berikan penurun panas lagi. Baru kemudian kami sadari sepertinya anak saya kena campak, karena muncul bercak-bercak merah. Anak saya sudah beraktivitas cukup normal, sehingga kami tidak kuatir.

Gejala itu bukan penyakit. Demam itu mekanisme tubuh semacam warning bahwa ada sesuatu yang menyerang. Batuk itu mekanisme alami membuang sesuatu dalam tubuh. Kalau batuknya diredam dengan antitusif, lah jadi tidak keluar penyakitnya. Penyakit yang menyerang pun tidak melulu harus dilawan dengan bantuan. Antibodi kita butuh medan perang untuk berlatih. Kalau selalu diberi bantuan “antibiotik”, kapan latihannya?

2020-01-08_8-53-34
Kembali sehat, tanpa antibiotik

Anak saya kembali sehat tanpa antibiotik. Dia bisa senyum dan nangis dengan normal seperti sedia kala. Betul kan, anak saya kuat! Pasukan antibodinya pasti bangga berhasil melawan campak, dan tentu pasukan itu akan semakin kuat dan semakin PD kalau lain kali ada lagi yang menyerang.

#

Apa yang perlu disiapkan atau diperhatikan orang tua?

  1. Punya thermometer! Ini penting untuk menentukan, apa kita perlu ke dokter atau tidak. Kalau sudah di atas 38,5 derajat, bisa cek ke dokter.
  2. Kompres! Ini bisa jadi cara efektif menurunkan panas. Bisa dengan kain yang sudah dibilas air biasa (bukan air hangat).
  3. Obat anti kejang. Bisa jadi cadangan di rumah, terutama untuk anak yang ada riwayat kejang. Siapkan yang bisa dimasukkan lewat dubur, karena ketika kejang, bayi tidak bisa konsumsi obat lewat mulut (takut tersedak).
  4. Jangan panik! Kejang demam itu tidak bahaya. Memang terlihat menakutkan, tetapi insya Allah akan pulih kembali dengan sendirinya.
  5. Pikir ulang untuk memberikan antibiotik. Mungkin dokter meresepkan antibiotik, tetapi perlu diingat bahwa semakin sering konsumsi antibiotic, semakin resisten tubuh anak kita terhadap antibiotic (perlu antibiotic yang lebih “kuat” lagi). Antibiotik juga bisa membunuh biota baik dalam tubuh.
  6. Kalau sudah terlanjur kejang, berikan ruang napas yang cukup. Jangan malah didekap kencang sampai sulit bernapas.

SIM A Nembak Rp850.000

WhatsApp Image 2019-12-17 at 17.09.33
Saya merasa anjuran ini semu dan sangat sulit digapai

Kebutuhan SIM adalah keniscayaan buat saya (dan buat banyak orang!). Tidak bisa tidak. Namun, kalau menjalankan prosedur pembuatan SIM tanpa calo, sudah tahu sama tahu, bahwa itu sangat susah. Dulu pengalaman saya buat SIM C sampai bolak-balik tiga kali. Habis waktu saya tiga hari. Itu dulu, waktu masih lajang, yang waktunya masih agak senggang. Datang yang ketiga, langsung diumumkan, “Bagi yang mau ‘dibantu’ silakan ke depan.” Saya ingat sekali dulu bayar Rp200.000, sepuluh tahun lalu.

Sekarang, saya sudah punya dua anak. Sangat butuh waktu untuk keluarga. Bisa saja mengorbankan cuti sampai beberapa hari (hampir pasti tidak cukup sehari selesai), tapi saya lebih butuh waktu beberapa hari itu ketimbang uang Rp850.000 (Segini terbilang mahal, saya tanya yang bareng saya rata-rata Rp700ribu).

Coba deh tanya ke orang-orang sekitar, berapa banyak yang buat SIM tanpa nembak? Saya sudah tanya belasan teman, semua nembak. Semua juga beralasan “waktu lebih mahal dibanding uang tembak”. Ironis yah…

Buat apa saya menulis ini? Agar “pemantau” polisi paham praktek yang berjalan selama ini. Sama sekali tidak ada niat menyulitkan pembuat SIM tembak karena cara yang akan saya sampaikan di bawah ini mungkin menjadi tidak bisa dilakukan lagi. Saya justru sangat berharap pembuatan SIM dipermudah, sehingga orang tidak merasa perlu menghubungi calo. Tapi selama prakteknya masih sama, maka tulisan ini untuk memberi wawasan pembuat SIM yang butuh info seperti saya sebelumnya.

Jadilah saya googling bagaimana membuat SIM tembak, berapa harganya. Saya masuk ke salah satu thread yang sangat popular, yang menjual jasa buat SIM. Populer banget, tidak sampai 5 menit saya sudah WA ybs. Responnya pun cepat. Dalam waktu singkat, uang langsung saya transfer lalu booking hari di akhir 2019.

Sehari sebelum pembuatan SIM, saya di-WA oleh si calo:

Gan/sis, untuk kloternya dijadwalkan Hari xxx xx ****ber 2019 (besok). Jika ada perubahan lagi, akan kami infokan segera. Namun, jika tidak ada info lagi, berarti tidak ada perubahan hari dan kemudian prosedur lengkapnya (info teknisnya) akan kami infokan malam ini pukul 21:00. Silahkan siapkan KTP Asli, KK Asli (bagi yang menggunakan resi e-KTP dari kelurahan), FC KTP 4 lbr, Pas Foto 4×6 2 lbr (warna background bebas), pulpen dan pensil 2B. Tks.

Untuk Lokasi dan Waktu:

Satpas Daan Mogot Pukul 07:00 WIB

Pas foto dan pensil 2B ternyata tidak saya pakai.

Lalu malamnya saya di-WA lagi:

Gan/Sis, besok pukul 07:00 pagi datang ke Satpas Daan Mogot (JANGAN TELAT!!! TELAT = TIDAK DILAYANI = ANGUS). Bawa KTP asli, KK asli (Khusus yang menggunakan Resi e-KTP), Fotocopy ktp 4 lembar, Pas Foto 4×6 2 lembar (warna background bebas), pulpen, & pensil 2B.

Titik kumpulnya adalah di Indomaret Daan Mogot yang sejajar dengan Pom Bensin Shell. Kl sudah sampai, langsung telepon Pak Mantul (08138310xxxx). Lalu ikuti prosedur yang diberikan hingga selesai.

Lokasi Indomaret Daan Mogot:

https://goo.gl/maps/5fmTnXaaD562

Harap sabar menunggu panggilan ya Gan/Sis. Saat ini Satpas sedang ramai. Disarankan menyiapkan waktu sehari. Estimasi waktu selesai maksimal pukul 4 sore (Jika ada kendala sistem). Namun jika lancar2 saja, setengah hari sudah selesai. 

Note:

  1. Jangan menggunakan Kaos, Celana Pendek, dan Sandal.
  2. Jika besok nomor HP diatas belum bisa dihubungi/diangkat, mohon dicoba terus. Pasti diangkat, karena yang menelepon banyak, jadi harus bersabar. 
  3. Biasanya di dalam Satpas akan ada orang yang menawarkan untuk skip tes praktek dengan biaya berkisar antara 50rb s.d. 100rb. Layanan tersebut bukan merupakan layanan kami. Agan/Sista silahkan mau diambil atau tidak. Namun kami informasikan, walaupun Agan/Sista mengikuti tes praktek, tetap akan lulus juga. 
  4. Jika besok satpas daan mogot steril, pembuatan SIM akan dialihkan ke satpas tangerang. Untuk transportasi telah disediakan.

Tks.

Jam 7 pagi tepat saya sudah di Indomaret lalu menelepon Pak Mantul. Diarahkan untuk jalan masuk gang sebelah Indomaret, sampai ketemu plang dokter praktek sebelah kiri. Saya masuk, langsung ditanya, “Cari Pak Mantul ya?”

WhatsApp Image 2019-12-17 at 17.09.34
Tempat tunggu pembuat sim tembak

Satu per satu didaftarkan namanya, lalu dipanggil, diberikan uang Rp150.000 untuk pembuat SIM A. Itu untuk pembuatan Sim A baru (Rp120.000) dan biaya cek kesehatan (Rp30.000). Lalu dipesani, “Tidak usah beli asuransi.”

WhatsApp Image 2019-12-17 at 17.09.36
Tarif sebenarnya

Kemudian dapat kabar bahwa Satpas Daan Mogot sedang steril, maka kami yang berjumlah puluhan orang diantar ke Satpas Tangerang. Dilepas untuk ngantri sendiri. Dipesani, “Nanti kalau sudah foto, langsung kembali ke mobil. Jangan ikut tes teori dan praktek.”

WhatsApp Image 2019-12-17 at 17.09.33 (1)
Mobil yang membawa kami dari Daan Mogot ke Satpas Tangerang

Sebagian ngedumel karena merasa sudah bayar mahal kok tetap ngantri? Mungkin harapannya tinggal foto saja. Memang sih, antrinya itu menyebalkan. Ada beberapa kali antri:

  1. Antri daftar dan bayar tes kesehatan
  2. Antri tes kesehatan
  3. Antri bayar SIM A baru
  4. Antri ambil form pendaftaran
  5. Antri foto
WhatsApp Image 2019-12-17 at 17.09.34 (1)
Antri, semua antri

Rata-rata tiap jenis antri itu menghabiskan waktu satu jam! Yang paling lama adalah antri foto, sekitar 3 jam. Gimana enggak, wong nomor antrian saya 648, sementara waktu itu baru sampai 200-an. Tapi memang sekali masuk ruang foto sekitar 40 orang.

antrian
Nomor antrian 648, masih jauh!

Total waktu di Satpas Tangerang itu 6 jam. Dari jam 8 pagi, sampai jam 2 siang. Pulang kembali ke tempat awal kumpul yang plang dokter praktek tadi, dengan mobil yang sama.

Diinfo bahwa, SIM baru jadi malam hari. Silakan bagi yang mau tunggu, tapi bisa sampai tengah malam. Bisa juga nanti dikirim pakai Go Send, bayar masing-masing. Atau datang besok paginya.

Begitulah realita pembuatan SIM di Jakarta!

Taliwang: Ojeg Punya Kartu Anggota

Baru kali ini saya lihat tukang ojeg punya kartu anggota. Saya ketemu tukang ojeg ini di dekat terminal Taliwang, NTB. Namanya Syaifullah (anggap saja dipanggil Bang Ipul). Dia menggunakan rompi oranye kuning, mirip rompi pekerja-pekerja bangunan.

Awalnya saya tidak tahu tentang keanggotaan ojeg itu. Tapi Bang Ipul sedikit sedikit tan tin, sepertinya gaul banget gitu. Waktu saya makan bareng dia, tukang warungnya sempat ngobrol sama Bang Ipul, seperti kenal.

Ketemu tukang odong-odong tin. Ketemu ada yang lagi nongkrong di pinggir jalan tin. Ketemu ojeg lain dari arah berlawanan, tin juga. Tan tin tan tin saja sepanjang jalan. Betul-betul gaul Bang Ipul.

Baru saya ketemu polanya. Beberapa yang dia tan tin itu menggunakan rompi yang sama seperti yang Bang Ipul pakai. Saya tanya, tukang ojeg di Taliwang harus pakai rompi ini?

“Iya. Kami ada keanggotaannya. Anggota ojeg itu sekitar 300 orang. Ada iuran anggota yang kebanyakan digunakan untuk membantu anggota lain yang sedang sakit,” jelas Bang Ipul.

WhatsApp Image 2019-11-14 at 17.02.48
Bang Ipul memegang kartu anggota

Hebat juga ya solidaritas tukang ojeg di sini. Sampai ada kartu anggotanya juga loh. Bang Ipul sempat tunjukkan. Judulnya di atas itu tertulis POKET, kurang jelas singkatan dari apa. Di bawahnya ada tulisan Surat Izin Ojeg (SIO). Ada data nama, TTL, agama, alamat. Ada fotonya. Ada ttd ketuanya di pojok kanan bawah. Dan ada masa berlakunya!

WhatsApp Image 2019-11-14 at 17.03.05
kartu anggota bang Ipul

Terus kalau sudah lewat masa berlakunya tapi tetap ngojeg gimana bang? Rasanya lebih ke sangsi sosial saja ya. Semacam dikucilkan dari komunitas. Saya juga tidak tahu.

Bang Ipul ini termasuk sosok yang banyak tahu, banyak kenal. Dia sempat jelaskan tempat-tempat wisata di Taliwang. Tapi tidak, saya hanya ingin ke Pantai Maluk. Pantai ini terkenal buat surfing karena dia punya ombak di tengah yang bisa mencapai tinggi dua meter, disebut super suck. Ombak ini tidak sampai tepi pantai karena sudah pecah duluan oleh sebuah tanjung.

Saya tidak ada niatan untuk selancar dan tidak ketemu dengan orang-orang yang berselancar. Mungkin memang lokasi peselancar itu bukan di pinggir pantai. Saya kan mainnya di pinggir-pinggir saja. Berenang-berenang begitu saja. Di bibir pantai, ada tulisan “Pantai Maluk” besar dan tinggi, berwarna putih. Tampak gagah.

Banyak wajah-wajah lokal yang juga berenang sore itu. Maklum saja, pantai ini dekat sekali dengan pemukiman warga Desa Maluk. Juga dekat dengan lokasi perusahaan Newmont.

Waktu perjalanan dari Taliwang ke Maluk tadi, ketemu dengan beberapa pekerja Newmont. Itu saya dikasih tahu Bang Ipul. Memang khas seragamnya. Tapi, menurut Bang Ipul, yang sekarang bukan Newmont lagi namanya. Walaupun pekerjanya ya itu-itu juga.

Di sekitar Pantai Maluk, Bang Ipul menunjukkan, “Itu kafe, itu kafe.” Dia seperti paham lokasi kafe itu di mana saja. Kafe di NTB itu punya definisi yang lebih mendekati “tempat prostitusi”, bukan hanya tempat untuk ngopi.

(Tulisan ini adalah sebagian dari catatan perjalanan saya keliling NTB dan NTT selama April 2019)

Naik Kereta dari Merak ke Jakarta

Sudah beberapa bulan ini saya tinggal di Cilegon dan kerja di Merak. Biasanya setiap Jumat malam pulang ke Jakarta pakai mobil kantor, barengan teman kantor. Tapi rasanya kurang sreg kalau belum coba pakai transportasi umum dari Merak ke Jakarta.

Jadilah saya tanggal 18 Oktober 2019 coba kereta dari Merak. Konon katanya dulu ada kereta langsung Merak – Tanah Abang (tidak ganti kereta). Sekarang, harus ganti kereta di Rangkas Bitung.

Sekitar 16.15 saya keluar kantor di MCCI yang tidak jauh dari pintu tol Merak. Naik angkot merah sekitar 15 menit sampai Stasiun Merak. Ongkosnya Rp5.000.

Supir angkot menurunkan saya di pinggir rel, lalu diarahkan, “Masuk lewat jalan kecil itu.”

IMG20191018162423

Jalannya memang kecil, hanya untuk pejalan kaki. Juga sepi.

IMG20191018162307
Jalan setapak menuju Stasiun Merak

Masuk stasiun, juga sepi. Saya terlalu cepat datang. 16.40 sudah sampai stasiun. Padahal jadwal berangkat 17.20. Ada tempat duduk-duduk untuk penumpang menunggu.

Harga tiket Merak – Rangkas Bitung itu murah banget. Cuma TIGA RIBU PERAK! KAI apa tidak rugi ya?

IMG20191018162638
Tiket Merak – Rangkas Bitung hanya Rp3.000

Kereta datang. Penumpang masuk. Tepat 17.20 kereta berangkat. On time banget. Sebelum kereta bergerak, saya sempat ngintip ke loket tiket. Tidak ada antrian. Jadi lain waktu kalau mau naik kereta ini lagi, mepet mepet juga bisa. Tidak perlu takut tiket habis.

Di dalam kereta, penumpangnya sepi. Berhubung tidak ada nomor kursi, ya saya cari yang kosong. Model kursinya 2-3 berhadap-hadapan, seperti kereta ekonomi ke seantero Jawa. Saya duduk di kursi 2. Maksudnya, kursi yang muat 2 orang. Selonjorkan kaki ke kursi hadapannya. Sejak berangkat sampai ke Rangkas Bitung kursi di depan saya kosong.

Kereta tiga ribuan ini ber-AC loh! Dan ada colokan di setiap pinggiran kursi.

IMG20191018163653
Beberapa AC dalam satu gerbong kereta Merak

Hati-hati ya dengan jadwalnya. Kereta dari Merak ke Rangkas Bitung sehari ada enam kali keberangkatan: 5.00; 6.30; 10.20; 11.45; 15.35; 17.20. Sedangkan dari Rangkas Bitung ke Merak juga ada enam kali keberangkatan: 3.50; 7.45; 09.05; 12.45; 20.00.

IMG20191007050633
Jadwal kereta Merak – Rangka Bitung dan sebaliknya

Sampai Rangkas Bitung, saya harus keluar stasiun dulu untuk tap e-money. Lalu masuk lagi untuk naik Commuter Line sampai Tanah Abang. Ada hampir tiap jam. Dari Tanah Abang lanjut ke Manggarai, terus ke Buaran. Pengurangan e-money nya dari Rangkas Bitung ke Buaran itu Rp10.000.

Pengalaman ini memunculkan simpulan di kepala saya: kereta sekarang sangat nyaman. Tepat waktu. Adem. Murah. Walaupun masih ada kurangnya: lambat.