Takengon: Keliling Lut Tawar

IMG20190217070343
Danau Lut Tawar dan Kota Takengon, difoto dari Pantan Terong

Aceh punya danau yang cukup besar dan bagus, yaitu Danau Lut Tawar. Sekeliling Danau ini sebagian besar adalah perbukitan hijau. Satu sisi di barat danau, yang daratannya agak datar, merupakan Kota Takengon. Nah, saya berenam, satu mobil, mengelilingi danau ini pada Sabtu 16 Februari 2019.

Jalannya bagus, aspal. Rata-rata mulus. Sebagian kecil saja yang berlubang. Sebagian lagi terlihat longsoran menutupi sebagian jalan. Longsor di dan menuju Takengon bukanlah berita heboh. Sudah sering terjadi.

Kami sampai Takengon sekitar jam 9 pagi, langsung mencari sarapan di pinggir danau. Dapatnya di kafe One One (nemu di jalan). Awalnya saya kira bacanya “wan wan”, tapi teman saya yang orang lokal bilangnya “O-ne O-ne”.

IMG20190216092815
Kafe One One Takengon: Lobster ditangkap setelah dipesan

Ini tempat makan memuaskan sekali. Ikan dan lobster yang dipesan segar. Setelah pesan, baru diambil dari kolam dan dimasak. Awalnya saya berimajinasi lobster yang dimaksud adalah lobster besar sepenuh piring, rupanya lobster kecil (sama udang bedanya apa sih?). Saya pesan nasi goreng lobster. Harganya hanya Rp25.000. Itu sudah puas makan 4 anak lobster.

IMG20190216100938
Kafe One One Takengon: Nasi goreng lobster Rp25.000

Penasaran, kok bisa sangat murah. Saya tanya ke yang nangkap lobster buat dimasak, katanya lobster itu ditangkap dari danau pakai bubu, semacam perangkap. Jadi ya gak modal. Maka murah.

Puas sekali kami makan di One One. Semua enak. Semua murah.

Lanjut lagi ke Dermaga Nosar. Kalau dicari di google maps judulnya: Dermaga Wisata Teluk Suyen Bamil Nosar. Ini dermaga buatan yang memang untuk menggaet wisatawan. Tapi sayangnya tidak ada karcis masuk. Pungutan parkir mobil Rp10.000 dan biaya masuk Rp2.500/orang itu semua tanpa karcis dan dipungut oleh…. Siapakah dia? Tidak berseragam. Sepertinya anak muda lokal.

IMG20190216161007
Dermaga Nosar, Takengon

Bagus nih di Nosar, buat foto-foto, juga buat menenangkan pikiran. Kalau sudah sore, air berombak kecil, jadi suara gemericiknya semakin terasa, semakin syahdu.

Lanjut lagi, di ujung timur ada yang namanya Pantai Menye. Ini danau rasa pantai. Memang nyatanya terlihat seperti pantai, ada ombak kecil yang berlomba ke tepian danau. Anginnya pun kuat. Saya hanya lewat saja di sini, dengan gas pelan, jadi bisa menikmati pantainya. Waktu lewat, saya tidak melihat ada yang berenang. Dulu, tujuh tahun lalu, saya pernah ke sini juga. Salah seorang saudara melarang saya berenang. Tidak dijelaskan alasannya. Saya baca-baca, alasannya mistis.

Kami lanjutkan perjalanan. Sayangnya ada yang terlewat: Ujung Paking. Katanya sih ada plang besar, tapi kami tidak ada yang lihat. Jadi bablas.

Ada beberapa tempat lagi sebagai view point danau. Tapi kami sudah “mabok” foto danau, sudah terlalu banyak, jadi hanya dilewatkan dengan gas pelan saja, misalnya: Pantai Ujung Senang, Pantai Ketibung.

Kembali ke kota, mencari penginapan. Dapat di dekat pasar inpres, namanya Wisma Nacara. Dia punya belasan kamar. Kamar yang dua kasur single tarifnya Rp150.000/malam. Tidak ada AC, dan memang tidak perlu. Kamar mandi dalam, dengan toilet jongkok.

Malamnya kami ngopi di Galeri Kopi Indonesia, sekitar 5 kilometer dari kota. Tempatnya masuk satu gang kecil, pas buat lewat satu mobil. Awalnya gak yakin, apa betul jalannya? Karena kok semakin sepi. Kami hanya ikuti google (semua perjalanan kami di Takengon diarahin google). Tapi ternyata memang di ujung dia. Sesuailah sama google maps nya: Galeri Kopi Indonesia.

IMG20190216210921
Galeri Kopi Indonesia: order di sini

Tempatnya keren banget! Dia di tengah-tengah kebun kopi. Pesannya di depan. Terus kita cari tempat untuk duduknya. Mereka punya semacam saung tapi di tempat yang agak tinggi. Kita harus semacam memanjat pohon terlebih dahulu. Sebelum memanjat, kita juga akan melewati kebun kopi dulu. Agak jauh dari imajinasi saya yang mengaggap galeri kopi ya ruangan modern dengan jenis-jenis kopi dalam toples. Ternyata galerinya ya kopi betulan, pohon betulan. Keren!

Saya pesan kopi wine. Ini harganya rada mahal dibanding yang lain, yaitu Rp30.000. Tapi rasanya memang enak. Disajikan dalam gelas ukur, jadi saya berasa sedang praktikum kimia. Dikasih gelas kecil buat minum sedikit-sedikit, seperti espresso gitu (cara minumnya). Saya gak pernah minum wine, tapi kalau kopi wine aja enak, apalagi wine betulan… Gitu kali ya? Nanti saja minumnya, insya Allah di surga.

IMG20190216215517
Galeri Kopi Indonesia: Kopi wine disajikan dalam gelas ukur

Pas petugasnya datang membawa kopi pesanan kami, agak bingung dengan penampakannya. Teman saya ada yang pesan Vietnam drip, ada yang sanger. Kan sama-sama tuh warnanya, rada cokelat muda. Biasanya Vietnam drip kan ada saringannya. Yang ini enggak. Makanya kami bingung, lalu bertanya ke petugas pembawa, “Yang Vietnam drip yang mana?” Santai saja dia jawab: enggak tahu.

Kami mengampuni petugas itu, karena dia masih muda, muda sekali, mungkin SMP. Pekerja di bawah umur kah?

Teman saya yang kelaparan, selain ngopi, juga nge-mie. Jadi, ada mie juga di sini. Ada juga nasi goreng. Ada juga cemilan macam-macam.

Hari itu selesai dengan kopi.

Besoknya, 17 Februari 2019, tepat setelah subuh, kami tancap ke Pantan Terong, yang disebut-sebut sebagai view point terbaik di Takengon. Dan memang ini yang terbaik!

Saat itu, matahari belum muncul. Kota Takengon diselimuti kabut. Danau Lut Tawar bisa terlihat dalam satu frame dengan Kota Takengon. Saya sempat membuat video di sini.

Segera pulang, karena besok itu Senin, kembali ke nasib masing-masing.

WH Si Macan Ompong

IMG20190205225353
Diskusi WH di Warung Kopii Corner, Langsa

Ini adalah hasil diskusi saya dengan seorang petugas WH dari Kota Langsa, Aceh, selama 3 jam di warung kopi Corner. Tulisan ini tentu saja tidak menggambarkan WH secara keseluruhan, namun hanya secuplik kisah yang saya tangkap dengan pandangan subjektif saya sendiri.

Buat yang belum tahu WH… WH itu singkatan dari Wilayatul Hisbah. Orang mungkin menyebutnya polisi Syariah di Aceh. Mereka yang sering melakukan razia untuk pelanggaran syariat, seperti pakaian tidak menutup aurat, khalwat (berduaan dengan yang bukan mahromnya), zina, judi, miras, dst…

Nara sumber saya ini sudah sejak 2007 terlibat di dalam WH. Sebutlah namanya Bang Budi. Walau sudah dua belas tahun menjadi petugas WH, tapi statusnya masih kontrak. Status yang sama didapati oleh sekitar 60 petugas WH yang lain di Kota Langsa. Berapa orang yang tidak kontrak? Nol.

Tapi ini hanya gambaran untuk WH di Kota Langsa, yang seluruh petugasnya adalah kontrak. Di tempat lain bisa jadi tidak seperti itu. Bisa jadi banyak yang memang berstatus PNS, bahkan PPNS.

Kenapa sih kok di Kota Langsa tidak diangkat jadi PNS? Kalau saya melihatnya, karena budget yang tidak sampai. Selama ini, petugas kontrak hanya dibayar sekitar separuh dari Upah Minimum Regional (UMR), bahkan kurang. Kalau kontrak kan mudah, tinggal putuskan kontrak kalau memang budget tipis. Agak repot urusannya untuk menekan budget kalau dia PNS.

Itu salah satu keruwetan WH: petugasnya dari kontrak. Ini menimbulkan keruwetan berikutnya, yaitu petugas kontrak tersebut tidak ada yang memiliki wewenang menjadi penyidik. Kenapa tidak berwewenang menyidik? Karena tidak ada yang mempunyai status PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil). Boro-boro PPNS, PNS (yang bukan penyidik) saja tdak ada.

Apa akibatnya kalau WH tidak punya wewenang menyidik? Ya seperti macan ompong jadinya. Bertugas menegakkan syariat, tetapi tidak boleh menggeledah, tidak boleh melakukan interogasi, tidak boleh berpura-pura menjadi customer untuk memancing pelanggar (misal pura-pura jadi customer PSK).

Yang bisa dilakukan WH hanyalah mengumpulkan barang bukti, lalu menyerahkannya ke penyidik di kepolisian untuk ditindaklanjuti. Iya kalau ditindaklanjuti. Kalau tidak, ya mengendap saja kasus tersebut di meja.

Misalnya kasus judi online. Ini adalah kasus yang banyak dan berulang. Tidak sulit untuk menangkap pesuruh kecil, tapi setengah mati menangkap bandar besarnya. Boro boro menangkap, menyelidiki saja tidak bisa, ya balik lagi tadi karena tidak adanya penyidik. WH juga belum punya aturan khusus terkait undercover buy (pembeli terselubung) yang selama ini hanya bisa dilakukan oleh penyidik Polri atau PPNS. Pada akhirnya, WH hanya bisa memberikan bahan-bahan dasar dan tidak bisa menyelidiki lebih jauh.

Keompongan gigi WH bisa dilihat dengan jelas ketika Razia dilakukan di jalan-jalan utama. Biasanya setelah ashar, dua kali dalam seminggu. Ada saja yang menggas kendaraannya ketika tahu di depannya ada Razia WH. Pilihan apa yang dimilki WH dalam menangani warga ini? Menghadangnya di jalan justru berisiko buat WH. Kenapa? Karena kalau warga tersebut kecelakaan karena dihadang WH, maka WH yang kena sangsi hukum. Jadi, menghadang bukanlah pilihan. Yang bisa dilakukan WH hanyalah melepasnya pergi. Kalau pilihan yang bisa diambil hanya satu, apa itu masih bisa disebut pilihan?

Kemudian katakanlah dia mau berhenti, lantas mengikuti arahan WH untuk didata namanya. Lalu ketika dimintai KTP untuk dicatat, apa warga mau memberikan KTP nya? Tidak. Kalaupun dia bawa, dia akan bilang tidak bawa KTP. Karena kalau terdata sampai nomor KTP, ya bahaya dong buat dia…

Sementara WH juga tidak punya wewenang untuk menggeledah. Andai WH yang merazia menduga ada KTP di dalam tas warga, WH tidak boleh menggeledah, dan hanya bisa menelan kembali dugaannya itu, mungkin berubah menjad kentut.

Pendataan nama warga yang melanggar menjadi data pura-pura saja. Kenapa? Karena siapa yang bisa menjamin si “Yanti” yang melanggar menyebutkan namanya “Yanti”? Kenapa dia harus menyebut nama aslinya sebagai pelanggar, sementara dia bisa menyebut “Mira”. Toh KTP tidak harus diperlihatkan.

Ancaman “nanti kalau melanggar lagi, akan ditindak tegas” juga ompong. WH tidak punya database yang kuat. Apakah dia sebelumnya pernah melanggar, itu tidak bisa dicek. Katakanlah “Mira” ada dalam database pelanggar. Tapi apa jaminannya Mira yang di database pelanggar itu sama dengan Mira yang barusan dirazia?

Yang bisa diandalkan WH lagi-lagi sangsi social. Pelanggar akan malu jika distop di pinggir jalan oleh WH. Seluruh kendaraan yang lewat akan melihat dia. Kalau yang melihat dia adalah orang yang dia kenal, malu sekali rasanya. WH mengetahui ini, lalu memanfaatkannya. WH akan menahan pelanggar selama mungkin, agar semakin banyak orang lewat yang melihat pelanggar, semakin tinggi rasa malu pelanggar, semakin trauma dia untuk melanggar. Sangsi social itu yang menjadi senjata WH.

Belum lagi soal kedudukan WH dalam struktur organisasi. Sebetulnya WH ini ada dalam satu organisasi dengan Satpol PP atau Dinas Syariat Islam? Pasnya dia di mana? Kalau saya baca-baca, WH ini satu kesatuan dengan Satpol PP.

Namun muncul keganjilan kalau memang WH satu kesatuan dengan Satpol PP. Seperti yang diceritakan Bang Budi, keduanya punya cara berperilaku yang cukup berbeda, yang kemudian menghasilkan gap dan ego yang tumbuh sendiri-sendiri.

Sebagai contoh sederhana dari pakaian. Petugas wanita WH memang dituntut secara sosial untuk berpakaian longgar. Pakai rok. Kalaupun pakai celana, maka bajunya harus selutut. Petugas WH tertuntut untuk menjalankan syariat. Apa kata orang kalau petugas WH melanggar syariat? Dia yang merazia cara orang yang berpakaian kok malah dia yang melanggar?

Beda dengan Satpol PP yang bebas berpakaian. Jadi Satpol PP menilai WH terlalu kaku. Sementara WH menilai Satpol PP belum sejalan dengan syariat. Maka muncullah gap itu.

Ah rasanya WH ini begitu kompleks dalamannya. Namun begitu, saya melihat masyarakat Aceh sudah semakin sadar tentang pentingnya WH. Walaupun banyak orang luar sana yang bilang melanggar HAM, menekan pemerintah Indonesia untuk menghilangkan hukum cambuk, tapi toh pendukungnya juga banyak. Banyak yang ingin menjalankan hukum syariat seperti di Aceh tapi belum mampu. Yang lain masih berangan-angan, Aceh sudah menjalankan belasan tahun.

 

Cerita Pabrik Cot Girek (Aceh Utara)

Yang dulu jaya, sekarang merana. Ini cerita tentang gula Indonesia. Yang dulunya kita menjadi eksportir gula terbesar, sekarang berbalik menjadi importir terbesar. Banyak orang bilang, ini karena pabrik gula yang ada di Indonesia sudah zaman old, sehingga produktifitasnya makin rendah.

img20181222182241
Pabrik Gula Cot Girek

Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman pribadi saya terkait kunjungan ke mantan Pabrik Gula Cot Girek dan singgungan subjektif saya terkait gula.

Beruntung saya mendapatkan proyek di PT Perkebunan Negara (PTPN) I yang berkantor di Langsa (Aceh). Suatu waktu, saya ditugaskan untuk keliling ke kebun-kebun dan pabrik-pabrik di PTPN I, salah satunya Cot Girek.

Namun, Cot Girek dulu berbeda dengan Cot Girek sekarang. Dulu ini adalah pabrik gula. Sekarang pabrik kelapa sawit, penghasil CPO. Tanpa diberitahu bahwa ini dulu adalah pabrik gula, sudah bisa saya lihat di semacam monumen peresmian Pabrik Gula Cot Girek yang ditandatangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang saat itu didapuk menjadi Menteri Negara Ekonomi, Pembangunan, dan Industri, tertanggal 19 September 1970.

img20181222182355
Monumen Peresmian Pabrik Cot Girek

Monumen itu masih tampak gagah di tengah-tengah bangunan pabrik tua yang bukan berfungsi sebagai pabrik lagi. Bangunan itu sekarang menjadi Gudang, baik lahir maupun batin. Gudang lahir maksud saya adalah yang memang Gudang pada umumnya, diisi barang-barang yang perlu disimpan.

Sedangkan Gudang batin, nah ini yang seru. Saya mendengar banyak cerita mistis terjadi di sini. Belum lama ini, ada seorang rekanan yang membeli besi besi bekas yang ada dalam pabrik. Harga sudah deal. Ketika si rekanan sudah datang membawa crane untuk mengangkuti besi besi tua itu, tali crane putus. Menurut yang bercerita ke saya, tidak mungkin tali crane setebal itu tidak mampu mengangkat besi tua yang sedang akan diangkutnya itu. Sehingga muncul pandangan-pandangan mistis karena kejadian tali crane putus.

Kemudian, cerita lain lagi, entah terkait rekanan yang sama atau beda lagi. Jadi ketika sudah deal dengan rekanan untuk mengangkut besi besi tua, pihak PTPN I bercanda (yang rada serius) ke rekanan, “Silakan angkut besi besi tuanya, sekaligus angkut kuntilanak yang ada di pohon itu.”

Itu pengalaman-pengalaman orang lain yang saya ceritakan ulang. Kalau pengalaman saya sendiri, tidak ketemu hal hal mistis waktu kunjungan ke sini. Namun memang saya merasa merinding waktu jalan di salah satu lorong di kantor kebun.

img20181222182559
Kantor Kebun Cot Girek

Dari mantan pabrik itu, dulunya banyak harapan yang digantungkan. Soeharto sendiri pernah berkunjung. Anak-anak SD sudah dilatih baris-berbaris dan bernyanyi sejak seminggu sebelum Soeharto datang. Jalan sepanjang 15 km dari Lhok Sukon ke Cot Girek sudah disirami supaya tidak berdebu waktu Soeharto lewat. Rumah-rumah yang dilewati dicat merah putih. Rupanya Soeharto tidak melewati jalur itu, melainkan naik helikopter dari Bandara Malikussaleh.

Belum jelas apa yang membuat pabrik ini berhenti beroperasi 15 tahun setelah diresmikan, yaitu tahun 1985. Ada yang bilang, karena ongkos produksinya terlalu tinggi.

Zaman kolonial Belanda dulu, Indonesia (Hindia Belanda) sempat menjadi eksportir gula terbesar, sekarang malah jadi importir terbesar. Puncak kejayaan pada 1930-an, ada 179 pabrik pengolahan dengan hasil 3 juta ton gula per tahun.

Tahun 2016, Indonesia mengimpor gula senilai Rp28,4 Triliun. Jumlah tsb lebih besar dari import yang dilakukan Cina, Amerika, dan India. Padahal ketiga negara tersebut penduduknya lebih besar dari Indonesia. Sedih yaa…

Liburan ke Puncak Naik Angkot

Weekend lalu, saya sekeluarga naik kendaraan umum ke puncak untuk menghabiskan liburan. Tadinya agak ragu, kuat gak ya. Karena anak saya masih 4,5 tahun. Kuatir rewel di jalan gangguin orang. Ah coba jalani saja…

Sabtu 29 Desember 2018, istri dan anak saya jalan duluan ke Stasiun Pondok Ranji naik motor. Titip motor di sana, semalam tarifnya Rp15.000. Dari situ jam 8.30, naik kereta ke Tanah Abang. Lanjut naik yang ke Bogor. Ketemu saya di Stasiun Cawang.

Kalau bawa anak kecil, hampir selalu dapat kursi prioritas, jadi anak gak rewel. Malah asik ketiduran. Sampai Stasiun Bogor, kami ngetap kartu, kenanya Rp5.000 (Cawang-Bogor) dan Rp7.000 (Pondok Ranji-Bogor).

Lanjut naik angkot hijau 02 jurusan Sukasari. Ongkosnya Rp4.000/orang. Saya sempat kecele gak nanya dulu sama supirnya, ternyata dia hanya sampai Pasar Bogor. Nyambung lagi deh ke Sukasari.

Ada angkot biru jurusan Cisarua di Sukasari. Ongkosnya Rp8.000/orang. Nah udah deh tuh, tinggal pantau saja kita mau ke Cisarua-nya di mana. Kalau saya di Hotel Pesona Anggraini. Belum pernah ke sana. Baru tahu namanya juga pas pesan hotel di Traveloka. Saya sudah pesan empat hari sebelumnya, untuk kamar tanpa sarapan seharga Rp332.000/malam. Yang dicari sebetulnya yang murah dan ada kolam renangnya.

Sampai hotel jam 13.20. Siang siang kan tuh, tapi di hotel gak ada AC nya. Untung anginnya kencang, jadi tinggal buka jendela. Karena dari rumah jam 8.20 pagi, maka total waktu dari rumah ke hotal adalah 5 jam. Ini terhitung cepat karena dari Ciawi sampai Ciasurua bisa dibilang gak macet. Cuma tersendat sedikit.

IMG20181230123318
Pemandangan sawah dari kamar hotel Pesona Anggraini

Check In, taruh tas, langsung makan. Dekat hotel ada tempat makan Sunda. Terus anak langsung minta berenang, ya berenang.

Agak sore, turun ke Cimory yang Riverside, naik angkot juga, mungkin hanya 10 menit sudah sampai. Saya baru tahu di Cimory ternyata gak hanya ada tempat makan, tapi juga tempat jalan-jalan. Dulu pernah ke Cimory yang Mountain View, itu hanya tempat makan. Kalau yang di Riverside ada tempat tracking nya. Bayarnya Rp15.000/orang kalau mau tracking saja (Cimory Forest Walk). Atau Rp25.000 kalau mau juga ke tempat ikan (Monster Aquarium).

IMG20181229162524
Loket Tiket Forest Walk Cimory

Tracking di Cimory itu sedap di mata, apalagi buat orang Jakarta yang jarang lihat pohon dan sungai. Jembatan untuk menyeberangi sungai-nya bagus dan banyak dijadikan tempat foto-foto. Sungainya juga bersih.

IMG20181229161546
Tiket masuk Cimory Forest Walk dan Monster Aquarium Rp25.000

Nah kalau yang di tempat ikan, ada beberapa koleksi. Yang menarik adalah ada beberapa kolam yang kita boleh masukkan tangan ke dalamnya. Misalnya kolam bintang laut, kolam belut (boleh nangkap belut, tapi dilepas lagi), dan yang paling seru kolam ikan kecil-kecil yang suka gigitin kulit mati. Saya lupa ikan apa itu, yang biasanya buat terapi di kaki.

Habis jalan-jalan, makan dulu di Cimory. Pilihan makanannya ada banyak, termasuk makanan-makanan barat. Yang susah itu kalau mau dapat tempat duduk di pojok biar bisa lihat pemandangan sungai lebih jelas. Saya reserved dulu, sambil makan es krim, terus 5 menit kemudian dipanggil dan dapat kursi di pinggir.

Saya pesan Mixed Yong Tofu. Kirain porsinya kecil kayak beli bakso, ternyata banyak dan ngenyangin. Sambil makan sambil lihat sungai, wah adem. Total makan kami bertiga habis hampir dua ratus ribu.

IMG20181229173837 (1)
Mixed Yong Tofu Cimory Riverside

Pulang ke hotel naik angkot lagi. Dari kamar hotel, ada teras ke luar yang pemandangannya sawah. Terdengar suara jangkrik dan kodok. Udaranya adem. Enak banget buat menenangkan pikiran.

Besoknya, kami pulang dengan jalur yang sama: Cisarua – Sukasari – St Bogor – St Tanah Abang – St Pondok Ranji. Sempat beli roti maryam di St Bogor buat nyemil.

 

 

Pengeluaran:

Kereta Pondok Ranji-Bogor (3 org PP) Rp42.000

Angkot St Bogor-Sukasari (3 org PP) Rp24.000

Angkot Sukasari-Ciasurua (3 org PP) Rp48.000

Hotel Pesona Anggraini (1 malam) Rp332.000

Makan siang dekat hotel Rp70.000

Angkot Cisarua-Cimory (3 org PP) Rp20.000

Makan di Cimory Rp190.000

Es krim 3 cup Rp60.000

Jalan-Jalan Cimory (3 org) Rp75.000

Sarapan dekat hotel Rp70.000

Roti Maryam Rp25.000

TOTAL 956.000

 

Tips:

  1. Sebelum naik angkot, pastikan tujuannya dengan supir, misal: Sukasari ya Pak?
  2. Bawa kipas atau sesuatu buat ngipas, karena kalau macet, angkot itu panas
  3. Bawa air buat hilangkan haus di jalan
  4. Beri bintang di titik-titik yang akan dilewati di Google Maps, lalu pantau selama perjalanan
  5. Cari info buka tutup jalur puncak

Recommended: Investasi di iGrow

Saya kenal iGrow hampir dua tahun lalu, sekitar pertengahan 2018. Kenalnya dari geraidinar.com yang diasuh oleh Muhaimin Iqbal. Saya langsung berani investasi sebesar Rp3.913.000 untuk proyek tebu. Berani investasi di situ karena pernah ketemu langsung dengan Muhaimin Iqbal di salah satu forum yang dia buat. Ternyata beliau dari IPB, satu almamater dengan saya.

Saat bertemu, dan membaca tulisan-tulisannya, saya menyimpulkan bahwa pengetahuan beliau tentang pertanian cukup dalam. Pengalaman kerjanya di perbankan juga cukup lama, sehingga bisa dibilang beliau paham sekali dengan keuangan dan investasi. Satu lagi, beliau adalah ustadz, sehingga paham mana yang riba dan mana yang bukan riba.

Kenapa latar belakang pengasuh media investasi menjadi penting? Karena menurut saya, teknologi saja tidak cukup, tetapi pengasuh juga perlu knowledge yang dalam.

Muhaimin Iqbal, setahu saya, selalu menggaet anak-anak muda yang cerdas dan alim untuk bergabung dengan bisnis-bisnisnya. Termasuk iGrow ini. Saya pernah lihat video anak muda yang mengelola iGrow ini. Ohya, iGrow ini di bawah pengawasan OJK, jadi lebih tambah yakin lagi untuk investasi lewat iGrow.

Jadi idenya begini, iGrow ingin menggabungkan tiga elemen penting dalam bisnis pertanian, yaitu pemilik tanah, pengelola tanaman, dan pemodal. Pemilik tanah fungsinya ya jelas, memberikan hak kelola tanahnya, jadi jelas harus punya tanah. Pengelola tanaman bertugas mengolah tanah, menanam, memanen, jadi harus punya pengalaman dalam pertanian. Sedangkan pemodal, ya harus punya modal untuk menggerakkan pengelolaan tanah tadi, dia tidak harus mengerti pengelolaan tanaman. Nah, saya termasuk elemen ketiga: pemodal.

Screenshot_2018-12-28-09-10-32-38
Investasi di tebu

Saya akan dapat 40% dari profit bersih. Pemilik tanah dapat 40% juga. Sementara iGrow dapat 20%.

Proyek apa yang mau kita modali, itu banyak pilihannya di iGrow. Investasi pertama saya adalah di proyek tebu. Jadi dalam proyek tersebut, cita-citanya adalah ingin membuat Indonesia swasembada tebu, tidak perlu impor-impor lagi.

Dulu Indonesia sempat menjadi eksportir gula terbesar (era colonial Belanda), sekarang malah jadi importir terbesar. Tahun 2016, Indonesia mengimpor gula senilai Rp28,4 Triliun. Jumlah tsb lebih besar dari import yang dilakukan Cina, Amerika, dan India. Padahal ketiga negara tersebut penduduknya lebih besar dari Indonesia.

Kalau saya mau, maka saya bisa berkunjung ke kebun tempat saya berinvestasi. Pernah saya jadwalkan ke Blitar, bahkan sudah kontak dengan yang akan menerima saya di sana. Tapi sayanya yang batalkan karena ada acara lain.

Lewat iGrow juga, pengelola memberikan progress pekerjaan dengan gambar-gambar pertumbuhan kebun. Ini keren banget, saya bisa lihat tanaman yang saya investasikan.

Hanya saja, saya sempat kecewa dengan fitur chat dengan pengelola yang tidak dibalas-balas. Maksudnya mau diskusi dengan pengelolanya langsung dan sekadar ngobrol saja, tapi ini belum bisa.

Namun begitu, saya senang, karena iGrow merespon email saya dan jawabannya pun menyenangkan. Jadi, setelah setahun, saya tanyakan bagaimana tentang proyek yang pernah saya modali? Dijawab bahwa akan dikalkulasi di akhir bulan. Dan betul di akhir bulan saya di-email dengan keterangan berapa banyak profit yang didapat dari proyek tersebut, dan ditanya, apa mau melanjutkan permodalan di proyek ini atau tidak? Saya jawab tidak, dan minta dikirimkan ke rekening yang saya berikan.

Sebetulnya itu hanya ngetes. Kalau dia betul on time kirim hasil panen dan modal awal saya, berarti iGrow trusted. Dan saya sudah niat mau bikin tulisan tentang iGrow apapun hasilnya. Kalau jelek gak amanah ya saya tulis jelek. Kalau bagus ya saya tulis bagus. Saya pernah menulis juga tentang pengalaman investasi di Crowde yang tidak memuaskan, not recommended.

Ternyata iGrow betul mengirimkan uang saya sejumlah yang dilaporkan, bahkan sebelum tanggal yang dijanjikan. Janjinya antara 26-30 Desember 2018, ditransfernya 14 Desember 2018.

Screenshot_2019-01-01-16-35-38-18
Email awalnya dijanjikan bagi hasil pada akhir Desember 2018
Screenshot_2019-01-01-16-36-02-73
Email akhirnya, tanggal 14 Desember 2018 sudah bagi hasil

Pengelaman ini yang membuat saya merekomendasikan untuk investasi lewat iGrow. Semoga bermanfaat….

Ingin Keliling Lagi

Sekarang usia saya 32 tahun. Sudah punya anak satu. Istri juga satu. Tapi gejolak jalan-jalan masih seperti anak umur dua puluhan, yang belum punya anak istri. Tiba-tiba terbayang kembali perjalanan saya waktu umur 25 tahun, setahun sebelum nikah.

Waktu itu, yah biasalah, anak muda baru kerja, punya uang sedikit maunya jalan-jalan. Saya ikutan komunitas Backpacker Indonesia. Tapi kadarnya rada kronis. Sampai keluar kerjaan untuk jalan-jalan keliling Sumatera selama tiga bulan. Sendirian.

Runut dari Lampung lewat jalur tengah dan barat, sampai Aceh. Pulangnya lewat jalur timur: Kepri, Babel. Sepuluh Provinsi, sekitar lima puluh kota atau wilayah. Itu Desember 2011 sampai Maret 2012. Pakai carrier kalau gak salah yang ukuran 60 L. Salah satu isinya adalah laptop dan buku kecil, karena sambil menulis catatan-catatan selama perjalanan.

Perjalanan saya waktu itu, menurut saya yang hari ini, sangat koboi. Tidak berpikir panjang tentang risiko yang mungkin muncul. Walaupun memang ada waktunya kita lebih baik tidak berpikir panjang. Kalau dipikir panjang-panjang mungkin malah gak jadi berangkat waktu itu.

Karena punya banyak keterbatasan, maka saya menerapkan beberapa aturan dalam perjalanan. Tidak ada budget untuk tidur di penginapan, harus di tempat yang gratis. Kalau jaraknya masih di bawah 5 km, harus jalan kaki, tidak boleh naik angkutan berbayar. Tidak boleh beli minum, harus minta.

Dengan aturan-aturan itu, saya jadi terbiasa untuk: tidur di masjid, tidur di pinggir pantai, rajin silaturahim ke teman level 3 (Si C: ketika saya punya teman A, A punya teman B, B punya teman C) yang bertempat di Sumatera, memulai dengan berbasa-basi, berkawan dengan semua orang yang ditemui, jalan kaki tanpa google maps, hitchhike AKA nebeng, kipas-kipas kepanasan, tidak malu minta air ke warung-warung, dan minum air keran di masjid.

Perjalanan itu sangat tidak saya sesali, bahkan saya merekomendasikan anak-anak muda yang belum menikah untuk melakukannya juga. Karena apa? Cuek aja, hehe. Karena bagus sekali untuk menempa kemandirian, softskills. Bagus sekali untuk menambah wawasan, menambah perspektif. Saya setuju dengan pendapat: pikiran kita akan semakin terbuka kalau bertemu dengan orang yang semakin berbeda. Semakin berbeda, semakin bagus. Berbeda bisa dari banyak hal: Pendidikan, kebudayaan, agama, gaya hidup, pekerjaan, umur, dsb….

Setiap sampai di suatu tempat baru, saya selalu membaur sebaur-baurnya. Langsung ngobrol dengan warga lokal. Utamanya untuk membuat zona aman. Semakin orang tahu siapa kita, tahu bahwa kita tidak punya niat jahat, maka dia akan semakin melindungi kita. Itu salah satu kesimpulan saya dari perjalanan.

Saya berenang di tiga danau besar di Sumatera: Toba, Maninjau, Singkarak; mendaki gunung Tujuh, sebelahnya Kerinci, karena waktu itu Kerinci porternya mahal banget: Rp300 ribu per hari; merasakan diseruduk anak gajah di Way Kambas dan mendengar langsung konflik antara gajah dan warga; merasakan konflik tanah di pulau-pulau kecil; naik kereta api di Lampung, Sumsel, dan Sumut; menghadiri pesta pernikahan orang tak dikenal; mencoba makanan-makanan yang sampai sekarangpun tidak tahu itu apa; mendengar suara aneh di hutan; mencoba kopi aceh, mandailing, lampung, belitong; makan nasi padang di padang; makan mie aceh di aceh; makan martabak bangka di bangka; pesta durian; dst…

gajah penyeruduk
Anak Gajah di Way Kambas, si penyeruduk

Ada satu waktu ketika di Siberut (Kepulauan Mentawai), yang untuk ke sana perlu naik kapal kayu dari Padang selama 10 jam, yang kapalnya goyang-goyang diterjang badai dan kayunya berdecit bunyi kretek kretek seperti mau terbelah dua, saya kenalan dengan seorang anak muda bernama Niko Sagaileppa. Diajak ikut ke tempatnya di Saibi, saya ikut. Itu adalah daerah tanpa sinyal, tanpa listrik, dan masih banyak warga bertato garis-garis melingkar, mungkin suku asli Siberut. Seorang di antaranya datang mengajak saya ngobrol dengan Bahasa yang saya kurang pahami. Lewat penterjemah, akhirnya saya paham bahwa dia bilang: dulu orang baru seperti saya, kalau tidak kenal orang lokal, dimakan sama suku asli, karena dulu mereka kanibal. Saya langsung pingin pulang.

Nias
Sulitnya sinyal di pedalaman Mentawai

Ada satu waktu saya betul-betul merasa kesepian dan menjadi begitu dekat dengan Allah, dan pasrah kalau memang saya harus mati ya matilah. Yaitu ketika bermalam di sebuah keramba jaring apung di Pulau Balai (Kepulauan Banyak). Tidur di atas keramba itu berarti tidur mengikuti gelombang laut. Jam 1 malam tiba-tiba badai datang. Keramba naik turun tak karuan. Air laut masuk ke keramba membasahi pakaian. Saya pikir tsunami, tapi ternyata itu hanya badai yang memang hampir setiap malam datang.

Ada satu waktu di Pulau Hinako (baratnya Pulau Nias), saya disambut baik oleh warga lokal, lalu disuruh makan ikan tuna sepuasnya. Ikan tuna yang dibeli dengan harga Rp20 ribu per kilogram. Tidur dikelambui. Warga di sini masuk dalam kategori miskin versi Badan Pusat Statistik (BPS) karena pengeluarannya tidak lebih dari Rp200.000/bulan/orang, tapi saya tidak melihatnya demikian. Mereka punya lautan penuh ikan, tidak akan kelaparan. Mereka punya tetangga-tetangga yang saling peduli, saling mengamankan, tidak perlu iuran satpam.

Bukannya sombong (tapi belagu, hehe), kalau ada yang posting foto tempat wisata di Sumatera, hampir semua saya pernah singgahi. Yang singgah di kepala saya paling lama justru bukan tempat wisatanya, tapi orang-orang yang saya temui, pikiran-pikiran mereka, kesederhanaan mereka, konflik-konflik yang mereka hadapi.

Catatan-catatan saya selama perjalanan, saya rapikan dan kirim ke penerbit. Gramedia menerimanya, lalu terbit di akhir 2012 dengan judul Keliling Sumatera Luar Dalam. Beberapa email pembaca masuk, itu yang paling seru: ada pembaca yang mau berdiskusi tentang buku yang kita tulis.

Buku gramed
Buku Keliling Sumatera Luar Dalam

Lalu ada telepon masuk, dari seorang pembaca, yang belakangan saya tahu bahwa dia adalah bos travel kondang. Dia pernah menjalani petualangan seperti yang saya lakukan, ketika dulu masih kuliah di ITB, puluhan tahun lalu, dengan beberapa nama yang saya kenal sebagai gubernur dan politikus. Bos ini mengajak ketemuan di rumahnya di komplek perumahan menteri di daerah Komdak.

Ngobrol sana sini, akhirnya saya tangkap keinginannya: ikut bersamanya bertualang menyusuri jalur sutera, berawal di Istambul. Lalu menuliskan perjalanan tsb. Kalau saya OK, dia akan sponsori semuanya, termasuk perizinan di negara-negara yang akan dilewati. Sayangnya saya tolak, karena ke-cemen-an saya menghadapi ancaman kantor: sepulangnya dari jalur sutera, belum tentu ada pekerjaan lagi buat saya. Itu salah satu penyesalan terbesar.

Saya ingin merasakan pengalaman sumatera itu lagi. Masih kuat gak ya? Kelihatannya Nusa Tenggara bagus….

Kopi ya Solong

IMG20181124064422Rasanya saya perlu tulis tentang Warung Kopi Solong yang terkenal di Banda Aceh. Bisa dibilang, ini adalah warung kopi yang paling terkenal di Aceh. Kopinya menurut saya murah, yaitu hanya Rp7.000 per gelas kopi hitam saring. Tapi menurut saudara saya yang tinggal di Aceh, segitu mahal, karena rerata harga kopi di Banda Aceh itu Rp5.000, malah ada yang Rp4.000.

IMG20181124064647
Segelas Kopi Aceh di Solong Coffee, Rp7.000

Itu adalah harga ketika kunjungan saya terakhir ke Solong 25 November 2018. Setiap mampir Banda Aceh, saya selalu mampir Solong. Mungkin sudah sejak belasan tahun lalu. Rasanya gak banyak yang berubah dari Solong.

IMG20181124070742
Jenis-jenis sajian kopi di Solong Coffee beserta harganya

Letaknya di Simpang Tujuh, Ulee Kareng. Gampang lah ke sana, banyak orang yang tahu. Yang tidak tahu malah perlu dipertanyakan ke-Aceh-annya. Saya ke Banda Aceh naik travel dan minta turun di Solong.

IMG20181124064635
Nasi Gurih di Solong, dengan telur, Rp10.000

Pesan sepiring nasi gurih dengan telur dadar, harganya Rp10.000. Pesan kopi saring harganya Rp7.000. Juga makan sepotong kue talam khas Aceh seharga Rp2.000. Jadi total makan saya pagi itu Rp19.000.

IMG20181124064657
Kue talam di Solong Coffee
IMG20181124071036
Bubuk Kopi Solong

Ohya, saya juga beli kopi Robusta ukuran 250g seharga Rp30.000. Sebetulnya ada banyak pilihan kopi bubuk yang dijual. Arabika rata-rata Rp75.000 per 250g. Ada yang specialty Rp100.000 per 250g, tapi aromanya harum banget dari luar sudah tercium.