Arsip untuk Juni, 2017

30
Jun
17

Singapura: Makanan

Tidak sulit cari makanan di Singapura. Yang sulit itu cari yang murah, halal, dan pedas J

Saya cerita pengalaman saya saja ya tinggal di Singapura selama dua menjelang tiga bulan. Jadi tulisan ini tentu tidak bisa jadi acuan untuk referensi menyeluruh tentang seluruh makanan di Singapura.

Kantor tempat saya bekerja di Indonesia mayoritas karyawannya muslim, jadi kalau milih hotel di Singapura yang dicari adalah yang dekat dengan akses makanan halal. Jadilah di Park Royal (Beach Road), yang depannya langsung Arab Street, dan tidak jauh dari Masjid Sultan. Hanya sekitar 500 meter dari Bugis Station.

Nah di sekitar hotel ini banyak banget pilihan makanan halal. Ya sekitar separuhnya lah halal, terutama masakan Melayu, India, Turki, dan Lebanon. Beberapa masakan China juga halal. Awalnya saya bingung juga mana yang halal, tapi ada beberapa indicator yang bisa jadi acuan restoran itu halal:

  1. Restoran Melayu, India, Turki, dan Lebanon
  2. Ada label Halal
  3. Yang makan ada yang berjilbab
  4. Ada yang ngajak masuk pakai “Assalamu’alaikum”

Kalau tidak ada minimal satu dari indicator di atas, wah jangan deh.

Yang paling nyambung dengan lidah saya adalah masakan India: cane, pratha, nasi biryani, martabak, roti jhon. Yang terakhir disebut ini saya kurang tahu juga, asli masakan India apa bukan ya? Karena di setiap saya masuk restoran India, hampir selalu ada terus.

Dua restoran India favorit saya yang dekat hotel adalah Zam-Zam (depan masjid Sultan) dan Kampong Glam Café (Baghdad Street). Tapi belakangan saya rasai restoran India tipe makanannya sama semua. Sama-sama enak maksudnya.

20170419_194348Sekali saya pernah main ke Little India. Makan di restoran namanya “Madura”. Kita pikir itu makanan Indonesia. Ternyata makanan India. Yang jual semua India. Yang mampir juga India semua. Saya tanya sama waiter, kenapa pakai nama Madura? Dijawab, itu nama daerah di Indonesia. Terus waiternya pergi. Padahal saya mau bilang, nenek-nenek metal juga tahu. Tapi kenapa milih nama Madura???

Selain masakan India, varian makanan lain juga banyak banget, ada steak, ramen, tom yam, ayam penyet (Indonesia banget), nasi lemak, salad. Yah itu saja sih yang saya bisa sebut, sebetulnya masih banyak nama yang aneh-aneh dari restoran Lebanon, Turki, China.

Beberapa tempat makan/retail ini juga ada di sekitar tempat saya tinggal: Popeye, Pizza Hut, 7Eleven, Giant, Starbucks.

Kalau bicara harga, nah ini yang seru. Rata-rata saya sekali makan sudah dengan minum sekitar S$8 atau sekitar Rp80.000. Makan Tom Yam S$5,5. Nasi Briyani Mutton (kambing) S$6,5. Di mal dan di airport harganya tidak jauh beda. Ini yang saya suka. Kalau di Indonesia kan jauh banget bedanya antara di luar bandara dan di bandara.

Di Singapura hampir tidak ada yang kasih minuman gratis. Kalau di Indonesia kan banyak yang kalau kita beli makan ya dapat minum air putih atau teh tawar. Mungkin karena air mahal kali ya. Singapura kan tidak punya pegunungan yang jadi sumber mata air.

Biasanya saya hunting makanan-makanan dekat hotel kalau malam saja. Pagi makan di hotel (include harga kamar). Siang makan di kantin kantor.

Sarapan pagi di hotel juga perlu hati-hati buat muslim, karena banyak makanan yang dicampur dengan daging babi. Lah saya mikir, sangat mungkin kalau mereka masak dalam satu wajan yang sama. Saya cari aman dengan hanya memakan susu sereal, salad, dan buah. Sayang banget sebetulnya varian makanan di hotel banyak banget. Omelet pun saya gak berani sentuh.

Nah kalau makan siang di kantor aman, karena kantin kantor saya, yang di daerah Tuas, bersertifikat halal. Yang jaga juga orang melayu berjilbab. Di kantor saya merdeka soal makanan.

Pernah saya makan di food court Singapore Flyer. Sate 10 tusuk dengan beberapa potongan kecil lontong. Tidak bikin kenyang. Harganya saja yang bikin kenyang: S$10. Di Jakarta paling setara S$3.

Pernah juga saya mampir di mal dekat Singapore Flyer. Sempat tertarik dengan Restoran Masakan Padang. Tapi saya perhatikan semua waiter nya kok Chinese semua. Label halal juga tidak ada. Jadi saya batal makan di situ. Saudara saya yang memang sudah lama di Singapura menguntung-untungkan. Untung saya tidak makan di situ, karena kalau semua yang jaga Chinese, tidak punya label halal, maka jangan masuk.

29
Jun
17

Singapura: Tahanan Imigrasi

Buat banyak orang, urusan imigrasi di Singapura jauh lebih mudah dan lebih cepat dari yang saya hadapi. Hanya karena nama saya Muhammad Iqbal, repot banget urusannya.

Pertama kali saya ke Singapura adalah bersama anak dan istri saya pada akhir 2015, lewat Changi Airport. Anak dan istri saya sudah lewat imigrasi. Saya ditahan dulu. Disuruh masuk dalam suatu ruangan. Tidak ada informasi apa-apa. Hanya disuruh masuk saja. Lah kita kan bingung dan coba menebak-nebak kenapa ditahan?

Tadinya saya pikir karena penampakan saya yang dicirikan sebagai “teroris” oleh media kebanyakan: jenggot lebat dan jidat hitam. Tapi tidak juga, saya lihat para tahanan imigrasi itu juga ada beberapa wanita yang malah pakai rok mini.

Ada sekitar 15 orang “tahanan” dalam ruangan itu. Sebagian besar saya lihat passport nya dari negara di Asia Tenggara. Sekitar 2-3 orang dari Indonesia. Saya sempat tanya dengan orang Indonesia yang ada di situ, kenapa sih kita ditahan? Mereka juga bingung.

20170414_183639Satu demi satu dari kami dipanggil. Setelah dipanggil tidak kembali lagi, jadi tidak bisa ditanya tadi diapain? Satu demi satu “tahanan” baru juga masuk, dengan muka kebingungan.

Setelah hampir satu jam menunggu, nama saya dipanggil, dihadapkan dengan seorang yang dari nada bicaranya sih ramah. Saya ditanya mau ke mana? Dengan siapa? Menginap di mana? Urusan apa? Kuliah di mana? Kerja di mana? Emailnya apa? Berapa hari di Singapura? Keluar Singapura kapan? Lewat mana? Dst…

Untuk penahanan pertama ini, saya jawab dengan nada ramah. Petugasnya bilang, ini protokol yang harus dilakukan. Oh ya sudah…

Kedua kalinya saya ke Singapura, bersama dengan teman-teman kantor, saya kembali ditahan. Disuruh menunggu di dekat kantor imigrasi. Setengah jam kemudian datang petugas menanyakan hal-hal yang sama seperti kedatangan saya yang pertama. “Cuma pengecekan random,” kata petugas.

Ketiga kalinya, begitu lagi. Ditahan lagi. Ditanya-tanya lagi. Saya kesal juga, kenapa tiap masuk Singapura ditahan dulu sih? Dijawab sama petugas, “Your name is like a crime.”

Lah terus apa akan begini terus tiap ke Singapura? Apa nama saya tidak bisa dihapus dari list mereka? Toh sudah beberapa kali ke Singapura tidak kenapa-kenapa kan? Kata petugasnya, tetap loh tidak bisa. Jadi prosesnya akan begitu terus setiap masuk Singapura.

Jadilah saya setiap ke Singapura pesan ke barengan, kalau mau jalan duluan silakan, kalau mau nunggu ya bisa jadi satu jam. Tunggu di pintu keluar setelah pengambilan bagasi.

Keempat dan kelima kalinya saya ke Singapura, begitu lagi. Ditahan lagi. Keenam, ketujuh…. sampai kesebelas kalinya masih sama. Berat memang nih nama Muhammad Iqbal.




Juni 2017
S S R K J S M
« Mar   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930