Baluran, Taman Nasional yang Tak Biasa

BWI DSC_2196 miftah
Rusa liar di Baluran. Foto: Miftah

Disebut tak biasa karena kita bisa ketemu langsung dengan beberapa hewan liar dari dalam mobil. Jadi begini, bayangkan sebuah luasan taman nasional, yang di tengah-tengahnya dibuatkan jalan untuk mobil lewat. Sebetulnya jalan yang dibuat itu adalah jalan yang digunakan oleh hewan-hewan liar yang ada dalam taman nasional. Tapi mungkin karena terlalu sering mobil lewat, orang lewat, motor lewat, jadi hewan-hewannya juga malas lewat jalan itu kali ya.. Hanya sedikit Lanjutkan membaca “Baluran, Taman Nasional yang Tak Biasa”

Iklan

Taksi di Atas Gunung Ijen

Ada yang terasa berbeda di perjalanan ke Ijen kali ini, 22 September 2017. Keramahan pemilik homestay, dan cerita-ceritanya, membuat saya banyak ber-wah.

Coba googling map “Kawah Ijen Inn” di Jalan Kenjo Glondok, Licin, Banyuwangi. Nah di situ saya bermalam. Lebih tepatnya di depannya, ada rumah saudaranya Pak Paing. Sebut saja nama pemiliknya Pak Budi Luhur (lupa nama yang sebenarnya). Dulunya Pak Budi adalah seorang penambang belerang, yang bisa tidak pulang selama sebulan. Jadi dari dia berangkat sampai pulang lagi itu sebulan. Waktu itu harga belerang masih Rp350 per kg. Sekarang sudah Rp925 per kg. Dijual ke PT Candi Ngrimbi yang pabriknya di Desa Tamansari.

Lanjutkan membaca “Taksi di Atas Gunung Ijen”

Cerita Pulau Tabuhan Banyuwangi

Yang saya lihat menarik di Pulau Tabuhan adalah kuatnya masyarakat lokal dalam mengelola pembagian tugas bersama, untuk ekonomi bersama. Eh maaf, sebetulnya bukan di Pulau Tabuhan-nya, karena Pulau Tabuhan itu tanpa penghuni. Ada sih, rajungan dan umang-umang, juga beberapa manusia di dalam tenda. Yang saya maksud adalah pengelola Pulau Tabuhan-nya, yaitu penduduk lokal yang mengelola Pantai Kampe

IMG-20170926-WA0001
Pantai Kampe. Foto: Naim Rohatun

Lanjutkan membaca “Cerita Pulau Tabuhan Banyuwangi”

Bromo via Pasuruan 2017

Perjalanan ini dilakukan pada Sabtu, 12 Agustus 2017 dengan 4 orang teman saya. Start dari Pandaan pukul 00.30 dengan mobil sendiri, Avanza.

Jalur yang kami lalui adalah Jalan Raya Pasuruan – Jalan Raya Wonorejo – Jl Raya Ranggeh – Jl Raya Bromo – Wonokriti. Yang perlu hati-hati di Jalan Raya Bromo – Wonokriti. Jalannya belok-belok, menanjak. Sudah aspal sih, tapi sempit. Kalau ada mobil dari arah berlawanan harus sangat hati-hati. Kanan kiri sering kali ketemu tebing. Jalannya sepi. Jarang rumah. Gelap. Alhamdulillah Avanza masih kuat.

Lanjutkan membaca “Bromo via Pasuruan 2017”

Penanggungan via Tamiajeng 2017

Perjalanan ini dilakukan pada Sabtu, 26 Agustus 2017 dengan 3 teman saya. Kami start dari Pandaan (Kabupaten Pasuruan) dengan mobil sendiri pukul 00.30. Lewat Trawas, hanya setengah jam sudah sampai Pos 1 Perizinan (search google map: Pos 1 Perizinan Pendakian Gunung Penanggungan).

Pos 1 ini ada yang jaga. Kita diminta bayar iuran masuk Rp10.000 per orang. Kemudian diberi briefing sekitar 5 menit. Kami berempat belum ada yang pernah mendaki Penanggungan Lanjutkan membaca “Penanggungan via Tamiajeng 2017”

Arjuna Lewat Purwosari

IMG-20170708-WA0014
Pos 5 Mangkutoromo

Ini data dan cerita saya ketika mendaki Arjuna lewat Purwosari pada 8 Juli 2017.

Saya berangkat bertiga, dengan Security kantor (SCK) dan OB kantor (OBK). Saya sebetulnya tinggal di Jakarta, tapi dapat project di Pandaan dan diajak naik oleh SCK yang memang biasa naik. Ya jalan sudah…

Lanjutkan membaca “Arjuna Lewat Purwosari”

Journeys with the Caterpillar

Perbedaan cara pandang membuat sang objek menjadi semakin berwarna. Shivaji Das adalah seorang India yang membuat Indonesia, terutama Flores dan Sumba, semakin kaya. Caranya memandang Indonesia tentu saja berbeda dengan cara orang Indonesia memandang Indonesia. Itu yang membuat e-book berjudul Journeys with the Caterpillar ini terlihat berbeda dari kebanyakan buku catatan perjalanan.

E-book ini berkisah pengalaman pribadi Das yang ditulis dengan sudut pandangnya yang begitu personal. Bagaimana dia mencoba “kabur” dari pekerjaan kantornya di Singapura untuk berlibur selama tiga minggu. Bagaimana dia mengomentari tipologi toilet, toilet di Bali begini, toilet di Wae Rebo begini. Begitu personal…

Perhatikan bagaimana Das menjuluki Indonesia sebagai negara sachet: Indonesia is a sachet nation, every shop displays worms of colourful sachets selling everything from shampoo to chili paste to car wash. Dia pun takjub dengan yang namanya Warung Padang, sebuah tempat makan mini dengan lebih dari dua puluh pilihan masakan.

Dok: http://chutneyspears.blogspot.com/
Dok: http://chutneyspears.blogspot.com/

Sebetulnya perjalanan Flores-Sumba ini bukanlah perjalannya yang pertama di Indonesia. Dia pernah ke Ijen, Dieng, Jogja, dan daerah lain. Das sudah terbiasa dengan miskomunikasi seperti ketika ia tersesat di Labuan Bajo, lalu penduduk lokal yang ditanyanya menunjukkan arah ke kanan dengan tangan mengarah ke kiri. Atau seperti ketika dia sedang jalan-jalan ke Probolinggo, supirnya (orang Indonesia) menanyakan “Why do we go back to Probolinggo?” yang setelah beberapa waktu baru disadarinya bahwa “Why” yang dimaksud sang supir adalah “When”.

Dalam perjalanan Das, dia menemukan betapa uniknya Flores dan Sumba. Dia menyebut Sumba sebagai Texas-nya Indonesia, karena sebuah kebiasaan yang sama: anak lelaki selalu menghabiskan harinya di atas punggung kuda.

Perjalanan wisata Das banyak yang beririsan dengan perjalanan wisata turis pada umumnya. Dia tidak meninggalkan pemandangan sawah yang berpola seperti jaring laba-laba di manggarai. Dia juga tidak melewatkan indahnya danau tiga warna Kelimutu. Tapi tentu saja dengan sudut pandang yang berbeda.