Sabang Dulu dan Sekarang

IMG20190203111010
Sabang, dipandang dari Goa Sarang

Yang saya maksud Sabang dulu adalah tahun 2010 dan 2011. Di kedua tahun tersebut, saya jalan-jalan ke Sabang untuk pertama dan kedua kalinya. Yang saya maksud Sabang sekarang adalah tahun 2019, ketika saya untuk ketiga kalinya ke Sabang, tepatnya 3-4 Februari 2019.

Saya ingin bicara pada persamaannya dulu, antara Sabang dulu dan sekarang. Sama-sama ada opsi kapal cepat dan kapal lambat untuk menyeberang dari Ulhee Leueu (Banda Aceh) ke Balohan (Sabang).

Sama-sama aman. Dulu, saya ingat betul teman bercerita, biarkan saja kunci motor menggantung di motor. Tidak akan hilang. Kalau ada yang mengambil, tunggui saja di pelabuhan besoknya. Pada akhirnya akan ketemu. Sabang sekarang juga begitu. Bahkan mobil yang kami sewa juga dipesani sama yang punya, “Kalau mau pulang ke Banda, taruh saja mobil di parkiran Balohan (Pelabuhan di Sabang).” Lah terus kuncinya gimana? Taruh saja di dalam mobil. Tinggalkan mobil dalam keadaan tidak terkunci. Dan itu yang kami lakukan, sesuai instruksi.

Nah, sekarang perbedaannya, antara Sabang yang dulu dengan yang sekarang. Saya kaget betul dengan Pantai Iboih yang sekarang. Dulu, Iboih sepi, hanya ada satu dua turis asing yang berjemur di pinggir pantai, atau diving. Sekarang, wih, ramai sekali dengan wisatawan lokal. Kami malah sampai putar 3 kali saking sulitnya cari parkiran mobil.

IMG20190203184831
Pantai Iboih: tidak ada yang snorkelling

Dulu, saya cukup snorkelling di Pantai Iboihnya saja, tidak perlu sampai Pulau Rubiah. Itu ikan sudah banyak, karangnya bagus. Sekarang, tidak saya lihat ada yang snorkelling di Pantai Iboih. Semua pada ke Pulau Rubiah. Naik kapal motor nelayan berkapasitas sekitar 10 orang, dengan tarif Rp200.000.

Kirain tarif segitu sudah untuk snorkelling di beberapa spot. Rupanya hanya untuk nyeberang ke Rubiah, terus nanti dijemput lagi pulang ke Pulau Iboih. Nyeberangnya paling hanya 10 menit.

IMG20190203171417
Snorkelling di Rubiah

Udah gitu di Rubiah juga karang sudah banyak yang mati. Pengelola memberikan semacam border apung. Mungkin maksudnya batas boleh snorkelling hanya sampai situ. Namun memang ikan-ikannya masih banyak. Saya malah ketemu bintang laut berwarna biru dan ular laut berwarna abu-abu.

###

Saya cerita ringkas perjalanan saya yaa…

IMG20190204092249
Ulee Lheueu

Minggu 3 Februari 2019 jam 7 pagi sudah ada di Pelabuhan Ulhee Leueu, naik mobil yang kami rental dari Langsa. Masuk Ulhee Leueu yang parkiran kapal cepat. Parkirannya ada di semacam bangunan besar, seperti GOR. Karcis yang dikasih ke kami hanya secarik kertas bertuliskan tanggal masuk, plat nomor, dan keterangan “Lunas 1 malam”.

IMG20190204091722
Tiket parkir mobil di Ulhee Leueu

Masuk pelabuhan, menunggu kapal cepat yang direncanakan berangkat jam 8 pagi, tapi baru berangkat 8.15. Harga tiketnya Rp80.000 dan beinya harus pakai KTP.

Satu jam saja, sudah sampai. Langsung cari Bang Jal, orang lokal yang sebelumnya sudah saya hubungi untuk disewa mobil dan homestay nya.

Langsung menuju homestay punya Bang Jal, di daerah Cot Ba’u, hampir ke Kota Sabang. Dari pelabuhan ke homestay paling hanya 15 menit.

Istirahat sebentar, langsung lanjut ke Pantai Sumur Tiga. Tadinya mau snorkelling di Sumur Tiga, tapi gak jadi, karena memang gak terlihat orang snorkelling. Mungkin karena panas ya, karena saat itu jam 11 siang.

IMG20190203101846
Pantai Sumur Tiga

Kami langsung tancap ke Goa Sarang. Kelihatannya ini destinasi baru yang dikembangkan penduduk lokal. Kita akan menuruni tangga yang lumayan bikin pegal. Mungkin sekitar 100 anak tangga. Ada sewa kapal kalau mau kelilingnya pakai kapal. Kalau kami, jalan kaki, melompati bebatuan. Saya melihat banyak ikan sebesar batang korek api, yang bisa lompat dari batu ke batu. Ikan bisa lompat di daratan, hebat.

IMG20190203111549
Goa Sarang

Sampai sekarang saya masih bingung, mana sih yang disebut Goa Sarang? Yang ada adalah karang besar yang tengahnya bolong. Mungkin itu kali ya….

Lanjut ke Pantai Iboih, tapi penuh. Cari parkiran tidak dapat. Akhirnya ke Tugu Kilometer 0 dulu. Kirain sepi, ternyata ramai juga. Foto-foto tidak terlalu lama, turun lagi ke Iboih.

IMG20190203171444
Harga makanan di Sabang

Sewa enam set snorkeller untuk kami serombongan. Satu setnya Rp40.000. Tidak terlihat ada yang snorkelling di Iboih. Semua menyeberang ke Rubiah. Kami pun sewa kapal untuk menyeberang Rp200.000. Akan dikasih karcis yang di dalamnya ada nomor kapal beserta nomor HP pengendara kapalnya. Jadi nanti pas mau nyeberang pulang tinggal telepon.

Saya agak kecewa dengan karang di Rubiah yang sudah banyak mati. Walaupun masih banyak ikan yang terlihat. Sebegini rusak tapi Iboih tetap ramai dkunjungi.

Sekitar 2-3 jam setelah snorkelling, kami kembali ke Iboih. Memang, kapal-kapal itu harus sudah stop semua jam 6 sore, untuk warga lokal siap-siap sholat Maghrib. Kami agak ngaret sampai 6.30. Mandi, sholat, terus kembali ke Kota Sabang.

Besok paginya kami pulang ke Banda dengan kapal cepat pukul 8.00. Beli nasi guri dibungkus seharga Rp10.000 dan martabak telur seharga Rp5.000.

IMG20190204082015
Kapal Cepat Sabang – Banda Aceh Rp80.000
IMG20190203073104
Tket Kapal Cepat

Mungkin Sabang akan terlihat keren kalau kita berwisatanya ke spot snorkelling yang jarang orang datangi. Ya harus rada modal, karena sewa kapal itu sekitar setengah juta untuk setengah hari. Kita bebas mau ke beberapa spot snorkelling.

 

Beberapa gambaran tarif di Sabang:

Kapal cepat 1 Banda-Sabang Rp80.000

Sewa mobil Rp300.000/24 jam

Homestay Rp200.000/kamar

Sewa snorkeller + jaket apung + kaki katak Rp40.000

Tiket masuk Goa Sarang Rp5.000

 

Nomor penting: Bang Jal 085260555300 (rental mobil, homestay)

Takengon: Keliling Lut Tawar

IMG20190217070343
Danau Lut Tawar dan Kota Takengon, difoto dari Pantan Terong

Aceh punya danau yang cukup besar dan bagus, yaitu Danau Lut Tawar. Sekeliling Danau ini sebagian besar adalah perbukitan hijau. Satu sisi di barat danau, yang daratannya agak datar, merupakan Kota Takengon. Nah, saya berenam, satu mobil, mengelilingi danau ini pada Sabtu 16 Februari 2019.

Jalannya bagus, aspal. Rata-rata mulus. Sebagian kecil saja yang berlubang. Sebagian lagi terlihat longsoran menutupi sebagian jalan. Longsor di dan menuju Takengon bukanlah berita heboh. Sudah sering terjadi.

Kami sampai Takengon sekitar jam 9 pagi, langsung mencari sarapan di pinggir danau. Dapatnya di kafe One One (nemu di jalan). Awalnya saya kira bacanya “wan wan”, tapi teman saya yang orang lokal bilangnya “O-ne O-ne”.

IMG20190216092815
Kafe One One Takengon: Lobster ditangkap setelah dipesan

Ini tempat makan memuaskan sekali. Ikan dan lobster yang dipesan segar. Setelah pesan, baru diambil dari kolam dan dimasak. Awalnya saya berimajinasi lobster yang dimaksud adalah lobster besar sepenuh piring, rupanya lobster kecil (sama udang bedanya apa sih?). Saya pesan nasi goreng lobster. Harganya hanya Rp25.000. Itu sudah puas makan 4 anak lobster.

IMG20190216100938
Kafe One One Takengon: Nasi goreng lobster Rp25.000

Penasaran, kok bisa sangat murah. Saya tanya ke yang nangkap lobster buat dimasak, katanya lobster itu ditangkap dari danau pakai bubu, semacam perangkap. Jadi ya gak modal. Maka murah.

Puas sekali kami makan di One One. Semua enak. Semua murah.

Lanjut lagi ke Dermaga Nosar. Kalau dicari di google maps judulnya: Dermaga Wisata Teluk Suyen Bamil Nosar. Ini dermaga buatan yang memang untuk menggaet wisatawan. Tapi sayangnya tidak ada karcis masuk. Pungutan parkir mobil Rp10.000 dan biaya masuk Rp2.500/orang itu semua tanpa karcis dan dipungut oleh…. Siapakah dia? Tidak berseragam. Sepertinya anak muda lokal.

IMG20190216161007
Dermaga Nosar, Takengon

Bagus nih di Nosar, buat foto-foto, juga buat menenangkan pikiran. Kalau sudah sore, air berombak kecil, jadi suara gemericiknya semakin terasa, semakin syahdu.

Lanjut lagi, di ujung timur ada yang namanya Pantai Menye. Ini danau rasa pantai. Memang nyatanya terlihat seperti pantai, ada ombak kecil yang berlomba ke tepian danau. Anginnya pun kuat. Saya hanya lewat saja di sini, dengan gas pelan, jadi bisa menikmati pantainya. Waktu lewat, saya tidak melihat ada yang berenang. Dulu, tujuh tahun lalu, saya pernah ke sini juga. Salah seorang saudara melarang saya berenang. Tidak dijelaskan alasannya. Saya baca-baca, alasannya mistis.

Kami lanjutkan perjalanan. Sayangnya ada yang terlewat: Ujung Paking. Katanya sih ada plang besar, tapi kami tidak ada yang lihat. Jadi bablas.

Ada beberapa tempat lagi sebagai view point danau. Tapi kami sudah “mabok” foto danau, sudah terlalu banyak, jadi hanya dilewatkan dengan gas pelan saja, misalnya: Pantai Ujung Senang, Pantai Ketibung.

Kembali ke kota, mencari penginapan. Dapat di dekat pasar inpres, namanya Wisma Nacara. Dia punya belasan kamar. Kamar yang dua kasur single tarifnya Rp150.000/malam. Tidak ada AC, dan memang tidak perlu. Kamar mandi dalam, dengan toilet jongkok.

Malamnya kami ngopi di Galeri Kopi Indonesia, sekitar 5 kilometer dari kota. Tempatnya masuk satu gang kecil, pas buat lewat satu mobil. Awalnya gak yakin, apa betul jalannya? Karena kok semakin sepi. Kami hanya ikuti google (semua perjalanan kami di Takengon diarahin google). Tapi ternyata memang di ujung dia. Sesuailah sama google maps nya: Galeri Kopi Indonesia.

IMG20190216210921
Galeri Kopi Indonesia: order di sini

Tempatnya keren banget! Dia di tengah-tengah kebun kopi. Pesannya di depan. Terus kita cari tempat untuk duduknya. Mereka punya semacam saung tapi di tempat yang agak tinggi. Kita harus semacam memanjat pohon terlebih dahulu. Sebelum memanjat, kita juga akan melewati kebun kopi dulu. Agak jauh dari imajinasi saya yang mengaggap galeri kopi ya ruangan modern dengan jenis-jenis kopi dalam toples. Ternyata galerinya ya kopi betulan, pohon betulan. Keren!

Saya pesan kopi wine. Ini harganya rada mahal dibanding yang lain, yaitu Rp30.000. Tapi rasanya memang enak. Disajikan dalam gelas ukur, jadi saya berasa sedang praktikum kimia. Dikasih gelas kecil buat minum sedikit-sedikit, seperti espresso gitu (cara minumnya). Saya gak pernah minum wine, tapi kalau kopi wine aja enak, apalagi wine betulan… Gitu kali ya? Nanti saja minumnya, insya Allah di surga.

IMG20190216215517
Galeri Kopi Indonesia: Kopi wine disajikan dalam gelas ukur

Pas petugasnya datang membawa kopi pesanan kami, agak bingung dengan penampakannya. Teman saya ada yang pesan Vietnam drip, ada yang sanger. Kan sama-sama tuh warnanya, rada cokelat muda. Biasanya Vietnam drip kan ada saringannya. Yang ini enggak. Makanya kami bingung, lalu bertanya ke petugas pembawa, “Yang Vietnam drip yang mana?” Santai saja dia jawab: enggak tahu.

Kami mengampuni petugas itu, karena dia masih muda, muda sekali, mungkin SMP. Pekerja di bawah umur kah?

Teman saya yang kelaparan, selain ngopi, juga nge-mie. Jadi, ada mie juga di sini. Ada juga nasi goreng. Ada juga cemilan macam-macam.

Hari itu selesai dengan kopi.

Besoknya, 17 Februari 2019, tepat setelah subuh, kami tancap ke Pantan Terong, yang disebut-sebut sebagai view point terbaik di Takengon. Dan memang ini yang terbaik!

Saat itu, matahari belum muncul. Kota Takengon diselimuti kabut. Danau Lut Tawar bisa terlihat dalam satu frame dengan Kota Takengon. Saya sempat membuat video di sini.

Segera pulang, karena besok itu Senin, kembali ke nasib masing-masing.

Ingin Keliling Lagi

Sekarang usia saya 32 tahun. Sudah punya anak satu. Istri juga satu. Tapi gejolak jalan-jalan masih seperti anak umur dua puluhan, yang belum punya anak istri. Tiba-tiba terbayang kembali perjalanan saya waktu umur 25 tahun, setahun sebelum nikah.

Waktu itu, yah biasalah, anak muda baru kerja, punya uang sedikit maunya jalan-jalan. Saya ikutan komunitas Backpacker Indonesia. Tapi kadarnya rada kronis. Sampai keluar kerjaan untuk jalan-jalan keliling Sumatera selama tiga bulan. Sendirian.

Runut dari Lampung lewat jalur tengah dan barat, sampai Aceh. Pulangnya lewat jalur timur: Kepri, Babel. Sepuluh Provinsi, sekitar lima puluh kota atau wilayah. Itu Desember 2011 sampai Maret 2012. Pakai carrier kalau gak salah yang ukuran 60 L. Salah satu isinya adalah laptop dan buku kecil, karena sambil menulis catatan-catatan selama perjalanan.

Perjalanan saya waktu itu, menurut saya yang hari ini, sangat koboi. Tidak berpikir panjang tentang risiko yang mungkin muncul. Walaupun memang ada waktunya kita lebih baik tidak berpikir panjang. Kalau dipikir panjang-panjang mungkin malah gak jadi berangkat waktu itu.

Karena punya banyak keterbatasan, maka saya menerapkan beberapa aturan dalam perjalanan. Tidak ada budget untuk tidur di penginapan, harus di tempat yang gratis. Kalau jaraknya masih di bawah 5 km, harus jalan kaki, tidak boleh naik angkutan berbayar. Tidak boleh beli minum, harus minta.

Dengan aturan-aturan itu, saya jadi terbiasa untuk: tidur di masjid, tidur di pinggir pantai, rajin silaturahim ke teman level 3 (Si C: ketika saya punya teman A, A punya teman B, B punya teman C) yang bertempat di Sumatera, memulai dengan berbasa-basi, berkawan dengan semua orang yang ditemui, jalan kaki tanpa google maps, hitchhike AKA nebeng, kipas-kipas kepanasan, tidak malu minta air ke warung-warung, dan minum air keran di masjid.

Perjalanan itu sangat tidak saya sesali, bahkan saya merekomendasikan anak-anak muda yang belum menikah untuk melakukannya juga. Karena apa? Cuek aja, hehe. Karena bagus sekali untuk menempa kemandirian, softskills. Bagus sekali untuk menambah wawasan, menambah perspektif. Saya setuju dengan pendapat: pikiran kita akan semakin terbuka kalau bertemu dengan orang yang semakin berbeda. Semakin berbeda, semakin bagus. Berbeda bisa dari banyak hal: Pendidikan, kebudayaan, agama, gaya hidup, pekerjaan, umur, dsb….

Setiap sampai di suatu tempat baru, saya selalu membaur sebaur-baurnya. Langsung ngobrol dengan warga lokal. Utamanya untuk membuat zona aman. Semakin orang tahu siapa kita, tahu bahwa kita tidak punya niat jahat, maka dia akan semakin melindungi kita. Itu salah satu kesimpulan saya dari perjalanan.

Saya berenang di tiga danau besar di Sumatera: Toba, Maninjau, Singkarak; mendaki gunung Tujuh, sebelahnya Kerinci, karena waktu itu Kerinci porternya mahal banget: Rp300 ribu per hari; merasakan diseruduk anak gajah di Way Kambas dan mendengar langsung konflik antara gajah dan warga; merasakan konflik tanah di pulau-pulau kecil; naik kereta api di Lampung, Sumsel, dan Sumut; menghadiri pesta pernikahan orang tak dikenal; mencoba makanan-makanan yang sampai sekarangpun tidak tahu itu apa; mendengar suara aneh di hutan; mencoba kopi aceh, mandailing, lampung, belitong; makan nasi padang di padang; makan mie aceh di aceh; makan martabak bangka di bangka; pesta durian; dst…

gajah penyeruduk
Anak Gajah di Way Kambas, si penyeruduk

Ada satu waktu ketika di Siberut (Kepulauan Mentawai), yang untuk ke sana perlu naik kapal kayu dari Padang selama 10 jam, yang kapalnya goyang-goyang diterjang badai dan kayunya berdecit bunyi kretek kretek seperti mau terbelah dua, saya kenalan dengan seorang anak muda bernama Niko Sagaileppa. Diajak ikut ke tempatnya di Saibi, saya ikut. Itu adalah daerah tanpa sinyal, tanpa listrik, dan masih banyak warga bertato garis-garis melingkar, mungkin suku asli Siberut. Seorang di antaranya datang mengajak saya ngobrol dengan Bahasa yang saya kurang pahami. Lewat penterjemah, akhirnya saya paham bahwa dia bilang: dulu orang baru seperti saya, kalau tidak kenal orang lokal, dimakan sama suku asli, karena dulu mereka kanibal. Saya langsung pingin pulang.

Nias
Sulitnya sinyal di pedalaman Mentawai

Ada satu waktu saya betul-betul merasa kesepian dan menjadi begitu dekat dengan Allah, dan pasrah kalau memang saya harus mati ya matilah. Yaitu ketika bermalam di sebuah keramba jaring apung di Pulau Balai (Kepulauan Banyak). Tidur di atas keramba itu berarti tidur mengikuti gelombang laut. Jam 1 malam tiba-tiba badai datang. Keramba naik turun tak karuan. Air laut masuk ke keramba membasahi pakaian. Saya pikir tsunami, tapi ternyata itu hanya badai yang memang hampir setiap malam datang.

Ada satu waktu di Pulau Hinako (baratnya Pulau Nias), saya disambut baik oleh warga lokal, lalu disuruh makan ikan tuna sepuasnya. Ikan tuna yang dibeli dengan harga Rp20 ribu per kilogram. Tidur dikelambui. Warga di sini masuk dalam kategori miskin versi Badan Pusat Statistik (BPS) karena pengeluarannya tidak lebih dari Rp200.000/bulan/orang, tapi saya tidak melihatnya demikian. Mereka punya lautan penuh ikan, tidak akan kelaparan. Mereka punya tetangga-tetangga yang saling peduli, saling mengamankan, tidak perlu iuran satpam.

Bukannya sombong (tapi belagu, hehe), kalau ada yang posting foto tempat wisata di Sumatera, hampir semua saya pernah singgahi. Yang singgah di kepala saya paling lama justru bukan tempat wisatanya, tapi orang-orang yang saya temui, pikiran-pikiran mereka, kesederhanaan mereka, konflik-konflik yang mereka hadapi.

Catatan-catatan saya selama perjalanan, saya rapikan dan kirim ke penerbit. Gramedia menerimanya, lalu terbit di akhir 2012 dengan judul Keliling Sumatera Luar Dalam. Beberapa email pembaca masuk, itu yang paling seru: ada pembaca yang mau berdiskusi tentang buku yang kita tulis.

Buku gramed
Buku Keliling Sumatera Luar Dalam

Lalu ada telepon masuk, dari seorang pembaca, yang belakangan saya tahu bahwa dia adalah bos travel kondang. Dia pernah menjalani petualangan seperti yang saya lakukan, ketika dulu masih kuliah di ITB, puluhan tahun lalu, dengan beberapa nama yang saya kenal sebagai gubernur dan politikus. Bos ini mengajak ketemuan di rumahnya di komplek perumahan menteri di daerah Komdak.

Ngobrol sana sini, akhirnya saya tangkap keinginannya: ikut bersamanya bertualang menyusuri jalur sutera, berawal di Istambul. Lalu menuliskan perjalanan tsb. Kalau saya OK, dia akan sponsori semuanya, termasuk perizinan di negara-negara yang akan dilewati. Sayangnya saya tolak, karena ke-cemen-an saya menghadapi ancaman kantor: sepulangnya dari jalur sutera, belum tentu ada pekerjaan lagi buat saya. Itu salah satu penyesalan terbesar.

Saya ingin merasakan pengalaman sumatera itu lagi. Masih kuat gak ya? Kelihatannya Nusa Tenggara bagus….

Camping di Pulau Pari Bersama Keluarga

Ini adalah catatan perjalanan saya bersama anak (4 tahun) dan istri ke Pulau Pari pada 15-16 Agustus 2018.

IMG20180915113132
Pulau Pari

Sejak sebelum subuh kami sudah berangkat naik motor ke Dermaga Pelabuhan Kali Adem Muara Angke. Parkirannya nempel langsung dengan pelabuhan yang isinya kapal-kapal ke Pulau Seribu. Ongkos parkir 24 jam pertama Rp25.000 plus tambahan Rp1.000/jam kalau lewat dari 24 jam. Lanjutkan membaca “Camping di Pulau Pari Bersama Keluarga”

Ramahnya Marapi

Perjalanan kali ini berbahaya, bukan karena alamnya, tetapi karena saya menjadi sadar bahwa saya bisa pergi sendirian ke gunung. Bisa menyebabkan ketagihan.

Kamis siang, 16 Agustus 2018, saya tersadar, teman-teman saya pada ngambil jatah hometrip ke rumahnya masing-masing. Kami adalah tim proyek yang ditugaskan di Pekanbaru. Sore itu sebagian besar berangkat ke bandara untuk pulang. Mereka sudah sadar sejak lama bahwa ini long weekend. Saya sadarnya telat, jadi kehabisan tiket pesawat (yang masuk budget).

Konsultasi sana sini, diputuskan malam ini berangkat menuju Gunung Marapi (2891 mdpl) di Sumatera Barat. Dijemput travel jam 8 malam. Saya pesan travel TST (Tri Sakti Travel: 085365370003/085278303900) rute Pekanbaru – Padang, turun di Koto Baru, bayarnya Rp160.000. Mobilnya Innova. Ini termasuk kelas eksekutif karena penumpang hanya lima. Kalau yang ekonomi penumpang tujuh, bayarnya Rp130.000.

Di tas, hanya bawa jaket, baju, celana, dan handuk hotel Lanjutkan membaca “Ramahnya Marapi”

Cari Damai di Eling Bening

IMG20180301171936
Eling Bening

Pas lagi ada meeting di Banaran Resort, saya mampir ke Eling Bening. Ini adalah tempat wisata mata. Buat yang matanya suntuk-suntuk, melihat layar laptop melulu, nah di sini pas untuk cuci mata. Pemandangannya luar biasa, ada hamparan Danau Rawa Pening di bawah sana, dengan latar bermacam-macam gunung, mungkin salah satunya Gunung Merbabu. Jalan raya dengan mobil-mobil yang melintas jarang-jarang, membuat pemandangan semakin hidup. Lanjutkan membaca “Cari Damai di Eling Bening”

Baluran, Taman Nasional yang Tak Biasa

BWI DSC_2196 miftah
Rusa liar di Baluran. Foto: Miftah

Disebut tak biasa karena kita bisa ketemu langsung dengan beberapa hewan liar dari dalam mobil. Jadi begini, bayangkan sebuah luasan taman nasional, yang di tengah-tengahnya dibuatkan jalan untuk mobil lewat. Sebetulnya jalan yang dibuat itu adalah jalan yang digunakan oleh hewan-hewan liar yang ada dalam taman nasional. Tapi mungkin karena terlalu sering mobil lewat, orang lewat, motor lewat, jadi hewan-hewannya juga malas lewat jalan itu kali ya.. Hanya sedikit Lanjutkan membaca “Baluran, Taman Nasional yang Tak Biasa”