Camping di Pulau Pari Bersama Keluarga

Ini adalah catatan perjalanan saya bersama anak (4 tahun) dan istri ke Pulau Pari pada 15-16 Agustus 2018.

IMG20180915113132
Pulau Pari

Sejak sebelum subuh kami sudah berangkat naik motor ke Dermaga Pelabuhan Kali Adem Muara Angke. Parkirannya nempel langsung dengan pelabuhan yang isinya kapal-kapal ke Pulau Seribu. Ongkos parkir 24 jam pertama Rp25.000 plus tambahan Rp1.000/jam kalau lewat dari 24 jam.

Sengaja kejar jam 6 pagi sampai Muara Angke kuatir kehabisan tiket. Beli tiketnya gak ngantri, langsung dapat 3 tiket dengan harga Rp115.000 (dewasa Rp45.000, anak Rp25.000).

IMG20180915064547
Loket pembelian tiket di Pelabuhan Kali Adem

Makan dulu di warung dekat pelabuhan. Harga makanan aman, gak digetok. Makan dua piring, pakai sayur dan telur, totalnya Rp26.000. Banyak juga tukang bubur ayam.

IMG20180915064428
Kursi tunggu Pelabuhan Kali Adem

Jam 7 pagi kami masuk ke pelabuhan bayar peron Rp2.000/orang. Langsung naik kapal. Cari kursi yang dekat kaca biar bisa lihat-lihat laut. Bagusnya, tiket dijual sejumlah bangku yang ada, jadi tidak ada penumpang yang tdak dapat bangku. Anak saya baru sekali ini nyeberang laut naik kapal, jadi kelihatan senang sekali. Tapi tidak lama kemudian dia tertidur karena keenakan dihempas angin laut.

Kapal berngkat 7.30 dan sudah sampai Pulau Pari sekitar 9.30 alias dua jam perjalanan. Ini termasuk pulau yang dekat. Kalau pulau lain seperti Tidung dan Pramuka, jaraknya lebih jauh lagi.

Langsung mencari penginapan, tapi harganya di atas Rp300.000 semua. Harga itu langsung disebut oleh ibu-ibu yang banyak menawarkan penginapan di sepanjang jalan sejak turun kapal.

Jadi kami jalan terus sampai Pantai Pasir Perawan. Di sana ditawari sewa tenda Rp80.000 oleh Irwan (081584220504). Langsung saya iyakan. Plus tambahan biaya kebersihan Rp15.000/orang (anak kecil tidak dihitung). Saya pikir awalnya, wah pungutan liar nih, tidak ada karcisnya pula. Tapi setelah menginap semalam dan tahu bahwa pengelola sering nyapu sampah-sampah di pantai, uang segitu terasa kecil.

Terkait pengelolaan Pulau Pari, saya merasakan ada gejolak sosial di Pulau Pari, antara penduduk lokal yang lahir dan besar di pulau ini, dengan pihak lain yang merasa memiliki hak mengelola sebagan besar Pulau Pari.

IMG20180916055155
Konflik di Pulau Pari antara warga dengan swasta

Konflik ini dengan telanjang bisa kita lihat dari kalimat-kalimat di tembok:

“PULAI INI TIDAK DIJUAL. JIKA INGIN MEMBEL HUBUNGI TUHAN”

“TANAH KELAHIRAN TIDAK UNTUK DIJUAL”

“STOP KRIMINALISASI DAN INTIMIDASI”

Saya sempat ngobrol dengan penduduk lokal. Apa sih yang dituntut dari pihak lain yang merasa punya hak kelola tsb?

Dijawab, warga yang berbisnis di Pulau Pari akan dimintakan semacam iuran yang harus disetor ke pihak lain tersebut.

Saya tidak tahu persis masalah di dalamnya. Tapi yang jelas, warga tidak mengemis minta ditolong. Mereka justru mempersiapkan Pulau Pari menjadi objek wisata yang menyenangkan, dengan cara membersihkan pantai dengan rutin, membuat zona parkir dan zona tenda agar rapi, memberi harga makanan normal, memberi semacam standard harga yang digunakan bersama, menyiapkan fasilitas toilet yang cukup, serta membuat pulau jadi aman.

Aman dari apa? Salah satunya dari maling. Saya beberapa kali jalan-jalan keluar tenda, tidak ada yang mengganggu tenda itu.

Standard harga misalnya gimana? Misalnya sewa sepeda Rp15.000 tanpa boncengan dan Rp25.000 dengan boncengan. Air mineral Rp5.000 yang 600ml dan Rp10.000 yang 1,5 liter. Sewa tenda Rp80.000. Air kelapa muda Rp15.000. Telur gulung Rp5.000. Sewa kano Rp60.000/jam. Keliling bakau Rp15.000/orang.

IMG20180916085805
Sepeda menjadi alat transportasi utama di Pulau Pari

Buat anak saya, tidak mudah untuk bisa tidur di tenda. Biasanya dia tidur di kamar ber-AC. Lepas Isya, dia minta pulang. Merengek sampai menangis. Setelah dibujuk akhirnya mau juga tidur di tenda. Awalnya di dalam tenda, lalu keringetan, lalu saya bawa tidur di luar tenda. Walaupun dangdutan warga sampai tengah malam, tapi anak saya tetap bisa tidur.

Dia bisa tidur pulas mungkin karena sepanjang sorenya berenang terus di Pantai Pasir Perawan, yang jaraknya hanya tiga meter dari tenda. Atau mungkin karena seseruan main ayunan di atas pantai. Atau mungkin karena terlalu banyak tertawa setelah keliling hutan bakau dengan kano yang saya sewa. Atau karena Lelah main lempar-lemparan pasir.

Esok paginya, dengan mudah anak itu bisa bangun setelah dibisiki, “Mau lihat bintang laut gak?”

Masih agak gelap, kami berjalan ke Pantai Bintang, di bagian ujung pulau satunya. Jadi kalau Pantai Pasir Perawan terletak di ujung jalan paling timur, Pantai Bintang ada di ujung jalan paling barat. Tadinya mau sewa sepeda, tapi sayang juga hanya dipakai 3 jam diminta Rp30.000. Jadi kami jalan kaki saja. Sekitar setengah jam.

Betul sekali dinamakan Pantai Bintang karena memang terlihat bintang laut di mana-mana. Harus agak teliti melihatnya karena warna bintang lautnya abu-abu menyerupai warna pasir. Apa definisi bintang laut di mana-mana? Kurang lebih, dalam jarak 2 meter akan ada bintang laut yang lain lagi. Terkadang mereka bertumpuk. Mungkin sedang kawin?

IMG20180916062324
Mudahnya menemukan bintang laut di Pantai Bintang

Saya mengingatkan sekelompok wisatawan yang sedang berlompa mencari bintang laut lalu ditumpuk di darat (pinggir pantai), bahwa bintang laut bisa mati kalau ditaruh di darat. Sukurnya mereka terima peringatan tsb dan langsung memindahkannya kembali ke air.

Pantai Bintang punya banyak ayunan dan tempat nongkrong. Pantainya juga bersih terawat, jadi sangat wajar kalau warga menarik uang kebershan Rp2.500/orang.

Sayangnya tidak bisa berlama-lama di Pantai Bintang, karena kapal menuju Muara Angke berangkat dari Pulau Pari jam 10. Bisa jadi ada kapal tambahan di atas jam 10 kalau memang sedang banyak kunjungan, tapi itu tidak jelas berangkat atau tidak.

Sebelum ke pelabuhan, kami makan nasi uduk dulu seharga Rp12.000/porsi. Nasi uduknya enak banget, mungkin karena pas lapar juga ya. Sempat ngopi juga sambil nunggu kapal, secangkir Coffeemix Rp5.000.

IMG20180916092455
Kapal dari Pulau Pari menuju Dermaga Kali Adem

Harga tiket ke Muara Angke Rp45.000. Semakin mendekati jam 10, semakin banyak wisatawan lokal datang untuk masuk kapal. Beberapa terdeteksi sebagai wisatawan asing. Kapal saya baru berangkat 10.30 dan sampai Muara Angke 12.30.

Panasnya begitu menyengat. Tapi tidak seberapa dibanding pengalaman yang anak saya dapatkan: menginap di tenda pinggir pantai. Mudah-mudahan anak ini menjadi pecinta alam.

Ramahnya Marapi

Perjalanan kali ini berbahaya, bukan karena alamnya, tetapi karena saya menjadi sadar bahwa saya bisa pergi sendirian ke gunung. Bisa menyebabkan ketagihan.

Kamis siang, 16 Agustus 2018, saya tersadar, teman-teman saya pada ngambil jatah hometrip ke rumahnya masing-masing. Kami adalah tim proyek yang ditugaskan di Pekanbaru. Sore itu sebagian besar berangkat ke bandara untuk pulang. Mereka sudah sadar sejak lama bahwa ini long weekend. Saya sadarnya telat, jadi kehabisan tiket pesawat (yang masuk budget).

Konsultasi sana sini, diputuskan malam ini berangkat menuju Gunung Marapi (2891 mdpl) di Sumatera Barat. Dijemput travel jam 8 malam. Saya pesan travel TST (Tri Sakti Travel: 085365370003/085278303900) rute Pekanbaru – Padang, turun di Koto Baru, bayarnya Rp160.000. Mobilnya Innova. Ini termasuk kelas eksekutif karena penumpang hanya lima. Kalau yang ekonomi penumpang tujuh, bayarnya Rp130.000.

Di tas, hanya bawa jaket, baju, celana, dan handuk hotel Lanjutkan membaca “Ramahnya Marapi”

Cari Damai di Eling Bening

IMG20180301171936
Eling Bening

Pas lagi ada meeting di Banaran Resort, saya mampir ke Eling Bening. Ini adalah tempat wisata mata. Buat yang matanya suntuk-suntuk, melihat layar laptop melulu, nah di sini pas untuk cuci mata. Pemandangannya luar biasa, ada hamparan Danau Rawa Pening di bawah sana, dengan latar bermacam-macam gunung, mungkin salah satunya Gunung Merbabu. Jalan raya dengan mobil-mobil yang melintas jarang-jarang, membuat pemandangan semakin hidup. Lanjutkan membaca “Cari Damai di Eling Bening”

Baluran, Taman Nasional yang Tak Biasa

BWI DSC_2196 miftah
Rusa liar di Baluran. Foto: Miftah

Disebut tak biasa karena kita bisa ketemu langsung dengan beberapa hewan liar dari dalam mobil. Jadi begini, bayangkan sebuah luasan taman nasional, yang di tengah-tengahnya dibuatkan jalan untuk mobil lewat. Sebetulnya jalan yang dibuat itu adalah jalan yang digunakan oleh hewan-hewan liar yang ada dalam taman nasional. Tapi mungkin karena terlalu sering mobil lewat, orang lewat, motor lewat, jadi hewan-hewannya juga malas lewat jalan itu kali ya.. Hanya sedikit Lanjutkan membaca “Baluran, Taman Nasional yang Tak Biasa”

Taksi di Atas Gunung Ijen

Ada yang terasa berbeda di perjalanan ke Ijen kali ini, 22 September 2017. Keramahan pemilik homestay, dan cerita-ceritanya, membuat saya banyak ber-wah.

Coba googling map “Kawah Ijen Inn” di Jalan Kenjo Glondok, Licin, Banyuwangi. Nah di situ saya bermalam. Lebih tepatnya di depannya, ada rumah saudaranya Pak Paing. Sebut saja nama pemiliknya Pak Budi Luhur (lupa nama yang sebenarnya). Dulunya Pak Budi adalah seorang penambang belerang, yang bisa tidak pulang selama sebulan. Jadi dari dia berangkat sampai pulang lagi itu sebulan. Waktu itu harga belerang masih Rp350 per kg. Sekarang sudah Rp925 per kg. Dijual ke PT Candi Ngrimbi yang pabriknya di Desa Tamansari.

Lanjutkan membaca “Taksi di Atas Gunung Ijen”

Cerita Pulau Tabuhan Banyuwangi

Yang saya lihat menarik di Pulau Tabuhan adalah kuatnya masyarakat lokal dalam mengelola pembagian tugas bersama, untuk ekonomi bersama. Eh maaf, sebetulnya bukan di Pulau Tabuhan-nya, karena Pulau Tabuhan itu tanpa penghuni. Ada sih, rajungan dan umang-umang, juga beberapa manusia di dalam tenda. Yang saya maksud adalah pengelola Pulau Tabuhan-nya, yaitu penduduk lokal yang mengelola Pantai Kampe

IMG-20170926-WA0001
Pantai Kampe. Foto: Naim Rohatun

Lanjutkan membaca “Cerita Pulau Tabuhan Banyuwangi”

Bromo via Pasuruan 2017

Perjalanan ini dilakukan pada Sabtu, 12 Agustus 2017 dengan 4 orang teman saya. Start dari Pandaan pukul 00.30 dengan mobil sendiri, Avanza.

Jalur yang kami lalui adalah Jalan Raya Pasuruan – Jalan Raya Wonorejo – Jl Raya Ranggeh – Jl Raya Bromo – Wonokriti. Yang perlu hati-hati di Jalan Raya Bromo – Wonokriti. Jalannya belok-belok, menanjak. Sudah aspal sih, tapi sempit. Kalau ada mobil dari arah berlawanan harus sangat hati-hati. Kanan kiri sering kali ketemu tebing. Jalannya sepi. Jarang rumah. Gelap. Alhamdulillah Avanza masih kuat.

Lanjutkan membaca “Bromo via Pasuruan 2017”