Jermal

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2009

Jermal. Dok: www.id.wikipedia.org
Jermal. Dok: http://www.id.wikipedia.org

Film Jermal adalah film yang keseluruhan proses shooting-nya dilakukan di atas Jermal, yaitu sebuah bangunan yang terbuat dari kayu yang ditinggali oleh nelayan dengan keseharian aktivitas menangkap ikan.

Walaupun demikian, film ini bukan film documenter yang menonjolkan aktivitas jermal melainkan film fiksi yang lebih mengangkat hubungan psikologis antara ayah dan anak. Hanya sedikit-sedikit saja aktivitas Jermal yang Nampak. Setiap harinya, awak Jermal menjaring ikan dari lubang yang cukup besar di tengah Jermal dengan menggunakan wadah besar yang tampak terbuat dari rotan. Ikan tersebut dicuci. Kemudian, menurut Suryani, salah satu penggiat film Jermal, ikan tersebut dijual ke kapal-kapal yang lewat Jermal itu. Air bersih dan bahan makanan dibeli dari kapal-kapal yang lewat Jermal juga. Praktis, awak Jermal tidak pernah keluar dari Jermalnya.

Digambarkan dalam film tersebut, kehidupan di Jermal sangat keras. Jaya dan Johar (Didi Petet) adalah pemeran utama yang berperan sebagai anak dan ayah. Johar yang berperan juga sebagai komandan Jermal tidak mau mengakui Jaya sebagai anaknya ketika anak itu dibawa ke Jermal karena ibunya sudah meninggal. Perlakuan Johar sangat keras kepada Jaya, sungguh tidak mencerminkan hubungan ayah dan anak. Awak Jermal yang kesemuanya masih terhitung anak di bawah umur juga awalnya memperlakukan Jaya yang dikisahkan berumur 12 tahun dengan tidak manusiawi. Barang bawaan Jaya diambil dengan paksa. Jaya yang terbiasa hidup di daratan tidak berkutik dengan kerasnya kehidupan laut.

Awalnya Jaya tidak kuat dengan semua itu. Ia tidak melawan perlakuan kasar itu. Sempat sekali Jaya mencoba kabur dari Jermal dengan menggunakan ember besar. Kru Jermal yang lain justru malah menjadikan itu sebagai ajang taruhan, berapa lama Jaya kuat di laut.

Sedikit demi sedikit, Jaya mulai belajar tentang kehidupan laut. Jaya yang tadinya tidak keluar sepatah katapun dari mulutnya mulai berbncang dengan awak lain. Ia mulai melawan Johar yang masih tidak mau mengakuinya sebagai anak. Bahkan, Jaya berani mengacungkan golok ke leher Johar karena menganggap Johar adalah pembunuh.

Konflik terbesar adalah ketika jangkrik peliharaan Jaya ditusuk oleh pemimpin awak Jermal. Jaya tidak terima dengan perlakuan itu. Ia melawan dengan memukul menggunakan kayu sampai tidak ada perlawanan. Johar yang melihat kejadian itu lalu menghentikan Jaya kemudian membawanya ke ruangan Johar. Setelah Jaya tenang, Johar menceritakan bahwa ia memutuskan untuk hidup di Jermal karena tidak ingin dikejar-kejar polisi akibat perbuatan pembunuhan yang dilakukannya terhadap orang yang dianggap selingkuhan istrinya. Johar teringat kembali kekhilafannya waktu itu ketika melihat Jaya memukul dengan membabi buta. Perlahan, Jaya mulai mengakui Johar sebagai Ayahnya, terutama ketika Jaya membaca surat-surat dan foto-foto dari Ibunya yang dikirimkan kepada Johar setiap tahun.

Semakin kuat hubungan antara Johar dan Jaya sampai suatu ketika mereka memutuskan untuk tidak tinggal lagi di Jermal. Akhir dari film ini adalah ketika adegan Jaya dan Johar berlalu meninggalkan Jermal dengan dilepas rasa haru dari awak lain. Awak yang ditinggalkannya merasa kehilangan Jaya karena dialah satu-satunya awak yang pandai menulis sehingga sering dimintai tolong untuk menulis surat yang kemudian dimasukkan ke dalam botol dan dilemparkan ke laut.

Beberapa kali diperlihatkan adegan ketika polisi patroli menggeledah Jermal milik Johar. Dengan sigap, seluruh awak menyembunyikan dirinya. Maksud dari polisi patrol itu adalah menanggulangi perdagangan anak di bawah umur. Menurut Suryani, dulu memang masih banyak perdagangan anak yang kemudian dijadikan buruh di Jermal. Adegan yang menggelitik ketika seorang anak tertangkap oleh polisi patroli di sebuah keranjang besar. Ketika ditanya sedang apa. Awak Jermal itu mengaku sedang tidur, ia mengaku umurnya 18 tahun padahal postur tubuhnya menggambarkan anak umur 12 tahun. Polisi tersebut memintanya membuka baju lalu mengangkat tangannya. Lalu polisi bertanya, kok tidak ada bulu ketiaknya? Anak kecil tersebut beragumen bahwa pertumbuhannya lambat dibanding orang dewasa yang lain. Karena nada bicaranya tegas dan keras, si polisi tidak jadi menangkapnya.

Untuk merampungkan film ini, dibutuhkan waktu shooting sampai 26 hari. Selama shooting, kru tidak menginap di Jermal tetapi di pantai yang jaraknya satu jam perjalanan dari Jermal tempat shooting. Suryani menceritakan jarak itu belum yang paling jauh. Ada Jermal yang dicapai dengan dua jam perjalanan.

Sayangnya sudah terlambat bagi yang ingin menonton di bioskop karena film ini ditayangkan sejak 12 Maret 2009 sampai akhir Mei. Dengan jangka waktu sekitar dua minggu, film ini mampu menarik sekitar 15 ribu penonton. Untuk produksi total, dibutuhkan biaya sampai 4 miliar.

Iklan

Sembako Selalu Bergejolak di Hari Besar

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2009

Sembako. Dok: www.rri.co.id
Sembako. Dok: http://www.rri.co.id

Setiap tahun, ketika mendekati hari-hari besar keagamaan, para pedagang seakan telah membuat suatu kesepakatan tak tertulis untuk menaikkan harga bahan makanan, baik hulu maupun hilir. Masyarakat juga seakan terbius dengan kebiasaan tersebut sehingga menganggap itu merupakan suatu kewajaran yang setiap tahun terjadi. Sebetulnya, bagaimana ini bisa terjadi?

Seperti yang terjadi lima tahun terakhir ini, setiap menjelang bulan puasa, harga sembako pada umumnya menunjukkan peningkatan, sedikit tapi pasti. Kemudian setelah beberapa hari memasuki bulan puasa harga akan kembali normal sampai menjelang lebaran. Harga akan naik lagi seminggu menjelang lebaran. “Telur, daging ayam, bawang, sembako semua naik menjelang lebaran. Setelah lebaran, harga akan flat beberapa hari. Seminggu setelah lebaran, harga daging ayam naik lagi. Pola-pola seperti itu selalu terulang,” kata Gardjita Budi, Direktur Pemasaran Domestik, Departemen Pertanian. Namun, ini tidak berlaku untuk beras. “Karena stok kita cukup maka harga beras tidak akan mengalami gejolak sebesar sembako lainnya,” kata Ahmad Suryana, Kepala Badan Ketahanan Pangan.

Hari-hari besar lain seperti Idul Adha, Natal, dan tahun baru juga memperlihatkan perilaku serupa. “Meskipun tidak seheboh lebaran, tapi hari-hari besar lain seperti natal, tahun baru, dan Idul Adha juga memperlihatkan gejolak,” kata Gardjita.

Bukan Demand Tinggi, Tapi Ekspektasi Pasar

Kalau mengikuti hukum pasar, yang terjadi ketika demand dan supply seimbang adalah harga yang tetap. Namun, tidak demikian yang terjadi di Indonesia. Walaupun permintaan yang tinggi sudah diantisipasi dengan supply yang tinggi juga, harga tetap naik. Ada mekanisme lain di luar hukum pasar. Menurut Ahmad, hal ini dikarenakan ekspektasi pasar yang mengatakan bahwa harga harus naik ketika hari besar keagamaan. Gardjita juga mengamini hal tersebut. “Di Indonesia memang polanya seperti itu. Menjelang hari besar, harga naik 5-10% itu sudah biasa. Yang kita antisipasi adalah jangan sampai terjadi lonjakan naik atau turun yang ekstrim,” katanya.

Peningkatan harga itu mempunyai regulasi tersendiri. “Pedagang bisa memanfaatkan ekspektasi bahwa harga harus naik, tetapi sulit untuk menaikkan harga terlalu tinggi karena sektor ritel itu ketat. Banyak sekali pesaing yang lain jika harga dinaikkan lebih tinggi lagi. Para pedagang menyadari hal tersebut,” kata Gunaryo, Direktur Bina Pasar dan Distribusi, Departemen Perdagangan.

Lalu, ke mana saja larinya margin profit 5-10% tersebut? Kalau kita ambil contoh untuk harga komoditas daging sapi, harga di tingkat produsen atau peternak sapinya langsung dari minggu pertama Juli 2008 sampai minggu kedua September 2008 memang memperlihatkan peningkatan harga dengan trend 0,83% per minggu (Sumber: Dit Pasdom Deptan). Tetapi peningkatan harga ini tidak sebesar peningkatan harga di tingkat konsumen, yaitu 1,21% per minggu. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan margin profit kebanyakan diambil oleh pedagang.

Walaupun mendapat tambahan keuntungan yang lebih sedikit daripada pedagang, tapi menurut Ahmad, keadaan ini cukup memberikan angin segar bagi petani. “Ini bagus karena petani akan mendapat imbasnya dengan mendapat harga yang lebih bagus,” katanya. Dengan mempertimbangkan konsumen yang sudah siap dengan kenaikan harga dan produsen yang akan mendapatkan keuntungan lebih tinggi dari biasanya, maka pola ini bisa dikatakan baik. “Fenomena kenaikan harga ini tidak ada masalah, harus dihargai. Keadaan itu sebetulnya baik bagi ekonomi karena permintaan meningkat. Kita tidak perlu menciptakan hari-hari besar seperti valentine dan father’s day untuk menggerakkan perekonomian. Kita sudah memilikinya secara alami lewat hari-hari besar keagamaan,” kata Ahmad.

Distribusi Masih Mahal

Salah satu penyebab gejolak harga yang terjadi adalah biaya distribusi di Indonesia yang masih belum kompetitif. Menurut Gunaryo, distribusi itu paling tidak 60-70%nya terkendala dari kelancaran transportasi, yaitu infrastrukturnya. “Kita juga terkendala mengangkut produk pertanian ke daerah timur Indonesia. Waktu diantar ke sana muatannya penuh tapi ketika kembali belum tentu ada muatan. Ini yang menyebabkan disparitas harga semakin jauh,” ungkap Gunaryo. Selain itu, kita tidak bisa produksi secara masal, kita masih butuh pedagang pengumpul, pedagang wilayah, dan sebagainya. Ini yang menyebabkan harga ke konsumen menjadi tinggi.

Menurut Gardjita, biaya transportasi produk pertanian di Indonesia belum efisien. Pertama karena distribusi dari produsen ke pasar belum terintegrasi. Kedua karena masih maraknya pungutan resmi maupun tidak resmi. Pungutan resmi itu seperti retribusi yang ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten atau Propinsi. “Memang itu hak dari pemerintah daerah untuk mendapatkan pendapatan daerahnya. Tapi hal itu berefek meningkatkan harga ketika sampai ke konsumen. Konon, biaya distribusi produk pangan di Indonesia bisa mencapai tiga belas sampai tiga puluh sekian persen dr harga di pasarnya nanti,” ungkap Gardjita. Situasi ini kemudian akan dibebankan ke konsumen. “Kalau konsumen teriak maka efeknya ke produsen juga. Ini yang selalu kita jaga. Karena bagaimanapun yang sering dirugikan adalah petani, profit marginnya petani itu semakin terdesak,” katanya.

Berarti dibutuhkan komunikasi yang baik dengan berbagai sektor seperti kementerian ekonomi dan Departemen Perhubungan untuk mengemukakan masalah tersebut. Gardjita mengaku bahwa komunikasi antar lintas sektoral maupun dengan pelaku pasar sudah lebih baik. “Hasilnya positif untuk stabilitas harga,” tutur Gardjita.

Bisa Diantisipasi

“Yang perlu diantisipasi bukanlah kenaikan harga menjelang hari besar, tapi lonjakan naik atau turun yang ekstrim,” kata Gardjita. Untuk mengatasinya, pemerintah berkoordinasi dgn pengusaha, memberikan informasi tentang pasar, dan juga memfasilitasi kebijakan-kebijakan tertentu. Di sinilah letak fungsi kontrol sosial dari masyarakat, mengawasi kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah itu.

“Informasi sudah banyak kami berikan ke masyarakat, termasuk petani. Lewat internet berbagai informasi termasuk harga sudah kami berikan. Bahkan menjelang lebaran setiap hari harga kami berikan update. Tapi memang sedikit sekali petani yang mengakses internet. Informasi lewat radio juga sudah ada, hanya saja terbatas jangkauannya. Kalau lewat televisi biayanya terlalu tinggi. Jadi, kita sering berkolaborasi lewat asosiasi-asosiasi pertanian,” kata Gardjita. Tapi terkadang petani lebih pintar, mereka lebih tau apa yang akan terjadi di pasar sehingga informasi dari luar lingkungannya seringkali hanya dijadikan tambahan saja.

“Kami memberikan informasi ke para pengusaha bahwa harga telur akan naik sekian persen sehingga akan ada antisipasi. Selain itu kami juga memfasilitasi impor daging sapi, baik bakalan maupun daging beku. Banyak juga hal lain yang kami lakukan untuk menjaga ketahanan pangan. Sektor swasta juga akan berpikir logis menanggapi pola pasar yang sudah dapat dideteksi,” tutur Ahmad.