Rasa Buku Jadul

WhatsApp Image 2020-02-13 at 14.07.58
La Hami, karya Marah Rusli

Sekarang, saya sedang baca La Hami, salah satu buku lawas karya Marah Rusli. Belakangan, saya makin suka dengan buku-buku lawas semacam ini. Padahal tidak berbeda lebih seabad, tapi rasanya buku-buku jadul itu lebih bernyawa, rasa juangnya lebih kental, pendeskripsian rasa hati tokoh-tokohnya lebih detail.

Awalnya, sekitar 2010, saya baca Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Ini buku yang hampir selalu saya temui di pasar buku loak. Waktu itu saya beli di belakang Sri Wedari (Solo). Juga banyak ada di terminal Senen (Jakarta) dan Pasar Blok M (Jakarta). Artinya, ini buku banyak yang cari.

Membacanya membuat masalah yang saya hadapi begitu kecil dibanding konflik yang ada dalam buku itu. Rakyat dicucuk hidungnya, diperas keringatnya, tanpa bisa melawan. Kalau melawan, ya habis sudah, beserta keluarganya. Itu juga terjadi dengan Minke, tokoh utama di Tetralogi ini. Medianya dihancurkan, juga kehidupannya.

Lantas saya membaca buku-buku Pramoedya yang lain: Gadis Pantai, Arus Balik, Arok Dedes, Midah, dan rasanya masih banyak lagi.

Sekarang ke penulis yang lain: Buya Hamka. Ada buku Hamka yang saya punya kesan kuat sekali setelah membacanya: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Waktu itu, saya sedang ada di atas kapal dari Ketapang menuju Gilimanuk. Sudah beberapa hari sebelumnya saya baca buku itu. Bukunya tidak begitu tebal, tapi bacaan semacam ini harus dibaca kata per kata, karena di situ kenikmatannya. Sayang rasanya kalau ada kenikmatan yang tercecer.

Beda dengan kalau baca buku Tere Liye. Satu buku Tere Liye, bisa saya habiskan dalam satu malam. Bacanya lompat-lompat, hanya agar tahu alurnya ke mana. Tidak begitu saya nikmati kata per kata. Saya tidak bilang buku Tere Liye jelek. Tidak. Toh saya baca banyak dan tidak bosan. Hanya saja kenikmatannya beda. Seingat saya, ending buku Tere Liye ini selalu manis, alurnya menarik.

Nah, beda banget dengan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang saya baca endingnya di atas kapal. Tahu bahwa Zainudin akhirnya mengejar Hayati karena tahu kapalnya tenggelam, membuat saya senang. Tapi kemudian Hamka membanting rasa itu: Hayati mati setelah tahu Zainudin masih cinta kepadanya. Lalu kesehatan Zainudin memburuk, dan ikut mati.

Buku yang saya baca itu, sudah mau saya buang ke laut. Betul-betul mau saya lempar. Lalu berpikir, nanti jadi sampah laut, lalu berpikir lagi: buang ke tempat sampah saja. Lupa, akhirnya saya buang tidak ya?

Namun begitu, rasa senang dengan buku Buya Hamka, dan dengan buku-buku jadul lainnya tidak surut, malah semakin kuat. Bahkan saya malah merunuti biografi penulis-penulis itu, semakin membuat tertarik.

Pramoedya adalah tokoh politik. Mungkin bukan politik praktis, tapi tulisan-tulisannya sangat bermuatan politik. Banyak yang mengenalnya sebagai tokoh komunis. Sampai-sampai bisa menggiring keadaan sehingga Buya Hamka dipenjara di Sukabumi. Pram PKI, Hamka Masyumi. Keduanya terkenal berseberangan. Ini pendapat saya, hasil dari baca buku berjudul “Ayah”, yang merupakan cerita salah satu anak Buya Hamka tentang ayahnya.

WhatsApp Image 2020-02-14 at 09.23.58
Ayah, karya Irfan Hamka bin Buya Hamka

Saat Hamka dipenjara, istrinya dalam keadaan ekonomi yang berat. Suatu waktu, istri Hamka mendatangi sebuah penerbit yang menerbitkan buku Hamka untuk menanyakan apakah masih ada royalti dari buku suaminya? Uang itu untuk bekal mengunjungi suaminya di penjara Sukabumi. Namun respon penerbit kurang mengenakkan, lalu memberi sekadar sedekah untuk istri Hamka. Dengan tegas, istri Hamka menolak sedekah. Kalau sudah tidak ada royalty, ya sudah, tidak perlu sedekah-sedekah.

Sepulang dari penerbit itu, rezeki datang bertubi-tubi dari penerbit lain, di hari yang sama! Itulah hebatnya istri Hamka.

Hamka begitu sayang dengan istrinya. Istri Hamka meninggal terlebih dahulu. Hamka sangat sedih. Ia selalu membaca Quran berjam-jam sampai mengantuk, kala teringat istrinya. Kenapa begitu? Tanya anaknya.

“Karena saya takut cintaku pada istri melebihi cintaku pada Allah,” kaya Hamka.

Begitulah penulis zaman dulu. Tidak hanya kuat dengan tulisan-tulisannya. Tetapi lebih jauh dengan isi-isi tulisannya yang bernilai juang. Lebih jauh lagi, sikap sifat pribadinya banyak juga yang bernilai.

Juga penulis yang satu ini: Marah Rusli.

Rusli adalah seorang bangsawan Minang, tetapi tidak suka dengan adat Minang: lelaki beristri banyak, anak bukan menjadi tanggungan ayahnya, dsb. Perlawanannya dalam tulisan sangat terasa dalam buku Sitti Nurbaya, Kasih Tak Sampai. Banyak wejangan penyadaran yang tersisip di dalam buku itu.

WhatsApp Image 2020-02-13 at 14.07.58 (1)
Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, karya Marah Rusli

Buku itu juga, sama seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, punya ending yang bikin sakit hati pembaca. Nurbaya dinikahi (terpaksa) dengan Datuk Maringgih, ganti utang ayahnya yang tak terbayar. Padahal sudah lekat sekali dengan kekasihnya yang juga tetangganya: Samsulbahri. Maringgih meracun Nurbaya sampai mati. Samsul stres lalu bunuh diri menembak kepalanya, walaupun gagal. Sedih banget!

Kembali tentang Rusli. Begitu kuatnya penolakannya terhadap adat Minang, sampai-sampai Rusli menolak dijodohkan. “Boleh saya menikah dengan perempuan itu, tetapi akan langsung saya talak tiga setelah menikah,” kata Rusli. Pernikahan itupun tidak pernah terjadi.

Rusli akhirnya menikah dengan gadis Sunda, lalu menulis kisahnya tersebut dalam buku tersendiri: Memang Jodoh. Dalam buku itu kental sekali perlawanan Rusli terhadap adat Minang.

Tapi ya, untuk mendapatkan buku-buku ini, agak sulit, apalagi yang asli dan baru. Kebanyakan di tukang loak itu setahu saya buku baru tapi palsu. Di market place juga banyak. Ada juga buku bekas tapi asli. Yang baru dan asli, belum ketemu.

Kalau ada buku-buku semacam yang saya ceritakan di atas, minta tolong diinfo yah J

 

Siti Kewe, Cerita Murni dari Takengon

WhatsApp Image 2019-08-02 at 15.09.14Ini cerita tentang Kabupaten Aceh Tengah, yang sekarang diibukotai oleh Takengon. Tepatnya, ini cerita tentang kopi. Ini cerita sejarah kopi. Lebih spesifik, kopi gayo. Tapi tidak seperti buku sejarah biasa, yang ceritanya lurus-lurus saja.

Raihan Lubis, penulisnya, menceritakan sejarah kopi dengan balutan drama kehidupan sehari-hari. Eh tapi bukan drama deng. Kalau drama kan biasanya terkesan berlebihan. Ini tidak. Ini pas. Seperti apa adanya. Apa yang ada, itu yang tertulis. Makanya saya sisipkan kata “murni” dalam judul tulisan.

Ada cerita yang seperti drama. Seolah-olah drama. Tetapi saya sedikit banyak tahu tentang Aceh, sehingga cukup yakin bahwa itu bukan cerita drama. Orang tua saya lahir dan besar di Aceh. Perut saya banyak dimasuki makanan-makanan Aceh. Waktu kuliah, saya tinggal di asrama Aceh di Bogor. Banyak teman saya orang Aceh. Teman dekat. Sehingga saya bisa tahu ini bukanlah cerita drama.

Bahwa ada masanya, orang Takengon takut untuk ke kebun-kebun kopi mereka. Yaitu saat Aceh berstatus darurat militer. Kopi memang jadi penghidupan mereka. Tapi kalau berangkat ke kebun hidup, pulangnya mati, maka itu adalah penghidupan yang mematikan. Lelaki usia kerja, sering kali “diculik” Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk ikut memperjuangkan Aceh merdeka. Sementara, tidak sedikit cerita, TNI “menyiksa” orang-orang yang dianggap pendukung GAM, padahal belum tentu.

Masyarakat yang ada di tengah pertikaian antara GAM dan TNI menjadi korban. Sampai mereka takut untuk keluar ke kebun kopi. Banyak yang akhirnya keluar Aceh untuk mencari ketenangan. Termasuk salah satu tokoh dalam buku ini, meninggalkan rumah dan kebunnya di Takengon demi kehidupan yang lebih tenang.

Tsunami 2004 menjadi musibah besar sekaligus berkah besar untuk Aceh. TNI dan GAM berdamai. Padahal Takengon tidak kena tsunami, karena posisinya yang di tengah, bukan pesisir. Justru Takengon meraup berkah besar keamanan yang sudah lama mereka idamkan. Kebun kopi kembali diurus. Petani kopi tidak takut ke kebun lagi.

Produksi kopi meningkat. Kebun-kebun kembali dirawat. Tahu tidak bagaimana orang Takengon menjaga kopinya?

Kalau urusan pupuk, air, mungkin sama dengan yang lain ya. Lebih dari itu, orang Takengon ngajak ngobrol pohon kopinya! Mereka percaya kalau pohon kopi punya perasaan. Perasaan yang baik, menghasilkan kopi yang baik.

Win, tokoh utama dalam buku ini, adalah orang Takengon yang kemudian pindah dan bekerja di Bali. Seorang eksportir barang tekstil kalau saya tidak salah ingat. Dia belum menikah. Ibunya meminta Win pulang untuk kemudian dikenalkan dengan seorang gadis. Seorang dokter.

Pertemuan keluarga dilaksanakan. Win memaksa dirinya untuk mengikuti kemauan ibunya. Mereka bertemu dengan kondisi formal. Ada senyum dari gadis itu untuk Win, tapi sebentar, lalu senyumnya ditarik lagi, seperti senyum basa-basi.

Besoknya, Win diminta untuk mengenali gadis dokter tersebut dengan lebih dekat. Win menurut. Mereka jalan-jalan berdua. Win menemui sang gadis “terlalu belagu”. Merasa dirinya seorang dokter, dan merasa dokter selayaknya mempunyai strata sosial yang tinggi, membuat si gadis besar kepala. Win tidak mau melanjutkan proses pendekatan.

Malahan, Win mengajak calon istrinya yang dia kenal di Bali, ke Takengon. Seorang bule Eropa. Perjalanan mereka dari Bali ke Takengon, lewat Medan, Biereun, melewati jalan berkelok-kelok, bisa saya resapi karena memang pernah melewati jalur itu.

Sampai di rumah, Win mengenalkan sang bule bukan sebagai calon istrinya. Pertanyaan pertama ibunya Win: apa dia muslim?

Sisi humanis seperti itu banyak muncul dalam buku ini, sehingga tidak terasa belajar sejarahnya, padahal lagi belajar sejarah. Juga dengan percakapan sehari-harinya, menggunakan Bahasa Gayo, yang ternyata jauh berbeda dengan Bahasa Aceh (saya bisa paham Bahasa Aceh, tapi tidak bisa jawab). Di akhir buku, semua percakapan Bahasa Gayo diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Kalau mau belajar sejarah kopi di Takengon, buku ini tepat.

Ohya, dalam proses menulis review buku ini, saya bertanya ke seorang teman yang orang asli Takengon. Saya kirimkan gambar sampul bukunya, pernah lihat buku ini? Dijawab tidak. Dia hanya berkomentar, “(Siti Kewe) itu bahasa gayonya kopi.”

Resensi Buku ONDEL ONDEL NEKAT KELILING DUNIA Luigi Pralangga

IMG20180527171141Yang saya tangkap, ini adalah blog yang dibukukan. Bahasanya sangat sehari-hari dan sangat Jakarta, jadi saya yang besar di Jakarta bisa begitu menikmati buku ini.

Ini adalah cerita asli dari hidupnya Luigi, seorang peacekeeper. Yang saya tahu, Luigi bekerja di UN. Disebutnya banyak bagian di UN, tapi saya belum bisa membedakannya. Pokoknya UN lah. Atau Bahasa Indonesia-nya PBB – Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lanjutkan membaca “Resensi Buku ONDEL ONDEL NEKAT KELILING DUNIA Luigi Pralangga”

Resensi Buku PINCALANG Idris Pasaribu

IMG20180507052341Saya langsung terbius membaca buku ini. Tidak tebal, sehingga cepat sekali habis. Idris Pasaribu menuliskan kisah hidup seorang Pincalang bernama Amat. Pincalang adalah manusia perahu, yang seumur hdupnya tinggal di perahu. Walaupun tidak betul-betul seumur hidup, karena sering juga berlabuh ke pulau beristirahat.

Kejahatan tidak hanya ada di kehidupan darat, juga ada di kehidupan laut. Lanjutkan membaca “Resensi Buku PINCALANG Idris Pasaribu”

Resensi Buku LITTLE PRINCES Connor Grennan

IMG20180507052324
Little Princess by Connor Grennan

Ini adalah cerita perjalanan seorang backpacker asal Amerika, Connor, yang niat awalnya keliling dunia tapi kemudian di tengah perjalanannya terpanggil untuk membantu anak-anak korban perdagangan manusia di Nepal. Anak-anak itu sejatinya adalah anak baik-baik dari keturunan baik-baik. Mereka adalah anak-anak desa yang oleh orang tuanya dititipi ke seseorang untuk dipindahkan dari desanya, ke tempat manapun yang aman.

Kalau anak-anak itu tetap di desanya, mereka sangat mungkin akan diminta paksa ikut dalam semacam gerakan separatis, yang ingin menggulingkan pemerintahan Nepal. Lanjutkan membaca “Resensi Buku LITTLE PRINCES Connor Grennan”

Yahya Umar: Istana Para Kuli

IMG20180407190700
Yahya Umar: Istana Para Kuli

Ini adalah cerita hidup seorang Yahya Umar yang besar di lingkungan “ndeso” di salah satu pedalaman Pulau Madura. Yahya dan keluarganya percaya bahwa sebisa mungkin pendidikan harus diperjuangkan setinggi mungkin. Hal ini agak berbeda dengan pendapat yang beredar di lingkungannya: sekolah tidak usah tinggi, yang penting bisa segera siap untuk jadi TKI di Malaysia Lanjutkan membaca “Yahya Umar: Istana Para Kuli”

Resensi buku DRUPADI Ardian Kresna

IMG20180319063415Saya tidak pernah suka nonton wayang, tetapi lewat buku ini, saya jadi suka cerita wayang. Sering kan kita dengar Pandawa Lima, Kurawa, Yudhistira, Bima, Nakula, Sadewa, Arjuna, Gatot Kaca, dsb. Nama-nama itu buat saya, sebelum baca buku ini, hanya seperti nama-nama terkenal saja. Tanpa tahu hubungan antartokoh itu. Buku ini membuatnya lebih jelas.

Dengan plot cerita yang menarik, intrik-intrik kehidupan yang tak terduga, dan bahasa yang mengalir, saya nyaman sekali baca buku ini. Ceritanya besarnya: Drupadi dan Pandawa Lima diusir dari negerinya karena Yudhistira (kakak tertua Pandawa Lima) kalah berjudi dengan Kurawa. Yudhistira mempertaruhkan semua hartanya, bahkan sampai adik-adiknya dan isterinya (Drupadi) ikut dipertaruhkan.

Lanjutkan membaca “Resensi buku DRUPADI Ardian Kresna”