Kasodo untuk Bromo

Bagi para pencuri foto dan para pecinta Budaya yang fanatik, sepertinya Kasodo sudah tidak asing lagi. Upacara ini sudah menjadi agenda tahunan yang mahsyur dikenal, bahkan sampai luar Indonesia. Indikasinya mudah, banyak wisatawan mancanegara yang selalu tampak dalam upacara. Mayoritas dari mereka berasal dari Perancis dan Amerika.

Tengger

Indonesia selalu seru dengan legenda-legendanya. Biasanya, pengaruh agama adalah dorongan yang paling kuat dalam penyusunannya. Tidak jarang, dalam satu kejadian banyak cabang cerita yang terpapar, termasuk Kasodo. Makna kata Kasodo sendiri dari kata kasada, artinya sepuluh, menyirat makna bulan kesepuluh pada kalender Tengger, waktu dilangsungkannya upacara Kasodo.

Kalender Tengger bukan sembarang kalender. Bukan berdasarkan rotasi bulan seperti kalender di Arab. Tidak sepaham juga dengan kalender matahari seperti yang umum dipakai penduduk dunia. Penduduk Tengger punya anutan sendiri dalam menentukan penanggalan.

Setiap empat tahun sekali, penduduk Tengger berkumpul untuk menentukan penanggalan yang berlaku untuk empat tahun berikutnya. Acara tersebut disebut Unan-Unan. Salah satu syarat penanggalan adalah jumlah hari dalam empat tahun yang ditentukan tersebut tidak boleh ganjil.

Asal-muasal upacara Kasodo sendiri berawal dari seorang pemuda bernama Jaka Seger yang meminang pemudi cantik, Rara Anteng (Tengger adalah gabungan nama keduanya). Rara Anteng adalah anak dari raja Brawijaya yang kala itu sedang berkuasa, sekitar abad ke-14. Mereka menikah dan hidup bahagia sampai suatu saat jenuh karena tidak kunjung diberikan buah hati. Maka pergilah mereka ke gunung Bromo untuk berdoa pada dewa agar mereka diberikan anak.

Terkabul, mereka diberikan anak, lagi, dan lagi, sampai jumlahnya 25 orang. Namun, mereka sebelumnya terlanjur berjanji untuk mengorbankan anak terakhirnya. Setelah yakin bahwa anak itu adalah anak terakhir mereka maka untuk menepati janjinya, mereka betul-betul mengorbankan anak bungsunya di kawah Bromo.

Belum berakhir. Setelah itu, terdengar suara seorang anak dari kawah Bromo. Suara itu meminta dirutinkannya persembahan setiap hari ke-14 di bulan Kasodo. Persembahan tahunan itulah yang kemudian banyak disebut-sebut upacara Kasodo. Dua puluh empat anak Rara Anteng dan Joko Seger tersebut yang kemudian menjadi nenek moyang penduduk Tengger yang sekarang.

Versi lain menyebutkan, zaman dulu di Jawa, Hindu menjadi agama utama bagi penduduknya. Setelah Islam masuk dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari penduduk, maka sedikit demi sedikit penganut Hindu pindah ke lereng-lereng gunung, termasuk ke daerah Tengger. Mereka yang pindah ke Tengger ini yang dinobatkan sebagai nenek moyang Tengger.

Versi pertama lebih popular dibicarakan banyak orang. Legenda memang lebih indah untuk dinikmati bukan diperdebatkan.

Luhur Poten

Pura indah yang berada tepat di bawah kaki Bromo itu punya nama Luhur Poten. Bangunan ini dikelilingi pagar asal batu menegaskan kewibawaan sekaligus kesombongannya. Pohon-pohon di sekeliling Pura yang sangat terawat sepertinya melambai-lambai mengajak kembali ke zaman kerajaan Mataram.

Sedikit banyak, Kasodo punya hubungan dengan Luhur Poten. Paling tidak,keduanya sama-sama dari garis Hindu. Kasodo lahir jauh lebih awal daripada Luhur Poten yang baru dibangun pada tahun 1983.

Sebelum Poten tegak, upacara Kasodo tidak menggunakan acara mampir dahulu ke Poten. Sejak adanya Poten sampai sekarang, terkesan Poten menjadi salah satu mata rantai upacara yang tidak boleh ditinggalkan. Padahal tidak demikian. Maka wajar sekali kalau akhir-akhir ini masyarakat Tengger tidak mampir dulu ke Poten, mereka langsung menuju kawah, melemparkan hasil buminya.

Ada sedikit gap di dalam intern masyarakat Tengger. Hindu Tengger dengan Hindu Bali punya budaya yang berbeda. Penetrasi Hindu Bali semakin kuat di Tengger sehingga budaya mampir ke Poten terlebih dahulu semakin ditinggalkan.

Mata rantai pertama dalam rangkaian kegiatan Kasodo adalah pengambilan air dari tiga titik. Ada upacara sendiri untuk kegiatan ini, namanya Mendak Tirta. Tiga sumber air yang dilibatkan yaitu air Gunung Widodaren di lautan pasir, air terjun Madakirapura di Kecamatan Lumbung Probolinggo, dan Watu Plosot di Gunung Semeru.

Persiapan Kasodo. Dok: Dandy Priangga

Ada yang mengatakan, membersihkan Pura Poten juga merupakan rantai wajib dalam upacara Kasodo. Biasanya dilakukan satu minggu sebelum acara puncak. Tapi sepertinya acara bersih-bersih tersebut hanyalah tambahan semata, mengingat Poten baru tegak sejak 1983 sedangkan upacara Kasodo sudah mengisi absen jauh sebelum itu.

Satu hari sebelum acara puncak, dukun-dukun dari setiap desa bergumul. Bukan dukun yang mistis seperti dalam film Suzana. Bukan pula dukun anak atau dukun yang menyembuhkan penyakit. Dukun yang dimaksud lebih mirip sebagai pemuka agama. Ada kitab yang harus dihapalnya agar bisa dinobatkan menjadi dukun.

Dukun-dukun yang hadir adalah dukun yang akan dinobatkan menggantikan dukun desanya yang sebelumnya. Setiap desa punya dukun masing-masing. Acara ini menjadi semacam regenerasi bagi dukun-dukun itu. Desa yang pada tahun tersebut tidak perlu mengganti dukunnya maka tidak perlu jua hadir dalam pergumulan dukun-dukun ini. Dukun baru yang terlibat akan dinobatkan menggantikan dukun lama di desanya.

Pada malam sebelum acara pelemparan hasil bumi yang dinobatkan sebagai acara puncak, Poten dan sekitarnya sudah riuh. Penduduk membaca-baca mantra, sembahyang, dan mengumpulkan hasil bumi yang hendak dipersembahkan di penghujung malam. Kegiatan ini bisa juga dimasukkan dalam rantai kegiatan upacara Kasodo.

Upacara Kasodo. Dok: Dandy Priangga

Dari Bumi Menuju Bumi

Pelemparan hasil bumi yang dilakukan ketika Subuh itu bukanlah satu-satunya pelemparan. Setelah itu, ada saja yang melemparkan hasil buminya. Jumlahnya lebih sedikit daripada pelemparan yang pertama kali. Masyarakat Tengger merasa punya kewajiban pribadi yang tidak bisa diwakilkan untuk melemparkan hasil buminya.

Hasil bumi yang terlibat bukan hanya sayur-sayuran dan buah-buahan, tapi juga ayam dan kambing. Kadang terlihat kambing yang masih hidup mencoba mendaki kembali setelah dikorbankan. Banyak terlihat orang yang berebut hasil bumi tersebut setelah dilemparkan. Mereka adalah penduduk di luar Tengger. Tidak ada pencegahan yang dilakukan oleh penduduk asli Tengger. Penduduk luar Tengger memang diperbolehkan untuk memungut hasil bumi yang telah dikorbankan di kawah Bromo.

Mereka beradu cepat mendapatkannya. Kadang terlihat menegangkan ketika mereka menjatuhkan diri ke bibir kawah. Ceroboh sedikit bisa patah-patah tulangnya. Tapi sepertinya mereka sudah terbiasa melakukan itu.

Bagi masyarakat Tengger sendiri, ada harapan yang muncul dari Kasodo. Mereka berharap perlindungan, kesehatan, dan panen yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Motif yang sama dengan upacara-upacara daerah yang juga melibatkan hasil bumi.

Apriadi Kurniawan yang sudah melakukan riset fotografi Kasodo selama dua tahun belakangan memberikan beberapa saran jika hendak mengabadikan Kasodo. Pertama, Kasodo ini bukan ritual yang hanya melempar hasil bumi ke kawah Bromo saja, tapi sekitar empat hari sebelumnya ritual sudah dimulai dengan pengambilan air dan sebagainya. Titik puncak kegiatannya memang pelemparan hasil bumi, tapi kalau mau mencuri foto penuh ritual ini, maka datanglah sejak sekitar empat hari sebelum acara puncak.

Kedua, butuh persiapan fisik yang cukup karena acara puncaknya nonstop dari malam sampai subuh. Perjalanan dari penginapan (Cemoro Lawang) ke kawah Bromo pun tidak mudah.

Kearifan lokal punya makna yang dalam sekali, saking dalamnya terkadang tidak tampak. Khasanah budaya tersebut selalu punya nilai penting untuk dilestarikan.

(salah satu tulisan di Ezine Backpackin’ edisi pertama, klik di sini untuk masuk blognya lalu bisa download Ezinenya )

Iklan

Perpanjang SIM di Samsat Cipinang Cuma 30 Menit dengan Biaya 60-80 Ribu, Jangan Tertipu !

Sekedar mengingatkan, umur SIM itu Cuma 5 tahun. Setelah basi, kalau tidak mau kena tilang di jalan maka harus diperpanjang. Terkadang kita lupa untuk memperpanjang. Baru sadar setelah berbulan-bulan kemudian atau setelah polisi lalin yang menegur bahwa SIM sudah basi.

Image mahal dan ribet untuk perpanjang SIM sepertinya sudah bisa dihapus. Akhir Oktober 2009 lalu, saya berangkat ke SAMSAT Cipinang untuk mengurus SIM yang sudah mati 5 bulan. Sesampainya di tempat parkir motor, petugas parkir langsung nembak, “Cuma 250 ribu tinggal foto.” Wah, calo nih sepertinya.

Masuk ke ruangan, saya langsung disambut dua petugas informasi (sepertinya Polwan) yang mengingatkan syarat-syaratnya, yaitu SIM lama, KTP asli, dan fotocopy KTP 3 kali. Lalu mereka menunjukkan alurnya, “Urus asuransi dulu, tes kesehatan, baru masuk loket-loket secara berurutan (ada nomor loketnya, satu sampai empat).”

Di depan ruang asuransi, sebelum orang asuransinya menyapa, saya langsung tembak (karena teringat asuransi2 gadungan di Airport), “Ini wajib gak?”. Dia bilang tidak. Ya sudah, saya langsung ke tempat cek kesehatan. Dokternya cukup ramah (mungkin karena ini saya jadi tidak kritis). Dia bilang dengan suara yang halus, “Kalau di asuransi memang tidak wajib, tapi tes kesehatan wajib. Dari sini nanti ada surat pengantar ke loket.” Oke, saya turuti. Sang dokter kemudian memperlihatkan buku kecil bergambar abstrak yang di tengahnya ada angka. Saya diminta untuk menyebutkan angka di dalam gambar abstrak itu. Sangat mudah bagi yang tidak buta warna. Singkat sekali tesnya, mungkin hanya 1 menit. Lalu saya dimintai 20 ribu untuk biaya tes kesehatan (yang ternyata Cuma tes buta warna). Dengan mudah saya bayar.

Lanjut je loket BRI. Sebelum sampai ke loket, ada petugas berseragam yang mengingatkan untuk bayar asuransi dulu. Dengan agak keras saya jawab, “Kan gak wajib!” Lalu dia menjawab lagi dengan nada menantang, “Nanti urusannya di sini (menunjuk salah satu loket yang setelahnya baru saya tahu itu loket 2 untuk menyetor persyaratan).”

Sampai di loket BRI, saya dimintai 60 ribu untuk biaya perpanjangan. Penjaga loket mengingatkan, “Walaupun telat mengurus perpanjang SIM, Bapak tidak kena denda, tetap 60 ribu.” Saya bayar lalu menandatangani entah apa itu. Karena saya buru-buru dan sang petugas juga mengatakan tinggal tanda tangan saja, ya sudah, isian di atasnya (ada nama dsb) tidak saya isi, langsung saya tanda tangan. Selesai di loket ini.

Ternyata BRI ini baru loket 1. Jadi asuransi dan kesehatan tidak dihitung loket. Barulah saya mulai curiga, jangan-jangan si dokter muda itu bohong, bilang wajib padahal tidak. Ya sudahlah. Lain kali harus lebih kritis kalau berurusan dengan dokter.

Loket selanjutnya loket 2 untuk urusan administrasi non rupiah. Di situ saya berikan SIM lama, fotocopy KTP 3 kali, KTP asli, tanda bukti pembayaran dari loket 1, dan surat dari hasil tes kesehatan di loket kesehatan (sepertinya yang terakhir ini tidak termasuk syarat). Lagi-lagi saya diminta untuk urus asuransi terlebih dahulu. Berikut dialog singkatnya:

Petugas: Bisa urus asuransi dulu mas.

Iqbal: Katanya gak wajib ?!

Petugas: Sudah, mas urus saja dulu.

Iqbal: Memang betul wajib Pak?

Petugas: Mas ini pekerjaannya apa sih?

Iqbal: Saya wartawan, Pak !

Petugas: Coba mana kartu identitas kamu? Kamu fotocopy dulu.

Iqbal: Ini ! (saya pertunjukkan dari luar, tapi tidak saya berikan)

Petugas: Coba saya lihat sini.

Iqbal: Apa ini jadi syarat buat SIM ?

Petugas: Saya lihat sebentar, nanti kamu fotocopy dulu.

Iqbal: Bapak namanya siapa (press card tetap tidak saya berikan) ?

Petugas: Bukan begitu… Ini buat laporan untuk atasan saya.

Iqbal: (Sadar posisi di atas angin) Jadi saya gak bisa ngurus SIM nih Pak ?

Sadar posisinya terdesak. Rekan petugas itu langsung ambil sikap. “Sudah Bapak tunggu saja di depan, nanti kami panggil. Lalu si rekan itu terlihat buru-buru mengurusi kelengkapan saya. Di tempat saya duduk sudah ada seorang pemuda yang suda menunggu lebih awal. Sedikit berbincang.

Pemuda: Abis berapa mas ?

Iqbal: Delapan puluh ribu. Dua puluh di kesehatan, enam puluh di BRI. Emang mas berapa ?

Pemuda: Saya nambah asuransi 30 jadi 110.

Iqbal: Itu kan gak wajib mas. Kita harus tegasin biar mereka gak mainin kita.

Baru 1 menit duduk, nama saya dipanggil duluan, padahal pemuda itu sudah menunggu lebih awal. Di loket 2 itu saya diberikan KTP asli yang ditempel secarik kertas dengan tulisan ceker ayam, tidak bisa saya baca. Lanjut ke loket 3.

Sepertinya saya benar-benar dilayani. Baru memberikan KTP dan secarik kertas itu langsung disuruh cap jempol, tanda tangan, dan foto. Loket 3 memang untuk foto, tanda tangan, dan cap jempol. Dua menit kemudian, di loket 4 (loket pengambilan SIM baru) nama saya sudah dipanggil. SIM barunya sudah jadi! Karena masih belum yakin bisa selesai secepat itu, saya tanya petugas, “Ini sudah selesai ya Bu?” Petugas mengiyakan. “Wah, cepat betul.”

SIM C fresh from the oven. Dok: Iqbal

Kurang lebih, waktu yang saya habiskan dari parkiran sampai parkiran lagi Cuma 20 menit. Memang di depan pintu terpampang jelas tulisan bahwa perpanjang SIM hanya 30 menit. Sepertinya petugas di SAMSAT itu dituntut untuk memperpendek birokrasi. Atau bisa jadi (pikiran jahat saya), mereka takut dengan press card yang saya tunjukkan, takut saya tulis kalau mereka mempermainkan pengunjung. Semoga saja memang mereka betul professional.

Semoga bermanfaat.

Workaholic itu Harus!

Ada yang bilang, janganlah sampai menjadi workaholic yang lupa waktu. Hmm. Aku sangat mau mendebat hal itu. Konsep yang harus diubah menurutku adalah bahwa kerja itu bukan untuk memprioritaskan uang sebagai tujuan utama. Apalagi untuk umur-umur di bawah 30 yang menurutku saatnya untuk berdarah-darah, memungut pengalaman.

Aku seorang biokimiawan, orang yang sering dibayangkan menggunakan jas lab putih panjang, menggunakan kacamata tebal, dan seumur hidup berkutat dengan tabung reaksi dan Sprague Dewley (sejenis tikus lab). Setiap dihadapkan dengan bacaan tentang ilmu hayat, reaksi kimia dalam tubuh, dan sebagainya yang menyangkut biokimia, Aku selalu bergelora. Nikmat sekali mempelajari Biokimia. Sayangnya, pekerjaan yang banyak ada untuk sarjana Biokimia selalu berkutat di kotak besar penuh piranti unik bernama laboratorium.

Walaupun pendapatan ekonomi menjadi peneliti lumayan besar, tapi menulis membuatku lebih menggelora. Konsekuensinya mungkin seperti yang banyak orang katakan, wartawan sulit sekali menembus level ekonomi atas.

Hidup dengan ekonomi sedang bukan masalah buatku, selama hatiku tenang dan tidak melakukan hal yang tidak Aku sukai. Tapi Aku tetap yakin, selama kita focus dan professional, uang lebih yang berlebih akan datang dengan sendirinya.

Maka satu setengah tahun yang lalu dimulailah petualangan hebat. Aku menulis untuk sebuah media cetak. Menulis membuatku lupa diri. Tidak kenal aturan 9 to 5. Terkadang Aku tidak sadar sudah berganti hari karena keasyikan menulis. Menulis untuk bos ku, blog ku, diary ku, atau menulis untuk kemudian Aku hapus, hanya sekedar berbagi dengan MS Word. Tiada hari tanpa menulis. Satu hari satu karya. Satu setengah tahun.

Memang, terkadang jenuh mendera, mirip konsep salting in salting out dalam ilmu biokimia. Saat itu harus aku cari aktivitas lain yang positif. Beruntung sekali Aku diberi keingintahuan yang super besar. Kalau sudah jenuh dengan MS Word, Aku lari ke buku. Kalau bosan lagi, Aku lari ke luar kota, backpacking sesukaku sesuai sakuku.

Tiga hal ini yang menjadi pekerjaanku: menulis, membaca, jalan-jalan. Aku sangat mencintai ketiganya. Aku tidak kenal jam kantor untuk ketiganya. Jadi, konsep yang kuanut, bekerja itu adalah melakukan hal yang Aku sukai dengan professional. Ada deadline di situ yang harus tetap ditepati.

lonely planet, meliput, dan teh, kolaborasi yang sangat Iqbal. Dok: Iqbal

Bukan main nikmatnya hidupku. Satu setengah tahun membuatku sudah melahap seratus lebih buku, memproduksi ratusan tulisan, dan menghinggapi puluhan sudut cantik Indonesia. Kalau saja Aku tidak masuk ke media cetak, mungkin semua itu sulit terjadi. Mungkin Aku tidak bisa berkeliling kota Medan, snorkeling di Sabang, menikmati sunset di pinggir jembatan Ampera sambil menunggu lampu Ampera dinyalakan, tidur di pinggir pantai Takisung (Kalsel), makan soto Banjar sambil memandang eksotisme sungai Musi, menikmati pasar terapung, adu cepat dengan matahari timur Bromo, menunggu sunset danau Sukoharjo, mengeksplorasi gerabah Kasongan (Jogja), dsb dsb.

Belum lagi kesempatan bertukar pikiran dengan bermacam jenis orang berlatar belakang warna-warni, mulai dari tukang jualan bunga melati di pasar Pramuka sampai menteri. Kesempatan berdebat hebat melatih kuasa kata. Kesempatan setaraf dengan orang-orang hebat walau Cuma beberapa menit. Kesempatan untuk tetap menjaga idealism. Kesempatan untuk bisa duduk di perpustakaan dari kunci dibuka sampai diusir karena sudah waktunya tutup. Kesempatan membaca buku-buku hebat dari bos Ku. Luar biasa! Semoga Allah mengekalkan anugrah ini kepadaku.

Itulah Aku, seorang yang workaholic. Aku mewajibkan diriku untuk menjadi workaholic. Bahkan sepertinya Aku sudah satu tingkat lebih ekstrem lagi, sudah menjadi pengedar. Membujuk orang lain untuk menjadi workaholic dengan terlebih dahulu memilih pekerjaan yang menomorsatukan pekerjaannya, bukan uangnya…=)

Tulisan ini punya 2 maksud:

  1. Mengajak memilih pekerjaan yg betul2 dicintainya
  2. Sedikit pamer dan curhat….=)

Menapaki Ciwidey dan Gambung

Dalam peta Jawa Barat, ada kumpulan warna merah di sebelah Selatan kota Bandung. Menandakan daerah tersebut punya angka ketinggian yang paling besar. Salah satunya sudah tidak asing di telinga, Ciwidey. Dari terminal Leuwi Panjang ke Ciwidey ada dua alternatif angkutan umum, colt dan bus. Waktu itu Aku naik colt karena katanya lebih cepat, biayanya 6 ribu. Kalau lancar cuma 1 jam, kalau macet dan ngetem bisa sampai 2 jam.

Hal pertama yang terpatri dalam benakku tentang Ciwidey adalah strawberry. Memang banyak sekali perkebunan strawberry di kanan kiri jalan besar, jalan yang menghubungkan Bandung dan Garut. Tidak sulit menemukan kebun strawberry yang di dekatnya sering tertulis “Petik Sendiri”.

Ciwidey terkenal dengan Situ Patenggang dan Kawah Putihnya. Situ Patenggang adalah nama sebuah danau eksotis yang menurutku punya kesan mistis yang dalam. Situ artinya danau sedangkan Patenggang berasal dari kata pateangan-teangan (bahasa Sunda) yang artinya saling mencari-cari. Ceritanya, dulu di seputaran danau ini ada pasangan yang saling mencari kemudian dipertemukan di sebuah batu yang kemudian terkenal dengan sebutan batu cinta, terletak di tengah-tengah danau.

Batu cinta. Dok: Iqbal

Kawah putih tidak kalah serunya. Aura mistis masih pekat menyeruak, tapi kesan damai lebih dalam lagi. Asap hasil metabolit kawah putih menyelimuti seluruh pelosok kawah, pagi, siang, malam, tanpa henti. Disebut kawah putih karena memang warna kawah yang putih dicampur sedikit warna biru, mungkin itu warna yang keluar ketika intensitas belerang jauh di atas ambang normal.

Kawah putih. Dok: Iqbal

Junghuhn adalah orang yang selalu dilibatkan dalam sejarah kawah putih. Setahuku dia adalah pengusaha Belanda yang punya andil besar dalam perkebunan Kina di Indonesia, tepatnya Jawa Barat. Apa hubungannya ya dia dengan kawah putih?

Maaf Aku tidak bisa memberikan banyak info detail tentang perjalanan menuju kedua tempat dahsyat tersebut, karena waktu Aku dengan rombongan Backpacker Indonesia ke sana, kami menyewa angkot dari Bandung dengan rute: Bandung-Kawah Putih-Situ Patenggang-Bandung, per anak bayar 50 ribu. Jadi kalau tidak lebih dari 10 orang akan lebih mahal dari itu dan Aku tidak tahu berapa.

Dari terminal Ciwidey Aku menuju Gambung. Ada misi khusus: menuju perpustakaan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) untuk menggali sejarah dari perpustakaannya dalam rangka pembuatan bukuku tentang sejarah Teh di Indonesia. Jalan menuju Gambung agak banyak rusaknya walaupun masih wajar tapi cukup mengganggu. Menggunakan angkot memakan waktu setengah sampai satu jam dengan ongkos 4 ribu, sampailah di pos 1. Butuh naik ojeg untuk sampai ke kantor PPTK, jaraknya sekitar 1,5 km. Tahu ongkos ojeg nya berapa? Seribu perak saja! Kalau di Jakarta, bisa tiga sampai sepuluh ribu. Seribu perak itu memang harganya segitu. Kok bisa ya?

Udaranya dingin sekali. Seingatku, mirip ketika Aku menginap di Cemoro Lawang, Tengger. Memang masih bisa kalau tidak memakai jaket, tapi jauh lebih nyaman dengan jaket. PPTK dikelilingi banyak sekali pohon cemara, mirip rumah Edward Cullen dalam film Twilight, sunyi, damai. Semakin sore semakin riang serangga menggesek-gesekkan kakinya, sepertinya mereka berlomba-lomba mencuri perhatian seisi hutan.

Ya, hutan. Jauh lebih mirip hutan daripada pusat penelitian. Kalau diteruskan, jalan tersebut akan tembus menuju Pangalengan, tapi harus melewati jalan panjang yang kanan kirinya hutan yang dikelola Perhutani.

Perpus tutup pukul 4 sore, Aku beranjak menuju Wisma milik PPTK. Di dalamnya ada sekitar 6 kamar yang dapat menampung 14 orang. Dua kamar di antaranya punya fasilitas air panas di dalam kamar mandi dalamnya. Dua kamar ini yang paling eksklusif. Yang pertama punya 1 tempat tidur besar dan 1 tempat tidur kecil. Harganya kalau tidak salah ingat 180 ribu. Kamar kedua punya 3 tempat tidur kecil, harganya 160 ribu. Waktu itu, Aku memakai kamar 2. Selain biaya kamar, Aku memesan makan malam dan sarapan, jadi menambah 30 ribu lagi.

Kalau mau menyewa seluruh wisma yang ada 6 kamar tersebut, biayanya 1,5 juta, itu sudah termasuk makan pagi untuk 30 orang. Walaupun Cuma ada 14 kasur di dalam kamar, tapi ruang tengahnya sangat luas. Begitu pula terasnya. Luas. Langsung menghadap ke hutan pinus dan hamparan kebun teh. Sepertinya ruang tengah bisa menampung sampai 50 orang. Perapian menambah cantik ruang tengah. Kalau mau booking, hubungi Aku untuk nomor HP penjaga wismanya.

Pukul Sembilan malam sudah memaksaku berselimut, semakin larut semakin dingin. Walaupun saat itu (Januari 2010) sedang musim hujan, tapi bukan karena itu. Menurut penduduk sekitar, kawasan Gambung memang selalu dingin.

Rasanya menyenangkan kalau punya vila di daerah ini. Harga tanah di jalan utama seputaran Gambung ini sekitar 1 juta untuk satu tumbak. Orang sini biasa memakai ukuran tumbak untuk ukuran tanah. Satu tumbak sekitar 14 meter persegi. Jadi satu meternya sekitar 70 ribu saja! Kalau di jalan kecil/pelosok lebih murah lagi, 300 ribu satu tumbak atau 21 ribu per meter!

Esok paginya, merupakan perjuangan berat untuk berjalan mengambil air wudhu ke kamar mandi. Udara super dingin, lantai lebih-lebih lagi. Untung ada air panas. Walau tidak mengantuk lagi, selimut tetap kutarik, mata tetap kupaksa terpejam, tak sanggup Aku melawan dinginnya pagi itu. Rencana berkeliling kebun teh tidak pernah kuintip lagi.

Pukul tujuh pagi udara sudah cukup bisa ditoleransi. Aku keluar menuju pabrik pengolahan daun teh, sekitar 100 meter saja dar wisma. Satu bungkus kecil teh yang ada di pasaran saja kalau dibuka bungkusnya bisa kuhirup aromanya berkali-kali saking nikmatnya. Bagaimana kalau tehnya sebanyak satu pabrik?! Luar biasa. Aromanya betul-betul menenangkan. Aroma daun teh bisa jadi keajaiban dunia kedelapan. Kewalahan mendapatkan nikmatnya aroma ini. Seperti anak kecil yang diberikan sekolam permen. Kewalahan.

Masih mengeksplorasi perpus PPTK. Sepertinya perpus jarang sekali dikunjungi, selama dua hari itu, sayalah pengunjung satu-satunya. Sesekali masuk karyawan hanya untuk membaca Koran. Padahal, buku-buku di dalamnya banyak yang tidak pernah Aku temui sebelumnya. Perlu diketahui, Aku sudah banyak sekali datang ke bermacam perpustakaan hanya untuk mencari literatur tentang dunia per-teh-an, buku yang ditemukan itu-itu saja. Berbeda sekali dengan Gambung. Banyak buku teh yang kutemukan bersampul keras dan kertasnya sudah berwarna cokelat, menggambarkankan umurnya. Sayangnya, semua buku bagus itu berbahasa Belanda, jadi sama saja, hehe. Aku hanya melihat-lihat gambarnya. Cukup menarik industri teh pada zaman Belanda dulu.

Ada beberapa buku ingin Aku photocopy. Namun di kantor PPTK tidak ada satupun mesin photocopy. Aku harus turun ke arah Ciwidey, menempuh belasan kilometer hanya untuk photocopy! Bisa dibayangkan betapa terpencilnya Gambung.

Gambung bagiku bukan tempat yang efektif untuk bekerja tapi sangat efektif untuk menenangkan diri, menyatu dengan alam, alam Gambung.