Arsip untuk Maret, 2011

11
Mar
11

Tiga Hari Ber-Ontel: Aksi 2

Pagi-pagi ayahku menelepon, bertanya sedang apa di mana? Aku bilang lagi siap-siap berangkat di Ngawi. Sebelumnya memang aku cerita mau jalan-jalan dari Lengkong ke Jogja, tapi tidak bilang naik sepeda. Sebelumnya lagi memang aku cerita waktu beli ontel seharga Rp 170 ribu. Lalu, (masih di telepon) aku ditanya, “Ontel yang kemarin dibeli dijaga ya, jangan dimacam-macamin, jangan kena hujan, kalau di Jakarta itu bisa 3 juta loh. Terus, sekarang ontelnya di mana?”

Aku yang memang waktu itu pas betul sedang naik di sepeda dan ngobrol dengan penduduk lokal Ngawi mencoba menjawab santai, “Ini lagi dinaikin.” Mungkin karena bingung mau berekspresi seperti apa, ayahku malah bilang, “Naik sepeda? Ontel?? Wah… (diam sesaat). Bawa kamera kan? Foto yang banyak ya!” Alhamdulillah, lega rasanya. Kupikir disuruh langsung jual sepedanya terus pulang ke Jakarta. (Tapi beberapa minggu setelah itu, ayah sadar, lalu menyuruhku menjual ontel dan jangan berbuat gila seperti kemarin lagi).

Jam 6 pagi aku mulai jalan ke Mantingan, sekitar 31 km dari Ngawi. Kanan kiri jalan adalah hutan Jati dan Mahoni, tapi sukur jalannya tidak seekstrim kemarin waktu menuju Caruban. Aku mulai terbiasa dengan ekspresi orang waktu kujawab dari mana dan mau ke mana. “Dari Lengkong?? Ke Jogja???” Biasanya aku hanya menikmati muka bingung mereka, lalu jalan lagi sesuai petunjuk arah dari mulutnya.

Istirahat sarapan di dekat Terminal Gendingan, masih jauh dari kota Mantingan. Lalu lanjut lagi sampai kota Mantingan. Di sini aku tidak berlama-lama, hanya beberapa menit, karena langit sudah mendung, pengalaman kemarin jam 1 sudah hujan lebat. Maka kugenjot terus menuju Sragen, 17 km dari Mantingan. Di Sragen juga cuma makan dan sholat, lalu lanjut lagi.

Aku tidak berpikir lelah. Yang kupikir sepanjang jalan adalah hitungan jarak dibagi kecepatan 15 km/jam jadilah waktu tempuh. Kuhitung supaya sebelum Ashar sudah sampai Solo, lebih dari 30 km dari Sragen. Adapun variabel fisik kuasumsikan konstan sehat. Ternyata begitulah adanya, aku sehat terus. Allah bersama prasangka hambanya. Kata bule, you are what you think.

Sayangnya baru jam 2, hujan sudah lebat. Ini bukan hujan, ini hujan lebat! Ditambah lagi asumsi dari peta gratisan lebaran yang bilang jarak Sragen-Solo itu 26 km, padahal lebih dari 30 km, jadi target malam ini tidur di Solo hangus sudah. Aku tidur masih di wilayah Sragen, di masjid setelah jembatan besar yang ada gading menjuntainya di ujung.

Esoknya, 8 Desember 2010, hari ketiga, aku berharap ini hari terakhir. Agak berat karena untuk mencapai target itu, aku harus menggoes sampai 67 km (masih tanda tanya) sampai kota Jogja (hari pertama 88 km dan hari kedua 66 km). Jaraknya memang tidak seberapa, tapi yang aku takut adalah jarak prediksi itu salah karena aku mulai meragukan peta lebaran yang kemarin salah.

Betul saja, di Solo aku seperti diputar-putar di dalam kotanya. Mungkin hampir sejam (sekitar 15 km) aku menggoes di kota Solo. Bisa jadi memang kota Solo yang besar, bisa jadi arah plang di jalannya yang membuatku berputar-putar. Prediksiku yang kedua.

Solo cukup nyaman buat pesepeda karena diberi jalur khusus. Tapi banyak titik yang kulewati, jalur khusus itu dibajak tukang parkir dan pedagang kaki lima, jadi aku terpaksa ikut di jalan besar. Walau punya jalur sepeda, bersepeda di kota jauh lebih bahaya dari di jalan-jalan lintas kota yang dilewati bis besar. Bis-bis itu sepertinya punya perhitungan, jadi aku merasa aman-aman saja berdampingan dengan bis besar. Nah, kalau di kota, dalam hal ini Solo, bisa tiba-tiba ibu menyeberang mengantarkan anaknya ke sekolah, atau pedagang sayur yang memanggul sayurnya melengos tanpa perhatian betul dengan jalan, atau tukang becak yang walau bersaudara dengan sepeda tapi jahatnya minta ampun, dia bisa tiba-tiba berbelok minggir tanpa peduli fakta bahwa hampir semua ontel itu remnya busuk.

Lepas kota Solo, aku menuju Klaten yang menurut peta lebaran jaraknya 22 km tapi ternyata lebih dari 30 km! Aku mampir di Markas Kopasus “Kandang Menjangan” setelah melihat luasnya markas ini, dan tergoda untuk mampir. Aku minta izin dan lapor aku sedang apa, hendak ke mana, dan mohon izin istirahat sebentar di situ. Si aparat membolehkan, walau kelihatannya dia curiga dengan isi tas gunungku.

Komentar dari aparat kali ini tidak seperti komentar para komentator lain yang biasanya terperangah. Dia cuma bilang, “Oh, mau ke Jogja, mau keliling Indonesia ya?” Kujawab, “Mungkin.” Dia cuma mengangguk tanpa ekspresi ekstra. Tidak ada jeda bingung, mata terbelalak, tampang kebingungan, atau mulut terbuka seperti biasanya. Lalu aku disuruh membetulkan parkiran sepedaku yang memang mengahalangi (dan merusak pemandangan) pintu gerbang.

Sampai Klaten, sudah siang hari, kulihat awan mendung. Tekadku, tidak bisa tidak, hari ini harus sampai Jogja. Aku bungkus tas dengan plastik, lalu lanjut lagi. Betul, tidak lama kemudian hujan. Aku genjot terus. Tidak sadar aku sudah menggenjot sekitar 30 km tanpa henti, padahal biasanya tiap 10-20 km berhenti istirahat beberapa menit. Rasa ingin cepat sampai mungkin ikut mendorong adrenalin agar keluar lebih banyak.

Tepat adzan Ashar aku sampai di Jogja. Aku kesulitan mendeskripsikan apa yang kurasakan waktu itu. Yang bisa kudeskripsikan hanyalah sakit bercampur gatal di paha yang tiba-tiba muncul hanya satu jam setelah sampai dan baru sembuh seminggu kemudian. Beberapa bulan setelah itu, ontel kuberikan pada seorang kawan yang kemudian membawanya dari Jogja ke Cilacap dengan kereta. Semoga bermanfaat.

09
Mar
11

Tiga Hari Ber-Ontel: Aksi 1

Seminggu setelah membeli dan menghitung ini itu, aku berangkat setelah subuh 6 Desember 2010. Titik mulai di Lengkong, Nganjuk. Pemberhentian yang pertama di kota Nganjuk. Motif utama berhenti untuk sarapan. Mudah mencari tempat makan murah di sini. Di tengah kota sekalipun, warung nasi masih terhitung murah. Sepiring nasi, telur, dan sayur harganya seputaran Rp 5.000.

Sepanjang Lengkong-Nganjuk (lewat jalan alternatif, bukan lewat Kertosono), mayoritas adalah sawah. Jalan ini terbilang jalan desa yang kira-kira hanya dilewati kendaraan setengah menit sekali, kecuali jam sibuk seperti masuk dan pulang sekolah/sawah. Iya, sawah. Mayoritas dari mereka petani padi.

Beberapa kali kulihat segerombol ibu-ibu yang keluar dengan memanggul kain yang dimodif jadi tas sambil berlindung dari matahari dengan caping. Biasanya mereka tidak memakai alas kaki. Kalau yang laki-laki biasanya berkendara ontel, kadang solo, kadang bergerombol. Cangkul ditaruh di pundaknya dengan mata cangkul mengait ke pundak dan gagangnya memanjang ke depan.

Beberapa anak sekolahan menggoes sepedanya menuju sekolah. Sepeda mereka biasanya berkeranjang di depan lalu tas mereka dimasukkan ke situ. Ya laki-laki ya perempuan. Sedikit saja dari mereka yang menggunakan motor. Sesekali kulihat siswi yang pakai motor tersibak jilbab belakangnya. Rambut dan ujung jilbabnya berkobar-kobar. Lumayan banyak yang kuihat begitu. Jalan yang sepi (bahkan di kota Nganjuk tidak ada macet) membuat mereka leluasa untuk ngebut.

Terkadang, aku mengebel siapa saja yang kupapas yang juga sedang naik ontel. Reaksi mereka pada umumnya sama: ada beberapa jenak untuk bingung, baru membalas bel dariku. Mungkin buat mereka tidak lazim menyapa orang yang tidak dikenal, atau tidak lazim melihat orang hijrah dengan ontel.

Beberapa kali aku hampir tabrakan dengan macam-macam, ya motor, ya mobil, ya anak kecil, ya gerobak. Butuh adaptasi untuk menyeimbangkan beban puluhan kilo yang terpusat di titik paling belakang. Kalau aku sedang menjinjing sepeda lalu setang depan terangkat sedikit, mungkin karena kena batu, maka keseluruhan sepeda lansung terjungkal ke belakang. Itu karena saking beratnya beban di belakang. Dua kali aku jatuh begitu. Sakit sih tidak terlalu, tapi malunya itu. Jadi, kalau sedang mengendara sekalipun, aku harus agak menyondongkan badan ke depan supaya risiko terjungkal minim.

Sejam aku di Nganjuk, lalu berangkat ke Caruban. Inilah yang terberat. Jarak Nganjuk-Caruban hanya 29 km, tapi jalannya naik turun dan belok-belok. Aku berhenti hampir tiap 5 km, padahal sebelumnya lebih dari 20 km tidak berhenti. Kalau berhenti, aku harus mencari pohon yang cukup kuat buat sandaran sepedaku. Lalu menyandarkan punggung tas di pohon. Celaka kalau ban bocor, karena aku di hutan, dan di hutan tidak ada tukang tambal ban.

Pemandangan menuju Caruban lumayan hening. Kanan kiri adalah hutan Jati yang rapi. Biasanya yang rapi-rapi begini milik Perhutani. Apalagi ditulis di beberapa papan, itu pohon apa, luasannya berapa. Kalau tidak Perhutani ya perusahaan besar lain.

Akhirnya aku sampai di Caruban. Sempat terpikir, apa lebih baik aku kembali saja ya? Ini baru 50 km tapi beratnya bukan main. Kalau jalan selanjutnya begini terus (naik turun belok-belok), wah, ampun lah. Keputusan masih menggantung, aku tidur sejenak di sebuah masjid.

Masjid yang letaknya agak masuk ke gang, atau setidaknya tidak di pinggir jalan besar, itu menurutku lebih aman. Sepeda kuparkir di halaman masjid, bersandar ke tembok, lalu aku masuk ke dalam masjid. Tas kecil berisi barang-barang terpenting kubawa masuk dan tali selempangnya kulilit di tanganku. Kalau-kalau ada yang mau mengambil, aku akan terbangun, pikirku. Sedangkan barang-barang yang ada di sepeda dan sepedanya kupasrahkan saja di luar. Hanya dikunci dengan kunci khas ontel yang melingkar di ban belakang yang dengan obeng dan sedikit kreatifitas saja, dalam beberapa menit bisa dibobol. Tapi, kantuk dan lelahku lebih besar daripada ketakutan barang hilang.

Hanya setengah jam tidur tapi rasanya sangat segar. Pikiran untuk kembali tidak terpikir lagi. Setelah makan siang dan sholat, aku lanjut menuju Ngawi, 34 km dari Caruban, atau sekitar 2 jam perjalanan.

Sialnya, baru setengah jam sudah hujan. Sepanjang 34 km itu hanya sedikit saja rumah yang ada di pinggir jalan. Kalau ada rumah yang kelihatannya punya tembok atau tiang untuk menyangga tas dan halamannya cukup luas, aku berteduh. Tapi sulit mencari yang begitu. Sekitar sepuluh kali aku mampir ke bengkel motor, bengkel mobil, rumah warga, atau pom bensin. Sekali aku diusir di pom bensin karena sepedaku dianggap menghalangi pengunjung mereka.

Suatu kali aku mampir ke rumah seseorang yang kemudian baru kutahu bahwa ia seorang petani. Awalnya kukira rumah itu kosong karena letaknya yang mencil dan tidak ada sandal di depan pintunya. Rumahnya joglo yang tidak terlalu besar. Lalu keluar Bapak si pemilik rumah. “Maaf Pak, numpang berteduh. Saya pikir tadi tidak ada orang karena tidak ada sandal di depan pintu.” Dia jawab, “Rumah kami berlantai tanah, jadi keluar masuk ya pakai sandal,” sambil pamer giginya yang sudah ompong, beberapa masih ada, tapi kuning atau coklat.

Ya begitulah prototipe petani pangan di desa. Rumah mereka mayoritas sederhana, kalau agak mewah pun, itu bukan karena bertani, tapi karena ada usaha sampingan atau karena diberikan oleh anaknya yang bukan petani.

Tanpa diminta, dia menemaniku ngobrol. Dia bicara tentang anaknya sambil menunjuk ke sebuah bangunan beton yang lumayan mewah, “Itu rumahnya,” katanya. Dia lebih antusias membicarakan capaian dan masa depan anaknya ketimbang bicara soal sawahnya yang dari dulu ya begitu-begitu saja, yang walaupun masih bekerja sampai umur lewat 60 tapi lantai keramik pun tak punya. Cukup miris buatku, tapi dia seperti biasa-biasa saja, tidak mengurangi umbaran senyumnya. Mungkin kesuksesan anaknya sudah menutupi lukanya, atau mungkin dia sudah terbiasa begitu.

Waktu mau berangkat lagi (karena setelah ditunggu setengah jam tetap saja hujan), aku diberi plastik besar yang bisa membungkus tas gunungku. Mungkin dia teringat nasihat orang, kalau bantu jangan setengah-setengah, maka si bapak tua membungkuskannya, merapikannya, dan mengikatkannya buatku. Terakhir kulihat adalah lambaian dan senyumannya yang ompong itu, tapi tulus.

Seluruh barang aman, jadi kupikir tancap saja, biar basah badanku. Itulah yang terjadi sampai satu jam berikutnya, sampai gigi ini mencengkram keras menahan dingin dan otot paha seakan beku. Tubuh berdemo agar aku istirahat. Aku berhenti di sebuah bengkel motor, menghangatkan badan sesaat yang ternyata malah makin dingin, lalu lanjut lagi, masih hujan-hujanan.

Pukul 5 sore tepat aku sampai Ngawi. Kota ini punya jalur sepeda khusus yang cukup lebar, jadi aku bisa lebih leluasa bergerak. Aku putuskan menginap di Ngawi, di salah satu masjid yang tidak di pinggir jalan.

05
Mar
11

Tiga Hari Ber-Ontel: Persiapan

Semakin lama semakin kuat untuk menjadikan keinginanku nyata dalam menjajaki Jombang-Jogja dengan sepeda. Aku tidak berbagi dengan siapapun tentang niat, yang kata orang sih: “gila” atau “kurang kerjaan”, tersebut.

Beberapa kali kuamati sepeda yang wira-wiri kalau aku sedang nongkrong di pasar daerah Nganjuk. Mayoritas dari mereka pakai sepeda ontel dengan modifikasi keranjang besar di kanan kiri jok belakangnya (sepertinya diksi “jok” terlalu anggun buat ontel). Kadang membawa jagung, sayuran, buah, bahkan kambing! Bukan hal yang istimewa bagi orang sini melihat 4 kambing dibonceng dengan sepeda. Empat kambing!

Wah, kuat betul ini sepeda, pikirku. Dan memang seorang teman lokal menyarankan hal yang sama dengan niatku, membeli ontel. Tapi ontel yang macam apa? Karena ternyata ada macam-macam jenisnya dan juga merknya. Setelah tanya sana-sini, kusimpulkan sepeda onta lanang adalah yang paling tepat.

Onta di sini maksudnya unta, hanya saja mereka lebih nyaman bilang onta daripada unta, seperti Indonesia yang sering disebut Endonesia. Sedangkan lanang adalah bahasa Jawa yang artinya laki-laki. Mungkin disebut demikian karena tingginya yang diibaratkan unta dan kerangka bagian depannya yang lurus. Kalau untuk perempuan kerangkanya melengkung ke bawah. Maksudnya kerangka di sini adalah kerangka besi yang paha kita apit kalau sedang bersepeda lalu terpaksa berhenti karena ada yang memanggil (kebayang, kan?).

Kupikir, akan murah kalau aku beli onta lanang di pasar besar tradisional dan loak. Jadilah aku dan seorang ahli bengkel ke pasar… di Jombang. Seingatku, tidak sulit mencari onta lanang, malah ada yang menjual segerombol onta lanang yang masih mulus, atau biasa disebut sepeda “kelas”. Mungkin maksudnya berkelas. Kalau yang begitu harganya bisa jutaan. Aku tidak mencari bagus, tapi kuat dan murah.

Telah rampung beberapa tawar-menawar sampai di satu kios yang menjual dengan harga Rp 250.000. Sebetulnya segitu juga menurutku sudah murah untuk onta lanang yang cuma punya satu bekas las. Cuma kalau ke pasar tradisional tapi tidak menawar, rasanya gimana gitu. Beberapa menit kemudian aku menyerahkan Rp 170.000 sebagai harga ijab qobul. Ditambah beli karet rem baru, lampu pura-pura (karena tidak nyala, cuma berbentuk saja), bel antik, dan servis yang totalnya Rp 60.000.

Perjalanan pertamaku membawanya ke Lengkong dari Jombang, sekitar 20 km. Diameter geriginya yang besar dan pedalnya yang panjang membuatnya laju. Setangnya cukup tinggi dan pegangan setangnya mengarah ke pengendara, tidak seperti umumnya motor yang setangnya lurus ke kanan kiri. Dengan begitu, onta lanang terlihat santai dan tidak cepat membuat pegal. Jok-nya terbuat dari kulit warna putih. Walau sudah ada sedikit sobekan, tapi masih nyaman.

Setiap kendaraan tua biasanya punya satu kebiasaan buruk. Nah, kalau onta lanang punyaku kebiasaan buruknya adalah rem yang tidak bisa pakem walau sudah diservis dan rantai yang suka copot. Tapi itu bukan masalah besar.

Gambaran rute-rute utama telah kubuat setelah tanya sana-sini dan meliat-lihat atlas lima ribuan yang kubeli di kereta. Prediksi jarak total adalah 200 km lebih sedikit yang akan diburu dalam 2 hari.

Rencananya, aku akan membawa satu tas gunung ukuran 60L untuk sekaligus membawa barang-barangku (mayoritas baju dan buku). Di jok belakang, kuikatkan potongan kayu jati sebagai sandaran tas. Aku gunakan karet hitam yang biasa dijual di bengkel-bengkel untuk mengikat tas ke sandaran kayu tersebut. Satu tas lagi untuk barang-barang yang penting (kamera, HP, dompet, baju, dan celana ganti) diikat meliit tas gunung. Siap berangkat.

 

Siap berangkat! Dok: Iqbal

04
Mar
11

Pertarungan Terakhir

Seri ketiga (terakhir) dari karya Saini KM dalam seri Hutan Larangan. Di sini diceritakan Banyak Sumba sudah semakin matang dalam ilmu silatnya. Ia kemudian bergabung dengan Colat, seorang buronan utama dari kerajaan Pajajaran.

Colat sudah lama sekali dicari. Ia berbuat banyak hal jelek dengan tujuan menguasai kerajaan. Pada awalnya, Banyak Sumba hanya ingin belajar ilmu silat kepada Colat. Tapi, secara tidak langsung ia ikut menjadi buronan karena masuk dalam kawanan Colat.

Anggadipati, seorang Puragabaya, ditugaskan kerajaan untuk menumpas si Colat. Sejak lama banyak Sumba menyimpan dendam kepada Anggadipati karena telah membunuh kakanya, Jante.

Semakin lama Banyak Sumba bergabung dengan pasukan Colat, semakin ia tidak senang dengan perlakuan Colat yang sewenang-wenang terhadap rakyat jelata, termasuk merampok dan membunuh.

Sampai suatu ketika, Colat mendapati anaknya dibunuh di suatu kampung. Ia kemudian menjadikan seluruh penduduk kampung yang masih hidup sebagai kayu bakar bagi mayat anaknya.

Seketika itu, Banyak Sumba menghentikan keadaan yang sangat busuk itu. Ia terpaksa berhadapan dengan si Colat. Banyak Sumba menang tapi membuatnya pingsan beberapa hari.

Setelah bangun, ia sudah mendapati Anggadipati di hadapannya akrab dengan Yuta Inten, kakaknya. Kekasih dari banyak Sumba juga hadir di depannya. Seketika semua dendam lenyap, Pajajran kembali jaya. Penasaran kan? Terlalu banyak konflik yang bakal panjang kalau diceritakan sepenuhnya. Lebih baik baca sendiri ya =)




Maret 2011
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031