Membumi di Krueng Mane

(Tulisan ini adalah bagian yang kena edit dari penerbit buku Keliling Sumatera Luar Dalam)

Di Krueng Mane, saya tinggal di tempat kakek nenek dari jalur mama. Halamannya luas, ada pohon kelapa sepuluh lebih. Nenek tahu saya suka kelapa, jadi tidak lama setelah saya datang, langsung dipanggil tukang panjat kelapa. Puluhan kelapa dipetik. Airnya begitu manis dan segar. Dagingnya lembut dan nikmat.

Nenek punya beberapa ekor ayam yang rata-rata bertelur satu butir per hari. Telur ayam kampung. Ayamnya masih bisa lari ke mana-mana, susah ditangkap, masih bisa cari cacing sendiri. Telurnya kecil, tapi manisnya luar biasa. Ini telur ayam kampung terenak buat saya. Kalau tidak dibikin ceplok dengan kuning yang masih meleleh-leleh, nenek bikin telur setengah matang.

Tape beras, buat sarapan di Krueng Mane. Dok: Iqbal
Tape beras, buat sarapan di Krueng Mane. Dok: Iqbal

Kalau pagi, makanan pembukanya adalah pulut pakai tape. Tape nya bukan berbahan singkong, tapi beras. Kayaknya cuma orang Aceh yang bikin tape dari beras. Bentuknya bulat-bulat, agak lebih besar dari bola golf. Kalau di warung biasanya dijual lima ratus sebiji. Sedangkan pulut adalah ketan yang dibungkus daun, lalu dipanggang. Bentuknya memanjang seperti lemper. Juga lima ratusan.

Pulut dan tape berarti ketan dan beras. Walau jadinya double karbohidrat (malah nenek saya nawarin, mau pakai gula gak?) dan tidak ada protein -yang menurut ahli gizi itu gak bagus-, tapi rasanya begitu menggoda. Pulut featuring tape itu duet maut deh!

Gempuran protein baru datang siang dan malam. Di meja makan selalu ada ikan. Ikan jadi lauk utama orang Aceh. Seakan-akan orang Aceh bisa sakit kalau tidak makan ikan.

Kerjaan utama saya di Krueng Mane kalau sedang pulang kampung adalah mandi laut. Saya mandi laut seperti minum obat: pagi dan sore. Mandi laut maksudnya bukan di tengah laut, tapi di pantai. Dari rumah nenek, saya tinggal jalan 10 menit sudah sampai pantai.

Pantai Krueng Mane adalah pantai yang landai dengan pasir putih. Landai sampai-sampai sudah nyebur 50 meter, tinggi air masih 1 meter. Tidak ada batu. Tidak ada karang. Semuanya pasir. Ombaknya sulit diprediksi, kadang besar, kadang kecil, tapi tidak pernah tidak ada. Arus bawah lebih sulit lagi diprediksi, kadang tidak ada arus sama sekali, kadang arusnya gila-gilaan. Sore biasanya lebih berarus dari pagi.

Pernah, saking besarnya arus ke kanan (selatan), sekuat apapun saya coba berjalan, selalu terhempas ke kanan. Baru mencoba sedikit, ombak satu meter datang, pijakan saya lepas. Coba lagi, kena ombak lagi. Lima belas menit sudah kehabisan tenaga.

Tapi ada saat-saat ketika arusnya nol dan ombak minim. Biasanya pagi. Saya bisa mengapung sesuka saya. Berenang segala gaya. Seperti di kolam renang raksasa. Dan rasanya seperti milik sendiri, karena saya belum pernah ketemu sama orang yang berenang pagi.

Musuh pantai Krueng Mane cuma satu: ubur-ubur. Kalau lagi musim, tiap 10 meter pesisir pantai ada bangkai ubur-ubur. Jangan coba-coba masuk berenang. Beberapa tahun lalu saya pernah berenang lagi musim ubur-ubur. Belum sampai 3 menit, kaki saya sudah beberapa kali bersentuhan dengan ubur-ubur. Saya langsung mendarat. Bentol-bentol merah di sekujur kaki. Gatal, tapi saya tahu tidak boleh digaruk. Baru sembuh beberapa minggu kemudian. Sepupu saya malah pernah sampai korengan berbulan-bulan.

Mumpung lagi ngumpul (kebetulan keluarga om saya yang di Jakarta juga lagi ada di Krueng Mane), nenek berencana bikin kenduri, semacam pesta kecil, di rumah, dengan mengundang tetangga-tetangga sekitar.

Kalau di Krueng Mane, tidak sulit mencari tenaga yang mau bantu masak untuk kenduri. Tetangga-tetangga selalu ikut bantu. Kursi bisa dipinjam lewat pengurus desa. Piring bisa pinjam tetangga. Kewajiban utama yang bikin kenduri hanyalah siapin duit dan bilang maunya gimana.

Selebihnya berjalan autopilot. Yang biasa masak nasi ya masak nasi. Yang biasa nyapu ya nyapu. Yang biasa kupas bawang ya kupas bawang. Yang biasa angkat bangku ya angkat bangku. Tidak perlu bikin meeting bagi-bagi dapukan.

Keluarga yang bikin kenduri tidak diberatkan dengan hal seremeh kupas bawang. Untuk persiapan kenduri, saya cuma ikut nemani om saya yang juga nemani seorang penghubung untuk beli kambing di Pasar Geurugok. Dua ekor. Setiap Selasa, di Geurugok (kecamatan sebelah) ada pasar hewan, terutama kambing dan sapi. Ada juga domba dan kerbau.

Mereka memang menyebutnya pasar hewan, tapi tidak ada tempat khusus untuk menampung hewan-hewan itu. Kebanyakan pedagang kambing hanya mengikatkan tali, satu ujung di leher kambing, dan ujung satunya lagi di ranting-ranting pohon. Jadi terlihat banyak tali-tali menjuntai ke atas ranting pohon.

Yang unik, setelah penjual dan pembeli sepakat mau beli kambing yang mana dengan harga berapa, akad jual beli diucapkan. Waktu om sudah sepakat membeli dua kambing seharga sekian pada seorang pembeli, si pembeli –dengan rokok yang masih menempel di mulutnya- segera menyalami om dengan menyelipkan tali kekang kambing di antara dua telapak tangan mereka, lalu disebutkan harga kesepakatan. Deal!

Kenduri berlangsung begitu kilat. Setelah shalat Jumat, dua ratus orang datang, makan, terus pulang, selesai. Tidak ada prosesi sambutan atau ngomong-ngomong dari pembuat kenduri. Saya rasa tetamu undangan itu juga tidak tahu dalam rangka apa ada kenduri itu.

Iklan

Hey Nike, Just Pay It!

IMG_8229Siapa yang tidak kenal sepatu Nike? Dia adalah produsen sepatu yang market share-nya paling besar di dunia. Bahkan kalau market share Reebok dan Adidas digabung sekalipun, masih tidak bisa menyaingi market share Nike.

Tapi ada sesuatu yang salah di dalamnya. Sekitar sebulan lalu, Jim Keady, direktur sebuah LSM Amerika memaparkan borok-borok yang ada pada Nike. Sedikit cerita, Jim ini dulunya adalah atlet sepak bola Amerika satu-satunya yang menolak memakai sepatu Nike. Kenapa? Karena berdasarkan pengalaman ketika menyusun Thesis-nya yang menganalisis bagaimana Nike memperlakukan buruh, Jim melihat banyak sekali ketimpangan. Karena dia menolak memakai sepatu Nike, maka dia dikeluarkan dari klub sepak bola-nya. Ini sempat menjadi berita besar di Amerika: seorang atlet menolak memakai sepatu Nike, lalu dikeluarkan dari klubnya.

Jim lantas menganalisis langsung apa yang terjadi dengan buruh Nike di Indonesia, tepatnya di Tangerang, pada tahun 2000. Dia mencoba hidup dengan uang gaji buruh Nike ketika itu yang upah minimumnya Rp 300 ribu. Selama sebulan, dia bisa bertahan dengan uang segitu, meskipun berat badannya turun 12 kg!

Nah, ini ringkasan pemaparan Jim kepada puluhan wartawan:

Indonesia adalah negara produsen Nike terbesar ketiga di Indonesia setelah China dan Vietnam. Saat ini, Nike mempunyai 40 pabrik di Indonesia. Sampai 2014, Nike berniat menambah 6 pabrik baru di Indonesia. “Itu berarti Nike merasa nyaman untuk berinvestasi di Indonesia. Kenaikan upah buruh seharusnya tidak menjadi kendala berarti,” jelas Jim Keady, direktur Educating for Justice, sebuah LSM dari Amerika Serikat, di Jakarta, Senin (14/1).

Kritisi dari Jim tersebut bermula dari PT Pratama Abadi, sebuah produsen sepatu Nike di Sukabumi. Upah Minimum kabupaten (UMK) Sukabumi sampai Desember 2012 adalah Rp 885 ribu, tetapi pada Januari 2013 naik menjadi Rp 1,2 juta.

Seharusnya PT Pratama tidak mengajukan penangguhan, kata Jim, karena ongkos produksi sepasang sepatu Nike yang dijual US$ 75 hanyalah US$ 16,25. Itu sudah termasuk biaya material US$ 10,75, biaya buruh US$ 2,43, overhead US$ 2,1, dan keuntungan pabrik US$ 0,97. Dengan menaikkan upah sesuai UMK Sukabumi Rp 1,2 juta, biaya buruh hanya naik US$ 0,96 per sepatu, alias hanya 1,3% dari harga sepatu yang US$ 75 tersebut. Namun, PT Pratama menolak menaikkan upah sesuai UMK.

Produsen Nike tersebut merasa tidak mampu untuk memenuhi kenaikan upah, sehingga manajemen perusahaan berniat mengajukan penangguhan kenaikan upah kepada Gubernur Jawa Barat, dari yang seharusnya Rp 1,2 juta menjadi Rp 1,1 juta.

Sayangnya, cari yang dilakukan PT Pratama adalah sebuah cara yang kotor. Perusahaan mengundang serikat pekerja perusahaan untuk makan siang dengan sebelumnya meminta tanda tangan kepada anggota serikat pekerja yang hadir. Ternyata kertas yang dikira daftar hadir tersebut dilampirkan oleh perusahaan untuk mengajukan penangguhan kenaikan gaji buruh.

Sontak buruh kesal. Dalam beberapa hari, 6.300 tanda tangan buruh terkumpul untuk menolak dilakukannya penangguhan kenaikan upah. Dua aktivis buruh dipanggil aparat Kodim dan satu aktivis lainnya ditekan manajemen perusahaan dengan memberi dua pilihan: mundur dari pekerjaannya atau menyetujui penangguhan.

Selang beberapa hari kemudian, manajemen perusahaan turun ke lini-lini produksi bersama aparat Kodim untuk meminta buruh menandatangani persetujuan penangguhan kenaikan upah. Terkumpul 5.000 tanda tangan. Bermodal 5.000 tanda tangan tersebut, PT Pratama mengajukan penangguhan kenaikan upah ke Gubernur Jawa Barat pada 29 Desember 2012.

Permohonan tersebut disetujui oleh Dewan Pengupahan di Bandung pada 13 januari 2013. Untuk itu, Jim mendesak pemerintah untuk menarik kembali izin penangguhan kenaikan upah yang diberikan pada PT Pratama.

Well, itu kan gerakan penolakan oleh Jim. Kita sebagai masyarakat biasa bisa melakukan gerakan konkret dengan tidak membeli produk-produk Nike.