Penyembelihan Kurban di Mata Ilmu Sains

Hewan memamah biak, menurut hukum islam, halal untuk dimakan. Masih banyak lagi yang halal, tapi saya mau cerita hewan memamah biak karena sedang suasana hari raya kurban. Aturan islam memerintahkan untuk menyembelih hewan pada lehernya dengan cepat dan dengan pisau yang tajam (intinya supaya cepat juga).

Ada dua penjelasan utama dari segi sains yang menyepakati cara tersebut. Pertama, dengan disembelih di leher, darah akan keluar dengan cepat. Darah penting untuk dikeluarkan segera karena bisa dibilang darah adalah sumber penyakit. Kebanyakan (atau mungkin semua) virus disebarkan ke seluruh tubuh lewat darah. Dengan mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya, maka daging berpenyakit dapat direduksi. Leher dipilih karena di situ terdapat arteri (pembuluh darah) paling besar selain aorta, yang itu berarti darah akan keluar dengan lebih cepat.

Kedua, karena disembelih dengan cepat, maka tingkat stres hewan dapat diminimalisir. Stres hewan yang akan disembelih bisa menyebabkan otot-otot banyak berkontraksi, akibatnya banyak ATP (atau sebut saja energi) yang berubah menjadi asam laktat. Peningkatan jumlah asam laktat dalam otot/daging menyebabkan pH daging turun sehingga daging menjadi alot. Ini yang juga menyebabkan daging menjadi merah kehitaman (daging yang baik berwarna merah cerah).

Saya pernah baca di sampul kaset Gold Finger, band yang sangat peduli lingkungan. Mereka memerangi penyiksaan hewan yang marak terjadi di negaranya. Salah satu contoh yang masih saya ingat, mereka (para penyiksa hewan) memukul kepala sapi sampai mati untuk kemudian mereka konsumsi. Dari sisi kehewanan (padanan kata kemanusaiaan untuk hewan) sepertinya kurang sekali ya. Kalau dibahas dari sisi ilmu pangan, ini juga sangat tidak sehat. Darah tidak keluar dari tubuh si sapi. Walaupun ujung-ujungnya sapi akan dipotong-potong, tapi darah dalam beberapa menit saja sudah membeku berbentuk padatan seperti daging. Nah, waktu memotong-motong sapi tidak akan bisa beradu cepat dengan membekunya darah sapi di dalam tubuh. Dengan begitu, darah beku akan bercampur dengan daging. Penyakit yang dibawa sapi akan lebih riskan untuk tertular ke manusia.

Semoga menambah wawasan…=)

Iklan

Kembali ke Potensi Diri

Satu minggu penuh saya ikut meliput Jakarta Fashion Week 09/10 di Pacific Place lewat blog ini. Fashion adalah suatu hal yang sangat baru buat saya. Sesuatu yang glamor, penuh hura-hura, dan tidak terakses dengan baik. Paling tidak, itu yang tampak di TV.

Begitu pula pendapat teman-teman sekitar saya tentang fashion. Ada yang menambahkan, fashion Indonesia tidak kuat, hanya berkiblat ke Milan dan Paris. Ada juga yang berkomentar, kain Indonesia itu tidak cuma batik, banyak yang lain yang tidak diketahui para desainer. Bermacam komentar tentang fashion.

Seminggu liputan membuat pola pikir saya berubah. Walaupun, dunia fashion ya tetap dunia fashion yang tidak pernah lekang dengan kesan kekinian dan glamor. Tapi di balik itu, beberapa desainer top Indonesia konsisten terus-menerus mengeksplorasi kain Indonesia, motif Indonesia, budaya Indonesia. Ada yang mengangkatnya murni, ada yang mencampurnya dengan budaya luar Indonesia. Kadang hasil karya mereka membuat saya merinding. Sebegitu hebatnya eksplorasi dan modifikasi yang mereka lakukan untuk menghasilkan karya baru. Karya yang tidak terbersit sama sekali dalam pikiran saya. Kain dan motif Indonesia diangkat dan dimodifkasi sedemikian rupa tanpa meninggalkan budaya aslinya.

Para desainer kita sudah banyak yang sadar dan berkomitmen dengan budaya Indonesia; Anne Avanti dengan cita-citanya menggabungkan batik se-Jawa Tengah, Merdi Sihombing yang rela riset ke daerah-daerah pelosok untuk mengangkat kembali kain tenun daerah; Ghea Panggabean yang lengkap dengan pencitraan etnik khas Indonesia; Bakat-bakat baru secara mencengangkan ikut andil dalam mengangkat ragam kain Indonesia pada Lomba Perancang Mode; dan sebagainya.

Sepertinya semua sepakat dengan apa yang dikatakan Iwan Tirta dalam Reader’s Digest Indonesia edisi November, Ia berpesan pada desainer muda Indonesia, “The more Indonesia you are, the more successful you will be abroad. Kalau main fashion Barat juga, walah, lebih banyak yang lebih pintar dari Anda!”

Jadi, kesimpulannya, kita harus kembali ke potensi diri kita sendiri yang memang sejak lama sudah ada. Eksplorasi budaya dan kain Indonesia adalah satu-satunya cara paling efektif menembus pasar internasional. Selamat berjuang desainer-desainer Indonesia. Katakan pada Milan dan Paris bahwa Indonesia sudah kreatif sejak dilahirkan!

Hidup fashion Indonesia! Dok: Iqbal.

Eco Fashion dari Kacamata Merry Pramono

Tertarik dengan eco-fashion, saya coba cari tahu lebih dalam lagi tentangnya. Wah, ternyata desainer susah ditemui di beberapa hari terakhir. Padahal di awal-awal banyak yang sering nongkrong di press room Jakarta Fashion Week 09/10. Kesempatan terbuang sia-sia.

Tidak patah arang, saya coba tanyakan ke beberapa desainer via email. Baru Ibu Merry Pramono yang membalas. Berikut email yang saya kirim:

Dear Ibu Merry Pramono

Perkenalkan, saya Iqbal, salah satu yang meliput acara Jakarta Fashion Week 09/10 di blog pribadi saya, https://sagoeleuser5.wordpress.com/ .

Isu lingkungan terus merebak belakangan ini. Saya berencana menggali eco-fashion lebih dalam lagi. Kalau berkenan, saya mohon pendapatnya tentang eco-fashion di Indonesia:

1. Apakah akan menjadi suatu isu yang bakal menjadi lebih besar lagi sehingga eco-fashion mempunyai nilai lebih tersendiri, atau justru akan menjadi isu basi yang akan ditinggalkan ?

2. Siapa tokoh desainer yang mati-matian memperjuangkan fashion ramah lingkungan di Indonesia ?

Terima kasih.

Salam

Iqbal

Berikut jawabannya:

Dear Mas Iqbal,

Pertama-tama, mohon maaf saya baru sempat membalas email mas Iqbal hari ini, semoga tidak terlambat ya mas. Maklum, dari kemarin masih wara-wiri ke Pacific Place dan kontrol workshop saya.

Untuk pertanyaan 1, sudah pasti eco-fashion di Indonesia akan menjadi sesuatu yang signifikan di masa yang akan datang. Alasannya adalah pertama, saat ini masyarakat lebih kritis & lebih peduli terhadap lingkungan, karen sudah banyak sekali gejala alam (global warming) yang mengharuskan kita untuk peduli terhadap lingkungan.

Alasan kedua, fashion di Indonesia selalu mengikuti perkembangan tren fashion internasional, dimana di sana sudah banyak fashion designers atau organisasi-organisasi yang membuat gerakan eco-fashion. Walaupun masih dalam kelompok minoritas, akan tetapi mereka sudah ada kesadaran untuk memberi penyuluhan pada petani-petani bagaimana untuk membuat cotton organic yang ramah lingkungan & ekonomis.

Jika dikaitkan dengan apa yang terjadi Indonesia, mungkin masih jauh dari idealisme eco-fashion, karena kita sendiri (komunitas fashion) masih berjuang untuk menggalakkan pemakaian kain-kain lokal/tradisional, (batik, tenun dll). Akan tetapi, sudah pasti kita sebagai fashion designers, merasa tugas kita tidak hanya membuat karya yang indah dalam bentuk pakaian, tetapi juga pakaian yang ramah lingkungan, pakaian yang merupakan produk bertanggung jawab terhadap lingkungan, terhadap pemakainya, dan juga terhadap buruh-buruh yang membuat bahan tersebut.

Pertanyaan ke-2, sampai saat ini, menurut saya belum ada desainer yang mati-matian memperjuangkan fashion ramah lingkungan di Indonesia. Hal ini dikarenakan memang karena dana untuk penyuluhan dan proses pembuatan eco-fashion belum ada, jadi belum ada SDM yang memenuhi kriteria untuk membuat pabrik dalam negeri untuk dijadikan produk ready-to-wear.

Sepengetahuan saya, kemarin pada saat JFW, Lenny Agustin mencoba membuat pakaian dari fiber singkong. Dia ingin mencoba untuk mempraktekkan eco-fashion. Tapi seperti saya bilang, bahan tersebut belum bisa mempunyai nilai jual sebagai produk karena bahannya seperti kertas, jika dicuci akan memuai di air, jadi seratnya hilang. Namun demikian, saya salut dengan usaha Lenny Agustin, karena saya tau usahanya pasti sangat membutuhkan research trial and error yang membutuhkan waktu, energi, dan dana yang cukup.

Oke, mungkin sekiranya seperti ini mas jawaban saya. Mohon maaf jika ada salah kata. Terima kasih.

Salam

Merry Pramono

Di Balik Layar

Fashion tent yang menjadi ajang pentas utama di Jakarta Fashion Week 09/10 punya banyak cerita di balik fungsi utamanya, sebagai tempat penonton melihat hasil karya para desainer. Kapasitas bangku panjang yang berundak-undak mampu menampung 600 orang. Ini tidak termasuk tempat khusus untuk wartawan foto yang ada segaris dengan catwalk.

Pencahayaan menurut saya cukup maksimal. Ada 10 lampu tembak utama yang mengarah ke cat walk. Ada 108 lampu pembantu yang sepertinya bisa menghasilkan cahaya meriah tapi dalam JFW 09/10 tidak pernah digunakan. Delapan lampu yang tersebar di ujung-ujung ruangan adalah yang paling semarak karena bisa menyorot cahaya panjang yang berwarna dan juga punya kemampuan berjoget ria.

Layar besar di pangkal cat walk adalah satu-satunya hiburan kalau show ditunda karena para unsur pentas yang belum komplit atau karena penonton belum kumpul. Layar bisa terbelah vertikal menjadi empat bagian. Biasanya, para model keluar dari belahan-belahan layar itu. Waktu layar terbelah, gambar yang sedang diputar di layar ikut terbelah, wow… Baru kali ini saya ngeliat yang beginian (*Iqbal Norak).

Kertas A4 bertuliskan “Pers” banyak ditempel di podium kursi paling ujung. Pers selalu mendapat tempat spesial dalam JFW. Tidak jarang, pers diberikan jalur masuk khusus ke fashion tent, jadi tidak perlu mengantri seperti pengunjung lain. Setelah show pun, selalu pers diberi kesempatan bertemu para desainernya langsung. Tidak sedikit desainer yang memberikan goodie bag berisi macam-macam aksesoris.

Namun, podium pers tidak selalu menyenangkan. Kamera dari panitia yang dilengkapi dengan semacam tiang sepanjang 5 meter (entah apa namanya) suka mengganggu kursi yang dikhususkan buat pers. Tiang itu bergerak ke sana kemari. Kalau tidak hati-hati, batok kepala bisa beradu dengan tiang besi itu.

Wartawan foto menjadi unsur yang paling cepat hadir di tempat. Mereka mendapat tempat khusus di ujung, segaris dengan cat walk, tentunya supaya gambar yang didapat bisa maksimal. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke tempat khusus ini, blogger yang mau ikut motret juga tidak diperkenankan.

Mereka suka sekali mengeluarkan celotehan yang membuat penonton tertawa. Apalagi kalau ada penonton yang melintas di ujung cat walk, maka keluarlah apa yang bisa keluar dari mulut, cacian, serapah jenaka, dan ungkapan kekesalan lain. Mereka juga riuh kalau sang model berbusana minim. Haha. Betul-betul bonus hiburan di fashion tent dari mereka.

Delapan Talenta Gemilang dalam Dewi Fashion Knight

Bisa dibilang, ini adalah acara yang paling ditunggu-tunggu dalam Jakarta Fashion Week 09/10, Dewi Fashion Night. Banyak wartawan yang membicarakannya sejak beberapa hari lalu. Wajar saja, mereka yang akan manggung adalah delapan desainer yang sudah hebat atau yang baru hebat. Lenny Agustin yang termasuk baru hebat. Show Lennor (brand dari Lenny) yang paling saya tunggu. Tapi, lagi-lagi blogger tidak diberi kesempatan meliput acara yang paling ditunggu-tunggu ini. Terpaksa deh, Cuma bisa lihat fotonya besok.

The Soul of Modernism menjadi tema besar Dewi Fashion Knight. Berikut saya coba review para desainer yang terlibat satu per satu. Biarlah tidak bisa melihat langsung, harus puas hanya dengan mendengar penjelasan mereka dan foto karya mereka.

Ali Charisma. Mendengar cerita panjangnya, mengingatkan pada Agnes Monica. Keinginannya untuk go internasional begitu besar. Sudah Sembilan musim terakhir, ia rutin ikut Hong Kong Fashion Week. Charisma menggabungkan gaya Eropa dengan unsur Indonesia.

Barli Asmara belajar dunia mode secara otodidak. Ia khas dengan rancangan kreasi tangan seperti origami dan kerajinan. Kekhasan lain dari Barli adalah permukaan bertekstur dalam menyuguhkan gaya modern dan edgy pada desain-desainnya.

Deden Siswanto yang merupakan ketua APPMI Bandung selalu melahirkan karya-karya penuh budaya yang imajinatif. Ia terkenal rajin dalam riset sebelum berkarya.

Denny Wirawan merupakan salah satu lulusan Lomba Perancang Mode. Busana berbahan kain tenun Indonesia atas kerja sama dengan Citra Tenun Indonesia karyanya sudah sampai ke Paris dan Milan. Bukti eksistensinya di dunia internasional.

Lenny Agustin yang beberapa hari yang lalu menguasai fashion tent sendiri juga masuk hitungan dalam Dewi Fashion Knight. Nuansa ceria dan playful selalu menjadi cirri khasnya. Batik, lurik, dan tenun dikembangkan dalam karyanya, bukti Lenny ikut mengembangkan budaya nusantara.

Salah satu karya Lenny. Dok: JFW 09/10.

Oka Diputra berciri khas pada kesederhanaan ornamentasinya. Ia lebih memfokuskan pada siluet bervolume. Lebih mengandalkan teknik ikat mengikat dan membatasi penggunaan ritsleting dan kancing.

Siapa yang tidak kenal nama Oscar Lawalata? Ia ikut memeriahkan fashion tent malam ini. Oscar selalu menggali tradisi Indonesia.

Salah satu karya Oscar Lawalata

Sally Koeswanto yang merupakan lulusan The White Fashion House Design School, Sydney, dikenal dengan eksplorasinya yang menantang. Dinamis, sensual, dan provokatif adalah gambaran desain-desainnya.

Kain Indonesia dalam LPM

Femina Group setiap tahunnya mengadakan Lomba Perancang Mode (LPM). Lomba fashion yang selalu ditunggu-tunggu ini cukup sibuk di hari ke-6 Jakarta Fashion Week 09/10. Eksplorasi kain Indonesia dipilih menjadi tema besar LPM tahun ini dengan harapan para desainer muda berbakat yag terpilih ini akan terus mengembangkan kekuatan kain Indonesia, terus dieksplorasi sehingga tidak mati. Mereka dibebaskan untuk mengeksplorasi segala jenis kain Indonesia, termasuk batik, tenun, lurik, dan songket.

Para finalis rata-rata berumur 23 tahun. Di tangan merekalah ke depannya fashion Indonesia akan dikembangkan. Mereka membuat kain-kain Indonesia menjadi karya desain yang kontemporer, chic, dan stylish. Kreatifitas dan desain inovatif sarat bermunculan.

Kesepuluh finalis itu adalah Albert Garry Yanuar (tema:Pelangi Khatulistiwa), Bethania Agustha Tamsir (Mood Swing), Elizabeth Myra Juliarti (Culture Rocks!), Kursien Karzai (Save the Forest!), Reviansyah Al Hamidi (National Trasure), Vonni Chyntia Kirana (Indonesian Beauty), Denise Kristi Trisna (Contradictive), Vinora Ng (Edito), Galih Prakarsa (Maha Dewata), Imelda Kartini (Impossible-Possible).

Sebelum kesepuluh finalis manunjukkan tajinya, ada beberapa alumni LPM yang memperlihatkan karyanya, yaitu Billy Tjong (pemenang kedua dan favorit 2005), Eny Ming (pemenang pertama 2007), Zacky Gaficky (pemenang kedua 2007), dan Hian (pemenang favorit 2007). Simpel. Itu penilaian saya untuk mereka berempat.

Saya suka dengan ide Albert di busana terakhir. Di tengah show, si model melepas lapisan luar rok panjangnya lalu dijadikan jubah. Mantap idenya. Desainnya yang banyak menggambarkan pura di Bali juga unik dengan kombinasi warna-warna cerah.

Bethania punya gaya sendiri. Dia campur gaya punk di pinggir jalan dengan kain anak remaja yang abis sunatan. Damn! Gila banget idenya. Saya dibuat merinding. Kostum khas anak punk yang compang-camping dicapur dengan motif kain sarung yang biasa dipakai anak-anak pedalaman setelah sunat (kalo anak kota kan gak pake sarung). Bethania favorit saya! Dia konsisten banget dengan tema yang dia usung.

Bethania diapit dua modelnya. Dok: JFW 09/10.

Elizabeth mengeksplorasi kain Sasirangan. Jadi ingat Kalimantan Selatan. Kain ini top banget dari Kalsel. Backsoundnya lagu Kota Baru, pas banget! Oh Kota baru! Bikin gemetar.

Vinora Ng yang baru berumur 20 tahun mengangkat kain tenun tradisional Sulawesi Utara. Dia juga terinspirasi dari makhluk-makhluk dalam laut. Desain-desainnya simple dan ready to wear.

Karya terakhir dari desainer terakhir, Imelda Kartini, mendapatkan banyak tepuk tangan. Susah menjelaskan di mana hebatnya. Mudah-mudahan dapat fotonya. Desainer terakhir ini juga favorit saya. Kental sekali unsure kain Indonesia yang dia bawa.

Sepertinya hanya di ajang inilah bisa ditemukan kain songket Makassar sebagai gaun 2 in 1, kain sarung bergaya kimono, kain lurik model ponco, modifikasi kain tenun Bali yang mewah, sampai kain Papua.

Mereka dinilai oleh para juri yang sudah tidak asing lagi namanya di dunia fashion, yaitu Sebastian Gunawan (desainer), Ninuk Mardiana Pambudy (wartawan senior mode), Timur Angin (fotografer), dan Agni Pratista (artis). Mereka yang menentukan siapa pemenang yang mendapatkan beasiswa sekolah fashion di Los Angeles selama 3 bulan dan uang tunai 3 ribu USD.

Selain juara yang dipilih oleh dewan juri, ada juga juara favorit. Sebelum-sebelumnya, juara favorit cuma berdasarkan suara penonton yang hadir. Kalau sekarang ada juga lewat vote di facebook dan juga SMS. Untuk SMS hanya dibuka satu jam menjelang penentuan pemenang.

Bagian ini yang menurut saya gak penting. Karena yang namanya voting, selama Cuma satu komunitas saja yang mengerti, pasti ujung-ujungnya Cuma banyak-banyakan teman. Tepat dugaan saya, saat show belum dimulai pun, orang-orang di sekitar saya sudah bicara kapan mereka akan SMS supaya masuk hitungan dewan juri. Pasti mereka adalah teman-teman dari salah satu finalis. Tapi, ya sudahlah, yang penting bukan juara terbaik yang ditentukan lewat voting.

LPM selalu menghasilkan lulusan-lulusan yang berkompetensi tinggi di dunia fashion. Maka kita patut berterima kasih pada Femina sebagai motor LPM. Semoga desainer-desainer muda berbakat ini akan terus konsisten mengeksplorasi kain tradisional nusantara.