Arsip untuk Oktober, 2015

22
Okt
15

Masyarakat Cinta Produk Murah

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Ketika dihadapkan dengan pilihan produk lokal dan produk impor, segolongan besar masyarakat masih sangat memperdulikan harga, tidak peduli dengan siapa pihak dibalik produk tersebut. Daya beli yang rendah masih menjadi masalah utama bagi sebagian besar konsumen Indonesia. Apakah fenomena ini tidak mempunyai efek yang berarti?

Tidak sulit menemukan produk-produk buah impor di Indonesia. Baik pasar becek maupun pasar modern, hampir semuanya menjajakan produk buah impor di samping produk buah lokal. Konsumen menanggapinya dengan banyak cara. “Kecenderungan masyarakat Indonesia melihat produk luar itu lebih menarik dan lebih bergengsi itu masih kuat. Tapi ada juga kelompok masyarakat yang karena tidak punya pilihan lain, maka di membeli produk yang mampu dia beli saja,” kata Husna Gustiana Zahir, ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Senada dengan pernyataan tersebut, Hartoyo, ahli perilaku konsumen dari IPB, mengatakan bahwa konsumen Indonesia lebih suka dengan produk-produk luar negeri. “Problemnya memang kadang-kadang harganya, rasanya, mungkin juga karena gengsinya. Orang membeli produk luar itu terlihat lebih bergengsi,” katanya.

Tentunya ini menjadi kabar buruk bagi produsen lokal. Konsumen Indonesia justru lebih condong ke produk impor. “Keadaan ini tidak baik bagi Indonesia untuk ke depannya karena bisa mematikan produsen lokal. Selain itu, claim untuk produk-produk impor juga sulit dilakukan. Memang importir bertanggung jawab, tapi tidak langsung ke produsennya,” jelas Husna. Ia juga mengatakan bahwa risiko keamanan produk impor, terutama buah dan sayur, juga tinggi. “Kita harus hati-hati dengan residu pestisida yang ada dalam buah-buah impor tersebut,” katanya. Jadi, jelas produk buah impor bisa memberikan efek negatif tidak hanya bagi produsen lokal saja tapi juga konsumen lokal. Sayangnya, masyarakat tidak terlalu ambil pusing dengan itu. Yang penting di masyarakat bagaimana supaya bisa mendapatkan produk murah.

Berlawanan dengan Husna dan Hartoyo di atas, menurut Gardjita Budi, Direktur Pasar Domestik PPHP, Deptan, pandangan kesadaran akan pentingnya produk dalam negeri itu positif. Selain itu, konsumen Indonesia tidak mempunyai pilihan lain. Produk impor memang bagus, tapi harganya tidak sesuai dengan daya belinya. “Kedua alasan tersebut membuat saya optimis kecenderungan untuk mencintai produk dalam negeri semakin membaik,” kata Gardjita.

Hasil investigasi di lapangan memang sesuai dengan pernyataan Gardjita. Jeruk mandarin pada awal bulan Agustus ini sulit ditemukan di pasar becek di daerah Bogor. Mau tidak mau, masyarakat membeli jeruk Medan.

Produk durian juga demikian, di pasar-pasar becek, yang masih menjadi pasar utama di Indonesia, sulit ditemukan durian-durian impor. Harga durian impor memang sangat jauh di atas harga durian lokal, demikian juga dengan mutunya. Durian impor baru dapat ditemui di supermarket-supermarket besar. Hal ini juga menjadikan konsumen durian Indonesia terpaksa membeli durian lokal karena memang cuma itu yang mampu dibelinya. Hanya golongan menengah ke atas yang mampu membeli durian impor.

Berbeda jauh dengan produk-produk pertanian di pasar modern. Foodmart di sebuah tempat perbelanjaan di Bogor menjajakan banyak produk buah segar impor. Salah satunya adalah apel. Produk-produk apel impor seperti apel Fuji dari Jepang, apel Australia, dan apel Guandong dari Cina mudah sekali didapatkan di Foodmart. Di tempat lain, Pasar Induk Kramat Jati, pedagang lebih banyak mengambil apel Fuji dan apel Guandong. Hal ini mengindikasikan memang permintaan akan produk olahan impor tersebut cukup tinggi.

Untuk beberapa komoditas buah memang wajar Indonesia impor karena untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri masih belum mampu. “Produk apel impor beredar di mana-mana memang wajar. Tapi kalau produk-produk impor tersebut bisa kita tanam sendiri seperti pisang dan jeruk maka kita harus bergegas memperbaiki diri,” kata Gardjita.

Selain produk segar, produk olahan impor juga mudah sekali didapatkan di Foodmart, seperti susu, jus, dan yoghurt. Ketiga produk ini harganya jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan produk sejenis buatan lokal.. Namun, karena harganya yang bisa berlipat-lipat dibandingkan produk lokal, jadi produk olahan impor ini hanya dibeli oleh golongan masyarakat dengan tingkat ekonomi trertentu saja.

Permasalahannya sekarang, Indonesia sudah terlanjur masuk ke dalam liberalisasi perdagangan. Sehingga tidak sulit bagi produk-produk luar untuk masuk ke Indonesia. menurut Hartoyo, banyaknya produk-produk impor, dalam hal ini buah impor itu akan menciptakan permintaan yang berlanjut untuk ke depannya. “Yang saya lihat adalah fenomena supply create demand,” katanya.

Handito Hadi Juwono, pengamat produk-produk Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia sudah kebablasan dalam melakukan liberalisasi perdagangan. “Cobalah kita stop sejenak liberalisasi, paling tidak sampai 2009. Berdayakan produk lokal dahulu, baru setelah itu silakan kalau mau digenjot lagi,” tuturnya.

Pemberdayaan produk lokal bisa dilakukan dari dua sisi, produsen dan konsumen. Produsen memperbaiki kualitas produknya sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat. Konsumen menumbuhkan kecintaan akan produk-produk dalam negeri.

Perbaiki Kualitas

Jalan yang paling rasional dalam menanggapi konsumen rasional adalah dengan memperbaiki kualitas. Memang mudah dikatakan tapi sulit dilaksanakan. Menurut Gardjita, peningkatan kualitas produk-produk Indonesia memang nyata adanya. “Sudah terbukti dari statistik bahwa produktivitas dari sebagian besar produk pertanian kita meningkat. Produksinya juga jadi meningkat. Kalau produktivitasnya meningkat maka harga akan lebih bersaing,” katanya. Sayangnya, pencapaian peningkatan kualitas produk Indonesia tidak secepat pencapaian negara-negara lain. “Ya, memang kita harus lebih giat lagi dalam meningkatkan kualitas produk,” kata Gardjita.

Selain dengan peningkatan kualitas, produsen lokal juga bisa berkontribusi dalam mengusung kecintaan akan produk dalam negeri dengan memasang semacam quote cinta produk dalam negeri seperti pencantuman bahaya merokok dalam kemasan rokok.

Nasionalisme juga bisa terjadi di tingkat produsen. Hotel Sovitel milik Perancis yang ada di Australia mau repot-repot mengimpor air mineral Avian dari Perancis. Padahal, kalau dihitung-hitung, akan lebih mudah jika Sovitel membeli produk air mineral dari Australia. “Ini salah satu bukti bahwa nasionalisme itu ada di dunia bisnis. Kalau sovitel mempromosikan Avian, berarti dia mempromosikan Perancis dan dirinya sendiri,” jelas Handito.

Perlu Preferensi

Kebijakan-kebijakan dari pemerintah juga diperlukan untuk membela produk-produk lokal. Handito mengatakan bahwa memunculkan preferensi produk-produk Indonesia itu perlu dilakukan. “Bentuknya misalnya kalau tidak perlu diliberalisasi ya tidak usah diliberalisasi. Kalau tidak ada alasan kuat untuk impor, seharusnya menjaga produk Indonesia agar tetap hidup itu harus dilakukan. saya ingin katakan ini bukan berarti proteksi, tapi preferensi. Dalam kasus ini, di negara manapun preferensi itu perlu,” kata Handito.

Negara-negara lain juga melakukan kebijakan-kebijakan non tarrif barrier untuk melindungi produk-produk lokalnya. Negara-negara liberal saja masih memproteksi produk-produk mereka. Tidak hanya preferensi, tapi proteksi pasar produk lokalnya. Kembali keberpihakan pada produk lokal harus dimunculkan.

Gardjita berpendapat lain. Menurutnya, kebijakan pemerintah harus mencakupi seluruh kepentingan yang ada di dalamnya. Tugas pemerintah meminimalisir yang dirugikan dan memaksimalkan yang diuntungkan. Keberpihakan pemerintah terlihat pada posisi ini.

Konsumen Harus Ikut Andil

Kecintaan akan produk dalam negeri juga perlu ditumbuhkan dari pihak konsumen. Dengan kampanye-kampanye cinta produk dalam negeri memang itu bisa dilakukan. tapi, menurut Hartoyo, cara yang paling efektif adalah dengan mengajarkan kepada anak sedini mungkin. “Anak dalam keluarga sangat menentukan dalam pembelian,” kata Hartoyo. Sehingga memang seharusnya anak diajari tentang produk dalam negeri kalau berbelanja ke supermarket. Jadi, kalau orang tua secara kontinu mengajarkan tentang kecintaan produk-produk Indonesia, maka dia akan terbiasa membeli produk Indonesia.”Si anak bisa ditanamkan sejak dini melalui contoh atau cerita-cerita yang berkaitan dengan kecintaan terhadap produk dalam negeri.

Produsen juga kadang mendapatkan posisi sebagai konsumen. Bahan-bahan baku yang dipilih oleh produsen bisa produk lokal bisa juga produk impor. Handito juga menegaskan pada para retailer untuk lebih memunculkan produk dalam negeri. “Hipermarket-hipermarket asing yang hidup di Indonesia ya mbo’ sadar kalau dia hidup di Indonesia. kalau sadar, ya tolong berikan kesempatan hidup produk-produk Indonesia, termasuk yang memakai merk-merk Indonesia. jangan semuanya dijejali dengan merk-merk asing.”

Kurang Bergaung

Dua tahun yang lalu, beberapa elemen pemerintah sudah membentuk sebuah Gerakan Nasional Gemar Produk Indonesia. Pemikiran yang ada di dalamnya sudah rinci sekali mengonsep puluhan program untuk meningkatkan kecintaan masyarakat akan produk lokal.

Ada lima kerangka konseptual yang diusung di dalamnya, yaitu membangun kecintaan pada Indonesia, meningkatkan kualitas, memperbaiki produktivitas, membangun dari merk dan kemasan, serta melakukan kampanye terpadu.

Namun, ternyata gerakan tersebut tidak semulus yang diharapkan. Menanggapi tentang keberadaan Gerakan Nasional Gemar Produk Indonesia, Hartoyo merasa gerakan ini kurang efektif. “Terus terang saja, saya tidak tahu apa yang dilakukan di situ, apa hanya slogan saja?” kata Hartoyo. Hal serupa juga disampaikan Husna, “Sebagai suatu kesadaran kolektif kita belum tercapai, tapi dari individu-individu memang sudah banyak.”

Memang ini merupakan PR kita bersama, konsumen, produsen,dan pemerintah. Konsumen dapat menyokong program ini dengan lebih memilih produk lokal. Produsen memperbaiki kualitas. Pemerintah memberikan preferensi kepada produk lokal.

15
Okt
15

Bandeng, Bangkit Di Saat Udang Terpuruk

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Ikan Bandeng. Dok: www.djpb.kkp.go.id

Ikan Bandeng. Dok: http://www.djpb.kkp.go.id

Insting, satu-satunya andalan nelayan Indonesia saat ini. Tidak ada pegangan yang kuat tentang budidaya apa yang baik yang bisa dijadikan mata pencaharian seterusnya. Semua bergantung pada pasar dan insting si nelayan. Dulu, pantai utara pulau Jawa dipenuhi oleh tambak bandeng. Ketika harga udang bagus, nelayan beralih ke udang. Pantura penuh tambak udang. Sekarang, potensi udang menurun sehingga Bandeng mulai dilirik lagi.

Dulu, memang Indonesia terkendala dalam pembibitan bandeng. Masyarakat pada era sebelum 90an hanya mengandalkan bibit bandeng alam, artinya hanya mendapatkan bibit bandeng dari hasil tangkapan nener yang terbawa aus ke pinggir pantai, sangat tradisional. Tapi sekarang teknologi pembibitan buatan sudah diketahui dan sudah banyak dilakukan. ”Sekitar tahun 90an kita sudah mengenal usaha pembenihan buatan. Nelayan memelihara bandeng di tambak, kemudian dibesarkan. Ketika mencapai panjang tertentu, bandeng dipindahkan ke jaring di laut sampai bertelur. Setelah teknologi ini banyak dilakukan, baru benih bisa melimpah seperti sekarang,” kata Enang Haris, dari Budidaya Perikanan, IPB.

Benih yang mudah didapatkan menambah daftar panjang penyebab nelayan banyak memelihara ikan bandeng, yaitu rasanya yang cukup digemari masyarakat, nilai jualnya yang tinggi, dan tahan terhadap penyakit.

Diferensiasi Produk

Tadinya masyarakat hanya mengembangbiakkan bandeng untuk dikonsumsi saja. Sekarang, bandeng bisa dijual dalam beberapa varian umur. Setelah bibit bandeng, atau biasa disebut nener, yang hanya sebesar jarum dipelihara sampai panjangnya sekitar 2 cm, ikan bisa langsung dijual. Bandeng seukuran ini biasa disebut sisiran. Ketika dipelihara lebih lama lagi, ikan membesar menjadi fingerlink. ”Sisiran dan Fingerlink ini lumayan laku untuk dijual di pasaran,” kata Enang. Bandeng umpan akan terbentuk ketika pemeliharaan diteruskan. Panjangnya sekitar 12 cm. Setelah dibudidayakan lagi, baru menjadi bandeng konsumsi.

Dinamakan bandeng umpan karena memang digunakan untuk umpan pemancingan ikan tuna. ”Tahun 2004 bisa dibilang menjadi tahun emas bagi nelayan bandeng karena permintaan bandeng umpan melejit. Nelayan menjualnya ke muara baru. Kemudian dari tempat itu, kapal-kapal penangkap ikan membelinya untuk umpan,” tutur Enang. Namun, beberapa tahun terakhir ini, permintaan bandeng umpan menurun. Menurut Enang, ada dua penyebab. Pertama penangkapan ikan yang menggunakan bandeng umpan menurun. Kedua, perputaran uang dalam penjualan bandeng umpan ini kurang lancar, sehingga nelayan bandeng merasa dirugikan.

Untuk bandeng konsumsi, terkenal sekali produk bandeng presto. Bandeng yang banyak mengandung duri kecil di dalam dagingnya sering kali membuat konsumen kesal. Berbagai proses dilakukan untuk menghilangkan duri kecil tersebut, lahirlah produk bandeng presto ini. Ada juga bandeng asap yang menjamur di daerah Surabaya dan pindang bandeng yang banyak ditemui di daerah Bandung.

Konsumsi bandeng meningkat cukup tajam ketika perayaan Imlek. Bandeng dijadikan makanan istimewa oleh etnis Cina ketika hari besar itu. Tapi, berbeda dengan bandeng konsumsi biasa yang biasanya berbobot 200-300 gram. Bandeng konsumsi pada waktu imlek berbobot lebih dari 1 kg. Harga bandeng tersebut mencapai 25 ribu/kg, sedangkan bandeng konsumsi biasa harganya sekitar 12 ribu/kg.

Teknologi Kurang Visible

Bandeng digemari karena rasanya gurih dan tidak asin seperti ikan laut. Kendala pengolahan Bandeng ada dua, yaitu berbau lumpur dan duri yang banyak. Penghilangan duri dapat dihilangkan dengan panci bertekanan tinggi (presto atau autoklaf). Setelah proses ini, duri akan menjadi lunak sehingga dapat sekaligus dikonsumsi bersama dengan dagingnya. Sedangkan untuk mengatasi bau lumpur, masyarakat banyak yang merendamnya dengan air cuka. ”Sebetulnya, bau lumpur dapat dihilangkan hanya dengan memberikan arus ke dalam kolam sekaligus dengan memuasakan ikan, artinya tidak usah diberikan makan. Dengan begitu, geosmin, bahan yang membuat bau lumpur akan ikut hilang bersamaan dengan terbakarnya lemak,” jelas Enang.

Teknologi ini sudah digunakan dan dipatenkan oleh Malaysia. Alat ini digunakan di restoran-restoran tertentu. Ikan hidup dimasukkan ke alat berarus tersebut, dalam beberapa jam bau lumpur akan hilang.

Penelitian untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas sudah banyak, tapi sayangnya tidak semua dapat diaplikasikan. ”Kita banyak mempunyai hasil-hasil penelitian yang dapat mendukung peningkatan kualitas. Di balai-balai penelitian juga banyak. Cuma sayangnya, kebanyakan hasil penelitian tersebut hanya sebatas lab, artinya, kurang memikirkan aspek ekonomi skala sesungguhnya. Selain itu, penyampaian informasi kepada nelayan juga kurang,” tutur Enang.

Butuh Paksaan

Konsumsi bandeng rata-rata penduduk Indonesia sebesar 1,35 kg/kapita/tahun. Ekspor dan impor bandeng belum dilakukan. Ini berarti produksi dan konsumsi bandeng berputar hanya di negeri sendiri. Angka ini sebetulnya masih bisa didongkrak lagi. Sebuah penelitian mengatakan bahwa konsumsi ikan, termasuk bandeng, tidak meningkat ketika pendapatan meningkat. Konsumsi ikan baru meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah orang yang makan di luar rumah. Peningkatan jumlah karyawan kantor, mahasiswa, dan rumah sakit akan memicu peningkatan konsumsi ikan yang berarti dibutuhkan juga peningkatan produksi.

Tidak ada salahnya jika menu ikan dimasukkan dengan paksa ke konsumen. Ini dilakukan demi memperbesar konsumsi dan produksi ikan dalam negeri. ”Secara umum, masyarakat mengonsumsi ikan karena terpaksa. Tapi setelah mencoba beberapa kali malah mencari ikan. Jadi, untuk mendongkrak konsumsi ikan memang sulit di awalnya, harus ada paksaan,” jelas Enang. Menurutnya, hal ini bisa diawali dengan memasukkan menu ikan lewat jasa boga yang biasanya menyediakan makanan bagi karyawan-karyawan pabrik. ”Salah satu pabrik besar yang pernah saya wawancarai hanya memberikan menu ikan sekali dalam tiga minggu. Dengan bobot ikan 80 gram per saji. Dari sini saja bisa kita dongkrak. Dengan paksaan makan ikan tersebut, maka konsumsi ikan nasional akan meningkat,” katanya lagi.

13
Okt
15

Pertanian, Lingkungan, dan Politik

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Pertanian bak artis lokal yang timbul secara tiba-tiba, dielu-elukan namanya dalam jeda waktu tertentu. Namun, tidak lama kemudian, ia ditinggalkan kembali. Muncul lagi, lalu tenggelam lagi. Sayangnya, periode munculnya pertanian jauh lebih sedikit daripada periode tenggelam. Pemilu kali ini bisa dibilang sebagai momen munculnya pertanian. Menjadi semakin heboh karena pesta demokrasi kali ini melibatkan lebih banyak partai. Pertanyaannya, apakah pertanian akan kembali ditinggalkan setelah pemilu usai?

Kalau diperhatikan, banyak iklan di media massa yang menjadikan pertanian sebagai pijakan. Ada yang mengaku maju atas nama petani dan akan membela petani habis-habisan. Ada yang mempunyai misi utama menjadikan produk-produk pertanian (sembako) murah. Bahkan, ada juga yang memperebutkan pengumuman prestasi yang sudah dicapai di belakang.

Bisa kita lihat dari iklan-iklan tersebut, bahwa pertanian memang penting untuk diangkat. Tidak mengherankan kalau ini menjadi penting karena lebih dari separuh penduduk negeri ini bergerak di bidang pertanian. Angka yang sangat signifikan untuk mendongkrak suara pada pemilu.

Namun, apa betul iklan-iklan tersebut dapat menarik hati masyarakat pertanian? Usnadi, seorang ketua kelompok tani dari desa Cibatok, Bogor, mengatakan bahwa sama sekali dia tidak tertarik dengan iklan-iklan yang menyebut-nyebut petani itu. Hatinya tidak akan bergerak hanya karena iklan tersebut menyebut-nyebut kaumnya. Begitu pula dengan teman-teman sesama petani di daerahnya. “Mereka itu kan menyebut kita kalau ada butuhnya saja, untuk keuntungan mereka saja. Kalau sudah jadi, petani akan kembali seperti biasa, sulit,” katanya. Usnadi lebih tersentuh kalau ada partai yang betul-betul turun langsung ke petani, sayangnya tidak ada satupun yang intensif turun ke petani di daerahnya. Padahal, petani di desa Cibatok terkenal maju dan punya kemajuan untuk lebih maju lagi.

Bedah Parpol

Menurut Didin S Damanhuri, pengamat ekonomi pertanian dari IPB, ada sebagian parpol yang sudah memandang pertanian sebagai basis (platform) atau prioritas dalam visi mereka. Sebagian lagi berbicara bahwa pertanian itu penting, tetapi hanya salah satu bagian dari strategi pembangunan secara keseluruhan atau sektoral saja. “Namun menurut pandangan saya, kiranya sebagian besar parpol masih menganggap pertanian sebagai salah satu sektor dalam pembangunan.”

Artinya, sebagian besar parpol masih akan bertindak mirip sistem yang dijalankan saat ini. Tentu saja parpol-parpol tersebut tidak mau disamakan dengan pemerintahan yang sekarang. Mereka berjanji akan bisa menunjukkan prestasi yang lebih baik lagi. Kemudian mengajukan beberapa konsep untuk mencapai itu.

Sayangnya tidak ada yang tahu apakah konsep tersebut applicable atau hanya akan menjadi tumpukan kertas saja. Jangan-jangan nasibnya akan seperti RPPK (Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan) yang hanya bisa berbangga di komoditas beras, selebihnya belum bisa dikatakan mencapai target. Maka, sikap apatis petani seperti yang diungkapkan Usnadi akan menjadi wajar

Mengenai konsep pertanian yang dibangun oleh think tank parpol, menurut Didin, ada parpol yang sudah memandang pembangunan pertanian di Indonesia ini secara komprehensif dan mendasar, sekaligus mengkritik bahwa strategi pembangunan saat ini salah arah (missleading) dan lebih bersifat Neo-Liberal, seperi yang disampaikan oleh Suharso Manuarfa (Bendahara Umum PPP). Ada juga yang sudah berulang-kali menyampaikan kepada masyarakat di media, dia (parpol) akan mengubah sistem ekonomi yang sekarang menjadi ekonomi kerakyatan dan mengarah ke resource-based development (mis: Prabowo dari GERINDRA).

“Dari sini saya melihat ada tiga kategori, pertama ada yang menganggap pertanian itu sangat penting dalam artian bersifat ideologis dan mendasar, dan  melakukan kritik terhadap strategi pembangunan sekarang. Kedua, ada yang menganggap pertanian itu penting sebagai basis pembangunan, tetapi tidak melakukan kritik terhadap strategi pembangunan yang berlangsung, hanya akan lebih bersifat menekankan dan tidak berencana melakukan perubahan secara radikal. Ketiga, ada yang menganggap penting saja, bersama-sama dengan parpol-parpol lainnya. Dilihat berdasarkan parpol-parpol yang saat ini mendominasi sebagian besar suara, saya kira hanya berpandangan pertanian lebih penting saja (kategori ketiga). Diantaranya dengan lebih mendorong swasembada pangan, meningkatkan anggaran, dan lain-lain.”

Masih menurut Didin, negara-negara yang memiliki sumberdaya alam sedemikian besar seperti Amerika, Perancis, New Zealand, seperti hal nya Thailand dan Indonesia seharusnya menitik-beratkan pembangunannya pada industri yang berbasis sumberdaya alam atau resource-based industrialization, dengan demikian yang disebut dengan ekonomi rakyat itu sudah included didalamnya. Artinya, rakyat menjadi pelaku aktif. Dengan begitu tidak ada kontradiksi pertanian terkorbankan untuk mengejar pertumbuhan (growth). Jadi, dari segi kebijakan fiskal, kebijakan moneter, kebijakan perbankan, kebijakan pasar modal, tata ruang dan sebagainya diatur pada daya saing yang berbasis industri pertanian. Kenapa? Karena negara kita kaya akan sumberdaya alam, rakyatnya juga sebagian besar bergerak di bidang itu (pemanfaatan SDA), sehingga seluruh sumberdaya dialokasikan untuk menggenjot daya saing. Oleh karena itu, selanjutnya tidak ada lagi backward-kaitan ke belakang kepada bahan baku maupun forward-kaitan ke depan untuk pengolahan tidak akan lagi meninggalkan persoalan ini. Bahkan, pertanian menjadi sangat penting peranannya.

Dari iklan yang ada di media massa, jelas terlihat satu partai yang mengatakan akan betul-betul menjadikan platform pertanian di garda terdepannya. Namun, Didin punya pandangan sendiri, “Dalam hal ini, saya tidak memihak kepada siapapun karena saya bukan orang partai. Kalau memang benar Prabowo (GERINDRA) dengan iklan-nya itu, mestinya ia bisa merinci hal-hal yang saya sampaikan tadi, tidak sekedar ngomong. Jangan mengabaikan pertanian small-scale, medium-scale. Apalagi dia mengatakan pembangunan sekarang ini bersifat Neo-liberal yang berbasis pada pemegang modal. Arus modal yang besar, yang justru saat ini lebih dominan mengalir di bidang-bidang non-agro. Jangan lupa kalaupun kita mengundang PMA dan mengambil teknologi tinggi di bidang pertanian, jangan sampai jatuh menjadi neo-kapitalisme agro. Jadi, industrinya berbasis agro tapi rakyat ditinggalkan, tidak, bukan begitu juga. Karena itu, kita harus berpegang pada konstitusi. Pasal 33 dalam UUD 45 itu menekankan adanya kontrol negara. Nantinya negara harus lebih memiliki peranan, seperti ada monitoring devisa, ada kewajiban devisa itu disimpan di bank-bank Indonesia.”

Lingkungan Terancam Semakin Terpuruk

Pertanian sangat erat kaitannya dengan lingkungan. Menjaga lingkungan berarti menjaga pertanian tetap sustainable. Jangan sangka kalau lingkungan itu hanya sekedar air dan pencemaran saja. Itu hanyalah sebagian kecil dari cakupan lingkungan. Keadaannya sekarang, lingkungan Indonesia semakin rusak. Menurut Suryo Hadi Wibowo, aktivis dan pengamat lingkungan, hal itu disebabkan karena keputusan politik yang salah. “Kerusakan lingkungan terjadi karena kebijakan politiknya yang bertujuan untuk memenuhi kantong-kantong pendapatan asli daerah atau juga untuk partai yang mengusung dia. Yang paling gampang untuk menutupi pundi-pundinya ya dari sumber alam. Sumber alam sudah tersedia, tinggal kasih lisensi saja. Itu yang membuat, setelah saya teliti, 300 Perda dari seluruh pulau Jawa cenderung untuk eksploitasi. Kesimpulan saya, menjelang pemilu ini sumber daya alam makin banyak rusak. Dari mana dia dapat uang? Mungkin dibayarnya setelah pemilu dalam bentuk lisensi atau yang lain. Maka urusan pengurusan sumber daya alam itu urusan politik, bukan urusan teknis.”

Celakanya, kebanyakan dari para pengambil keputusan belum mengerti betul bahwa Perda yang ditelurkannya berakibat buruk terhadap lingkungan. Di situlah masalah yang terbesar menurut Bowo. Nasib lingkungan hidup ke depan akan lebih parah lagi, akan makin banyak kerusakan, terutama Pulau Jawa, karena kebijakannya tidak banyak berubah.

Untuk partai-partai yang ada pada pemilu kali ini, menurut Bowo, belum ada yang menonjol dalam memasukkan misi perbaikan lingkungan dalam pemikirannya. “Ada sebuah partai di Indonesia yang meng-claim dirinya green partij, tapi saya dengar partai itu juga ingin tahu apa sih yang disebut partai hijau. Partai hijau di negara-negara maju begitu lahir langsung naik. Perolehan suaranya tinggi. Di Jerman (Partai Hijau) langsung mendapatkan 14% suara. Kenapa? Karena dia bekerja di rakyat. Lahirnya dari LSM-LSM yang mengadvokasi persoalan lingkungan yang bekerja di rakyat.”

Bagaimana dengan Indonesia? Mengapa tidak mengusung sendiri partai hijau dari kekuatan LSM? Bowo menjawab, “Itu yang mau diikuti teman-teman (aktivis lingkungan), membentuk partai hijau. Pertanyaannya, sudah lama belum berjuang dengan rakyat di bawah?” Saat ini, banyak juga aktivis lingkungan yang masuk ke partai, tapi belum menjadi sebuah gelombang besar. Mereka masuk ke partai yang berbeda-beda.

Bowo dan teman-teman tidak tinggal diam melihat keterpurukan lingkungan ini terus berlanjut. Ia bersama dengan tim Kementerian Lingkungan Hidup berupaya untuk mengarusutamakan pertimbangan lingkungan ke dalam setiap kebijakan. “Sekarang sedang digodok, sudah jadi draft, Kajian Lingkungan Hidup strategis. Itu adalah suatu kajian untuk menjamin supaya pemikiran lingkungan masuk ke kebijakan-kebijakan departemen lain. Dari mulai tata ruang, sektor perhubungan, semuanya. Memang tidak banyak yang tahu tentang itu. Belum banyak yang memahami bahwa persoalan lingkungan itu banyak terletak pada aspek-aspek politik keputusan, politik kebijakan. Itu yg harus kita ungkap terus.

06
Okt
15

Bukan Sekedar Kompos

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Pupuk Organik. Dok: www.banjarwangi.com

Pupuk Organik. Dok: http://www.banjarwangi.com

Tidak dapat dipungkiri lagi, pupuk organik akan menjadi pilihan yang harus diambil. Selain karena ketergantungan produk bahan baku pada produk pupuk kimia akan menjerat Bangsa ini pada pihak luar, tanah yang ada di Indonesia juga mempunyai kadar keasaman yang sudah melewati batas. Sehingga pupuk organik menjadi penting. Apalagi beberapa hitung-hitungan ekonomis mengatakan bahwa pupuk organik akan lebih mensejahterakan petani. Sayangnya, tidak banyak petani yang tahu akan hal itu. Kebanyakan petani hanya tahu pupuk organik adalah kompos.

Sebuah pidato dari Muhammad Hatta di Sekolah Usaha Tani “SUKAMENANTI” pada tahun 1954 dengan tegas dinyatakan bahwa pertanian Indonesia akan didorong untuk berubah. Penggunaan pupuk pabrikan akan ditingkatkan untuk menambah kesuburan tanah. Ketika itu, petani Indonesia boleh dikatakan masih loyal dengan pupuk-pupuk alami yang didapatnya dari kotoran hewan dan berbagai bahan organik lain. Bung Hatta, dalam pidatonya tersebut, menganjurkan petani untuk mengubah cara pemupukan dari alami menjadi kimia.

Setengah abad kemudian, keadaannya kontras berbalik. Pemerintah, LSM, dan akademisi menganjurkan petani untuk kembali ke pupuk organik karena alasan lingkungan, menghindari ketergantungan bahan baku impor pupuk kimia, dan sebagainya. Bermacam pemikiran logis menunjang pengubahan pola pemupukan kimia menjadi organik.

“Sayangnya, pupuk organik yang ada di benak petani hanyalah pupuk kompos,” kata Krisna, seorang Agronomist dari PT. Pupuk Kujang. Padahal ada biofertilizer yang bisa ditambahkan di situ. Ada unsur-unsur yang bisa memperkaya pupuk organik. Dengan pengkayaan tersebut tentunya hasil yang didapat akan jauh lebih baik dibanding hanya dengan pengomposan.

Kemudian, sudah sejak lama petani menggunakan pupuk-pupuk kimia yang beredar di pasaran. Hanya sebagian kecil saja yang menggunakan pupuk organik. Ditambah lagi sulitnya ditemukan pupuk organik di pasaran, kalau adapun harganya akan mahal sekali. Maka semakin menjadi-jadilah kesulitan pengalihan metode dari pupuk kimia ke organik.

Pernyataan di atas disampaikan oleh Putro Santoso, seorang petani di daerah Dramaga, Bogor. Putro menggunakan 100% pupuk organik untuk tanamannya, padi dan sayur. Namun pupuk yang digunakannya bukan berasal dari pasaran, melainkan buatan tangannya sendiri. Dia gunakan kotoran kambing, kotoran ayam, dan beberapa bahan lain. Putro mengatakan, sulit sekali mendapatkan pupuk organik yang sudah jadi di pasaran. “Di toko-toko pupuk memang ada dijual pupuk organik, tapi itu biasanya ditargetkan untuk pembudidaya kembang. Harganya tidak akan masuk kalau kita gunakan untuk padi,” tuturnya.

Bermain dalam Jumlah Besar

Jalan menuju sebuah perubahan selalu berkelok. Demikian pula dengan pupuk organik ini. Butuh jumlah yang sangat besar untuk penggunaannya. Menurut Dwi Andreas Santoso, dari IPB, kalau kita menggunakan sekam yang punya kandungan N sebesar 1%, sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik, maka untuk menyetarakan jumlah N dengan yang ada pada pupuk kimia akan butuh sekitar 5 ton pupuk, dua puluh kali lipat dari jumlah yang dibutuhkan pupuk kimia. Bahkan, untuk pengalihan ke organik saat pertama kalinya akan butuh jumlah pupuk yang lebih dari itu. Maka, dibutuhkan banyak sekali penelitian untuk mendapatkan efisiensi yang lebih tinggi.

Kendala besar lainnya ada pada bahan baku. Tidak mudah untuk mendapatkannya secara berkelanjutan. Juga dari tata cara pencampuran bahan baku itu. “Ada anggapan bahwa semua bahan bisa digunakan padahal kan tidak. Katakanlah sampah rumah tangga yang bercampur dengan makanan dan daging. Itu kan tidak boleh sebetulnya. Tidak selalu semua bisa dicampur,” kata Andreas.

Selain itu, kata Andreas lagi, terkadang pupuk organik dapat menyebabkan penyakit pada tanaman kalau pengomposannya tidak baik. Pengetahuan-pengetahuan inilah yang harus dibagi kepada petani.

Lebih Menguntungkan

Sosialisasi bahwa pupuk organik mempunyai manfaat yang lebih banyak ke petani menjadi suatu hal yang sulit dilakukan karena harus mengubah cara pandang petani yang sudah terbiasa dengan pupuk kimia. Padahal, banyak sekali manfaat yang dapat diambil secara langsung oleh petani. Agak sulit membujuk petani dengan iming-iming keberlanjutan pertanian dan isu-isu lingkungan lainnya. Menurut Krisna, petani harus diberikan contoh langsung yang betul-betul bisa dilihatnya.

Hal itulah yang dilakukan PT. Pupuk Kujang. Ada beberapa tempat yang dijadikan proyek-proyek percontohan penggunaan pupuk organik. Semua itu dengan tujuan memperlihatkan langsung ke petani bahwa penggunaan pupuk organik akan lebih menguntungkan.

Memang, kalau kita melihat biaya produksi pada saat awal pemupukan menggunakan organik akan terlihat lebih mahal. Kalau kita ambil contoh dari produk pupuk Kujang maka pengalihan metode pemupukan dari murni kimia ke campuran organik-kimia, petani harus menambah Rp45.000 dari ongkos beli pupuk. Kalau kita merujuk ke saran pemerintah dalam penggunaan pupuk kimia, petani dianjurkan menggunakan 250 kg urea, 75 kg SP, dan 75 kg KCl dalam setiap Hektar lahannya. Sedangkan kalau kita alihkan ke campuran kimia-organik, yang dibutuhkan adalah 250 kg NPK dan 450 kg organik. Harga pupuk bersubsidi di pasaran untuk kimia sebesar Rp1.200/kg sedangkan untuk organik Rp500/kg. Maka, dengan angka-angka tersebut, kita dapat berhitung bahwa petani harus mengeluarkan Rp480.000/Ha untuk penggunaan pupuk kimia murni. Sedangkan kalau petani menggunakan campuran kimia-organik, biaya beli pupuk menjadi Rp525.000/Ha. Selisihnya adalah nilai investasi petani.

Akan jelas terlihat manfaatnya setelah beberapa kali musim tanam. Krisna mengatakan, hasilnya akan lebih baik secara kuantitas maupun kualitas. Kuantitasnya meningkat, tapi Krisna tidak bisa menyebutkan seberapa besar peningkatannya. Kualitasnya juga meningkat. Warna kuning padi hasil dari penggunaan pupuk campuran kimia-organik berbeda dengan hasil dari pupuk kimia, nilai tampilan ini bisa dirasakan petani secara langsung dengan kenaikan harga sekitar Rp100-Rp150 setiap kg nya. Kalau produktivitas sebesar 5 ton/Ha, maka nilai tambah penjualan lebih dari Rp500.000, jauh lebih besar daripada investasi pupuk sebesar Rp45.000 di atas.

Kujang telah merealisasikan teori-teori hitungan tentang pupuk organic di atas lewat proyek-proyek percobaannya. Krisna mengatakan, bahkan sekarang keadaannya petani mencari pupuk organic. Mereka telah melihat temannya yang berhasil kemudian ingin mencobanya. Petani sangat logis dalam berpikir sehingga ketika ada metode yang membuatnya lebih sejahtera, dengan disertai bukti, maka petani akan ikut.

Manfaat ikutan lainnya, penggunaan pupuk akan semakin efisien, tidak lagi 250 kg NPK dan 450 kg organik. Kebutuhan pupuk akan semakin berkurang sampai satu batas minimum kebutuhan hara tanaman. Belum lagi kalau kita bicara efek positif ke lingkungan dan reduksi ketergantungan terhadap luar negeri. Dalam proses produksi pupuk NPK di pabrik Kujang, bahan baku yang digunakan semua dibayar dalam dolar sedangkan penjualan produk akhirnya dalam rupiah. Unsur P dan K didapat dari impor, sedangkan N dari Cirebon, namun pembayarannya memakai dolar. Keadaan yang serba bergantung ini sangat membahayakan posisi Indonesia dalam memproduksi pupuk kimia. Di sisi lain, pupuk organik hanya membutuhkan bahan baku dari kotoran, tumbuhan, dan bahan organik lain yang itu semua bisa didapatkan tanpa impor.

Namun, semua itu baru bisa dilakukan dengan asumsi pasokan pupuk kimia dan organik lancar sampai ke petani dengan harga yang benar harga subsidi. Asumsi tersebut patut dipertanyakan karena berita pupuk langka merupakan cerita lama di negeri ini. Ini yang menjadi PR besar bagi kita bersama.




Oktober 2015
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031