WH Si Macan Ompong

IMG20190205225353
Diskusi WH di Warung Kopii Corner, Langsa

Ini adalah hasil diskusi saya dengan seorang petugas WH dari Kota Langsa, Aceh, selama 3 jam di warung kopi Corner. Tulisan ini tentu saja tidak menggambarkan WH secara keseluruhan, namun hanya secuplik kisah yang saya tangkap dengan pandangan subjektif saya sendiri.

Buat yang belum tahu WH… WH itu singkatan dari Wilayatul Hisbah. Orang mungkin menyebutnya polisi Syariah di Aceh. Mereka yang sering melakukan razia untuk pelanggaran syariat, seperti pakaian tidak menutup aurat, khalwat (berduaan dengan yang bukan mahromnya), zina, judi, miras, dst…

Nara sumber saya ini sudah sejak 2007 terlibat di dalam WH. Sebutlah namanya Bang Budi. Walau sudah dua belas tahun menjadi petugas WH, tapi statusnya masih kontrak. Status yang sama didapati oleh sekitar 60 petugas WH yang lain di Kota Langsa. Berapa orang yang tidak kontrak? Nol.

Tapi ini hanya gambaran untuk WH di Kota Langsa, yang seluruh petugasnya adalah kontrak. Di tempat lain bisa jadi tidak seperti itu. Bisa jadi banyak yang memang berstatus PNS, bahkan PPNS.

Kenapa sih kok di Kota Langsa tidak diangkat jadi PNS? Kalau saya melihatnya, karena budget yang tidak sampai. Selama ini, petugas kontrak hanya dibayar sekitar separuh dari Upah Minimum Regional (UMR), bahkan kurang. Kalau kontrak kan mudah, tinggal putuskan kontrak kalau memang budget tipis. Agak repot urusannya untuk menekan budget kalau dia PNS.

Itu salah satu keruwetan WH: petugasnya dari kontrak. Ini menimbulkan keruwetan berikutnya, yaitu petugas kontrak tersebut tidak ada yang memiliki wewenang menjadi penyidik. Kenapa tidak berwewenang menyidik? Karena tidak ada yang mempunyai status PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil). Boro-boro PPNS, PNS (yang bukan penyidik) saja tdak ada.

Apa akibatnya kalau WH tidak punya wewenang menyidik? Ya seperti macan ompong jadinya. Bertugas menegakkan syariat, tetapi tidak boleh menggeledah, tidak boleh melakukan interogasi, tidak boleh berpura-pura menjadi customer untuk memancing pelanggar (misal pura-pura jadi customer PSK).

Yang bisa dilakukan WH hanyalah mengumpulkan barang bukti, lalu menyerahkannya ke penyidik di kepolisian untuk ditindaklanjuti. Iya kalau ditindaklanjuti. Kalau tidak, ya mengendap saja kasus tersebut di meja.

Misalnya kasus judi online. Ini adalah kasus yang banyak dan berulang. Tidak sulit untuk menangkap pesuruh kecil, tapi setengah mati menangkap bandar besarnya. Boro boro menangkap, menyelidiki saja tidak bisa, ya balik lagi tadi karena tidak adanya penyidik. WH juga belum punya aturan khusus terkait undercover buy (pembeli terselubung) yang selama ini hanya bisa dilakukan oleh penyidik Polri atau PPNS. Pada akhirnya, WH hanya bisa memberikan bahan-bahan dasar dan tidak bisa menyelidiki lebih jauh.

Keompongan gigi WH bisa dilihat dengan jelas ketika Razia dilakukan di jalan-jalan utama. Biasanya setelah ashar, dua kali dalam seminggu. Ada saja yang menggas kendaraannya ketika tahu di depannya ada Razia WH. Pilihan apa yang dimilki WH dalam menangani warga ini? Menghadangnya di jalan justru berisiko buat WH. Kenapa? Karena kalau warga tersebut kecelakaan karena dihadang WH, maka WH yang kena sangsi hukum. Jadi, menghadang bukanlah pilihan. Yang bisa dilakukan WH hanyalah melepasnya pergi. Kalau pilihan yang bisa diambil hanya satu, apa itu masih bisa disebut pilihan?

Kemudian katakanlah dia mau berhenti, lantas mengikuti arahan WH untuk didata namanya. Lalu ketika dimintai KTP untuk dicatat, apa warga mau memberikan KTP nya? Tidak. Kalaupun dia bawa, dia akan bilang tidak bawa KTP. Karena kalau terdata sampai nomor KTP, ya bahaya dong buat dia…

Sementara WH juga tidak punya wewenang untuk menggeledah. Andai WH yang merazia menduga ada KTP di dalam tas warga, WH tidak boleh menggeledah, dan hanya bisa menelan kembali dugaannya itu, mungkin berubah menjad kentut.

Pendataan nama warga yang melanggar menjadi data pura-pura saja. Kenapa? Karena siapa yang bisa menjamin si “Yanti” yang melanggar menyebutkan namanya “Yanti”? Kenapa dia harus menyebut nama aslinya sebagai pelanggar, sementara dia bisa menyebut “Mira”. Toh KTP tidak harus diperlihatkan.

Ancaman “nanti kalau melanggar lagi, akan ditindak tegas” juga ompong. WH tidak punya database yang kuat. Apakah dia sebelumnya pernah melanggar, itu tidak bisa dicek. Katakanlah “Mira” ada dalam database pelanggar. Tapi apa jaminannya Mira yang di database pelanggar itu sama dengan Mira yang barusan dirazia?

Yang bisa diandalkan WH lagi-lagi sangsi social. Pelanggar akan malu jika distop di pinggir jalan oleh WH. Seluruh kendaraan yang lewat akan melihat dia. Kalau yang melihat dia adalah orang yang dia kenal, malu sekali rasanya. WH mengetahui ini, lalu memanfaatkannya. WH akan menahan pelanggar selama mungkin, agar semakin banyak orang lewat yang melihat pelanggar, semakin tinggi rasa malu pelanggar, semakin trauma dia untuk melanggar. Sangsi social itu yang menjadi senjata WH.

Belum lagi soal kedudukan WH dalam struktur organisasi. Sebetulnya WH ini ada dalam satu organisasi dengan Satpol PP atau Dinas Syariat Islam? Pasnya dia di mana? Kalau saya baca-baca, WH ini satu kesatuan dengan Satpol PP.

Namun muncul keganjilan kalau memang WH satu kesatuan dengan Satpol PP. Seperti yang diceritakan Bang Budi, keduanya punya cara berperilaku yang cukup berbeda, yang kemudian menghasilkan gap dan ego yang tumbuh sendiri-sendiri.

Sebagai contoh sederhana dari pakaian. Petugas wanita WH memang dituntut secara sosial untuk berpakaian longgar. Pakai rok. Kalaupun pakai celana, maka bajunya harus selutut. Petugas WH tertuntut untuk menjalankan syariat. Apa kata orang kalau petugas WH melanggar syariat? Dia yang merazia cara orang yang berpakaian kok malah dia yang melanggar?

Beda dengan Satpol PP yang bebas berpakaian. Jadi Satpol PP menilai WH terlalu kaku. Sementara WH menilai Satpol PP belum sejalan dengan syariat. Maka muncullah gap itu.

Ah rasanya WH ini begitu kompleks dalamannya. Namun begitu, saya melihat masyarakat Aceh sudah semakin sadar tentang pentingnya WH. Walaupun banyak orang luar sana yang bilang melanggar HAM, menekan pemerintah Indonesia untuk menghilangkan hukum cambuk, tapi toh pendukungnya juga banyak. Banyak yang ingin menjalankan hukum syariat seperti di Aceh tapi belum mampu. Yang lain masih berangan-angan, Aceh sudah menjalankan belasan tahun.

 

Nyicip Kereta Api Aceh

Minggu 7 Oktober 2018 saya iseng-iseng cobain naik kereta di Aceh. Kebetulan lagi main ke rumah kakek di Krueng Mane (masih sekitar 30 menit naik mobil ke Utara Lhokseumawe, Aceh). Stasiun Krueng Mane itu berjarak sekitar 20 menit jalan kaki dari rumah kakek.

IMG20181007090536
Stasiun Krueng Mane

Sudah jam 9 pagi tapi suasana Stasiun Krueng Mane masih sepi, padahal kereta berangkat jam 9.15. Hanya ada saya dan seorang ibu-ibu (menjelang nenek-nenek). Harga tiketnya Rp1.000. Ini yang benar saja, harga tiketnya serius hanya seribu perak? Si petugas wanita muda mengulang lagi, “Tiketnya seribu.” Lanjutkan membaca “Nyicip Kereta Api Aceh”

Hikikomori: Ditakuti Jepang, Diikuti Remaja Indonesia

wsj
Dok: Wall Street Journal

Tiga orang teman yang saya tanya, tahu tidak Hikikomori itu apa? Mereka semua tidak. Yang mereka tahu, Hikikomori itu adalah istilah dalam Bahasa Jepang. Jadi, memang ini fenomena yang belum lazim ada di Indonesia, tapi cukup popular di Jepang. Saya juga baru tahu setelah menonton sebuah film dokumenter di Youtube.

Kalau didefinisikan secara istilah, menurut Wikipedia, Hikikomori artinya Lanjutkan membaca “Hikikomori: Ditakuti Jepang, Diikuti Remaja Indonesia”

Resensi Buku PINCALANG Idris Pasaribu

IMG20180507052341Saya langsung terbius membaca buku ini. Tidak tebal, sehingga cepat sekali habis. Idris Pasaribu menuliskan kisah hidup seorang Pincalang bernama Amat. Pincalang adalah manusia perahu, yang seumur hdupnya tinggal di perahu. Walaupun tidak betul-betul seumur hidup, karena sering juga berlabuh ke pulau beristirahat.

Kejahatan tidak hanya ada di kehidupan darat, juga ada di kehidupan laut. Lanjutkan membaca “Resensi Buku PINCALANG Idris Pasaribu”

Kambing Mbak Tun Pasar Babadan

IMG20180126074353
Warung Makan Sate Kambing Mbak Tun

Akhir Januari 2018, saya diajak site visit ke Kebun Ngobo, salah satu kebun milik perusahaan tempat saya mrojek. Yang mau saya ceritakan adalah tempat sarapan yang kami dimampiri sebelum masuk kebun. Namanya Warung Makan Sate Kambing Mbak Tun. Posisinya di belakang Pasar Babadan, Ungaran, Jawa Tengah. Namanya saja yang sate, padahal menu lain banyak, seperti gulai, gongso Lanjutkan membaca “Kambing Mbak Tun Pasar Babadan”

Lari di Semarang

Sekarang saya jadi senang lari.

Jadi waktu ditugaskan ke Semarang, ada waktu senggang, ya lari. Dari tempat saya menginap di daerah Pandanaran, menuju Lawang Sewu. Lanjut ke Jalan Pemuda, sampai Kota Lama Semarang. Baliknya lewat Jalan Gajah Mada, sampai Simpang Lima.

Yang menarik adalah, saya ketemu beberapa mading koran. Semacam mading atau papan pengumuman di pinggir jalan, yang isinya koran yang ditempel-tempel. Ahh.. sayangnya saya lupa lihat, itu koran basi atau koran hari itu. Kelihatannya beginian sih bagus ya, karena saya lihat ada saja tuh yang baca.

IMG20171118064004
Mading koran di Semarang

Lanjutkan membaca “Lari di Semarang”

Membumi di Krueng Mane

(Tulisan ini adalah bagian yang kena edit dari penerbit buku Keliling Sumatera Luar Dalam)

Di Krueng Mane, saya tinggal di tempat kakek nenek dari jalur mama. Halamannya luas, ada pohon kelapa sepuluh lebih. Nenek tahu saya suka kelapa, jadi tidak lama setelah saya datang, langsung dipanggil tukang panjat kelapa. Puluhan kelapa dipetik. Airnya begitu manis dan segar. Dagingnya lembut dan nikmat.

Nenek punya beberapa ekor ayam yang rata-rata bertelur satu butir per hari. Telur ayam kampung. Ayamnya masih bisa lari ke mana-mana, susah ditangkap, masih bisa cari cacing sendiri. Telurnya kecil, tapi manisnya luar biasa. Ini telur ayam kampung terenak buat saya. Kalau tidak dibikin ceplok dengan kuning yang masih meleleh-leleh, nenek bikin telur setengah matang.

Tape beras, buat sarapan di Krueng Mane. Dok: Iqbal
Tape beras, buat sarapan di Krueng Mane. Dok: Iqbal

Kalau pagi, makanan pembukanya adalah pulut pakai tape. Tape nya bukan berbahan singkong, tapi beras. Kayaknya cuma orang Aceh yang bikin tape dari beras. Bentuknya bulat-bulat, agak lebih besar dari bola golf. Kalau di warung biasanya dijual lima ratus sebiji. Sedangkan pulut adalah ketan yang dibungkus daun, lalu dipanggang. Bentuknya memanjang seperti lemper. Juga lima ratusan.

Pulut dan tape berarti ketan dan beras. Walau jadinya double karbohidrat (malah nenek saya nawarin, mau pakai gula gak?) dan tidak ada protein -yang menurut ahli gizi itu gak bagus-, tapi rasanya begitu menggoda. Pulut featuring tape itu duet maut deh!

Gempuran protein baru datang siang dan malam. Di meja makan selalu ada ikan. Ikan jadi lauk utama orang Aceh. Seakan-akan orang Aceh bisa sakit kalau tidak makan ikan.

Kerjaan utama saya di Krueng Mane kalau sedang pulang kampung adalah mandi laut. Saya mandi laut seperti minum obat: pagi dan sore. Mandi laut maksudnya bukan di tengah laut, tapi di pantai. Dari rumah nenek, saya tinggal jalan 10 menit sudah sampai pantai.

Pantai Krueng Mane adalah pantai yang landai dengan pasir putih. Landai sampai-sampai sudah nyebur 50 meter, tinggi air masih 1 meter. Tidak ada batu. Tidak ada karang. Semuanya pasir. Ombaknya sulit diprediksi, kadang besar, kadang kecil, tapi tidak pernah tidak ada. Arus bawah lebih sulit lagi diprediksi, kadang tidak ada arus sama sekali, kadang arusnya gila-gilaan. Sore biasanya lebih berarus dari pagi.

Pernah, saking besarnya arus ke kanan (selatan), sekuat apapun saya coba berjalan, selalu terhempas ke kanan. Baru mencoba sedikit, ombak satu meter datang, pijakan saya lepas. Coba lagi, kena ombak lagi. Lima belas menit sudah kehabisan tenaga.

Tapi ada saat-saat ketika arusnya nol dan ombak minim. Biasanya pagi. Saya bisa mengapung sesuka saya. Berenang segala gaya. Seperti di kolam renang raksasa. Dan rasanya seperti milik sendiri, karena saya belum pernah ketemu sama orang yang berenang pagi.

Musuh pantai Krueng Mane cuma satu: ubur-ubur. Kalau lagi musim, tiap 10 meter pesisir pantai ada bangkai ubur-ubur. Jangan coba-coba masuk berenang. Beberapa tahun lalu saya pernah berenang lagi musim ubur-ubur. Belum sampai 3 menit, kaki saya sudah beberapa kali bersentuhan dengan ubur-ubur. Saya langsung mendarat. Bentol-bentol merah di sekujur kaki. Gatal, tapi saya tahu tidak boleh digaruk. Baru sembuh beberapa minggu kemudian. Sepupu saya malah pernah sampai korengan berbulan-bulan.

Mumpung lagi ngumpul (kebetulan keluarga om saya yang di Jakarta juga lagi ada di Krueng Mane), nenek berencana bikin kenduri, semacam pesta kecil, di rumah, dengan mengundang tetangga-tetangga sekitar.

Kalau di Krueng Mane, tidak sulit mencari tenaga yang mau bantu masak untuk kenduri. Tetangga-tetangga selalu ikut bantu. Kursi bisa dipinjam lewat pengurus desa. Piring bisa pinjam tetangga. Kewajiban utama yang bikin kenduri hanyalah siapin duit dan bilang maunya gimana.

Selebihnya berjalan autopilot. Yang biasa masak nasi ya masak nasi. Yang biasa nyapu ya nyapu. Yang biasa kupas bawang ya kupas bawang. Yang biasa angkat bangku ya angkat bangku. Tidak perlu bikin meeting bagi-bagi dapukan.

Keluarga yang bikin kenduri tidak diberatkan dengan hal seremeh kupas bawang. Untuk persiapan kenduri, saya cuma ikut nemani om saya yang juga nemani seorang penghubung untuk beli kambing di Pasar Geurugok. Dua ekor. Setiap Selasa, di Geurugok (kecamatan sebelah) ada pasar hewan, terutama kambing dan sapi. Ada juga domba dan kerbau.

Mereka memang menyebutnya pasar hewan, tapi tidak ada tempat khusus untuk menampung hewan-hewan itu. Kebanyakan pedagang kambing hanya mengikatkan tali, satu ujung di leher kambing, dan ujung satunya lagi di ranting-ranting pohon. Jadi terlihat banyak tali-tali menjuntai ke atas ranting pohon.

Yang unik, setelah penjual dan pembeli sepakat mau beli kambing yang mana dengan harga berapa, akad jual beli diucapkan. Waktu om sudah sepakat membeli dua kambing seharga sekian pada seorang pembeli, si pembeli –dengan rokok yang masih menempel di mulutnya- segera menyalami om dengan menyelipkan tali kekang kambing di antara dua telapak tangan mereka, lalu disebutkan harga kesepakatan. Deal!

Kenduri berlangsung begitu kilat. Setelah shalat Jumat, dua ratus orang datang, makan, terus pulang, selesai. Tidak ada prosesi sambutan atau ngomong-ngomong dari pembuat kenduri. Saya rasa tetamu undangan itu juga tidak tahu dalam rangka apa ada kenduri itu.