Titik Rendah Musik

Waktu itu, kalau tidak salah, saya baru selesai kuliah dan ikut pesantren di Jawa Timur. Kami belajar banyak dalil tentang cara kita menjalani hidup, bahwa laki-laki tidak boleh memakai sutra dan emas, bahwa riba itu sungguh jelek, bahwa kita harus berbuat baik pada tetangga walau beda agama, bahwa tidak boleh membicarakan kejelekan orang lain, dan masih banyak lagi.

Tapi ada satu hadits yang membuat saya langsung merinding dan sepertinya keringat dingin. Tiba-tiba hawanya seperti menjadi panas. Hadits ini betul-betul menohok saya. Diriwayatkan dari Abu Daud (4927): Lagu menumbuhkan kemunafikan dalam hati. Deg! Kena banget.

Selama ini saya hidup dengan musik. Belajarpun sering pakai musik. Malah waktu sekolah dulu, saya pengikut setia Prambors Top 40 (lagu berbahasa inggris semua) yang list-nya berubah tiap minggu. Saya tahu semua lagu yang lagi hit. Saya selalu punya liriknya yang dulu saya cari di warnet (waktu itu bahkan saya belum punya email, satu-satunya tujuan ke warnet cuma untuk cari lirik). Teman-teman sering menjadikan saya referensi nyari lirik lagu baru. Saya marah pada Ayah yang memaksa saya mematikan kaset Betrayer, band punk lokal. Saya ikut pensi (pentas seni) dan maju paling depan, ikut moshing!

Sebegitunya sampai-sampai sepertinya saya tidak bisa hidup kalau tidak mendengarkan musik. Munculnya hadits di atas, begitu tajam buat saya. Saya deg-degan setelah hadits itu dibacakan.

Tanpa pikir panjang, setelah pengajian siang itu, saya buka laptop, klik kanan di folder musik, delete! Semua koleksi musik hilang dalam beberapa detik.

Iqbal hidup tanpa musik? Sepertinya tidak mungkin. Tapi saya coba. Setahun, dua tahun, sekarang sudah jalan tahun ketiga saya tanpa menikmati musik. Saya hanya dengar musik yang membuat profokatif positif dan saya sangat hati-hati dengan liriknya. Itupun sangat jarang, lima menit sehari belum tentu.

Fine-fine aja tuh. Tidak ada pegal linu karena tidak mendengarkan musik. Tidak ada kehilangan inspirasi dalam menulis (profesi saya penulis). Semua berjalan seperti biasa. Malah saya merasa lebih produktif karena tidak ada rebahan berjam-jam hanya untuk mendengarkan musik. Tidak ada seharian nongkrong di depan MTV.

Sesekali memang saya terpaksa dengar musik bebas, pas lagi naik angkot yang nyetel musik, pas lagi nonton film/video yang ada backsound musiknya, pas lagi mau bahas sesuatu (seperti membuat tulisan ini) atau yang semacam itulah. Tapi itu tidak banyak, dan tidak dinikmati. Entah kenapa saya tidak berhasrat lagi dengan musik. Saya sangat mensyukuri itu. Melepas musik tidak sesulit yang dibayangkan.

Beberapa waktu kemudian, saya menemukan beberapa dalil lagi yang kontra dengan adanya musik:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS Luqman 6-7)

Perut yang dipenuhi nanah busuk itu lebih baik daripada dipenuhi syair (Muslim 2257).

Belakangan ini saya semakin antipati dengan musik, setelah mengikuti pembahasan teori konspirasi lewat media, termasuk lewat musik. Mereka itu jahat sekali. Intinya mereka mau menyisipkan ideologi jelek mereka bahwa agama itu tidak perlu. Doktrin-doktrin negatif dimasukkan dalam lirik yang dikemas dengan instrumen yang nyaman sehingga orang menyanyikannya dengan nikmat tanpa peduli dengan liriknya. Saya coba buka beberapa:

N’sync. Lirik dalam salah satu lagunya: We don’t need all these prophecies (kami tidak butuh semua ramalan ini). Tellin’ us what’s a sign (memberitahukan kita tanda-tandanya: akhir zaman). Paranoia ain’t your way (ketakutan bukan cara menjalani hidupmu). So leave your doubt and your fears behind (jadi tinggalkan keraguan dan ketakutanmu di belakang). Don’t be afraid at all (jangan takut sama sekali). Cause up in outer space there’s no gravity to fall (kerena di luar angkasa tidak ada gravitasi yang bisa menjatuhkan). Pesannya: lupakanlah ramalan-ramalan yang cuma nakut-nakutin itu, selamat datang ke dunia tanpa konsekuensi.

Eminem. Dalam lagu Roll Model, liriknya: Follow me and do exactly what the song says (ikuti aku dan lakukan tepat apa yang dikatakan lagu ini). Smoke weed, take pills, drop outta school, kill people and drink (hisaplah ganja, minumlah narkoba, keluarlah dari sekolah, bunuhlah orang, dan mabuklah).

Spice girl. Liriknya: Make your own rules to live by (buatlah aturan sendiri untuk menjalani hidup). Come on do it! (ayo lakukan!).

John Lennon. Propaganda John Lennon dalam lagu berjudul Imagine: Imagine there’s no heaven (bayangkan kalau tidak ada surga). It’s easy if you try (itu mudah jika kamu mencobanya). No hell below us (tidak ada neraka di bawah kita). Above us only sky (di atas kita hanya langit)… No religion too (tidak ada agama juga).

Sebelum kematiannya, John, seperti yang dikutip The Playboy 1980, mengatakan: The whole Beatle idea was to do what you want, right? Do what thou wilst, as long as it doesn’t hurt somebody (semua ide tentang Beatles adalah untuk melakukan apa yang kamu inginkan, kan? Lakukan apa kehendakmu selama itu tidak melukai orang lain).

Kurt Cobain. Katanya, God is guy (gak sanggup nerjemahinnya!). (I will) get stoned and worship satan (aku akan mabuk dan menyembah setan).

Lady gaga. Ini yang lagi heboh belakangan. Gampang nyari lirik dia yang nyeleneh.

Anda salah kalau berpikir, itu kan hanya musik, kalau kita ikut nyanyiin gak mungkin ikut-ikut begitu.

Pernah dengar Professor Masaru Emoto dari Jepang yang meneliti perubahan bentuk molekul air ketika dibacakan kalimat positif dan negatif? Molekul akan berubah menjadi bagus ketika dibacakan kalimat positif, dan sebaliknya. Teori sepertinya juga bisa menjelaskan kenapa kita dilarang bego-bego-in anak kecil (mengatakan “bego lu!” atau semacamnya ke anak kecil), karena otak si kecil akan mengolahnya untuk menjadi seperti yang orang lain katakan. So watch out your mouth!

Satanis Rex Church mengatakan bahwa satanis menggunakan musik sebagai senjata propaganda. “Art… musik… writing….” katanya.

Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika tahun 1985 mengatakan, “Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.”

Eminem pernah mengakui bahwa banyak lirik lagunya yang dimaksudkan untuk menekan “tombol” pendengarnya. Di suatu malam, ada yang menelepon 911, namanya Michael Miller (29 tahun), dia mengaku baru saja menusuk putranya 11 x dan membunuh istri dan putrinya. Itu dia lakukan dalam keadaan kesurupan, sadar ketika semuanya telah berlumuran darah. Dia mengaku pada polisi bahwa sebelumnya dia menyanyikan lirik Eminem: Here come satan, I’m the antichrist (Dajjal), I’m going to kill you!

Etcetera… etcetera…

Just be careful with your choices!

Iklan

Bukan Nafsi Nafsi

(Menanggapi Kontroversi Lady Gaga)

“Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.” (Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika, 1985).

Kemarin sore (19 Mei), TV One dan Metro TV menampilkan tayangan yang tidak berimbang. Mereka memperbincangkan lady gaga. TV One menampilkan seorang musisi besar, sementara Metro TV menghadirkan dua perwakilan promotor musik. Si musisi besar bilang, “Perkembangan musik kita terhambat karena hal-hal yang gak penting begini (penolakan lady gaga)….”

Semuanya pro dengan kehadiran si lady. Presenternya yang mencoba netral jadi keseret-seret ikut pro kedatangan lady gaga. Tidak ada satupun pihak yang kontra dengan kedatangan si lady, padahal judul beritanya “kontroversi Lady Gaga”.

Cerita lain tentang ketidakberimbangan media mainstream, beberapa hari sebelumnya, Indonesia Lawyer Club (TV One) membahas lady gaga. Di sini orang-orang yang hadir memang dari dua kubu: pro dan kontra. Beberapa petinggi FPI dan ulama dihadirkan. Karni Ilyas memberikan kesempatan yang sama banyak untuk kedua kubu bicara, tapi kesimpulan yang diberikan Karni Ilyas tidak berimbang. Dalam closing, Karni membawakan salah satu hadits Bukhori: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam.”

Dalam ilmu jurnalistik, pembuka dan penutup tulisan punya pengaruh besar. Pembuka tulisan berfungsi menangkap pembaca agar terus membaca sampai tulisan habis, sementara penutup tulisan akan menjadi semacam kesimpulan yang kita harapkan akan diterima pembaca. Teori ini juga berlaku dalam acara Karni. Secara tidak langsung, Karni mengatakan bahwa orang beriman itu memuliakan tamunya, termasuk lady gaga yang harus disambut dengan baik.

Karni salah konteks dalam hal ini. Betul bahwa tamu dan tetangga harus dimuliakan dan tidak boleh disakiti, tapi tamu dan tetangga yang bagaimana? Zaman Nabi dulu, muslim yang tidak ikut sholat subuh berjamaah saja dibakar rumahnya. Kira-kira bagaimana dengan tetangga yang lesbian, yang auratnya diumbar, yang menyiarkan lirik-lirik syirik?

Lalu si tetangga gak bener ini bilang, “Bos, gue mau nyanyi dan joget-joget di rumah lo dong. Gue emang lesbian dan di lirik gue emang pro lesbian, tapi gak apa2 lah, orang rumah lo gak akan banyak yang mikir ke situ. Yang mikir ke situ akan kalah dengan yang gak mikir ke situ. Mereka sudah terlanjur suka suara dan koreografi gue. Pas gue nyanyi ‘No matter gay, straight, or bi, Lesbian, transgendered life. I’m on the right track baby, I was born to survive’ mereka bakal ikut nyanyi, mungkin bakal teriak lebih kenceng dari gue, hahaha. Pokonya kemasannya bagus deh. Gue kan dapet grammy lima kali, masak gak bagus? Pas manggung, gue akan buka baju sedikit, kayak gak tau gue aja….”

Apa kita akan jawab begini: Ohya, silakan.. silakan masuk. Semua tamu bebas masuk sini, mau nyanyi apa aja bebas, yang liriknya gak bener juga kita terima, sambil pake baju minim pun oke. Yang penting kita bisa nyanyi dan joget bareng. Ini pasti laku! Gue jual tiketnya duluan deh, izin ke Pak Hansip belakangan.

Kalau iya, wah, berarti agama sudah kalah dengan paham liberal. Kalah juga dengan Cina dan Korsel yang berani nolak si lady.

Saya juga jengah dengan beberapa komentar pengalih:

“Ngapain ngurusin lady gaga, itu dangdutan di kampung-kampung sawerannya malah lebih ngeri lagi masukin duitnya lewat mana.”

“Kalau karena porno, lah itu di Youtube kurang porno apa coba? Ngapain ngelarang2 kita. Tutup aja dulu youtube!”

“Ah, udah deh, urus diri sendiri aja dulu, nafsi nafsi aja lah….”

“Gak usah ngurusin kita, urusin tuh koruptor….”

“Apa kalau masuk little monster (nama fans club si lady), bakal tiba-tiba jadi monster beneran? Lirik2 gak ber-Tuhan mah udah dari dulu, bukan cuma lady gaga, dulu ada john lennon dan madonna.”

Lah iya, makanya retsleting yang sudah terbuka kita coba tutup, bukan terus dibiarin kebuka. Kita coba batasi orang-orang yang nyanyi lirik gak ber-Tuhan. Ada yang namanya repetitive power, mengulang informasi yang sama, teruuuus, sampai orang menganggap itu benar, dan yang sebetulnya benar malah menjadi asing. Kita sudah termakan dengan cara macam ini.

TV tidak berhenti menampilkan adegan orang berpacaran, memberi banyak sekali informasi varian cara nembak cewe, doktrinasi malam minggu adalah malam pacaran, puluhan tahun, sampai cara ta’aruf menjadi asing dan seakan-akan Saturday night at home itu gak modern. Sangat penting disadari, bahwa ketika kita nonton TV, kita ada dalam keadaan “Alpha Brain Wave State”, semacam kondisi rileks yang membuat kemungkinan tersugesti lebih besar. Informasi yang salah, kalau diulang terus, bisa menjadi bernilai benar di dalam otak.

Nah, ini juga dilakukan para penyanyi itu. Mereka nyisipin lirik yang asik didengar dan dinyanyikan, padahal maknanya sangat rusak. Seperti john lennon: “Imagine there’s no heaven… no hell below us… No religion too…. Imagine all the people, Living life in peace.” Dia mencoba mengajak free our mind sebebas-bebasnya. Tanpa agama, surga, dan neraka, kita bakal lebih damai. Itu ideology john lennon yang dia coba ulang terus supaya sedikit-sedikit orang ngikutin cara pikir dia. Nanti penyanyi lain nambahin sedikit lagi, repetisi lagi. Lama-lama mereka bisa berhasil. (FYI, The Beattles, ketika di puncak kejayaannya pernah bilang: sekarang fans beatles lbh banyak daripada fans gereja. Pesannya jelas, dia mengajak untuk meninggalkan agama).

Ini yang dikuatirkan oleh Dr. Joe: “Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.” (Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika, 1985).

Tentang saweran, video porno youtube, dan koruptor, ya itu memang salah. Tapi apa kita harus membereskan itu semua dulu baru boleh melarang si lady datang? Lagian juga, banyak kok yang sudah mencoba merubah kebiasaan jelek saweran dsb itu tadi. Sambil itu diperbaiki, ini nih ada yang lebih perlu segera dicegah, si lady, makanya perhatian banyak fokus ke sini dulu.

Dalam islam, kita punya kewajiban untuk memperbaiki sesuatu yang salah. Langkah paling bagus adalah memperbaiki dengan tindakan. Kalau gak bisa, maka dengan perkataan. Kalau gak bisa juga, ya minimal hatinya ingkar lah. Saling mengingatkan itu wajib. Jadi gak ada ceritanya nafsi nafsi. Gak ada cerita, “Terserah lu deh, mau ngeganja sambil main cewe di sebelah rumah gue, terserah, yang penting gue sholat, gue baca Quran.” Harus ada pengingkaran, minimal dalam hati.

Mereka yang mencoba melarang datangnya lady gaga adalah mereka yang mencoba mempraktekkan perintah islam itu, sekaligus mereka yang peduli dengan saudaranya. Mereka melakukan pengingkaran tidak hanya dengan hati, tapi tindakan. While we’re talking, they do something!

Bahwa FPI terkadang melewati batas, itu iya. Tapi kadang-kadang saya suka juga melihat keberanian mereka menggerebek diskotek-diskotek liar. Diskotek yang gak resmi (atau resmi tapi melakukan aktifitas gak resmi), tapi bayar sini situ biar aman, polisi pun jadinya gak berani gerebek, tapi FPI berani. Kalau gak ada FPI, diskotek liar itu mungkin jalan terus. Namun memang perlu perbaikan. Kita semua perlu perbaikan. Tapi tidak harus selesai memperbaiki diri sendiri dulu baru boleh mencoba memperbaiki orang lain, kan?