Arsip untuk Juni, 2011

16
Jun
11

Malioboro dan Tetangga-Tetangganya

Yang paling kuingat tentang Malioboro, selain Dagadu dan batik-batiknya, adalah cerita temanku tentang perjalanannya keliling seputaran Malioboro dengan becak yang cuma berbayar seribu perak. Tapi beberapa artikel bilang, mereka (tukang becak) itu niatnya bukan mencari yang seribu itu, tapi dengan kita belanja di tempat-tempat yang sengaja disambangi si tukang becak, dia dapat banyak uang dari si pemilik toko. Jadi, aku pilih berjalan.

Dari Stasiun Tugu ke Selatan sedikit, kita bisa jumpai rentetan penginapan murah di Jalan Pasar Kembang atau orang biasa menyebut Sarkem. Mudah mencari penginapan yang sewanya Rp 50.000 per malam. Banyak penginapan ya otomatis banyak tempat jajanan di sepanjang jalan. Sarkem paling sering direferensikan backpacker ke backpacker lain untuk menginap, juga karena banyak tempat wisata yang dekat darinya.

Salah satu muara Jalan Sarkem adalah Malioboro, jalan yang nyala terus. Banyak orang bilang, Malioboro mutlak dijajaki kalau ke Jogja. Baju, makanan, elektronik, sampai kuda, ada di Malioboro. Mungkin hanya kalau hujan Malioboro baru agak sepi. Itupun agak. Buatku, Malioboro lebih dari itu. Dia jantung buat Jogja. Pusat peradaban sekaligus salah satu pusat perekonomian. Namanya bahkan lebih tenar dibanding Diponegoro, bahkan Sri Sutan sekalipun.

Hari pertama, setelah melewati Malioboro, aku masuk ke Keraton Jogja. Ramai sekali Sabtu ini. Setelah membayar Rp 5.000 untuk tiket masuk dan Rp 1.000 untuk kamera (termasuk kamera HP!), kita dipersilakan masuk melihat-lihat ke dalam. FYI, semua museum di sekitar Malioboro minta Rp 1.000 untuk kamera. Peraturan yang agak aneh menurutku. Kalau tiket masuk ya jelas untuk perawatan, lah kamera? Apa kalau dijepret bisa mengurangi nilai si benda koleksi?

Banyak kelihatan turis dengan warna kulit macam-macam. Seperhatianku, mereka kurang tertarik dengan peralatan-peralatan pribadi milik Sultan Hamengku Buwono IX yang menjadi mayoritas koleksi Keraton. Justru yang menurutku membuat mereka tertarik adalah pemandu yang bisa berbahasa aneka. Bahasa Inggris sudah mutlak bagi para pemandu, termasuk seorang tua yang kulihat berpakaian serupa dengan pamain wayang orang yang sedang menjelaskan tentang Keraton pada sekeompok bule. Sekali kudengar seorang pemandu bicara seperti bahasa Mexico yang banyak “rrr” nya.

Seorang pemandu mendekatiku. Padahal setahuku, aku tidak pasang tampang sedang mau cari tahu atau tampang kebingungan. Dia menunjukkan bahwa ada satu tempat baru, galeri lukisan katanya. Aku diajak keluar lewat pintu belakang yang ada tulisan “Enter” nya, lalu diarahkan ke sebuah galeri mini. Di akhir aku baru sadar, rupanya dia calo lukisan yang tentunya dapat komisi kalau aku membeli lukisan di situ. Ini yang menurutku membuat Keraton kurang nyaman.

Banyak koleksi Sultan HB IX yang tersebar di enam ruangan museum. Koleksi yang menurutku paling menarik adalah tiga buah batu besar bertuliskan pernyataan Soekarno yang mengamanahkan Jogja kepada Sultan, dua hari setelah kemerdekaan. Seorang pemandu (yang ini pemandu tetap di ruangan museum, bukan pemandu yang di luar-luar ruangan) bilang, inilah dalil bagi orang Jogja yang pro penetapan untuk tetap menjadikan Jogja sebagai daerah istimewa.

Ukiran pada batu ketiga membekukan sosok macam apa HB IX itu. Tertulis dalam Bahasa Belanda yang kalau diterjemahkan: “Walaupun saya telah mengenyam pendidikan barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa.” Dia sosok yang kuat dan dibanggakan masyarakatnya. Seluruh Jogja menundukkan kepala ketika ia meninggal pada 1988 lalu dimakamkan di Imogiri.

Betul, mayoritas museum di sekitar Keraton menyajikan wisata sejarah, termasuk Museum Kereta, museum kedua yang kukunjungi hari itu.  Awalnya kupikir kereta yang dimaksud di sini kereta uap atau kereta yang ada rel nya itu, tapi ternyata kereta kuda. Dalam museum berbayar Rp 3.000 ini (kamera juga kena Rp 1.000), banyak koleksi kereta kuda yang waktu zaman Belanda banyak dipakai.

Kereta kuda yang dipajang di sini bukan sembarangan, ini punya bangsawan di masa itu. Interiornya berlapis beludru mewah dengan jendela di kanan kiri yang ditutup gorden bermotif mewah. Sebagian koleksi masih rapi jali dengan badan kereta yang tidak berdebu dan tempat duduk di dalam kereta yang terlihat (karena tidak boleh dipegang) lembut. Sayangnya, lampu di dalam museum terlalu redup, jadi beberapa foto di dinding kurang jelas, tulisannya juga, dan koleksi keretanya juga jadi kurang terlihat mewahnya.

Seorang petugas yang terlihat sedang mengelap salah satu koleksi bilang, kereta-kereta ini diaktifkan kalau ada perayaan. Kuda-kuda yang digunakan adalah khusus, dikandangkan masih di areal kompeks Keraton. Tidak sejajar dengan pernyataan petugas lain yang bilang kalau ada parade yang diambil adalah kuda-kuda yang banyak ada di Malioboro. Simpang siur.

Taman Sari (Rp 3.000) menjadi destinasi berikutnya. Letaknya di Selatan Keraton. Dari luar sudah tampak bahwa ini bangunan pas betul kalau dijadikan tempat foto pre-wedding. Betul saja, di dalamnya terlihat beberapa pasang yang sedang foto-foto, tapi sepertinya bukan pre-wedding, melainkan pura-pura pre-wedding. Mereka terlihat teralu muda untuk pre-wedding.

Dua buah kolam besar dengan air jernih menjadi pusat keindahan Taman Sari. Kolam-kolam tersebut dikelilingi tembok tinggi yang berlekuk indah. Pot-pot besar mengeilingi kolam dengan ukuran pot yang sama dan jenis tumbuhan hijau yang sama. Sudut pandang yang lain untuk menikmati kolam tersebut adalah dari lantai tiga sebuah bangunan di salah satu sisi kolam.

Bangunan tersebut juga indah dengan beberapa kamar di dalamnya. Sekilas terlihat seperti penjara dengan jeruji-jeruji besi di jendelanya dan dipan yang terbuat dari beton. Tapi mana ada penjara yang pemandangannya dua kolam jernih berwarna biru?

Beberapa lubang pintu tak berpintu berbentuk setengah oval menjadi penghubung ke banyak ruangan dan ke pemukiman penduduk. Tingginya hanya sekitar 1,8 meter. Mungkin banyak bule yang sudah terjedut di lubang-lubang pintu itu.

Pemukiman di sekitar bangunan Taman Sari ya seperti layaknya pemukiman. Ada rumah, ada poskamling, ada warung, dan ada WC umum. Suasana bangunan tua hilang seketika kalau masuk ke areal pemukiman tersebut. Lebih baik kembali ke areal bangunan Taman Sari.

Tadinya aku mau lanjut ke Museum Sono Budoyo, tapi ternyata jam 2 siang sudah tutup. Kata Satpamnya, biasanya jam 1 juga sudah tutup. Karena sudah mau hujan juga, jadi aku kembali ke penginapan.

Esoknya, aku jalan lagi melintasi Malioboro dari arah Sarkem. Jam 8 pagi, wajah Malioboro belum terlalu tampak. Penjual makanan saja yang tampak banyak. Penjual baju dan aksesoris lainnya mayoritas masih berupa gerobak berbalut terpal yang diikat. Hanya sebagian kecil saja yang mulai membongkar gerobaknya.

Museum Vredeburg terlihat gagah dan menarik dari luar. Tarif masuknya Rp 3.000 (kamera Rp 1.000). Lagi-lagi suguhannya adalah tentang sejarah Jogja. Patung Jenderal Soedirman dan Letjen Urip Sumoharjo menyambut setiap pengunjung yang masuk lewat pintu depan. Taman di pinggir jalan setapak terpangkas rapi menggambarkan bagaimana museum ini dirawat.

Ada beberapa Diorema yang terbagi dalam beberapa ruangan sepi dan gelap. Aku paling suka ketika masuk salah satu Diorema yang mengulas saat-saat Indonesia berpindah Ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta. Terjelaskan bagaimana dinginnya hubungan Belanda dan Indonesia waktu itu. Inisiatif Pangeran Diponegoro dengan menyeru pada seluruh rakyat untuk berperang gerilia menjadi inisiatif yang diakui paling tepat dalam menangkal Belanda. Sebuah serangan umum yang hanya memakan waktu beberapa jam saja bisa membuat Jogja kembali dikuasai pribumi. Rakyat Jogja menggunakan granat gombyok dalam perlawanannya terhadap invasi Belanda. Replika granat ada di sebuah kotak kaca dengan sedikit keterangan tentangnya.

Sebagian diorama menyediakan tombol yang kalau dipencet akan keluar suara orang bercerita tentang kejadian di diorama tersebut. Tapi sebagian (besar!) tombol tidak berfungsi atau berlapis selotip dan tulisan, “Jangan dipencet.”

Keluar dari pintu belakang benteng, aku langsung menemui Taman Budaya berupa gedung yang sepi. Saat itu sedang ada pameran lukisan tapi hanya aku satu-satunya pengunjung. Itupun setelah menimbang-nimbang, ini pameran gratis atau berbayar, untuk umum atau bukan. Tidak jelas karena tidak ada tanda apa-apa di depan gedungnya. Di salah satu teras gedung terlihat beberapa anak umur TK sedang belajar menggambar. Di teras sisi yang lain sedang ada sekelompok gadis sedang belajar menari.

Kios-kios penjual buku berada tidak jauh dari Taman Budaya. Aku teringat Kuitang di Jakarta. Isinya juga tidak jauh beda, ya majalah bekas ya buku bekas ya buku obral ya buku bajakan. Koleksinya lumayan banyak. Tidak kalah lah sama Kuitang.

Tepat di sebelahnya adalah areal Taman Pintar. Setahuku tempat ini adalah tempat buat belajar anak-anak yang dibuka belum lewat 10 tahun. Beberapa gedung media belajar ada di dalamnya dengan tarif antara Rp 1.000 sampai Rp 15.000. Sukur, tidak ada ongkos tambahan untuk kamera.

Justru aku tertarik memperhatikan aktivitas di halaman gedung-gedung tersebut. Sepertinya di luar sini lebih ramai daripada di dalam. Permainan-permainan outdoor yang disajikan sepertinya sudah cukup untuk menggapai maksud rekreasi keluarga. Apalagi gratis. Jadilah ramai betul halaman Taman Pintar.

Satu permainan yang cukup ramai adalah Dinding Berdendang. Terdapat beberapa tabuhan yang terletak vertikal dan kalau ditabuh akan menghasilkan tinggi suara yang berbeda karena ukurannya yang berbeda. Di sebelahnya terdapat keterangan kenapa itu bisa terjadi. Tapi aku tidak yakin mereka membacanya. Mereka hanya mendengarkan suara tabuhan yang naik turun, tanpa ingin tahu kenapa bisa begitu. Mungkin pendiri Taman Pintar bisa berduka dengan kenyataan itu.

10
Jun
11

Benteng Pendem

“Boleh sepedanya aku bawa masuk, mba? Gak ada kuncinya.” Mungkin si mba-mba penjaga gerbang Benteng Pendem dalam hatinya bilang, “Ini orang masih pagi udah nyusahin.” Aku parkir sepeda dekat gerbang bagian dalam setelah sebelumnya diusir karena menaruh di depan loket karcis masuk.a

Benteng pendem adalah salah satu wisata andalan Cilacap, Jawa Tengah. Letaknya pas di Teluk Penyu, juga pas di samping tanki-tanki raksasa punya Pertamina.

Setelah bayar Rp 4.000 untuk karcis masuk (Weekend Rp 5.000. Update harga Mei 2011) aku lihat ke dalam, mana bentengnya? Tidak ada bangunan gagah yang tinggi menjulang. Aku cuma melihat tembok batu yang tingginya sekitar 2 meter bertuliskan “Benteng Pertahanan”.

Benteng Pertahanan. Dok: pariwisata.cilacapkab.go.id

Panjang tembok yang katanya benteng pertahanan itu sekitar 40 meter. Ada beberapa lubang yang berjejer. Lubang yang menghadap ke dalam lebih besar daripada yang menghadap ke luar (ke arah laut). Di sekeliling benteng bagian luar ada parit besar yang dalamnya tidak terdeteksi karena airnya tenang dan warnanya gelap.

Mungkin begini taktiknya: musuh harus kesulitan melewati parit besar sebelum bisa mencapai benteng. Supaya tambah sulit lagi, musuh yang berusaha masuk itu juga ditembaki dari lubang-lubang yang mengecil ke bagian luar tersebut.

Hanya ada satu jembatan kecil yang melintasi parit. Tidak jelas ini jembatan sudah ada dari dulu atau baru dibuat setelah jadi arena wisata. Ujung jembatan itu adalah benteng pertahanan yang sudah dibobol, untuk orang masuk.

Setelah masuk benteng pertahanan -yang cuma tembok itu-, aku menangkap tulisan “Benteng Jepang”. Aku tidak tahu apa ini bagian dari benteng pendem atau justru itu benteng pendem atau dua benteng yang berbeda. Aku dekati, tapi tetap saja membingungkan, mana bentengnya? Tadi cuma tembok batu tebal dibilang benteng pertahanan. Kali ini lebih abstrak lagi, tidak terlihat bangunan apapun kecuali arena bermain anak.

Aku jalan terus mengikuti jalan yang naik turun, lantas ketemu tulisan Ruang Amunisi, Ruang Penjara, dsb. Dilihat dari luar, sepertinya besar ruangan-ruangan itu hampir sama. Tapi terlalu gelap di dalam, jadi tidak bisa terlihat utuh. Ruangan-ruangan itu punya kesamaan: beratapkan tanah berumput.

Aku membayangkan, dulu ada sebuah bukit yang dilubangi tengahnya secara horizontal, lalu dilubangi lagi kecil-kecil secara vertikal membentuk ruangan-ruangan itu tadi.

Tiap ruangan punya pintu masuk yang kecil dan pendek. Kelihatannya harus menunduk buat masuk ke dalam. Halaman tiap ruangan hamper sama: tanah becek. Kadang-kadang malah ada air mengalir dari atas ruangan bagian luar. Bisa jadi itu mata air.

Tidak butuh waktu lama buat mengelilingi benteng. Kalau tidak masuk-masuk ruangan paling 20 menit sudah beres. Tapi kalau mau bersantai-santai dulu, gazebo tersebar di areal wisata. Tempat duduk-duduk dari semen juga banyak di sepanjang parit besar dekat benteng pertahanan.

Ada bagian parit yang jadi tempat mangkal mainan bebek-bebekan yang dikayuh. Karena masih pagi, waktu itu sekitar pukul 8, jadi belum beroperasi.

Aku kembali ke pintu utama, mengambil sepeda, lantas pulang.

Tags: benteng pendem, cilacap

09
Jun
11

Hidden Nusakambangan

Tidak salah kalau orang ditanya apa yang kamu tahu tentang Nusakambangan (pulau di Selatan Cilacap, Jawa Tengah) lalu dijawab penjara yang menakutkan. Karena memang ada empat Lembaga Pemasyarakatan (dulu ada sembilan) yang spesial dibuat untuk penjahat-penjahat besar. Sebutlah Johny Indo, Tommy Soeharto, Bob Hasan.

Pagi tadi, pukul 6.30, Mei 2011, aku, tanpa bekal informasi yang cukup, coba langsung trabas ke Dermaga Wijayapura, satu-satunya dermaga besar formal yang menghubungkan Kota Cilacap dengan Nusakambangan (Dermaga Sodong).

“Pak, saya mau ke Nusakambangan. Bayarnya berapa ya?”

“Kamu dari mana?” kata si petugas di kantor yang pakai pakaian dinas seperti polisi air.

“Dari Jakarta.”

“Maksudnya dari institusi apa?”

“Ya bukan dari mana-mana, saya mau main ke pantainya.”

“Ya tidak bisa. Harus jelas kalau ke sana. Wisatawan tidak boleh.”

“Gak boleh? Saya dari Jakarta loh Pak, ke sini cuma mau ke Nusakambangan.”

“Nusakambangan bukan daerah wisata, mas!”

Arggh! Ini gara-gara terlalu percaya Loney Planet. Di situ ditulis, kapal very berangkat pukul 7 pagi dengan tarif Rp 30.000. Padahal, kapal very itu sama sekali tidak boleh buat wisatawan. Lonely Planet yang kupegang keluaran 2008, sedangkan larangan wisatawan tidak boleh nebeng itu, menurut petugas, sejak sebelum tahun 2000. Kesalahan fatal!

Aku balik ke penginapan di dekat alun-alun. Karena hujan tidak berhenti, siang ini juga tidak bisa keluar. Sorenya aku main-main ke Pantai Teluk Penyu atau kadang disebut orang lokal THR (Tempat Hiburan Rakyat). Ini adalah pantai yang paling favorit buat orang Cilacap.

Garis pantainya cukup panjang dan banyak berjejer kios-kios makanan, ada yang dibuat serius seperti restoran mewah, ada yang cuma bilik bambu. Mirip dengan pantai Ujong Blang di Lhokseumawe, Aceh. Sama-sama punya garis pantai yang panjang, sama-sama punya banyak kios, dan sama-sama dekat dengan tanki minyak (Pertamina di Teluk Penyu, Arun di Ujong Blang).

Teluk Penyu. Dok: pariwisata.cilacapkab.go.id

Padahal ini hari Rabu dan bukan tanggal merah, tapi kios-kios itu tetap buka loh. Menurut orang lokal, memang di sini setiap hari ramai, apalagi tanggal merah. Pantainya biasa saja, tidak ada ombak tinggi bergulung-gulung, tidak ada pasir putih, tidak ada sunset, tidak boleh berenang pula, dan yang gawatnya, ada pemberitahuan bahwa di pantai terkadang ada binatang laut berbisa. Aku pun masih bingung kenapa bisa seramai ini. Mungkin karena tidak ada pilihan wisata lain ya.

Kapal-kapal nelayan yang berjejer-jejer, yang awalnya aku sangka buat cari ikan, rupanya bisa juga untuk alat transportasi ke Nusakambangan. Sial aku baru tahu sekarang! Kalau sudah sore begini sama saja bohong kalau maksain nyeberang ke Nusakambangan.

Aku cuma tanya-tanya saja sama pemilik kapalnya, tentang Nusakambangan dan tarif-tarif kapalnya, mungkin lain kali bisa main ke sini lagi. Pada umumnya, wisatawan naik kapal ini buat ke Nusakambangan. Kapalnya  mirip kapal-kapal carteran buat snorkeling di kepulauan seribu. Rata-rata muat sekitar 15 orang. Alhamdulillah, sudah pakai mesin =)

Mungkin karena ketahuan tidak tahu harga, si pemilik kapal nembak Rp 25.000 per orang untuk ke Nusakambangan (Pantai Karang Pandan). Tapi orang lokal bilang biasanya cuma Rp 10.000. Nyeberang paling cuma 15 menit, pulaunya kelihatan kok. Mirip dari Pantai Sendang Biru ke Pulau Sempu (Malang) atau dari Pantai Iboih (Sabang) ke Pulau Rubiah

Itu terserah kita mau pulang jam berapa, paling telat pukul 17.30 karena jam segitu Teluk Penyu tutup. Selain Pantai Karang Pandan, di sana juga ada Benteng Karang Bolong. Biasanya turis yang datang ya ke dua tempat itu.

Gimana kalau mau camping di Nusakambangan? Ya bisa saja, sudah banyak kok yang camping di Karang Pandan. Nanti izinnya bisa diurus si pemilik kapal, nambah Rp 5.000. Besoknya dijemput sesuai jam kesepakatan. Biasanya si turis dibekali nomor si pemilik kapal, jadi kalau mau pulang tiggal SMS juga bisa (salah satu pemilik kapal: Pak Budi 085726105114). Di Nusakambangan sinyal kuat.

Obrolanku dengan si pemilik kapal terus berlanjut sampai ke sebuah pulau bernama Kampung Laut. Katanya, “Di pulau ini boleh-boleh saja bawa kamera atau HP berkamera, tapi itu tidak akan berguna.” Aku heran, “Loh, kenapa Pak?” Dijawab, “Kita bisa melihat hasil jepretannya selama masih di dalam pulau, kalau sudah keluar, data foto itu hilang dengan misterius.” Hehe, mau coba?

Masih di Kampung Laut, ada sekumpulan batu yang terkadang kalau dipukul tidak keluar bunyi apa-apa seperti batu biasa, tapi terkadang bisa bunyi seperti kendang, walau cuma dipukul pakai tangan. Ini mirip dengan kejadian stalaktit-stalaknit yang ada di Goa Tabuhan di Pacitan.

Pak Budi pasang tarif Rp 450.000 (belum ditawar) per kapal untuk ke Kampung Laut, ditemani camping (atau tidak camping), sampai pulang besoknya. Perjalanan dari Teluk Penyu sekitar satu jam.

“Tapi kalau camping, hati-hati ya mas. Hewan liarnya keluar kalau malam.” Nah loh. Tapi selama di pinggir pantai atau dekat rumah penduduk Insya Allah aman. Silakan dicoba… =)

04
Jun
11

5 cm

Salah satu novel terbaik Indonesia. Ini adalah buku untuk para petualang alam maupun petualang hidup. Aku sudah membacanya sejak sekitar 2006, waktu buku ini baru terbit, tapi seakan kisahnya masih menempel kuat.

Donny si pengarang membuat cerita ini dengan gaya bahasa anak muda. Beberapa anak muda yang bersahabat mempunyai kehidupan masing-masing. Mereka akrab sekali sampai suatu ketika jenuh mendera. Mereka memutuskan untuk vakum dalam persahabatan tersebut sampai waktu yang ditentukan.

Mereka kemudian bertemu lagi di sebuah stasiun kereta api di Jakarta untuk menuju Malang. Dengan kereta ekonomi itu, mereka menemui banyak hal tentang Indonesia, seperti penjual nasi bungkus yang sudah renta sekali yang memohon-mohon dagangannya dibeli, dsb.

Tujuan utamanya adalah mendaki gunung Semeru. Donny menggambarkan setiap detail keluhan mereka dalam pendakian gunung tertinggi di Jawa itu. Tapi menurutku agak berlebihan. Sebetulnya tidak sesusah itu. Tapi dramatisasi ini sepertinya berhasil menyedot banyak keinginan anak muda untuk mendaki Mahameru.

Donny menularkan virus untuk cinta pada Indonesia. Ia mendoktrin untuk tetap menancapkan mimpi, menggantungnya 5 cm di depan jidat agar bisa dilihat terus menerus. Kita hanya butuh kaki yang lebih jauh melangkah untuk melakukan semuanya. Hebat!

01
Jun
11

Ada USD di Dompet Orang Kamboja

Selain bercerita banyak tentang islam yang ada di Kamboja, Yunus yang sejak kecil tumbuh di Pnom Penh juga bercerita tentang keadaan negaranya. “Kamboja itu punya potensi wisata lebih bagus daripada Thailand, tapi kurang kepintarannya,” kata Yunus dengan Bahasa Indonesia yang masih terbata-bata. “Orang-orang pintar yang ada di Kamboja memilih meninggalkan Kamboja untuk penghidupan yang lebih baik.”

Jadi wajar saja kalau pengelolaan negaranya kurang baik. Kuil-kuil di Kamboja lebih banyak daripada kuil-kuil di Thailand, tapi orang-orang tetap lebih memilih Angkor Wat (salah satu kuil terkenal di Thailand) sebagai tujuan utama.

Kalau menurut Yunus, Thailand mempersiapkan pariwisatanya dengan serius. Mereka memperbaiki akses jalan ke tempat wisata, menyediakan banyak penginapan, dan juga mempersiapkan SDM buat bisnis pariwisata. Sementara Kamboja tidak seserius itu.

Harga-harga di Kamboja tidak berbeda jauh dengan di Indonesia kalau di rupiah-kan. Sepiring bakso, di sana itu 1.000 riel (mata uang Kamboja; 1 riel = Rp 2,5) atau sekitar Rp 2.500.

Dok: fondosdibujosanimados.com

Yang unik, di Kamboja, USD laku di mana-mana. Sudah biasa kalau orang mempunyai uang Riel dan USD sekaligus dalam satu dompet. Yunus sendiri kalau jajan di sekolahnya sering menggunakan USD.

Kamboja mempunyai raja yang kedudukannya diwariskan turun-temurun. Ada suatu waktu ketika rajanya adalah bocah berumur 6 tahun (kalau tidak salah ingat). Orang-orang meremehkannya, tapi ternyata dia bisa memimpin dengan baik. Sampai sekarang raja itu masih ada tapi kekuasaannya sudah diwariskan ke anaknya.

Orang-orang Vietnam senang berdagang ke Kamboja. Kalau dihitung-hitung, lebih untung buat mereka jualan ke Kamboja ketimbang jualan di negaranya sendiri. Tapi tetangga satunya lagi, Thailand, menurut Yunus, agak dingin hubungannya dengan Kamboja. Masuk ke Vietnam, bagi orang Kamboja, jauh lebih mudah daripada masuk ke Thailand.

Mudah-mudahan lain kali ada kesempatan melihat langsung kehidupan Kamboja.




Juni 2011
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930