Ingin Keliling Lagi

Sekarang usia saya 32 tahun. Sudah punya anak satu. Istri juga satu. Tapi gejolak jalan-jalan masih seperti anak umur dua puluhan, yang belum punya anak istri. Tiba-tiba terbayang kembali perjalanan saya waktu umur 25 tahun, setahun sebelum nikah.

Waktu itu, yah biasalah, anak muda baru kerja, punya uang sedikit maunya jalan-jalan. Saya ikutan komunitas Backpacker Indonesia. Tapi kadarnya rada kronis. Sampai keluar kerjaan untuk jalan-jalan keliling Sumatera selama tiga bulan. Sendirian.

Runut dari Lampung lewat jalur tengah dan barat, sampai Aceh. Pulangnya lewat jalur timur: Kepri, Babel. Sepuluh Provinsi, sekitar lima puluh kota atau wilayah. Itu Desember 2011 sampai Maret 2012. Pakai carrier kalau gak salah yang ukuran 60 L. Salah satu isinya adalah laptop dan buku kecil, karena sambil menulis catatan-catatan selama perjalanan.

Perjalanan saya waktu itu, menurut saya yang hari ini, sangat koboi. Tidak berpikir panjang tentang risiko yang mungkin muncul. Walaupun memang ada waktunya kita lebih baik tidak berpikir panjang. Kalau dipikir panjang-panjang mungkin malah gak jadi berangkat waktu itu.

Karena punya banyak keterbatasan, maka saya menerapkan beberapa aturan dalam perjalanan. Tidak ada budget untuk tidur di penginapan, harus di tempat yang gratis. Kalau jaraknya masih di bawah 5 km, harus jalan kaki, tidak boleh naik angkutan berbayar. Tidak boleh beli minum, harus minta.

Dengan aturan-aturan itu, saya jadi terbiasa untuk: tidur di masjid, tidur di pinggir pantai, rajin silaturahim ke teman level 3 (Si C: ketika saya punya teman A, A punya teman B, B punya teman C) yang bertempat di Sumatera, memulai dengan berbasa-basi, berkawan dengan semua orang yang ditemui, jalan kaki tanpa google maps, hitchhike AKA nebeng, kipas-kipas kepanasan, tidak malu minta air ke warung-warung, dan minum air keran di masjid.

Perjalanan itu sangat tidak saya sesali, bahkan saya merekomendasikan anak-anak muda yang belum menikah untuk melakukannya juga. Karena apa? Cuek aja, hehe. Karena bagus sekali untuk menempa kemandirian, softskills. Bagus sekali untuk menambah wawasan, menambah perspektif. Saya setuju dengan pendapat: pikiran kita akan semakin terbuka kalau bertemu dengan orang yang semakin berbeda. Semakin berbeda, semakin bagus. Berbeda bisa dari banyak hal: Pendidikan, kebudayaan, agama, gaya hidup, pekerjaan, umur, dsb….

Setiap sampai di suatu tempat baru, saya selalu membaur sebaur-baurnya. Langsung ngobrol dengan warga lokal. Utamanya untuk membuat zona aman. Semakin orang tahu siapa kita, tahu bahwa kita tidak punya niat jahat, maka dia akan semakin melindungi kita. Itu salah satu kesimpulan saya dari perjalanan.

Saya berenang di tiga danau besar di Sumatera: Toba, Maninjau, Singkarak; mendaki gunung Tujuh, sebelahnya Kerinci, karena waktu itu Kerinci porternya mahal banget: Rp300 ribu per hari; merasakan diseruduk anak gajah di Way Kambas dan mendengar langsung konflik antara gajah dan warga; merasakan konflik tanah di pulau-pulau kecil; naik kereta api di Lampung, Sumsel, dan Sumut; menghadiri pesta pernikahan orang tak dikenal; mencoba makanan-makanan yang sampai sekarangpun tidak tahu itu apa; mendengar suara aneh di hutan; mencoba kopi aceh, mandailing, lampung, belitong; makan nasi padang di padang; makan mie aceh di aceh; makan martabak bangka di bangka; pesta durian; dst…

gajah penyeruduk
Anak Gajah di Way Kambas, si penyeruduk

Ada satu waktu ketika di Siberut (Kepulauan Mentawai), yang untuk ke sana perlu naik kapal kayu dari Padang selama 10 jam, yang kapalnya goyang-goyang diterjang badai dan kayunya berdecit bunyi kretek kretek seperti mau terbelah dua, saya kenalan dengan seorang anak muda bernama Niko Sagaileppa. Diajak ikut ke tempatnya di Saibi, saya ikut. Itu adalah daerah tanpa sinyal, tanpa listrik, dan masih banyak warga bertato garis-garis melingkar, mungkin suku asli Siberut. Seorang di antaranya datang mengajak saya ngobrol dengan Bahasa yang saya kurang pahami. Lewat penterjemah, akhirnya saya paham bahwa dia bilang: dulu orang baru seperti saya, kalau tidak kenal orang lokal, dimakan sama suku asli, karena dulu mereka kanibal. Saya langsung pingin pulang.

Nias
Sulitnya sinyal di pedalaman Mentawai

Ada satu waktu saya betul-betul merasa kesepian dan menjadi begitu dekat dengan Allah, dan pasrah kalau memang saya harus mati ya matilah. Yaitu ketika bermalam di sebuah keramba jaring apung di Pulau Balai (Kepulauan Banyak). Tidur di atas keramba itu berarti tidur mengikuti gelombang laut. Jam 1 malam tiba-tiba badai datang. Keramba naik turun tak karuan. Air laut masuk ke keramba membasahi pakaian. Saya pikir tsunami, tapi ternyata itu hanya badai yang memang hampir setiap malam datang.

Ada satu waktu di Pulau Hinako (baratnya Pulau Nias), saya disambut baik oleh warga lokal, lalu disuruh makan ikan tuna sepuasnya. Ikan tuna yang dibeli dengan harga Rp20 ribu per kilogram. Tidur dikelambui. Warga di sini masuk dalam kategori miskin versi Badan Pusat Statistik (BPS) karena pengeluarannya tidak lebih dari Rp200.000/bulan/orang, tapi saya tidak melihatnya demikian. Mereka punya lautan penuh ikan, tidak akan kelaparan. Mereka punya tetangga-tetangga yang saling peduli, saling mengamankan, tidak perlu iuran satpam.

Bukannya sombong (tapi belagu, hehe), kalau ada yang posting foto tempat wisata di Sumatera, hampir semua saya pernah singgahi. Yang singgah di kepala saya paling lama justru bukan tempat wisatanya, tapi orang-orang yang saya temui, pikiran-pikiran mereka, kesederhanaan mereka, konflik-konflik yang mereka hadapi.

Catatan-catatan saya selama perjalanan, saya rapikan dan kirim ke penerbit. Gramedia menerimanya, lalu terbit di akhir 2012 dengan judul Keliling Sumatera Luar Dalam. Beberapa email pembaca masuk, itu yang paling seru: ada pembaca yang mau berdiskusi tentang buku yang kita tulis.

Buku gramed
Buku Keliling Sumatera Luar Dalam

Lalu ada telepon masuk, dari seorang pembaca, yang belakangan saya tahu bahwa dia adalah bos travel kondang. Dia pernah menjalani petualangan seperti yang saya lakukan, ketika dulu masih kuliah di ITB, puluhan tahun lalu, dengan beberapa nama yang saya kenal sebagai gubernur dan politikus. Bos ini mengajak ketemuan di rumahnya di komplek perumahan menteri di daerah Komdak.

Ngobrol sana sini, akhirnya saya tangkap keinginannya: ikut bersamanya bertualang menyusuri jalur sutera, berawal di Istambul. Lalu menuliskan perjalanan tsb. Kalau saya OK, dia akan sponsori semuanya, termasuk perizinan di negara-negara yang akan dilewati. Sayangnya saya tolak, karena ke-cemen-an saya menghadapi ancaman kantor: sepulangnya dari jalur sutera, belum tentu ada pekerjaan lagi buat saya. Itu salah satu penyesalan terbesar.

Saya ingin merasakan pengalaman sumatera itu lagi. Masih kuat gak ya? Kelihatannya Nusa Tenggara bagus….

Kopi ya Solong

IMG20181124064422Rasanya saya perlu tulis tentang Warung Kopi Solong yang terkenal di Banda Aceh. Bisa dibilang, ini adalah warung kopi yang paling terkenal di Aceh. Kopinya menurut saya murah, yaitu hanya Rp7.000 per gelas kopi hitam saring. Tapi menurut saudara saya yang tinggal di Aceh, segitu mahal, karena rerata harga kopi di Banda Aceh itu Rp5.000, malah ada yang Rp4.000.

IMG20181124064647
Segelas Kopi Aceh di Solong Coffee, Rp7.000

Itu adalah harga ketika kunjungan saya terakhir ke Solong 25 November 2018. Setiap mampir Banda Aceh, saya selalu mampir Solong. Mungkin sudah sejak belasan tahun lalu. Rasanya gak banyak yang berubah dari Solong.

IMG20181124070742
Jenis-jenis sajian kopi di Solong Coffee beserta harganya

Letaknya di Simpang Tujuh, Ulee Kareng. Gampang lah ke sana, banyak orang yang tahu. Yang tidak tahu malah perlu dipertanyakan ke-Aceh-annya. Saya ke Banda Aceh naik travel dan minta turun di Solong.

IMG20181124064635
Nasi Gurih di Solong, dengan telur, Rp10.000

Pesan sepiring nasi gurih dengan telur dadar, harganya Rp10.000. Pesan kopi saring harganya Rp7.000. Juga makan sepotong kue talam khas Aceh seharga Rp2.000. Jadi total makan saya pagi itu Rp19.000.

IMG20181124064657
Kue talam di Solong Coffee
IMG20181124071036
Bubuk Kopi Solong

Ohya, saya juga beli kopi Robusta ukuran 250g seharga Rp30.000. Sebetulnya ada banyak pilihan kopi bubuk yang dijual. Arabika rata-rata Rp75.000 per 250g. Ada yang specialty Rp100.000 per 250g, tapi aromanya harum banget dari luar sudah tercium.