Archive for the 'ide' Category

14
Des
09

Mendekatkan Panggang dengan Api Anak Jalanan

Walaupun berjarak empat puluh kilometer dari Ibukota, Bogor masih banyak mengadopsi budaya Jakarta. Saya kerja di daerah Baranang Siang yang menjadi pusat kota Bogor. Tidak ada perbedaan besar dengan Jakarta. Baranang Siang juga dikelilingi restoran-restoran besar, mal-mal megah, factory outlet bagus, dan sebagainya. Juga selalu ada unsur anak jalanan, pengemis, dan kaum pinggiran lainnya.

Kampung Cieheuleut hanyalah salah satu perkampungan yang dihuni oleh kaum termarjinalkan tersebut. Kami yang tergabung dalam relawan SABOR (Saung Belajar Anak Bogor) mencoba meminimalkan ketimpangan tersebut dengan jalan pendidikan.

Selasa dan Minggu menjadi agenda rutinan kami untuk mengajar. Karena pemahaman yang belum banyak, belum ada metode terarah untuk isi pembelajaran di dalamnya. Kami hanya mengikuti kurikulum dari sekolah, sedikit ditambah dengan Bahasa Inggris.

Suatu waktu, saya coba perkenalkan laptop dan Microsoft Word pada salah seorang anak seumuran SMP. Anak asuh saya ini tertarik sekali mempelajarinya. Saya bukakan MS Word lalu saya tugaskan dia mengetik. Maka satu setengah jam matanya tidak lepas dari layar dan keyboard berusaha mencari huruf-huruf untuk menyusun kata. Terkadang butuh puluhan detik beranjak dari satu huruf ke huruf lain, pertanda jarang sekali menggunakan keyboard.

Dia bilang bahwa pernah sekali belajar di salah satu rental kampus dekat tempat tinggalnya. Dengan pembelajaran dari saya waktu itu, berarti dia baru dua kali memencet tuts keyboard, setelah belasan tahun hidup. Dua kali!

Besar sekali keinginan saya memperkenalkan internet lebih lanjut kepada mereka. Apa daya, kami tidak punya dana besar, hanya bergantung pada dana relawan saja. Namun, mimpi itu masih tetap saya tanam. Suatu saat nanti, saya ingin satu per satu anak asuh saya tersebut memegang laptop berakses internet. Saya ajarkan membuat blog dan mengutarakan pandangan dan keluh kesah mereka. Saya ajarkan membuat akun facebook lalu memberikan link ke pejabat dan orang-orang pengambil keputusan sehingga mereka bisa protes langsung dan memberikan ide langsung kepada pejabat terkait.

Semangat belajar mereka besar. Terlihat dari pupil matanya ketika relawan memberikan penjelasan tentang bilangan desimal, tentang kalimat majemuk, dsb. Sayangnya akses mereka terbatas. Andai akses internet masuk pada mereka, tentunya api semangat mereka akan lebih dekat dengan segala hal berbau ilmu pengetahuan.

13
Des
09

Reverse Library; Pay It Forward

Bukan rahasia lagi bahwa perpustakaan pada umumnya selalu sepi, di manapun itu (selama masih di Indonesia; diwakili Jakarta dan Bogor) dan sebagus apapun itu. Sepengamatan saya pribadi, penggemar perpustakaan cuma mahasiswa yang mau menyusun karya tulisnya atau para peneliti yang hunting sumber pustaka. Bahkan waktu saya buat kartu keanggotaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), hal pertama yang ditanyakan petugas, “KTM nya mana?”, saking seringnya mahasiswa yang berkunjung. Padahal ada juga kartu anggota PNRI untuk umum dengan modal KTP. Atau itu karena tampang saya masih imut-imut ya? =p

Padahal, tidak sedikit juga yang hobi sekali membaca. Saya kebetulan hidup di kelilingi orang-orang yang suka membaca. Mereka malas datang ke perpus, walaupun mereka bisa mendapat akses baca buku gratis dengan hanya bermodalkan ongkos jalan ke perpusnya. Beberapa yang suka membaca tapi kurang bisa membeli buku secara rutin, tetap tidak memilih untuk pergi ke perpus. Dia lebih memilih mencari temannya untuk meminjam buku yang dia inginkan.

Ganti berganti membaca buku ini baik sekali menurut saya. Satu buku bisa memberikan manfaat tidak hanya ke satu orang. Sebetulnya cita-cita itu juga yang ingin dicapai penggiat perpustakaan. Tapi sepertinya pendekatannya kurang tepat untuk menggaet salah satu golongan pecinta buku sehingga perpus tetap sepi.

Dari fakta-fakta itu, saya punya pemikiran untuk memberikan pendekatan yang menurut saya lebih efektif. Tujuannya tetap untuk membuat satu buku bisa dibaca oleh sebanyak-banyaknya orang. Kalau perpustakaan memberi kesan pembaca yang mencari buku, gerakan ini membalik hal tersebut, buku yang akan mencari pembacanya.

Saya tidak tahu data penelitian tentang kebiasaan orang memperlakukan buku setelah dibaca habis. Tapi dari pengamatan saya, orang hanya membaca sekali atau dua kali lalu buku akan disimpan atau dipinjamkan ke temannya. Kalau dia pinjamkan ke temannya, tentu saja lebih bagus, tapi karena kecilnya lingkungan, maka tidak akan banyak orang yang akan meminjamnya, kecuali buku itu sangat popular.

Nah, bagaimana kalau buku itu bukan dipinjamkan, tapi diberikan? Dengan syarat, orang yang diberikan ini berniat membaca buku itu dan mau memberikannya ke orang lain lagi dengan syarat yang sama. Begitu seterusnya. Semakin kredibel orang yang mendapat buku itu semakin panjang daftar orang yang akan membaca buku itu.

Pemberiannya bisa kepada teman kuliah, teman kantor, keluarga, atau lingkungan tempat dia bersosialisasi, asalkan dia bisa yakinkan bahwa orang yang akan diberikan buku ini punya maksud baik dan mau memberikannya kepada orang lain yang punya maksud baik juga.

Bahkan, kalau dia tidak mendapatkan orang di sekitarnya yang kredibel untuk melanjutkan program ini, dia bisa memberikan pada orang yang lokasinya jauh (tetap orang yang dia kenal). Buku bisa dikirimkan via pos. Biayanya ya dari kantong yang mau memberikan buku itu. Ini memang bagian pahitnya. Tapi kalau dia punya niat sosial yang tinggi, sepertinya tidak akan terlalu berat kalau mengeluarkan tidak lebih dari Rp10 ribu untuk melanjutkan keterbacaan buku itu.

What do you think?




Juli 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31