Nusa Tenggara? Berangkat….

Ini sudah lama saya rencanakan, impikan, dan doakan. Ini juga jadi alasan saya resign yang kelima kalinya, dan akan menjadi catatan yang keenam. Sebetulnya bukan resign, tapi tidak memperpanjang kontrak. Saya pun tidak cari kontrak yang lain dulu. Mau fokus traveling.

Minggu ini saya masih kerja, sampai Jumat 29 Maret 2019. Tiket Jakarta – Lombok sudah saya pesan tadi malam, lewat Traveloka, yang kemudian ditransfer pakai mobile banking BCA punya istri.

Jadi saya memutuskan untuk stop bekerja dulu, supaya bisa keliling Nusa Tenggara selama satu bulan. Rencananya mau saya buatkan catatan perjalanannya juga. Saya bawa laptop! Sukur-sukur ada yang mau menerbitkan seperti dulu buku Keliling Sumatera Luar Dalam.

Mulai 1 April 2019 sampai 30 April 2019. Itu rencananya. Berawal dari Lombok. Sendirian.

Di Lombok, sebetulnya saya agak menghindari lama-lama di sini. Kenapa? Saya lebih senang ke tempat yang sepi, yang sedikit turisnya. Agak alergi dengan komersialisasi obyek wisata. Target utama di Lombok sebetulnya Rinjani. Tapi Rinjani masih tutup. Semua jalur ditutup. Jadi sedih.

Yah, paling jadinya nongkrong-nongkrong saja di Sembalun. Saya penasaran dengan perekonomian di sana. Gimana nasib-nasib porter dan semua yang bergerak di industri wisata? Jalur tutup artinya tidak ada turis naik gunung, artinya tidak ada yang perlu jasa porter.

Senggigi dan Gili Trawangan nampaknya harus, walaupun hanya lewat. Saya akan berkesimpulan: “ Ooh, begitu saja.” Yang agak seru sepertinya pantai selatan Lombok. Antara Kuta atau Selong Belanak? Bagusan mana ya? Saya mau belajar surfing juga, dengar-dengar ada di Selong Belanak ya?

Nyeberang ke Sumbawa lewat Pelabuhan Poto Tano. Titik-titik yang rencananya saya lewati di Sumbawa adalah Taliwang (mau coba ayam Taliwang), Pulau Bungin, Sumbawa Besar, Dompu, Tambora (mau ada festival Tambora), Bima, dan Sape (buat nyeberang ke Flores).

Pulau Mojo cukup menarik, bukan karena air terjun Mata Jitu nya, tapi lebih ke kehidupan masyarakatnya, seberapa susah sih mencari uang di Mojo? Supaya saya bisa bersyukur bisa punya kesempatan mencari uang dengan lebih mudah dibanding masyarakat di Mojo. Tapi ya lihat nanti, kalau tidak sempat, ya lewat. Karena saya lebih tertarik dengan NTT dibanding NTB. Rasanya mau buru-buru sampai Labuhan Bajo.

WhatsApp Image 2019-03-26 at 17.20.52
Lonely Planet 2003 sebagai referensi

Yang saya baca, dari Lonely Planet Indonesia terbitan 2003 (cuma mampu beli yang bekas), kapal dari Sape (Sumbawa) ke Labuhan Bajo (Flores) tidak mampir Pulau Komodo dan Rinca. Rata-rata turis ambil paket trip 2-3 malam di sebuah kapal carter, yang kapal itu akan mampir ke Komodo, Rinca, dan beberapa pulau lain. Ini sebetulnya bagus sih, dapat banyak destinasi, sekaligus bisa ngobrol pakai Bahasa Inggris, lama tidak terasah. Sebagian besar turis akan berupa bule (ini kalimatnya betul tidak ya?). Tapi ongkos tripnya lumayan, sekitar tiga jutaan. Yah lihat mood nanti saja. Biasanya memang saya hanya tentukan jalur utama, lebih spesifk mau ke mananya, lihat nanti saja.

Dari Labuhan Bajo, yang jelas akan lewat Ruteng, Bajawa, Ende, Maumere, dan Larantuka. Saya dengar jalannya bagus, tapi angkutannya gabung sama makhluk hidup lain, seperti babi. Dan jalannya lambat banget, betul tidak sih?

Di Ruteng, penting banget gak sih ke Wae Rebo? Semenjak sudah ada tarif-tarifan saya jadi malas. Saya dengar ada desa lain, masih daerah Ruteng, yang juga punya rumah-rumah keren seperti di Wae Rebo. Nanti kita tanya di sana….

Ende punya pelabuhan besar yang rutenya agak banyak. Yang paling menarik adalah ke Waingapu (Sumba). Tapi katanya kapalnya seminggu sekali, dan kapal baliknya juga seminggu sekali. Beli tiket pesawat tak mampu. Lihat nanti di sana saja.

Yang membuat saya paling berdebar dan paling menarik adalah pulau-pulau di timur Flores: Adonara, Solor, Lembata, Pantar, dan Alor. Semua menarik! Kepulauan selalu menarik. Tapi saya ragu dengan jalur kapal antar pulau tersebut, juga jalur darat di dalam pulau. Akankah waktu saya cukup untuk kesemua pulau itu?

Di kepulauan, saya akan menemukan keramahtamahan yang tidak ditemui di kota. Saya akan menemukan bentuk kesederhanaan yang paling sederhana. Saya akan sangat bersyukur dengan kemudahan yang selama ini saya dapatkan. Saya akan bersyukur dengan nikmat-nikmat yang paling sederhana: jaringan HP, makanan, transportasi, kedekatan dengan keluarga…. Saya senang kepulauan!

Lalu saya akan lompat ke Kupang, entah dari mana, mungkin dari Alor. Karena belum tentu ada kapal langsung dari Alor ke Kupang, bisa jadi harus balik Larantuka dulu untuk ke Kupang. Di Timor, yang menarik buat saya adalah Soe, Atambua, dan mungkin Dili (ini sudah bukan Indonesia). Di Soe, saya akan lewat saja. Dulu teman kuliah saya salah satunya dari Soe. Dia sudah meninggal. Mungkin saya akan mampir ke orang tuanya dan menyampaikan kebaikan-kebaikan almarhum selama di kampus.

Atambua menarik karena menjadi kota yang paling dekat dengan perbatasan. Mungkin saya akan menukar dollar, lalu menyeberang ke Dili, lalu kembali ke Kupang. Bisa jadi akan menyeberang ke Pulau Rote, lalu kembali ke Kupang. Untuk kemudian terbang balik ke Jakarta. Bekerja lagi, menabung lagi.

Sumba? Sebetulnya pulau ini menarik. Ada sih rencana menyeberang dari Kupang ke Sabu, lalu ke Waingapu (Sumba). Yah lihat nanti… Doakan saya! Kalau ada masukan untuk itinerary, ditunggu yaah…

Enam Bulan di Langsa

IMG20190314085853
Kantor Pusat PTPN I Langsa

Akhir September 2018, saya dan tim ditugaskan untuk mengawal pergantian sistem di PTPN I (N1) yang berkantor pusat di Langsa, Aceh. Kami ada belasan orang. Dua di antaranya tim lokal, atau kami sebut “local support”. Satu namanya Desi, satu lagi Tria. Keduanya lulusan Unsiah, universitas terbaik di Aceh.

Dalam keseharian orang Aceh, memanggil sesama teman memang biasa dengan sebutan “Ke” dengan “e” seperti melafalkan hotel. “Ke mau ke mana?” kalau Bahasa Jakarta-nya, “Lu mau ke mana?”

Karena sudah setiap hari si Tria dipanggil “Ke” oleh Desi, maka oleh anggota tim yang lain, Tria dipanggil “Bang Ke” yang lama-lama spasinya hilang menjadi “Bangke”. Tapi Tria tidak marah. Dia baik hati dan hanya tersenyum.

Kami ditempatkan di Hotel Kartika, yang sebetulnya lebih tepat disebut wisma. Setiap pagi sarapan di sini. Yang biasanya makan timphan hanya ketika lebaran, sekarang jadi hampir setiap hari, karena Hotel Kartika sediakan dalam menu sarapannya. Saya menulis review khusus tentang hotel ini di tulisan khusus.

Dari hotel ke kantor naik becak. Agak beda dengan becak di Jakarta, becak di Aceh bukan dikayuh, tapi digas, karena becak ditempel dengan kereta. Agak beda dengan kereta di Jakarta, kereta di Aceh rodanya tidak banyak, hanya dua.

Kantor Pusat N1 punya bentuk bangunan yang unik, ada topinya. Khas topi Aceh: meukutob. Topi ini biasanya dipakai oleh pengantin pria waktu menikah. Atau lelaki ketika berperang. Untuk yang terakhir ini, tepatnya saya hanya melihat Teuku Umar yang dipersepsikan selalu memakai topi meukutob.

Ada enam kebun dan tiga pabrik yang dimiliki N1. Sudah dua kali saya keliling ke kebun pabrik itu. Yang paling menarik adalah Cot Girek, karena punya jejak historis yang dalam. Ada tulisan khusus tentang Cot Girek dan pengalaman saya ketika ke sana.

Pada jam kerja, saya bertualang mencari cara agar N1 mampu melewati masa-masa sulitnya ketika mengganti sistem. Ini bukan hanya mengganti sistem, lebih jauh, ini perubahan cara pandang untuk bisa berkaca: apakah bisnis proses yang selama ini kita jalankan sudah betul?

Lompat dari meeting satu ke meeting yang lain, training satu ke training lain, perdebatan satu ke yang lain. Sampai akhirnya bisa Go Live sistem pada 1 Januari 2019. N1 berani langsung single system. Sistem lama langsung ditinggalkan. Tiba-tiba saya teringat kisah Thariq bin Ziyad yang membakar kapalnya ketika sampai Spanyol: tidak ada kata mundur. Jalan untuk mundur sudah dibakar. Spanyol-pun takluk.

N1 tidak seheroik itu sih, hehe. Tapi bahwa berani memilih single system, itu hebat.

Di luar jam kerja, saya bertualang menambah wawasan otak, mayoritas lewat Youtube, hehe. Tidak jarang, saya keluar ngopi dan ngobrol berjam-jam. Salah satunya adalah ketika ngopi dengan personil polisi syariat atau WH. Mereka punya tantangan internal sendiri, terkait pendanaan operasional, SDM, lemahnya taring si macan, yang kemudian saya tuangkan dalam tulisan khusus WH si Macan Ompong.

Ngopi di Langsa tidak pernah mengecewakan. Mayoritas kopinya enak. Ada sebagian saja yang rasanya tidak karuan. Saya peminum kopi tanpa gula. Kalau ketemu kopi tidak karuan, baru saya tambahkan gula, supaya rasa tidak karuan itu tertutup dengan manis. Sejauh ini, yang paling enak menurut saya adalah kopinya Pos Kopi. Ngopi tidaklah mahal seperti di Jakarta yang sekali ngopi setidaknya habis Rp30.000 (bukan kopi sachet). Di Langsa rata-rata hanya Rp6.000.

Begitu juga mie aceh. Saya sempat kaget waktu awal-awal makan mie aceh di Langsa. Berapa bang? Delapan ribu perak? Saya ulangi sekali lagi, “Delapan ribu perak, Bang??”

Itu harga untuk mie aceh yang polos. Kalau pakai telur Rp10.000. Kalau pakai daging sekitar Rp18.000. Harga itu tidak jauh berbeda dari satu warung ke warung lain.

Yang saya amati, ekonomi Langsa masih dikuasai warga Langsa sendiri. Ini bagus dan keren. Becak-becak masih dimliki oleh yang mengayuh. Warung-warung kopi masih dimiliki orang Aceh, bahkan kerap kali pemliknya ikut melayani pengunjung. Hotel dan losmen masih dimiliki orang Aceh. Tempat-tempat makan, termasuk yang bagus-bagus seperti di Bonsai, juga masih punya orang Aceh. Kapal-kapal yang lewat di sungai besar, punya orang Aceh. Hebat….

Ada jatah pulang yang diberikan kantor untuk saya, yaitu dua minggu sekali. Jadi tiap dua minggu saya ke Kuala Namu untuk kemudian terbang ke Jakarta. Biasanya pesawat Jumat malam ke Jakarta, lalu pesawat kembali ke Medan pada Senin subuh.

Di Jakarta, tentu saja waktu dihabiskan untuk keluarga. Sesekali saya ajak keluarga ke luar kota, seperti menginap di puncak, berenang di pulau seribu, atau sekadar makan es krim di mal.

Kalau weekend di Langsa, hampir selalu saya kelayapan ke luar Langsa. Paling sering main ke Lhokseumawe, karena ada saudara di sana. Dua kali kami satu tim jalan-jalan bareng. Pertama ke Sabang. Kedua ke Takengon.

Pernah juga saya sekali diajak mancing di Kuala Parek. Ini pantai pasir putih yang tidak jauh dari Langsa, tapi memang aksesnya agak sulit. Tidak tercapai dengan jalan darat, harus sewa kapal menyusuri sungai. Saya menulis pengalaman ini dalam tulisan khusus.

Seperti proyek-proyek pada umumnya, selalu ada batasan waktu. Pun juga dengan proyek saya di N1. Batasan waktu ini yang paling menyebalkan dari satu siklus proyek. Selain karena secara emosional sudah melekat dengan tim proyek yang terlibat, juga karena harus membuka lembaran baru untuk siap diisi dengan cerita baru. Ini berat sekaligus menantang. Sulit, tapi harus dilakukan. Itulah yang terjadi pada Maret ini.

Review Hotel Kartika Langsa

WhatsApp Image 2019-03-09 at 18.36.29
Hotel Kartika, terbesar di Langsa

Ini adalah review saya yang sangat subjektif, dengan pengalaman lebih dari lima bulan tinggal di Hotel Kartika Langsa, yaitu Oktober 2018 sampai Maret 2019.

Kesan pertama waktu datang: ini betulan hotel? Kok seperti wisma, kamarnya tidak sama satu dengan yang lain. Ada kamar yang tidak ada showernya, ada yang ada. Ada kamar yang dapat air panas, ada yang tidak dapat. Ada kamar yang ada kulkasnya, ada yang tidak ada. Ada kamar yang dapat kopi teh gula, ada yang tidak dapat. Layout kamarnya juga berbeda-beda, dengan ukuran kamar yang juga beda tapi hampir sama.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 18.37.01
Kamar 8 Hotel Kartika

Memang ini pilihan yang mau gak mau, karena bisa dibilang, Hotel Kartika adalah hotel terbaik di Langsa. Dan katanya sih yang tertua.

Saya sempat mampir Hotel Harmoni, yang penampakannya lebih hotel dari Kartka. Kenapa? Karena bangunannya ke atas, lantainya sampai 3 kalau gak salah. Kalau Kartika mayoritas kamarnya di lantai 1, hanya sebagian kecil di lantai 2, dan hanya 1 kamar di lantai 3. Nah, di Harmoni ini saya sempat ngobrol dengan resepsionisnya. Dapatlah kamar yang sesuai budget kantor, yaitu di lantai 3. Naik ke atas pakai lift. Pas buka lift, lampunya remang-remang, dan lift terbuka persis di depan tangga. Mengerikan, kita tidak bisa dengan jelas melihat ada apa atau siapa di ujung tangga. Jadi, Harmoni bukan pilihan.

Kembali ke Kartika. Tim yang menjalankan hotel ini, saya melihatnya sih seperti kekeluargaan. Tidak ada seragam khusus kru hotel. Tidak terlihat mana atasan mana bawahan. Yang saya suka, mereka helpful, mau membantu kita. Beberapa kali saya minta diantarkan ke tugu jam 1 malam, karena saya mengejar pesawat besok paginya dari Kuala Namu Medan. Beberapa kali saya tukar uang, dilayani.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 18.36.09
Salah satu lorong di Hotel kartika

Kunci yang digunakan masih kunci yang betulan berbentuk kunci, bukan kartu-kartuan. Kunci ini harus disetorkan ke resepsionis kalau mau kamarnya dibersihkan. Kalau kunci tidak diserahkan, kamar tidak dibersihkan. Sprei dan selimut akan diganti, sarung bantal diganti, handuk diganti, dental kit dikasih yang baru.

Kasurnya kayaknya twin semua deh, belum pernah dapat yang double (satu kasur berdua). Malah pernah sekali dapat kamar yang kasurnya ada tiga tapi kecil kecil.

Meja dan kursi di dalam kamar macam-macam. Ada yang tdak ada, ada yang ada. Yang ada juga jenismeja kursinya macam-macam. TV rasanya ada di semua kamar, tapi ada yang flat, ada yang masih TV tabung. Yang flat juga ukurannya beda-beda.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 18.35.51
Lob bawah Hotel Kartika cukup luas

Beberapa kali petugas house keeping nya kelupaan kasih air, atau kelupaan kasih handuk, atau kelupaan kasih sabun. Sebetulnya saya kurang rela kasih sebutan house keeping, karena tidak pakai seragam. Mungkin lebih pasnya “bagian umum”.

Pilihan makanan waktu sarapan cukup banyak, ada nasi, ayam, ikan/telur, dan sayuran. Ada 3 jenis buah: papaya, nanas, dan semangka. Ada roti dengan beberapa jenis selai dan meses. Ada teh kopi. Ada 3 jenis kue yang berubah setiap hari. Timphan hampir ada setiap hari, ini kue khas Aceh banget. Ada jus yang dibuat manual.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 18.38.34
Timphan hampir ada setiap hari di Hotel Kartika

Kadang-kadang ada mie aceh. Kadang-kadang ada bubur kacang hijau. Kadang-kadang ada semacam kuah soto. Saya sering bawa bekal dari hotel, tidak dimarahin hehe. Karena cari makan siang di kantor rada sulit.

Salah satu poin plus dari hotel ini, posisinya strategis. Di Langsa tidak ada yang tidak tahu Hotel Kartika. Semua tukang becak tahu. Letaknya memang di tengah kota.

Poin plus yang lain, banyak ruang untuk ngobrol. Hotel Kartika punya dual obi, atas dan bawah. Keduanya punya ruang tunggu dengan sofa yang lumayan banyak. Malah saya dan tim pernah meeting di lobi bawah, sekitar 10 orang.

Kalau ditanya puas atau tidak di Hotel Kartika? Jawaban saya sih mau tidak mau puas, karena ini memang sudah yang terbaik di Langsa.

Cerita dari Kuala Parek, Langsa, Aceh

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.32
Pantai Kuala Parek, Langsa

Kali ini cara berwisata saya agak tidak bisa, dan cenderung tidak bisa diikuti. Berawal dari teman kantor saya di Langsa (Aceh), yang hobi mancing. Namanya Bang Agus. Dia mengajak saya mancing di Kuala Parek.

Jam 6.30 pagi, Kamis 7 Maret 2019, kami berangkat dari Langsa ke arah Peurelak, sekitar hampir satu jam naik motor dengan jalan santai. Sampai di sebuah jembatan besar yang mengangkangi sebuah sungai besar. Nama daerahnya Rantau Panjang.

Ohya, sebelumnya beli sarapan dulu di pinggir jalan. Nasi gurih pakai telur 3 bungkus plus gorengan 6 buah, dibungkus. Totalnya hanya Rp26.000 dong. Murah banget. Berarti nasinya sebungkus enam ribu perak, sudah pakai telor….

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.56
Nasi Gurih pakai telur Rp6.000

Setelah jembatan, kami belok kiri turun ke perkampungan pinggir sungai, mungkin perkampungan nelayan. Di situlah Bang Agus langsung ke rumah yang punya kapal untuk kami sewa. Seharian hanya Rp100.000. Bensin sekitar Rp50.000. Udang segar buat umpan satu bubu Rp60.000 (ada puluhan udang sepanjang jari tengah). Sama es dan air minum. Semua tidak sampai Rp300.000.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.55
Puluhan udang hidup di dalam bubu untuk umpan

Langsung kami jalan naik kapal. Kami bertiga. Kapalnya bisa muat 4-5 orang. Langsung tancap gas susuri sungai besar itu. Kanan kiri adalah hutan bakau yang sedap dipandang.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.31
Persiapan kapal sebelum berangkat

Bakau sepanjang jalan. Kalau saya dilepas di tengah-tengah hutan bakau ini, ya jelas tersesat. Wong kanan kiri depan belakang bakau semua. Sempat saya buka Google Maps, terbaca memang titik posisi saya, tapi ya sudah di tengah-tengah begitu saja. Sungai yang kami lewati tidak terdeteksi sebagai sungai di Google Maps.

Sudah jalan sekitar satu jam, saya melihat ada perkampungan di pinggir sungai, namanya kampung Matang Nibong. Bang Agus cerita bahwa di kampung itu, orang membuat arang dari kayu bakau. Membuat arang itu dengan mengasapi kayu bakau, bukan dibakar. Kalau dibakar ya kebakar dong, bukan jadi arang, malah jadi abu.

Sempat berhenti di tengah sungai untuk mancing sekaligus mendinginkan mesin kapal. Ini pertama kalinya saya mancing. Bang Agus dengan santai masukkan tangannya ke bubu untuk ambil udang sebagai umpan. Padahal udang kan bisa kibaskan ekornya lumayan pedas. Tapi katanya gak sakit tuh. Bagian badan belakang (mendekati ekor) dari udang hidup itu dikaitkan ke mata kail.

Sekitar setengah jam menunggu, tidak ada satupun ikan yang menyentuh kail. Sambil kami sarapan. Selesai sarapan, mesin sudah agak dingin, berangkat terus ke Kuala Parek.

Di muara sungai, yang sudah berbatasan dengan laut, saya melihat banyak alat penangkap ikan yang disebut dengan “ambe”. Saya juga kurang paham cara kerjanya. Yang jelas, menggunakan jaring. Ini adalah cara tradisonal untuk menangkap ikan, cumi, dan udang.

Lanjut ke Pantai Kuala Parek. Nah di sini kami berlabuh. Airnya tenang, pasirnya halus. Sarang kepiting ada ribuan. Kepiting pemalu, dia akan langsung masuk sarang kalau kita mendekat.

IMG20190307100134
Pantai Kuala Parek, pasirnya putih dan halus

Dari kejauhan, melihat ada yang berlabuh, beberapa kucing langsung berlarian. Agak heran juga kok banyak kucing di sini? Mungkin ada sepuluh ekor. Mereka mengeong dan menggesek-gesekkan kepalanya di kaki saya. Mungkin dikira saya nelayan yang bawa ikan kali ya.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.58
Kucing mendekati yang berlabuh

Kuala Parek punya banyak pohon cemara. Unik juga ya, pohon cemara di pinggir pantai. Biasanya kan bakau atau pohon kelapa. Di pinggir-pinggir pantai, ada yang menanam pohon bakau juga, masih kecil-kecil.

Di bawah pohon, banyak berteduh umang-umang. Jumlahnya puluhan, dengan bentuk rumah yang beragam. Ada yang memanjang, ada yang bulat, ada yang tajam-tajam. Warnanya juga beragam.

IMG20190307095635
Umang umang di Kuala Parek

Saya menuju ke sebuah rumah kayu dengan atap dari daun nipah. Tidak ada orang di dalamnya. Ada semacam balai-balai di depan rumah. Langsung tidur di situ. Ah nikmat sekali bisa meluruskan badan. Setengah jam kemudian saya terbangun dengan badan segar.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.51.01
Tidur di sebuah rumah kayu, bersama kekucing

Langsung berenang. Airnya menyejukkan, di tengah udara yang sangat panas. Berjalan di atas pasir saja saya tidak kuat, saking panasnya. Jadi pas banget lah berendam air laut.

Bang Agus mancing terus. Dapat satu ikan kecil. Akhirnya dikasih ke kucing.

Kami pulang sambil berhenti di beberapa titik untuk mancing. Saya berenang. Agak dalam, mungkin sekitar 10 meter. Tidak kelihatan dasarnya. Arusnya deras, jadi jangan jauh-jauh dari kapal, kuatir terbawa arus. Saya hanya berenang di sekeliling kapal saja.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.31 (1)
Perjalanan dengan kapal motor sederhana

Tepatnya di Kuala Bayeun, ada kapal yang lewat, dibilang, awas dimakan ikan. Waduh, apa ada ikan besar di sini? Terus ada kapal lewat lagi, bilang hal yang sama. Saya langsung naik ke kapal. Ada apa di bawah sana?

Kami mampir ke perkampungan yang tadi kami lewati ketika berangkat. Perkampungan di tengah hutan bakau. Mampir di sebuah warung untuk makan mi. Bang Agus kenal dengan banyak penduduk sini karena memang pernah tinggal di sini.

Harga mi murah banget. Jadi kami tadi kasih udang yang rencananya mau jadi umpan (separuh lebih umpan tidak terpakai) untuk dimasak terus dimasukkan ke mi. Total bayar hanya Rp24.000. Itu sudah termasuk mi 3 piring dan air mineral 3 gelas. Juga termasuk jasa olah udang.

Bang Agus beli ikan kakap ke nelayan lokal seharga Rp90.000 untuk sekitar 3kg. Mungkin dia tidak enak sama keluarganya, pulang mancing kok tidak bawa ikan?

Kami sampai di tempat penyewaan kapal jam 4 sore, dan baru sampai Langsa lagi jam 5 sore. Langsung tidur. Tersisa belang di kaki saya karena waktu di kapal, sebagian kaki tidak tertutup pakaian. Cokelat dimakan matahari.

Video dokumentasi singkat tentang Pantai Kuala Parek ada di sini.

Big Bad Wolf 2019

IMG20190301161126
Big Bad Wolf 2019

Sudah tiga kali saya ikutan Big Bad Wolf (BBW) dan masih ketagihan. Untuk yang sudah punya anak, hati-hati kalap dengan buku anak yang bagus-bagus. Ada yang mengidentikkan kalau adalah pameran buku anak, betul juga, karena memang banyak banget pilihan buku anak.

Buku anak ini, hati-hati dengan buku aktivitas yang suka ada bonus spidolnya. Biasanya bukunya Rp30.000. Dua tahun lalu saya beli, spidolnya mati semua alias sudah kering. Saya malah cenderung beli buku anak yang Indonesia punya. Memang gak seseru buku aktifitas yang impor yang banyak ragamnya, tapi buku dongeng atau cerita anak yang Indonesia juga murah murah. Banyak yang di bawah Rp10.000 malah.

Ada yang bilang BBW adalah pameran buku impor, ya benar juga, karena memang banyak buku impor. Yang jelas Bahasa Inggris. Tapi yang saya cari belum ketemu: Lonely Planet.

Anggapan bahwa BBW adalah pameran buku anak, atau buku impor, tidak sepenuhnya tepat. Karena banyak juga buku-buku Indonesia. Kalau pintar milih, bisa dapat yang bagus-bagus. Novel banyak. Buku non-fiksi banyak. Buku pengalaman traveling banyak.

Saya sudah tahu, kalau ke BBW bakal lama. Jadi memang saya siapkan waktu 3 jam untuk keliling cari buku. Istri saya bilang, ngapain beli buku sampai tiga jam. Saya bilang, pokoknya tiga jam, jangan minta pulang sebelum tiga jam. Akhirnya dia tidak ikut. Dan memang nyatanya sampai tiga jam lebih.

Yaitu pada hari pertama pembukaan BBW 2019 di ICE Serpong, Jumat 1 Maret 2019. Saya datang sekitar 15.30. Masih rada sepi. Kalau sudah jam lima sore, jalan di lorong-lorong buku sudah rada padat. Troli orang-orang sudah penuh dengan buku. Sudah ada yang motret-motret dengan tangan memanjang ke atas, mungkin mereka adalah para jastiper yang memotret judul-judul buku dari atas.

Saya pulang dengan membawa sekitar 30 buah buku, total seharga Rp600.000 kurang dikit. Dipaskan segitu karena memang budgetnya hanya segitu. Sebelum ke kasir, ada sekitar 70 buah buku yang saya pilih dari hasil keliling. Itu juga belum keliling semua, sudah malas terlalu ramai dan waktu itu belum sholat maghrib, jadi buru-buru. Terpaksa yang 40 lagi kena sortir tidak jadi beli.

IMG20190301212137
BBW 2019: beli 30 buku Rp600.000

Ohya, penyelenggara menyediakan ruang khusus buat sholat, tidak jauh dari tempat pameran, tidak perlu turun naik. Bagus nih.

Sabang Dulu dan Sekarang

IMG20190203111010
Sabang, dipandang dari Goa Sarang

Yang saya maksud Sabang dulu adalah tahun 2010 dan 2011. Di kedua tahun tersebut, saya jalan-jalan ke Sabang untuk pertama dan kedua kalinya. Yang saya maksud Sabang sekarang adalah tahun 2019, ketika saya untuk ketiga kalinya ke Sabang, tepatnya 3-4 Februari 2019.

Saya ingin bicara pada persamaannya dulu, antara Sabang dulu dan sekarang. Sama-sama ada opsi kapal cepat dan kapal lambat untuk menyeberang dari Ulhee Leueu (Banda Aceh) ke Balohan (Sabang).

Sama-sama aman. Dulu, saya ingat betul teman bercerita, biarkan saja kunci motor menggantung di motor. Tidak akan hilang. Kalau ada yang mengambil, tunggui saja di pelabuhan besoknya. Pada akhirnya akan ketemu. Sabang sekarang juga begitu. Bahkan mobil yang kami sewa juga dipesani sama yang punya, “Kalau mau pulang ke Banda, taruh saja mobil di parkiran Balohan (Pelabuhan di Sabang).” Lah terus kuncinya gimana? Taruh saja di dalam mobil. Tinggalkan mobil dalam keadaan tidak terkunci. Dan itu yang kami lakukan, sesuai instruksi.

Nah, sekarang perbedaannya, antara Sabang yang dulu dengan yang sekarang. Saya kaget betul dengan Pantai Iboih yang sekarang. Dulu, Iboih sepi, hanya ada satu dua turis asing yang berjemur di pinggir pantai, atau diving. Sekarang, wih, ramai sekali dengan wisatawan lokal. Kami malah sampai putar 3 kali saking sulitnya cari parkiran mobil.

IMG20190203184831
Pantai Iboih: tidak ada yang snorkelling

Dulu, saya cukup snorkelling di Pantai Iboihnya saja, tidak perlu sampai Pulau Rubiah. Itu ikan sudah banyak, karangnya bagus. Sekarang, tidak saya lihat ada yang snorkelling di Pantai Iboih. Semua pada ke Pulau Rubiah. Naik kapal motor nelayan berkapasitas sekitar 10 orang, dengan tarif Rp200.000.

Kirain tarif segitu sudah untuk snorkelling di beberapa spot. Rupanya hanya untuk nyeberang ke Rubiah, terus nanti dijemput lagi pulang ke Pulau Iboih. Nyeberangnya paling hanya 10 menit.

IMG20190203171417
Snorkelling di Rubiah

Udah gitu di Rubiah juga karang sudah banyak yang mati. Pengelola memberikan semacam border apung. Mungkin maksudnya batas boleh snorkelling hanya sampai situ. Namun memang ikan-ikannya masih banyak. Saya malah ketemu bintang laut berwarna biru dan ular laut berwarna abu-abu.

###

Saya cerita ringkas perjalanan saya yaa…

IMG20190204092249
Ulee Lheueu

Minggu 3 Februari 2019 jam 7 pagi sudah ada di Pelabuhan Ulhee Leueu, naik mobil yang kami rental dari Langsa. Masuk Ulhee Leueu yang parkiran kapal cepat. Parkirannya ada di semacam bangunan besar, seperti GOR. Karcis yang dikasih ke kami hanya secarik kertas bertuliskan tanggal masuk, plat nomor, dan keterangan “Lunas 1 malam”.

IMG20190204091722
Tiket parkir mobil di Ulhee Leueu

Masuk pelabuhan, menunggu kapal cepat yang direncanakan berangkat jam 8 pagi, tapi baru berangkat 8.15. Harga tiketnya Rp80.000 dan beinya harus pakai KTP.

Satu jam saja, sudah sampai. Langsung cari Bang Jal, orang lokal yang sebelumnya sudah saya hubungi untuk disewa mobil dan homestay nya.

Langsung menuju homestay punya Bang Jal, di daerah Cot Ba’u, hampir ke Kota Sabang. Dari pelabuhan ke homestay paling hanya 15 menit.

Istirahat sebentar, langsung lanjut ke Pantai Sumur Tiga. Tadinya mau snorkelling di Sumur Tiga, tapi gak jadi, karena memang gak terlihat orang snorkelling. Mungkin karena panas ya, karena saat itu jam 11 siang.

IMG20190203101846
Pantai Sumur Tiga

Kami langsung tancap ke Goa Sarang. Kelihatannya ini destinasi baru yang dikembangkan penduduk lokal. Kita akan menuruni tangga yang lumayan bikin pegal. Mungkin sekitar 100 anak tangga. Ada sewa kapal kalau mau kelilingnya pakai kapal. Kalau kami, jalan kaki, melompati bebatuan. Saya melihat banyak ikan sebesar batang korek api, yang bisa lompat dari batu ke batu. Ikan bisa lompat di daratan, hebat.

IMG20190203111549
Goa Sarang

Sampai sekarang saya masih bingung, mana sih yang disebut Goa Sarang? Yang ada adalah karang besar yang tengahnya bolong. Mungkin itu kali ya….

Lanjut ke Pantai Iboih, tapi penuh. Cari parkiran tidak dapat. Akhirnya ke Tugu Kilometer 0 dulu. Kirain sepi, ternyata ramai juga. Foto-foto tidak terlalu lama, turun lagi ke Iboih.

IMG20190203171444
Harga makanan di Sabang

Sewa enam set snorkeller untuk kami serombongan. Satu setnya Rp40.000. Tidak terlihat ada yang snorkelling di Iboih. Semua menyeberang ke Rubiah. Kami pun sewa kapal untuk menyeberang Rp200.000. Akan dikasih karcis yang di dalamnya ada nomor kapal beserta nomor HP pengendara kapalnya. Jadi nanti pas mau nyeberang pulang tinggal telepon.

Saya agak kecewa dengan karang di Rubiah yang sudah banyak mati. Walaupun masih banyak ikan yang terlihat. Sebegini rusak tapi Iboih tetap ramai dkunjungi.

Sekitar 2-3 jam setelah snorkelling, kami kembali ke Iboih. Memang, kapal-kapal itu harus sudah stop semua jam 6 sore, untuk warga lokal siap-siap sholat Maghrib. Kami agak ngaret sampai 6.30. Mandi, sholat, terus kembali ke Kota Sabang.

Besok paginya kami pulang ke Banda dengan kapal cepat pukul 8.00. Beli nasi guri dibungkus seharga Rp10.000 dan martabak telur seharga Rp5.000.

IMG20190204082015
Kapal Cepat Sabang – Banda Aceh Rp80.000
IMG20190203073104
Tket Kapal Cepat

Mungkin Sabang akan terlihat keren kalau kita berwisatanya ke spot snorkelling yang jarang orang datangi. Ya harus rada modal, karena sewa kapal itu sekitar setengah juta untuk setengah hari. Kita bebas mau ke beberapa spot snorkelling.

 

Beberapa gambaran tarif di Sabang:

Kapal cepat 1 Banda-Sabang Rp80.000

Sewa mobil Rp300.000/24 jam

Homestay Rp200.000/kamar

Sewa snorkeller + jaket apung + kaki katak Rp40.000

Tiket masuk Goa Sarang Rp5.000

 

Nomor penting: Bang Jal 085260555300 (rental mobil, homestay)