Backpacking Kediri – Malang

Satu gerbang besar di sudut kota Kediri
Satu gerbang besar di sudut kota Kediri

Jauh sebelum wisuda Oktober 2008 lalu, saya sudah bertekad ingin liburan habis-habisan. Wajar saja, dari awal masuk IPB sudah ada matrikulasi. Tahun depannya semester pendek, lalu praktek lapang, disambung penelitian. Jadi, waktu liburan panjang tidak pernah diisi dengan agenda berlibur. Inilah saatnya pembalasan.

Tadinya saya dan beberapa teman dari SEI (salah satu jurusan di IPB) berniat ke Bali dan sekitarnya. Rencana sudah matang, tiba-tiba sebagian besar mundur karena sudah mendapatkan pekerjaan yang tidak mungkin meliburkan diri selama 10 hari. Di saat kekecewaan itu, Yossy, salah satu senior saya menceritakan tentang aktivitasnya di Kampung Bahasa, Pare, sebuah Kecamatan di Kediri. Tempat ini adalah sentra kursus Bahasa Inggris termurah di Indonesia.

Setelah chating dengan Yossy, saya langsung plot waktu untuk liburan dan meminta izin bos. Disetujui, dua minggu. Sambil saya menunggu waktu liburan itu, saya mencari beberapa cerita tentang kampung bahasa dan beberapa kawasan wisata di Jawa Timur. Bromo menjadi incaran utama yang masuk dalam rencana liburan.

Saya berangkat naik bus Lorena dari Rawa Mangun langsung ke Kediri. Kalau sesuai rencana, bus berangkat pukul 3 sore dan sampai pukul 6 pagi keesokan harinya. Tapi karena ketika itu sedang musim liburan tahun baru, maka kejadianlah bus itu baru berangkat pukul 7 malam, sampainya di Kediri pukul 4 sore. Sehari semalam di bus mengutuki ketidaknyamanan menggunakan Lorena. Mulai dari waktu datang bus yang terlambat sampai supir bus yang merokok. Mengecewakan.

Namun, ada juga hikmahnya. Saya jadi bisa mendapatkan pemandangan bagus dari pagi sampai sore. Satu jam sebelum Ngawi, di kanan kiri jalan terhampar sawah sampai ujung mata memandang. Ke luar Ngawi menuju Madiun juga demikian, keluar Madiun juga masih sawah yang berkuasa. Lebih susah mencari orang daripada sawah. Seperhatian saya, ada 3 tanaman utama: padi, jagung, dan tebu. Ternyata benar kata buku-buku IPS zaman SD dulu, Indonesia adalah negara agraris.

Sampai di terminal Kediri. Menurut berbagai narasumber, saya harus mencari bus Puspa Indah yang menuju Malang turun di BEC, sebuah tempat kursus Bahasa Inggris tertua di Kampung Bahasa. Yossy dan Iffan yang menjemput. Iffan baru saya kenal di Pare. Dia menjadi kawan sekamar saya selama di Kampung Bahasa. Hampir setiap malam kami bertiga hunting makanan di daerah Pare. Terkadang beberapa rekan seatap Yossy ikut hunting. Hunting dengan sepeda yang kebanyakan dari kami menyewanya dari bengkel sepeda. Sepeda masih sangat “in” di daerah ini.

Sebetulnya tidak ada yang terlalu spesial dengan makanan Pare. Perbedaan yang paling mendasar adalah harga, di Pare harga makanan sangat murah. Oya, ada satu lagi keunikan. Di Pare menjamur warung nasi pecel. Kalau di Bogor atau Jakarta kebanyakan warung menawarkan pecelnya saja. Kalau di Pare dan kebanyakan tempat di Jawa Timur, pecel tersebut langsung dicampur dengan nasi. Ditambah kerupuk peyek. Standar harganya Rp2.000/porsi.

Variasi makanan lebih terlihat di alun-alun Pare. Harganya juga lebih tinggi daripada di kampung Bahasa. Untuk mencapai alun-alun, perlu waktu sekitar 10 menit bersepeda dari kos saya di Kampung Bahasa. Alun-alun di Pare ini unik, tumben-tumbenan ada alun-alun di tingkat Kecamatan. Biasanya alun-alun ada di kabupaten. Mungkin ini menjadi salah satu indikator majunya Kecamatan Pare. Pernah satu malam minggu saya main ke alun-alun. Ramainya luar biasa. Malam minggu di alun-alun bukan hanya untuk anak muda, tapi banyak juga orang tua yang membawa anak-anak kecilnya menghabiskan malam di alun-alun. Pedagang bertaburan di malam minggu. Makanan yang membuat saya geli adalah sate bekicot. Banyak yang menjajakan sate bekicot. Mungkin karena banyak persawahan di sini sehingga banyak juga bekicot. Selain pedagang, ada juga jasa rekreasi mobil-mobilan mirip bom bom car untuk anak kecil. Berkelap kelip lampu mobil itu menambah semarak malam minggu alun-alun.

Garuda Park terkadang dijadikan masyarakat sebagai tempat kumpul-kumpul. Garuda Park seperti taman, tapi mini sekali. Patung Garuda kokoh berdiri di atas tugu. Mirip dengan tugu Tani tapi patung Pak taninya diganti dengan Garuda. Di bawah tugu itu, ada taman mini sekali. Inilah yang disebut Garuda Park, atau masyarakat sering menyebutnya GP.

Menurut dinas pariwisata Kediri lewat websitenya, ada dua buah wisata Candi di Pare, yaitu Tegowangi dan Surowono. Saya ikutilah saran dari Dinas pariwisata.

Lagi-lagi dengan bersepeda, saya menuju Candi Tegowangi. Yossy tahu tempatnya, jadi tidak perlu ada acara nyasar. Dua puluh menit sudah sampai. Perjalanan melewati jalan kampung yang jarang ada penduduk berseliweran. Sawah-sawah terhampar di kanan kiri. Beberapa kali saya melihat ada peternakan lebah mini di halaman-halaman rumah warga. Lebah tidak bersarang di pohon tetapi di kotak-kotak seukuran kotak suara pemilu.

Candi Tegowangi tampak samping
Candi Tegowangi tampak samping

Agak kecewa dengan Candi Tegowangi. Jauh sekali dengan keadaan Prambanan atau Borobudur (hanya kedua candi ini yang pernah saya kunjungi). Ukurannya hanya sekitar 10×10 meter. Mungkin kurang. Tingginya hanya sekitar 3 meter. Tidak ada yang berkunjung ke situ kecuali kami. Tidak ada tarif masuk. Semua sangat seadanya di Candi Tegowangi. Bahkan tidak tampak satu pedagang pun di sekitar candi. Di sekeliling candi ada taman mini yang cukup dirawat. Hanya itu poin plusnya.

Setali tiga uang dengan Candi Surowono. Bedanya, candi Surowono punya petugas yang menjaga pintu masuk. Pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu lalu dimintai sumbangan seikhlasnya. Saya member 2.000 rupiah, awalnya saya rasa uang sejumlah itu kurang, tapi setelah berkunjung ke Goa dan pemandian Surowono, sepertinya 2.000 untuk hanya melihat-lihat candi kecil itu dirasa berlebih. Taman di Candi Surowono sedikit lebih luas dari taman Tegowangi. Letaknya tepat di pinggir jalan. Menuju ke sana butuh 30 menit bersepeda melewati jalan raya dengan aktivitas yang lumayan padat. Ketika saya berkunjung ke sana, ada dua orang pengunjung lain, ada juga seorang pedagang yang menjajakan lemang. Yah, bisa dibilang candi Surowono satu level lebih maju dari Tegowangi.

Tidak jauh dari Candi Surowono, ada pemandian Surowono dan Goa Surowono. Pemandian di sini bukan pemandian air panas seperti yang saya bayangkan, tapi kolam renang. Ada dua buah kolam renang di dalamnya. Yang besar dan kecil. Yang besar dalamnya sekitar 160 cm sedangkan yang kecil hanya sebatas lutut orang dewasa. Cukup ramai peminat pemandian ini. Airnya juga cukup bersih. Biaya masuknya murah sekali, hanya Rp1.500. Di sekeliling kolam ada kios-kios kecil yang menjajakan bermacam penganan.

Goa Surowono punya tarif masuk yang lebih murah lagi, hanya Rp500. Jangan dibayangkan Goa yang dimaksud terawat dan besar, tidak. Goa berada di bawah tanah rumah-rumah warga Surowono. Mungkin zaman dahulu, Goa ini dijadikan tempat persembunyian atau jalan tikus. Untuk masuk ke Goa, kita perlu turun dulu lewat semacam kubangan kecil. Sepanjang Goa, air tidak henti-hentinya mengalir. Suasana gelap sekali sehingga tidak mungkin kalau tidak membawa senter.

Tak lupa saya juga berkunjung ke Gunung Kelud, wisata andalan Kabupaten Kediri. Saya ikut trip yang ditawarkan dari sebuah kursusan di Kampung Bahasa. Biayanya hanya 20 ribu, sudah termasuk transport, makan siang, snack, dan tiket masuk. Saya juga bingung bagaimana bisa semurah itu. Kami berangkat naik truk. Perjalanan tepat 1,5 jam dari Kampung Bahasa. Sejak pintu masuk, truk harus melewati pendakian yang cukup melelahkan selama 10 menit. Sampai di satu titik dimana truk benar-benar tidak bisa lewat lagi. Dari titik itu, kami harus berjalan sekitar 1,5 kilometer untuk menuju rest area. Perjalanan 1,5 km itu butuh energi ekstra. Walaupun jalanan sudah diaspal dengan baik, tapi bentuknya berupa tanjakan terus-menerus.

Mencapai rest area, kita bisa beristirahat. Banyak kios yang menjajakan makanan. Kalau ingin menguji adrenalin, ada sarana Flying Fox seharga 15 ribu sekali aksi. Pemandangan dari rest area lumayan bagus. Hijau semua di bawah sana. Karakter hijaunya berbeda-beda, tergantung seberapa besar intensitas matahari memolesnya. Kediri terlihat cukup jelas dari atas sini.

Butuh berjalan sekitar 15 menit lagi untuk mencapai terowongan tanpa cahaya. Terowongan ini adalah jalan satu-satunya menuju anak Kelud. Panjang terowongan sekitar 100 meter dengan tinggi hanya dua meter lebih sedikit. Masuk beberapa langkah saja, gulita sudah melanda. Bingkai kacamata saya pun tak terlihat, apalagi teman di sebelah. Patokan satu-satunya adalah sedikit cahaya di ujung terowongan yang semakin dekat akan semakin terang cahayanya. Terowongan cukup terawat. Tidak berbau. Permukaannya rata, tidak ada batu-batuan, jadi tidak perlu takut tersandung.

Setelah lewat terowongan, kita harus menuruni tangga cukup panjang untuk menemukan anak Kelud. Menurut berbagai literature, anak Kelud ini merupakan keistimewaan Kelud. Tapi bagi saya, itu bukanlah apa-apa, hanya onggokan besar batu yang masih berasap-asap.

Bosan dengan anak Kelud, saya menuju aliran air panas dekat rest area. Bagi saya, inilah bagian paling menyenangkan sekaligus melelahkan dari Kelud. Kita harus menuruni tangga terlebih dahulu untuk mencapainya. Tangga yang saya maksud bukan sembarang tangga. Tangga yang tidak bisa kita lihat ujungnya, kita hanya bisa melihat anak tangga yang paling jauh. Ketika kita telah mencapai anak tangga terjauh itu, mata kita masih belum bisa menemukan ujungnya. Terulang sampai beberapa kali, baru sungai mulai terlihat.

Asap mengepul dari sungai itu membentuk gerombolan kabut. Ada dua asal aliran sebelum bertemu di satu titik. Aliran pertama airnya dingin seperti layaknya air gunung. Aliran kedua luar biasa panas. Dari aliran kedua inilah gerombolan kabut tadi berasal. Saya sempat bermain di titik tempat percampuran kedua aliran itu. Walaupun sudah bercampur, tetap dibutuhkan kehati-hatian karena di bagian tertentu airnya masih lebih dari 80 derajat, belum tercampur dengan rata. Tidak ada pengunjung yang berani mencelupkan kakinya di aliran kedua, bisa jadi suhunya mendekati 100 derajat. Bisa benjol kaki dibuatnya.

Untuk kembali, dibutuhkan perjuangan yang lebih besar lagi, tangga tanpa batas tadi harus dilewati kembali, bedanya, kali ini mendaki. Tidak kurang dari tiga kali saya beristirahat sebelum sampai di pangkal tangga. Dari pangkal tangga, kembali harus berjalan sampai rest area, lalu berjalan lagi 1,5 km menuruni jalan aspal sampai ke truk. Sungguh melelahkan.

Anak Kelud masih mengeluarkan asap putih
Anak Kelud masih mengeluarkan asap putih

Secara keseluruhan, menurut saya Kelud biasa saja. Lebih banyak perjalanan melelahkannya daripada kenikmatan pemandangan.

Merasa sudah menggagahi seluruh pelosok Kediri, saya berangkat ke Malang. Kota ini lebih ramai dari Kediri. Mungkin karena banyak universitas yang ada di dalamnya. Mungkin juga karena percepatan pembangunan kota ini lebih tinggi daripada Kediri.

Beruntung saya punya teman SMA yang kuliah di Unbraw, Arya. Dia dengan baiknya menjemput saya di depan kampusnya, lumayan, transport dan akomodasi gratis. Malam itu juga, kami langsung mempersiapkan segala hal untuk perjalanan menuju Bromo. Keesokan paginya, dari rumah Cak Nu, pemilik persewaan truk dan Jeep, kami memulai perjalanan menuju Cemoro Lawang. Lalu di hari berikutnya, saya sudah bisa mencoret target utama perjalanan saya itu. Bromo sangat menyenangkan.

Sekembalinya dari Bromo, Arya langsung mengajak makan di Ikana, sebuah tempat makan yang sangat laris di Malang. Tempatnya sederhana. Makanannya yang luar biasa. Pengunjung rela menunggu 30 – 60 menit untuk dapat mencicipi makanan di sini. Jarang terlihat kursi kosong. Hati-hati dengan pemesanan. Satu porsi di Ikana tidak sama dengan satu porsi di tempat makan lain. Bisa 3 kali lipat lebih banyak. ikana memang di-set untuk pengunjung rombongan. Menurut cerita Arya, di Ikana hanya ada satu kompor. Si pemilik juga berfungsi sebagai koki. Hanya dia yang tahu betul resep makanan Ikana. Karena itulah butuh kesabaran berlebih kalau mau makan di Ikana.

Malang terkenal dengan Apel Malang, terkenal juga dengan agrowisata petik apelnya. Kusuma Agro adalah yang terbesar dalam agrowisata ini. Tidak ada angkutan umum yang mencapai Kusuma. Tapi kita bisa naik ojeg dari terminal Batu sampai di depan tempat penjualan tiket wisata. Tarif ojegnya Rp5.000. Ratusan orang setiap harinya berkunjung ke kebun apel Kusuma. Setelah membeli tiket yang kurang dari 50 ribu (tergantung paket), kita diajak untuk berkeliling kebun sambil diberikan bermacam informasi. Sampai di kebun, kita dipersilakan untuk memetik dua buah apel. Memetiknya harus sesuai dengan yang diajarkan petugas, diputar sampai putus, bukan ditarik. Dari kebun apel ini, gunung Pandarman dan Gunung Arjuna gagah berdiri di ujung sana. Indah.

Saya penasaran dengan Jatim Park yang menjadi rekomendasi kuat dari teman saya. Tempatnya tidak jauh dari Kusuma Agro, tinggal naik ojeg seharga Rp5.000. Ada bermacam wahana di dalam Jatim Park. Bisa dibilang mirip Dufan mini. Ada jet coaster, bom bom car, dsb. Tapi semua wahana itu tidak ada yang membuat jantung saya berdetak lebih cepat, terlalu biasa. Hanya satu yang menurut saya seru, yaitu rumah hantu. Tidak berani saya masuk sendiri ke dalamnya.

Tiga jam cukup bagi saya untuk mengitari seluruh wahana yang ada di Jatim Park, termasuk bird park dan reptile park. Mungkin ini karena hampir semua wahana tidak perlu mengantri. Kontras dengan dufan yang rata-rata wahana perlu 1 jam antrian.

Demikian beberapa alternatif tempat yang bisa dijadikan referensi hiburan pembaca sekalian ketika berkunjung ke Kediri dan Malang. Semoga bermanfaat…=)

Destination:

1. Kampung Bahasa

2. Alun-alun Pare

3. Garuda Park

4. Puluhan tempat makan di Pare

5. Candi Tegowangi

6. Candi Surowono

7. Pemandian Surowono

8. Goa Surowono

9. Menara masjid tertinggi di Kediri

10. Gunung Kelud

11. Kosan Arya

12. Matos (Malang Town Square)

13. Rumah Cak Nu

14. Cemoro Lawang

15. Bantengan

16. Pananjakan

17. Bromo

18. Ikana (tempat makan)

19. Kusuma Agrowisata

20. Jatim Park

21. MOG (Mal Olympic Garden)

22. Rumah Dian

23. Pameran Foto di Perpus Pusat Malang

Cost:

Bus Lorena Jakarta – Kediri 215.000

Makan+wisata Kuliner 328.000

Bromo Trip 478.000

Kelud Trip 20.000

Transpor dalam kota 69.000

Kosan 2 minggu 70.000

Biaya sewa sepeda 2 minggu 20.000

Program di Kampung Bahasa 44.000

Buku Program 35.000

Masuk Jatim Park 30.000

Kereta Bisnis Bangunkarta 150.000

TOTAL 1.459.000

Iklan

Indie Way to Bromo

di atas Bromo yang sedang berasap
di atas Bromo yang sedang berasap

Pegunungan Tengger memang selalu menjadi pilihan menarik bagi penikmat tracking. Satu-satunya gunung di Jawa yang butuh waktu berhari-hari untuk mendakinya sampai puncak adalah Semeru, salah satu anggota dari pegunungan Tengger. Tapi mungkin Semeru baru bisa saya tampilkan jadi satu tulisan setelah Agustus tahun 2009. Ada yang mau bareng ikut upacara bendera 17an 2009 ini?

Balik ke topik, Bromo, yang juga masuk dalam pegunungan Tengger sebenarnya merupakan sebentuk kecil dari Pegunungan Tengger. Dulu Tengger adalah gunung tertinggi di Jawa dengan tinggi lebih dari 4000 meter dpl, sekarang hanya tersisa Bromo yang masih aktif dengan ketinggian setengah dari Tengger pada zaman dulu.

Ada satu bangunan unik yang apik berdiri di bawah kaki Bromo dan Batok (tetangga Bromo), yaitu Pura yang megah sebagai tempat ibadah teman-teman Hindu. Selain unik karena bentuknya, pura ini juga unik karena letaknya yang cukup ekstrem, di tengah lautan Pasir, di mana rumput pun enggan untuk tumbuh. Butuh menapaki sekian kilometer untuk mendapati rumah penduduk dari Pura ini. Penduduk daerah ini sebagian besar memang beragama Hindu. Menurut cerita teman saya, dulu ketika ajaran islam masuk ke Jawa, pemeluk agama Hindu semakin tersisih sehingga terjadi hijrah besar-besaran ke Bali dan pegunungan. Mungkin itu yang menjadi alasan penduduk Bali sebagian besar memeluk Hindu, begitu pula dengan penduduk Bromo.

Untuk mencapai Bromo, wisatawan kebanyakan mengambil jalan lewat Probolinggo. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, kita bisa menggunakan jasa Elf dari Probolinggo sampai Cemoro Lawang, yaitu daerah tempat wisatawan berkumpul untuk menikmati Bromo keesokan paginya.

Beruntung saya berkenalan dengan Dian dan Endah yang menggilai dunia fotografi sejak lama. Mereka cukup kenal dengan track di Tengger. Merekalah yang mengajarkan saya track yang lebih menyenangkan menuju Cemoro Lawang.

Dari Malang, tepatnya terminal Arjosari, carilah angkutan warna putih yang menuju Tumpang. Turun di satu gang tempat kediaman Cak Nu, pemilik persewaan Jeep dan Truk. Kalau pembaca yang budiman benar-benar mau ke sana, hubungi saya untuk mendapat nomor Cak Nu. Berangkatlah sore hari karena kalau kemalaman kemungkinan angkutan tidak ada lagi, kalau kepagian jadi bingung mau ngapain di sana. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam dengan biaya sekitar 4 ribu.

Rumah Cak Nu beberapa kali didatangi penebeng seperti kami, jadi dia sudah biasa saja menerima tamu tak dikenal. Bahkan, dia menyediakan kamar khusus untuk tamu.

Keesokan paginya, sekitar pukul 7, kami nebeng truk Cak Nu yang pada waktu itu mengangkut puluhan karung pakan ayam. Tujuan truk itu adalah satu tempat dekat Ranu Pane, danau yang kontroversial itu. Kami turun di tengah perjalanan, di satu tempat bernama Jemplangan. Untuk jasa nebeng itu kami dikenai biaya 25 ribu/orang.

Perjalanan truk memakan waktu 1 jam tepat. Satu jam yang diisi dengan ratusan kali decakan kagum. Karena kami ditempatkan di belakang truk, kami jadi bisa melihat dengan leluasa. Pemandangan yang sungguh menyenangkan mata dan memantapkan doktrin bahwa manusia bukan apa-apa. Hampir sepanjang perjalanan dijalani dengan mendaki. Pertama-tama, mata kita disuguhi dengan sebuah desa yang hampir di setiap halaman rumahnya ditanami dengan dua buah pohon apel. Cabang yang tumbuh hampir di sepanjang batang utamanya membuat pohon apel seperti orang yang gendut sedang memakai rok dengan diameter semakin besar sampai mata kaki. Saya pun tidak paham kenapa apel yang dijadikan hiasan halaman rumah, bukan pohon kamboja seperti orang Bali, bukan pula sepeda motor dan mobil seperti halaman milik penduduk kota.

Udara yang memang sudah dingin ditambah hempasan angin yang semakin kencang akibat percepatan truk membuat tangan semakan kaku. Kaos, sweater, dan jaket tebal yang saya pakai sekaligus pun tidak bisa unjuk gigi. Tapi pemandangan berikutnya seakan menghangatkan semua itu. Semeru sudah terlihat di sebelah kanan jalan. Indahnya gunung ini, apalagi ketika asap tebal sedang diembuskannya setiap 20 menit sekali. Semakin kokoh hati ini mengatakan bahwa manusia bukan apa-apa!

Di sebelah kiri, bermacam tanaman tertata rapi, simetris. Kebun kol diselingi dengan jagung. Sekali-sekali daun bawang yang diselingi jagung. Kadang ketiganya berkolaborasi dalam satu lahan menampakkan formasi seperti upacara SD di masa kecil dulu. Mungkin ini yang disebut dengan tumpang sari.

Semakin ke atas, truk semakin ditantang dengan sudut yang semakin ekstrim. Sebagai kompensasinya, alam memberikan pemandangan yang semakin menakjubkan. Rumah penduduk sudah tak terlihat lagi. Yang ada hanyalah kebun-kebun tumpang sari di kanan kiri. Udara yang sejuk sudah semakin ternetralisir dengan tatapan matahari. Sesekali terlihat gubuk kecil yang sepertinya dijadikan tempat penyimpanan hasil panen sementara sebelum dibawa ke pasar. Sesekali juga terlihat beberapa petani sedang sibuk memanen kolnya, beberapa orang lagi sibuk mengangutnya ke pick up di pinggir kebun.

Secara menakjubkan, terlihat sebuah desa. Sebuah desa di ketinggian sekitar 2000 meter dpl! Ngadas namanya. Ini merupakan desa tertinggi dengan nomor urut dua setelah salah satu desa di Jayawijaya. Desa ini bisa dikatakan cukup padat, bahkan lebih padat dari desa sebelumnya yang halamannya diisi dengan pohon apel. Namun, menurut cerita Dian, penduduk daerah ini kurang ramah dengan pengunjung karena dulu pernah ada pengunjung yang mengecewakan mereka. Pengunjung tersebut meminjam berbagai peralatan camping tanpa pernah mengembalikannya.

Tujuan kami sudah tercapai, sebuah tempat yang dinamakan Jemplangan. Kami turun dari truk lalu membayar ongkos nebeng. Biasanya di sini sepi, tapi karena sedang ada pengerjaan jalan, jadi ada beberapa aktivitas yang terlihat. Kami beristirahat sejenak. Seorang dengan tubuh padat mendatangi kami, Sinambela namanya, dia adalah anggota tim SAR. Awalnya Sinambela dengan serius menanyakan tujuan kami, namun suasana mencair ketika kami mengajaknya ngobrol sekalian menyicipi sedikit bekal yang kami bawa. Kami sempat mendiskusikan adanya Puffing sepanjang Jeep track. Beberapa kali Sinambela membagi pengalamannya menyelamatkan orang di tengah gunung. Apa engkau tahu berapa kali dia mendaki Semeru, kawan? 113 kali!

Dari Jemplangan, kami menuruni bukit yang cukup curam dan licin. Harus hati-hati melewatinya karena ada beberapa titik yang lebar tracknya hanya pas untuk 2 buah telapak kaki yang dirapatkan, lengah sedikit, khatam sudah. Bukit ini dipenuhi dengan rerumputan dan semak belukar sehingga mata masih bisa melihat jauh berkilo-kilometer jauh ke kanan, kiri, dan depan. Pemandangan gunung Telletubies (saya tidak tahu nama gunung ini, tapi kata Dian mirip rumahnya Telletubies, maka kami menyebutnya demikian) sedapnya bukan main. Juga pemandangan hamparan sabana di bawah sana, harum. Terkadang kami menemui track yang putus karena sudah berhari-hari tidak ada orang yang lewat sini. Inilah bagian paling sulit. Setelah menuruni bukit selama satu jam, sampailah kami ke Bantengan, yaitu shelter yang bentuknya seperti gazebo. Letaknya tepat di bawah bukit yang kami turuni. Bantengan kami jadikan tempat istirahat kedua.

Perjalanan selanjutnya adalah jalan datar yang beberapa kali dilewati jeep. Terkadang terlihat juga Avanza nekat yang menerabas track offroad ini. Di kanan kiri jalan, hamparan rerumputan indah melambai bersahut-sahutan. Di kiri jalan juga terlihat gunung telletubies. Walaupun pemandangan monoton hanya pada rerumputan dan gunung teletubbies, tapi itu sama sekali tidak menimbulkan rasa bosan. Dari Bantengan sampai perbatasan Sabana dengan lautan pasir memakan waktu perjalanan 2 jam.

Dataran sabana menuju Bromo
Dataran sabana menuju Bromo

Perbatasan Sabana dan lautan pasir kami jadikan tempat peristirahatan yang ketiga. Kami habiskan silver queen dan roti isi cokelat yang kami bawa. Juga sebotol air mineral yang sudah dicampur dengan Pocari Sweat. Seorang Bapak tua terlihat membawa rumput hasil ngaritnya, mungkin dari kawasan Sabana. Sepertinya untuk makanan Kuda. Maklum saja, Kuda menjadi alat transportasi utama di Tengger. Terlihat peluh ketika Bapak itu mengangkat satu buah onggokan rumput sebesar tubuhnya di sebelah kanan, dan satu lagi di sebelah kiri. Terlihat juga tulang belakangnya yang sudah bungkuk cukup kronis. Kasihan Bapak ini.

Satu setengah jam berikutnya tidak ada jeep track seperti sebelumnya. Tidak pula rerumputan. Sepertinya tidak ada rumput yang sanggup hidup di lautan pasir. Lautan pasir luas yang ditaburi pecahan-pecahan batu. Patokan perjalanannya adalah Cemoro Lawang yang ditandai dengan beberapa tower. Mudah untuk mengidentifikasikannya. Pemandangannya berubah menjadi padang pasir. Di sebelah kiri, kita akan ditemani oleh Gunung Batok yang bersebelahan dengan Bromo. Sesekali kabut turun, bukan, itu bukan kabut, itu adalah asap yang dikeluarkan dari Bromo. Kebetulan angin meniup asap tersebut ke arah kami berjalan. Baunya jelas seperti Belerang. Berbahaya kalau terlalu banyak menghirupnya. Karena itulah saya batalkan pendakian saya ke Bromo siang itu.

Lautan pasir menuju Bromo
Lautan pasir menuju Bromo

Setelah lautan pasir, kita akan menjumpai jalan aspal. Track inilah yang paling tidak menyenangkan. Selain jalannya menanjak, sudah banyak orang yang terlihat di jalan ini, jadi kesan adventurenya sudah luntur. Pemandangan juga sudah tidak terlalu sedap dipandang karena tertutup pohon-pohon pinus. Setengah jam berjalan di aspal mengantarkan kita ke Cemoro Lawang.

Bermacam hotel yang ditawarkan di sini. Harga tentu beragam. Hotel tempat saya menginap ada yang harga kamarnya 50 ribu dengan dua buah dipan. Sepertinya itu yang termurah. Kalau uang berlebih, bisa juga menginap di Long View, hotel yang terbaik di Cemoro Lawang.

Setelah istirahat beberapa saat di hotel, kita bisa membersihkan diri. Baru kali ini saya mendapatkan urin yang saya keluarkan berasap, mungkin karena suhu tubuh yang tinggi setelah perjalanan panjang ditambah lagi suhu udara yang rendah.

Sebagai bekal di malam harinya, kita bisa membeli topi kupluk, sarung tangan, dan syal. Jangan lupa menawar sebelum membeli. Sarung tangan seharga 3 ribu. Kupluk dan syal masing-masing 7500. Bahkan ada juga penyewaan jaket tebal, 25 ribu per hari.

Untuk mempersiapkan perjalanan keesokan paginya menuju Pananjakan dan Bromo, kita harus mencari Jeep terlebih dahulu. Pananjakan adalah nama perbukitan tertinggi yang mengelilingi Bromo, Batok, dkk. Mayoritas wisatawan yang menginap di Cemoro Lawang menargetkan Pananjakan dan Bromo. Di Pananjakan mencari view sun rise sedangkan di Bromo mencari view kawah.

Sebetulnya kita tinggal membeli voucher seharga 275 ribu untuk perjalanan satu Jeep ke Pananjakan dan Bromo. Isi Jeep maksimal 6 orang. Mudah sekali kalau kita pergi rombongan. Tinggal harga jeep 275 ribu dibagi 6 saja. Tapi kalau kita Cuma sendiri atau berdua, kita harus mencari wisatawan lain yang bisa berangkat dengan kita supaya biaya Jeep bisa dibagi banyak orang.

Ketika saya ke sana, saya hanya berdua kemudian mendapatkan wisatawan dari Surabaya 2 orang lagi. Kami tidak berhasil menggenapkannya menjadi 6 sehingga biaya hanya dibagi 4. Biaya Jeep kami bukan 275, tapi 325 karena lewat calo. Tapi tidak mengapa karena ada servis tambahan dari sang calo untuk membangunkan kami pukul 3 pagi tentunya dengan memberitahukan letak hotel kita. Jadi, satu orang dikenakan 75 ribu, selebihnya, Bapak tua dari Surabaya itu yang bayar. Selebihnya di sini sudah termasuk biaya wisatawan (di luar Jeep) sebesar 6 ribu/orang.

Banyak makanan dengan berbagai pilihan. Warung dekat hotel saya menjual nasi pecel dengan telur seharga 5 ribu, nasi soto ayam seharga 7500. Yang lebih mewah juga banyak, tentu harga akan ikut mewah.

Saran saya, tidur lebih cepat supaya besok paginya bisa bangun cepat. Jangan lupa mempersiapkan jaket, sarung tangan, kupluk, dan sedikit makanan dari malam hari karena ketika bangun keesokan paginya, itu adalah puncak perasaan dingin yang luar biasa. Berbicara saja terbata-bata karena otot rahang tidak mau berdamai.

Pukul 3.15 si calo membangunkan kami. Sepuluh menit kemudian kami sudah siap nongkrong di tempat parkiran Jeep, di Cemoro Indah, tempat Pak Tua, Jeep mate kami itu, menginap. Setelah bayar, Jeep kami langsung jalan ke Pananjakan.

Setengah jam kira-kira sudah sampai. Ramai sekali pagi itu. Wajar saja karena masyarakat masih larut dengan pesta tahun baru, ditambah lagi pagi itu adalah hari Minggu. Sambil menghapal plat nomor Jeep, saya berjalan menuju view area, kira-kira 15 menit perjalanan. Sebagian jalan aspal, sebagian lagi menaiki tangga. Sepanjang perjalanan itu, banyak sekali pedagang. Ada yang menyewakan jaket. Pedagang edelweiss. Penjual kupluk, sarung tangan, dan syal. Ada juga yang menawarkan jasa ojeg sampai bawah tangga. Kios-kios kecil juga menjamur.

Mengecewakan. Pagi itu matahari tidak terbit. Awan memenuhi langit sehingga momen sun rise yang ditunggu ratusan orang di view area. Yah, ini risiko yang harus diterima. Namanya juga alam. Kalau mau aman, datanglah ke Bromo ketika musim kemarau karena langit akan bersih. Tapi siap-siap dengan suhu yang lebih mencekam. Bisa dua kali lipat lebih dingin. Itu kata supir Jeep saya. Memang aneh suhu di sini, berbanding terbalik dengan cuaca.

Truk langsung meluncur ke Bromo. Tempat pemberhentian Jeep bukan di bawah kaki Bromo, tapi masih lumayan jauh. Jeep tidak bisa masuk sampai kaki Bromo karena bisa terjadi adu jotos dengan penyewa jasa antar dengan kuda. Ini masalah perut, susah.

Sejak turun dari Jeep sampai mencapai puncak Bromo butuh waktu perjalanan 30 – 45 menit. Sebagian jalan pasir yang menanjak, sebagian lagi tangga. Yang tidak menyenangkan adalah sepanjang perjalanan menuju bawah tangga, banyak kotoran kuda. Ratusan kuda berseliweran bolak-balik tak henti-hentinya. Andai manajemen mengatur batasan antara pejalan kaki dengan kuda. Ada beberapa kuda yang bagian belakangnya dipasang semacam kain sehingga kotoran tidak terbuang ke jalan. Tapi hanya beberapa saja yang demikian.

Kenikmatan pemandangan mulai terasa ketika menaiki tangga. Di sebelah kanan, jelas terlihat gunung Batok. Di sebelah kiri tampak lautan pasir. Di bawah tampak Pura megah yang tertata sangat apik.

Sampai di atas, kita bisa puas memandang ke sekeliling. Bonusnya adalah pemandangan kawah Bromo. Asap putih masih tak henti-hentinya keluar dari beberapa titik di kawah menandakan Bromo masih aktif.

Tidak ada apa-apa di dalam kawah, hanya kumpulan pasir yang membentuk daratan kecil tidak penuh dihiasi dengan beberapa lubang yang lebih mirip jurang tanpa terlihat dasarnya. Samar-samar terlihat di dasar kawah tersebut ada susunan batu yang membentuk satu tulisan. KIPPALA. Sepertinya nama sekumpulan pecinta alam. Entah bagaimana mereka bisa sampai di bawah sana. Entah bagaimana mereka melewati jurang-jurang tanpa dasar tersebut. Mengambil risiko menghirup asap putih berbau belereng itu. Hebat.

Setelah puas dengan perjalanan itu, kami pulang ke hotel. Menuruni tangga melelahkan itu lagi, mengarungi jalanan pasir berkotoran kuda itu lagi, baru sampai di parkiran Jeep.

Kami sampai di hotel pukul 9. Jadi, total perjalanan ke Pananjakan dan Bromo memakan waktu 5 jam. Cukup melelahkan, karenanya saya tidur sebentar di hotel baru kembali ke Malang.

Elf sudah menunggu di dekat hotel kami. Pemandangan selama di Elf ini masih menyenangkan. Masih dipenuhi dengan kebun kol yang berselang seling dengan jagung dan bawang. Udara juga masih sejuk.

Dari Probolinggo, kami naik bis non-AC ke Malang (Arjosari) dengan biaya 14 ribu. Kalau mau langsung pulang ke Jakarta silakan cari lagi angkutan yang menuju stasiun Malang. Saya kurang paham tentang jadwal kereta, tapi saya tahu tarifnya, kelas ekonomi 55 ribu.

Selamat berlibur. Semoga bermanfaat…=)

Budgeting Wisata Pananjakan-Bromo dari Jakarta

Kereta Jakarta – Malang 55.000

Stasiun – Arjosari 2.500

Arjosari – Gang Cak Nu 4.000

Perbekalan (cokelat+roti+air) 20.000

Biaya nebeng truk 25.000

Hotel 50.000

Kupluk + sarung tangan + syal 18.000

Jeep (asumsi 1 jeep=6 orang) 50.000

Cemoro Lawang – Probolinggo 25.000

Probolinggo – Malang 14.000

Arjosari – Stasiun 2.500

Malang – Jakarta 55.000

Makan 10 x 7000 70.000

TOTAL 392.000

Kampung Bahasa; Sentra Kursus Bahasa Inggris Termurah di Indonesia

situasi belajar di salah satu kursusan
situasi belajar di salah satu kursusan

Tulisan komplit tentang kampung Inggris ada di majalah backpackin’ edisi 13, yang cover depannya gambar wayang. Unduh gratis di http://www.backpackinmagazine.com atau klik langsung ke sini. Di situ saya tulis sampe kontak2 HP segala.

*********************************************************************************************************

Lokasi tepatnya adalah di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Saya berani katakan kalau di sini adalah pusat kursus Bahasa Inggris termurah dan terbesar di Indonesia.

Bayangkan saja, satu program intensif setiap hari selama 1 bulan dengan pertemuan selama 1,5 jam dihargai kurang dari 100 ribu. Kontras dengan EF yang bahkan mencapai 1 juta/bulan untuk pertemuan yang hanya 3 kali seminggu.

Namun, memang tempat belajar mengajarnya sederhana. Ada yang di dalam ruangan yang dibentuk dari batako tanpa semen dan cat, lalu duduk di kursi kayu. Ada juga di ruangan bersih tapi duduk lesehan. Bahkan ada yang di luar ruangan dengan memanfaatkan gazebo seadanya. Sederhana, namun saya rasa tidak mengurangi makna sedikitpun.

Kemudian saya katakan terbesar karena ada sekitar 30 lembaga kursus bahasa dengan kelebihannya masing-masing. Ada yang terkenal dengan program speakingnya (Dafodiles dan Webster), ada yang jago di grammer (Smart), ada yang punya program khusus TOEFL (Elfast), ada juga yang mempunyai ujian langsung ngobrol dengan turis asing di Bali (Harfard), dan sebagainya. Pilihan tergantung tujuan kita apa.

Ratusan, mungkin ribuan, orang yang sengaja datang ke Pare hanya untuk kursus. Asalnya ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, Aceh, Lampung, NTB, Bandung, dsb. Anak Jakarta juga banyak. Ketiga teman sekamar saya kebetulan semuanya dari Jakarta. Beruntung bagi saya, karena jadi tidak terlalu kaget menghadapi budaya yang baru. Analisis singkat saya, sebagian besar yang kursus di Pare adalah siswa yang baru lulus SMA atau mahasiswa yang juga baru lulus. Dua orang teman sekamar saya baru lulus UNJ dan Unpad. Satu orang lagi baru lulus SMA.

Tidak sulit juga menemui Sarjana Sastra Inggris yang kursus di sini. Salah satu teman saya lulusan sastra Inggris dari salah satu kampus swasta terkemuka mengaku pelajaran grammer di sini dalam sekali, banyak yang tidak didapatnya di kampus. Saya pun mengakui, pengajar-pengajar di sini sudah sangat expert untuk grammer.

Layaknya pusat-pusat pembelajaran di tempat lain, Kampung Bahasa juga menumbuhkan berbagai aktivitas perekonomian di Pare. Banyak tempat-tempat kos yang ditawarkan. Ada dua jenis tempat kos, English Area (EA) dan bukan EA. Kalau yang bukan EA, penghuni tempat kos hanya diberi fasilitas tempat tinggal saja. Sedangkan di EA, ada tambahan program yang ditawarkan untuk memperlancar belajar Bahasa Inggris. Ada macam-macam program yang ditawarkan EA. Program dasar adalah wajib berbahasa Ingris di lingkungan kos. Oleh karenanya, kebanyakan penghuni baru langsung mengidap penyakit gagu akut. Kemudian ada beberapa program tambahan lagi, tergantung tempatnya.

Saya hanya bisa mencontohkan satu EA, yaitu Access. Saya tinggal di Access 4 selama 2 minggu. Biayanya 175 ribu/bulan. Dengan uang sejumlah itu, kita sudah diberi fasilitas akomodasi sekaligus 3 program tambahan. Pertama, pk 5.00 – 6.30 adalah latihan membaca expression kemudian menghapalnya. Ada sekitar 10 expression setiap harinya. Ini sangat penting untuk membantu percakapan sehari-hari. Kedua, pk 16.00 – 17.30 ada kelas Pronounciation dengan logat Amrik. Di sinilah kelebihan Access, pronounce-nya bagus. Lalu, program yang terakhir, pk 18.30 – 20.00, kita diajak berdiskusi, berdepat, presentasi, nonton, dsb untuk mengaplikasikan Bahasa Inggris kita.

Memang akomodasi yang diberikan sederhana. Jangan harap di Kampung Bahasa bisa mendapat kamar kos ber-AC. Mencari kamar yang satu kamar untuk satu orang saja sulit. Kamar saya di Access diisi 4 orang dengan kasur kapuk tanpa dipan dan lemari. Tapi bagi saya fasilitas tersebut cukup nyaman dan manusiawi. Bisa saya katakan, Access tempat saya tingal ini termasuk yang premium, malah bisa jadi yang paling mahal. Tapi Access sering menjadi rekomendasi banyak orang karena memang bagus. Saya pernah dengar cerita, di daerah ini ada yang menawarkan kos (bukan EA) dengan biaya sewa 35 ribu/bulan. Tapi ini jarang-jarang. Kalau saya ambil rata-rata, kos bukan EA di Pare sebesar 75 ribu/bulan.

Program di asrama (EA) sengaja di-set subuh dan sore ke atas supaya pada jam kerja penghuni bisa ikut kursus lagi di luar sesuai tujuannya.

Tempat kursus kebanyakan tidak jauh dari kosan. Sangat mungkin untuk jalan kaki. Tapi sebagian besar memilih sepeda sebagai alat transportasi. Ya, sepeda, ini yang unik. Pertama kali sampai di terminal Kediri, saya terbengong-bengong melihat pemuda usia SMA memakai baju koko, sarung, lengkap dengan pecinya, ber-ontel ria di jalan. Tapi itu sudah biasa bagi masyarakat daerah itu.

Saking “in” nya sepeda, banyak bermunculan tempat penyewaan sepeda. Harganya sekitar 40 ribu/bulan. Bermacam pilihan sepeda yang ditawarkan, tapi kebanyakan sepeda tua. Kalau berniat kursus lebih dari 3 bulan, saya sarankan untuk membeli saja, jangan menyewa. Harga sepeda-sepeda second berkisar antara 100 – 300 ribu. Setelah kursus, sepeda itu bisa dijual lagi ke bengkel sepeda.

sepeda menjadi alat transportasi utama bagi anak kursusan
sepeda menjadi alat transportasi utama bagi anak kursusan

Masalah makanan, lebih mudah lagi. Makanan di sini murah. Sepiring nasi dengan ayam lengkap dengan sayurnya dihargai 4500. Nasi dengan telur dan sayur dihargai 3000. Yang lain mungkin bisa diprediksi sendiri. Budget makan 10 ribu/hari saya rasa cukup.

Untuk hiburan, memang sulit didapatkan di Pare. Kebanyakan dari kami harus pergi dulu ke malang (perjalanan 2 jam) untuk bisa mendapatkan hiburan. Kalau tidak ada program di siang hari, mati gaya rasanya. Mau keluar, rasanya panas betul, mau belajar sudah bosan, mau tidur pun sulit karena panas. Jadi, saya sarankan untuk membawa laptop, kalau bisa yang sudah dilengkapi dengan modem. Atau, bawa apa saja yang bisa membuat terhibur.

Berikut saya coba buat rancangan budget untuk belajar Bahasa Inggris di Pare. Dari perjalanan berangkat dari Jakarta dengan keadaan tidak PD berbicara English dan payah dalam menulis sampai tiga bulan kemudian pulang dengan PD berbicara Bahasa Inggris dan yakin akan grammer yang dibuat dalam karangannya.

Perjalanan dari Jakarta bisa naik Kereta sampai Jombang (kereta Bangunkarta), bisa juga dengan Bis sampai di Kediri. Harga kereta Bangunkarta Eksekutif 180 ribu, Bangunkarta bisnis 130 ribu, ekonomi kurang dari 50 ribu. Harga bis Eksekutif Lorena 215 ribu, tapi itu saya beli di akhir tahun, ketika harga sedang naik, kalau hari biasa bisa lebih murah lagi. Dari terminal Kediri, naik bis Puspa Indah jurusan Kediri-Malang, turun di BEC (tempat kursus paling tua di Pare) atau turun di GP (Garuda Park), kemudian naik becak sampai kosan yang diinginkan. Becak dari GP maksimal 5 ribu. Tawar dulu sebelum naik.

Saran saya, di bulan pertama, santai saja dulu, lihat situasi, perluas pergaulan, cari informasi. Masuk ke EA kemudian ambil program speaking dari Daffodiles untuk membangun keberanian berbicara Bahasa Inggris. Di akhir bulan pertama, kita bisa refreshing dengan mengikuti paket wisata ke Bali seharga 200 ribu. Ada sekitar 10 tujuan wisata terkenal sudah masuk dalam paket itu. Jangan heran dengan harganya. Di pare 100 rupiah juga masih berharga.

Di bulan ke-2 dan 3, coba pindah ke tempat yang bukan EA, kemudian ikuti program Planet English dari kursusan Kresna selama 7 minggu dengan biaya 190 ribu. Dalam program ini ada 5 pertemuan setiap harinya, tersebar dari pk 5.30 sampai pk 20.30. masing-masing pertemuan lamanya 1,5 jam. Perhitungan saya, total semua itu menghabiskan 2.430.000. Namun, Anda masih bisa irit sampai kurang dari 2 juta dengan mengurangi biaya transpor dan meniadakan jalan-jalan ke Bali. Saya jamin, sekembalinya, Anda akan merasa jauh lebih baik dalam berbahasa Inggris…

Semoga bermanfaat…=)

Budgeting kursus di Pare 3 bulan dari Jakarta

Lorena Eksekutif Jkt(Rw. Mangun) – Kediri215.000

Kediri – kosan10.000

Beli sepeda100.000

Makan 3 bulan1.000.000

Pulsa 3 bulan150.000

Program speaking di Dafodiles100.000

Wisata ke Bali200.000

Program Planet English di Kresna190.000

Kos di English Area Access (1 bulan)175.000

Kos di bukan EA (2 bulan)150.000

Kosan – Jombang10.000

Kereta bisnis Bangunkarta130.000

TOTAL2.430.000

#######################################

Agustus-November 2011 saya balik lagi ke Pare dan membuat banyak tulisan tentang pare di sini, tapi Bahasa Inggris semua karena niatnya mau memperlancar nulis Inggris.