Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 2/4)

Perjalanan ini dilakukan pada Agustus 2015 tapi baru ditulis Jaunuari 2017. Ini tentang apa yang saya rasakan selama perjalanan menuju Entikong, bermalam. Menuju Serian (Malaysia), bermalam. Lalu menuju Kuching (Malaysia), tidak bermalam, langsung kembali ke Indonesia.

Setelah dikerjai  pengendara mobil dari simpang Tayan ke Sosok, dan naik bus yang sempat mogok dari Sosok, saya bisa istirahat dulu di Balai Karangan. Saya mampir di tempat makan sederhana, sekadar beli minum. Makanan yang ada di sini tidak jauh beda dengan yang biasa saya lihat. Sate, pecel, nasi padang, dkk.

Lanjutkan membaca “Melewati Sang Batas: Entikong (Bagian 2/4)”

Iklan

Balada Kapuas

Pak Udin sudah siap di tepi Sungai Kapuas. Dia sedang duduk-duduk di sebuah tempat merapatnya perahu/boat/klotok (karena diksi “pelabuhan” sepertinya terlalu besar). Boatnya ditempeli mesin Yamaha dan berkapasitas 7 penumpang. Pak Udin segera bangkit setelah melihat kedatangan kami. Dia siap untuk mengantar saya dan tim untuk menyeberangi Kapuas.

Boat Pak Udin. Dok: Okta Viana Panca Adi
Boat Pak Udin. Dok: Okta Viana Panca Adi

Kami ada di sini untuk membenahi sistem informasi di sebuah perusahaan tambang. “Di sini” yang saya sebut tadi berarti di sebuah kecamatan bernama Tayan Hilir, tepatnya Desa Pedalaman (ini betul-betul nama desanya, bukan deskripsi dari saya tentang desa itu).

Kembali ke Pak Udin. Pak Udin adalah seorang warga lokal yang jasanya dibeli oleh perusahaan tambang tempat saya bekerja untuk mengemudikan boat. Hidupnya dekat sekali dengan Kapuas. Buat Pak Udin, pemandangan orang mandi di Sungai Kapuas bukanlah suatu hal baru. Pagi, siang, sore, malam, ada saja yang mandi di bantaran Sungai Kapuas.

Dulu, air Kapuas bukan hanya untuk mandi, tetapi sampai menjadi sumber air minum warga. Setelah dimasak tentunya (mudah-mudahan). Fungsi lain Sungai Kapuas adalah mengantarkan kayu-kayu dari pedalaman Kalimantan Barat ke Laut Cina Selatan, lalu menuju ke negara-negara di luar Indonesia. Belakangan, masyarakat mengetahui aktivitas tersebut sebagai illegal logging.

Ooo, tentu banyak sekali ikan di dalam perut Kapuas. Menurut Wikipedia, terdapat 700 jenis ikan di dalamnya. Sebanyak 40 jenis di antaranya terancam punah. Mungkin 40 jenis ikan itu pusing karena aktivitas tambang emas dan perak di bagian tengah sungai.

Sungai Kapuas menjadi sumber kehidupan sepanjang alirannya, 1.143 KM (sama panjangnya dengan Pulau Jawa). “Sumber kehidupan” punya makna yang cukup dalam buat saya. Setiap harinya, saya bertemu dengan orang-orang yang bekerja seperti robot, mengejar target, produktivitas, hasil yang banyak dengan effort sekecil mungkin, dan “utamakan kendaraan produksi”. Sungai Kapuas menjadi oase dari pemandangan keseharian di lingkungan kerja seperti itu, dan sukses membuat suasana hati lebih baik.

Menunggui sunset di bantaran Sungai Kapuas sambil mengudap sesuatu dan melihat kapal wara-wiri adalah satu aktivitas yang sangat menentramkan. Sepertinya ini deskripsi terbaik yang bisa saya tulis tentang langit Kapuas ketika matahari ingin tenggelam: sorotan cahaya berpencar menabrak awan yang kemudian memendarkan cahaya tersebut menjadi beberapa warna, kuning, merah, jingga, emas, biru muda, biru tua, dan entah warna apa itu. Tabrakan sorotan cahaya tadi juga membentuk siluet yang memenuhi setiap lekukan awan. Jelas sekali, bahwa aktivitas menunggui sunset ini akan saya rindukan di Jakarta.

IMG-20150517-WA002
Semburat Sunset Kapuas. Dok: Adhika Pratomo

***

Setelah semua penumpangnya masuk ke dalam boat, Pak Udin memajukan tuas di dekat setir boat, lalu kapal melaju dengan kecepatan konstan. Hanya ada tiga posisi tuas di dalam boat Pak Udin: depan, tengah, dan belakang. Tuas ke depan berarti maju. Tuas di tengah berarti netral. Tuas ke belakang berarti mundur (untuk mengerem). Perjalanan ke seberang hanya 10 menit. Sesekali boat menabrak potongan kayu di sungai. Itu biasa.

Jika Pak Udin sedang berhalangan, maka yang menggantikan tugasnya adalah Bu Udin. Bu Udin ini tangguh sekali. Dia pengemudi boat yang andal. Bu Udin selalu terlihat menggunakan sarung batik ketika mengemudi, sambil menggunakan topi pet.

Setelah beberapa kali menaiki boat Pak Udin, saya minta untuk mengemudikan boat itu sendiri. Pak Udin setuju. Sepuluh menit kemudian saya menabrak sebuah boat warga lokal yang sedang bersandar. Tiga kali. Yang pertama karena memang terlambat mengerem. Yang kedua dan ketiga karena Pak Udin panik dan memposisikan tuas ke depan, padahal maksudnya mau menarik ke belakang. Lampu boat Pak Udin langsung copot.

Orang yang ada di atas boat tadi lelompatan sampai tiga kali. Saya mau ketawa, tapi kuatir disantet. Kalau tidak ketawa, sayang banget, karena ekspresi lelompatannya itu lucu banget. Saya memilih diam saja. Mudah-mudahan dia bisa mencerna informasi dari bahasa tubuh saya, bahwa saya hanya menabraknya sekali. Yang dua lagi itu Pak Udin…

Pembunuh Singa Padang Pasir

Karya Dr Najib Kailani. Penerbit Pustaka.

Empat paragraf awal, sebelum daftar isi, langsung membuatku ingin membaca terus sampai episode terakhir (total 268 halaman). Ini hanya penangkap perhatian pembaca saja, yang diambil dari pertengahan cerita. Selanjutnya novel dimulai dari persiapan Quraisy untuk perang Uhud melawan umat islam yang sudah hijrah ke Madinah.

Serunya, yang dijadikan pemeran utama adalah Wahsyi, seorang budak milik Jabir bin Muth’im (tokoh Mekah). Darinya kita jadi tahu kehidupan budak zaman dulu.

Penulis membeberkan sejarah masuknya islam. Konflik dan peperangan awal antara islam dan orang Quraisy serta Yahudi dari berbagai klan. Sekalipun mereka menyatukan kekuatan dalam perang Khandaq, tapi islam tidak kunjung takluk.

Dialog-dialog cerdas dan dalam tentang pemaknaan islam antara Wahsyi dengan Suhail, kawannya, dan Wisoli, pelacur Mekah yang tersohor, membuat novel ini makin memperlihatkan seperti apakah islam, paling tidak menurut Najib Kailani.

Puncaknya ketika Fathu Mekkah (terbukanya kota Mekkah) ketika kota Mekkah takluk tanpa terjadi adu senjata. Islamisasi yang sungguh anggun. Tinggallah Wahsyi yang kabur dari Mekah karena takut perbuatannya membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi yang juga dijuluki si Singa Padang Pasir) atas permintaan Hindun bin ‘Atabah.

Perkataan Suhail tentang islam dan jaminannya bahwa Nabi tidak akan membunuhnya kala dia ingin masuk islam, membuat Wahsyi berkeputusan menjumpai Nabi. Nabi menerima keislamannya, tapi Wahsyi diminta untuk menjauhkan wajahnya dari hadapan Nabi. Permintaan Nabi itu sungguh membuatnya terpukul. Namun, ia tetap melaksanakannya.

Wahsyi menjadi penganut islam dan menjalankan syariat islam seperti orang pada umumnya. Keandalannya dalam melempar lembing membuatnya berhasil membunuh Musailamah Al Kazzab, nabi palsu yang menjadi musuh islam, pada zaman kekhaifahan Abu Bakr RA.

Wahsyi berjongkok, mencabut tombaknya yang masih tertancap di tubuh Musailamah. Dengan wajah tengadah Wahsyi bergumam:

“Maka sekiranya aku dengan tombak ini telah membunuh sebaik-baik manusia setelah Rasulullah, aku berharap, kiranya Allah mengampuni segala dosa-dosaku, karena dengan tombak ini pula aku telah membunuh sejahat-jahat manusia, yaitu Musailamah Al Kazzab.”

 

Mubaligh Kamboja

Sejak kecil, Yunus tinggal di Pnom Penh, ibukota Kamboja. Ia adalah seorang muslim yang dikelilingi dengan budaya Budha. Mayoritas penduduk Kamboja beragama Buddha. Di sekolah-sekolah, pelajaran agama Buddha adalah wajib, termasuk bagi murid muslim. Jadi wajar saja kalau Yunus mengerti seluk-beluk budaya Buddha.

Dok: edukasi.kompasiana.com

Untungnya, pergerakan muslim tidak dibatasi di sana. Pemerintahnya tidak menyulitkan muslim untuk berkembang. Dengan bebas, Yunus bisa mendalami islam. Sekolah jalan seperti biasa, mengaji juga jalan. Yunus bisa membaca Quran, menulis Arab, dan melakukan ibadah-ibadah islam seperti yang dikerjakan orang islam pada umumnya.

Sekolahnya lancar sampai menginjak, kalau di Indonesia, kelas 2 SMA. Suatu hari, guru mengajinya memanggil Yunus dan teman-teman sepengajiannya. Mereka diberi kesempatan untuk mendalami islam lebih dalam lagi di Indonesia. Tapi untuk itu ada tes terlebih dahulu. Tidak semua siswa sepengajiannya bisa ikut ke Indonesia.

Yunus termasuk dalam 15 orang yang lulus ujian. Ia diberi beasiswa lima tahun di Indonesia dengan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Keluarga Yunus mayoritas beragama islam. mereka mendukung Yunus.

Tahun 2009, Yunus terbang ke Jakarta, lalu mendapat pembekalan di sana selama 5 bulan. Ia mendalami Quran dan hadits di kelas khusus. Tapi kemudian ia dibawa ke Jawa Timur untuk lebih mendalami lagi Quran Hadits dengan murid-murid lain dari Indonesia.

Tidak ada lagi kelas khusus. Yunus dan teman-temannya harus belajar ekstra karena gurunya menyampaikan ilmu agama dalam bahasa Indonesia. Ia harus belajar huruf latin sekaligus menulis huruf Arab dengan lebih cepat.

Layaknya pondokan di Jawa Timur, Yunus tidak diperkenankan tidur di kamar. Ia harus tidur di masjid. Ia harus ikut dalam kegiatan bersih-bersih rutin: menyapu halaman masjid, mengepel, menyikat kamar mandi, dsb. Ia juga harus belajar makan seadanya.

Hanya dalam setahun, Yunus berhasil lulus dan mendapat sertifikasi mubaligh (penyampai imu agama). Setahun adalah waktu yang relatif cepat, termasuk untuk siswa pondok asal Indonesia. Rata-rata siswa sepondoknya berhasil mendapat sertifikat dalam waktu satu setengah tahun. Ini menjadi bukti bahwa pengujian di Kamboja cukup ketat sehingga hanya meloloskan murid-murid cerdas.

Kelima belas siswa pondok asal Kamboja dikirim ke masjid-masjid yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka ditugaskan mentransfer ilmu yang telah didapatnya kepada orang-orang yang haus ilmu agama. Walau masih tergagap-gagap dalam berbahasa Indonesia, tapi para jamaah di tempat tugasan Yunus sudah bisa memahami apa yang disampaikan Yunus. Transfer ilmu berjalan lancar.

Beruntung sekali hari itu aku diberi kesempatan kenal dengan Yunus. Waktu aku bertemu dengannya, Yunus sedang membuat segelas kopi. Setelah tahu aku datang sebagai tamu, ia membagi kopinya ke dalam dua gelas, lalu menambahkan air panas dan gula sehingga menjadi dua gelas kopi. Satu gelas diberikan kepadaku. (Aku pecinta coffeemix, jadi tahu takaran satu bungkus asli atau setengah bungkus yang ditambah gula). Begitu perhatiannya kepada tamu.

Sudah sekitar dua tahun Yunus belajar (dan mengajar) di Indonesia. Selanjutnya ia ingin mempelajari kutub as sitta sebelum pulang dan menyebarkan islam di Kamboja.

A Survivor’s Story

Lance Armstrong yang terkenal sebagai atlet sepeda itu ternyata punya cerita panjang sekali dalam hidupnya. Seperti yang Ibunya bilang, setiap sisi hidup Lance adalah keajaiban. Banyak hal yang tidak mungkin menjadi mungkin baginya.

Lance adalah seorang Amerika yang berhasil memenangkan Tour de France setelah mengidap kanker otak. Umurnya masih 20-an ketika itu. Tidak ada yang bisa menjelaskan secara logis bagaimana seorang yang telah melakukan kemoterapi berkali-kali bisa mengayuh sepedanya lagi, bahkan menjadi juara turnamen sepeda terhebat di dunia. Tahun depannya menang lagi, tahun depannya menang lagi, sampai berkali-kali.

Ia menceritakan bagaimana dirinya menghadapi tantangan hidup. Tidak ada pemuda di Amerika yang menganggap profesi atlet sepeda itu keren, tapi ia menjalaninya. Sampai ia memenangkan Tour de France, akhirnya Amerika mengelu-elukan namanya dan bangga sekali dengan Lance.

Keteguhan hatinya patut dicontoh. Ia yakin sekali bisa kembali ke jalanan untuk menjadi atlet sepeda terbaik. Ia berhasil melakukannya.

Kanker membuat cara pikirnya berubah. Sampai ia mendirikan semacam yayasan yang mendorong para pasien kanker untuk bangkit. Lance adalah sosok yang luar biasa kuat.

Trowulan yang Panjang

“Anda memasuki kawasan bebas dari buang air besar sembarangan.” Setelah bolak balik baca baru aku sadar itu tulisan betulan dan serius, yang ditulis di potongan-potongan papan lalu dipasang di ujung sebuah gang. Di situ tertulis, sejak tanggal 29 Desember 2009. Berarti baru sekitar setahun yang lalu.

Kejadian itu adalah satu dari sekian kejadian menarik dalam perjalanan hari ini, 18 November 2010. Tujuanku Trowulan untuk melihat berbagai peninggalan Majapahit di sana. Sebelumnya Cuma dapat cerita-cerita sekilas dari kawan tentang beberapa situs di Trowulan.

Posisi awalku di Lengkong. Jarak Lengkong-Trowulan sekitar 40 km. Aku pilih jalan kaki karena sepertinya lebih seru dan bakal banyak pembelajaran serta cerita. Komentar kurang kerjaan, siapa peduli?

Sebelumnya aku berhitung, dengan asumsi jalan normal itu kecepatannya 4 km/jam dan istirahat dipasang 2 jam. Berarti kalau jalannya non-stop dan aku mulai sejak subuh, maka sampai Trowulan pukul 5 sore. Asumsi lain, tidak hujan dan tidak ada pengurangan kecepatan jalan. Kupilih asumsi itu berdasar pengalaman jalan sebelumnya berjarak 10 km yang tertempuh 2,5 jam. Selanjutnya kuketahui asumsi yang terakhir ini berbahaya!

Rute sudah dipaskan dengan saran-saran dari penduduk lokal. Kalau rute jalan besar ya lewat Kertosono, tapi saran mereka, kalau jalan kaki ya lewat jalan yang ke arah Ploso, lalu lanjut naik perahu di  Tambangan, lanjut Jombang, Mojoagung, baru sampai Trowulan. Cerita Tambangan ini yang paling membuatku tertarik, karena aku akan menggunakan kapal mesin tempel menyeberangi sungai Brantas. Apalagi mereka bilang jalur yang lewat Tambangan itu lebih dekat dan lebih sepi ketimbang lewat Kertosono. Cocoklah.

Hanya tas gemblok yang kubawa dengan isi sepasang baju ganti, sarung, dan air minum. Sorban kupakai untuk menghalau panas, tapi baru kupakai ketika matahari betul-betul berasa. Tadinya mau pakai topi yang biasa dipakai anak-anak gunung dengan pengahalau panas di semua sisinya, tapi tidak punya dan sayang kalau beli sekali pakai hilang, biasanya begitu.

Sepatu kets biasa, baju lengan panjang, dan celana training yang dilipat hampir sampai lutut, mungkin bukan muasal orang bertanya-tanya dan memandangku begitu anehnya. Kupikir, mereka menganggapku aneh karena memakai sorban yang dibalut seperti selendang. Apalagi ditambah kacamata cokelat tak tembus pandang.

Aku jalan dengan tidak makan sebelumnya. Baru berjalan 5 km atau 1 jam lebih sedikit, aku istirahat sekaligus sarapan. Warung makan yang kusambangi tiadalah besar, hanya sebesar warteg pada umumnya. Sepiring pecel harganya Rp 3.000. Ngobrol sebentar dengan orang yang ada di warung, untuk memastikan rute sudah betul.

Sebelum beranjak, aku izin ke toilet. Ibu penjaga warung mempersilakan, sambil menunjukkan jarinya ke belakang. Aku ke belakang dan tidak melihat ada ruangan apa pun layaknya toilet, yang ada hanyalah ember tanpa air di sebuah gubuk tak beratap dan tak berpintu. Letak gubuk itu persis di belakang warung. Sekelilingnya hanya kebun yang beralirkan limbah dari tempat pencucian piring dalam warung.

Aku kembai lagi, “Bu, toiletnya yang mana?” Dia menunjuk ke gubuk itu. Oh sial. Aku masuk dan mengamati lagi, gimana memanfaatkan gubuk itu jadi toilet? Rupanya di tengah gubuk ada lubang ke bawah yang hitam dan kecil dan tidak mau aku lihat untuk kedua kalinya. Aku pilih buang air kecil di kebun sebeah gubuk itu sajalah. Untung aku sudah makan sebelumnya. Kalau belum, mungkin seketika selera itu hilang.

Sepanjang jalan banyak orang yang memperhatikanku. Aku sudah biasa melihat picingan mata atau curi-curi pandang seperti yang mereka lakukan. Tidak kupedulikan sama sekali. Terkadang malah aku balas pandangan mereka tepat di matanya, biasanya mereka yang mengalah.

Aku sampai di Tambangan masih pagi. Seperti yang diceritakan kepadaku, di sini orang menyeberang dengan kapal tempel (kapal nelayan yang ditempel mesin). Dalam satu kapal itu bisa muat sekitar 7 motor dan 20 orang. Tarifnya per motor (termasuk orangnya) Rp 2.000. Modelku sudah ketebak bahwa aku orang asing dan kuprediksi harga akan dinaikkan buatku, apalagi aku pakai bahasa Indonesia. Tapi justru malah aku digratiskan =). Wah, aku sudah suudzon.

Tiap sekitar 5 km aku istirahat beberapa menit sambil minum. Perjalanan dari Munung (nama tempat setelah menyeberang lewat Tambangan) ke Jombang adalah yang terberat. Jalannya sih sepi dan asik untuk pejalan kaki. Tapi tidak ada pohon di kanan kiri jalan, yang ada hanya sawah. Jadi panasnya itu cepat sekali bikin lemah. Jalanku melambat.

Sampai aku ketemu dengan suatu masjid megah yang juga merupakan kompleks sebuah pondok pesantren NU, kelihatannya ini awal masuk kota Jombang. Aku masuk dan ngobrol dengan seorang santri yang tinggal di dalam. Dia cerita bahwa itu adalah salah satu dari 4 pondok terbesar di Jombang. Dari dulu memang Jombang terkenal sebagai kota santri. Tebu Ireng adalah yang terbesar di Jombang.

Tidak bisa kutahan lagi, aku ingin tidur. Kucari masjid yang tidak di pinggir jalan raya, aku izin dengan yang ada di sekitar masjid itu, langsung tidur hanya dalam beberapa menit. Aku jalan lagi, lalu mampir lagi di masjid tidak jauh dari kota Jombang. Kalau yang kedua ini mampir karena lapar dan kelihatannya mau hujan.

Dua jam lebih bermukim di masjid tersebut, ternyata sudah Ashar. Wah, aku sudah kalah 2 jam dari target. Walau agak gerimis tapi aku jalan sajalah, toh ada sorban pelindung kepala dan tas. Kamera aku masukkan ke plastik lalu kutaruh di tas bagian paling bawah biar aman dari hujan.

Seingatku, tidak pernah aku baca artikel yang bilang bahwa otot itu bisa tiba-tiba keram kalau ketemu suhu yang turun. Tapi begitulah yang terjadi. Dalam 2 jam jalan itu rasanya otot mengeras mengikuti kurva logaritmik, cepat sekali.

Jam 5 sore aku sudah tidak tahan lagi. Langkah sulit kuatur. Otot kaki bisa melangkah ke depan tapi sulit dihentikan sehingga kaki sampai menghentak lurus baru bisa menapak. Sepertinya lututku mulai bermasalah. Kuputuskan bermalam sajalah di Mojoagung, sekitar 6 km sebelum Trowulan. Aku kalah dan salah berasumsi.

Ramainya alun-alun Mojoagung yang di pinggir jalan lintas itu ternyata gara-gara mala mini banyak yang bakal berkunjung ke makam Mbah Sayyid Sulaiman. Plang besar yang menunjukkan arah ke situ menandakan ini orang dulunya bukan sembarang orang. Beberapa orang bilang malam ini akan sangat ramai. Mobil akan mogok berkilo-kilo meter. Tapi sama sekali aku tidak tertarik mampir ke sana karena memang menurutku tidak betul yang begitu-begituan.

Aku pikir besoknya aku bisa jalan lanjut ke Trowulan, tapi sakitnya kaki tidak berkurang sama sekali, malah sepertinya tambah parah. Jadi, aku naik angkutan umum berbayar Rp 2.000 sampai depan kantor wisata Trowulan. Lalu lanjut jalan ke dalam sekitar 1 km menuju museum. Mungkin cerita detail Trowulan akan kulanjutkan kapan-kapan.

Ayah dan Pendidikan

Sejak lahir sampai sekarang, Aku tumbuh di sebuah wilayah di pinggiran Jakarta. Bukan perumahan, bukan komplek, bukan juga perkampungan. Entah apa namanya, tapi yang jelas, posisi rumahku di satu sisi berhadapan dengan perkampungan, di sisi lain dengan perumahan yang cukup mewah.

Keadaan tersebut membuatku bisa bergaul dengan, maaf, anak-anak kampung. Mereka adalah anak-anak yang sejak lahir dididik untuk bermain di luar rumah. Tapi sepertinya kurang tepat juga menggunakan kata “dididik” yang lebih terkesan disengaja. Padahal, mereka memang tidak punya pilihan. Uangnya tidak cukup untuk membelikan anaknya Nitendo atau Sega, games yang eksis kala itu, jauh sebelum masa jaya Play Station. Mereka hanya dibekali uang yang hanya cukup untuk membeli layangan.

Jadilah Aku ikut bermain layangan bersama mereka, hampir setiap hari. Aku sangat kenal dengan istilah “Telap”, yaitu sebutan untuk layangan yang sudah putus. Di saat itu, semua anak berlarian, tanpa alas kaki, mengejar layangan tersebut. Aturan tak tertulisnya, siapa saja yang sudah menyentuh benang dari layangan putus itu, maka dialah yang berhak menjadi tuan bagi layangan malang tersebut.

Permainan yang juga sering kami mainkan adalah kelereng, tapi kami lebih senang menyebutnya “gundu”. Bermacam varian bermain gundu sudah kukuasai, dari saling mengenai dengan lawan sampai berebut sebanyak-banyaknya gundu yang ada di sebuah kotak dengan cara mengenainya sehingga keluar kotak. Gundu yang sudah keluar kotak menjadi milik kita. Masih banyak varian lain dari bermain gundu. Istilah yang juga beken adalah “Gacoan”, yaitu gundu andalan kita yang kita anggap paling hebat atau gundu favorit.

Aku juga ikut bermain Tak Kadal Lobang, Tak Umpet, Tak Benteng, Tak Jongkok, Galasin, dan mainan outdoor lainnya. Terkadang, kami bertualang ke kebun tak terurus di dekat rumahku untuk mencari batang bambu kecil. Setelah dipotong dan diperhalus, batang bambu itu disulap menjadi sebuah senjata seperti suku-suku pedalaman yang sering kulihat di TV. Bedanya, mereka meniup pelurunya lewat bambu, sedangkan kami menyodoknya dengan alat yang juga terbuat dari bambu. Berjam-jam kemudian, kami larut dalam permainan perang-perangan.

Di waktu yang lain, kami jalan-jalan ke sawah dekat rumahku, lalu membius ikan sepat dan gabus dengan “cengkalim”, entah pengejaannya seperti apa, tapi mereka menyebutnya demikian. Bentuknya seperti sabun batangan berwarna putih. Cukup digoyang-goyang ke dalam air sawah, semenit kemudian, ikan-ikan mabuk, lalu kami tangkap. Dibanding semua permainan, inilah yang menurutku paling menyenangkan karena Aku bisa bermain basah-basahan dan bisa membawa pulang ikan hasil tangkapan. Biasanya ikan Aku taruh ke Akuarium lalu sehari kemudian mati. Mungkin karena dosis cengkalim yang terlalu tinggi, tapi yang jelas selalu demikian.

Oleh Ayah, Aku diberi kebebasan bermain apa saja dengan syarat, saat Adzan Magrib sudah ada di rumah dan mulai fokus pada pelajaran sekolah. Mama punya syarat lain, jangan bermain sampai mengotori baju karena akan susah mencucinya. Jadi, kalau Aku dari sawah, lumpur yang menempel di baju selalu Aku bersihkan terlebih dahulu dengan pompa air umum dekat sawah, lalu setelah baju kering, Aku baru berani pulang.

Ayah waktu di Amsterdam. Sebetulnya gak relevan dgn cerita, tp stok foto Ayah cuma sedikit dan ini yang menurutku terkeren. Dok: Iqbal.

Di sisi lain, sebetulnya Aku tidak punya akses untuk bergaul dengan anak-anak komplek yang jarang sekali keluar rumah itu. Tapi, ada pendekatan lain yang membuatku bisa berbaur dengan mereka. Ayahku punya satu sifat positif, selalu mengutamakan pendidikan pada anak-anaknya. Jadilah kami selalu diusahakan untuk masuk sekolah unggulan. “Diusahakan” di sini bukan cuma sekedar menyuruh anaknya belajar dan ikut les dengan rutin, tapi sampai mengemis-ngemis ke sekolah untuk bisa diberi keringanan SPP. Maklum, Ayahku bukan orang kantoran yang mendapat gaji tetap sehingga bisa mengukur “kapasitas”. Aku sangat bersukur dengan sifat Ayah yang satu ini.

SD, SMP, dan SMA yang kududuki terbilang sekolah unggulan. Dari situlah Aku mengenal komunitas yang jauh lebih “berada”. Awalnya, terutama di SD, Aku kagok bergaul dengan orang-orang yang diantar jemput dengan mobil pribadi, sedangkan Aku selalu jalan kaki berkilo-kilo selama 12 tahun (SD-SMP-SMA). Aku kagok bergaul dengan mereka yang bisa bebas membeli makan siang di sekolah, sedangkan Aku hanya bisa membeli nasi goreng (pilihan termurah waktu itu). Tapi kemudian pergaulan bisa dilanjutkan. Alhamdulillah Aku diberi kemampuan menangkap pelajaran dengan baik, terutama Matematika. Itulah yang menjadi modalku bergaul dengan mereka.

Jadi, Aku punya dua varian pergaulan yang jauh bertolak belakang. Setelah pulang sekolah, terkadang Aku bermain layangan dengan anak-anak di kampung dekat rumahku dengan bermandikan peluh ditemani oleh matahari terik. Di waktu yang lain, Aku bermain Play Station di kamar temanku yang ber-AC dan dipenuhi makanan-makanan enak. Aku menikmati keduanya.

Waktu terus berjalan, malang bagi teman-temanku yang suka bermain layangan, sebagian besar dari mereka tidak dapat masuk ke sekolah unggulan. Banyak faktor di balik fakta tersebut, yang paling kuat adalah ketidakberdayaan akan biaya sekolah. Mereka lebih memilih sekolah biasa yang sarat akan budaya tawuran.

Alamku semakin berbeda dengan mereka karena pola pikir yang diajarkan kepadaku di sekolah jauh berbeda dengan pola pikir mereka. Semakin tidak nyambung, sampai di suatu titik, setelah masuk SMA, Aku tidak bergaul lagi dengan mereka. Aktifitas yang padat luar biasa di sekolah mendorong hal tersebut semakin kuat.

Aku bersukur sempat menikmati masa kanak dengan permainan-permainan outdoor setiap hari. Sepertinya hal tersebut sangat sulit didapat pada zaman sekarang, padahal setahuku, itu adalah metode pengembangan anak yang paling baik. Aku juga bersukur karena terselamatkan dari berbagai kenakalan remaja yang kerap dilakukan anak kampung di daerah rumahku. Ayah punya metode pengajaran yang tepat, sangat patut dijadikan contoh. Aku bangga punya Ayah yang sangat peduli akan pendidikan Anak-anaknya.