Arsip untuk Mei, 2011

31
Mei
11

Mubaligh Kamboja

Sejak kecil, Yunus tinggal di Pnom Penh, ibukota Kamboja. Ia adalah seorang muslim yang dikelilingi dengan budaya Budha. Mayoritas penduduk Kamboja beragama Buddha. Di sekolah-sekolah, pelajaran agama Buddha adalah wajib, termasuk bagi murid muslim. Jadi wajar saja kalau Yunus mengerti seluk-beluk budaya Buddha.

Dok: edukasi.kompasiana.com

Untungnya, pergerakan muslim tidak dibatasi di sana. Pemerintahnya tidak menyulitkan muslim untuk berkembang. Dengan bebas, Yunus bisa mendalami islam. Sekolah jalan seperti biasa, mengaji juga jalan. Yunus bisa membaca Quran, menulis Arab, dan melakukan ibadah-ibadah islam seperti yang dikerjakan orang islam pada umumnya.

Sekolahnya lancar sampai menginjak, kalau di Indonesia, kelas 2 SMA. Suatu hari, guru mengajinya memanggil Yunus dan teman-teman sepengajiannya. Mereka diberi kesempatan untuk mendalami islam lebih dalam lagi di Indonesia. Tapi untuk itu ada tes terlebih dahulu. Tidak semua siswa sepengajiannya bisa ikut ke Indonesia.

Yunus termasuk dalam 15 orang yang lulus ujian. Ia diberi beasiswa lima tahun di Indonesia dengan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Keluarga Yunus mayoritas beragama islam. mereka mendukung Yunus.

Tahun 2009, Yunus terbang ke Jakarta, lalu mendapat pembekalan di sana selama 5 bulan. Ia mendalami Quran dan hadits di kelas khusus. Tapi kemudian ia dibawa ke Jawa Timur untuk lebih mendalami lagi Quran Hadits dengan murid-murid lain dari Indonesia.

Tidak ada lagi kelas khusus. Yunus dan teman-temannya harus belajar ekstra karena gurunya menyampaikan ilmu agama dalam bahasa Indonesia. Ia harus belajar huruf latin sekaligus menulis huruf Arab dengan lebih cepat.

Layaknya pondokan di Jawa Timur, Yunus tidak diperkenankan tidur di kamar. Ia harus tidur di masjid. Ia harus ikut dalam kegiatan bersih-bersih rutin: menyapu halaman masjid, mengepel, menyikat kamar mandi, dsb. Ia juga harus belajar makan seadanya.

Hanya dalam setahun, Yunus berhasil lulus dan mendapat sertifikasi mubaligh (penyampai imu agama). Setahun adalah waktu yang relatif cepat, termasuk untuk siswa pondok asal Indonesia. Rata-rata siswa sepondoknya berhasil mendapat sertifikat dalam waktu satu setengah tahun. Ini menjadi bukti bahwa pengujian di Kamboja cukup ketat sehingga hanya meloloskan murid-murid cerdas.

Kelima belas siswa pondok asal Kamboja dikirim ke masjid-masjid yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka ditugaskan mentransfer ilmu yang telah didapatnya kepada orang-orang yang haus ilmu agama. Walau masih tergagap-gagap dalam berbahasa Indonesia, tapi para jamaah di tempat tugasan Yunus sudah bisa memahami apa yang disampaikan Yunus. Transfer ilmu berjalan lancar.

Beruntung sekali hari itu aku diberi kesempatan kenal dengan Yunus. Waktu aku bertemu dengannya, Yunus sedang membuat segelas kopi. Setelah tahu aku datang sebagai tamu, ia membagi kopinya ke dalam dua gelas, lalu menambahkan air panas dan gula sehingga menjadi dua gelas kopi. Satu gelas diberikan kepadaku. (Aku pecinta coffeemix, jadi tahu takaran satu bungkus asli atau setengah bungkus yang ditambah gula). Begitu perhatiannya kepada tamu.

Sudah sekitar dua tahun Yunus belajar (dan mengajar) di Indonesia. Selanjutnya ia ingin mempelajari kutub as sitta sebelum pulang dan menyebarkan islam di Kamboja.

29
Mei
11

Belajar Faroidh di Klaten

“Di tengah sawah?”

“Iya, pondok pesantrennya di tengah sawah!” kata temanku waktu menunjukkan tempat belajar faroidh (ilmu pembagian waris) yang bagus.

Aku naik beberapa kali angkutan umum sampai tiba di Terminal Klaten (Jawa Tengah), lalu lanjut naik mikrobis jurusan Boyolali, turun di Pandeyan, sebuah desa setelah pasar Jatinom. Sekitar setengah jam dari terminal Klaten.

Masuk ke dalam dengan jalan kaki melewati sawah-sawah yang terbentang. Sekitar 500 meter baru ketemu Pondok Sribit. Di pondok ini, selain kelas regular, ada kelas khusus untuk belajar faroidh.

Kelas faroidh dibuka hanya kalau ada permintaan, jadi tidak ada jadwal khusus. Lama belajarnya pun bebas, bisa 2 hari, bisa seminggu, tapi kebanyakan santri minta 3 hari saja. Waktu itu (Maret 2011) aku dan kawan-kawan pilih 3 hari juga. Jumlah pesertanya juga bebas. Tiga orang pun dilayani. Waktu itu kami ada 12 orang.

Biayanya cuma bayar uang makan Rp 8.000 per hari dan uang buku Rp 25.000. itu sudah termasuk bagan rumus yang sudah dilaminating. Tapi biasanya santri mengumpulkan sumbangan sukarela untuk pengajar.

Waktu belajar juga santri yang atur, mau terus-terusan dari subuh sampai malam bisa, mau cuma pagi dan malam bisa. Bebas, tapi kemudian dibicarakan dengan pengurus pondoknya, supaya bisa diatur.

Mbah Yatmo adalah pengajar utama untuk kelas faroidh. Umurnya sudah 82 tahun, fisiknya sudah terbatas, sholatnya sudah dengan duduk di kursi, tapi masih semangat mengajar. Pikirannya masih tajam dalam menanggapi persoalan seputar ilmu waris.

Seringkali, mbah Yatmo menyelipkan cerita-cerita perjuangan islam zaman dulu, ketika ia masih muda. Sayangnya, aku kurang paham bahasa Jawa, sedangkan kebanyakan cerita mbah Yatmo berbahasa Jawa, jadi aku tidak bisa menangkap ceritanya dengan penuh.

Di awal materi, kami diberikan dalil-dalil yang ada dalam Quran Hadits. Kata demi kata dari dalil itu dibahas sehingga pemaknaannya tajam. Kami diperkenalkan dengan beberapa istilah seperti ‘asobah, mahjub, dan rod. Siapa saja yang mendapat waris dan siapa yang tidak, itu diklasifikasikan. Aku baru tahu bahwa cucu perempuan dari anak perempuan itu tidak dapat warisan. Aku juga baru tahu bahwa saudara perempuan itu bagiannya tidak melulu setengah dari bagian saudara laki-laki.

Selanjutnya kami digempur dengan soal-soal yang disarikan dari bermacam buku. Kalau masih seputaran keluarga inti sih masih gampang, tapi kalau sudah ada saudara sebapak, nenek dari ibu, paman sekandung, wah itu sudah repot. Si anu bagiannya segini kalau ada si anu, kalau tidak ada maka bagiannya segini, bisa juga tidak mendapat bagian kalau ada si anu, dan bisa juga mendapat bagian sisa kalau tidak ada si anu. Wah, rumit deh, perlu banyak latihan.

Tepat tiga hari kami belajar. Alhamdulillah semua materi sudah tersampaikan dan latihan sudah cukup banyak. Tapi sepertinya praktek di lapangan tidak semudah di atas kertas. Bisa jadi ada sebagian keluarga yang kurang setuju dengan hasil taksirnya ahli taksir. Bisa jadi pembagian waris baru dilakukan bertahun-tahun setelah kematian mayyit. Bisa jadi orang yang tidak masuk dalam ahli waris minta bagian. Semua itu tinggal jam terbang.

28
Mei
11

Buku Bekas di Solo

kios-kios buku yag mayoritas bekas di solo. Dok: Iqbal

Setelah main ke alun-alun Solo, aku mampir ke Tourist Information Center, dekat Sri Wedari. Lumayan, dapat peta wisata Solo gratis. Petugasnya juga kasih info tentang penginapan-penginapan murah, yang Rp 50 ribuan.

Sebetulnya targetku bukan itu, tapi toko-toko buku bekas di belakang Sri Wedari. Kata temanku, kalau nyari buku bekas yang murah ya di situ. Aku tidak punya target mau cari buku apa, tapi kalau ada yang menarik yang beli.

Ada puluhan kios yang berjejer di sepanjang jalan itu. Tidak ada kios yang besar sendiri mendominasi. Kira-kiri mirip Kuitang di Jakarta atau samping Taman Pintar di Jogja. Bedanya, took-toko di Solo ini berjejer lurus, kalau di Jakarta dan Jogja toko-tokonya bergerumul membentuk kotak.

Aku beli buku Lonely Planet SouthEast Asia (tapi terbitan 1998) cuma Rp 25.000, aku juga borong majalah Intisari & Reader’s Digest 10 buah total Rp 25.000, sama beli buku Kabut di Kampus Biru karangan AA Navis Rp 20.000.

Majalah-majalahnya tergolong baru loh. Aku ke sana Februari 2011, tapi majalah terbitan akhir 2010 sudah ada di situ.

14
Mei
11

Sekaten Mirip Pasar Kaget

Buat orang Solo, Jogja, dan Cirebon, Sekaten itu sudah sering mereka dengar. Ini adalah acara tahunan keraton yang, kalau tidak salah, digelar dalam rangka peringatan hari lahir Nabi SAW. Februari 2011 lalu kebetulan aku lagi main ke Solo. Aku mampir sebentar ke Sekaten. Karena memang datang tidak pada waktu acara intinya, buatku Sekaten tidak lebih dari sekedar, maaf, pasar kaget.

umang ikut menjadi komoditas perdagangan di sekaten Solo. Dok Iqbal

Ada yang jual pakaian, ada yang jual aksesoris, ada dufan mini penuh dengan mainan anak-anak, ada banyak penjual makanan. Kalau tidak ada baliho Sekaten di depan, sempurnalah seperti pasar kaget.

Letaknya di alun-alun Utara Keraton. Karena waktu aku datang masih pagi, maka belum semua lapak buka. Itupun keadaannya sudah sumpek dan becek. Jalan buat pengunjung sempit sekali. Betul-betul mirip pasar. Apalagi malam, ketika ada acara yang digelar, mungkin butuh waktu satu jam buat keliling alun-alun.

04
Mei
11

A Survivor’s Story

Lance Armstrong yang terkenal sebagai atlet sepeda itu ternyata punya cerita panjang sekali dalam hidupnya. Seperti yang Ibunya bilang, setiap sisi hidup Lance adalah keajaiban. Banyak hal yang tidak mungkin menjadi mungkin baginya.

Lance adalah seorang Amerika yang berhasil memenangkan Tour de France setelah mengidap kanker otak. Umurnya masih 20-an ketika itu. Tidak ada yang bisa menjelaskan secara logis bagaimana seorang yang telah melakukan kemoterapi berkali-kali bisa mengayuh sepedanya lagi, bahkan menjadi juara turnamen sepeda terhebat di dunia. Tahun depannya menang lagi, tahun depannya menang lagi, sampai berkali-kali.

Ia menceritakan bagaimana dirinya menghadapi tantangan hidup. Tidak ada pemuda di Amerika yang menganggap profesi atlet sepeda itu keren, tapi ia menjalaninya. Sampai ia memenangkan Tour de France, akhirnya Amerika mengelu-elukan namanya dan bangga sekali dengan Lance.

Keteguhan hatinya patut dicontoh. Ia yakin sekali bisa kembali ke jalanan untuk menjadi atlet sepeda terbaik. Ia berhasil melakukannya.

Kanker membuat cara pikirnya berubah. Sampai ia mendirikan semacam yayasan yang mendorong para pasien kanker untuk bangkit. Lance adalah sosok yang luar biasa kuat.




Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031