Pesan Rana

Kenapa sekarang, di dunia, kalian tidak memperlihatkan kesungguhan ucapan kalian kelak? Kalian bilang kalian iri padaku karena hisabku sebentar saja. Atau relatif sebentar dibanding kalian. Dan kalian berandai-andai ingin seperti aku, di saat andai-andai tidak berlaku sama sekali.

Lanjutkan membaca “Pesan Rana”

Iklan

Said

Kebetulan purnama. Said senang sekali dengan indahnya purnama. Apalagi dengan keadaan hatinya yang sedang sendu, atau kata anak sekarang, galau. Dia tidak habis pikir, mengapa justru hujatan masuk kepada pihak yang menyerukan kebenaran dan mengingatkan apa yang keliru. Padahal yang dihujat hanya bermaksud mengingatkan. Jelas bukan mencari sensasi.

Ini terkait dengan pemberitaan yang sedang marak mengenai pengharaman BPJS oleh MUI (atau mungkin bisa diperhalus dengan “tidak sesuai syariat”). Said termenung sambil menatap purnama, seakan solusinya ada di bulan yang pernah terbelah dua itu. Seolah bulan itu akan memberi tahu lembaga mana lagi yang bisa lebih kuat dari MUI untuk menyampaikan syariat yang harusnya dijalankan. Said pun berandai, mungkin bulan akan membelah lagi, lalu keluar ukiran di langit “Tinggalkanlah riba”. Kemudian bulan menyatu kembali.

Said teringat, sebelas tahun lalu hal serupa pernah terjadi. MUI mengeluarkan fatwa nomor 1 tahun 2004 tentang pengharaman bank konvensional (ini juga bisa diperhalus dengan “tidak sesuai syariat”). Ramai di saat itu, lalu semua lupa. Semua merasa tidak ada salahnya dengan bank konvensional. Lebih menguntungkan kok. Lebih praktis, ATM-nya di mana-mana.

Sepuluh emiten terkuat di pasar saham didominasi sektor perbankan atau sektor riba lainnya. Perusahaan-perusahaan mewajibkan karyawannya mempunyai rekening di bank konvensional (kalau masih mau digaji). Mayoritas karyawan bank tidak berkeinginan hijrah ke sektor non riba. Bekerja di bank hampir sama elitnya dengan bekerja di perusahaan minyak. Bank konvensional tumbuh dengan sangat subur. Semua lupa dengan fatwa sebelas tahun lalu.

Betapa Said menyadari kondisinya dan semua orang di sekelilingnya. Banyak, tetapi tidak berkekuatan, seperti buih. Seperti yang sudah diprediksi empat belas abad lalu.

Hati Said iri sekali dengan keteguhan pemuda Kahfi puluhan abad lalu. Bagaimana mungkin mereka berani hijrah ke sebuah goa yang gelap demi meninggalkan keburukan. Betapa iman mereka begitu tinggi, sehingga langit pun luluh menidurkan mereka, lalu membangunkannya ketika kondisi sudah baik. Tiga ratus tahun mereka tidur. Anjing yang mereka bawa hanya tinggal tulang. Tapi tubuh mereka masih tetap utuh. Said menggelengkan kepalanya, “Seperti dongeng,” dia berkata lirih.

Hanya satu yang membuat hatinya agak terangkat. Sedikit. Sedikit sekali. Yaitu kabar bahwa penentangan dari hati masih tergolong dalam kumpulan iman, meskipun yang paling lemah. Masih ada rasa syukur, bahwa hatinya diberikan penentangan. Meski sedikit. Meski dia menyesali betapa lemah dirinya? Betapa sistem yang ada begitu kuat mencengkram?

Said masih beruntung mempunyai hati yang menentang dan tahu bahwa keterpaksaannya adalah sesuatu yang salah. Wajahnya sedikit tersenyum sinis melihat lingkungannya yang malah setuju dengan adanya BPJS. Sebagai pembelaan, oou.. mudah saja bagi mereka. Cari berita tentang seorang ulama atau tokoh agama terkenal yang menyuarakan bahwa BPJS itu boleh. Lalu jadikan itu tameng. Kicaukan. Sebarkan di media sosial.

Tidak perlu takut dengan tudingan riba. Tidak perlu menentang BPJS. Dan tidak perlu merasa bersalah jika nantinya ada BPJS Syariah tetapi dirinya masih di BPJS konvensional. Tinggal cari berita lagi, tentang tokoh agama yang menyatakan BPJS Syariah itu sama saja dengan yang konvensional. Lalu jadikan itu tameng. Kicaukan. Sebarkan di media sosial.

Senyuman masih muncul di wajah Said. Namun senyuman itu segera hilang. Said kaget melihat sebuah berita di tangannya. Said kaget sekaget-kagetnya. Matanya terbelalak ketika membaca bahwa salah satu penghujat MUI punya nama yang sama dengannya: Said. “Kenapa namanya disama-samakan dengan saya?!” sambil melipat dahinya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Laba-Laba

laba laba
Laba laba. Dok: http://www.atjehcyber.net/

Wahai laba-laba,

Enak sekali hidupmu. Tidak perlu ada pertanggungjawaban panjang pasca tiada, hanya balas membunuh atau dibunuh. Tidak perlu menjawab Man Robbuka. Tidak perlu lulus UN. Tidak perlu dipaksa lingkungan untuk memvaksin anakmu. Tidak perlu mengikuti apa yang TV ajarkan kepadamu. Tidak perlu ikut BPJS. Tidak perlu selipkan amplop ke penghulu kalau mau kawin. Tidak perlu membebani pikiranmu dengan “makan apa besok”. Tidak perlu terpaksa punya rumah dan mobil dengan berutang. Tidak disiksa di neraka kalau membunuh, meskipun sengaja. Tidak perlu belajar kalkulus. Tidak perlu pusing kasih nama anak. Tidak perlu dikerjain polisi waktu bikin SIM (bahkan tidak perlu bikin SIM!). Tidak perlu menggunakan uang kartal. Tidak perlu bikin paspor. Tidak perlu…. Semua itu tidak perlu kamu lakukan.

Karena… ya karena kamu seekor laba-laba, yang tinggal kawin ketika kamu mau kawin. Tinggal makan kalau mau makan, bahkan tidak ada yang melarangmu untuk membunuh. Kamu bisa buat jaring-jaring indah berpola tanpa masuk Harvard terlebih dahulu, it’s in your genes! Jaring itu begitu hebat, sampai-sampai jika jaring itu diperbesar, maka Boeing 747 pun bisa tersangkut.

Oh ya, inti pembicaraanku kali ini adalah aku ingin dengar pandanganmu mengenai harta. Ya… darimu, karena dari namamu, harusnya kamu punya uang yang sangat banyak ya. Sekali laba saja sudah bagus. Kamu mendapatkannya berulang-ulang. Sampai bukan lagi menjadi middle name, it’s your full name, dude!

Bagaimana bisa sebuah (mana yang lebih tepat ya, sebuah? Seekor?) spesies yang sangat kaya sepertimu diam-diam saja dan tidak terlihat sikap sombong sama sekali?

Hmm… Okay, aku coba konfirmasi ulang jawabanmu. Jadi kamu diam-diam saja karena kamu malu ketahuan tidak bisa berenang? Karena sejatinya permukaan tubuh luarmu adalah hidrofobik?

Haha, baik, pertanyaan kedua. Kenapa kamu, yang super kaya dan tidak perlu memikirkan makan apa besok, masih mau menelan lagi jaring yang kamu buat untuk menjadi bahan pembuatan jaring berikutnya?

Apa? Muzhid? Wow… Untuk mengefisienkan segala hal ya? Hebat sekali kamu. Beda dengan kaumku yang perokok, lebih memilih beli rokok daripada makanan. Kurang mubazir apa coba? Andai nanti ada aturan Pemerintah yang mewajibkan nyalakan rokok di kedua ujungnya… Biar kapok mereka.

Pertanyaan ketiga, ketika dulu kamu menjadi pahlawan Nabi Muhammad dan Abu Bakar karena jaring-jaringmu yang membuat para pengejar terkecoh, kenapa tidak buat jumpa pers dan mempublikasikan kisahmu yang heroik? Karena dari situ kamu bisa diundang ke mana-mana dan dapat “laba” lebih banyak?

Yeah, betul sekali nasihatmu, karena kaya itu bukan di jumlah harta, tapi di bisa atau tidaknya dia bersyukur.

Pertanyaan terakhir, jika tahun lalu Budi membeli tiga pensil dan dua buka seharga Rp3.500 dan tadi pagi Budi membeli empat pensil dan lima buku seharga Rp7.700, dengan inflasi sebesar 10%, berapa harga buku tahun lalu?

Hey, jangan pergi….

Muzhid

Aira anakku, ada sebuah cerita menarik dari Kutub Utara. Kamu mau dengar, nak? Yaitu tentang cara berburu serigala yang dilakukan oleh suku Eskimo. Mereka membaluri sebilah pisau tajam dengan darah hewan lain, lalu darah itu dibiarkan mengering tanpa dibersihkan. Pisau itu kemudian ditanam dengan posisi bagian tajam menonjol ke atas. Para pemburu sengaja menanam pisau tersebut di tempat serigala biasa berkumpul.

Sang serigala polos akan membaui darah dan secara naluriah mendekati pisau berlumur darah kering tersebut. Tentu saja lidah sang serigala akan berdarah ketika menjilati darah kering di permukaan pisau tersebut. Tetapi karena udara yang dingin, sang serigala tidak menyadari lidahnya telah terluka. Dia tidak merasa kesakitan. Yang dia tahu adalah semakin banyak darah yang bisa dia nikmati, padahal itu darahnya sendiri. Kamu bisa menebak, nak, bagaimana nasib serigala itu selanjutnya. Di suatu titik, sang serigala mati lemas dan sang Pemburu tinggal melenggang mengambil buruannya yang sudah tidak berdaya lagi.

Mungkin nak, ini bisa menjadi analogi untuk manusia yang secara naluriah senang mengumpulkan materi, membelanjakan keinginannya. Lalu keinginannya bertambah, dikejar lagi. Keinginannya bertambah lagi, dikejar terus. Tidak ada batasan sampai kapan kepuasan manusia terpenuhi.

Sejak lama kita dinasihati dengan dalil, bahwa manusia tidak akan puas dengan apa yang dia miliki. Ketika dia punya emas sebanyak satu gunung, maka dia akan mencari emas di gunung ketiga. Brickman dan Campbell menyebut fenomena ini dengan istilah “Hedonic Treadmill”.

Pesan ayah nak, kita sudah dibekali pengetahuan tentang sifat dasar manusia ini sejak lama, dan sekaligus sudah diberikan obatnya: Zuhud. Zuhud adalah sifat hidup dengan sederhana, tidak berlebihan. Orang yang menjalankan sifat Zuhud disebut Muzhid (masuk dalam jenis kata Isim Fa’il).

Dengan terbiasa hidup sederhana, keinginan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, lebih besar, lebih banyak, itu dapat lebih dikendalikan. Kamu tidak bisa menghilangkannya nak, tapi kamu bisa mengendalikannya.

Ingatlah beberapa pesan Nabi dalam Shahih Muslim. Muslim sengaja membuat kitab khusus berjudul “Zuhud dan Kelembutan Hati”. Hadits pertama yang dipaparkan Muslim berbunyi: Dunia adalah penjara bagi orang Iman dan surga bagi orang kafir (Muslim: 5256). Karena untuk menjadi orang Iman, banyak hal yang menjadi larangan dan banyak perintah yang harus dilaksanakan.

Perhatikan apa yang Nabi Muhammad doakan untuk keluarganya,nak: Allahummaj’al rizqo aali muhammadin quutan. Artinya: Ya Allah, berilah rezeki untuk keluarga Muhammad sekadarnya saja (Muslim: 5272). Ini beda sekali dengan doa kebanyakan orang di sekitar kita pada zaman kita sekarang. Dalam riwayat yang lain, diceritakan bahwa orang-orang fakir akan masuk surga lebih dahulu, baru empat puluh tahun kemudian menyusul orang-orang kaya masuk ke dalam surga. Empat puluh tahun! (Muslim 5291).

Tentu Aira juga sering mendengar hadits yang menceritakan ketika di pagi hari Nabi Muhammad menanyakan kepada isterinya, apakah ada makanan? Lantas isterinya menjawab tidak. Lalu Nabi Muhammad berpuasa di hari itu. Kelaparan adalah suatu hal yang biasa dialami Nabi Muhammad. Sampai-sampai Nabi Muhammad mengikat batu di perutnya untuk mengurangi rasa lapar. Kamu tahu nak, sejak Nabi Muhammad tinggal di Madinah sampai beliau wafat, Nabi Muhammad tidak pernah kenyang memakan roti gandum selama tiga hari berturut-turut (Muslim: 5274). Kala itu, roti gandum adalah makanan yang istimewa, yang seharusnya menjadi makanan sehari-hari bagi pemimpin sebuah kaum.

Nabi Muhammad pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang Aku takutkan pada kalian, tapi Aku takut dunia dibentangkan untuk kalian seperti halnya dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mencari harta dunia sebagaimana dilakukan orang-orang sebelum kalian, lalu ia membinasakan kalian seperti halnya mereka.”

Dengan menyimak apa yang Nabi Muhammad ucapkan, doakan, dan lakukan, Aira akan sangat kaget ketika menjalani hidup di zaman sekarang. Aira akan merasa hidup di dalam novel fiksi, bahkan lebih fiksi dari novel fiksi. Bagaimana saat ini manusia berlomba-lomba mencari harta dunia. Bagaimana teman-teman kantor Aira nantinya begitu update dengan gadget-gadget terbaru dan bagi yang memilikinya akan mendapat perhatian dari sekelilingnya. Bagaimana kita menjadi begitu konsumtif. Bagaimana barang-barang sekunder sepuluh tahun lalu menjadi barang primer saat ini. Dan barang sekunder saat ini akan menjadi barang primer 10 tahun lagi. Bagaimana bidang media menjadi bisnis yang begitu menggiurkan dan menjadi top 5, lalu ratusan iklan terpapar ke setiap pribadi setiap harinya.

Jadilah se-muzhid mungkin nak, sebanyak apapun rezeki yang Allah berikan padamu kelak. Jangan sampai menjadi serigala yang tertipu dan mati karena kebodohannya sendiri.

Ilmu Baru: Mandikan Mayat

Pare (Kediri), 2011

Setelah sholat Dzuhur tadi ada kabar, di rumah sebelah kosan yang saya tempati, ada yang meninggal. Mantan Kapolres. Sudah sepuh, sekitar 70-an. Kami anak-anak kos datang melayat sebentar. Rencananya itu memang sebentar, qii. Bener deh.

Kami datang. Di sana sepi. Cuma ada sekitar dua puluh bangku Napoly, tapi cuma terisi empat bangku, ya kami anak kos ini. Selebihnya wara-wiri, ada yang nyari sabun, ada yang ngeliatin orang nyari sabun, ada yang pegang kain, ada yang ngeliatin orang pegang kain.

Terus datang satu mobil polisi. Mereka turun bawa rangkaian bunga, terus ngurus sound system, kelihatannya mau ada semacam upacara kecil. Beberapa polisi langsung jaga lalu lintas di depan rumah, biar gak macet. Puluhan ibu-ibu datang bawa makanan, terus langsung ke dapur. Kalau bukan mantan Kapolres, apa bakal ada polisi yang bantuin, qii? Apa bakal seramai ini?

Kami berempat kayaknya gak enak juga cuma duduk-duduk begini, padahal kami kan tetangga rumah!

Jadi kami ke belakang rumah si mayat. Saya baru tahu bahwa orang-orang yang biasa ngurusin mayat, sebutannya apa qii? Tim kematian, ya? Mereka lagi ikut pemilihan kepala desa. Nah, itu kenapa di rumah si mayat orang pada kalang kabut.

Beberapa orang lagi sibuk, gak tahu sibuk apa, qii, pokoknya sibuk. Kami langsung diminta tolong, “Nanti pas mayat datang, kalian yang mangku jenazah buat dimandikan ya, mas…” Satu orang kawan saya langsung kabur, qii. Jadi kami tinggal bertiga.

Kami bertiga gak ngomong beberapa saat. Shock! Tapi salah seorang kawan saya ada yang langsung “ngetek”: mas Iqbal kepala ya, mas Dhon pinggul, saya kaki. Kaki itu paling aman, qii. Saya sudah terlanjur pasrah, he eh aja lah.

Mayat datang. Betul, saya mangku kepala, qii. Ini pertama kalinya saya megang mayat, qii, jadi kamu bisa bayangkan perasaan saya, kan! Saya kepikiran, gimana kalau mayat bangun, terus kuping saya digigit, qii? Walaupun mayatnya sudah sepuh dan kelihatannya gak punya gigi, tapi digigit tanpa gigi itu tetep gak asik juga, qii.

Posisi paling mengerikan itu ya posisi saya, qii. Kalau dokter salah diagnosa, ternyata mayat belum meninggal, saya yang paling gampang ditangkap sama si mantan mayat, qii. Yang lain gampang saja kabur.

Mayat mulai disiram pakai air, dikasih sabun di sekujur tubuh, shampo di kepala. Yang mandiin ada sendiri, qii. Kami bertiga pokoknya mangku mayat saja. Mereka (tim mandiin) minta mayat dibalik ke kiri, jadi bagian kanan mayat yang dibersihkan dulu. Mulut mayat itu nempel sama perut saya, qii. Saya makin takut digigit. Walaupun gak mungkin, tapi ya begitu perasaan saya. Mungkin karena waktu kecil dulu sering dicekokin film Suzana kali ya?

Tubuh mayat ini udah kaku, qii. Padahal baru meninggal jam 10 tadi, baru 3 jam yang lalu. Walau dimiringin begini, tetap saja kepalanya tegak, gak jatuh lunglai begitu. Tapi bapak-bapak di sana tetap nyuruh paha saya nempel dengan kepalanya. Biar si mayat gak cape kali ya?

Tangan mayat posisi sedekap sholat. Itu gak bisa digerakin sama sekali, qii. Kaku banget. Lurusin jari saja, biar bisa dibersihin kuku-kukunya, itu gak bisa. Sebegitu cepatnya ya proses pembusukan, qii…

Tubuh kemudian dibalikkan ke kanan. Bagian kiri dibersihkan. Penjabaran “dibersihkan” di sini itu bukan cuma dibasuh gitu aja, tapi digosok-gosok, ya semua bagian, termasuk yang bau-bau itu.

Shodiqii, kamu tahu gak apa yang saya ingkari dari proses ini? Yaitu, mereka yang mandiin gak beraturan mensucikan mayatnya. Kalau di kitab-kitab Jana’iz kan dibilang mandiinnya 3 kali atau lebih, tapi hitungan ganjil. Nah, yang ini tuh enggak ada hitungannya, jadi asal mandiin gitu aja. Bodohnya, saya baru ingat itu setelah mandiin, jadi gak bisa ngingetin si tim mandiin. Yah, buat pembelajaran lah, qii.

Eh qii, Jangan lupa, nanti kalau kamu mandiin mayat, setelah selesai, kamu segera mandi juga, mandi junub. Sunnahnya begitu qii.

Lumayan, hari ini saya dapat ilmu baru, qii: ilmu mandiin mayat… =)

Titik Rendah Musik

Waktu itu, kalau tidak salah, saya baru selesai kuliah dan ikut pesantren di Jawa Timur. Kami belajar banyak dalil tentang cara kita menjalani hidup, bahwa laki-laki tidak boleh memakai sutra dan emas, bahwa riba itu sungguh jelek, bahwa kita harus berbuat baik pada tetangga walau beda agama, bahwa tidak boleh membicarakan kejelekan orang lain, dan masih banyak lagi.

Tapi ada satu hadits yang membuat saya langsung merinding dan sepertinya keringat dingin. Tiba-tiba hawanya seperti menjadi panas. Hadits ini betul-betul menohok saya. Diriwayatkan dari Abu Daud (4927): Lagu menumbuhkan kemunafikan dalam hati. Deg! Kena banget.

Selama ini saya hidup dengan musik. Belajarpun sering pakai musik. Malah waktu sekolah dulu, saya pengikut setia Prambors Top 40 (lagu berbahasa inggris semua) yang list-nya berubah tiap minggu. Saya tahu semua lagu yang lagi hit. Saya selalu punya liriknya yang dulu saya cari di warnet (waktu itu bahkan saya belum punya email, satu-satunya tujuan ke warnet cuma untuk cari lirik). Teman-teman sering menjadikan saya referensi nyari lirik lagu baru. Saya marah pada Ayah yang memaksa saya mematikan kaset Betrayer, band punk lokal. Saya ikut pensi (pentas seni) dan maju paling depan, ikut moshing!

Sebegitunya sampai-sampai sepertinya saya tidak bisa hidup kalau tidak mendengarkan musik. Munculnya hadits di atas, begitu tajam buat saya. Saya deg-degan setelah hadits itu dibacakan.

Tanpa pikir panjang, setelah pengajian siang itu, saya buka laptop, klik kanan di folder musik, delete! Semua koleksi musik hilang dalam beberapa detik.

Iqbal hidup tanpa musik? Sepertinya tidak mungkin. Tapi saya coba. Setahun, dua tahun, sekarang sudah jalan tahun ketiga saya tanpa menikmati musik. Saya hanya dengar musik yang membuat profokatif positif dan saya sangat hati-hati dengan liriknya. Itupun sangat jarang, lima menit sehari belum tentu.

Fine-fine aja tuh. Tidak ada pegal linu karena tidak mendengarkan musik. Tidak ada kehilangan inspirasi dalam menulis (profesi saya penulis). Semua berjalan seperti biasa. Malah saya merasa lebih produktif karena tidak ada rebahan berjam-jam hanya untuk mendengarkan musik. Tidak ada seharian nongkrong di depan MTV.

Sesekali memang saya terpaksa dengar musik bebas, pas lagi naik angkot yang nyetel musik, pas lagi nonton film/video yang ada backsound musiknya, pas lagi mau bahas sesuatu (seperti membuat tulisan ini) atau yang semacam itulah. Tapi itu tidak banyak, dan tidak dinikmati. Entah kenapa saya tidak berhasrat lagi dengan musik. Saya sangat mensyukuri itu. Melepas musik tidak sesulit yang dibayangkan.

Beberapa waktu kemudian, saya menemukan beberapa dalil lagi yang kontra dengan adanya musik:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS Luqman 6-7)

Perut yang dipenuhi nanah busuk itu lebih baik daripada dipenuhi syair (Muslim 2257).

Belakangan ini saya semakin antipati dengan musik, setelah mengikuti pembahasan teori konspirasi lewat media, termasuk lewat musik. Mereka itu jahat sekali. Intinya mereka mau menyisipkan ideologi jelek mereka bahwa agama itu tidak perlu. Doktrin-doktrin negatif dimasukkan dalam lirik yang dikemas dengan instrumen yang nyaman sehingga orang menyanyikannya dengan nikmat tanpa peduli dengan liriknya. Saya coba buka beberapa:

N’sync. Lirik dalam salah satu lagunya: We don’t need all these prophecies (kami tidak butuh semua ramalan ini). Tellin’ us what’s a sign (memberitahukan kita tanda-tandanya: akhir zaman). Paranoia ain’t your way (ketakutan bukan cara menjalani hidupmu). So leave your doubt and your fears behind (jadi tinggalkan keraguan dan ketakutanmu di belakang). Don’t be afraid at all (jangan takut sama sekali). Cause up in outer space there’s no gravity to fall (kerena di luar angkasa tidak ada gravitasi yang bisa menjatuhkan). Pesannya: lupakanlah ramalan-ramalan yang cuma nakut-nakutin itu, selamat datang ke dunia tanpa konsekuensi.

Eminem. Dalam lagu Roll Model, liriknya: Follow me and do exactly what the song says (ikuti aku dan lakukan tepat apa yang dikatakan lagu ini). Smoke weed, take pills, drop outta school, kill people and drink (hisaplah ganja, minumlah narkoba, keluarlah dari sekolah, bunuhlah orang, dan mabuklah).

Spice girl. Liriknya: Make your own rules to live by (buatlah aturan sendiri untuk menjalani hidup). Come on do it! (ayo lakukan!).

John Lennon. Propaganda John Lennon dalam lagu berjudul Imagine: Imagine there’s no heaven (bayangkan kalau tidak ada surga). It’s easy if you try (itu mudah jika kamu mencobanya). No hell below us (tidak ada neraka di bawah kita). Above us only sky (di atas kita hanya langit)… No religion too (tidak ada agama juga).

Sebelum kematiannya, John, seperti yang dikutip The Playboy 1980, mengatakan: The whole Beatle idea was to do what you want, right? Do what thou wilst, as long as it doesn’t hurt somebody (semua ide tentang Beatles adalah untuk melakukan apa yang kamu inginkan, kan? Lakukan apa kehendakmu selama itu tidak melukai orang lain).

Kurt Cobain. Katanya, God is guy (gak sanggup nerjemahinnya!). (I will) get stoned and worship satan (aku akan mabuk dan menyembah setan).

Lady gaga. Ini yang lagi heboh belakangan. Gampang nyari lirik dia yang nyeleneh.

Anda salah kalau berpikir, itu kan hanya musik, kalau kita ikut nyanyiin gak mungkin ikut-ikut begitu.

Pernah dengar Professor Masaru Emoto dari Jepang yang meneliti perubahan bentuk molekul air ketika dibacakan kalimat positif dan negatif? Molekul akan berubah menjadi bagus ketika dibacakan kalimat positif, dan sebaliknya. Teori sepertinya juga bisa menjelaskan kenapa kita dilarang bego-bego-in anak kecil (mengatakan “bego lu!” atau semacamnya ke anak kecil), karena otak si kecil akan mengolahnya untuk menjadi seperti yang orang lain katakan. So watch out your mouth!

Satanis Rex Church mengatakan bahwa satanis menggunakan musik sebagai senjata propaganda. “Art… musik… writing….” katanya.

Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika tahun 1985 mengatakan, “Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.”

Eminem pernah mengakui bahwa banyak lirik lagunya yang dimaksudkan untuk menekan “tombol” pendengarnya. Di suatu malam, ada yang menelepon 911, namanya Michael Miller (29 tahun), dia mengaku baru saja menusuk putranya 11 x dan membunuh istri dan putrinya. Itu dia lakukan dalam keadaan kesurupan, sadar ketika semuanya telah berlumuran darah. Dia mengaku pada polisi bahwa sebelumnya dia menyanyikan lirik Eminem: Here come satan, I’m the antichrist (Dajjal), I’m going to kill you!

Etcetera… etcetera…

Just be careful with your choices!

Bukan Nafsi Nafsi

(Menanggapi Kontroversi Lady Gaga)

“Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.” (Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika, 1985).

Kemarin sore (19 Mei), TV One dan Metro TV menampilkan tayangan yang tidak berimbang. Mereka memperbincangkan lady gaga. TV One menampilkan seorang musisi besar, sementara Metro TV menghadirkan dua perwakilan promotor musik. Si musisi besar bilang, “Perkembangan musik kita terhambat karena hal-hal yang gak penting begini (penolakan lady gaga)….”

Semuanya pro dengan kehadiran si lady. Presenternya yang mencoba netral jadi keseret-seret ikut pro kedatangan lady gaga. Tidak ada satupun pihak yang kontra dengan kedatangan si lady, padahal judul beritanya “kontroversi Lady Gaga”.

Cerita lain tentang ketidakberimbangan media mainstream, beberapa hari sebelumnya, Indonesia Lawyer Club (TV One) membahas lady gaga. Di sini orang-orang yang hadir memang dari dua kubu: pro dan kontra. Beberapa petinggi FPI dan ulama dihadirkan. Karni Ilyas memberikan kesempatan yang sama banyak untuk kedua kubu bicara, tapi kesimpulan yang diberikan Karni Ilyas tidak berimbang. Dalam closing, Karni membawakan salah satu hadits Bukhori: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam.”

Dalam ilmu jurnalistik, pembuka dan penutup tulisan punya pengaruh besar. Pembuka tulisan berfungsi menangkap pembaca agar terus membaca sampai tulisan habis, sementara penutup tulisan akan menjadi semacam kesimpulan yang kita harapkan akan diterima pembaca. Teori ini juga berlaku dalam acara Karni. Secara tidak langsung, Karni mengatakan bahwa orang beriman itu memuliakan tamunya, termasuk lady gaga yang harus disambut dengan baik.

Karni salah konteks dalam hal ini. Betul bahwa tamu dan tetangga harus dimuliakan dan tidak boleh disakiti, tapi tamu dan tetangga yang bagaimana? Zaman Nabi dulu, muslim yang tidak ikut sholat subuh berjamaah saja dibakar rumahnya. Kira-kira bagaimana dengan tetangga yang lesbian, yang auratnya diumbar, yang menyiarkan lirik-lirik syirik?

Lalu si tetangga gak bener ini bilang, “Bos, gue mau nyanyi dan joget-joget di rumah lo dong. Gue emang lesbian dan di lirik gue emang pro lesbian, tapi gak apa2 lah, orang rumah lo gak akan banyak yang mikir ke situ. Yang mikir ke situ akan kalah dengan yang gak mikir ke situ. Mereka sudah terlanjur suka suara dan koreografi gue. Pas gue nyanyi ‘No matter gay, straight, or bi, Lesbian, transgendered life. I’m on the right track baby, I was born to survive’ mereka bakal ikut nyanyi, mungkin bakal teriak lebih kenceng dari gue, hahaha. Pokonya kemasannya bagus deh. Gue kan dapet grammy lima kali, masak gak bagus? Pas manggung, gue akan buka baju sedikit, kayak gak tau gue aja….”

Apa kita akan jawab begini: Ohya, silakan.. silakan masuk. Semua tamu bebas masuk sini, mau nyanyi apa aja bebas, yang liriknya gak bener juga kita terima, sambil pake baju minim pun oke. Yang penting kita bisa nyanyi dan joget bareng. Ini pasti laku! Gue jual tiketnya duluan deh, izin ke Pak Hansip belakangan.

Kalau iya, wah, berarti agama sudah kalah dengan paham liberal. Kalah juga dengan Cina dan Korsel yang berani nolak si lady.

Saya juga jengah dengan beberapa komentar pengalih:

“Ngapain ngurusin lady gaga, itu dangdutan di kampung-kampung sawerannya malah lebih ngeri lagi masukin duitnya lewat mana.”

“Kalau karena porno, lah itu di Youtube kurang porno apa coba? Ngapain ngelarang2 kita. Tutup aja dulu youtube!”

“Ah, udah deh, urus diri sendiri aja dulu, nafsi nafsi aja lah….”

“Gak usah ngurusin kita, urusin tuh koruptor….”

“Apa kalau masuk little monster (nama fans club si lady), bakal tiba-tiba jadi monster beneran? Lirik2 gak ber-Tuhan mah udah dari dulu, bukan cuma lady gaga, dulu ada john lennon dan madonna.”

Lah iya, makanya retsleting yang sudah terbuka kita coba tutup, bukan terus dibiarin kebuka. Kita coba batasi orang-orang yang nyanyi lirik gak ber-Tuhan. Ada yang namanya repetitive power, mengulang informasi yang sama, teruuuus, sampai orang menganggap itu benar, dan yang sebetulnya benar malah menjadi asing. Kita sudah termakan dengan cara macam ini.

TV tidak berhenti menampilkan adegan orang berpacaran, memberi banyak sekali informasi varian cara nembak cewe, doktrinasi malam minggu adalah malam pacaran, puluhan tahun, sampai cara ta’aruf menjadi asing dan seakan-akan Saturday night at home itu gak modern. Sangat penting disadari, bahwa ketika kita nonton TV, kita ada dalam keadaan “Alpha Brain Wave State”, semacam kondisi rileks yang membuat kemungkinan tersugesti lebih besar. Informasi yang salah, kalau diulang terus, bisa menjadi bernilai benar di dalam otak.

Nah, ini juga dilakukan para penyanyi itu. Mereka nyisipin lirik yang asik didengar dan dinyanyikan, padahal maknanya sangat rusak. Seperti john lennon: “Imagine there’s no heaven… no hell below us… No religion too…. Imagine all the people, Living life in peace.” Dia mencoba mengajak free our mind sebebas-bebasnya. Tanpa agama, surga, dan neraka, kita bakal lebih damai. Itu ideology john lennon yang dia coba ulang terus supaya sedikit-sedikit orang ngikutin cara pikir dia. Nanti penyanyi lain nambahin sedikit lagi, repetisi lagi. Lama-lama mereka bisa berhasil. (FYI, The Beattles, ketika di puncak kejayaannya pernah bilang: sekarang fans beatles lbh banyak daripada fans gereja. Pesannya jelas, dia mengajak untuk meninggalkan agama).

Ini yang dikuatirkan oleh Dr. Joe: “Para ahli berpendapat, ketika pikiran sadar menyerap dan memahami pesan-pesan yang terlihat dan terdengar, pikiran bawah sadar bekerja untuk menguraikan pesan-pesan tersembunyi.” (Dr. Joe Stussy, dalam pernyataannya pada kongres Amerika, 1985).

Tentang saweran, video porno youtube, dan koruptor, ya itu memang salah. Tapi apa kita harus membereskan itu semua dulu baru boleh melarang si lady datang? Lagian juga, banyak kok yang sudah mencoba merubah kebiasaan jelek saweran dsb itu tadi. Sambil itu diperbaiki, ini nih ada yang lebih perlu segera dicegah, si lady, makanya perhatian banyak fokus ke sini dulu.

Dalam islam, kita punya kewajiban untuk memperbaiki sesuatu yang salah. Langkah paling bagus adalah memperbaiki dengan tindakan. Kalau gak bisa, maka dengan perkataan. Kalau gak bisa juga, ya minimal hatinya ingkar lah. Saling mengingatkan itu wajib. Jadi gak ada ceritanya nafsi nafsi. Gak ada cerita, “Terserah lu deh, mau ngeganja sambil main cewe di sebelah rumah gue, terserah, yang penting gue sholat, gue baca Quran.” Harus ada pengingkaran, minimal dalam hati.

Mereka yang mencoba melarang datangnya lady gaga adalah mereka yang mencoba mempraktekkan perintah islam itu, sekaligus mereka yang peduli dengan saudaranya. Mereka melakukan pengingkaran tidak hanya dengan hati, tapi tindakan. While we’re talking, they do something!

Bahwa FPI terkadang melewati batas, itu iya. Tapi kadang-kadang saya suka juga melihat keberanian mereka menggerebek diskotek-diskotek liar. Diskotek yang gak resmi (atau resmi tapi melakukan aktifitas gak resmi), tapi bayar sini situ biar aman, polisi pun jadinya gak berani gerebek, tapi FPI berani. Kalau gak ada FPI, diskotek liar itu mungkin jalan terus. Namun memang perlu perbaikan. Kita semua perlu perbaikan. Tapi tidak harus selesai memperbaiki diri sendiri dulu baru boleh mencoba memperbaiki orang lain, kan?