Arsip untuk September, 2008

26
Sep
08

Debat Politik Atau Adu Ayam?

Semalam, seru sekali acara Debat Politik di TV One. Kali ini PNBK vs PPP. PNBK menuding-nuding PPP tidak bisa membuat produk undang-undang yang sesuai dengan pancasila. Memang di pemerintahan atau di kursi dewan tidak semuanya adalah kader PPP tapi kader PPP ikut dalam segala keputusan perundang-undangan. Menurut PNBK, produk undang-undang yang ada saat ini tidak baik, berarti orang-orang yang membuatnya tidak baik, termasuk PPP.

Lalu kader PPP membalikkan lagi pernyataan dari PNBK, jaminan apa yang bisa diberikan PNBK kalau akan menghasilkan produk hukum yang bagus? Tidak ada jawaban yang memuaskan di dalamnya.

Saya melihat perdebatan tersebut seru-seru saja. Itu egoisnya saya. Bagaimana membalikkan statement yang menjatuhkan dirinya, bagaimana menjawab dengan tidak menyentuh jawaban yang diinginkan, bagaimana berlagak tidak ada masalah apa-apa ketika sisi kelam pribadinya diangkat, semua cara itu bisa menjadi pelajaran yang mungkin juga bisa diikuti.

Tapi, menurut saya ada sisi buruk dari acara ini. Parpol yang satu seperti dibuat bermusuhan dengan parpol lainnya. Saya memang kurang mengerti apa itu demokrasi, apa seperti ini cara berdemokrasi? Kalau iya, berarti citra baik demokrasi di mata saya agak sedikit tercoreng.

24
Sep
08

Pengemis Memang Salah

Pengemis salah kalau dilihat dari segi tatanan masyarakat

Kalau kita melihat dari sisi egoisitas diri kita sendiri, memang pengemis meningkat berimplikasi pada semakin besarnya ladang untuk beramal. Kalau dalam ilmu ekonomi, mungkin ini yang disebut ekonomi mikro, tapi bagaimana dengan bagian besarnya? Ekonomi makronya? Atau efek kepada tatanan masyarakatnya?

Meningkatnya kaum urban tidak dapat dipungkiri lagi akan meningkatkan tingkat kriminalitas. Pengemis temasuk kaum urban yang saya maksud. Jadi, meningkatnya pengemis meningkatkan pula tingkat kriminalitas.

Masih ingat tentang Perda Jakarta yang melarang mengemis dan melarang memberikan uang atau barang kepada pengemis? Kalau melanggar, 20 juta bisa melayang. Kalau tidak salah, itu perda yang dikeluarkan akhir 2007 lalu. Tujuannya untuk mengurangi kriminalitas.

Bahkan, pedagang asonganpun yang menurut saya tidak lebih berbahaya daripada pengemis dianggap pemerintah dapat meningkatkan angka kriminalitas. Baru sore tadi, ada larangan pedagang asongan untuk masuk ke stasiun Jatinegara. “Tujuannya untuk menekan angka kriminalitas,” tegas Kepala Stasiun Jatinegara Ahmad Fauzi, Rabu (24/9/2008).

Beramal tidak harus lewat pengemis, bukan? Banyak lembaga amal yang siap menampung. Uangnya tentu lari ke tempat yang semestinya.

24
Sep
08

Indonesia Tidak Sejelek Itu

bangkit Indonesiaku!

Di satu waktu, saya diberi kesempatan untuk meliput sebuah perusahaan yang bergerak di bidang propagasi tanaman secara vegetatif, tepatnya kultur jaringan. Nama perusahaan itu Monfori Flora. Saya berbincang dengan manajer marketingnya untuk mengorek segala macam hal tentang monfori, ya aspek bisnisnya, ilmu pengetahuannya, sampai ke segi social perusahaannya.

Setelah selesai wawancara, saya merasa kita (Indonesia) tidak seburuk yang kita bayangkan. Mungkin, karena insting jurnalis Indo yang menempatkan control social sebagai tameng terdepan maka kritikan lebih sering menghujam daripada pujian. Tidak ada yang salah dengan itu karena selama ini saya lihat kritikan yang memang kesalahan, tidak dibuat-buat. Tapi mungkin karena dengan seringnya muncul kritikan tersebut, masyarakat merasa Indo selalu dalam posisi yang buruk, padahal tidak juga.

Dibuktikan salah satunya dari Monfori ini. Kebetulan, saya pernah praktek tentang kultur jaringan di sebuah lab berskala nasional selama dua bulan. Jadi, sedikit banyak saya sudah paham dengan kultur jaringan. Monfori ini melakukan kultur jaringan dalam skala industry, bukan skala lab seperti yang saya lakukan. Tapi tentunya metode-metode dasar akan sama: mengedepankan sterilitas.

Namun, alat-alat dan mekanisme perusahaan Monfori sangat jauh di luar bayangan saya. Di lab, tingkat keberhasilan kultur jaringan sampai tahap aklimatisasi (tahap dimana membiasakan tanaman ke lingkungan yang sesungguhnya, yaitu tanah, setelah hidup di dunia yang serba steril) mungkin kurang dari 10% tapi di Monfori bisa lebih dari 90%. Mungkin Anda berpikir itu ditunjang dari SDM yang memadai. Tidak! Monfori hanya mempunyai dua orang ahli kultur jaringan, selebihnya hanya lulusan SMA yang diajari keterampilan bekerja di laminar air flow (ruang kerja yang mendukung kesterilan). Hanya dua orang!!! Dan keduanya adalah orang Indonesia.

Alat? Ya, mungkin. Autoklaf (alat untuk mensterilkan alat/bahan dengan suhu dan tekanan tinggi) yang Monfori gunakan besarnya puluhan kali lipat lebih besar daripada yang saya gunakan di lab, badak pun bisa masuk di dalamnya. Kemudian flow keluar masuknya orang betul-betul dijaga, ada pakaian khusus yang digunakan untuk masuk ke area propagasi. Laminar yang dipakai sama seperti yang banyak ada di lab, bedanya, Monfori punya puluhan. Ruang penyimpanannya biasa saja, hanya ada air flow khusus yang digunakan untuk membunuh jamur dan bakteri.

Factor yang menurut saya paling berpengaruh dari keberhasilan Monfori ini adalah keberanian negosiasi. Perusahaan ini bisa menjual Indonesia (hasil kuljar Indonesia) lebih tinggi dari harga biasanya dengan barrier yang lebih banyak juga. Istilah saya, jual mahal. Menurut manajer marketing Monfori, orang luar itu selalu menggencet pedagang Indo sesuai keinginan mereka. Itu yang selalu dijaga Monfori dengan selalu membuat barang dagangannya kualitas yahut. Walaupun banyak pemain internasional yang lebih besar, tapi Monfori masih masuk daftar yang paling dicari oleh breeder dunia.

Prestasi seperti Monfori sangat di luar dugaan saya. Indonesia yang selama ini dianggap Negara berkembang, teknologi rendahan, ternyata bisa menjadi pemain terdepan dunia dalam teknologi perkembangan vegetative.

12
Sep
08

Sarjana yang Turun Lapang

sosok usnadi inilah sarjana sebenarnya

sosok usnadi inilah sarjana sebenarnya

Selama ini, saya pikir cerita2 di salah satu bukunya Helvi Tiana Rosa (lupa judulnya) yang mengangkat penggalan2 kisah orang baik itu tidak akan bisa saya temui langsung. Tapi ternyata salah, beberapa hari yang lalu, secara tidak sengaja saya bertemu dengan Usnadi, salah satu petani yang tinggal di daerah Cibatok, Bogor. Kami ngobrol tentang padi yang dipakai daerah itu, penduduk2nya, sampai membicarakan HKTI segala. Tidak lama kami mengobrol, datang Sekdes yang ikutan nimbrung ngobrol dengan kami. Dari sang Sekdes itu baru saya tahu bahwa ternyata Usnadi ini lulusan Sosek Unpad. Kaget betul saya waktu itu. Kok mau2nya sarjana nyawah.

Saya semakin tertarik dengan sosok satu ini. Saya ajak ngobrol lebih mendalam tentang kehidupan dia. Usnadi pernah kerja di Bank dan beberapa perusahaan sebelumnya. Tapi akhirnya dia mengambil jalan untuk kembali ke daerahnya (Cibatok). Dia betul2 bertani layaknya buruh tani pada umumnya. Dari cara bicaranya, memang tidak perlu diragukan kalau dia adalah seorang sarjana. Pengetahuan politiknya cukup mendalam. Dia tahu banyak hal. Tapi dia tetap memilih menjadi petani. Satu pernyataan yang masih membuat saya tergugah sampai sekarang: Kalau bukan saya, siapa lagi yang membimbing petani desa ini?

Saat ini, Usnadi diangkat menjadi ketua kelompok tani di desa itu. Baru tiga tahun tinggal di Cibatok, tapi hampir semua orang di desa itu mengenalnya. Semua hormat dengan Usnadi. Begitu cerita dari salah satu penduduk.

Kalau dilihat dari kemampuannya, dia bisa saja mendapatkan kesejahteraan (materi) lebih baik lagi daripada sekarang. Tapi, siapa yang akan membimbing petani di tingkat bawah? Siapa yang membahasakan pelatihan dengan bahasa petani? Siapa yang memperkenalkan bibit2 unggul pada petani? Dan siapa yang meyakinkan petani bahwa perubahan itu perlu?

Di tingkat akademisi, kegiatan turun lapang memang sudah rutin dilakukan. Tapi hanya dua bulan, tidak permanen seperti yang Usnadi lakukan. Bukan berarti saya menyalahkan akademisi. Itu memang pilihan, tidak ada yang salah ketika kita memilih mencari kemerdekaan financial.

Usnadi memang sosok yang sangat pantas untuk saya kagumi. Cara berpikirnya berbeda dengan kebanyakan orang, Radikal!




September 2008
S S R K J S M
« Jun   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930