Archive for the 'jalan-jalan' Category

15
Mei
16

Pasar Burung Pramuka, Kicaunya Terdengar se-Asia

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Agro Observer tahun 2010

Pasar Burung Pramuka. Dok: www.omkicau.com

Pasar Burung Pramuka. Dok: http://www.omkicau.com

”Kata orang-orang sih begitu, pasar burung ini yang terbesar se-Asia, sayangnya saya tidak mempunyai data untuk mendukungnya. Tapi saya sering melihat bule datang ke pasar ini, mungkin itu bisa dijadikan bukti kalau pasar ini besar,” kata Sabandri Tanjung, Supervisor Pasar Burung Pramuka, sambil tersenyum.

Dari kejauhan sudah terdengar suara berbagai jenis burung saling bersahutan dari dalam pasar. Sudah tidak jelas lagi burung jenis apa yang sedang berkicau. Bagaimana tidak, puluhan ribu burung saling berebut untuk didengar suaranya.

Sudah lama sekali Pasar Burung Pramuka ini berkicau di jalan Pramuka Raya, Jakarta, tepatnya sejak tahun 1974. Unik sekali memang barang dagangan yang dijajakan di pasar ini, hanya fokus pada burung-burung hias saja. Memang, ada sedikit pedagang yang menjual ayam, tapi bukan ayam pedaging atau petelur, melainkan ayam jago, ayam kate, dan ayam hias.

Pasar ini buka setiap hari dengan puncak keramaian pada hari Sabtu dan Minggu. Pedagang datang pagi-pagi betul untuk memberikan makan burung-burung dagangannya, selain itu pedagang juga menyemprot beberapa burung. Begitu juga pada siang dan sore harinya. Setelah selesai merawat burungnya, barulah kios siap untuk dijadikan tempat transaksi. Biasanya dimulai pukul 8 pagi dan berakhir pukul 4 sore.

Pasar burung ini sempat mati suri ketika flu burung merebak di mana-mana. Orang-orang takut memegang burung, apalagi datang ke pasar burung. Tapi sekarang keadaannya sudah membaik.

Murai jadi Primadona

”Semua jenis burung ada di sini kecuali burung yang dilindungi,” kata Tanjung. Namun, dari semua jenis burung, saat ini, murai yang paling dicari. Rifai, seorang pedagang di Pasar Burung Pramuka, mengaku bahwa stok burung murainya cepat sekali habis. Rifai menjual murai yang berasal dari hasil tangkapan di hutan Kalimantan. ”Sekali datang, supplyer saya mengirim 100-150 ekor murai. Semua ludes terjual dalam waktu kurang dari satu minggu,” aku Rifai. Ia menjual murai dengan harga Rp125.000,- per ekor untuk sesama pedagang. Dari penjualan murai saja, Rifai dapat meraup omzet sampai 50 juta setiap bulannya. Wajar saja kalau ia betah berjualan di Pasar Burung Pramuka sampai dua puluh tahun.

”Namun, menjual burung tidak semudah yang dibayangkan. Kalau masih belum tahu cara merawat burung dengan baik, akan semakin banyak burung yang mati sebelum terjual. Saya saja bisa mendapatkan 10% burung mati, apalagi penjual-penjual baru yang masih belum mengerti betul. Bisa-bisa, bukannya untung malah buntung,” ungkap Rifai. Burung-burung yang mati tersebut kebanyakan karena beberapa burung ditempatkan dalam satu kandang sehingga sering terjadi perkelahian antarburung. ”Tidak muat kalau setiap burung saya taruh dalam satu kandang,” kata Rifai.

Selain murai, Rifai juga menjual burung kecer, kenari, branjangan, dan pentet. Burung kecer Rifai jual dengan harga Rp200.000,-. Itu dengan kondisi burung yang sudah dapat berkicau dengan baik. Kalau yang baru ditangkap dari hutan dijual dengan harga Rp50.000,-. Untuk burung Kenari dan Branjangan dijual dengan kondisi yang sudah bagus kicauannya, masing-masing dengan harga Rp150.000,- dan Rp40.000,-. Sedangkan untuk burung Pentet dijual dengan harga Rp20.000,- untuk yang baru ditangkap dan naik menjadi Rp75.000,- untuk yang sudah bagus kicauannya.

289 Kios

Ada dua gedung di Pasar Burung Pramuka, gedung baru dan lama. Tidak ada yang berbeda dari keduanya kecuali umur bangunannya. Total kios dari kedua gedung ini adalah 289 buah kios. Namun, pedagang di pasar ini hanya berjumlah 154 orang. Ini karena sebagian pedagang tidak hanya menggunakan satu kios. ”Banyak juga pedagang yang menggunakan 4-5 kios karena barang yang dijajakan tidak akan muat kalau dipaksakan masuk ke satu kios saja,” tutur Tanjung. Uniknya, pedagang di Pasar Burung Pramuka didominasi oleh orang-orang asal Jepara, Jawa Tengah. Mungkin memang orang-orang Jepara sudah dididik untuk cinta akan burung hias. Mereka sudah bertempat tinggal tetap di daerah pramuka. ”Satu orang pedagang tidak akan mampu mengurus ratusan burung, maka mereka biasanya mengajak saudara-saudara mereka dari kampung untuk ikut membantu berjualan,” kata Tanjung. Mungkin dari situ awalnya sehingga banyak orang Jepara yang mengadu nasib di pasar burung ini.

Pembelinyapun sangat beragam, tidak peduli dari strata sosial mana. Yang jelas mereka sama-sama penggemar burung. Sebagian besar didominasi oleh laki-laki. Ada saja tingkah dari pecinta-pecinta burung ini. ”Mereka bisa tahan sampai berjam-jam hanya untuk mengamati aktivitas satu burung. Setelah cocok, baru dibelinya burung itu,” ungkap Tanjung sambil terkekeh. Tidak hanya diminati oleh orang-orang Indonesia saja,  bule juga sering berseliweran di pasar ini, biasanya mereka hanya sekedar mengamati jenis burung apa saja yang ada di pasar ini.

Dikelola Pemda DKI

Pasar Burung Pramuka berada di bawah naungan Pemda DKI Jakarta. Pasar ini dijadikan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Setiap kios berukuran 6m2 dikenakan Biaya Pemeliharaan Pasar (BPP) sebesar Rp6.000,- per hari. Pengelola bertugas membersihkan pasar setiap harinya. Setiap malam, ada petugas yang menjaga keamanan pasar. ”Semua burung dimasukkan ke dalam kios, kios dikunci oleh pedagang, selanjutnya kami jamin pasar aman dari maling,” kata Tanjung.

Untuk ke depannya, ada kemungkinan pasar ini akan dijadikan obyek wisata. Pengelola yakin pasar ini menarik karena keunikannya yang hanya menjual burung hias. ”Mungkin nanti pasar akan kami renovasi atau bahkan kami pindahkan ke tempat lain. Di tempat yang baru itu akan dimasukkan konsep wisata dalam tata letaknya,” kata Tanjung.

20
Sep
15

Singapura – Kuala Lumpur 6 Hari Bersama Bayi; Day 6/6

Perjalanan saya, istri, dan anak umur 1,5 Tahun selama travelling di Singapura dan Kuala Lumpur pada September 2015

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Hari Kedua – Singapore Botanical Garden, Orchard Road, Bugis Street, Harbour Front

Hari Ketiga – Sentosa Island, Johor Baru Sentral

Hari Keempat – Kuala Lumpur Sentral, Batu Caves, Muzium Negara, Dataran Merdeka, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Kelima – KLCC, Little India, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Keenam – KLIA, Soekarno Hatta Airport

Pukul 3 pagi sudah siap-siap. Tepat pukul 4 kami sudah berangkat ke KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Sampai Airport pukul 5.15. Cukup banyak saya ngobrol dengan sang supir. Taksi di Kuala Lumpur semuanya harus menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG) yang bisa diisi di banyak pom Petronas. Harga BBG ini murah banget. Biasanya sehari narik, supir taksi hanya perlu RM20 untuk mengisi gas. Padahal dari argo antar saya ke bandara saja sudah hampir RM100.

Supir taksi ada dua jenis. Pertama, supir yang ada di bawah perusahaan taksi. Mereka mendapat pinjaman taksi dan harus menyetor sejumlah tertentu setiap harinya. Kedua adalah supir yang sudah memiliki mobilnya sendiri. Nah, ini yang untungnya besar banget. Karena setorannya hanya berupa pajak saja yang jumlahnya tidak banyak.

Taksi yang saya naiki adalah taksi pribadi. Jadi, kalau modal gas sampai bandara RM10, sementara argonya RM100, pagi itu dia bisa bawa RM90 masuk kantongnya, atau sekitar Rp315 ribu.

Kata supirnya, Lion Air di KLIA 2, terminal baru. Saya sudah sampai KLIA 2, tanya baik-baik dengan petugas di Information Center. Katanya Lion Air di KLIA, bukan KLIA 2. “Silakan naik train nanti baru mulai jam 6,” kata petugas.

“Pesawat saya 7.40, kalau baru jam 6 nanti bisa telat check in. Apa bisa naik taksi atau pilihan yang lain?” tanya saya.

“Salah sendiri kenapa ke KLIA 2,” jawabnya ketus.

Wah, jawabannya sudah tidak enak. Saya ambil opsi lain saja lah. Saya telepon supir taksi yang tadi dan minta dia jemput kembali di KLIA 2 dan antar ke KLIA. Alhamdulillah tidak lama kemudian dijemput lagi. Argo tidak dinyalakan dan saya tidak diminta bayaran tambahan.

Proses imigrasi tidak lama. Pesawat boarding sekitar pukul 7.00. Saya sempat beli burger 2 buah di Dunkin Donuts, seharga RM12. Kembali ke Jakarta…

20
Sep
15

Singapura – Kuala Lumpur 6 Hari Bersama Bayi; Day 5/6

Perjalanan saya, istri, dan anak umur 1,5 Tahun selama travelling di Singapura dan Kuala Lumpur pada September 2015

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Hari Kedua – Singapore Botanical Garden, Orchard Road, Bugis Street, Harbour Front

Hari Ketiga – Sentosa Island, Johor Baru Sentral

Hari Keempat – Kuala Lumpur Sentral, Batu Caves, Muzium Negara, Dataran Merdeka, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Keenam – KLIA, Soekarno Hatta Airport

Hari Kelima – KLCC, Little India, Pasar Seni, Petaling Street

Petronas Tower

Petronas Tower

Baru menjelang siang saya sampai di stasiun KLCC. Di sini target utamanya hanya foto-foto dengan Background Petronas Tower atau Twin Tower. Petronas Tower sejatinya adalah gedung perkantoran biasa, hanya saja, karena tinggi banget dan punya kembaran, jadinya terkenal deh.

Kami jalan kaki ke KL Tower dari Petronas Tower. KL Tower adalah menara telekomunikasi yang menjulang tinggi 421 meter. Badningkan dengan Monas yang tingginya 132 meter saja. Kita bisa naik sampai puncak KL Tower, tapi ada tiketnya.

Bas Go KL lewat dekat KL Tower. Kami naik sampai Little India atau orang lokal lebih familiar dengan “Masjid India”. Memang betul, wajah-wajahnya India banget. Di sini kebanyakan jual kain dan kurang banyak pilihan untuk oleh-oleh. Masjidnya seperti masjid biasa saja.

Dari Little India, kami lanjut jalan kaki ke Pasar Seni lagi. Sebetulnya semalam sudah dari Pasar Seni, tapi rasanya masih kurang untuk beli oleh-oleh. Makannya di Restoran Yusoof & Zakir. Memang recommended ini tempat makan India.

Roti Pratha Onion

Roti Pratha Onion

Kemarin juga kami makan di sini. Isinya makanan India yang banyak sekali variannya. Harganya terbilang murah. Roti canai butter hanya RM2,5. Curry Chicken RM4. Teh tarik panas RM1,5. Kalau mau pesan air hangat, pesannya “air suam” yang harganya RM0,2. Jangan seperti saya, yang sok tahu pesan “Ais Kosong” eh keluarnya air dingin pakai es yang harganya RM0,3. Kami makan dan minum sampai puas habisnya RM13.

Setelah Pasar Seni, Petaling Street, pulang ke Wangsa Maju lagi. Tadinya mau coba naik bas dari Wangsa Maju ke Taman Melawati. Nomor bas-nya itu U20. Di papan tertulis 20 menit lagi. Tapi sudah ditunggu 30 menit, tulisannya di papan masih 16 menit lagi. Wah, sudah tidak betul ini. Jadi saya naik taksi lagi, RM8.

List menu di Restoran Yusoof dan Zakir

List menu di Restoran Yusoof dan Zakir

MRT penuh dengan pekerja pada jam pulang

MRT penuh dengan pekerja pada jam pulang

Siap-siap packing supaya besok tinggal angkut barang. Saya sudah pesan taksi untuk dijemput pukul 4 pagi (sama dengan pukul 3 pagi di Jakarta). Ohya, taksi di sini ditulis “Teksi”. Sebagian taksi bertuliskan nama supir di pintu depan, jadi kita bisa tahu siapa nama supirnya hanya dengan melihat dari luar.

20
Sep
15

Singapura – Kuala Lumpur 6 Hari Bersama Bayi; Day 4/6

Perjalanan saya, istri, dan anak umur 1,5 Tahun selama travelling di Singapura dan Kuala Lumpur pada September 2015

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Hari Kedua – Singapore Botanical Garden, Orchard Road, Bugis Street, Harbour Front

Hari Ketiga – Sentosa Island, Johor Baru Sentral

Hari Kelima – KLCC, Little India, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Keenam – KLIA, Soekarno Hatta Airport

Hari Keempat – Kuala Lumpur Sentral, Batu Caves, Muzium Negara, Dataran Merdeka, Pasar Seni, Petaling Street

Kereta Senandung Sutera yang saya naiki dari Johor Baru tadi malam, sudah sampai ke Kuala Lumpur tepat pukul 7 pagi, sesuai schedule. Saya dan isteri merasa segar karena bisa tidur nyenyak di kereta. Kami langsung ke KFC untuk sarapan. Dua paket sarapan dengan kopi harganya RM15.

Anak istri ganti baju dan popok di nursery room (Bahasa Malaysianya: Bilik Persalinan Bayi). Kalau saya mah, tidak perlu mandi J. Saya jaga di luar sambil cari-cari info. Rupanya ada City Tour dengan bas bertuliskan Hop In Hop Off seharga RM45 atau sekitar Rp160.000/orang. Dengan City Tour itu sudah berhenti ke 23 tempat dan hampir semua tempat wisata terkunjungi. Tapi jadinya kurang bebas untuk jalan-jalan. Saya memilih jalan sendiri saja.

Transportasi kereta di KL hampir sama baiknya dengan di Singapura, tetapi dengan harga yang jauh lebih murah. Sebagai pembanding, perjalanan dari KL Sentral ke Batu Caves sekitar 30 menit tarifnya RM2 atau Rp7.000. Kalau di Singapore bisa Rp25.000. Meski begitu, KRL Indonesia tetap paling murah, cuma Rp5.000 sudah perjalanan satu jam sampai Bogor J

Loker sewaan di Kuala Lumpur Sentral

Loker sewaan di Kuala Lumpur Sentral

Kami sewa loker di KL Sentral untuk taruh tas carrier dan tas oleh-oleh. Bagus juga ada penyewaan loker begini, jadi kita bisa taruh barang-barang, terus lanjut jalan-jalan lagi. Tidak perlu ke penginapan dulu. Tarif sewa loker bervariasi tergantung besarnya loker, variannya adalah RM10, RM15, dan RM20. Saya sewa yang RM15. Tarif ini adalah tarif per hari atau per buka kunci.

Ohya, di KL Sentral juga ada tempat mandi yang beroperasi dari pukul 6 pagi sampai 9 malam. Tarifnya RM5 untuk dewasa dan RM2 untuk anak-anak. Keren banget deh ini KL Sentral.

Destinasi pertama kami adalah Batu Caves. Kami naik satu kali kereta sekitar setengah jam. Dari stasiun Batu Caves ke tempat wisatanya hanya berjalan kaki 5 menit.

Batu Caves itu sesuai namanya, goa yang terbuat dari batu. Di sana juga menjadi tempat ibadahnya umat Hindu. Jadi banyak sekali orang India di sini. Tempat makannya juga hampir semua masakan India. Tempat wisata ini gratisan. Biasanya wisatawan banyak bermain dengan burung dara jinak yang mengerubungi makanan di halaman Batu Caves, atau menggoda kera-kera liar yang wara wiri. Anak saya sempat menggoda kera liar dan balik digoda (dicolek sedikit) lalu dia langsung nangis.

Halaman Batu Caves

Halaman Batu Caves

Untuk mencapai puncak Batu Caves, kita harus menaiki ratusan anak tangga. Sepanjang anak tangga itu banyak kera liar di kanan kiri. Hati-hati saja kalau bawa makanan. Saya gendong backpack dan menenteng stroller yang sudah dilipat. Istri saya gendong anak. Atau sebaliknya. Sebentar-sebentar kami istirahat.

Batu Caves penuh dengan kerumunan burung dara

Batu Caves penuh dengan kerumunan burung dara

Sampai di puncak, ada lagi sekawanan burung dara jinak. Di atas juga ada tempat ibadah umat Hindu. Kami istirahat agak lama, karena lumayan pegal juga naik tangga segitu banyak sambil gendong anak.

Sudah naik, ya harus turun. Tangga yang dilewati ya ratusan lagi. Di bawah, kami makan di tempat makan vegetarian India. Macam-macam kami makan, tidak hanya roti cane, tapi juga planta dan thosai. Semua disajikan dengan piring penjara yang sudah ada lekuk-lekuk untuk karinya. Wah, kami makan dan minum sampai puas. Habisnya RM16 atau sekitar Rp56.000.

Dari Batu Caves, kembali lagi ke KL Sentral, lalu naik bas gratisan Go KL ke Muzium Negara. Sebetulnya jalan kaki juga tidak jauh. Tiket masuk Muzium Negara untuk wisatawan lokal RM2/orang, sedangkan untuk turis luar RM5/orang. Saya terhitung turis luar, hehe.

Koleksi Keris di Muzium Negara

Koleksi Keris di Muzium Negara

Muzium Negara isinya semua tentang sejarah dunia dan sejarah Malaysia. Di situ bisa dipajang beberapa jenis keris, tapi tidak di-claim keris Malaysia tuh. Beberapa keris saya lihat namanya Keris Sulawesi dan Keris Palembang. Menurut saya ini bukti bahwa sebetulnya Malaysia tidak sembarang claim budaya Indonesia menjadi budayanya. Tetap kok masih dicantumkan asalnya.

Berikutnya, kami ke Masjid Negara, cuma mampir sebentar melihat tempat wudhu dan tempat sholatnya. Lanjut berjalan kaki ke Dataran Merdeka atau Merdeka Square. Sayangnya semua sudah tutup, termasuk Tourist Information Centre. Di Dataran Merdeka, ada tulisan besar I Love KL yang biasa dijadikan background untuk foto-foto.

Dataran Merdeka punya nilai histori yang tinggi untuk Malaysia. Bendera Malaysia pertama kali dikibarkan di tempat ini pada 31 Agustus 1957, sekaligus meruntuhkan kekuasaan Inggris di Malaysia. Di sini ada tiang bendera setinggi 95 meter yang konon menjadi tiang bendera tertinggi di dunia.

4-Central Market bagian dalamDestinasi penutup hari ini adalah Pasar Seni/ Central Market dan Petaling Street. Keduanya adalah tempat belanja oleh-oleh yang lokasinya berdekatan. Harus jago tawar kalau di sini. Jika tidak sesuai, tinggalkan saja. Masih banyak penjual lain dengan barang serupa.

Pernak-pernik yang dijual di Petaling Street

Pernak-pernik yang dijual di Petaling Street

Naik train dari Pasar Seni kembali ke KL Sentral, ambil tas di loker, lalu pulang ke tempat saudara saya di Taman Melawati, turun di stasiun Wangsa Maju. Dari stasiun naik taksi bayar RM10.

20
Sep
15

Singapura – Kuala Lumpur 6 Hari Bersama Bayi; Day 2/6

Perjalanan saya, istri, dan anak umur 1,5 Tahun selama travelling di Singapura dan Kuala Lumpur pada September 2015

Hari Pertama – Changi Airport Singapura, Merlion Park, Helix Bridge, Garden By The Bay, Singapore Flyer

Hari Ketiga – Sentosa Island, Johor Baru Sentral

Hari Keempat – Kuala Lumpur Sentral, Batu Caves, Muzium Negara, Dataran Merdeka, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Kelima – KLCC, Little India, Pasar Seni, Petaling Street

Hari Keenam – KLIA, Soekarno Hatta Airport

Hari Kedua – Singapore Botanical Garden, Orchard Road, Bugis Street, Harbour Front

Pagi-pagi saya langsung dorong stroller ke Singapore Botanical Garden. Naik MRT turun di Botanical, tiketnya $2,7/orang. Ini taman gratisan yang terawat bagus. Satu-satunya taman tropis di dunia yang diberi penghargaan oleh UNESCO World Heritage Site. Dari taman ini, Singapura melakukan diplomasi bunga dengan Indonesia. Salah satu koleksi anggreknya dinamai Iriana Jokowi. Nama Ani Yudhoyono juga pernah masuk dalam list diplomasi bunganya Singapura.

Pertama kali masuk, saya langsung lihat papan peta lokasi. Besar dan banyak. Ada taman-taman tematik seperti Fragrant Garden, Healing Garden, Herbs & Spices, Fruit Trees, Nut Trees, dll… Buat yang suka tumbuhan, bagus banget nih. Buat pengetahuan anak-anak bagus. Buat yang mau jogging di taman juga bagus J Dan memang banyak yang jogging di sini.

Kotak brosur di Singapore Botanical Garden

Kotak brosur di Singapore Botanical Garden

Terdapat boks berisi brosur di bawah papan peta besar. Di atas boks itu, kita dipesani: Drop your used brochures here for others to reuse. Yaah, betul juga sih. Biasanya brosur itu cuma terpakai sekali, lalu menumpuk di rumah dan dibuang. Lebih baik kita kembalikan saja setelah dipakai.

Anak saya hanya main-main sebentar di Eco Lake, bersama burung-burung dara yang jinak, angsa, dan kura-kura, lalu lanjut ke luar lewat Nassim Gate, karena itu adalah pintu terdekat menuju Orchard Road.

Sepanjang perjalanan, anak saya sering minta berhenti untuk disusui. Kalau sudah begitu ya disusui saja di sembarang tempat, dengan menggunakan apron. Biasanya setelah disusui sudah tidak rewel, jadi bisa jalan lagi. Kalau anak saya ketiduran, bisa ditaruh di stroller. Jadi dia tetap tidur, tapi perjalanan bisa lanjut. Saya dan isteri sering bergantian, yang satu gemblok tas, yang satu dorong stroller.

Eco Lake di Singapore Botanical Garden

Eco Lake di Singapore Botanical Garden

Dari Singapore Botanical Garden, kami jalan kaki menuju Orchard Road, lewat Nassim Road. Tinggal lurus saja, tapi agak jauh. Mau naik kendaraan umum juga mau naik apa? Gojeg belum sampai ke Singapura.

Sampai Orchard Road, kami langsung cari makan di food court salah satu pusat perbelanjaan. Saya cari yang restoran India muslim supaya jelas halalnya. Saya dan istri pesan dua porsi nasi dengan ayam, harganya $11. Tempatnya sempit dan orangnya ramai. Untung ada larangan merokok.

Orchard Road adalah salah satu jalan paling terkenal di Singapura. Kenapa terkenal? Karena di sini adalah pusat perbelanjaan dan entertainment. Banyak yang bilang, belum ke Singapura kalau belum ke Orchard Road. Padahal menurut saya mah biasa saja. Ya seperti pusat perbelanjaan biasa.

Oleh-oleh gantungan kunci di Bugis Street

Oleh-oleh gantungan kunci di Bugis Street

Istri saya mulai cari oleh-oleh di sini. Tempelan kulkas, gantungan kunci, cokelat, banyak pilihannya di Orchard Road. Tapi saya lebih merekomendasikan Bugis Street untuk cari oleh-oleh. Semua yang isteri saya beli di Orchard Road ada di Bugis Street dengan harga yang sama atau lebih murah.

Minuman yang dijual di Bugis Street

Minuman yang dijual di Bugis Street

Kami mampir ke masjid Al-Falah, dekat Paragon Shopping Centre, untuk sholat. Masjidnya masih dalam pembangunan, mungkin perluasan. Kami istirahat sebentar dan minum sampai puas J

Lepas sholat, langsung menuju Bugis Street. Saya coba menggunakan bus biasa dari Orchard Road. Nah, kalau naik bus biasa, stroller harus dilipat dan ditenteng ke dalam. Saya tanya supirnya berapa ongkos ke Bugis? Dia bilang $1,4/orang. Lalu saya masukkan uang ongkos ke semacam celengan yang langsung bisa menghitung sendiri. Tiket langsung keluar otomatis. Jadi tidak perlu kenek J

Di Bugis, apalagi aktivitasnya selain beli oleh-oleh? Istri saya langsung kalap dan beli macam-macam, ya cokelat, gelas, tempelan kulkas. Cokelat di sini memang murah. Toblerone ukuran sedang sebanyak 6 buah itu dihargai $10, atau sekitar Rp17.000 per buah. Gantungan kunci 24 buah harganya $10 atau sekitar Rp4.000/ buah. Murah sih, tapi tidak murah murah amat juga. Istri saya beli banyak, sampai beli 1 tas lagi khusus untuk oleh-oleh J

Sudah menjelang maghrib, tapi kami tetap jalan lagi ke Horbour Front, untuk menuju ke Sentosa Island. Rupanya monorail Sentosa Express sudah tutup pukul 19.00. Jadi ya sudah, kami hanya lihat-lihat Sentosa dari pinggir Harbour Front saja. Sebetulnya ada jembatan untuk pejalan kaki menuju Sentosa Island, tapi sudah malam dan kelihatannya lumayan jauh juga. Lebih baik pulang saja.

Seven Eleven seperti warung kecil

Seven Eleven seperti warung kecil

Sebelum pulang, kami makan malam di KFC Harbour Front. Ambil 2 rice bucket dan 2 kue kecil untuk anak, totalnya $11. Harga segitu terbilang murah banget di pusat perbelanjaan Singapura. Rice bucketnya banyak sampai kami sulit menghabiskannya.

Ohya, di stasiun Tanah Merah, saya menemukan Seven Eleven (Sevel) yang ukuran tokonya seperti toko kelontong, kecil dan penuh sesak dengan barang dagangan. Beberapa Sevel yang saya jumpai di Singapore, selain di Tanah Merah, juga modelnya sama. Jauh berbeda dengan di Jakarta yang biasanya besar-besar dan ada tempat nongkrongnya.

12
Agu
15

Pulau Tayan: Pulau di Tengah Sungai

Pemandangan di Pulau Tayan

Pemandangan di Pulau Tayan

Indonesia punya banyak sekali sungai. Beberapa terbilang besar dan panjang. Begitu dekat dengan sungai, membuat beberapa penyair membuat bait-bait lagu mengenai sungai, bahkan diberi judul nama sungai. Dari beberapa sungai besar yang panjang ini, ada yang paling panjang, yaitu Sungai Kapuas. Panjangnya lebih dari 1.000 km dan seakan membelah Kalimantan Barat menjadi dua bagian.

Bodinya yang besar, membuat sedimentasi tidak hanya menumpuk di pinggir sungai, kadang juga menumpuk di tengah. Membentuk daratan yang cukup kokoh, sehingga disebut pulau. Pulau di tengah sungai.

Kapuas mempunyai beberapa pulau di tengah sungai, salah satunya adalah Pulau Tayan. Pulau ini ukurannya kecil, mungkin tidak sampai satu jam jalan kaki kita sudah bisa mengitari seluruh pulau. Background pulai ini adalah Jembatan Tayan, yang akan menjadi jembatan terpanjang di Kalimantan.

Lokasi Pulau Tayan

Lokasi Pulau Tayan, Kalimantan Barat

Mess tempat saya bekerja berada di pinggir Kapuas. Dari depan mess, saya dapat melihat Pulau Tayan. Menurut beberapa orang yang tinggal di mess ini, Pulau Tayan tidak begitu menarik. Ya itu kata orang. Supaya saya bisa mempunyai penilaian, saya harus ke sana dan menilai langsung. Apa betul tidak menarik?

Minggu sore saya menyeberang ke daerah Keraton terlebih dahulu  dengan kapal klotok yang disewa perusahaan, jadi saya tidak perlu bayar. Ada yang tidak disewa perusahaan, nah, yang ini berbayar Rp5.000/orang atau Rp15.000/motor (plus orangnya) sekali nyeberang.

Kenapa disebut klotok? Mungkin karena mesin kapal ini mengeluarkan bunyi klotok klotok klotok ketika sedang bekerja. Kita harus berteriak kalau mau ngobrol di atasnya. Kalau kapal ini mengeluarkan musik, maka mestilh itu musik yang keras. Musiknya tidak jauh-jauh dari musik remix dengan dentuman yang tinggi. Dangdut di-remix, Bondan Prakoso di-remix. Semua di-remix. Sampai lagu India juga di-remix.

Dari Keraton, sudah ada boat-boat menunggu wisatawan yang hendak liburan ke Pulau Tayan. Kedengarannya keren ya… “liburan ke Pulau Tayan”. Bayar boat untuk menyeberang Rp3.000/orang. Cuma 5 menit. Dekat sekali. Penumpang dalam boat ini adalah wisatawan-wisatawan lokal. Lokal banget malah.

Peta Menuju Pulau Tayan

Peta Menuju Pulau Tayan

Tapi jangan salah, bahasa yang dipakai itu interlokal, alias bukan Bahasa Indonesia. Setelah sampai Pulau Tayan, telinga saya tidak jarang mendengar Bahasa Mandarin.

Kok bisa Mandarin? Nah, ini yang menurut saya unik dari Pulau Tayan. Perekonomian Pulau Tayan dikuasai oleh China. Tapi tentu saja, China yang merah putih. Mereka sudah lama hidup di Pulau Tayan. Sebagian orang mengatakan Pulau Tayan adalah pecinan. Ada Klenteng di dalam Pulau Tayan.

Pulau Tayan punya jalan utama, namanya Jalan Dwikora. Di sinilah letak Pasar Tayan. Pasarnya berbentuk toko-toko di pinggir jalan. Jalan ini membuat Pulau Tayan jauh lebih maju dibanding daratan di sekitarnya, misalnya Piasak atau Kawat.

Hebatnya, di Pasar Tayan ini harganya lebih murah daripada Pasar Piasak atau Pasar Kawat. Mungkin ini karena para pedagang di Pulau Tayan membeli langsung dagangannya dalam jumlah besar dari Pontianak, lalu dibawa ke Pulau Tayan lewat jalur sungai. Sementara pedagang di Pasar Piasak dan Pasar Kawat mengangkutnya lewat darat, lewat beberapa tangan, dan membeli dalam jumlah lebih kecil.

Terlihat ada beberapa penginapan di Pulau Tayan. Saya tanya salah satunya dihargai Rp55.000/malam, dengan kasur besar dan kipas angin. Menurut saya agak aneh, karena wisatawan yang datang hanya dari orang-orang sekitar. Mereka datang dan pergi, tidak menginap. Lalu buat siapa penginapan ini? Teman saya yang ngeres pikirannya, ketawa-ketawa saja.

Anak kecil bermain di pinggir Pantai Tayan

Anak kecil bermain di pinggir Pantai Tayan

Saya tidak makan di Pulau Tayan. Sama sekali tidak konsumsi apa-apa. Karena banyak sekali yang menggunakan daging babi dalam menunya. Teman saya yang Protestan justru ke sana tujuannya itu. Katanya untuk asupan vitamin B2.

Nah, terakhir adalah view yang paling dicari di Pulau Tayan, yaitu pantai. Sebetulnya bukan pantai. Mana ada pantai yang tidak di pinggir laut? Tapi karena ada daratan landai bertemu air, ya disebut saja pantai. Pantai ini adalah tujuan utama wisatawan datang dan berkumpul di Minggu sore. Setiap Minggu sore. Di hari-hari lain sepi.

Di Pantai Tayan, ada yang main pasir, ada yang pacaran (sama istrinya mungkin), ada yang bangun tenda dadakan untuk jualan (dibongkar setelah wisatawan pulang), ada yang lari-lari, ada yang main bola. Ada yang BERJUDI. Gile bener… Judi di pinggir pantai.

Berjudi di Pinggir Pantai Tayan

Berjudi di Pinggir Pantai Tayan

01
Mar
13

Duek Pakat Harusnya Duek-Duek

Seorang warga sedang mengambil sirih dalam acara Duek Pakat. Dok: Iqbal

Seorang warga sedang mengambil sirih dalam acara Duek Pakat. Dok: Iqbal

(Tulisan ini adalah bagian yang kena edit dari penerbit buku Keliling Sumatera Luar Dalam)

Waktu itu, awal 2012, saya sedang di rumah Nenek di Krueng Mane, Aceh Utara.

Setelah Maghrib, nenek bilang mau keluar sebentar, ke acara Duek Pakat. Saya langsung minta ikut. Tempatnya sekitar 100 meter dari rumah, masih di desa Cot Seurani, Aceh Utara. Saya dan nenek jalan kaki.

Duek artinya duduk. Pakat artinya berdiskusi atau bersepakat. Duek Pakat artinya duduk-duduk untuk berdiskusi membicarakan sesuatu, biasanya untuk mempersiapkan pesta pernikahan, seperti yang akan saya datangi ini.

Orang-orang belum datang. Baru ada beberapa anggota keluarga yang sedang siap-siap. Lantai rumah dilapisi tikar. Gelas-gelas diisi dengan teh dan kopi. Tampah-tampah besar dipenuhi dengan daun sirih dan buah pinang yang disusun rapi; daun sirih berbaris membulat rapi mengelilingi potongan-potongan pinang berwarna pucat.

Lepas Isya, tamu berdatangan. Mereka membawa gula yang kemudian dimasukkan ke dalam karung di depan rumah si empunya hajat. Rata-rata memberikan satu kilo. Adatnya memang begitu. Undangan membawa gula, si pembuat hajat menyediakan makanan berat, biasanya nasi tapi tidak mesti.

Saya membuka obrolan dengan seorang bapak yang sudah datang duluan. Dia bilang, duek pakat ini dulu betul-betul duek pakat. Ada diskusinya menentukan ini itu dalam mempersiapkan pesta pernikahan. Tapi sekarang tidak ada sama sekali. MC –dengan berbahasa Aceh- langsung membuka acara, menjadi satu-satunya pusat perhatian. One man show. Dia yang buka, dia yang memberikan informasi dan pesan-pesan, dia juga yang menutup acara. Total paling hanya 15 menit.

Informasinya adalah bahwa tanggal sekian akan dibuat pesta pernikahan si fulan dengan si fulanah, dengan undangan sekian ribu orang. Bahwa warga desa diminta tolong untuk ikut menyiapkan, seperti biasa.

Pesan-pesannya adalah bahwa ibu-ibu yang bantu motong bawang ya motong bawang aja, jangan sampai dibawa pulang. Bahwa warga desa yang diundang makan ya makan di tempat saja, jangan ada yang dibawa pulang. Kejadian-kejadian itu tidak banyak, tapi ada, makanya diingatkan.

Sama seperti kenduri yang dibuat nenek saya, semua akan berjalan autopilot. Yang biasa ngangkut kursi ya ngangkut kursi. Yang biasa ngupas bawang ya ngupas bawang, yang biasa ngeracik menu ya ngeracik. Semua seperti sudah di luar kepala.

Setelah acara ditutup, piring-piring berisi bubur ketan disebar, dengan topping pisang rebus dan nangka. Tiap orang dapat satu piring. Kuah bisa ambil bebas di panci-panci yang disebar di kerumunan hadirin. Ketannya banyak dan mengenyangkan, saya sampai tidak perlu makan malam lagi.

Buat saya, acara duek pakat ini membingungkan, terutama karena tidak ada diskusinya sama sekali. Duek pakat masih dibilang duek pakat walau tidak ada diskusinya, tapi tidak dibilang duek pakat kalau tidak ada makan-makannya. Jadi duek pakat lebih mirip acara makan-makan biasa, atau sekedar duek-duek, tanpa pakat.




Mei 2016
S S R K J S M
« Apr    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.