Resensi Buku LITTLE PRINCES Connor Grennan

IMG20180507052324
Little Princess by Connor Grennan

Ini adalah cerita perjalanan seorang backpacker asal Amerika, Connor, yang niat awalnya keliling dunia tapi kemudian di tengah perjalanannya terpanggil untuk membantu anak-anak korban perdagangan manusia di Nepal. Anak-anak itu sejatinya adalah anak baik-baik dari keturunan baik-baik. Mereka adalah anak-anak desa yang oleh orang tuanya dititipi ke seseorang untuk dipindahkan dari desanya, ke tempat manapun yang aman.

Kalau anak-anak itu tetap di desanya, mereka sangat mungkin akan diminta paksa ikut dalam semacam gerakan separatis, yang ingin menggulingkan pemerintahan Nepal. Maka orang tua mereka mengumpulkan uang yang tidak sedikit untuk anaknya, lalu menitipkannya.

Sayangnya, anak-anak ini dititipkan ke orang yang salah. Bukannya memberikan tempat baru yang aman dari perang, orang yang dititipi malah menjualnya ke kota Kathmandu. Ada yang dijual untuk menjadi semacam babu di rumah-rumah atau di tempat-tempat makan. Tidak sedikit juga yang ditelantarkan begitu saja, karena belum laku. Ditelantarkan dengan diberi makan sedikit, atau bahkan tidak sama sekali.

Connor merasa aneh kenapa orang-orang Nepal sendiri tidak terpanggil dengan isu besar ini. Di tempat asalnya di Amerika, jika ada satu saja anak hilang, maka akan menjadi isu besar yang muncul di media sampai beberapa hari. Berbeda jauh dengan di Nepal.

Connor menceritakan usahanya dalam membantu anak-anak ini, memberinya makan, pakaian, dan pendidikan, mencarikan orang tua kandung mereka, dan sebisa mungkin menjadi orang yang merawat anak-anak kurang beruntung ini.

Dalam perjalanannya menuju desa Humla (mudah-mudahan namanya tidak salah), banyak sekali kendala yang dilewatinya, terutama karena jarak yang jauh dan track yang begitu menantang. Ini dalam rangka mencari orang tua dari anak-anak korban perdagangan manusia.

Ceritanya sekaligus terbalut dengan cerita tentang kondisi Nepal, orang-orangnya, makanannya, cara pikirnya, budayanya, kondisi ekonominya, jadi kita bisa membayangkan, oh Nepal seperti ini.

Kita juga jadi tahu hal-hal paradoksal yang berjalan di Nepal. Orang tua malah lebih senang anaknya tetap besama Conor karena diberikan pendidikan yang cukup. Si pedagang anak aman dalam tindakan kriminalnya karena jaringan yang kuat di pemerintahan. Si pejabat yang justru ikut menyuburkan bisnis perdagangan anak karena ikut membeli untuk dijadikan babu di rumahnya.

Itu semua bisa didapat dari buku ini. Buku yang penuh dengan petualangan, nilai kemanusiaan, dan juga cerita romansa tentang hubungan Conor dengan wanita yang kelak menjadi istrinya. Recommended!

Iklan

Naik Kereta Api Padang

Kalau di Jawa, akses kereta api sudah begitu mudah dan banyak pilihannya. Jawa dari ujung ke ujung sudah terakses kereta. Juga sudah ada pembagian kelas: eksekutif, bisnis, dan ekonomi. Tinggal duitnya sanggup berapa. Ini berbeda sekali dengan kereta api di Sumatera.

Ada tiga titik lokasi jalur kereta api di Sumatera: Medan, Padang, dan Lampung-Sumsel. Tahun 2011 saya sudah pernah naik yang di Medan dan yang di Lampung-Sumsel. Yang saya ingat, kereta yang di Lampung tidak terasa seperti kereta Sumatera karena penumpangnya berbicara bahasa Jawa. Jadi keriuhannya ya keriuhan Bahasa Jawa. Sementara kereta di Medan, yang saya ingat, tiketnya murah dan penumpangnya sepi. Itu saja.

stasiun Padang
Jalur Kereta Padang – Pariaman

Lanjutkan membaca “Naik Kereta Api Padang”

Cari Damai di Eling Bening

IMG20180301171936
Eling Bening

Pas lagi ada meeting di Banaran Resort, saya mampir ke Eling Bening. Ini adalah tempat wisata mata. Buat yang matanya suntuk-suntuk, melihat layar laptop melulu, nah di sini pas untuk cuci mata. Pemandangannya luar biasa, ada hamparan Danau Rawa Pening di bawah sana, dengan latar bermacam-macam gunung, mungkin salah satunya Gunung Merbabu. Jalan raya dengan mobil-mobil yang melintas jarang-jarang, membuat pemandangan semakin hidup. Lanjutkan membaca “Cari Damai di Eling Bening”

Cari Damai di Kebun Teh Jamus

jamus
Rute ke Jamus, 4 kali naik kendaraan dari Semarang

Sudah lama saya berencana ingin ke Kebun Teh Jamus (Ngawi, Jawa Tengah). Kebetulan lagi kerja di Semarang, jadi dimanfaatkan untuk ke Jamus, yaitu pada Sabtu, 10 Februari 2018. Dari Semarang saya naik bus ke Solo. Naiknya dari Sukun. Sukun ini secara de jure bukan terminal, tapi secara de facto terminal. Ibarat kalau di Jakarta itu UKI yang dulu (sekarang sudah ditertibkan). Busnya patas, cukup nyaman. Seingat saya berhenti hanya di beberapa tempat, termasuk Bawen. Lanjutkan membaca “Cari Damai di Kebun Teh Jamus”

Solo – Sukoharjo Jalan Kaki

Screenshot_2018-02-25-09-46-55-55Niat awalnya sih, saya mau lari dari Solo sampai Sukoharjo. Betulan lari. Atau minimal, banyakan larinya daripada jalannya. Tapi tidak kuat ternyata. Jarak dari tempat saya menginap di Solo sampai rumah teman saya di Sukoharjo itu sekitar 16 km, kata Google Maps. Dulu saya pernah ikut lari Half Marathon (21 km), itu bisa separuh lebih lari. Masak yang ini jaraknya lebih pendek gak bisa. Gitu awal mikirnya. Tapi apa daya, ternyata kuat larinya cuma 5 km pertama saja, sisanya jalan.

Sukoharjo itu, menurut saya, semacam kota satelitnya Solo. Mirip dengan Bogor-nya Jakarta atau Sidoarjo-nya Surabaya. Banyak yang berrumah di Sukoharjo, tetapi sehari-hari kerjanya di Solo. Lanjutkan membaca “Solo – Sukoharjo Jalan Kaki”

Dua Jam di Jepara

Sebetulnya saya sudah punya rencana rapi dari Semarang ke Pantai Kartini Jepara, nyeberang ke Pulau Panjang, sewa tenda dan bermalam di sana. Lalu besoknya balik lagi ke Semarang. Tapi ternyata kapal tidak ada yang berangkat.

Berangkat dari Pandanaran, Semarang, saya pakai Trans Semarang yang tiketnya sama dengan Trans Jakarta: Rp3.500, sampai Terminal Terboyo. Di sini mudah ditemui mini bus menuju Jepara. Semacam metro mini kalau di Jakarta. Nah saya naik itu. Penumpang sebelah wanita muda, saya tanya ongkosnya berapa sampai Jepara? Dia bilang biasanya Rp15.000. Jadi waktu kernet nagih ongkos, saya kasih uang pas. Pengalaman dulu-dulu, suka kena ongkos lebih mahal karena kelihatan bukan orang setempat.

IMG20180127143909
Terminal Jepara. Bus pink baru datang dari Semarang

Lanjutkan membaca “Dua Jam di Jepara”

Terbang

Buat saya, 2017 adalah tahun dengan intensitas terbang paling tinggi. Sekitar 50 kali. Kalau dirata-ratakan, yaa sekitar 1 minggu sekali terbang, sepanjang tahun. Ini karena saya dapat proyek di luar Jakarta, padahal base kantornya di Jakarta, jadi dapat benefit hometrip tiap dua minggu.

Trayek paling sering adalah Jakarta – Surabaya. Selain itu juga Jakarta – Singapore, Jakarta – Batam, Jakarta – Semarang, dan Jakarta – Solo. Pesawat yang paling sering saya pakai adalah Citilink. Beberapa kali saja pakai Batik, Lion, Sriwijaya, Garuda, Jetstar, Tiger, Air Asia, pernah 2 kali pakai Singapore Airlines (SQ).

Baru tahun ini Lanjutkan membaca “Terbang”