Nusa Tenggara? Berangkat….

Ini sudah lama saya rencanakan, impikan, dan doakan. Ini juga jadi alasan saya resign yang kelima kalinya, dan akan menjadi catatan yang keenam. Sebetulnya bukan resign, tapi tidak memperpanjang kontrak. Saya pun tidak cari kontrak yang lain dulu. Mau fokus traveling.

Minggu ini saya masih kerja, sampai Jumat 29 Maret 2019. Tiket Jakarta – Lombok sudah saya pesan tadi malam, lewat Traveloka, yang kemudian ditransfer pakai mobile banking BCA punya istri.

Jadi saya memutuskan untuk stop bekerja dulu, supaya bisa keliling Nusa Tenggara selama satu bulan. Rencananya mau saya buatkan catatan perjalanannya juga. Saya bawa laptop! Sukur-sukur ada yang mau menerbitkan seperti dulu buku Keliling Sumatera Luar Dalam.

Mulai 1 April 2019 sampai 30 April 2019. Itu rencananya. Berawal dari Lombok. Sendirian.

Di Lombok, sebetulnya saya agak menghindari lama-lama di sini. Kenapa? Saya lebih senang ke tempat yang sepi, yang sedikit turisnya. Agak alergi dengan komersialisasi obyek wisata. Target utama di Lombok sebetulnya Rinjani. Tapi Rinjani masih tutup. Semua jalur ditutup. Jadi sedih.

Yah, paling jadinya nongkrong-nongkrong saja di Sembalun. Saya penasaran dengan perekonomian di sana. Gimana nasib-nasib porter dan semua yang bergerak di industri wisata? Jalur tutup artinya tidak ada turis naik gunung, artinya tidak ada yang perlu jasa porter.

Senggigi dan Gili Trawangan nampaknya harus, walaupun hanya lewat. Saya akan berkesimpulan: “ Ooh, begitu saja.” Yang agak seru sepertinya pantai selatan Lombok. Antara Kuta atau Selong Belanak? Bagusan mana ya? Saya mau belajar surfing juga, dengar-dengar ada di Selong Belanak ya?

Nyeberang ke Sumbawa lewat Pelabuhan Poto Tano. Titik-titik yang rencananya saya lewati di Sumbawa adalah Taliwang (mau coba ayam Taliwang), Pulau Bungin, Sumbawa Besar, Dompu, Tambora (mau ada festival Tambora), Bima, dan Sape (buat nyeberang ke Flores).

Pulau Mojo cukup menarik, bukan karena air terjun Mata Jitu nya, tapi lebih ke kehidupan masyarakatnya, seberapa susah sih mencari uang di Mojo? Supaya saya bisa bersyukur bisa punya kesempatan mencari uang dengan lebih mudah dibanding masyarakat di Mojo. Tapi ya lihat nanti, kalau tidak sempat, ya lewat. Karena saya lebih tertarik dengan NTT dibanding NTB. Rasanya mau buru-buru sampai Labuhan Bajo.

WhatsApp Image 2019-03-26 at 17.20.52
Lonely Planet 2003 sebagai referensi

Yang saya baca, dari Lonely Planet Indonesia terbitan 2003 (cuma mampu beli yang bekas), kapal dari Sape (Sumbawa) ke Labuhan Bajo (Flores) tidak mampir Pulau Komodo dan Rinca. Rata-rata turis ambil paket trip 2-3 malam di sebuah kapal carter, yang kapal itu akan mampir ke Komodo, Rinca, dan beberapa pulau lain. Ini sebetulnya bagus sih, dapat banyak destinasi, sekaligus bisa ngobrol pakai Bahasa Inggris, lama tidak terasah. Sebagian besar turis akan berupa bule (ini kalimatnya betul tidak ya?). Tapi ongkos tripnya lumayan, sekitar tiga jutaan. Yah lihat mood nanti saja. Biasanya memang saya hanya tentukan jalur utama, lebih spesifk mau ke mananya, lihat nanti saja.

Dari Labuhan Bajo, yang jelas akan lewat Ruteng, Bajawa, Ende, Maumere, dan Larantuka. Saya dengar jalannya bagus, tapi angkutannya gabung sama makhluk hidup lain, seperti babi. Dan jalannya lambat banget, betul tidak sih?

Di Ruteng, penting banget gak sih ke Wae Rebo? Semenjak sudah ada tarif-tarifan saya jadi malas. Saya dengar ada desa lain, masih daerah Ruteng, yang juga punya rumah-rumah keren seperti di Wae Rebo. Nanti kita tanya di sana….

Ende punya pelabuhan besar yang rutenya agak banyak. Yang paling menarik adalah ke Waingapu (Sumba). Tapi katanya kapalnya seminggu sekali, dan kapal baliknya juga seminggu sekali. Beli tiket pesawat tak mampu. Lihat nanti di sana saja.

Yang membuat saya paling berdebar dan paling menarik adalah pulau-pulau di timur Flores: Adonara, Solor, Lembata, Pantar, dan Alor. Semua menarik! Kepulauan selalu menarik. Tapi saya ragu dengan jalur kapal antar pulau tersebut, juga jalur darat di dalam pulau. Akankah waktu saya cukup untuk kesemua pulau itu?

Di kepulauan, saya akan menemukan keramahtamahan yang tidak ditemui di kota. Saya akan menemukan bentuk kesederhanaan yang paling sederhana. Saya akan sangat bersyukur dengan kemudahan yang selama ini saya dapatkan. Saya akan bersyukur dengan nikmat-nikmat yang paling sederhana: jaringan HP, makanan, transportasi, kedekatan dengan keluarga…. Saya senang kepulauan!

Lalu saya akan lompat ke Kupang, entah dari mana, mungkin dari Alor. Karena belum tentu ada kapal langsung dari Alor ke Kupang, bisa jadi harus balik Larantuka dulu untuk ke Kupang. Di Timor, yang menarik buat saya adalah Soe, Atambua, dan mungkin Dili (ini sudah bukan Indonesia). Di Soe, saya akan lewat saja. Dulu teman kuliah saya salah satunya dari Soe. Dia sudah meninggal. Mungkin saya akan mampir ke orang tuanya dan menyampaikan kebaikan-kebaikan almarhum selama di kampus.

Atambua menarik karena menjadi kota yang paling dekat dengan perbatasan. Mungkin saya akan menukar dollar, lalu menyeberang ke Dili, lalu kembali ke Kupang. Bisa jadi akan menyeberang ke Pulau Rote, lalu kembali ke Kupang. Untuk kemudian terbang balik ke Jakarta. Bekerja lagi, menabung lagi.

Sumba? Sebetulnya pulau ini menarik. Ada sih rencana menyeberang dari Kupang ke Sabu, lalu ke Waingapu (Sumba). Yah lihat nanti… Doakan saya! Kalau ada masukan untuk itinerary, ditunggu yaah…

Cerita dari Kuala Parek, Langsa, Aceh

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.32
Pantai Kuala Parek, Langsa

Kali ini cara berwisata saya agak tidak bisa, dan cenderung tidak bisa diikuti. Berawal dari teman kantor saya di Langsa (Aceh), yang hobi mancing. Namanya Bang Agus. Dia mengajak saya mancing di Kuala Parek.

Jam 6.30 pagi, Kamis 7 Maret 2019, kami berangkat dari Langsa ke arah Peurelak, sekitar hampir satu jam naik motor dengan jalan santai. Sampai di sebuah jembatan besar yang mengangkangi sebuah sungai besar. Nama daerahnya Rantau Panjang.

Ohya, sebelumnya beli sarapan dulu di pinggir jalan. Nasi gurih pakai telur 3 bungkus plus gorengan 6 buah, dibungkus. Totalnya hanya Rp26.000 dong. Murah banget. Berarti nasinya sebungkus enam ribu perak, sudah pakai telor….

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.56
Nasi Gurih pakai telur Rp6.000

Setelah jembatan, kami belok kiri turun ke perkampungan pinggir sungai, mungkin perkampungan nelayan. Di situlah Bang Agus langsung ke rumah yang punya kapal untuk kami sewa. Seharian hanya Rp100.000. Bensin sekitar Rp50.000. Udang segar buat umpan satu bubu Rp60.000 (ada puluhan udang sepanjang jari tengah). Sama es dan air minum. Semua tidak sampai Rp300.000.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.55
Puluhan udang hidup di dalam bubu untuk umpan

Langsung kami jalan naik kapal. Kami bertiga. Kapalnya bisa muat 4-5 orang. Langsung tancap gas susuri sungai besar itu. Kanan kiri adalah hutan bakau yang sedap dipandang.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.31
Persiapan kapal sebelum berangkat

Bakau sepanjang jalan. Kalau saya dilepas di tengah-tengah hutan bakau ini, ya jelas tersesat. Wong kanan kiri depan belakang bakau semua. Sempat saya buka Google Maps, terbaca memang titik posisi saya, tapi ya sudah di tengah-tengah begitu saja. Sungai yang kami lewati tidak terdeteksi sebagai sungai di Google Maps.

Sudah jalan sekitar satu jam, saya melihat ada perkampungan di pinggir sungai, namanya kampung Matang Nibong. Bang Agus cerita bahwa di kampung itu, orang membuat arang dari kayu bakau. Membuat arang itu dengan mengasapi kayu bakau, bukan dibakar. Kalau dibakar ya kebakar dong, bukan jadi arang, malah jadi abu.

Sempat berhenti di tengah sungai untuk mancing sekaligus mendinginkan mesin kapal. Ini pertama kalinya saya mancing. Bang Agus dengan santai masukkan tangannya ke bubu untuk ambil udang sebagai umpan. Padahal udang kan bisa kibaskan ekornya lumayan pedas. Tapi katanya gak sakit tuh. Bagian badan belakang (mendekati ekor) dari udang hidup itu dikaitkan ke mata kail.

Sekitar setengah jam menunggu, tidak ada satupun ikan yang menyentuh kail. Sambil kami sarapan. Selesai sarapan, mesin sudah agak dingin, berangkat terus ke Kuala Parek.

Di muara sungai, yang sudah berbatasan dengan laut, saya melihat banyak alat penangkap ikan yang disebut dengan “ambe”. Saya juga kurang paham cara kerjanya. Yang jelas, menggunakan jaring. Ini adalah cara tradisonal untuk menangkap ikan, cumi, dan udang.

Lanjut ke Pantai Kuala Parek. Nah di sini kami berlabuh. Airnya tenang, pasirnya halus. Sarang kepiting ada ribuan. Kepiting pemalu, dia akan langsung masuk sarang kalau kita mendekat.

IMG20190307100134
Pantai Kuala Parek, pasirnya putih dan halus

Dari kejauhan, melihat ada yang berlabuh, beberapa kucing langsung berlarian. Agak heran juga kok banyak kucing di sini? Mungkin ada sepuluh ekor. Mereka mengeong dan menggesek-gesekkan kepalanya di kaki saya. Mungkin dikira saya nelayan yang bawa ikan kali ya.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.49.58
Kucing mendekati yang berlabuh

Kuala Parek punya banyak pohon cemara. Unik juga ya, pohon cemara di pinggir pantai. Biasanya kan bakau atau pohon kelapa. Di pinggir-pinggir pantai, ada yang menanam pohon bakau juga, masih kecil-kecil.

Di bawah pohon, banyak berteduh umang-umang. Jumlahnya puluhan, dengan bentuk rumah yang beragam. Ada yang memanjang, ada yang bulat, ada yang tajam-tajam. Warnanya juga beragam.

IMG20190307095635
Umang umang di Kuala Parek

Saya menuju ke sebuah rumah kayu dengan atap dari daun nipah. Tidak ada orang di dalamnya. Ada semacam balai-balai di depan rumah. Langsung tidur di situ. Ah nikmat sekali bisa meluruskan badan. Setengah jam kemudian saya terbangun dengan badan segar.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 13.51.01
Tidur di sebuah rumah kayu, bersama kekucing

Langsung berenang. Airnya menyejukkan, di tengah udara yang sangat panas. Berjalan di atas pasir saja saya tidak kuat, saking panasnya. Jadi pas banget lah berendam air laut.

Bang Agus mancing terus. Dapat satu ikan kecil. Akhirnya dikasih ke kucing.

Kami pulang sambil berhenti di beberapa titik untuk mancing. Saya berenang. Agak dalam, mungkin sekitar 10 meter. Tidak kelihatan dasarnya. Arusnya deras, jadi jangan jauh-jauh dari kapal, kuatir terbawa arus. Saya hanya berenang di sekeliling kapal saja.

WhatsApp Image 2019-03-09 at 09.07.31 (1)
Perjalanan dengan kapal motor sederhana

Tepatnya di Kuala Bayeun, ada kapal yang lewat, dibilang, awas dimakan ikan. Waduh, apa ada ikan besar di sini? Terus ada kapal lewat lagi, bilang hal yang sama. Saya langsung naik ke kapal. Ada apa di bawah sana?

Kami mampir ke perkampungan yang tadi kami lewati ketika berangkat. Perkampungan di tengah hutan bakau. Mampir di sebuah warung untuk makan mi. Bang Agus kenal dengan banyak penduduk sini karena memang pernah tinggal di sini.

Harga mi murah banget. Jadi kami tadi kasih udang yang rencananya mau jadi umpan (separuh lebih umpan tidak terpakai) untuk dimasak terus dimasukkan ke mi. Total bayar hanya Rp24.000. Itu sudah termasuk mi 3 piring dan air mineral 3 gelas. Juga termasuk jasa olah udang.

Bang Agus beli ikan kakap ke nelayan lokal seharga Rp90.000 untuk sekitar 3kg. Mungkin dia tidak enak sama keluarganya, pulang mancing kok tidak bawa ikan?

Kami sampai di tempat penyewaan kapal jam 4 sore, dan baru sampai Langsa lagi jam 5 sore. Langsung tidur. Tersisa belang di kaki saya karena waktu di kapal, sebagian kaki tidak tertutup pakaian. Cokelat dimakan matahari.

Video dokumentasi singkat tentang Pantai Kuala Parek ada di sini.

Sabang Dulu dan Sekarang

IMG20190203111010
Sabang, dipandang dari Goa Sarang

Yang saya maksud Sabang dulu adalah tahun 2010 dan 2011. Di kedua tahun tersebut, saya jalan-jalan ke Sabang untuk pertama dan kedua kalinya. Yang saya maksud Sabang sekarang adalah tahun 2019, ketika saya untuk ketiga kalinya ke Sabang, tepatnya 3-4 Februari 2019.

Saya ingin bicara pada persamaannya dulu, antara Sabang dulu dan sekarang. Sama-sama ada opsi kapal cepat dan kapal lambat untuk menyeberang dari Ulhee Leueu (Banda Aceh) ke Balohan (Sabang).

Sama-sama aman. Dulu, saya ingat betul teman bercerita, biarkan saja kunci motor menggantung di motor. Tidak akan hilang. Kalau ada yang mengambil, tunggui saja di pelabuhan besoknya. Pada akhirnya akan ketemu. Sabang sekarang juga begitu. Bahkan mobil yang kami sewa juga dipesani sama yang punya, “Kalau mau pulang ke Banda, taruh saja mobil di parkiran Balohan (Pelabuhan di Sabang).” Lah terus kuncinya gimana? Taruh saja di dalam mobil. Tinggalkan mobil dalam keadaan tidak terkunci. Dan itu yang kami lakukan, sesuai instruksi.

Nah, sekarang perbedaannya, antara Sabang yang dulu dengan yang sekarang. Saya kaget betul dengan Pantai Iboih yang sekarang. Dulu, Iboih sepi, hanya ada satu dua turis asing yang berjemur di pinggir pantai, atau diving. Sekarang, wih, ramai sekali dengan wisatawan lokal. Kami malah sampai putar 3 kali saking sulitnya cari parkiran mobil.

IMG20190203184831
Pantai Iboih: tidak ada yang snorkelling

Dulu, saya cukup snorkelling di Pantai Iboihnya saja, tidak perlu sampai Pulau Rubiah. Itu ikan sudah banyak, karangnya bagus. Sekarang, tidak saya lihat ada yang snorkelling di Pantai Iboih. Semua pada ke Pulau Rubiah. Naik kapal motor nelayan berkapasitas sekitar 10 orang, dengan tarif Rp200.000.

Kirain tarif segitu sudah untuk snorkelling di beberapa spot. Rupanya hanya untuk nyeberang ke Rubiah, terus nanti dijemput lagi pulang ke Pulau Iboih. Nyeberangnya paling hanya 10 menit.

IMG20190203171417
Snorkelling di Rubiah

Udah gitu di Rubiah juga karang sudah banyak yang mati. Pengelola memberikan semacam border apung. Mungkin maksudnya batas boleh snorkelling hanya sampai situ. Namun memang ikan-ikannya masih banyak. Saya malah ketemu bintang laut berwarna biru dan ular laut berwarna abu-abu.

###

Saya cerita ringkas perjalanan saya yaa…

IMG20190204092249
Ulee Lheueu

Minggu 3 Februari 2019 jam 7 pagi sudah ada di Pelabuhan Ulhee Leueu, naik mobil yang kami rental dari Langsa. Masuk Ulhee Leueu yang parkiran kapal cepat. Parkirannya ada di semacam bangunan besar, seperti GOR. Karcis yang dikasih ke kami hanya secarik kertas bertuliskan tanggal masuk, plat nomor, dan keterangan “Lunas 1 malam”.

IMG20190204091722
Tiket parkir mobil di Ulhee Leueu

Masuk pelabuhan, menunggu kapal cepat yang direncanakan berangkat jam 8 pagi, tapi baru berangkat 8.15. Harga tiketnya Rp80.000 dan beinya harus pakai KTP.

Satu jam saja, sudah sampai. Langsung cari Bang Jal, orang lokal yang sebelumnya sudah saya hubungi untuk disewa mobil dan homestay nya.

Langsung menuju homestay punya Bang Jal, di daerah Cot Ba’u, hampir ke Kota Sabang. Dari pelabuhan ke homestay paling hanya 15 menit.

Istirahat sebentar, langsung lanjut ke Pantai Sumur Tiga. Tadinya mau snorkelling di Sumur Tiga, tapi gak jadi, karena memang gak terlihat orang snorkelling. Mungkin karena panas ya, karena saat itu jam 11 siang.

IMG20190203101846
Pantai Sumur Tiga

Kami langsung tancap ke Goa Sarang. Kelihatannya ini destinasi baru yang dikembangkan penduduk lokal. Kita akan menuruni tangga yang lumayan bikin pegal. Mungkin sekitar 100 anak tangga. Ada sewa kapal kalau mau kelilingnya pakai kapal. Kalau kami, jalan kaki, melompati bebatuan. Saya melihat banyak ikan sebesar batang korek api, yang bisa lompat dari batu ke batu. Ikan bisa lompat di daratan, hebat.

IMG20190203111549
Goa Sarang

Sampai sekarang saya masih bingung, mana sih yang disebut Goa Sarang? Yang ada adalah karang besar yang tengahnya bolong. Mungkin itu kali ya….

Lanjut ke Pantai Iboih, tapi penuh. Cari parkiran tidak dapat. Akhirnya ke Tugu Kilometer 0 dulu. Kirain sepi, ternyata ramai juga. Foto-foto tidak terlalu lama, turun lagi ke Iboih.

IMG20190203171444
Harga makanan di Sabang

Sewa enam set snorkeller untuk kami serombongan. Satu setnya Rp40.000. Tidak terlihat ada yang snorkelling di Iboih. Semua menyeberang ke Rubiah. Kami pun sewa kapal untuk menyeberang Rp200.000. Akan dikasih karcis yang di dalamnya ada nomor kapal beserta nomor HP pengendara kapalnya. Jadi nanti pas mau nyeberang pulang tinggal telepon.

Saya agak kecewa dengan karang di Rubiah yang sudah banyak mati. Walaupun masih banyak ikan yang terlihat. Sebegini rusak tapi Iboih tetap ramai dkunjungi.

Sekitar 2-3 jam setelah snorkelling, kami kembali ke Iboih. Memang, kapal-kapal itu harus sudah stop semua jam 6 sore, untuk warga lokal siap-siap sholat Maghrib. Kami agak ngaret sampai 6.30. Mandi, sholat, terus kembali ke Kota Sabang.

Besok paginya kami pulang ke Banda dengan kapal cepat pukul 8.00. Beli nasi guri dibungkus seharga Rp10.000 dan martabak telur seharga Rp5.000.

IMG20190204082015
Kapal Cepat Sabang – Banda Aceh Rp80.000
IMG20190203073104
Tket Kapal Cepat

Mungkin Sabang akan terlihat keren kalau kita berwisatanya ke spot snorkelling yang jarang orang datangi. Ya harus rada modal, karena sewa kapal itu sekitar setengah juta untuk setengah hari. Kita bebas mau ke beberapa spot snorkelling.

 

Beberapa gambaran tarif di Sabang:

Kapal cepat 1 Banda-Sabang Rp80.000

Sewa mobil Rp300.000/24 jam

Homestay Rp200.000/kamar

Sewa snorkeller + jaket apung + kaki katak Rp40.000

Tiket masuk Goa Sarang Rp5.000

 

Nomor penting: Bang Jal 085260555300 (rental mobil, homestay)

Takengon: Keliling Lut Tawar

IMG20190217070343
Danau Lut Tawar dan Kota Takengon, difoto dari Pantan Terong

Aceh punya danau yang cukup besar dan bagus, yaitu Danau Lut Tawar. Sekeliling Danau ini sebagian besar adalah perbukitan hijau. Satu sisi di barat danau, yang daratannya agak datar, merupakan Kota Takengon. Nah, saya berenam, satu mobil, mengelilingi danau ini pada Sabtu 16 Februari 2019.

Jalannya bagus, aspal. Rata-rata mulus. Sebagian kecil saja yang berlubang. Sebagian lagi terlihat longsoran menutupi sebagian jalan. Longsor di dan menuju Takengon bukanlah berita heboh. Sudah sering terjadi.

Kami sampai Takengon sekitar jam 9 pagi, langsung mencari sarapan di pinggir danau. Dapatnya di kafe One One (nemu di jalan). Awalnya saya kira bacanya “wan wan”, tapi teman saya yang orang lokal bilangnya “O-ne O-ne”.

IMG20190216092815
Kafe One One Takengon: Lobster ditangkap setelah dipesan

Ini tempat makan memuaskan sekali. Ikan dan lobster yang dipesan segar. Setelah pesan, baru diambil dari kolam dan dimasak. Awalnya saya berimajinasi lobster yang dimaksud adalah lobster besar sepenuh piring, rupanya lobster kecil (sama udang bedanya apa sih?). Saya pesan nasi goreng lobster. Harganya hanya Rp25.000. Itu sudah puas makan 4 anak lobster.

IMG20190216100938
Kafe One One Takengon: Nasi goreng lobster Rp25.000

Penasaran, kok bisa sangat murah. Saya tanya ke yang nangkap lobster buat dimasak, katanya lobster itu ditangkap dari danau pakai bubu, semacam perangkap. Jadi ya gak modal. Maka murah.

Puas sekali kami makan di One One. Semua enak. Semua murah.

Lanjut lagi ke Dermaga Nosar. Kalau dicari di google maps judulnya: Dermaga Wisata Teluk Suyen Bamil Nosar. Ini dermaga buatan yang memang untuk menggaet wisatawan. Tapi sayangnya tidak ada karcis masuk. Pungutan parkir mobil Rp10.000 dan biaya masuk Rp2.500/orang itu semua tanpa karcis dan dipungut oleh…. Siapakah dia? Tidak berseragam. Sepertinya anak muda lokal.

IMG20190216161007
Dermaga Nosar, Takengon

Bagus nih di Nosar, buat foto-foto, juga buat menenangkan pikiran. Kalau sudah sore, air berombak kecil, jadi suara gemericiknya semakin terasa, semakin syahdu.

Lanjut lagi, di ujung timur ada yang namanya Pantai Menye. Ini danau rasa pantai. Memang nyatanya terlihat seperti pantai, ada ombak kecil yang berlomba ke tepian danau. Anginnya pun kuat. Saya hanya lewat saja di sini, dengan gas pelan, jadi bisa menikmati pantainya. Waktu lewat, saya tidak melihat ada yang berenang. Dulu, tujuh tahun lalu, saya pernah ke sini juga. Salah seorang saudara melarang saya berenang. Tidak dijelaskan alasannya. Saya baca-baca, alasannya mistis.

Kami lanjutkan perjalanan. Sayangnya ada yang terlewat: Ujung Paking. Katanya sih ada plang besar, tapi kami tidak ada yang lihat. Jadi bablas.

Ada beberapa tempat lagi sebagai view point danau. Tapi kami sudah “mabok” foto danau, sudah terlalu banyak, jadi hanya dilewatkan dengan gas pelan saja, misalnya: Pantai Ujung Senang, Pantai Ketibung.

Kembali ke kota, mencari penginapan. Dapat di dekat pasar inpres, namanya Wisma Nacara. Dia punya belasan kamar. Kamar yang dua kasur single tarifnya Rp150.000/malam. Tidak ada AC, dan memang tidak perlu. Kamar mandi dalam, dengan toilet jongkok.

Malamnya kami ngopi di Galeri Kopi Indonesia, sekitar 5 kilometer dari kota. Tempatnya masuk satu gang kecil, pas buat lewat satu mobil. Awalnya gak yakin, apa betul jalannya? Karena kok semakin sepi. Kami hanya ikuti google (semua perjalanan kami di Takengon diarahin google). Tapi ternyata memang di ujung dia. Sesuailah sama google maps nya: Galeri Kopi Indonesia.

IMG20190216210921
Galeri Kopi Indonesia: order di sini

Tempatnya keren banget! Dia di tengah-tengah kebun kopi. Pesannya di depan. Terus kita cari tempat untuk duduknya. Mereka punya semacam saung tapi di tempat yang agak tinggi. Kita harus semacam memanjat pohon terlebih dahulu. Sebelum memanjat, kita juga akan melewati kebun kopi dulu. Agak jauh dari imajinasi saya yang mengaggap galeri kopi ya ruangan modern dengan jenis-jenis kopi dalam toples. Ternyata galerinya ya kopi betulan, pohon betulan. Keren!

Saya pesan kopi wine. Ini harganya rada mahal dibanding yang lain, yaitu Rp30.000. Tapi rasanya memang enak. Disajikan dalam gelas ukur, jadi saya berasa sedang praktikum kimia. Dikasih gelas kecil buat minum sedikit-sedikit, seperti espresso gitu (cara minumnya). Saya gak pernah minum wine, tapi kalau kopi wine aja enak, apalagi wine betulan… Gitu kali ya? Nanti saja minumnya, insya Allah di surga.

IMG20190216215517
Galeri Kopi Indonesia: Kopi wine disajikan dalam gelas ukur

Pas petugasnya datang membawa kopi pesanan kami, agak bingung dengan penampakannya. Teman saya ada yang pesan Vietnam drip, ada yang sanger. Kan sama-sama tuh warnanya, rada cokelat muda. Biasanya Vietnam drip kan ada saringannya. Yang ini enggak. Makanya kami bingung, lalu bertanya ke petugas pembawa, “Yang Vietnam drip yang mana?” Santai saja dia jawab: enggak tahu.

Kami mengampuni petugas itu, karena dia masih muda, muda sekali, mungkin SMP. Pekerja di bawah umur kah?

Teman saya yang kelaparan, selain ngopi, juga nge-mie. Jadi, ada mie juga di sini. Ada juga nasi goreng. Ada juga cemilan macam-macam.

Hari itu selesai dengan kopi.

Besoknya, 17 Februari 2019, tepat setelah subuh, kami tancap ke Pantan Terong, yang disebut-sebut sebagai view point terbaik di Takengon. Dan memang ini yang terbaik!

Saat itu, matahari belum muncul. Kota Takengon diselimuti kabut. Danau Lut Tawar bisa terlihat dalam satu frame dengan Kota Takengon. Saya sempat membuat video di sini.

Segera pulang, karena besok itu Senin, kembali ke nasib masing-masing.

Liburan ke Puncak Naik Angkot

Weekend lalu, saya sekeluarga naik kendaraan umum ke puncak untuk menghabiskan liburan. Tadinya agak ragu, kuat gak ya. Karena anak saya masih 4,5 tahun. Kuatir rewel di jalan gangguin orang. Ah coba jalani saja…

Sabtu 29 Desember 2018, istri dan anak saya jalan duluan ke Stasiun Pondok Ranji naik motor. Titip motor di sana, semalam tarifnya Rp15.000. Dari situ jam 8.30, naik kereta ke Tanah Abang. Lanjut naik yang ke Bogor. Ketemu saya di Stasiun Cawang.

Kalau bawa anak kecil, hampir selalu dapat kursi prioritas, jadi anak gak rewel. Malah asik ketiduran. Sampai Stasiun Bogor, kami ngetap kartu, kenanya Rp5.000 (Cawang-Bogor) dan Rp7.000 (Pondok Ranji-Bogor).

Lanjut naik angkot hijau 02 jurusan Sukasari. Ongkosnya Rp4.000/orang. Saya sempat kecele gak nanya dulu sama supirnya, ternyata dia hanya sampai Pasar Bogor. Nyambung lagi deh ke Sukasari.

Ada angkot biru jurusan Cisarua di Sukasari. Ongkosnya Rp8.000/orang. Nah udah deh tuh, tinggal pantau saja kita mau ke Cisarua-nya di mana. Kalau saya di Hotel Pesona Anggraini. Belum pernah ke sana. Baru tahu namanya juga pas pesan hotel di Traveloka. Saya sudah pesan empat hari sebelumnya, untuk kamar tanpa sarapan seharga Rp332.000/malam. Yang dicari sebetulnya yang murah dan ada kolam renangnya.

Sampai hotel jam 13.20. Siang siang kan tuh, tapi di hotel gak ada AC nya. Untung anginnya kencang, jadi tinggal buka jendela. Karena dari rumah jam 8.20 pagi, maka total waktu dari rumah ke hotal adalah 5 jam. Ini terhitung cepat karena dari Ciawi sampai Ciasurua bisa dibilang gak macet. Cuma tersendat sedikit.

IMG20181230123318
Pemandangan sawah dari kamar hotel Pesona Anggraini

Check In, taruh tas, langsung makan. Dekat hotel ada tempat makan Sunda. Terus anak langsung minta berenang, ya berenang.

Agak sore, turun ke Cimory yang Riverside, naik angkot juga, mungkin hanya 10 menit sudah sampai. Saya baru tahu di Cimory ternyata gak hanya ada tempat makan, tapi juga tempat jalan-jalan. Dulu pernah ke Cimory yang Mountain View, itu hanya tempat makan. Kalau yang di Riverside ada tempat tracking nya. Bayarnya Rp15.000/orang kalau mau tracking saja (Cimory Forest Walk). Atau Rp25.000 kalau mau juga ke tempat ikan (Monster Aquarium).

IMG20181229162524
Loket Tiket Forest Walk Cimory

Tracking di Cimory itu sedap di mata, apalagi buat orang Jakarta yang jarang lihat pohon dan sungai. Jembatan untuk menyeberangi sungai-nya bagus dan banyak dijadikan tempat foto-foto. Sungainya juga bersih.

IMG20181229161546
Tiket masuk Cimory Forest Walk dan Monster Aquarium Rp25.000

Nah kalau yang di tempat ikan, ada beberapa koleksi. Yang menarik adalah ada beberapa kolam yang kita boleh masukkan tangan ke dalamnya. Misalnya kolam bintang laut, kolam belut (boleh nangkap belut, tapi dilepas lagi), dan yang paling seru kolam ikan kecil-kecil yang suka gigitin kulit mati. Saya lupa ikan apa itu, yang biasanya buat terapi di kaki.

Habis jalan-jalan, makan dulu di Cimory. Pilihan makanannya ada banyak, termasuk makanan-makanan barat. Yang susah itu kalau mau dapat tempat duduk di pojok biar bisa lihat pemandangan sungai lebih jelas. Saya reserved dulu, sambil makan es krim, terus 5 menit kemudian dipanggil dan dapat kursi di pinggir.

Saya pesan Mixed Yong Tofu. Kirain porsinya kecil kayak beli bakso, ternyata banyak dan ngenyangin. Sambil makan sambil lihat sungai, wah adem. Total makan kami bertiga habis hampir dua ratus ribu.

IMG20181229173837 (1)
Mixed Yong Tofu Cimory Riverside

Pulang ke hotel naik angkot lagi. Dari kamar hotel, ada teras ke luar yang pemandangannya sawah. Terdengar suara jangkrik dan kodok. Udaranya adem. Enak banget buat menenangkan pikiran.

Besoknya, kami pulang dengan jalur yang sama: Cisarua – Sukasari – St Bogor – St Tanah Abang – St Pondok Ranji. Sempat beli roti maryam di St Bogor buat nyemil.

 

 

Pengeluaran:

Kereta Pondok Ranji-Bogor (3 org PP) Rp42.000

Angkot St Bogor-Sukasari (3 org PP) Rp24.000

Angkot Sukasari-Ciasurua (3 org PP) Rp48.000

Hotel Pesona Anggraini (1 malam) Rp332.000

Makan siang dekat hotel Rp70.000

Angkot Cisarua-Cimory (3 org PP) Rp20.000

Makan di Cimory Rp190.000

Es krim 3 cup Rp60.000

Jalan-Jalan Cimory (3 org) Rp75.000

Sarapan dekat hotel Rp70.000

Roti Maryam Rp25.000

TOTAL 956.000

 

Tips:

  1. Sebelum naik angkot, pastikan tujuannya dengan supir, misal: Sukasari ya Pak?
  2. Bawa kipas atau sesuatu buat ngipas, karena kalau macet, angkot itu panas
  3. Bawa air buat hilangkan haus di jalan
  4. Beri bintang di titik-titik yang akan dilewati di Google Maps, lalu pantau selama perjalanan
  5. Cari info buka tutup jalur puncak

Ingin Keliling Lagi

Sekarang usia saya 32 tahun. Sudah punya anak satu. Istri juga satu. Tapi gejolak jalan-jalan masih seperti anak umur dua puluhan, yang belum punya anak istri. Tiba-tiba terbayang kembali perjalanan saya waktu umur 25 tahun, setahun sebelum nikah.

Waktu itu, yah biasalah, anak muda baru kerja, punya uang sedikit maunya jalan-jalan. Saya ikutan komunitas Backpacker Indonesia. Tapi kadarnya rada kronis. Sampai keluar kerjaan untuk jalan-jalan keliling Sumatera selama tiga bulan. Sendirian.

Runut dari Lampung lewat jalur tengah dan barat, sampai Aceh. Pulangnya lewat jalur timur: Kepri, Babel. Sepuluh Provinsi, sekitar lima puluh kota atau wilayah. Itu Desember 2011 sampai Maret 2012. Pakai carrier kalau gak salah yang ukuran 60 L. Salah satu isinya adalah laptop dan buku kecil, karena sambil menulis catatan-catatan selama perjalanan.

Perjalanan saya waktu itu, menurut saya yang hari ini, sangat koboi. Tidak berpikir panjang tentang risiko yang mungkin muncul. Walaupun memang ada waktunya kita lebih baik tidak berpikir panjang. Kalau dipikir panjang-panjang mungkin malah gak jadi berangkat waktu itu.

Karena punya banyak keterbatasan, maka saya menerapkan beberapa aturan dalam perjalanan. Tidak ada budget untuk tidur di penginapan, harus di tempat yang gratis. Kalau jaraknya masih di bawah 5 km, harus jalan kaki, tidak boleh naik angkutan berbayar. Tidak boleh beli minum, harus minta.

Dengan aturan-aturan itu, saya jadi terbiasa untuk: tidur di masjid, tidur di pinggir pantai, rajin silaturahim ke teman level 3 (Si C: ketika saya punya teman A, A punya teman B, B punya teman C) yang bertempat di Sumatera, memulai dengan berbasa-basi, berkawan dengan semua orang yang ditemui, jalan kaki tanpa google maps, hitchhike AKA nebeng, kipas-kipas kepanasan, tidak malu minta air ke warung-warung, dan minum air keran di masjid.

Perjalanan itu sangat tidak saya sesali, bahkan saya merekomendasikan anak-anak muda yang belum menikah untuk melakukannya juga. Karena apa? Cuek aja, hehe. Karena bagus sekali untuk menempa kemandirian, softskills. Bagus sekali untuk menambah wawasan, menambah perspektif. Saya setuju dengan pendapat: pikiran kita akan semakin terbuka kalau bertemu dengan orang yang semakin berbeda. Semakin berbeda, semakin bagus. Berbeda bisa dari banyak hal: Pendidikan, kebudayaan, agama, gaya hidup, pekerjaan, umur, dsb….

Setiap sampai di suatu tempat baru, saya selalu membaur sebaur-baurnya. Langsung ngobrol dengan warga lokal. Utamanya untuk membuat zona aman. Semakin orang tahu siapa kita, tahu bahwa kita tidak punya niat jahat, maka dia akan semakin melindungi kita. Itu salah satu kesimpulan saya dari perjalanan.

Saya berenang di tiga danau besar di Sumatera: Toba, Maninjau, Singkarak; mendaki gunung Tujuh, sebelahnya Kerinci, karena waktu itu Kerinci porternya mahal banget: Rp300 ribu per hari; merasakan diseruduk anak gajah di Way Kambas dan mendengar langsung konflik antara gajah dan warga; merasakan konflik tanah di pulau-pulau kecil; naik kereta api di Lampung, Sumsel, dan Sumut; menghadiri pesta pernikahan orang tak dikenal; mencoba makanan-makanan yang sampai sekarangpun tidak tahu itu apa; mendengar suara aneh di hutan; mencoba kopi aceh, mandailing, lampung, belitong; makan nasi padang di padang; makan mie aceh di aceh; makan martabak bangka di bangka; pesta durian; dst…

gajah penyeruduk
Anak Gajah di Way Kambas, si penyeruduk

Ada satu waktu ketika di Siberut (Kepulauan Mentawai), yang untuk ke sana perlu naik kapal kayu dari Padang selama 10 jam, yang kapalnya goyang-goyang diterjang badai dan kayunya berdecit bunyi kretek kretek seperti mau terbelah dua, saya kenalan dengan seorang anak muda bernama Niko Sagaileppa. Diajak ikut ke tempatnya di Saibi, saya ikut. Itu adalah daerah tanpa sinyal, tanpa listrik, dan masih banyak warga bertato garis-garis melingkar, mungkin suku asli Siberut. Seorang di antaranya datang mengajak saya ngobrol dengan Bahasa yang saya kurang pahami. Lewat penterjemah, akhirnya saya paham bahwa dia bilang: dulu orang baru seperti saya, kalau tidak kenal orang lokal, dimakan sama suku asli, karena dulu mereka kanibal. Saya langsung pingin pulang.

Nias
Sulitnya sinyal di pedalaman Mentawai

Ada satu waktu saya betul-betul merasa kesepian dan menjadi begitu dekat dengan Allah, dan pasrah kalau memang saya harus mati ya matilah. Yaitu ketika bermalam di sebuah keramba jaring apung di Pulau Balai (Kepulauan Banyak). Tidur di atas keramba itu berarti tidur mengikuti gelombang laut. Jam 1 malam tiba-tiba badai datang. Keramba naik turun tak karuan. Air laut masuk ke keramba membasahi pakaian. Saya pikir tsunami, tapi ternyata itu hanya badai yang memang hampir setiap malam datang.

Ada satu waktu di Pulau Hinako (baratnya Pulau Nias), saya disambut baik oleh warga lokal, lalu disuruh makan ikan tuna sepuasnya. Ikan tuna yang dibeli dengan harga Rp20 ribu per kilogram. Tidur dikelambui. Warga di sini masuk dalam kategori miskin versi Badan Pusat Statistik (BPS) karena pengeluarannya tidak lebih dari Rp200.000/bulan/orang, tapi saya tidak melihatnya demikian. Mereka punya lautan penuh ikan, tidak akan kelaparan. Mereka punya tetangga-tetangga yang saling peduli, saling mengamankan, tidak perlu iuran satpam.

Bukannya sombong (tapi belagu, hehe), kalau ada yang posting foto tempat wisata di Sumatera, hampir semua saya pernah singgahi. Yang singgah di kepala saya paling lama justru bukan tempat wisatanya, tapi orang-orang yang saya temui, pikiran-pikiran mereka, kesederhanaan mereka, konflik-konflik yang mereka hadapi.

Catatan-catatan saya selama perjalanan, saya rapikan dan kirim ke penerbit. Gramedia menerimanya, lalu terbit di akhir 2012 dengan judul Keliling Sumatera Luar Dalam. Beberapa email pembaca masuk, itu yang paling seru: ada pembaca yang mau berdiskusi tentang buku yang kita tulis.

Buku gramed
Buku Keliling Sumatera Luar Dalam

Lalu ada telepon masuk, dari seorang pembaca, yang belakangan saya tahu bahwa dia adalah bos travel kondang. Dia pernah menjalani petualangan seperti yang saya lakukan, ketika dulu masih kuliah di ITB, puluhan tahun lalu, dengan beberapa nama yang saya kenal sebagai gubernur dan politikus. Bos ini mengajak ketemuan di rumahnya di komplek perumahan menteri di daerah Komdak.

Ngobrol sana sini, akhirnya saya tangkap keinginannya: ikut bersamanya bertualang menyusuri jalur sutera, berawal di Istambul. Lalu menuliskan perjalanan tsb. Kalau saya OK, dia akan sponsori semuanya, termasuk perizinan di negara-negara yang akan dilewati. Sayangnya saya tolak, karena ke-cemen-an saya menghadapi ancaman kantor: sepulangnya dari jalur sutera, belum tentu ada pekerjaan lagi buat saya. Itu salah satu penyesalan terbesar.

Saya ingin merasakan pengalaman sumatera itu lagi. Masih kuat gak ya? Kelihatannya Nusa Tenggara bagus….

Kopi ya Solong

IMG20181124064422Rasanya saya perlu tulis tentang Warung Kopi Solong yang terkenal di Banda Aceh. Bisa dibilang, ini adalah warung kopi yang paling terkenal di Aceh. Kopinya menurut saya murah, yaitu hanya Rp7.000 per gelas kopi hitam saring. Tapi menurut saudara saya yang tinggal di Aceh, segitu mahal, karena rerata harga kopi di Banda Aceh itu Rp5.000, malah ada yang Rp4.000.

IMG20181124064647
Segelas Kopi Aceh di Solong Coffee, Rp7.000

Itu adalah harga ketika kunjungan saya terakhir ke Solong 25 November 2018. Setiap mampir Banda Aceh, saya selalu mampir Solong. Mungkin sudah sejak belasan tahun lalu. Rasanya gak banyak yang berubah dari Solong.

IMG20181124070742
Jenis-jenis sajian kopi di Solong Coffee beserta harganya

Letaknya di Simpang Tujuh, Ulee Kareng. Gampang lah ke sana, banyak orang yang tahu. Yang tidak tahu malah perlu dipertanyakan ke-Aceh-annya. Saya ke Banda Aceh naik travel dan minta turun di Solong.

IMG20181124064635
Nasi Gurih di Solong, dengan telur, Rp10.000

Pesan sepiring nasi gurih dengan telur dadar, harganya Rp10.000. Pesan kopi saring harganya Rp7.000. Juga makan sepotong kue talam khas Aceh seharga Rp2.000. Jadi total makan saya pagi itu Rp19.000.

IMG20181124064657
Kue talam di Solong Coffee
IMG20181124071036
Bubuk Kopi Solong

Ohya, saya juga beli kopi Robusta ukuran 250g seharga Rp30.000. Sebetulnya ada banyak pilihan kopi bubuk yang dijual. Arabika rata-rata Rp75.000 per 250g. Ada yang specialty Rp100.000 per 250g, tapi aromanya harum banget dari luar sudah tercium.