Takengon: Keliling Lut Tawar

IMG20190217070343
Danau Lut Tawar dan Kota Takengon, difoto dari Pantan Terong

Aceh punya danau yang cukup besar dan bagus, yaitu Danau Lut Tawar. Sekeliling Danau ini sebagian besar adalah perbukitan hijau. Satu sisi di barat danau, yang daratannya agak datar, merupakan Kota Takengon. Nah, saya berenam, satu mobil, mengelilingi danau ini pada Sabtu 16 Februari 2019.

Jalannya bagus, aspal. Rata-rata mulus. Sebagian kecil saja yang berlubang. Sebagian lagi terlihat longsoran menutupi sebagian jalan. Longsor di dan menuju Takengon bukanlah berita heboh. Sudah sering terjadi.

Kami sampai Takengon sekitar jam 9 pagi, langsung mencari sarapan di pinggir danau. Dapatnya di kafe One One (nemu di jalan). Awalnya saya kira bacanya “wan wan”, tapi teman saya yang orang lokal bilangnya “O-ne O-ne”.

IMG20190216092815
Kafe One One Takengon: Lobster ditangkap setelah dipesan

Ini tempat makan memuaskan sekali. Ikan dan lobster yang dipesan segar. Setelah pesan, baru diambil dari kolam dan dimasak. Awalnya saya berimajinasi lobster yang dimaksud adalah lobster besar sepenuh piring, rupanya lobster kecil (sama udang bedanya apa sih?). Saya pesan nasi goreng lobster. Harganya hanya Rp25.000. Itu sudah puas makan 4 anak lobster.

IMG20190216100938
Kafe One One Takengon: Nasi goreng lobster Rp25.000

Penasaran, kok bisa sangat murah. Saya tanya ke yang nangkap lobster buat dimasak, katanya lobster itu ditangkap dari danau pakai bubu, semacam perangkap. Jadi ya gak modal. Maka murah.

Puas sekali kami makan di One One. Semua enak. Semua murah.

Lanjut lagi ke Dermaga Nosar. Kalau dicari di google maps judulnya: Dermaga Wisata Teluk Suyen Bamil Nosar. Ini dermaga buatan yang memang untuk menggaet wisatawan. Tapi sayangnya tidak ada karcis masuk. Pungutan parkir mobil Rp10.000 dan biaya masuk Rp2.500/orang itu semua tanpa karcis dan dipungut oleh…. Siapakah dia? Tidak berseragam. Sepertinya anak muda lokal.

IMG20190216161007
Dermaga Nosar, Takengon

Bagus nih di Nosar, buat foto-foto, juga buat menenangkan pikiran. Kalau sudah sore, air berombak kecil, jadi suara gemericiknya semakin terasa, semakin syahdu.

Lanjut lagi, di ujung timur ada yang namanya Pantai Menye. Ini danau rasa pantai. Memang nyatanya terlihat seperti pantai, ada ombak kecil yang berlomba ke tepian danau. Anginnya pun kuat. Saya hanya lewat saja di sini, dengan gas pelan, jadi bisa menikmati pantainya. Waktu lewat, saya tidak melihat ada yang berenang. Dulu, tujuh tahun lalu, saya pernah ke sini juga. Salah seorang saudara melarang saya berenang. Tidak dijelaskan alasannya. Saya baca-baca, alasannya mistis.

Kami lanjutkan perjalanan. Sayangnya ada yang terlewat: Ujung Paking. Katanya sih ada plang besar, tapi kami tidak ada yang lihat. Jadi bablas.

Ada beberapa tempat lagi sebagai view point danau. Tapi kami sudah “mabok” foto danau, sudah terlalu banyak, jadi hanya dilewatkan dengan gas pelan saja, misalnya: Pantai Ujung Senang, Pantai Ketibung.

Kembali ke kota, mencari penginapan. Dapat di dekat pasar inpres, namanya Wisma Nacara. Dia punya belasan kamar. Kamar yang dua kasur single tarifnya Rp150.000/malam. Tidak ada AC, dan memang tidak perlu. Kamar mandi dalam, dengan toilet jongkok.

Malamnya kami ngopi di Galeri Kopi Indonesia, sekitar 5 kilometer dari kota. Tempatnya masuk satu gang kecil, pas buat lewat satu mobil. Awalnya gak yakin, apa betul jalannya? Karena kok semakin sepi. Kami hanya ikuti google (semua perjalanan kami di Takengon diarahin google). Tapi ternyata memang di ujung dia. Sesuailah sama google maps nya: Galeri Kopi Indonesia.

IMG20190216210921
Galeri Kopi Indonesia: order di sini

Tempatnya keren banget! Dia di tengah-tengah kebun kopi. Pesannya di depan. Terus kita cari tempat untuk duduknya. Mereka punya semacam saung tapi di tempat yang agak tinggi. Kita harus semacam memanjat pohon terlebih dahulu. Sebelum memanjat, kita juga akan melewati kebun kopi dulu. Agak jauh dari imajinasi saya yang mengaggap galeri kopi ya ruangan modern dengan jenis-jenis kopi dalam toples. Ternyata galerinya ya kopi betulan, pohon betulan. Keren!

Saya pesan kopi wine. Ini harganya rada mahal dibanding yang lain, yaitu Rp30.000. Tapi rasanya memang enak. Disajikan dalam gelas ukur, jadi saya berasa sedang praktikum kimia. Dikasih gelas kecil buat minum sedikit-sedikit, seperti espresso gitu (cara minumnya). Saya gak pernah minum wine, tapi kalau kopi wine aja enak, apalagi wine betulan… Gitu kali ya? Nanti saja minumnya, insya Allah di surga.

IMG20190216215517
Galeri Kopi Indonesia: Kopi wine disajikan dalam gelas ukur

Pas petugasnya datang membawa kopi pesanan kami, agak bingung dengan penampakannya. Teman saya ada yang pesan Vietnam drip, ada yang sanger. Kan sama-sama tuh warnanya, rada cokelat muda. Biasanya Vietnam drip kan ada saringannya. Yang ini enggak. Makanya kami bingung, lalu bertanya ke petugas pembawa, “Yang Vietnam drip yang mana?” Santai saja dia jawab: enggak tahu.

Kami mengampuni petugas itu, karena dia masih muda, muda sekali, mungkin SMP. Pekerja di bawah umur kah?

Teman saya yang kelaparan, selain ngopi, juga nge-mie. Jadi, ada mie juga di sini. Ada juga nasi goreng. Ada juga cemilan macam-macam.

Hari itu selesai dengan kopi.

Besoknya, 17 Februari 2019, tepat setelah subuh, kami tancap ke Pantan Terong, yang disebut-sebut sebagai view point terbaik di Takengon. Dan memang ini yang terbaik!

Saat itu, matahari belum muncul. Kota Takengon diselimuti kabut. Danau Lut Tawar bisa terlihat dalam satu frame dengan Kota Takengon. Saya sempat membuat video di sini.

Segera pulang, karena besok itu Senin, kembali ke nasib masing-masing.

Liburan ke Puncak Naik Angkot

Weekend lalu, saya sekeluarga naik kendaraan umum ke puncak untuk menghabiskan liburan. Tadinya agak ragu, kuat gak ya. Karena anak saya masih 4,5 tahun. Kuatir rewel di jalan gangguin orang. Ah coba jalani saja…

Sabtu 29 Desember 2018, istri dan anak saya jalan duluan ke Stasiun Pondok Ranji naik motor. Titip motor di sana, semalam tarifnya Rp15.000. Dari situ jam 8.30, naik kereta ke Tanah Abang. Lanjut naik yang ke Bogor. Ketemu saya di Stasiun Cawang.

Kalau bawa anak kecil, hampir selalu dapat kursi prioritas, jadi anak gak rewel. Malah asik ketiduran. Sampai Stasiun Bogor, kami ngetap kartu, kenanya Rp5.000 (Cawang-Bogor) dan Rp7.000 (Pondok Ranji-Bogor).

Lanjut naik angkot hijau 02 jurusan Sukasari. Ongkosnya Rp4.000/orang. Saya sempat kecele gak nanya dulu sama supirnya, ternyata dia hanya sampai Pasar Bogor. Nyambung lagi deh ke Sukasari.

Ada angkot biru jurusan Cisarua di Sukasari. Ongkosnya Rp8.000/orang. Nah udah deh tuh, tinggal pantau saja kita mau ke Cisarua-nya di mana. Kalau saya di Hotel Pesona Anggraini. Belum pernah ke sana. Baru tahu namanya juga pas pesan hotel di Traveloka. Saya sudah pesan empat hari sebelumnya, untuk kamar tanpa sarapan seharga Rp332.000/malam. Yang dicari sebetulnya yang murah dan ada kolam renangnya.

Sampai hotel jam 13.20. Siang siang kan tuh, tapi di hotel gak ada AC nya. Untung anginnya kencang, jadi tinggal buka jendela. Karena dari rumah jam 8.20 pagi, maka total waktu dari rumah ke hotal adalah 5 jam. Ini terhitung cepat karena dari Ciawi sampai Ciasurua bisa dibilang gak macet. Cuma tersendat sedikit.

IMG20181230123318
Pemandangan sawah dari kamar hotel Pesona Anggraini

Check In, taruh tas, langsung makan. Dekat hotel ada tempat makan Sunda. Terus anak langsung minta berenang, ya berenang.

Agak sore, turun ke Cimory yang Riverside, naik angkot juga, mungkin hanya 10 menit sudah sampai. Saya baru tahu di Cimory ternyata gak hanya ada tempat makan, tapi juga tempat jalan-jalan. Dulu pernah ke Cimory yang Mountain View, itu hanya tempat makan. Kalau yang di Riverside ada tempat tracking nya. Bayarnya Rp15.000/orang kalau mau tracking saja (Cimory Forest Walk). Atau Rp25.000 kalau mau juga ke tempat ikan (Monster Aquarium).

IMG20181229162524
Loket Tiket Forest Walk Cimory

Tracking di Cimory itu sedap di mata, apalagi buat orang Jakarta yang jarang lihat pohon dan sungai. Jembatan untuk menyeberangi sungai-nya bagus dan banyak dijadikan tempat foto-foto. Sungainya juga bersih.

IMG20181229161546
Tiket masuk Cimory Forest Walk dan Monster Aquarium Rp25.000

Nah kalau yang di tempat ikan, ada beberapa koleksi. Yang menarik adalah ada beberapa kolam yang kita boleh masukkan tangan ke dalamnya. Misalnya kolam bintang laut, kolam belut (boleh nangkap belut, tapi dilepas lagi), dan yang paling seru kolam ikan kecil-kecil yang suka gigitin kulit mati. Saya lupa ikan apa itu, yang biasanya buat terapi di kaki.

Habis jalan-jalan, makan dulu di Cimory. Pilihan makanannya ada banyak, termasuk makanan-makanan barat. Yang susah itu kalau mau dapat tempat duduk di pojok biar bisa lihat pemandangan sungai lebih jelas. Saya reserved dulu, sambil makan es krim, terus 5 menit kemudian dipanggil dan dapat kursi di pinggir.

Saya pesan Mixed Yong Tofu. Kirain porsinya kecil kayak beli bakso, ternyata banyak dan ngenyangin. Sambil makan sambil lihat sungai, wah adem. Total makan kami bertiga habis hampir dua ratus ribu.

IMG20181229173837 (1)
Mixed Yong Tofu Cimory Riverside

Pulang ke hotel naik angkot lagi. Dari kamar hotel, ada teras ke luar yang pemandangannya sawah. Terdengar suara jangkrik dan kodok. Udaranya adem. Enak banget buat menenangkan pikiran.

Besoknya, kami pulang dengan jalur yang sama: Cisarua – Sukasari – St Bogor – St Tanah Abang – St Pondok Ranji. Sempat beli roti maryam di St Bogor buat nyemil.

 

 

Pengeluaran:

Kereta Pondok Ranji-Bogor (3 org PP) Rp42.000

Angkot St Bogor-Sukasari (3 org PP) Rp24.000

Angkot Sukasari-Ciasurua (3 org PP) Rp48.000

Hotel Pesona Anggraini (1 malam) Rp332.000

Makan siang dekat hotel Rp70.000

Angkot Cisarua-Cimory (3 org PP) Rp20.000

Makan di Cimory Rp190.000

Es krim 3 cup Rp60.000

Jalan-Jalan Cimory (3 org) Rp75.000

Sarapan dekat hotel Rp70.000

Roti Maryam Rp25.000

TOTAL 956.000

 

Tips:

  1. Sebelum naik angkot, pastikan tujuannya dengan supir, misal: Sukasari ya Pak?
  2. Bawa kipas atau sesuatu buat ngipas, karena kalau macet, angkot itu panas
  3. Bawa air buat hilangkan haus di jalan
  4. Beri bintang di titik-titik yang akan dilewati di Google Maps, lalu pantau selama perjalanan
  5. Cari info buka tutup jalur puncak

Ingin Keliling Lagi

Sekarang usia saya 32 tahun. Sudah punya anak satu. Istri juga satu. Tapi gejolak jalan-jalan masih seperti anak umur dua puluhan, yang belum punya anak istri. Tiba-tiba terbayang kembali perjalanan saya waktu umur 25 tahun, setahun sebelum nikah.

Waktu itu, yah biasalah, anak muda baru kerja, punya uang sedikit maunya jalan-jalan. Saya ikutan komunitas Backpacker Indonesia. Tapi kadarnya rada kronis. Sampai keluar kerjaan untuk jalan-jalan keliling Sumatera selama tiga bulan. Sendirian.

Runut dari Lampung lewat jalur tengah dan barat, sampai Aceh. Pulangnya lewat jalur timur: Kepri, Babel. Sepuluh Provinsi, sekitar lima puluh kota atau wilayah. Itu Desember 2011 sampai Maret 2012. Pakai carrier kalau gak salah yang ukuran 60 L. Salah satu isinya adalah laptop dan buku kecil, karena sambil menulis catatan-catatan selama perjalanan.

Perjalanan saya waktu itu, menurut saya yang hari ini, sangat koboi. Tidak berpikir panjang tentang risiko yang mungkin muncul. Walaupun memang ada waktunya kita lebih baik tidak berpikir panjang. Kalau dipikir panjang-panjang mungkin malah gak jadi berangkat waktu itu.

Karena punya banyak keterbatasan, maka saya menerapkan beberapa aturan dalam perjalanan. Tidak ada budget untuk tidur di penginapan, harus di tempat yang gratis. Kalau jaraknya masih di bawah 5 km, harus jalan kaki, tidak boleh naik angkutan berbayar. Tidak boleh beli minum, harus minta.

Dengan aturan-aturan itu, saya jadi terbiasa untuk: tidur di masjid, tidur di pinggir pantai, rajin silaturahim ke teman level 3 (Si C: ketika saya punya teman A, A punya teman B, B punya teman C) yang bertempat di Sumatera, memulai dengan berbasa-basi, berkawan dengan semua orang yang ditemui, jalan kaki tanpa google maps, hitchhike AKA nebeng, kipas-kipas kepanasan, tidak malu minta air ke warung-warung, dan minum air keran di masjid.

Perjalanan itu sangat tidak saya sesali, bahkan saya merekomendasikan anak-anak muda yang belum menikah untuk melakukannya juga. Karena apa? Cuek aja, hehe. Karena bagus sekali untuk menempa kemandirian, softskills. Bagus sekali untuk menambah wawasan, menambah perspektif. Saya setuju dengan pendapat: pikiran kita akan semakin terbuka kalau bertemu dengan orang yang semakin berbeda. Semakin berbeda, semakin bagus. Berbeda bisa dari banyak hal: Pendidikan, kebudayaan, agama, gaya hidup, pekerjaan, umur, dsb….

Setiap sampai di suatu tempat baru, saya selalu membaur sebaur-baurnya. Langsung ngobrol dengan warga lokal. Utamanya untuk membuat zona aman. Semakin orang tahu siapa kita, tahu bahwa kita tidak punya niat jahat, maka dia akan semakin melindungi kita. Itu salah satu kesimpulan saya dari perjalanan.

Saya berenang di tiga danau besar di Sumatera: Toba, Maninjau, Singkarak; mendaki gunung Tujuh, sebelahnya Kerinci, karena waktu itu Kerinci porternya mahal banget: Rp300 ribu per hari; merasakan diseruduk anak gajah di Way Kambas dan mendengar langsung konflik antara gajah dan warga; merasakan konflik tanah di pulau-pulau kecil; naik kereta api di Lampung, Sumsel, dan Sumut; menghadiri pesta pernikahan orang tak dikenal; mencoba makanan-makanan yang sampai sekarangpun tidak tahu itu apa; mendengar suara aneh di hutan; mencoba kopi aceh, mandailing, lampung, belitong; makan nasi padang di padang; makan mie aceh di aceh; makan martabak bangka di bangka; pesta durian; dst…

gajah penyeruduk
Anak Gajah di Way Kambas, si penyeruduk

Ada satu waktu ketika di Siberut (Kepulauan Mentawai), yang untuk ke sana perlu naik kapal kayu dari Padang selama 10 jam, yang kapalnya goyang-goyang diterjang badai dan kayunya berdecit bunyi kretek kretek seperti mau terbelah dua, saya kenalan dengan seorang anak muda bernama Niko Sagaileppa. Diajak ikut ke tempatnya di Saibi, saya ikut. Itu adalah daerah tanpa sinyal, tanpa listrik, dan masih banyak warga bertato garis-garis melingkar, mungkin suku asli Siberut. Seorang di antaranya datang mengajak saya ngobrol dengan Bahasa yang saya kurang pahami. Lewat penterjemah, akhirnya saya paham bahwa dia bilang: dulu orang baru seperti saya, kalau tidak kenal orang lokal, dimakan sama suku asli, karena dulu mereka kanibal. Saya langsung pingin pulang.

Nias
Sulitnya sinyal di pedalaman Mentawai

Ada satu waktu saya betul-betul merasa kesepian dan menjadi begitu dekat dengan Allah, dan pasrah kalau memang saya harus mati ya matilah. Yaitu ketika bermalam di sebuah keramba jaring apung di Pulau Balai (Kepulauan Banyak). Tidur di atas keramba itu berarti tidur mengikuti gelombang laut. Jam 1 malam tiba-tiba badai datang. Keramba naik turun tak karuan. Air laut masuk ke keramba membasahi pakaian. Saya pikir tsunami, tapi ternyata itu hanya badai yang memang hampir setiap malam datang.

Ada satu waktu di Pulau Hinako (baratnya Pulau Nias), saya disambut baik oleh warga lokal, lalu disuruh makan ikan tuna sepuasnya. Ikan tuna yang dibeli dengan harga Rp20 ribu per kilogram. Tidur dikelambui. Warga di sini masuk dalam kategori miskin versi Badan Pusat Statistik (BPS) karena pengeluarannya tidak lebih dari Rp200.000/bulan/orang, tapi saya tidak melihatnya demikian. Mereka punya lautan penuh ikan, tidak akan kelaparan. Mereka punya tetangga-tetangga yang saling peduli, saling mengamankan, tidak perlu iuran satpam.

Bukannya sombong (tapi belagu, hehe), kalau ada yang posting foto tempat wisata di Sumatera, hampir semua saya pernah singgahi. Yang singgah di kepala saya paling lama justru bukan tempat wisatanya, tapi orang-orang yang saya temui, pikiran-pikiran mereka, kesederhanaan mereka, konflik-konflik yang mereka hadapi.

Catatan-catatan saya selama perjalanan, saya rapikan dan kirim ke penerbit. Gramedia menerimanya, lalu terbit di akhir 2012 dengan judul Keliling Sumatera Luar Dalam. Beberapa email pembaca masuk, itu yang paling seru: ada pembaca yang mau berdiskusi tentang buku yang kita tulis.

Buku gramed
Buku Keliling Sumatera Luar Dalam

Lalu ada telepon masuk, dari seorang pembaca, yang belakangan saya tahu bahwa dia adalah bos travel kondang. Dia pernah menjalani petualangan seperti yang saya lakukan, ketika dulu masih kuliah di ITB, puluhan tahun lalu, dengan beberapa nama yang saya kenal sebagai gubernur dan politikus. Bos ini mengajak ketemuan di rumahnya di komplek perumahan menteri di daerah Komdak.

Ngobrol sana sini, akhirnya saya tangkap keinginannya: ikut bersamanya bertualang menyusuri jalur sutera, berawal di Istambul. Lalu menuliskan perjalanan tsb. Kalau saya OK, dia akan sponsori semuanya, termasuk perizinan di negara-negara yang akan dilewati. Sayangnya saya tolak, karena ke-cemen-an saya menghadapi ancaman kantor: sepulangnya dari jalur sutera, belum tentu ada pekerjaan lagi buat saya. Itu salah satu penyesalan terbesar.

Saya ingin merasakan pengalaman sumatera itu lagi. Masih kuat gak ya? Kelihatannya Nusa Tenggara bagus….

Kopi ya Solong

IMG20181124064422Rasanya saya perlu tulis tentang Warung Kopi Solong yang terkenal di Banda Aceh. Bisa dibilang, ini adalah warung kopi yang paling terkenal di Aceh. Kopinya menurut saya murah, yaitu hanya Rp7.000 per gelas kopi hitam saring. Tapi menurut saudara saya yang tinggal di Aceh, segitu mahal, karena rerata harga kopi di Banda Aceh itu Rp5.000, malah ada yang Rp4.000.

IMG20181124064647
Segelas Kopi Aceh di Solong Coffee, Rp7.000

Itu adalah harga ketika kunjungan saya terakhir ke Solong 25 November 2018. Setiap mampir Banda Aceh, saya selalu mampir Solong. Mungkin sudah sejak belasan tahun lalu. Rasanya gak banyak yang berubah dari Solong.

IMG20181124070742
Jenis-jenis sajian kopi di Solong Coffee beserta harganya

Letaknya di Simpang Tujuh, Ulee Kareng. Gampang lah ke sana, banyak orang yang tahu. Yang tidak tahu malah perlu dipertanyakan ke-Aceh-annya. Saya ke Banda Aceh naik travel dan minta turun di Solong.

IMG20181124064635
Nasi Gurih di Solong, dengan telur, Rp10.000

Pesan sepiring nasi gurih dengan telur dadar, harganya Rp10.000. Pesan kopi saring harganya Rp7.000. Juga makan sepotong kue talam khas Aceh seharga Rp2.000. Jadi total makan saya pagi itu Rp19.000.

IMG20181124064657
Kue talam di Solong Coffee
IMG20181124071036
Bubuk Kopi Solong

Ohya, saya juga beli kopi Robusta ukuran 250g seharga Rp30.000. Sebetulnya ada banyak pilihan kopi bubuk yang dijual. Arabika rata-rata Rp75.000 per 250g. Ada yang specialty Rp100.000 per 250g, tapi aromanya harum banget dari luar sudah tercium.

 

Fort de Kock dan Sekitarnya

Yang berdiri kokoh melindungi musuh, bisa jadi di masa datang malah berdiri kokoh menjadi teman. Salah satunya adalah Benteng Fort de Kock di Sumatera Barat. Benteng ini menjadi saksi bisu ketika dirinya melindungi tentara-tentara Belanda yang berlindung dari serangan masyarakat Minangkabau. Terutama ketika terjadi Perang Paderi pada tahun 1821-1837.

Kini, Fort de Kock menjadi daya tarik wisata yang terus dijual pemerintah setempat untuk mendapatkan pendapatan daerah. Ia ada di brosur-brosur wisata dan di review banyak blog yang mudah kita dapatkan di google. Bangunannya tidak sebesar julukan “benteng” yang disandangnya. Ini karena Fort de Kock yang sekarang kita saksikan bukanlah Fort de Kock yang asli yang sudah hancur sejak lama. Namun, beberapa meriam masih terlihat di sekeliling benteng, meriam-meriam yang dulu menembaki warga minang.

IMG20180323180701
Benteng Fort de Kock, Bukittinggi

Berdekatan dengan benteng Fort de Kock, pada tahun 1900-an, Pemerintah Belanda membuatkan Kebun Bunga yang sedikit demi sedikit dimasukkan koleksi hewan. Banyak nama yang pernah disandang Kebun Bunga tersebut, sampai pada akhirnya menjadi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan atau lebih dikenal dengan nama Kebun Binatang Bukittinggi. Ini adalah salah satu kebun binatang tertua di Indonesia dan satu-satunya di Sumatera Barat.

Fort de Kock dan Kebun Binatang Bukittinggi dihubungkan dengan jembatan cantik bernama Jembatan Limpapeh. Tiga tempat wisata tersebut—Benteng Fort de Kock, Kebun Binatang Bukittinggi, dan Jembatan Limpapeh—tidaklah berjauhan dengan icon Sumatera Barat: Jam Gadang.

Jadi kalau mau wisata ke Bukittinggi, mudah saja, karena tempat wisatanya ada di lokasi yang berdekatan.

Cuma yang saya masih agak heran, kelihatannya bangunan yang selalu ditunjuk orang sebagai Benteng Fort de Kock, bukanlah benteng Fort de Kock yang sebenarnya. Itu terlalu kecil untuk disebut sebagai sebuah benteng. Memang di bagian atasnya dan di sekelilingnya terdapat beberapa meriam yang tidak mungkin diangkat oleh seorang dewasa, tapi itu buat saya hanya sekadar pemanis. Benteng seharusnya tidak sesederhana itu.

IMG20180323180159
Jembatan Limpapeh

Maka saya berasumsi, benteng yang sesungguhnya sudahlah runtuh akibat perang. Yang ada sekarang hanyalah sebagian kecil bangunan yang tersisa.

Agak beda ketika saya berkunjung ke benteng ini tujuh tahun lalu, saat ini, 2018, sudah ada tulisan besar Fort de Kock. Tulisannya lebih manis dari bangunan yang disebut benteng. Malah lebih bagus ber-swafoto di tulisannya daripada di bangunannya.

Juga ada semacam kursi ayunan, yang suka ada di pesta-pesta pernikahan. Kursi bamboo rajutan berbentuk seperti sarang burung, yang diikat bagian atasnya ke tiang penyangga yang bertumpu ke dasar. Mudah-mudahan kebayang ya…

Mungkin hanya satu jam saya di dalam Fort de Kock, lantas kembali pulang.

Nyicip Kereta Api Aceh

Minggu 7 Oktober 2018 saya iseng-iseng cobain naik kereta di Aceh. Kebetulan lagi main ke rumah kakek di Krueng Mane (masih sekitar 30 menit naik mobil ke Utara Lhokseumawe, Aceh). Stasiun Krueng Mane itu berjarak sekitar 20 menit jalan kaki dari rumah kakek.

IMG20181007090536
Stasiun Krueng Mane

Sudah jam 9 pagi tapi suasana Stasiun Krueng Mane masih sepi, padahal kereta berangkat jam 9.15. Hanya ada saya dan seorang ibu-ibu (menjelang nenek-nenek). Harga tiketnya Rp1.000. Ini yang benar saja, harga tiketnya serius hanya seribu perak? Si petugas wanita muda mengulang lagi, “Tiketnya seribu.” Lanjutkan membaca “Nyicip Kereta Api Aceh”

Camping di Pulau Pari Bersama Keluarga

Ini adalah catatan perjalanan saya bersama anak (4 tahun) dan istri ke Pulau Pari pada 15-16 Agustus 2018.

IMG20180915113132
Pulau Pari

Sejak sebelum subuh kami sudah berangkat naik motor ke Dermaga Pelabuhan Kali Adem Muara Angke. Parkirannya nempel langsung dengan pelabuhan yang isinya kapal-kapal ke Pulau Seribu. Ongkos parkir 24 jam pertama Rp25.000 plus tambahan Rp1.000/jam kalau lewat dari 24 jam. Lanjutkan membaca “Camping di Pulau Pari Bersama Keluarga”