Save The Earth

save our earth!!!
save our earth!!!

19 April kemarin, gw ikutan acara Green Festival di Parkit, Senayan. Dulu, tempat ini terkenal banget jadi tempat nongkrong2 or belanja2nya anak muda Jakarta coz segala macam barang bajakan bermerk ada di sini, tapi udah sekitar empat tahun ini PKL2 dibersihkan, sekarang jadi sering dibuat acara2 pameran.

Kalo masuk dari depan, pamerannya ngasih info2 yang bertebaran di mana2. Sebetulnya info2 ini gak baru2 amat, gw sering dapat info yang sama di email or bulletin board FS. Info yang baru dan menggugah menurut gw: Sepanjang 2006, tiap hari mobil bertambah 180 biji dan motor 1800 biji. Dengan begitu, diprediksi pada 2015 nanti, semua jalan di Jakarta macet dari depan rumah..hohooo…

Ada yang ngasih solusi dengan kampanye ”nebeng”. Jadi, ada komunitas nebeng yang terdaftar di nebeng.com. Anggota komunitas (berjumlah puluhan ribu orang) yang dari Jabodetabek dan punya jalur kantor searah bisa bareng2 berangkat dan pulangnya. Ini udah berjalan tiga tahun dan masih berjalan.

Ada juga inovasi yang baru gw denger: plastik yang terbuat dari singkong. Pastinya supaya lebih gampang terdegradasi di tanah. Bentuknya sama persis dengan plastik2 pada umumnya. Kata sang penjaga stand sih harganya lebih murah dari plastik konvensional. Tapi koq masih dikit yang make? Penjaga standnya yang sok tau apa masyarakatnya yang oon ya?

Atraksi di panggung juga menarik. Ada sekitar 10 anak SD yang main instrumentasi biola sambil make kaos bertuliskan Save The Earth. Beeehhh… mantab dah!

Berhubung waktu itu hari Sabtu dan udah sore juga, gw pulanglah…Males ngeliatin muda mudi bergaya dengan pasangannya yang selalu memasang tampang *kamulah segalanya untukku oh sayang…*

Satu doktrin yang kebawa sampe sekarang: kendaraan pribadi berpenumpang pribadi ngasilin emisi berkali-kali lipat dibanding kendaraan umum. Jadi, jangan sungkan2 untuk naik bis/angkot. Kalo udah kebiasaan make kendaran pribadi, gw punya tips buat menghilangkan kebiasaan itu: tabrakkanlah mobil/motor lo itu (klo bisa tangannya jangan sampe patah), dengan begitu, lo terpaksa ngangkot, hehe…

Iklan

“Gak Lillahi Ta’ala lo!”

Waktu itu, 20 April 2008, saya berjalan dari perempatan Cawang ke arah jembatan UKI untuk naik bis ke Bogor. Seorang ibu berumur 40an memanggil saya. Dia meminta uang Rp300 untuk ongkos angkot ke Rawa Sari. Setahu saya, itu di daerah Rawa Mangun, berlawanan arah dengan arah jalan saya. Ibu itu harus menyebrang dulu untuk bisa naik angkot ke arah Rawa Sari.

Sebelumnya, saya pernah dimintai uang oleh Bapak2 tua yang katanya kehabisan ongkos. Ternyata Bapak tua itu bohong. Ketika saya tawarkan bantuan untuk mengantar langsung ke rumahnya di Sukabumi, dia menolak.

Nah, ketika Ibu2 itu mengaku kehabisan ongkos, saya teringat Bapak2 tua yang bohong itu. Berikut percakapan yang terjadi dengan Ibu2 Pencari Ongkos (IPO):

IPO: Maaf de’…

IQB: Kenapa Bu?

IPO: Saya mau balik ke Rawa Sari de’…Minta uang tiga ratus de’, lillahi ta’ala

IQB: Rawa Sari yang di Rawa Mngun itu ya Bu?

IPO: Iya

IQB: Saya antar yuk Bu, kita nyebrang dulu…*berdoa IPO itu menolak tawaran saya*

IPO: Ahh…gak percaya amat sih…gak lillahi ta’ala lo!!

IQB: *lohh??*

Hehe, itu bisa jadi tips ampuh buat ngecek IPO/BPO itu bohong atau nggak. Tapi Anda harus menerima risiko mengantarkan IPO/BPO ke tempat tujuan. Tapi gak juga sih. Anda bisa pura2 mendapatkan telepon lalu acting cemas sambil ngomong: Waduhh, koq dadakan sih rapatnya? Iya, saya segera ke sana… Terus, pasang muka kecewa ke IPO/BPO. Silakan mencoba!

Swadaya X Project

kecelakaan bisa mengubah cara pikir kita
kecelakaan bisa mengubah cara pikir kita

29 Feb 08. Saya mempunyai niat mulia: silaturahim dengan sanak saudara, handai taulan, dan kerabat di Jakarta. Baru sehari sebelumnya selesai penelitian, jadi, sekalian refreshing.

Sasaran pertama dan utama: rumah berplat Swadaya X no10. Tapi, berbagai halangan, cobaan, dan rintangan membuat proyek itu, yang sewajarnya selesai dalam 3 jam, baru bisa selesai sembilan hari kemudian.

Vespa putih seperti tidak mau diajak kompromi ketika diperintahkan menggerakkan kanvas remnya di bilangan kalimalang. Malang sekali memang. Setelah menabrak motor dari arah berlawanan, saya terpental ke kaca depan ”City” kemudian dihantam lagi dengan motor. Semua dari arah yang berlawanan. Tidak ada kepanikan sama sekali dalam diri saya ketika itu. Orang-orang di jalan berdatangan memberikan barang-barang milik saya yang terpental: MP3 player, helm, dan sebongkah vespa putih.

Saat itu, mata saya terbuka tapi tidak bisa melihat apapun selama 5 menit. Saya pikir mata ini sudah tidak bisa digunakan lagi. Rasanya, seperti tidak ada kekuatan lagi yang tersisa untuk sekedar berdiri.

Siksaan berupa cacian tidak henti-hentinya keluar dari mulut seorang Bapak dan Anak yang saya tabrak motornya. Tapi kepanikan masih belum datang. Saya masih bisa berpikir jernih untuk menelepon orang tua. Lima belas menit kemudian, Ayah datang. Cepat sekali beliau menetralisir keadaan. Kami semua, pelaku (baca:Iqbal) dan korban, segera menuju RS Harum. UGD di sana sigap. Dalam lima menit, semua luka sudah dibaluri dengan betadine. Suntik tetanus juga sudah dilakukan.

Setelah meraba seluruh bagian tubuh, sepertinya hanya lecet-lecet biasa saja, tapi tangan kanan saya tidak bisa digerakkan. Jari-jari yang masih bisa digerakkan membuat saya berpikir itu hanya keseleo biasa. Dokter menyarankan rontgen. Ternyata hasilnya patah cukup parah. Barulah kepanikan melanda. Terpikir jutaan uang yang harus dikeluarkan keluarga saya. Air mata mulai berjatuhan…

Keputusan harus cepat diambil, pengobatan kedokteran atau alternatif. Alternatif jadi pilihan karena lebih murah dan tidak akan berbekas karena tidak ada pembedahan seperti pengobatan kedokteran.

Guru Singa yang beruntung mendapat kesempatan mengobati saya. Setelah membereskan administrasi untuk saya dan orang2 yang saya tabrak, kami bergegas ke Guru Singa. Sesampainya di sana, tanpa basa-basi, saya langsung dibawa ke ruang eksekusi. Perihnya tiga menit pijitan rasanya melebihi perih yang ada selama 21 tahun hidup. Jauh lebih sakit daripada sepuluh kali sunat. Percayalah! Saya memproduksi jeritan terbesar seumur hidup. Mungkin itu bisa membuat orang-orang yang mendengarnya berpikir ratusan kali untuk lebih menjaga tulangnya.

Seperti rumah sakit pada umumnya, Yayasan Guru Singa juga menyediakan puluhan kamar, bahkan mungkin mencapai ratusan, untuk rawat inap, dengan level-level tertentu juga. Saya menyewa kamar dengan fasilitas AC dan TV (level menengah). Biaya sewanya Rp 150.000 per malam, hampir sama dengan sewa kamar di RS.

Ratusan SMS dan puluhan telepon berdatangan. Itulah hiburan untuk orang yang terkapar di ruang rawat inap. Lebih terhibur lagi jika ada yang datang menjenguk. Tetangga, saudara, dan teman-teman datang menjenguk mulai dari hari pertama. Sampai hari terakhir, ada saja yang datang menjenguk. Jarak tidak membuat teman-teman saya di asrama dan di Koran Kampus untuk datang sekedar untuk mengajak ngobrol. Di titik itu, saya baru tahu bahwa perhatian-perhatian seperti itulah yang sangat diperlukan oleh orang sakit. Mungkin bagi mereka yang menjenguk itu suatu hal yang biasa. Tapi tidak demikian bagi si sakit. Saya harus membalasnya suatu saat nanti.

Proyek ini sepertinya menampar saya karena selama ini kurang peduli dengan Orang Tua. Padahal, ketika dalam kondisi seperti ini, merekalah yang pertama kali maju. Ayah saya meninggalkan pekerjaannya selama sembilan hari hanya untuk merawat saya.

Walaupun tidak berjalan sesuai rencana, tapi proyek ini sudah mencapai tujuannya, bahkan melampaui tujuan awal: silaturahim. Terima kasih Tuhan, Engkau memang selalu punya cara brilliant.

Every Ending is A New Beginning

setiap ujung jaringan meristem akan selalu tumbuh tanpa henti, tidak ada akhir dan awal
setiap ujung jaringan meristem akan selalu tumbuh tanpa henti, tidak ada akhir dan awal

Weekend kemaren ada semacem acara perpisahan anak2 jurusan gw yg seangkatan, walaupun masih bisa sering ngumpul di kampus tapi kyknya gak akan kekumpul sebanyak kemaren deh coz rata2 udah pada beres kuliah, tinggal penelitian ajah… Di acara itu qta semua nginget2 dulu ketemuan pertama gimana, sifat2 unik diblow up semua, sampe gosip2 kecil yg gak pernah kedengeran juga dibuka di situ… Rasanya 4 tahun kuliah bareng udah bikin qta pada deket, udah tauk sifat bagus dan jelek dari tiap anak…

Saat itu, mungkin banyak yg punya prediksi siapa2 aja yg bakal sukses, tapi coba diinget2, temen2 TK, SD, SMP, or SMA lo dulu gimana sekarang gimana… Gw punya temen di SMA yg dulu amit2 o’onnya setengah mati, tapi sekarang mungkin dia udah jadi yg paling berhasil dari segi materi dengan bisa kuliah keluar dan udah berpenghasilan 10jt/bulan yg masih dia bilang belum apa2… Ada jg temen gw anak rohis di SMA, dulu alim bgt, malah sampe masuk organisasi islam cakupan Indonesia, tapi sekarang boro2 ikut organisasi islam, kerjaannya pacaran sama ngerokok mulu… Ada lagi temen SMP gw yg secara materi mungkin dia yg paling lemah, sampe gak sanggup buat nerusin ke SMA reguler, tapi di titik ini, di saat temen2 SMP angkatannya pada masih sibuk ngampus, dia udah kerja di Jepang dengan posisi yg lumayan banget… Nah…mungkin banyak juga temen2 lo yg punya cerita berkebalikan kyk di atas…

Jalan hidup kyk gitu mungkin karena ending jelek dia di satu alur bikin dia ngotot buat bikin beginning yg hebat atau malah kebalikannya…

Beres kuliah itu cuma bikin ngelewatin satu ending untuk nyiapin d next beginning… Karena every ending is a new beginning

Masih ada banyak alur lain yg kalo qta punya umur harus qta hadepin: kerja, nikah, punya anak, ngebesarin anak, ngebesarin Negara, pensiun, punya cucu, dst… setiap ending dari macem2 alur itu sangat mungkin untuk gak sejelek atau gak sebagus ending yg sekarang…

Ada yg bilang, orang o’on kalah sama orang pinter, orang pinter kalah sama orang cerdas, tapi orang cerdas kalah sama orang beruntung… Mungkin itu yg bikin ending qta sangat relatif di tiap alurnya…

XS Project

sampah dijadikan bahan daur ulang, kenapa tidak?
sampah dijadikan bahan daur ulang, kenapa tidak?

Ann Wizer, 53 tahun, lulusan Maryland Institute College of Art jurusan Seni Rupa, sengaja tinggal di Jakarta dengan tujuan mo ngurangin jumlah sampah jkt…dia kumpulin pemulung2 di jkt terus minta tolong pungutan2 plastiknya yg masih bagus dijual ke si Ann…ternyata si Ann ini bikin macem2 dr bahan baku sampah ini, yg gw tauk, dia produksi tas, dompet, sama kursi…hasil produksinya diekspor sampe eropa, amrik, ostrali…di setiap produknya digantungin tag: This product is made from GARBAGE, collected by Jakarta’s TRASH PICKERS

Proyek ini jalan dari 2002, cerita ni proyek sempet diangkat di majalah Tempo maret 05, dan yg bikin seneng, diangkat lagi sama majalah Provoke! Februari 08, provoke! tu majalah anak2 gaulnya jkt dan sekitarnya…sang pembaca Provoke! mungkin gak terlalu mikirin sampah numpuk tapi lebih mikirin gaya (berkaca dari proyek gelang karet kebersamaan yg hot 3 tahun y.l.), tapi gapapa…yg penting sampah ngurang…

Naaah…layaknya program buat majuin pertanian, ada ekstensifikasi dan ada intensifikasi pertanian…kalo gak bisa melakukan ekstensifikasi persampahan kyk yg Ann lakuin, kita bisa ikut dalam proyek intensifikasi persampahan…intinya ngurangin sampah yg gak perlu…mis: makan di tempat makan langsung, gak dibungkus…cz kalo dibungkus bakal perlu plastik lagi…atau, gak usah ngeprint hasil transaksi di atm, walopun kecil gitu tapi kan sayang juga kalo cuma diliat sekali trus dibuang…mungkin sampahnya lebih gampang diancurin daripada plastik, tapi buat bikin kertas sekecil itu kan butuh kayu yg lumayan banyak cing…atau, kalo cuma belanja mie gak usah diplastikinlah, langsung aja tumplekin ke tas…ya…lo bisa lebih kreatiflah…

Burung Terbang dengan Gayanya Masing-Masing

setiap burung punya gaya sendiri untuk terbang, begitu juga manusia
setiap burung punya gaya sendiri untuk terbang, begitu juga manusia

Dua tahun yang lalu, saya berkenalan dengan seorang kawan di salah satu organisasi jurnalistik kampus. Ketika itu, dia melamar untuk menjadi anggota organisasi tersebut. Seperti biasa, ada beberapa tahap untuk sukses menjadi anggota, diantaranya magang di satu edisi penerbitan.

Tidak ada yang spesial dari hasil wawancara dengannya. Sampai satu ketika, ada satu rubrik yang harus saya kerjakan bersama dengannya. Berbekal sebuah kamera, kami hunting foto keliling kampus.

Tiba-tiba seorang anak 7 tahunan menyapa kawan saya ini. Mereka bercengkrama sejenak lalu saya tanyakan siapa anak kecil itu, dia katakan bahwa itu adalah anak kecil yang biasa berjualan donat di lingkungan kampus. Setelah saya gali lebih dalam, ternyata kawan ini selalu menyisihkan waktunya di tiap weekend dan uangnya untuk membelikan alat-alat tulis dan untuk mengajarkan apa saja yang bisa dia ajarkan ke anak-anak ini, dan hebatnya, dia melakukan ini semua sendirian. Dia melakukan ini karena senang membantu banyak orang, tidak ingin diblow up, apalagi dipuji.

Selang beberapa bulan kemudian, ketika saya sedang berkumpul dengan teman-teman jurusan, ada seorang anak penjual donat (bukan yang dulu saya temui ketika hunting), dia menawarkan donatnya kepada kami. Ada diantara kami yang memang sedang lapar lalu membelinya. Saya coba tanyakan kepada si penjual donat cilik, apa dia mengenal kawan saya yang suka mengajarkan beberapa anak kecil penjual donat? Ternyata dia kenal, bahkan dia menambahkan bahwa baru beberapa hari yang lalu dia ditraktir oleh kawan saya itu. Dia mengatakan bahwa kawan saya itu sangat baik. Bangga sekali saya bisa mempunyai kawan seperti itu.

Sekarang sudah hampir setahun saya tidak bertemu dengannya secara langsung. Hanya bertegur sapa lewat dunia maya saja. Dia tetap sering mengirim tulisan2nya ke blognya. Dialah Azka Madihah (azkamadihah.wordpress.com).

Cerita lain, di tempat saya tinggal, Asrama Mahasiswa Aceh Leuser, tinggal seorang kawan yang tidak terlalu peduli dengan akademiknya, dia baru belajar di hari ujian berlangsung, pekerjaannya hanya main game. Tapi anehnya, banyak orang yang datang ke asrama hanya untuk bertemu dengannya, banyak yang menelepon ke asrama hanya untuk berbicara padanya. Ternyata dibalik ketidakpeduliannya itu, dia sangat memperhatikan orang lain. Tidak jarang dia dimintai bantuan oleh mahasiswa2 Aceh. Dengan senang hati dia pasti akan membantu sebisa dia. Pernah suatu ketika, ada salah satu mahasiswa Aceh yang orangtuanya sakit. Tapi mahasiswa ini tidak mempunyai uang agar bisa pulang dan menjenguk orangtuanya tersebut. Anak ini meminta bantuan kepada kawan saya itu. Dengan sigap, kawan ini langsung mencari uang untuk membeli tiket. Dia tidak mengambil dari tabungannya, karena memang tidak ada, tapi dari teman-teman yang lain (saat itu, mengumpulkan uang sangatlah sulit). Dengan cepat uang terkumpul sehingga mahasiswa Aceh tersebut dapat menjenguk orangtuanya. Karena sifatnya ini, orang-orang tidak sungkan untuk meminta tolong padanya. Dengan demikian, semakin banyak benih yang ia tanam. Salut untuk penanam bibit sejati: Arifka Yusri.

Melissa, salah seorang sepupu saya yang lebih akrab disapa k’Cica, adalah orang yang paling populer di keluarga besar kami. Dia seringkali menjadi mediator ketika ada perselisihan antara sepupu2nya yang lain. Namanya sering dipanggil tidak hanya oleh om2 dan tante2nya, tetapi juga oleh sepupu2 dan keponakan2nya ketika keluarga besar sedang berkumpul. Hal penting dan tidak penting selalu melibatkan k’Cica. Tapi dia tidak pernah mengatakan, ”Koq Cica lagi Cica lagi sih!” Mungkin itu yang membuat orang-orang senang berada di dekatnya dan sering meminta bantuannya. Gelar mapres FKG UI tidak pernah membuatnya sombong. Dia tetap mau membantu menyuapi makan keponakan2nya, menjadi pihak yang paling netral, dan menyiapkan namanya untuk dipanggil oleh semua orang….

Salam Vespa! (sequel)

“Lebih baik naik vespa”, begitu quote yang sering ada pada salah satu spare part vespa. Entah siapa yang berinisiatif menuliskan quote tersebut terlebih dahulu, tapi memang lebih asik naik vespa….

Hampir selalu di setiap perjalanan saya dengan menggunakan vespa bertemu dengan pengguna vespa yang lain dan hampir selalu juga ketika berpapasan tersebut, salam berupa senyum terlepas dari keduanya. Entah kapan dan siapa yang memulai, tapi itu sudah membudaya sejak lama dan sepertinya budaya tersebut akan berlanjut. Lambaian tangan atau klakson kerap kali mengikuti senyuman dari para pengguna vespa. Pernah suatu ketika, seorang kawan meminjam vespa saya untuk membeli makan. Sesampainya kembali, dia mengatakan bahwa saya hebat bisa mengenal semua pengguna vespa karena sepanjang perjalanannya dia disapa semua pengguna vespa. Saya menjawab, tidak satupun pengguna vespa di Bogor yang saya kenal kecuali orang bengkel tempat saya biasa berkeluh kesah. Itu memang budaya pengguna vespa. Walaupun tidak saling kenal, tapi persamaan itu (sama2 pengguna jasa vespa) mendorong kami tetap untuk memberikan salam. Salam yang menjadi ciri khas pengguna vespa. Salam vespa!

Ketika sedang mogok di jalan (wajar mogok, rata2 vespa yang beredar keluaran tahun 70-80an), banyak pengguna vespa lain berhenti sejenak dan menanyakan kenapa masalahnya. Ada saja yang ikut membantu mengutak-atik sampai beres. Suatu waktu vespa saya mogok, seorang pengguna vespa lain membantu mencari masalahnya. Hampir satu jam kami (atau lebih tepatnya dia) membetulkannya. Setelah selesai, saya menawarkan sejumlah uang tapi dia menolak. Kami hanya bertukar nomor HP. Sampai sekarang kami masih berhubungan.

Tidak hanya di jalan. Di bengkel2 khusus vespa pun kebersamaan itu ada. Setiap ada yang datang ke bengkel, tidak jarang dia menyalami semua orang yang ada di bengkel itu. Sang empunya bengkel tidak pernah mematok harga kalau kerusakan hanya membutuhkan keahliannya saja tanpa ada spare part yang diganti. Dia cuma minta berapa saja sedanya. Bagaimanapun, lebih baik naik vespa….