Arsip untuk Juli, 2011

09
Jul
11

Candi Boko: Bukan Sekedar Tumpukan Batu

(Harusnya tulisan diterbitkan tahun 2009, tapi gak ditagih-tagih sama bos, jadi masuk blog aja)

Letaknya tidak jauh dari Candi Prambanan. Situs candi yang ada di dalamnya terawat dengan apik. Yang membuat Boko unik dibanding wisata candi yang lain adalah pemandangan sunset yang bisa membuat kita terkesima karena begitu indahnya. Wisata sunset dijual di Taman Wisata Ratu Boko ini. Jika datang dalam hitungan rombongan,  kita bisa meminta kursi-kursi diletakkan di belakang restoran. Di bawah langit kita bisa makan malam ditemani pemandangan sunset yang begitu cantik. Oh indahnya.

Letaknya masuk ke teritori Yogyakarta, tepatnya di kecamatan Prambanan, Sleman. Situs ratu Boko bisa dicapai melalui jalan raya Yogyakarta-Solo. Pada km 17, belok ke kanan sejauh 3 km. Sayangnya, tidak ada angkutan umum yang mencapai situs ini. Pengunjung harus membawa kendaraan sendiri atau naik ojeg dari Prambanan. Kalau menyukai tantangan, bisa saja kita menapaki tanjakan sepanjang beberapa kilometer untuk mencapai Situs Boko.

Perjalanan itu akan terasa tidak berarti ketika kita sudah mencapai situs ini. Pemandangan dari atas begitu indah. Sawah-sawah terhampar dengan indahnya. Kita bisa melihat Yogyakarta dari situs ini. Gunung Merapi terlihat jelas sebagai latar belakang Candi Prambanan yang juga terlihat dari situs Boko.

Untuk memasuki Taman Wisata Ratu Boko, wisatawan dikenakan tariff sebesar Rp7.000 untuk wisatawan nusantara (wisnus) dan US$10 untuk wisatawan mancanegara (wisman). Untuk nilai tukar dolar saat ini, bisa dikatakan wisman dikenakan biaya sampai 15 kali lebih besar daripada wisnus. Tentunya pengelola mempunyai alasan sendiri untuk kebijakan ini.

Satu hal unik yang ditawarkan Taman Wisata ini, yaitu paket “Boko Sunset”. Ternyata sunset bisa juga dijual. Memang, sunset terlihat cantik sekali dari Situs Boko.

Suasana mistis yang damai menyeruak ketika matahari kembali ke peraduannya. Indah sekali. Cahaya emas tersebar ke seluruh penjuru langit. Hanya beberapa menit, tapi indahnya bukan main.

Sunset di Boko. Dok: Iqbal

Paket Boko Sunset ini hanya dilakukan ketika cuaca sedang bagus. Dimulai pukul 4 sore, wisatawan disuguhi dengan beberapa makanan ringan ditemani dengan kopi atau teh. Setelah matahari betul-betul tenggelam, acara dilanjutkan dengan makan malam. Menu-menu yang ditawarkan merupakan masakan tradisional Indonesia, seperti  bakmi goreng, bakmi godog, nasi goring, dan soto.

Untuk satu paket Boko Sunset ini, harga yang dikenakan kepada wisman dan wisnus berbeda-beda. Wisman dikenakan tariff sebesar Rp75.000, sedangkan wisnus hanya Rp35.000. Menurut pengelola, setiap harinya, wisatawan yang mengikuti paket ini sekitar 10 orang. Kebanyakan dari mereka adalah Wisman.

Boko Trekking

Ada juga paket trekking yang ditawarkan manajemen Boko. Book Trekking dimulai sejak matahari belum menunjukkan selendangnya. Dari pukul 3 pagi, wisatawan dikumpulkan untuk kemudian diberikan jamuan coffee break. Setiap wisatawan dibekali dengan lampu senter, peralatan tongkat, dan air mineral. Selanjutnya, wisatawan diajak berjalan ke arah gunung Tugel dengan seorang pemandu. Jarak yang ditempuh lumayan untuk mengeluarkan keringat, yaitu 2,5 km. Menjelang terbitnya matahari, wisatawan diajak beristirahat di suatu tempat yang memungkinkan untuk melihat terbitnya matahari dengan jelas. Sambil menikmati indahnya matahari pagi, wisatawan dijamu dengan makanan yang sangat tradisional, yaitu urap. “Para wisatawan senang dengan hal ini, sangat tradisional,” kata salah seorang pengelola.

Setelah puas menikmati urap ditemani dengan terbitnya matahari, wisatawan diajak berjalan kembali ke tempat semula. Sebagai kenang-kenangan, setiap wisatawan diberikan souvenir menarik oleh manajemen.

Untuk wisatawan yang datang pada malam harinya, manajemen menyediakan camping ground lengkap dengan tenda dan berbagai peralatan di dalamnya. Satu paket tersebut, dari mulai camping pada malam harinya, kemudian trekking beserta snack, makan, dan souvenir, wisatawan dikenakan biaya Rp 150.000. Menurut pengelola, yang banyak menikmati Boko Trekking adalah wisatawan nusantara.

08
Jul
11

Batang dalam 2 Jam

Batang tidak berbeda jauh dengan kondisi kota-kota sepanjang Pantura lain. Panas, gersang, berdebu. Aku pinjam sepeda kawanku untuk keliling Batang. Pikiran pertamaku ingin ke pantai. Tapi aku mampir dulu di alun-alun Batang yang letaknya persis di pinggir Pantura.

Sebuah gerobak kecil dan gelaran tikar sudah cukup membuat sebuah sudut alun-alun jadi tempat nongkrong. Di situ ada penjual susu segar yang merupakan pensiunan Pos Indonesia. Aku pesan segelas susu dan makan dua buah gorengan yang enak. Untuk itu aku bayar Rp 4.500.

Dari alun-alun itu, aku menuju Pantai Sigadung (kalau tidak salah). Di tengah perjalanan aku lihat ada tulisan “Tambak Kuda Laut”. Wah, ini bikin penasaran. Baru kali ini aku dengar ada tambak kuda laut. Mau dibuat apa?

Aku masuki gang yang ada tulisan itu. Sampai di sebuah bangunan seperti rumah besar yang dikelilingi aktivitas pekerja. Baunya pesing sekali. Aku tanya ke salah satu pekerja, “Kolam Tambak Kuda Laut nya di mana?”

“Bukan tambak, tapi rambak, artinya keripik.” Jadi, itu adalah pabrik keripik yang namanya Kuda Laut. Bahan keripiknya ya ikan, bukan kuda laut. Sial.

Dok: id.wikipedia.org

Aku goes lagi sampai ketemu jembatan yang di bawahnya banyak kapal-kapal nelayan. Terlihat juga ada semacam tempat pelelangan ikan. Semuanya tampak kumuh.

Baru kemudian aku ketemu dengan Pantai Sigadung. Kotor! Bahkan aku malas turun dari sepeda. Yang menarik dari Sigadung adalah adanya tempat atraksi lumba-lumba. Kaau tidak salah, itu milik Taman Safari. Tapi baru buka pukul 2 siang. Di luar jam itu tidak boleh masuk.

07
Jul
11

Pembunuh Singa Padang Pasir

Karya Dr Najib Kailani. Penerbit Pustaka.

Empat paragraf awal, sebelum daftar isi, langsung membuatku ingin membaca terus sampai episode terakhir (total 268 halaman). Ini hanya penangkap perhatian pembaca saja, yang diambil dari pertengahan cerita. Selanjutnya novel dimulai dari persiapan Quraisy untuk perang Uhud melawan umat islam yang sudah hijrah ke Madinah.

Serunya, yang dijadikan pemeran utama adalah Wahsyi, seorang budak milik Jabir bin Muth’im (tokoh Mekah). Darinya kita jadi tahu kehidupan budak zaman dulu.

Penulis membeberkan sejarah masuknya islam. Konflik dan peperangan awal antara islam dan orang Quraisy serta Yahudi dari berbagai klan. Sekalipun mereka menyatukan kekuatan dalam perang Khandaq, tapi islam tidak kunjung takluk.

Dialog-dialog cerdas dan dalam tentang pemaknaan islam antara Wahsyi dengan Suhail, kawannya, dan Wisoli, pelacur Mekah yang tersohor, membuat novel ini makin memperlihatkan seperti apakah islam, paling tidak menurut Najib Kailani.

Puncaknya ketika Fathu Mekkah (terbukanya kota Mekkah) ketika kota Mekkah takluk tanpa terjadi adu senjata. Islamisasi yang sungguh anggun. Tinggallah Wahsyi yang kabur dari Mekah karena takut perbuatannya membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi yang juga dijuluki si Singa Padang Pasir) atas permintaan Hindun bin ‘Atabah.

Perkataan Suhail tentang islam dan jaminannya bahwa Nabi tidak akan membunuhnya kala dia ingin masuk islam, membuat Wahsyi berkeputusan menjumpai Nabi. Nabi menerima keislamannya, tapi Wahsyi diminta untuk menjauhkan wajahnya dari hadapan Nabi. Permintaan Nabi itu sungguh membuatnya terpukul. Namun, ia tetap melaksanakannya.

Wahsyi menjadi penganut islam dan menjalankan syariat islam seperti orang pada umumnya. Keandalannya dalam melempar lembing membuatnya berhasil membunuh Musailamah Al Kazzab, nabi palsu yang menjadi musuh islam, pada zaman kekhaifahan Abu Bakr RA.

Wahsyi berjongkok, mencabut tombaknya yang masih tertancap di tubuh Musailamah. Dengan wajah tengadah Wahsyi bergumam:

“Maka sekiranya aku dengan tombak ini telah membunuh sebaik-baik manusia setelah Rasulullah, aku berharap, kiranya Allah mengampuni segala dosa-dosaku, karena dengan tombak ini pula aku telah membunuh sejahat-jahat manusia, yaitu Musailamah Al Kazzab.”

 

06
Jul
11

Belajar Nahwu Sharaf di Lengkong

Aku pikir si petugas dapur lupa memberikan lauk, rupanya di sini memang biasa makan dengan menu: nasi, sayur nangka, dan dua buah kerupuk.

Itulah konflik terbesar dalam diriku selama belajar nahwu shorof di Lengkong. Maklum, ini kali pertama aku tinggal di pondok yang konsekuensinya juga makan-makanan pondok. Ini juga jadi jawaban kenapa biaya per bulannya hanya Rp 200 ribu (up date pertengahan 2011 Rp 250 ribu/bulan).

Tapi itu tidak seberapa dibanding ilmu yang kudapat. Di sini, tiap dua bulan sekali, dimuai kelas baru lagi, dari awal lagi. Dan tidak ada level berikutnya setelah belajar 2 bulan di sini.

Satu hari ada 4 kelas: subuh, pagi, siang, dan malam. Setiap hari otakku rasanya dijejali rumus-rumus (wazan), bermacam istilah, yang itu semua harus dihapal. Siswa lain kebanyakan basic nya memang mubaligh, jadi tidak kaget dengan memgang kitab pembelajaran yang dari awal sampai akhir huruf Arab semua.

Lah aku… dengan hanya menghapal sedikit kosakata, aku megap-megap. Tapi bisa kok, Alhamdulillah. Asal tidak malu tanya, insya Allah lancer.

Dok: aisi-balikpapan.blogspot.com

Nahwu Sharaf itu adalah ilmu rangkuman para ulama zaman dulu tentang tata bahasa Arab berdasarkan Quran Hadits. Ketika zaman Nabi, tidak ada itu ilmu Nahwu Sharaf, bahkan tidak ada harokat dan titik dalam huruf-huruf yang digunakan. Islam berkembang. Orang dari mana-mana belajar Quran Hadits yang itu berbahasa Arab. Asal mereka yang beragam menimbulkan ketakutan adanya salah tafsir kalau tidak ada ilmu tata bahasa baku dalam Bahasa Arab. Juga, untuk mempermudah orang-orang non Arab buat mempelajari Bahasa Arab. Maka dibuatlah ilmu Nahwu Sharaf.

Aku bisa bilang, Bahasa Arab itu lebih rumit dari Bahasa Inggris. Bahasa Arab mengenal kata benda laki-laki, perempuan, tunggal, dual, dan jamak. Kata kerjanya juga terbagi ke kata dasar (mashdar), bentuk lampau, bentuk kini/masa datang, pasif, dan aktif. Semua itu ada rumusnya dan harus dihapal!

Rumus itu bakal beda kalau kada dasarnya mengandung huruf alif, ya, dan waw. Bakal beda lagi kalau ketiga huruf itu ada di depan, ada di tengah, ada di belakang, dan kompilasinya. Bisa beda lagi kalau hurufnya berjumlah dua, tiga, atau lebih. Itu semua punya rumusnya sendiri. Dan kabar buruknya, kalaupun semua itu sudah dihapal, belum tentu dia bisa baca Arab gundul karena juga harus memperbanyak kosakata. Hehe, seru ya… =)

Jadi setiap hari kerjaan kami ya menghapal wazan-wazan itu (rumus). Tapi di Lengkong, ini tidak wajib. Dulu pernah diwajibkan, tapi banyak siswa yang mental, jadi pengurus memutuskan dihapus sajalah. Targetnya dikurangi menjadi: paling tidak pernah ketemu wazan model begitu.

Kedudukan kata juga kami pelajari. Di situ aku mengenal istilah marfu’, nashob, majrur, fa’il, naibu fa’il, isim inna, khobar kana, maf’ul bih, mubtada’, dsb…

Tenang… tidak sesulit yang dibayangkan kok. Ada waktu 2 bulan buat menguasainya. Asal rutin ikut kelas dan focus, insya Allah tidak perlu ngulang lagi juga sudah masuk. Kawan-kawanku juga tenang-tenang saja. Malah mereka hamper tiap sore masih sempat main bola.

Yang perlu disiapkan adalah pikiran yang kosong dan tenang. Belajar nahwu shorof harus focus. Kebetulan, di Pondok Lengkong ini ada aturan bahwa siswa dilarang bawa HP. Menurutku itu bakal lebih membuat bisa focus. Jadi tidak ada yang mengganggu.

Kelas ada tiap hari. Libur hanya di hari Jumat. Dua bulan ini, menurutku, memang paketnya segitu. Kalau dia cuma ikut satu bulan bakal cacat ilmunya, tanggung.

Untuk ke Lengkong, gampang. Capai stasiun Kertosono, terus jalan ke pasar Kertosono (sekitar 100 meter dari stasiun), terus naik angkot jurusan Lengkong (Rp 5.000; 30 menit; Cuma ada dari sekitar jam 6 pagi sampai 4 sore). Angkot baka berhenti di pasar Lengkong. Dari situ tinggal jalan sekitar 500 meter lagi. Tanya aja orang pasar, pondok Lengkong di mana, insya Allah mereka tahu.

Atau bisa juga dari stasiun Kertosono naik ojeg. Ongkosnya Rp 15.000. Bilang ke pondok Lengkong. Kalau ojeg ini ada 24 jam.

Selama di Lengkong, hiburanku Cuma dua. Pertama jalan-jalan ke pasar Lengkong buat ngopi. Secangkir kecil seribu, gelas standar dua ribu. Dua, jogging ke sekitar pondok. Di daerah sini banyak sekali pohon kersen atau orang local menyebutnya keres. Sekali jogging aku bisa nyambi makan kersen. Sebutir demi sebutir. Kalau dikumpulkan sekali jogging ya setengah piring kersen lah, hehe.

Ohya, di pertengahan pembelajaran, aku pulang ke Jakarta, bawa laptop. Itu membantu juga kalau jenuh. Di pondok Lengkong memang tidak boleh bawa HP tapi boleh bawa laptop.

Iklim daerah Nganjuk sedang. Jadi kalau tidur di masjid tidak pakai selimut masih bisa lah. Aku bawa sleeping bag. Itu lebih aman.

Mudah-mudahan bermanfaat.

04
Jul
11

Easy Green Living

Judulnya persis dengan buku yang ditulis Renee Loux. Mungkin isinya kurang lebih bervisi sama. Valerina Daniel yang menjadi duta Lingkungan Hidup Indonesia menuliskan banyak ceritanya dan tips-tipsnya untuk kita agar bisa hidup dengan mereduksi efek buruk global warming.

Cerita pengalamannya yang paling kuingat dan masih belum bisa kupercaya adalah ketika Valerina sedang meliput (waktu itu masih menjadi jurnalis TV nasional) kegiatan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di salah satu hutan di Aceh.

Ia diberikan kantong plastik untuk tidur. Valerina dan kawan-kawan dari media menggunakannya sebagai alas tidur. Karena itu, mereka basah kuyup pada pagi harinya. Seharusnya mereka masuk ke kantong plastik tersebut untuk melindungi tubuh dari embun yang pekat sekali di hutan yang masih perawan itu. Aku masih belum percaya mereka sampai basah kuyup seperti yang digambarkan dalam buku ini. Tapi kalau benar, berarti banyak hal yang belum aku tahu tentang hutan, kelembaban, embun, dan hal-hal seperti itulah.




Juli 2011
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031