Ciwidey Bisa Jadi One Day Trip

Perjalanan surveyku menuju Ciwidey hanya menghabiskan biaya Rp70 ribu. Segala pilihan berbayar paling rendah menjadi pilihan utama dalam perjalanan kali ini.

Beberapa hari yang lalu, berdasar keputusan “rapat kampung”, Aku diamanahkan untuk mengurusi segala tetek bengek untuk rekreasi kampung kami yang berada di pinggirankotaJakarta. Maka jadilah malam ini Aku berada di Masjid Salman ITB, sendirian. Walau anggaran survey cukup untuk membayar hostel di Bandung, tapi Aku tetap memilih tidur di masjid untuk mendobrak paradigma di kampungku, bahwa jalan-jalan atau survey itu ribet dan mahal.

Tidak ada sleeping bag, tidak ada matras. Aku tidur di atas karpet yang lumayan tebal, di lantai dua bagian luar masjid, setelah sebelumnya diusir karena Aku tidur di dalam masjid dengan menggunakan mukena sebagai pembalut kaki yang kedinginan (Hehe, maaf ya Pak Satpam). Yang paling membebani pikiran malam itu adalah tas yang kebetulan berisi laptop dan kamera (sebelumnya ada presentasi dan kerjaan dibandung). Letak masjid sangat terbuka. Siapa saja bisa masuk kapan saja. Tapi, ya sudahlah, kalau tertulis besok bukan lagi jadi milikku ya tidak akan jadi milikku.

Paginya, Sabtu 3 Juli 2010, Aku langsung mengecek tas. Alhamdulillah aman. Aku menuju Kopo lalu lanjut ke Soreang. Lalu lintas aman, hanya saja di terminal Soreang ada pasar. Ya namanya pasar hampir selalu bikin macet. Tapi menurutku macetnya tidak terlalu parah, masih bisa ditolerir. Kalaupun tidak mau ambil risiko, setelah gapura besar masuk Kabupaten, sebelum terminal Soreang, ada jalan ke kiri. Kelihatannya jalan mulus dan bagus, tapi kok sepi. Kata supir angkot di sebelahku, itu karena jalan tersebut memutar, biasanya hanya dipakai kalau macetnya sudah gila-gilaan seperti ketika lebaran.

Dari Soreang, Aku naik Colt yang sangat sesak. Dulu, dari Bogor Aku biasa memakai angkutan macam ini menuju Sukabumi. Satu kursi panjang maksimal diisi 4 orang, itu saja sudah sempit. Ini sampai 5 orang! Wah, masyarakat Soreang betul-betul menerapkan azaz efisiensi (baca: gak mau rugi). Memang hitungannya sangat murah, dengan jarak panjang Soreang-Ciwidey, Aku cuma dimintai Rp4 ribu.

Perjalanan semakin sejuk dan memanjakan mata dari Ciwidey sampai seterusnya ke Situ Patengan. Tapi melelahkan menunggu angkot untuk jalan, hampir sejam penumpang angkot jurusan Ciwidey-Patengan cuma bertambah 4 orang! Belum lagi, Aku harus menerima kenyataan, tidak ada penumpang yang punya tujuan sampai Patengan, semua turun di Kawah Putih (sekitar 5 km sebelum Patengan). Si supir cuma menghadapku dengan senyum-senyum, “Maaf ya….” Yah, Aku mengerti.

kawah putih. Dok: ariesaksono.wordpress.com

Kawah putih sudah jauh berubah, katanya sih, demi konservasi yang lebih intensif. Biaya masuk dinaikkan, biaya jauh membengkak kalau kita membawa mobil atau motor ke atas kawah. Ya, mudah-mudahan kebijakan itu efektif. Aku terpaksa mencoret Kawah Putih sebagai tujuan wisata kampungku, selain karena mahal, sebelumnya memang Aku sudah kepikiran, apa ada tempat nongkrong di atassana buat kumpul-kumpul satu bis? Sepertinya tidak –berbekal pengalaman ke sini setahun lalu-.

Tepat di depan Kawah Putih, ada satu tempat rekreasi baru yang teriak-teriak lewat pengeras suaranya, “Masuk Emte (nama tempat wisatanya) hanya Rp5 ribu, sudah termasuk pemandian air hangat.” Wah, harganya oke berat tuh. Aku langsung terpikat lalu berbincang dengan Pak Dede, semacam manajer operasional tempat ini. Pertanyaanku, “Pak, saya tahu ini tempat baru, tapi apa harus teriak-teriak begitu buat nyari ‘pasien’?” Dijawab, “Wah, iya. Malah di atas Kawah Putihsana kami bagi-bagi brosur Emte.” Hmm, persaingan bisnis penuh intrik ya. Obrolan semakin hangat karena ternyata beliau lulusan Agronomi yang cukup peduli dengan pengembangan Agrowisata, cocok. Kami bicara banyak hal tentang konsep ideal pengembangan wilayah dan kasus-kasus yang bikin agrowisata hancur.

Memang, tidak berlebihan kalau Emte disebut “tempat wisata segala ada” karena di dalamnya ada segalanya, yaitu tempat pemetikan strawberry, tanah lapang yang luas (penting untuk rombongan yang butuh tempat kumpul), tiga kolam air hangat, tempat pemancingan, restoran yang murah meriah tapi masih berkesan eksklusif, permainan outbond yang memang masih sedikit tapi sudah ada flying fox, sarana dan prasarana ATV, dsb (detail harga dan pilihan ada di rubrik Ordinat).

Ketika Aku survey harga makanan di restoran Emte, ada seorang pegawai resto yang mendekat sambil berbisik, “Di sini makanannya enak mas, murah lagi,” lalu bisiknya semakin dekat dan semakin tipis, “Ada ‘jatah’ buat Tour Leader nya juga loh, kalau bawa peserta ke sini,” sambil tersenyum. Aku juga ikutan tersenyum.

Lanjut, Aku jalan kaki ke atas, ada Ranca Upas di sebelah kanan. Di sini utamanya adalah tempat perkemahan. Di dalamnya ada penangkaran rusa yang katanya sudah ditata lebih rapi, tapi rusanya ternyata hanya 17 ekor. Pengunjung yang datang sepertinya tidak terlalu banyak. Aku tidak masuk ke dalam karena waktu semakin mepet, Aku harus sudah minggat dari Ciwidey sebelum sore karena angkutan akan raib setelahnya.

Masih jalan kaki, Aku lanjut ke Taman Wisata Cimanggu di sebelah kiri jalan. Utamanya tempat ini menjual kolam pemandian air panas, airnya betul-betul panas, bukan hangat. Sepertinya, hanya orang gila yang bisa langsung nyemplung dan berenang. Di dalamnya sangat ramai. Hampir tidak ada tempat sepi di seputaran kolam pemandian. Menurutku, kondisinya tidak jauh berbeda dengan Sari Ater di Lembang. Tapi di sini jauh lebih murah dan tidak ada anggapan seperti di Sari Ater, “apa-apa duit, nambah lagi nambah lagi”.

Situ Patenggang. Dok: yussi.host22.com

Menuju Situ Patengan, Aku naik angkot dengan harga Rp7 ribu, sudah termasuk tiket masuk. Wah, ramai sekali hari Sabtu ini. Namun, menurut beberapa penjaja jasa perahu penyebrangan, ini katanya belum terlalu ramai dibanding hari Minggu. Perahu betebaran karena memang itu yang paling dicari pengunjung untuk menyebrang ke Batu Cinta, atau sekedar mengelilingi danau. Mendengar Aku sedang survey, beberapa orang mendekat, menawarkan jasa perahu yang dikorting, tadinya Rp20 ribu untuk mengitari danau, jadi Rp15 ribu, mereka juga menggoda dengan, “Nanti adalah jatah buat Tour Leader-nya,” sambil berbisik.

Waktu semakin tipis, setelah Ashar, Aku bergegas menuju Ciwidey-Soreang-Cihampelas. Aku ingin mengajak rombongan kampungku ke tempat belanja ini. Pikirku, kalaupun acara tidak terlalu berhasil, mungkin bisa tertutup dengan diberikannya acara belanja ini. Mudah-mudahan, Ibu-ibu akan berbinar dan lupa untuk berkomentar, “Ah, si Iqbal nih gak asik bikin acaranya.”

Untuk itu semua, dengan perjalanan dari Bandung-keliling Ciwidey-Bandung, Aku menghabiskan hanya Rp70.000, dengan perincian: makan pagi (lontong sayur) Rp5 ribu, angkot ITB-Caringin Rp3 ribu, angkot ke Kopo Rp2 ribu, Kopo-Soreang Rp2 ribu, Soreang-Ciwidey Rp4 ribu, Ciwidey-Kawah Putih Rp8 ribu, makan siang (nasi+telur) Rp5 ribu, menuju Patengan + tiket Rp7 ribu, penyebarangan perahu Rp10 ribu, Patengan-Ciwidey Rp6 ribu, Ciwidey-Soreang Rp4 ribu, Soreang-Kalapa Rp6 ribu, Kalapa-ITB Rp3 ribu, makan malam (nasi+telur+kacang merah) Rp5 ribu. Total biaya bisa rendah karena, pertama, Aku selalu pilih cara termurah. Kedua, Aku dapat keistimewaan sebagai “surveyor” yang mendapat tiket masuk gratis ke beberapa tempat wisata dan perahu murah ketika di Patengan.

Setelah pulang, pikiran berkecamuk ingin membuat rencana perjalanan ala backpacker yang bisa menghampiri banyak tempat wisata di daerah Ciwidey. Gambaran besarnya, total biaya Rp214 ribu dengan 5 tempat yang dikunjungi, yaitu Kawah Putih, Pemandian Air Panas Cimanggu, Ranca Upas (termasuk outbond 4 games, salah satunya flying fox), Situ Patengan, dan Emte. Sisipan ide gilanya: tracking mengitari Situ Patengan! Mungkin suatu saat akan kubuat open trip untuk perjalanan berikut:

Sabtu

6.00: Kumpul di Kampung Rambutan

6.00-10.00: Menunggu bis ngetem dan perjalanan menujuBandung(Leuwi Panjang)

10.00-11.30: Leuwi Panjang-Ciwidey, menggunakan mobil Colt/L300

11.30-13.00: Menunggu angkot ngetem dan perjalanan menuju Kawah Putih

13.00-15.00: Menikmati Kawah Putih

15.00-15.30: Menuju Pemandian Cimanggu dengan berjalan kaki

15.30-17.00: Menikmati Cimanggu

17.00-17.30: Menuju Ranca Upas dengan berjalan kaki

17.30-18.00: Pasang tenda, kalau tidak ada yang bawa, gelar matras dan sleeping bag

18.00-07.00: Bebas

Minggu

7.00-7.30: Menuju Situ Patengan

7.30-12.00: Tracking mengelilingi Situ Patengan, dari kiri ke kanan. Katanya akan menemuipadang rumput yang indah dan mata air yang segar.

12.00-13.00: Menuju Emte

13.00-14.00: Istirahat, menikmati Emte

14.00-20.00: Menuju Jakarta lewat Ciwidey- Leuwi Panjang

Biaya:

Bis Rambutan-Leuwi Panjang PP Rp80 ribu

Colt Leuwi Panjang-Ciwidey PP Rp12 ribu

Angkot Ciwidey-Kawah Putih/Emte PP Rp14 ribu

Angkot Kawah Putih/Emte-Situ Patengan PP Rp10 ribu

Masuk Kawah Putih Rp25 ribu

Masuk Cimanggu dan sewa tempat nongkrong Rp17 ribu

Masuk dan camping di Ranca Upas Rp17 ribu

Outbond 4 games di Ranca Upas Rp35 ribu

Masuk Situ Patengan Rp4 ribu

TOTAL 214.000

Iklan

Relatif

Satu adegan nyentil di film Ice Age (lupa Ice Age berapa). Salah satu tokoh hewan menggali tanah nyari air, dia gali lumayan dalam. Akhirnya dia nemu sesuatu: intan, emas, perhiasan. Dia buang sekopnya, perhiasan ditinggalin begitu aja. Kecewa berat karena gak dapat yang dia cari. Waktu itu, air jauh lebih mahal dari setumpuk perhiasan.

Satu lagi. Ada game namanya Age of Empire. Di situ, kita jadi raja salah satu kaum yang butuh ekspansi kekuasaan (mirip sifat dasar manusia). Di awal-awal, saya gampang banget ngumpulin kayu dan bikin pertanian. Kayu dan pangan jadi barang yang gak ada artinya banget dibanding emas. Kebutuhan primer jelas tercukupi.

Tapi waktu semua lahan sudah terkuasai, sudah dieksplorasi habis, pasar menghendaki harga emas sebagai komoditi tersier jauh lebih rendah dari kayu dan pangan yang jadi barang super langka. Saya dituntut untuk ngurangin populasi penduduk supaya makanan cukup. Harga pangan relatif naik.

Secara logis kedua cerita di atas bisa dijabarkan. Suatu hari nanti emas gak ada artinya. Gak ada orang miskin yang mau dikasih harta, semua sudah kaya (kutub as sittah). Harga emas relatif turun.

Dok: en.fotolia.com

Tapi memang sudah dasar sifatnya orang itu rakus. Sesuai HR Tirmidzi: Kalau manusia sudah punya emas sebanyak 2 jurang, maka dia akan mencari yang ketiga. Hanya tanah yang bisa memenuhi mulutnya.

Alhakumuttakatsur. Semua kita, semua kalian, sibuk pake mulut, jalanin bisnis, kerja dari pagi sampai sore, melipatgandakannya, beli rumah, beli mobil. Dan Allah kasih semua itu, insya Allah. Tapi ketika diajarkan tentang Allah, tentang agama, kalian bilang, “Maaf gak ada waktu. Entar aja deh kalo udah tua. Kok hukumnya menentang HAM sih? Sekarang kan zamannya kesetaraan gender. Gak pacaran gimana pendekatannya? Ih, fundamentalis…” Bla…bla…bla…

See, how arrogant the people can be… how arrogant I can be… A’udzu billah min dzalik.

I’m Iqbal and I’m NOT a Terrorist

Tahun lalu (2010), saya mau ngetes, saya bisa gak sih jalan jauh. Start awal dari Lengkong (Nganjuk, Jatim), targetnya sampai Trowulan (Mojokerto, Jatim) yang itu jaraknya 40 km. Saya jalan dari pagi sampai sore, tapi gak bisa sampai tujuan, cuma kuat 30 km.
Selama di perjalanan, saya pakai sorban buat nutup kepala biar ngurangin panas. Ini bukan karena saya mau kelihatan alim, tapi karena memang yang paling enak itu sorban, lebar dan tipis, terus bisa nutupin sampai pundak telapak tangan. Kebetulan juga jenggot saya lagi banyak waktu itu.

Yang menarik, beberapa orang, ada juga bocah SD, meneriaki saya teroris. Saya sampai ke kesimpulan bahwa anggapan itu karena saya pakai jenggot dan sorban. Jadi keduanya itu sudah benar-benar, kalau kata orang pemasaran, sudah jadi top of mind orang-orang bahwa jenggot dan sorban identik dengan teroris.

Dok: http://www.ujiberita.com

Kalau orang tanya pasta gigi itu apa, mereka jawab Pepsodent. Kalau ditanya air mineral itu apa, mereka jawab Aqua. Nah, kalau ditanya teroris itu siapa, mereka bakal jawab orang islam yang jenggotan dan sorbanan.

Saya pernah baca catatan perjalanan seorang wartawan yang keliling Indonesia setahun pakai motor. Ya namanya lagi bertualang kan hidupnya gak teratur, jadi jenggotnya juga lebat. Kalau dia lagi ada di pulau-pulau kecil, terutama yang di perbatasan, sering kali beberapa pihak yang ngakunya berwenang menggeledahnya karena, mereka pikir, ada indikasi orang ini teroris yang mau nyebrang ke negara sebelah. Jadi kalau jenggotan perlu lebih diwaspadai.

Kalau diperhatikan di film-film yang keluar 5 tahun terakhir, terutama yang keluaran Hollywood, sebutlah Green Zone dan Body of Lies, gerombolan teroris selalu digambarkan beragama islam, jenggotan, dan sorbanan. Juga, orang islam gak mau bergaul sama non-islam. Doktrinasi banget! Saya gemes banget waktu nonton film ini.

Hey! Saya orang islam, saya jenggotan, tapi saya bukan teroris tauk! Boro-boro pegang bom, petasan aja enggak.
Mudah-mudahan bukan karena pandangan teroris begini yang bikin kita, orang islam, meninggalkan sunah pelihara jenggot. Ngapain malu. Justru kita harus balikin doktrin yang begituan dengan jadi orang islam yang jenggotan, yang gak malu pakai sorban, yang bisa supel sama masyarakat, yang suka bantu orang, yang suka sholat sama puasa sunah. Masyarakat bakal menilai dan doktrinasi “jenggotan itu teroris” bakal bersih sendiri. Mudah-mudahan ya.