Keluar Harian

Kalau sudah mudah dapat tulisan, makan enak setiap hari, keluar masuk hotel, status sosial spesial, seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, lantas kenapa saya keluar dari media harian?

pengunduran-diri
Dok: mommiesdaily.com

Setahun cukup sudah buat saya jadi reporter. Pertama, jujur saja, gajinya kecil! Saya ingat betul pernah ikutan demo buruh di Monas, mereka menuntut UMR naik di angka sekian. Yang diminta buruh itu, masih lebih tinggi dari gaji saya. Sedih rasanya. Saya liputan kan kasarnya buat bantu memperjuangkan para buruh supaya isu kenaikan UMR naik dan memerahkan telinga pengusaha sekaligus pemerintah. Tapi saya sendiri siapa yang perjuangkan?

Lanjutkan membaca “Keluar Harian”

Masuk Harian

Pernah setahun dalam hidup saya, berkarir menjadi seorang reporter di sebuah Harian Ekonomi Jurnal (bukan nama sebenarnya), sebuah surat kabar nasional yang usianya sudah puluhan tahun. Kantornya di Menteng, Jakarta. Waktu tepatnya itu Oktober 2012 – Oktober 2013. Ini cerita saya selama jadi reporter, siapa tahu ada yang berminat untuk tahu…. Lanjutkan membaca “Masuk Harian”

Kenapa Bahasa Indonesia?

Satu hal yang belum kupahami. Kenapa dipilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional?

Sumpah Pemuda tahun 1928 itu kan ajang kumpul-kumpul pemuda dari macam-macam daerah di Indonesia yang waktu itu belum jadi Indonesia. Ada Yong Java, Yong Selebes, Yong Sumatera, dsb (tuh, “Yong” aja bahasa apa coba? Mungkin serapan dari “Young” kali ya). Mereka datang dari daerahnya masing2 yang di daerahnya itu punya bahasa lokal sendiri. Sekarang saja, dalam satu provinsi bisa ada beberapa bahasa. Mungkin dulu lebih macam lagi.

Kalau ada kongres mahasiswa nasional sekarang2 ini, Aku cenderung melihat mereka nge-gank dengan sukunya masing2. Memang membaur, tapi mereka lebih senang bergaul dengan orang dari daerah asalnya sendiri. Kalau ada, misalkan, mahasiswa ITB bikin acara nasional. Walaupun itu katanya nasional, tapi yang mayoritas datang kan dari Bandung, Jakarta, ya Jawa Barat lah. Memang ada dari Sulawesi, Irian, tapi cuma satu dua. Jadi, mayoritas peserta adalah yang ada di regional itu.

Seperti itulah kondisi yang Aku bayangkan waktu sumpah pemuda. Mereka lebih nyaman dengan bahasanya masing-masing. Nah, karena sumpah pemuda dibuat di Pulau Jawa, Aku membayangkan banyak peserta dari Jawa di sana. Bahasa Jawa menjadi dominan, piye kabare?

Waktu si pemimpin sidang (atau apapun sebutannya) bilang, “Kita pakai bahasa apa ya, kawan?” Kenapa Bahasa Indonesia yang dipilih? Padahal ada Jawa yang dominan. Kalau ada yang mengusulkan pakai Bahasa Jawa saja, akan banyak pendukungnya, kalau voting akan menang. Apa karena mereka lagi sangat nasionalis? Tapi, kalaupun iya, apa Bahasa Indonesia itu dipakai di seluruh Indonesia sehingga bisa dibilang sebagai bahasa nasional? Setahuku cuma di Sumatera, itu juga cuma di bagian utara. Itupun utara yang mana ya? Karena Aceh, Medan, Padang, punya bahasa sendiri. Aku tahu bahasa Aceh, itu tuh beda banget dengan Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu, paling tidak di vocabulary-nya.

Oke, mungkin mereka berpikir, jangan bahasa yang kita semua pakai di daerah, bahasa lain saja. Tapi kenapa Bahasa Melayu versi beta (Bahasa Indonesia) yang dipilih? Kenapa bukan Bahasa Inggris biar lebih global? Mungkin karena dulu, di dunia, yang eksis itu Bahasa Melayu, belum Bahasa Inggris. Tapi, apa begitu?

Memang bahasannya agak terlihat sukuisme, tapi poinnya bukan di situ, bukan mau menyudutkan salah satu suku. Mudah-mudahan tidak terlihat menyudutkan ya.

Membedah Pengembangan Sawit Indonesia

Buah kelapa sawit. Dok: kpbptpn.co.id

Awal Mei 2010, Aku mulai terlibat dalam penyuntingan sebuah buku tentang perjalanan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Penulisnya adalah M Badrun, mantan Dirjen Perkebunan tahun 80-an. Fisiknya sudah terlihat sepuh tapi dia seakan menjadi muda lagi ketika diajak berbincang tentang Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR) Perkebunan. Pada era Badrun memimpin, ia mengembangan PIR dengan memberikan kesempatan pada pengusaha swasta untuk ikut mengembangkan perkebunan kelapa sawit pada tahun 1986 lewat proyek PIR-Trans. Ini yang kemudian menjadi cikap bakal pola-pola lain seperti KKPA. Hasilnya mungkin di luar dugaan, lahan perkebunan sawit di Indonesia berlipat puluhan kali. Investasi luar biasa sehingga menjadikan Indonesia produsen nomor satu di dunia.

Perkembangan produk minyak kelapa sawit yang begitu pesat di pasaran internasional tentu menjadi mimpi buruk bagi produsen minyak nabati lain. Produknya menjadi kalah dan tidak laku di pasaran, terutama minyak kedelai yang produsen utamanya adalah Amerika Serikat.

Perang pertama dimulai. Amerika mulai menghembuskan isu bahwa minyak kelapa sawit merusak kesehatan, terutama jantung. Segala penelitian tentang itu didukung oleh mereka lalu diekspos besar-besaran. Sempat isu itu mengganggu pasar minyak sawit, tapi kemudian Indonesia dan Malaysia patungan untuk membuat penelitian tandingan yang hasilnya menyatakan bahwa minyak kelapa sawit tidak berefek pada kesehatan jantung. Amerika kalah dan kedelainya tetap tidak laku.

Perang kedua, entah siapa dibalik isu ini, tapi lingkungan menjadi topik utama. Perkebunan kelapa sawit dicerca merusak hutan, memusnahkan Orang Utan, merusak tatanan pengairan, dan sebagainya. Kalau untuk ini, menurutku bukan perkebunan kelapa sawit-nya yang salah, tapi penegakan hukum-nya yang kurang tegas. Aturan sudah jelas dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit harus layak secara ekonomi, layak secara lingkungan, dan ramah lingkungan. Kalau ada yang tidak ramah lingkungan berarti dia tidak taat azaz, tinggal bagaimana meletakkan hukum di kepala mereka saja.

Itu yang menjadi perdebatanku dengan seorang aktivis Green Peace di Plaza Semanggi. Mereka claim, penyelewengan itu terjadi di 80% perkebunan kelapa sawit Indonesia. Pertama, Aku belum terlalu percaya dengan data itu. Penyelewengan memang ada, tapi sepertinya tidak sampai setinggi itu. Data seharusnya dibalas data, di situ kekalahanku. Kedua, selama ini orang hanya melihat dampak negatifnya terus yang itu sebetulnya tinggal diselesaikan dengan penegakan hukum yang sesuai, bukan memberangus kebijakan pengembangan perkebunan kelapa sawit. Dampak positifnya bahwa perkebunan sawit  membuat 600 M bergulir setiap bulannya di setiap desa PIR, itu tidak pernah diangkat. Berapa ribu orang yang tadinya makan saja sulit sekarang dengan mudah bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana. Berapa ribu usaha yang berputar karena daya beli pekebun yang meningkat pesat. Berapa banyak daerah terisolir yang sekarang bisa terakses dengan baik. Itu semua tidak pernah diangkat.

Aku diberi kesempatan berbincang langsung dengan peserta PIR-Trans di Riau. Dulu, hidupnya sungguh menderita. Ia hanyalah seorang anak buruh tani, strata ekonomi terendah di daerahnya. Sekarang, setelah mengikuti PIR-Trans selama 20 tahun, hampir tidak ada masalah ekonomi yang membelitnya. Dengan mudah ia bisa menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Ini karena perkebunan sawit. Cerita ini adalah prototipe dari banyak petani kelapa sawit yang mengikuti proyek PIR.

Sawit tidak akan pernah berhenti diserang beragam isu karena banyak pihak yang tidak suka sawit berkembang di Indonesia. Direktorat Tanaman Tahunan, Ditjenbun, Kementan, terutama Seksi Tanaman Kelapa Sawit tidak pernah sepi akan pekerjaan. Selalu ada saja yang menanyakan tentang isu buruk kelapa sawit. Jarang Aku lihat orang-orangnya lengkap ada di kantor. Biasanya mereka ada di lapangan, ada saja yang diklarifikasi, ada saja yang dikerjakan.

Jadi, kalau ada pikiran bahwa pengembangan kelapa sawit harus dihentikan, mari kita berdiskusi…

Di Balik Layar Penyusunan Buku Sejarah N8: Eksplorasi Pelaku Sejarah

Tuntas menyelesaikan peliputan. Aku mentransfer semua hasil wawancara ke Microsoft Word selama 1 minggu. Dari pagi sampai malam, terkadang sampai pagi lagi, tidak pernah lepas dari laptop. Di sela-sela aktifitas itu, Aku dan tim penyusun berangkat ke Bandung untuk wawancara dengan para pelaku sejarah. Semua cerita di bawah di dapat dari wawancara selama bulan Februari 2010.

Pak Gumbira (baju biru), Pak Pandji (lagi baca), Pak Kurnadi, Pak Kuswandi (baju putih). Dok: Iqbal

Pak Kurnadi Syarif, Pak Dede Suganda, Pak Pandji Natadikara, Pak Gumbira, dan Pak Kuswandi berada satu meja dengan kami membahas kejadian-kejadian pada era nasionalisasi dan sekitarnya. Pak Kurnadi dan Pak Pandji adalah 2 dari 4 orang yang pada saat nasionalisasi pada 10 Desember 1957 ditugaskan merebut kebun-kebun di Jawa Barat dari tangan pengusaha swasta Belanda.

Mereka menceritakan ketika itu umurnya baru sekitar 30 tahun, tapi sudah diperintah negara untuk merebut puluhan kebun dari orang-orang Belanda yang sangat senior bagi mereka. Aku membayangkan seperti pemuda zaman sekarang yang diperintahkan menghadap Aburizal Bakrie lalu mengatakan, “Semua perusahaanmu mulai detik ini Aku yang pegang!”

Ditertawakan? Tentu saja. Para staf Belanda waktu itu mencemooh Pak Kurnadi. Mereka mengatakan dalam beberapa bulan saja, perkebunan akan hancur di tangan Pak Kurnadi. Kenyataannya, beberapa tahun kemudian, produksi kebun meningkat, kualitasnya baik sekali. Staf Belanda yang tadinya menertawakan akhirnya mengakui keberhasilannya. Merinding kepala ini mendengar setiap detail perjuangan Pak Kurnadi. Secara tidak sadar, ia menggelorakan semangat perjuangan bagi yang mendengarnya.

Pak Dede adalah mantan anggota MPR dan juga mantan DPR. Ia banyak memberikan kami literatur. Tapi Aku pribadi agak malas membacanya karena seluruh tulisan yang diberikannya penuh dengan pasal-pasal. Memang penting mengangkat perundang-undangan perkebunan, tapi Aku merasa lebih seru mendalami aspek human interest dari sejarah panjang tersebut.

Perjuangan dengan cara lain dilakukan Pak Gumbira. Ia adalah sosok yang dipercaya memperbaiki PTP (PT Perkebunan) yang dirasa kurang berhasil. Jadi Pak Gumbira selalu didapuk menjadi Dirut di PTP bermasalah. Setelah masalah beres, ia dimutasi lagi ke PTP bermasalah lain, dst. Setiap ia menjadi direktur baru di PTP yang lain, perubahan besar dibawanya. Efisiensi jumlah karyawan sampai sepertiga dari sebelumnya merupakan hal biasa yang kerap dilakukannya. Dialah yang diminta untuk menjadi Dirut PTP Gabungan XI, XII, dan XIII pertama, pada tahun 1994.

Pak Kuswandi tidak seperti tokoh-tokoh di atas yang berjuang di ranah nasional. Ia hanya rajin mengeksplorasi sejarah kebun-kebun di Jawa Barat. Aku berkesempatan menginap di rumahnya di Garut selama 1 malam. Ia punya beberapa vila yang disewakan, nama tempatnya “Bamboo House”. Di situ, Aku mendapat banyak sekali bahan bacaan dan gambar-gambar perkabunan zaman dulu. Bahkan ada satu buku berbahasa Inggris yang banyak mengulas gambar perkebunan dari udara. Gambarnya betul-betul dijepret dari udara dengan tahun jepret 1930-an, mungkin menggunakan kapal terbang atau helikopter.

Satu buku yang betul-betul membuatku bergairah, “Heren van de Thee” atau Bahasa Indonesia-nya “Pengusaha Teh”. Ini buku novel yang diangkat dari kejadian nyata ketika seorang Belanda bernama RE Kerkhoven mendirikan Perkebunan Teh. Gaya hidup Belanda dan sudut pandang mereka tentang pribumi gamblang dituturkan buku ini.

Menyegarkan berbicara bersama orang-orang di atas. Walau ingatan mereka terkadang muncul terkadang tenggelam tak jelas, tapi semangat mereka selalu tinggi. Begitu pentingnya etos kerja bagi mereka. Sedikit, kritikan pedas bergulir bagi para Direksi di kantor pusat perkebunan yang jarang sekali turun ke kebun. Mereka bilang, itulah penyebab kemunduran perkebunan. Tidak seperti zaman mereka dulu yang kehidupannya jauh lebih banyak di kebun daripada di kantor/kota.

Setelah menyergap isi kepala mereka, kami meminta PTPN VIII memberikan fasilitas salah satu vila lengkap dengan konsumsinya selama satu minggu agar kami bisa fokus menulis. Satu jam kemudian tersiar kabar, Rumah Kelapa sudah di-booking untuk kami 4 penulis. Kami mengasramakan diri pada 15-19 Februari 2010 di Rumah Kelapa itu. Letaknya persis di sebelah pabrik teh Gunung Mas, Puncak, jadi wangi harum teh kerap tercium. Alam puncak yang indah, udara yang segar dengan diselingi wangi harum teh, tidak adanya kebisingan, dan makanan yang enak membuatku bisa memproduksi 4 halaman tulisan per hari! Jauh dari capaian biasanya yang hanya 2 halaman per hari.

Tutut Sitompel Kembali Berulah

Jakarta, 2159

terkadang, lebih baik melihat ke bawah...

Paripurna ricuh, para anggota dewan berkelakar ini itu. Mereka ingin wajahnya dipublikasikan media elektronik. Belajar dari seorang anggota dewan satu setengah abad yang lalu, mereka merasa harus berulah untuk mendapatkan perhatian media massa. Kelakarnya sama-sama hanya mencari perhatian, rambut dipotong botak, di-mohawk, atau spike ala anak punk. Rapat pleno dipenuhi para anggota bertindik dengan jaket berbahan jeans yang dipenuhi paku. Mereka menginterupsi sidang dengan teriakan, “Oi oiii….”

Semua itu untuk mendapat perhatian media. Bahkan, di pemilu terakhir, setiap calon dalam spanduk-spanduk dan pamfletnya mengatakan, jangan coblos nomor 4, saya tukang mabuk-mabukan. Saya bodoh, terbukti sebelumnya saya meningkatkan pengangguran 30%. “Jangan pilih yang berkumis,” padahal kumisnya selebat Pak Raden. Masyarakat menikmati kampanye macam itu. Semakin jelek iklannya semakin mendapat perhatian. Pemilik Joger menuntut para anggota dewan karena idenya yang sudah berabad-abad dikenal masyarakat dicuri. Namun tuntutan itu jauh panggang dari api karena anggota dewan sudah terbiasa menggunakan makelar kasus yang banyak beriklan lewat pamflet yang banyak ditempel di tiang-tiang listrik.

Masyarakat sudah yakin perubahan hanya bisa dilakukan lewat tangan masyarakat sendiri. Daripada menyesali nasib negaranya –“kok bisa begini”- mayoritas memilih untuk menikmatinya. Hollywood KC sepi karena tontonan TV lebih seru. Terkadang mereka mampir ke bioskop hanya untuk membeli popcorn lalu menuju DPR, membeli tiket untuk masuk balkon (karena membludaknya pengunjung akhirnya BPH DPR mengambil keputusan menjual tiket masuk balkon, “Lumayan buat nambah modal main saham bumi,” kata mereka), melepas tawa melihat kelakuan anggota dewan.

Lama kelamaan, media massa tidak tertarik lagi dengan ulah urakan anggota dewan.  Media tidak pernah puas dengan hal-hal yang biasa. Harus ada hal unik yang bisa menarik perhatian penonton. Saat ini, TV swasta mempunyai proporsi berita gosip dan sinetron 95%. Lima persennya lagi adalah siaran komedi Tawa Sutra, satu-satunya komedi yang bertahan ratusan tahun. Seperti biasa, TV swasta menonjolkan rating. Ternyata cerita-cerita glamor artis dan canda tawa komedian bisa membius penonton sehingga lupa akan kehidupan nyatanya. Memang itu yang dibutuhkan masyarakat saat ini, melupakan kehidupan aslinya.

Merasa sudah tidak diperhatikan lagi oleh masyarakat, Tutut Sitompel, seorang anggota dewan, mencari cara untuk menjadi pusat perhatian. Ia berangkat menuju ruangan sidang dengan menggunakan baju koko komplit dengan sorbannya. Setiap ada kawannya yang nyeleneh, dia berujar, “Jangan begitu ya akhi. Kita harus tahu makna kita hidup di bumi. Intinya pengendalian diri.” Tutut menghapalnya sejak sebulan yang lalu sampai bisa betul-betul fasih melafalkannya. Ia mengulang-ulang ucapan kiai yang tenar satu setengah abad lalu dalam bentuk MP3 dari CD bajakan yang dibelinya di stasiun pasar minggu.

Namun, itu hanya sekedar topeng. Intinya ia ingin menarik perhatian massa. Di saat reporter berita TV swasta berpura-pura mengejar anggota DPR yang baru turun dari eskalator supaya mendapat kesan DPR sibuk, Tutut hadir dengan gayanya sendiri. Ia mau diwawancara hanya oleh reporter berpakaian muslim, belajar dari seorang teroris yang mau dihukum mati satu setengah abad lalu. Semua yang dilakukan Tutut serba terbalik dengan anggota dewan.

Sidang paripurna biasanya memakan waktu minimal satu hari untuk mengambil satu keputusan. Namun di suatu sidang, Tutut berkomentar dan berinterupsi banyak hal benar yang sangat masuk logika orang-orang yang masih di jalan yang benar sehingga hanya dalam waktu 30 menit saja sudah didapat satu keputusan. Tagline-nya yang walaupun sudah lapuk kembali bersinar, “kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit”.

Indonesia kembali menuju kebenaran, paling tidak terlihat seperti itu. Reporter-reporter TV makin sering berkunjung ke DPR. Tidak ada gerak-gerik Tutut yang tidak disorot kamera. Sesuai cita-citanya, ia mendapat ketenaran karena hal-hal benar yang ditegakkannya, walaupun sebetulnya bukan kebenaran yang dia cari tapi ketenaran. Seperti bangkai, muslihat Tutut akhirnya tercium oleh masyarakat. Tidak ada lagi yang percaya pada Tutut dan tidak ada lagi yang percaya pada siapa pun yang menjabat apa pun selama dia berplat merah.

Kembali seperti satu setengah abad silam, masyarakat diajak masuk dalam dunia yang serba membingungkan karena akrobat politik para politisi. Benar dan salah menjadi tentatif. Masyarakat pasif dalam politik, tidak partisipatif, malas mencuri berita politik yang informatif. Naif.

IPMI; Dalang yang Lain

Beberapa hari yang lalu, APPMI menguasai fashion tent dengan 22 desainernya. Hari ini saatnya IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) yang unjuk kebolehan. Tidak sebanyak APPMI, kali ini IPMI hanya membawa 10 desainernya. Walau demikian, APMI tetap bisa menampilkan kejutan-kejutan untuk para fashionista. Kesepuluh desainer itu adalah Carmanita, Denny Wirawan, Era Soekamto, Kanaya Tabitha, Ghea, Hutama Adhi, Stephanus Hamy, Syahreza Muslim, Tuti Cholid, dan Valentino Napitupulu.

Kanaya Tabitha mewakili IPMI mengatakan, “Bagian tersulit dari sebuah pencapaian adalah memulai sesuatu. Dibutuhkan usaha yang lebih keras untuk menghasilkan pencapaian berikutnya. JFW adalah pencapaian masyarakat fashion Indonesia. JFW membawa kita pada pencapaian itu. IPMI gembira menjadi bagian dari acara besar ini.” Kanaya dan Ghea malam ini akan satu panggung dalam memamerkan karya-karya mereka. Ghea juga salah satu anggota IPMI yangs angat direkomendasikan untuk desain-desain etnik. Perpaduan keduanya akan menjadi sangat menarik. Nanti malam.

Ketika perskon, ketua dan pendiri IPMI, Syamsidar Isa yang lebih akrab dipanggil Mba’ Cami, menyampaikan, “Pasar internasional itu adalah harapan kita semua, tapi ingatlah itu bukan satu hal yang mudah. Butuh kerja sama banyak pihak. Moga-moga dengan terkumpulny seluruh komunitas di industri mode dalam JFW ini, kita bisa jadi satu kesatuan yang saling melengkapi, bisa saling bertukar pikiran.”

“Sebagian besar anggota IPMI sekarang sering turun ke desa, mengangkat tekstil kerajinan Indonesia. Sekarang, banyak anggota yang sedang menyebar ke daerah-daerah seperti Palembang, Majalaya, Solo, NTT, dan sebagainya.”

Era Soekamto ikut menambahkan, “Saya sebagai yang muda banggga sekali masuk IPMI. Karena berjuang bersama-sama jadi lebih mudah. Saya setuju banget kita harus memajukan industri kreatif. Pada show malam ini, saya memajukan karya-karya ready to wear itu bukan sekedar secara langsung mau menggaet buyer. Tapi saya mau mengatakan bahwa kita mampu untuk itu. Kita harus beritahu bahwa Indonesia itu tidak selalu tradisional. Tanpa mengurangi nilai tradisional budaya Indonesia itu.”

“Kreatif industri itu 68,7% menyumbang Pendapatan negara. Ada empat belas elemen dalam kreatif industri ini. Music dan fashion jadi yang paling besar sumbangannya. Kreatif industri begitu penting. Kita dari dasarnya memang bangsa yang kreatif. Jadi ayo mari, kreatif industri itu bukan hanya menghayal menghasilkan karya, tapi juga di-manage dengan baik, bisa mendapatkan market yang siap juga. Kita ini berjuang di industri kita sendiri, di sekup yang kecil untuk sesuatu yang besar.”

Menurut Era, “Kita dengan APPMI tidak ada perbedaan yang banyak. Kalau kami recruitment tiap empat tahun sekali, kita lihat dia progressif dan eksistensinya kuat, komitmennya besar, maka bisa masuk IPMI. Begitupun di APPMI punya keinginan yg bagus dengan meng-endorse bakat-bakat daerah. Semuanya bagus, jadi tidak ada yang harus muncul cuma satu.”