Archive for the 'politik' Category

04
Okt
10

Kenapa Bahasa Indonesia?

Satu hal yang belum kupahami. Kenapa dipilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional?

Sumpah Pemuda tahun 1928 itu kan ajang kumpul-kumpul pemuda dari macam-macam daerah di Indonesia yang waktu itu belum jadi Indonesia. Ada Yong Java, Yong Selebes, Yong Sumatera, dsb (tuh, “Yong” aja bahasa apa coba? Mungkin serapan dari “Young” kali ya). Mereka datang dari daerahnya masing2 yang di daerahnya itu punya bahasa lokal sendiri. Sekarang saja, dalam satu provinsi bisa ada beberapa bahasa. Mungkin dulu lebih macam lagi.

Kalau ada kongres mahasiswa nasional sekarang2 ini, Aku cenderung melihat mereka nge-gank dengan sukunya masing2. Memang membaur, tapi mereka lebih senang bergaul dengan orang dari daerah asalnya sendiri. Kalau ada, misalkan, mahasiswa ITB bikin acara nasional. Walaupun itu katanya nasional, tapi yang mayoritas datang kan dari Bandung, Jakarta, ya Jawa Barat lah. Memang ada dari Sulawesi, Irian, tapi cuma satu dua. Jadi, mayoritas peserta adalah yang ada di regional itu.

Seperti itulah kondisi yang Aku bayangkan waktu sumpah pemuda. Mereka lebih nyaman dengan bahasanya masing-masing. Nah, karena sumpah pemuda dibuat di Pulau Jawa, Aku membayangkan banyak peserta dari Jawa di sana. Bahasa Jawa menjadi dominan, piye kabare?

Waktu si pemimpin sidang (atau apapun sebutannya) bilang, “Kita pakai bahasa apa ya, kawan?” Kenapa Bahasa Indonesia yang dipilih? Padahal ada Jawa yang dominan. Kalau ada yang mengusulkan pakai Bahasa Jawa saja, akan banyak pendukungnya, kalau voting akan menang. Apa karena mereka lagi sangat nasionalis? Tapi, kalaupun iya, apa Bahasa Indonesia itu dipakai di seluruh Indonesia sehingga bisa dibilang sebagai bahasa nasional? Setahuku cuma di Sumatera, itu juga cuma di bagian utara. Itupun utara yang mana ya? Karena Aceh, Medan, Padang, punya bahasa sendiri. Aku tahu bahasa Aceh, itu tuh beda banget dengan Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu, paling tidak di vocabulary-nya.

Oke, mungkin mereka berpikir, jangan bahasa yang kita semua pakai di daerah, bahasa lain saja. Tapi kenapa Bahasa Melayu versi beta (Bahasa Indonesia) yang dipilih? Kenapa bukan Bahasa Inggris biar lebih global? Mungkin karena dulu, di dunia, yang eksis itu Bahasa Melayu, belum Bahasa Inggris. Tapi, apa begitu?

Memang bahasannya agak terlihat sukuisme, tapi poinnya bukan di situ, bukan mau menyudutkan salah satu suku. Mudah-mudahan tidak terlihat menyudutkan ya.

06
Jul
10

Membedah Pengembangan Sawit Indonesia

Buah kelapa sawit. Dok: kpbptpn.co.id

Awal Mei 2010, Aku mulai terlibat dalam penyuntingan sebuah buku tentang perjalanan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Penulisnya adalah M Badrun, mantan Dirjen Perkebunan tahun 80-an. Fisiknya sudah terlihat sepuh tapi dia seakan menjadi muda lagi ketika diajak berbincang tentang Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR) Perkebunan. Pada era Badrun memimpin, ia mengembangan PIR dengan memberikan kesempatan pada pengusaha swasta untuk ikut mengembangkan perkebunan kelapa sawit pada tahun 1986 lewat proyek PIR-Trans. Ini yang kemudian menjadi cikap bakal pola-pola lain seperti KKPA. Hasilnya mungkin di luar dugaan, lahan perkebunan sawit di Indonesia berlipat puluhan kali. Investasi luar biasa sehingga menjadikan Indonesia produsen nomor satu di dunia.

Perkembangan produk minyak kelapa sawit yang begitu pesat di pasaran internasional tentu menjadi mimpi buruk bagi produsen minyak nabati lain. Produknya menjadi kalah dan tidak laku di pasaran, terutama minyak kedelai yang produsen utamanya adalah Amerika Serikat.

Perang pertama dimulai. Amerika mulai menghembuskan isu bahwa minyak kelapa sawit merusak kesehatan, terutama jantung. Segala penelitian tentang itu didukung oleh mereka lalu diekspos besar-besaran. Sempat isu itu mengganggu pasar minyak sawit, tapi kemudian Indonesia dan Malaysia patungan untuk membuat penelitian tandingan yang hasilnya menyatakan bahwa minyak kelapa sawit tidak berefek pada kesehatan jantung. Amerika kalah dan kedelainya tetap tidak laku.

Perang kedua, entah siapa dibalik isu ini, tapi lingkungan menjadi topik utama. Perkebunan kelapa sawit dicerca merusak hutan, memusnahkan Orang Utan, merusak tatanan pengairan, dan sebagainya. Kalau untuk ini, menurutku bukan perkebunan kelapa sawit-nya yang salah, tapi penegakan hukum-nya yang kurang tegas. Aturan sudah jelas dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit harus layak secara ekonomi, layak secara lingkungan, dan ramah lingkungan. Kalau ada yang tidak ramah lingkungan berarti dia tidak taat azaz, tinggal bagaimana meletakkan hukum di kepala mereka saja.

Itu yang menjadi perdebatanku dengan seorang aktivis Green Peace di Plaza Semanggi. Mereka claim, penyelewengan itu terjadi di 80% perkebunan kelapa sawit Indonesia. Pertama, Aku belum terlalu percaya dengan data itu. Penyelewengan memang ada, tapi sepertinya tidak sampai setinggi itu. Data seharusnya dibalas data, di situ kekalahanku. Kedua, selama ini orang hanya melihat dampak negatifnya terus yang itu sebetulnya tinggal diselesaikan dengan penegakan hukum yang sesuai, bukan memberangus kebijakan pengembangan perkebunan kelapa sawit. Dampak positifnya bahwa perkebunan sawit  membuat 600 M bergulir setiap bulannya di setiap desa PIR, itu tidak pernah diangkat. Berapa ribu orang yang tadinya makan saja sulit sekarang dengan mudah bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana. Berapa ribu usaha yang berputar karena daya beli pekebun yang meningkat pesat. Berapa banyak daerah terisolir yang sekarang bisa terakses dengan baik. Itu semua tidak pernah diangkat.

Aku diberi kesempatan berbincang langsung dengan peserta PIR-Trans di Riau. Dulu, hidupnya sungguh menderita. Ia hanyalah seorang anak buruh tani, strata ekonomi terendah di daerahnya. Sekarang, setelah mengikuti PIR-Trans selama 20 tahun, hampir tidak ada masalah ekonomi yang membelitnya. Dengan mudah ia bisa menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Ini karena perkebunan sawit. Cerita ini adalah prototipe dari banyak petani kelapa sawit yang mengikuti proyek PIR.

Sawit tidak akan pernah berhenti diserang beragam isu karena banyak pihak yang tidak suka sawit berkembang di Indonesia. Direktorat Tanaman Tahunan, Ditjenbun, Kementan, terutama Seksi Tanaman Kelapa Sawit tidak pernah sepi akan pekerjaan. Selalu ada saja yang menanyakan tentang isu buruk kelapa sawit. Jarang Aku lihat orang-orangnya lengkap ada di kantor. Biasanya mereka ada di lapangan, ada saja yang diklarifikasi, ada saja yang dikerjakan.

Jadi, kalau ada pikiran bahwa pengembangan kelapa sawit harus dihentikan, mari kita berdiskusi…

18
Jun
10

Di Balik Layar Penyusunan Buku Sejarah N8: Eksplorasi Pelaku Sejarah

Tuntas menyelesaikan peliputan. Aku mentransfer semua hasil wawancara ke Microsoft Word selama 1 minggu. Dari pagi sampai malam, terkadang sampai pagi lagi, tidak pernah lepas dari laptop. Di sela-sela aktifitas itu, Aku dan tim penyusun berangkat ke Bandung untuk wawancara dengan para pelaku sejarah. Semua cerita di bawah di dapat dari wawancara selama bulan Februari 2010.

Pak Gumbira (baju biru), Pak Pandji (lagi baca), Pak Kurnadi, Pak Kuswandi (baju putih). Dok: Iqbal

Pak Kurnadi Syarif, Pak Dede Suganda, Pak Pandji Natadikara, Pak Gumbira, dan Pak Kuswandi berada satu meja dengan kami membahas kejadian-kejadian pada era nasionalisasi dan sekitarnya. Pak Kurnadi dan Pak Pandji adalah 2 dari 4 orang yang pada saat nasionalisasi pada 10 Desember 1957 ditugaskan merebut kebun-kebun di Jawa Barat dari tangan pengusaha swasta Belanda.

Mereka menceritakan ketika itu umurnya baru sekitar 30 tahun, tapi sudah diperintah negara untuk merebut puluhan kebun dari orang-orang Belanda yang sangat senior bagi mereka. Aku membayangkan seperti pemuda zaman sekarang yang diperintahkan menghadap Aburizal Bakrie lalu mengatakan, “Semua perusahaanmu mulai detik ini Aku yang pegang!”

Ditertawakan? Tentu saja. Para staf Belanda waktu itu mencemooh Pak Kurnadi. Mereka mengatakan dalam beberapa bulan saja, perkebunan akan hancur di tangan Pak Kurnadi. Kenyataannya, beberapa tahun kemudian, produksi kebun meningkat, kualitasnya baik sekali. Staf Belanda yang tadinya menertawakan akhirnya mengakui keberhasilannya. Merinding kepala ini mendengar setiap detail perjuangan Pak Kurnadi. Secara tidak sadar, ia menggelorakan semangat perjuangan bagi yang mendengarnya.

Pak Dede adalah mantan anggota MPR dan juga mantan DPR. Ia banyak memberikan kami literatur. Tapi Aku pribadi agak malas membacanya karena seluruh tulisan yang diberikannya penuh dengan pasal-pasal. Memang penting mengangkat perundang-undangan perkebunan, tapi Aku merasa lebih seru mendalami aspek human interest dari sejarah panjang tersebut.

Perjuangan dengan cara lain dilakukan Pak Gumbira. Ia adalah sosok yang dipercaya memperbaiki PTP (PT Perkebunan) yang dirasa kurang berhasil. Jadi Pak Gumbira selalu didapuk menjadi Dirut di PTP bermasalah. Setelah masalah beres, ia dimutasi lagi ke PTP bermasalah lain, dst. Setiap ia menjadi direktur baru di PTP yang lain, perubahan besar dibawanya. Efisiensi jumlah karyawan sampai sepertiga dari sebelumnya merupakan hal biasa yang kerap dilakukannya. Dialah yang diminta untuk menjadi Dirut PTP Gabungan XI, XII, dan XIII pertama, pada tahun 1994.

Pak Kuswandi tidak seperti tokoh-tokoh di atas yang berjuang di ranah nasional. Ia hanya rajin mengeksplorasi sejarah kebun-kebun di Jawa Barat. Aku berkesempatan menginap di rumahnya di Garut selama 1 malam. Ia punya beberapa vila yang disewakan, nama tempatnya “Bamboo House”. Di situ, Aku mendapat banyak sekali bahan bacaan dan gambar-gambar perkabunan zaman dulu. Bahkan ada satu buku berbahasa Inggris yang banyak mengulas gambar perkebunan dari udara. Gambarnya betul-betul dijepret dari udara dengan tahun jepret 1930-an, mungkin menggunakan kapal terbang atau helikopter.

Satu buku yang betul-betul membuatku bergairah, “Heren van de Thee” atau Bahasa Indonesia-nya “Pengusaha Teh”. Ini buku novel yang diangkat dari kejadian nyata ketika seorang Belanda bernama RE Kerkhoven mendirikan Perkebunan Teh. Gaya hidup Belanda dan sudut pandang mereka tentang pribumi gamblang dituturkan buku ini.

Menyegarkan berbicara bersama orang-orang di atas. Walau ingatan mereka terkadang muncul terkadang tenggelam tak jelas, tapi semangat mereka selalu tinggi. Begitu pentingnya etos kerja bagi mereka. Sedikit, kritikan pedas bergulir bagi para Direksi di kantor pusat perkebunan yang jarang sekali turun ke kebun. Mereka bilang, itulah penyebab kemunduran perkebunan. Tidak seperti zaman mereka dulu yang kehidupannya jauh lebih banyak di kebun daripada di kantor/kota.

Setelah menyergap isi kepala mereka, kami meminta PTPN VIII memberikan fasilitas salah satu vila lengkap dengan konsumsinya selama satu minggu agar kami bisa fokus menulis. Satu jam kemudian tersiar kabar, Rumah Kelapa sudah di-booking untuk kami 4 penulis. Kami mengasramakan diri pada 15-19 Februari 2010 di Rumah Kelapa itu. Letaknya persis di sebelah pabrik teh Gunung Mas, Puncak, jadi wangi harum teh kerap tercium. Alam puncak yang indah, udara yang segar dengan diselingi wangi harum teh, tidak adanya kebisingan, dan makanan yang enak membuatku bisa memproduksi 4 halaman tulisan per hari! Jauh dari capaian biasanya yang hanya 2 halaman per hari.

13
Apr
10

Tutut Sitompel Kembali Berulah

Jakarta, 2159

terkadang, lebih baik melihat ke bawah...

Paripurna ricuh, para anggota dewan berkelakar ini itu. Mereka ingin wajahnya dipublikasikan media elektronik. Belajar dari seorang anggota dewan satu setengah abad yang lalu, mereka merasa harus berulah untuk mendapatkan perhatian media massa. Kelakarnya sama-sama hanya mencari perhatian, rambut dipotong botak, di-mohawk, atau spike ala anak punk. Rapat pleno dipenuhi para anggota bertindik dengan jaket berbahan jeans yang dipenuhi paku. Mereka menginterupsi sidang dengan teriakan, “Oi oiii….”

Semua itu untuk mendapat perhatian media. Bahkan, di pemilu terakhir, setiap calon dalam spanduk-spanduk dan pamfletnya mengatakan, jangan coblos nomor 4, saya tukang mabuk-mabukan. Saya bodoh, terbukti sebelumnya saya meningkatkan pengangguran 30%. “Jangan pilih yang berkumis,” padahal kumisnya selebat Pak Raden. Masyarakat menikmati kampanye macam itu. Semakin jelek iklannya semakin mendapat perhatian. Pemilik Joger menuntut para anggota dewan karena idenya yang sudah berabad-abad dikenal masyarakat dicuri. Namun tuntutan itu jauh panggang dari api karena anggota dewan sudah terbiasa menggunakan makelar kasus yang banyak beriklan lewat pamflet yang banyak ditempel di tiang-tiang listrik.

Masyarakat sudah yakin perubahan hanya bisa dilakukan lewat tangan masyarakat sendiri. Daripada menyesali nasib negaranya –“kok bisa begini”- mayoritas memilih untuk menikmatinya. Hollywood KC sepi karena tontonan TV lebih seru. Terkadang mereka mampir ke bioskop hanya untuk membeli popcorn lalu menuju DPR, membeli tiket untuk masuk balkon (karena membludaknya pengunjung akhirnya BPH DPR mengambil keputusan menjual tiket masuk balkon, “Lumayan buat nambah modal main saham bumi,” kata mereka), melepas tawa melihat kelakuan anggota dewan.

Lama kelamaan, media massa tidak tertarik lagi dengan ulah urakan anggota dewan.  Media tidak pernah puas dengan hal-hal yang biasa. Harus ada hal unik yang bisa menarik perhatian penonton. Saat ini, TV swasta mempunyai proporsi berita gosip dan sinetron 95%. Lima persennya lagi adalah siaran komedi Tawa Sutra, satu-satunya komedi yang bertahan ratusan tahun. Seperti biasa, TV swasta menonjolkan rating. Ternyata cerita-cerita glamor artis dan canda tawa komedian bisa membius penonton sehingga lupa akan kehidupan nyatanya. Memang itu yang dibutuhkan masyarakat saat ini, melupakan kehidupan aslinya.

Merasa sudah tidak diperhatikan lagi oleh masyarakat, Tutut Sitompel, seorang anggota dewan, mencari cara untuk menjadi pusat perhatian. Ia berangkat menuju ruangan sidang dengan menggunakan baju koko komplit dengan sorbannya. Setiap ada kawannya yang nyeleneh, dia berujar, “Jangan begitu ya akhi. Kita harus tahu makna kita hidup di bumi. Intinya pengendalian diri.” Tutut menghapalnya sejak sebulan yang lalu sampai bisa betul-betul fasih melafalkannya. Ia mengulang-ulang ucapan kiai yang tenar satu setengah abad lalu dalam bentuk MP3 dari CD bajakan yang dibelinya di stasiun pasar minggu.

Namun, itu hanya sekedar topeng. Intinya ia ingin menarik perhatian massa. Di saat reporter berita TV swasta berpura-pura mengejar anggota DPR yang baru turun dari eskalator supaya mendapat kesan DPR sibuk, Tutut hadir dengan gayanya sendiri. Ia mau diwawancara hanya oleh reporter berpakaian muslim, belajar dari seorang teroris yang mau dihukum mati satu setengah abad lalu. Semua yang dilakukan Tutut serba terbalik dengan anggota dewan.

Sidang paripurna biasanya memakan waktu minimal satu hari untuk mengambil satu keputusan. Namun di suatu sidang, Tutut berkomentar dan berinterupsi banyak hal benar yang sangat masuk logika orang-orang yang masih di jalan yang benar sehingga hanya dalam waktu 30 menit saja sudah didapat satu keputusan. Tagline-nya yang walaupun sudah lapuk kembali bersinar, “kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit”.

Indonesia kembali menuju kebenaran, paling tidak terlihat seperti itu. Reporter-reporter TV makin sering berkunjung ke DPR. Tidak ada gerak-gerik Tutut yang tidak disorot kamera. Sesuai cita-citanya, ia mendapat ketenaran karena hal-hal benar yang ditegakkannya, walaupun sebetulnya bukan kebenaran yang dia cari tapi ketenaran. Seperti bangkai, muslihat Tutut akhirnya tercium oleh masyarakat. Tidak ada lagi yang percaya pada Tutut dan tidak ada lagi yang percaya pada siapa pun yang menjabat apa pun selama dia berplat merah.

Kembali seperti satu setengah abad silam, masyarakat diajak masuk dalam dunia yang serba membingungkan karena akrobat politik para politisi. Benar dan salah menjadi tentatif. Masyarakat pasif dalam politik, tidak partisipatif, malas mencuri berita politik yang informatif. Naif.

18
Nov
09

IPMI; Dalang yang Lain

Beberapa hari yang lalu, APPMI menguasai fashion tent dengan 22 desainernya. Hari ini saatnya IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) yang unjuk kebolehan. Tidak sebanyak APPMI, kali ini IPMI hanya membawa 10 desainernya. Walau demikian, APMI tetap bisa menampilkan kejutan-kejutan untuk para fashionista. Kesepuluh desainer itu adalah Carmanita, Denny Wirawan, Era Soekamto, Kanaya Tabitha, Ghea, Hutama Adhi, Stephanus Hamy, Syahreza Muslim, Tuti Cholid, dan Valentino Napitupulu.

Kanaya Tabitha mewakili IPMI mengatakan, “Bagian tersulit dari sebuah pencapaian adalah memulai sesuatu. Dibutuhkan usaha yang lebih keras untuk menghasilkan pencapaian berikutnya. JFW adalah pencapaian masyarakat fashion Indonesia. JFW membawa kita pada pencapaian itu. IPMI gembira menjadi bagian dari acara besar ini.” Kanaya dan Ghea malam ini akan satu panggung dalam memamerkan karya-karya mereka. Ghea juga salah satu anggota IPMI yangs angat direkomendasikan untuk desain-desain etnik. Perpaduan keduanya akan menjadi sangat menarik. Nanti malam.

Ketika perskon, ketua dan pendiri IPMI, Syamsidar Isa yang lebih akrab dipanggil Mba’ Cami, menyampaikan, “Pasar internasional itu adalah harapan kita semua, tapi ingatlah itu bukan satu hal yang mudah. Butuh kerja sama banyak pihak. Moga-moga dengan terkumpulny seluruh komunitas di industri mode dalam JFW ini, kita bisa jadi satu kesatuan yang saling melengkapi, bisa saling bertukar pikiran.”

“Sebagian besar anggota IPMI sekarang sering turun ke desa, mengangkat tekstil kerajinan Indonesia. Sekarang, banyak anggota yang sedang menyebar ke daerah-daerah seperti Palembang, Majalaya, Solo, NTT, dan sebagainya.”

Era Soekamto ikut menambahkan, “Saya sebagai yang muda banggga sekali masuk IPMI. Karena berjuang bersama-sama jadi lebih mudah. Saya setuju banget kita harus memajukan industri kreatif. Pada show malam ini, saya memajukan karya-karya ready to wear itu bukan sekedar secara langsung mau menggaet buyer. Tapi saya mau mengatakan bahwa kita mampu untuk itu. Kita harus beritahu bahwa Indonesia itu tidak selalu tradisional. Tanpa mengurangi nilai tradisional budaya Indonesia itu.”

“Kreatif industri itu 68,7% menyumbang Pendapatan negara. Ada empat belas elemen dalam kreatif industri ini. Music dan fashion jadi yang paling besar sumbangannya. Kreatif industri begitu penting. Kita dari dasarnya memang bangsa yang kreatif. Jadi ayo mari, kreatif industri itu bukan hanya menghayal menghasilkan karya, tapi juga di-manage dengan baik, bisa mendapatkan market yang siap juga. Kita ini berjuang di industri kita sendiri, di sekup yang kecil untuk sesuatu yang besar.”

Menurut Era, “Kita dengan APPMI tidak ada perbedaan yang banyak. Kalau kami recruitment tiap empat tahun sekali, kita lihat dia progressif dan eksistensinya kuat, komitmennya besar, maka bisa masuk IPMI. Begitupun di APPMI punya keinginan yg bagus dengan meng-endorse bakat-bakat daerah. Semuanya bagus, jadi tidak ada yang harus muncul cuma satu.”

31
Mar
09

Cot Seurani: Cerminan Demokrasi yang Sesunguhnya

Beberapa orang sedang berdiskusi di Meunasah

Beberapa orang sedang berdiskusi di Meunasah

Setelah Maghrib usai, sayup-sayup terdengar pengumuman dalam Bahasa Aceh yang kurang lebih artinya, ”Ayo, warga kampong Cot Seurani (sebuah desa kecil di kecamatan kecil Krueng Mane, NAD), kumpul di Meunasah (semacam Mushala) setelah Isya, ada yang penting untuk dibicarakan.”

Waktu berjalan. Isya baru saja lewat. Suara itu terdengar lagi, tapi lebih keras dan tegas, masih dalam Bahasa Aceh, yang kalau diterjemahkan menjadi, ”Hai warga kampong, ini sudah lewat Isya. Cepat kumpul!”

Sekitar 30 menit kemudian, berkumpullah sekitar 50 orang laki-laki yang mewakili keluarganya di Meunasah. Teuku Imum* angkat bicara. Kalau di-translate lalu dirangkum dalam Bahasa Indonesia menjadi, ”Akhir-akhir ini, orang yang datang ke masjid semakin berkurang. Sekarang saja yang datang Cuma sekitar 50, seharusnya 200 (ada sekitar 200 KK di desa Cot Seurani). Kekuatan islam ada di jama’ah sekalian. Kalau kita tidak bersatu, apa lagi yang bisa diandalkan dalam islam? Untuk itu saya minta saudara sekalian untuk lebih aktif lagi ke masjid. Kita harus bersatu. Islam harus bersatu.” Sebetulnya pidato tersebut lebih panjang dan lebih menyentuh lagi, saya potong karena akan panjang sekali.

Setelah Teuku Imum bicara, ia mempersilahkan Geuchik** untuk menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Geuchik ambil posisi. “Yang penting-penting semua sudah disampaikan oleh Teuku Imum tadi. Yang saya sampaikan hanya melanjutkan amanah. Ada instruksi dari pemerintah untuk kita sama-sama menjalankan ronda setiap malam sampai pemilu usai. Kita tidak usah membantah, kerjakan saja. Sekarang yang kita sepakati, siapa yang akan dilibatkan dalam ronda?” Seseorang memberikan usul untuk laki-laki yang sudah Baligh. Kemudian ada warga yang membantah, “Sulit untuk yang masih sekolah. Kasihan mereka.” Terus menerus pendapat mengalir deras dari warga. Dengan bijak, Geuchik ambil alih, merangkum semua usulan, “Baik, jadi yang ikut ronda adalah pria umur 20-50, tapi kalau ada yang di bawah 20 namun tidak sekolah maka dia wajib ikut. Pengaturan selanjutnya tentang pembagian tugas akan digodok oleh tetua 4 dan tetua 8 (semacam DPR dan MPR dalam desa itu). Selanjutnya saya buka agenda dan lain-lain, ada yang ingin dibahas?”

Salah seorang warga mengacungkan jarinya lalu mulai bicara, “Ternak sapi yang suka dilepas entah punya siapa itu suka mengganggu rumah saya (banyak penduduk Aceh yang mempunyai ternak, Aceh terkenal dengan lumbung sapi). Tanaman habis dimakannya. Apa saya boleh tangkap ternak itu lalu saya potong?!!”

Dengan tenang, Geuchik memimpin forum itu untuk membahas kasus ini. Forum sepakat membuat hukum desa untuk masalah ini. Kembali banyak warga yang mengacungkan tangannya lalu mengajukan pendapatnya. Geuchik dengan hormat menampung semua pendapat warga, kemudian membuat kesimpulan lagi, “Kalau ada warga yang merasa dirugikan akibat sapi yang dilepas, maka warga tersebut boleh menangkap lalu mengikatnya di depan rumah. Tunggu sampai pemilik sapi datang. Ada juru hitung yang akan saya tunjuk untuk menghitung kerugian warga yang dirugikan lalu akan dimintakan pada pemilik sapi. Kalau tidak datang, pemilik sapi dikenakan 100 ribu/hari. Sampai angkanya setara dengan harga sapi, maka sapi boleh menjadi milik warga yang dirugikan.”

Selesai membuat kesimpulan, ada yang nyeletuk, “Kalau kambing bagaimana?” Geuchik langsung menjawab, “Akan sama persis dengan hukum sapi yang kita buat tadi.” Ada warga yang masih belum puas, “Kalau ayam atau bebek?” Warga yang lain tergelak dengan pertanyaan tersebut. Geuchik dengan sabar menjawab, “Tentunya itu akan beda kasusnya. Kalau sudah ada warga yang mengeluh tentang ayam dan bebek baru akan kita bahas kemudian bagaimana hukumnya.”

Seorang lagi warga yang masih belum puas, “Kalau warga yang dimakan pekarangannya itu mengikat sapi lalu sapinya mati, tanggung jawab siapa?” Dengan mimic yang sama sekali tidak meremehkan pertanyaan tersebut, Geuchik menjawab, “Sesungguhnya hidup dan mati itu sudah digariskan. Itu sudah ditulis di sana. Hewan ternak pun demikian, sudah ada garisnya. Tidak akan melenceng dari garis yang dibuat oleh pemilik alam ini. Jadi, kalau memang ternak itu mati, maka memang dia seharusnya mati. Bukan menjadi tanggung jawab yang mengikatnya. Namun demikian, kita tidak boleh membuat hal-hal yang dengan sengaja membuat hewan ternak itu mati.”

Dua jam sudah berlalu. Karena tidak ada yang perlu dibahas lagi, maka pertemuan itu ditutup. Warga kembali ke rumahnya masing-masing, tanpa membawa besek. Jangankan besek, segelas air mineral pun tidak ada. Sangat berbeda jauh dengan keadaannya di Jakarta. Pengurus masjid di Jakarta mempunyai aturan wajib yang tidak tertulis bahwa warga yang diundang oleh pengurus masjid harus diberi “bekal” ketika pulang. Tidak jarang, hal itu malah membuat tujuan berubah.

*****

Cerita di atas betul-betul terjadi ketika saya sedang tinggal di rumah nenek di Krueng Mane, sebuah desa kecil di pesisir timur Nangroe Aceh Darussalam. Desa yang tidak mengenal macet. Desa tanpa polusi. Desa dengan penduduknya yang ramah. Desa yang sarat akan gotong royong. Desa dengan aturan islam yang masih dipeluk erat.

Rapat seperti ini sering dilakukan pemimpin-pemimpin di sana untuk membahas sesuatu yang perlu dibahas bersama. Bayangkan, dengan pengumuman yang sangat mendadak, bahkan diiringi nada bicara yang ketus sekalipun, pemerintahan desa Cot Seurani mampu mengumpulkan warganya dalam sekejap. Warga pun tidak merasa dirugikan karena mereka tahu itu untuk kepentingan bersama.

Dalam satu pertemuan, dengan tegas pemimpin agama menasihati warganya. Warga tidak merasa dipojokkan sama sekali. Nasihat itu seperti nasihat ayah kepada anaknya, demi kebaikan si anak. Nasihatnya tegas, tidak mengawang-awang, tidak bertele-tele, namun sangat membekas di hati warga.

Di pertemuan itu juga dibahas keamanan lingkungan, bahkan sempat membuat beberapa hukum yang menghadirkan kata sepakat dari semua warga.

Walaupun punya dua pemimpin sekaligus, tapi tidak ada konflik sedikitpun antar pemimpin itu. Mereka saling mengisi dan saling menghormati. Saya tahu, sebetulnya inti dari pertemuan itu adalah sosialisasi ronda, tapi Geuchik dengan rasa hormatnya yang tinggi kepada Teuku Imum, ia mengatakan bahwa yang penting adalah mengedepankan agama, ronda hanya masalah sepele.

Mimpi besar kita bersama untuk membuat Indonesia secara agregat memiliki jiwa demokrasi yang betul-betul sesuai dengan makna demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

*Teuku Imum: pemimpin agama dalam sebuah desa. Ada dua pemimpin dalam satu desa di Aceh, keduanya selalu berjalan beriringan.

**Geuchik: pemimpin dalam garis pemerintahan, setara Kepala Desa.

30
Mar
09

Partai Hijau Belum Bergegas

Hijau. Identik dengan pohon, alam, dan uang. Kenyataannya memang alam ini sangat dekat dengan uang. Anda mengerti kan maksud saya…?

Satu ketika saya berbincang dengan seorang yang sangat senior di bidang lingkungan hidup, sebutlah namanya Pak B. Puluhan tahun dia hidup dan meneliti alam. Katanya, alam itu sangat dekat dengan politik. Statement yang paling mengejutkan adalah bahwa segala masalah, segala perang, segala pertikaian, yang ada di muka bumi ini akibat memperebutkan alam. Pihak yang bertikai memperebutkan alam ingin mengeksploitasinya demi kemakmuran golongannya. Tokoh ini menyebutkan satu demi satu contoh pertikaian besar, kemudian ia menyambungkannya dengan perebutan alam, entah itu emas, minyak, hutan, dan sebagainya. Intinya konflik yang terjadi karena perebutan alam.

Ada sebagian yang sadar dengan hal ini sedangkan sebagian besar yang lain tidak melek atau tidak mau melek. Sebagian dari yang sadar memutuskan untuk mengambil langkah konkret, membela alam. Banyak cara yang dilakukan, salah satunya bergabung dengan lembaga yang mempunyai tujuan membela alam.

Semakin banyak yang sadar kemudian semakin banyak yang berkecimpung langsung mengabdi. Selanjutnya, pemikiran bahwa perjuangan hanya dilakukan lewat lembaga saja tidaklah cukup. Perlu orang pro lingkungan yang menyisip ke dalam pengambil keputusan yang namanya pemerintah itu. Mereka berjuang dalam satu partai yang disebut sebagai Partai Hijau.

Di Jerman, pertama kalinya partai hijau muncul langsung bisa menarik hati 14% pemilih, angka yang sangat besar untuk partai baru. Menurut Pak B, partai mereka memang baru terbentuk tapi perjuangan mereka sudah lama, sudah sangat mengakar di masyarakat. Maka ketika partai hijau dengan orang-orang yang sudah mengakar ini muncul, masyarakat sudah familiar dan tidak ragu untuk mendukung partai hijau.

Bagaimana dengan di Indonesia? menurut Pak B, sudah banyak aktivis lingkungan yang menyusup ke partai, hanya saja, bukan ke satu partai. Mereka menyebar. Akibatnya, masyarakat menilainya bukan merupakan satu kekuatan yang kokoh. Atau kemungkinan kedua, para aktivis lingkungan ini belum sepenuhnya mengakar ke masyarakat.

Ada sebuah partai di Indonesia yang mengaku sebagai partai hijau. Partai ini cukup besar, sudah ada sejak pemilu 2004. Namun, menurut Pak B, mereka belum mengerti banyak tentang lingkungan hidup. Ketika ditanya, bagaimana nasib lingkungan Indonesia kemudian? Pak B menjawab, akan semakin buruk karena belum banyak yang sungguh-sungguh membela alam. Sebagian besar dari pengambil keputusan bukan tidak mau membela alam, tapi mereka tidak tahu keputusan-keputusannya ternyata berakibat buruk ke alam.

Sulit saya simpulkan, harus dimulai dari mana perubahan itu karena banyak hal yang ternyata belum masyarakat tahu tentang perlakuannya secara tidak sengaja justru merusak alam.




Juli 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31