Indon Under Attack!

Tidak terasa, Indonesia sedang diserang!
Tidak terasa, Indonesia sedang diserang!

Di suatu forum seminar, Handito, presiden dari sebuah perusahaan konsultan mengatakan bahwa Carrefour meminta izin kepada pemerintah kita untuk memberikan izin impor kepada mereka. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Carrefour merupakan salah satu peritel besar yang ada di Indonesia, dan dia milik asing!

Kalau pemerintah betul-betul memberikan izin impor, pastinya akan lebih banyak lagi barang luar yang dipajang di Carrefour. Dilihat dari kacamata konsumen, it’s ok, bahkan bagus, konsumen diberikan lebih banyak pilihan. Tapi kalau kita melihat di bawah sana, produsen-produsen Indonesia, mereka belum sanggup untuk bersaing dengan produk luar.

Memang, pasar tradisional masih menjadi pasar utama di Indonesia saat ini, tapi nampaknya peritel-peritel besar semakin lama semakin menggusur keberadaan pasar tradisional. Artinya, akan semakin banyak orang yang berangkat ke Carrefour daripada ke pasar becek. Efeknya, produk local akan semakin tidak dilirik.

Nah, jelas terlihat bahwa kita diserang oleh produk-produk luar. Mungkin awalnya produk-produk impor tersebut hanya bercokol di etalase. Tapi karena selalu ada di etalase, jadi terciptalah pembeli. “Supply create demand,” begitu kata Gardjita Budi, Direktur Pemasaran Domestik Deptan.

Itu tidak hanya dilakukan peritel. Sepanjang pengetahuan saya, produk-produk MLM banyak sekali yang memasarkan produk-produk dengan brand luar (mohon dikoreksi jika salah). Mungkin bahan dasarnya dari Indonesia, tapi prosesnya bukan dikerjakan di Indonesia. Yang dapat untung besar siapa? Ya jelas manufaktur dan si penjualnya yang langsung berjabatan dengan konsumen. Starbucks beli kopi mentah dari Lampung kemudian dia jual dengan harga 10 kali lipatnya. Indonesia (petani kopi, pengumpul, pengumpul besar) dapat 1, Starbucks dapat 10. Kelemahan Indonesia selalu di hilir. Padahal emasnya ada di hilir.

Semakin banyak konsumen yang membeli produk impor maka akan semakin banyak pasar local yang sudah terbentuk sekian lama pindah ke pasar luar. Kalau dibiarkan, pasar local akan mati, pasar luar akan mendominasi yang kemudian akan memonopoli harga. Jadi, apa Anda akan terus menggunakan produk asing?

Iklan

Squatting, Kenapa Tidak?

squatting, salah satu gaya hidup kaum urban
squatting, salah satu gaya hidup kaum urban

Kurang lebih begini gambaran Squatting. Ada gedung/rumah kosong di salah satu tempat. Selama setahun, rumah itu tetap kosong. Lalu masuklah sekelompok orang dengan mendobrak atau mencungkil lubang kunci pintu. Kemudian mereka tinggal di rumah itu. Peduli setan siapa yang punya rumah itu. Tingkah seperti ini disebut squatting.

Beberapa waktu kemudian, mereka berkenalan dengan tetangga di sekitarnya. Mereka menjalin komunikasi layaknya tetangga. Mereka tidak merampok, mereka hanya ingin tinggal di rumah kosong. Ada yang dirugikan?

Hampir semua Negara menganggap kerjaan squatting ini illegal, masuk ke tindakan criminal. Tapi tidak untuk Belanda.

Pemerintah Belanda punya hukum yang mengatakan bahwa orang bisa tinggal di sebuah rumah dengan syarat dia punya kasur, meja, sama kursi. So, squatter gak salah di poin ini. Hukum ini juga yang menjadikan Squatting tumbuh subur di Belanda. Ini legal di Belanda, asalkan dia udah pastiin gak ada yang menghuni rumah itu selama 12 bulan.

Cuma, mereka biasanya merupakan golongan anak2 muda yang suka jedag jedug, jadi mereka bikin party sendiri di rumah yang bukan rumah mereka itu. Berontaklah si tetangga. Tapi ini kasus. Banyak juga yang aman2 aja jadi squatter bertahun-tahun.

Lucunya, sekelompok bocah2 ini punya buku “The Squatters Handbook” yang dikeluarin sama Advisory Service for Squatters (ASS). Weleh weleh. Ada pula begini2annya. Adanya ASS menjadi indicator bahwa squatter tu bejibun. Ada yang berminat?

Udah banyak loh squatters asal Indo. Sebetulnya definisi squatting gak Cuma terbatas pada penguasaan gedung kosong aja, tapi juga tanah kosong, lebih tepatnya tanah yang dianggap kosong. Wiiih, orang Indo cepet banget nih ngisi yang kosong2 begini. Modal kardus juga jadi. Emang insting invasi orang Indo dahsyat deh!

Kapten Hook Masih Eksis

kapten hook masih mengintai Anda!
kapten hook masih mengintai Anda!

Agak kaget waktu baca Koran kemarin, tentang pembajakan kapal. Kapal tanker raksasa milik perusahaan Arab dibajak oleh perompak yang katanya orang Somalia. Raksasa dalam arti yang sesungguhnya. Pernah lihat kapal induk AS yang bisa ngangkut puluhan jet? Yang ini tiga kali lipatnya! Sekarang kapal dijadikan sandera. Yang diminta sang perompak uang sebesar USD 25 juta alias Rp 300 M. Minyak yang ada di dalam kapal itu senilai dengan USD 100 juta.

Perompak memberikan 10 hari untuk permintaannya dipenuhi. Kok lama betul ya 10 hari? Beda sama film2 Hollywood tentang pembajakan pesawat yang Cuma ngasih waktu 5 jam. Kalau lebih dari itu, setiap 30 menit ada 1 penumpang yang didor!

Di kasus Somalia ini, ancamannya bukan membunuh penumpang, tapi meledakkan kapal yang dia bajak itu. Ledakkan 2 juta barel minyak! Sebesar apa ya? Yah, kita liat aja minggu depan gimana2nya.

Lucu ya, di era youtube masih ada bajak laut? Ini betul2 di luar dugaan. Saya coba perdalam tentang pembajakan ini lewat google dengan keyword “pembajak kapal”. Wah, di Indonesia juga masih banyak bajak laut! Kapten Hook masih eksis!

Yes, They’re Fruitarian!

makan malamnya fruitarian, sanggup?
makan malamnya fruitarian, sanggup?

Kalau Vegetarian mungkin sudah akrab di telinga kita. Tapi tentang Fruitarian? Yang ini lebih ekstrim lagi dari kaum vegetarian.

Welcome to the Fruitarian site, the international meeting point for people who love to eat fruit. We eat raw fruit only…and we feel GREAT !!!!

Itulah dua kalimat awal yang dipajang di Fruitarian.com

Mereka bikin ”The Fruitarian Foundation” yang punya tujuan utama menyadarkan masyarakat bahwa makan buah mentah itu penting. Di situs itu juga mereka nerima donatur2 yang mau bantu misi mereka itu.

Saya juga kurang paham tentang jenis orang yang diberi label vegetarian atau fruitarian seperti apa karena di lingkungan saya tidak ada contoh konkret berbentuk orang, yang ada Cuma info dari majalah2. Ada sih teman yang memberlakukan diet buah dan sayur, tapi itu Cuma dalam jangka waktu tertentu, setelah beratnya mencapai angka normal, makanannya kembali seperti zaman jahiliah dulu.

Di majalah yang saya baca, kaum Fruitarian ini Cuma mau makan buah yang sudah jatuh dari pohonnya. Kalau memetik, mereka bilang itu kejam, tidak berpri ketumbuhanan (?), begitulah kira2 keekstriman mereka. Saya jadi ingat salah satu instruktur di taman buah Apel Malang, dia mengajarkan cara yang bagus untuk memetik buah adalah dengan memutar buah sampai copot sendiri dari batangnya. Tapi ini juga masuk dalam kategori memetik, bukan menunggu jatuh seperti yang Fruitarian lakukan.

Dari segi kesehatan, tidak diragukan lagi, itu menyehatkan, selama asupan protein, lemak, dan korbohidratnya tercukupi. Tapi, gimana coba dapetin buah yang udah jatuh dari pohonnya? Mau dijagain di bawah pohon?

Yah, apapun yang mereka lakukan, maksud mereka baik, mau sehat dan mau menyehatkan orang lain. Go Veg!

Hati-Hati Bom !

hati-hati bom !
hati-hati bom !

“Gw gak suka banget sama keadaan kereta api kita, semerawut! Jadi gw bom aja pintu keretanya,” Eit, jangan berpikir ini aksi terorisme. Itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut kaum salah satu penggiat urban art.

Urban art, kalau dijabarkan dalam bahasa Indo, artinya adalah seni dari kaum perkotaan. Salah satunya itu Grafiti. Seni corat-coret tembok yang biasanya dilakukan di malam hari. Malam hari di sini artinya betul-betul malam hari, mungkin sama seperti jam kerja manusia malam.

Mereka memakai istilah ngebom untuk melakukan aksi mereka mencoret2 tembok yang kebanyakan adalah fasilitas umum. Jangan disamakan antara istilah ngebom di sini dengan mahasiswa yang kebelet ngebom waktu kuliah, atau alm.Imam Samudra yang ngebom dalam arti sesungguhnya.

Saat ini saya hanya mencoba menjadi komentator saja. Hanya ingin membandingkan hasil bom kaum urban di Indonesia dengan orang-orang bule itu lewat kacamata yang sangat subyektif.

Tulisan2 Wake Up! Atau nukilan Think! Terlihat manis menghiasi tembok-tembok dalam video clip John Mayer-Waiting on The World to Change. Tulisan tersebut dikemas dengan desain apik sehingga bisa membuat kita terbius sejenak dan Think!

Ada juga beberapa iklan dari luar, waktu itu saya melihatnya di salah satu pameran iklan TV, yang menggunakan bomber2 bule itu secara komersil. Artinya, mereka betul-betul membuat iklan di tembok. Mungkin mereka membayar semacam pajak tembok kepada pemerintah agar bisa beriklan di tembok. Saya juga kurang tahu.

Sekarang kita bandingkan dengan bomber dari Indonesia. Kalau hasil bomber2 Indo, hanya dijadikan bukti kalau itu merupakan daerah kekuasaan si bomber dan gengnya. Mirip kencing kucing di tiang listrik. Itu yang saya dengar dari salah satu stasiun TV swasta yang sedang mengangkat topic tentang Grafiti. “Gambar-gambar itu merupakan symbol dari daerah kekuasaan kami,” Pas liat gambarnya, boro-boro bikin mikir, ngerti juga engga. Abstrak dalam arti yang sesungguhnya. Itu sih yang saya liat di sepanjang jalan dari Cawang sampai Rawamangun. Kalau yang di pelosok2 kampung tempat saya tinggal lebih parah lagi, modal pilox (bener gak ya tulisannya?) satu warna aja, urban artis tak bermodal. Haha. Tapi mungkin sayanya aja yang kurang bergaul, jadi kurang tahu tempat Grafiti yang bagus di Indo.

SETARBAK KOPI Ada Lohh!!!

Starbucks versi Melayu nih!
Starbucks versi Melayu nih!

Iya’ betul, namanya betul-betul Setarbak Kopi! Tempat ini ada di Berenang, Malaysia. Eit, tapi ini bukan warung kopi, gak jual kue2 juga. Malahan gak jual apa2.

Loh kok bisa? Ya bisa donk, Obama aja bisa jadi presiden. Hehe. Begini, setelah baca-baca di beberapa postingan orang juga, tempat ini dipakai untuk shooting acara dari TV3, TV lokal Malaysia. Pihak TV3 membayar si empunya SETARBAK untuk jaga tempatnya, untuk itu, TV3 memberikan fee untuk si empunya.

Jangan bayangkan kondisi di dalamnya bersih kinclong seperti Starbucks yang dari negeri Paman Sam itu, kalau kata bule2 yang nulis blog itu sih, kita bisa percaya kalau tempat itu gak pernah dihuni selama 100 tahun. Itu saking kacaunya tu tempat. Jadi Cuma plang depannya aja yang rapi.

Belajar dari Kasus VOC dan Monsanto

salah satu kapal yang dipakai VOC, bisa untuk dagang, perang juga jadi
salah satu kapal yang dipakai VOC, bisa untuk dagang, perang juga jadi

Indonesia Tidak Pernah Dijajah Pemerintah Belanda! Yang betul adalah VOC yang menjajah Indonesia. VOC kepanjangan dari Vereenigde Oostindische Compagnie, orang Indonesia merasa sebutan itu terlalu rumit, maka diambil bagian akhirnya saja: KOMPENI.

VOC ini bentuknya swasta. Kumpulan dari Perusahaan Dagang. Namanya orang berdagang tentunya butuh banyak barang dagangan untuk bisa lebih profitable. Mereka ekspansi ke Asia, termasuk Indonesia.

Karena memberi pajak yang cukup besar buat Negara, VOC dibela mati-matian oleh pemerintah Belanda. Militernya dibantu. Betul-betul dilindungi. Bahkan diberi hak untuk memiliki tentara. VOC seperti Negara di dalam Negara.

Pada 1669, VOC merupakan perusahaan pribadi terkaya sepanjang sejarah, dengan lebih dari 150 perahu dagang, 40 kapal perang, 50.000 pekerja, angkatan bersenjata pribadi dengan 10.000 tentara, dan pembayaran dividen 40% (Wikipedia).

Hebat sekali, sampai segitunya pemerintah membela sektor swasta sampai berkembang demikian pesat.

Ada lagi contoh, Monsanto, sebuah perusahaan Amerika di bidang industry pertanian. Pada perang Vietnam tahun 1961, dia salah satu pensuplai “Agent Orange”, sebutan untuk salah satu herbisida. Agent orange dipakai sebagai senjata biologis yang membuat 400.000 orang mati, 500.000 bayi dilahirkan cacat. Tapi kejadian ini tidak terlalu terekspos karena pemerintah Amerika betul-betul melindungi Monsanto. Sampai sekarang pun, walaupun orang sudah menuding-nuding Monsanto sebagai biang keladi muramnya nasib rakyat Vietnam, Monsanto masih gagah berdiri. Lagi-lagi karena Monsanto punya penghasilan yang besar sehingga bisa memberi pajak yang besar juga.

Poinnya bukan di kejamnya swasta, tapi kok bisa pemerintah membela swasta sampai segitunya? Lain betul dengan kejadian di Indonesia. Swasta seperti dijadikan sapi perah. Sudah membayar pajak yang besar, tapi perhatian yang didapat belum sebesar pajak yang dikeluarkannya.